Buku Ajar: Kekuatan Bahan
Buku Ajar: Kekuatan Bahan
BUKU AJAR
Pembelajaran Berbasis Masalah
KEKUATAN BAHAN
III oleh Adhe Anggry, S.S.T., M.T.
i
DAFTAR ISI
Hal.
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................................ iv
TORSI PADA POROS .................................................................................. 1
1.1 Pendahuluan .................................................................................................. 1
1.1.1 Perbedaan Torsi dengan Momen Bengkok ............................... 1
1.1.2 Diagram Torsi untuk Poros .............................................................. 2
1.1.3 Perilaku Poros yang Dibebani Torsi............................................. 4
1.2 Persamaan Torsi untuk Poros............................................................... 5
1.2.1 Tegangan Geser Torsi.......................................................................... 7
1.2.2 Poros Bertingkat .................................................................................... 9
1.2.3 Poros Komposit .................................................................................... 11
1.2.4 Poros Transmisi ...................................................................................15
1.3 Desain Poros ................................................................................................ 16
1.4 Konsentrasi Tegangan pada Poros ...................................................20
RANGKUMAN ...........................................................................................................22
SOAL-SOAL LATIHAN ........................................................................................... 23
PEMBEBANAN GABUNGAN .................................................................28
2.1 Pendahuluan ................................................................................................ 28
SOAL-SOAL LATIHAN ........................................................................................... 30
RANGKUMAN ................................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................32
ii
DAFTAR GAMBAR
iii
DAFTAR TABEL
iv
TORSI PADA POROS
Capaian Pembelajaran – Sub CPMK
• Dapat membedakan antara torsi dan momen bengkok, menggambar diagram torsi
untuk poros, dan menjelaskan perilaku poros yang dibebani torsi.
• Dapat menjelaskan persamaan torsi untuk penampang lingkaran padat dan berongga.
• Dapat mendesain poros sebagai elemen puntir dan menghitung tegangan yang terjadi.
• Dapat menghitung tegangan pada poros komposit dan mendesain poros tersebut.
• Dapat menghitung daya yang ditransmisikan oleh poros transmisi.
• Dapat menghitung tegangan maksimum di daerah terjadinya konsentrasi tegangan
pada poros bertingkat dengan radius fillet.
1.1 Pendahuluan
Poros adalah elemen mesin berputar yang biasanya digunakan untuk
mentransmisikan daya dari satu titik ke banyak titik. Poros juga bertindak sebagai balok
karena ditumpu pada titik-titik dipanjang panjangnya, menahan beratnya sendiri dan
bertindak sebagai elemen puntir. Daya dikirim ke poros oleh beberapa gaya tangensial
dan torsi (momen puntir) yang dihasilkan untuk ditransfer ke berbagai mesin
dihubungkan ke poros. Untuk mentransfer daya dari satu poros ke poros lainnya,
berbagai elemen mesin seperti katrol, roda gigi, dll., dipasang di atasnya. Elemen-elemen
ini bersama dengan gaya yang diberikan padanya menyebabkan poros membengkok.
Dengan kata lain, poros digunakan untuk transmisi torsi dan momen bengkok. Elemen-
elemen tersebut dipasang pada poros dengan menggunakan pasak atau spline.
1
bengkok di B. Untuk kesetimbangan AB, harus ada beban vertikal ke bawah dan kopel M
di B seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.1(c), untuk memenuhi sifat gaya dalam yang
sama dan berlawanan arah di B pada batang BA dan BC.
Kopel M, di B pada batang BA terletak pada bidang yang sejajar dengan bidang Y-Z
(atau pada bidang yang tegak lurus bidang yang memuat bidang sumbu longitudinal), dan
jelas tidak dapat diklasifikasikan sebagai momen bengkok pada batang AB. Kopel M, yang
bekerja pada batang AB di B disebut momen puntir atau torsi. Perbedaan antara torsi
dan momen bengkok dijelaskan pada Gambar 1.1(d). Momen bengkok bekerja pada
bidang yang memuat sumbu longitudinal (sumbu netral), sedangkan torsi terletak pada
bidang yang tegak lurus terhadap sumbu longitudinal (sumbu netral).
2
Gambar 1.2 Diagram Torsi untuk Poros
Gambar 1.3 menunjukkan konvensi tanda untuk torsi, seperti momen bengkok.
Melihat penampang poros, torsi positif jika berlawanan arah jarum jam (CCW) dan negatif
jika searah jarum jam (CW). Satuan untuk torsi sama dengan momen bengkok yaitu Nm,
Nmm, kNm, dll.
Contoh 1.1: Gambar diagram torsi untuk poros ditumpu benam di A dan menahan
torsi seperti yang ditunjukkan pada gambar.
3
Pemecahan masalah
Pada setiap bagian dari poros, torsi dapat dihitung sebagai jumlah torsi dari bagian
kanan.
Torsi pada bagian DE: - 40 kN-m
Torsi pada bagian CD: - 40 kN-m + 25 kN-m = - 15 kN-m
Torsi pada bagian BC: - 15 kN-m - 30 kN-m = - 45 kN-m
Torsi pada bagian AB: - 45 kN-m + 25 kN-m = - 20 kN-m
Diagram Torsi
Di bawah pengaruh torsi, bagian poros cenderung berputar. Bentuk deformasi dari
garis dan lingkaran divisualisasikan pada Gambar 1.5. Garis memanjang membentuk
heliks saat lingkaran berputar di bidangnya sendiri.
4
Gambar 1.5 Deformasi Poros Akibat Torsi
Pada Gambar 1.6, garis radial antara A dan B, pada bidang yang sama dengan 0-1
sebelum memutar, berputar dengan jumlah yang berbeda. Posisi titik 1 di B bergeser ke
1' setelah puntiran dan semua titik yang bersesuaian di sepanjang panjangnya terletak di
sepanjang heliks pada permukaan poros. Perhatikan bahwa puntiran maksimum garis
radial/jari-jari adalah di B.
Pada bagian B, sebuah garis jari-jari 0-1 diputar ke posisi 0-1' melalui sudut .
Diasumsikan bahwa garis ini tetap lurus dan bergerak pada bidang yang sama di mana ia
berada. Lebih lanjut dapat dicatat bahwa seluruh penampang, seperti di B, tetap pada
bidang saat poros berubah bentuk. Hal ini dapat dibuktikan dari sumbu simetris sifat
penampang.
5
Gambar 1.7 Asumsi Persamaan Torsi
Jika asumsi mematuhi hukum Hooke, maka modulus geser (modulus kekakuan)
adalah rasio tegangan geser/regangan geser; G = /. Persamaan torsi dasar sangat mirip
dengan persamaan tegangan bengkok, M/I = E/R = /y, dan dapat dinyatakan sebagai
𝑻 𝑮𝜽 𝝉
= = … … … … (𝟏. 𝟏)
𝑱 𝒍 𝒓
di mana T adalah torsi, J adalah momen inersia polar, G adalah modulus kekakuan,
adalah regangan geser atau sudut puntir, L adalah panjang, adalah tegangan geser torsi,
dan r = jari-jari serat pada penampang. GJ disebut kekakuan torsi. Tegangan geser
meningkat dengan meningkatnya r dan maksimum pada serat terluar penampang.
6
1.2.1 Tegangan Geser Torsi
Akibat dari torsi, setiap penampang poros mengalami tegangan geser. Tegangan
geser adalah nol pada sumbu sentroid dan maksimum pada permukaan poros seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 1.8.
Contoh 1.2: Torsi pada poros padat berdiameter ¼ inci adalah 5 lbft. Berapakah
tegangan geser? Laporkan jawabannya dalam ksi.
Pemecahan masalah
Diketahui:
7
d= 0,25 in.
T= 5 lbft
Ditanya:
maks. dalam ksi
Jawaban:
Untuk mencari tegangan geser maksimum menggunakan Persamaan (1.2):
16(5 𝑙𝑏𝑓𝑡) 12 𝑖𝑛 1 𝑘𝑖𝑝
𝜏= | | | = 19,6 𝑘𝑠𝑖
𝜋0,25 𝑖𝑛3 1 𝑓𝑡 103 𝑙𝑏
Kesimpulan:
Tegangan maksimum yang terjadi pada poros berlubang sebesar 𝝉 = 𝟏𝟗, 𝟔 𝐤𝐬𝐢.
Contoh 1.3: Poros berongga dengan diameter dalam 180 mm dan tebal 10 mm.
Tentukan tegangan geser maksimum pada poros jika torsinya 12.000 Nm.
Pemecahan masalah
Diketahui:
d= 180 mm
t= 10 mm
T= 12.000 Nm
Ditanya:
maks.
Jawaban:
D= d +2t= 180 mm + 2(10 mm) = 200 mm
Untuk menentukan tegangan geser maksimum menggunakan Persamaan (1.3):
16(12.000 𝑁𝑚)(200 𝑚𝑚) 103 𝑚𝑚
𝜏= | |
𝜋(200 𝑚𝑚4 − 180 𝑚𝑚4 ) 1𝑚
38,4𝑥109 𝑁𝑚𝑚 𝑁
𝜏= 6 4
= 22,21
𝜋( 550,24𝑥10 𝑚𝑚 ) 𝑚𝑚2
𝜏 = 22,21 MPa
Kesimpulan:
Tegangan maksimum yang terjadi pada poros berlubang sebesar 𝝉 = 𝟐𝟐, 𝟐𝟏 𝐌𝐏𝐚.
8
1.2.2 Poros Bertingkat
Pada poros bertingkat seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.9, perlu untuk
mempertimbangkan poros di bagian yang berbeda, baik karena perubahan diameter atau
perubahan torsi, dan menghitung tegangan pada bagian yang berbeda dan sudut puntir
antar bagian.
Sudut putaran antara A dan D harus dihitung sebagai jumlah aljabar dari sudut
puntir antara bagian yang berbeda. Sudut puntir dianggap positif jika bagian kanan
berputar berlawanan jarum jam (CCW) relatif terhadap bagian kiri. Untuk menghitung
sudut puntir antara A dan D,
𝑻𝑳
𝜽 = ∑( ) … … … … (𝟏. 𝟒)
𝑮𝑱
9
Hitung dan gambarkan diagram torsi setiap bagian dari poros, torsi dapat dihitung
sebagai jumlah torsi dari bagian kanan.
Torsi pada bagian CD: 1000 N-m
Torsi pada bagian BC: 1000 N-m - 1600 N-m = - 600 N-m
Torsi pada bagian AB: - 600 N-m + 2000 N-m = 1400 N-m
Diagram Torsi
Jawab (a)
Hitung tegangan maksimum mengunakan Persamaan (1.2), tegangan maksimum terjadi
pada bagian AB dengan T= 1400 Nm
16𝑇 16(1400 𝑁𝑚) 103 𝑚𝑚 𝑁
𝜏𝑚𝑎𝑘𝑠. = = ⌈ ⌉ = 33 = 33 𝑀𝑃𝑎
𝜋𝑑 3 𝜋(60𝑚𝑚)3 1𝑚 𝑚𝑚2
Kesimpulan:
Tegangan geser maksimum yang terjadi poros, maks. = 33 MPa.
Jawab (b)
Hitung sudut puntir di D relatif terhadap titik A mengunakan Persamaan (1.4),
𝑇𝐿
𝜃 = ∑( )
𝐺𝐽
10
1.2.3 Poros Komposit
Ketika dua poros dengan diameter berbeda dihubungkan bersama untuk
membentuk satu poros dikenal sebagai poros komposit. Poros komposit dapat
dihubungkan secara seri dan paralel. Poros yang dihubungkan secara seri seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 1.10 adalah poros dengan torsi (T) yang sama dan sudut puntir
total sama dengan jumlah sudut puntir kedua poros.
11
Ab = As
Lb = Ls = 500 mm
b= 60 MPa; s= 150 MPa
Ditanya:
(a) Tmaks.
(b)
Jawaban:
Jawab (a)
𝐴𝑏 = 𝐴 𝑠
𝜋 2 𝜋
(𝐷 − 𝑑 2 ) = 𝑑 2
4 4
𝜋 𝜋
(30 𝑚𝑚2 − 𝑑 2 ) = 20 𝑚𝑚2
4 4
𝑑 2 = 900 − 400 = 500
𝑑 = 22,36 𝑚𝑚
Hitung torsi pada poros kuningan dengan Persamaan (1.3):
𝑁 16𝑇 30𝑚𝑚
60 2
=
𝑚𝑚 𝜋(30 𝑚𝑚4 − 22,36 𝑚𝑚4 )
𝑇 = 219.922 Nmm
Hitung torsi pada poros baja dengan Persamaan (1.2):
𝑁 16𝑇
150 =
𝑚𝑚2 𝜋 (20 𝑚𝑚3 )
𝑇 = 235.619,4 Nmm
Kesimpulan:
Torsi maksimum untuk kedua poros adalah T=219.922 Nmm.
Jawab (b)
Sudut puntir dihitung dengan Persamaan (1.6), dimana modulus kekakuan sebesar 80
GPa untuk baja dan 60 GPa untuk kuningan.
𝑇. 𝐿𝑏 𝑇. 𝐿𝑠
𝜃= +
𝐺𝑏 . 𝐽𝑏 𝐺𝑠 . 𝐽𝑠
219.922 Nmm. 500 𝑚𝑚 219.922 Nmm. 500 𝑚𝑚
𝜃= +
𝑁 𝑁
60.000 . 54.980,5𝑚𝑚4 80.000 . 5000𝜋 𝑚𝑚4
𝑚𝑚2 𝑚𝑚2
𝜃 = 0,0875 + 0,0333 = 0.1208 𝑟𝑎𝑑
180°
𝜃 = 0,1208 𝑟𝑎𝑑 ⌈ ⌉ = 6,92°
𝜋 𝑟𝑎𝑑
12
Kesimpulan:
Sudut puntir yang terjadi adalah =6,92.
Dua poros dikatakan dalam konfigurasi paralel, ketika satu poros ditempatkan
mengelilingi poros kedua seperti pada Gambar 1.11(a). Hal yang sama berlaku untuk
kasus yang ditunjukkan pada Gambar 1.11(b), di mana dua bagian poros berbagi torsi
yang diterapkan dalam proporsi tertentu tergantung pada sifat-sifatnya. Konfigurasi
poros tetap di kedua ujungnya disebut poros statis tak tentu. Tegangan dan deformasi
pada poros ini tidak dapat ditentukan dari kondisi keseimbangan saja dan tidak dibahas
dalam bab ini.
(a) (b)
Gambar 1.11 Poros Paralel
Jika T adalah torsi yang diterapkan, maka T= T1+ T2, di mana T1 dan T2 adalah bagian
dari torsi total. Pada poros paralel, sudut puntir tetap sama untuk kedua poros, yaitu 1=
2 = .
𝐺1 . 𝐽1 . 𝜃 𝐺2 . 𝐽2 . 𝜃
𝑇1 = ; 𝑇2 =
𝐿1 𝐿2
𝑻𝟏 𝑳𝟏 𝑻𝟐 𝑳𝟐
= … … … … (𝟏. 𝟕)
𝑮𝟏 . 𝑱𝟏 𝑮𝟐 . 𝑱𝟐
13
Pemecahan masalah
Diketahui:
ds= 20 mm
Db= 30 mm; db= 20 mm
T= 410 Nm
= 2
L= 300 mm
Gs= 80 GPa
Ditanya:
(a) Gb
(b) s & b
Jawaban:
Jawab (a)
s= b = = 2 = 0,0349 radian
𝑇𝑠 𝐿𝑠
𝜃𝑠 =
𝐺𝑠 . 𝐽𝑠
𝑇𝑠 300 𝑚𝑚
0,0349 𝑟𝑎𝑑 =
𝑁 𝜋
80.000 . 20𝑚𝑚4
𝑚𝑚2 32
𝑇𝑠 = 146.000 𝑁𝑚𝑚
𝑇 = 𝑇𝑠 + 𝑇𝑏 = 410 𝑁𝑚
103 𝑚𝑚
146.000 𝑁𝑚𝑚 + 𝑇𝑏 = 410 𝑁𝑚 ⌈ ⌉
1𝑚
𝑇𝑏 = 410.000 𝑁𝑚𝑚 − 146.000 𝑁𝑚𝑚
𝑇𝑏 = 264.000 𝑁𝑚𝑚
Hitung modulus kekakuan kuningan dengan Persamaan (1.7):
𝑇𝑠 𝐿𝑠 𝑇𝑏 𝐿𝑏
=
𝐺𝑠 . 𝐽𝑠 𝐺𝑏 . 𝐽𝑏
146.000 𝑁𝑚𝑚 300 𝑚𝑚 264.000 𝑁𝑚𝑚300 𝑚𝑚
= 𝜋
𝑁 𝜋
80.000 2 . 32 (20𝑚𝑚)4 𝐺𝑏 . 32 (30𝑚𝑚4 − 20𝑚𝑚4 )
𝑚𝑚
𝑁 1 𝐺𝑃𝑎
𝐺𝑏 = 35,57. 103 = 35,57. 10 3
𝑀𝑃𝑎 | | = 35,57 𝐺𝑃𝑎
𝑚𝑚2 103 𝑀𝑃𝑎
Kesimpulan:
Modulus kekakuan untuk poros kuningan adalah G=33,57 GPa.
14
Jawab (b)
Tegangan torsi geser yang terjadi pada poros baja dihitung berdasarkan Persamaan (1.2):
16𝑇𝑠 16(146.000 𝑁𝑚𝑚 ) 𝑁
𝜏𝑚𝑎𝑘𝑠. = 3
= 3
= 92,95 = 92,95 𝑀𝑃𝑎
𝜋𝑑 𝜋20𝑚𝑚 𝑚𝑚2
Tegangan torsi geser yang terjadi pada poros kuningan dihitung berdasarkan Persamaan
(1.3):
16𝑇𝑏 𝐷 16(264.000 𝑁𝑚𝑚) 30𝑚𝑚 𝑁
𝜏𝑚𝑎𝑘𝑠. = 4 4
= 4 4
= 62,09 = 62,09 𝑀𝑃𝑎
𝜋 (𝐷 − 𝑑 ) 𝜋(30𝑚𝑚 − 20𝑚𝑚 ) 𝑚𝑚2
Kesimpulan:
Tegangan geser maksimum untuk poros padat, maks= 92,95 MPa dan untuk poros
berongga,maks= 62,09 MPa.
15
Catatan: Ukuran standar poros transmisi adalah (i) 25 mm hingga 60 mm dengan
kelipatan 5 mm; (ii) 60 mm sampai 110 mm dengan kelipatan 10 mm; (iii) 110 mm
hingga 140 mm dengan kelipatan 15 mm; dan (iv) 140 mm hingga 500 mm dengan
kelipatan 20 mm. Panjang standar poros adalah 5 m, 6 m dan 7 m.
Contoh 1.6: Sebuah poros mentransmisikan daya sebesar 300 kW pada putaran
120 rpm. Tentukan diameter poros, jika tegangan geser maksimum tidak melebihi 50
N/mm2. Torsi maksimum 30% di atas torsi rata-rata.
Pemecahan masalah
Diketahui:
P= 300 kW
N= 120 rpm
= 50 N/mm2
𝑇𝑚𝑎𝑘𝑠 . = 1,3𝑇
Ditanya:
Diameter poros, d
Jawaban:
Hitung torsi rata-rata mengunakan Persamaan (1.8):
60(300 𝑘𝑊) 103 𝑊
𝑇 = 60𝑃⁄2𝜋𝑁 = ⌈ ⌉ = 23.870 Nm
2𝜋(120𝑟𝑝𝑚) 1 𝑘𝑊
Torsi maksimum 30% di atas torsi rata-rata, 𝑇 = 1,3(23.870 Nm) = 31.035 Nm
Hitung diameter poros mengunakan Persamaan (1.2), dimana:
𝑁 16(31.035 . 103 Nmm)
50 =
𝑚𝑚2 𝜋𝑑 3
3
𝑑 = √3.161.199,14 = 146,76 𝑚𝑚
Nilai d minimum, dmin= 146,76 mm.
Kesimpulan:
Berdasarkan ukuran standar poros transmisi, diameter poros, d= 160 mm.
16
adalah persamaan yang mendefinisikan kekuatan poros dan 𝑇⁄𝐽 = 𝐺𝜃⁄𝐿 adalah
persamaan yang menentukan kekakuan poros.
Dalam desain kekuatan, mengetahui torsi T yang akan ditransmisikan, tegangan
maksimum yang diizinkan maks. untuk bahan poros, dan diameter poros. Tegangan geser
maksimum terjadi pada permukaan poros. Untuk penampang lingkaran, 𝑇 = 𝐽𝜏𝑚𝑎𝑘𝑠. ⁄𝑟,
di mana J dan r tidak diketahui. Untuk poros berjari-jari r, 𝐽 = 𝜋𝑟 4 /2; 𝑇 = 𝜋𝑟 4 𝜏𝑚𝑎𝑘𝑠. ⁄2𝑟.
Untuk penampang lingkaran berongga, 𝑇 = 𝑍𝑝 𝜏𝑚𝑎𝑘𝑠. ⁄𝑟, modulus penampang polar 𝑍𝑝 =
𝜋(𝑅4 − 𝑟 4 )/2𝑅 atau 𝜋(𝐷 4 − 𝑑 4 )/16𝐷. Mengetahui T dan maks., maka diameternya dapat
ditentukan.
Kriteria kekakuan ditentukan oleh sudut puntir , sudut puntir ditentukan tidak
melebihi nilai tertentu dalam panjang tertentu L. Maka 𝐽 = 𝑇𝐿/𝐺𝜃𝑚𝑎𝑘𝑠. . Momen inersia
polar dapat dipastikan untuk kriteria kekakuan. Jari-jari atau diameter poros dapat
ditentukan dari nilai J.
Ketika poros didesain dari kriteria kekuatan dan kekakuan, jari-jari (atau diameter)
yang diperoleh tidak sama, maka harus dipilih nilai maksimum yang diperoleh dari kedua
kriteria tersebut kriteria.
Contoh 1.7: Tentukan daya maksimum yang ditransmisikan oleh poros pada 200
rpm tanpa melebihi tegangan yang diizinkan sebesar 100 MPa jika poros tersebut (i)
poros padat dengan diameter 60 mm dan (ii) poros berongga dengan diameter dalam dan
berat yang sama dengan poros padat.
Pemecahan masalah
Diketahui:
N= 200 rpm
= 100 MPa (N/mm2)
d= 60 mm
Wsolid= Whollow
Ditanya:
a) Pmaks. poros padat
b) Pmaks. poros berongga
Jawaban:
Jawab (a)
Hitung torsi poros padat mengunakan Persamaan (1.2):
17
𝑁 16𝑇
100 2
=
𝑚𝑚 𝜋 (60 𝑚𝑚3 )
3
10−3 𝑚
𝑇 = 4.240𝑥10 𝑁𝑚𝑚 | | = 4.240 𝑁𝑚
1 𝑚𝑚
Hitung daya yang ditransmisikan poros padat mengunakan Persamaan (1.8):
4.240 𝑁𝑚 = 60𝑃⁄2𝜋(200 𝑟𝑝𝑚)
2𝜋(200 𝑟𝑝𝑚)4.240 𝑁𝑚 10−3 𝑘𝑊
𝑃= = 88.802 𝑊 | | = 88,8 𝑘𝑊
60 1𝑊
Kesimpulan:
Daya maksimum yang ditransmisikan poros padat, Pmaks= 88,8 kW.
Jawab(b)
Karena berat kedua poros sama, maka luas kedua poros juga harus sama.
𝐴𝑠 = 𝐴 ℎ
𝜋𝑑 2 𝜋 2
= (𝐷 − 𝑑 2 )
4 4
𝜋602 𝜋 2
= (𝐷 − 602 )
4 4
𝐷 = 71,35 𝑚𝑚
Berdasarkan ukuran standar poros transmisi, diameter poros D= 80 mm.
Hitung torsi poros berongga mengunakan Persamaan (1.3):
𝑁 16𝑇𝐷 16𝑇 (80mm)
100 = =
𝑚𝑚2 𝜋(𝐷 4 − 𝑑 4 ) 𝜋(80𝑚𝑚4 − 60𝑚𝑚4 )
10−3 𝑚
𝑇 = 6.872.234 𝑁𝑚𝑚 | | = 6.872,2 𝑁𝑚
1 𝑚𝑚
Hitung daya yang ditransmisikan poros berongga mengunakan Persamaan (1.8):
2.187,5𝑁𝑚 = 60𝑃 ⁄2𝜋(200 𝑟𝑝𝑚)
2𝜋(200 𝑟𝑝𝑚)6.872,2 𝑁𝑚
𝑃= = 143.931𝑊 = 143,9 𝑘𝑊
60
Kesimpulan:
Daya maksimum yang ditransmisikan poros berongga, Pmaks= 143,9 kW.
18
Diketahui:
t= 5 mm
P= 400 kW
N= 250 rpm
= 60 N/mm2
Ditanya:
D= …?
Jawaban:
Hitung torsi rata-rata mengunakan Persamaan (1.8):
60(400 𝑘𝑊) 103 𝑊
𝑇 = 60𝑃⁄2𝜋𝑁 = ⌈ ⌉ = 15.280 Nm
2𝜋(250𝑟𝑝𝑚) 1 𝑘𝑊
Torsi maksimum 20% di atas torsi rata-rata,
𝑇𝑚𝑎𝑘𝑠. = 1,2𝑇 = 1,2(15.280 Nm) = 18.335 Nm
Hitung luar poros mengunakan Persamaan (1.3), dimana:
d= D-2t= D-2(5mm) = D-10 mm
𝑁 16(18.335. 103 Nmm) 𝐷
60 =
𝑚𝑚2 𝜋[𝐷 4 − (𝐷 − 10)4 ]
𝑁 16(18.335. 103 Nmm) 𝐷
𝜋60 =
𝑚𝑚2 [𝐷 4 − (𝐷 − 10)4 ]
16(18.335. 103 Nmm) 𝐷
[𝐷 4 − (𝐷 − 10)4 ] =
𝑁
𝜋60
𝑚𝑚2
[𝐷 4 − (𝐷 − 10)4 ] = 1.556.323,13𝐷
[𝐷 4 − (𝐷 4 − 40𝐷 3 + 600𝐷 2 + 104 )] = 1.556.323,13𝐷
[𝐷 4 − 𝐷 4 + 40𝐷 3 − 600𝐷 2 − 104 ] = 1.556.323,13𝐷
40𝐷 3 − 600𝐷 2 − 104 = 1.556.323,13𝐷
𝐷 3 − 15𝐷 2 − 250 = 38.908𝐷
𝐷 3 − 15𝐷 2 − 38.908𝐷 = 250
Nilai D minimum ditentukan dengan cara ujicoba, Dmin= 197 mm.
Kesimpulan:
Berdasarkan ukuran standar poros transmisi, diameter luar poros, D= 200 mm.
19
1.4 Konsentrasi Tegangan pada Poros
Lubang atau diskontinuitas geometris lainnya pada komponen struktur yang
dibebani aksial menyebabkan peningkatan yang signifikan terhadap besarnya tegangan
di sekitar diskontinuitas. Fenomena ini disebut konsentrasi tegangan. Konsentrasi
tegangan juga terjadi untuk poros melingkar dibebani torsi. Tegangan geser menjadi jauh
lebih besar di dekat perubahan mendadak pada diameter poros, dan Persamaan (1.2)
tidak memprediksi tegangan maksimum di dekat diskontinuitas seperti alur atau fillet.
Tegangan geser maksimum pada diskontinuitas dinyatakan dalam faktor konsentrasi
tegangan. Tegangan maksimum di bagian diameter yang lebih kecil, yaitu di daerah fillet
(radius pada poros yang dibebani torsi), adalah
𝑻𝒓
𝝉𝒎𝒂𝒌𝒔. = 𝑲 … … … … (𝟏. 𝟗)
𝑱
di mana K adalah faktor konsentrasi tegangan. Nilai K untuk poros bertingkat ditentukan
dari grafik pada Gambar 1.12.
20
Jika rasio D/d tidak cocok dengan nilai pada grafik, lakukan interpolasi. Misalnya,
jika r/d = 0,06 dan D/d = 1,15, maka perhitungan nilai K dengan interpolasi adalah
sebagai berikut:
𝐷/𝑑ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 − 𝐷/𝑑1
𝐾 ≈ 𝐾1 + [( ) (𝐾2 − 𝐾1 )]
𝐷/𝑑2 − 𝐷/𝑑1
1,15 − 1,09
𝐾 ≈ 1,2 + [( ) (1,5 − 1,2)]
1,20 − 1,09
0,06
𝐾 ≈ 1,2 + [( ) (0,3)]
0,11
𝐾 ≈ 1,2 + [0,16]
𝐾 ≈ 1,36
Contoh 1.9: Poros berdiameter 2¼ inci dilas ke poros berdiameter 3 inci. Radius
las 0,125 inci. Jika torsi 600 lbft, berapa tegangan geser maksimum? Laporkan
jawabannya dalam ksi.
Pemecahan masalah
Diketahui:
d= 2,25 in; D= 3 in
r= 0,125 inci
T= 600 lbft
Ditanya:
dalam ksi
Jawaban:
r/d = 0,125/2,25 = 0,06
D/d = 3/2,25 = 1,33
Lihat grafik pada Gambar 1.14, diperoleh nilai K 1,6
Tegangan maksimum dihitung mengunakan Persamaan (1.9):
𝑇𝑟 16𝐾𝑇
𝜏𝑚𝑎𝑘𝑠. = 𝐾 =
𝐽 𝜋𝑑 3
16(1,6)(600 𝑙𝑏𝑓𝑡) 12 𝑖𝑛 𝑘𝑖𝑝
𝜏𝑚𝑎𝑘𝑠. = ⌈ ⌉ ⌋ = 5,31 𝑘𝑠𝑖
𝜋(2,25𝑚𝑚 )3 1 𝑓𝑡 103 𝑙𝑏
Kesimpulan:
Tegangan geser maksimum di daerah fillet, maks. = 5,31 ksi.
21
RANGKUMAN
▪ Torsi terletak pada bidang yang tegak lurus bidang yang memuat bidang sumbu
longitudinal (sumbu netral).
▪ Tegangan geser pada permukaan poros melingkar padat atau berongga adalah torsi
dikalikan jarak dari sentroid ke luar permukaan, dibagi dengan momen inersia polar:
= Tr/J.
▪ Momen inersia polar untuk poros melingkar padat adalah J= d4/32 dan poros
melingkar berongga adalah J= (D4-d4)/32.
▪ Sudut puntir poros melingkar padat atau berongga dapat dihitung dengan = L/Gr
atau dengan = TL/JG, tergantung pada data yang tersedia.
▪ Torsi pada poros transmisi adalah T= 60P/2N.
▪ Pada poros bertingkat, tegangan maksimum adalah = KTr/J, di mana K adalah faktor
konsentrasi tegangan.
22
SOAL-SOAL LATIHAN
Kerjakan soal-soal berikut ini:
I. Diagram Torsi
1. Gambarkan diagram torsi untuk batang bengkok
yang dibebani seperti pada gambar.
2. Gambarkan diagram torsi untuk poros yang dibebani seperti pada gambar.
a)
b)
23
5. Poros padat menerima torsi 20.000 Nm, jika tegangan geser maksimum yang diizikan
50 N/mm2, tentukan diameter minimum untuk poros.
6. Poros padat dengan diameter 80 mm. Tentukan tegangan geser maksimum dan sudut
puntir di panjang 2 m ketika poros mengalami torsi 10 kNm. G = 85 GPa.
7. Poros berongga dengan diameter luar 120 mm dan diameter dalam 3/4 diameter
luar. Jika tegangan pada permukaan dalam poros adalah 36 MPa, karena torsi T
diterapkan, tentukan torsi tersebut, tegangan geser maksimum, dan sudut puntir per
satuan panjang. G = 85 MPa.
8. Bandingkan berat per meter panjang poros padat dengan poros berongga (diameter
dalam adalah 70% dari diameter luar) jika poros dibuat dari bahan yang sama,
panjang yang sama, dan memiliki tahanan torsi yang sama.
9. Poros baja berongga dengan diameter luar 1,50 inci, ketebalan dinding 0,125 inci dan
panjang 90 inci dikenakan torsi 140 lbft. Jika modulus geser baja, G= 12.000 ksi.
Tentukan (a) tegangan geser maksimum pada poros. (b) besarnya sudut puntir pada
poros.
10. Sebuah poros kuningan diameter 20 mm, panjang 800 mm. Tentukan tegangan geser
maksimum dan sudut puntir ketika dikenaikan torsi 80 Nm. G = 40 GPa.
11. Sebuah poros diameter 60 mm, panjang 1,2 m, memiliki sudut puntir maksimum
sebesar 2,5 ketika mengalami torsi. Tentukan tegangan geser maksimum pada
bahan. G= 85 GPa.
12. Sebuah poros berongga yang dibuat dari baja, diameter luar 50 mm dan diameter
dalam 36 mm, tegangan geser yang diizinkan 90 MPa dan G = 85 GPa. Cari torsi
maksimum yang dapat ditahan poros dan sudut puntir per meter panjangnya.
13. Perhatikan sebuah poros padat dengan diameter D dan sebuah poros melingkar
berongga dengan diameter luar dan diameter dalam 3/4 D. Tunjukkan bahwa
kapasitas torsi poros berongga adalah 68% dari poros padat jika keduanya memiliki
bahan yang sama, dan sudut puntir dari poros berongga adalah 1,46 kali dari poros
padat jika kedua poros dikenai torsi yang sama per satuan panjang.
14. Sebuah poros baja diameter 30 mm, terjadi sudut puntir 2 pada panjang 2 m ketika
poros dikenai torsi 12 kNm. Tentukan nilai G dari bahan.
15. Sebuah poros berongga, diameter luar 80 mm dan diameter dalam 60 mm, dikenai
torsi 10 kNm, dan sudut puntir adalah 5 pada panjang 2 m. Cari nilai G bahan dan
tegangan geser maksimum pada poros.
24
III. Poros Komposit
1. Pertimbangkan dua poros dari bahan yang sama, satu lingkaran padat dan lainnya
lingkaran berongga. Diameter poros melingkar padat sama dengan diameter dalam
poros berongga. Tunjukkan bahwa untuk kapasitas torsi yang sama, diameter luar
poros berongga adalah 1,221 kali diameter poros padat.
2. Untuk poros seperti pada
gambar di bawah, cari tegangan
pada kedua bahan dan sudut
puntir antara A dan B. G = 85
GPa untuk baja dan 28 GPa untuk aluminium.
3. Sebuah poros komposit
terbuat dari dua bahan, di
sebelah kiri adalah poros baja
1 m, 90 mm, dan di sebelah
kanan adalah poros
aluminium 0,8 m, 60 mm.
Poros dipasang tetap di ujung
kiri dan torsi 1 kNm
diterapkan di ujung kanan,
seperti yang ditunjukkan
pada gambar. Tentukan torsi tambahan yang dapat diterapkan pada B tanpa melebihi
tegangan yang diizinkan pada baja 90 MPa. Tentukan juga sifat dan besar torsi T yang
diterapkan di B sehingga sudut puntir di C terhadap A adalah nol. Modulus kekakuan
adalah 85 GPa untuk baja dan 30 GPa untuk aluminium.
4. Poros komposit terbuat dari
batang aluminium, panjang
1 m dan 40 mm, dan
batang baja, panjang 1,5 m
dan 20 mm, seperti pada
gambar di bawah. Jika tegangan geser maksimum yang diizinkan pada aluminium
dan baja adalah 40 MPa dan 90 MPa, dan G masing-masing adalah 28 GPa dan 85 GPa,
tentukan torsi maksimum yang dapat diterapkan seperti pada gambar. Tentukan
juga sudut puntir antara A dan B.
25
IV. Poros Transmisi
1. Sebuah poros baja dengan diameter 0,75 in. mentransmisikan daya 7 hp pada 3200
rpm. Tentukan tegangan geser maksimum yang dihasilkan poros.
2. Jika sebuah poros mentransmisikan daya 20 kW pada putaran 200 rpm. Tentukan
torsi yang dihasilkan?
3. Sebuah poros berputar pada 300 rpm dengan torsi rata-rata 120 Nm. Berapa daya
yang ditransmisikan?
4. Sebuah poros berongga harus mentransmisikan daya 300 kW pada 100 rpm.
Disarankan untuk menggunakan diameter dalam 0,7 kali diameter luar. Tentukan
diameter dan ketebalan poros jika tegangan geser tidak melebihi 60 MPa dan
maksimum torsi 40% lebih besar dari torsi rata-rata.
5. Sebuah poros harus dirancang untuk mentransmisikan daya 100 kW pada 300 rpm.
Tentukan diameter yang diperlukan untuk poros baja dimana tegangan geser yang
diizinkan adalah 90 MPa. Berapa sudut puntir per satuan panjang poros ini? G = 82
GPa.
6. Tentukan daya yang ditransmisikan oleh poros berongga dengan diameter luar 60
mm dan diameter dalam 40 mm, berputar pada 1200 rpm, jika tegangan geser
maksimum tidak melebihi 100 MPa. Berapa sudut puntir poros ini jika panjangnya 2
m? G = 85 GPa.
7. Sebuah poros melingkar berongga harus mentransmisikan daya 20 kW pada 300
rpm. Tentukan diameter luar dan diameter dalam jika perbandingannya 0,75.
Tegangan geser maksimum dibatasi hingga 40 MPa dan G = 40 GPa. Berapa sudut
puntir per meter panjangnya?
8. Sebuah poros harus mentransmisikan daya sebesar 6 kW pada 200 rpm. Desain (i)
poros lingkaran padat, dan (ii) poros lingkaran berongga dengan rasio 1,2 diameter
luar terhadap diameter dalam. Tegangan geser maksimum dibatasi hingga 90 MPa
dan sudut puntir tidak lebih dari 3 per meter panjang. Tentukan rasio berat kedua
poros per meter panjang. G = 85 GPa.
9. Sebuah poros harus mentransmisikan daya 10 kW pada 400 rpm. Torsi desain 25%
lebih besar dari torsi rata-rata. Tentukan diameter poros padat yang sesuai jika
tegangan geser maksimum dibatasi hingga 35 MPa. G = 28 GPa.
26
V. Desain Poros
1. Sebuah poros harus mentransmisikan torsi sebesar 30 kNm. Tegangan geser
maksimum tidak melebihi 100 MPa dan sudut puntir tidak melebihi 1/meter
panjangnya. G = 80 GPa. Desain poros sesuai dengan spesifikasi yang diberikan jika
itu adalah (i) poros padat dan (ii) poros berongga dengan diameter dalam 90% dari
diameter luar.
2. Sebuah poros padat dibebani torsi 12 kNm. Tentukan diameter yang sesuai untuk
poros jika tegangan maksimum dibatasi hingga 90 MPa dan sudut puntir tidak boleh
lebih dari 3 per meter panjangnya. G = 85 GPa.
3. Sebuah poros didesain untuk menahan torsi sebesar 4 kNm. Tegangan geser
maksimum yang diizinkan adalah 80 MPa dan sudut puntir dibatasi hingga 2 pada
panjang 1 m. Desain poros lingkaran berongga dengan diameter dalam 80% dari
diameter luar. G = 85 GPa.
4. Tentukan diameter untuk poros padat yang dibebani torsi desain 4 kNm jika
tegangan geser maksimum tidak melebihi 90 MPa dan sudut puntir tidak boleh lebih
dari 1 pada panjang 20 kali diameter. G = 85 GPa.
27
PEMBEBANAN GABUNGAN
Capaian Pembelajaran – Sub CPMK
• Dapat menentukan tegangan pada bidang miring pada komponen struktur yang
dikenai gaya uniaksial dan tegangan biaksial,
• turunkan Persamaan transformasi untuk tegangan dalam sistem tegangan bidang,
tentukan besar dan sifat tegangan pada bidang miring,
• turunkan Persamaan untuk tegangan utama dan tegangan geser maksimum dalam
bidang, dan hitung besar dan arahnya, gambarkan lingkaran Mohr untuk sistem
tegangan bidang dan tafsirkan lingkaran ini, tentukan regangan utama, secara analitis
dan grafis, untuk himpunan tegangan tertentu regangan biasa, hitung regangan dan
tegangan utama dari pengukuran yang diperoleh dari roset regangan,
• tentukan torsi ekivalen dan BM ekivalen dan cari tegangan dalam poros yang
mengalami torsi, BM, dan gaya dorong aksial, dan definisikan istilah tensor tegangan
dan diskusikan secara singkat metode analisis dalam kasus kondisi tegangan tiga
dimensi.
•
2.1 Pendahuluan
In previous chapters, formulas were developed for normal and shear stresses that
act on specific planes in axially loaded bars, circular shafts, and beams. Pada bab
sebelumnya, rumus telah dikembangkan untuk tegangan normal dan tegangan geser
yang bekerja pada bidang tertentu pada batang, batang melingkar, dan balok yang
dibebani secara aksial.
In this chapter, methods that are more powerful will be developed to determine (a)
normal and shear stresses acting on any specific plane passing through a point of interest,
and (b) maximum normal and shear stresses acting at any possible orientation at a point
of interest. Dalam bab ini, metode yang lebih kuat akan dikembangkan untuk
menentukan (a) tegangan normal dan tegangan geser yang bekerja pada setiap bidang
tertentu yang melalui suatu titik tertentu, dan (b) tegangan normal dan tegangan geser
maksimum yang bekerja pada sembarang orientasi yang memungkinkan pada suatu titik
yang diinginkan
28
Gambar 2.1 Ukuran dan Luas Penampang Balok
29
SOAL-SOAL LATIHAN
I. Kerjakan soal-soal pada tabel di bawah.
30
RANGKUMAN
Berbeda dengan BM yang merupakan momen terhadap sumbu sentroid yang tegak
lurus terhadap garis bujur sumbu, torsi adalah momen tentang sumbu longitudinal
elemen. Diagram torsi untuk sebuah elemen dapat digambarkan seperti diagram BM,
dengan menghitung torsi sekitar yang berbeda bagian.
Torsi ditahan oleh torsi penahan yang dihasilkan oleh tegangan geser yang
diinduksi pada penampang. Sebuah teori torsi sederhana dapat dikembangkan untuk
penampang sumbu simetris seperti lingkaran dan bagian lingkaran berongga,
berdasarkan asumsi tertentu. Persamaan torsi dasar sangat mirip dengan Persamaan
lentur, MII = EIR = ofy, dan dapat dinyatakan sebagai TIJ = GO11 = zfr, di mana zi adalah
torsi, Ji adalah MI kutub, G adalah modulus kekakuan, O adalah regangan geser, 1 adalah
panjang, zis tegangan geser, dan r = jarak radial serat pada penampang. GJ adalah disebut
kekakuan torsi. Tegangan geser meningkat dengan jarak radial dan maksimum pada
serat permukaan.
Modulus penampang kutub, dilambangkan dengan Zp, adalah momen inersia kutub
dibagi dengan jarak ke serat terluar penampang. Dalam hal penampang sumbu simetris,
Zp = Jlr dan karenanya T = Zp z,,,.
Daya P = 2xN Tl60, di mana N adalah jumlah putaran poros per menit, T adalah torsi
dalam newton meter, dan P dalam watt. Poros untuk mentransmisikan daya dirancang
berdasarkan pada Persamaan ini, termasuk faktor keamanan untuk daya yang harus
dimiliki poros dirancang.
31
DAFTAR PUSTAKA
vi
III KEKUATAN BAHAN
Torsi pada Poros dan Pembebanan Gabungan
33