KONSEP DAN BENTUK KOMUNIKASI PENDIDIKAN,
MEDIA DAN METODE KOMUNIKASI, PENGERTIAN
DAN MACAM MACAM MEDIA KOMUNIKASI
PENDIDIKAN
DIRGA ARI WIJAYA L.
Email : dirga.dirga78@[Link]
Program studi Teknologi Pendidikan
Univesitas Muhammadiyah Bone
PENDAHULUAN
Artikel ini adalah tugas pada suatu perguruan tinggi yang merpukan tugas pada
mata kuliah komunikasi pendidikan yang masih dalam bentuk file/dokumen.
Perkembangan terknolgi yang begitu pesat di era saat sangat mempengaruhi juga
cara/bentuk seseorang untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan, sehingga
membuat kita harus tau dan selalu mengikuti perkembangannya supaya selalu
mendapatkan informasi terbaru dan ter’update.
Salah satu pengertian, tujuan model dan fungsi komunikasi adalah bisa mengetahui
apa saja unsur-unsur komunikasi didalam bermasayarakat terutama dalam pendidikan
baik secara formal maupun non formal sehingga apa yang akan kita sampikan bisa di
terima dengan baik, jalas dan efektif.
Degan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi saat ini sehingga membuat
kita lebih mudah mendapatkan informasi kapan saja dan dimana saja dan salah satu
tujuan penulis menulis articel ini yaitu untuk mengetahui apa pengertian komunikasi,
tujuan komunikasi, bentuk, dan fungsi komunikasi baik dalam kehidupan
bermasyarakat maupun dalam Pendidikan
PEMBAHASAN
1. Pengertian Komunikasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komunikasi diartikan sebagai
pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga
pesan yang dimaksud dapat dipahami. Komunikasi berasal dari kata latin cum yaitu kata
depan yang berarti dengan, bersama dengan, dan unus yaitu kata bilangan yang berarti
satu. Dari kedua kata itu terbentuk kata benda communio yang dalam bahasa Inggris
menjadi communion dan berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan,
pergaulan, dan hubungan. Komunikasi adalah suatu pemindahan makna atau
pemahaman dari pengirim kepada penerima, di dalamnya tercangkup tiga bagian
penting dari komunikasi yang efektif yakni sang pengirim, sang penerima dan
keberhasilan pengirim makna.1
Sedangkan Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku karangannya yang
berjudul “Dinamika Komunikasi” berpendapat bahwa pengertian komunikasi harus
dilihat dari dua sudut pandang, yaitu pengertian secara umum dan pengertian secara
paradigmatik. Pengertian komunikasi secara umum itupun harus juga dilihat dari dua
segi, yaitu pengertian komunikasi secara etimologis dan pengertian komunikasi secara
terminologis. Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Latin communicatio
yang bersumber dari kata communis yang berarti sama. Kata sama yang dimaksudkan
adalah sama makna. Jadi dalam pengertian ini, komunikasi berlangsung manakala
orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki kesamaan makna mengenai suatu hal
yang tengah dikomunikasikannya itu. Dengan kata lain, jika orang-orang yang terlibat
di dalamnya saling memahami apa yang dikomunikasikannya itu, maka hubungan
antara mereka bersifat komunikatif. Pengertian secara terminologis, komunikasi adalah
proses penyampaian suatu pernyataan seseorang kepada orang lain. Pengertian ini
memberikan pemahaman kepada kita bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang
atau manusia, sehingga komunikasi seperti ini disebut sebagai Human Communication
(komunikasi manusia). Sedangkan pengertian secara paradigmatis, meskipun banyak
1
Hugo Aries Suprapto, ‘Pengaruh Komunikasi Efektif Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Kewirausahaan Mahasiswa’, Lectura : Jurnal Pendidikan, 9.1 (2018), 1–9
<[Link]
definisi yang dikemukakan oleh para ahli, namun dari semua definisi itu dapat
disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang
kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, dan
perilaku, baik langsung (komunikasi tatap muka) maupun tidak langsung (komunikasi
melalui media). 2
2. Tujuan Komunikasi dalam Pendidikan
Komunikasi merupakan suatu yang sangat pokok dalam setiap hubungan orang-
orang, begitu pula dalam suatu Pendidikan terjadinya komunikasi tentunya ada tujuan
yang ingin dicapai. Hal sesuai dengan pendapat Maman Ukas mengemukakan tujuan
komunikasi sebagai berikut :
1. Menentapkan dan menyebarkan maksud dari pada suatu usaha.
2. Mengembangkan rencana-rencana untuk mencapai tujuan.
3. Mengorganisasikan sumber-sumber daya manusia dan sumber daya lainnya
seperti efektif dan efisien.
4. Memilih, mengembangkan, menilai anggota organisasi.
5. Memimpin, mengarahkan, memotivasi dan menciptakan suatu iklim kerja di
mana setiap orang mau memberikan kontribusi
Komunikasi instruksional lebih merupakan sebagai bagian kecil dari komunikasi
pendidikan. Ia merupakan proses komunikasi yang dipola dan dirancang secara khusus
dengan tujuan untuk mengubah prilaku sasaran atau komunikan ke arah yang lebih baik.
Komunikasi pendidikan merupakan komunikasi yang sudah merambah atau menyentuh
dunia pendidikan dengan segala aspeknya; dengan kata lain: komunikasi dalam bidang
pendidikan.
Sasaran atau komunikan di sini maksudnya adalah sekelompok orang, biasanya
bersifat homogen, meskipun terkadang juga sedikit heterogen, baik kelompok yang
lebih bersifat formal ataupun yang nonformal. Siswa, mahasiswa, peserta pelatihan,
peserta penataran, peserta seminar, anggota kelompok tani di desa, anggota kelompok
kegiatan arisan di RT/RW ataupun desa, dan juga anggota kelompok pada suatu
2
Zikri Fachrul Nurhadi and Achmad Wildan Kurniawan, ‘Jurnal Komunikasi Hasil Pemikiran
Dan Penelitian’, Jurnal Komunikasi Hasil Pemikiran Dan Penelitian, 3.1 (2017), 90–95.
komunitas tertentu yang tersebar di masyarakat, juga anak-anak kita di rumah, adalah
contoh-contoh yang termasuk ke dalam sasaran atau komunikan.
Tujuannya yang ingin dicapai adalah mengubah perilaku sasaran, maka berbagai
pendekatan teoretis ataupun praktis tentang perubahan perilaku, yang di dunia
komunikasi dan pendidikan dikenal dengan teori belajar, diperkenalkan juga dalam
pengkajian materi ini. Gunanya antara lain untuk memudahkan para komunikator,
termasuk komunikator pendidikan seperti guru dan pendidik di berbagai tingkatan,
instruktur pelatihan, widyaiswara, penyuluh lapangan, mahasiswa komunikasi,
mahasiswa pendidikan, dan para praktisi komunikasi lainnya yang akan mengadakan
kegiatan komunikasi di lapangan dalam mengenali situasi dan kondisi medan kegiatan
yang bersangkutan, termasuk di dalamnya masalah kelompok sasaran yang menjadi
subjek komunikasinya. Dengan pengetahuan ini diharapkan kegiatan komunikasi
instruksional akan lebih efektif.3
- Pendidikan Sebagai Proses Komunikasi
pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut
memiliki dua komponen yang terdiri atas manusia yakni pengajar sebagai komunikator
dan pelajar sebagai komunikan. Lazimnya pada tingkatan bawah dan menengah,
pengajar disebut guru, sedangkan pelajar disebut murid, pada tingkatan tinggi, pengajar
disebut dosen sedangkan pelajar disebut mahasiswa. Pada tingkatan apapun, proses
komunikasi, pengajar dan pelajar itu pada hakekatnya sama saja. Perbedaannya
hanyalah pada jenis pesan yang akan disampaikan berkualitas atau tidak.
Perbedaan antara komunikasi dan pendidikan terletak pada tujuan atau efek yang
diharapkan, bila ditinjau dari efek yang diharapkan. Tujuan komunikasi sifatnya umum,
sedangkan tujuan pendidikan sifatnya khusus. Kekhususan inilah yang dalam
komunikasi melahirkan istilah-istilah khusus seperti penerangan, propaganda,
indoktrinasi dan pendidikan. Tujuan pendidikan itu akan tercapai jika prosesnya
komunikatif. Jika prosesnya tidak komunikatif, tidak mungkin tujuan pendidikan itu
akan tercapai. Bagaimana caranya agar proses penyampaian satu pelajaran oleh
pengajar kepada pelajar menjadi komunikatif
3
M Oky Fardian Gafari, Fakultas Bahasa, and Universitas Negeri Medan, ‘K d m P’.
Dalam proses komunikasi, ada 6 komponen yang harus digunakan dalam pendidikan
yaitu:
1. Sumber (Source), adalah dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan
(materi) dalam hal ini berupa buku cetak, dokumen dan lain sebagainya.
2. Komunikator (Encoder), dalam hal ini orang yang menyampaikan pesan seperti
guru atau dosen, seorang guru/dosen dalam menyampaikan pesan harus
memenuhi kriteria antara lain; berpenampilan, menguasai maslah dan menguasai
bahasa.
3. Pesan (Massage), adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh
komunikator (guru) yang berupa materi yang akan diajarkan.
4. Komunikan (Decoder), adalah orang yang menerima pesan yang disampaikan
oleh komunikan, komunikan di sebut pula peserta didik.
5. Media (Channel) adalah seluruh alat untuk penyampaian pesan (materi).
6. Effek (hasil), adalah hasil akhir suatu komunikasi, dalam hal ini seorang guru
yang telah memberikan materi pembelajaran kepada siswa maka hasil yang
diujikan agar siswa dapat memahami tujuan pembelajaran tersebut yang ditandai
dengan adanya perubahan sikap atau tingka laku siswa.
komponen inil jika dilaksanakan sebagaimana mestinya maka komunikasi dalam
pendidikan akan berjalan dengan baik, efektif dan efisien.4
4
Eti Nur Inah, ‘No Title’, 6.1 (2013), 176–88.
3. Model-Model Komunikasi Menurut Ahli
1) Model Stimulus Respons (S-R)
Model stimulus-respons adalah model komunikasi paling dasar. Model ini
dipengaruhi oleh disiplin psikologi behavioristik Model ini menunjukkan
bahwa komunikasi sebagai proses "aksi reaksi" yang sangat sederhana. Model
ini mengasumsikan bahwa kala-kata verbal, isyarat nonverbal, gambar dan
tindakan tertentu akan merangsang orang lain untuk memberikan respons
dengan cara tertentu. Pertukaran informasi ini bersifat limbal balik dan
mempunyai banyak efek dan setiap efek dapat mengubah tindakan komunikasi.
Proses juga merupakan perpindahan informasi ataupun gagasan. Proses iní
dapat berupa tímbal balik dan mempunyai elek yang banyak. Setiap efek dapat
mengubah perilaku dari komunikasi berikutnya. Model ini mengabaikan
komunikasi sebagai sebuah proses, Dengan kata lain, komunikasi dianggap
sebagai hal yang statis Sebagai gambaran, misalnya Anda menyukai seseorang,
lalu Anda melihat dan memerhatikan wajahnya sambil tersenyum. Ternyata
orang tersebut menutup wajahnya dengan buku atau berteriak maka Anda
kecewa. Dalam pikiran, anda merasa cinta Anda bertepuk sebelah tangan.
Model stimulus-respons (S-R) tersebut dapat digambarkan dalam bentuk
gambar berikut.5
Stimulus
Freedom to
to Choose
Response
5
E Murniati, ‘Proses Komunikasi, Prinsip Dasar Proses Komunikasi, Pandangan Ahli
Tentang Proses Komunikasi Model Komunikasi, Fungsi Dan Manfaat Model Komunikasi,
Definisi Informasi’, 2019, 5–8.
2) Model Aristoteles
Model ini merupakan model komunikasi yang paling klasik dalam ilmu
komunikasi, yang disebut model retorikal. Model ini sering disebut sebagai seni
berpidato. Menurut Aristoteles, persuasi dapat dicapai oleh siapa Anda (etos
kepercayaan Anda), argumen Anda (logos-logika dalam emosi khalayak).
Dengan kata lain, faktor- faktor yang memainkan peran dalam menentukan efek
persuatif Suatu pidato meliputi isi pidato, susunan, dan Model ini membuat
rumusan tentang model komunikasi verbal yang pertama. Komunikasi terjadi
ketika pembicara menyampaikan pesan kepada khalayak dengan tujuan
mengubah perilakunya. Model ini mempunyai tiga bagian dasar dari
komunikasi, yaitu pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar
(listener). Model ini lebih berorientasi pada pidato, terutama pidato untuk
memengaruhi orang lain. Menurut Aristoteles, pengaruh dapat dicapai oleh
seseorang yang dipercaya oleh publik, alasan, dan dengan memainkan emosi
publik. Model ini juga memiliki banyak kelemahan. Pertama, komunikasi
dianggap sebagai fenomena yang statis. Kedua, model ini tidak
memperhitungkan komunikasi nonverbal dalam memengaruhi orang lain.
Meskipun mempunyai banyak kelemahan, model ini menjadi inspirasi bagi para
ilmuwan komunikasi untuk mengembangkan model komunikasi modern.
Aristoteles membuat deskripsi atau gambaran yang sesuai dengan proses
komunikasi yang terjadi dalam retorikal sebagai berikut.6
3) Model Komunikasi Interpersonal
Komunikasi merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam
Islam, kedudukan komunikasi mendapat penekanan yang cukup kuat, hal ini
tergambar dari ayat-ayat yang memberikan informasi dan tuntunan bagaimana
6
Murniati.
komunikasi itu dijalankan. Terekam dengan jelas bahwa tindak komunikasi
tidak hanya dilakukan terhadap sesama manusia dan lingkungan hidupnya saja,
melainkan juga dengan Tuhan. Al-Qur’anpun diturunkan sebagai wahyu dalam
proses komunikasi antar transmitter, dimana Allah Swt menurunkan wahyu
melalui Malaikat Jibril yang ditransmisikan kepada Nabi Muhammad Saw dan
kemudian pesan-pesan Allah Swt itu sampai kepada umat manusia seterusnya.
Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menggambarkan tentang proses
komunikasi, misalnya salah satu ayat Al-Qur’an menggambarkan dialog yang
terjadi pertama kali antara Allah Swt., malaikat dan manusia. Dialog tersebut
sekaligus menggambarkan salah satu potensi manusia dalam berkomunikasi
yang dianugerahkan Allah Swt. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah: 31-33. 31
Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman:
"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar
orang-orang yang benar!" 32. Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada
yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." 33.
Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda
ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu,
Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa
Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa
yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan".
Ayat di atas, menginformasikan bahwa sesungguhnya manusia dianugerahi
Allah Swt potensi untuk mengetahui nama atau fungsi dan karakteristik benda-benda di
sekitarnya, manusia juga dianugerahi potensi untuk berbahasa.
Menurut Lievens & Sackett (2012) Komunikasi interpersonal merupakan
keterampilan yang menyangkut kepekaan sosial, membangun hubungan, bekerja sama
dengan orang lain, mendengarkan, dan komunikasi. William Schutz (1966)
sebagaimana dikutip Julia T. Wood seorang Psikolog, dalam bukunya “Interpersonal
Communication: Everyday Encounters” (2010) yang diterjemahkan Rio Dwi Setiawan
(2013) mengembangkan teori mengenai kebutuhan interpersonal. Ia menegaskan bahwa
hubungan interpersonal yang berkelanjutan tergantung dari seberapa baik hal tersebut
berkaitan dengan tiga kebutuhan dasar, yakni:
a) Afeksi, yaitu keinginan untuk memberi dan mendapatkan kasih sayang;
b) Inklusif, yaitu keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok sosial tertentu;
c) Control, yaitu kebutuhan untuk mempengaruhi orang atau peristiwa dalam
kehidupan.7
4) Model Lasswell
Model ini menggambarkan komunikasi dalam ungkapan cha says what in which
channel to whom with what effect atau dalam bahasa Indonesia berarti siapa
mengatakan apa dengan medium apa kepada siapa dengan pengaruh apa. Model
ini sering digunakan pada komunikasi massa. Who menjadi pihak yang
mengeluarkan dan menyeleksi berita, says what adalah bahan untuk
menganalisis pesan. In which channel adalah media. To whom adalah khalayak,
dan with what effect adalah pengaruh yang diciptakan pesan dari media massa
kepada pembaca, pendengar, dan pemirsa. Harold D. Laswell (dalam Deddy
Mulyana, 2011) menggambarkan model komunikasi yang dibuatnya dalam
gambar berikut.
Siapa Katakan Apa Saluran Kepada Siapa Dengan Efek Apa
(Pengirim) (Pesan) (Sedang) (Penerima) (Umpan Balik)
Laswell mengemukakan tiga dungsi komunikasi yaitu:
a) Pengawasan lingkungan, yang mengingatkan anggota masyarakat akan bahaya
dan peluang dalam lingkungan;
7
M Qadafi Khairuzzaman, ‘Model Komunikasi Interpersonal Dalam Kisah Nabi Yusuf As.’,
4.1 (2016), 64–75.
b) korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespons lingkungan
c) tansmisi warisan dari suatu generasi ke generasi lainnya.
Model yang diutarakan Laswell ini secara jelas mengelompokan elemen-elemen
mendasar dari komunikasi ke dalam lima elemen yang tidak bisa dihilangkan salah
satunya (Laswell dalam Littlejohn 1996:334). Akan tetapi, model ini dikritik karena
mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model ini juga
dianggap oleh sebagaian ahli komunikasi yang lain terlalu menyederhanakan masalah.8
4. Fungsi Komunikasi
1. Fungsi Komunikasi Pembelajaran
Komunikasi pembelajaran adalah proses penyampaian gagasan dari seseorang
kepada orang lain supaya mencapai keberhasilan dalam mengirim pesan kepada
yang dituju secara efektif dan efisien. Komunikasi mempunyai dua fungsi
umum. Pertama, untuk kelangsungan hidup dirisendiri yang meliputi:
keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan diri sendiri
kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi. Kedua, untuk kelangsungan
hidup masyarakat, tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan
mengembangkan keberadaan suatu masyarakat.
2. Fungsi Komunikasi Sosial
Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia akan hilang, karena ia
tidak punya waktu untuk mengatur diri mereka sendiri dalam lingkungan sosial.
Tanpa terlibat dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimana makan,
minum, berbicara sebagai manusia beradab (memperlakukan manusia lainnya).
Konsep diri adalah pandangan tentang siapa, dan yang hanya dapat diperoleh
melalui informasi orang lain yang diberikan kepada manusia (18). Manusia
yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia lain mungkin tidak
menyadari bahwa ia adalah seorang laki-laki. Manusia menyadari bahwa
keberadaan manusia ada disekitar karena orang di sekitar menunjukkan melalui
perilaku mereka.
8
Murniati.
3. Fungsi Komunikasi Instrumental
Komunikasi yang berfungsi sebagai Komunikasi instrumental adalah
komunikasi yang berfungsi untuk memberitahukan atau menerangkan (to
inform) dan mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara
menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta dan informasi yang
disampaikan adalah akurat dan layak untuk diketahui (21). Dengan demikian
fungsi komunikasi instrumental bertujuan untuk menerangkan, mengajar,
menginformasikan, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan, mengubah
perilaku atau menggerakkan tindakan, dan juga untuk menghibur. Sebagai
instrumen, komunikasi tidak saja manusia gunakan untuk menciptakan dan
membangun hubungan, namun juga untuk menghancurkan hubungan tersebut.
Komunikasi berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi
dan pekerjaan, baik tujuan jangka pendek ataupun tujuan jangka panjang.
Tujuan jangka pendek misalnya untuk memperoleh pujian, menumbuhkan
kesan yang baik, memperoleh simpati, empati, keuntungan material, ekonomi
dan politik, yang antara lain dapat diraih dengan pengelolaan kesan (impression
management), yakni taktik-taktik verbal dan nonverbal, seperti berbicara sopan,
mengobral janji, dan sebagainya yang pada dasarnya untuk menunjukkan
kepada orang lain siapa diri sendiri seperti yang diinginkan. Sementara itu,
tujuan jangka panjang dapat diraih lewat keahlian komunikasi, misalnya
keahlian berpidato, berunding, berbahasa asing ataupun keahlian menulis.
Kedua tujuan itu (jangka pendek dan panjang) tentu saja saling berkaitan dalam
arti bahwa pengelolaan kesan itu secara kumulatif dapat digunakan untuk
mencapai tujuan jangka panjang berupa keberhasilan dalam karier, misalnya
untuk memperoleh jabatan, kekuasaan, penghormatan sosial, dan kekayaan.9
Sedangkan fungsi Komunikasi dalam Organisasi komunikasi punya empat
fungsi sebagaimana berikut:
9
Muh Rizal Masdul, ‘Komunikasi Pembelajaran’, Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan Dan
Keislaman, 13.2 (2018), 1–9
<[Link]
1. Fungsi Informatif
Organisasi dilihat sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information
processing system) di mana seluruh anggota organisasi berharap bisa
memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Dengan
informasi yang didapatkan, anggota organisasi dapat melaksanakan
pekerjaannya secara lebih pasti.
2. Fungsi Regulatif
Fungsi regulatif berkaitan dengan peraturan-peraturan yang ada pada suatu
organisasi. Pada semua organisasi terdapat dua hal yang berpengaruh kepada
fungsi ini. Pertama, atasan (manajemen) yang punya kewenangan untuk
mengendalikan seluruh informasi yang disampaikan. Kedua, terkait dengan
pesan (message). Artinya, pesan-pesan yang bersifat regulatif pada dasarnya
berorientasi pada kerja di mana bawahan memerlukan kepastian peraturan
tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
3. Fungsi Persuasif
Dalam mengatur organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu
membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, banyak
pimpinan lebih memilih mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah,
karena sebuah pekerjaan yang dilakukan secara sukarela akan menghasilkan
kepedulian yang lebih besar dibandingkan ketika pimpinan memperlihatkan
kekuasaan dan kewenangannya terhadap karyawan.
4. Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan
dapat menjalani tugas dan pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi
yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu saluran komunikasi formal, seperti
penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, bulettin) dan laporan
kemajuan organisasi; juga saluran komunikasi informal, seperti perbincangan
antarpribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga atau kegiatan
darmawisata.10
10
Oviva Tidal Jumrad and Ira Dwi Mayang Sari, ‘Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi
Melalui Group Chat Whatsapp Oriflame’, Jurnal Common, 3.1 (2019), 104–14
<[Link]
KEISMPULAN
Perkembangan ilmu teknologi informasi dan komunikasi Pendidikan saat ini
begitu pesat sehingga mau tidak mau kita harus selalu siap dan mengikuti
perkebangnya karena ini sudah tidak hanya menjadi keinginan tapi sudah menjadi
kebutuhan dalam kehidupan sehari-sehari. Setiap manusia pasti memerlukan
komunikasi dalam hidupnya baik secara verbal maupun non verbal kemampuan
berkomunikasi yang baik adalah modal utama bagi setiapa manusia karena komunikasi
yang baik itu juga bias menjadi cerminan dirinya.
Seorang guru atau pendidik harus paham betul bagaimana berkomunikasi dan
ber’interaksi dengan baik, benar dan spesifik dengan peserta didiknya karena selain
menjadi contoh guru/pendidik juga merupakan public figur baik dalam lingkungan
sekolah mauapun masyarakat. Salah tujuan komunikasi Pendidikan yaitu untuk
menyampaikan pesan dengan baik dan akurat sehingga apa yang kita sampaikan itu
dapat di terima dengan baik dan mampu menjadikan itu sebuaha pelajaran atau
informasi yang akurat sehingga mampu mengubah pandangan dan tingkah laku
seseorang menjadi lebih baik.
Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mudah di mengerti dan di pahami
jadi penting di ketahui terlebih dahulu ( Apa , Siapa, dan Dimana ) sebelum kita
menyampaikan pesan sehingga apa yang akan kita sampaikan bisa di terima baik dalam
lingkungan keluarga mauapun dilingkungan social.
Daftar Refrensi
Gafari, M Oky Fardian, Fakultas Bahasa, and Universitas Negeri Medan, ‘K d m P’
Inah, Eti Nur, ‘No Title’, 6.1 (2013), 176–88
Jumrad, Oviva Tidal, and Ira Dwi Mayang Sari, ‘Fungsi Komunikasi Dalam Organisasi
Melalui Group Chat Whatsapp Oriflame’, Jurnal Common, 3.1 (2019), 104–14
<[Link]
Khairuzzaman, M Qadafi, ‘Model Komunikasi Interpersonal Dalam Kisah Nabi Yusuf
As.’, 4.1 (2016), 64–75
Masdul, Muh Rizal, ‘Komunikasi Pembelajaran’, Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan Dan
Keislaman, 13.2 (2018), 1–9
<[Link]
Murniati, E, ‘Proses Komunikasi, Prinsip Dasar Proses Komunikasi, Pandangan Ahli
Tentang Proses Komunikasi Model Komunikasi, Fungsi Dan Manfaat Model
Komunikasi, Definisi Informasi’, 2019, 5–8
Nurhadi, Zikri Fachrul, and Achmad Wildan Kurniawan, ‘Jurnal Komunikasi Hasil
Pemikiran Dan Penelitian’, Jurnal Komunikasi Hasil Pemikiran Dan Penelitian,
3.1 (2017), 90–95
Suprapto, Hugo Aries, ‘Pengaruh Komunikasi Efektif Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Kewirausahaan Mahasiswa’, Lectura : Jurnal Pendidikan, 9.1 (2018), 1–9
<[Link]