0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan60 halaman

Daya Dukung Pondasi Foot Plat RSUD Baa

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut menganalisis daya dukung pondasi foot plat pada Gedung Rawat Inap RSUD Ba'a Kabupaten Rote Ndao. 2. Hasil analisis menunjukkan daya dukung tanah sebesar 1,5 kg/m2 dan beban pada struktur portal kolom sebesar 530,642 kN. 3. Analisis menunjukkan pondasi foot plat mampu mendukung beban tersebut dengan aman.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan60 halaman

Daya Dukung Pondasi Foot Plat RSUD Baa

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut menganalisis daya dukung pondasi foot plat pada Gedung Rawat Inap RSUD Ba'a Kabupaten Rote Ndao. 2. Hasil analisis menunjukkan daya dukung tanah sebesar 1,5 kg/m2 dan beban pada struktur portal kolom sebesar 530,642 kN. 3. Analisis menunjukkan pondasi foot plat mampu mendukung beban tersebut dengan aman.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS DAYA DUKUNG PONDASI FOOT PLAT PADA GEDUNG RAWAT

INAP RSUD BA’A KABUPATEN ROTE NDAO

Jermia Alexander Christian Leha


Dosen Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik
Universitas Nusa Lontar Rote
Email : j3rm14.l3h4@[Link]

ABSTRAK
Pondasi Foot Plat disebut juga pondasi dangkal dipergunakan untuk konstruksi
beban ringan. Pondasi merupakan pekerjaan yang sangat penting dalam suatu pekerjaan
teknik sipil, karena inilah yang memikul dan menahan suatu beban yang bekerja diatasnya
yaitu beban konstruksi diatas.
Penelitian ini bertujuan menganalisis daya dukung pondasi foot plat pada Gedung
Rawat Inap RSUD Baa Kabupaten Rote Ndao.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis daya dukung tanah dapat
ditentukan dari hasil sondir sebesar 1.50 kg/m2, hasil perhitungan struktur portal kolom akibat
kombinasi beban mati dan hidup terhadap beban gempa berdasarkan SNI 03-2847-2002
dengan menggunakan program SAP2000 adalah Pu,k sebesar 530.642 kN dan Momen (Mu)
sebesar 14.454 kNm.
Analisis daya dukung pondasi foot plat yang dilakukan untuk mampu mendukung dan
memberikan keamanan pada struktur atas. Dari hasil perhitungan tegangan tanah (maks) =
123.6 kN/m2 dan (min) = 99.1 kN/m2, kontrol kuat geser 1 arah adalah Vu = 104.74 < Vc =
417.43 kN dan kontrol kuat geser 2 arah adalah Vu = = 379.83 kN < Vc = 1280.698 kN,
perhitungan tulangan pondasi foot plat yang dikontrol panjang penyaluran tegangan sesuai
dengan peraturan SNI 03 –2847-2002 adalah = 354.48 mm tersebut aman dari 300 mm.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa daya dukung
pondasi foot plat memikul beban yang bekerja pada struktur atas sebesar 530.642 kN
sehingga pondasi tersebut aman.
Kata kunci : Pondasi Foot Plat, Daya Dukung Pondasi

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


ABSTRACT
Foot Plat foundation also called shallow foundation is used for light load construction.
The foundation is a very important job in a civil engineering job, because this is what bears
and holds a burden that works on it, namely the construction burden above.
This study aims to analyze the carrying capacity of foot plate foundation in the Inpatient
Building of Baa District Hospital, Rote Ndao District.
The results showed that the results of the analysis of the carrying capacity of the soil
can be determined from the results of sondir of 1.50 kg / m2, the results of the calculation of
the portal column structure due to a combination of dead and live loads against earthquake
loads based on SNI 03-2847-2002 using SAP2000 program is Pu, k equal to 530,642 kN and
Moment (Mu) of 14,454 [Link]) = 99.1 kN / m2, the 1-way shear strength control is Vu =
104.74max) = 123.6 kN / m2 and (Foot bearing foundation carrying capacity analysis is
carried out to be able to support and provide security for the upper structure.
From the calculation of ground stress ( <Vc = 417.43 kN and the 2-way shear strength
control is Vu = = 379.83 kN <Vc = 1280,698 kN, the calculation of foot plate foundation
which is controlled by the length of the voltage distribution in accordance with SNI 03-2847-
2002 is 354.48 mm = safe from 300 mm.
Based on the results of research conducted obtained that the carrying capacity of the foot
plate foundation shouldered the burden of working on the upper structure of 530,642 kN so
that the foundation is safe.
Keywords : Foot Plate Foundation, Bearing Capacity

2
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
I. PENDAHULUAN ekonomis dalam biaya pembangunan
A. Latar Belakang secara keseluruhan.
Dewasa ini perkembangan dan Suatu struktur bangunan
pertumbuhan pembangunan wilayah gedung terdiri dari struktur atas dan
kabupaten Rote Ndao yang diiringi struktur bawah. Struktur atas
peningkatan populasi penduduk meliputi balok, plat, kolom, serta
sehingga membutuhkan pelayanan atap dan struktur bawah adalah
kesehatan. Seiring dengan hal ini pondasi. Pada saat melaksanakan
dilatar belakangi kesadaran kegiatan pembangunan struktur
masyarakat akan kesehatan, sehingga bangunan gedung, yang pertama-
kebijakan pemerintah melalui Dinas tama dikerjakan adalah pekerjaan
Kesehatan dan Pemerintah Daerah struktur bawah, yaitu pekerjaan
yang mendorong dalam pondasi. Pondasi adalah elemen
meningkatkan pelayanan kesehatan struktur yang sangat penting karena
masyarakat Rote Ndao. Gambaran pondasi berfungsi untuk mendukung
tersebut dapat dicapai dengan seluruh beban bangunan dan
Pembangunan Gedung Rumah Sakit meneruskan beban bangunan tersebut
Umum Daerah Baa Kabupaten Rote kedalam tanah dibawahnya. Pondasi
Ndao. sebagai struktur bawah secara umum
Pembangunan Gedung Rumah dapat menjadi 2 (dua) jenis, yaitu
Sakit ini bertujuan untuk pondasi dangkal (shallow
menghasilkan sebuah bangunan yang foundation) dan pondasi dalam (deep
memiliki fungsi yaitu sebagai tempat foundation). Pondasi dalam
melaksanakan pelayanan kesehatan, digunakan untuk konstruksi yang
membantu pendidikan tenaga medis memiliki beban lebih berat, yaitu bila
spesialis kesehatan dan kedalaman pondasi yang dibutuhkan
meningkatkan pelayanan yang lebih untuk memikul beban sangat besar,
baik terhadap semua masalah sedangkan Pondasi dangkal biasanya
kesehatan masyarakat. Dalam hal digunakan untuk menahan konstruksi
konstruksi, bangunan Gedung yang memiliki beban ringan. Beban
Rumah Sakit ini menggunakan yang dipikul oleh pondasi dangkal
konstruksi beton bertulang, karena harus dapat meneruskan beban ke
selain akan menghasilkan bangunan lapisan tanah kerasnya terletak dekat
yang kuat dan aman juga akan lebih dengan permukaan tanah agar
3

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


pondasi mampu mendukung beban material mutu beton struktur K-250
tersebut. dan mutu tulangan baja U32 yang
Dalam penelitian ini digunakan untuk kolom uk. 40x40
Pembangunan Rumah sakit ini yang cm dan 30x30 cm, Sloof Struktur uk.
dijadikan objek penelitian oleh 30x50 cm, Balok Induk uk. 30x50
penulis adalah Pembangunan cm, Balok Anak uk 25x40 cm dan
Gedung Rawat Inap RSUD Baa ini 20x30 cm, pelat lantai setebal 12 cm
berfungsi untuk memenuhi dan pelat lantai atap setebal 10cm,
pelayanan kesehatan masyarakat dan pondasi foot plat uk.
yang terus meningkat. Dalam 200x200cm dan tebal pondasi foot
konstruksi ini secara umum plat 40cm serta konstruksi kuda-kuda
pembangunan gedung Rawat Inap baja Ringan dengan penutup Atap
RSUD Baa dengan spesifikasi Genteng metal Multi Roof.

Gambar 1. Potongan Memanjang dan Melintang Gedung Rawat Inap RSUD Baa

Pada pembangunan gedung berupa material bangunan yang


Rawat Inap RSUD Baa ini digunakan digunakan untuk mendirikan
adalah Pondasi Foot Plat. Pondasi bangunan, maupun beban hidup
foot plat merupakan salah satu jenis berupa manusia yang menempati
pondasi dangkal. Pondasi foot plat bangunan tersebut, dan juga memikul
digunakan untuk meneruskan beban beban horizontal bangunan seperti
dari struktur bangunan memikul beban gempa dan beban angin.
beban vertikal seperti beban mati
4
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
Setiap pondasi harus mampu B. Identifikasi Masalah
mendukung beban sampai batas Ada beberapa hal yang dapat
keamanan yang telah ditentukan, diidentifikasi pada penelitian ini,
termasuk mendukung beban diantaranya :
maksimum yang mungkin terjadi. 1. Kekuatan tanah yang
Jenis pondasi yang sesuai dengan mendukung beban dari
tanah pendukung yang terletak pada struktur atas ke lapisan
kedalaman 3 meter di bawah tanah dipengaruhi oleh
permukaan tanah adalah Pondasi parameter tanah.
Foot Plat. Kapasitas daya dukung 2. Daya dukung pondasi foot
tanah dapat ditentukan dari pengujian plat harus aman terhadap
sondir langsung di lapangan. beban-beban yang bekerja
Pada penelitian ini penulis akan pada bangunan struktur
membahas pondasi dangkal yakni atas.
pondasi Foot Plat pada permasalahan
perencanaan pondasi dangkal C. Rumusan Masalah
berinteraksi dengan tanah untuk Berdasarkan Identifikasi masalah
menghasilkan daya dukung yang diatas, maka rumusan masalah
mampu mendukung dan memberikan dalam penelitian ini adalah:
keamanan pada struktur atas. Untuk Bagaimana menganalisis daya
menghasilkan daya dukung yang dukung pondasi foot plat pada
akurat maka diperlukan suatu Gedung Rawat Inap RSUD Baa
penyelidikan tanah yang akurat juga. kabupaten Rote Ndao?
Biasanya digunakan penyelidikan
lapangan dengan Sondir. D. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di Agar penelitian yang dilakukan
atas, peneliti merasa tertarik untuk dapat lebih terarah dan sesuai
melakukan penelitian dengan judul: dengan yang diharapkan, maka
“ANALISIS DAYA DUKUNG penelitian dibatasi pada hal-hal
PONDASI FOOT PLAT PADA sebagai berikut :
GEDUNG RAWAT INAP RSUD 1. Data lapangan yang dipakai
BA’A KABUPATEN ROTE adalah data yang berkaitan
NDAO” dengan “Proyek
Pembangunan Gedung
5

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


RSUD Ba’a Kabupaten Struktur yang didesain
Rote Ndao TA. 2016” . dapat mengcover semua
2. Tinjauan Penelitian adalah beban terhadap Bangunan
menghitung daya dukung rencana.
pondasi foot plat terhadap
Beban Mati, Hidup dan E. Tujuan Penelitian
Gempa pada Bangunan Tujuan dari penelitian ini adalah:
sesuai SNI 03-2847-2002. Untuk menganalisis daya dukung
3. Peraturan yang digunakan pondasi foot plat terhadap Beban
SNI 03-2847-2002 Tata Mati, Hidup dan Gempa dengan
Cara Perhitungan Struktur menggunakan Program Hitungan
Beton Untuk Bangunan Struktur SAP2000 dan Analisis
Gedung, SNI 1726-2002 Perhitungan Manual pada
Standar Perencanaan Gedung Inap Rawat RSUD Ba’a
Ketahanan Gempa Untuk Kabupaten Rote Ndao.
Struktur Bangunan Gedung
dan Peraturan Pembebanan F. Manfaat Penelitian
Indonesia Untuk Gedung Manfaat atau kegunaan yang
(PPIUG) 1983. diharapkan dari penelitian ini
4. Analisis struktur (gaya-gaya adalah sebagai berikut:
dalam) menggunakan 1. Hasil penelitian ini akan
program SAP2000. dijadikan bahan masukan
5. Hitungan Daya Dukung bagi civitas akademika
Tanah diambil berdasarkan Universitas Nusa Lontar
analisa dari konsultan dalam rangka
Perencana, Sehingga pengembangan Tri Darma
Penulis hanya fokus pada Perguruan Tinggi.
Perhitungan Pembebanan 2. Hasil penelitian ini juga
Pondasi. Pada Prinsipnya dijadikan sebagai bahan
dalam hitungan Struktur referensi bagi peneliti
Bangunan, Tanah yang ada selanjutnya.
selalu dianggap tanah lunak, 3. Pihak-pihak yang
sehingga dalam membutuhkan informasi
perencanaan, Perkuatan dan mempelajari hal yang
6
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
dibahas dalam laporan hasil 2. Penyelidikan Tanah (Soil
penelitian. Investigation)
Penyelidikan tanah
II. TINJAUAN PUSTAKA (soil investigation) adalah
A. Landasan Teori suatu kegiatan yang
1. Karakteristik Tanah dilakukan untuk
Dalam bukunya Desain mengetahui sifat - sifat dan
Pondasi Tahan Gempa karakteristik tanah untuk
Sesuai SNI 03-1726-2002 keperluan rekayasa
dan SNI 03-2847-2002 (engineering). Adapun
(2013:9), Anugrah tujuan dari penyelidikan
Pamungkas dan Erny tanah adalah untuk
Harianti mengoreksi dalam mengetahui karakteristik
merencanakan struktur tanah dan lapisan tanah
bawah diperlukan data-data yang akan mendukung
mengenai karakteristik bangunan di atasnya.
tanah tempat struktur Pada perencanaan
tersebut berada dan beban pondasi terlebih dahulu
struktur yang bekerja diatas perlu diketahui susunan
struktur bawah yang lapisan tanah yang
direncanakan. Karakteristik sebenarnya pada suatu
tanah meliputi jenis lapisan tempat dan juga hasil
tanah di bawah permukaan pengujian sondir dari
tanah, kadar air, tinggi sampel tanah yang diambil
muka air tanah, dan lain- dari berbagai kedalaman
lain. Beban struktur yang lapisan tanah dan mungkin
bekerja tergantung dari kalau ada perlu juga
jenis material yang diketahui hasil pengamatan
digunakan, jumlah tingkat lapangan yang dilakukan
bangunan, jenis-jenis beban sewaktu pembangunan
yang bekerja pada struktur gedung - gedung atau
tersebut, dan lain-lain. bangunan - bangunan lain
yang didirikan dalam
kondisi tanah yang serupa
7

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


dalam penelitian ini penulis yang bekerja pada tanah di
mendapatkan data atas pondasi.
penyelidikan tanah dari Analisis-analisis
Rumah Sakit Umum kapasitas daya dukung,
Daerah Ba’a Kabupaten dilakukan dengan cara
Rote Ndao. pendekatan untuk
Penyelidikan tanah memudahkan hitungan.
dilakukan dengan Persamaan-persamaan yang
percobaan sondir (the static dibuat, dikaitkan dengan
cone penetration test) sifat-sifat tanah dan bentuk
dengan alat sondir type bidang geser yang terjadi
Gauda kapasitas 2,5 ton saat keruntuhan.
dilakukan di beberapa titik. Analisisnya, dilakukan
Percobaan sondir dengan dengan menganggap bahwa
alat perlengkapan binocus. tanah berkelakuan sebagai
Pembacaan manometer bahan yang bersifat plastis.
setiap interval 20 cm Konsep ini pertama kali
dengan perlengkapan dikenalkan oleh Prandtl
manometer kapasitas 0 – 60 (1921), yang kemudian
kg/cm2 dan 0 – 250 kg/cm2. dikembangkan oleh
3. Daya Dukung Tanah Terzaghi (1943), Meyerhof
Dalam bukunya (1956, 1965), De Beer dan
Desain Pondasi Tahan Vesic (1958) dan lain-
Gempa Sesuai SNI 03- lainnya.
1726-2002 dan SNI 03- Menurut Meyerhof
2847-2002 (2013:11), (1956, 1965) mengusulkan
Anugrah Pamungkas dan untuk menentukan estimasi
Erny Harianti mengatakan bearing capacity (daya
bahwa Kapasitas/daya dukung ijin tanah) memakai
dukung tanah (bearing data pengujian sondir dapat
capacity) adalah kekuatan dihitung langsung dengan
tanah untuk memikul cara adalah
tekanan, atau tekanan q= (1.1)
maksimum yang diijinkan
8
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
dimana : Nilai praktis untuk padanan
q = daya dukung ijin tanah mutu beton antara PBI dan
qc = nilai konus SNI :
 Faktor konversi benda
B. Karakteristik Material uji kubus ke silinder =
a) Mutu Beton 0.83 sedangkan
Beton adalah bagian konversi satuan Mpa ke
dari konstruksi yang dibuat kg/cm2 = 1 Mpa = 1
dari campuran beberapa N/mm2 = 10 kg/cm2.
material sehingga mutunya  Konversi Mutu Beton K
akan banyak tergantung ke Mutu Beton fc’
kondisi material pembentuk fc’ = 0.83 K / 10
ataupun pada proses (Pers. 1.2)
pelaksanaannya harus b) Mutu Baja
dikendalikan agar dicapai Baja merupakan
hasil yang optimal. bahan elemen struktur yang
Mutu beton K adalah memiliki ketahanan
kuat tekan karakteristik terhadap kekuatan tarik
2
beton dalam kg/cm pada tetapi cukup lemah dalam
umur beton 28 hari dengan menahan tekan, dimana
benda uji kubus 15 x 15 x bahan penyusun umumnya
15 cm. mengacu pada PBI berupa Besi (Fe) dan
71 yang merujuk pada Carbon (C) dimana
standar eropa lama, memiliki tambahan bahan
sedangkan mutu beton fc’ penyusun seperti mangan,
adalah kuat tekan beton batu kapur, fosfor dan
dalam Mpa yang sulfur.
disyaratkan dengan benda Menurut SNI 03-
uji silinder 15 cm dengan 2847-2002, tulangan yang
tinggi 30 cm. mengacu pada dapat digunakan pada
standar SNI 03-2847-2002 elemen beton bertulang di
yang merujuk pada ACI batasi hanya pada baja
(American concrete tulangan dan kawat baja
Institute).
9

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


saja. Belum ada peraturan Tulangan
yang mengatur penggunaan Ulir/deform digunakan
tulangan lain, selain dari untuk untuk tulangan
baja tulangan atau kawat longitudinal atau tulangan
baja tersebut. memanjang, dan
Baja tulangan pada mempunyai tegangan leleh
umumnya terbagi dua jenis, (fy) minimal 300 MPa
yaitu (disebut BJTD-30). Ukuran
baja tulangan polos dan diameter nominal tulangan
ulir/sirip (deformed). ulir yang dipakai D8, D10,
Tulangan Polos biasanya D13, D16, D19, D22, D25,
digunakan untuk tulangan D32.
geser/begel/sengkang, dan Baja beton yang
mempunyai tegangan leleh dipakai dalam bangunan
(fy) minimal sebesar 240 harus memenuhi ketentuan
MPa (disebut BJTP-24), SNI 03-2847-2002 terhadap
dengan ukuran Ø6, Ø8, metode pengujian dan
Ø10, Ø12, Ø14 dan Ø16 pemeriksaan untuk
(dengan Ø menyatakan bermacam-macam baja
simbol diameter polos). beton menurut tabel kelas
baja tulangan beton.

Tabel 1. Kelas baja tulangan beton


Kelas Baja Mutu Baja Tulangan Tegangan leleh Tegangan leleh
Tulangan (fy) karakteristik (au)
BJTP 24 U-24 (baja lunak) 240 Mpa 2.400 kg/cm2
BJTD 30 U-29 (baja lunak) 300 Mpa 3.000 kg/cm2
BJTD 35 U-32 (baja sedang) 350 Mpa 3.200 kg/cm2
BJTD 40 U-39 (baja keras) 400 Mpa 3.900 kg/cm2
BJTD 50 U-48 (baja keras) 500 Mpa 4.800 kg/cm2
Sumber : SNI 03-2847-2002

10
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
C. Pondasi seperti tekanan angin,
a) Pengertian Umum gempa bumi dan lain-lain.
Pondasi
Dalam bukunya Berdasarkan struktur
Desain Pondasi Tahan beton bertulang, pondasi
Gempa Sesuai SNI 03- berfungsi
1726-2002 dan SNI 03- a. untuk
2847-2002 (2013:1), mendistribusikan
Anugrah Pamungkas dan dan
Erny Harianti mengoreksi memindahkan
setiap bangunan sipil beban-beban
seperti gedung, jembatan, yang bekerja
jalan raya, terowongan, pada struktur
menara, dam/tanggul dan bangunan
sebagainya harus diatasnya ke
mempunyai pondasi yang lapisan tanah
mendukungnya. Istilah dasar yang
pondasi digunakan dalam mendukung
teknik sipil untuk struktur tersebut.
mendefinisikan suatu b. Mengatasi
konstruksi bangunan yang penurunan yang
berfungsi sebagai penopang berlebihan dan
bangunan dan meneruskan penurunan tidak
beban bangunan di atasnya sama pada
(upper structure) ke lapisan struktur.
tanah atau batuan yang c. Memberi
berada dibawahnya. Untuk kestabilan pada
itu, pondasi bangunan harus struktur dalam
diperhitungkan agar dapat memikul beban
menjamin kestabilan horizontal akibat
bangunan terhadap berat angin, gempa
sendiri, beban-beban yang dan lain-lain.
bekerja, gaya-gaya luar Pondasi bangunan
biasanya dibedakan atas
11

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


dua bagian yaitu pondasi Pondasi Telapak (Foot
dangkal (shallow Plat).
foundation) dan pondasi b) Pondasi Telapak (Foot
dalam (deep foundation), Plat)
tergantung dari letak tanah Jenis pondasi yang
kerasnya dan perbandingan sering digunakan oleh
kedalaman dan lebar sebagian orang terutama
pondasi. Pondasi dangkal gedung lantai dua adalah
kedalamannya kurang atau jenis pondasi telapak atau
sama dengan lebar pondasi dikenal juga dengan nama
(D ≤ B) dan dapat Pondasi Foot Plat.
digunakan jika lapisan Dalam bukunya
tanah kerasnya terletak Kolom Fondasi & Balok T
dekat dengan permukaan Beton Bertulang
tanah, sedangkan pondasi (2010:143), Ali Asroni
dalam digunakan jika mengoreksi Secara garis
lapisan tanah keras berada besar, pondasi telapak dapat
jauh dari permukaan tanah. dibedakan menjadi 5 jenis
Seperti telah yaitu:
dijelaskan diatas, bahwanya 1) Pondasi Telapak
pondasi dibedakan atas dua Dinding
bagian yaitu pondasi Pondasi dinding sering
dangkal dan pondasi dalam. juga disebut pondasi
Pondasi dangkal dapat lajur. Pondasi ini
dibedakan atas beberapa bertugas mendukung
jenis, yaitu pondasi telapak, dinding, baik yang
pondasi cakar ayam, menumpu secara
pondasi memanjang, dan konsentris ataupun tidak
pondasi rakit, sedangkan (lihat Gambar 2.1).
pondasi dalam terdiri dari Pelimpahan beban
pondasi sumuran, pondasi kepada pondasi telapak
tiang dan pondasi kaison. dinding pada umumnya
Pondasi yang akan dibahas konsentris, kecuali
pada penelitian ini adalah
12
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
pondasi untuk dinding 3) Pondasi telapak
penahan tanah. gabungan
Jika letak kolom relatif
dekat, fondasinya
digabung menjadi satu.
Pondasi ini memikul
beban-beban melalui
dua atau lebih kolom-
kolom. Bentuk atau tipe
Gambar 2.1 Pondasi Telapak Dinding
pondasi berupa persegi
2) Pondasi telapak tunggal
panjang atau trapezium
Pondasi telapak tunggal
atau kantilever (lihat
sering disebut dengan
Gambar 2.3).
fondasi kolom tunggal,
artinya setiap kolom
mempunyai pondasi
sendiri-sendiri. Untuk
menjamin
keseimbangan dan Gambar 2.3 Pondasi telapak
efisiensi umumnya gabungan
pondasi telapak tunggal
dapat berbentuk bujur 4) Pondasi telapak
sangkar, lingkaran, dan menerus
persegi panjang (lihat Jika letak kolom
Gambar 2.2). berdekatan dan daya
dukung tanah relatif
kecil, lebih baik dibuat
pondasi telapak
menerus. Agar
kedudukan kolom lebih
kokoh dan kuat, maka
Gambar 2.2 Pondasi telapak tunggal antara kolom satu
dengan yang lainnya
dijepit oleh balok sloof.

13

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Balok sloof dicor
bersamaan dengan
pondasi. (lihat Gambar
2.4)

Gambar 2.5. Pondasi telapak mat


Pondasi telapak yang
Gambar 2.4 Pondasi telapak menerus akan dibahas pada
5) Pondasi mat penelitian ini adalah
Pondasi mat sering juga pondasi telapak
disebut fondasi pelat, tunggal.
dipasang di bawah c) Pondasi Telapak Empat
seluruh bangunan, Persegi Panjang
dengan telapak sangat Dalam bukunya
luas dan mendukung Struktur Beton Bertulang
semua kolom dan Berdasarkan SK. SNI T-15-
dinding struktur 1991-03 DEPARTEMEN
bangunan. Umumnya PEKERJAAN UMUM RI
digunakan apabila (1993:351), Istimawan
bangunan harus Dipohusodo mengoreksi
didirikan di atas tanah jenis pondasi yang juga
dasar lembek atau dinamakan pondasi telapak
dengan kata lain karena terpisah ini mungkin
daya dukung tanahnya merupakan jenis yang
sangat kecil. (lihat sering dipakai, karena
Gambar 2.5) paling sederhana dan
ekonomis dibandingkan
berbagai jenis pondasi
lainnya. Pada dasarnya
pondasi tersebut berupa

14
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
suatu plat yang langsung beban vertikal
menyangga sebuah kolom. struktur atas yang
1) Tegangan Tanah bekerja pada pondasi
Tegangan tanah ditambah beban
adalah tegangan pada timbunan dan pondasi
dibawah pondasi yang itu sendiri. Tegangan
mempertimbangkan tanah ini tidak boleh
semua beban diatas melebihi dari daya
pondasi termasuk dukung ijin tanah.

Gambar 2.6. Tegangan tanah yang terjadi pada dasar pondasi

Bila pondasi σmaks =


Pu,k
+1
Mu,x Mu,y
+1 + q ≤ σt
B.L B.L2 B.L2
menerima beban 6 6

aksial dan juga beban


lateral yang
(1.3a)
mengakibatkan terjadi
momen terhadap σ =
,

,

. .
dasar pondasi,
,
distribusi tegangan + q ≤ σt
.
tanah pada dasar
pondasi seperti pada (1.3b)
gambar 2.6 dapat
ditulis persamaan q = (hf x γc) +

dibawah ini : (ht x γt)

(1.3c)

15

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Dimana : Istimawan Dipohusodo
 = tegangan yang mengatakan bahwa
terjadi pada dasar pondasi, karena pondasi telapak
kPa atau KN/m2. bekerja ke arah x dan
σt = daya dukung y, perhitungan kuat
tanah, kPa atau kN/m2. gesernya harus
Pu,k = beban aksial mempertimbangkan
terfaktor pada kolom, kN. dua jenis berbeda,
B dan L = ukuran lebar dan yaitu kuat geser pons
panjang pondasi, m. (geser dua sumbu) dan
Mu,xdan Mu,y = momen kuat geser balok (geser
terfaktor kolom searah sumbu satu sumbu). Pada
X dan sumbu Y, kNm. umumnya, tebal
q = beban terbagi rata pondasi yang
akibat berat sendiri pondasi diperlukan ditentukan
ditambah berat berdasarkan pada
tanah diatas syarat kuat geser yang
pondasi, kN/m2. harus dipenuhi. Gaya
hf = tebal pondasi ≥ geser dua arah sumbu
150 mm (pasal 17.7 SNI 03- disebut juga sebagai
2847-2002). geser pons, karena
ht = tebal tanah diatas kolom cenderung
pondasi, m. untuk mendesak
c dan t = berat per volume melobangi plat tempat
dari beton dan tanah, kN/m3. pondasi yang
2) Kuat Geser mengakibatkan
Dalam bukunya timbulnya tegangan di
Struktur Beton sepanjang keliling
Bertulang Berdasarkan kolom.
SK. SNI T-15-1991-03 a. Kuat geser 1 arah
DEPARTEMEN Perencanaan
PEKERJAAN UMUM pondasi yang bekerja
RI (1993:351), pada satu arah dapat
disamakan dengan
16
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
balok atau plat Balok T Beton
penulangan satu arah. Bertulang (2010:150),
Sesuai dengan SK SNI Ali Asroni mengoreksi
03-2847-2002 Pasal Kuat geser 1 arah
[Link], ditentukan dikontrol dengan cara
bahwa penampang sebagai berikut :
kritis geser satu arah
pada pondasi adalah
bidang vertikal
memotong lebar di
tempat yang berjarak
sama dengan tinggi
efektif dari muka
beban terpusat atau
bidang reaksi.
Dalam bukunya
Kolom Fondasi &

1. Dihitung gaya geser pons terfaktor (Vu)

V = a. B

(1.4a)
( ).( )
σ = σ +

(1.4b)
2. Dihitung gaya geser yang dapat ditahan oleh beton (Vc)
(Pasal [Link])

V = . B. d

(1.4c)
dan f ′ harus ≤ 25/3 MPa (Pasal 13-1-2)
(1.4d)
3. Dikontrol : Vu harus ≤ .Vc dengan  = 0.75
(1.5)

17

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


b. Kuat geser 2 arah boleh lebih besar dari Vc
Sesuai dengan SK SNI kecuali apabila dipasang
03-2847-2002 Sub-Pasal tulangan geser.
[Link], aksi dua arah dimana Dalam bukunya Kolom
masing-masing penampang Fondasi & Balok T Beton
kritis yang akan ditinjau Bertulang (2010:150), Ali
haruslah ditempatkan Asroni mengoreksi Kuat geser
sedemikian hingga perimeter 2 arah (geser pons) dikontrol
bo adalah minimum, tetapi dengan cara sebagai berikut :
tidak perlu lebih dekat daripada
jarak d/2 ke: 1. Dihitung gaya geser pons
(a) Tepi atau sudut kolom, terfaktor (Vu)
beban terpusat atau daerah V = B. L − (b + d). (h +
reaksi, atau d).
(b) Lokasi perubahan ketebalan
pelat seperti pada tepi
(1.6)
kepala kolom atau tepi
2. Dihitung gaya geser yang
daerah penebalan pelat.
ditahan oleh beton (Vc)
Perencanaan fondasi yang
dengan memilih yang
bekerja pada dua arah
terkecil dari nilai Vc
didasarkan pada nilai kuat
berikut pasal ([Link]) :
geser Vn yang ditentukan tidak

. .
𝑉 = 1+ .

(1.7a)

. . .
V = 2+ .

(1.7b)

V = . 𝑓 .𝑏 .d

(1.7c)

18

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Dengan : perencanaan kuat geser adalah
Vu ≤ ϕ Vn dimana Vn = Vc.
c = rasio dari sisi panjang
terhadap sisi pendek pada
3) Tulangan Pondasi
kolom, daerah beban
Peraturan untuk perencanaan
terpusat, atau daerah reaksi
pondasi telapak mengacu pada Pasal
(lihat gambar 2.7)
13.12 dan Pasal 17 SNI 03 – 2847 –
bo = keliling dari
2002. Perencanaan pondasi harus
penampang kritis pada
mencakup segala aspek agar terjamin
pondasi.
keamanannya sesuai dengan
= 2.(b + d) + (h + d),
persyaratan yang berlaku, dan
dalam mm.
jumlah/jarak tulangan yang harus
s= suatu konstanta yang
dipasang pada pondasi.
digunakan untuk
Dalam bukunya Kolom
menghitung Vc , yang
Fondasi & Balok T Beton Bertulang
nilainya tergantung pada
(2010:150), Ali Asroni mengoreksi
letak pondasi (lihat gambar
menurut Pasal 17.4.3 SNI 03 – 2847
2.8)
– 2002, untuk pondasi telapak satu
= 40 untuk pondasi kolom
arah dan pondasi telapak bujur
dalam
sangkar, tulangan harus tesebar
= 30 untuk pondasi kolom
merata pada seluruh lebar pondasi
tepi.
telapak. Untuk pondasi telapak
= 20 untuk pondasi kolom
persegi panjang (lihat Pasal 17.4.4
sudut.
SNI 03-2847-2002), tulangan yang
3. Dikontrol : Vu harus ≤ .Vc
sejajar sisi panjang harus tersebar
dengan  = 0.75 merata pada seluruh lebar pondasi,
(1.5)/diulang sedangkan tulangan yang sejajar sisi
pendek dibagi menjadi dua bagian,
Untuk kedua kuat jenis yaitu tulangan pada jalur pusat
kuat geser pada pondasi (dipasang lebih rapat) dan tulangan
tersebut, apabila untuk pada jalur tepi (dipasang lebih
keduanya tanpa penulangan renggang).
geser, sebagai dasar

19

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Gambar 2.7. Nilai c untuk daerah Gambar 2.8. Letak kolom pada
Pembebanan yang bukan persegi denah gedung

Dalam praktek di lapangan, satu arah saja, dan untuk arah lainnya
biasanya pondasi dicor langsung di dibuat sama dengan arah pertama.
atas tanah, jadi selalu berhubungan Perhitungan tulangan sebaiknya
dengan tanah. Menurut Pasal 9.7.1 dilaksanakan pada tulangan yang
SNI 03-2847-2002, selimut beton menempel di atas, yaitudengan nilai
yang selalu berhubungan dengan ds = 75 + D + D/2. Pada pondasi
tanah diambil minimal 75 mm. telapak persegi panjang, perhitungan
Pada pondasi telapak bujur tulangan dilaksanakan sebagai
sangkar, cukup dihitung tulangan berikut:

1. Hitungan tulangan sejajar sisi panjang, dilaksanakan dengan urutan :


a. Dihitung x = tegangan tanah pada jarak x

σ = σ + . (σ − σ )

(1.8a)
b. Dihitung momen yang terjadi pada pondasi (Mu)
M = . σ . X + . (σ − σ ). X

(1.8b)
c. Dihitung faktor momen pikul K dan Kmaks
K = Mu/ (.b.d2) dengan
b = 1000mm, = 0.8
(1.9a)

20

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


𝐾 Jika fc’ ≤ 31,36 MPa maka
385,2 . 𝛽 . 600 + 𝑓 − 225. 𝛽 . 𝑓 ′ As,u ≥ 𝑓 ′ . b.d / ([Link] ))
= dengan
(600 + 𝑓 ) (1.11c)
𝛽 = 0.85 (1.9b) f. Dihitung jarak tulangan
(s)
Syarat : K harus ≤ Kmaks
s=
. . .
(1.9c) dengan S =
,

d. Dihitung tinggi blok tegangan beton 1000 mm


tekan persegi ekuivalen (a)
. (1.12a)
a= 1− 1− . .
.d
Pasal 12.5.4: s ≤ 2.h
dan s ≤ 450 mm
(1.10)
e. Dihitung As,u dengan rumus : (1.12b)
. . . .
A , = dengan b = g. Digunakan tulangan Dx
– s, luasnya A =
1000 mm
. . .
(1.11a)
Jika fc’ ≤ 31,36 MPa maka (1.13)
As,u ≥ 1,4 b.d / fy (pasal
12.5.1)
(1.11b)

2. Hitungan tulangan sejajar sisi a. Diambil nilai tegangan


pendek, dilaksanakan dengan tanah maksimal (maks)
urutan berikut dari persamaan (1.3a)
b. Dihitung momen pada
pondasi (Mu)
Mu = ½. maks.x2
(1.14)
c. Dihitung nilai K, a, dan
As,udengan persamaan

21

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


(1.19a) sampai dengan s’ = (1/4. . D2.S)
Persamaan (1.11c ) / As,pusatdengan S
= 1000 mm
d. Untuk jalur pusat (1.18)
selebar B: s’ harus
1. Dihitung: As,pusat= memenuhi
([Link],u) / (L + persamaan (1.12a)
B) 3. Digunakan
(1.15) tulangan Dx – s’,
2. Dihitung jarak Luasnya As = (1/4.
tulangan (s) . x2.S).s’
s = (1/4. . D2.S) / (1.13)/diulang
As,pusatdengan S = Pada penulangan pondasi perlu
1000 mm dikontrol panjang penyaluran
(1.16) tegangan tulangan ( λd atau λdh )
Pasal 12.5.4: s ≤ dengan rumus berikut:
2.h dan s ≤ 450 Pasal 14.2.3 SNI 03-2847-2002
mm memberikan persamaan untuk
(1.12a)/diulang panjang penyaluran tulangan
3. Digunakan tarik sebagai berikut:
tulangan Dx – s, 𝜆 =
.
.
( . ). .
𝑑
Luasnya As = (1/4.
. x2.S)/s (1.19)

(1.13)/diulang . ≤ 1,7 ; (c + Ktr)/db ≤


e. Untuk jalur tepi 2,5 dan 𝑓 ′ ≤ 25/3 Mpa
selebar (L-B)/2 : (1.20)
1. Dihitung: As,tepi = dengan:
As,u - As,pusat λd = panjang penyaluran,
(1.17) mm. λd harus ≥ 300 mm
2. Dihitung jarak db = diameter batang
tulangan (s) tulangan, mm
α = faktor lokasi
penulangan

22
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
= 1,3 jika tulangan berada Ktr = faktor tulangan
di atas beton setebal ≥ sengkang,K =
.
. .
300 mm
(untuk penyederhanaan,
= 1,0 untuk tulangan lain
boleh dipakai Ktr = 0
β = faktor pelapis
(Pasal 14. 2. 4))
= 1,5 jika batang atau
Atr = luas penampang
kawat tulangan
total dari semua tulangan
berlapis epoksi
transversal yang berada
dengan selimut beton
dalam rentang daerah
kurang dari 3 . db atau
berspasi s dan yang
spasi bersih kurang
memotong bidang belah
dari 6. db
potensial melalui tulangan
= 1,2 jika batang atau
yang disalurkan, mm
kawat tulangan
fyt = kuat leleh yang
berlapis epoksi
disyaratkan untuk
lainnya
tulangan transversal, MPa
= 1,0 jika tulangan
s = spasi maksimal
tanpa pelapis
sumbu-ke-sumbu
γ = faktor ukuran batang
tulangan transversal yang
tulangan
dipasang di sepanjang λd,
= 0,8 jika digunakan
mm
tulangan D-19 atau
n = jumlah batang atau
yang lebih kecil
kawat yang disalurkan di
= 1,0 jika digunakan
sepanjang bidang belah.
tulangan D-22 atau
Persamaan di atas boleh
yang lebih besar
disederhanakan dengan
c = spasi antar tulangan
mengambil nilai batas bawah
atau dimensi selimut
untuk parameter c dan Ktr yang
beton (diambil nilai
umum, seperti pada Tabel 3.
terkecil), mm

23

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Tabel 2. Persamaan untuk panjang penyaluran tulangan tarik( Pasal 14. 2. 2 )

Kondisi Batang D-19 dan lebih Batang D-22 atau


kecil atau kawat ulir lebih besar
Spasi bersih batang-batang yang
disalurkan atau disambung tidak
kurang dari db, selimut beton
bersih tidak kurang dari db, dan
sengkang atau sengkang ikat yang
dipasang di sepanjang λd tidak 12. f . α. β. λ 3. f . α. β. λ
λ = .d λ = .d
kurang dari persyaratan minimal 25. f ′ 5. f ′
sesuai peraturan atau spasi bersih
batang-batang yang disalurkan atau
disambung tidak kurang dari [Link]
dan selimut beton bersih tidak
kurang dari db.
Kasus-kasus yang lain 18. f . α. β. λ 9. f . α. β. λ
λ = .d λ = .d
25. f ′ 10. f ′

Pasal 14.2.4 SNI 03-2847-2002


juga membolehkan menggunakan 4) Mengontrol kuat dukung
reduksi panjang penyaluran pondasi
apabila luasan tulangan terpasang Dalam bukunya Kolom
pada komponen lentur Fondasi & Balok T Beton Bertulang
melebihiluasan tulangan yang (2010:159), Ali Asroni mengoreksi
dibutuhkan dari analisis, dengan Pondasi harus mampu mendukung
menggunakan faktor pengali luas semua beban yang bekerja pada
tulangan f berikut: bangunan diatasnya. Oleh karena itu
a) Struktur tidak direncanakan disyaratkan bahwa beban aksial

tahan gempa, f = , terfaktor pada kolom (Pu) tidak boleh


,
melampaui kuat dukung dari pondasi
b) Struktur direncanakan tahan
(Pu) yang dikontrol dengan
gempa, f = 1,0

24
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
persamaan berikut (Pasal 12.17.1 Program SAP2000
SNI 03-2847-2002): merupakan suatu program yang
Pu < Pu dipergunakan untuk
Pu =  x 0,85 x fc’ x A1 dengan = menganalisis dan mendesain
0.7 (pasal 12.17.1) struktur, baik bangunan maupun
(1.21) jembatan. Keunggulan program
Dengan: SAP2000 antara lain
Pu = gaya aksial terfaktor (pada ditunjukkan dengan adanya
kolom), N fasilitas untuk desain elemen,
Pu = kuat dukung pondasi yang baik untuk material baja maupun
dibebani, N beton.
fc’ = mutu beton yang disyaratkan, b) Beban Pada Struktur
MPa Pembebanan yang
digunakan dalam melakukan
2
A1 = luas daerah yang dibebani, mm
analisis sesuai dengan kriteria
2. Program SAP2000 desain. Beban-beban ini sesuai
a) Pengertian SAP2000 dengan Pedoman Pembebanan
SAP (System Application Indonesia untuk rumah dan
and Product in data processing) gedung (SKBI-1987) dan fungsi
adalah suatu software yang dari masing-masing elemen
dikembangkan untuk struktur sebagai berikut :
mendukung suatu organisasi a. Berat Sendiri (Self Weight
dalam menjalankan kegiatan Load, W)
operasionalnya secara lebih Berat sendiri adalah berat
efisien dan efektif. SAP sendiri elemen struktur yaitu
merupakan software Enterprise balok, kolom, dan pelat yang
Resources Planning (ERP), menggunakan material beton
yaitu suatu tools IT dan bertulang. Proses
manajemen untuk membantu perhitungan otomatis berat
perusahaan merencanakan dan sendiri struktur dapat
melakukan berbagai aktivitas dilakukan oleh software
sehari-hari. SAP2000.
b. Beban Mati (Dead Load,
DL)
25

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Beban mati adalah berat dari c. Beban Hidup (Live Load,
semua bagian dari suatu LL)
gedung yang bersifat Beban Hidup adalah semua
tetap,termasuk segala unsur beban yang terjadi akibat
tambahan, penyelesaian– penghunian atau penggunaan
penyelesaian, mesin – mesin suatu gedung, dan
sertaperalatan tetap yang kedalamnya termasuk
merupakan bagian tak beban-beban pada lantai
terpisahkan dari gedung itu. yang yang berasal dari
Beban mati (D) yang barang-barang yang dapat
diperhitungkan terdiri dari: berpindah, mesin-mesin
- Berat kolom sendiri serta peralatan yang tidak
- Berat sendiri balok merupakan bagian yang
induk, balok sloof, tidak terpisahkan dari
balok anak, balok ring. gedung dan dapat diganti
- Berat dinding selama masa hidup dari
- Berat pelat lantai gedung itu, sehingga
- Berat penutup lantai mengakibatkan perubahan
Untuk merencanakan dalam pembebanan lantai
gedung ini, beban mati yang dan atap gedung tersebut.
terdiri dari berat sendiri Beban hidup tiap lantai
bahan bangunan dan disesuaikan dengan fungsi
komponen stuktur gedung dan peruntukannya.
menurut Peraturan Berdasarkan peraturan yang
Pembebanan Indonesia digunakan, maka beban
untuk Rumah dan Gedung hidup yang diambil sebagai
(DPU, 1983) yang berikut :
digunakan adalah : Beban atap
- Beton Bertulang : 2400 kg/m3 ....................................... 100
- Baja : 7850 kg/m3 kg/m2
- Beban dinding : 250 kg/m2 Beban lantai
- Beban Plafond : 18 kg/m2 ....................................... 250
2
- Beban tegel spesi : 21 kg/m kg/m2
- Beban tegel keramik : 24 kg/m2
26
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
Faktor beban diperlukan dalam Perlu dan Beban Terfaktor
analisis beban suatu gedung agar adalah kekuatan struktur yang
struktur dan komponen struktur dibutuhkan dalam menampung
memenuhi syarat kekuatan dan beban-beban yang bekerja pada
layak pakai terhadap bermacam- struktur tersebut. Berikut adalah
macam kombinasi beban. spesifikasi Kuat Perlu dan
Berdasarkan SNI 03-2847-2002 Beban Terfaktor pada suatu
pasal 11.2, kombinasi beban struktur gedung:
yang harus dipenuhi yaitu:Kuat

Tabel 3. Kombinasi beban terfaktor


NO KOMBINASI BEBAN FAKTOR U
1 D 1,4 D
2 D,L 1,2 D + 1,6 L

Sumber : SNI 03-2847-2002


Keterangan :
D = Beban mati
L = Beban hidup

c) Analisis struktur dengan SAP2000 Dalam bukunya Analisis &


Analisis yang dapat dilakukan Perancangan Struktur Frame
dengan SAP2000 ini antara meliputi menggunakan SAP2000 (2001:192),
analisis statik dan analisis dinamik Haryanto Yoso Wigroho mengoreksi
serta analisis finite elemen. Analisis Langkah-langkah menginput data
model struktur dapat dilakukan secara dalam SAP2000 sebagai berikut :
2 dimensi dan 3 dimensi. Selain itu, 1. Menentukan geometri struktur
untuk desain SAP2000 telah a. Buka program SAP2000
menyediakan beberapa menu design dengan mengklik shortcut
untuk struktur baja maupun struktur yang terdapat pada desktop
beton, dan tidak tertutup atau memilih SAP2000 dari
kemungkinan menggunakan material- start menu.
material struktur lainnya.

27

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


b. Pada tampilan utama pilih b. Ubah material struktur dengan
(new model) untuk memulai mengubah ‘Frame Section
struktur baru. Property Type’ menjadi
c. Kemudian akan muncul New ‘Concrete’.
Model Template dan ganti c. Untuk mendefinsikan
satuan yang digunakan, penampang, klik Rectangular’
kemudian pilih 3D Frames dan ‘Clik to add Concrete
untuk membuat model. Section’.
d. Setelah memilih 3D Frames, d. Untuk memberi nama pada
maka akan muncul tampilan frame yang akan digambar,
kemudian isi data sesuai data pada ‘Section Name’ isikan
bangunan setelah klik OK nama framenya (contoh :
akan terbentuk struktur. kolom atau balok)
2. Pilih joint pada perletakan e. Untuk mengisi atau mengubah
pondasi, kemudian klik Assign > dimensi penampang sesuai
joint > Restraint data bangunan pada kotak
3. Penentuan material yang ‘Dimensions’
digunakan f. Klik Concrete Reinforcement’,
a. Klik Define >> Material, maka akan muncul tampilan
untuk penentuan material yang dialog box
akan digunakan. g. Pada dialog box tersebut, pilih
b. Klik ‘Add New Material’, ‘Colomn’ pada kotak ‘Design
untuk menambah dan Type’.
mendefinsikan material baru h. Setelah selesai mengisi data-
kemudian akan muncul data kolom, klik ‘OK’.
tampilan dialog i. Klik Menu Define >> Section
c. Isi spesifikasi material yang Properties >>Area Section.
digunakan. Satuan panjang yang
4. Penentuan penampang yang digunakan.
digunakan j. Untuk memberi nama pada
a. Pilih menu Define >> Frame pelat yang digambar, pada
Section >> Add new Property, ‘Section Name’ dan masukan
kemudian akan muncul data tebal pelat sesuai data
tampilan dialog box.
28
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
bangunan pada kotak factor pengali pada
‘Thickness’. ‘Scale Factor’ lalu klik
k. Setelah selesai mengisi data- ‘Add’ untuk
data pelat, klik ‘OK’ menambah jenis beban.
5. Penentuan Jenis Pembebanan 7. Penentuan gaya-gaya yang
a. Penentuan jenis pembebanan bekerja
dengan menu define > load a. Pilih pelat yang akan
case diberi beban, klik
b. Kemudian muncul dialog box, menu Assign>>Area
masukkan tipe-tipe beban Loads>> Pilih jenis
yang akan digunakan dengan beban pada Load
mengisi kolom ’Load Name’ Pattern Name,
dan ‘Tpye Name’ kemudian isi nilai
c. Untuk menambah tipe beban, bebannya.
isi semua kolom pada baris b. Pilih eleman frame
paling atas, kemudian klik (balok/kolom) yang
‘Add New Load’ akan diberi beban, klik
6. Penentuan Kombinasi menu Assgin>>Frame
pembebanan Static
a. Klik menu Define Load>>Distributed,
>>Load Combinations kemudian isi nilai
untuk membuka menu bebannya.
define Response 8. Analisis Struktur
Combination a. Klik menu
b. Klik Add New Analyze>>Set Analysis
Combountuk Options. Pastikan
memasukkan tipe-tipe bahwa analisis
kombinasi yang dilakukan dalam
diperlukan. derajat kebebasan
c. Kemudian akan ruang (translasi arah X,
muncul dialog box, translasi arah Y,
pilih jenis beban pada translasi arah Z, rotasi
drop-down menu terhadap sumbu X,
‘Case Name’ lalu isi rotasi terhadap sumbu
29

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Y, rotasi terhadap Tables. Check list item
sumbu Z). yang diinginkan. Jika
b. Klik menu ingin menampilkan
Analyze>>RunAnalysis output gaya-gaya
. Pastikan tidak ada dalam kolom dan
warning atau error balok, check list
pada proses running Element Output >>
program. Jika terdapat Select Load Case >>
warning atau error OK.
maka harus dilakukan
pengecekan ulang D. Definisi Operasional Penelitian
terhadap model Indentifikasi variabel dalam
struktur. penelitian ini adalah
c. Untuk melihat gaya- - Variabel independen atau
gaya dalam yang variabel Bebas (X) adalah
terjadi pada elemen parameter tanah dan kekuatan
struktur, klik menu bahan bangunan
Display>>Show - Variabel dependen atau variabel
Forces/Stresses>>Fra terikat (Y) adalah daya dukung
mes/Cables. pondasi
d. Untuk melihat lebih Variabel Penelitian dan Definisi
detail maka klik kanan Operasional dari penelitian ini adalah
mouse pada elemen sebagai berikut :
struktur yang - Daya dukung pondasi (Y)
diinginkan. adalah kombinasi dari kekuatan
e. Untuk melihat gaya gesekan tanah terhadap pondasi,
reaksi perletakan, klik kekuatan tanah dimana ujung
menu Display>>Show pondasi itu berdiri, dan juga
Forces/Stresses>Joints pada bahan pondasi itu sendiri.
f. Untuk melihat data - Parameter Tanah (X) adalah
struktur dan hasil hasil penyelidikan tanah yang
analisis dalam bentuk dibutuhkan seperti nilai
tabel, klik menu perlawanan konus dari hasil
Display >> Show pengujian sondir.
30
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
- Kekuatan bahan bangunan (X) komponen atau elemen
adalah mutu bahan yang bangunan atau konstruksi sesuai
dibutuhkan untuk membuat dengan spesifikasi teknis.

E. Indikator Empirik dan Skala Pengukuran


Tabel 4. Variabel Penelitian
VARIABEL SUB VARIABEL INDIKATOR SKALA DATA
Variabel Dependen Jenis Tanah (X1) 1. lempung berlanau Data Kuantitatif
(X) dan berpasir dengan
sedikit kerikil warna
abu-abu, kadar air
sedang dan plastisitas
tinggi

Jenis material 1. Mutu Beton Data Kuantitatif


bangunan (X2) 2. Mutu Baja

Macam Beban (X3) 1. Beban Mati Data Kuantitatif


2. Beban Hidup
3. Beban Gempa
Variabel Independen Daya Dukung 1. Tegangan tanah Data Kuantitatif
(Y) Pondasi (Y) 2. Kuat geser
3. Tulangan pondasi

31

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


F. Kerangka Berpikir dan Hipotesis
1. Kerangka Berpikir
Adapun bagan alur kerangka berpikir pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

RUMUSAN MASALAH

INPUT DATA :

a. Tanah
b. Gambar Struktur
c. Spesifikasi Bahan

PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Analisis struktur dengan Daya Dukung


SAP2000 Analisis Pondasi Foot Plat Tanah
:

- Tegangan Tanah
- Kuat Geser
- Tulangan Pondasi
- Kuat Dukung Pondasi
Gambar 2.9. Kerangka Berpikir

2. Hipotesis Penelitian data yang terkumpul dan harus


Menurut sugiyono (2013;86), diuji secara empiris.
“Hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan Berdasarkan kerangka berpikir
masalah penelitian, oleh karena itu diatas, maka hipotesis yang dapat
rumusan masalah penelitian disajikan oleh penulis adalah :
biasanya disusun dalam kalimat Ho = Daya dukung tanah yang ada
pernyataan”. Hipotesis penelitian lebih besar dari beban yang ada
dapat diartikan sebagai jawaban diatasnya.
yang bersifat sementara terhadap
masalah penelitian, sampai terbukti

32
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
H1 = Daya dukung tanah yang ada Lokasi yang dipilih sebagai
lebih kecil dari beban yang ada tempat penelitian adalah
diatasnya. Gedung RSUD Baa di
III. METODE PENELITIAN Kelurahan Mokdale, Kecamatan
A. Lokasi Penelitian Lobalain, Kabupaten Rote
Ndao.

Lokasi
okasi Penelitian

Sumber : [Link]
[Link]

Gambar 3.1 Lokasi Penelitian

B. Populasi dan sampel 2. Sampel


1. Populasi Untuk mendapatkan
m daya
Dalam penelitian ini Jumlah dukung tanah pada lokasi
bangunan yang dijadikan objek pembangunan gedung RSUD
penelitian oleh penulis adalah 1 Ba’a Kabupaten Rote Ndao
bangunan yakni Bangunan dilakukan pengujian dengan alat
Gedung Rawat Inap pada cone penetration test (Sondir),
kompleks RSUD Ba’a. (Gbr. sebanyak 4 (empat) titik dan Bor
Terlampir) (Hand boring) pada 2 (dua) titik
dalam lokasi RSUD Ba’a bekerja
sama dengan Laboratorium

33

Jurnal
nal Ilmiah Unstar Rote
Pengujian Tanah Jurusan Teknik C. Jenis dan sumber data
Sipil Politeknik Negeri Kupang. 1. Jenis Data
Dari hasil pengujian tanah Adapun data yang digunakan
disimpulkan bahwa deskripsi dan dalam penelitian ini adalah
klasifikasi tanah pada lokasi kualitatif dan kuantitatif.
pembangunan terdiri dari a. Data Kuantitatif adalah data-
lempung berlanau dan berpasir data berupa angka yang
dengan sedikit kerikil warna abu- diambil berdasarkan
abu, kadar air sedang dan kenyataan yang ada di lokasi
plastisitas tinggi. Sehingga penelitian.
disarankan untuk dilakukan b. Data Kualitatif adalah data-
perbaikan tanah dasar dengan data yang diperoleh dari
material urugan yang lebih stabil buku-buku yang
untuk mencegah kerusakan pada berhubungan dengan daya
elemen-elemen nonstruktur. dukung pondasi foot plat.
Nilai daya dukung tanah 2. Sumber Data
dilihat dari besaran cone Dalam suatu penelitian
resistance (qc) hasil sondir. Dari tentunya harus memiliki dasar –
4 (empat) titik sondir nilai qc dasar pembahasan dari suatu
pada kedalaman 2.0 – 3.0 m proyek yang akan diteliti, hal ini
(kedalaman ideal pondasi sangat berkaitan dengan data –
dangkal) berkisar antara 28 – 270 data yang akan dikumpulkan
kg/cm2. Untuk keperluan disain untuk menunjang hasil penelitian
pondasi qc diambil 60 kg/cm2. tersebut.
Daya dukung ijin tanah (q) Data – data yang diperlukan
dihitung langsung dengan pada penelitian dengan judul
persamaan q = qc/40 sehingga “Analisis Daya Dukung Pondasi
nilai daya dukung ijin tanah (q) : Foot Plat Pada Gedung Rawat
q = 60/40 = 1.50 kg/cm2 Inap RSUD Baa kabupaten Rote
Tipe pondasi yang Ndao” terbagi menjadi 2 yaitu :
digunakan adalah pondasi telapak a. Data Primer
diletakan pada kedalaman 3.0 m b. Data Sekunder
dari muka tanah.

34
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
a)Data Primer  Lokasi : Gedung
Data primer merupakan Rawat Inap RSUD
data yang diperoleh langsung Baa Kabupaten Rote
dilapangan untuk dijadikan Ndao
data dasar, namun dapat juga  Sumber : pengamatan
dijadikan pengontrol data dan survey di
yang sudah tersedia pada data lapangan
[Link]-data yang  Fungsi :
berhubungan dengan data - Mengetahui
primer meliputi data hasil mutu bahan
survey wawancara kepada beton yang
kontraktor maupun konsultan. digunakan
Dari pengamatan dan survey - Mengetahui
di lapangan didapat data-data mutu bahan
sebagai berikut : baja (tulangan
1. Data Spesifikasi utama dan
Bangunan tulangan
 Lokasi : Gedung sengkang)
Rawat Inap RSUD yang
Baa Kabupaten Rote digunakan
Ndao b) Data Sekunder
 Sumber : pengamatan Data sekunder diperoleh dari
dan survey di beberapa Instansi terkait,
lapangan yang meliputi Data Tanah dan
 Fungsi : Data Gambar Struktur. Data –
- Mengetahui data tersebut dapat dijelaskan
fungsi dan sebagai berikut :
jenis bangunan 1. Data Tanah
- Mengetahui  Sumber : RSUD
Jumlah tiap Ba’a.
lantai  Fungsi : untuk
Bangunan mengindentifikasi
2. Data Spesifikasi Bahan jenis dan struktur
tanah sehingga bisa
35

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


didapatkan hasil = 30, kolom
hitungan Daya sudut = 20)
Dukung Tanah. - Mengetahui besi
2. Data Gambar Kerja tulangan yang
 Sumber : Gedung dipakai
Rawat Inap RSUD - Mengetahui
Ba’a. selimut beton
 Fungsi :
- Mengetahui D. Teknik Pengumpulan Data
denah situasi dan Dari uraian data yang diperlukan maka
detail-detail dapat ditentukan metode pengumpulan
gambar kolom¸ data yang akan [Link]
balok dan metode pengumpulan data tersebut adalah
pondasi foot sebagai berikut :
plat.  Metode Observasi
- Mengetahui Yaitu pengumpulan data melalui
dimensi Pondasi peninjauan dan pengamatan langsung
Foot Plat seperti dilapangan
panjang, lebar  Metode Dokumentasi
dan kedalaman Yaitu pengumpulan data dengan data-
pondasi data dari hasil penyelidikan, penelitian,
- Mengetahui tes atau uji laboratorium, pedoman,
tebal pondasi bahan acuan, maupunstandar yang
- Mengetahui diperlukan dalam perencanaan
tebal pelat lantai bangunan melaluiperpustakaan ataupun
- Mengetahui instansi-instansi pemerintah yang
dimensi kolom terkait.
seperti panjang  Metode Wawancara
dan lebar kolom Yaitu pegumpulan data dengan cara
- Mengetahui mewawancarai langsung pihak-pihak
posisi kolom yang terkait.
(Kolom dalam = Setelah diperoleh data yang diperlukan,
40, kolom Tepi maka selanjutnya dapatdilakukan proses
perhitungan.
36
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
E. Teknik Pengolahan dan Analisis 2. Menghitung daya dukung
Data tanah (𝛔𝐭)
Setelah data-data yang  untuk mengetahui hasil
diperlukan terkumpul, dapat hitungan daya dukung ijin
dilakukan proses perhitungan daya tanah (σt) diambil
dukung pondasi foot plat dan analisis berdasarkan analisa dari
terhadap struktur pada pembangunan konsultan Perencana
Gedung Rawat Inap RSUD Baa yaitu 3. Menganalisis pondasi foot plat
1. Menghitung tegangan tanah
1. Menganalisis data beban (Pu  Mengetahui hasil perhitungan
dan Mu) tegangan tanah maksimum
 Data yang dibutuhkan adalah (maks) dan tegangan tanah
gambar stuktur yang bertujuan minimum (min) dengan
untuk mengetahui dimensi menggunakan program
kolom dan balok, tebal pelat komputer Spread Footing
lantai, dan denah rencana Design For Windows V.1.0
pondasi foot plat. diambil berdasarkan analisa
 Analisa struktur portal kolom dari konsultan Perencana
menggunakan Program 2. Kontrol gaya geser dan
SAP2000 sesuai dengan data penulangan pondasi
gambar denah rencana kolom a. Data yang dibutuhkan adalah
pondasi foot plat. data gambar struktur yang
 analisa tampang menggunakan bertujuan untuk mengetahui
peraturan SNI 03-2847-2002 dimensi kolom (b x h), posisi
 Mengetahui hasil perhitungan kolom (as), selimut beton (sb),
beban aksial (Pu) dan momen dan tulangan besi yang dipakai
(Mu) dari analisa struktur (D), dimensi pondasi (B x L)
portal kolom akibat beban dan tebal pondasi (hf).
mati dan beban hidup dengan b. Data yang dibutuhkan adalah
menggunakan program data Spesifikasi Bahan yang
SAP2000 (lihat Langkah- bertujuan untuk mengetahui
langkah menginput data mutu beton dan mutu baja
dalam SAP2000 halaman 21 yang digunakan.
s.d 23)
37

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


c. Konversi mutu beton K ke rumus persamaan 1.4c
kuat tekan beton (fc’) (lihat halaman 13)
rumus pers. 1.2 halaman 7)  Jika hasil perhitungan Vu dan
d. Konversi mutu baja (tulangan Vc maka menghitung cek
utama dan sengkang) ke kekuatan beton terhadap gaya
tegangan leleh (fy) (lihat tabel geser 1 arah. (lihat rumus
1 halaman 7) persamaan 1.5 halaman 13)
e. Hasil perhitungan tegangan 4. Kontrol kuat geser 2 arah
tanah (maks dan min) seperti  Menghitung nilai (b+d) dan (h
no 3.1 diatas +d)
3. Kontrol kuat geser 1 arah  Menghitung gaya tekan ke
 Menghitung jarak antara tepi atas (gaya geser pons) (Vu)
serat beton tarik ke pusat berat (Lihat rumus persamaan 1.6
tulangan tarik (ds) halaman 14)
ds = sb + D/2  Menghitung rasio dari sisi
 Menghitung tebal efektif panjang terhadap sisi pendek
pondasi (d) pada kolom, daerah beban
d = hf - ds terpusat, atau daerah reaksi
 Menghitung jarak dari area (c)
bidang yang menerima c= hk / bk
tekanan ke atas dari tanah (a)  Menghitung keliling dari
L b penampang kritis pada pondasi
a= −
2 h (bo)
 Menghitung tegangan tanah
bo = 2.(b + d) + (h + d)
sejarak “a” dari tepi pondasi
 Menghitung gaya geser yang
(a) (lihat rumus persamaan
ditahan beton (Vc) (lihat
1.4b halaman 13)
rumus persamaan 1.7a s.d
 Menghitung gaya tekan ke
1.7c halaman 14)
atas dari tanah (Vu) (lihat
 Jika hasil perhitungan Vudan
rumus persamaan 1.4a
Vc maka menghitung cek
halaman 13)
kekuatan beton terhadap gaya
 Menghitung gaya geser yang
geser 2 arah (lihat rumus
dapat ditahan beton (Vc) (lihat
persamaan 1.5 halaman 13)

38
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
5. Menghitung tulangan pondasi  Menghitung jarak tulangan (s)
 Menghitung jarak antara tepi (lihat rumus persamaan1.12a
serat beton tarik ke pusat berat dan 1.12b halaman 16)
tulangan tarik (ds)  Menghitung panjang
1 penyaluran tegangan tulangan
d = sb + D + xD
2 (d)
 Menghitung tebal efektif
 Masukan nilai sesuai petunjuk
pondasi (d)
yang ada di peraturan SNI 03-
d = hf - ds
2847–2002
 Menghitung jarak dari area
 = 1,0 (beton segar
bidang yang menerima
dibawah tulangan hanya
tekanan ke atas dari tanah (x)
75 mm < 300 mm)
L h
x= −  = 1,0 (jika tulangan
2 2
 Menghitung tegangan tanah tanpa pelapis epoksi .
sejarak “x” dari tepi pondasi = 1 < 1,7 (okey)
(x) (lihat rumus persamaan  = 0,8 (digunakan
1.8a halaman 15) tulangan D)
 Menghitung momen yang  = 1,0 (digunakan
terjadi pada pondasi (Mu) beton normal)
(lihat rumus persamaan 1.8b c = 75 mm (< s = 230
halaman 15) mm)
 Menghitung faktor momen Ktr = 0 (untuk
pikul K dan Kmaks(lihat rumus penyederhanaan: Pasal
persamaan 1.9a s.d 1.9c 14.2.4 SNI 03-2847–
halaman 15) 2002)
 Menghitung tinggi blok  Menghitung panjang
tegangan beton tekan persegi penyaluran tegangan (d)
ekuivalen (a) (lihat rumus (lihat rumus persamaan 1.19
persamaan 1.10 halaman 16) dan 1.20 halaman 17)
 Menghitung Luas tulangan 6. Mengontrol kuat dukung
(As,u) (lihat rumus persamaan pondasi (lihat rumus
1.11a s.d 1.11c halaman 16) persamaan 1.21 halaman 18)

39

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


IV. PEMBAHASAN DAN ANALISIS Gedung Rumah Sakit Umum Daerah
DATA Baa Kabupaten Rote Ndao (lihat
A. Pembahasan Gambar 4.1), yaitu Gedung Rawat
1. Hasil Penelitian Inap Rumah Sakit Umum Daerah
Gedung yang menjadi objek Baa.
penelitian dalam skripsi ini berada di

Sumber : data proyek pembangunan Gedung RSUD Baa.


Gambar 4.1. Site Plan Gedung RSUD Baa

Lokasi proyek pembangunan Sebelah timur : Rumah


Gedung Rawat Inap Rumah Sakit Dinas Perawat
Umum Daerah Baa di JL. Baa – Untuk mendapatkan data-data
Busalangga Kecamatan Lobalain spesifikasi bangunan dan data
Kabupaten Rote Ndao. Dimana letak spesifikasi bahan pada daerah
gedung dibatasi oleh : penelitian, maka sudah dilakukan
Sebelah Utara : Jalan pengamatan dan survey yang hasilnya
Lingkungan adalah
Sebelah Barat : Bangunan a. Data Spesifikasi Bangunan
IGD - Jenis Bangunan :
Sebelah Selatan : Bangunan Konstruksi Struktur Beton
Bangsa Dewasa Bertulang

40
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
- Fungsi Bangunan :
Tempat Perawatan Pasien kritis B. Analisis Data
- Tinggi Bangunan : 12 Analisis data yang dilakukan
Meter dalam penelitian ini terdiri dari
- Jumlah Lantai :2 3 (tiga) data yaitu :
- Luas Lantai 1 : 1. Analisis data pembebanan
205 M2 2. Analisis data daya
- Luas lantai 2 : dukung tanah
205 M2 3. Analisis data pondasi foot
- Total Luas Lantai : plat
410 M2
- Konstruksi atap : a) Analisis Data Pembebanan
Konstruksi Kuda-kuda Baja
Sistem struktur yang digunakan
Ringan dengan Penutup Atap
pada bangunan ini adalah sistem
Genteng Metal Multi Roof
struktur rangka ruang (terbuka).
b. Bahan Utama Bangunan
Dalam sistem ini seluruh elemen
1. Mutu Beton K-250 (fc’ =20.7
bangunan dalam arah horizontal,
MPa), yang digunakan pada
vertikal maupun diagonal bekerja
semua elemen struktur utama
sebagai satu-kesatuan dalam
seperti : pondasi, kolom, balok,
menerima dan meneruskan beban-
pelat, sloof utama, dan ring-
beban yang bekerja.
balok utama
2. Baja Ringan untuk struktur A. Permodelan Struktur 3D
rangka atap
Dimensi dari elemen struktur yang
3. Dinding Pengisi, sebagian dari
digunakan untuk permodelan sebagai
pasangan batu bata dan sebagian
disain awal :
dari dinding partisi (bahan:
rangka kayu dilapisi multi- a. Kolom uk. 40x40 cm (Beton
pleks) Bertulang)
4. Multi Roof sebagai penutup b. Sloof Struktur uk. 30x50 cm
atap. (Beton Bertulang)
5. Plafon dari gypsum yang c. Balok Induk uk. 30x50 cm
topang/diikat oleh rangka (Beton Bertulang)
aluminium
41

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


d. Balok Anak uk 25x40 cm dan Tebal plat lantai sebesar 12 cm
20x30 cm (Beton Bertulang) dan plat atap digunakan tebal
e. Plat lantai dimodelkan dengan 10 cm. permodelan plat lantai
pembebanan disesuaikan dan atap dapat dilihat pada
dengan fungsi dari ruang gambar berikut:
dimana plat tersebut berada.
1. Warna pada model tebal pelat lantai = 12 cm

Sumber : Analisis data struktur Gedung dengan program “SAP2000”


Gambar 4.2. warna model pelat lantai t = 12 cm

2. Warna pada model tebal pelat atap = 10 cm

Sumber : Analisis data struktur Gedung dengan program “SAP2000”


Gambar 4.3. warna model pelat atap t = 10 cm

42
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
Warna pada model plat mati akibat berap penutup atap
menggambarkan besaran beban (seng) dan gording, tembok,
yang disesuaikan denga fungsi plafon, dan spesi serta keramik
ruang dimana plat itu berada. dihitung secara terpisah dan
B. Jenis Pembebanan dimasukan sebagai beban mati
Jenis jenis beban yang tambahan baik sebagai beban
diperhitungkan adalah: merata pada lantai maupun sebagai
1. Beban mati akibat berat sendiri beban garis pada balok.
elemen bangunan a. Pembebanan balok (Balok
2. Beban hidup Ring, Balok anak, balok induk
3. Beban gempa dan balok sloof) dan kolom
Besaran beban mati dan beban yang dihitung secara dengan
hidup mengikuti ketentuan yang program komputer “SAP2000”.
termuat di dalam Peraturan Muatan Misalnya dimensi ukuran balok,
Indonesia tahun 1983. Sedangkan kolom, dan pelat digunakan
beban gempa mengikuti Pedoman jenis material yang dipakai
Perencanaan Ketahanan Gempa untuk mendefinsikan spesifikasi
Untuk Rumah dan Gedung 2002 material pada program SAP2000
(SNI 03-1726-2002). sesuai dengan peraturan
1. Beban Mati (D) Pembebanan Indonesia untuk
Berat sendiri struktur dihitung Rumah dan Gedung (DPU,
secara otomatis oleh program 1983) dapat dilihat pada
komputer SAP2000 kecuali beban gambar berikut :

43

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Sumber : Analisis data struktur Gedung dengan program “SAP2000”
Gambar 4.4. Spesifikasi material yang digunakan

Dari gambar 4.4 menunjukkan Beban yang bekerja pada kolom


bahwa seluruh elemen bangunan lantai 1 diakumulasikan dengan
yang sesuai dengan jenis material beban-beban yang bekerja pada
yang digunakan berpengaruh pada kolom lantai 2. Hal ini dilakukan
analisis pembebanan pada agar dimensi kolom lantai 1 tidak
struktur balok, kolom, dan pelat lebih kecil dari dimensi kolom
yang berjalan secara otomatis pada lantai 2. Perhitungan
sendiri oleh program komputer pembebanan pada kolom adalah
SAP2000. Pembebanan Pada sebagai berikut:
Kolom dan Balok

Berat Beton Bertulang = 2400 kg/m2 = 24 kN/m2


1) Pembebanan balok Atap ELV +8.00
a. Balok 25 x 40 = 0.25 x 0.4 m x 24 kN/m2 = 2.4 kN/m2
Balok 15 x 20 = 0.15 x 0.20 m x 24 kN/m2 = 0.72 kN/m2 +
= 3.12 kN/m2
2) Pembebanan kolom dan balok Lantai ELV +6.75
a. Kolom uk. 15 x 15 cm = 0.15 x 0.15 m x 24 kN/m2 = 0.54 kN/m2
b. Balok 15 x 30 cm = 0.30 x 0.15 m x 24 kN/m2 = 1.08 kN/m2
3) Pembebanan kolom dan balok Lantai 2
a. Kolom uk. 40 x 40 cm = 0.40 x 0.40 m x 24 kN/m2 = 3.84 kN/m2
b. Balok 30 x 50 cm = 0.30 x 0.50 m x 24 kN/m2 = 3.60 kN/m2

44
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
Balok 15 x 30 cm = 0.15 x 0.30 m x 24 kN/m2 = 1.08 kN/m2 +
= 4.68 kN/m2
4) Pembebanan Kolom dan balok Lantai 1
a. Kolom uk. 40 x 40 cm = 0.40 x 0.40 m x 24 kN/m2 = 3.84 kN/m2
b. Balok 30 x 50 cm = 0.30 x 0.50 m x 24 kN/m2 = 3.60 kN/m2
Balok 15 x 20 cm = 0.15 x 0.20 m x 24 kN/m2 = 0.72 kN/m2 +
= 4.32 kN/m2

b. Pembebanan Pelat Lantai t = 12 cm


- Tegel Keramik (10 mm) = 0.01 m x 24 kg/m2 = 0.24 kg/m2
- Spesi (20mm) = 0.02 m x 21 kg/m2 = 0.42 kg/m2
- Berat Plafond = 18 kg/m2 +
Dpelatlantai = 18.66 kg/m2
= 0.1866 kN/m2
c. Pembebanan Pelat Atap t = 10 cm
- Spesi (20mm) = 0.02 m x 21 kg/m2 = 0.42 kg/m2
- Berat Plafond = 18 kg/m2 +
Dpelatatap = 18.42 kg/m2
= 0.1842 kN/m2

d. Pembebanan Dinding
- Beban Dinding Lantai 1 = 3 m x 250 kg/m2 = 750 kg/m2
= 7.50 kN/m2
- Beban Dinding Lantai 2 = 4 m x 250 kg/m2 = 1000 kg/m2
= 10 kN/m2
- Beban Dinding Lantai ELV +6.75 = 2.75 m x 250 kg/m2 = 687.5 kg/m2
= 6.875 kN/m2
- Beban Dinding Lantai ELV +8.00 = 4 m x 250 kg/m2 = 1000 kg/m2
= 10 kN/m2
2. Beban hidup (L) bangunan kantor. beban hidup yang
diperhitungkan adalah:
Beban hidup merupakan beban
yang timbul akibat aktivitas yang
terjadi pada bangunan. Sebagai

45

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Beban Pelat lantai atap + berat Gempa 2002 (SNI 03 – 1726 –
manusia = 100 kg/m2 = 1 2002), di mana kota Ba’a masuk
kN/m2 dalam Zona Gempa 5 seperti yang
Beban Pelat lantai + berat ditunjukan dalam gambar 4.5, di
manusia = 250 kg/m2 mana zona 1 merupakan wilayah
= 2.5 kN/m2 dengan tingkat intensitas gempa
terendah dan zona 6 merupakan
3. Beban gempa
wilayah dengan tingkat intensitas
Beban gempa dihitung gempa tertinggi.
berdasarkan ketentuan Peraturan

900 950 1000 1050 1100 1150 1200 1250 1300 1350 1400

100
6

2
00 3
1 4
6
6
5
4
50 2
3

1
5
100 6

Gambar 4.5 Peta Wilayah Gempa Indonesia

Koefisien gempa rencana untuk Berbeda dengan peraturan gempa


masing-masing zona gempa 1983 yang membagi tanah atas dua
tersebut ditunjukan dalam gambar klasifikasi (tanah lunak dan tanah
4.5. Dari gambar tersebut terlihat keras, dalam peraturan gempa 2002
bahwa nilai koefisien gempa tanah dasar dibagi dalam tiga
tergantung dari kondisi tanah yang kelompok utama.
berada di bawah bangunan.

46
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
Tabel-4.1 Jenis-Jenis Tanah

Kecepatan
Rambat Nilai Hasil Test
Kuat Geser
Gelombang Penetrasi
Jenis Tanah Rata-Rata Su
Geser Tanah standart Rata-
(kPa)
Rata-Rata vs Rata (N)
(m/det)

Tanah Keras ≥350 ≥50 ≥100

Tanah Sedang 175≤Vs<350 15≤N<50 50≤Su<100

<175 <15 <50

Tanah Lunak
atau, setiap profil tanah lunak yang tebal totalnya lebih dari
3m dengan PI > 20, wn≥40% dan Su < 25kPa

Tanah Khusus Diperlukan evaluasi khusus disetiap lokasi

Menurut peraturan gempa apabila untuk lapisan setebal


Indonesia tahun 2002 jenis tanah maksimum 30 meter paling atas
ditetapkan sebagai tanah lunak, memenuhi syarat-syarat yang
tanah sedang dan tanah keras ditentukan dalam tabel 4-1.

Gambar 4.6 Koefisien Gempa Rencana Untuk masing-masing Zona

47

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Berdasarkan data kondisi tanah disimpulkan bahwa jenis tanah
yang disampaikan dalam tabel yang berada di bawah bangunan ini
diatas dan hasil penyelidikan tanah, adalah Tanah Sedang

Sumber :[Link]

Gambar 4.6. Grafik Spektrum Respons (SNI 03 – 1726 – 2012)

Namun sekarang di sini SNI 2012 Dari gambar 4.6 menunjukkan


menentukan Periode pendek (Ss) bahwa letak posisi struktur yang
dan Periode 1 detik (S1) dengan akan dianalisis berada di RSUD
peta gempa wilayah Indonesia Baa untuk menentukan
yang terletak di lokasi RSUD Baa karakteristik tanah setempat dan
diambil dari [Link] adalah mengetahui angka Ss dan S1 yang
digunakan pada peta wilayah
Ss = 0.719
Gempa Indonesia yang terdapat
S1 = 0.209 dibagian akhir SNI 1726:2012
untuk menginputkan beban gempa
C. Kombinasi Pembebanan
dalam bentuk respon spectrum
Struktur bangunan harus
pada program SAP2000 dapat
mampu untuk menerima atau
dilihat gambar 4.7 untuk mendapat
memikul berbagai macam
hasil analisis yang akan
pembebanan (Load combination)
ditampilkan struktur gaya-gaya
yang harus diperhitungkan sesuai
dalam pada kombinasi dimana
dengan tabel 1.3 halaman 21 untuk
sudah terdapat beban gempa.
mendefinsikan kombinasi
pembebanan yang ada pada
program SAP2000 dapat dilihat
gambar 4.7.

48

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Sumber : Analisis data struktur Gedung dengan program “SAP2000”
Gambar 4.7. Kombinasi Pembebanan
D. Penentuan beban-beban yang balok yang menerima beban
bekerja mati pada lantai atap = 0.1842

Sistem pembebanan pada garis kN/m2 dengan metode ampelop
balok yang menerima beban (beban segitiga/trapesium)
mati tambahan lantai = 0.1866 Pada program SAP2000 dapat
kN/m2 sedangkan pada garis dilihat gambar berikut

Sumber : Analisis data struktur Gedung dengan program “SAP2000”


Gambar 4.8. Beban mati tambahan Lantai

49

Jurnal Ilmiah Unstar Rote



Sistem pembebanan pada garis balok yang menerima beban hidup lantai = 2.5
kN/m2 sedangkan pada garis balok yang menerima beban hidup pada lantai atap =
1 kN/m2 dengan metode ampelop (beban segitiga/trapesium) Pada program
SAP2000 dapat dilihat gambar berikut

Sumber : Analisis data struktur Gedung dengan program “SAP2000”


Gambar 4.9. Beban hidup tambahan Lantai

Sistem pembebanan pada garis balok yang menerima beban mati dinding pada
program SAP2000 dapat dilihat gambar berikut

Sumber : Analisis data struktur Gedung dengan program “SAP2000”


Gambar 4.10. Beban mati Dinding
E. Hasil Analisis Stuktur hasil analisis gaya-gaya dalam
Proses analisis struktur kolom dalam bentuk tabel dapat
merupakan proses untuk dilihat pada lampiran I.
mengetahui gaya dalam seperti Jadi, Dalam skripsi ini penulis pilih
momen, normal, geser, dan lain- satu batang frame pada ujung
lain serta lendutan yang timbul. bawah struktur portal kolom
Untuk melihat data struktur dan dengan beton bertulang akibat

50
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
tinjauan kombinasi beban mati dan dengan Metode Perhitungan Sebagai
beban hidup (U = 1.2D + 1.6L) Berikut :
dapat dilihat pada tabel 1. Tegangan Tanah
terlampirkan adalah Tegangan tanah dihitung secara
Pu,k = 530.642 kN otomatis oleh program
Mu,k = 14.454 kNm. komputer Spread Footing
Design For Windows V.1.0
4.2.2. Analisis Data Daya Dukung
dapat dilihat pada lampiran II
Tanah
adalah
Nilai daya dukung tanah dilihat a. Tegangan tanah maksimum
dari besaran cone resistance (qc) (maks)
hasil sondir. Dari 4 (empat) titik (maks) = 1.236 kg/cm2 < σt
sondir nilai qc pada kedalaman 2.0 = 1.50 kg/cm2
– 3.0 m (kedalaman ideal pondasi Satuan kg/cm2 harus
dangkal) berkisar antara 28 – 270 konversi ke satuan kN/m2
kg/cm2. Untuk keperluan disain adalah
pondasi qc diambil 60 kg/cm2. (maks) = 123.6 kN/m2 < σt
Daya dukung ijin tanah (q) = 150 kN/m2
dihitung langsung dengan b. Tegangan tanah minimum
persamaan q = qc/40 sehingga nilai (min)
daya dukung ijin tanah (q) : (min) = 0.991 kg/cm2 < σt
q = 60/40 = 1.50 kg/cm2 = 1.50 kg/cm2
Tipe pondasi yang digunakan Satuan kg/cm2 harus
adalah pondasi telapak diletakan konversi ke satuan kN/m2
pada kedalaman 3.0 m dari muka adalah
tanah. (min) = 99.1 kN/m2 < σt =

4.2.3. Analisis Data Pondasi Foot Plat 150 kN/m2

Analisis data pondasi foot plat di 2. Kontrol gaya geser dan

analisa dengan menghitung penulangan pondasi

(Tegangan Tanah, Kontrol Gaya Data-data yang

Geser dan Penulangan Pondasi, diperlukan untuk membahas

Kontrol Kuat Dukung Pondasi) perhitungan kontrol gaya geser


dan penulangan pondasi pada

51

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


penelitian terdiri dari dua pekerjaan Gedung Rawat Inap
sumber data yakni data primer RSUD Baa.
dan data sekunder. - Mutu beton yang digunakan
Data sekunder yang adalah Mutu beton K-250
didapat dari RSUD Ba’a. Data - Mutu baja yang digunakan
ini meliputi data gambar adalah tulangan utama U32
struktur yang berisi dimensi Dalam penelitian ini mutu
kolom, posisi kolom, selimut beton K-250 harus konversi ke
beton, tulangan besi yang satuan Mpa karena analisis ini
dipakai, dimensi pondasi foot saling berhubungan dengan
plat serta tebal pondasi yang analisis mutu kuat tekan beton
dapat dilihat pada lampiran III yang menggunakan satuan
adalah sebagai berikut. Mpa. Jadi, Konversi mutu
- Dimensi kolom (bxh) beton K ke kuat tekan beton
= 400 mm x 400 (fc’) menggunakan rumus
mm persamaan 1.2 halaman 7
- Posisi kolom (as) adalah
= 30 Mutu beton, K-250 = 250
- Selimut beton (sb) kg/cm2
= 25 mm Kuat tekan beton fc’ = 0.83 K /
- Panjang Pondasi (B) 10
= 2m = 0.83 x 250
- Lebar Pondasi (L) / 10
= 2m = 20.7 Mpa
- Tebal pondasi (hf)
Mutu baja (tulangan
= 0,40 m
utama dan tulangan sengkang)
- Tulangan besi yang dipakai
U32 harus konversi ke satuan
= D16
Mpa karena analisis ini saling
Dalam data primer pada
berhubungan dengan
penelitian ini mengacu pada
analisistegangan leleh yang
spesifikasi teknis yang tertuang
menggunakan satuan Mpa.
dalam kontrak pelaksanaan
Jadi, Konversi mutu baja
(tulangan utama dan tulangan

52
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
sengkang) ke tegangan leleh  Tegangan tanah sejarak
(fy) dapat dilihat tabel 1 “a” dari tipe pondasi
halaman 7 adalah tegangan (a)
leleh (fy) yang dipakai adalah σ
350 Mpa dengan tegangan leleh = σ
karakteristik 3200 kg/cm. (L − a). (σ −σ )
+
L
2.1. Kontrol gaya geser
= 99.1 +
Perhitungan kuat gaya gesernya (2−0.433) 𝑥 (123.6 −99.1)
harus mempertimbangkan dua 2

jenis berbeda yaitu kuat geser = 118.296 kN/m2

balok (geser satu sumbu) dan  Gaya tekan ke atas dari

kuat geser pons (geser dua tanah (Vu)


σ
sumbu) V = a. B
2
1. Kontrol kuat gaya geser 1
arah = 0.433 x 2 x (123.6
 Jarak dari area bidang
+ 118.296 )/2
yang menerima tekanan
= 104.74 kN
ke atas dari tanah (a)
ds = sb + D/2
 gaya geser yang dapat
= 25 + (16/2)
ditahan oleh beton
= 33 mm
(.Vc)
d = hf - ds
f′
= 400 - 33 ∅. V = . B. d
6
= 367 mm 0.75 . V
L b
a = − −d √20,7
2 2 = x 2 x 367
6
√20,7
(2 m x 1000) V = 0.75 𝑥 x 2 x 367
= 6
2
= 417.43 kN
− 400mm/2 − 367
Jadi,Kekuatan beton terhadap
= 1000 mm – 200
gaya geser 1 arah adalah Vu =
mm – 367
104.74 < Vc = 417.43 kN
= 433 mm
(AMAN)
= 0.433 m

53

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


2. Kontrol kuat gaya geser 2 bo = 2 (b + d) +
arah (h+d)
Dimensi kolom b = 400 = 2 x 767 + 767
mm = 2 x 1534
h = 400 mm = 3068 mm
b + d = 400
+ 367 = 767 mm = 0.767
m
h + d =  gaya geser yang dapat
400 + 367 = 767 mm = ditahan oleh beton (Vc)
0.767 m
𝑉 = 1+
. .
 Gaya tekan ke atas .
(gaya geser pons) (Vu)
= 1
V = B. L − (b + d). (h
σ + σ 2 √20.7 𝑥 3068 𝑥 367
+ d). + .
2 1.00 6
V
= {2.00 x 2.00 = 2561395.231 N
123.6 + 99.1 = 2561.396 kN
− (0.767) x (0.767)} x
2
= 4.00 – 0.588289 V
x 111.35
= 2
= 379.83 kN
 Rasio dari sisi panjang α .d f ′. b . d
+ .
b 12
terhadap sisi pendek
pada kolom, daerah 30 x 367 √20.7 x 3068 x367
= 2+ .
3068 12
beban terpusat atau
daearah reaksi (c)
= 2385793.276 N
c = h / b = 400 mm /
= 2385.794 kN
400 mm = 1.00 mm
 Keliling dari
V = . 𝑓 .𝑏 .d
penampang kritis pada
pondasi (bo)

54
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
σ
1 = σ
= . √20.7 𝑥 3068 x 367
3 L−x
= 1707596.82 N + . (σ
L
= 1707.597 kN − σ )
= 99.1
dipilih Vc yang terkecil, jadi 2 − 0.80
+ . (123.6
Vc = 1707.597 kN 2
− 99.1)
.Vc = 0.75 x 1707.597
= 1280.698 kN = 113.8 kN/m2
Jadi, Kekuatan beton terhadap
gaya geser 2 arah adalah Vu =
= 379.83 kN < .Vc =  Momen yang terjadi
1280.698 kN (AMAN) pada pondasi ( Mu )
2.2. Penulangan Pondasi M
 tegangan tanah pada 1
= .σ .X
jarak x dari tepi pondasi 2
1
(x) + . (σ − σ ). X
3
1 1
d = sb + D + xD = x 113.8 x 0.64
2 2
d 1
+ ( x (123.6
1 3
= 25 + 16 + x 16
2 − 113.8) x 0.64))
= 49 mm = 38.507 kNm.
= 0.049 m  Faktor momen pikul K
d = hf - ds dan Kmaks
= 400 - 49 Syarat : K harus ≤
= 351 mm Kmaks
L h
x= − K = Mu/ (.b.d2) dengan
2 2
b = 1000mm, = 0.8
2000 400
x= − = (38.507 x 106) /
2 2
= 800 mm (0.8 x 1000 x 3512)
= 0.80 m = 0.3906 MPa

55

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


𝐾
385.2 . 𝛽 . 600 + 𝑓 − 225. 𝛽 . 𝑓 ′ A ,
= dengan 𝛽
(600 + 𝑓 ) 0.85 x 20.7 x 7.887 x 1000
=
= 0.85 350
385.2 𝑥 0.85 𝑥 (600 + 350 − 225 𝑥 0.85) 𝑥 20.7
= = 396.49 mm2
(600 + 350)
= 5.698 Mpa Jika fc’ ≤ 31,36 MPa
Jadi, K < Kmaks = 0.3906 Mpa maka As,u2 = 1,4 b.d /
< 5.698 Mpa (memenuhi fy
syarat) Jika 20.7 Mpa ≤ 31,36
MPa maka As,u2 = 1,4
x 1000 x 351/ 350
 Tinggi blok tegangan As,u2 = 1404 mm2
beton tekan persegi Jika fc’ ≤ 31,36 MPa
ekivalen (a) maka As,u3 = 𝑓 ′ . b.d
a / ([Link] )
Jika 20.7 Mpa ≤ 31,36
= 1
MPa maka As,u3 =
√20.7 𝑥 1000 x 351 /
2. K (4 x 350)
− 1− .d
0.85. f ′

As,u3 =
1140.68 mm2
= 1 Jadi, dipilih yang
terbesar adalah As,u =
2 x 0.3906 1404 mm2
− 1− x351
0.85 x 20.7

= 7.887 mm  Jarak tulangan (s)

 Luas Tulangan (A , )
A s=
,
. . .
0.85. f . a. b dengan S =
= dengan b ,
f
1000 mm
= 1000 mm

56
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
. .  = 0,8
s=
(digunakan tulangan D)
= 143.133 mm  143
 = 1,0
mm
(digunakan beton normal)
s ≤ [Link]
c = 75 mm (< s
143 mm ≤ (2 x 400 =
= 230 mm)
800 mm)
Ktr = 0 (untuk
s ≤ 450 mm
penyederhanaan: Pasal 14.2.4 SNI
143 mm ≤ 450 mm
03-2847–2002)
Jadi, Dipilih yang kecil,
yaitu s = 143 mm Menghitung nilai (c + Ktr)/db ≤ 2,5
= (75 + 0)/16 = 4.69 ≤ 2,5
Panjang penyaluran
tegangan tulangan (d) : Jadi, dipakai (c + Ktr)/db= 4.69

ddiperhitungkan Panjang penyaluran tegangan :

terhadap tulangan 9. f (α. β). γ. λ


λ = . .d
pondasi (lebih aman). 10 f ′ c + K
d
Rumus : λ = 9 x 350 (1 x 1) x 0.8 x 1
λ = x x 16
.
.
( . ). .
.d 10 √20.7 4.69

= 354.48 mm
Masukan nilai sesuai
Jadi, panjang
petunjuk yang ada di
peraturan SNI 03- penyaluran tegangan d

2847–2002 = 354.48 mm ≥ 300

 = 1,0 (beton mm (OK/AMAN)

segar dibawah Panjang tersedia (t) =


tulangan hanya 75 mm B/2 – b/2 – 0.75
< 300 mm)
=
 = 1,0 (jika
2000/2 – 400/2 – 0.75
tulangan tanpa pelapis
epoksi . = 1 < =
1,7 (okey) 799.25 mm

57

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


Karena t = 799.25 mm 2. Untuk mendapatkan hasil
>d = 354.48 mm maka perhitungan pondasi foot
lebar pondasi B sudah plat pada Gedung Rawat
cukup. Inap RSUD Baa, komponen
yang dianalisis adalah :
3. Kontrol Kuat Dukung
a. Perhitungan tegangan
Pondasi
tanah maksimum
Pu < Pu
adalah 123.6 kN/m2
Pu =  x 0,85 x fc’ x A1 dengan
dan tegangan tanah
= 0.7
minimum adalah 99.1
= 0.7 x 0.85 x 20.7 x (400 x
kN/m2, dan
400 mm)
disimpulkan bahwa
= 1970640 N
tegangan tanah
= 1970.64 kN
maksimum dan
Jadi, Pu < Pu = 530.642 kN ≤
minimum tidak
1970.64kN (OK/AMAN) melebihi dari daya
V. PENUTUP dukung ijin tanah
A. Kesimpulan tersebut sudah aman.
Berdasarkan hasil perhitungan b. Dari hasil perhitungan
dan analisis yang didapat dari kontrol kuat geser 1
pembahasan penulisan skripsi arah adalah Vu =
ini, dapat diambil beberapa 104.74 < Vc = 417.43
kesimpulan sebagai berikut kN (Tekanan Geser 1
1. Dari hasil analisis struktur arah lebih kecil dari
portal kolom pada Gedung kekuatan Kuat Geser
Rawat Inap RSUD Baa Pondasi Foot Plat).
akibat kombinasi beban sedangkan hasil
mati dan hidup (1.2D + perhitungan kontrol
1.6L) dengan program kuat geser 2 arah
SAP2000 yang sesuai adalah Vu = = 379.83
dengan SNI 03-2847-2002 kN < Vc = 1280.698
adalah beban aksial (Pu,k) = kN (Tekanan Geser 2
530.642 kN dan Momen arah lebih kecil dari
(Mu,k) = 14.454 kNm. kekuatan Kuat Geser
58
Jurnal Ilmiah Unstar Rote
Pondasi Foot Plat). pondasi foot plat
dengan demikian tersebut aman
disimpulkan bahwa terhadap beban-beban
nilai kedua jenis kuat yang yang bekerja
geser (Vu) pada pada struktur atas.
pondasi foot plat B. Saran
tersebut masih dan Dari hasil perhitungan dan
mampu ditahan oleh kesimpulan diatas, penulis
beton Pondasi Foot memberi saran adalah sebagai
Plat (Vc) berikut.
c. Dari hasil perhitungan 1. Untuk mengetahui nilai
tulangan pondasi foot daya dukung ijin tanah
plat yang dikontrol digunakan hasil
panjang penyaluran pengujian sondir karena
tegangan sesuai perhitungan daya dukung
dengan peraturan SNI pondasi foot plat lebih
03 –2847-2002 adalah spesifik.
= 354.48 mm. ini 2. Dengan menganalisis
kesimpulannya kuat dukung pondasi foot
panjang penyaluran plat memberikan
tegangan tulangan keamanan pada struktur
terhadap tulangan atas terhadap
pondasi foot plat ketidakpastian hitungan
tersebut aman dari 300 yang digunakan.
mm. 3. Disarankan untuk
d. Dari hasil perhitungan penelitian berikut
kuat dukung pondasi sebaiknya melakukan
foot plat pada Gedung penelitian tentang
Rawat Inap RSUD analisis penurunan tanah
Baa adalah = pada bangunan Gedung
530.642 kN ≤ RSUD Baa Kabupaten
1970.64 kN maka Rote Ndao.
dapat disimpulkan
bahwa daya dukung
59

Jurnal Ilmiah Unstar Rote


DAFTAR PUSTAKA

Asroni, Ali, 2010, Kolom Fondasi &


Balok T Beton Bertulang. Yogyakarta:
Graha Ilmu.

Badan Standardisasi Nasional, 2000, SNI


03-2847-2002 Tata Cara Perhitungan
Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung,
Bandung.

Departemen Pekerjaan Umum, 1983,


Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk
Gedung 1983 (PPIUG 1983), Bandung.

Dipohusodo, Istimawan, 1996, Struktur


Beton Bertulang. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.

Wigroho Yoso Haryanto, 2001. Analisis &


Perancangan Struktur Frame
menggunakan SAP2000. Yogyakarta :
Penerbit Andi.

Pamugkas Anugrah, Harianti Erny, 2013.


Desain Pondasi Tahan Gempa.
Yogyakarta : Penerbit Andi.

60
Jurnal Ilmiah Unstar Rote

Anda mungkin juga menyukai