0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan10 halaman

Dampak Covid-19 pada Ekonomi Rumah Tangga

Diunggah oleh

ICA IRAWAN
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan10 halaman

Dampak Covid-19 pada Ekonomi Rumah Tangga

Diunggah oleh

ICA IRAWAN
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH DAMPAK PANDEMI COVID-19

TERHADAP PELAKU EKONOMI

Oleh :
GISA AUDIA PUTRI
2003010607
Dosen Pengampu
Bahtiar, [Link]

PRODI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN
MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI 2021

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Pelaku Ekonomi sebagai pupuk ini dengan baik
tanpa kurang suatupun. Tak lupa kami juga berterima kasih kepada Bapak Bachtiar selaku dosen
pengajar dalam mata kuliah Bahasa Indonesia yang sudah memberikan tugas ini.

Kami selaku penulis berharap semoga kelak makalah ini dapat berguna dan juga bermanfaat
serta menambah wawasan tentang pengetahuan kita semua tentang dampak yang di timbulkan dari
masa pandemi covid-19 terhadap pelaku ekonomi tersebut. Dalam pembuatan makalah ini saya
menyadari masih sangat banyak terdapat kekurangan dan masih butuh saran untuk perbaikannya.
Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
sudah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.

Semoga makalah yang sederhana ini bisa dengan mudah di mengerti dan dapat di pahami
maknanya. Mohon maaf bila ada kesalahan kata dalam penulisan makalah ini, serta bila ada
kalimat yang kurang berkenan di hati pembaca.

Banjarmasin, 08 Juli 2021

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................................................... i


Kata Pengantar ............................................................................................................................. ii
Daftar Isi ....................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang ...............................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................................5
1.3 Tujuan ............................................................................................................................5
1.4 Metode Pengumpulan Data ............................................................................................5
1.5 Sistematika Penulisan ....................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................................6
2.2 Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Ekonomi ................................................................6
2.2.1 Dampak Covid-19 terhadap Konsumen Rumah Tangga ........................................ 6
2.2.2 Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Usaha / UMKM.............................................. 6
2.2.3 Dampak Covid-19 terhadap Distribusi Nasional ..................................................... 7
BAB III PENUTUP ........................................................................................................................9
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................................9
3.2 Saran ..............................................................................................................................9

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................10

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Virus corona atau covid-19 telah menyita perhatian publik sejak kemunculannya di Wuhan
pada akhir tahun 2019. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa Corona
viruses (Cov) adalah virus yang menginfeksi sistem pernafasan (Silpa Hanoatubun, 2020).
Meninggalnya ribuan jiwa akibat virus ini menjadi masalah besar bagi banyak negara,
termasuk Indonesia. Pada tanggal 15 September 2020 dilaporkan kasus terkonfirmasi positif
di Indonesia telah mencapai 225 ribu kasus di 34 provinsi.
Berbagai efek mulai bermunculan dari adanya penyebaran virus ini sehingga menyebabkan
kondisi pandemic global Covid-19. Semua Negara diperhadapkan pada kondisi dimana
masyarakatnya terjangkit sehingga hampir semua aspek kehidupan manusia pun mengalami
perubahan. Dari berbagai sektor yang yang terganggu akibat adanya virus ini, salah satunya
adanya sektor ekonomi (Bahtiar & Saragi, 2020).
Sector ekonomi rumah tangga mengalami dampak dari terjadinya wabah COVID-19. Menteri
Keuangan juga menyatakan bahwa wabah corona akan memperlambat laju pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Ia mengatakan, wabah corona akan berdampak besar pada laju konsumsi
rumah tangga dalam jangka pendek. Turunnya konsumsi membuat pertumbuhan produk
domestik bruto atau PDB Indonesia bakal merosot menjadi 2,3% hingga -0,4%. Angka ini
jauh di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 yang mencapai
5,3%. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan turun ke 2,3% bahkan dalam
skenario yang lebih buruk bisa mencapai - 0,4%. Sektor rumah tangga akan mengalami
penurunan cukup besar dari sisi konsumsi karena tidak lagi melakukan aktivitas sehingga
konsumsi akan menurun cukup tajam dari 3,22% hingga 1,60% (Warta Ekonomi, 2020).
Sementara Sekretaris Kemenko Perekonomian mengatakan, sudah sebanyak 3,05 juta orang
pekerja di Indonesia yang terdampak PHK dan dirumahkan akibat virus corona. Hal ini terjadi
semenjak pandemi corona di Indonesia sejak 3 Maret 2020 lalu. Efek lanjutannya adalah
diperkirakan akan ada tambahan pengangguran sebanyak 5,23 juta jiwa apabila virus corona
terus meluas sedangkan survey yang dilakukan SMRC menemukan 59% responden
beranggapan ekonomi rumah tangga akan menjadi kurang baik. Artinya bahwa masyarakat
cenderung pesimistis terhadap kondisi ekonomi nasional setahun ke depan (CNBC, 2020).

4
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dampak covid-19 sangat kompleks terhadap rumah tangga.
Akibat dibatasi kegiatan maka banyak sekali rumah tangga yang kehilangan pekerjaan,
berdampak ke pendapatan dan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang [Link]
permasalahan yang akan dibahas oleh peneliti dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana dampak pandemi covid-19 terhadap pendapatan dan pengeluaran konsumsi
rumah tangga?
2. Bagaimana dampak pandemi covid-19 terhadap pelaku usaha UMKM?
3. Bagaimana dampak pandemi covid-19 terhadap distribusi nasional?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari dilakukan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis dampak pandemi covid-19 terhadap pendapatan dan pengeluaran konsumsi
rumah tangga
2. Menganalisis dampak pandemi covid-19 terhadap pelaku usaha UMKM
3. Menganalisis dampak pandemi covid-19 terhadap distribusi nasional

1.4 Metode Pengumpulan Data


Data yang dikemukakan dalam karya tulis ini diperoleh melalui berbagai berbagai cara.
Pertama dengan membaca buku sumber yang ada hubungannya dengan kondisi perekonomian
di masa covid-19. Kecuali buku, ada juga media koran dan berita media online.

1.5 Sistematika Penulisan


Dalam penelitian ini terdapat 3 bab yaitu, bab pendahuluan, bab pembahasan, dan bab penutup
dimana masing masing bab penelitian ini dirinci sebagai berikut:
A. BAB I PENDAHULUAN
Pembahasan dimulai dengan bab pendahuluan yang mencakup latar belakang, rumusan
masalah, tujuan, metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.
B. BAB II PEMBAHASAN
Dalam bab ini disajikan teori-teori yang berkaitan dalam penelitian, hubungan antar
variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, penelitian terdahulu yang digunakan
sebagai referensi dalam penelitian ini serta kerangka pemikiran dan hipotesis yang
berkaitan dengan dampak covid-19 terhadap pelaku ekonomi
C. BAB III PENUTUP
Dalam bab ini berisi penutup yang menjelaskan kesimpulan dari pembahasan
D. DAFTAR PUSTAKA

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.2 Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Ekonomi


2.2.1 Dampak Covid-19 terhadap Konsumen Rumah Tangga
Berbagai negara mengalami ketidak stabilan di sektor ekonomi akibat krisis yang
ditimbulkan oleh pandemi COVID-19, tak terkecuali Indonesia. Tercatat pada kuartal II
2020 pertumbuhan ekonomi melambat dan terkontraksi hingga minus 5,32 persen secara
tahunan. Kontraksi terdalam dialami sektor konsumsi rumah tangga. Untuk mengetahui
dampak pandemi COVID-19 terhadap ekonomi rumah tangga, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Ekonomi telah melakukan
survei online pada rentang 10 –31 Juli lalu.

Ketidakstabilan kondisi perekonomian akibat pandemi COVID-19 semakin dirasakan


dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya rumah tangga. “Konsumsi rumah
tangga, sebagai penopang utama perekonomian melambat secara signifikan, dimana
pada akhirnya mempengaruhi kinerja industri dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah”,
ungkap Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho. Agus
menjelaskan, rumah tangga merupakan pelaku ekonomi terkecil dan terpenting,
mengingat semua kegiatan ekonomi berawal dari sana. “Rumah tangga Indonesia yang
terdampak terdapat dua sisi secara bersamaan, yaitu kontraksi pendapatan
dan keterbatasan ruang konsumsi,” jelas Agus. Dirinya menjabarkan, kontraksi
pendapatan terjadi karenaadanya Pemutusan Hubungan Kerja
(PHK), pengurangan gaji, dan penurunan laba usaha. “Sementara keterbatasan ruang
konsumsi diantaranya karena adanya pembatasan mobilitas masyarakat,” jelas Agus.

2.2.2 Dampak Covid-19 terhadap Pelaku Usaha / UMKM


Semenjak Covid-19 ditetapkan berstatus pandemi, ada banyak sektor ekonomi domestik
dan global yang terpengaruhi. Dampak pandemi paling terasa terjadi pada sektor usaha
mokro, kecil, dan menengah (UMKM).
Berbekal penelitian pendahuluan di April 2020, dengan sampel UMKM yang terdata di
Kemenkop UKM, dilaporkan bahwa sejumlah 56% UMKM mengaku mengalami
penurunan pada hasil omzet penjualan akibat pandemi Covid-19, 22% lainnya
mengalami kesulitan dalam mendapatkan pembiayaan/kredit, 15% mengalami
permasalahan dalam distribusi barang, dan 4% sisanya melaporkan kesulitan
mendapatkan bahan baku mentah. Dari seluruh UMKM yang terdata dalam riset ini,
komposisi UMKM yang bergerak dalam industri mikro menempati angka 87.4%.
Alhasil, dampak awal pandemi Covid-19 pada sektor UMKM terdeteksi pada level
UMKM mikro ini.

6
Sektor UMKM yang terpengaruh pandemi covid-19 :
1. UMKM eksportir merupakan yang paling banyak terpengaruh, yaitu sekitar 95,4%
dari total eksportir.
Keterpengaruhan sektor UMKM eksportir sebagai yang paling tinggi (95.4%)
dilaporkan merupakan imbas langsung dari PSBB, yang membuat ruang menuju
sasaran produk mengalami kendala. Penjarakan sosial yang kemudian dikenal
sebagai social distancing juga turut menjadi faktor pemicu hambatan distribusi
sehingga menyebabkan terjadi penurunan omzet penjualan dari UMKM eksportir ini.

2. UMKM yang bergerak dalam sektor kerajinan dan pendukung pariwisata


terpengaruh sebesar 89,9%.
UMKM yang bergerak pada sektor kerajinan dan pendukung pariwisata, tingginya
keterpengaruhan akibat Pandemi sebesar 89,9% disebabkan oleh beberapa faktor,
antara lain: 1) penurunan jumlah wisatawan secara tidak langsung berpengaruh
terhadap omzet penjualan, 2) kesulitan mendistribusikan barang, 3) mereka harus
menutup sementara lapaknya dengan alasan memutus mata rantai penyebaran virus
Corona.

3. Sektor yang paling kecil terimbas pandemi Covid-19 adalah sektor pertanian, yakni
sebesar 41,5%.
Sementara itu, pada level pengusaha, data riset Kementerian Koperasi dan UKM,
melaporkan UMKM yang terdiri dari pedagang besar dan pedagang eceran mengalami
dampak pandemi Covid-19 yang paling tinggi (40,92%), disusul UMKM penyedia
akomodasi, makanan minuman sebanyak (26,86%) dan yang paling kecil terdampak
adalah industri pengolahan sebanyak (14,25%).

2.2.3 Dampak Covid-19 terhadap Distribusi Nasional


Kehadiran pandemi virus Corona (COVID-19) tentu membawa pengaruh yang
signifikan terhadap banyak aktivitas bisnis termasuk aktivitas distribusi pangan.
Aktivitas bisnis satu ini sangat rentan terhambat dan cepat atau lambat harus melakukan
penyesuaian untuk tetap bertahan.
Ada perubahan yang cukup signifikan karena pandemi Corona yaitu perubahan cara kita
mengkonsumsi. Karena kan sebenarnya bisnis dan manajemen itu di-drive oleh dua
aliran yaitu aliran materi dan aliran informasi. Covid ini membuat aliran materi
(distribusi barang/pangan) terhambat. Selain itu, penting juga bagi setiap pelaku bisnis
pangan untuk memberi jaminan keamanan pangan bagi seluruh masyarakat. Sebab,
masyarakat kini lebih selektif dalam memilih pangan. Untuk itu, pelaku bisnis perlu
menerapkan protokol kesehatan kepada seluruh pelaku distribusi pangan mulai dari hulu
hingga ke konsumen.

7
 Optimasi Distribusi Pangan dan Pentingnya Protokol Logistik
Jalur distribusi atau logistik menjadi sangat vital karena beberapa komoditas menjadi
sangat penting di tengah pandemi COVID-19, seperti alat-alat kesehatan dan bahan
pangan. Protokol logistik kebencanaan tentu saja menjadi acuan awal distribusi
logistik, tetapi lain hal dengan pandemi COVID-19 yang terhitung sebagai bencana
non-alam. Jalur distribusi logistik memiliki peran yang sangat strategis di tengah
pandemi virus ini, terutama dalam hal penanganan wabah dan memenuhi kebutuhan
konsumsi dalam negeri, khususnya yang terkait dengan pangan. Masuknya komoditas
pangan melalui jalur darat, laut dan udara menjadi titik-titik yang perlu menjadi
perhatian sebelum distribusi komoditas tersebut tersebar ke seluruh wilayah
Indonesia. Distribusi logistik erat kaitannya dengan mobilisasi pelaku-pelaku
penyelenggara jasa logistik yang berkaitan mulai dari proses pengiriman dan
penyimpanan barang, serta dari titik awal hingga titik akhir sepanjang rantai
pasoknya, diantaranya produsen, distributor, pengecer, hingga konsumen. Rantai
distribusi usaha yang saling terkait dengan interaksi sosial menjadi salah satu hal yang
harus dipikirkan rencana mitigasinya. Dalam karantina wilayah yang membatasi
interaksi sosial /pergerakan sosial, distribusi logistik perlu diberikan pengecualian.
Komoditas primer, seperti bahan pangan, yang menjadi komoditas utama pada saat
ini tentunya harus memperoleh perlakuan khusus atau prosedur yang berbeda seperti
biasanya. Dan perlakuan khusus tersebut harus melalui protokol logistik / distribusi
yang berbeda dibandingkan komoditas lainnya karena daya tahan dan sterilisasinya
harus tetap terjaga sampai tujuan. Salah satu di antara beberapa prosedur yang harus
dijalankan distribusi logistik adalah sterilisasi dengan menggunakan disinfektan
untuk komoditas, pekerja logistik, serta perlengkapan dan peralatan logistik. Ketika
komoditas sudah sampai di terminal, barang pun harus menjalani proses disinfektan
atau sterilisasi sebelum akhirnya di distribusikan oleh penyelenggara kurir menuju ke
ritel/konsumen. Alat pelindung diri (APD) standar, seperti masker, sarung tangan,
seragam steril, dan hand sanitizer, juga harus digunakan bukan hanya pada tenaga
medis tetapi juga kepada pekerja logistik.
Kesiapan personel dan armada yang diperlukan untuk distribusi menjadi penting
dimana personel harus melalui tes kesehatan (health screening). Sedangkan armada
juga harus melalui sterilisasi pada bagian interior dan eksterior menggunakan
disinfektan. Terminal untuk barang-barang logistik juga harus menggunakan
disinfektan dan dilakukan kontrol harian untuk mencegah adanya virus yang menetap
pada personel dan armada. Diperlukan juga sertifikasi lolos inspeksi yang dilakukan.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mendorong dan memfasilitasi sektor logistik agar
berjalan optimal, terutama dalam hal penyediaan infrastruktur dan fasilitas khusus
lainnya. Insentif untuk sektor logistik dalam rantai pasok pangan perlu menjadi
prioritas agar distribusi terjamin serta ketersediaan dan stabilitas harga pangan tetap
terjaga. Jika tidak ada insentif sama sekali dan tidak ada protokol logistik yang jelas,
bukan tidak mungkin juga distribusi pangan bukannya mendukung penyelesaian
dampak akibat COVID-19, akan tetapi malah menjadi salah satu jalan bagi virus
untuk menyebar dari satu titik ke titik yang lain.

8
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pandemi COVID-19 telah mempengaruhi kehidupan ekonomi terhadap konsumen rumah
tangga, dimana 50% diantaranya mengalami kesulitan keuangan. Keterbatasan lapangan
pekerjaan karena kegiatan bisnis yang lesu akibat dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala
Besar (PSBB), menyebabkan berkurangnya pemasukan rumah tangga, disaat harga berbagai
kebutuhan sehari-hari cenderung meningkat.

Akses untuk mendapatkan layanan dasar sosial juga semakin sulit di saat pandemi, sehingga
masyarakat kesulitan untuk memperoleh pangan berkualitas untuk gizi yang layak, layanan
kesehatan, dan pendidikan bagi anak. Perlu analisa lebih dalam terkait dampak ekonomi-sosial
pandemi pada pendapatan dan pengeluaran rumah tangga di Indonesia, sehingga pemetaan
masalah menjadi jelas dan lebih mudah diatasi.

Diketahui Covid-19 juga berpengaruh terhadap usaha mikro, kecil dan menengah. Dimana
setiap kenaikan satuan Covid-19 akan menghambat perekonomian sehingga pendapatan
pelaku usaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah mengalami penurunan.

Pandemi virus corona (Covid-19) juga menghambat proses distribusi bahan pangan. Hal itu
yang menyebabkan masih tingginya harga pangan di sejumlah wilayah Indonesia. Salah satu
dampak terganggunya distribusi di dalam negeri membuat harga bawang merah tinggi.

3.2 Saran
Sebagai langkah antisipasi dampak COVID-19 terhadap ketersediaan dan stabilitas harga
pangan di Indonesia, pemerintah harus memastikan fasilitas dan bantuan di semua lini pangan,
mulai dari produksi hingga konsumsi, berjalan sebagaimana mestinya. Koordinasi antar
Kementerian dan Lembaga Negara (K/L) merupakan kunci keberhasilan dari penerapan
strategi kebijakan pangan ini. Tren restriksi perdagangan komoditas pangan dan gangguan
logistik sudah dapat diprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, pemerintah perlu
mengoptimalkan potensi produksi pangan dalam negeri dan memperbaiki sistem logistik
pangan nasional.

9
DAFTAR PUSTAKA

[Link]
[Link]
indonesia/22123
[Link]
oleh-corona
[Link]
keladi-tingginya-harga-pangan
[Link]
pdf
[Link]
harga-pangan
[Link]

10

Common questions

Didukung oleh AI

The pandemic led to a sharp decline in household consumption, which in turn decreased Indonesia's GDP growth significantly, ranging from 2.3% to -0.4%, down from the initial projection of 5.3% . This is primarily due to restrictions that reduced household activities, causing a contraction in both income and consumption . Additionally, unemployment surged as 3.05 million workers faced layoffs or reduced hours, further depressing household spending .

The effectiveness of governmental policies in supporting economic recovery has been mixed. While efforts have been made to provide financial assistance and subsidies, the vast impact on various economic sectors, including substantial job losses and the contraction of household consumption, suggests that these measures may not fully address the complexity of the economic challenges . Strengthening logistic capabilities and ensuring adequate food supply have been steps forward, but implementation inconsistency has been noted . Further governmental coordination and resource allocation are critical .

Household consumption, a significant driver of Indonesia's economy, is vital for post-COVID-19 recovery. The pandemic greatly reduced consumption due to income losses and restrictions, highlighting the need for stimulating consumption through incentives and economic relief . A robust recovery strategy should focus on restoring consumer confidence and enabling households to resume pre-pandemic spending levels . Enhancing financial security and employment opportunities will be crucial components to stimulate household consumption .

To mitigate the economic challenges faced by SMEs, it is suggested to provide financial relief in the form of credit facilities and subsidies . Support in adapting digital technologies for business continuity and enhancing supply chain resilience through government-led initiatives is also vital . Simplified procedures for obtaining business support and improved access to new markets would further aid recovery .

Income contraction during the pandemic, primarily due to job losses and reduced salaries, severely affected household financial stability in Indonesia. Consumption reduction and increased living costs led many households to struggle financially . Consequently, about 59% of surveyed respondents were pessimistic about the household economic outlook, underscoring the widespread financial strain .

The pandemic severely disrupted Indonesia's national distribution systems, affecting both supply chains and logistics. This was due to restrictions on movement which hampered material flows and required distribution channels to quickly adapt, especially concerning essential goods like food . Enhanced protocols, such as sterilization and worker health screenings, were necessary to maintain food safety and prevent virus spread . Additionally, the pandemic led to increased operational costs and logistical challenges .

The pandemic necessitated significant changes in business operations, especially in the logistics sector. Businesses had to implement health protocols, such as mandatory disinfection and health screenings for logistics personnel, to prevent virus transmission during distribution . The focus on digital transformation and data-driven forecasting became more pronounced to handle demand surges and logistic slowdowns efficiently. Government incentives were critical in facilitating these operational shifts to maintain essential service continuity .

The pandemic led to substantial employment challenges, with at least 3.05 million workers being laid off or having their hours reduced . There were concerns that continued pandemic conditions could add 5.23 million people to the unemployment figure, reflecting significant pessimism about near-term economic recovery .

Disruptions in logistics and distribution have significant implications for food security in Indonesia. With critical supply chains affected and distribution costs rising due to pandemic-related restrictions, access to essential food items became difficult, leading to high prices in certain regions . The need for sterilization and specific logistics protocols added complexity, further highlighting the importance of government intervention to ensure food availability and price stability .

SMEs in Indonesia faced significant challenges during the pandemic, with approximately 56% reporting decreased sales turnovers . Many also encountered financing difficulties (22%) and distribution issues (15%). Particularly affected were export-oriented SMEs due to travel restrictions and supply chain disruptions, with 95.4% experiencing impacts . The reduction in tourism drastically affected SMEs linked to this sector by decreasing customer numbers and sales .

Anda mungkin juga menyukai