0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
94 tayangan73 halaman

Desain SRPMK untuk Bangunan Tahan Gempa

Tugas akhir ini membahas desain struktur komposit sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) pada 2 model struktur perkantoran di Banda Aceh. Model 1 memiliki tinggi 15,86 m dengan tanah keras, sedangkan model 2 memiliki tinggi 23,79 m dengan tanah batuan keras. Berdasarkan analisis, dimensi kolom HSS 16x16x500 dan balok WF 24x84 serta Wf 24x103 telah memenuhi syarat. Simpangan antar lantai maksimum model 1

Diunggah oleh

Riann
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
94 tayangan73 halaman

Desain SRPMK untuk Bangunan Tahan Gempa

Tugas akhir ini membahas desain struktur komposit sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) pada 2 model struktur perkantoran di Banda Aceh. Model 1 memiliki tinggi 15,86 m dengan tanah keras, sedangkan model 2 memiliki tinggi 23,79 m dengan tanah batuan keras. Berdasarkan analisis, dimensi kolom HSS 16x16x500 dan balok WF 24x84 serta Wf 24x103 telah memenuhi syarat. Simpangan antar lantai maksimum model 1

Diunggah oleh

Riann
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR

DESAIN STRUKTUR KOMPOSIT SISTEM RANGKA


PEMIKUL MOMEN KHUSUS (SRPMK) DI WILAYAH
GEMPA
(Studi Literatur)

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Memperoleh Gelar


Sarjana Teknik Sipil Pada Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Disusun oleh:

AAN ROHIMA RAMBE


1907210210P

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN
2022
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Tugas Akhir ini diajukan oleh:


Nama : Aan Rohima Rambe
NPM : 1907210210P
Program Studi : Teknik Sipil
Judul skripsi : Desain Struktur Komposit Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK) Di Wilayah Gempa
Bidang ilmu : Struktur

DISETUJUI UNTUK DISAMPAIKAN KEPADA

PANITIA UJIAN SKRIPSI

Medan, 07 Februari 2022

Dosen Pembimbing

Ade Faisal, S.T., [Link]., PhD

i
LEMBAR PENGESAHAN

Tugas Akhir ini diajukan oleh:


Nama : Aan Rohima Rambe
NPM : 1907210210P
Program Studi : Teknik Sipil
Judul skripsi : Desain Struktur Komposit Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK) Di Wilayah Gempa
Bidang Ilmu : Struktur
Telah berhasil dipertahankan dihadapan Tim Penguji dan diterima sebagai salah
satu syarat yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara.
Medan, 07 Februari 2022

Mengetahui dan menyetujui:


Dosen Pembimbing

Ade Faisal, S.T., [Link]., PhD

Dosen Pembanding I Dosen Pembanding II

Rizki Efrida , S.T., M.T Assoc. Prof. Dr. Fahrizal Zulkarnain, S.T., [Link]

Ketua Program Studi Teknik Sipil

Assoc. Prof. Dr. Fahrizal Zulkarnain, S.T., [Link]

ii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama Lengkap : Aan Rohima Rambe
Tempat/Tanggal Lahir : Subulussalam, 05 Januari 1998
NPM : 1907210210P
Fakultas : Teknik
Program Studi : Teknik Sipil
Menyatakan dengan sesungguhnya dan sejujurnya, bahwa laporan Tugas Akhir
saya yang berjudul “Desain Struktur Komposit Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK) Di Wilayah Gempa.”
Bukan merupakan plagiarisme, pencurian hasil karya milik orang lain, hasil
kerja orang lain untuk kepentingan saya karena hubungan material dan non-
material, ataupun segala kemungkinan lain, yang pada hakekatnya bukan
merupakan karya tulis Tugas Akhir saya secara orisinil dan otentik.
Bila kemudian hari diduga ada ketidaksesuaian antara fakta dengan kenyataan
ini, saya bersedia di proses oleh Tim Fakultas yang dibentuk untuk melakukan
verifikasi, dengan sanksi terberat berupa pembatalan kelulusan/kerjasama saya.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan kesadaran sendiri dan tidak
atas tekanan ataupun paksaan dari pihak manapun demi menegakkan integritas
akademik di Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara.

Medan, 07 Februari 2022


Saya yang menyatakan,

Aan Rohima Rambe

iii
ABSTRAK

DESAIN STRUKTUR KOMPOSIT SISTEM RANGKA PEMIKUL


MOMEN KHUSUS (SRPMK) DI WILAYAH GEMPA
(Studi Literatur)

Aan Rohima Rambe


1907210210P
Ade Faisal, S.T., [Link]., PhD

Pemilihan material merupakan salah satu aspek penting yang digunakan untuk
konstruksi suatu bangunan karena diketahui setiap material memiliki karakteristik
yang berbeda-beda. Salah satunya adalah sistem rangka baja dan beton komposit.
Struktur komposit memiliki kekakuan lebih besar dari pada struktur non komposit
dimana hal tersebut baik untuk bangunan tahan gempa. Dalam tugas akhir ini
akan mendesain struktur komposit Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK) 2 dimensi pada 2 model struktur yang difungsikan sebagai bangunan
perkantoran yang terdapat di daerah Banda Aceh. Model 1 memiliki tinggi 15,86
m (4 lantai) bentang 10,98 m dengan jenis tanah keras (SC), Model 2 memiliki
tinggi 23,79 m (6 lantai) bentang 10,98 m dengan jenis tanah batuan keras (SA).
Berdasarkan analisis di dapat kesimpulan bahwa dimensi kolom komposit HSS
16x16x500 serta balok WF 24x84 dan Wf 24x103 telah memenuhi syarat dan
dapat digunakan. Dari hasil analisa simpangan antar lantai pada struktur komposit
SRPMK diperoleh nilai simpangan antar lantai maksimum pada model 1 sebesar
0,384 m dan pada model 2 sebesar 0,295 m, simpangan antar lantai ini lebih kecil
dari simpangan izin yaitu sebesar 0,793 m.
Kata kunci : SRPMK, Komposit, Gempa Bumi.

iv
ABSTRACT

COMPOSITE STRUCTURE DESIGN OF SPECIAL MOMENT


RESISTANCE FRAME SYSTEM (SRPMK) IN EARTHQUAKE AREAS
(literature study)

Aan Rohima Rambe


1907210210P
Ade Faisal, S.T., [Link]., PhD

Material selection is one of the important aspects used for the construction of a
building because it is known that each material has different characteristics. One
of them is a composite steel and concrete frame system. Composite structures
have greater rigidity than non-composite structures which are good for
earthquake-resistant buildings. In this final project, we will design a 2-
dimensional Special Moment Resistant Frame System (SRPMK) composite
structure on 2 structural models that function as office buildings in the Banda
Aceh area. Model 1 has a height of 15.86 m (4 floors) span 10.98 m with hard soil
type (SC), Model 2 has a height of 23.79 m (6 floors) span 10.98 m with hard rock
soil type (SA) . Based on the analysis, it can be concluded that the dimensions of
the HSS 16x16x500 composite column and the WF 24x84 and Wf 24x103 beams
have met the requirements and can be used. From the analysis of the deviation
between floors in the SRPMK composite structure, the maximum deviation
between floors in model 1 is 0.384 m and in model 2 is 0.295 m, the deviation
between floors is smaller than the allowable deviation of 0.793 m.
Keywords: SRPMK, Composite, Earthquake.

v
KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji
dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini
Yang berjudul “Desain Struktur Komposit Sistem rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK) di Wilayah Gempa” Sebagai syarat untuk meraih gelar
akademik Sarjana Teknik pada program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik,
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan.
Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis mendapat banyak bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Ade Faisal, S.T., [Link]., PhD selaku Dosen Pembimbing Program
Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara atas
bimbingan, saran serta motivasi yang diberikan.

2. Ibu Rizki Efrida S.T.,M.T selaku Dosen Penguji II yang telah banyak
memberikan koreksi dan masukkan kepada penulis dalam proses
penyelesaian tugas akhir ini.

3. Bapak Assoc. Prof. Dr. Fahrizal Zulkarnain,S.T.,[Link] selaku Dosen Penguji


I dan juga selaku Ketua Program Studi Teknik Sipil yang telah banyak
memberikan koreksi dan masukkan kepada penulis dalam proses
penyelesaian tugas akhir ini.
4. Bapak Munawar Alfansury Siregar, S.T, M.T., selaku Dekan Fakultas
Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
5. Segenap Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara yang telah memberikan dan mengajarkan ilmunya kepada
penulis
6. Teristimewa untuk kedua orang tua penulis Ayahanda Aripin Rambe dan
Ibunda Nurhayati Maria, yang telah memberikan kasih sayang dan dukungan
yang tidak ternilai kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas akhir ini.

vi
7. Abang, kakak dan adik yang selalu memberi semangat dan dukungan kepada
penulis.
8. Kepada diri sendiri yang telah mampu melewati segala rintangan untuk
menyelesaikan Tugas Akhir ini. Terima kasih telah bertahan, berjuang, dan
menyelesaikan kewajiban ini, kamu hebat.
9. Bapak/Ibu Staf Administrasi di Biro Fakultas Teknik, Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara.
10. Sahabat - sahabat penulis yang tidak mungkin namanya disebut satu per satu,
yang telah membantu dan memotivasi selama menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Laporan Tugas Akhir ini tentunya masih banyak terdapat kekurangan dan
kekhilafan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan
dimasa yang mendatang.

Medan, 07 Februari 2022

Aan Rohima Rambe

vii
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING i


LEMBAR PENGESAHAN ii
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR iii
ABSTRAK iv
ABSTRACT v
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR NOTASI xiii
DAFTAR SINGKATAN xvi
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Rumusan Masalah 2
1.3. Ruang Lingkup 2
1.4. Tujuan Penelitian 3
1.5. Manfaat Penelitian 4
1.6. Sistematika Penulisan 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 6
2.1. Umum 6
2.2. Gempa Bumi 6
2.3. Sitem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) 7
2.4. Struktur Baja Komposit 8
2.5. Perencanaan Bangunan Tahan Gempa Berdasarkan SNI 1762:2019 9
2.5.1. Gempa Rencana dan Faktorm Keutamaan 10
2.5.2. Klasifikasi Situs dan Parameter 12
2.5.3. Parameter Percepatan Gempa 13
2.5.4. Parameter Percepatan Spektral Desain 15
2.5.5. Spektrum Respons Desain 15
2.5.6. Kategori Desain Seismik 16
2.5.7. Sistem Struktur Pemikul Gaya Seismik 17

viii
2.5.8. Perioda Alami Struktur 18
2.5.9. Gaya Geser Dasar (Base Shear) Seismik 20
2.5.10. Simpangan (Drift) Akibat Gaya Gempa 22
2.9.11. Pengaruh P-Delta 22
2.5.12. Penentuan Prosedur Analisa 24
BAB 3 METODE PENELITIAN 25
3.1. Umum 25
3.2. Pemodelan Struktur 26
3.2.1. Data Perencanaan Struktur 26
3.2.2. Konfigurasi Bangunan 26
3.2.3. Dimensi Elemen Balok dan Kolom 29
3.3. Analisa Dinamik Struktur Linear 29
3.3.1. Pembebanan 29
3.3.2. Respons Spektrum Desain 30
3.3.3. Kombinasi Pembebanan 33
3.4. Metode Perhitungan Kuat Perlu Struktur Komposit 34
3.5. Panel Zone 36
3.6. Diagram Interaksi Kolom 38
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 41
4.1. Hasil Model Linear 41
4.2. Hasil Analisa Linear 41
4.2.1 Respon Spektrum Ragam 41
4.2.2 Koreksi Gempa Dasar Nominal 42
4.2.3 Koreksi Faktor Redundansi 42
4.2.4 Koreksi Skala Simpangan Antar Tingkat 43
4.2.5 Nilai Simpangan Gedung 43
4.2.6 Pengaruh Efek P - Delta 46
4.2.7 Ketidakberaturan Kekakuan Tingkat Lunak (Soft Story) 46
4.3. Kekuatan Desain Kolom 46
4.3.1 Kekuatan Tekan Desain 46
4.3.2 Kekuatan Tarik Desain 47
4.3.3 Diagram Interaksi Kolom 47
4.4. Hasil Analisa Kekakuan Sambungan Balok Kolom (Panel Zone) 48

ix
BAB 5 KESIMPULAN 49
5.1. Kesimpulan 49
5.2. Saran 49
DAFTAR PUSTAKA 50
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

x
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk
beban gempa. 10
Tabel 2.2 Faktor keutamaan gempa. 12
Tabel 2.3 Klasifikasi situs. 12
Tabel 2.4 Koefisien situs, Fa. 14
Tabel 2.5 Koefisien situs, Fv. 14
Tabel 2.6 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada periode pendek. 17
Tabel 2.7 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada periode 1 detik. 17
Tabel 2.8 Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons
percepatan pada periode 1 detik. 18
Tabel 2.9 Koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung. 19
Tabel 2.10 Nilai parameter periode pendekatan Ct dan x. 19
Tabel 2.11 Prosedur analisa yang diizinkan. 24
Tabel 3.1 Komponen struktural bangunan model 1. 29
Tabel 3.2 Komponen struktural bangunan model 2. 29
Tabel 3.3 Berat material konstruksi berdasarkan PPPURG 1987. 30
Tabel 3.4 Beban hidup pada lantai dan atap struktur berdasarkan
SNI 1727:2013. 30
Tabel 3.5 Kombinasi Pembebanan Berdasarkan SNI 1726:2019
dengan nilai ρ =1.3, SDS = 1.239 g. 33
Tabel 3.6 Kombinasi Pembebanan Berdasarkan SNI 1726:2019
dengan nilai ρ =1.3, SDS = 0.826 g. 34
Tabel 4.1 Nilai gaya geser dasar nominal analisa statik ekivalen
(V1) dan Nilai gaya geser dasar nominal analisa respon
spectrum output Program Analisa Struktur Vt. 42
Tabel 4.2 Perbandingan nilai Vt dan Cs.W. 43

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Detail sambungan antara kolom komposit dan balok


baja (Jeddi dkk, 2016). 9
Gambar 2.2 Spektrum respons desain. 16
Gambar 2.3 Peta transisi periode panjang, TL, wilayah Indonesia. 21
Gambar 3.1 Bagan alur penelitian. 25
Gambar 3.2 a) Denah struktur model 1, b) Proyeksi bangunan
model 1. 27
Gambar 3.3 a) Denah struktur model 2, b) Proyeksi bangunan
model 2. 28
Gambar 3.4 a) Respon spektrum untuk kelas situs SA, b) Respon
spektrum untuk kelas situs SC. 32
Gambar 3.5 Diagram interaksi P-M untuk balok-kolom komposit. 40
Gambar 4.1 Kurva hasil analisis simpangan total lantai (actual drift)
model 1. 44
Gambar 4.2 Kurva hasil analisis simpangan total lantai (actual drift)
model 2. 44
Gambar 4.3 Kurva hasil analisis simpangan antar lantai (IDR)
model 1. 45
Gambar 4.4 kurva hasil analisis simpangan antar lantai (IDR)
model 2. 45
Gambar 4.5 Diagram interaksi kolom. 47

xii
DAFTAR NOTASI

Cd = Faktor pembesaran simpangan lateral


CS = Koefisien respons seismik
Cu = Koefisien untuk batasan atas pada periode yang dihitung
DL = Beban mati, termasuk SIDL
E = Pengaruh beban seismik horizontal dan vertikal
E = Modulus elastisitas
Eh = Pengaruh gaya seismik horizontal
Ev = Pengaruh gaya seismik vertikal
Ex = Beban gempa arah x
Ey = Beban gempa arah y
F = Frekuensi Struktur
Fa = Koefisien situs untuk periode pendek yaitu pada periode 0.2 detik
FPGA = Nilai Koefisien situs untuk PGA
Fv = Koefisien situs untuk periode panjang (pada periode 1 detik)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
h = Tinggi rata-rata Struktur diukur dari dasar hingga level atap
hn = Ketinggian struktur dalam m di atas dasar sampai tingkat
tertinggi struktur
hsx = Tinggi tingkat di bawah level-x
I = Momen Inersia kolom/balok
Ie = Faktor keutamaan gempa
Kf = Kekakuan geser dari dua sayap kolom
Kw = Kekakuan geser dari dua badan kolom
l = Panjang kolom/balok
LL = Beban hidup
Mc = Momen puncak
Mu = Momen ultimit
My = Momen leleh
P = Gaya aksial kolom
PGA = Nilai PGA dibatuan dasar (SB) mengacu pada peta gempa

xiii
QE = Pengaruh gaya seismik horizontal dari V
R = Faktor Koefisien modifikasi respon
S1 = Parameter percepatan respons spektral MCE dari peta gempa
pada periode 1 detik
Sa = Respons spektra percepatan
SD1 = Parameter percepatan respons spektral pada periode 1 detik
SDS = Parameter percepatan respons spektral pada periode pendek
SS = Parameter percepatan respons spektral MCE dari peta gempa
pada periode pendek
T = Periode fundamental bangunan
Ta = Periode fundamental pendekatan
Tamaksimum = Nilai batas atas periode bangunan
Taminimum = Nilai batas bawah periode bangunan
V = Gaya geser dasar prosedur gaya lateral statik ekivalen
Vt = Gaya geser dasar nominal yang didapat dari hasil analisis ragam
spektrum respon yang telah dilakukan
Vwy = Kekuatan geser leleh pada badan kolom
Vfy = Kekuatan geser leleh pada sayap kolom
Vsu = Kekuatan geser ultimate
W = Berat seismik efektif bangunan
∈ = Total tegangan yang terjadi
∈y = Tegangan pada saat leleh
γwy = Regangan leleh pada badan kolom
γfy = Regangan leleh pada sayap kolom
μp = Lendutam pada titik plastis
μy = Lendutan pada titik leleh
Δ = Simpangan antar tingkat desain
Δa = Simpangan antar tingkat yang dizinkan
δx = Defleksi pusat massa di tingkat x
δxe = Defleksi pada lokasi yang ditentukan dengan analisis elastik
θ = Koefisien stabilitas untuk pengaruh P-Delta
θp = Koefisien Rotasi plastis
θpc = Koefisien Rotasi pasca puncak

xiv
θu = Rotasi pada batas ultimit
θy = Rotasi pada saat leleh
ρ = Faktor redundansi struktur
ω = Kecepatan sudut
Ω0 = Faktor kuat lebih sistem

xv
DAFTAR SINGKATAN

CFT = Concrete filled tube


CQC = Complete Quadratic Combination
HSS = Hollow structural Section
PEER = Pacific Earthquake Engineering Research
PGA = Peak Ground Acceleration
PPPURG = Pedoman Perencanaan Pembebanan untuk Rumah dan Gedung
RCA = Recycled Coarse Aggregate
RCFST = Recycled Concrete Filled Steel Tube
SNI = Standar Nasional Indonesia
SRC = Steel Reinforced Concrete
SRPMK = Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
SRSS = Square Root of the Sum of Square
WF = Wide Flange

xvi
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu daerah rawan gempa, hampir setiap


wilayah di Indonesia berpotensi terjadinya gempa. Hal ini dikarenakan Indonesia
terletak di tengah cincin api Pasifik yang mana merupakan daerah yang memiliki
banyak sesar atau zona rekahan, juga merupakan jalur gempa sabuk alpide yang
merupakan jalur gempa paling aktif nomor dua di dunia, serta ada tumbukan tiga
lempeng benua yaitu lempeng Indo-Australia dari selatan, Eurasia dari utara, dan
Pasifik dari timur, dan termasuk punya banyak gunung berapi, Indonesia adalah
wilayah paling aktif secara seismik di muka bumi (Anonimous, 2018).
Dengan risiko terjadinya gempa yang sangat tinggi, maka sangat tinggi pula
risiko kerusakan bangunan yang akan terjadi. Karena itu sistem struktur bangunan
yang akan dibangun harus memenuhi serta mengikuti kaidah bangunan tahan
gempa sehingga ketika terjadi gempa, struktur yang dibangun dapat bertahan.
Dalam Standar Nasional Indonesia 1726:2012 tentang tata cara perencanaan
ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung, ada 84
macam sistem penahan gempa yang dapat digunakan. Salah satunya adalah sistem
rangka baja dan beton komposit di mana penggunaan strukturnya sudah banyak
berkembang di berbagai negara maju seperti Jepang dan Cina.
Struktur komposit merupakan struktur yang terdiri dari dua atau lebih
material berbeda sifat dan karakteristik yang berkerja bersama sama untuk
memikul beban yang berkerja pada suatu struktur, dalam hal ini digunakan
material baja dan beton. Perbedaan dengan beton bertulang terdapat pada pemikul
gaya tariknya. pada struktur beton bertulang, gaya tarik dipikul oleh tulangan baja.
Sedangkan pada struktur komposit, gaya tarik dipikul oleh elemen profil baja..
Kelebihan dari struktur komposit yang didapat dalam perencanaan adalah : (1)
Penghematan berat struktur oleh baja. (2) Penampang profil balok yang lebih
kecil. (3) Peningkatan kekakuan lantai. (4) Panjang bentang tertentu dapat lebih
besar. (Salmon, 2009).

1
Lebih lanjut penggunaan struktur komposit memungkinkan pemanfaatan
karakteristik dasar masing-masing bahan secara optimal, sehingga dengan
penampang yang lebih kecil, mampu memikul beban serta dengan bentang yang
sama dengan beton bertulang biasa. Struktur komposit memiliki kekakuan lebih
besar dari pada struktur non komposit, dan struktur komposit memiliki defleksi
yang lebih kecil sebesar 20% hingga 30% dari non-komposit dengan ukuran yang
sama. Selanjutnya struktur komposit dapat menahan beban lebih besar sekitar
33% sampai 50% atau lebih dari beban yang dapat ditahan oleh balok baja profil
bila bekerja sendiri sebagai non-komposit. Kelebihan lainnya dari struktur
komposit adalah memungkinkannya untuk memiliki struktur yang memiliki tinggi
tiap lantai lebih kecil, fakta penting dalam high rise building. Dengan
mengecilnya tinggi tiap lantai dapat mengurangi tinggi total bangunan, sehingga
dapat mengurangi juga biaya dinding, plumbing, kabel, lift dan pondasi. Selain itu
dengan mengurangi tinggi balok dapat mengurangi biaya untuk tahan api karena
pelapisan material tahan api yang harus dilakukan menjadi dapat lebih sedikit
(McCormac, 2012).
Sebagai bahan studi perencanaan, stuktur baja beton komposit akan dijadikan
struktur utama dalam perencanaan struktur bangunan gedung yaitu pada
perencanaan ini di pilih Gedung perkantoran 4 lantai dan 6 lantai. Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, maka penulis tertarik untuk membuat judul Tugas
Akhir dengan judul “Desain Struktur Komposit SRPMK di Wilayah Gempa.”

1.2. Rumusan Masalah

1. Berapa dimensi struktur komposit yang dapat digunakan dalam perencanaan


gedung dengan SRPMK di wilayah gempa?
2. Berapa nilai simpangan antar lantai yang disyaratkan oleh SNI 1729:2019?

1.3. Ruang Lingkup

Mengingat luasnya permasalahan dan dengan keterbatasan waktu, maka perlu


pembatasan masalah dalam penelitian ini. Adapun batasan masalah yang
ditetapkan yaitu sebagai berikut:
1. Struktur bangunan yang direncanakan merupakan:

2
a. Struktur Komposit (Baja-Beton) 2 Dimensi dengan sistem pemikul gaya
seismiknya Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK). Bentuk
struktur terdiri dari 6 lantai dan 4 lantai yang difungsikan sebagai
perkantoran yang terdapat di daerah Banda Aceh dengan jenis tanah
batuan keras (SA) dan tanah keras (SC).
b. Struktur dengan dimensi kolom dan balok yang dianalisa pada batas aman
dan tidak dianalisa sampai ekonomis.
2. Perencanaan struktur komposit, pembebanan serta gedung direncanakan
berdasarkan:
a. Tata cara perencanaan bangunan gedung baja struktural berdasarkan SNI
1729:2020.
b. Tata cara perencanaan beton struktural untuk bangunan gedung
berdasarkan SNI 2847:2019.
c. Spesifikasi baja tulangan beton berdasarkan SNI 2052:2017.
d. Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung berdasarkan SNI
1727:2013 dan PPPURG (1987).
e. Beban gempa untuk gedung direncanakan menggunakan Standar
Perencanaan Tahan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung SNI
1726:2019
3. Analisis menggunakan alat bantu berupa program yaitu:
a. Program Analisa Struktur, untuk menganalisa tahap desain
b. PUSKIM PUPR 2019 untuk mendapatkan rekaman gempa.
4. Parameter yang ditinjau:
a. Linear adalah semua aspek yang harus dikontrol sesuai dengan SNI
1726:2019

1.4. Tujuan Penelitian

1. Untuk mendapatkan dimensi struktur komposit yang dapat digunakan dalam


perencanaan gedung dengan SRPMK di wilayah gempa.
2. Untuk mendapatkan nilai simpangan antar lantai yang disyaratkan oleh SNI
1729:2019.

3
1.5. Manfaat Penelitian
Dari desain pada pemodelan Struktur Komposit dengan Sistem Rangka
Pemikul Momen Khusus (SRPMK) maka diharapkan Tugas Akhir ini dapat
memberikan manfaat untuk mengetahui bagaimana cara merencanakan struktur
gedung komposit dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) bila
berada di wilayah gempa.

1.6. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika penulisan yang digunakan pada Tugas Akhir ini sebagai
berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN
Di dalam Bab ini akan menguraikan penjelasan tentang latar belakang
masalah, rumusan masalah, ruang lingkup permasalahan, tujuan penelitian,
manfaat penelitian, sistematika penulisan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


Bab ini akan menguraikan penjelasan mengenai mekanisme gempa, konsep
perencanaan struktur bangunan baja, analisa struktur baja sistem rangka pemikul
momen Khusus (SRPMK), dan konsep tentang kekuatan bangunan komposit
terhadap gempa yang terjadi.

BAB 3 METODE PENELITIAN


Bab ini akan menampilkan bagaimana metode penelitian yang digunakan
dari awal sampai akhir penelitian dan penjelasan mengenai cara memodelkan
dan mendesain struktur bangunan komposit dengan sistem Rangka Pemikul
Momen Khusus (SRPMK) terhadap gempa yang terjadi dengan menggunakan
Program Analisa Struktur.

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Bab ini akan menyajikan penjelasan mengenai perhitungan, analisis
pemodelan bentuk gambar, grafik atau tabel serta pembahasannya.

4
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini akan menyajikan penjelasan mengenai kesimpulan yang dapat
diambil dari keseluruhan penulisan Tugas Akhir ini dan saran-saran yang dapat
diterima penulis agar lebih baik lagi kedepannya.

5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Umum
Pada Bab ini akan dibahas mengenai teori-teori dasar dan syarat-
syarat/ketentuan yang berhubungan dalam perencanaan struktur bangunan yang
akan dianalisa, seperti struktur baja, Sistem Pemikul Rangka Momen Khusus
(SRPMK), teori gempa, sistem struktur penahan gempa, tata cara bangunan tahan
gempa berdasarkan SNI 1726:2019, dan teori-teori terkait lainnya yang
berhubungan dengan perhitungan atau analisa data yang diperlukan dalam Tugas
Akhir ini.

2.2. Gempa Bumi


Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di
dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada
kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari
pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan ke
segala arah berupa gelombang gempa bumi sehingga efeknya dapat dirasakan
sampai ke permukaan bumi (BMKG). Getaran gempa dapat disebabkan oleh
banyak hal antara lain seperti peristiwa vulkanik, yaitu getaran tanah yang
disebabkan oleh aktivitas desakan magma ke permukaan bumi atau meletusnya
gunung berapi. Gempa yang terjadi akibat aktivitas vulkanik ini disebut gempa
vulkanik. Gempa vulkanik terjadi di daerah sekitar aktivitas gunung berapi dan
akan menyebabkan mekanisme patahan yang sama dengan gempa tektonik.
Gerakan atau getaran tanah yang terjadi akibat gempa disebabkan oleh terlepasnya
timbunan energi yang tersimpan di dalam bumi secara tiba-tiba. Energi yang
terlepas ini dapat berbentuk energi potensial, energi kinetik, energi kimia, atau
energi regangan elastis. Pada umumnya gempa-gempa yang merusak lebih banyak
diakibat oleh terlepasnya energi regangan elastis di dalam batuan (rock) di bawah
permukaan bumi. Energi gempa ini merambat ke segala arah. dan juga
kepermukaan tanah sebagai gelombang gempa (seismic wave), sehingga akan
menyebabkan permukaan bumi bergetar. Sifat merusak dari suatu gempa

6
tergantung dari besarnya magnitude dan lamanya gempa, serta banyaknya getaran
yang terjadi. Perencanaan konfigurasi struktur bangunan dan jenis material yang
digunakan pada konstruksi bangunan, juga akan berpengaruh terhadap banyaknya
kerusakan struktur bangunan.

2.3. Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)

Sistem rangka pemikul momen khusus merupakan sistem rangka di mana


komponen strukturnya direncanakan mampu memikul lentur akibat gaya dari
beban gempa. Sistem ini memiliki tingkat daktilitas penuh dan harus digunakan
untuk bangunan yang dikenakan kategori desain seismik D, E, atau F (SNI-
2847:2013, 2013).

Menurut Amrullah dkk, (2019) menyebutkan bahwa Ketentuan Sistem


Rangka Pemikul Momen Khusus sebagai berikut:

1. Persyaratan Gaya
a. Gaya aksial tekan terfaktor, Pu tidak boleh melebihi 𝑏𝑤 𝑓 ′ 𝑐/ 10
b. Bentang bersih komponen struktur tidak boleh kurang dari empat kali tinggi
efektifnya. Perbandingan lebar terhadap tinggi tidak boleh kurang dari 0,3
(Yudo Basuki.2009).

2. Tulangan Longitudinal

0,25 √𝑓′ 𝑐
a. 0.025𝑏𝑤 𝑑 ≥ 𝑓𝑦
𝑏𝑤 𝑑 𝑎𝑡𝑎𝑢 1,4𝑏𝑤 𝑑/𝑓𝑦

b. Spasi sengkang < D/4 atau 100 mm

3. Tulangan Tranversal
a. Sengkang pertama harus dipasang  50 mm dari muka tumpuan. Jarak
maksimum sengkang (S max):

 ≤ 𝑑/4
 ≤ 6 Kali diameter terkecil batang tulangan lentur utama
 150 mm

7
b. Sengkang pada daerah lebih dari dua kali tinggi balok diukur dari muka
tumpuan pada kedua sisi dari suatu penampang dengan kait gempa pada
kedua ujungnya harus dipasang dengan spasi tidak lebih dari d/2 sepanjang
bentang komponen struktur.

2.4. Struktur Baja Komposit


Struktur komposit merupakan struktur yang terdiri dari dua atau lebih
material berbeda sifat dan karakteristik yang berkerja bersama sama untuk
memikul beban yang berkerja pada suatu struktur dalam hal ini digunakan
material baja dan beton. Struktur komposit baja-beton memungkinkan
pemanfaatan karakteristik dasar masing-masing bahan secara optimal, sehingga
dengan penampang yang lebih kecil, mampu memikul beban serta dengan bentang
yang sama dengan beton bertulang biasa (Fauzi dkk, 2018).
Penggunaan struktur baja terisi beton (Concrete filled tube/CFT) terutama
pada elemen kolom ini sering digunakan pada bangunan tinggi. Menurut Lee dkk,
11 (2019) menyebutkan bahwa penggunaan kolom tabung isi beton (CFT) dalam
tinggi bangunan sering diadopsi karena kelebihannya pada struktur kinerja tural
dan proses konstruksi selama pertemuan kolom beton bertulang nasional (RC) di
Korea dan Jepang (Yamaguchi dkk, 2008; Kim dkk, 2014; Lee dkk, 2016a).
Sistem pelat datar RC biasanya digunakan untuk alas-lantai tempat tinggal dan
bangunan tinggi untuk mengurangi lantai tinggi dan memungkinkan konstruksi
cepat (Lee dkk, 2016b). Contoh detail sambungan antara kolom komposit terisi
beton dengan balok baja dapat dilihat pada Gambar 2.1.

8
Gambar 2.1: Detail sambungan antara kolom komposit dan balok baja (Jeddi dkk,
2016).

2.5. Perencanaan Bangunan Tahan Gempa Berdasarkan SNI 1762:2019


Perencanaan suatu konstruksi gedung harus memperhatikan aspek
kegempaan, terutama di Indonesia karena merupakan salah satu daerah dengan
zona gempa yang tinggi. Aspek kegempaan tersebut dianalisis berdasarkan
peraturan yang berlaku di negara tersebut dan Indonesia memiliki peraturan
sendiri dan peta gempanya. Peraturan yang digunakan pada penelitian ini ialah
SNI 1726:2019 yang merupakan revisi dari SNI 03-1726-2012. D mana terdapat
perubahan dalam penentuan koefisien situs Fa dan Fv serta perubahan perubahan
nilai SS dan S1 yang ada di beberapa kota di Indonesia. Dalam hal ini, tata cara
perencanaan bangunan gedung tahan gempa menjadi lebih rasional dan akurat.

9
2.5.1. Gempa Rencana dan Faktorm Keutamaan
Tata cara ini menentukan pengaruh gempa rencana yang harus ditinjau dalam
perencanaan dan evaluasi struktur bangunan gedung dan nongedung serta
berbagai bagian dan peralatannya secara umum. Gempa rencana ditetapkan
sebagai gempa dengan kemungkinan terlampaui besarannya selama umur struktur
bangunan 50 tahun adalah sebesar 2 %.

Tabel 2.1: Kategori risiko bangunan gedung dan non gedung untuk beban gempa.
Kategori
Jenis pemanfaatan risiko

Gedung dan nongedung yang memiliki risiko rendah terhadap


jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak
dibatasi untuk, antara lain: I
 Fasilitas pertanian, perkebunan, perternakan, dan perikanan
 Fasilitas sementara
 Gudang penyimpanan
 Rumah jaga dan struktur kecil lainnya

Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang termasuk dalam


kategori risiko I,III,IV, termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
 Perumahan
 Rumah toko dan rumah kantor
 Pasar
II
 Gedung perkantoran
 Gedung apartemen/ rumah susun
 Pusat perbelanjaan/ mall
 Bangunan industry
 Fasilitas manufaktur Pabrik

Gedung dan nongedung yang memiliki risiko tinggi terhadap jiwa


manusia pada saat terjadi kegagalan, termasuk, tapi tidak dibatasi
untuk:
 Bioskop
 Gedung pertemuan
 Stadion III
 Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit bedah&unit gawat
darurat
 Fasilitas penitipan anak
 Penjara
 Bangunan untuk orang jompo

10
Tabel 2.1: Lanjutan
Kategori
Jenis Pemanfaatan
risiko
Gedung dan nongedung, tidak termasuk kedalam kategori
risiko IV, yang memiliki potensi untuk menyebabkan dampak
ekonomi yang besar dan/atau gangguan massal terhadap
kehidupan masyarakat sehari-hari bila terjadi kegagalan,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk:
 Pusat pembangkit listrik biasa
 Fasilitas penanganan air
 Fasilitas penanganan limbah
 Pusat telekomunikasi
Gedung dan nongedung yang tidak termasuk dalam kategori
risiko IV, (termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk fasilitas
manufaktur, proses, penanganan, penyimpanan, penggunaan
III
atau tempat pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia
berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang mudah
meledak) yang mengandung bahan beracun atau peledak di
mana jumlah kandungan bahannya melebihi nilai batas yang
disyaratkan oleh instansi yangberwenang dan cukup
menimbulkan bahaya bagi masyarakat jika terjadi kebocoran.

Gedung dan nongedung yang dikategorikan sebagai fasilitas


yang penting, termasuk, tetapi tidak dibatasi untuk:
 Bangunan-bangunan monumental
 Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
 Rumah ibadah
Rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang memiliki
fasilitas bedah dan unit gawat darurat
Fasilitas pemadam kebakaran, ambulans, dan kantor polisi
 , serta garasi kendaraan darurat
 Tempat perlindungan terhadap gempa bumi, tsunami, angin
badai, dan tempat perlindungan darurat lainnya
 Fasilitas kesiapan darurat, komunikasi, pusat operasi dan IV
fasilitas lainnya untuk tanggap darurat
 Pusat pembangkit energi dan fasilitas publik lainnya yang
dibutuhkan pada saat keadaan darurat
 Struktur tambahan (termasuk menara telekomunikasi,
tangk i penyimpanan bahan bakar, menara pendingin,
struktur stasiun listrik, tangki air pemadam kebakaran atau
struktur rumah atau struktur pendukung air atau material
atau peralatan pemadam kebakaran) yang disyaratkan
untuk beroperasi pada saat keadaan darurat
Gedung dan nongedung yang dibutuhkan untuk
mempertahankan fungsi struktur bangunan lain yang masuk
ke dalam kategori risiko IV.

11
Untuk berbagai kategori risiko struktur bangunan gedung dan nongedung sesuai
Tabel 2.1 pengaruh gempa rencana terhadapnya harus dikalikan dengan suatu
faktor keutamaan gempa Ie menurut Tabel 2.1. Khusus untuk struktur bangunan
dengan kategori risiko IV, bila dibutuhkan pintu masuk untuk operasional dari
struktur bangunan yang bersebelahan, maka struktur bangunan yang bersebelahan
tersebut harus didesain sesuai dengan kategori risiko IV.

Tabel 2.2: Faktor keutamaan gempa.


Kategori risiko Faktor keutamaan gempa, Ie
I atau II 1.00
III 1.25
IV 1.50

2.5.2. Klasifikasi Situs dan Parameter


Prosedur untuk klasifikasi suatu situs untuk memberikan kriteria desain
seismik berupa faktor-faktor amplifikasi pada bangunan. Dalam perumusan
kriteria desain seismik suatu bangunan di permukaan tanah atau penentuan
amplifikasi besaran percepatan gempa puncak dari batuan dasar ke permukaan
tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus diklasifikasikan terlebih dahulu.
Profil tanah di situs harus diklasifikasikan sesuai dengan Tabel 2.3, berdasarkan
profil tanah lapisan 30 m paling atas. Penetapan kelas situs harus melalui
penyelidikan tanah di lapangan dan di laboratorium, yang dilakukan oleh otoritas
yang berwenang atau ahli desain geoteknik bersertifikat, dengan minimal
mengukur secara independen dua dari tiga parameter tanah yang tercantum dalam
Tabel 2. dibawah ini:

Tabel 2.3: Klasifikasi situs.


Kelas situs 𝑽̅ 𝒔 (m/detik) ̅ atau 𝑵
𝑵 ̅ 𝒄𝒉 ̅𝑺𝒖 (kPa)
SA (batuan keras) >1500 N/A N/A
SB (batuan) 750 sampai 1500 N/A N/A
SC (tanah keras, sangat
padat dan batuan lunak) 350 sampai 750 >50 ≥100
SD (tanah sedang) 175 sampai 350 15 sampai 50 50 sampai100
SE (tanah lunak) < 175 <15 < 50

12
Tabel 2.3: Lanjutan
Kelas situs 𝑽̅ 𝒔 (m/detik) 𝑵̅ atau 𝑵
̅ 𝒄𝒉 ̅𝑺𝒖 (kPa)
Atau setiap profil tanah yang mengandung lebih dari 3
m tanah dengan karateristik sebagai berikut :
1. Indeks plastisitas, PI > 20
2. Kadar air, w ≥ 40%
3. Kuat geser niralir Su < 25 kPa
SF (tanah khusus,yang Setiap profil lapisan tanah yang memiliki salah satu
membutuhkan atau lebih dari karakteristik berikut:
investigasi geoteknik  Rawan dan berpotensi gagal atau runtuh akibat
spesifik dan analisis beban gempa seperti mudah likuifaksi, lempung
respons spesifik- situs sangat sensitif, tanah tersementasi lemah
yang mengikuti 0)  Lempung sangat organik dan/atau
 Lempung berplastisitas sangat tinggi (ketebalan H
> 7,5 m dengan indeks plasitisitas) PI > 75
Lapisan lempung lunak/setengah teguh dengan
ketebalan H
 > 35 m dengan Su < 50 kPa
Catatan : N/A = tidak dapat dipakai

2.5.3. Parameter Percepatan Gempa


Parameter SS (percepatan batuan dasar pada periode pendek) dan S1
(percepatan batuan dasar pada periode 1 detik) harus ditetapkan masing-masing
dari respons spektral percepatan 0.2 detik dan 1 detik dalam peta gerak tanah
seismik pada pasal 15 yang tertera dalam SNI 1726-2019 dengan kemungkinan 2
% terlampaui dalam 50 tahun (MCER, 2 % dalam 50 tahun), dan dinyatakan
dalam bilangan desimal terhadap percepatan gravitasi. Bila S1 ≤ 0.04g dan SS ≤
0.15 g, maka struktur bangunan boleh dimasukkan ke dalam kategori desain
seismik A.
Untuk penentuan respons spektral percepatan gempa MCER di permukaan
tanah, diperlukan suatu faktor amplifikasi seismik pada periode 0.2 detik dan
periode 1 detik. Faktor amplifikasi meliputi faktor amplifikasi getaran terkait
percepatan pada getaran periode pendek (Fa) dan faktor amplifikasi terkait
percepatan yang mewakili getaran periode 1 detik (Fv). Parameter respons
spektral percepatan pada periode pendek (SMS) dan periode 1 detik (SM1) yang
disesuaikan dengan pengaruh klasifikasi situs, harus ditentukan dengan
perumusan berikut ini:

13
SMS = Fa . SS (2.1)
SMI = Fv . S1 (2.2)
Dimana:
SS = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan untuk
periode pendek;
S1 = parameter respons spektral percepatan gempa MCER terpetakan untuk
periode 1,0 detik.
Fa = Koefisien situs perioda pendek
Fv = Koefisien situs perioda 1,0 detik

Tabel 2.4: Koefisien situs, Fa.


Parameter respon spektral percepatan gempa maksimum yang
Kelas Situs dipertimbangakan risiko-tertarget (MCER) terpetakan pada periode
pendek, T= 0,2 detik,Ss

Ss ≤ 0,25 Ss = 0,5 Ss = 0,75 Ss = 1,0 Ss = 1,25 Ss ≥ 1,5


SA 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8
SB 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9 0.9
SC 1.3 1.3 1.2 1.2 1.2 1.2
SD 1.6 1.4 1.2 1.1 1.0 1.0
SE 2.4 1.7 1.3 1.1 0.9 0.8
SF SS(a)

Tabel 2.5: Koefisien situs, Fv.


Parameter respon spektral percepatan gempa maksimum yang
Kelas Situs dipertimbangakan risiko-tertarget (MCER) terpetakan pada periode
1 detik, S1

S1 ≤ 0.1 S1 = 0.2 S1 =0.3 S1 =0.4 S1 =0.5 S1 ≥ 0.6


SA 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8
SB 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8 0.8
SC 1.5 1.5 1.5 1.5 1.5 1.4
SD 2.4 2.2 2.0 1.9 1.8 1.7
SE 4.2 3.3 2.8 2.4 2.2 2.0
SF SS(a)

14
Catatan :
SS(a) = Situs yang memerlukan investigasi geoteknik spesifik dan analisis respons
situs- spesifik.

2.5.4. Parameter Percepatan Spektral Desain


Parameter percepatan spektral desain untuk periode pendek, SDS dan pada
periode 1 detik, SD1, harus ditentukan melalui perumusan berikut ini:
2
SDs = 3 SMS (2.3)
2
SD1 = 3 SM1 (2.4)

2.5.5. Spektrum Respons Desain


Bila spektrum respons desain diperlukan oleh tata cara ini dan prosedur
gerak tanah dari spesifik-situs tidak digunakan, maka kurva spektrum respons
desain harus dikembangkan dengan mengacu Gambar 2.10 dan mengikuti
ketentuan di bawah ini :
1. Untuk periode yang lebih kecil dari T0, spektrum respons percepatan desain,
Sa, harus diambil dari persamaan;

(2.5)

2. Untuk periode lebih besar dari atau sama dengan T0 dan lebih kecil dari atau
sama dengan Ts, spektrum respons percepatan desain, Sa, sama dengan SDS;
3. Untuk periode lebih besar dari Ts tetapi lebih kecil dari atau sama dengan TL,
respons spektral percepatan desain, Sa, diambil berdasarkan persamaan:
(2.6)

4. Untuk periode lebih besar dari TL, respons spektral percepatan desain, Sa,
diambil berdasarkan persamaan:
(2.7)

Dimana:
SDS = parameter respons spektral percepatan desain pada periode pendek;
SD1 = parameter respons spektral percepatan desain pada periode 1 detik;

15
T = periode getar fundamental struktur.
𝑆𝐷1
T0 = 0.2
𝑆𝐷𝑆
𝑆
Ts = 𝑆𝐷1
𝐷𝑆

TL = Peta transisi periode panjang yang ditunjukkan pada contoh Gambar


2.6

Gambar 2.2: Spektrum respons desain.

2.5.6. Kategori Desain Seismik


Struktur harus ditetapkan memiliki suatu kategori desain seismik yang
mengikuti prosedur ini. Struktur dengan kategori risiko I, II, atau III yang
berlokasi di mana parameter respons spectral percepatan terpetakan pada periode
1 detik, S1, lebih besar dari atau sama dengan 0,75 harus ditetapkan sebagai
struktur dengan kategori desain seismik E. Struktur yang berkategori risiko IV
yang berlokasi di mana parameter respons spektral percepatan terpetakan pada
periode 1 detik, S1, lebih besar dari atau sama dengan 0,75, harus ditetapkan
sebagai struktur dengan kategori desain seismik F. Semua struktur lainnya harus
ditetapkan kategori desain seismiknya berdasarkan kategori risikonya dan
parameter respons spektral percepatan desainnya, SDS dan SD1,

16
Tabel 2.6: Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan
pada periode pendek.
Kategori risiko
Nilai SDS I atau II atau III IV
SDS < 0.167 A A

0.167 ≤ SDS < 0.33 B C

0.33 ≤ SDS < 0.50 C D

0.50 ≤ SDS D D

Tabel 2.7: Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
periode 1 detik.
Kategori risiko
Nilai SD1 I atau II atau III IV
SD1 < 0.067 A A

0.067 ≤ SD1 < 0.133 B C

0.133 ≤ SD1 < 0.20 C D

0.20 ≤ SD1 D D

2.5.7. Sistem Struktur Pemikul Gaya Seismik


Sistem penahan gaya seismik lateral dan vertikal dasar harus memenuhi
salah satu tipe yang telah ditetapkan pada SNI 1726:2019 Pasal 7.2 stuktur
penahan beban gempa tentang, setiap tipe dibagi-bagi berdasarkan tipe elemen
vertikal yang digunakan untuk menahan gaya seismik lateral. Setiap sistem
penahan gaya seismik yang dipilih harus dirancang dan didetailkan sesuai dengan
persyaratan khusus bagi sistem tersebut yang telah ditetapkan.
Berdasarkan SNI 1726:2019 Pasal 7.2 tentang Struktur Penahan Beban
Gempa, sistem struktur penahan gaya seismik ditentukan oleh parameter berikut:
 Faktor koefisien modifikasi respon (R)
 Faktor kuat lebih sistem (Cd)
 Faktor pembesaran defleksi (Ω0)
 Faktor batasan tinggi sistem struktur

17
Tabel 2.8: Kategori desain seismik berdasarkan parameter respons percepatan pada
periode 1 detik.
Faktor Batasan sistem struktur dan
Koefisien Faktor
Sistem kuat batasan tinggi struktur,hn (m)
modifikasi pembesara
pemikul lebih Kategori desain seismik
respons, n defleksi,
gaya seismik sistem,
R Cd B C D E F
Ω0
Sistem rangka pemikul momen (Struktur komposit)
1. Rangka baja
dan beton 8 3 5.5 TB TB TB TB TB
komposit
pemikul
momen khusus
2. Rangka baja
dan beton 5 3 3.5 TB TB TI TI TI
komposit
pemikul
momen
menengah
3. Rangka baja
dan beton 3 3 2.5 TB TI TI TI TI
komposit
pemikul
momen biasa
Catatan :
TB = Tidak Dibatasi dan TI = Tidak Diizinkan.

2.5.8. Perioda Alami Struktur


Perioda adalah besarnya waktu yang diperlukan untuk mencapai satu
getaran. Perioda alami struktur perlu diketahui agar resonansi pada struktur dapat
dihindari. Resonansi struktur adalah keadaan dimana frekuensi alami struktur
sama dengan frekuensi beban luar yang bekerja sehingga dapat menyebabkan
keruntuhan pada struktur (Budiono dan Supriatna, 2011).

Berdasarkan SNI 1726:2019 Pasal 7.8.2 tentang Penentuan Perioda, perioda


struktur fundamental (T) dalam arah yang ditinjau harus diperoleh dengan
menggunakan properti struktur dan karakteristik deformasi elemen penahan
dalam analisa yang teruji. Perioda struktur fundamental memiliki nilai batas
minimum dan batas maksimum. Nilai-nilai tersebut ditentukan dalam persamaan
dibawah ini :
 Periode fundamental pendekatan (Ta):

18
Ta = Ct . hnx (2.8)
 Perioda fundamental pendekatan minimum (Ta min) :
x
Ta min = Cnt . h (2.9)
 Perioda fundamental pendekatan maksimum (Ta maks) :
Ta maks = Cu . Ta min (2.10)
Dimana:
Ta min = Nilai batas bawah perioda bangunan
Ta maks = Nilai batas atas perioda bangunan
hn = Ketinggian struktur dalam m di atas dasar sampai tingkat tertinggi
struktur (m)
Cu = Ditentukan dari Tabel 2.9
X = Ditentukan dari Tabel 2.10
Ct = Ditentukan dari Tabel 2.10

Tabel 2.9: Koefisien untuk batas atas pada periode yang dihitung.

Parameter percepatan respons spektral desain


Koefisien
pada 1 detik, SD1
Cu
≥ 0.4 1.4
0.3 1.4
0.2 1.5
0.15 1.6
≤ 0.1 1.7

Tabel 2.10: Nilai parameter periode pendekatan Ct dan x.


Tipe struktur Ct x
Sistem rangka pemikul momen di mana rangka memikul
100% gaya seismic yang disyaratkan dan tidak
dilingkupi atau dihubungkan dengan komponen yang
lebih kaku dan akan mencegah rangka dari defleksi jika
dikenai gaya seismik:
 Rangka baja pemikul momen 0.0724 0.8
 Rangka beton pemikul momen 0.0466 0.9
Rangka baja dengan bresing eksentris 0,0731 0.75

19
Tabel 2.10: Nilai parameter periode pendekatan Ct dan x. (Lanjutan)
Tipe struktur Ct x
Rangka baja dengan bresing terkekang terhadap tekuk 0,0731 0.75
Semua sistem struktur lainnya 0,0488 0.75

Sebagai alternatif, diizinkan untuk menentukan periode fundamental


pendekatan (Ta), dalam detik, dari persamaan berikut untuk struktur dengan
ketinggian tidak melebihi 12 tingkat di mana sistem pemikul gaya seismik terdiri
dari rangka pemikul momen yang seluruhnya beton atau seluruhnya baja dan rata
rata tinggi tingkat sekurang-kurangnya 3 m:
Ta = 0.1N (2.11)
Dimana: N = jumlah tingkat

2.5.9. Gaya Geser Dasar (Base Shear) Seismik


Gaya geser dasar seismik, V, dalam arah yang ditetapkan harus ditentukan
sesuai dengan persamaan berikut:
V = Cs . W (2.12)
Dimana :
Cs = Koefisien respon seismik yang ditentukan
W = Berat seismik efektif

Menurut SNI 1726:2019 Pasal [Link], untuk mendapatkan koefisien Cs


digunakan persamaan-persamaan yang terdapat pada persamaan berikut :

(2.13)

Nilai Cs yang dihitung sesuai dengan persamaan (2.13) tidak perlu melebihi
berikut ini:
Untuk T ≤ TL, maka Cs max adalah:

(2.14)

20
Untuk T ≤ TL, maka Cs max adalah:

(2.15)

Dan nilai Cs minimum di buat dalam persamaam berikut :


Cs min = 0.044 [Link] ≥ 0.01 (2.16)
Sebagai tambahan, untuk struktur yang berlokasi di daerah di mana S 1 sama
dengan atau lebih besar dari 0.6 g, maka Cs harus tidak kurang dari:

(2.17)
Dimana:
SDS = Parameter percepatan respon spektrum desain untuk perioda pendek 0.2
detik
S1 = Parameter percepatan respon spektrum desain untuk perioda 1 detik
R = Faktor modifikasi respon
Ie = Faktor keutamaan gempa yang ditentukan berdasarkan Tabel 2.4
T = Perioda fundamental struktur (detik)
TL = Peta transisi periode panjang

Gambar 2.3: Peta transisi periode panjang, TL, wilayah Indonesia.

21
Nilai Cs hasil hitungan yang didapatkan tidak perlu melebihi nilai Cs
maksimum dan juga tidak perlu kurang dari nilai Cs minimum. Sedangkan
sebagai tambahan untuk struktur yang berlokasi di daerah dimana S1 lebih besar
dari 0.6 g maka Cs harus tidak kurang dari nilai Cs minimum tambahan.

2.5.10. Simpangan (Drift) Akibat Gaya Gempa


Simpangan (drift) adalah sebagai perpindahan lateral relatif antara dua tingkat
bangunan yang berdekatan atau dapat dikatakan simpangan mendatar tiaptiap
tingkat bangunan (horizontal story to story deflection). Simpangan lateral dari
suatu sistem struktur akibat beban gempa adalah sangat penting yang dilihat dari
tiga andangan yang berbeda, menurut Farzat Naeim (1989):
1. Kestabilan struktur (structural stability).
2. Kesempurnaan arsitektural (architectural integrity) dan potensi kerusakan
bermacam-macam komponen non-struktur
3. Kenyaman manusia (human comfort), sewaktu terjadi gempa bumi dan
sesudah bangunan mengalami gerakan gempa.

Sementara itu Richard N. White (1987) berpendapat bahwa dalam


perencanaan bangunan tinggi selalu dipengaruhi oleh pertimbangan lenturan
(deflection), bukannya oleh kekuatan (strength).
Simpangan antar tingkat dari suatu titik pada suatu lantai harus ditentukan
sebagai simpangan horizontal titik itu, relatif terhadap titik yang sesuai pada
lantai yang berada [Link] menjamin agar kenyamanan para penghuni
gedung tidak terganggu maka dilakukan pembatasan-pembatasan terhadap
simpangan antar tingkat pada bangunan. Pembatasan ini juga bertujuan untuk
mengurangi momen- momen sekunder yang terjadi akibat penyimpangan garis
kerja gaya aksial di dalam kolom-kolom (yang lebih dikenal dengan P-delta).

2.9.11. Pengaruh P-Delta


Pengaruh P-delta pada geser tingkat dan momen, gaya dan momen elemen
struktur yang dihasilkan, dan simpangan antar tingkat yang diakibatkannya tidak

22
perlu diperhitungkan bila koefisien stabilitas (θ) seperti ditentukan oleh
persamaan berikut sama dengan atau kurang dari 0.10:
(2.18)

Dimana :
Px = beban desain vertikal total pada dan di atas tingkat-x, (kN); bila
menghitung, faktor beban individu tidak perlu melebihi 1,0;
Δ = simpangan antar tingkat desain seperti didefinisikan dalam SNI
1726:2019, terjadi secara serentak dengan Vx (mm)
Ie = faktor keutamaan gempa
Vx = gaya geser seismik yang bekerja antara tingkat dan x – 1 (kN)
hsx = tinggi tingkat di bawah tingkat x, (mm)
Cd = faktor pembesaran defleksi

Koefisien stabilitas (θ) tidak boleh melebihi θmax yang ditentukan sebagai
berikut:
(2.19)

Dimana β adalah rasio kebutuhan geser terhadap kapasitas geser untuk tingkat
antara tingkat dan x – 1. Rasio ini diizinkan secara konservatif diambil sebesar
1.0.
Jika koefisien stabilitas (θ) lebih besar dari 0.10 tetapi kurang dari atau sama
dengan θmax, faktor peningkatan terkait dengan pengaruh P-delta pada
perpindahan dan gaya komponen struktur harus ditentukan dengan analisis
rasional. Sebagai alternatif, diizinkan untuk mengalikan perpindahan dan gaya
komponen struktur dengan 1.0/(1 – θ). Jika θ lebih besar dari θmax, struktur
berpotensi tidak stabil dan harus didesain ulang.
Jika pengaruh P-delta disertakan dalam analisis otomatis, persamaan (2.19)
tetap harus dipenuhi, akan tetapi, nilai θ yang dihitung dari persamaan (2.18)
menggunakan hasil analisis P-delta diizinkan dibagi dengan (1 + θ) sebelum
diperiksa dengan persamaan (2.19).

23
2.5.12. Penentuan Prosedur Analisa
Berdasarkan SNI 1726:2019 Pasal 7, analisa struktur yang disyaratkan
harus terdiri dari salah satu tipe yang diijinkan dalam Tabel 2.11 dibawah ini,
berdasarkan pada kategori desain seismik struktur, sistem struktur, properti
dinamis, dan keteraturan, atau dengan persetujuan pemberi ijin yang mempunyai
kuasa hukum, sebuah prosedur alternatif yang diterima secara umum diijinkan
digunakan. Prosedur analisa yang dipilih harus dilengkapi sesuai dengan
persyaratan dari pasal yang terkait.
Tabel 2.11: Prosedur analisa yang diizinkan.

Analisa Analisa Prosedur


Kategori gaya spectrum espons
desain Karakteristik struktur lateral respons riwayat
seismik ekivalen ragam waktu
pasal pasal seismik

B, C Semua struktur I I I
Bangunan dengan kategori risiko I
atau II yang tidak melebih 2 I I I
tingkat diatas dasar

Struktur tanpa ketidakberaturan


struktural dan ketinggiannya tidak I I I
melebihi 48,8 m

Struktur tanpa ketidakberaturan


strukturan dengan ketinggian I I I
D, E, F melebihi 48.8 m dan T < 3,5 Ts

Struktur dengan ketinggian tidak


melebihi 48,8 m dan hanya
memiliki ketidakberaturan
I I I
horizontal tipe 2,3,4 atau 5 atau
ketidaberaturan vertikal tipe 4, 5a
atau 5b

Semua struktur lainnya TI I I

24
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1. Umum
Bab ini berisi tentang pemodelan struktur yang direncanakan. Struktur
dianalisis menggunakan software bantuan, yaitu Program Analisa Struktur. Secara
umum, metode penelitian dalam Tugas Akhir ini dibuat dalam suatu diagram alir
seperti yang tampak pada Gambar 3.1.

Studi Pustaka
Pu

Pemodelan gempa Pemodelan struktur 2


gemgempa Dimensi

SNI SRPMK

Linear
Respon spektra
desain
Desain

Input Pembebanan
Menggunakan
ETABS

Pada aplikasi
Analisis struktur
ETABS

Check keamanan
sesuai SNI

Selesai

Gambar 3.1: Bagan alir penelitian.

25
Berdasarkan Gambar 3.1, dapat dijelaskan bahwa dalam Tugas Akhir ini
analisis dilakukan terhadap 2 model, setiap modelnya menggunakan sistem rangka
pemikul momen khusus (SRPMK). Kedua model bangunan tersebut dianalisis
secara Linear dengan menggunakan Metode Analisis Respon Spektrum (Response
Spectrum Analysis) dengan menggunakan Program Analisa Struktur untuk
mendapatkan nilai simpangan yang ada ketika bangunan telah dikenakan gempa.
Diperiksa (Dicheck) keamanannya Sesuai SNI. Kemudian nilai simpangan
tersebut akan dibandingkan untuk setiap modelnya.

3.2. Pemodelan Struktur


3.2.1. Data Perencanaan Struktur
Adapun data perencanaan struktur yang digunakan pada kedua pemodelan
dalam program analisa struktur, yaitu:
1. Jenis pemanfaatan gedung perkantoran.
2. Gedung terletak di Banda Aceh.
3. Klasifikasi situs batuan keras (SA) dan tanah keras (SC).
4. Sistem struktur yang digunakan adalah Sistem Rangka Pemikul Momen
Khusus (SRPMK).
5. Jenis portal struktur gedung adalah struktur baja komposit (Concrete Filled
Tubes/CFT)
6. Kuat tekan beton (f’c) yang digunakan: 27.56 MPa
7. Mutu baja profil yang digunakan adalah ASTM A572-Gr.50
a. Kuat leleh minimum (fy): 378.95 Mpa
b. Kuat tarik minimum (fu): 502.97 Mpa

3.2.2. Konfigurasi Bangunan


Pada tugas akhir ini, direncanakan struktur bangunan dengan material baja
dengan sistem rangka pemikul momen khusus (SRPMK) dan berbentuk simetri.
Adapun bentuk pemodelan yang digunakan adalah:

26
1. Model 1
Bangunan 4 lantai bentang 10,98 m SRPMK pada bagian luar dan Sitem
Rangka Pemikul Gravitasi pada bagian dalam (Gambar 3.2).
2. Model 2
Bangunan 6 bentang 10,98 m lantai SRPMK pada bagian luar dan Sitem
Rangka Pemikul Gravitasi pada bagian dalam (Gambar 3.3).

(a)

(b)

Gambar 3.2: a) Denah struktur model 1, b) Proyeksi bangunan model 1.

27
(a)

(b)

Gambar 3.3: a) Denah struktur model 2, b) Proyeksi bangunan model 2.

28
3.2.3. Dimensi Elemen Balok dan Kolom
Bangunan yang direncanakan adalah struktur beraturan, Struktur gedung
direncanakan dengan dimensi penampang yang berbeda. Ukuran balok dan kolom
terdapat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1: Komponen struktural bangunan model 1.


Kolom Kolom
Model Balok
Lantai Interior Eksterior
Bangunan (inchi)
(inchi) (inchi)
Base HSS16×16×500 HSS16×16×500
1 HSS16×16×500 HSS16×16×500 W24×103
4 Lantai
2 HSS16×16×500 HSS16×16×500 W24×103
(10.980 m)
3 HSS16×16×500 HSS16×16×500 W24×84
4 W24×84

Tabel 3.2: Komponen struktural bangunan model 2.


Kolom Kolom
Model Balok
Lantai Interior Eksterior
Bangunan (inchi)
(inchi) (inchi)
Base HSS16×16×500 HSS16×16×500
1 HSS16×16×500 HSS16×16×500 W24×103
2 HSS16×16×500 HSS16×16×500 W24×103
6 Lantai
3 HSS16×16×500 HSS16×16×500 W24×103
(10.980 m)
4 HSS16×16×500 HSS16×16×500 W24×84
5 HSS16×16×500 HSS16×16×500 W24×84
6 W24×84

3.3. Analisa Dinamik Struktur Linear


Analisis ini menggunakan Metode Respon Spektrum. Pada analisis ini, alat
bantu software yang digunakan adalah Program Analisa Struktur.

3.3.1. Pembebanan
Beban gravitasi yang bekerja pada struktur bangunan diambil dari PPPURG
(1987) dan SNI 1727:2013 yang telah disesuaikan dengan jenis dan fungsi
bangunan. Beban-beban tersebut adalah beban hidup dan beban mati yang
berhubungan dengan komponen material bangunan. Nilai beban hidup dan beban

29
mati yang digunakan dalam perencanaan dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan Tabel
3.4.

Tabel 3.3: Berat material konstruksi berdasarkan PPPURG 1987.


Beban Mati Besarnya Beban
Baja 7850 kg/m3
Beton bertulang 2400 kg/m3
Plafon dan penggantung 18 kg/m2
Adukan /cm dari semen 21 kg/m2
Pasangan bata setengah batu 250 kg/m2
Penutup lantai dari keramik 24 kg/m2

Tabel 3.4: Beban hidup pada lantai dan atap struktur berdasarkan SNI 1727:2013.
Beban Hidup Besarnya Beban
Ruang arsip dan komputer harus
dirancang untuk beban yang lebih
berat berdasarkan pada perkiraan 4.79 KN/m2
hunian Lobi dan koridor lantai
pertama
Kantor 1 KN/m2
Koridor di atas lantai pertama 1 KN/m2
Atap 1 KN/m2

3.3.2. Respons Spektrum Desain


Data desain spektra dalam penelitian ini didapat dari PUSKIM PUPR 2019-
2020. Dari website tersebut maka akan didapatkan koefisien atau nilai-nilai yang
diperlukan dalam pembuatan respon spektrum desain. Nilai-nilai tersebut yaitu:

Nama Kota = Banda Aceh (P)


Kelas Situs = SA - Batuan Keras
SS = 1.549100 g
S1 = 0.589700 g
TL = 14 detik
Fa = 0.8000
Fv = 0.8000
SMS = [Link] = 1.239

30
SM1 = Fv. S1 = 0.472
SDS = 2/3 SMS = 0.826
SD1 = 2/3 SM1 = 0.315
T0 = 0.2 SD1/SDS = 0.076
TS = SD1/SDS = 0.381

Nama Kota = Banda Aceh (P)


Kelas Situs = SC - Tanah Keras
SS = 1.549100 g
S1 = 0.589700 g
TL = 14 detik
Fa = 1.200
Fv = 1.410
SMS = [Link] = 1.859
SM1 = Fv. S1 = 0.832
SDS = 2/3 SMS = 1.239
SD1 = 2/3 SM1 = 0.554
T0 = 0.2 SD1/SDS = 0.089
TS = SD1/SDS = 0.447

Respon spektrum untuk periode max (Tmax) 4 detik diplot ke dalam grafik
seperti yang ditampilkan pada Gambar 3.5. Respons spektrum untuk kelas situs
SA digunakan untuk bangunan model 1. Sedangkan respons spektrum untuk kelas
situs SC digunakan untuk bangunan model 2.

31
(a)

(b)

Gambar 3.4: a) Respon spektrum untuk kelas situs SA, b) Respon spektrum untuk
kelas situs SC.

32
3.3.3. Kombinasi Pembebanan
Kombinasi pembebanan yang digunakan dihitung berdasarkan ketentuan yang
ditetapkan dalam SNI 1726:2019 tentang standar perencanaan bangunan tahan
gempa, maka didapatkan untuk Faktor R = 8 nilai ρ = 1.3 yang diperoleh dari
kategori desain seismik D dan nilai SDS = 1.239 g untuk kelas situs SC dan SDS =
0.826 untuk kelas situs SA. Untuk nilai yang digunakan dapat dilihat pada Tabel
3.5 dan Tabel 3.6.

Tabel 3.5: Kombinasi Pembebanan Berdasarkan SNI 1726:2019 dengan nilai ρ


=1.3, SDS = 1.239 g.

Kombinasi Koefisien Koefisien Koefisien Koefisien


(DL) (LL) (EX) (EX)

Kombinasi 1 1.4 - - -
Kombinasi 2 1.2 1.6 - -
(1.2 + 0.2 SDS)DL + 1.0 LL + ρ (± 30% QEx ± 100% QEy)
Kombinasi 3 1.448 1 0.390 1.300
Kombinasi 4 1.448 1 -0.390 -1.300
(1.2 + 0.2 SDS)DL + 1.0 LL + ρ (± 100% QEx ± 30% QEy)
Kombinasi 5 1.448 1 1.300 0.390
Kombinasi 6 1.448 1 -1.300 -0.390
(0.9 - 0.2 SDS)DL + ρ (± 30% QEx ± 100% QEy)
Kombinasi 7 0.652 - 0.390 1.300
Kombinasi 8 0.652 - -0.390 -1.300
(0.9 - 0.2 SDS)DL + ρ (± 100% QEx ± 30% QEy)
Kombinasi 9 0.652 - 1.300 0.390
Kombinasi
0.652 - -1.300 -0.390
10
Kombinasi
Nilai absolute dari seluruh kombinasi
Envelope

33
Tabel 3.6: Kombinasi Pembebanan Berdasarkan SNI 1726:2019 dengan nilai ρ
=1.3, SDS = 0.826 g.
Koefisien Koefisien Koefisien Koefisien
Kombinasi
(DL) (LL) (EX) (Ey)

Kombinasi 1 1.4

Kombinasi 2 1.2 1.6


(1.2 + 0.2 SDS) DL + 1.0 LL + ρ (± 30% QEx ± 100% QEy)
Kombinasi 3 1.365 1 0.390 1.300
Kombinasi 4 1.365 1 -0.390 -1.300
(1.2 + 0.2 SDS) DL + 1.0 LL + ρ (± 100% QEx ± 30% QEy)
Kombinasi 5 1.365 1 1.300 0.390
Kombinasi 6 1.365 1 -1.300 -0.390
(0.9 - 0.2 SDS) DL + ρ (± 30% QEx ± 100% QEy)
Kombinasi 7 0.735 0.390 1.300
Kombinasi 8 0.735 -0.390 -1.300
(0.9 - 0.2 SDS) DL + ρ (± 100% QEx ± 30% QEy)
Kombinasi 9 0.735 1.300 0.390
Kombinasi
0.735 -1.300 -0.390
10
Kombinasi
Nilai absolute dari seluruh kombinasi
Envelope

Kombinasi Maximum memiliki tipe kombinasi yang lain dari Kombinasi 1


sampai 10 yaitu kombinasi dengan tipe linear add, sementara Kombinasi
Maximum adalah kombinasi dengan tipe envelope. Tipe kombinasi ini tidak
bersifat menjumlahkan beban seperti halnya tipe kombinasi linear add, namun tipe
ini berfungsi untuk mencari nilai gaya maksimum dan minimum dari beban yang
bergerak (dimana pada beban bergerak, beban maksimum dan minimum pada
suatu batang maupun joint tergantung dari posisi bebannya).

3.4. Metode Perhitungan Kuat Perlu Struktur Komposit


Untuk desain dengan metode analisis langsung, kekuatan perlu komponen
struktur komposit terbungkus beton dan komponen struktur komposit terisi beton
harus ditentukan dengan menggunakan ketentuan Pasal C2 SNI 1729:2020 dan

34
persyaratan berikut ini:
1. Kekakuan lentur nominal komponen struktur yang memikul tekan neto harus
diambil sebagai kekakuan efektif penampang komposit, EIeff, seperti
dijelaskan dalam Pasal I2 SNI 1729:2020 atau subbab 2.10.3.
2. Kekakuan aksial nominal komponen struktur yang memikul tekan neto harus
diambil sebagai penjumlahan kekakuan aksial elastis setiap komponen.
3. Kekakuan komponen struktur yang memikul tarik neto harus diambil sebagai
kekakuan komponen struktur baja telanjang sesuai dengan Bab C SNI
1729:2020.
4. Parameter reduksi kekakuan, τb, harus diambil sebesar 0.8.

Nilai kekakuan yang sesuai untuk perhitungan defleksi dan untuk penggunaan
metode panjang efektif dibahas dalam penjelasan. Sedangkan gaya aksial yang
dihitung terdiri dari kekuatan tekan, tarik dan tekan.

1. Kekuatan Tekan
Kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan izin pada komponen struktur
komposit terisi beton yang dibebani secara aksial simetris ganda harus
ditentukan untuk keadaan batas tekuk lentur yang didasarkan atas kelangsingan
komponen struktur sebagai berikut:
Kuat tekan desain = 𝜙𝑐.𝑃𝑛 (3.1)

Dengan 𝜙𝑐=0.75
Kuat tekan izin = 𝑃𝑛/𝛺𝑐 (3.2)
Dengan 𝛺𝑐=2.00

2. Kekuatan Tarik
Kekuatan tarik tersedia komponen struktur komposit terisi beton yang dibebani
secara aksial harus ditentukan untuk keadaan batas leleh sebagai berikut:
ϕ[Link]=[Link]+[Link] (3.3)

Dimana :
ϕt = 0.90 (LRFD)

35
Ωb = 1.67 (ASD)

Ag = Luas penampang bruto komponen struktur (mm2)

3. Kekuatan Lentur
Kekuatan lentur positif desain, ϕbMn, dan kekuatan lentur positif yang
diizinkan, Mn⁄Ωb, harus ditentukan untuk keadaan batas leleh sebagai berikut:
Kuat lentur positif desain = 𝜙𝑏.𝑀𝑛 (3.4)
Dengan ϕb = 0.90 (LRFD)
Kuat lentur positif izin = 𝑀𝑛/𝜙𝑏 (3.5)
Dengan Ωb = 1.67 (ASD)

3.5. Panel Zone


Zona panel (Panel Zone) pada struktur komposit yang digunakan dalam
penelitian ini adalah struktur komposit dari tabung baja (Steel tube) dan inti beton.
Secara umum, kekuatan geser zona panel struktur komposit dapat dihitung
sebagai superposisi dari kekuatan geser komponen baja dan beton (Hu, 2016).
Persamaan teoritis untuk model mekanika ini dibuat dengan menggunakan
kontribusi kekakuan geser dari kedua material.

1. Tabung baja
Dua sayap kolom yang dikenakan gaya geser dapat dimodelkan sebagai
kolom dengan dukungan tetap menahan deformasi lentur. Kekakuan geser
dari dua sayap kolom (Kf) adalah:
12𝐸𝑠 𝐼𝑓
𝐾𝑓 = 2 (𝑑 2
(3.6)
𝑏 −𝑡𝑏𝑓 )

Dimana :
𝑏𝑐 𝑡𝑓3
𝐼𝑓 = 2 (3.7)
12

Kekakuan geser dari dua badan kolom (Kw) adalah:


𝐾𝑤 = 2 (𝑑𝑐 − 2𝑡𝑓) 𝑡𝑤 𝐺𝑠 (3.8)
Kekakuan geser (Ks1) dari tabung baja persegi panjang pada zona panel
adalah super-posisi kekakuan geser dari badan kolom (Kw) dan kekakuan
geser dari sayap kolom (Kf)

36
𝐾 𝑠1 = 𝐾 𝑓 + 𝐾 𝑤 (3.9)

Kuat geser leleh yang dihasilkan (Vwy) dan regangan leleh (γwy) pada badan
kolom adalah sebagai berikut:
𝑉𝑤𝑦 = 2 (𝑑𝑐−2𝑡𝑓) 𝑡𝑤𝜏𝑠𝑦 (3.10)
𝐹𝑦
𝑉𝑤𝑦 = 2(𝑑𝑐 − 2𝑡𝑓 )𝑡𝑤 ( ) (3.11)
√3
𝑉𝑤𝑦
𝛾𝑤𝑦 = (3.12)
𝐾𝑤

Kuat geser leleh yang dihasilkan (Vfy) dan regangan leleh (γfy) pada sayap
kolom adalah sebagai berikut:
4𝑀𝑓𝑦
𝑉𝑓𝑦 = (𝑑 (3.13)
𝑏 −𝑡𝑏𝑓 )

𝑏𝑐 𝑡2
𝑓 𝐹𝑦
4( )
6
𝑉𝑓𝑦 = (𝑑𝑏 −𝑡𝑏𝑓 )
(3.14)
𝑉𝑓𝑦
𝛾𝑓𝑦 = (3.15)
𝐾𝑓

Kekuatan geser ultimate (Vsu) dari zona panel adalah penjumlahan dari gaya
geser dari badan kolom dan sayap kolom saat regangan geser panel zona tiba
di regangan leleh (γfy) untuk sayap kolom.
𝑉𝑠𝑢 = 𝑉𝑤𝑦 + 𝑉𝑓𝑦 (3.16)

2. Inti beton
Kriteria kegagalan Mohr-Coulomb digunakan untuk memperkirakan kekuatan
geser ultimate dari beton. Tegangan geser ultimit (τcu) beton di zona panel
dapat ditentukan sebagai:
2
𝑓′ 9(𝑓𝑐𝑝 +𝑓𝑐𝑡 ) 𝑓𝑐𝑝 +𝑓𝑐𝑡 2
𝜏𝑐𝑢 = √[ 11𝑐 + ] −( ) (3.17)
22 2

Regangan geser ultimit yang sesuai dari beton di zona panel adalah :
𝐾𝑐 = 𝐺𝑐𝐴𝑐 (3.18)
𝑉𝑐𝑢 = 𝜏𝑐𝑢𝐴𝑐 (3.19)

37
2. Kombinasi tabung baja dan inti beton
Tabung baja di zona panel dibagi secara struktural menjadi badan (web) dan
sayap (flange). Regangan dan kekuatan di mana badan baja meleleh
didefinisikan sebagai regangan geser leleh dan kekuatan zona panel,
sedangkan regangan dan kekuatan pada sayap baja meleleh didefinisikan
sebagai regangan geser ultimit dan kekuatan zona panel. Untuk zona panel
struktur komposit, kekakuan geser (K), kuat geser leleh (Vy), dan kekuatan
geser ultimate (Vu) adalah penjumlahan dari tabung baja dan inti beton
sebagai berikut:
𝐾 = 𝐾 𝑠1 + 𝐾 𝑐 (3.15)
𝑉𝑦 = 𝑉𝑠𝑦 + 𝑉𝑐𝑢 (3.16)
𝑉𝑢 = 𝑉𝑤𝑦 + 𝑉𝑓𝑦 + 𝑉𝑐𝑢 (3.20)

3.6. Diagram Interaksi Kolom


Selain kekuatan aksial yang tersedia, kekuatan lentur juga perlu dihitung.
Spesifikasi AISC 2005 mengadopsi distribusi tegangan plastik penuh berdasarkan
asumsi regangan linier di seluruh bagian dan perilaku material elasto-plastik yang
sempurna. Dengan asumsi sederhana ini, kekuatan nominal dapat diperkirakan
dengan mengasumsikan bahwa baja telah mencapai tegangan leleh baik di bawah
tegangan atau kompresi dan bahwa beton telah mencapai kekuatan penghancur
saat tekan.
Diagram interaksi P-M yang diilustrasikan pada Gambar 3.5 untuk
penampang komposit didasarkan pada distribusi tegangan plastis penuh dan dapat
didekati dengan interpolasi linier konservatif antara lima titik (Galambos, 1998).
Titik (A) dan (B) masing-masing berhubungan dengan kekuatan aksial
penghancuran dan kekuatan lentur penampang. Titik (C) ditambatkan ke posisi
sumbu netral plastis (PNA) yang sama dari yang sesuai dengan Titik (B) tetapi di
sisi lain dari garis tengah, sehingga mengandung kapasitas lentur yang sama
dengan Titik (B) dan besarnya sama ketahanan aksial dari beton saja. Untuk Titik
(D), PNA terletak di garis tengah. Akibatnya, titik ini sesuai dengan kekuatan
lentur maksimum dan setengah dari kekuatan aksial yang ditentukan untuk Titik
(C). Titik (E) adalah titik arbitrer tambahan untuk lebih menggambarkan

38
kelengkungan diagram interaksi pada beban aksial tinggi. Kelima poin tersebut
dapat dengan mudah dihitung. Untuk desain, interpolasi bilinear yang
disederhanakan dapat digunakan antara Titik (A), (C), dan (B) seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 3.5.
Persamaan untuk 5 titik spesifik dalam diagram interaksi P-M.
a. Titik (A)
PA = AsFy + Ac (0.85f’c)
MA = 0
As = bidang bentuk baja
Ac = h1h2 – 0.858ri2

b. Titik (B)
PB = 0
MB = MD − ZsnFy – 1/2Zcn (0.85f’c)
Zsn = 2twhn2
0.85𝑓𝑐′ 𝐴𝑐 ℎ2
ℎ𝑛 = ≤
2[0.85𝑓𝑐′ ℎ1 + 4𝑡𝑤 𝐹𝑦 ] 2

c. Titik (C)
PC = AC (0.85f’c)
MC = MB

d. Titik (D)
0.85𝑓𝑐′ 𝐴𝑐
𝑃𝐷 =
2
MD = ZsFy + 1/2Zc (0.85f’c)
Zs = modulus penampang plastik sumbu y penuh dari bentuk baja
ℎ1 ℎ2
𝑍𝑐 = − 0.192𝑟𝑖3
4

e. Titik (E)
1
𝑃𝐸 = (0.85𝑓𝑐′ )𝐴𝑐 + 0.85𝑓𝑐′ ℎ1 ℎ2 + 4𝐹𝑦 𝑡𝑤 ℎ𝐸
2

39
ME = Mmax - ΔME
ZsE =bhE2 − ZcE zcE =h1hE2
ΔME = ZsEFy + 1/2ZcE (0.85f’c)
ℎ𝑛 𝑑
ℎ𝐸 = +
2 4

Gambar 3.5: Diagram interaksi P-M untuk balok-kolom komposit.

40
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Model Linear


Pada Bab ini akan dibahas beberapa hasil analisa linier oleh Program Analisa
Struktur diantaranya, perioda getar, nilai simpangan dan gaya - gaya dalam
struktur gedung, berdasarkan model dengan sistem rangka pemikul momen
khusus (SRPMK). Semua input pembebanan serta kombinasi, zona gempa dan
konfigurasi bangunan adalah sama.

4.2. Hasil Analisa Linear


4.2.1 Respon Spektrum Ragam
Berdasarkan SNI 1726:2019, analisa harus dilakukan untuk menentukan
ragam getar alami untuk struktur. Analisa harus menyertakan jumlah ragam yang
cukup untuk mendapatkan partisipasi massa ragam terkombinasi sebesar paling
sedikit 90 persen dari massa aktual dalam masing-masing arah horizontal
ortogonal dari respon yang ditinjau oleh model. persentase nilai perioda yang
menentukan jenis perhitungan menggunakan CQC atau SRSS.
Syarat : SRSS > 15% , CQC < 15%
Analisa menggunakan metode CQC (Complete Quadratic Combination),
hasil persentase perioda rata-rata yang didapat lebih kecil dari 15% dan SRSS
(Square Root of the Sum of Square) lebih besar dari 15%. Pada hasil analisa
diperoleh:
a. Model 1 dengan nilai R = 8, didapat 6 mode dan hasil persentase nilai perioda
lebih banyak diatas 15%.
b. Model 2 dengan nilai R = 8, didapat 6 mode dan hasil persentase nilai perioda
lebih banyak diatas 15%
Untuk perhitungan tertera pada Lampiran A3.

41
4.2.2 Koreksi Gempa Dasar Nominal

Berdasarkan SNI 1726:2019 Pasal [Link].1, apabila kombinasi respons untuk


gaya geser dasar hasil analisis ragam (Vt) kurang dari 100 % dari gaya geser (V)
yang dihitung melalui metode statik ekivalen, maka gaya tersebut harus dikalikan
dengan V/Vt, dimana V adalah gaya geser dasar statik ekivalen yang dihitung
sesuai pasal ini dan 0, dan Vt adalah gaya geser dasar yang didapatkan dari hasil
analisis kombinasi ragam.
Faktor skala = 100% V/Vt = V/Vt ≥ 1
Dimana :
V = gaya geser dasar statik ekivalen yang dihitung
Vt = gaya geser dasar dari hasil analisis kombinasi ragam

Tabel 4.1: Nilai gaya geser dasar nominal analisa statik ekivalen (V1) dan Nilai
gaya geser dasar nominal analisa respon spektrum output Program Analisa
Struktur Vt.
Struktur Arah Gempa V1 (KN) Vt (KN)
Model 1 Gempa X (R=8) 474.204 576.078
Model 2 Gempa X (R=8) 297.692 417.035

Untuk memenuhi syarat berdasarkan SNI 1726:2019, maka nilai faktor skala
harus lebih besar dari 1 atau sama dengan 1.
𝑉𝑡
Syarat : ≥ 100%
𝑉

Untuk perhitungan tertera pada Lampiran A5.

4.2.3 Koreksi Gaya Geser Lantai

Nilai gaya geser lantai (story shear) perlu dikoreksi dengan nilai gaya seser
dasar (base shear). Koreksi untuk setiap gaya geser lantai yang memenuhi atau
tidak memenuhi syarat 35 persen gaya geser dasar. Untuk perhitungan terdapat
pada lampiran A.6.

42
4.2.4 Koreksi Skala Simpangan Antar Tingkat

Nilai V dan gaya geser dasar nominal analisis respon spektrum (Vt) dapat
dilihat pada Tabel 4.2. Kontrol Koreksi skala simpangan antar tingkat berdasarkan
pasal [Link].1 SNI 1796:2019, yaitu:
Syarat : Vt ≥ Cs.W

Tabel 4.2: Perbandingan nilai Vt dan Cs.W


Struktur Arah Gempa Vt (KN) [Link] Cek
Model 1 Gempa X (R=8) 576.078 474.204 Ok
Model 2 Gempa X (R=8) 417.035 297.692 Ok

Dengan demikian syarat skala simpangan antar lantai telah terpenuhi, yaitu
gaya geser dasar respon spektrum (Vt) lebih besar dari nilai Cs.W, sehingga
simpangan antar lantai tidak perlu dikalikan dengan faktor skala.

4.2.5 Nilai Simpangan Gedung

Berdasarkan peraturan SNI 1726:2019 pasal 7.12.1, kontrol simpangan antar


lantai hanya terdapat satu kinerja batas, yaitu kinerja batas ultimit. Simpangan
antar lantai yang diizinkan yaitu 0,02 dikali tinggi lantai, nilai simpangan tidak
boleh melebihi ketentuan tersebut. Pada hasil yang diperoleh, nilai simpangan
antar lantai tidak melebihi batas izin atau memenuhi syarat. Pada Gambar 4.1
sampai 4.4 Menunjukkan beberapa kurva hasil analisis simpangan total lantai
(actual drift) dan simpangan antar lantai (IDR).
Untuk hasil perhitungan terdapat pada Lampiran A7.

43
4

3
L
a
n 2
t Simpangan
a total
i
1

0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0
Actual Drift (mm)

Gambar 4.1: Kurva hasil analisis simpangan total lantai (actual drift) model 1.

4
L
a
n 3 Simpangan
t total
a
i 2

0
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0

Actual Dfrift (mm)

Gambar 4.2: Kurva hasil analisis simpangan total lantai (actual drift) model 2.

44
4

L
a IDR
2
n
t
a Δijin = 0.020
i hsx
1

0
0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0

IDR (mm)

Gambar 4.3: Kurva hasil analisis simpangan antar lantai (IDR) Model 1.

4
L
a IDR
n 3
t
a Δijin =
i 2 0.020 hsx

0
0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0

IDR (mm)

Gambar 4.4: kurva hasil analisis simpangan antar lantai (IDR) Model 2.

45
4.2.6 Pengaruh Efek P - Delta

Berdasarkan SNI 1726:2019 pasal 7.8.7, efek P-delta dapat diabaikan jika
nilai stability ratio lebih kecil dari 1. Pada hasil perhitungan, nilai stability ratio
dibawah nilai 1 untuk semua model atau dapat dikatakan kontrolnya memenuhi
syarat yang ditentukan. Pada dasarnya efek P-delta dapat diabaikan jika syarat
stability ratio sudah terpenuhi. Untuk hasil perhitungan terdapat pada Lampiran
A8.

4.2.7 Ketidakberaturan Kekakuan Tingkat Lunak (Soft Story)

Berdasarkan SNI 1726:2019 pasal [Link], kekakuan tingkat lunak (soft story)
didefinisikan ada jika terdapat suatu tingkat dimana kekakuan lateralnya kurang
dari 70 persen kekakuan lateral tingkat diatasnya atau kurang dari 80 persen
kekakuan rata-rata tiga tingkat diatasnya. Pada hasil kontrol ketidakberaturan
kekakuan tingkat lunak pada arah x untuk semua model, diperoleh nilai persentase
kekakuan diatas batas yang ditentukan atau struktur yang direncanakan tidak
mengalami Soft Story.
Untuk hasil perhitungan terdapat pada Lampiran A9.

4.3. Kekuatan Desain Kolom


4.3.1 Kekuatan Tekan Desain
Kekuatan tekan desain dan kekuatan tekan izin pada komponen struktur
komposit terisi beton yang dibebani secara aksial simetris ganda harus ditentukan
untuk keadaan batas tekuk lentur yang didasarkan atas kelangsingan komponen
struktur. Nilai ϕ[Link] yang diperoleh dari tipe kolom HSS 16 x 16 x 500 adalah
8054.637 KN. Sedangkan Nilai kapasitas (Pu) pada model 1 adalah 470.5294 KN
dan Nilai kapasitas (Pu) pada model 2 adalah 796.2829 KN.
Untuk hasil perhitungan terdapat pada Lampiran A11.

46
4.3.2 Kekuatan Tarik Desain

Kekuatan tarik tersedia komponen struktur komposit terisi beton yang


dibebani secara aksial harus ditentukan untuk keadaan batas leleh. Nilai ϕ[Link]
yang diperoleh dari tipe kolom HSS 16 x 16 x 500 adalah 6821.086 KN.
Sedangkan Nilai kapasitas (Pu) pada model 1 adalah 1606.358 KN dan Nilai
kapasitas (Pu) pada model 2 adalah 2398.654 KN.
Untuk hasil perhitungan terdapat pada Lampiran A12.

4.3.3 Diagram Interaksi Kolom

Berikut adalah diagram interaksi kolom dari kolom yang ditinjau.

Gambar 4.5: Diagram interaksi kolom.

Untuk hasil perhitungan terdapat pada Lampiran A.13.

47
4.4. Hasil Analisa Kekakuan Sambungan Balok Kolom (Panel Zone)

Tabung baja di zona panel dibagi secara struktural menjadi badan (web) dan
sayap (flange). Regangan dan kekuatan di mana badan baja meleleh didefinisikan
sebagai regangan geser leleh dan kekuatan zona panel, sedangkan regangan dan
kekuatan pada sayap baja meleleh didefinisikan sebagai regangan geser ultimit
dan kekuatan zona panel. Untuk zona panel struktur komposit, kekakuan geser
(K), kuat geser leleh (Vy), dan kekuatan geser ultimate (Vu) adalah penjumlahan
dari tabung baja dan inti beton. Untuk perhitungan tertera pada Lampiran A.14.

48
BAB 5
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi pada struktur komposit sistem rangka pemikul
momen khusus (SRPMK) di wilayah gempa yang telah direncanakan dapat
disimpulkan bahwa :
1. Diperoleh hasil desain dengan menggunakan profil kolom komposit HSS
16x16x500 serta balok WF 24x84 dan WF 24x103.
2. Dari hasil analisa simpangan antar lantai pada struktur komposit SRPMK yang
disyaratkan oleh SNI 1729:2019, Pada model 1 diperoleh nilai simpangan
antar lantai maksimum sebesar 0,384 m dan pada model 2 sebesar 0,295 m ,
simpangan ini lebih kecil dari simpangan antar lantai izin yaitu sebesar 0,793
m.

5.2 Saran
1. Dalam tugas akhir ini, dimensi balok kolom yang ekonomis diabaikan. Lebih
baik untuk penganalisaan selanjutnya komponen tersebut direncanakan agar
data yang dihasilkan lebih akurat.
2. Dalam tugas akhir ini, jika terdapat hasil yang kurang sesuai pada analisa
linier diharapkan agar dapat diskusi dengan penulis. Apabila nilai yang
didapatkan jauh dari hasil yang ada.
3. Diharapkan tugas akhir ini dapat diteruskan atau dievaluasi kembali dalam
rangka mendapatkan hasil yang optimal dan dapat dilakukan perbandingan
terhadap hasil yang ada.

49
DAFTAR PUSTAKA

Amrullah, W., Bagio, T. H., Tistogondo, J. (2019). Desain perencanaan struktur


Gedung 38 lantai dengan sistem Rangka pemikul momen khusus (SRPMK),
1 (April 2019). 18-23.

Badan Standarisasi Nasional. (2019). Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa


untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1726-2019). Jakarta : Departemen
Pekerjaan Umum

Badan Standarisasi Nasional. (2019). Persyaratan beton struktural untuk


bangunan gedung dan penjelasan (SNI 2847:2019). Jakarta : Departemen
Pekerjaan Umum

Badan Standarisasi Nasional. (2020). Spesifikasi untuk bangunan gedung baja


struktural (SNI 1729:2020). Jakarta : Departemen Pekerjaan Umum

Fauzi, M. Z., Wahyuni, E., Suswanto, B. (2018). Modifikasi Perencanaan


Struktur Gedung Apartemen Brooklyn Alam Sutera Menggunakan Struktur
Komposit Baja-Beton dengan Sistem Rangka Berpengaku Eksentris. 07,
D6-D11.

Hu, J. W. (2016). Smart Connection System Design and Seismic Analysis. CRC
Press/Balkema

Is, Syafridal., Zardi, M., Mahathir, N. (2019). Desain Ulang Balok dan kolom
Komposit. 5, 76-86.

Jeddi, M. Z., Sulong, N. H. R., & Khanouki, M. M. A. (2016). Seismic


performance of new though rib stiffener beam connection to concrete filled
steel tubular columns: An experimental study. Engineering Structure.

Munawar, I, A., Tata A., Togubu, J. (2018). Modifikasi Desain Menggunakan


Struktur Baja Dengan Kolom Komposit Pada Gedung Pasar Modern
Ternate. 08, 23-31.

Nasution, A. E., Ayu, S. R., & Sucitra, W. (2020). Desain Elemen Struktur Beton
Bertulang Tahan Gempa Dengan Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus
(SRPMK). 1, 1-16.

Pawirodikromo, W. 2012. Seismologi Teknik & Rekayasa Kegempaan.


Yogyakarta : PUSTAKA PELAJAR.

Tubuh, K. D. K., dkk. (2017). Studi perbandingan perilaku dan kinerja struktur
baja menggunakan kolom komposit concrete encased dan concrete filled
tube, serta non komposit, 5 (Juli 2017). 111 – 121.

50
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA DIRI PESERTA


Nama lengkap : Aan Rohima Rambe

Tempat tanggal lahir : Subulussalam, 05 Januari 1998

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : [Link] Jalal, Desa Subulussalam , Kecamatan

Simpang Kiri,Kota Subulussalam, Aceh.

Agama : Islam

Nama Ayah : Aripin Rambe, SH.

Nama Ibu : Nurhayati Maria, SH.

No. HP : 082166575453

Email : Aanrohima1@[Link]

RIWAYAT PENDIDIKAN
1. SD Negeri 02 Subulussalam 2003 - 2009
2. MTSs Al-Mansuriah 2009 - 2012
3. SMA Negeri 01 Simpang Kiri 2012 – 2015
4. Politeknik Negeri Medan 2015 – 2018
5. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara 2019 – Selesai

Anda mungkin juga menyukai