Analisis Otonomi Daerah di Indonesia
Analisis Otonomi Daerah di Indonesia
OLEH :
IDA AYU WIDYA SURYANTARI DEWI
NIM : 045262375
Petunjuk: silahkan baca dan pahami terlebih dahulu tentang otonomi daerah yang ada
dalam
BMP MKDU4111)
Jawab: otonomi daerah harus dilaksanakan dengan penuh perhitungan dan dilandasi
dengan prinsip yang jelas. Adapun prinsip otonomi daerah secara garis besar dapat
ditelaah dari beberapa pernyataan berikut ini (Wahidin, 2015: 86). Pelaksanaan otonomi
daerah harus memperhatikan aspek demokratis, keadilan, pemerataan, potensi, dan
keanekaragaman daerah. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas
nyata dan bertanggung jawab. Pelaksanaan otonomi luas di tingkat kabupaten dan
kota, sedangkan di tingkat provinsi otonomi terbatas. Pelaksanaan otonomi daerah harus
sesuai dengan konstitusi. Pelaksanaan otonomi daerah harus meningkatkan kemandirian
daerah. Pelaksanaan otonomi daerah harus meningkatkan fungsi legislatif dan fungsi
anggaran. Pelaksanaan otonomi daerah harus berdasarkan kriteria eksternalitas,
akuntabilitas, dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antar susunan
pemerintahan di samping perlu berpegang pada prinsip-prinsip sebagaimana dikemukakan
di atas juga harus taat asas. Asas otonomi daerah tersebut dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu asas yang umum dan asas yang khusus. Asas umum terdiri atas kepastian hukum,
tertib penyelenggaraan negara, kepentingan umum, keterbukaan, proporsionalitas,
profesionalitas, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas. Sedangkan asas khusus dapat
dibagi lagi menjadi tiga, yaitu asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan.
Asas desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada
daerah otonom dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Asas dekonsentrasi
adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada gubernur sebagai wakil
pemerintah pusat di daerah/perangkat pemerintah pusat di daerah. Asas tugas perbantuan
adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dari desa dan dari daerah ke desa untuk
melaksanakan tugas tertentu yang disertai dengan pembiayaan, sarana, dan prasarana
serta sumber dayanya dengan tanggung jawab melaporkan pelaksanaannya kepada yang
menugaskan. Berbagai macam prinsip dan asas di dalam pelaksanaan otonomi daerah
tersebut diterapkan dengan maksud agar tujuan-tujuan otonomi daerah dapat tercapai.
Sebagaimana yang dikemukakan pada pembahasan di atas, otonomi daerah ini adalah satu
kebijakan besar di dalam pengelolaan pemerintahan yang diharapkan mampu
mengantarkan bangsa dan negara Indonesia pada kondisi masyarakat yang adil dan
makmur secara merata. Sebagai sebuah kebijakan tentu saja ada persoalan yang dihadapi
di dalam implementasinya. Namun demikian, terlepas dari berbagai macam persoalan
tersebut, otonomi daerah dapat dianggap sebagai satu langkah besar bangsa dan
negara ini di dalam mengupayakan kesejahteraan bagi para warganya. Sebaik apapun
pelaksanaan otonomi daerah, tidak akan berjalan dengan baik dan meraih sasaran
apabila tidak didasari dengan ‘niatan’ yang baik dari pemerintah daerah untuk
menjalankan kebijakan tersebut dengan sebaikbaiknya. Oleh karena itu, di dalam
pelaksanaan otonomi daerah perlu dukungan satu aspek lagi di dalam pemerintahan, yaitu
sebuah tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih atau disebut dengan a good and clean
government. Untuk dapat melaksanakan tugas otonomi dengan sebaik-baiknya, ada
beberapa faktor/ syarat yang perlu mendapat perhatian. Iglesias menyebutkan faktor-faktor
tersebut adalah : a. Resource b. Structure c. Technology d. Support Ada 4 faktor yang
mempengaruhi pelaksanaan otonomi Daerah : 1. Manusia pelaksananya harus baik adalah
faktor yang esensial dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah. Pentingnya faktor ini,
karena manusia merupakan subyek dalam setiap aktivitas pemerintahan. Manusialah yang
merupakan pelaku dan penggerak proses mekanisme dalam sistem pemerintahan. 2.
Keuangan harus cukup baik Istilah keuangan disini mengandung arti setiap hak yang
berhubungan dengan masalah uang, antara lain berapa sumber pendapatan, jumlah uang
yang cukup dan pengelolaan keuangan yang sesuai dengan tujuan dan peraturan yang
berlaku. 3. Peralatannya harus cukup dan baik Pengertian peralatan disini adalah setiap
benda atau alat yang dapat dipergunakan untuk memperlancar pekerjaan atau kegiatan
Pemerintah daerah. 4. Organisasinya dan menejemennya harus baik Organisasi yang
dimaksudkan adalah organisasi dalam arti struktur yaitu susunan yang terdiri dari
satuansatuan organisasi beserta segenap pejabat dan kekuasaan. Faktor Manusia Pelaksana
Faktor manusia pelaksana sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (1) Undang-undang No.5
Tahun 1974 yaitu,
1. Kepala Daerah
Tugas kepala daerah adalah sangat berat dalam kesatuan republik Indonesia, kepala daerah
disamping merupakan alat daerah juga sebagai alat pemerintah pusat. Tugas sebagai alat
daerah adalah ;
f. Melaksanakan segala tugas pemerintah yang tidak termasuk dalam tugas sesuatu instansi
lainnya
2. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (1) Undang-undang No.5 Tahun 1974, Dewan
Perwakilan Rahyat Daerah adalah salah satu alat daerah disamping Kepala Daerah. Didalam
penjelasan umum undang-undang tersebut diterangkan bahwa :
“ Kontruksi yang demikian ini menjamin adanya kerja sama yang serasi antara Kepala Daerah
dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk mencapai tertib pemerintah didaerah.
Dengan demikian, maka dalam penyelenggaraan pemerintah daerah, ada pembagian tugas
yang jelas dan dalam kedudukan yang sama tinggi antara kepala daerah dan dewan
perwakilan rakyat daerah yaitu kepala daerah memimpin dibidang Eksekutif dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah bergerak dalam bidang legeslatif ”
b. Allocation of resources
c. Distribution of benefits
d. Distribution of burdens or costs
e. Rules and regulations
f. Division and stabilizations
3. Kemampuan Aparatur Pemerintah Daerah
Suatu daerah disebut daerah otonom apabila memiliki atribut sebagai berikut :
1. Kemapuan urusan tertentu yang disebut urusan rumah tangga daerah, urusan rumah
tangga daerah ini merupakan urusan uang diserahkan oleh pemerintah pusat kepala daerah
3. Untuk mengatur dan mengurusurusan rumah tangga daerah tersebut, maka daerah
memerlukan aparatur sendiri yang bterpisah dari aparatur pemerintah pusat, yang mampu
untuk menyelenggarakan urusan rumah tangga daerahnya
4. Mempunyai sumber keuangan sendiri yang dapat menghasilkan pendapatan yang
cukup bagi daerah, agar dapat membiayai segala kegiatan dalam rangka penyelenggaraan
urusan rumah tangga daerahnya
Tidak semua jenis pajak yang menjadi wewenang daerah dapat dipungut oleh daerah-
daerah.
Hal ini dapat disebabkan oleh :
1. Objeknya tidak ada didaerah
2. Hasil pungutannya jauh lebih kecil dari biaya pungutannya
3. Peraturan pelaksanaannya belom ada, sebab belom ada pedoman pelaksanannya
4. Adanya pembekuan atau pencabutan oleh pemerintah
5. Adanya larangan pemerintah terhadap kegiatan-kegiatan tertentu justru merupakan
objek pajak
Dinas daerah dan pendapatan lainnya Dalam pasal 49 UU No. 5/1974 diatur mengenai Dinas
dinas daerah sebagai berikut :
Sumber Referensi:
Modul MKDU 4111 Modul 9
Soal 2 (skor 25)
Dari uraian di atas lakukanlah analisis faktor apa saja hambatan dalam melaksanakan
otonomi daerah di Indonesia!
(Petunjuk: silahkan baca dan pahami terlebih dahulu tentang pelaksanaan otonomi yang
ada di BMP MKDU4111) Jawab:
Empat tantangan dalam pelaksanaan otonomi daerah seperti yang dikemukakan oleh Siti
Zuhro, salah satu Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah
konsistensi pemerintah dalam pembuatan peraturan, persepsi daerah, kerumitan
pengelolaan hubungan kewenangan daerah dan eksploitasi daerah oleh pihak-pihak
tertentu. Tantangantantangan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Konsistensi pemerintah dalam bidang hukum atau pembuatan peraturan dan
sulitnya melakukan harmonisasi antara UU Pemerintahan Daerah dengan UU terkait.
2. Persepsi sepihak daerah mengenai kewenangannya yang acap kali lebih
mementingkan daerah sendiri tanpa mempertimbangkan secara sungguh-sungguh
manfaatnya dalam konteks lebih luas.
3. Kerumitan pengelolaan hubungan kewenangan daerah dan antardaerah
4. Adanya kolaborasi elite dan pengusaha dalam mengeksploitasi daerah guna mencari
keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan kemaslahatan umum dan
kesehatan lingkungan.
Hambatan-hambatan dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah:
1. Perbedaan Konsep Dan Paradigma Otonomi Daerah
Setelah diberlakukan UU No. 22 Tahun 1999, aksi dari berbagai pihak sangat
beragam, sebagai akibat dari perbedaan interpretasi istilah otonomi. Terdapat
kelompok yang menafsirkan otonomi sebagai kemerdekaan atau kebebasan dalam
segala urusan yang sekaligus menjadi hak daerah. Mereka yang mempunyai persepsi
ini biasanya mencurigai intervensi pemerintah pusat, otonomi daerah dianggap
sebagai kemerdekaan daerah dari belenggu Pemerintah Pusat. Ada kelompok lain
yang menginterpretasikan sebagai pemberian “otoritas kewenangan” dalam
mengambil keputusan sesuai dengan kepentingan dan aspirasi masyarakat lokal. Di
sini otonomi diartikan atau dipersepsikan pembagian otoritas semata (lihat UU No.
22/1999); memaknai otonomi sebagai kewenangan, daerah Otonomi
(Kabupaten/Kota) untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat lokal,
menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Wujudnya adalah
pembagian kewenangan kepada daerah dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali
dalam bidang pertahanan dan keamanan peradilan, moneter dan fiskal, agama dan
politik luar negeri serta kewenangan bidang lain, yakni perencanaan nasional
pengendalian pembangunan nasional; perubahan keuangan, sistem administrasi
negara dan lembaga; perekonomian negara, pembinaan, dan pemberdayaan sumber
daya manusia; pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tinggi strategis,
serta konservasi dan standarisasi nasional. Ada juga kelompok yang menafsirkan
otonomi daerah sebagai suatu mekanisme empowerment (pemberdayaan). Menurut
kelompok ini menafsirkan otonomi harus lebih mengakomodasikan berbagai
kepentingan lokal dan lembaga lokal dan untuk itu diperlukan otoritas. Jadi, diambil
kesepakatan khusus dalam pembagian tugas/urusan yang ditangani oleh Pemerintah
Pusat dan ditangani oleh Daerah (lokal). Selama kurun waktu 2 tahun tersebut terjadi
perubahan besar. Kementrian Otda dihilangkan. Kabinet Reformasi yang mengurus
hal ini tidak ada lagi (bubar), apalagi UU tersebut sifatnya sangat mendasar yang
merombak seluruh tatanan Administrasi Publik sebuah negara besar. Lebih dari
ratusan PP, pedoman dan sejenis lainnya belum dibuat untuk mendukung
implementasi otonomi daerah. Oleh karena itu, tidak hanya pejabat level
kabupaten/kota dan provinsi yang bingung, pejabat di level pusat pun demikian
halnya. Maka tidak arif atau tidak bijaksana kita mencari kambing hitam siapa yang
bersalah, yang jelas kita belum siap. Oleh karena itu, otonomi daerah ini harus
disempurnakan sambil berjalan. Uraian tentang konsep otonomi di atas sangat
variatif, seperti kebebasan dan kemerdekaan, strategi organisasi, otoritas mengurus
diri sendiri, mengambil keputusan sendiri power untuk melakukan kontrol,
empowerment, dan kemandirian dalam pengaturan diri. Variasi konsep ini
menimbulkan interpretasi beragam. Oleh karena itu, di masa datang perlu
kesepakatan tentang konsep otonomi daerah di kalangan elit politik sebagai
pengambil keputusan atas kebijakan.
UU No. 22 Tahun 1999 menganut paradigma dengan menggunakan pendekatan
“kewenangan”. Hal ini dapat dilihat dari makna “otonomi sebagai kewenangan
daerah otonomi (kabupaten/kota) untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan dalam konteks negara kesatuan RI.”
Hal ini sangat tepat, namun dalam kasus Indonesia dipandang kurang realistis karena
persoalan otonomi daerah bukan hanya persoalan kewenangan semata, tetapi
banyak hal yang terkait dengan sumber daya dan infrastruktur yang ada di daerah
masih sangat lemah. Paradigma ekonomi harus dilihat dari perspektif pemerataan
pembangunan ekonomi untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu,
pembangunan daerah adalah bagian integral dari pembangunan nasional dan
pembangunan nasional adalah pembangunan daerah. Jadi, sangatlah picik bagi para
elit lokal pada daerah yang kaya sumber daya dengan menyandera masalah ekonomi
ini untuk mencapai keinginan politiknya lepas dari negara kesatuan RI. Hal ini sudah
sangat melenceng dari hakikat otonomi itu sendiri.
2. Kuatnya Paradigma Birokrasi
Dalam praktik di Indonesia, penentuan hierarki dan pembagian unit organisasi,
standarisasi, prosedur dan aturan-aturan daerah sangat ditentukan oleh pemerintah
pusat, dan pemerintah daerah harus loyal terhadap aturan tersebut. Dalam bidang
manajemen telah disiapkan oleh pemerintah pusat, berbagai pedoman, petunjuk
dalam menangani berbagai tugas pelayanan dan pembangunan di daerah. Dalam
bidang kebijakan publik, program dan proyek-proyek serta kegiatan-kegiatan yang
diusulkan harus mendapat persetujuan pemerintah pusat. Implikasinya masih
banyak pejabat di daerah harus menunggu perintah dan petunjuk dari pusat.
3. Lemahnya Kontrol Wakil Rakyat Dan Masyarakat
Selama orde baru tidak kurang dari 32 tahun peranan wakil rakyat dalam mengontrol
eksekutif sangat tidak efektif karena terkooptasi oleh elit eksekutif. Birokrasi di
daerah cenderung melayani kepentingan pemerintah pusat, dari pada melayani
kepentingan masyarakat lokal. Kontrol terhadap aparat birokrasi oleh lembaga
legislatif dan masyarakat tampak artifisial dan fesudo demokratik. Kelemahan ini kita
sadari bersama, perubahan telah dilakukan segera setelah pergantian rezim “orde
baru” orde reformasi. UU. Politik dan otonomi daerah diberlakukan, semangat dan
proses demokrasi menjanjikan, dan kontrol terhadap birokrasi dimulai walaupun
terkadang kebablasan. Sayang, semangat demokrasi yang timbul dan berkembang di
era reformasi ini tidak diikuti oleh strategi peningkatan kemampuan dan kualitas
wakil rakyat. Wakil rakyat yang ada masih kurang mampu melaksanakan tugasnya
melakukan kontrol terhadap pemerintah. Ketidakmampuan ini memberikan peluang
bagi eksekutif untuk bertindak leluasa dan sebaliknya legislatif bertindak ngawur
mengorbankan kepentingan publik yang justru dipercaya mewakili kepentingannya.
4. Kesalahan Strategi
UU No. 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah diberlakukan pada suatu pemerintah
daerah sedang lemah. Pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk melakukan
sendiri apa yang mereka butuhkan, tetapi dengan kemampuan yang sangat marjinal.
Hal ini akibat dominasi pemerintah pusat di daerah yang terlalu berlebihan, dan
kurang memberikan peranan dan kesempatan belajar bagi daerah. Model
pembangunan yang dilakukan selama ini sangat sentralistik birokratis yang berakibat
penumpulan kreativitas pemerintah daerah dan aparatnya. UU No. 22 Tahun 1999
tentang Otonomi Daerah, dalam beberapa hal mengandung kelemahan-kelemahan,
namun bagaimanapun juga UU ini merupakan suatu reformasi dalam sistem
pemerintahan daerah, yang telah menggeser paradigma lama ke paradigma baru,
yaitu dari sistem pemerintah “sentralistik” yang lebih berorientasi kepada Structural
Efficiency Model” berubah ke arah sistem pemerintahan “desentralistik” yang
orientasinya lebih cenderung kepada Local Democratic Model, yaitu yang lebih
menekankan kepada prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan
dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.
Permasalahan Dalam Otonomi Daerah Di Indonesia:
1. Adanya Eksploitasi Pendapatan Daerah
2. Pemahaman terhadap Konsep Desentralisasi dan Otonomi Daerah yang Belum
Mantap
3. Penyediaan Aturan Pelaksanaan Otonomi Daerah yang Belum Memadai
4. Kondisi SDM Aparatur Pemerintahan yang Belum Menunjang Sepenuhnya
Pelaksanaan Otonomi Daerah.
5. Korupsi di Daerah
6. Adanya Potensi Munculnya Konflik Antar Daerah
Sumber Referensi:
[Link]
ylgg [Link]
[Link]
Dari uraian di atas lakukanlah telaah terkait dengan solusi nyata kita sebagai masyarakat
untuk menanggulangi hambatan pelaksanaan otonomi daerah!
(Petunjuk: silahkan baca dan pahami terlebih dahulu tentang hambatan otonomi daerah
yang ada di dalam BMP MKDU4111) Jawab:
4. Melakukan pengawasan Perda agar sinergi dan tidak menyimpang dengan peraturan
diatasnya yang lebih tinggi.
5. Melarang anggota keluarga kepala daerah untuk maju dalam pemilihan daerah untuk
mencegah pembentukan dinasti politik.
6. Meningkatkan kontrol terhadap pembangunan di daerah dengan memilih mendagri
yang berkapabilitas untuk mengawasi pembangunan di daerah.
7. Melaksanakan Good Governence dengan memangkas birokrasi (reformasi birokrasi),
mengadakan pelayanan satu pintu untuk masyarakat. Melakukan efisiensi anggaran.
8. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dari sektor SDA dan Pajak serta mencari dari
sektor lain seperti jasa dan pariwisata digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.
Dari uaraian di atas lakukanlah telaah terkait peran mahasiswa dalam upaya mewujudkan
praktek good governance!
(Petunjuk: silahkan baca dan pahami terlbih dahulu tentang good governance yang ada di
dalam BMP MKDU4111!)
Jawab:
Mahasiswa memiliki tiga peran penting yang harus dilakukan mahasiswa terhadap
masyarakat diantaranya :
1. Agent Of Change,
Sebagaimana yang sudah dijelaskan didalam Surah Ar Ra'd : 11 Bahwa dimana bahwa
suatu kaum harus mau berubah bila mereka menginginkan sesuatu keadaan yang
lebih baik. Dengan adanya mahasiswa sebagai kaum intelektual, maka mahasiswa
dituntut untuk melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Mahasiswa tidak
hanya "diam” melihat kondisi di sekitarnya. Mahasiswa harus merubah kondisi
sekitarnya menjadi lebih baik.
2. Agent Of Control,
Mahasiswa juga bisa berperan sebagai control terhadap kebijakan yang dibuat
menyangkut hajat hidup orang banyak, mahasiswa dapat menjadi peran penting
dalam mewujudkan good governance dalam system pemerintahan.
3. Iron Stock
Mahasiswa adalah asset atau cadangan untuk masa depan. Mahasiswa diharapkan
menjadi generasi yang tangguh dan juga harus memiliki kemampuan dan moralitas
yang baik sehingga dapat menggantkan generasi sebelumnya. Hal ini dapat
dibuktikan dengan adanya organisasi yang setiap akhir kepengurusan akan di tandai
dengan pergiliran tongkat estafet dari golongan tua yang sudah penah memimpin ke
golongan muda yang mempunyai jiwa kempemimpinan. Dan disinilah saatnya yang
muda yang memimpin.
Sebagai mahasiswa juga harus mengerti fungsi mahasiswa yang harus dijalankan:
a. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat
b. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan
c. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan di masyarakat.
Berdasarkan fungsi tersebut dapat kita sederhanakan bahwa tugas perguruan tinggi adalah
membentuk insan akademis, yang selanjutnya hal tersebut akan menjadi sebuah fungsi bagi
mahasiswa itu sendiri. Insan akademis itu sendiri memiliki dua ciri yaitu: memiliki sense of
crisis, dan selalu mengembangkan dirinya. Insan akademis harus memiliki sense of crisis
yaitu peka dan kritis terhadap masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya saat ini. Hal ini
akan tumbuh dengan sendirinya bila mahasiswa itu mengikuti watak ilmu, yaitu selalu
mencari pembenaranpembenaran ilmiah. Dengan mengikuti watak ilmu tersebut maka
mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai masalah yang terjadi dan terlebih lagi
menemukan solusi-solusi yang tepat untuk menyelesaikannya
b. Mendorong dan memandu masyarakat secara langsung atau pun tidak untuk
memilih parpol dan calon walik rakyat yang jujur, amanah, cerdas, pejuang, berani,
dan mempunyai track record yang baik di masayrakat.
c. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang parpol dan calon wakil rakyat
yang baik dan pantas untuk dipilih, supaya hasil pemilu dapat membawa bangsa ini
semakin maju di bawah pemimpin yang tepat.
d. Memberikan aspirasi dan juga kritisi atas kebijakan dan juga tindakan yang
dilaksanakan oleh pemerintah yang didasari oleh penelitian atau kajian.