Proses Pendaftaran Sertifikat Merek Dagang
Proses Pendaftaran Sertifikat Merek Dagang
Disusun Oleh :
Lina Nur Rohmah (2120210072)
Muhammad Rezza Al Rasyid (2120210081)
Izza Aliyatul Muna (2120210082)
.
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
FAKULTAS SYARIAH
PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH
TAHUN 2022
1
KATA PENGANTAR
Makalah ini disusun dengan harapan dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita
semua. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
sempurnanya makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca
umumnya dan bagi kami khususnya.
Penyusun
2
DAFTAR ISI
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hak Kekayaan Intelektual pada prinsipnya adalah hasil pe mikiran, kreasi dan desain
seseorang yang oleh hukum diakui dan diberikan hak atas kebendaan sehingga hasil pemikiran,
kreasi dan desain tersebut dapat diperjualbelikan. Dengan demikian, seseorang yang memiliki
hak kekayaan intelektual dapat diberikan royalti atau pembayaran oleh orang lain yang
memanfaatkan atau menggunakan hak kekayaan intelektualnya tersebut.
Setiap orang atau organisasi perusahaan yang ada, akan sangat peduli akan pentingnya
sebuah nama dan simbol yang digunakan dalam menjalankan bisnis dan pemasaran barang dan
jasa. Simbol-simbol ini akan membantu untuk menunjukkan asal barang dan/atau jasa, serta
perusahaan komersial yang bergerak dalam bidang dan menyediakan barang dan jasa. Dalam
pangsa pasar, nama-nama dan simbol-simbol tersebut dikenali sebagai merek, nama usaha, dan
nama perusahaan. Perbedaan ketiganya ka dang-kadang membuat bingung, baik bagi
pengusaha itu sendiri mau pun masyarakat.
Merek sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual pada dasarnya ialah tanda untuk
mengidentifikasikan asal barang dan jasa dari suatu perusahaan dengan barang dan/atau jasa
perusahaan lain. Merek merupakan ujung tombak perdagangan ba rang dan jasa. Melalui
merek, pengusaha dapat menjaga dan memberi kan jaminan akan kualitas barang dan/atau jasa
1
Zaeni Asyhadie. HUKUM BISNIS: PRINSIP DAN PELAKSANAANNYA DI INDONESIA, (Jakarta: Rajawali
Pers, 2016) cetakan ke-9.
4
yang dihasilkan dan mencegah tindakan persaingan (konkurensi) yang tidak jujur dari
pengusaha lain yang beriktikad buruk yang bermak sud membonceng reputasinya. 2
Tanpa merek konsumen akan sulit untuk menentukan mana yang kualitas produknya
sesuai dengan kebutuhan. Jadi karena itu sebuah merek bisa menjadi aset yang sangat berharga
bagi komersial, bahkan merek seringkali lebih berharga daripada aset nyata perusahaan.
Branding atau pemberian merek pada suatu produk atau layanan juga dapat mencegah
persaingan usaha tidak sehat, dengan merek barang atau jasa dapat dibedakan berdasarkan asal,
kualitas dan jaminan produk original. Produk mahal biasanya bukan karena produknya sendiri,
tapi bisa dari pengaruh merek.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan bagaimana pengaturan merek di Indonesia.
2. Bagaimana pendaftaran dan pengalihan merek.
3. Bagaimana pelanggaran merek.
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa pengertian dan bagaimana pengaturan merek di
Indonesia.
2. Untuk mengetahui bagaimana pendaftaran dan pengalihan merek.
3. Untuk mengetahui bagaimana pelanggaran merek.
2
Rahmi Jened. HUKUM MEREK (TRADEMARK LAW) Dalam Era Globalisasi dan Integrasi Ekonomi,
(Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2015) cetakan ke-1.
5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Merek
Ketentuan merek di atur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. Undang-
Undang ini mencabut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1992 sebagaiman telah di ubah
dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1997 tentang merek. Berdasarkan pasal 1 angka 1
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 yang telah menjelaskan tentang pengertian merek,
Merek merupakan suatu tanda yang biasanya berbentuk angka, huruf, kata, nama, bisa dengan
susunan warna maupun kombinasi antara unsur tersebut yang menjadi pembeda antara produk
barang maupun jasa satu dengan produk barang dan jasa yang lainnya pada kegiatan
perdagangan.
Aaker berpendapat tentang pengertian merek, Merek merupakan nama dan/atau simbol
pembeda (seperti logo, merek dagang, atau desain kemasan) yang di maksud untuk
mengidentifikasi barang jasa salah satu penjual dari sekelompok penjual, dan untuk
membedakan barang atau jasa tersebut dari barang atau jasa dari pesaing.
Jadi merek merupakan tanda yang di gunakan untuk mengidentifikasi produk barang
dan jasa yang satu yang dapat menampilkan perbedaan yang satu dengan yang lainnya yang
mempunyai nilai kegunaan yang sama. Insan Budi Maulana menganggap merek itu sebagai
“roh” bagi produk-produk barang dan jasa tersebut.3 Merek di gunakan sebagai tanda pengenal
barang dan jasa saat di perdagangkan.4
3
Insan Budi Maulana, Sukses Bisnis Melalui Merek, Paten, Dan Hak Cipta (Bandung: Citra Aditya Bakti,
1997), hlm.60.
4
Wiratmo Dianggoro, “Pembaharuan UU Merek dan Dampaknya Bagi Dunia Bisnis”, Jurnal Hukum Bisnis,
Volume 2, 1997, hlm.34.
6
B. Bentuk-Bentuk Merek
Bentuk-bentuk merek yang dapat di pergunakan oleh seseorang atau beberapa orang
secara besama-sama dengan badan hukum yaitu:
a. Gambar/lukisan, bentuk seperti gambar atau lukisan ini harus bisa membedakan
dalam wujud gambar atau lukisan dengan produk yang satu maupun dengan produk
yang lainnya. Contohnya: Cat Kuda Terbang. Gambar atauu lukisan tersebut harus
ada gambar atau lukisan sayap yang di gambar atau di agar terlihat terbang supaya
bisa membedakan antara produk satu dengan produk yang lainnya.
b. Merek perkataan, contohnya: nivea, vaselin, wardah dan lain-lain.
c. Huruf atau angka, contohnya: selep 88, sirup ABC.
d. Merek kombinasi, contohnya: jami nyonya meneer.
C. Jenis-Jenis Merek
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 menjelaskan bahwa ada beberapa
jenis merek, diantaranya sebagai berikut:
a. Merek dagang merupakan merek yang biasanya di gunakan pada barang yang di
perdagangkan oleh seseorang atau kelompok secara bersama-sama atau badan
hukum bertujuan untuk membedakan dengan produk yang berjenis lain.
b. Merek jasa merupakan merek yang biasanya di gunakan pada jasa yang di
perdagangkan oleh seseorang atau kelompok secara bersama-sama atau badan
hukum untuk menbedakan jasa yang berjenis lain.
c. Merek kolektif merupakan merek yang biasanya di gunakan pada barang atau jasa
dengan karakteristik yang sama untuk di perdagangkan oleh seseorang atau
kelompok secara bersama-sama atau badan hukum untuk menbedakan barang atau
jasa yang berjenis lain.5
5
Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis, RajaGrafindo Persada, Depok, hlm. 218-220.
7
perusahaan tersebut. Sejak zaman dahulu pada periode Minoan contohnya orang memberikan
tanda pada barang, hewan maupun manusia miliknya. Di Era yang sama bangsa mesir sudah
memahat batu yang di tuliskan namanya yang di buat atas dasar di perintah oleh sang raja.
Peraturan undang-undang tentang merek di mulai dari Statute of Parma, Merek mempunyai
fungsi yaitu sebagai pembeda suatu produk missal produk pisau, pedang, serta barang-barang
yang di buat dari bahan tembaga yang lain.6
Penggunaan merek dagang yang biasanya di kenal mada masa sekarang telah muncul
belum begitu lama, pada masa setelah Revolusi industry pada pertengahan abad XVII. Pada
waktu itu yaitu pada abad pertengahan sistem produksi lebih mengutamakan keterampilan yang
di buat menggunakan kerja tangan tapi pada masa sekarang telah berubah jauh dari pada abad
pertengahan. Pasa masa sekarang ini sistem produksi yang di gunakan menggunakan mesin
yang dapat memproduksi suatu barang dengan kapasitas yang banyak. Berkembangnya
industri, membuat banyak perusahaan-perusahaan yang memasang iklan untuk barang-barang
yang telah di produksi oleh perusahaan tersebut. Dengan memasang iklan tersebut mempunyai
maksud untuk memperkenalkan untuk semua orang tentang produk yang di buatnya tersebut.
Dengan berkembangnya iklan-iklan dan banyaknya yang menggunakan iklan maka fungsi
modern dari iklan tersebut yaitu sebagai tanda pengenal dan pembeda dari produk satu dengan
yang lainnya yang mempunyai daya guna yang sama.
Dari sejarah yang berkembang industry, hukum merek yang berkembang pada abad
XIX sebagai bagian dari hukum yang mengatur masalah persaingan yang biasanya membuat
kecurangan maupun kadang membuat pemalsuan barang. Norma dasar perlindungan merek
bahwa tidak ada siapapun yang berahak menawarkan maupun memperjualkan barang kepada
masyarakat yang seolah-oleh sebagai barang pengusaha lainnya yaitu dengan menggunakan
merek yang sama yang telah di kenal di kalangan masyarakat sebagai merek dari pengusaha
lainnya. Setelah masa demi masa perlindungan di berikan sebuah pengakuan bahwa merek
tersebut merupakan milik seseorang yang di gunakan sebagai tanda pengenal dari barang-
barang yang telah di produksi dan membedakan barang-barang yang telah di produksi
perusahaan lain yang tidak memakain merek tersebut. Pengakuan tersebut, dalam masyarakat
umum mengetahui bahwa merek dagang mempunyai fungsi sebagai pembeda. Dengan
6
Rahmi Janed, 2007, Hak Kekayaan Intelektual Penyalahgunaan Hak Eksklusif, Airlangga University Press,
Surabaya, hlm. 159.
8
pengenalan tersebut masyarakat membeli produk barang dengan merek tertentu yang dapat
menjadikan sebagai objek hal milik dari permilik dari merek tersebut.7
• UU No. 20 Tahun 2016 tentang merek dan indikasi Geografis Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 5953.
• Peraturan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tantang
Pendaftaran Merek.
Seperti kasus yang terjadi pada Geprek Bensu milik Ruben Onsu dengan Kedai
Bengkel Susu (Bensu) milik Jessy Handalim, jika Ruben Onsu yang telah mendaftarkan
mereknya terlebih dahulu dari pada Jessy Handalim maka Ruben Onsu lah yang berhak
mendapatkan perlindungan hukum atas sertidikat merek Bensu yang merujuk pada ketentuan
yang telah mengatur tentang merek tersebut. Jika ada yang menggunakan merek Bensu
tersebut maka harus ijin terlebih dahulu kepada Ruben Onsu selaku pemilik merek tersebut.
Berdasarkan ketentuan UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek syarat dan tata cara
Permohonan Pendaftaran Merek adalah sebagai berikut: 10
1. Permohonan
7
Ibid, hlm. 4.
8
Ludiyanto Hawin, Peranan Merek Dagang Dalam Meningkatkan Perusahaan Dan Aspek-Aspek Hukumnya,
(Yogyakarta: Tesis, 2007), hal. 1
9
Iffan Alif Khoironi, Implementasi Pendaftaran Merek Sebagai Bentuk Perlindungan Hukumpada Home
Industry Eggroll, (Semarang: Unnes Law Jurnal, 2013), hal. 130
10
Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis: Prinsip Dan Pelaksanaannya Di Indonesia Edisi Revisi, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2008), hal. 220
9
Permohonan pendaftaran merek harus diajukan sebagaimana dijelaskan berdasarkan
Undang-Undang No. 15 Tahun 2001, adalah sebagai berikut:
10
Pemohon dapat dilakukan oleh satu orang atau beberapa orang secara bersama-sama,
atau badan hukum. Dalam hal permohonan diajukan oleh beberapa orang yang sama-sama
berhak atas merek tersebut, maka:11
a) semua nama pemohon harus dicantumkan dalam surat permohonan dengan memilih
salah satu alamat sebagai alamat mereka;
b) surat permohonan pendaftaran harus ditandatangani oleh salah satu dari Pemohon
yang berhak atas merek tersebut dengan melampirkan persetujuan tertulis dari para
pemohon yang mewakilkan; dan
c) apabila permohonan pendaftaran dilakukan oleh seorang Kuasa, Surat Kuasa harus
ditandatangani oleh semua pihak yang berhak atas merek tersebut.
2. Pemeriksaaan
Selanjutnya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari sejak tanggal penerimaan
Direktorat Jenderal akan menyerahkan permohonan pendaftaran kepada Pemeriksa untuk
dilakukan pemeriksaan substantif. Pemeriksaan substansif adalah suatu pemeriksaan yang
menyangkut apakah permohonan pendaftaran merek tersebut termasuk Merek yang Tidak
Dapat Didaftar dan termasuk permohonan yang harus ditolak.
Suatu merek tidak dapat didaftar apabila merek tersebut mengandung salah satu unsur:
11
Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis: Prinsip Dan Pelaksanaannya Di Indonesia Edisi Revisi, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2008), hal. 222
11
c) telah menjadi milik umum; atau
d) merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan
pendaftarannya. (Pasal 5 UU No. 15 Tahun 2001)
Berdasarkan Pasal 6 UU No. 15 Tahun 2001 permohonan pendaftaran merek yang harus
ditolak adalah:
a) mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek pihak lain
yang sudah terdaftar lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis;
b) mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek yang
sudah terkenal milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis;
c) mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan indikasi geografis
yang sudah dikenal.
Jika pemeriksa melaporkan hasil pemeriksaannya tidak dapat didaftar atau ditolak,
maka atas persetujuan Direktorat Jenderal hal tersebut harus diberitahukan secara tertulis
kepada Pemohon atau Kuasanya dengan menyebutkan alasan-alasannya. Pemohon atau
Kuasanya dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari dapat menyampaikan keberatan atau
tanggapan atas penolakan tersebut dengan mengemukakan alasan.12
Jika tanggapan dan keberatan Pemohon atau Kuasanya di terima, pengumuman Merek
akan dilakukan, sebaliknya jika tidak diterima, atas persetujuan Direktorat Jenderal akan
ditetapkan Surat keputusan tentang penolakan permohonan pendaftaran. Merek terdaftar
mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh) tahun dan surat sejak tanggal
penerimaan permohonan merek bersangkutan. Atas permohonan pemilik merek jangka waktu
perlindungan merek terdaftar dapat diperpanjang setiap kali untuk jangka waktu yang sama.13
3. Pengumuman
12
Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis: Prinsip Dan Pelaksanaannya Di Indonesia Edisi Revisi, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2008), hal. 223
13
Sri Husnulwati, Pemanfaatan Merek Untuk Usaha Kecil Dan Menengah, (Palembang: Jurnal Media Wahana
Ekonomika, 2012 ), hal. 64
12
a) nama dan alamat lengkap pemohon, termasuk Kuasa apabila permohonan diajukan
melalui Kuasa;
b) kelas dan jenis barang dan atau jasa bagi Merek yang dimohonkan pendaftarannya;
c) tanggal penerimaan;
d) nama negara dan tanggal penerimaan permohonan yang pertama kali dalam hal
permohonan diajukan dengan Hak Prioritas; dan
e) contoh merek, termasuk keterangan mengenai warna dan apabila etiket merek
menggunakan bahasa asing dan atau huruf latin dan atau angka yang tidak lazim
digunakan dalam bahasa Indonesia, huruf latin atau angka yang lazim digunakan
dalam bahasa Indonesia, serta cara pengucapannya dalam ejaan latin.
Pengumuman sebagaimana tersebut di atas harus berlangsung selama tiga bulan dan dilakukan
dengan:
a) menempatkannya dalam Berita Resmi Merek yang diterbitkan secara berkala oleh
Direktorat Jenderal; dan/atau
b) menempatkannya pada sarana khusus yang dengan mudah serta jelas dapat dilihat oleh
masyarakat yang disediakan oleh Direktoral Jenderal.14
Selama waktu pengumuman Merek dalam Berita Resmi Merek, masing-masing pihak
dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada Direktorat Jendral atas Permohonan
Pendaftaran Merek dengan dikenai biaya. Dalam jangka empat belas hari sejak diterimanya
keberatan, Direktorat jendral mengirimkan Salinan surat keberatan kepada pemohon atau
kuasanya. Pemohon atau kuasanya membalas surat keberatan dengan sanggahan kepada
Direktorat Jendral dalam jangka paling lama dua bulan.
a) Sebagai alat bukti bagi pemilik yang berhak atas merek yang didaftarkan;
b) Sebagai dasar penolakan terhadap merek yang sama keseluruhan atau sama pada
pokoknya yang dimohonkan pendaftaran oleh orang lain untuk barang/jasa sejenis;
c) Sebagai dasar untuk mencegah orang lain memakai merek yang sama keseluruhan atau
sama pada pokoknya dalam peredaran untuk barang/jasa sejenis.15
14
Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis: Prinsip Dan Pelaksanaannya Di Indonesia Edisi Revisi, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2008), hal. 224
15
Sri Husnulwati, Pemanfaatan Merek Untuk Usaha Kecil Dan Menengah, (Palembang: Jurnal Media Wahana
Ekonomika, 2012 ), hal. 63
13
F. Syarat dan Tata Cara Pengalihan Hak Merek
Pengalihan Hak atas Merek terdaftar dimohonkan pencatatannya kepada Menteri
disertai dengan dokumen pendukung atas kepemilikan Hak Merek tersebut. Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek Dan Indikasi Geografis, mengatur mengenai pengalihan
hak atas merek terdaftar, sebagaimana dinyatakan pada Pasal 41 ayat (1) Hak atas Merek
terdaftar dapat beralih atau dialihkan karena:
a) pewarisan
b) wasiat
c) wakaf
d) hibah
e) perjanjian atau
f) sebab lain yang dibenarkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan.
Syarat dan tata cara diatur secara lengkap oleh Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 67
Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek (Permenkumham 67/2016), yaitu sebagai berikut:
1. Permohonan pencatatan Pengalihan Merek dapat dilakukan oleh Pemilik Merek atau
kuasanya. Permohonan dapat dilakukan secara elektronik atau nonelektronik (Pasal 38
ayat (1)).
2. Dalam mengajukan permohonan, harus melampirkan syarat-syarat berupa:
a) Akta hibah akta perjanjian atau bukti lain yang dibenarkan oleh Undang-
Undang;
b) Fotokopi sertifikat Merek, petikan resmi Merek terdaftar, atau bukti
Permohonan;
c) Salinan sah akta badan hukum, jika penerima hak merupakan badan hukum;
Fotokopi identitas pemohon;
d) Surat kuasa, jika diajukan melalui Kuasa; dan
e) Bukti pembayaran biaya (Pasal 39).
3. Dilakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen persyaratan selama jangka
waktu lima belas hari. Dalam hal dokumen tidak lengkap, maka pemohon wajib
melengkapi persyaratan selama 3 bulan. Apabila dalam 3 bulan pemohon tidak
melengkapi persyaratan, permohonan dianggap ditarik kembali. (Pasal 43-44).
14
4. Dalam hal persyaratan telah dinyatakan lengkap, maka Menteri melakukan pencatatan
pengalihan hak atas Merek terdaftar dalam jangka waktu 6 bulan. Menteri
memberitahukan pelaksanaan pencatatan pengalihan hak atas Merek secara tertulis
kepada Pemohon atau Kuasanya. Menteri mengumumkan pengalihan hak atas Merek
yang telah dicatatkan dalam Berita Resmi Merek. (Pasal 45).
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait pengalihan hak atas merek, yaitu: 16
a) Pengalihan Hak atas Merek terdaftar oleh Pemilik Merek yang memiliki lebih dari satu
Merek terdaftar yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya
untuk barang dan/atau jasa yang sejenis hanya dapat dilakukan jika semua Merek
terdaftar tersebut dialihkan kepada pihak yang sama.
b) Pengalihan Hak atas Merek terdaftar yang tidak dicatatkan tidak berakibat hukum pada
pihak ketiga. Penjelasan ayat (6) Penentuan bahwa akibat hukum tersebut baru berlaku
setelah pengalihan Hak atas Merek dicatat, dimaksudkan untuk memudahkan
pengawasan dan mewujudkan kepastian hukum.
c) Pengalihan Hak atas Merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan pada
saat proses Permohonan pendaftaran Merek. Penjelasan ayat (8) Merek yang masih
dalam proses Permohonan dapat pula dimohonkan pencatatan pengalihan hak.
1) Merek tidak digunakan selama 3 (tiga) tahun berturut-turut dalam perdagangan barang
dan jasa sejak tanggal pendaftaran atau pema kaian terakhir, kecuali apabila ada alasan
yang dapat diterima oleh Ditjen HAKI; atau
2) Merek digunakan untuk jenis barang dan jasa yang tidak sesuai dengan jenis barang
atau jasa yang dimohonkan pendaftarannya, termasuk penggunaan merek yang tidak
sesuai dengan merek terdaftar.
16
Kristami Tinenta, Pengalihan Hak Atas Merek Terdaftar Menurut Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, (Manado, Lex Privatum, 2016), hal. 113
15
merek yang telah dihapus kan sebagaimana tersebut di atas, pemilik merek dapat mengajukan
kepada Pengadilan Niaga yang selanjutnya apabila pemilik merek masih tidak puas dengan
putusan Pengadilan Niaga, dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.
Penghapusan pendaftaran Merek akan dicatat dalam Daftar Umum Merek dan
diumumkan dalam Berita Resmi Merek yang selanjutnya diberitahukan secara tertulis kepada
pemilik Merek atau kuasanya dengan menyebutkan alasan penghapusan dan menegaskan
bahwa terhitung sejak tanggal tanggal penghapusan dari Daftar Umum Merek, Sertifikat Merek
dinyatakan tidak berlaku. Namun demikian, dalam hal merek masih terikat perjanjian lisensi,
penghapusan hanya dilakukan apabila hal tersebut disetujui secara tertulis oleh penerima
lisensi.
Merek yang telah terdaftar juga dapat dibatalkan dengan suatu gu gatan yang hanya
dapat diajukan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak tangal pendaftaran merek. Gugatan
diajukan kepada Pengadilan Niaga Gugatan pembatalan diajukan apabila merek yang
bersangkutan berten tangan dengan moralitas agama, kesusilaan, dan ketertiban umum. Terma
suk dalam pengertian bertentangan dengan moralitas agama kesusilaan, atau ketertiban umum
adalah apabila penggunaan tanda tersebut dapat menyinggung perasaan, kesopanan,
ketenteraman, atau keagamaan dari khalayak umum atau dari golongan masyarakat tertentu.17
a) Diajukan kepada Ketua Pengadilan Niaga dalam wilayah tempat tinggal atau domisili
tergugat. Apabila tergugat bertempat tinggal di luar wilayah Indonesia, gugatan
diajukan kepada Ketua Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
17
Farida Hasyim. HUKUM DAGANG, (Jakarta: Sinar Grafika, 2014) hlm. 213
16
b) Panitera akan mendaftarkan gugatan pembatalan pada tanggal gugatan yang
bersangkutan dan kepada penggugat diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani
panitera dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran gugatan.
c) Panitera menyampaikan gugatan pembatalan kepada Ketua Penga dilan Niaga dalam
jangka waktu paling lama 2 (dua) hari terhitung sejak gugatan didaftarkan.
d) Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari terhitung sejak tanggal gugatan
pembatalan didaftarkan, Pengadilan Niaga mempelajari gugatan dan menetapkan hari
sidang.
e) Sidang pemeriksaan atas gugatan pembatalan diselenggarakan dalam jangka waktu
paling lama 60 (enam puluh) hari setelah gugatan [Link] Browne
f) Selanjutnya putusan atas gugatan pembatalan harus diucapkan paling lama 90
(sembilan puluh) hari setelah gugatan didaftarkan dan dapat diperpanjang paling lama
30 (tiga puluh) hari atas persetujuan Ketua Mahkamah Agung. Putusan diucapkan
dalam sidang terbuka untuk umum dan dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun
terhadap putusan tersebut diajukan upaya hukum.
g) Atas putusan tersebut di atas, akan disampaikan oleh juru sita kepada para pihak
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari setelah putusan gugatan pembatalan
diucapkan.
Selain penyelesaian gugatan dengan cara sebagaimana diuraikan di atas, para pihak
dapat pula menyelesaikan sengketa yang timbul melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian
sengketa, yang selanjutnya materi dimaksud dapat dilihat pada bagian mengenai arbitrase
sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.18
18
Ibid, hlm. 215
17
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Merek merupakan tanda yang di gunakan untuk mengidentifikasi produk barang dan jasa
yang satu yang dapat menampilkan perbedaan yang satu dengan yang lainnya yang mempunyai
nilai kegunaan yang sama. Pengaturan dasar tentang merek di antaranya sebagai berikut:
• UU No. 20 Tahun 2016 tentang merek dan indikasi Geografis Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia No. 5953.
• Peraturan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tantang
Pendaftaran Merek.
Pasal 41 ayat (1) Hak atas Merek terdaftar dapat beralih atau dialihkan karena: Pewarisan,
wasiat, wakaf, hibah, perjanjian atau, sebab lain yang dibenarkan oleh ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Pemilik merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak lain yang secara
tanpa hak menggunakan merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau
keseluruhannya untuk barang atau jasa yang sejenis yang diajukan kepada Pengadilan Niaga,
yang berupa:
18
DAFTAR PUSTAKA
Dianggoro, Wiratmo. “Pembaharuan UU Merek dan Dampaknya Bagi Dunia Bisnis”, Jurnal
Hukum Bisnis, Volume 2, 1997.
Hawin, Ludiyanto. Peranan Merek Dagang Dalam Meningkatkan Perusahaan Dan Aspek-
Aspek Hukumnya, (Yogyakarta: Tesis, 2007)
Husnulwati, Sri. Pemanfaatan Merek Untuk Usaha Kecil Dan Menengah, (Palembang: Jurnal
Media Wahana Ekonomika, 2012 )
Jened, Rahmi. HUKUM MEREK (TRADEMARK LAW) Dalam Era Globalisasi dan Integrasi
Ekonomi, (Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP, 2015) cetakan ke-1
Maulana, Insan Budi. Sukses Bisnis Melalui Merek, Paten, Dan Hak Cipta (Bandung: Citra
Aditya Bakti, 1997)
Tinenta, Kristami. Pengalihan Hak Atas Merek Terdaftar Menurut Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, (Manado: Lex
Privatum, 2016)
19