MATERI 2
PROSES MANAJEMEN STRATEGI
Kelompok 13 :
1. Boby Syailendra (B.111.19.0221)
2. Dimas Andika (B.111.20.0173)
3. Andi Prastyo (B.111.20.0172)
4. Nurma Aisya (B.111.20.0136)
I. PENDAHULUAN
Alfred Chandler mengatakan bahwa strategi adalah suatu penentuan sasaran dan
tujuan dasar jangka panjang dari suatu organisasi (perusahaan) serta pengadopsian
seperangkat tindakan serta alokasi sumber-sumber yang perlu untuk mencapai sasaran-
sasaran tersebut. Dalam kajiannya tentang strategi, Henry Mintzberg mencatat bahwa
setidaknya strategi tidak sekedar memiliki dua elemen definisi, yaitu sebagai perencanaan
(plan) dan pola (pattern). Lebih dalam lagi, ia mengungkapkan bahwa definisi strategi telah
berkembang dengan tiga ‘P’ baru, yaitu posisi (position), perspektif (perspective), dan
penerapan (poly). Lalu, bagaimana manajemen strategi dapat diterapkan dan di
implementasikan di dalam suatu perusahaan atau organisasi sehingga keputusan manajerial
dan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada penetapan kinerja jangka panjang organisasi atau
perusahaan tersebut.
Barney, 1997:27 menyebut, manajemen strategik (strategic management) dapat
dipahami sebagai proses pemilihan dan penerapan strategi-strategi. Sedangkan strategi adalah
pola alokasi sumber daya yang memungkinkan organisasi-organisasi dapat mempertahankan
kinerjanya. Sementara Grant, 1995:10 menyebut, strategi juga dapat diartikan sebagai
keseluruhan rencana mengenai penggunaan sumber daya-sumber daya untuk menciptakan
suatu posisi menguntungkan. Dengan kata lain, manajamen strategis terlibat dengan
pengembangan dan implementasi strategistrategi dalam kerangka pengembangan keunggulan
bersaing.
Michael A. Hitt & R. Duane Ireland & Robert E. Hoslisson (1997,XV) menulis,
manajemen strategik adalah proses untuk membantu organisasi dalam mengidentifikasi apa
yang ingin mereka capai dan bagaimana seharusnya mereka mencapai hasil yang bernilai.
Besarnya peranan manajemen strategik semakin banyak diakui pada masa-masa ini dibanding
masa-masa sebelumnya. Dalam perekonomian global yang memungkinkan pergerakan
barang dan jasa secara bebas di antara berbagai negara, perusahaan-perusahaan terus
ditantang untuk semakin kompetitif. Banyak dari perusahaan yang telah meningkatkan
tingkat kompetisinya ini menawarkan produk kepada konsumen dengan nilai yang lebih
tinggi, dan hal ini sering menghasilkan laba di atas rata-rata.
Dari definisi di atas dapat diketahui fokus manajemen strategik terletak dalam
memadukan manajemen, pemasaran, keuangan/akunting, produksi/operasi, penelitian dan
pengembangan, serta sistem informasi komputer untuk mencapai keberhasilan organisasi.
Manajemen strategik di katakan efektif apabila memberi tahu seluruh karyawan mengenai
sasaran bisnis, arah bisnis, kemajuan ke arah pencapaian sasaran dan pelanggan, pesaing dan
rencana produk kami. Komunikasi merupakan kunci keberhasilan manajemen strategik.
II. PEMBAHASAN
A. Tinjauan Proses Manajemen Strategik
Proses manajemen strategik sangat penting untuk diperhatikan, agar segala sesuatu
yang diharapkan berjalan dan sesuai dengan prosedur dan tujuan organisasi.
Manajemen strategik yang integratif, efektif, dan efisien akan mengarahkan organisasi
untuk dapat mengimplementasikan strategi melalui perencanaan strategi.
Perencanaan strategi diawali dengan pengamatan lingkungan meliputi monitoring,
evaluasi dan mengumpulkan informasi dari lingkungan eksternal dan internal dengan
tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor strategik (strategic factors) yaitu elemen-
elemen eksternal dan internal yang akan menentukan rencana masa depan organisasi.
Upaya perencanaan strategi paling sederhana untuk melakukan pengamatan
lingkungan adalah melalui Analisis SWOT.
Proses manajemen strategik mengembangkan rencana jangka panjang untuk
mengelola secara efektif peluang dan ancaman lingkungan eksternal, dengan
mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan (SWOT) organisasi. Manajemen
strategik mencakup pula kegiatan-kegiatan: mendefinisikan misi.
Hunger dalam Yunus (2016) menguraikan proses perkembangan dari manajemen
strategik dengan tahapan sebagai berikut :
Tahap 1 Perencanaan Finansial dasar (Basic Financial Planning), yaitu
perencanaan organisasi yang didasarkan pada perencanaan keuangan. Secara
umum disebut sebagai sistem berdasarkan anggaran. Sistem ini merupakan
sistem yang paling tradisional dan sangat berorientasi pada jangka pendek,
yaitu 1 tahun.
Tahap 2 Perencanaan Berbasis Ramalan (Forecast-based Planning), yaitu
pengembangan dari sistem basic financial planning, karena digunakan untuk
perencanaan jangka panjang, akibat kelemahan sistem anggaran yang terbatas
pada jangka pendek. Di sini mulai diperhitungkan kondisi eksternal dengan
porsi lebih besar. Basisnya adalah proyeksi organisasi di masa akan datang.
Tahap 3 Perencanaan Strategi (Strategic Planning), yaitu pengembangan dari
perencanaan berbasis ramalan dengan mempertimbangkan bagaimana
strateginya untuk dapat memenangkan pasar. Proses formulasi strategi
dilakukan pada jajaran manajemen, sementara implementasi dan operasi
dilakukan oleh jajaran pelaksana. Prosesnya dilakukan secara top down.
Tahap 4 Manajemen Strategik (Strategic Management), yaitu pengembangan
dari perencanaan strategik. Di sini masukan dari level bawah juga
dipertimbangkan. Prosesnya tidak hanya berkonsentrasi pada formulasi
strategi, namun juga diperhatikan secara komprehensif proses implementasi.
Penelitian Schuler (2010) menunjukkan bahwa kurang dari 10% strategi yang
diformulasikan dapat diimplementasikan secara efektif. Artinya 90%
organisasi gagal mengeksekusi strategi secara efektif. Selanjutnya, sekitar
70% organisasi yang menghadapi masalah ternyata permasalahannya bukanlah
pada strategi, melainkan eksekusi yang buruk. Jadi manajemen strategik bukan
hanya menekankan pada proses formulasi saja, tetapi juga proses
implementasi
B. Komponen Proses Dalam Manajemen Strategi
1. Misi Perusahaan (organisasi), menggambarkan tujuan atau alasan mengenai
keberadaan organisasi (perusahaan). Di dalam misi telah mencakup tipe, ruang
lingkup dan karakteristik aktivitas yang akan dikerjakan
2. Tujuan, yang merupakan hasil akhir dari suatu aktivitas atau kinerja. Dalam tujuan ini
akan ditegaskan apa yang akan dicapai, kapan, berapa yang harus dicapai.
3. Strategi, yaitu keterampilan dan ilmu memenangkan persaingan. Karena persaingan
merupakan perebutan pangsa pasar (konsumen), sedangkan konsumen setiap saat
mengalami perubahan, maka strategi harus dikelola sedemikian rupa agar tujuan
jangka pendek, menengah, dan jangka panjang perusahaan dapat tercapai.
4. Kebijakan, yaitu cara mencapai tujuan perusahaan. Kebijakan meliputi garis
pedoman, aturan dan peraturan serta prosedur guna mendukung usaha pencapaian
tujuan.
5. Profil Perusahaan, yang menggambarkan keadaan perusahaan baik dari sisi keuangan,
sumber daya manusia, dan sumber daya pisik.
6. Lingkungan eksternal, semua kekuatan yang akan mempengaruhi pilihan strategi
serta mendefinisikan situasi kompetitifnya.
7. Lingkungan Internal, meliputi semua unsur bisnis yang ada di dalam perusahaan.
8. Analisis Strategi dan Pilihan, terutama ditujukan pada keputusan investasi untuk masa
yang akan datang.
9. Strategi Unggulan, yaitu rencana umum dan komprehensif dari semua tindakan
utama yang ditujukan kepada pencapaian tujuan dalam lingkungan yang dinamis.
10. Strategi Fungsional, merupakan penjabaran dari strategi umum yang akan
dilaksanakan oleh bagian-bagian (divisi)
C. Tahapan Manajemen Strategi
Menurut David dan David (2015), proses manajemen strategi terdiri atas 3 (tiga)
tahap utama yang sistematis dan komprehensif, yaitu formulasi strategi, implementasi
strategi, dan evaluasi strategi. Tahapan proses manajemen strategik yang meliputi formulasi
strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tahap Formulasi Strategi Formulasi strategi termasuk mengembangkan visi dan misi,
mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan
dan kelemahan internal, menetapkan tujuan jangka panjang, merumuskan alternatif
strategi, dan memilih strategi tertentu yang akan dilaksanakan.
Sebagai contoh formulasi strategi dalam level organisasi sebagai berikut.
a. Formulasi strategi.
Tahap awal pada proses manajemen strategik, meliputi:
1) pengembangan visi dan misi,
2) identifikasi peluang eksternal organisasi dan ancaman,
3) menganalisa kekuatan dan kelemahan internal,
4) merumuskan tujuan jangka panjang,
5) menghasilkan strategi alternatif, dan
6) memilih strategi tertentu untuk mencapai tujuan.
b. Perencanaan strategi Tahap dalam perencanaan strategi sebagai berikut.
1) Menganalisis Lingkungan External Hal yang dapat dilakukan seperti
mengidentifikasi arah tren lingkungan sosial budaya, sosial ekonomi,
teknologi, politik, yang dapat atau akan mempengaruhi di masa yang akan
datang, lebih lanjut melalui analisis pasar, kompetitor, komunitas, pemasok
(supplier), kebijakan makro dan mikro pemerintah.
2) Menganalisis Lingkungan Internal Hal yang dapat dilakukan dalam organisasi
seperti mengidentifikasi kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki, aset
penunjang aktivitas, situasi lingkungan kerja dan kapabilitas organisasi
lainnya.
c. Merumuskan Visi, Misi, Tujuan dan Strategi
Melalui analisa peluang sekaligus ancaman dari lingkungan berdasarkan kekuatan
dan kelemahan organisasi sebagai proses perencanaan jangka panjang yang efektif
dan efisien.
1) Visi dan misi, Setiap organisasi tentunya memiliki visi dan misi, mencapai visi
maka diperlukan misi yang tepat dan logis. Maka tahap awal dalam
manajemen strategi adalah menetapkan visi organisasi. Menentukan visi dan
misi jangka pendek dan panjang organisasi.
2) Tujuan dan arah strategi organisasi, dalam menyusun Tujuan tersebut harus
diperhatikan baik dari sisi waktu, kualitas, dan kuantitas.
2. Tahap Implementasi
Strategi Implementasi strategi mensyaratkan organisasi untuk menetapkan tujuan
tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber
daya sehingga strategi yang telah diformulasikan dapat dijalankan.
Keberhasilan implementasi strategi tergantung pada kompetensi pimpinan dalam
memotivasi tenaga kedilatan yang merupakan seni tersendiri. Apabila strategi yang
dirumuskan tetapi tidak diimplementasikan berarti sama sekali tidak memiliki arti apa
pun. Keterampilan hubungan antar pribadi penting dalam implementasi strategi.
Aktivitas implementasi strategi mempengaruhi seluruh pimpinan dan tenaga kedilatan
dalam institusi diklat. Setiap divisi atau unit kerja diklat harus memutuskan untuk
menjawab pertanyaan, yaitu
a. Apa yang harus kita lakukan untuk mengimplementasikan strategi instusi diklat?
b. Sebaik apakah kita dapat menyelesaikan tugas kita?
Sebagai contoh implementasi strategi pada setiap level organisasi sebagai berikut :
a. Strategi Level Korporasi
1) Membangun citra (brand image) organisasi akan menjadi peluang usaha yang
dapat menjadi pendapatan (revenue), misalnya institusi diklat yang profesional
dan unggul.
2) Pengembangan usaha melalui kerjasama dengan mitra strategis, misalnya
kerjasama dengan lembaga pemerintah dan swasta.
3) Strategi memperluas jaringan pendanaan melalui penciptaan prospek usaha
yang menarik investor, misalnya dana hibah pemerintah atau CSR (Corporate
Social Responsibility).
b. Strategi Level Usaha
1) Penerapan transaksi organisasi dengan sistem administrasi yang akuntabel dan
aman, misalnya sistem administrasi online.
2) Menghasilkan produktivitas yang optimal, misalnya programprogram diklat
yang relevan dengan kebutuhan organisasi.
3) Pengembangan teknologi tepat guna melalui terciptanya sistem yang efektif
bagi organisasi, misalnya sistem e-learning.
4) Memfasilitasi komunikasi yang transparan dapat memberikan nilai tambah dan
manfaat bagi setiap pelaku atau anggota, misalnya pemanfaatan sosial media.
c. Strategi Level Fungsional Bidang Operasional
1) Pengembangan standarisasi proses produk secara produktif, efisien dan efektif.
2) Perencanaan produk yang tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan.
3) Melakukan pemantauan dan menciptakan stabilitas harga.
4) Pengembangan teknologi pengolahan secara kualitas dan kuantitas yang
berkesinambungan dan dapat diserap pelanggan dengan baik.
5) Sistem distribusi yang tepat waktu dan efisien, misalnya penyebaran modul
diklat.
6) Perencanaan produksi yang tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan.
7) Kualitas dan kuantitas produk yang sesuai kebutuhan konsumen.
8) Pengembangan komunitas yang loyal dan profesional sesuai dengan fungsi
dan peranannya.
9) Menjalin kemitraan bersama masyarakat sekitar dalam pengaplikasian CSR
(Corporate Social Responsibility).
3. Tahap Evaluasi
Strategi Evaluasi strategi adalah tahapan final dalam manajemen strategik. Pimpinan
sangat ingin mengetahui kapan dan mengapa strategi tidak dapat berjalan seperti yang
diharapkan dalam suatu organisasi. Evaluasi strategi adalah alat utama untuk
mendapatkan informasi terkait implementasi strategi. Dimana semua strategi dapat
dimodifikasi di masa datang, karena faktor internal dan eksternal secara konstan
berubah. Ada tiga aktivitas yang utama dalam evaluasi strategi yaitu:
a. mereview faktor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi saat ini,
b. mengukur prestasi atau capaian, dan
c. mengambil tindakan korektif.
Adapun metode dan teknik yang dapat digunakan dalam penerapan proses manajemen
strategik dalam organisasi sebagai berikut.
a. Matrik Faktor Internal dan Eksternal (The Internal and External Factor Matrix),
yaitu dilakukan dengan analisis dan evaluasi untuk mengetahui kekuatan dan
kelemahan serta peluang dan ancaman (SWOT) dalam melaksanakan visi dan misi
organisasi.
b. Matrik Profil Kompetitif (The Competitive Profile Matrix), yaitu dilakukan
dengan mengidentifikasi faktor kekuatan dan kelemahan organisasi lain, agar
dapat dikalahkan reputasinya atau diadaptasi strateginya dalam memberikan
pelayanan.
c. Matrik Memperkuat dan Mengevaluasi Posisi (The Strenghts Position and
Evaluation Matrix), yaitu dilakukan dengan mencocokkan kemampuan sumber
daya internal yang dimiliki dalam keunggulan atau kinerja
D. Manajemen Strategik Dalam Institusi Pendidikan Dan Pelatihan
Pada umumnya institusi diklat masih menerapkan pendekatan yang konvensional dan
belum terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran jangka panjang serta kurang responsif
terhadap tantangan dan perubahan lingkungan baik internal maupun eksternal. Akibatnya
banyak program dan aktivitas pendidikan dan pelatihan yang kurang efektif dan efisien serta
menimbulkan produktivitas yang rendah dan pemborosan. Oleh karena itu, berbagai strategi
operasional dalam manajemen strategik diperlukan bagi organisasi pendidikan dan pelatihan
sebagai berikut.
1. Konsentrasi pelaksanaan program pembelajaran. Hal ini berarti menghindari
pemerataan dan penjatahan yang membuat program tidak berhasil dan berdaya
guna, pemerataan cenderung asal ada.
2. Mendorong tumbuhnya kesadaran untuk mewujudkan pusat-pusat kegiatan
pembelajaran. Memanfaatkan sarana-prasarana yang ada yang untuk kegiatan
pembelajaran. Memberikan pengertian kepada masyarakat, sehingga menjadikan
pendidikan dan pelatihan merupakan suatu kebutuhan.
3. Membuat peta situasi dimana program akan dilakukan, hal seperti ini dapat
dilakukan dengan analisis lingkungan. Apa potensi yang belum disentuh dan
mungkin untuk dimanfaatkan.
4. Mendorong tumbuhnya organisasi pembelajaran atau organisasi yang bergerak
pada jalur pendidikan, dan mendorong mereka menjadi pengelola pusat kegiatan
pembelajaran, dengan harapan organisasi ini lebih cepat tumbuh.
5. Melatih pengelola pusat kegiatan pembelajaran, keberhasilan pendidikan dan
pelatihan akan banyak ditentukan oleh kemampuan mengelola program yang
dilaksanakan. Oleh karena itu, perlu dilengkapi dengan seperangkat pengetahuan
operasional dan fasilitas serta sarana prasarana yang memadai.
6. Membentuk jaringan informasi dan pemasaran, hal ini erat kaitannya dengan
penyalur hasil-hasil dari program pembelajaran (Nasution, 2008).
Sukardi dan Nurjanah (2016) menyimpulkan tentang penerapan manajemen strategik
dalam manajemen pendidikan dan pelatihan sebagai berikut :
1. Manajemen pendidikan dan pelatihan dapat diartikan sebagai seni mengelola suatu
organisasi pendidikan dan pelatihan agar para peserta diklat mampu meningkatkan
kompetensi sehingga lebih berdaya guna di organisasi mereka dalam meniti karier.
2. Organisasi pendidikan dan pelatihan merupakan suatu institusi yang semakin berperan
terutama bagi seseorang karyawan yang sudah lama meniti karier dalam satu
pekerjaan, ingin meningkatkan ilmu pengetahuannya yang relevan dan bermanfaat
untuk meningkatkan produktivitasnya.
3. Seorang pengelola organisasi pendidikan dan pelatihan perlu memahami dua hal
penting, yaitu antara fungsi dan teknik operasional dan pengelolaan. Fungsi
pengelolaan berkait dengan peran dan tujuan pokok manajemen, sedangkan teknik
operasional pengelolaan lebih berkait dengan metoda atau cara seorang pimpinan
menggerakkan semua potensi organisasi agar mencapai tujuan.
4. Manajemen pendidikan dan pelatihan dapat diartikan sebagai pengelolaan organisasi
pendidikan dan pelatihan, yang di dalamnya mencakup proses merencanakan,
mengorganisasi, memimpin, menggerakkan, dan mengontrol semua sumber daya
diklat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai usaha sadar dan sistematis orang dewasa
untuk menyiapkan peserta didik menjadi orang dewasa yang terdidik.
6. Pendidikan formal maupun organisasi pendidikan dan pelatihan samasama lembaga
yang memiliki misi usaha untuk meningkatkan potensi sumber daya manusia.
Organisasi pendidikan dan pelatihan digunakan untuk sarana peningkatan kualitas
kinerja manusia dalam suatu organisasi.
7. Pengelolaan organisasi pendidikan dan pelatihan diklat mempunyai beberapa fungsi
penting, diantaranya mencakup fungsi administratif dan fungsi operatif.
8. Manajemen pendidikan dan pelatihan memiliki enam macam sasaran penting yang
ada dalam suatu organisasi pendidikan dan pelatihan. Keenam obyek dan menjadi
sasaran penting tersebut, yaitu 6 (enam) M yang meliputi Man (SDM), Machines
(Mesin/teknologi), Methods (Metode/prosedur), Materials (Materi/bahan baku),
Markets (Pasar), Milieu (Lingkungan).
9. Manajer dalam suatu organisasi pendidikan dan pelatihan biasanya mempunyai
karakteristik umum seperti berikut. a) manajer bekerja di bawah tekanan; b) manajer
bekerja dengan menggunakan alat komunikasi/teknologi informasi; c) manajer
melakukan pekerjaan bervariasi.
10. Instruktur/widyaiswara di organisasi pendidikan dan pelatihan dibedakan antara ahli
dan profesional. Instruktur/widyasiwara ahli merupakan seseorang yang menguasai
bidang keahlian akademik, sehingga mampu memberikan ilmu pengetahuan kepada
para peserta. Instruktur/widyaiswara profesional merupakan nara sumber yang
mengusai ilmu pengetahuan profesi di bidang tertentu.
11. Program dan kegiatan organisasi pendidikan dan pelatihan secara garis besar dapat
dibedakan menjadi dua yaitu on-the-job training dan off-the job training.
12. Pengambilan keputusan, merupakan tahapan penting, yang berkaitan erat dengan
kegiatan organisasi yang dikelola. Agar pengambilan keputusan itu tepat seorang
pimpinan atau manajer perlu menguasai informasi dari setiap elemen dalam
organisasi.
III. PENUTUP
Manajemen strategi adalah cara terbaik untuk mencapai beberapa sasaran. Untuk menentukan
mana yang terbaik tersebut akan tergantung dari kriteria yang digunakan. Sedangkan taktik
adalah pilihan-pilihan yang dimiliki dalam mengimplementasikan sebuah strategi. Pilihan-
pilihan manajemen strategi ini akan bekerja atau tidak bekerja tergantung dari kriteria yang
digunakan dan pilihan-pilihan tersebut adalah yang berlangsung lama, tidak mudah diubah
dan mencakup situasi yang sangat terstruktur.
Tujuan manajemen strategi pada umumnya didefinisikan sebagai sesuatu yang ingin dicapai
dalam jangka panjang; seperti bertahan hidup, keamanan dan memaksimalkan profit. Sasaran
lebih nyata yaitu pencapaian hal-hal yang penting untuk mencapai tujuan. Mencapai sasaran
akan lebih mendekatkan pada tujuan. Sasaran pada umumnya lebih spesifik dan harus dapat
diukur dan biasanya mencakup kerangka target dan waktu.
Manajemen strategi juga merupakan himpunan keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan
manajerial yang menentukan kinerja jangka panjang sesuatu organisasi. Manajemen strategi
sebagai bidang studi mencakup perhatian yang intergratif mengenai kebijakan organisasi
publik dengan penekanan yang lebih berat kepada lingkungan dan strategi.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Adie Erar Yusuf, M.A. Modul 1, Manajemen Strategik Dalam Pengembangan Diklat.
David, Fred R. (1997). Strategic Management. New Jersey : Prentice Hall, Inc.
Karya Tulis Ilmiah, diakses pada 20/3/2023
[Link]
Tufiqurokhman. Manjaemen Strategik. Jakarta Pusat. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama. 2016.