0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
201 tayangan14 halaman

Tugas dan Fungsi Penyuluh Agama

Bahan ajar ini membahas tentang tugas dan fungsi penyuluh agama non PNS, termasuk melakukan identifikasi potensi kelompok binaan, menyusun rencana dan materi penyuluhan, serta pelaksanaan dan evaluasi kegiatan penyuluhan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan peserta pelatihan mengenai peran penting penyuluh agama non PNS.

Diunggah oleh

Eko Nani Fitriono
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
201 tayangan14 halaman

Tugas dan Fungsi Penyuluh Agama

Bahan ajar ini membahas tentang tugas dan fungsi penyuluh agama non PNS, termasuk melakukan identifikasi potensi kelompok binaan, menyusun rencana dan materi penyuluhan, serta pelaksanaan dan evaluasi kegiatan penyuluhan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan peserta pelatihan mengenai peran penting penyuluh agama non PNS.

Diunggah oleh

Eko Nani Fitriono
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAHAN AJAR

TUGAS DAN FUNGSI PENYULUH KEMENTERIAN AGAMA

PJJ PAH NON PNS ANGKATAN 103

Kab. Nunukan Kaltim

Nopember 2020

Oleh:

[Link] Arafat, [Link]

Widyaiswara Ahli Madya

NIP 197007042006041001

KEMENTERIAN AGAMA

BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEAGAMAAN


BANJARMASIN
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur selalu kita panjatkan kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa, berkat

rahmat dan hidayah-Nya Alhamdulillah Bahan ajar Tugas dan Fungsi Penyuluh Kementerian

Agama ini telah disiapkan untuk menunjang proses pembelajaran pelatihan. Bahan ajar

Tugas dan Fungsi Penyuluh Kementerian Agama ini merupakan materi kelengkapan mengajar.

Sebagai kelengkapan mengajar tentu saja bahan ajar ini diperkaya dengan berbagai materi,

baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Pembahasan Bahan ajar Tugas dan Fungsi Penyuluh

Kementerian Agama adalah mengenai pengertian, latar belakang, ruang lingkup dan segala hal

yang menyangkut dengan Tugas dan Fungsi Penyuluh Kementerian Agama.

Bahan ajar ini merupakan bahan pengayaan, dan pengembangan yang diharapkan dapat

menerbitkan keingintahuan peserta mengenai substansi materi Tugas dan Fungsi Penyuluh

Kementerian Agama . Semoga lebih memperkaya khazanah kita tentang pentingnya Tugas dan

Fungsi Penyuluh Kementerian Agama dalam peningkatan pengetahuan peserta pelatihan,

khususnya berkenaan dengan tugasnya. Uraiannya dan pembahasannya dibuat untuk

mendukung dan melengkapi bahan yang sudah diajarkan. Mudah-mudahan dengan adanya

bahan ajar ini dapat memberikan motivasi bagi widyaiswara lainnya. Saya ucapkan terimakasih

kepada semua pihak atas partisipasinya. Semoga bahan ajar ini bermanfaat serta menjadi

amal baik kita semua. Amin Banjarmasin, Oktober 2020

Widyaiswara

[Link] Arafat,[Link],.[Link]

NIP 197007042006041001
A. Pendahuluan

Keberadaan Penyuluh Agama non PNS memiliki fungsi strategis dalam pembangunan bangsa.

Fungsi tersebut meliputi: fungsi informatif, konsultatif , edukatif dan advokatif. Dalam melaksanakan

fungsi informatif, Penyuluh Agama menyampaikan penerangan agama. Dalam menjalankan fungsi

edukatif, Penyuluh Agama mendidik masyarakat sesuai dengan ajaran agama. Dalam menjalankan fungsi

konsultatif, Penyuluh Agama menyediakan dirinya untuk turut memikirkan dan memecahkan persoalan

yang dihadapi masyarakat baik secara pribadi, keluarga, maupun masyarakat secara umum. Sedangkan

dalam melaksanakan fungsi advoaktif, Penyuluh Agama melakukan pembelaan terhadap masyarakat

dari berbagai ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan yang merugikan, mengganggu ibadah dan

merusak akhlak. Dalam melaksanakan fungsinya, Penyuluh Agama harus memiliki pengetahuan,

keterampilan dan sikap yang patut diteladani di masyarakat.

Perlu kiranya para penyuluh untuk memahami KMA No.53 tahun 2019 tentang perubahan

Atas Keputusan Menteri Agama No.769 tahun 2018 tentang pedoman penyuluh Agama Non-Pegawai

Negeri Sipil. Yang isi perubahan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mengubah BAB III, angka 2 huruf g KMA No.769 tahun 2018 tentang pedoman Penyuluh

Agama Non-Pegawai Negeri Sipil

2. Persyaratan Penyuluh Agama Non-PNS sebagai berikut:

a. Warga Negaria RI

b. Sehat jasmani dan rohani

c. Usaha paling rendah 22 tahun dan paling tinggi 70 tahun

d. Diutamakan sarjana (S1)

e. Memiliki kompetensi penyuluhan

f. Bukan anggota atau pengurus organisasi terlarang


g. Bagi tenaga honorer yang dinyatakan lulus pendaftaran wajib memilih salah satu.

Oleh karena itu Kementerian Agama memiliki tugas melakukan pembinaan dan peningkatan

kompetensi penyuluh agama non PNS. Pelaksanaan tugas ini dipenuhi salah satunya melalui pelatihan

yang diselenggarakan Balai Diklat Keagamaan. Dalam konteks inilah Badan Litbang dan Diklat menyusun

Kurikulum Diklat Teknis Substantif Kompetensi Kompetensi Penyuluh Agama non PNS.

B. Manfaat Bahan Ajar

Bahan ajar ini diharapkan bermanfaat bagi peserta pelatihan untuk menambah wawasan bagi
penyuluh agama dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyuluh Agama di lingkungan masyarakatnya.

C. Diskripsi Singkat

Mata pelatihan ini membahas tentang Tugas dan Fungi Penyuluh Agama Non PNS,

Pembentukan Kelompok Binaan/sasaran, Bentuk-bentuk Laporan Bimbingan Penyuluhan,

Perencanaan ,Pelaksanaan, bimbingan, penyuluhan, dan Evaluasi Penyuluh Agama Non PNS

[Link] Pembelajaran

1. Kompetensi Dasar

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu :

Menjelaskan Tugas dan Fungsi Penyuluh Agama Non PNS

2. Indikator keberhasilan

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan mampu :

a. Mengidentifikasi potensikelompok sasaran dan binaan


b. Menjelaskan Rencana Kerja Penyuluh Agama Non PNS
c. Menjelaskan Penyusunan Materi Bimbingan Penyuluhan Agama dalam Berbagai Bentuk
d. Membedakan Pelaksanaan Bimbingan Penyuluhan Melalui Tatap Muka, Media dan Konsultasi
e. Menyusun Laporan hasil Bimbingan Penyuluhan Agama dan Konsultasi, dan
f. Menyebutkan Fungsi dan Tugas Penyuluh Agama Non PNS
E. Dasar Hukum

- Keputusan Menteri Agama (KMA) 164 tahun 1996 Jo No. 776 Tahun 2016 tentang
Honorarium Penyuluh Agama Non PNS;
- Keputusan Dirjen Bimas Islam No. DJ. III/342/Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis
Pengangkatan Penyuluh Agama Islam Non PNS;
- Surat Dirjen Bimas Islam No. B.2262 tanggal 6 September 2016 tentang Pedoman
Rekrutmen Penyuluh Agama Islam Non PNS Tahun 2016;
- Keputusan Menteri Agama No.769 tahun 2018 tentang pedoman penyuluh Agama Non-Pegawai
Negeri Sipil.
- KMA No.53 tahun 2019 tentang perubahan Atas Keputusan Menteri Agama No.769 tahun 2018
tentang pedoman penyuluh Agama Non-Pegawai Negeri Sipil.

F. Pengertian

Pengertian Penyuluh Agama adalah penyuluh yang diberi tugas tanggung jawab dan
hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan penyuluhan
agama.
Tujuan Penyuluh Agama adalah untuk mewadahi keberadaan dan sekaligus
mengakomodir keahlian dan keterampilan yang dapat membantu menjalankan sebagian
tugas pemerintah dibidang pembinaan kehidupan beragama.

G. Tugas Pokok dan Fungsi

1. Tugas Pokok:

Tugas pokok penyuluh agama non PNS ada dua; pertama; melaksanakan
bimbingan agama, yaitu proses pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan
dan sistematis yang dilakukan oleh penyuluh agama yang telah mendapatkan pelatihan
[Link]; melaksanakan penyuluhan agama, yaitu proses upaya melakukan
perubahan prilaku dalam beragama melalui penyebaran informasi, komunikasi, motivasi
dan edukasi baik secara lisan, tulisan, peragaan maupun pendampingan kepada
kelompok binaan.
Untuk melaksanakan tugas penyuluhan tersebut diperlukan kemampuan dan
ketrampilan tertentu demi kelancaran tugas penyuluhan tersebut antara lain:
- Melakukan identifikasi potensi kelompok binaan
- Membuat rencana kerja penyuluh agama
- Menyusun materi penyuluhan
- Melakukan penyuluhan agama baik melalui tatap muka dan atau konseling
- Menyusun laporan hasil kegiatan Penyuluhan
Adapun tugas tambahan bagi Penyuluh Agama Non PNS antara lain :
- Melaksanakan tugas yang diberikan oleh pimpinan.
- Menjadi penceramah pada hari-hari besar keagamaan
- Menjadi narasumber pada kegaitan sosial keagamaan.
- Menjadi pengurus pada organisasi keagamaan
- Melakukan pemberdayaan masyarakat
2. Fungsi:
Ada beberapa Fungsi Penyuluhan Agama antara lain informatif, komunikatif,
edukatif , advokatif dan (motivatif). Sedangkan menurut Instruksi Menteri Agama RI
No.39 Tahun 2015, ada tiga, yaitu: Tugas konsultatif, Koordinatif dan Advokatif.
Yang dimaksud dengan fungsi Informatif adalah bahwa apa yang disampaikan
oleh Penyuluh Agama harus bersifat informatif baik yang berfungsi untuk menambah
ilmu (koqnitif), merubah sikap dan prilaku, maupun sebagai nasehat bagi audien sebagai
hamba dan wakil Tuhan di bumi.
Fungsi Komunikatif adalah bahwa penyampaian penyuluh Agama hendaknya
bersifat komunikatif baik yang didukung oleh teknikorasi, intonasi, alat dan media,
maupunyai gaya bahasa yang digunakan.
Yang dimaksud fungsi Edukatif adalah bahwa penyuluhan bukan hanya
menyampaikan ilmu dan pesan moral, tetapi juga bimbingan dan keteladanan.
Fungsi advokatif, memberikan jaminan keamanan dan advokasi terhadap
masyarakat yanbg berhadapan langsung dengan peroalan-persoalan dan proses hukum
Sedangkan fungsi Motivasi dimaksud adalah, bahwa pemberian motivasi dalam
penyuluhan merupakan hal yang tidak mudah tapi sangat penting baik melalui
keteladanan dalam menyampaikan maupun dukungan kisah-kisah heroic yang relefan
dengan tema penyuluhan.

H. Identifikasi Potensi Kelompok Binaan

Penyuluh Agama harus terlebih dahulu mengetahui apa sebenarnya yang dibutuhkan
sasaran dengan cara melakukan identifikasi sesuai dengan tuntutan kebutuhan tersebut.
Identifikasi kebutuhan sasaran mutlak diperlukan, atas dasar itulah, maka buku-buku
disusun sebagai salah satu pegangan dan pedoman dalam rangka melaksanakan identifikasi
kebutuhan sasaran penyuluhan.
kebutuhan adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia dalam
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kebutuhan itu sendiri sudah tentu bukan
dalam satu segi saja. Tetapi berbagi segi kehidupan manusia. Maka kebutuhannya sudah
tentu terdiri dari kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani
Kebutuhan Jasmani (Materiil)adalah merupakan kebutuhan yang diperlukan oleh fisik
manusia. Agar manusia bisa hidup, seperti makan dan minum, pakaian, perumahan.
Kebutuhan Rohani (Spiritual).adalah merupakan kebutuhan yang bisa dipenuhi akan
menimbulkan kepuasan batin dari orang tersebut dan timbul rasa tenang, seperti kebutuhan
akan kepercayaan dan hubungan dengan Allah, ilmu pengetahuan.
Kebutuhan terdapat dua jenis :pertama; kebutuhan Individu (Perorang) yang antara
satu dengan yang lain [Link]; kebutuhan bersama (kolektif) yang meliputi
keamanan, ketentraman, kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup baik agama,
pendidkan, ekonomi, tempat rekreasi, dan lain-lain.
Sebagai catatan yang harus diketahui oleh penyuluh agama antara lain bahwa:
Pertama; Tanpa dapat mengetahui kebutuhan sasaran, penyuluh agama tidak akan mencapai
maksud dan tujuannya dengan baik.
Kedua; Mungkin saja penyuluh agama memberikan sesuatu penyuluh yang sama sekali
kurang dibutuhkan.
Ketiga;Yang nyata-nyata kebutuhan sasaran penyuluhan agama sama sekali tidak disentuh.
Dengan demikian penyuluhannya bisa jadi akan sia-sia.
Keempat; Identifikasi kebutuhan sasaran ini mutlak diperlukan dan merupakan salah satu
tugas penyuluh agama.
Kelima; Adanya identifikasi kebutuhan sasaran ini penyuluh agama akan mampu
merencanakan penyuluhannya dengan baik.

I. Rencana Kerja Penyuluh Agama

Penyuluhan agama harus direncanakan secara matang, sehingga mencapai tujuan


dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Tidak adanya perencanaan akan menyebabkan
kegagalan baik secara keilmuan maupun perubahan sikap sehingga kurang dapat membantu
peningkatan kualitas kehidupan baik dunia maupun akhirat.
Perencanaan penyuluhan yang baik sulit dilakukan jika penyuluh agama tidak
mempunyai data informasi medan yang dihadapinya.
1. Pengertian Rencana :
a) Pemikiran dan penentuan secara matang mengenai hal-hal yang akan dilakukan di
masa datang untuk mencapai tujuan (Siagian 1996).
b) Keputusan-keputusan untuk menjangkau masa depan (Burhanuddin 1994).
c) Fokus pencapaian tujuan (Morrisey 1996).
2. Berangkat dari pendapat pakar manajemen tersebut diatasmaka “rencana” dapat
dikatakan sebagai pemetaan pencapaian tujuan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh
melalui penelitian atau pengamatan langsung mengenai kondisi objektif di lapangan.
Perencanaan merupakan langkah awal dari persiapan pelaksanaan suatu tugas
penyuluh agama, dan dapat dipakai sebagai tempat berpijak untuk tahapan selanjutnya.
3. Ruang lingkup rencana kerja penyuluh agama.
a) Rencana kerja tahunan.
b) Rencana kerja operasional (bulanan).
c) Merumuskan program kerja.
4. Perencanaan setidaknya harus mampu menjawab 3 pertanyaan dasar :
a) Apa yang akan dikerjakan.
b) Tujuan apa yang akan dicapai.
c) Bagaimana kegiatan itu dikelola.
Rencana Kerja Tahunan Adalah kegiatan penyusunan rencana kerjayang
diperlukan atau diprioritaskan untuk jangka / kurun waktu satu tahun, dan diambil dari
materi yang sudah di mupakati dari jama’ah majlis taklim terus dijabarkan langkah-
langkah sesuai dengan materi kegiatan yang telah ditetapkan bagi seorang penyuluh
agama.
Rencana Kerja Operasional (Bulanan) adalah kegiatan yang bersifat penjabaran
setiap kegiatan yang tertuang dalam rencana kerja tahunan sehingga tergambar secara
jelas tujuan, sasaran, waktu pelaksanaan dan materi serta teknis pelaksanaan kegiatan
penyuluh agama yang akan dilakukan untuk kelompok binaan yang ada.
Dalam menyusun Program Kerja, Penyuluh melakukan beberapa hal terkait
tugas dimaksud:pertama; melakukan Identifikasi kebutuhan sasaran dan mendiskusikan /
membahas tentang materi [Link]; meyusun konsep program yang meliputi
rincian materi, teknik atau metode penyuluhan serta jadwal dan peserta yang dijadikan
sasaran [Link]; menyusun konsep materi penyuluhan sesuai jadwal yang
telah ditetapkan sebelumnya, dengan :
- Mengumpulkan bahan materi penyuluhan dengan menghimpun dan mempelajari
bahan-bahan dari kitab suci, hadist, kitab atau buku keagamaan dan kebijakan
pemerintahan untuk melengkapi penyusunan materi.
- Menyusun konsep materi bimbingan atau penyuluhan dalam bentuk tertuli satau
rekaman;
- Materi tertulis atau naskah berdasarkan bahan yang berhasil dihimpun dalam bentuk
naskah ketikan 1½ spasi.
- Materi dalam bentuk Leaflet. Yaitu menyusun materi yang ditungkan dalam bentuk
lembaran berdasarkan materi dan bahan yang berhasil dihimpun.
- Materi dalam bentuk [Link] kegiatan penyusunan materia tertulis/grafik/gambar
yang ditungkan dalam bentuk transparan yang dapat ditayangkan melalui slide
proyektor berdasarkan materi dan bahan yang berhasil dihimpun.
-
J. Bentuk Materi Penyuluhan
Contoh materi Penyuluhan Agama Islam yang meliputi : aqidah, syari’ah dan akhlak:
1. Akidah atau Pokok-Pokok keyakinan Islam meliputi:
a. Iman Kepada Allah.
b. Iman Kepada Malaikat.
c. Kitab-Kitab Allah.
d. Rasul-Rasul Allah.
e. Hari Akhirat.
f. Qodho Dan Qodhar
2. Syari’ah atau pokok-pokok peraturan yang harus dijalankan terdiri atas ibadah (ritual),
dan mu’amalah (perdata). Pokok-pokok ibadah meliputi, thaharah, Shalat, puasa, zakat,
dan [Link] Mu’amalat, meliputi Jual beli, Nikah dan Waris.
3. Akhlak, terdiri dari Akhlak kepada Allah, Akhlak kepada manusia dan akhlak terhadap
makhluk lainnya.
4. Materi penunjang yang meliputi Al-Qur’an, Al-Hadist, Sejarah dan kebudayaan Islam.
Selanjutnya masing-masing agama yang diakui oleh Negara dapat membuat pembagian
apa saja yang dapat disampaikan kepada kelompok binaannya.

K. Penyuluhan Agama Melalui:


Setelah seorang penyuluh agama diangkat maka perlu diterbitkan surat tugas
penetapan lokasi atau wilayah sasaran binaan dilakukan oleh pejabat yang berwenang
yaitu :
a) Kepala Kantor Kementerian agama kabupaten / kota yang ber- sangkutan untuk
penyuluh agama yang unit kerjanya pada kantor kementerian agama kabupaten / kota.
b) atas dasar surat tugas penetapan lokasi wilayah sasaran binaan penyuluhan agama,
pejabat yang berwenang membuat surat pernyataan melaksanakan tugas untuk bahan
penetapan pembayaran honoraium bagi penyuluh agama yang bersangkutan untuk
keperluan penetapan kelompok sasaran penyuluh agama dapat melaksanakan tugas
penyuluhan dalam berbagai bentuk sebagai berikut :
1. Ceramah Agama
Penyuluhan agama tatap muka bisa berupa ceramah agama, bisa juga berupa
konseling. Ceramah agama bisa berupa ceramah umum pada hari-hari besar atau
ceramah rutin. Ceramah rutin inilah yang harus dilakukan oleh penyuluh agama sesuai
tugas pokok yang diatur dalam Juknis melalui Surat Keputusan masing-masing Dirjen
Bimas Islam, Kristen,Hindu,Budha, dan Khonghucu yaitu paling sedikit dua kali dalam
seminggu.
Tatap muka inilah yang memerlukan perencanaan, penjadwalan dan menyusun
materi ceramah secara berkesinambungan.
2. Bimbingan Konseling
Adapun Tatap muka berupa konseling memerlukan keahlian khusus yang menjadi
daya Tarik yang dipercaya oleh klien yang ingn menyelesaikan masalah pribadi mereka.
Tugas ini juga memerlukan persiapan administratif, disamping untuk kelancaran
pelayanan juga adanya tertib dokumentasi yang akan sangat membantu profesionalitas
bimbingan konseling penyuluh agama.
3. Melalui Media :
a) R a d i o :
Penyuluhan agama juga dapat dilakukan melalui media cetak maupun elektronik.
Namun penyuluhan dalam bentuk ceramah atau dialog hanya dapat melalui media
elektronik, salah satunya adalah radio baik radio swasta maupun RRI dimana
penyuluh agama yang bersangkutan menyampaikan siaran langsung atau
pemutaran/ rekaman kaset ( tidak langsung ).
b) Televisi :
Penyuluhan melalui televisi atau kegiatanpelaksanaan penyuluhan agama
secara lisan yang dilakukan dengan meng- gunakan alat atau media televisi
baik secara langsung atau pemutaran rekaman ( tidak langsung ).
c) Pemanfaatan media sosial (medsos) lainnya
d) Pentas Pertunjukan.
Pentas pertunjukan adalah kegiatan penyuluhan yang dilakukan secara lisan
ataupun dengan gerakan yang dilakukan dalam suatu pertun jukan drama
/kesenian dan penyuluh agama bertindak sebagai salah satu pemain atau
pemegang peran atau sutradara.

4.
5.
6.
7.
8.
9. Konsultasi
Konsultasi merupakan kegiatan pemberian informasi, penjelasan, jalan keluar
pemecahan terhadap suatu persoalan yang dihadapi oleh seseorangan. Jadi Konsultasi
bisa dilakukan kepada perorangan dan juga bisa dilakukan terhadap kelompok
masyarakat.
konsultasi secara perorangan adalah kegiatan pemberian informasi, pen-jelasan, jalan
keluar pemecahan terhadap suatu persoalan yang dihadapi, oleh perorang-an yang secara
tegas memohon bantuan kepada penyuluh agama materi konsultasi berkaitan dengan
keagamaan.
Melaksanakan konsultasi secara kelompok adalah kegiatan pemberian informasi,
pen-jelasan dan jalan keluar yang dilakukan penyuluh agama terhadap kelompok
masyarakat yang secara tegas meminta jasa konsultasi dalam rangka memecahkan suatu
persoalan dibidang keagamaan atau pembangunan melalui bahasa agama.
Untuk melakukan laporan kegiatan bimbingan/penyuluhan melalui proses konsultasi

L. Laporan Hasil Penyuluhan


Laporan adalah suatu bentuk penyajian data agar dapat memberikan suatu
gambaran/informasi kepada seseorang atau suatu organisasi dgn suatu cara yang efektif dan
efisien dan dapat dijadikan suatu informasi yang tepat, lengkap dan akurat.
Sistem Pelaporanmerupakan suatu bentuk kegiatan yang dilaksanakan secara terus
menerus dgn suatu cara tertentu yang telah disepakati untuk menyajikan suatu data sebagai
informasi yang dibutuhkan secara tepat, lengkap dan akurat.
Sistem Pelaporan Penyuluh Agama Non-PNS sangat bermanfaat untuk mendeteksi
pelaksanaan tugas Penyuluh Agama dan untuk mengevaluasi kekurangan dan kelebihan
setiap Penyuluh Agama sehingga dapat dijadikan bahan penyempurnaan berikutnya.
Pelaporan Penyuluh Agama Non PNS juga sangat bermanfaat bagi Penyuluh
Agama dalam meningkatkan prestasi melalui perolehan kerja penyuluhan agama.
Dilihat dari jenis Pelaporan, laporan Penyuluh Agama Non-PNS merupakan suatu bentuk
penyajian data yang berisi kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Penyuluh Agama selama
1 (satu) bulan.
Adapun bahan laporan Penyuluh Agama Non PNS, berupa blangko Laporan
Penyuluh Agama, blangko lembaran materi Penyuluh dan Datar Hadir Jamaah.
Teknik penyusunan laporan penyuluh agama adalah dengan cara menyusun laporan
bulanan dengan mengisi blangko laporan penyuluh yang terdiri dari: bulan, identitas
penyuluh, hari/tanggal pelaksanaan, pokok-pokok materi, uraiannya, jumlah jamaah yang
hadir, serta tanda tangan Ketua Pengurus Majlis Taklim.

DAFTAR FUSTAKA

Dr Toeti Soekamto MP. Perancangan dan Pengembangan Sistem Instruksional, Intermedia,


[Link] Sadiman [Link]. dkk., Media Pendidikan Pengertian Pengembangan dan
emanfaatannya,[Link] Grafindo Persada, Jakarta
Departemen Agama RI, (2003), "Panduan Pelaksanaan Tugas Penyuluh Agama Utama", Direktorat
Jenderal Kelembagaan Islam, Jakarta.

[Link] dan [Link] Simangunsong [Link] (1989) Pembinaan Personil Melalui


Bimbingan dan Penyuluhan, Jakarta..
[Link] [Link], (1976), "Pokok-pokok Pikiran tentang Bimbingan dan Penyuluhan (di
Sekolah dan Luar Sekolah"), Bulan Bintang ,Jakarta
Departemen Agama RI, (2001), "Pedoman Identifikasi Kebutuhan Sasaran Penyuluh Agama Islam"
Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Jakarta.

Departemen Agama RI, (2002), "Pedoman Identifikasi Potensi Wilayah Penyuluh Agama Islam" Ditjen
Bimas Islam dan Urusan Haji,Jakarta.

Departemen Agama RI, (2002), "Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Penyuluh Agama Islam" Ditjen
Bimas Islam dan Urusan Haji. Jakarta.

Departemen Agama RI, (2003), "Panduan Diklat Fasilitator Penyuluh Agama", Badan Litbang Agama
dan Diklat Keagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis keagamaan, Jakarta .
Departemen Agama RI, (2003), "Pedoman Pelaporan Penyuluh Agama Islam Utama" Ditjen
Kelembagaan Agama Islam, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai