Desain SRPMK untuk Bangunan Tahan Gempa
Desain SRPMK untuk Bangunan Tahan Gempa
Disusun oleh:
Dosen Pembimbing
i
LEMBAR PENGESAHAN
Rizki Efrida , S.T., M.T Assoc. Prof. Dr. Fahrizal Zulkarnain, S.T., [Link]
ii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR
iii
ABSTRAK
Pemilihan material merupakan salah satu aspek penting yang digunakan untuk
konstruksi suatu bangunan karena diketahui setiap material memiliki karakteristik
yang berbeda-beda. Salah satunya adalah sistem rangka baja dan beton komposit.
Struktur komposit memiliki kekakuan lebih besar dari pada struktur non komposit
dimana hal tersebut baik untuk bangunan tahan gempa. Dalam tugas akhir ini
akan mendesain struktur komposit Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK) 2 dimensi pada 2 model struktur yang difungsikan sebagai bangunan
perkantoran yang terdapat di daerah Banda Aceh. Model 1 memiliki tinggi 15,86
m (4 lantai) bentang 10,98 m dengan jenis tanah keras (SC), Model 2 memiliki
tinggi 23,79 m (6 lantai) bentang 10,98 m dengan jenis tanah batuan keras (SA).
Berdasarkan analisis di dapat kesimpulan bahwa dimensi kolom komposit HSS
16x16x500 serta balok WF 24x84 dan Wf 24x103 telah memenuhi syarat dan
dapat digunakan. Dari hasil analisa simpangan antar lantai pada struktur komposit
SRPMK diperoleh nilai simpangan antar lantai maksimum pada model 1 sebesar
0,384 m dan pada model 2 sebesar 0,295 m, simpangan antar lantai ini lebih kecil
dari simpangan izin yaitu sebesar 0,793 m.
Kata kunci : SRPMK, Komposit, Gempa Bumi.
iv
ABSTRACT
Material selection is one of the important aspects used for the construction of a
building because it is known that each material has different characteristics. One
of them is a composite steel and concrete frame system. Composite structures
have greater rigidity than non-composite structures which are good for
earthquake-resistant buildings. In this final project, we will design a 2-
dimensional Special Moment Resistant Frame System (SRPMK) composite
structure on 2 structural models that function as office buildings in the Banda
Aceh area. Model 1 has a height of 15.86 m (4 floors) span 10.98 m with hard soil
type (SC), Model 2 has a height of 23.79 m (6 floors) span 10.98 m with hard rock
soil type (SA) . Based on the analysis, it can be concluded that the dimensions of
the HSS 16x16x500 composite column and the WF 24x84 and Wf 24x103 beams
have met the requirements and can be used. From the analysis of the deviation
between floors in the SRPMK composite structure, the maximum deviation
between floors in model 1 is 0.384 m and in model 2 is 0.295 m, the deviation
between floors is smaller than the allowable deviation of 0.793 m.
Keywords: SRPMK, Composite, Earthquake.
v
KATA PENGANTAR
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji
dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini
Yang berjudul “Desain Struktur Komposit Sistem rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK) di Wilayah Gempa” Sebagai syarat untuk meraih gelar
akademik Sarjana Teknik pada program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan.
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis mendapat banyak bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Ade Faisal, S.T., [Link]., PhD selaku Dosen Pembimbing Program
Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara atas
bimbingan, saran serta motivasi yang diberikan.
2. Ibu Rizki Efrida S.T.,M.T selaku Dosen Penguji II yang telah banyak
memberikan koreksi dan masukkan kepada penulis dalam proses
penyelesaian tugas akhir ini.
vi
7. Abang, kakak dan adik yang selalu memberi semangat dan dukungan kepada
penulis.
8. Kepada diri sendiri yang telah mampu melewati segala rintangan untuk
menyelesaikan Tugas Akhir ini. Terima kasih telah bertahan, berjuang, dan
menyelesaikan kewajiban ini, kamu hebat.
9. Bapak/Ibu Staf Administrasi di Biro Fakultas Teknik, Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara.
10. Sahabat - sahabat penulis yang tidak mungkin namanya disebut satu per satu,
yang telah membantu dan memotivasi selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.
Laporan Tugas Akhir ini tentunya masih banyak terdapat kekurangan dan
kekhilafan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan
dimasa yang mendatang.
vii
DAFTAR ISI
viii
2.5.8. Perioda Alami Struktur 18
2.5.9. Gaya Geser Dasar (Base Shear) Seismik 20
2.5.10. Simpangan (Drift) Akibat Gaya Gempa 22
2.9.11. Pengaruh P-Delta 22
2.5.12. Penentuan Prosedur Analisa 24
BAB 3 METODE PENELITIAN 25
3.1. Umum 25
3.2. Pemodelan Struktur 26
3.2.1. Data Perencanaan Struktur 26
3.2.2. Konfigurasi Bangunan 26
3.2.3. Dimensi Elemen Balok dan Kolom 29
3.3. Analisa Dinamik Struktur Linear 29
3.3.1. Pembebanan 29
3.3.2. Respons Spektrum Desain 30
3.3.3. Kombinasi Pembebanan 33
3.4. Metode Perhitungan Kuat Perlu Struktur Komposit 34
3.5. Panel Zone 36
3.6. Diagram Interaksi Kolom 38
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 41
4.1. Hasil Model Linear 41
4.2. Hasil Analisa Linear 41
4.2.1 Respon Spektrum Ragam 41
4.2.2 Koreksi Gempa Dasar Nominal 42
4.2.3 Koreksi Faktor Redundansi 42
4.2.4 Koreksi Skala Simpangan Antar Tingkat 43
4.2.5 Nilai Simpangan Gedung 43
4.2.6 Pengaruh Efek P - Delta 46
4.2.7 Ketidakberaturan Kekakuan Tingkat Lunak (Soft Story) 46
4.3. Kekuatan Desain Kolom 46
4.3.1 Kekuatan Tekan Desain 46
4.3.2 Kekuatan Tarik Desain 47
4.3.3 Diagram Interaksi Kolom 47
4.4. Hasil Analisa Kekakuan Sambungan Balok Kolom (Panel Zone) 48
ix
BAB 5 KESIMPULAN 49
5.1. Kesimpulan 49
5.2. Saran 49
DAFTAR PUSTAKA 50
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk
beban gempa. 10
Tabel 2.2 Faktor keutamaan gempa. 12
Tabel 2.3 Klasifikasi situs. 12
Tabel 2.4 Koefisien situs, Fa. 14
Tabel 2.5 Koefisien situs, Fv. 14
Tabel 2.6 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada periode pendek. 17
Tabel 2.7 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada periode 1 detik. 17
Tabel 2.8 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada periode 1 detik. 18
Tabel 2.9 Koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung. 19
Tabel 2.10 Nilai parameter periode pendekatan Ct dan x. 19
Tabel 2.11 Prosedur analisa yang diizinkan. 24
Tabel 3.1 Komponen struktural bangunan model 1. 29
Tabel 3.2 Komponen struktural bangunan model 2. 29
Tabel 3.3 Berat material konstruksi berdasarkan PPPURG 1987. 30
Tabel 3.4 Beban hidup pada lantai dan atap struktur berdasarkan
SNI 1727:2013. 30
Tabel 3.5 Kombinasi Pembebanan Berdasarkan SNI 1726:2019
dengan nilai ρ =1.3, SDS = 1.239 g. 33
Tabel 3.6 Kombinasi Pembebanan Berdasarkan SNI 1726:2019
dengan nilai ρ =1.3, SDS = 0.826 g. 34
Tabel 4.1 Nilai gaya geser dasar nominal analisa statik ekivalen
(V1) dan Nilai gaya geser dasar nominal analisa respon
spectrum output Program Analisa Struktur Vt. 42
Tabel 4.2 Perbandingan nilai Vt dan Cs.W. 43
xi
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR NOTASI
xiii
QE = Pengaruh gaya seismik horizontal dari V
R = Faktor Koefisien modifikasi respon
S1 = Parameter percepatan respons spektral MCE dari peta gempa
pada periode 1 detik
Sa = Respons spektra percepatan
SD1 = Parameter percepatan respons spektral pada periode 1 detik
SDS = Parameter percepatan respons spektral pada periode pendek
SS = Parameter percepatan respons spektral MCE dari peta gempa
pada periode pendek
T = Periode fundamental bangunan
Ta = Periode fundamental pendekatan
Tamaksimum = Nilai batas atas periode bangunan
Taminimum = Nilai batas bawah periode bangunan
V = Gaya geser dasar prosedur gaya lateral statik ekivalen
Vt = Gaya geser dasar nominal yang didapat dari hasil analisis ragam
spektrum respon yang telah dilakukan
Vwy = Kekuatan geser leleh pada badan kolom
Vfy = Kekuatan geser leleh pada sayap kolom
Vsu = Kekuatan geser ultimate
W = Berat seismik efektif bangunan
∈ = Total tegangan yang terjadi
∈y = Tegangan pada saat leleh
γwy = Regangan leleh pada badan kolom
γfy = Regangan leleh pada sayap kolom
μp = Lendutam pada titik plastis
μy = Lendutan pada titik leleh
Δ = Simpangan antar tingkat desain
Δa = Simpangan antar tingkat yang dizinkan
δx = Defleksi pusat massa di tingkat x
δxe = Defleksi pada lokasi yang ditentukan dengan analisis elastik
θ = Koefisien stabilitas untuk pengaruh P-Delta
θp = Koefisien Rotasi plastis
θpc = Koefisien Rotasi pasca puncak
xiv
θu = Rotasi pada batas ultimit
θy = Rotasi pada saat leleh
ρ = Faktor redundansi struktur
ω = Kecepatan sudut
Ω0 = Faktor kuat lebih sistem
xv
DAFTAR SINGKATAN
xvi
BAB 1
PENDAHULUAN
1
Lebih lanjut penggunaan struktur komposit memungkinkan pemanfaatan
karakteristik dasar masing-masing bahan secara optimal, sehingga dengan
penampang yang lebih kecil, mampu memikul beban serta dengan bentang yang
sama dengan beton bertulang biasa. Struktur komposit memiliki kekakuan lebih
besar dari pada struktur non komposit, dan struktur komposit memiliki defleksi
yang lebih kecil sebesar 20% hingga 30% dari non-komposit dengan ukuran yang
sama. Selanjutnya struktur komposit dapat menahan beban lebih besar sekitar
33% sampai 50% atau lebih dari beban yang dapat ditahan oleh balok baja profil
bila bekerja sendiri sebagai non-komposit. Kelebihan lainnya dari struktur
komposit adalah memungkinkannya untuk memiliki struktur yang memiliki tinggi
tiap lantai lebih kecil, fakta penting dalam high rise building. Dengan
mengecilnya tinggi tiap lantai dapat mengurangi tinggi total bangunan, sehingga
dapat mengurangi juga biaya dinding, plumbing, kabel, lift dan pondasi. Selain itu
dengan mengurangi tinggi balok dapat mengurangi biaya untuk tahan api karena
pelapisan material tahan api yang harus dilakukan menjadi dapat lebih sedikit
(McCormac, 2012).
Sebagai bahan studi perencanaan, stuktur baja beton komposit akan dijadikan
struktur utama dalam perencanaan struktur bangunan gedung yaitu pada
perencanaan ini di pilih Gedung perkantoran 4 lantai dan 6 lantai. Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, maka penulis tertarik untuk membuat judul Tugas
Akhir dengan judul “Desain Struktur Komposit SRPMK di Wilayah Gempa.”
2
a. Struktur Komposit (Baja-Beton) 2 Dimensi dengan sistem pemikul gaya
seismiknya Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Bentuk
struktur terdiri dari 6 lantai dan 4 lantai yang difungsikan sebagai
perkantoran yang terdapat di daerah Banda Aceh dengan jenis tanah
batuan keras (SA) dan tanah keras (SC).
b. Struktur dengan dimensi kolom dan balok yang dianalisa pada batas aman
dan tidak dianalisa sampai ekonomis.
2. Perencanaan struktur komposit, pembebanan serta gedung direncanakan
berdasarkan:
a. Tata cara perencanaan bangunan gedung baja struktural berdasarkan SNI
1729:2020.
b. Tata cara perencanaan beton struktural untuk bangunan gedung
berdasarkan SNI 2847:2019.
c. Spesifikasi baja tulangan beton berdasarkan SNI 2052:2017.
d. Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung berdasarkan SNI
1727:2013 dan PPPURG (1987).
e. Beban gempa untuk gedung direncanakan menggunakan Standar
Perencanaan Tahan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung SNI
1726:2019
3. Analisis menggunakan alat bantu berupa program yaitu:
a. Program Analisa Struktur, untuk menganalisa tahap desain
b. PUSKIM PUPR 2019 untuk mendapatkan rekaman gempa.
4. Parameter yang ditinjau:
a. Linear adalah semua aspek yang harus dikontrol sesuai dengan SNI
1726:2019
3
1.5. Manfaat Penelitian
Dari desain pada pemodelan Struktur Komposit dengan Sistem Rangka
Pemikul Momen Khusus (SRPMK) maka diharapkan Tugas Akhir ini dapat
memberikan manfaat untuk mengetahui bagaimana cara merencanakan struktur
gedung komposit dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) bila
berada di wilayah gempa.
Adapun sistematika penulisan yang digunakan pada Tugas Akhir ini sebagai
berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Di dalam Bab ini akan menguraikan penjelasan tentang latar belakang
masalah, rumusan masalah, ruang lingkup permasalahan, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, sistematika penulisan.
4
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini akan menyajikan penjelasan mengenai kesimpulan yang dapat
diambil dari keseluruhan penulisan Tugas Akhir ini dan saran-saran yang dapat
diterima penulis agar lebih baik lagi kedepannya.
5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Umum
Pada Bab ini akan dibahas mengenai teori-teori dasar dan syarat-
syarat/ketentuan yang berhubungan dalam perencanaan struktur bangunan yang
akan dianalisa, seperti struktur baja, Sistem Pemikul Rangka Momen Khusus
(SRPMK), teori gempa, sistem struktur penahan gempa, tata cara bangunan tahan
gempa berdasarkan SNI 1726:2019, dan teori-teori terkait lainnya yang
berhubungan dengan perhitungan atau analisa data yang diperlukan dalam Tugas
Akhir ini.
6
tergantung dari besarnya magnitude dan lamanya gempa, serta banyaknya getaran
yang terjadi. Perencanaan konfigurasi struktur bangunan dan jenis material yang
digunakan pada konstruksi bangunan, juga akan berpengaruh terhadap banyaknya
kerusakan struktur bangunan.
1. Persyaratan Gaya
a. Gaya aksial tekan terfaktor, Pu tidak boleh melebihi 𝑏𝑤 𝑓 ′ 𝑐/ 10
b. Bentang bersih komponen struktur tidak boleh kurang dari empat kali tinggi
efektifnya. Perbandingan lebar terhadap tinggi tidak boleh kurang dari 0,3
(Yudo Basuki.2009).
2. Tulangan Longitudinal
0,25 √𝑓′ 𝑐
a. 0.025𝑏𝑤 𝑑 ≥ 𝑓𝑦
𝑏𝑤 𝑑 𝑎𝑡𝑎𝑢 1,4𝑏𝑤 𝑑/𝑓𝑦
3. Tulangan Tranversal
a. Sengkang pertama harus dipasang 50 mm dari muka tumpuan. Jarak
maksimum sengkang (S max):
≤ 𝑑/4
≤ 6 Kali diameter terkecil batang tulangan lentur utama
150 mm
7
b. Sengkang pada daerah lebih dari dua kali tinggi balok diukur dari muka
tumpuan pada kedua sisi dari suatu penampang dengan kait gempa pada
kedua ujungnya harus dipasang dengan spasi tidak lebih dari d/2 sepanjang
bentang komponen struktur.
8
Gambar 2.1: Detail sambungan antara kolom komposit dan balok baja (Jeddi dkk,
2016).
9
2.5.1. Gempa Rencana dan Faktorm Keutamaan
Tata cara ini menentukan pengaruh gempa rencana yang harus ditinjau dalam
perencanaan dan evaluasi struktur bangunan gedung dan nongedung serta
berbagai bagian dan peralatannya secara umum. Gempa rencana ditetapkan
sebagai gempa dengan kemungkinan terlampaui besarannya selama umur struktur
bangunan 50 tahun adalah sebesar 2 %.
Tabel 2.1: Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa.
Kategori
Jenis pemanfaatan risiko
10
Tabel 2.1: Lanjutan
Kategori
Jenis Pemanfaatan
risiko
Gedung dan nongedung, tidak termasuk kedalam kategori
risiko IV, yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak
ekonomi yang besar dan/atau gangguan massal terhadap
kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi kegagalan,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
Pusat pembangkit listrik biasa
Fasilitas penanganan air
Fasilitas penanganan limbah
Pusat telekomunikasi
Gedung dan nongedung yang tidak termasuk dalam kategori
risiko IV, (termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas
manufaktur, proses, penanganan, penyimpanan, penggunaan
III
atau tempat pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia
berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang mudah
meledak) yang mengandung bahan beracun atau peledak di
mana jumlah kandungan bahannya melebihi nilai batas yang
disyaratkan oleh instansi yangberwenang dan cukup
menimbulkan bahaya bagi masyarakat jika terjadi kebocoran.
11
Untuk berbagai kategori risiko struktur bangunan gedung dan nongedung sesuai
Tabel 2.1 pengaruh gempa rencana terhadapnya harus dikalikan dengan suatu
faktor keutamaan gempa Ie menurut Tabel 2.1. Khusus untuk struktur bangunan
dengan kategori risiko IV, bila dibutuhkan pintu masuk untuk operasional dari
struktur bangunan yang bersebelahan, maka struktur bangunan yang bersebelahan
tersebut harus didesain sesuai dengan kategori risiko IV.
12
Tabel 2.3: Lanjutan
Kelas situs 𝑽̅ 𝒔 (m/detik) 𝑵̅ atau 𝑵
̅ 𝒄𝒉 ̅𝑺𝒖 (kPa)
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3
m tanah dengan karateristik sebagai berikut :
1. Indeks plastisitas, PI > 20
2. Kadar air, w ≥ 40%
3. Kuat geser niralir Su < 25 kPa
SF (tanah khusus,yang Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu
membutuhkan atau lebih dari karakteristik berikut:
investigasi geoteknik Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat
spesifik dan analisis beban gempa seperti mudah likuifaksi, lempung
respons spesifik- situs sangat sensitif, tanah tersementasi lemah
yang mengikuti 0) Lempung sangat organik dan/atau
Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan H
> 7,5 m dengan indeks plasitisitas) PI > 75
Lapisan lempung lunak/setengah teguh dengan
ketebalan H
> 35 m dengan Su < 50 kPa
Catatan : N/A = tidak dapat dipakai
13
SMS = Fa . SS (2.1)
SMI = Fv . S1 (2.2)
Dimana:
SS = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan untuk
periode pendek;
S1 = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan untuk
periode 1,0 detik.
Fa = Koefisien situs perioda pendek
Fv = Koefisien situs perioda 1,0 detik
14
Catatan :
SS(a) = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons
situs- spesifik.
(2.5)
2. Untuk periode lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih kecil dari atau
sama dengan Ts, spektrum respons percepatan desain, Sa, sama dengan SDS;
3. Untuk periode lebih besar dari Ts tetapi lebih kecil dari atau sama dengan TL,
respons spektral percepatan desain, Sa, diambil berdasarkan persamaan:
(2.6)
4. Untuk periode lebih besar dari TL, respons spektral percepatan desain, Sa,
diambil berdasarkan persamaan:
(2.7)
Dimana:
SDS = parameter respons spektral percepatan desain pada periode pendek;
SD1 = parameter respons spektral percepatan desain pada periode 1 detik;
15
T = periode getar fundamental struktur.
𝑆𝐷1
T0 = 0.2
𝑆𝐷𝑆
𝑆
Ts = 𝑆𝐷1
𝐷𝑆
16
Tabel 2.6: Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan
pada periode pendek.
Kategori risiko
Nilai SDS I atau II atau III IV
SDS < 0.167 A A
0.50 ≤ SDS D D
Tabel 2.7: Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
periode 1 detik.
Kategori risiko
Nilai SD1 I atau II atau III IV
SD1 < 0.067 A A
0.20 ≤ SD1 D D
17
Tabel 2.8: Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
periode 1 detik.
Faktor Batasan sistem struktur dan
Koefisien Faktor
Sistem kuat batasan tinggi struktur,hn (m)
modifikasi pembesara
pemikul lebih Kategori desain seismik
respons, n defleksi,
gaya seismik sistem,
R Cd B C D E F
Ω0
Sistem rangka pemikul momen (Struktur komposit)
1. Rangka baja
dan beton 8 3 5.5 TB TB TB TB TB
komposit
pemikul
momen khusus
2. Rangka baja
dan beton 5 3 3.5 TB TB TI TI TI
komposit
pemikul
momen
menengah
3. Rangka baja
dan beton 3 3 2.5 TB TI TI TI TI
komposit
pemikul
momen biasa
Catatan :
TB = Tidak Dibatasi dan TI = Tidak Diizinkan.
18
Ta = Ct . hnx (2.8)
Perioda fundamental pendekatan minimum (Ta min) :
x
Ta min = Cnt . h (2.9)
Perioda fundamental pendekatan maksimum (Ta maks) :
Ta maks = Cu . Ta min (2.10)
Dimana:
Ta min = Nilai batas bawah perioda bangunan
Ta maks = Nilai batas atas perioda bangunan
hn = Ketinggian struktur dalam m di atas dasar sampai tingkat tertinggi
struktur (m)
Cu = Ditentukan dari Tabel 2.9
X = Ditentukan dari Tabel 2.10
Ct = Ditentukan dari Tabel 2.10
Tabel 2.9: Koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung.
19
Tabel 2.10: Nilai parameter periode pendekatan Ct dan x. (Lanjutan)
Tipe struktur Ct x
Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap tekuk 0,0731 0.75
Semua sistem struktur lainnya 0,0488 0.75
(2.13)
Nilai Cs yang dihitung sesuai dengan persamaan (2.13) tidak perlu melebihi
berikut ini:
Untuk T ≤ TL, maka Cs max adalah:
(2.14)
20
Untuk T ≤ TL, maka Cs max adalah:
(2.15)
(2.17)
Dimana:
SDS = Parameter percepatan respon spektrum desain untuk perioda pendek 0.2
detik
S1 = Parameter percepatan respon spektrum desain untuk perioda 1 detik
R = Faktor modifikasi respon
Ie = Faktor keutamaan gempa yang ditentukan berdasarkan Tabel 2.4
T = Perioda fundamental struktur (detik)
TL = Peta transisi periode panjang
21
Nilai Cs hasil hitungan yang didapatkan tidak perlu melebihi nilai Cs
maksimum dan juga tidak perlu kurang dari nilai Cs minimum. Sedangkan
sebagai tambahan untuk struktur yang berlokasi di daerah dimana S1 lebih besar
dari 0.6 g maka Cs harus tidak kurang dari nilai Cs minimum tambahan.
22
perlu diperhitungkan bila koefisien stabilitas (θ) seperti ditentukan oleh
persamaan berikut sama dengan atau kurang dari 0.10:
(2.18)
Dimana :
Px = beban desain vertikal total pada dan di atas tingkat-x, (kN); bila
menghitung, faktor beban individu tidak perlu melebihi 1,0;
Δ = simpangan antar tingkat desain seperti didefinisikan dalam SNI
1726:2019, terjadi secara serentak dengan Vx (mm)
Ie = faktor keutamaan gempa
Vx = gaya geser seismik yang bekerja antara tingkat dan x – 1 (kN)
hsx = tinggi tingkat di bawah tingkat x, (mm)
Cd = faktor pembesaran defleksi
Koefisien stabilitas (θ) tidak boleh melebihi θmax yang ditentukan sebagai
berikut:
(2.19)
Dimana β adalah rasio kebutuhan geser terhadap kapasitas geser untuk tingkat
antara tingkat dan x – 1. Rasio ini diizinkan secara konservatif diambil sebesar
1.0.
Jika koefisien stabilitas (θ) lebih besar dari 0.10 tetapi kurang dari atau sama
dengan θmax, faktor peningkatan terkait dengan pengaruh P-delta pada
perpindahan dan gaya komponen struktur harus ditentukan dengan analisis
rasional. Sebagai alternatif, diizinkan untuk mengalikan perpindahan dan gaya
komponen struktur dengan 1.0/(1 – θ). Jika θ lebih besar dari θmax, struktur
berpotensi tidak stabil dan harus didesain ulang.
Jika pengaruh P-delta disertakan dalam analisis otomatis, persamaan (2.19)
tetap harus dipenuhi, akan tetapi, nilai θ yang dihitung dari persamaan (2.18)
menggunakan hasil analisis P-delta diizinkan dibagi dengan (1 + θ) sebelum
diperiksa dengan persamaan (2.19).
23
2.5.12. Penentuan Prosedur Analisa
Berdasarkan SNI 1726:2019 Pasal 7, analisa struktur yang disyaratkan
harus terdiri dari salah satu tipe yang diijinkan dalam Tabel 2.11 dibawah ini,
berdasarkan pada kategori desain seismik struktur, sistem struktur, properti
dinamis, dan keteraturan, atau dengan persetujuan pemberi ijin yang mempunyai
kuasa hukum, sebuah prosedur alternatif yang diterima secara umum diijinkan
digunakan. Prosedur analisa yang dipilih harus dilengkapi sesuai dengan
persyaratan dari pasal yang terkait.
Tabel 2.11: Prosedur analisa yang diizinkan.
B, C Semua struktur I I I
Bangunan dengan kategori risiko I
atau II yang tidak melebih 2 I I I
tingkat diatas dasar
24
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Umum
Bab ini berisi tentang pemodelan struktur yang direncanakan. Struktur
dianalisis menggunakan software bantuan, yaitu Program Analisa Struktur. Secara
umum, metode penelitian dalam Tugas Akhir ini dibuat dalam suatu diagram alir
seperti yang tampak pada Gambar 3.1.
Studi Pustaka
Pu
SNI SRPMK
Linear
Respon spektra
desain
Desain
Input Pembebanan
Menggunakan
ETABS
Pada aplikasi
Analisis struktur
ETABS
Check keamanan
sesuai SNI
Selesai
25
Berdasarkan Gambar 3.1, dapat dijelaskan bahwa dalam Tugas Akhir ini
analisis dilakukan terhadap 2 model, setiap modelnya menggunakan sistem rangka
pemikul momen khusus (SRPMK). Kedua model bangunan tersebut dianalisis
secara Linear dengan menggunakan Metode Analisis Respon Spektrum (Response
Spectrum Analysis) dengan menggunakan Program Analisa Struktur untuk
mendapatkan nilai simpangan yang ada ketika bangunan telah dikenakan gempa.
Diperiksa (Dicheck) keamanannya Sesuai SNI. Kemudian nilai simpangan
tersebut akan dibandingkan untuk setiap modelnya.
26
1. Model 1
Bangunan 4 lantai bentang 10,98 m SRPMK pada bagian luar dan Sitem
Rangka Pemikul Gravitasi pada bagian dalam (Gambar 3.2).
2. Model 2
Bangunan 6 bentang 10,98 m lantai SRPMK pada bagian luar dan Sitem
Rangka Pemikul Gravitasi pada bagian dalam (Gambar 3.3).
(a)
(b)
27
(a)
(b)
28
3.2.3. Dimensi Elemen Balok dan Kolom
Bangunan yang direncanakan adalah struktur beraturan, Struktur gedung
direncanakan dengan dimensi penampang yang berbeda. Ukuran balok dan kolom
terdapat pada Tabel 3.1.
3.3.1. Pembebanan
Beban gravitasi yang bekerja pada struktur bangunan diambil dari PPPURG
(1987) dan SNI 1727:2013 yang telah disesuaikan dengan jenis dan fungsi
bangunan. Beban-beban tersebut adalah beban hidup dan beban mati yang
berhubungan dengan komponen material bangunan. Nilai beban hidup dan beban
29
mati yang digunakan dalam perencanaan dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan Tabel
3.4.
Tabel 3.4: Beban hidup pada lantai dan atap struktur berdasarkan SNI 1727:2013.
Beban Hidup Besarnya Beban
Ruang arsip dan komputer harus
dirancang untuk beban yang lebih
berat berdasarkan pada perkiraan 4.79 KN/m2
hunian Lobi dan koridor lantai
pertama
Kantor 1 KN/m2
Koridor di atas lantai pertama 1 KN/m2
Atap 1 KN/m2
30
SM1 = Fv. S1 = 0.472
SDS = 2/3 SMS = 0.826
SD1 = 2/3 SM1 = 0.315
T0 = 0.2 SD1/SDS = 0.076
TS = SD1/SDS = 0.381
Respon spektrum untuk periode max (Tmax) 4 detik diplot ke dalam grafik
seperti yang ditampilkan pada Gambar 3.5. Respons spektrum untuk kelas situs
SA digunakan untuk bangunan model 1. Sedangkan respons spektrum untuk kelas
situs SC digunakan untuk bangunan model 2.
31
(a)
(b)
Gambar 3.4: a) Respon spektrum untuk kelas situs SA, b) Respon spektrum untuk
kelas situs SC.
32
3.3.3. Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan yang digunakan dihitung berdasarkan ketentuan yang
ditetapkan dalam SNI 1726:2019 tentang standar perencanaan bangunan tahan
gempa, maka didapatkan untuk Faktor R = 8 nilai ρ = 1.3 yang diperoleh dari
kategori desain seismik D dan nilai SDS = 1.239 g untuk kelas situs SC dan SDS =
0.826 untuk kelas situs SA. Untuk nilai yang digunakan dapat dilihat pada Tabel
3.5 dan Tabel 3.6.
Kombinasi 1 1.4 - - -
Kombinasi 2 1.2 1.6 - -
(1.2 + 0.2 SDS)DL + 1.0 LL + ρ (± 30% QEx ± 100% QEy)
Kombinasi 3 1.448 1 0.390 1.300
Kombinasi 4 1.448 1 -0.390 -1.300
(1.2 + 0.2 SDS)DL + 1.0 LL + ρ (± 100% QEx ± 30% QEy)
Kombinasi 5 1.448 1 1.300 0.390
Kombinasi 6 1.448 1 -1.300 -0.390
(0.9 - 0.2 SDS)DL + ρ (± 30% QEx ± 100% QEy)
Kombinasi 7 0.652 - 0.390 1.300
Kombinasi 8 0.652 - -0.390 -1.300
(0.9 - 0.2 SDS)DL + ρ (± 100% QEx ± 30% QEy)
Kombinasi 9 0.652 - 1.300 0.390
Kombinasi
0.652 - -1.300 -0.390
10
Kombinasi
Nilai absolute dari seluruh kombinasi
Envelope
33
Tabel 3.6: Kombinasi Pembebanan Berdasarkan SNI 1726:2019 dengan nilai ρ
=1.3, SDS = 0.826 g.
Koefisien Koefisien Koefisien Koefisien
Kombinasi
(DL) (LL) (EX) (Ey)
Kombinasi 1 1.4
34
persyaratan berikut ini:
1. Kekakuan lentur nominal komponen struktur yang memikul tekan neto harus
diambil sebagai kekakuan efektif penampang komposit, EIeff, seperti
dijelaskan dalam Pasal I2 SNI 1729:2020 atau subbab 2.10.3.
2. Kekakuan aksial nominal komponen struktur yang memikul tekan neto harus
diambil sebagai penjumlahan kekakuan aksial elastis setiap komponen.
3. Kekakuan komponen struktur yang memikul tarik neto harus diambil sebagai
kekakuan komponen struktur baja telanjang sesuai dengan Bab C SNI
1729:2020.
4. Parameter reduksi kekakuan, τb, harus diambil sebesar 0.8.
Nilai kekakuan yang sesuai untuk perhitungan defleksi dan untuk penggunaan
metode panjang efektif dibahas dalam penjelasan. Sedangkan gaya aksial yang
dihitung terdiri dari kekuatan tekan, tarik dan tekan.
1. Kekuatan Tekan
Kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan izin pada komponen struktur
komposit terisi beton yang dibebani secara aksial simetris ganda harus
ditentukan untuk keadaan batas tekuk lentur yang didasarkan atas kelangsingan
komponen struktur sebagai berikut:
Kuat tekan desain = 𝜙𝑐.𝑃𝑛 (3.1)
Dengan 𝜙𝑐=0.75
Kuat tekan izin = 𝑃𝑛/𝛺𝑐 (3.2)
Dengan 𝛺𝑐=2.00
2. Kekuatan Tarik
Kekuatan tarik tersedia komponen struktur komposit terisi beton yang dibebani
secara aksial harus ditentukan untuk keadaan batas leleh sebagai berikut:
ϕ[Link]=[Link]+[Link] (3.3)
Dimana :
ϕt = 0.90 (LRFD)
35
Ωb = 1.67 (ASD)
3. Kekuatan Lentur
Kekuatan lentur positif desain, ϕbMn, dan kekuatan lentur positif yang
diizinkan, Mn⁄Ωb, harus ditentukan untuk keadaan batas leleh sebagai berikut:
Kuat lentur positif desain = 𝜙𝑏.𝑀𝑛 (3.4)
Dengan ϕb = 0.90 (LRFD)
Kuat lentur positif izin = 𝑀𝑛/𝜙𝑏 (3.5)
Dengan Ωb = 1.67 (ASD)
1. Tabung baja
Dua sayap kolom yang dikenakan gaya geser dapat dimodelkan sebagai
kolom dengan dukungan tetap menahan deformasi lentur. Kekakuan geser
dari dua sayap kolom (Kf) adalah:
12𝐸𝑠 𝐼𝑓
𝐾𝑓 = 2 (𝑑 2
(3.6)
𝑏 −𝑡𝑏𝑓 )
Dimana :
𝑏𝑐 𝑡𝑓3
𝐼𝑓 = 2 (3.7)
12
36
𝐾 𝑠1 = 𝐾 𝑓 + 𝐾 𝑤 (3.9)
Kuat geser leleh yang dihasilkan (Vwy) dan regangan leleh (γwy) pada badan
kolom adalah sebagai berikut:
𝑉𝑤𝑦 = 2 (𝑑𝑐−2𝑡𝑓) 𝑡𝑤𝜏𝑠𝑦 (3.10)
𝐹𝑦
𝑉𝑤𝑦 = 2(𝑑𝑐 − 2𝑡𝑓 )𝑡𝑤 ( ) (3.11)
√3
𝑉𝑤𝑦
𝛾𝑤𝑦 = (3.12)
𝐾𝑤
Kuat geser leleh yang dihasilkan (Vfy) dan regangan leleh (γfy) pada sayap
kolom adalah sebagai berikut:
4𝑀𝑓𝑦
𝑉𝑓𝑦 = (𝑑 (3.13)
𝑏 −𝑡𝑏𝑓 )
𝑏𝑐 𝑡2
𝑓 𝐹𝑦
4( )
6
𝑉𝑓𝑦 = (𝑑𝑏 −𝑡𝑏𝑓 )
(3.14)
𝑉𝑓𝑦
𝛾𝑓𝑦 = (3.15)
𝐾𝑓
Kekuatan geser ultimate (Vsu) dari zona panel adalah penjumlahan dari gaya
geser dari badan kolom dan sayap kolom saat regangan geser panel zona tiba
di regangan leleh (γfy) untuk sayap kolom.
𝑉𝑠𝑢 = 𝑉𝑤𝑦 + 𝑉𝑓𝑦 (3.16)
2. Inti beton
Kriteria kegagalan Mohr-Coulomb digunakan untuk memperkirakan kekuatan
geser ultimate dari beton. Tegangan geser ultimit (τcu) beton di zona panel
dapat ditentukan sebagai:
2
𝑓′ 9(𝑓𝑐𝑝 +𝑓𝑐𝑡 ) 𝑓𝑐𝑝 +𝑓𝑐𝑡 2
𝜏𝑐𝑢 = √[ 11𝑐 + ] −( ) (3.17)
22 2
Regangan geser ultimit yang sesuai dari beton di zona panel adalah :
𝐾𝑐 = 𝐺𝑐𝐴𝑐 (3.18)
𝑉𝑐𝑢 = 𝜏𝑐𝑢𝐴𝑐 (3.19)
37
2. Kombinasi tabung baja dan inti beton
Tabung baja di zona panel dibagi secara struktural menjadi badan (web) dan
sayap (flange). Regangan dan kekuatan di mana badan baja meleleh
didefinisikan sebagai regangan geser leleh dan kekuatan zona panel,
sedangkan regangan dan kekuatan pada sayap baja meleleh didefinisikan
sebagai regangan geser ultimit dan kekuatan zona panel. Untuk zona panel
struktur komposit, kekakuan geser (K), kuat geser leleh (Vy), dan kekuatan
geser ultimate (Vu) adalah penjumlahan dari tabung baja dan inti beton
sebagai berikut:
𝐾 = 𝐾 𝑠1 + 𝐾 𝑐 (3.15)
𝑉𝑦 = 𝑉𝑠𝑦 + 𝑉𝑐𝑢 (3.16)
𝑉𝑢 = 𝑉𝑤𝑦 + 𝑉𝑓𝑦 + 𝑉𝑐𝑢 (3.20)
38
kelengkungan diagram interaksi pada beban aksial tinggi. Kelima poin tersebut
dapat dengan mudah dihitung. Untuk desain, interpolasi bilinear yang
disederhanakan dapat digunakan antara Titik (A), (C), dan (B) seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 3.5.
Persamaan untuk 5 titik spesifik dalam diagram interaksi P-M.
a. Titik (A)
PA = AsFy + Ac (0.85f’c)
MA = 0
As = bidang bentuk baja
Ac = h1h2 – 0.858ri2
b. Titik (B)
PB = 0
MB = MD − ZsnFy – 1/2Zcn (0.85f’c)
Zsn = 2twhn2
0.85𝑓𝑐′ 𝐴𝑐 ℎ2
ℎ𝑛 = ≤
2[0.85𝑓𝑐′ ℎ1 + 4𝑡𝑤 𝐹𝑦 ] 2
c. Titik (C)
PC = AC (0.85f’c)
MC = MB
d. Titik (D)
0.85𝑓𝑐′ 𝐴𝑐
𝑃𝐷 =
2
MD = ZsFy + 1/2Zc (0.85f’c)
Zs = modulus penampang plastik sumbu y penuh dari bentuk baja
ℎ1 ℎ2
𝑍𝑐 = − 0.192𝑟𝑖3
4
e. Titik (E)
1
𝑃𝐸 = (0.85𝑓𝑐′ )𝐴𝑐 + 0.85𝑓𝑐′ ℎ1 ℎ2 + 4𝐹𝑦 𝑡𝑤 ℎ𝐸
2
39
ME = Mmax - ΔME
ZsE =bhE2 − ZcE zcE =h1hE2
ΔME = ZsEFy + 1/2ZcE (0.85f’c)
ℎ𝑛 𝑑
ℎ𝐸 = +
2 4
40
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
41
4.2.2 Koreksi Gempa Dasar Nominal
Tabel 4.1: Nilai gaya geser dasar nominal analisa statik ekivalen (V1) dan Nilai
gaya geser dasar nominal analisa respon spektrum output Program Analisa
Struktur Vt.
Struktur Arah Gempa V1 (KN) Vt (KN)
Model 1 Gempa X (R=8) 474.204 576.078
Model 2 Gempa X (R=8) 297.692 417.035
Untuk memenuhi syarat berdasarkan SNI 1726:2019, maka nilai faktor skala
harus lebih besar dari 1 atau sama dengan 1.
𝑉𝑡
Syarat : ≥ 100%
𝑉
Nilai gaya geser lantai (story shear) perlu dikoreksi dengan nilai gaya seser
dasar (base shear). Koreksi untuk setiap gaya geser lantai yang memenuhi atau
tidak memenuhi syarat 35 persen gaya geser dasar. Untuk perhitungan terdapat
pada lampiran A.6.
42
4.2.4 Koreksi Skala Simpangan Antar Tingkat
Nilai V dan gaya geser dasar nominal analisis respon spektrum (Vt) dapat
dilihat pada Tabel 4.2. Kontrol Koreksi skala simpangan antar tingkat berdasarkan
pasal [Link].1 SNI 1796:2019, yaitu:
Syarat : Vt ≥ Cs.W
Dengan demikian syarat skala simpangan antar lantai telah terpenuhi, yaitu
gaya geser dasar respon spektrum (Vt) lebih besar dari nilai Cs.W, sehingga
simpangan antar lantai tidak perlu dikalikan dengan faktor skala.
43
4
3
L
a
n 2
t Simpangan
a total
i
1
0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
Actual Drift (mm)
Gambar 4.1: Kurva hasil analisis simpangan total lantai (actual drift) model 1.
4
L
a
n 3 Simpangan
t total
a
i 2
0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
Gambar 4.2: Kurva hasil analisis simpangan total lantai (actual drift) model 2.
44
4
L
a IDR
2
n
t
a Δijin = 0.020
i hsx
1
0
0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0
IDR (mm)
Gambar 4.3: Kurva hasil analisis simpangan antar lantai (IDR) Model 1.
4
L
a IDR
n 3
t
a Δijin =
i 2 0.020 hsx
0
0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0
IDR (mm)
Gambar 4.4: kurva hasil analisis simpangan antar lantai (IDR) Model 2.
45
4.2.6 Pengaruh Efek P - Delta
Berdasarkan SNI 1726:2019 pasal 7.8.7, efek P-delta dapat diabaikan jika
nilai stability ratio lebih kecil dari 1. Pada hasil perhitungan, nilai stability ratio
dibawah nilai 1 untuk semua model atau dapat dikatakan kontrolnya memenuhi
syarat yang ditentukan. Pada dasarnya efek P-delta dapat diabaikan jika syarat
stability ratio sudah terpenuhi. Untuk hasil perhitungan terdapat pada Lampiran
A8.
Berdasarkan SNI 1726:2019 pasal [Link], kekakuan tingkat lunak (soft story)
didefinisikan ada jika terdapat suatu tingkat dimana kekakuan lateralnya kurang
dari 70 persen kekakuan lateral tingkat diatasnya atau kurang dari 80 persen
kekakuan rata-rata tiga tingkat diatasnya. Pada hasil kontrol ketidakberaturan
kekakuan tingkat lunak pada arah x untuk semua model, diperoleh nilai persentase
kekakuan diatas batas yang ditentukan atau struktur yang direncanakan tidak
mengalami Soft Story.
Untuk hasil perhitungan terdapat pada Lampiran A9.
46
4.3.2 Kekuatan Tarik Desain
47
4.4. Hasil Analisa Kekakuan Sambungan Balok Kolom (Panel Zone)
Tabung baja di zona panel dibagi secara struktural menjadi badan (web) dan
sayap (flange). Regangan dan kekuatan di mana badan baja meleleh didefinisikan
sebagai regangan geser leleh dan kekuatan zona panel, sedangkan regangan dan
kekuatan pada sayap baja meleleh didefinisikan sebagai regangan geser ultimit
dan kekuatan zona panel. Untuk zona panel struktur komposit, kekakuan geser
(K), kuat geser leleh (Vy), dan kekuatan geser ultimate (Vu) adalah penjumlahan
dari tabung baja dan inti beton. Untuk perhitungan tertera pada Lampiran A.14.
48
BAB 5
KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi pada struktur komposit sistem rangka pemikul
momen khusus (SRPMK) di wilayah gempa yang telah direncanakan dapat
disimpulkan bahwa :
1. Diperoleh hasil desain dengan menggunakan profil kolom komposit HSS
16x16x500 serta balok WF 24x84 dan WF 24x103.
2. Dari hasil analisa simpangan antar lantai pada struktur komposit SRPMK yang
disyaratkan oleh SNI 1729:2019, Pada model 1 diperoleh nilai simpangan
antar lantai maksimum sebesar 0,384 m dan pada model 2 sebesar 0,295 m ,
simpangan ini lebih kecil dari simpangan antar lantai izin yaitu sebesar 0,793
m.
5.2 Saran
1. Dalam tugas akhir ini, dimensi balok kolom yang ekonomis diabaikan. Lebih
baik untuk penganalisaan selanjutnya komponen tersebut direncanakan agar
data yang dihasilkan lebih akurat.
2. Dalam tugas akhir ini, jika terdapat hasil yang kurang sesuai pada analisa
linier diharapkan agar dapat diskusi dengan penulis. Apabila nilai yang
didapatkan jauh dari hasil yang ada.
3. Diharapkan tugas akhir ini dapat diteruskan atau dievaluasi kembali dalam
rangka mendapatkan hasil yang optimal dan dapat dilakukan perbandingan
terhadap hasil yang ada.
49
DAFTAR PUSTAKA
Hu, J. W. (2016). Smart Connection System Design and Seismic Analysis. CRC
Press/Balkema
Is, Syafridal., Zardi, M., Mahathir, N. (2019). Desain Ulang Balok dan kolom
Komposit. 5, 76-86.
Nasution, A. E., Ayu, S. R., & Sucitra, W. (2020). Desain Elemen Struktur Beton
Bertulang Tahan Gempa Dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK). 1, 1-16.
Tubuh, K. D. K., dkk. (2017). Studi perbandingan perilaku dan kinerja struktur
baja menggunakan kolom komposit concrete encased dan concrete filled
tube, serta non komposit, 5 (Juli 2017). 111 – 121.
50
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Agama : Islam
No. HP : 082166575453
Email : Aanrohima1@[Link]
RIWAYAT PENDIDIKAN
1. SD Negeri 02 Subulussalam 2003 - 2009
2. MTSs Al-Mansuriah 2009 - 2012
3. SMA Negeri 01 Simpang Kiri 2012 – 2015
4. Politeknik Negeri Medan 2015 – 2018
5. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara 2019 – Selesai