0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
61 tayangan10 halaman

Studi Literatur Potensi Blending Residu Oil MBC - PTCF Untuk Mfo Low Sulphur Sebagai Bahan Bakar Kapal Di Pt. Pertamina

Diunggah oleh

Agung Aldi Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
61 tayangan10 halaman

Studi Literatur Potensi Blending Residu Oil MBC - PTCF Untuk Mfo Low Sulphur Sebagai Bahan Bakar Kapal Di Pt. Pertamina

Diunggah oleh

Agung Aldi Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Distilat.

2020, 6 (2), 381-390


p-ISSN : 1978-8789, e-ISSN : 2714-7649
[Link]

STUDI LITERATUR POTENSI BLENDING RESIDU OIL MBC –


PTCF UNTUK MFO LOW SULPHUR SEBAGAI BAHAN BAKAR
KAPAL DI PT. PERTAMINA
Ega Yanuar Rizqi, Eko Naryono
Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang, Jl. Soekarno Hatta No. 9, Malang, Indonesia
egayr04@[Link], [eko_naryono@[Link]]

ABSTRAK
International Maritime Organization mengeluarkan peraturan untuk mengurangi kandungan sulphur pada bahan
bakar kapal menjadi maksimal 0.5 wt% per 1 Januari 2020. Artinya, penggunaan High Sulphur Fuel Oil sebagai
bahan bakar kapal harus diganti dengan Low Sulphur Fuel Oil. Salah satu jenis LSFO yang dapat diproduksi
menjadi bahan bakar kapal jenis MFO Low Sulphur adalah PTCF dari PT. TPPI. Namun nilai viskositas PTCF
tergolong rendah, sehingga diperlukan proses melalui metode blending dengan MBC dari PPSDM Cepu yang
merupakan residu jenis Low Sulphur Waxy Residue dengan nilai pour point tinggi. Berdasarkan review jurnal,
dilakukan penentuan titik optimal blending yang bertujuan untuk mengetahui komposisi blending yang tepat
melalui perhitungan terhadap viskositas dan pour point blending dengan metode refutas dan biaya blending
MBC:PTCF. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh blending terhadap viskositas, pour point, dan
komposisi blending yang optimal terhadap karakteristik produk MFO LS yang mengacu pada SK Dirjen Migas No.
0179.K/10/DJM.S/2019. Variabel yang digunakan adalah persentase rasio MBC:PTCF sebesar 20:80; 25:75; 30:70;
35:65; 40:60; 50:50 dan diperoleh komposisi optimal pada komposisi 30:70 dengan viskositas sebesar 18.1 cst,
pour point sebesar 25.6 oC, dan biaya sebesar 59.4027 usd/bbl.

Kata kunci: Blending, IMO 2020, MFO Low Sulphur, Residu Oil

ABSTRACT
The International Maritime Organization issued a regulation to reduce sulphur content in ship fuel to a maximum
of 0.5 wt% on January 1,2020. That is, the use of High Sulphur Fuel Oil as ship fuel must be replaced with Low
Sulphur Fuel Oil. One type of LSFO can be produced as ship fuel MFO Low Sulphur is PTCF from PT. TPPI. However,
PTCF viscosity value is relatively low, so a blending method with MBC from Cepu PPSDM is needed, which is a Low
Sulphur Waxy Residue type residue with a high pour point value. Based on a journal review, determining the
optimal blending point aims to determine the exact blending composition through the calculation of viscosity and
pour point blending by refutas method and MBC:PTCF blending costs. This literature study aims to determine the
effect of blending on viscosity, pour points, and the optimal blending composition on the characteristics of MFO
LS that refer to SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019. The variable used of MBC:PTCF ratio of 20:80; 25:75;
30:70; 35:65; 40:60; 50:50 and obtained the optimal composition at 30:70 with viscosity of 18,1 cst, pour point of
25.6 oC, and a cost of 59,4027 usd/bbl.

Keywords: Blending, IMO 2020, MFO Low Sulphur, Residue Oil

1. PENDAHULUAN
International Maritime Organization (IMO) mengeluarkan peraturan untuk
mengurangi kandungan sulphur pada bahan bakar kapal menjadi maksimal 0.5 wt% per 1
Januari 2020. Menurut IMO [1], penurunan kandungan sulphur pada bahan bakar dari 3,5%
menjadi 0,5% dapat membuat emisi dari kapal berkurang sekitar 77%. Peraturan ini telah

Corresponding author: Jurusan Teknik Kimia Diterima: 13 Agustus 2020


Politeknik Negeri Malang Disetujui: 25 Agustus 2020
Jl. Soekarno-Hatta No.9, Malang, Indonesia © 2020 Politeknik Negeri Malang
E-mail: [Link]@[Link]
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

dikenal sebagai IMO Sulphur Cap 2020. Artinya, penggunaan High Sulphur Fuel Oil (HSFO)
sebagai bahan bakar kapal harus diganti dengan Low Sulphur Fuel Oil (LSFO). Dengan adanya
IMO 2020, PTCF yang merupakan produk samping jenis LSFO berpeluang besar untuk dijadikan
MFO Low Sulphur. PTCF dihasilkan dari proses distilasi dimana distilasi adalah proses
pemisahan suatu campuran secara fisika yang didasarkan atas perbedaan trayek didih dari
komponen – komponen dalam campuran [2]. Namun, PTCF memiliki nilai viskositas yang
cenderung lebih rendah dari nilai batas minimal viskositas. Suresh, dkk [3] menyatakan bahwa
viskositas bahan bakar kapal dipertahankan pada sekitar 15 cst di injector, untuk efisiensi
atomisasi bahan bakar yang optimal. Sistem kontrol akan mengukur viskositas dan mengatur
suhu pemanasan bahan bakar dengan tepat. Pada kasus ini maka perlu dilakukan penangan
terlebih dahulu terhadap PTCF salah satunya menggunakan skema blending. Alternatif skema
blending dapat dilakukan dengan residu dihasilkan oleh PPSDM Cepu yaitu MBC. MBC (Minyak
Bakar Cepu) merupakan residu jenis LSWR (Low Sulphur Waxy Residue) yang memiliki nilai
viskositas tinggi. Kandungan sulphur PTCF dan MBC yang tergolong rendah akan mendukung
proses produksi MFO Low Sulphur tersebut. MBC memiliki pour point cenderung tinggi
melebihi batas maksimal pour point MFO Low Sulphur yang hanya sebesar 30 0C sehingga
perlu diperhatikan nilai pour point blending yang dihasilkan. Dengan adanya pertimbangan
nilai viskositas dan pour point, menjadi perhatian khusus untuk menghasilkan produk yang
optimal sesuai sesuai SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019.
Proses blending merupakan proses yang umum digunakan dalam industri
perminyakan. Menurut Haryono [4], Blending adalah suatu proses pencampuran untuk
mendapatkan produk atau umpan yang memenuhi persyaratan atau spesifikasi yang
diperlukan. Proses blending melibatkan 2 komponen atau lebih dengan spesifikasi yang
berbeda sehingga dapat dihasilkan produk baru dengan spesifikasi yang baru pula. Blending
dapat dilakukan secara batch atau kontinyu (inline blending). Sebagian besar kilang
menggunakan inline blending yang dikendalikan komputer untuk produk gasoline dan produk
dengan volume tinggi [5]. Dalam skala industri, pembuatan bahan bakar kapal umumnya
menggunakan metode batch blending. Hal ini dikarenakan komponen yang digunakan
tergolong middle distillates dan jumlah komponen yang ditangani cenderung lebih sedikit.
Sebelumnya penelitian serupa dilakukan oleh Kuhita, dkk [6] terhadap MDO (Marine
Diesel Oil). Untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal jenis diesel tersebut maka
dilakukan skema blending antara ADO (Automotive Diesel Oil) dengan Short Residu dan Flux
Oil. Sebelum dilakukan proses blending skala besar, maka dilakukanlah penentuan titik
optimal blending yang bertujuan untuk mengetahui komposisi blending yang tepat dari
masing-masing komponen MDO yang akan dipergunakan melalui metode perhitungan. Pada
penelitian ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi residu, semakin tinggi viskositas dan
pour point blending yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan residu memiliki nilai viskositas dan
pour point yang cenderung tinggi. Kelebihan dari penelitian ini adalah tidak hanya dilakukan
perhitungan terhadap parameter-parameter spesifikasi MDO namun juga dilakukan
perhitungan keekonomisan blending berdasarkan biaya yang dibutuhkan untuk masing-
masing komponennya.
Metode perhitungan yang digunakan untuk mengetahui viskositas campuran dengan
metode indeks refutas. Metode ini merupakan metode yang paling dikenal dalam industri
perminyakan. Persamaan Refutas mengolah data viskositas komponen dan fraksi berat
komponen melalui perhitungan indeks pencampuran viskositas hingga diperoleh viskositas
campuran. Menurut Guillermo, dkk [7], Metode indeks refutas dikembangkan untuk
382
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

memprediksi viskositas campuran dari semua komponen minyak bumi. Seperti yang diusulkan
oleh British Petroleum, persamaan refutas adalah algoritma tiga langkah. Hal ini meliputi
perhitungan viscosity blend index untuk setiap komponen, kemudian dari masing-masing VBI
dan fraksi beratnya, dan akhirnya menetapkan viskositas campuran (viscosity blending).
Begitu pula dengan perhitungan terhadap pour point blending yang melalui
perhitungan pour point index terlebih dahulu. Menurut A Jarullah [8], nilai pour point blending
dapat diperoleh melalui pour point index blending digunakan yang berbaur secara linear
berdasarkan volume. Nilai pour point setiap komponen dalam satuan rankine digunakan untuk
perhitungan pour point index untuk setiap komponen, kemudian dari masing-masing PPI dan
fraksi beratnya dan akhirnya dapat diperoleh pour point campuran.
Oleh karena itu dengan mengacu penelitian diatas, kajian ini dilakukan untuk
mengetahui titik blending paling optimal terhadap hasil blending antara PTCF dan MBC.
Sehingga dari pengkajian dan studi literatur terhadap metode perhitungan guna mengetahui
nilai viskositas campuran dan pour point campuran sesuai spesifikasi MFO Low Sulphur 180
sesuai SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019 serta nilai dalam segi ekonomis dari
masing-masing titik blending.

2. METODOLOGI PENELITIAN
Studi literatur dilakukan oleh penulis untuk mendapatkan data dari berbagai sumber
tertulis, baik berupa buku-buku, arsip, majalah, artikel, jurnal, dan dokumen lainnya yang
berkaitan dengan blending jenis LSFO (PTCF – PT. TPPI) dengan LSWR (MBC – PPSDM Cepu)
menjadi produk MFO Low Sulphur 180.
2.1. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data meliputi hasil analisa hasil analisa komponen PTCF dan MBC yang
dilakukan di RTC Gedung Laboratorium Pertamina Research & Technology Center (RTC)
pada Maret 2020. Data-data yang telah dikumpulkan akan di analisis dengan menggunakan
metode perhitungan terhadap masing-masing titik blending. Blending antara PTCF dan MBC
dilakukan pada variabel berikut ini:
a. Formula 1 : 20% MBC ex Cepu + 80% PTCF ex TPPI
b. Formula 2 : 25% MBC ex Cepu + 75% PTCF ex TPPI
c. Formula 3 : 30% MBC ex Cepu + 70% PTCF ex TPPI
d. Formula 4 : 35% MBC ex Cepu + 65% PTCF ex TPPI
e. Formula 5 : 40% MBC ex Cepu + 60% PTCF ex TPPI
f. Formula 6 : 50% MBC ex Cepu + 50% PTCF ex TPPI
2.2. Metode Perhitungan
Metode pengumpulan data adalah studi pustaka. Data-data yang telah dikumpulkan
akan di analisis dengan menggunakan metode perhitungan sebagai berikut:
1. Viscosity Blending (Refutas Index Method)
 log form ∶ VBIi = 23.097 + 33.469 log log (µi + 0.8) (1a)
o VBIblend = wA VBIA + wB VBIB (2a)
VBIblend − 23.097
o µblend = 1010( )
33.469 − 0.8 (3a)
 ln form ∶ VBIi = 10.975 + 14.534 ln ln (µi + 0.8) (1b)
o VBIblend = wA VBIA + wB VBIB (2b)
VBIblend − 10.975
( )
e 14.534
o µblend = e − 0.8 (3b)

383
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

Dimana :
o VBIi ∶ Viscosity Blending Index komponen i
o VBIblend ∶ Viscosity Blending Index Blending
o wA ∶ Persentase massa komponen A
o µblend ∶ Viscosity Blending (cSt)
2. Pour Point Blending
TPPi 12.5
 PPIi = 3262000 x (1000 ) (4)
 PPIblend = wA PPIA + wBPPIB (5)
1
PPIblend 12.5
 PPblend = 1000 x ( 3262000 ) (6)
Dimana :
 PPIi : Pour Point Index komponen i
 PPIblend ∶ Pour Point Index Blending
 wA : Persentase massa komponen A
 TPPblend ∶ Pour Point Blending (°R)
3. Taksiran Biaya
Dilakukan perhitungan terhadap segi ekonomis masing-masing titik blending
berdasarkan Data Ekspor Produk Non Ritel Pertamina pada tahun 2019 yang di publish
oleh pertamina di website [Link] sebagai berikut:

Tabel 1. Data Ekspor Produk Non Ritel Pertamina pada tahun 2019

Nama Produk Source Volume (BBL) Value (USD)

LSFO (Vacuum Residue) RU III Plaju, Indonesia 837,133 51,475,432

LSWR RU II Dumai, Indonesia 183,913 10,029,169


- *Sumber: [Link] [9]
-
Value (USD)
- Taksiran Harga = (7)
Volume (BBL)
- Taksiran Biaya 𝐵𝑙𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 = wA CA + wB CB (8)
-
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Spesifikasi MFO Low Sulphur berdasar SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019
serta hasil analisa komponen PTCF dan MBC yang dilakukan di RTC Gedung Laboratorium
Pertamina Research & Technology Center (RTC) pada Maret 2020 dapat dilihat pada Tabel 2
yaitu hasil uji PTCF dan MBC dan dibandingkan dengan spesifikasi MFO LS 180 yang mengacu
pada SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019, dapat dilihat nilai viskositas dan pour point
tidak sesuai dengan parameter MFO LS 180 sehingga dilakukan proses blending dengan
komposisi-komposisi yang telah ditentukan. Berikut data spesifikasi dijabarkan pada Tabel 2.

384
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

Tabel 2. Data Spesifikasi MFO Low Sulphur, PTCF, dan MBC

Batasan MFO
Karakteristik Satuan LS 180 PTCF MBC Metode Uji
Min. Maks.
Densitas pada 15 0C Kg/m3 - 991 910.6 938.1 D 1298
Kinematic Viscosity at 500C cSt - 180 12.41 52.76 D 446
Kandungan Sulphur % m/m - 0.5 0.0792 0.4734 D 1552/ 2622
0
Pour Point C - 30 9 45 D 97
0
Titik Nyala C 60 - 102 73 D 93
TAN mg KOH/g - 2.5 0.0744 0.4474 D 664
Residu Karbon % m/m - 18 0.32 3.92 D 189
Ash Content % m/m - 0.1 0.0059 0.0431 D 482
Sedimen Total % m/m - 0.1 0.01 0.13 D 473
Water Content % v/v - 0.5 < 0.1 < 0.1 D 93
Vanadium mg/kg - 350 1 0.15 ICP
Aluminium + Silikon - 80 38 5 D 5184/ ICP

Dalam proses blending pembuatan MFO LS sangat penting mengetahui komposisi


masing-masing komponen. Perlu dilakukan penentuan titik optimal blending dimana hal ini
bertujuan untuk mengetahui komposisi blending yang tepat dari masing-masing komponen
MFO LS yang akan dipergunakan dengan metode perhitungan terhadap nilai viskositas dan
nilai pour point hasil blending yang dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Spesifikasi PTCF dan MBC

Komponen Viscosity (cSt) Pour Point (0C)


1. PTCF 12.41 9
2. MBC 52.76 45

3.1. Viscosity Blending


Ada beberapa parameter yang dapat menentukan kualitas suatu bahan bakar salah
satunya adalah viskositas. Viskositas menunjukkan kefluidaan relatif dari bahan bakar. Apabila
viskositas tidak tepat maka akan menyebabkan keterlambatan pembakaran sehingga
menimbulkan kerusakan pada mesin [10]. Oleh karena itu, perlu ditinjau suatu bahan bakar
sehingga menghasilkan nilai viskositas yang sesuai. PTCF memiliki nilai viskositas yang
cenderung rendah sehingga dilakukan skema blending terhadap residu MBC yang cenderung
memiliki nilai viskositas yang tinggi. Dari data hasil analisa nilai viskositas PTCF dan MBC
dilakukan perhitungan dengan metode index refutax (indeks refutas) terhadap nilai viskositas
campuran (viscosity blending) dalam berbagai komposisi yang telah ditentukan. Metode
indeks refutas dikembangkan untuk memprediksi viskositas campuran dari semua komponen
minyak bumi. Hasil perhitungan akhir viskositas campuran (viscosity blending) disajikan pada
Tabel 4 berikut ini:

385
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

Tabel 4. Hasil Perhitungan nilai Viskositas Campuran (µ𝑏𝑙𝑒𝑛𝑑 )

- Formula - µ𝒃𝒍𝒆𝒏𝒅 (𝒄𝑺𝒕)


a. Formula 1 : 80% PTCF ex TPPI + 20% MBC ex Cepu 15.9
b. Formula 2 : 75% PTCF ex TPPI + 25% MBC ex Cepu 16.9
c. Formula 3 : 70% PTCF ex TPPI + 30% MBC ex Cepu 18.1
d. Formula 4 : 65% PTCF ex TPPI + 35% MBC ex Cepu 19.4
e. Formula 5 : 60% PTCF ex TPPI + 40% MBC ex Cepu 20.7
f. Formula 6 : 50% PTCF ex TPPI + 50% MBC ex Cepu 23.9

Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa skema blending PTCF terhadap MBC
meningkatkan nilai viskositas suatu produk. Seiring dengan penambahan MBC yang
semakin banyak meningkatkan viskositas campurannya yang dapat dilihat pada gambar 1
berikut ini:
30.00
25.00
Viskositas (cst)

20.00
15.00
10.00 y = 1.4997x + 13.899
R² = 0.9516
5.00
0.00
0 2 4 6 8
Formula PTCF:MBC

Gambar 1. Hubungan Formula PTCF:MBC terhadap nilai Viscosity Blending

Pada Gambar 1 menunjukkan semakin besar jumlah MBC yang ditambahkan maka
semakin besar nilai viskositas campuran (viscosity blending) yang dihasilkan. Hal ini
disebabkan karena MBC memiliki nilai viskositas yang cenderung lebih besar daripada PTCF
sehingga jumlah penambahan MBC menyebabkan peningkatan nilai viskositas campuran
yang dihasilkan. Dari data perhitungan yang diperoleh dihubungkan dengan persamaan
linier dimana X merupakan formula PTCF:MBC dan Y merupakan nilai viskositas. Nilai R2
menunjukkan seberapa besar hubungan antara formula komposisi blending dan viskositas.

Tabel 5. Taksiran besaran Koefisien Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan


0.00 – 0.199 Sangat Rendah
0.20 – 0.399 Rendah
0.40 – 0.599 Sedang
0.60 – 0.799 Kuat
0.80 – 1.00 Sangat Kuat
*Sumber: Sugiyono [11]

386
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

Nilai R2 pada Gambar 1 adalah sebesar 0,9516. jika dibandingkan dengan Tabel 4, maka
hubungan antara formula komposisi blending terhadap nilai viskositas yang dihasilkan sangat
erat sekali. Diketahui pada formula yang menjadi variabel berubah adalah komposisi kedua
komponen yaitu PTCF dan MBC. Ini menunjukkan penambahan MBC pada skema blending ini
mempengaruhi nilai viskositas produk yang dihasilkan.
Pada data perhitungan diketahui bahwa nilai viskositas campuran terendah yaitu pada
formula 1 dihasilkan sebesar 15,89 cSt. Hal ini sudah memenuhi nilai viskositas minimum
dalam suatu injector yaitu sebesar 15 cst untuk efisiensi atomisasi bahan bakar yang optimal.
Begitu pula dengan formula 2, 3, 4, 5,dan 6 yang menghasilkan nilai viskositas lebih jauh diatas
nilai viskositas minimum di injector. Hal ini tidak menjadi masalah dikarenakan sistem bakar
kapal sudah dilengkapi dengan sistem kontrol yang akan mengukur viskositas dan mengatur
suhu pemanasan bahan bakar dengan tepat sehingga dapat tercapai pengabutan yang
sempurna pada injector.

3.1 Pour Point Blending


Pour point adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan bakar
minyak sehingga minyak tersebut masih dapat mengalir karena gravitasi [12]. Pour point
merupakan paremeter penting dalam sistem bakar kapal sebab pour point yang tinggi akan
menyebabkan mesin sulit dihidupkan pada suhu rendah. MBC memiliki nilai pour point yang
cenderung tinggi sehingga nilai point blending perlu diperhatikan lebih lanjut agar tidak
melampaui batas maksimal pour point MFO Low Sulphur yang sebesar 30 0C (mengacu pada
SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019). Dari data pada Tabel 3 dilakukan perhitungan
sehingga diperoleh nilai pour point blending yang disajikan pada Tabel 6 berikut ini:

Tabel 6. Hasil Perhitungan nilai Pour Point Campuran (𝑃𝑃𝑏𝑙𝑒𝑛𝑑 )

Formula 𝑷𝑷𝒃𝒍𝒆𝒏𝒅 (°𝐂)


a Formula 1 : 80% PTCF ex TPPI + 20% MBC ex Cepu 21.2
b. Formula 2 : 75% PTCF ex TPPI + 25% MBC ex Cepu 23.5
c. Formula 3 : 70% PTCF ex TPPI + 30% MBC ex Cepu 25.6
d. Formula 4 : 65% PTCF ex TPPI + 35% MBC ex Cepu 27.6
e. Formula 5 : 60% PTCF ex TPPI + 40% MBC ex Cepu 29.4
f. Formula 6 : 50% PTCF ex TPPI + 50% MBC ex Cepu 32.7

Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa skema blending PTCF terhadap MBC
meningkatkan nilai pour point suatu produk. Seiring dengan penambahan MBC yang semakin
meningkat pula nilai viskositas campurannya yang dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini:
40
Pour Point (0C)

30

20 y = 2.2088x + 18.943
R² = 0.9922
10

0
0 2 4 6 8
Formula PTCF:MBC

Gambar 2. Hubungan Formula PTCF:MBC terhadap nilai Pour Point Blending


387
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

Pada Gambar 2 menunjukkan semakin besar jumlah MBC yang ditambahkan maka
semakin besar nilai pour point campuran (pour point blending). Hal ini disebabkan karena MBC
memiliki nilai pour point yang cenderung lebih besar daripada PTCF sehingga jumlah
penambahan MBC berbanding lurus terhadap nilai pour point campuran yang dihasilkan.
Dari data perhitungan yang diperoleh dihubungkan dengan persamaan linier dimana X
merupakan formula (komposisi blending) dan Y merupakan nilai pour point. Pada Gambar 2.
diperoleh nilai R2 sebesar 0.9922 yang artinya hubungan antara formula PTCF:MBC terhadap
nilai pour point sangat erat. Hal ini menunjukan penambahan MBC pada skema blending ini
berpengaruh terhadap perubahan pour point produk yang dihasilkan.
Batas dari pour point dalam suatu bahan bakar yaitu tidak lebih dari 40°C, walaupun
begitu pada suhu 27°C merupakan suhu dari pour point yang di izinkan [13]. Namun, menurut
SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019 nilai batas maksimal pour point MFO Low Sulphur
adalah sebesar 30 0C. Ditargetkan nilai pour point hasil blending tidak lebih dari 27 0C untuk
menjaga titik aman bahan bakar tetap dalam kondisi cair sehingga dapat di transfer dengan
mudah.
Pada data perhitungan diketahui bahwa nilai pour point campuran pada masing-
masing formula berurutan dihasilkan sebesar 21.19399 0C, 23.5051 0C, 25.6261 0C, 27.5871
0C, 29.4112 0C, dan 32.7197 0C. Dari data tersebut dapat dianalisa bahwa formula 1, 2, 3

memiliki pour point jauh dibawah batas maksimal. Pada formula 6 memiliki nilai pour point
yang melebihi SK Dirjen Migas No. 0179.K/10/DJM.S/2019 yang hanya sebesar 30 0C.
Sedangkan pada formula 3 dan 5 melampaui nilai pour point yang ditargetkan yaitu sebesar
270 C. Maka, formula terbaik dengan nilai pour point aman yaitu pada formula 1, 2, dan 3.

3.3 Komposisi Blending Optimal


Setelah dilakukan perhitungan terhadap kedua parameter yaitu nilai viskositas dan
pour point campuran maka dilakukan analisa terhadap hasil perhitungan. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui komposisi blending paling optimal. Sebelumnya, dilakukan perbandingan
hasil nilai viskositas dan pour point campuran yang disajikan pada Tabel 7 berikut ini:

Tabel 7. Perbandingan Hasil Viskositas dan Pour Point Campuran

Formula µ𝒃𝒍𝒆𝒏𝒅 (𝒄𝑺𝒕) 𝑷𝑷𝒃𝒍𝒆𝒏𝒅 (°𝐂)


a. Formula 1 : 80% PTCF ex TPPI + 20% MBC ex Cepu 15.9 21.2
b. Formula 2 : 75% PTCF ex TPPI + 25% MBC ex Cepu 16.9 23.5
c. Formula 3 : 70% PTCF ex TPPI + 30% MBC ex Cepu 18.1 25.6
d. Formula 4 : 65% PTCF ex TPPI + 35% MBC ex Cepu 19.4 27.6
e. Formula 5 : 60% PTCF ex TPPI + 40% MBC ex Cepu 20.7 29.4
f. Formula 6 : 50% PTCF ex TPPI + 50% MBC ex Cepu 23.9 32.7

Pada Tabel 7 menunjukkan formula 1, 2, dan 3 merupakan formula terbaik sebab


memiliki viskositas dan pour point yang memenuhi standar mutu MFO LS. Dari data tersebut
perlu dikaji dari segi ekonomi sebab dalam perusahaan industri, biaya bahan baku akan
mempengaruhi biaya produksi suatu produk. Biaya produksi perlu diperhatikan karena
kesalahan dalam menentukan biaya produksi akan membawa pengaruh tidak baik terhadap
kontinuitas usaha dan menyebabkan kegagalan bagi perusahaan yang bersangkutan.
Komponen biaya produksi terdiri dari biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung

388
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

dan biaya overhead pabrik [14]. Adapun data hasil penjualan (ekspor) produk non ritel
Pertamina pada tahun 2019 disajikan pada Tabel 8 berikut:

Tabel 8. Data Ekspor Produk Non Ritel Pertamina pada tahun 2019

Nama Produk Source Volume (BBL) Value (USD)


LSFO (Vacuum Residue) RU III Plaju, Indonesia 837,133 51,475,432
LSWR RU II Dumai, Indonesia 183,913 10,029,169

Dari Tabel 8 menunjukan perolehan hasil penjualan LSFO dan LSWR. Komponen PTCF
merupakan produk samping yang tergolong jenis LSFO sedangkan MBC merupakan residu
yang tergolong jenis LSWR. Selanjutnya, dilakukan perhitungan terhadap taksiran harga dalam
usd/bbl yang disajikan pada Tabel 9 berikut:
Tabel 9. Taksiran Harga pada tahun 2019

Produk Taksiran Harga (USD/BBL)


LSFO 61.4901
LSWR 54.5321

Setelah diketahui taksiran harga untuk LSFO dan LSWR, maka dapat dihitung biaya
bahan baku masing-masing titik blending. Dari perhitungan tersebut bertujuan untuk
mengetahui titik blending mana yang membutuhkan biaya paling sedikit sehingga dapat
memberikan keuntungan paling besar terhadap perusahaan. Adapun hasil perhitungan biaya
bahan baku dari masing-masing titik blending disajikan pada Tabel 10 berikut:

Tabel 10. Taksiran Biaya Bahan Baku pada tahun 2019


Taksiran Biaya Bahan Baku
Formula
(USD/BBL)
a. Formula 1 : 80% PTCF ex TPPI + 20% MBC ex Cepu 60.0985
b. Formula 2 : 75% PTCF ex TPPI + 25% MBC ex Cepu 59.7506
c. Formula 3 : 70% PTCF ex TPPI + 30% MBC ex Cepu 59.4027

Berdasarkan Tabel 10 menunjukkan semakin besar jumlah penambahan MBC


diperoleh taksiran biaya bahan baku yang semakin kecil. Hal ini disebabkan karena harga jual
MBC lebih kecil dibandingkan PTCF. Dari perhitungan ini, dapat diketahui formula 3
merupakan formula terbaik dimana nilai viskositas dan pour point campurannya sesuai
dengan standar mutu MFO LS serta taksiran biaya bahan baku yang diperlukan lebih kecil
sehingga berpotensi dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

4. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi literatur yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa
seiring dengan penambahan jumlah MBC dalam rasio blending menyebabkan peningkatan
nilai viskositas campuran (viscosity blending) dan pour point campuran (pour point blending).
389
Rizqi, dkk./ Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Vol. 6, No. 2, Agustus 2020

Diperoleh titik blending paling optimal yaitu pada formula 3 dengan komposisi 70% PTCF dan
30% MBC dengan nilai viskositas campuran sebesar 18.1 cst dan pour point campuran sebesar
25.6 oC dengan biaya bahan baku terkecil yaitu sebesar 59.4027 USD/BBL.

4.2 Saran
Dalam hal penyempurnaan data, diharapkan penelitian berikutnya dapat dilakukan
secara eksperiman dengan penambahan variabel-variabel tertentu sehingga diperoleh data
yang lebih beragam. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari proses blending
PTCF:MBC terhadap spesifikasi produk MFO Low Sulphur yang dihasilkan secara aktual.

REFERENSI
[1] IMO, 2016, Air Pollution and Energy Efficiency: Study on Effects of The Entry into Force of
The Global 0.5% Fuel Oil Sulphur Content Limit on Human Health, International Maritime
Organization
[2] Anggrianto, A.R., Pratika, A.R., Hardjono, H., 2020, Evaluasi Kolom Debutanizer (FLRS T-
102) di Unit RFCCU PT Pertamina (Persero) Refinery Unit III Plaju – Palembang, Jurnal
Distilat, Vol. 6, No. 1, 8-12.
[3] Shenoi, S., Kumar, V., Heavy Fuel Oil for Marine Engines - Fuel Additive Option for Quality
Improvement, Mumbai: Neo Pecton.
[4] Haryono, H., Marliani, M., 2014, Analisis Mutu Biosolar pada Variasi Formulasi Blending
Biodiesel dari Minyak Biji Kapuk dengan Minyak Solar, Jurnal Eksergi, Vol. 11, No. 2, 24-
29.
[5] Gary, J.H., Handwerk, G.E., and Kaiser, M.J., 2011, Petroleum Refining Technology and
Economics 5th Edition, CRC Press, United States.
[6] Ginting, K.K.B., Sarungu, S., dan Sanjaya, A.S., 2017, Optimasi Pembuatan Marine Diesel
Oil (MDO) untuk Meningkatkan Profit Kilang Pertamina RU V Balikpapan, Jurnal
Chemurgy, Vol. 1, No. 2, 22-29.
[7] Centeno, G., Sánchez-reyna, G., Ancheyta, J., Muñoz, J.A.D., and Cardona, N., 2011,
Testing Various Mixing Rules for Calculation of Viscosity of Petroleum Blends, Fuel, Vol.
90, No. 12, 3561-3570.
[8] Jarullah, A, 2017, Petroleum Refining (4th Year), Tikrit University, Irak.
[9] Pertamina, 2019, Penjualan Produk Non Ritel, Data Fungsi Keuangan Pertamina,
[Link], diakses pada 16 Juni 2020.
[10] Saidah, A., 2012, Pengaruh Parameter Tekanan Bahan Bakar terhadap Kinerja Mesin
Diesel Type 6 D M 51 SS, Rekayasa Teknologi, Vol. 3, No. 1, 39-45.
[11] Sugiyono, S., 2013, Metode Penelitian Pendidikan, Alfabeta, Jakarta.
[12] Mulyadi, E., 2011, Metyl Ester Production In Aslant Sealed Tranesterification Reactor,
Jurnal Teknik Kimia, Vol. 5, No. 2, 439-443.
[13] American Bureau of Shipping, 2001, Notes on heavy Fuel Oil: The American Bureau of
Shipping Regulation of Residual Fuel Oil, Houston, USA.
[14] Arni, Y., 2018, Persentase Biaya Bahan Baku, Biaya Tenaga Kerja, Biaya Overhead Pabrik
terhadap Harga Pokok Produksi pada PT. Maju Tambak Sumur, Jurnal Neraca, Vol. 2, No.
1, 43-56.

390

Anda mungkin juga menyukai