BAB 1
KONSEP-KONSEP DASAR STRATEGI DAN MANAJEMEN
STRATEGI
KELOMPOK 9 :
1. Ganung Gurindra Wardana (B.111.20.0021)
2. Rizki Firmansyah (B.111.20.0297)
3. Muhammad Dicky Rizkyawan (B.111.20.0003)
4. Shofira Zulfia Rohmah (B.111.20.0192)
5. Daffa Raihan Junatan (B.111.20.0204)
I. PENDAHULUAN
Manajemen strategis adalah serangkaian dan tindakan manjerial yang menentukan
kinerja perusahaan dalam jangka [Link] strategis meliputi pengamatan
lingkungan, perumusan strategi, (perencanaan strategis atau perencanaan jangka panjang),
implementasi strategi, dan evaluasi dan [Link] stategi menekankan pada
pengamatan dan evaluasi peluang dan ancaman lingkungan dengan melihat kekuatan dan
kelemahan [Link] disebut kebijakan bisnis, manajemen strategis meliputi
perencanaan dan strategi jangka panjang.
Kebijakan bisnis, sebaliknya, berorientasi pada manajemen umum dan cenderung
melihat kedalam dan lebih menekankan pada integrasi yang sesuai bagi banyak aktivitas
fungsional dalam perusahaan. Kebijakan bisnis lebih memfokuskan pada pemanfaatan asset
perusahaan secara [Link] demikian, kebijakan bisnis lebih menekankan pada
perumusan arahan umum yang dapat digunakan untuk pencapaian misi dan tujuan perusahaan
dengan lebih [Link] strategis sebagai suatu bidang ilmu menggabungkan kebijakan
bisnis dengan lingkungan dan tekanan strategis. Oleh karena itu, istilah manajemen strategis
biasanya menggantikan istilah kebijakan bisnis sebagai suatu nama bidang ilmu.
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Manajemen Strategik
Pengertian Manajemen Strategi menurut Fred R. David adalah seni dan ilmu untuk
memformulasi, menginplementasi, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang
memungkinkan organisasi dapat mencapaitujuan. Sedangkan menurut Michael A. Hitt & R.
Duane Ireland & Robert [Link] (1997) adalah proses untuk membantu organisasi dalam
mengidentifikasiapa yang ingin mereka capai, dan bagaimana seharusnya mereka mencapai
hasil yang bernilai. Pengertian manajemen strategi menurut Michael Polter adalah sesuatu
yang membuat perusahaan secara keseluruhan berjumlah lebih dari bagian-bagian dengan
demikian ada unsure sinergi di dalamnya, dan menurut H. Igor Ansoff adalah analisis yang
logis tentang bagaimana perusahaan dapat beradaptasi terhadap lingkungan baik yang berupa
ancaman maupun kesempatan dalam berbagai aktivitasnya.
Manajemen Strategi adalah suatu proses permanajemenan untuk mewujudkan visi dan
misi organisasi, menjaga hubungan organisasi dengan lingkungan, terutama kepentingan para
Stakeholder, pemilihan strategi, pelaksanaan strategi dan pengendalian strategi untuk
memastikan bahwa misi dan tujuan organisasi dapat tercapai.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, Manajemen Strategi didefinisikan sebagai
suatu seni dan ilmu memformulasikan, mengimplementasikan dan mengevaluasi keputusan-
keputusan antar fungsi (crassfunctional) yang membuat organisasi dapat mencapai
[Link] strategi berfokus pada pengintegrasian manajemen, pemasaran,
keuangan/akuntansi, produksi/ operasi, riset dan pengembangan, sistem informasi komputer
untuk mencapai kesuksesan organisasi.
B. Perkembangan Teori Manajemen Strategi
Manajemen Strategi yang dikenal saat ini tidaklah muncul dengan tiba-tiba, tetapi ia
mengalami tahapan yang sangat penting. Tema utama pada awal dekade 1950 an masih
berkisar disekitar anggaran dan pengawasan keuangan Budgeting and Financial Controlling).
Manajemen perusahaan pada saat itu menggunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
pengendalian melalui sasaran keuangan yang ditentukan.
Menjelang akhir tahun 1950 an teori manajemen strategi kemudian berkembang
dengan menekankan pada integrasi fungsional atau perpaduan fungsi produksi, pemasaran,
keuangan dan sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Gordon
Howell merekomendasikan pendidikan bisnis atau mata kuliah business policy, merupakan
mala kuliah wajib untuk pendidikan bisnis.
Pada tahun 1960 an, tema dominan dalam strategi bergeser kearah Corporate Planning
yang merupakan sebuah rencana yang rumit dengan ramalan rinci tentang keadaan ekonomi
dan pasar-pasar [Link] ini didukung oleh Alfred Sloan dalam bukunya My Years
with General Motors dan Albert Chandler dalam buku yang berjudul Strategy and Structure.
Pada tahun 1970 an berkembanglah perencanaan strategik perusahaan
(CorporateStrategic Planning) yang mengaksentuasikan pada perpaduan fungsi manajemen
yang kemudian diformulasikan dalam perencanaan dan kebijakan strategi perusahaan. Pada
tahun 1980 an, muncullah konsep tentang Manajemen Strategi yang mengaksentuasikan diri
pada pengembangan keahlian internal perusahaan dengan menggunakan kompetensi inti
(core competence) dan reaktif terhadap perubahan lingkungan eksternal.
C. Karakteristik Manajemen Strategik
Pada umumnya manajemen ini sungguh berbeda dengan lainnya dimana manajemen
strategi ini senantiasa menyikapi dinamika terjadinya suatu perubahan lingkungan sehingga
bisa mempengaruhi terhadap implementasi manajemen itu sendiri serta berupaya untuk
merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan dengan sejalan pada hal tersebut maka berikut ini
akan ditunjukkan karakteristik manajemen strategik :
1. Manajemen strategik bersifat jangka panjang
2. Manajemen strategik bersifat dinamik
3. Manajemen strategik merupakan sesuatu yang berpadu oleh manajemen operasional
4. Manajemen strategik perlu dimotori oleh unsur-unsur pada manajer tingkat puncak
5. Manajemen strategik berorientasi dan mendekati untuk masa depan
6. Manajemen strategik senantiasa harus didorong dan didukung dalam pelaksanaannya
oleh semua sumber daya ekonomi yang tersedia
D. Tahapan dalam Manajemen Strategik
1. Pemindaian Lingkungan
Pemindaian lingkungan adalah memonitor, mengevaluasi, dan mencari informasi dari
lingkungan eksternal maupun internal bagi orang-orang penting dalam perusahaan.
Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi faktorfaktor strategis elemen eksternal dan internal
yang akan menentukan masa depan perusahaan. Penyusunan strategi, khususnya perencanaan
strategis atau perencanaan jangka panjang biasanya berkaitan dengan visi, misi dan
kebijaksanaan suatu [Link] penyusunan strategi dimulai dengan melakukan analisa
situasi untuk mendapatkan kesesuaian antara peluang eksternal dan kekuatan internal dengan
ancaman eksternal dan kelemahan internal.
2. Perumusan Strategi
Meliputi kegiatan untuk mengembangkan visi dan misi organisasi, mengidentifikasi
peluang dan ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan internal
organisasi, menetapkan tujuan jangka panjang organisasi, membuat sejumlah strategi
alternatif untuk organisasi, serta memilih strategi tertentu untuk digunakan
3. Pelaksanaan Strategi
Mengharuskan perusahaan untuk menetapkan sasaran tahunan, membuat kebijakan,
memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber daya sehingga perumusan strategis dapat
dilaksanakan. Pelaksanaan strategis mencakup pengembangan budaya yang mendukung
strategi, penciptaan struktur organisasi yang efektif, pengarahan kembali usaha–usaha
pemasaran, penyiapan anggaran, pengembangan dan pemanfaatan sistem informasi, serta
menghubungkan kompensasi untuk karyawan dengan kinerja organisasi
4. Evaluasi strategi
Tahap ini merupakan tahap akhir dari manajamen strategik tiga kegiatan pokok dalam
evaluasi strategi adalah : Mengkaji ulang faktorfaktor eksternal dan internal yang menjadi
landasan perumusan strategi yang diterapkan sekarang ini. Kemudian mengukur kinerja,
melakukan tindakantindakan korektif. Evaluasi strategi perlu dilakukan karena keberhasilan
saat ini bukan merupakan jaminan untuk keberhasilan di hari esok.
E. Tingkatan Strategi
1. Strategi Tingkat Perusahaan (Corporate Strategy) – Ditetapkan oleh tingkat
manajemen tertinggi di dalam organisasi dan mengarah kepada bisnis apa yang akan
dilakukan serta bagaimana sumber daya dialokasikan di antara bisnis tersebut. Strategi
korporasi secara umum melibatkan tujuan jangka panjang yang berhubungan dengan
organisasi secara keseluruhan dan investasi keuangan secara langsung.
2. Strategi Tingkat Bisnis (Business Strategy) - Ditetapkan oleh masingmasing unit
bisnis strategi (Strategy Business Unit=SBU). Strategi bisnis biasanya diformulasikan oleh
manajer tingkat bisnis melalui negosiasi dengan manajer korporasi dan memusatkan kepada
bagaimana cara bersaing dalam dunia bisnis yang ada. Strategi bisnis harus melalui dan
diperoleh serta didukung oleh strategi korporasi.
3. Strategi Tingkat Fungsional (Functional Strategy) – Mempunyai lingkup yang lebih
sempit lagi dibandingkan strategi korporasi dan strategi bisnis. Berhubungan dengan fungsi
bisnis seperti fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi SDM, fungsi keuangan, fungsi riset
dan pengembangan (R&D). Strategi fungsional harus mengarah kepada strategi bisnis dan
konsep mereka yang paling utama adalah tergantung kepada hasil jawaban bagaimana cara
menerapkannya.
F. Prinsip Manajemen Strategi
1. Perencanaan Strategi Merembes (menembus), seluruh manajer diberbagai divisi
harus belajar untuk berfikir secara strategis, seluruh tingkat managerial akan terlibat di dalam
manajemen strategi dengan berbagai cara tertentu. tiap pola dan cara yang akan dipakai
berbeda namun masih mengarah pada sasaran yang sama, tujuan yang ditetapkan .
2. Perencanaan Komprehensif, maksudnya adalah perencanaan yang berdasarkan pada
kebutuhan serta pengembangan bisnis, tidak dibuat dengan asal-asalan.
G. Kompenen Proses Manajemen Strategik
Ada beberapa komponen dalam proses manajemen strategi, di antaranya:
1) Misi Organisasi (perusahaan), merupakan gambaran tujuan tentang
keberadaan perusahaan. misi ini meliputi type, ruang lingkup serta
karakteristik tindakan yang akan dijalankan.
2) Tujuan, tujuan merupakan hasil akhir dari sebuah kegiatan. disini akan
ditegaskan hal apa ayang akan digapai, kapan waktunya, dan berapa yang
harusnya dicpai.
3) Strategi, merupakan suatu keterampilan atau ilmu dalam memenangkan
sebuah persaingan. persaingan adalah perebutan konsumen (pangsa pasar) dan
konsumen setiap saat akan mengalami perubahan, maka strategi hendaknya
dikelola dengan sedemikian rupa supaya tujuan perusahaan bisa tercapai
4) Kebijakan, kebijakan merupakan cara dalam mencapai sasaran perusahaan.
kebijakan mencakup garis pedoman, aturan-aturan dan prosedur untuk
menyokong usaha pencapaian sasaran atau tujuan yang sudah ditetapkan
5) Profil Perusahaan, menggambarkan kondisi perusahaan baik itu keuangan,
sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya fisik lainnya.
6) Lingkungan Eksternal, merupakan seluruh kekuatan yang akan memberikan
pengaruh terhadap pilihan strategi serta mendifinisikan kondisi kompetisinya
7) Lingkungan Internal, lingkungan internal mencakup seluruh unsur bisnis yang
terdapat pada perusahaan
8) Analisa Strategi dan Pilihan, hal ini ditujukan kepada keputusan dalam
investasi untuk masa mendatang
9) Strategi Unggulan, merupakan rencana umum serta komprhensif atas semua
aktivitas utama yang ditujukan pada usaha pencapaian sasaran dalam
lingkungan yang bersifat dinamis
10) Strategi Fungsional, adalah penjabaran strategi umum yang nantinya
dijalankan oleh divisi.
H. Tujuan Manajemen Strategi
Adapun tujuan Manajemen Strategi adalah:
a) Melaksanakan dan mengevaluasi strategi yang dipilih secara efektif dan
efisien.
b) Mengevaluasi kinerja, meninjau dan mengkaji ulang situasi sertamelakukan
berbagai penyesuaian dan koreksi jika terdapat penyimpangan di dalam
pelaksanaan strategi.
c) Senantiasa memperbarui strategi yang dirumuskan agar sesuai dengan
perkembangan lingkungan eksternal.
d) Senantiasa meninjau kembali kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
bisnis yang ada.
e) Senantiasa melakukan inovasi atas produk agar selalu sesuai dengan selera
konsumen.
I. Manfaat Manajemen Strategi
Manfaat Manajemen Strategi adalah dengan menggunakan Manajemen Strategik
sebagai suatu kerangka (frame work) untuk menyelesaikan setiap masalah strategis di dalam
perusahaan, terutama yang berkaitan .dengan persaingan, maka para manajer diajak untuk
berfikir lebih kreatif atau berfikir secara Strategik.
Ada beberapa manfaat yang diperoleh organisasi jika mereka menerapkan Manajemen
Strategi, yaitu:
a. Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju
b. Membantu organisasi beradaptasi pada perubahanperubahan yang
terjadi
c. Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif
d. Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam
lingkungan yang semakin berisiko
e. e. Aktivitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan
perusahaan untuk mencegah munculnya masalah dimasa datang
f. Keterlibatan karyawan dalam pembuatan strategi akan lebih
memotivasi mereka pada tahap pelaksanaannya
g. Aktivitas yang tumpang tindih akan dikurangi
h. Keengganan untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi
J. Kegagalan Manajemen Strategik
Andrew Campbell dan Marcus Alexander mengidentifikasi sekurang-kurangnya
terdapat tiga alasan mengapa suatu strategi dapat gagal dalam mengantar suatu perusahaan
untuk mencapai sasaran dan tujuannya. Ketiga hal tersebut adalah (Campbell dan Alexander,
1997):
1. Strategi Tanpa Arah (directionless strategies): kegagalan membedakan
antara purposes (apa yang akan dilakukan organisasi) dan constraints (apa
yang harus dilakukan suatu organisasi agar dapat bertahan). Perusahaan yang
gagal memahami constraints yang dimilikinya dan salah membacanya sebagai
maksudpurposes, akan cenderung terlempar dari arena bisnis.
2. Kelumpuhan Perencanaan (planning paralysis): kegagalan menentukan pijakan
awal untuk bergerak (dari strategi atau tujuan?) menyebabkan terjadinya
rencana yang ‘lumpuh’ akibat kebingungan terhadap pelibatan ‘proses’ dalam
penyusunan suatu strategi. Menentukan tujuan dan kemudian menyusun
strategi untuk mencapainya ataukah meniru strategi yang telah terbukti
berhasil dan kemudian menentukan tujuan yang dapat/ ingin dicapai
berdasarkan strategi tersebut.
3. Terlalu Fokus pada Proses (good strategy vs planning process): Seringkali
manajer berharap untuk dapat menyusun suatu strategi yang baru dan lebih
baik. Sayangnya keberhasilan seringkali tidak semata bergantung pada proses
perencaaan yang baru atau rencana yang didesain dengan lebih baik, tetapi
lebih kepada kesanggupan manajer untuk memahami dua hal mendasar, yaitu:
keuntungan atas dimilikinya maksud (purposes) yang stabil dan terartikulasi
dengan baik; serta pentingnya penemuan, pemahaman, pendokumentasian, dan
eksploitasi informasi-informasi penting (insights) tentang bagaimana
menciptakan nilai lebih banyak dibanding perusahaan lain.
Bandingkan temuan Campbell dan Alexander tersebut dengan apa yang diungkapkan
Henry Mintzberg dalam tulisannya di Harvard Business Review (1994a) yang
mengungkapkan bahwa perencanaan strategik (strategic planning) memiliki suatu potensi
kegagalan besar. Kegagalan tersebut adalah keyakinan bahwa analisa akan menuju pada
sintesa dan perencanaan strategik adalah pembuatan strategi (strategy making). Pada
dasarnya, kegagalan ini disebabkan oleh tiga kesalahan mendasar pada asumsi, yaitu
(Mintzberg, 1994a):
1. Fallacy of Prediction: tidak setiap hal dapat begitu saja diprediksi, kecuali hal-hal
yang memiliki pola berulang (repetitive pattern) seperti musim. Sedangkan hal-hal
lainnya seperti penemuan teknologi dan peningkatan harga hampir tidak mungkin
diduga secara relatif akurat, kecuali oleh para visioner yang biasa membangun
strateginya secara personal dan intuitif. [bandingkan Ansoff, 1965].
2. Fallacy of Detachment: seringkali manajer dipisahkan dari persoalan detil dan
operasional, sesuatu yang seharusnya mereka kenal dengan baik. Ketika manajer
terjauhkan dari hal-hal mendasar tersebut, manajer akan gagal memahami
keseluruhan proses dan mengingkari konsep Frederick Taylor tentang manajemen
bahwa proses harus sepenuhnya dipahami sebelum diprogram [lihat Jelinek,
1979].
3. Fallacy of Formalization: kegagalan perencanaan strategik adalah kegagalan
sistem untuk bekerja lebih baik daripada manusia. Sistem formal atau mekanikal
seringkali gagal mengimbangi informasi yang berkembang dalam otak manusia.
Sistem memang sanggup mengelola informasi yang lebih banyak, tetapi tidak
sanggup menginternalisasikan, mencernanya, dan mensintesanya. Formalisasi
merujuk pada tata urutan yang rasional, tetapi pembuatan strategi adalah proses
pembelajaran yang terus bergerak. Formalisasi akan gagal mencerna sesuatu yang
tidak kontinu dan baru. Dan oleh karenanya pemahaman tentang perencanaan
strategik (strategic planning) harus bisa dibedakan dari pemahaman tentang
pembuatan strategi (strategy making). Keduanya tidak bisa dianggap sama.
III. PENUTUPAN
Manajemen strategis adalah serangkaian dan tindakan manjerial yang menentukan
kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Manajemen strategis meliputi pengamatan
lingkungan, perumusan strategi, (perencanaan strategis atau perencanaan jangka panjang),
implementasi strategi, dan evaluasi dan pengendalian. Manajemen Strategi yang dikenal saat
ini tidaklah muncul dengan tiba-tiba, tetapi ia mengalami tahapan yang sangat penting.
Manajemen perusahaan pada saat itu menggunakan anggaran sebagai alat perencanaan dan
pengendalian melalui sasaran keuangan yang ditentukan. Tingkatan Strategi dibagi menjadi 3
yaitu Strategi Tingkat Perusahaan (Corporate Strategy), Strategi Tingkat Bisnis (Business
Strategy), Strategi Tingkat Fungsional (Functional Strategy). Adapun Tujuan Manajemen
Strategi itu sendiri yaitu Melaksanakan dan mengevaluasi strategi yang dipilih secara efektif
dan efisien serta Mengevaluasi kinerja, meninjau dan mengkaji ulang situasi sertamelakukan
berbagai penyesuaian dan koreksi jika terdapat penyimpangan di dalam pelaksanaan strategi.
DAFTAR PUSTAKA
David, Fred R. Manajemen strategis edisi 10. Jakarta. Salemba Empat. 2006.
Radjab, Enny, dan Abd. Rahman Rahim. Manjemen Strategi. Makasar. Lembaga
Perpustakaan dan Penerbitan Universitas Muhammadiyah Makasar.2017.
Tufiqurokhman. Manjaemen Strategik. Jakarta Pusat. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama. 2016.