KELOMPOK 2
ELEMEN PROGRAM BK PERKEMBANGAN
(LAYANAN DASAR DAN RESPONSIF)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling Islam
Dosen Pengampu : Athia Tamziyatun Nisa, [Link], [Link]
Disusun Oleh :
1. Hanan Hidayat (203111283)
2. Warohma Iftitiyani (203111295)
3. Nur Laila (203111296)
4. Alwi Hanifudin Aqwam (203111308)
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
RADEN MAS SAID SURAKARTA
2023
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Bimbingan dan konseling sebagai layanan profesional pada satuan pendidikan
yang dilakukan oleh tenaga pendidik profesional yaitu konselor atau guru Bimbingan dan
Konseling. Konselor adalah seseorang yang berkualifikasi akademik Sarjana Pendidikan
(S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling dan telah lulus Pendidikan Profesi Guru
Bimbingan dan Konseling/ Konselor. Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan
dan konseling yang dihasilkan Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK) dapat
ditugasi sebagai Guru Bimbingan dan Konseling untuk menyelenggarakan layanan
bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan.
Dalam melaksanakan kegiatan bimbingan konseling, guru bimbingan konseling
harus berpanduan pada program bimbingan konseling yang telah disusun. Program
bimbingan dan konseling merupakan serangkaian kegiatan yang diselenggarakan sebagai
pedoman dalam memberikan pelayanan bimbingan dan konseling dalam periode tertentu.
Menurut Giyono (2010) program bimbingan dan konseling adalah satuan rencana
keseluruhan kegiatan bimbingan dan konseling yang akan dilaksanakan pada periode
tertentu, yakni periode bulanan, semester dan tahunan. Dapat disimpulkan bahwa
program bimbingan dan konseling adalah keseluruhan rencana kegiatan yang disusun
dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik yang dilaksanakan pada periode tertentu.
Dalam hal ini periode tertentu yakni periode harian, mingguan, bulanan, semesteran, dan
periode tahunan. Pelaksanaan program bimbingan konseling yang sesuai dengan periode-
periode tersebut akan membuat pelaksanaan kegiatan layanan bimbingan konseling
berkesinambungan.
b. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Elemen Program BK Perkembangan (Layanan dasar dan
Responsif) ?
c. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami Elemen Program BK Perkembangan (Layanan
dasar dan Responsif).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Elemen Program BK Perkembangan (Layanan dasar dan Responsif)
Program bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari suatu sistem di
sekolah dan mengandung makna bahwa program bimbingan konseling bukan berarti
program milik guru bimbingan dan konseling sekolah sendiri tetapi lebih dari itu,
program bimbingan dan konseling merupakan milik semua pihak yang terlibat dalam
proses pendidikan di sekolah. Program tersebut mengandung unsur-unsur yang terdapat
didalam berbagai ketentuan tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling dan
berorientasikan pada pencapaian tujuan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.
Program bimbingan dan konseling disusun oleh guru bimbingan konseling.
Meskipun program bimbingan konseling disusun oleh guru bimbingan konseling, namun
dalam pelaksanaannya guru bimbingan konseling harus dapat melibatkan seluruh warga
sekolah. Maka bisa dikatakan program bimbingan konseling bukanlah milik guru
bimbingan konseling saja, namun milik seluruh warga sekolah.
Layanan bimbingan dan konseling sebagai layanan profesional yang
diselenggarakan pada satuan pendidikan mencakup komponen program, bidang layanan,
struktur dan program layanan, kegiatan dan alokasi waktu layanan. Komponen program
meliputi layanan dasar, layanan peminatan dan perencanaan individual, layanan
responsif, dan dukungan sistem, sedangkan bidang layanan terdiri atas bidang layanan
pribadi, sosial, belajar, dan karir.
Komponen program dan bidang layanan dituangkan kedalam program tahunan dan
semesteran dengan mempertimbangkan komposisi, proporsi dan alokasi waktu layanan,
baik di dalam maupun di luar kelas. Program kerja layanan bimbingan dan konseling
disusun berdasarkan hasil analisis kebutuhan peserta didik/konseli dan struktur program
dengan menggunakan sistematika minimal meliputi: rasional, visi dan misi, deskripsi
kebutuhan, komponen program, bidang layanan, rencana operasional, pengembangan
tema, pengembangan RPLBK, evaluasi pelaporan-tindak lanjut, dan anggaran biaya.
Layanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan secara keseluruhan
dikemas dalam empat komponen layanan, yaitu komponen: (a) layanan dasar, (b) layanan
peminatan dan perencanaan individual, (c) layanan responsif, dan (d) dukungan sistem.
1. Layanan Dasar
a. Pengertian
Layanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada
seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara
klasikal atau kelompok yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis
dalam rangka mengembangkan kemampuan penyesuaian diri yang efektif
sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai
standar kompetensi kemandirian).
b. Tujuan
Layanan dasar bertujuan membantu semua konseli agar memperoleh
perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh
keterampilan hidup, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat
mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal. Secara rinci tujuan
pelayanan ini dapat dirumuskan sebagai upaya untuk membantu konseli agar :
1) Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama),
2) Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung
jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri
dengan lingkungannya
3) Mampu memenuhi kebutuhan dirinya dan mampu mengatasi masalahnya
sendiri
4) Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh Konselor atau Guru
Bimbingan dan Konseling dalam komponen layanan dasar antara lain; asesmen
kebutuhan, bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, pengelolaan media
informasi, dan layanan bimbingan dan konseling lainnya.
c. Fokus Pengembangan
Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus pengembangan kegiatan yang
dilakukan diarahkan pada perkembangan aspek-aspek pribadi, sosial, belajar
dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu peserta
didik/konseli dalam upaya mencapai tugas-tugas perkembangan dan
tercapainya kemandirian dalam kehidupannya.
2. Layanan Responsif
a. Pengertian
Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta
didik/konseli yang menghadapi masalah dan memerlukan pertolongan dengan
segera, agar peserta didik/konseli tidak mengalami hambatan dalam proses
pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Strategi layanan responsif
diantaranya konseling individual, konseling kelompok, konsultasi, kolaborasi,
kunjungan rumah, dan alih tangan kasus (referral).
b. Tujuan
Layanan responsif bertujuan untuk membantu peserta didik/konseli
yang sedang mengalami masalah tertentu menyangkut perkembangan pribadi,
sosial, belajar, dan karir. Bantuan yang diberikan bersifat segera, karena
dikhawatirkan dapat menghambat perkembangan dirinya dan berlanjut ke
tingkat yang lebih serius. Konselor atau Guru Bimbingan dan Konseling
hendaknya membantu peserta didik/konseli untuk memahami hakikat dan ruang
lingkup masalah, mengeksplorasi dan menentukan alternatif pemecahan
masalah yang terbaik melalui proses interaksi yang unik. Hasil dari layanan ini,
peserta didik/konseli diharapkan dapat mengalami perubahan pikiran, perasaa,
kehendak, atau perilaku yang terkait dengan perkembangan pribadi, sosial,
belajar, dan karir.
c. Fokus Pengembangan
Fokus layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta
didik/konseli yang secara nyata mengalami masalah yang mengganggu
perkembangan diri dan secara potensial menghadapi masalah tertentu namun
dia tidak menyadari bahwa dirinya memiliki masalah. Masalah yang dihadapi
dapat menyangkut ranah pribadi, sosial, belajar, atau karir. Jika tidak
mendapatkan layanan segera dari Konselor atau Guru Bimbingan dan
Konseling maka dapat menyebabkan peserta didik/konseli mengalami
penderitaan, kegagalan, bahkan mengalami gangguan yang lebih serius atau
lebih kompleks.
Masalah peserta didik/konseli dapat berkaitan dengan berbagai hal yang
dirasakan mengganggu kenyamanan hidup atau menghambat perkembangan
diri konseli, karena tidak terpenuhi kebutuhannya, atau gagal dalam mencapai
tugas-tugas perkembangan. Untuk memahami kebutuhan dan masalah peserta
didik/konseli dapat diperoleh melalui asesmen kebutuhan dan analisis
perkembangan peserta didik/konseli, dengan menggunakan berbagai instrumen,
misalnya angket konseli, pedoman wawancara, pedoman observasi, angket
sosiometri, daftar hadir peserta didik/konseli, leger, inventori tugas-tugas
perkembangan (ITP), psikotes dan alat ungkap masalah (AUM).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Menurut Giyono (2010) program bimbingan dan konseling adalah satuan rencana
keseluruhan kegiatan bimbingan dan konseling yang akan dilaksanakan pada periode
tertentu, yakni periode bulanan, semester dan tahunan.
Layanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli
melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang
dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dalam rangka mengembangkan
kemampuan penyesuaian diri yang efektif sesuai dengan tahap dan tugas-tugas
perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian).
Layanan responsif adalah pemberian bantuan kepada peserta didik/konseli yang
menghadapi masalah dan memerlukan pertolongan dengan segera, agar peserta
didik/konseli tidak mengalami hambatan dalam proses pencapaian tugas-tugas
perkembangannya. Strategi layanan responsif diantaranya konseling individual,
konseling kelompok, konsultasi, kolaborasi, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus
(referral).
DAFTAR PUSTAKA
Kebudayaan, K. P. (2016). Pedoman Bimbingan dan Konseling. Jakarta.