0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan9 halaman

Indeks Kepipihan dan Kelonjongan Agregat

(1) Dokumen ini membahas indeks kepipihan dan kelonjongan agregat yang ditentukan berdasarkan perbandingan diameter agregat. (2) Indeks tersebut menunjukkan persentase agregat pipih dan lonjong, yang idealnya rendah karena mempengaruhi kualitas perkerasan. (3) Prosedur pengujian meliputi pengambilan sampel, penyaringan, dan pengukuran diameter untuk menghitung indeks kepipihan dan kelonjongan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan9 halaman

Indeks Kepipihan dan Kelonjongan Agregat

(1) Dokumen ini membahas indeks kepipihan dan kelonjongan agregat yang ditentukan berdasarkan perbandingan diameter agregat. (2) Indeks tersebut menunjukkan persentase agregat pipih dan lonjong, yang idealnya rendah karena mempengaruhi kualitas perkerasan. (3) Prosedur pengujian meliputi pengambilan sampel, penyaringan, dan pengukuran diameter untuk menghitung indeks kepipihan dan kelonjongan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

INDEKS KEPIPIHAN DAN KELONJONGAN (FLANKINESS AND


ELONGATION INDEX)

3.1. Pendahuluan

Bentuk butiran agregat adalah ukuran normal dari sebuah agregat dimana ukuran
nominal ini bergantung kepada besar ukuran agregat dominan pada suatu gradasi
tertentu. [1] Suatu agregat dikatakan pipih, lonjong dan pipih atau berdimensi
seragam ditentukan berdasarkan perbandingan antara diameter terpendek,
terpanjang dan rata-ratanya. BSI menentukan jika perbandingan antara rata-rata
diameter dengan diameter terpanjang kurang dari 0,55 maka bentuk agregat tersebut
adalah lonjong, sedangkan jika perbandingan antara diameter terpendek dengan
rata-rata diameter kurang dari 0,60 maka bentuk agregat tersebut adalah pipih.

Berdasarkan, British Standard Institution, BSI, (1975) agregat dibagi ke dalam


enam kategori yaitu, bulat (rounded), tidak beraturan (irregular), bersudut
(angular), pipih (flaky), lonjong (elongated), serta pipih dan lonjong (flaky and
elongated). Kategori bulat, tidak beraturan, dan bersudut untuk keperluan tertentu
dikelompokan dalam satu kategori, yaitu berdimensi seragam (equidimensional
atau cuboidal).

Tollist mendefinisikan bahwa agregat berbentuk pipih jika agregat tersebut lebih
tipis minimal 60% dari diameter rata-rata. Sedangkan agregat lonjong jika ukuran
terpanjangnya lebih panjang minimal 180% diameter rata-rata. Diameter rata-rata
dihitung berdasarkan ukuran saringan. Misalnya untuk agregat yang lolos saringan
14,0 mm dan tertahan di saringan 10,0 mm (14 -10 mm) maka diameter rata-ratanya
adalah 11,125 mm. Praktikum ini pada dasarnya adalah menentukan persentase
jumlah agregat yang pipih dan lonjong dari suatu sampel agregat. Prosedur
pengerjaan praktikum ini didasarkan pada British Standard, BS 812, bagian 3,
tahun 1975.
3.2. Tujuan Percobaan

Pengujian ini bertujuan untuk mmenilai secara kuantitatif distribusi agregat yang
berbentuk flaky (pipih) dan elongated (lonjong), yang dinyatakan dengan indeks
Kepipihan dan indeka Kelonjongan.

3.3. Alat dan Bahan Percobaan

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada percobaan indeks kepipihan dan
kelonjongan (flakiness and elongation index) ini adalah sebagai berikut.

3.3.1. Alat-alat Percobaan

Adapun alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut.
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram

Gambar 3.1. Timbangan dengan Ketelitian 0,1 gram


2. Alat pengukur kepipihan
Gambar 3.2. Alat Pengukur Kepipihan
3. Alat pengukur kelonjongan
Gambar 3.3. Alat Pengukur Kelonjongan
4. Saringan
Gambar 3.4. Saringan
5. Oven

Gambar 3.5. Kontainer


6. Kontainer

Gambar 3.6. Kontainer


3.3.2. Bahan Percobaan

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut.
1. Agregat

Gambar 3.7. Agregat

1.4. Landasan Teori


Nilai indeks menunjukkan persentase jumlah agregat yang pipih atau lonjong dari
sampel yang ada. Semakin besar nilai indeks, maka semakin banyak jumlah agregat
pipih atau lonjongnya. Umumnya agregat yang dihasilkan dari ACP memiliki
bentuk sudut. Pengukuran indeks kepipihan dan kelonjongan biasanya dilakukan
untuk agregat yang diambil langsung dari alam seperti dari sungai atau dari
penggalian langsung batuan di gunung.

Bentuk agregat yang pipih dan atau lonjong tidak disukai dan tidak disarankan
dalan struktur perkerasan jalan karena sifatnya yag mudah patah sehingga dapat
mempengaruhi gradasi agregat, interlocking dan menyebabkan peningkatan
porositas perkerasan tidak beraspal. Bina Marga masih menerima bentuk agregat
pipih maksimal 25%, tetapi penggunaannya dibatasi hanya paling tinggi untuk lapis
pondasi.

Pada praktikum Indeks Kepipihan dan Kelonjongan (Flakiness and Elongation


Index) menggunakan parameter yaitu:
Berat Tertahan pada Saringan
Berat Tertahan (%) = ×100% (2.1)
Total Berat Tertahan
M3E
Indeks Kelonjongan (%) = ×100% (2.2)
M2
M3F
Indeks Kepipihan (%) = × 100% (2.3)
M2
Keterangan :
M2 = Total berat sampel yang lebih dari 5%
M3F = Total berat sampel yang lolos alat pengujian kepipihan
M3E = Total berat sampel yang tertahan alat pengujian kelonjongan

2.5. Prosedur Percobaan

Adapun prosedur percobaan indeks kepipihan dan kelonjongan (flakiness and


elongation index) yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Mengambil sampel agregat + 5000 gram kemudian cuci dan keringkan
dengan oven suhu (110+ 5℃) hingga beratnya tetap.
Gambar 3.8. Mengambil Sampel Agregat
2. Menyaring sampel dengan urutan saringan yang telah disediakan.

Gambar 3.9. Menyaring Sampel


3. Memisahkan atau singkirkan sampel yang tertahan pada saringan 63,0 mm
dan yang lolos daringan 6,3 mm. Berat sisa sampel yang digunakan
dinyatakan sebagai M1 gram.

Gambar 3.10. Memisahkan Sampel yang Tertahan


4. Sampel yang tertahan pada setiap saringan dimasukkan dalam masing-
masing wadah yang ditandai sesuai dengan diameter masing-masing
jaringan.
Gambar 3.11. Memasukkan Sampel Kedalam Wadah
5. Timbang sampel yang tertahan di tiap saringan dan hitung presentasenya.

Gambar 3.12. Menimbang Sampel


6. Pengukuran kepipihan dan kelonjongan dilakukan per fraksi dan hanya
fraksi yang memiliki presentase berat lebih besar atau sama dengan > 5%.

Gambar 3.13. Mengukur Kepipihan dan Kelonjongan


2.6. Data Hasil Percobaan

Dari percobaan pengujian berat jenis agregat halus yang telah dilakukan, diperoleh
data hasil percobaan sebagai berikut.
Tabel 3.1. Data Hasil Percobaan Pengujian Indeks Kepipihan dan Kelonjongan
Massa Lolos Uji Tertahan Uji
Diameter Saringan
Tertahan Kepipihan Kelonjongan
50,8 0 - -
38,1 0 - -
25,4 36 - -
19 897 387 40
12,7 2158 584 282
9,5 1018 342 494
4,75 758 220 528
Sumber: Data Hasil Percobaan

2.7. Perhitungan

Berikut ini perhitungan dari data hasil pengujian indeks kepipihan dan kelonjongan
(flakiness and elongation index).
1. Menghitung presentase berat tertahan dengan persamaan 2.1
Total berat tertahan
M1 = 36 + 897 + 2158 + 1018 + 758
= 4867
a. Presentase berat tertahan saringan 25,4 mm
36
Berat Tertahan (%) =
4867
= 1%
b. Presentase berat tertahan saringan 19 mm
897
Berat Tertahan (%) =
4867
= 18%
c. Presentase berat tertahan saringan 12,7 mm
2158
Berat Tertahan (%) =
4867
= 43%
d. Presentase berat tertahan saringan 9,5 mm
1018
Berat Tertahan (%) =
4867
= 20%
e. Presentase berat tertahan saringan 4,75 mm
758
Berat Tertahan (%) =
4867
= 15%
2. Menghitung indeks kepipihan dengan persamaan 2.2
1533
Indeks kepipihan = × 100%
4831
= 32%
3. Menghitung indeks kelonjongan dengan persamaan 2.3
1344
Indeks kelonjongan = × 100%
4831
= 28%
Tabel 3.2. Data Hasil Perhitungan Pengujian Indeks Kepipihan dan Kelonjongan
Diameter Berat Presentase Lolos Uji Tertahan Uji
No Saringan Tertahan Tertahan Kepipihan Kelonjongan
(mm) (gram) (%)
1 50,8 0 0 - -
2 38,1 0 0 - -
3 25,4 36 1% - -
4 19 897 18% 387 40
5 12,7 2158 43% 584 282
6 9,5 1018 20% 342 494
7 4,75 758 15% 220 528
8 M1 = M2 = M3F = M3E = 1344
4867 4831 1533
9 Indeks (M3F/M2 ×100%) 32%
Kepipihan
10 Indeks (M3E/M2 ×100%) 28%
Kelonjongan
M2 = M1 - Y
Y adalah sampel dengan % tertahan lebih besar atau sama dengan 5%
Sumber : Data Hasil Percobaan

2.8. Analisis

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, didapat nilai indeks kepipihan sebesar
32% dan nilai indeks kelonjongan sebesar 28%. Mengacu kepada Standar
Spesifikasi British Standard, BS-812, bagian 3, tahun 1975, agregat yang
digunakan dalam percobaan ini termasuk agregat yang yang baik karena memenuhi
standar sebagai bahan lapisan perkerasan jalan karena nilai indeks kepipihan dan
kelonjongan lebih besar dari 25%. Dengan demikian agregat yang akan digunakan
akan mempengaruhi proses pengerasan jalan karena indeks dari agregat yang
dibutuhkan memenuhi standar yang diperluk.

2.9. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang didapatkan dari percobaan kali ini adalah :


1. Nilai indeks kepipihan yang dihasil berdasarkan perhitungan yaitu sebesar
32%.
2. Nilai indeks kelonjongan yang dihasilkan berdasarkan perhitungan yaitu
sebesar 28%.
3. Agregat yang digunakan memenuhi standar sebagai bahan lapisan
perkerasan jalan karena nilai indeks kepipihan dan kelonjongan lebih besar
dari 25%.

2.10. Saran

Saran yang dapat diberikan berdasarkan percobaan kali ini adalah.


1. Sebaiknya dalam melaksanakan pengujian melakukan prosedur percobaan
dengan tertib dan juga ulet agar mendapatkan hasil yang maksimal dan
meminimalisir kesalahan.
2. Sebaiknya praktikan menonton video dan memahami modul pengujian berat
jenis dan penyerapan agregat halus sebelum memulai pengujian.
3. Sebaiknya praktikan memulai dan mengakhiri praktikum dengan rapih dan
bersih.

Anda mungkin juga menyukai