Jurnal Maksipreneur: Vol. 10 No. 2 Juni 2021 hal.
164 – 180
Manajemen, Koperasi, dan Entrepreneurship
Tranparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa
dalam Pencapaian Good Governance: Studi Kasus Desa
Cepogo, Kabupaten Boyolali
Puji Astuti
Rochmi Widayanti
Ratna Damayanti
Manajemen, Universitas Islam Batik Surakarta, Indonesia
Korespondensi penulis: putjiastuti1703@[Link]
Abstract. A village fund program is a form of government concern for the development
of rural areas. The management of village funds consists of five stages, namely
planning, implementation, managing, reporting, and responsibility, which should be
based on the principles of good governance. The Cepogo Village Government, Cepogo
District, Boyolali Regency, in Central Java Province is one of the village governments
in Indonesia that has implemented the principles of good governance in managing
village funds. This study aims to see how the implementation of the principles of
transparency and accountability in the management of village funds by the Cepogo
Village Government to achieve good governance standards. This study uses a
descriptive qualitative approach. The data collection technique used was direct
interviews with a semi-structured method. The participants of this study were the
Village Head of Administration, Village Secretary, Village Treasurer, and staff of the
Administration Section for managing the village fund who are responsible for managing
it. The results showed that the planning and implementation of Village Fund Program
activities had shown accountable and transparent management. In terms of account-
ability, both physical and management activities, it has shown that the implementation
is accountable and transparent.
Keywords: Accountability; Cepogo village; Good governance; Government govern-
ance; Transparency; Village fund program.
Abstrak. Program dana desa merupakan wujud kepedulian pemerintah terhadap
pembangunan wilayah perdesaan. Pengelolaan dana desa pada setiap tahapannya, yaitu
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban seha-
rusnya didasarkan pada prinsip-prinsip good governance. Pemerintah Desa Cepogo,
Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah adalah salah satu
pemerintah desa di Indonesia yang telah melaksanakan prinsip good governance dalam
pengelolaan dana desa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana imple-
mentasi prinsip transparansi dan akuntabilitas terhadap pengelolaan dana desa oleh
Pemerintah Desa Cepogo untuk mencapai standar good governance. Penelitian ini
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 164
menggunakan pendekatan diskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan data yang diguna-
kan adalah wawancara langsung dengan metode semi terstruktur. Partisipan dalam
penelitian ini terdiri atas Kepala Desa, Sekretaris Desa, Bendahara Desa, dan Staf
Administrasi pengelolaan dana desa yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan dana
desa tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan dan pelaksanaan
kegiatan program dana desa memperlihatkan pengelolaan yang akuntabel dan trans-
paran. Dari sisi akuntabilitas, baik dari segi fisik maupun penatalaksanaan program
telah menunjukkan pelaksanaan yang akuntabel dan transparan.
Kata kunci: Akuntabilitas; Desa Cepogo; Good governance; Program dana desa; Tata
kelola pemerintahan; Transparansi.
Article Info:
Received: January 16, 2020 Accepted: September 14, 2020 Available online: February 16, 2021
DOI: [Link]
LATAR BELAKANG
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 6 tahun 2014 tentang desa menyata-
kan bahwa desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memilikibatas wilayah
kewenangan untuk mengatururusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui
dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Undang-Undang Desa bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat melalui
kegiatan layanan publik. Berdasarkan Undang-Undang Desa tersebut, sebuah desa
diberikan penguatan kewenangan dalam menyelenggarakan pemerintahan, melaksana-
kan pembangunan, melakukan pembinaan kemasyarakatan, dan memberdayakan ma-
syarakat desa tersebut. Selain itu, desa juga diberikan kewenangan terhadap sumber-
sumber pendapatannya.
Desa diberikan kewenangan dan sumber dana yang memadai agar dapat mengelo-
la potensiyang dimilikinya guna meningkatkan ekonomi dan kesejahtaraan masyarakat-
nya. Setiap tahun, pemerintah pusat telah menganggarkan dana desa yang cukup besar
untuk diberikan dan dikelola desa sendiri. Data Kementerian Keuangan memperlihatkan
bahwa dana desa telah dianggarkan tahun 2015 sebesar Rp20,7 triliun, sehingga setiap
desa rata-rata mendapatkan alokasi sekitar Rp280 juta. Selanjutnya, anggaran dana desa
pada tahun 2016 meningkat menjadi Rp46,98 triliun dengan rata-rata setiap desa men-
dapatkan alokasi sekitar Rp628 juta, sedangkan dana desa pada tahun 2017 kembali
meningkat menjadi Rp60 triliun dengan rata-rata setiap desa mendapatkan alokasi seki-
tar Rp800 juta (Kemenkeu, 2017).
Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI menemukan adanya
beberapa permasalahan utama pengelolaan dana desa, baik pada aspek pembinaan mau-
pun pengawasannya (Sartono, 2019). Permasalahan pada aspek pembinaan pengelolaan
dana desa, antara lain belum adanya regulasi penetapan standar akuntansi pemerintahan
desa dan regulasi penyelenggaraan dan pembinaan aparatur desa yang lengkap. Di sisi
lain, permasalahan pada aspek pengawasan pengelolaan dana desa, antara lain peren-
canaan dan pengawasan oleh pemerintah daerah yang belum mempertimbangkan faktor
Jurnal Maksipreneur │ Vol. 10 No. 2 │ Juni 2021 165
risiko. Hal tersebut terlihat dari adanya pemerintah daerah yang tidak memiliki rencana
dan pemetaan masalah dalam pembuatan kegiatan pengawasan (DPR RI, 2019).
Permasalahan-permasalahan yang muncul dalam pengelolaan dana desa tersebut
mengakibatkan beberapa kepala desa menghadapi masalah dengan aturan [Link] itu
dapat terjadi karena sebagian kepala desa belum sepenuhnya memahami tata kelola dan
tata regulasi dana desa. Misalnya, Kejaksaan Negeri Boyolali mengungkapkan adanya
kasus dugaan penyimpangan pengelolaan dana desa oleh oknum kepala desa meliputi
lelang tanah kas desa dan uang hasil lelangnya tidak dimasukkan dalam Anggaran Pen-
dapatan dan Belanja Desa ([Link], 2019).
Pemahaman dan pemenuhan ketentuan dalam peraturan pengelolaan dana desa
bagi para stakeholders, khususnya perangkat desa menjadi faktor penting keberhasilan
dan keberlanjutan pembangunan desa sesuai amanat Undang-Undang Desa. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana penerapan prinsip transparansi dan
akuntabilitas dalam pengelolaan dana desauntuk mencapai standar good governance di
Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah.
KAJIAN TEORITIS
Agency Theory
Teori agensi adalah kontrak antara manajer (agents) dengan pemilik (principals).
Hubungan kontraktual ini dapat berjalan dengan baik, apabila pemilik mendelegasikan
otoritas pembuatan keputusan kepada manajer. Hubungan keagenan ditunjukkan oleh
pihak principals yang memberikan mandat kepada pihak lain, yaitu agents untuk mela-
kukan semua kegiatan atas namanya dalam kapasitas sebagai pengambil keputusan
(Jensen &Meckling, 1976). Pada sistem pemerintahan daerah di Indonesia, secara sadar
maupun tidak, teori agensi sebenarnya telah dipraktikkan. Pada organisasi sektor publik,
principals yang dimaksud adalah rakyat, sedangkan agen adalah pemerintah. Dalam
konteks penelitian ini, agen adalah kepala desa dan aparat desa lainnya (Ismail,
Widagdo, & Widodo, 2016).
Teori agensi memandang bahwa pemerintah desa, yaitu kepala desa dan aparat
desa lainnya sebagai agents bagi masyarakat desa (principals) yang akan bertindak
dengan penuh kesadaran bagi kepentingan desa mereka sendiri. Hubungan kontrak yang
dimaksud adalah pendelegasian wewenang kepada agents untuk melakukan semua
pekerjaannya secara bertanggungjawab kepada pemerintah daerah (kabupaten dan
provinsi) maupun pusat yang telah menetapkan ketentuan berupa Peraturan Menteri
Dalam Negeri (Permendagri) nomor 113 tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan
Desa. Aparatur desa menjadi kepanjangan tangan masyarakat desa sebagai pemberi
amanah dalam pelaksanaan tugas-tugasnya sesuai Permendagri tersebut (Pemerintah
Desa Panggungharjo, 2014).
Dana Desa
Pengertian dana desa menurut Buku Saku Dana Desa adalah dana APBN (Ang-
garan Pendapatan dan Belanja Negara) yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer
melalui APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) kabupaten/kota dan dipriori-
taskan untuk pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa (Kemen-
keu, 2017). Dana desa sebagai salah satu sumber pendapatan desa, pengelolaannya
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 166
dilakukan dalam rerangka pengelolaan keuangan desa. Keuangan desa dikelola berda-
sarkan asas-asas transparan, akuntabel, partisipatif, dan dilaksanakan secara tertib dan
disiplin anggaran (Pemerintah Desa Panggungharjo, 2014). Pengelolaan keuangan desa
meliputi aktifitas perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertang-
gungjawaban (Kemenkeu, 2017). Masing-masing aktifitas dalam pentahapan pengelo-
laan keuangan desa diuraikan berikut ini.
1. Tahap Perencanaan meliputi aktifitas:
a. Sekretaris Desa (Sekdes) menyusun Raperdes (Rancangan Peraturan Desa) ten-
tang APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa) yang akan dibahas dan
disepakati antara Kades (Kepala Desa) dan BPD (Badan Permusyawaratan Desa)
b. APBDes disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui Camat paling lambat bulan
Oktober tahun berjalan.
c. APBDes dievaluasi oleh Bupati/Walikota selama maksimal 20 hari kerja, dan
Kepala Desa harus melakukan penyempurnaan selama 7 hari, jika APBDes dinya-
takan tidak sesuai dengan Raperdes.
d. Prioritas penggunaan dana desa ditetapkan dalam musyawarah desa antara BPD,
Pemdes (Pemerintah Desa), dan unsur masyarakat.
2. Tahap Pelaksanaan meliputi aktifitas:
a. Pengeluaran dan penerimaan dana dilaksanakan melalui rekening Kas Desa atau
sesuai ketetapan pemerintah kabupaten/kota dengan dukungan bukti yang lengkap
dan sah.
b. Pemdes dilarang melakukan pungutan selain yang telah ditetapkan dalam Perdes.
c. Bendahara Desa dapat menyimpan uang dalam Kas Desa yang besarannya dite-
tapkan dengan Perbup/Perwali (Peraturan Bupati/Peraturan Walikota).
d. Pengadaan barang dan/atau jasa di desa diatur dengan Perbup/Perwali.
e. Penggunaan biaya tak terduga harus dibuat rincian RAB (Rencana Anggaran
Belanja) dan disahkan oleh Kades.
3. Tahap Penatausahaan meliputi aktifitas:
a. Tahapan ini wajib dilaksanakan oleh Bendahara Desa.
b. Pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran kas.
c. Melakukan tutup buku setiap akhir bulan.
d. Mempertanggungjawabkan pengelolaan dana melalui laporan.
e. Laporan pengelolaan dana disampaikan setiap bulan kepada Kades paling lambat
tanggal 10 bulan berikutnya.
f. Menggunakan Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak, dan Buku Bank.
4. Tahap Pelaporan dan Pertanggungjawaban meliputi aktifitas:
a. Kades menyampaikan laporan kepada Bupati/Walikota melalui Camat yang terdiri
atas laporan realisasi pelaksanaan APBDes semester pertama dan semester akhir
tahun.
b. Laporan pertanggungjawaban realisasi Pelaksanaan APBDes disampaikan setiap
akhir tahun anggaran yang terdiri ataspendapatan, belanja, dan pembiayaanyang
ditetapkan dengan Perdes.
c. Lampiran format laporan terdiri atas:
1) Pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDes tahun anggaran berjalan.
2) Kekayaan milik desa per 31 Desember tahun anggaran berjalan.
3) Program pemerintah danpemerintah daerah yangg masuk ke desa.
Jurnal Maksipreneur │ Vol. 10 No. 2 │ Juni 2021 167
Good Governance
Governance merupakan paradigma baru dalam tatanan pengelolaan kepemerin-
tahan. Pergeseran paradigma tata pemerintahan menekankan pada kolaborasi dalam
kesetaraan dan keseimbangan tiga pilar governance, yaitu transparansi, akuntabiltas,
dan partisipatif dengan mengembangkan paradigma baru administrasi publik sebagai
tata pemerintahan yang baik atau good governance (Astuti & Yulianto, 2016). Dalam
rangka mendukung terwujudnya tata kelola yang baik (good governance) dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa, pengelolaan keuangan desa dilakukan ber-
dasarkan prinsip tata kelola yang transparan, akuntabel, dan partisipatif, serta dilakukan
dengan tertib dan disiplin anggaran. Karakteristik good governance terdiri atas partisi-
pasi, supremasi hukum, transparansi, cepat tanggap, membangun konsensus, kesetaraan,
efektif dan efisien, bertanggungjawab, serta memiliki visi strategik (LAN & BPKP,
2000).
Good governance menjadi kebutuhan mutlak bagi masyarakat demi terciptanya
sebuah sistem pemerintahan yang lebih berpihak kepada kepentingan rakyat sesuai
prinsip-prinsip demokrasi secara universal (Tomuka, 2015). United Nations Develop-
ment Program atau UNDP (1997) memberikan panduan karakteristik atau prinsip
pelaksanaan good governance yang meliputi:
a. Participation yaitu keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan, baik secara
langsung maupun tidak langsung melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalur-
kan aspirasi mereka.
b. Rule of law yakni rerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
c. Transparency yang diartikan adanya keterbukaan terhadap publik, sehingga pihak
yang berkepentingan dapat mengetahui kebijakan dan kinerja pemerintah.
d. Responsiveness yaitu birokrat yang cepat tanggap dan harus segera menyadari apa
yang menjadi kepentingan publik (public interest), sehingga mereka cepat melaku-
kan pembenahan. Dalam hal ini, aparatur birokrasi yang memberikan layanan publik
harus cepat beradaptasi dalam suatu model pelayanan yang prima.
e. Consensus orientation adalah orientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas.
f. Equity yang diartikan bahwa masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, miskin
maupun kaya, memiliki kesamaan dalam memperoleh layanan publik oleh aparatur
birokrasi. Dalam hal ini, aparatur birokrasi tidak boleh melakukan diskriminatif
dalam memberikan layanan kepada pihak-pihak yang perlu dilayani.
g. Efficienty and Effectiveness yaitu tercapainya sasaran dan upaya mencapainya de-
ngan usaha yang tidak berlebihan atau hemat. Layanan publik adalah tindakan mela-
yani masyarakat seefektif mungkin dan tanpa banyak prosedur yang berbelit.
h. Accountability adalah pertanggungjawaban kepada publik atas setiap aktifitas yang
dilakukan. Akuntabilitas berarti kewajiban untuk memberi pertanggungjawaban dan
berani bertanggung jawab atas kinerja atau tindakan yang dilakukan.
i. Strategic vision adalah visi ke depan yang dimiliki penyelenggara pemerintahan,
Pemerintah dan masyarakat seharusnya memiliki kesatuan pandangan sesuai visi
yang mereka agar tercipta keselarasan dan integrasi pembangunan dengan memper-
hatikan latar belakang sejarah, kondisi sosial, dan budaya masyarakat.
Dari karakteristik atau prinsip-prinsip tersebut, setidaknya ada tiga hal yang dapat
diperankan oleh good government governance, yaitu penciptaan transparansi, akunta-
bilitas publik, dan value for money (economy, efficiency, dan effectiveness) (Rahadian,
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 168
2010). Mewujudkan good government governance dapat diartikan sebagai terciptanya
sebuah layanan publik atau tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel. Pene-
litian yang dilakukan ini memfokuskan perhatian pada pelaksanaan dua prinsip good
governance, yaitu transparansi dan akuntabilitas.
Transparansi
Transparansi atau keterbukaan memberikan arti bahwa anggota masyarakat me-
miliki hak dan akses yang sama untuk mengetahui proses anggaran karena menyangkut
aspirasi dan kepentingan masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup
masyarakat banyak. Transparansi merupakan prinsip yang harus ada dan meliputi kese-
luruhan bagian pengelolaan keuangan baik dari proses perencanaan, pelaksanaannya
(Rahum, 2015) Prinsip transparansi diwujudkan dalam perencanaan ADD (Alokasi
Dana Desa)yang melibatkan perangkat desa, BPD sebagai wakil masyarakat desa,
LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa) sebagai mitra pemerintah desa
dalam pengerjaan kegiatan fisik, dan tokoh masyarakat dalam pengambilan keputusan
untuk mengeloladana desa (Putra, Sinarwati, & Wahyuni, 2017).
Permendagri nomor 37 tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah pada pasal 4 ayat 7 menyebutkan bahwa transparansi adalah prinsip keterbukaan
yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi
seluas-luasnya tentang keuangan daerah (Kemendagri, 2007). Di sisi lain, Krina (2003)
menyatakan bahwa transparansi adalah prinsip yang menjamin akses atau kebebasan
bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan,
yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan, dan pelaksanaannya, serta hasil-
hasil yang dicapai.
Coryanata (2012) mengatakan transparansi dibangun atas dasar arus informasi
yang bebas, proses pemerintahan yang baik, kinerja lembaga-lembaga dan informasi
dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan informasi yang tersedia harus
memadai agar dapat dipahami dan dipantau secara rutin. Anggaran yang disusun oleh
pihak eksekutif dikatakan transparan, apabila laporan tersebut memenuhi beberapa
kriteria sebagai berikut (Coryanata, 2012): (1) terdapat pengumuman kebijakan angga-
ran; (2) tersedia dokumen anggaran dan mudah diakses; (3) tersedia laporan pertang-
gungjawaban yang tepat waktu; (4) terakomodasinya suara/usulan rakyat; dan (5) ter-
dapat sistem pemberian informasi kepada publik.
Akuntabilitas
Akuntabilitas (accountability) adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung-
jawaban, menjawab, dan menjelaskan kinerja dan tindakan seseorang atau badan hukum
atau pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewenangan untuk
meminta keterangan atau pertanggungjawaban tersebut (Astuti & Yulianto, 2016).
Dalam penelitian ini, akuntabilitas diartikan sebagai pertanggungjawaban publik
(Farida, Jati, & Harventy, 2018). Artinya, semua kegiatan yang menyangkut urusan
publik harus dapat dipertanggungjawabkan kepada publik mulai dari perencanaan,
pelaksanaan hingga pelaporannya.
Masyarakat tidak hanya berhak untuk mengetahui tentang pengelolaan keuangan
pemerintah. Lebih dari itu, masyarakat juga dapat menuntut tanggung jawab pemerintah
terkait pengelolaan keuangan tersebut (Farida et al., 2018). Menurut Arifiyanto dan
Kurrohman (2014), akuntabilitas merupakan sistem pengelolaan dana desa sebagai
Jurnal Maksipreneur │ Vol. 10 No. 2 │ Juni 2021 169
upaya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good government gover-
nance). Prinsip pelaksanaan good governance melibatkan partisipasi, transparansi, dan
pertanggungjawaban dalam pelaksanaan pemerintahan maupun pembangunan
(Arifiyanto & Kurrohman, 2014).
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif-kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi,
tindakan, dan lain-lain, secara holistik dan mendiskripsikannya dalam bentuk kata-kata
dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai
metode alamiah (Moleong, 2013, 5).
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara
langsung kepada pihak-pihak yang dianggap berkepentingan dengan pengelolaan dana
desa sebagai informan. Wawancara langsung dilakukan dengan metode semi terstruktur
dengan cara berdialog langsung dengan informan berdasarkan pertanyaan protokol yang
telah disiapkan. Informan terdiri atas mereka yang dipilih, karena mereka diyakini
memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengelolaan dana desa. Penelitian ini
menetapkan empat orang informan, yaitu Kepala Desa, Sekretaris Desa, Kepala Urusan
(Kaur) Keuangan atau Bendahara Desa, dan Staf Administrasi. Metode semi terstruktur
ini digunakan untuk mengungkap permasalahan penelitian secara lebih terbuka melalui
penjelasan, pendapat, dan ide-ide para informan terpilih. Dalam proses wawancara,
penelitian ini berusaha untuk mendapatkan data secara rinci dan mencatat semua hal
(transkripsi) yang dikemukakan informan (Moleong, 2013, 191).
Analisis data dapat diartikan sebagai cara melaksanakan analisis terhadap data
dengan tujuan untuk mengolah data menjadi sebuah informasi, sehingga data tersebut
dapat bermanfaat dalam menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kegiatan
penelitian. Analisis data bertujuan untuk mengungkapkan data apa yang perlu dicari,
dugaan apa yang perlu diuji, pertanyaan apa yang perlu dijawab, metode apa yang harus
digunakan untuk mendapatkan informasi baru, serta kesalahan apa yang perlu diper-
baiki. Selain itu, analisis data juga bertujuan untuk mendiskripsikan data, sehingga
karakteristik data dapat dipahami. Selanjutnya, kesimpulan dibuat atas dasar dugaan
atau estimasi.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan langkah-
langkah sesuai pendapat Moleong (2013, 248) sebagai berikut: (1) Pemrosesan satuan
obyek penelitian dengan membaca dan mempelajari secara teliti seluruh data yang
terkumpul. Setelah itu satuan-satuan diidentifikasi dan dimasukkan ke dalam indeks; (2)
Kategorisasi yang diartikan sebagai proses penyusunan kategori data. Transkripsi hasil
wawancara ditentukan kategorinya, yaitu mengelompokkan kartu-kartu pengumpulan
data yang telah dilakukan ke dalam bagian-bagian isi yang saling berkaitan; (3) Penaf-
siran data yaitu hasil diskripsi dari pengumpulan data dilakukan pembahasan dengan
menghubungkannya dengan teori yang berkaitan dalam penelitian ini, yakni transparan-
si dan akuntabilitas pengelolaan dana desa.
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 170
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Obyek Penelitian
Desa Cepogo tidak banyak memiliki catatan sejarah secara tertulis. Namun,
keberadaan Desa Cepogo tidak terlepas dari keberadaan Pedukuhan Tumang yang
dijadikan sebagai pusat pemerintahan desa, sehingga sejarah Tumang lebih menonjol
daripada Cepogo. Hal tersebut terkait dengan keberadaan Pedukuhan Tumang sebagai
wilayah industri kerajinan logam yang lebih banyak dikenal masyarakat luas, baik di
dalam negeri maupun luar negeri daripada nama Cepogo yang menjadi nama desa.
Pada tahun 2018, penduduk Desa Cepogo berjumlah 8.104 jiwa dengan komposisi
jumlah penduduk laki-laki sebanyak 4.060 atau 50,09% dan jumlah penduduk
perempuan sebanyak 4.044 atau 49,91% dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar
2.103 jiwa/km persegi dan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 2.649 KK.
Penelitian kualitatif ini melibatkan empat orang informan yang diwawancara untuk
mendapatkan data primer yang dianalisis. Keempat orang informan aparat Desa Cepogo
tersebut meliputi Kepala Desa, Sekretaris Desa, Bendahara Desa, dan Staf Administrasi.
Keempatnya terlibat langsung dalam penyusunan program dalam pengelolaan dana desa
dan laporan pelaksanaannya. Identifikasi umum terhadap keempat informan penelitian
ini disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Identifikasi Informan
Nama Usia Masa Kerja
Informan Gender Jabatan Pendidikan
(inisial) (tahun) (tahun)
1 Ma L Kepala Desa 52 SMA 8
2 Ri P Sekretaris Desa 45 Diploma 6
3 Nu P Bendahara Desa 37 Sarjana 6
4 Ra L Staf Administrasi 34 Sarjana 4
Keterangan: L=Laki-laki; P=Perempuan; SMA (Sekolah Menengah Atas).
Sumber: Hasil pengumpulan data primer yang diolah (2019).
Pengelolaan Dana Desa
Pengelolaan dana desa di Desa Cepogo didasarkan pada Permendagri nomor 113
tahun 2014 tentang pengelolaan keuangan desa yang terdiri atas prosedur perencanaan,
pelaksanaan, dan pertanggungjawaban dana desa oleh Pemerintah Desa Cepogo.
Penelitian ini menganalisis sumber pendapatan desa yang berasal dari alokasi APBN
berupa dana desa. Pengelolaan dana desa menjadi obyek utama penelitian ini, karena
pemerintah desa mendapatkan kewenangan langsung dari pemerintah pusat melalui
Undang-Undang nomor 6 tahun 2014 tentang desa.
Tabel 1. Rincian Dana Desa yang Diterima Desa Cepogo
Tahun Realisasi Dana Desa (Rp)
2017 849.281.000
2018 911.926.000
2019 [Link]
Sumber: Laporan Realisasi Dana Desa Cepogo Tahun 2017-2019.
Jurnal Maksipreneur │ Vol. 10 No. 2 │ Juni 2021 171
Setiap tahun, pemerintah pusat telah menganggarkan dana desa yang sangat besar
untuk diberikan kepada desa-desa di seluruh Indonesia. Desa Cepogo mendapatkan
kewenangan dan sumber dana yang cukup besar untuk dikelola sendiri dalam rangka
meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya. Tabel 2 menunjukkan rincian
dana desa yang telah diterima dan digunakan bagi pembangunan Desa Cepogo untuk
periode tahun 2017-2019.
Tabel 2 menunjukkan bahwa sejak tahun 2017 hingga 2019, Desa Cepogo telah
menerima alokasi dana desa dari pemerintah pusat dengan jumlah yang semakin besar.
Besaran dana desa yang diterima Desa Cepogo pada setiap tahunnya tidak sama, tetapi
cenderung meningkat. Pengalokasian APBDes untuk dana desa tergantung dari kemam-
puan APBN. Perhitungan pengalokasian dana desa berpatokan pada Peraturan Pemerin-
tah (PP) nomor 60 tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari Anggaran Pen-
dapatan dan Belanja Daerah yang kemudian diganti dengan PP nomor 22 tahun 2015
tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2014 tentang Dana Desa
yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Kemenkeu, 2014).
Pengelolaan dana desa di Desa Cepogo memiliki mekanisme yang dimulai dari
pembentukan Tim Penyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) yang dibuat
oleh Pemerintah Desa Cepogo. Tim ini melibatkan aparatur desa dan masyarakat secara
umum, yakni kepala desa sebagai pembina, sekretaris desa, kepala urusan perencanaan,
lembaga-lembaga yang ada di desa, dan BPD. Keberadaan tim ini bertujuan agar
pembangunan desa dapat lebih terarah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat
Desa Cepogo. Hasil wawancara terhadap beberapa informan menjelaskan mengenai
mekanisme sebelum pengelolaan dana desa, seperti yang diuraikan oleh Informan 1 dan
Informan 2 berikut ini:
“Jadi kita pertama-tama bikin tim dulu sebelum adanya musyawarah ituyang
isinya perwakilan pemerintah desa, ada juga dari perwakilan masing-masing
lembaga.” (Informan 2, Sekretaris Desa).
“Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa itu dilaksanakan.... kemudian
dirapatkan dengan BPD dan masyarakat.... nanti arahnya setelah itu dilaksa-
nakan croscek selesai masuk ke RKP Desa itu akan dimusrenbangkan” (Informan
1, Kepala Desa).
“[...] masyarakat diajak bicara, namun sebelum diajak bicara, sebelumnya kita
desa sudah mengetahui potensi dan masalah yang ada. Jadi, pada akhirnya yang
kita harapkan itu adalah masukan dari masyarakat itu sesuai dengan kebutuhan
masayarakat, namun tidak terlepas dari apa yang menjadi hasil dari pengecekan
lapangan atau croscek di pemerintah desa [...]” (Informan 1, Kepala Desa).
Mekanisme pembentukan Tim Penyusun RKPDes yang dibuat oleh Pemerintah
Desa Cepogo telah sesuai dengan Permendagri No 114 tahun 2014 tentang pedoman
pembangunan desa yang terdapat pada pasal 33 mengenai pembentukan Tim Penyusun
RKPDes dan sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali nomor 03 tahun 2012
tentang sistem perencanaan pembangunan partisipatif daerah pada pasal 1 yang berisi
mengenai Sistem Perencanaan Pembangunan Partisipatif Daerah atau SP3D, yaitu usaha
sistematis untuk merumuskan strategi perencanaan pembangunan daerah dengan meli-
batkan masyarakat melalui pelaksanaan forum Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 172
Perencanaan
Dana Desa adalah dana APBN yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer
melalui APBD kabupaten/kota dan diprioritaskan untuk pelaksanaan pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat desa (Kemenkeu, 2017). Oleh karena itu, program perenca-
naan dan kegiatannya disusun melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan
Desa (Musrenbangdes). Musrenbangdes adalah forum musyawarah yang membahas
usulan-usulan rencana kegiatan pembangunan desa yang berpedoman pada prinsip-
prinsip Perencanaan Pembangunan Partisipasi Masyarakat Desa (P3MD). Prinsip parti-
sipasi adalah keterlibatan warga negara di dalam pengambilan keputusan baik secara
langsung maupun melalui institusi yang mewakili kepentingannya (Tjokroamidjojo,
2000). Pelaksanaan prinsip partisipasi tersebut juga telah dibuktikan dengan hasil
wawancara sebagai berikut:
“Perencanaan ADD sudah dilaksanakan sesuai dengan prinsip partisipasi. Sebe-
lum dilaksanakan kegiatan terlebih dahulu dilakukan musyawarah desa guna
membahas perencanaan pembangunan dan yang melaksanakan pembangunan
adalah warga setempat di mana kegiatan pembangunan tersebut dilaksanakan
[...]“ (Informan 1, Kepala Desa).
Dalam perencanaan kegiatan-kegiatan yang dananya bersumber dari dana desa
harus benar-benar memperhatikan kebutuhan masyarakat, karena dana desa merupakan
sumber pendapatan utama desa-desa di Kabupaten Boyolali termasuk Desa Cepogo.
Oleh karena itu, rencana penggunaan dana desa juga menjadi bahan utama penyusunan
APBDes yang dimusyawarahkan di tingkat desa dan disepakati oleh pemerintah desa
dan BPD sebagai perwakilan masyarakat desa sebagai pedoman kegiatan pembangunan,
kemasyarakatan, dan pelayanan kepada masyarakat desa selama satu tahun sebagaimana
disampaikan oleh Informan 1 sebagai berikut:
“[...] untuk prinsip di pemerintahan desa Cepogo.... ini kita melaksanakan
croscek, artinya memang betul-betul di cek ke bawah.... sehingga pembuatan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa itu dilaksanakan secara croscek
untuk mengetahui potensi dan masalah yang ada .... setelah dirangkum, kemudian
dirapatkan dengan BPD dan masyarakat.... nanti arahnya setelah itu dilaksana-
kan croscek selesai masuk ke RKP Desa itu akan dimusrenbangkan... sehingga
pola Musrenbang inilah yang nantinya menentukan mana yang harus dibangun
[...]” (Informan 1, Kepala Desa).
“Misalnya, potensi disini bisa dikembangkan apa itu masyarakat semua diajak
ngomong. Nanti akan kita florkan pada saat Musrenbang Desa.......... setelah
RPJM Desa, baru RKP yang digunakan selama enam tahun itu. Jadi, keinginan
masyarakat dalam pelaksanaan disiplin pembangunan itu bukan hasil dari
keinginan mereka, tapi akan disandingkan antara hasil dari croscek potensi dan
masalah yang ada dengan masyarakat menginginkan semacam apa” (Informan 1,
Kepala Desa).
Pendapat Informan 1 tersebut mencerminkan adanya komitmen bersama antara
pemerintah daerah dengan masyarakat untuk melakukan proses pembelajaran di dalam
meningkatkan partisipasi masyarakat dengan tetap menitikberatkan pada pemberdayaan
masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-
masing desa untuk menumbuhkan potensi desa tersebut. Pada prinsipnya penggunaan
Jurnal Maksipreneur │ Vol. 10 No. 2 │ Juni 2021 173
dana desa terbagi menjadi dua, yaitu dana operasional pemerintah desa dan dana untuk
pemberdayaan masyarakat desa.
Hasil perencanaan tersebut akan menjadi pedoman penyelenggaraan pemerintahan
desa dan pembangunan desa dalam kurun waktu satu tahun. Dengan demikian
perencanaan yang telah disepakati juga harus transparan dan dapat diketahui oleh
seluruh lapisan masyarakat yang nantinya dapat dipertanggungjawabkan. Dari sisi
transparansi perencanaan, seluruh pemerintah desa di Kecamatan Cepogo diwajibkan
untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang kegiatan apa yang akan
dilakukan yang dananya bersumber dari dana desa. Hal tersebut menunjukkan bahwa
perencanaan dana desa di Desa Cepogo juga telah melaksanakan prinsip transparansi
dan akuntabilitas.
Prinsip transparansi dijunjung tinggi oleh pelaksana program dana desa di Desa
Cepogo sehingga diharapkan memperoleh imbal balik/tanggapan masyarakat di dalam
memperbaiki kinerja pembangunan. Di samping itu pemberian informasi dilaksanakan
secara terbuka mulai dari tahap perencanaan sampai paska kegiatan pembangunan. Hal
tersebut dibuktikan dari hasil wawancara dengan informan salah seorang Tim Pelaksana
Desa sebagai berikut:
“Pengelola Dana Desa memberikan informasi kepada masyarakat melalui papan
informasi terkait dengan papan informasi ada papan proyek yang dipasang di
titik proyek tersebut dilaksanakan, dan yang kedua melalui pertanggungjawaban
kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD) selaku wakil dari masyarakat
desa” (Informan 1, Kepala Desa).
Informasi tersebut menunjukkan adanya penerapan prinsip transparansi di dalam
perencanaan dana desa yang dapat diketahui oleh seluruh masyarakat desa. Jika tahap
perencanaan dana desa selesai, maka tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan
kegiatan-kegiatan yang bersumber dari dana desa.
Pelaksanaan
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali nomor 7 tahun 2016 mengenai
Pengelolaan Keuangan Daerah, Kepala Desa dibantu oleh Pejabat Pelaksana Teknis
Kegiatan (PPTK) dalam melaksanakan pengelolaan keuangan desa. Dalam hal pelak-
sanaan program dana desa di Desa Cepogo juga menjunjung tinggi prinsip partisipatif
dalam pengambilan keputusan dan transparansi, seperti yang disampaikan oleh infor-
man sebagai berikut:
“Pelaksana ADD sudah melaksanakan prinsip transparansi karena dari proses
perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pertanggungjawaban selalu melibat-
kan unsur-unsur masyarakat termasuk Badan Permusyawaratan Desa, Lembaga
Permusyawaratan Masyarakat Desa, dan tokoh masyarakat” (Informan 1, Kepala
Desa).
Hasil wawancara tersebut sesuai dengan konsep transparansi (Tjokroamidjojo,
2000), yaitu dapat diketahui oleh banyak pihak (yang berkepentingan) mengenai
perumusan kebijakan (politik) dari pemerintah, organisasi, badan usaha. Dari sisi prin-
sip akuntabilitas pelaksanaan ADD ditempuh melalui sistem pelaporan yaitu laporan
bulanan dan laporan masing-masing tahapan kegiatan. Berikut hasil wawancara sebagai
berikut:
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 174
“Sistem pelaporan kegiatan ADD dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan
pencairan ADD. Tahapan pencairan ADD ada tiga tahap yang pertama 40%,
kedua 40%, ketiga 20%. Jadi pertama 20 kemudian setelah kita bisa menyajikan
SPJnya, yaitu ditransfer tahap kedua, nah pada tahap kedua bisa menyajikan
SPJnya baru ditransfer ke tahap ketiganya. Jadi, otomatis masuknya meski hanya
satu rekening tapi secara otomatis ini asalnya dari dari dana desa atau Alokasi
Dana Desa itu pasti akan kelihatan” (Informan 3, Bendahara Desa).
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa di dalam pelaksanaan dana desa
senantiasa dilaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan oleh pengelola dana desa di
tingkat desa, terutama tentang kegiatan fisik dan penyerapan dana, dengan demikian
dapat diketahui bahwa tanggungjawab pengelola dana desa di tingkat desa sudah
memenuhi ketentuan pembuatan laporan kegiatan dana desa yang bertahap dan laporan
akhir kegiatan.
Pertanggungjawaban pelaksanaan program dana desa kepada pemerintah tingkat
atasnya dilakukan melalui sistem pelaporan yang secara bertahap. Laporan pelaksanaan
dana desa terdiri dari laporan pendahuluan, laporan masing-masing tahap kegiatan,
laporan bulanan dan laporan akhir kegiatan yang disusun secara komprehensif.
Pertanggungjawaban
Akuntabilitas adalah tanggung gugat dari pengurusan atau penyelenggaraan yang
dilakukan (Tjokroamidjojo, 2000). Pertanggungjawaban merupakan wujud konsekuensi
penyelenggaraan pemerintahan dalam pengelolaan dana desa kepada pihak-pihak ter-
kait. Dalam hal ini, Pemerintah Desa wajib membuat laporan pengelolaan dana desa.
Penyampaian Laporan Realisasi Dana Desa secara tertulis oleh Pemerintah Desa
Cepogo kepada Bupati Boyolali. Dalam tata kelola pemerintahan yang baik (good
government governance), maka pertanggungjawaban tersebut tidak hanya disampaikan
kepada pemerintah pada tingkat yang lebih tinggi saja, tetapi laporan tersebut juga harus
disampaikan kepada masyarakat. Berikut uraian pertanggungjawaban yang dilakukan
oleh pemerintah desa:
“Ada, website ada, itu untuk umum. Tapi tidak terperinci seperti dalam laporan
SPJ, tapi sampai rinci, katakanlah mungkin itu, tidak diperbolehkan” (Informan
4, Staf Administrasi).
“Kalau peraturan desa itu yang realisasi APBDes, kalau realisasi dana desa itu
tidak diperdeskan. Kan sudah include di APBDes tadi. Tapi ada laporan tersen-
diri tentang dana desa itu ada” (Informan 2, Sekretaris Desa).
Pertanggungjawaban pengelola dana desa kepada masyarakat, yakni dalam bentuk
fisik dan juga musyawarah atau rapat pertanggungjawaban pelaksanaan dana desa yang
dihadiri oleh BPD selaku wakil dari masyarakat desa. Berikut hasil wawancara sebagai
berikut:
“Pertanggungjawaban pelaksana ADD kepada masyarakat, yaitu dalam bentuk
fisik yang telah disepakati di dalam musrenbangdes dan rapat pertanggungja-
waban ADD” (Informan 2, Sekretaris Desa).
Di sisi lain, pengelolaan administrasi keuangan sebagaimana hasil wawancara
dengan informan diperoleh informasi sebagai berikut:
Jurnal Maksipreneur │ Vol. 10 No. 2 │ Juni 2021 175
“Pengelolaan administrasi keuangan disertai dengan bukti pendukung berupa
nota dan kwitansi ditambah surat pesanan dan surat perintah kerja dari kepala
desa untuk pesanan material (CV atau toko bangunan) untuk kegiatan fisik”
(Informan 3, Bendahara Desa).
Informasi-informasi tersebut menunjukkan bahwa sistem pertanggungjawaban
pelaksanaan dana desa di Desa Cepogo telah melaksanakan prinsip akuntabilitas.
Pengelola dana desa juga telah melaksanakan pertanggungjawaban administrasi keuang-
an dana desa dengan baik yaitu setiap pembelanjaan yang bersumber dari dana desa
harus disertai dengan bukti. Hal tersebut didukung dengan informasi yang diperoleh
dari informan sebagai berikut:
“Dalam mengeluarkan uang yang bersumber dari ADD harus disertai dengan
bukti pendukung berupa nota dan kwitansi dan juga tanda terima” (Informan 3,
Bendahara Desa).
Dari kutipan wawancara tersebut menunjukkan bahwa selama dalam pelaksanaan
dana desa tetap dituntut pertanggungjawaban di setiap pembelanjaan uang dana desa.
Dengan demikian apabila hal tersebut telah dilakukan secara terus menerus, tertib dan
sesuai dengan ketentuan yang ada, maka akan dapat meringankan/mendukung penyu-
sunan pertanggungjawaban akhir kegiatan dana desa yang nantinya akan disusun oleh
Tim Pelaksanan Desa, sedangkan pemahaman pengelolaan administrasi keuangan dana
desa dapat diketahui dari hasil wawancara sebagai berikut:
“Pelaksana ADD sudah memahami tentang pengelolaan administrasi keuangan
Dana Desa sesuai dengan sosialisasi dan petunjuk dari pemerintah kabupaten
dan juga petunjuk dari buku pedoman pelaksanaan bantuan keuangan kepada
pemerintah desa” (Informan 3, Bendahara Desa).
Dari hasil wawancara tersebut dapat, pelaksana dana desa dapat memahami dan
mengerti tentang tata kelola administrasi keuangan dana desa, karena selalu ada petun-
juk dari pemerintah kabupaten. Dari sisi akuntabilitas, pelaksanaan dana desa di Desa
Cepogo telah memenuhi prinsip akuntabilitas seperti disampaikan oleh Tjokroamidjojo
(2000), yaitu tanggung gugat dari pengurusan atau penyelenggaraan yang dilakukan.
Hal ini didukung penerapan di lapangan yang menunjukkan bahwa semua uang yang
telah dikeluarkan dapat dipertanggungjawabkan secara fisik dan administrasi keuangan.
Pertanggungjawaban dana desa dari sisi fisik di semua desa dapat dikatakan berhasil
dengan baik dan sudah selesai sepenuhnya.
Akuntabilitas
Akuntabilitas sistem pengelolaan dana desa ini dimaksudkan sebagai upaya untuk
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Dana desa harus
dilaksanakan secara terbuka melalui musyawarah desa dan hasilnya dituangkan dalam
bentuk Peraturan Desa (Perdes). Ketentuan tersebut menunjukkan adanya komitmen
dari para stakeholder/pengambil keputusan bahwa pengelolaan dana desa itu harus
memenuhi prinsip-prinsip good governance yang harus dilaksanakan oleh para penge-
lola dana desa dan juga masyarakatnya. Adanya komitmen yang kuat dari Pemerintah
Desa Cepogo untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, sesuai dengan informasi
wawancara sebagai berikut:
“Ada pun komitmen dari Pemerintah Desa Cepogo agar lebih mempercepat dina-
mika pembangunan, yaitu dengan cara untuk menggali swadaya masyarakat.
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 176
Artinya, pemerintah desa berupaya dengan jumlah dana desa yang relatif kecil ini
mengajak masyarakat ikut serta di dalam mempercepat pembangunan desa”
(Informan 1, Kepala Desa).
Pendapat informan tersebut memberi sinyal bahwa dalam menumbuhkan partisipasi
masyarakat desa khusunya dalam pengelolaan dana desa harus dilaksanakan secara
bersama-sama oleh semua stakeholders dalam menyelesaikan semua permasalahan yang
ada di desa. Pelaksanaan tersebut dalam rangka penerapan prinsip partisipatif pemba-
ngunan masyarakat desa yang didukung oleh prinsip-prinsip transparan dan akuntabel.
Transparansi
Prinsip untuk menjamin kebebasan bagi setiap orang untuk dapat memperoleh
informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan adalah transparansi. Informasi yang
berhak diperoleh masyarakat baik dari tahapan proses perencanaan, pelaksanaan, dan
pertanggungjawaban. Pelaporan dibangun atas dasarkebebasan memperoleh informasi.
Informasi yang berkaitan dengan kepentingan publik secara langsung dapat diperoleh
oleh mereka yang membutuhkan. Pemerintah Desa Cepogo memberikan informasi
terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan sebagai berikut:
“[...] setelah paska itu kita buat seperti ini, IPKD (Informasi Penyelenggaraan
Kepala Desa). Jadi kita, tahun yang berkenaan kita buat grafik seperti ini (di
koran). Ditempelkan di tempat umum. Ini transparansinya” (Informan 4, Staf
Administrasi).
“Jadi sekarang online, misalnya online itu server di kabupaten tetap tahu desa A,
B, C online. Jadi ini masukkan ini keluar SPP, pengeluaran ini tahu semua. Itu
juga salah satu bentuk transparansi” (Informan 3, Keuangan Desa).
“Ada, wibsite ada, itu untuk umum. Tapi tidak terperinci seperti dalam laporan
SPJ, tapi sampai rinci, katakanlah mungkin itu, tidak diperbolehkan” (Informan
4, Staf Administrasi).
Berdasarkan uraian dari Informan 3 dan 4, Transparansi yang dibangun oleh
Pemerintah Desa Cepogo menempatkan dokumen desa sebagai dokumen publik,
kecuali dokumen data kependudukan dan data aset warga desa. Informasi-informasi
mengenai penyelenggaraan pemerintahan disampaikan melalui situs web Desa Cepogo,
papan pengumuman di kantor desa, dan penyampaian informasi juga melalui perwakil-
an tiap-tiap Kepala Dusun dan Ketua RT. Perangkat desa juga mengelola website desa.
Selain itu, laporan realisasi pelaksanaan APBDesa juga dipublikasikan melalui koran.
“Jadi kita, tahun yang berkenaan kita buat grafik seperti ini (di koran). Ditempel-
kan di tempat umum. Ini transparansinya” (Informan 4, Staf Administrasi).
“Ada, website ada, itu untuk umum” (Informan 4, Staf Administrasi).
“Ya kan ada ini laporan realisasi yang dimuat di koran, lalu dibagikan kepada
masyarakat ini secara umum. Kalau pertangungjawaban itu setiap akhir masa
jabatan akan ada LPPD dan itu dilaporkan kepada Bupati” (Informan 2, Sekre-
taris Desa).
Upaya komunikasi melalui berbagai media yang dilakukan oleh Pemerintah Desa
Cepogo agar masyarakat memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan.
Suatu komunikasi dapat dikatakan efektif apabila sasaran maupun tujuan komunikasi
Jurnal Maksipreneur │ Vol. 10 No. 2 │ Juni 2021 177
dapat tercapai. Berikut merupakan penjelasan dari beberapa informan mengenai keefek-
tifan pemerintah desa dalam hal transparansi:
“Kalau masyarakat berhak menanyakan atau berhak bertanya salah satunya me-
lalui Badan Permusyawaratan Desa” (Informan 2, Sekretaris Desa).
“Masyarakat itu ngerti misalya disini ada selokan panjangnya sekian meter,
dalamnya sekian meter, ini sudah diukur semua sehingga pada saat masyarakat
akan usul, eh tempat saya butuh selokan dibenahi, kita sudah tahu datanya sudah
ada. Kemudian akan kita laksanakan sesuai dengan kebutuhan” (Informan 1,
Kepala Desa).
“....bagi yang tahu IT, tapi ya kita sekali lagi salah satu upaya kita untuk mem-
buat transparasi. Yang lainnya ya itu kita sampaikan tadi, dengan hardcopy atau
bisa tanya langsung ke kantor” (Informan 4, Staf Administrasi).
Teknologi di era globalisasi yang sangat pesat ini masyarakat dengan mudah
dapat mengakses informasi yang disediakan oleh pemerintah desa di situs website, yaitu
masyarakat yang berusia 26-35 tahun. Selain itu, untuk masyarakat yang belum menge-
nal teknologi seperti masyarakat yang berusia lebih dari 65 tahun bisa melihat di media
cetak atau koran. Transparansi yang dilakukan oleh pemerintah desa dirasa sudah efektif
dengan menggunakan situs website dan media cetak. Situs web dirasa paling efektif
untuk pihak di luar masyarakat, seperti mahasiswa yang berkeinginan untuk melihat
penyelenggaraan pemerintah desa dan pihak investor untuk melihat potensi yang ada di
desa Cepogo. Namun, Pemerintah Desa Cepogo tetap berusaha melakukan transparasi
pelaporan kepada semua pihak. Pelaporan itu dilakukan pemerintah dengan memberikan
informasi penyelenggaraan pemerintahan kepada Kepala Dusun maupun Ketua RT/RW,
serta membuat pengumuman di kantor desa, sehingga masyarakat yang belum paham
akan teknologi dapat memperoleh informasi.
KESIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian tentang penerapan prinsip tranparansi dan akuntabilitas pengelo-
laan dana desa yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo,
Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa tahap perencanaan
telah menerapkan prinsip partisipasi dan transparansi. Hal ini dibuktikan dengan keha-
diran masyarakat yang sangat antusias dalam forum musyawarah desa atau Musyawarah
Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Selain itu, dalam musyawarah desa
tersebut, pemerintah desa terbuka untuk menerima segala usulan masyarakat agar
pembangunan Desa Cepogo dapat berjalan lancar melalui tata kelola pemerintahan yang
baik atau good government governance.
Tahap pelaksanaan program pembangunan di Desa Cepogo telah menerapkan
prinsip transparansi dan akuntabilitas. Prinsip transparansi terpenuhi dengan adanya
informasi yang jelas melalui website dan surat kabar berkaitan dengan jadwal pelak-
sanaan pembangunan fisik yang dibiayai dengan dana desa. Prinsip akuntabilitas telah
terlaksana sepenuhnya, karena pertanggungjawaban secara fisik dan administrasinya
sudah diselesaikan secara lengkap, serta memenuhi prinsip-prinsip good governance.
Tahap penatausahaan dalam pengelolaan dana desa, Pemerintah Desa Cepogo
sudah melaksanakannya dengan baik. Hal itu dibuktikan oleh bendahara yang melaku-
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 178
kan pencatatan penerimaan dan pengeluaran secara tertib. Setiap bulan, bendahara
melakukan tutup buku dan membuat laporan periodik yang disampaikan kepada Kepala
Desa Cepogo. Tahap pelaporan dan pertanggungjawaban menunjukkan proses pertang-
gungjawaban Kepala Desa Cepogo yang disampaikan tepat waktu kepada Camat
Cepogo maupun Bupati Boyolali melalui penyampaian Laporan Realisasi Pengelolaan
Dana Desa. Selain itu, pertanggungjawaban juga dilakukan kepada masyarakat melalui
kegiatan musyawarah desa. Pengawasan pengelolaan keuangan desa dilakukan oleh
BPD sebagai pengawas dan berfungsi untuk menetapkan peraturan desa (Perdes)
bersama Kepala Desa yang sudah berjalan dengan baik. Pengawasan oleh BPD terhadap
pengelolaan keuangan desa telah dilaksanakan semaksimal mungkin sesuai tugas pokok
dan fungsi BPD.
DAFTAR REFERENSI
Arifiyanto, D. F., & Kurrohman, T. (2014). Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana
Desa di Kabupaten Jember. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, 2(3), 473–485.
Astuti, T. P., & Yulianto, Y. (2016). Good Governance Pengelolaan Keuangan Desa
Menyongsong Berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014. Jurnal Riset
Akuntansi, 1(1), 1–14.
Coryanata, I. (2012). Akuntabilitas, Partisipasi Masyarakat dan Transparansi Kebijakan
Publik sebagai Pemoderating Hubungan Pengetahuan Dewan tentang Anggaran
dan Pengawasan Keuangan Daerah (APBD). Jurnal Akuntansi dan Investasi,
12(2), 110–125.
DPR RI (2014). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Diakses tanggal
24 Oktober 2019 dari
[Link]
DPR RI (2019). Pengelolaan Dana Desa Masih Bermasalah. Diakses tanggal 23
November 2019 dari
[Link]
rmasalah.
Farida, V., Jati, W. A., & Harventy R., (2018). Analisis Akuntabilitas Pengelolaan
Alokasi Dana Desa (ADD) di Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang. Jurnal
Akademi Akuntansi, 1(1), 64–73.
Ismail, M., Widagdo, A.K., & Widodo, A. (2016). Sistem Akuntansi Pengelolaan Dana
Desa. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 19(2), 329–339.
Jensen, C. M., & Meckling, W. H. (1976). Theory of the Firm: Managerial Behaviour,
Agency Costs, and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, 3, 305–
360.
Kemenkeu (2015). Peraturan Pemerintah RI No 22 Tahun 2015 tentang Perubahan atas
Pertaruran Pemerntah No 60 tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari
APBN. Diakses tanggal 2 November 2019 dari
[Link]
Kemenkeu (2017). Buku Saku Dana Desa. Diakses tanggal 19 Oktober 2019 dari
[Link]
Desa-ttd-menteri-final-cover_opt.pdf.
Jurnal Maksipreneur │ Vol. 10 No. 2 │ Juni 2021 179
Kemendagri (2007). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 tahun 2007 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa. Diakses tanggal 20 Oktober 2019 dari
[Link]
hUKEwiDr4Hc7LzqAhXET30KHaZ4CcEQFjAAegQIBhAB&url=http%3A%2F
%[Link]%2Fuploads%2Fgallery%2FPermendagri_No._
37_Th_._2007_Ttg_._Pedoman_Pengelolaan_Keuangan_Desa_.pdf&usg=AOvV
aw0J_pLLkQp-CpTSXVcdKxAw.
Krina, P. L. L. (2003). Indikator dan Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas, Transparansi dan
Partisipasi. Jakarta: Bappenas.
LAN & BPKP (2000). Akuntabilitas dan Good Governance. Bogor. Diakses tanggal 21
Desember 2019 dari
[Link]
%20Modul%201%20dari%205%20Modul%20Sosialisasi%20Sistem%20Akuntab
ilitas%20Kinerja%20Instansi%20Pemerintah%20%28AKIP%[Link].
Moleong, L. J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Pemerintah Desa Panggungharjo (2014). Permendagri No. 113 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Keuangan Desa. Diakses tanggal 26 Oktober 2019 dari
[Link]
content/uploads/2018/02/PERMENDAGRI-No.-113-Tahun-2014-tentang-
[Link].
Putra, H. S. (2017). Tata Kelola Pemerintahan Desa dalam Mewujudkan Good
Governace di Desa Kalibelo Kabupaten Kediri. Jurnal Politik Muda, 6(2), 110–
119.
Putra, I. P. A. S., Sinarwati, K., & Wahyuni, M. A. (2017). Akuntabilitas dan
Transparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Bubunan
Kecamatan Seririt Kabupaten Buleleng. e-Journal Universitas Pendidikan
Ganesha, 8(2), 1–11.
Rahadian, A. H. (2010). Mewujudkan Good Governance melalui Pelayanan Publik.
Jurnal Ilmiah STIAMI, 57–70.
Rahum, A. (2015). Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam Pembangunan Fisik
Desa Krayan Makmur Kecamatan Long Ikis Kabupaten Paser. E-journal Ilmu
Pemerintahan, 3(4), 97–113.
Tjokroamidjojo, B. (2000). Good Governance (Paradigma Baru Manajemen
Pembangunan). Jakarta: UI Press.
Tomuka, S. (2015). Penerapan Prinsip-Prinsip Good Governance dalam Pelayanan
Publik di Kecamatan Girian Kota Bitung (Studi tentang Pelayanan Akte Jual
Beli). E-journal Unsrat, 2(2), 1–15.
United Nations Development Program (UNDP) (1997). Governance for sustainable
human development. Diakses tanggal 24 November 2019 dari [Link]
[Link].
Widayanti, R., Masitoh, E., & Dwi, A. (2019). Penerapan Azas Pengelolaan Keuangan
Desa: Tinjauan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 di Wilayah Wonogiri Jawa
Tengah. Jurnal FEB UNMUL Kinerja, 16(1), 10–21.
Jurnal Maksipreneur │ ISSN (printed) 2089-550X │ ISSN (online) 2527-6638 180