2
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Serum merupakan bagian dari darah yang didapatkan setelah proses
pembekuan darah dan hampir secara umum digunakan untuk bahan dalam
pemeriksaan kimiawi. Sampel pemeriksaan berupa serum yang memenuhi
persyaratan uji laboratorium sebaiknya tidak tampak merah (hemolisis), ikterus,
atau keruh (lipemik). Hemolisis, ikterus, dan lipemik merupakan penyebab
gangguan pada pra analisis yang dapat mempengaruhi hasil uji fotometrik di
laboratorium (Hasan, 2017). Serum lipemik adalah serum yang menjadi keruh
akibat peningkatan kadar lipoprotein dan akumulasi partikel lipoprotein.
Kilomikron yang memiliki partikel lipoprotein terbesar dengan ukuran 70-100 nm,
merupakan penyebab utama dari kekeruhan serum (Nicolac, 2013). Serum lipemik
juga dapat disebabkan karena adanya beberapa penyakit seperti
hipertrigliseridemia, gagal ginjal kronis, diabetes mellitus, hipertiroidisme, sirosis
bilier primer (PBC), multiple myeloma, pankreatitis, nutrisi parental total, estrogen,
obat-obatan seperti protease inhibitor (infeksi HIV), lupus eritematosus,
kontrasepsi oral, dan lain-lain (Calmarza and J. Cordero 2011).
Lipemik dapat mengganggu pada parameter pemeriksaan yang memerlukan
transmisi cahaya. Kekeruhan pada serum lipemik dapat mempengaruhi absorbansi
spektrofotometri pada hampir semua panjang gelombang, sehingga dapat
menyebabkan hasil analisis yang tidak akurat (Pambudi, 2017). Salah satu
pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium klinik dengan menggunakan
2
3
spektrofotometri adalah total protein. Pemeriksaan total protein dilakukan dengan
menggunakan metode biuret. Apabila sampel yang digunakan adalah sampel
lipemik, tentunya akan mempengaruhi hasil pemeriksaan dan dapat menyebabkan
kesalahan diagnosis (Sujono, 2016)
Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) dalam pedoman
interferensi uji telah merekomendasikan penggunaan metode ultrasentrifugasi
sebagai standar prosedur baku untuk penanganan sampel serum lipemik (Gabaj,
2014). Namun, tidak semua laboratorium mampu atau dilengkapi dengan alat
ultrasentrifugasi karena jumlah sampel lipemik yang sangat kecil yang mungkin
diterima per tahunnya (Dimeski and Jones 2011). Menurut penelitan Castro (2018),
yaitu mengenai perbandingan perlakuan serum lipemik dengan ultrasentrifugasi
dan high speed sentrifugasi, ultrasentrifugasi dengan volume 1,5 mL dan kecepatan
108.200 xg selama 20 menit tidak memiliki perbedaan yang bermakna dengan high
speed sentrifugasi pada volume 1 mL dan dengan kecepatan 10.000 xg selama 15
menit. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa high speed
sentrifugasi dapat menggantikan ultrasentrifugasi untuk menghilangkan lipemik
pada serum pasien. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Goce dan Brock (2011), dengan perbedaan rata-rata sampel yang
menggunakan ultrasentrifugasi dengan high speed sentrifugasi diantaranya: pada
kadar kolesterol 4,9 mmol/L dan 3,1 mmol/L; sedangkan pada kadar trigliserida
masing-masing 17,4 mmol/L dan 15,0 mmol/L. Data penelitian tersebut
menegaskan bahwa high speed sentrifugasi hampir sama efektifnya dengan
ultrasentrifugasi dalam pengurangan lipid pada serum.
3
4
Penanganan sampel lipemik dapat juga dilakukan dengan metode
presipitasi. Polietilen glikol atau siklodekstrin seringkali digunakan pada metode
presipitasi untuk mengikat lemak dalam serum yang akan disentrifugasi, kemudian
serum yang telah disentrifugasi akan menghasilkan serum yang jernih karena terjadi
pengendapan lemak (Nikolac, 2014). Siklodekstrin adalah senyawa alami yang
tidak berbahaya dan efektif dalam mengatasi gangguan partikel lipid pada serum
yang lipemik. Siklodekstrin bersifat larut dalam air dan dapat membentuk kompleks
dengan molekul lain baik dalam bentuk padat maupun larutan. Berdasarkan
monomer glukosa penyusunnya, siklodekstrin dibagi menjadi alfa-siklodekstrin (6
unit), beta-siklodekstrin (7 unit), dan gamma-siklodekstrin (8 unit) (Noor, 2011).
Gamma siklodekstrin memiliki kemampuan membentuk kompleks inklusi
dengan molekul yang terkandung dalam rongga molekul siklodekstrin. Gamma
siklodekstrin memiliki rongga yang lebih besar dengan kelarutan tertinggi dalam
air, sehingga dapat menerima lebih banyak molekul jika dibandingkan dengan alfa
siklodekstrin dan beta siklodekstrin (Niranata, 2017). Penerapan metode flokulasi
dengan penambahan gamma siklodekstrin yang diinkubasi pada 23° C dapat
digunakan untuk mengurangi kekeruhan pada serum lipemik. Penggunaan gamma
siklodekstrin juga mudah diterapkan di laboratorium klinis karena metode ini
sangat sederhana dan tidak berbahaya (Maulana, 2017).
Di sisi lain, alfa-siklodekstrin juga memiliki kemampuan mengendapkan
lipoprotein yang lebih unggul daripada gamma-siklodekstrin, karena alfa-
siklodekstrin memiliki permukaan luar dengan sifat hidrofilik dengan bagian dalam
rongga yang bersifat hidrofobik. Alfa-siklodekstrin juga memiliki berat jenis paling
rendah jika dibandingkan dengan beta-siklodekstrin dan gamma-siklodekstrin. oleh
4
5
karena itu, alfa siklodekstrin dapat mengikat lemak lebih banyak pada serum
lipemik (de Miranda et al. 2011). Flokulan beta siklodesktrin tidak digunakan dalam
penanganan serum lipid karena kelarutannya dalam air tidak baik (Pambudi, 2017).
Berdasarkan hasil survei di beberapa laboratorium maupun rumah sakit,
apabila menerima sampel serum lipemik, dilakukan beberapa penanganan untuk
mengatasi sampel tersebut antara lain adalah dilakukan dengan pengambilan
sampel ulang dari pasien, dengan persyaratan bahwa pasien harus melakukan puasa
terlebih dahulu. Kemudian penanganan lainnya adalah dengan melakukan
pengenceran, serta dilakukan penanganan dengan sentrifus pada sampel serum
lipemik, setelah itu supernatan yang jernih diambil untuk dilakukan pemeriksaan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sujono (2017) mengenai kadar
protein total dan ureum dengan dan tanpa penambahan gamma siklodekstrin pada
serum lipemik, didapatkan bahwa kadar total protein dan ureum cenderung lebih
rendah dengan penambahan gamma siklodekstrin, dan terdapat perbedaan yang
bermakna antara serum lipemik yang diberi penambahan gamma siklodesktrin
dengan serum lipemik tanpa penambahan gamma siklodeskrin. Pada penelitian
yang dilakukan oleh Dini (2019) didapatkan hasil adanya perbedaan kadar
trigliserida pada serum lipemik yang diolah dengan alfa siklodesktrin dengan high
speed sentrifugasi. Selisih rata-rata kadar trigliserida pada serum lipemik yang
diolah dengan alfa siklodesktrin adalah 273 mg/dL sedangkan yang diolah dengan
high speed sentrifugasi adalah 461 mg/dL.
Penelitian ini bertujuan untuk meninjau penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya mengenai perbedaan kadar trigliserida pada serum lipemik yang diolah
dengan alfa siklodesktrin dan high speed sentrifugasi, serta penelitian lainnya
5
6
mengenai kadar protein total dan ureum dengan dan tanpa penambahan gamma
siklodekstrin pada serum lipemik. Pada penelitian ini, sampel serum lipemik akan
dibandingkan kadar total proteinnya dengan tiga perlakuan yang berbeda,
diantaranya adalah serum yang diberi penambahan flokulan alfa siklodekstrin,
penambahan flokulan gamma siklodekstrin, serta serum yang diolah dengan high
speed sentrifugasi. Dengan demikian, akan diketahui perlakuan mana yang lebih
efektif untuk mengatasi serum lipemik, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif
untuk penanganan serum lipemik pada pemeriksaan laboratorium.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dibuat rumusan masalah sebagai
berikut :
Apakah ada perbedaan kadar total protein pada serum lipemik yang
ditambahakan flokulan alfa siklodesktrin, flokulan gamma siklodekstrin dan yang
diberi perlakuan dengan high speed sentrifugasi?
1.3 Batasan Masalah
1. Penelitian ini menggunakan flokulan alfa siklodesktrin dengan konsentrasi
20% dalam penanganan serum lipemik
2. Penelitian ini menggunakan flokulan gamma siklodesktrin dengan konsentrasi
20% dalam penanganan serum lipemik
3. Penelitian ini menggunakan metode high speed sentrifugasi dalam penanganan
serum lipemik
6
7
4. Pemeriksaan kadar total protein pada serum lipemik dilakukan dengan
menggunakan metode Biuret.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbandingan kadar total protein dengan penambahan
perlakuan menggunakan flokulan alfa siklodesktrin, flokukan gamma siklodekstrin,
dan dengan perlakuan high speed sentrifugasi pada serum lipemik
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Menganalisa kadar total protein pada serum lipemik sebelum dan sesudah
diberi penanganan dengan penambahan alfa siklodekstrin, gamma
siklodesktrin, dan dengan high speed sentrifugasi
2. Menganalisa presentase penurunan kadar total protein pada serum lipemik
setelah ditambahkan alfa siklodekstrin
3. Menganalisa presentase penurunan kadar total protein pada serum lipemik
setelah ditambahkan gamma siklodekstrin
4. Menganalisa presentase penurunan kadar total protein pada serum lipemik
setelah dilakukan proses high speed sentrifugasi
5. Menganalisa perbedaan kadar total protein pada serum lipemik yang diberi
penanganan dengan alfa siklodekstrin, gamma siklodekstrin, dan dengan high
speed sentrifugasi.
7
8
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Penambahan alfa siklodekstrin, gamma siklodektrin dan perlakuan high
speed sentrifugasi dilakukan untuk mengurangi kekeruhan pada sampel lipemik
sehingga tidak mengganggu pemeriksaan yang menggunakan transmisi cahaya,
salah satunya adalah pemeriksaan total protein.
1.5.2 Manfaat Aplikatif
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan tenaga laboratorium medis dapat
menjadikan penambahan alfa siklodekstrin, penambahan gamma siklodekstrin
maupun perlakuan high speed sentrifugasi sebagai metode yang lebih efektif untuk
menangani serum lipemik.
1.5.3 Manfaat Akademis
Dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dibidang kimia klinik kepada
tenaga laboratorium medis mengenai analisa kadar total protein pada serum lipemik
yang telah diberi penambahan alfa siklodekstrin, penambahan gamma
siklodekstrin, dan yang telah diberi perlakuan dengan high speed sentrifugasi