0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan25 halaman

Pendidikan Anti Korupsi dan Kerjasama Internasional

Gerakan pencegahan dan pemberantasan korupsi dilakukan baik secara regional maupun internasional. PBB mendorong kerja sama internasional melalui United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) pada 2003. UNCAC menjadi payung hukum internasional untuk memerangi korupsi secara global. Indonesia turut meratifikasi UNCAC dalam rangka kerja sama internasional melawan korupsi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan25 halaman

Pendidikan Anti Korupsi dan Kerjasama Internasional

Gerakan pencegahan dan pemberantasan korupsi dilakukan baik secara regional maupun internasional. PBB mendorong kerja sama internasional melalui United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) pada 2003. UNCAC menjadi payung hukum internasional untuk memerangi korupsi secara global. Indonesia turut meratifikasi UNCAC dalam rangka kerja sama internasional melawan korupsi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

GERAKAN KERJA SAMA DAN INSTRUMEN INTERNASIONAL


PENCEGAHAN KORUPSI

DOSEN PENGAJAR

ERNA, S.H.,[Link].

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 3

• CHALVIN SAPRILIO TANDIDATU

• MUHAMMAD AGUNG SAFARAH

• RISMAYANTI

• TASMI ANUGRAH

UNIVERSITAS PUANGRIMAGGALATUNG

FAKULTAS ILMU SOSIAL

PRODI ADMINISTRASI PUBLIK


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji saya ucapkan atas berkah dan rahmat yang

diberikan Allah kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini

dengan tanpa ada halangan yang berarti.

Makalah ini di susun dengan maksud untuk memenuhi tugas mata kuliah

Pendidikan Anti Korupsi. Terciptanya makalah ini, tidak hanya hasil kerja

keraskami, melainkan banyak pihak – pihak yang memberikan dorongan –

Dorongan motivasi. Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih atas

terselesainya makalahini.

Sebagai penyusun, kmai menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari

katasempurna. Untuk itu mohon kritik dan saran yang membangun guna

memperbaiki makalah ini di waktu mendatang

SENGKANG 6 MARET 2023

PENULIS
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG...........................................................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH.......................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................................4
2.1 GERAKAN PENCEGAH DAN PEMBERANTAS KORUPSI YANG DILAKUKAN
OLEH PEMERINTAH BAIK REGIONAL MAUPUN INTERNASIONAL..............................4
2.2 GERAKAN ORGANISASI INTERNASIONAL.................................................................5
1 Bangsa-Bangsa ( United Perserikatan Nations ).................................................................5
[Link] Dunia..............................................................................................................................8
[Link] ( Organization for Economic Co – Operation and Development).....................10
[Link] Uni Eropa..........................................................................................................11
2.3 GERAKAN SWADAYA LEMBAGA INTERNASIONAL................................................12
1. Transparency International.................................................................................................12
2. TIRI .......................................................................................................................................13
2.3 INSTRUMEN INTERNASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.......................................13
1. UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST CORRUPTION (UNCAC......................13
2. CONVENTION ON BRIBERY OF FOREIGN PUBLIC OFFICIAL IN
INTERNATIONAL BUSINESS TRANSACTION.................................................................16
2.5 KERJASAMA INTERNASIONAL OLEH KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI
( KPK ).......................................................................................................................................17
1. International assistance.......................................................................................................17
2. International coorperation...................................................................................................18
BAB III PENUTUP...................................................................................................................20
3.1 KESIMPULAN....................................................................................................................20
3.2 SARAN...............................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................21
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Pada dasarnya seseorang yang berada di dalam wilayah suatu

negara secaraotomatis harus tunduk pada ketentuan - ketentuan yang

berlaku di dalam wilayah negara tersebut. hal ini berlaku pada setiap

negara tidak terkecuali indonesia. Setiap tindakan yang dianggap

melanggar hukum akan diberikan sanksi sesuaidengan ketetapaan dan

ketentuan perundang - undangan yang berlaku. Mulai dari hukum pidana

maupun hukum [Link] korupsi adalah salah satu yang sudah

sangat lama terjadi dalam masyarakat.

Pada umumnya tindakan korupsi terjadi pada orang - orang

yangberpengaruh atau pejabat. Maka tidaklah mengherankan jika korupsi

banyakterjadi di lingkungan birokrasi pemerintah yang mempunyai peran

penitng untukmemutuskan sesuatu seperti dalam pemberian izin ataupun

pemberian proyek pemerintah. Kriminalisasi terhadap tindak pidana

Korupsi mempunyai alasan yangsangat kuat sebab kejahatan tersebut

tidak lagi dipandang sebagai kejahatankonvensional, melainkan sebagai

kejahatan luar biasa ( extraordinary crime )karena dapat berpotensi

merugikan berbagai dimensi kepentingan.

Secara internasional tindak pidana korupsi dalam jumlah yang

signifikan dapatmenimbulkan ancaman terhadap stabilitas dan keamanan


masyarakat, dapat merusak lembaga dan nilai - nilai demokrasi, nilai-

nilai etika dan keadilan,bersikap diskriminatif dan merongrong etika dan

kempetisi bisnis yang jujur,mencederai berkelanjutan dan tegeknya

hukum.

Selanjutnya secara empiris terbukti bahwa kemungkinan

keterkaitan antarasuap (Korupsi) dan bentuk kejahatan lain, khususnya

kejahatan terorganisasi ( Terorisme, perdagangan orang, penyelundupan

migran gelap dan lain-lain) dan kejahatan ekonomi termasuk tindak

pidana pencucian uang, yang menempatkan tindak pidana korupsi

termasuk suap sebagai salah satu kejahatan yang menghasilkan atau

merupakan sumber dana yang bisa dicuci ( predicate crime ).

Dengan kemajuan yang relatif cukup signifikan di bidang

substansi danstruktur hukum, hanya sedikit masyarakat yang menyadari

pentingnya pemberantasan Korupsi. Hal ini karena berkaitan dengan

budaya hukum dan kualitasmoral manusiannya, berupa pandangan,

sikap, persepsi, perilaku dan bahkan falsafah dari para anggota

masyarakat yang kontra produktif

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa saja gerakan pencegahan dan pemberantasan korupsi yang

dilakukan pemerintah baik di tingkat regional maupun internasional?

2. Organisasi internasional apa saja yang ikut mencegah dan memberantas

korupsi ?
3. Instrumen pencegahan korupsi seperti apa yang dibuat untuk

Pencegahan korupsi ?

4. Bagaimanakah kerjasama internasional oleh Komisi Pemberantasan

Korupsi ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 GERAKAN PENCEGAH DAN PEMBERANTAS KORUPSI YANG
DILAKUKAN OLEH PEMERINTAH BAIK REGIONAL MAUPUN
INTERNASIONAL
Korupsi adalah wabah berbahaya yang memiliki berbagai macam

efek korosif di masyarakat. Korupsi bagaimanapun bentuknya sudah

menjadi musuh bersama (common enemy). Tindak pidana korupsi

dikategorikan ke dalam extraordinary crime (kejahatan luar biasa), melintasi

batas negara (transnational) dan tanpa batas (borderless). Oleh karena itu,

pemberantasan korupsi secara global kini sudah merupakan komitmen

pemerintah di seluruh negara. Pada bulan Desember 2003, Perserikatan

Bangsa-Bangsa (PBB) menginisiasi pembentukan suatu perjanjian

internasional, yaitu United Nations Convention Against Corruption

(UNCAC) sebagai upaya masyarakat internasional untuk bekerjasama

memerangi dan memberantas korupsi.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normatif dengan

pendekatan yuridis normatif yang diambil dari data sekunder yaitu data

yang diperoleh dari studi kepustakaan atau studi literatur dengan mengolah

dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

Berdasarkan hasil penelitian dipahami bahwa pengaturan hukum mengenai

kerjasama internasional dalam pemberantasan korupsi sudah sangat lengkap

baik itu secara nasional maupun internasional.


Bahkan sebelum mencapai puncaknya yaitu dengan dibentuknya

Konvensi Anti Korupsi United Nations Convention Against Corruption

(UNCAC), sudah banyak konvensi yang mengatur tentang korupsi namun

belum mengikat secara global. Menurut United Nations Convention Against

Corruption (UNCAC) banyak bentuk kerjasama yang bisa dilakukan untuk

memberantas korupsi antara lain ekstradisi, bantuan hukum timbal balik

(Mutual Legal Assistance), Transfer Nara Pidana, Transfer Proses Hukum,

dan Penyidikan bersama oleh negara-negara pihak. Di Indonesia, United

Nations Convention Against Corruption (UNCAC) sudah diratifikasi dalam

Undang-undang Republik Indonesia No.7 tahun 2006 tentang Pengesahan

Konvensi United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) 2003.

Dan juga secara khusus Indonesia sudah memiliki hukum nasional yang

mengatur tentang korupsi yaitu Undang-Undang Republik Indonesia No. 31

Tahun 1999 Jo Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi.

2.2 GERAKAN ORGANISASI INTERNASIONAL


Beberapa gerakan serta instrumen internasional dan multilateral

untuk pencegahan dan pemberantasan korupsi diantaranya:

1. Bangsa-Bangsa ( United Perserikatan Nations )


Setiap 5 (lima) tahun, secara regular Perserikatan Bangsa-Bangsa

(United Nations) menyelenggarakan Kongres tentang Pencegahan

Kejahatan danPerlakuan terhadap Penjahat atau sering disebut United


Nation Congress onPrevention on Crime and Treatment of Offenders

Pada kesempatan pertama, Kongres ini diadakan di Geneva pada tahun

1955. Sampai saat ini kongres PBB ini telah terselenggara 12 kali.

Kongres yang ke-12 diadakan di Salvador padabulan April 2010.

Dalam Kongres PBB ke-10 yang diadakan di Vienna (Austria)

pada tahun 2000, isu mengenai Korupsi menjadi topik pembahasan

yang utama dalam indtroduksi dibawah tema International Cooperation

in Combating Transnational Crime: New Challenges in the Twenty-first

Century Dinyatakan bahwa tema korupsi telah lama menjadi prioritas

pembahasan. Untuk itu The United Nations Interregional Crime and

Justice Research Institute (UNICRI) telah dipercaya untuk

menyelenggarakan berbagai macam workshop dalam

rangkamempersiapkan bahan-bahan dalam rangka penyelenggaraan

Kongres PBB ke-10 yang diadakan di Vienna tersebut

Dalam resolusi 54/128 of 17 December 1999, di bawah judul

“Action against Corruption”, Majelis Umum PBB menegaskan perlunya

pengembangan strategi global melawan korupsi dan mengundang

negara-negara anggota PBB untuk melakukan review terhadap seluruh

kebijakanserta peraturan perundang-undangan domestik masing-masing

negara untuk mencegah dan melakukan kontrol terhadap korupsi.


Pemberantasan korupsi harus dilakukan dengan pendekatan

multi-disiplin (multi-disciplinary approach) dengan memberikan

penekanan pada aspek dan dampak buruk dari korupsi dalam berbagai

level atau tingkat. Pemberantasan juga dilakukan dengan mengeluarkan

kebijakan pencegahan korupsi baik tingkat nasional maupun

internasional, mengembangkan cara atau praktek pencegahan serta

memberikan contoh pencegahan korupsi yang efektif di berbagai negara.

Beragam rekomendasi baik untuk pemerintah, aparat penegak hukum,

parlemen(DPR), sektor privat dan masyarakat sipil (civil-society)

jugadikembangkan.

Pelibatan lembaga-lembaga donor yang potensial dapat

membantupemberantasan korupsi harus pula terus ditingkatkan.

Perhatian perlu diberikanpada cara-cara yang efektif untuk meningkatkan

resiko korupsi atau meningkatkankemudahan menangkap seseorang yang

melakukan korupsi. Semua itu harusdisertai dengan :

a. Kemauan politik yang kuat dari pemerintah (strong political will )

b. adanya keseimbangan kekuasaan antara badan legislatif, eksekutif

dan peradilan

c. pemberdayaaan masyarakat sipil serta

d. adanya media yang bebas dan independen yang dapat memberikan

akses informasi pada publik


2. Bank Dunia
World Bank Institute mengembangkan Anti-Corruption Core

Program yang bertujuan untuk menanamkan awareness mengenai korupsi

dan pelibatan masyarakat sipil untuk pemberantasan korupsi, termasuk

menyediakan saranabagi negara-negara berkembang untuk

mengembangkan rencana aksi nasional untuk memberantas korupsi.

Program yang dikembangkan oleh Bank Dunia didasarkan pada premis

bahwa untuk memberantas korupsi secara efektif, perlu dibangun

tanggung jawab bersama berbagai lembaga dalam masyarakat. Lembaga-

lembaga yang harus dilibatkan diantaranya pemerintah, parlemen,

lembaga hukum, lembaga pelayanan umum, watchdog institution seperti

public-auditor dan lembaga atau komisi pemberantasan korupsi,

masyarakat sipil, mediadan lembaga internasional. Oleh bank dunia,

pendekatan untuk melaksanakanprogram anti korupsi dibedakan menjadi

2 (yakni), pendekatan dari bawah (bottom – up) dan pendekatan dari atas

(top – down).

Pendekatan dari bawah ( Bottom-UP ) berasal dari 5 asumsi

yakni:

a. semakin luas pemahaman atau pandangan mengenai

permasalahan yang ada, semakin mudah untuk meningkatkan

awareness untuk memberantas korupis


b. network atau jejaring yang baik yang dibuat oleh World Bank

akan lebih membantu pemerintah dan masyarakat sipil (civil

society). Untuk itu perlu dikembangkan rasa saling percaya serta

memberdayakan modal sosial( social capital ) dari masyarakat

c. perlu penyediaan data mengenai efesiensi dan efektifitas

pelayanan pemerintah melalui corruption diagnostics. Dengan

penyediaan data dan pengetahuan yang luas mengenai problem

korupsi, reformasi administratif-politis dapat disusun secara lebih

baik. Penyediaan data ini juga dapat membantu masyarakat

mengerti bahaya serta akibat buruk darikorupsi

d. pelatihan-pelatihan yang diberikan, yang diambil dari toolbox

yang disediakan oleh World Bank dapat membantu mempercepat

pemberantasan korupsi. Bahan-bahan yang ada dalam toolbox

harus dipilih sendiri oleh negara di mana diadakan pelatihan,

karena harus menyesuaikan dengan kondisi masing masing

negara; dan

e. rencana aksi pendahuluan yang dipilih atau dikonstruksi sendiri

olehnegara peserta, diharapkan akan memiliki trickle-down effect

dalam artimasyarakat mengetahui pentingnya pemberantasan

korupsi.

Untuk pendekatan dari atas atau top-down dilakukan

dengan melaksanakanreformasi di segala bidang baik hukum,


politik, ekonomi maupun administrasi pemeritahan. Corruption is

a symptom of a weak state and weak institution ,sehingga harus

ditangani dengan cara melakukan reformasi di segala bidang.

Pendidikan Anti Korupsi adalah salah satu strategi atau

pendekatan bottom-up yang dikembangkan oleh World Bank

untuk meningkatkan kesadaran masyarakatakan bahaya korupsi.

3. OECD ( Organization for Economic Co – Operation and Development)


Setelah ditemuinya kegagalan dalam kesepakatan pada konvensi

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada sekitar tahun 1970-an, OECD,

didukung oleh PBB mengambil langkah baru untuk memerangi korupsi

di tingkat internasional. Sebuah badan pekerja atau working group on

Bribery in International Business Transaction didirikan pada tahun

1989. Pada awalnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan OECD hanya

melakukan perbandingan ataume-review konsep, hukum dan aturan di

berbagai negara dalam berbagai bidang tidak hanya hukum pidana,

tetapi juga masalah perdata, keuangan dan perdagangan serta hukum

administrasi.

Pada tahun 1997, Convention on Bribery of Foreign Public

Official in International Business Transaction disetujui. Tujuan

dikeluarkannya instrumenini adalah untuk mencegah dan memberantas

tindak pidana suap dalam transaksibisnis internasional. Konvensi ini

menghimbau negara-negara untuk mengembangkan aturan hukum,


termasuk hukuman (pidana) bagi para pelakuserta kerjasama

internasional untuk mencegah tindak pidana suap dalam bidangini. Salah

satu kelemahan dari konvensi ini adalah hanya mengatur apa yang

disebut dengan ’active bribery’ ia tidak mengatur pihak yang pasif atau

’pihak penerima’ dalam tindak pidana suap. Padahal dalam banyak

kesempatan, justru mereka inilah yang aktif berperan dan memaksa para

penyuap untuk memberikan sesuatu.

4. Masyarakat Uni Eropa


Di negara-negara Uni Eropa, gerakan pemberantasan

korupsisecara internasional dimulai pada sekitar tahun 1996. Tahun

1997, theCouncil of Europe Program against Corruption menerima

kesepakatan politik untuk memberantas korupsi dengan menjadikan isu

ini sebagaiagenda prioritas. Pemberantasan ini dilakukan dengan

pendekatan serta pengertian bahwa: karena korupsi mempunyai banyak

wajah danmerupakan masalah yang kompleks dan rumit, maka

pemberantasankorupsi harus dilakukan dengan pendekatan multi-

disiplin; monitoringyang efektif, dilakukan dengan kesungguhan dan

komprehensif sertadiperlukan adanya fleksibilitas dalam penerapan

hukum (de Vel andCsonka : 2002).Pada tahun 1997, komisi menteri-

menteri negara-negara Eropamengadopsi 20 Guiding Principles untuk

memberantas korupsi, denganmengidentifikasi area-area yang rawan


korupsi dan meningkatkan cara-cara efektif dan strategi

pemberantasannya.

Pada tahun 1998 dibentuk GRECO atau the Group of States

against Corruption yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas negara

anggota memberantas korupsi. Selanjutnya negara-negara Uni Eropa

mengadopsi the Criminal Law Convention on Corruption, the Civil Law

Convention on Corruption dan Model Code of Conduct for Public

Officials.

2.3 GERAKAN SWADAYA LEMBAGA INTERNASIONAL

1. Transparency International
(TI) adalah sebuah organisasi internasional non-pemerintah yang

memantau dan mempublikasikan hasil-hasil penelitian mengenai korupsi

yang dilakukan oleh korporasi dankorupsi politik di tingkat

internasional .TI berkantor pusat di Berlin, Jerman, didirikan pada sekitar

bulan Mei 1993 melalui inisiatif PeterEigen, seorang mantan direktur

regional Bank Dunia (World Bank). Pada tahun 1995, TI

mengembangkan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index).

CPI membuat peringkat tentang prevalensi korupsi di berbagai negara,

berdasarkan survei yang dilakukan terhadap pelaku bisnisdan opini

masyarakat yang diterbitkan setiap tahun dan dilakukan hampirdi 200

negara di dunia. CPI disusun dengan memberi nilai atau score

padanegara-negara mengenai tingkat korupsi dengan range nilai antara 1-


10. Nilai 10 adalah nilai yang tertinggi dan terbaik sedangkan semakin

rendahnilainya, negara dianggap atau ditempatkan sebagai negara-negara

yang tinggi angka korupsinyaTransparensi Internasional

2. TIRI
TIRI (Making Integrity Work) adalah sebuah organisasi

independen internasional non-pemerintah yang memiliki head-office

diLondon, United Kingdom dan memiliki kantor perwakilan di

beberapanegara termasuk Jakarta. TIRI didirikan dengan keyakinan

bahwa dengan integritas, kesempatan besar untuk perbaikan dalam

pembangunan berkelanjutan dan merata di seluruh dunia akan dapat

tercapai. Misi dari TIRI adalah memberikan kontribusi terhadap

pembangunan yang adil dan berkelanjutan dengan mendukung

pengembangan integritas di seluruhdunia. TIRI berperan sebagai katalis

dan inkubator untuk inovasi baru dan pengembangan jaringan.

Organisasi ini bekerja dengan pemerintah

2.4 INSTRUMEN INTERNASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI


1. UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST CORRUPTION

(UNCAC)

Salah satu instrumen internasional yang sangat penting dalam

rangka pencegahan dan pemberantasan korupsi adalah United Nations

Conventionagainst Corruption yang telah ditandatangani oleh lebih dari

140 [Link] pertama kali dilakukan di konvensi


internasional yang diselenggarakan di Mérida, Yucatán, Mexico, pada

tanggal 31 Oktober [Link] hal penting yang diatur dalam

konvensi adalah:

a. Masalah Pencegahan
Tindak pidana korupsi dapat diberantas melalui Badan Peradilan.

Namun menurut konvensi ini, salah satu hal yang terpenting dan utama

adalah masalah pencegahan korupsi. Bab yang terpenting dalam

konvensi didedikasikan untuk pencegahan korupsi dengan

mempertimbangkan sektor publik maupun sektor privat (swasta). Salah

satunya dengan mengembangkan model kebijakan preventif seperti;

 pembentukan badan anti-korupsi

 peningkatan transparansi dalam pembiayaan kampanye untuk

pemilu dan partai politik

 promosi terhadap efisiensi dan transparansi pelayanan publik

 rekrutmen atau penerimaan pelayan publik (pegawai negeri)

dilakukan berdasarkan prestasi

 adanya kode etik yang ditujukan bagi pelayan publik (pegawai

negeri)dan mereka harus tunduk pada kode etik tersebut.

b. Kriminalisasi
Hal penting lain yang diatur dalam konvensi adalah

mengenai kewajiban negara untuk mengkriminalisasi berbagai

perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi


termasuk mengembangkan peraturan perundang-undangan yang

dapat memberikan hukuman (pidana)untuk berbagai tindak pidana

korupsi. Hal ini ditujukan untuk negara-negara yang belum

mengembangkan aturan ini dalam hukum domestik dinegaranya.

Perbuatan yang dikriminalisasi tidak terbatas hanya padatindak

pidana penyuapan dan penggelapan dana publik, tetapi juga dalam

bidang perdagangan, termasuk penyembunyian dan pencucian

uang(moneylaundring) hasil korupsi. Konvensi juga menitik

beratkan pada kriminalisasi korupsi yang terjadi di sektor swasta.

c. Kerjasama internasional
Kerjasama internasional dalam rangka pemberantasan

korupsi adalah salah satu hal yang diatur dalam konvensi. Negara-

negara yang menandatangani konvensi ini bersepakat untuk bekerja

sama dengan satu sama lain dalam setiap langkah pemberantasan

korupsi, termasuk melakukan pencegahan,investigasi dan

melakukan penuntutan terhadap pelaku korupsi. Negara-negara

yang menandatangani Konvensi juga bersepakat untuk memberikan

bantuan hukum timbal balik dalam mengumpulkan bukti untuk

digunakandi pengadilan serta untuk mengekstradisi pelanggar.

Negara-negara juga diharuskan untuk melakukan langkah-langkah

yang akan mendukung penelusuran, penyitaan dan pembekuan

hasil tindak pidana korupsi.


d. Pengembalian aset–aset hasil korupsi
Salah satu prinsip dasar dalam konvensi adalah kerjasama

dalam pengembalian aset-aset hasil korupsi terutama yang dilarikan

dan disimpan di negara lain. Hal ini merupakan isu penting bagi

negara-negara berkembang yang tingkat korupsinya sangat tinggi.

Kekayaan nasionalyang telah dijarah oleh para koruptor harus dapat

dikembalikan Karena untuk melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi,

terutama di negara-negara berkembang, diperlukan sumber daya

serta modal yang sangat [Link] ini dapat diperoleh dengan

pengembalian kekayaan negara yang diperoleh dari hasil korupsi.

Untuk itu negara-negara yang menandatangani konvensi harus

menyediakan aturan-aturan serta prosedur guna mengembalikan

kekayaan tersebut, termasuk aturan dan prosedur yang menyangkut

hukum dan rahasia perbankan.

2. CONVENTION ON BRIBERY OF FOREIGN PUBLIC


OFFICIAL IN INTERNATIONAL BUSINESS
TRANSACTION
Convention on Bribery of Foreign Public Official International

Business Transaction Convention on Bribery of Foreign Public Official

in International Business Transaction adalah sebuah konvensi

internasional yangdipelopori oleh OECD. Konvensi Anti Suap ini

menetapkan standar-standar hukum yang mengikat (legally binding)

negara-negara pesertauntuk mengkriminalisasi pejabat publik asing yang


menerima suap (bribe) dalam transaksi bisnis internasional. Konvensi ini

juga memberikan standar-standar atau langkah-langkah yang terkait yang

harus dijalankanoleh negara perserta sehingga isi konvensi akan

dijalankan oleh negara-negara peserta secara [Link] on

Bribery of Foreign Public Official in InternationalBusiness Transaction

adalah konvensi internasional pertama dan satu-satunya instrumen anti

korupsi yang memfokuskan diri pada sisi ‘supply’ dari tindak pidana

suap. Ada 34 negara anggota OECD dan empat negaranon-anggota yakni

Argentina, Brasil, Bulgaria dan Afrika Selatan yang telah meratifikasi

dan mengadopsi konvensi internasional ini.

2.5 KERJASAMA INTERNASIONAL OLEH KOMISI


PEMBERANTASAN KORUPSI ( KPK )
Sebagai lembaga independen yang berfungsi sebagai trigger

mechanism pemberantasan korupsi, KPK telah berupaya melakuka berbagai

kerja sama internasional. Dua bentuk kerjasama internasional yakni

international assistance dan international cooperation yang dilakukan oleh

KPK adalah sebagai berikut

1. International assistance
Merupakan bagian dari kerjasama internasional yang menjadi

jembatan antarainvestigasi di tingkat nasional dan interna-Sional

(serves as a bridge between domestic And overseas investigation)

termasuk di dalamnya asset recovery Aktivitas yang dilak-ukan

meliputi pertukaran informasi, joint investigation penangkapan dan


penahanan pelaku, pertukaran bukti dan saksi, permintaanbantuan

timbal balik, ektradisi, pengembalian serta perampasan aset hasil tindak

pidana korupsidan lain- lain

2. International coorperation
International coorperation yang dilakukan melalui law

enforencement networks di seluruh dunia. Baik sebagai negara

pemohon atau termohonbantuan, KPK telah memiliki

pengalaman dan network dengan beberapa negara seperti USA,

United Kongdom, Australia, Columbia, Singapura,Thailand,

Malaysia, Brunai Darussalam, Laos, Vietnam,

Kamboja,Hongkong, Cina, Jepang, Jerman, Swiss, Korea,

Belanda, Timor Leste,Kanada, Spanyol, Dominika, dan

sebagainya. jejaring ini sangat penting karena salah satu modus

operandi korupsi adalah dengan menggunakan yurisdiksi negara

asing sebagai tempat untuk bersembunyi dan menyimpan uang

hasil korupsi.

Selain itu, KPK juga telah berpartisipasi dalam banyak

sekali forum internasional diantaranya conference of state parties

(COSP) UNCAC, International association of anti corruption

authorities (IAACA), APEC anti corruption and transparency

working group , ADB/OECD anti corruption initiative ,

anticorruption authorities forum (ACA), ASEAN MLA ,Treaty


Forum ,South East Asia Parties against Corruption, (SEA-PAC),

ASEAN senior official meeting ontransnational crime (SOMTC)

dan sebagainya.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Masyarakat internasional telah bersepakat bahwa korupsi adalah

tindakpidana yang berdampak sangat buruk bagi kelangsungan hidup umat

[Link] atau movement untuk memberantas korupsi telah banyak

dilakukan olehmasyarakat internasional. Demikian pula kerjasama yang

dilakukan untukmemberantas korupsi dengan menggunakan asas hubungan

baik dan bantuanhukum timbal balik (mutual legal assistance).

Dari pemaparan sebelumnya,sebagai negara yang ikut

menandatangani UNCAC, indonesia telah melakukan berbagai upaya

kerjasama dengan negara lain untuk memeberantas korupsi baikdengan

pembuatan MoU, pembuatan bilateral maupun multilateral treaty

ataudengan menjadi peserta aktif dalam berbagai forum internasional.

Walapun masih ada beberapa kendala yang sering ditemui dalam

melaksanakan bantuan timbalbalik dalam perkara korupsi.

3.2 SARAN
Makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu untuk

menambah wawasan yang lebih luas lagi mohon membaca lebih banyak

berita, buku, korandan lain lain yang memberikan informasi tambahan

kepada pembaca. Kita sebagai mahasiswa harus ikut ambil tahu terkait

korupsi terutama yang merugikan negara secara besar besaran, karena

kita juga merupakan penggerak.


DAFTAR PUSTAKA

Rahayu, S. (2020, maret s). Gerakan kerjasama dan instrumen internasional pencegahan
korupsi. Retrieved februari sabtu, 2023, from [Link]: [Link]/

Rexy, r. (2017, April s). gerakan kerjasama dan instrumen internasional pencegahan korupsi.
Retrieved februari sabtu, 2023, from [Link]: [Link]

Anda mungkin juga menyukai