0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan154 halaman

Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Pasca Stroke

Skripsi ini membahas hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien pasca stroke berdasarkan studi literatur. Penelitian ini menggunakan metode review literatur dengan mengumpulkan 5 artikel terkait topik dari database online. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa dukungan keluarga berupa dukungan emosional, penilaian, psikososial, instrumental, dan informasional berhubungan dengan tingkat kualitas hidup pasien pasca stroke."

Diunggah oleh

citra annisa fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan154 halaman

Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Pasca Stroke

Skripsi ini membahas hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien pasca stroke berdasarkan studi literatur. Penelitian ini menggunakan metode review literatur dengan mengumpulkan 5 artikel terkait topik dari database online. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa dukungan keluarga berupa dukungan emosional, penilaian, psikososial, instrumental, dan informasional berhubungan dengan tingkat kualitas hidup pasien pasca stroke."

Diunggah oleh

citra annisa fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Literatur Review: Hubungan Dukungan Keluarga

dengan Kualitas Hidup pada Pasien


Pasca Stroke

LITERATURE REVIEW

SKRIPSI

Oleh :
Firda Andan Sari
NIM:17010053

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS dr. SOEBANDI
2021
Literatur Review: Hubungan Dukungan Keluarga
dengan Kualitas Hidup pada Pasien
Pasca Stroke

LITERATURE REVIEW

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan


Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Keperawatan ([Link])

Oleh :
Firda Andan Sari
NIM:17010053

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS dr. SOEBANDI
2021

ii
HALAMAN PERSEMBAHAN

Segala Puji Allah SWT atas limpahan rahmat dan Ridho-nya yang
senantiasa selalu memberikan kemudahan, petunjuk, kekuasan dan keyakinan
sehingga saya dapat menyelesaikan penyusun skripsi ini tepat pada waktunya.
Skripsi ini saya persembahkan untuk:
1. Kepada keluarga saya terutama kedua orang tua saya, kepada tiga saudara
perempuan saya, dan kepada kedua keponakan saya yang telah
mendukung saya dan memberikan motivasi, dan doa-doanya, serta
dukungan biaya pendidikan sehingga saya sampai pada titik ini dan
menyandang gelar [Link]
2. Terimakasih kepada kedua dosen pembimbing, Ibu Susilawati,
[Link].,[Link] dan Ibu Ns. Rida Darotin [Link]., [Link] yang telah sabar
membimbing saya selama proses penyusunan skripsi ini hingga selesai.
3. Pada Dosen dan keluarga Universitas dr. Soebandi Jember yang telah
memberikan ilmu pengetahuan, dan memberikan banyak motivasi selama
perkuliahan.
4. Kepada teman-teman kos saya, kepada sahabat-sahabat saya, dan kepada
sahabat online saya ananda tasya yang telah memberikan dukungan
semangat kepada saya.
5. Kepada Jeong Jaehyun yang telah memberikan banyak motivasi kepada
saya selama saya mengenyam pendidikan dari SMA hingga S1.

iii
Motto

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya


bersama kesulitan ada kemudahan”

(QS. Al-Insyirah, 5-6)

“Where is the easy things in this world ? There is nothing that can be done
without an effort. So work needs you”

(Jeong Jaehyun)

“Bumi tidak hanya berputar untuk kita, tidak ada yang mudah kecuali diri kita
yang mau berusaha”

(Firda andan sari)

iv
v
v
vi
SKRIPSI

Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup


pada Pasien Pasca Stroke

Literatur Review

Oleh:

Firda Andan Sari


17010053

Pembimbing

Dosen pembimbing satu: Susilawati, [Link]., [Link]

Dosen pembimbing dua: Ns. Rida Darotin [Link]., [Link]

vii
ABSTRAK

Sari, Firda Andan* Susilawati**, Darotin, Rida***. Literatur Review: Hubungan


Dukungan Keluarga dengan Kualitas hidup pada Pasien Pasca
stroke, Skripsi, Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas
[Link] Jember.

Stroke Merupakan kematian jaringan otak disebabkan berkurangnya aliran


darah dan oksigen ke otak, pasca stroke menyebabkan kecacatan fungsi kognitif,
sensorik, dan motorik mengakibatkan penurunan kualitas hidup pasien pasca
stroke sehingga membutuhkan dukungan dari keluarga yang memberikan
kenyamanan fisik dan psikologis. Tujuan penelitian ini menjelaskan hubungan
dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke berdasarkan
studi literature Metode: penelitian ini menggunakan Studi Literatur Review
dengan metode pengumpulan artikel meggunakan database Portal Garuda 1
Artikel, dan Google Scholar 4 Artikel. Didapatkan 5 artikel yang sesuai dengan
kriteria inklusi yang akan dilakukan review Hasil: Hasil tinjauan literature review
ini yang diperoleh Berdasarkan hasil analisis dari lima artikel memiliki dukungan
keluarga yang baik, kualitas hidup yang baik dari kelima artikel seluruhnya
menunjukkan ada hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien
pasca stroke Analisis: Pasca stroke mempengaruhi domain kualitas hidup
diantaranya Fisik, psikologi, emosi, hubungan sosial, spiritual. Maka dari itu
dukungan keluarga berupa dukungan emosional, penilaian, psikososial, instrumental,
informasional, mempengaruhi tingkat kualitas hidup pasien pasca stroke. Diskusi: 5
jurnal yang telah diakses uji analisisnya menyatakan semua nilai p-value <0,05
yang berarti terdapat hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada
pasien pasca stroke. Saran: diharapkan penelitian ini menambah pengetahuan dan
sebagai intervensi asuhan keperawatan pada pasien pasca stroke.

Kata Kunci: Dukungan Keluarga, Kualitas Hidup, Pasien Pasca Stroke


Keterangan:
* Peneliti
** Dosen Pembimbing 1
*** Dosen Pembimbing 2

viii
ABSTRACT

Sari, Firda Andan* Susilawati**, Darotin, Rida***. Literature Review:


Relationship of Family Support with Quality of Life in Post-stroke
Patients, Nursing Science Study Program University dr. Soebandi
Jember.

Stroke is the death of brain tissue due to reduced blood flow and oxygen
to the brain, post-stroke causes cognitive, sensory, and motor dysfunction
resulting in a decrease in the quality of life of post-stroke patients so that they
need support from families who provide physical and psychological comfort. The
purpose of this study is to explain the relationship between family support and
quality of life in post-stroke patients based on a literature study. Methods: This
study uses a Literature Review Study with article collection methods using the
Garuda Portal 1 Article database, and Google Scholar 4 Articles. There were 5
articles that matched the inclusion criteria for the review. Results: The results of
this literature review were obtained. post-stroke Analysis: Post-stroke affects the
quality of life domains including physical, psychological, emotional, social
relationships, spiritual. Therefore, family support in the form of emotional
support, assessment, psychosocial, instrumental, informational, affects the level of
quality of life of post-stroke patients. Discussion: 5 journals that have accessed
the analysis test stated that all p-values were <0.05, which means that there is a
relationship between family support and quality of life in post-stroke patients.
Suggestion: this research is expected to increase knowledge and as a nursing care
intervention in post-stroke patients.

Keywords: Family Support, Quality of Life, Post-Stroke Patients


Information:
* Researcher
** Supervisor 1
*** Supervisor 2

ix
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi literature review yang berjudul

“Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup pada Pasien Pasca

Stroke” sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan

pada Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas dr. Soebandi Jember.

Dalam hal ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak,

karena itu pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih

kepada :

1. Hella Meldy Tursina, [Link].,Ns.,[Link]. selaku Dekan Fakultas Kesehatan

Universitas dr. Soebandi Jember

2. Ibu Irwina Angelia Silvanasari, [Link]., Ns., [Link]. selaku Ketua Program

Studi Ilmu Keperawatan Universitas dr. Soebandi.

3. Bapak Sutrisno, [Link]., M.M selaku ketua Dosen Penguji Ketua yang bersedia

menguji penulis, memberikan saran, bimbingan, arahan dan motivasi dalam

menyusun skripsi literature review ini.

4. Susilawati, [Link].,[Link] selaku Pembimbing Utama yang telah menyediakan

waktu, pikirannya dan tenaga untuk membimbing dalam menyusun skripsi

literature review ini dengan sabar, tekun, bijaksana dan sangat cermat

memberikan masukan serta motivasi kepada penulis.

5. Ns. Rida Darotin [Link]., [Link] selaku pembimbing pendamping yang telah

menyediakan waktu, pikirannya dan tenaga untuk membimbing dalam

x
menyusun skripsi literature review ini dengan sabar, tekun, bijaksana dan

sangat cermat memberikan masukan serta motivasi kepada penulis.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan pahala atas segala

amal baik yang telah diberikan dan semoga proposal skripsi ini berguna bagi

semua pihak yang memanfaatkan.

Jember, 20 Agustus 2021

Penulis

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. ii

LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................ iii

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. iv

KATA PENGANTAR ............................................................................................v

LEMBAR BIMBINGAN .................................................................................... vi

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ................................ vii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii

DAFTAR TABEL...................................................................................................x

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xii

DAFTAR ISTILAH ........................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 Latar Belakang .........................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................4

1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................................4

1.3.1 Tujuan Umum .................................................................................4

1.3.2 Tujuan Khusus ...............................................................................4

1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................4

1.4.1 Bagi Tenaga Kesehatan ...................................................................4

1.4.2 Bagi Peneliti ....................................................................................5

1.4.3 Bagi Instusi ......................................................................................5

xii
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................6

2.1 Konsep Stroke ...........................................................................................6

2.1.1 Definisi Stroke ...................................................................................6

2.1.2 Etiologi Stroke ...................................................................................6

2.1.3 Klasifikasi Stroke ..............................................................................8

2.1.4 Patofisiologi Stroke .........................................................................11

2.1.5 Tanda dan Gejala Stroke..................................................................12

2.1.6 Faktor-Faktor Resiko Stroke ...........................................................15

2.1.7 Dampak Stroke ................................................................................19

2.1.8 Pencegahan Stroke ...........................................................................20

2.2 Konsep Kualitas Hidup. ..........................................................................22

2.2.1 Definisi Kualitas Hidup ...................................................................22

2.2.2 Faktor-Faktor Kualitas Hidup ..........................................................22

2.2.3 Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke. ...............................................24

2.2.4 Domain Kualitas Hidup ...................................................................25

2.2.5 Pengukuran Kualitas Hidup .............................................................26

2.3 Dukungan Keluarga ................................................................................28

2.3.1 Definisi Keluarga .............................................................................28

2.3.2 Fungsi Keluarga ...............................................................................29

2.3.3 Fungsi Keluarga Dalam Bidang Kesehatan .....................................32

2.3.4 Jenis-Jenis Dukungan Keluarga.......................................................32

2.3.5 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup .................33

2.4 Teori Prilaku............................................................................................35

xiii
2.5 Kerangka Teori .......................................................................................37

BAB III METODE PENELITIAN .....................................................................38

3.1 Strategi Pencarian Literature ..................................................................38

3.1.1 Protokol dan Registrasi ..................................................................38

3.1.2 Database Pencarian .......................................................................38

3.1.3 Kata Kunci .....................................................................................39

3.2 Kriteria Inklusi dan Ekslusi .....................................................................39

3.3 Seleksi Studi dan Penilaian Kualitas .......................................................40

3.3.1 Hasil Pencarian dan Seleksi Studi .................................................41

3.4 Rencana Analisa Data .............................................................................43

BAB VI HASIL DAN ANALISI .........................................................................42

4.1 Karakteristik Studi ..................................................................................42

4.2 Karakteristik Responden Studi................................................................48

4.3 Analisis Dukungan Keluarga Terhadap Pasien Pasca Stroke .................54

4.4 Analisis Kualitas Hidup pada Pasien Pasca Stroke .................................57

4.6 Analisis Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup pada Pasien Pasca

Stroke ............................................................................................................58

BAB V PEMBAHASAN ......................................................................................59

5.1 Karakteristik Responden .........................................................................59

5.2 Identifikasi Dukungan Keluarga Pada Pasien Pasca Stroke ...................61

5.3 Idenifikasi Kualitas Hidup pada Pasien Pasca Stroke ..............................64

5.4 Menganalisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup

pada Pasien Pasca Stroke .........................................................................67

xiv
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................74

6.1 Kesimpulan ............................................................................................74

6.2 Saran........................................................................................................75

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 77

LAMPIRAN

xv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kata Kunci Literature Review..................................................................39

Tabel 3.2 Kriteria Inklusi dan Ekslusi Literature Review ........................................39

Tabel 4.1 Hasil Pencarian Artikel ............................................................................43

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Studi Berdasarkan Usia ...................................49

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Studi Berdasarkan Jenis Kelamin ....................50

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Studi Berdasarkan Pendidikan.........................51

Tabel 4.5 Karakteristik Responden Studi Berdasarkan Pekerjaan ...........................51

Tabel 4.6 Karakteristik Responden Studi Berdasarkan Status Pernikahan ..............52

Tabel 4.7 Analisis Dukungan Keluarga Terhadap Pasien Pasca Stroke ..................54

Tabel 4.8 Jenis-Jenis Dukungan Keluarga ...............................................................55

Tabel 4.9 Analisis Kualitas Hidup Pada Pasien Pasca Stroke .................................57

Tabel 4.10 Domain Kualitas hidup .........................................................................57

xvi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori Hubungan Dukungan Keluarga dengan kualitas

Hidup Pasien Pasca Stroke ..................................................................35

Gambar 3.1 Diagram Alur literature review berdasarkan PRISMA 2009 (Polit

and Beck dalam Nursalam, 2020) ......................................................40

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Jurnal 1..............................................................................................73

Lampiran 2 Jurnal 2..............................................................................................79

Lampiran 3 Jurnal 3..............................................................................................86

Lampiran 4 Jurnal 4..............................................................................................94

Lampiran 5 Jurnal 5.............................................................................................107

Lampiran 6 Lembar Bimbingan...........................................................................123

xviii
DAFTAR ISTILAH

Accessibility of healthresources : Aksesibilitas sumber daya kesehatan

aphasia : Gangguan komunikasi

Attitudes : Sikap

Availability of healthresources : Ketersediaan sumber daya kesehatan

Behaviour : Tingkah Laku

Beliefs : Keyakinan

Community : Masyarakat

Communityleaders : Pemimpin Komunitas

Confidence : Kepercayaan

Comparation : Pembanding

Decisionmakers : Pembuat Keputusan

Dysphagia : Kesulitan Menelan

Employers : Pengusaha

Enabling factor : Faktor Pendukung

Environment : Lingkungan Hidup

Epilepsy : Kejang

Family : Keluarga

Fatiguee : Kekurangan energi atau keletihan,

foot drop : Ketidakmampuan untuk mengangkat

bagian depan kaki

Healt : Kesehatan

xi
xii

Healthprovider : Penyedia kesehatan

Hemiparesis : Otot lemah atau Kelumpuhan pada satu

sisi tubuh

inkontinensia : Kehilangan control kandung kemih

intracranial : Tekanan dalam rongga kepala

Intervention : Perlakuan

Knowledge : Pengetahuan

Language : Bahasa

Literatur Review : Ulasan Literatur

Obesitas : Kegemukan

Outcome : Kriteria hasil

Peers : Teman sebaya

PIS : Perdarahan Intra Serebri

Population : Populasi

Predisposing Factor : Faktor Predisposisi

PRISMA : Preferred Reporting Items for Systematic

Reviews and Meta-Analyses

PSA : Perdarahan Sub Arachnoid

Pseudobulbar affect (PBA) : Menangis dan tertawa dengan terpaksa

karena gangguan sistem saraf

Publication years : Tahun publikasi

Reinforcing Factor : Faktor Pendorong

Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar

xii
xiii

Skil : Kemampuan

spasme : Kontraksi otot

SS-QOL : Stroke specific quality if life

Study Design : Desain studi

Teachers : Guru

TIK : Tekanan Intra Kranial

Values : Nilai

Vasculardementia : Hilangnya ingatan

WHO : World Health Organisation

WHOQOL-BRE : World health organization quality of life-

bref

xiii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stroke merupakan penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang

ditandai dengan kematian jaringan otak, hal tersebut terjadi karena berkurangnya

aliran darah dan oksigen ke otak atau keadaan dimana sel-sel otak mengalami

kerusakan, karena tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup. Secara

sederhana stroke terjadi jika aliran darah ke otak terputus. Otak kita tergantung

pada pasokan darah yang berkesinambungan, yang dialirkan oleh arteri. Jika

pasokan darah berhenti akibat pembekuan darah atau pecahnya pembuluh darah,

sedikit atau banyak akan terjadi kerusakan pada otak yang tidak dapat diperbaiki.

Dampaknya adalah fungsi kontrol bagian tubuh oleh daerah otak yang terkena

stroke itu akan hilang atau mengalami gangguan dan dapat mengakibatkan

kematian (Haryono & Setianingsih dalam Djamaludin & Oktaviana, 2020).

The World Health Organisation WHO (2010), ditemukan dari 10 juta klien

stroke menunjukan bahwa sebanyak 5 juta orang mengalami kematian dan 5 juta

orang lainnya mengalami kelumpuhan fisik yang permanen pasca stroke

(mozaffarian ettal,2015). Berdasarkan World Stroke Organization dalam Gerakan

Masyarakat Hidup Sehat (Germas) oleh kementrian kesehatan tahun 2017 bahwa

setiap 2 detik 1 orang terkena stroke, setiap 4 detik orang meninggal karena stroke

dan 16% populasi dunia mengalami stroke dalam hidupnya. Pada tahun 2014

prevalensi stroke di Indonesia adalah 3.049.200 orang dari total penduduk

Indonesia 252 juta (Taufik, 2017). Melalui data RISKESDAS tahun 2018

1
2

prevalensi pasien stroke di Indonesia meningkat jika dibandingkan dengan tahun

2013, dari 7 per mil menjadi 10,9 per mil (Kemenkes, 2018).

Berdasarkan patogenesisnya stroke dimulai saat terbentuknya lesi patologik

sampai saat lesi tersebut menetap. Gangguan fungsi otak disini akibat adanya lesi

pada otak. Fungsi otak adalah sebagai kontrol dari setiap anggota gerak manusia,

maka rusaknya otak menyebabkan hilangnya fungsi otak itu sendiri. Kerusakan

sel-sel otak pasca stroke menyebabkan kecacatan fungsi kognitif, sensorik,

maupun motorik sehingga menghambat kemampuan fungsional mulai dari

aktivitas gerak hingga berkomunikasi dengan orang sekitar secara normal. Tingkat

kecacatan fisik dan mental pada pasien pasca stroke dapat mempengaruhi kualitas

hidup pasien (Ulfa, dkk, 2016).

Strok memberikan dampak pada pasien, keluarga dan masyarakat. Dampak

fisik menyebabkan kececatan, baik ringan maupun berat yang dimulai dari

menurunnya kualitas hidup pada pasien pasca stroke menyebabkan aktivitas

terganggu sehingga membutuhkan bantuan orang lain (Yaslina, dkk, 2019).

Kualitas hidup sangat berkaitan dengan dukungan keluarga, dukungan keluarga

diartikan sebagai bagian dari dukungan sosial, merupakan suatu bentuk interaksi

antar individu yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis melalui

terpenuhinya kebutuhan akan afeksi serta keamanan (Fuji, Rahmawati dalam

Hermawati & Muharwati, 2017). Berdasarkan hasil penelitian Ludiana dan

Supardi (2020), dengan populasi 27 pasien pasca strokepada hasil uji statistik

menunjukkan adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup

pasien pasca stroke.


3

Dukungan keluarga sangat diperlukan pada pasien pasca stroke untuk

dapat bertahan dalam menjalani hidup, karena keluarga merupakan bagian

terdekat dari pasien. Dukungan keluarga akan membuat pasien pasca stroke

merasa dihargai dan diterima, sehingga dapat meningkatkan semangat dan

motivasi dalam dirinya. Rendahnya dukungan keluarga pada pasien pasca stroke,

akan mempengaruhi kondisi psikologi pasien. Pasien dapat menarik diri dari

pergaulan dan merasa lebih sensitif, sehingga pasien lebih mudah tersinggung

(Martini dalam Hermawati & Muharwati, 2017). Dukungan keluarga terdiri dari

dukungan informasional seperti dukungan keluarga untuk mencari informasi.

Dukungan penilaian seperti keluarga memberi semangat kepada pasien untuk

mempercepat penyembuhan, dan memantau setiap kemajuan terapi. Bentuk

dukungan tambahan salah satunya berupa keluarga ikut membiayai pengobatan

pasien. Dukungan emosional seperti dukungan keluarga yang bersedia

mendengarkan keluhan pasien, dapat memberikan ketenangan batin pasien,

sehingga dengan adanya bantuan seperti ini dapat meningkatkan kualitas hidup

pasien pasca stroke (Smeltzer & Bare, 2002). Berdasarkan paparan diatas peneliti

tertarik untuk melakukan Literatur Review menegenai hubungan dukungan

keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke.


4

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah pada

Literatur Review ini yaitu “apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan

kualitas hidup pada pasien pasca stroke?“

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan umum:

Untuk mengidentifikasi pada Literature Review Hubungan dukungan keluarga

dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke

1.3.2 Tujuan khusus:

a. Untuk mengidentifikasi pada Literature Review dukungan keluarga pada

pasien pasca stroke

b. Untuk mengidentifikasi pada Literature Review kualitas hidup pasien

pasca stroke

c. Untuk menganalisis pada Literature Review hubungan dukungan keluarga

dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Tenaga Kesehatan

Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan sebagai intervensi dasar pada saat

melakukan asuhan keperawatan pada pasien pasca stroke agar keluarga paham

tentang pentingnya dukungan keluarga sebagai bentuk menunjukkan rasa

kasih dan sayang terhadap anggota keluarganya, terutama kepada anggota

keluarga dengan pasca stroke yang sangat membutuhkan dukungan keluarga


5

1.4.2 Bagi peneliti

Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan baru dan ilmu pengetahuan

dalam bidang ilmu keperawatan, khususnya dalam pemberian informasi

tentang hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien

pasca stroke.

1.4.2 Bagi institusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan informasi dalam

bidang ilmu keperawatan serta dalam pengembangan penelitian

selanjutnya.
6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Stroke


2.1.1 Definisi Stroke
Stroke adalah penyakit gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan

saraf yang diakibatkan oleh gangguan aliran darah pada salah satu bagian

otak. Gangguan saraf maupun kelumpuhan yang terjadi tergantung pada

bagian otak mana yang terkena. Penyakit ini dapat sembuh sempurna,

sembuh dengan cacat atau kematian (Irianto, 2014). Menurut World Health

Organization, stroke disebabkan oleh gangguan suplai darah ke otak,

biasanya dikarenakan pecahnya pembuluh darah atau penyumbatan oleh

gumpalan darah. Hal ini memotong pasokan oksigen dan nutrisi,

menyebabkan kerusakan pada jaringan otak. Gejala yang paling umum dari

stroke adalah kelemahan mendadak atau mati rasa pada wajah, lengan atau

kaki, paling sering pada satu sisi tubuh. Gejala lain termasuk kebingungan,

kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan, kesulitan melihat dengan

satu atau kedua mata, kesulitan berjalan, pusing, kehilangan keseimbangan

atau koordinasi, sakit kepala parah tanpa diketahui penyebabnya, pingsan

atau tidak sadarkan diri (WHO, 2014)

6
7

2.1.2 Etiologi Stroke

Penyebab terjadinya penyakit stroke yang banyak terjadi adalah

pecahnya pembuluh darah otak yang sebagian besar diakibatkan oleh

rendahnya kualitas pembuluh darah otak. Sehingga dengan adanya tekanan

darah yang tinggi pembuluh darah menjadi rentan pecah (Padila, 2012).

Stroke dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

a. Trombosis Serebri

Aterosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral adalah penyebab

yang paling umum terjadi pada penyakit stroke. Trombosis lebih sering

ditemukan sebanyak 40% dari banyaknya kasus stroke, hal ini telah

dibuktikan oleh para ahli patologi. Pada kasus trombosis serebri biasanya

ada kaitannya dengan kerusakan lokal pada dinding pembuluh darah akibat

aterosklerosis.

b. Emboli Serebri

Embolisme serebri kondisi dimana aliran darah terhambat akibat benda

asing (embolus), seperti bekuan darah yang berada di dalam aliran darah

yang dapat menghambat pembuluh darah. Emboli serebri termasuk dalam

urutan kedua dari berbagai penyebab utama stroke. Pada penderita stroke

dengan embolisme serebri penderita biasanya berusia lebih muda

dibandingkan penderita stroke trombosis.

c. Hemoragi (pendarahan)

Hemoragi atau pendarahan saat pecahnya salah satu arteri sehingga aliran

darah pada sebagian otak berkurang atau terputus yang mengakibatkan


8

pasokan oksigen ke otak menjadi berkurang sehingga fungsi otak dapat

terganggu. Hemoragi dapat terjadi di luar durameter (hemoragi ekstra dural

atau epidural) dibawah durameter (hermoragi subdural), di ruang

subarachnoid (hemoragi subarachnoid atau dalam substansial intra

serebral) (Wijaya & Putri, 2013).

d. Penyumbatan pada Arteri Serebri Media

Arteri serebri media inilah yang paling sering mengalami gangguan

penyumbatan dan pendarahan pada oksipital kapsul internal. Gangguan

pada arteri serebri media dapat menyebabkan hemiparesis sisi kontralateral

yang lebih sering mengenai lengan, karena pusat motorik tungkai masih

mendapat pasokan darah dari asteri serebri anterior. Pada gangguan aliran

darah di sisi yang dominan akan timbul gejala afasia (Irfan, 2010). Faktor

penyebab stroke dengan hambatan mobilitaa fisik adalah kondisi hilangnya

fungsi neurologis secara cepat karena terganggunya perfusi darah ke otak

akibat dari penyumbatan pembuluh darah maupun pendarahan yang terjadi

di otak. Sehingga vaskularisasi otak ini memunculkan berbagai kondisi

seperti kesulitan berbicara, kesulitan berjalan, kelemahan otot, dan

hilangnya kontrol terhadap gerakan motorik yang secara umum dapat di

manifestasikan dengan disfungsi motorik seperti, hemiplagia (paralisis

pada salah satu sisi tubuh) dan hemiparese (kelemahan pada salah satu sisi

tubuh) (Sari, Agianto & Wahid, 2015).


9

2.1.3 Klasifikasi Stroke

a. Stroke Hemoragik

Merupakan pendarahan serebri dan mungkin juga pendarahan

subarachnoid. Stroke ini disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak

pada daerah otak tertentu, biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas

atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran klien

umumnya menurun (Muttaqin, 2008). Stroke hemoragik disebabkan oleh

perdarahan ke dalam jaringan otak (disebut hemoragia intraserebrum atau

hematom intraserebrum) atau ke dalam ruang subarachnoid, yaitu ruang

sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak

(disebut hemoragia subarachnoid) pecahnya pembuluh darah di otak darah

akan menengani otak. Darah yang membawa oksigen dan nutrisi tidak

sampai ke organ atau sel otak padahal semestinya darah harus mengalir ke

sel-sel otak (Feigin, 2004). Menurut Muttaqin (2008) stroke hemoragik

adalah disfungsi neurologis yang akut dan disebabkan oleh pendarahan

primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan karena trauma

terapi disebabkan oleh pecahnya pembuluh arteri, vena, dan kapiler,

perdarahan otak dibagi 2 yaitu:

1) Perdarahan Intra Serebri (PIS)

Pecahnya pembuluh darah terutama karena hipertensi

mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa

yang menekan jaringan otak dan menimbulkan edema otak.

Peningkatan TIK dapat terjadi dengan cepat yang mengakibatkan


10

kematian mendadak karena heriasi otak. Pendarahan intraserebri yang

disebabkan hipertensi sering dijumpai didaerah putamen, thalamus,

pons, dan serebelum.

2) Perdarahan Sub Arachnoid (PSA)

Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurisme yang berawal dari

pembuluh darah sirkulasi willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat

di luar perankim otak. Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang

subarachnoid menyebabkan TIK meningkat mendadak, meregangnya

struktur peka nyeri dan vasospasme pembuluh darah serebri yang

berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran)

maupun fokal (Hemiparise, gangguan sensorik, afasia dan lainnya).

Vasospasme ini sering kali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya

perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5 sampai hari ke 9, dan dapat

menghilang setelah minggu ke 2 sampai minggu ke 5.

b. Stroke Non Hemoragik

Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebri, biasanya

terjadi saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari.

Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan

hipoksia dan selanjutnya dapat menimbulkan edema sekunder. Pada saat

otak hipoksia, tubuh berusaha memenuhi oksigen melalui proses metabolic

anaerob, yang dapat menimbulkan dilatasi pembuluh darah otak.

Klasifikasi stroke berdasarkan perjalanan penyakit atau stadium nya di

bagi menjadi:
11

1) TIA,

Merupakan neurologis lokal yang terjadi selama beberapa menit sampai

beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan

sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.

2) Stroke involusi,

Merupakan stroke yang terjadi masih terus berkembang. Gangguan

neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses ini dapat

terjadi 24 jam atau beberapa hari.

3) Stroke komplit,

Gangguan neurologis yang timbul sudap menetap atau permanen dan

dapat di awali oleh serangan TIA berulang (Muttaqin, 2008)

2.1.4 Patofisiologi Stroke

Otak sangatlah tergantung pada oksigen dan otak sendiri tidak

memiliki cadangan oksigen. Jika aliran darah ke setiap bagian otak

terhambat karena adanya trombus dan embolus, maka sangatlah

mungkin jaringan otak akan mengalami kekurangan oksigen.

Kekurangan dalam satu menit saja dapat mengarah pada gejala seperti

kehilangan kesadaran. Selanjutnya jika otak mengalami kekurangan

oksigen dalam waktu yang lama dapat menyebabkan nekrosis

mikroskopik neuron-neuron, yang menyebabkan terjadinya stroke

infark. Kekurangan oksigen pada awalnya akibat dari iskemia mum

(henti jantung atau hipotensi) dan hipoksia akibat dari proses anemia

dan kesukaran untuk bernafas. Stroke embolus sendiri merupakan


12

akibat dari bekuan darah, plaque, dan ateroma fragmen lemak. Jika

etiologi stroke adalah hemoragi maka faktor pencetus utama adalah

hipertensi, abnormalitas vaskuler, aneurisma serabut mengakibatkan

rupture dan menyebakan hemoragi.

Pada stroke trombosis atau metabolik maka otak mengalami

iskema dan infark sulit ditentukan. Ada peluang dominan stroke akan

meluas setelah serangan pertama sehingga terjadi edema serebal dan

peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial) dan kematian otak pada area

yang lebih luas. Prognosisnya tergantung pada daerah otak yang

terkena iskemia. Gangguan pasokan aliran darah dapat terjadi dimana

saja didalam arteri-arteri yang membentuk sirkulasi willisi arteria

karotisinterna dan sistem vertebrobrasilar dan semua cabang-

cabangnya, secara umum apabila aliran darah ke jaringan otak terputus

selama 15 menit maka akan terjadi infark atau kematian jaringan.

Oklusi di suatu arteri tidak selalu menyebabkan infark di daerah otak

yang terjadi perdarahan yang disebabkan oleh arteri tersebut (Wijaya &

Putri, 2013).

2.1.5 Tanda Gelaja Stroke

Usaha mengenali tanda-tanda atau gejala stroke sangat penting untuk

memastikan penderita mendapatkan perawatan perawatan lebih cepat dan

tepat, sekaligus meghindari kefatalan.


13

Beberapa tandan dan gejala stroke sebagai berikut.

a. Gejala stroke sementara (sembuh dalam beberapa menit/ jam) :

1) tiba – tiba sakit kepala.

2) pusing bingung.

3) penglihatan atau kehilangan ketajaman pada satu atau dua mata.

4) kehilangan keseimbangan (limbung), lemah.

5) rasa kebal atau kesemutan pada sisi tubuh.

b. Gejala stroke ringan (sembuh dalam beberapa minggu):

1) beberapa atau semua gejala di atas.

2) kelemahan atau kelumpuhan tangan/kaki.

3) bicara tidak jelas.

c. Stroke berat (sembuh atau mengalami perbaikan dalam beberapa bulan

atau tahun, tidak bisa sembuh total):

1) Semua/beberapa gejala stroke sementara dan ringan.

2) koma jangka pendek (kehilangan kesadaran).

3) kelemahan atau kelumpuhan tangan/kaki.

4) bicara tidak jelas atau hilangnya kemampuan bicara.

5) sukar menelan.

6) kehilangan kontrol terhadap pengeluaran air seni dan fese.

7) kehilangan daya ingat atau konsentrasi.

8) terjadi perubahan perilaku, misalnya bicara tidak menentu, mudah

marah, tingkah lakuseperti anak kecil.


14

Di lain sisi, secara umum tanda dan gejala stroke dibagi menjadi

dua, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Gelaja stroke pun

bervariasi dari ringan sampai terjadinya penurunan kesadaran.

a. Adanya serangan defisit neurologis atau kelumpuhan total

seperti lumpuh badan sebelah baik kanan atau yang kiri saja.

b. Rasa baal atau mati rasa sebelah saja, badan seperti kesemutan

atau terbakar.

c. Mulut mencong, lidah mencong jika dijulurkan sehingga

berbicaranya akan pelo, kadang-kadang menjadi sangau dan

kata-katanya menjadi tidak dapat dimengerti (afasia).

d. Bicara ngaco.

e. Sulit menelan (disfagia).

f. Tidak dapat mengerti apa yang dibicarakan orang lain.

g. Demensia (pelupa)

h. Vertigo atau perasaan pusing yang berputar (tidak pernah terjadi

sebelumnya)

i. Penglihatan terganggu, hanya sebagian lapang pandang yang

jelas, tanpa disertai rasa nyeri, kadang rasa nyeri, kadang

disertai dengan penglihatan ganda.

j. Tuli satu telinga atau pendengaran berkurang.

k. Kelopak mata sulit dibuka atau terjatuh.

l. Banyak tidur dan selalu mau tidur.


15

m. Gerakan tidak terkoordinasi, kehilangan keseimbangan,

sempoyongan.

n. Gangguan kesadaran, dari pingsan sampai koma (Mahendra &

N.H, 2005)

2.1.6 Faktor- Faktor Resiko Stroke

Seperti yang kita ketahui, bahwa faktor risiko stroke pada umumnya dapat

dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu faktor risiko yang tidak dapat

dikendalikan/diubah dan faktor risiko yang dapat dikendalikan.

a. Faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan

1) Faktor keturunan

Terdapat dugaan bahwa stroke dengan garis keturunan saling

berkaitan. Dalam hal ini, hipertensi, diabetes, dan cacat pada

pembuluh darah menjadi faktor genetik yang berperan. Cadasil,

yaitu suatu cacat pada pembuluh darah dimungkinkan merupakan

faktor genetik yang paling berpengaruh. Selain itu, gaya hidup

dan pola makan dalam keluarga yang sudah menjadi kebiasaan

yang sulit diubah juga meningkatkan resiko stroke (Wiwit, 2010).

2) Umur

Insiden stroke meningkat sering dengan bertambahnya usia

setelah umur 55 tahun risiko stroke iskemik meningkat 2 kali lipat

tiap dekade. Menurut Schutz penderita yang berumur antara 70-79

tahun banyak menderita perdarahan intrakranial.


16

3) Jenis Kelamin

Laki laki lebih cenderung terkena stroke lebih tinggi dibandingkan

wanita, dengan perbandingan 13 : 1 kecuali pada usia lanjut laki-

laki dan wanita hampir tidak berbeda. Laki-laki yang berumur 45

tahun bila bertahan hidup sampai 85 tahun kemungkinan terkena

stroke 25%. Sedangkan risiko bagi wanita hanya 20%, pada laki-

laki cenderung terkena stroke iskemik sedangkan wanita lebih

cenderung menderita perdarahan subrakhnoid dan kematiannya 2

kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

4) Ras

Tingkat kejadian stroke di seluruh dunia tertinggi dialami oleh

orang jepang dan cina. Menurut Broderick dan kawan-kawan

melaporkan orang negro Amerika cenderung berisiko 1,4 kali

lebih besar mengalami perdarahan intraserebral (dalam otak)

dibandingkan kulit putihnya. Orang Jepang dan Afrika-Amerika

cenderung mengalami stroke perdarahan intrakranial. Sedangkan

orang kulit putih cenderung terkena stroke iskemik, akibat

sumbatan ekstrakranial lebih banyak.

b. Faktor Risiko yang dapat dikendalikan

1) Stres

Stress jika tidak dikrontrol dengan baik akan menimbulkan kesan

pada tubuh adanya keadaan bahaya sehingga direspon oleh tubuh

secara berlebihan dengan mengeluarkan hormon–hormon yang


17

membuat tubuh waspada. Dengan dikeluarkannnya adrenalin atau

Hormon kewaspadaan lainnya secara berlebihan akan berefek pada

peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.

2) Tekana Darah Tinggi (Hipertensi)

Hipertensi bereperan dalam proses arteroskelerosis melalui efek

penekanan pada sel endotel/lapisan dalam dinding arteri yang

berakibat pembentukan plak pembuluh darah semakin cepat.

Seseorang dikatakan hipertensi bila tekanan darahnya 140/90

mmHg atau lebih.

3) Merokok

Merokok mengurangi kemampuan seseorang dalam

menanggulangi stres karena zat kimia dalam rokok terutama

karbon monoksida akan mengikat oksigen dalam darah sehingga

kadar oksigen dalam darah berkurang.

4) Peminum Alkohol

Apabila seseorang meminum alkohol sebanyak kurang lebih 60

gram sehari maka akan meningkatkan risiko stroke.

5) Aktivitas fisik

Aktifitas fisik yang cukup (vigorous) terutama berhubungan

dengan menurunnya tingkat kematian karena penyakit koroner

yang diduga bermanfaat pada penurunan proses aterosklerosis.

Aktifitas fisik secaa teratur dapat menurunkan tekanan darah dan

gula darah, meningkatkan kadar kolesterol HDL, dan menurunkan


18

kadar kolesterol LDL sehingga aktivitas fisik yang cukup dapat

menurunkan risiko terkena stroke secara bermakna.

6) Kencing Manis (Diabetes Mellitus)

Kencing manis menyebabkan kadar lemak darah meningkat karena

konversi lemak tubuh yang teganggu. Bagi penderita diabetes

peningkatan kadar lemak darah sangat meningkatkan resiko

penyakit jantung dan stroke. Diabetes mempercepat terjadinya

aterosklerosis baik pada pembuluh darah kecil (mikroangiopati)

maupun pembuluh darah besar (makroangiopati) diseluruh

pembuluh darah termasuk pembuluh darah otak dan jantung. Kadar

glukosa darah yang tinggi pada stroke akan memperbesar

meluasnya area infark (sel mati) karena terbentuknya asam laktat

akibat metabolism glukosa yang dilakukan secara anaerob (oksigen

sedikit) yang merusak jaringan otak.

7) Kegemukan (Obesitas)

Kegemuka bisa menyebabkan terjadinya stroke lewat efek snoring

atau mendengkur dan sleep apnea, karena terhentinya suplai

oksigen secara mendadak di otak.

8) Hiperkolesterol

Kolesterol merupakan zat didalam aliran darah dimana makin

tinggi kolesterol semakin besar kemungkinan dari kolesterol

tersebut tertimbun pada dinding pembuluh darah. Hal ini yang

menyebakan saluran pembuluh darah menjadi lebih sempit


19

sehingga mengganggu suplai darah ke otak, inilah yang

menyebabkan terjadinya stroke non perdarahan (iskemik) atau

penyempitan pada pembuluh darah jantung.

9) Minum Kopi

Kafein yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan tekana

darah, kadar kolesterol total, dan kolesterol LDL dalam darah

tinggi, inilah yang merupakan faktor pembentukan plak

(suumbatan) pada saluran/lumen pembuluh darah melalui proses

aterosklerosis dan menyebabkan penyakit jantung, stroke, dan

penyakit kronis lainnya.

10) Pola Makanan

Pola makanan dapat mempengaruhi risiko stroke pada tekanan

darah, kadar kolesterol serum, gula darah, berat badan, dan sebagai

prekursor aterosklerosis lainnya (Utami, 2009).

2.1.7 Dampak Stroke

Masalah fisik lainnya yang dapat terjadi karena stroke yaitu

dysphagia, fatigue (kekurangan energi atau keletihan), foot drop

(ketidakmampuan untuk mengangkat bagian depan kaki), hemiparesis,

inkontinensia, nyeri, kelumpuhan atau paralisis, kejang dan epilepsi,

masalah tidur, spasme otot pada tangan dan kaki, dan masalah pada

penglihatan. Stroke juga menimbulkan dampak pada emosional seperti

terjadinya depresi dan pseudobulbar affect (PBA), dan dampak pada

proses berpikir dan rasa ingin tahu pasien yaitu aphasia, kehilangan
20

memori, dan vasculardementia (National Stroke Association, 2016). Stroke

akan menimbulkan kecacatan pada seseorang setelah terkena stroke.

Kecacatan yang ditimbulkan tergantung dari otak bagian mana yang

terserang dan seberapa parah kerusakan yang dialami. Seseorang yang

terkena stroke juga akan menimbulkan dampak seperti paralisis dan sukar

mengontrol pergerakan, gangguan sensoris dan nyeri, aphasia (masalah

dengan berbahasa), masalah dengan perhatian dan ingatan, dan gangguan

emosi (Silva, et al, 2014).

2.1.8 Pencegahan Stroke

Terdapat 8 langkah mencegah stroke menurut (Dourman, 2013) antara

lain:

1. Rutin Memeriksakan Tekanan Darah

Tingkat tekanan darah adalah faktor paling dominan pada semua jenis

stroke. Semakin tinggi tekanan darah, semakin berisiko besar terkena

stroke.

2. Mewaspadai Gangguan Irama Jantung (Atrial Fibrillation)

Detak jantung yang tidak normal menunjukkan adanya darah yang

terkumpul dan menggumpal di dalam jantung. Detak jantung dapat 32

menggerakkan gumpalan darah tersebut, sehingga masuk pada aliran

darah dan dapat mengakibatkan stroke. Gangguan irama jantung dapat

dideteksi dengan menilai detak nadi.


21

3. Berhenti Merokok dan Tidak Mengkonsumsi Alkohol

Rokok dapat meningkatkan risiko stroke sebanyak dua kali lipat.

Selain itu, alkohol juga dapat meningkatkan risiko stroke dan penyakit

lain seperti liver.

4. Memeriksakan Kadar Kolesterol Dalam Tubuh

Mengetahui tingkat kolesterol dapat meningkatkan kewaspadaan

stroke. Kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko stroke. Jika

kolesterol tinggi, maka mengkonsumsi makanan rendah kolesterol

untuk menurunkannya.

5. Kontrol Kadar Gula Darah

Diabetes dapat meningkatkan risiko stroke, pada penderita diabetes,

segera melakukan konsultasi dengan dokter mengenai makanan dan

minuman yang bisa dikonsumsi untuk menurunkan kadar gula darah.

6. Olahraga Secara Teratur

Jalan cepat minimal 30 menit sehari dapat menurunkan risiko stroke.

Selain itu, juga bisa melakukan olahraga renang, sepeda, dansa, golf,

tenis, atau lainnya dan lakukan secara teratur tiga kali seminggu.

7. Konsumsi Garam Rendah Sodium dan Diet Lemak

Mengurangi konsumsi garam bersodium tinggi. Sebaliknya,

mengkonsumsi buah, sayuran, dan gandum untuk mengurangi risiko

stroke (Dourman, 2013).


22

2.2 Konsep Kualitas Hidup

2.2.1 Definisi Kualitas hidup

Menurut Kreitler & Ben (2004), kualitas hidup merupakan persepsi

individu terhadap posisi dirinya dikehidupan dalam konteks budaya dan sistem

nilai diwilayah tempat tinggalnya yang berhubungan dengan target, harapan,

standar dan kepentingan. Kualitas hidup merupakan ukuran konseptual atau

operasional yang sering digunakan dalam situasi penyakit kronik sebagai cara

untuk menilai dampak dari terapi pada pasien. Pengukuran konseptual ini

mencakup kesejahtraan, kualitas kelangsungan hidup, kemampuan seseorang

untuk secara mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Mengungkapkan

kualitas hidup diartikan sebagai persepsi individu mengenai keberfungsian

mereka di dalam bidang kehidupan. Lebih spesifiknya adalah penilaian

individu terhadap posisi mereka di dalam kehidupan, dalam konteks budaya

dan sistem nilai dimana mereka hidup dalam kaitannya dengan tujuan individu,

harapan, standar serta apa yang menjadi perhatian individu (Nofitri, 2009).

Kualitas hidup merupakan suatu bentuk multidimensional, terdapat tiga

konsep kualitas hidup yaitu menunjukan suatu konsep multidimensional, yang

berarti bahwa informasi yang dibutuhkan mempunyai rentang area kehidupan

dari penderita itu, seperti kesejahteraan fisik, kemampuan fungsional, dan

kesejahteraan emosi atau sosial, menilai celah antara keinginan atau harapan

dengan sesuai kemampuan untuk melakukan perubahan dalam diri (Ware

dalam Rachmawati, 2013).


23

2.2.2 Faktor- Faktor Kualitas Hidup

Raebun dan Rootman dalam Angriyani (2008) mengemukakan bahwa

terdapat delapan faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang, yaitu:

a. Kontrol prilaku, berkaitan dengan kontrol perilaku yang dilakukan oleh

seseorang, seperti pembahasan terhadap kegiatan untuk menjaga kondisi

tubuh.

b. Kesempatan yang potensial, berkaitan dengan seberapa besar seseorang

dapat melihat peluang yang dimilikinya.

c. Keterampilan, berkaian dengan kemampuan seseorang untuk melakukan

keterampilan lain yang mengakibatkan ia dapat mengembangkan dirinya,

seperti mengikuti suatu kegiatan atau kursus tertentu.

d. Sistem dukungan, termasuk didalamnya dukungan yang berasal dari

lingkungan keluarga, masyarakat maupun sarana-sarana fisik seperti

tempat tinggal atau rumah yang layak dan fasilitas-fasilitas yang memadai

sehinga dapat menunjang kehidupan.

e. Kejadian dalam hidup, hal ini terkait dengan tugas perkembangan dan

stress yang diakibatkan oleh tugas tersebut. Kejadian dalam hidup sangat

berhubungan erat dengan tugas perkembangan yang harus dijalani, dan

terkadang kemampuan seseorang untuk menjalani tugas tersebut

mengakibatkan tekanan tersendiri.

f. Sumber daya, terkait dengan kemampuan dan kondisi fisik seseorang.

Sumber daya pada dasarnya adalah apa yang dimiliki oleh seseorang

sebagai individu.
24

g. Perubahan lingkungan, berkaitan dengan perubahan yang terjadi pada

lingkungan sekitar seperti rusaknya tempat tinggal akibat bencana.

h. Perubahan politik, berkaitan dengan masalah negara seperti krisi moneter

sehingga menyebabkan orang kehilangan pekerjaan/mata pencaharian.

Selain itu, kualitas hidup seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya, mengenali diri sendiri, adaptasi, merasakan pasienan orang

lain, perasaan kasih dan sayang, bersikap optimis, mengembangkan sikap

empati (Anggriyani, 2008).

2.2.3 Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke

Penurunan kualitas hidup pada pasien pasca stroke menjadi hal yang

wajar karena banyaknya masalah yang timbul akibat stroke. Adapun

masalah- masalah yang sangat mempengaruhi kualitas hidup tersebut adalah

spatisitas dan kontraktur, nyeri, kesulitan dalam mobilitas, ketergantungan

dalam ADL, masalah sosial dan masalah psikologis (Nurwahyuni, 1999).

Wyller dkk. (1998) melaporkan penelitiannya bahwa pasien stroke

mempunyai kualitas hidup terkait kesehatannya yang lebih rendah jika

dibantingkan dengan kelompok control. Astrom M dan Asplund K, 2005

dalam Yani (2010) juga menyatakan bahwa stroke mengakibatkan terjadinya

ketidakmampuan fisik, emosi, dan kehidupan sosial, hal tersebut memberikan

pengaruh besar terhadap kualitas hidup terkait kesehatan pada pasien stroke

(Yani, 2010).
25

2.2.4 Domain Kualitas Hidup

Secara umum terdapat 4 bidang (domains) yang dipakai untuk

mengukur kualitas hidup, yaitu kesehatan fisik, kesehatan psikologik,

hubungan sosial dan lingkungan secara rinci, bidang-bidang penilaian

kualitas hidup tersebut antara lain:

a. Domain kesehatan fisik

Hal-hal yang terkait didalamnya meliputi aktivitas sehari-hari,

ketergantungan pada bahan-bahan medis atau pertolongan medis, tenaga

dan kelelahan, mobilitas, rasa sakit dan ketidaknyamanan, tidur dan

istirahat, serta kapasitas bekerja.

b. Domain psikologis

Hal-hal yang terkait didalamnya seperti body image dan penampilan,

perasaan-perasaan negatif dan positif, spiritualitas/kepercayaan personal,

pikiran, belajar, memori dan konsentrasi.

c. Domain sosial

Hal-hal yang terkait didalamnya seperti hubungan personal, hubungan

sosial, serta dukungan sosial dan aktivitas seksual.

d. Domain lingkungan

Berkaitan dengan sumber-sumber finansial, kebabasan, keamanan dan

keselamatan fisik, perawatan kesehatan dan sosial (aksesibilitas dan

kualitas), lingkungan rumah, kesempatan untuk memperoleh informasi

dan belajar keterampilan baru, kesempatan untuk rekreasi atau memiliki


26

waktu luang, lingkungan fisik (polusi, kebisingan, lalu lintas, iklim), serta

tranportasi (Salim, Sudharma, Kusumaratna & Hidayat, 2016).

2.2.5 Pengukuran Kualitas Hidup

a. Skala Stroke-Specific Quality of Life(SS-QOL)

Skala Stroke-Specific Quality of Life (SS-QOL) merupakan alat

ukur yang spesifik secara klinis untuk menilai kualitas hidup klien

pasca stroke (Rangel, 2013). Domain pengukuran kualitas hidup

menggunakan SS-QOL ini terdapat 12 domain yang terdiri dari energi,

fungsi ekstremitas, produktivitas, mobilitas, suasana hati, perawatan

diri, peran sosial, peran keluarga, penglihatan, kemampuan

berkomunikasi, kemampuan secara kognitif, dan kepribadian. Rentang

skore yaitu dari 49-245, kualitas hidup dikatakan baik apabila memiliki

skore >63% skore maksimum (William dalam Kusumaningrum, 2016).

b. WHOQOL-BREF

WHOQOL-BREF merupakan alat ukur yang menilai kualitas

hidup dan kesehatan secara umum. WHOQOL-BREF terdiri dari 26

item pertanyaan yang terdiri dari empat domain yaitu kesehatan fisik,

psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Alat ukur WHOQOL-

BREF merupakan kuesioner yang bersifat baku yang mengacu

terhadap literatur-literatur untuk pengukuran kualitas hidup (Hastura,

2013).

Skoring dari WHOQOL-BREF WHOQOL-BREF yang sudah

diterjemahan ke dalam bahasa Indonesia diberikan skor yang


27

mencakup empat domain:

a. Fisik terdiri dari 7 pertanyaan,

b. Psikologik 6 pertanyaan,

c. Hubungan sosial 3 pertanyaan dan

d. Lingkungan 8 pertanyaan.

Setiap pertanyaan diberikan nilai 1 sampai 5,

Pada kuisioner WHOQOL-BREF terdiri dari 26 pertanyaan.

Instrumen ini terdiri dari pertanyaan positif, kecuali pada pertanyaan

nomer 3, 4, dan 26 yang bernilai negatif. Pada penelitian ini skor tiap

domain (raw score) di transformasikan 0- 100 (Arifah, 2015).

Pertanyaan nomer 1 dan 2 mengkaji tentang kualitas hidup secara

menyeluruh dan kesehatan secara umum. Domain 1, Kesehatan Fisik

terdapat pada pertanyaan nomer 3, 4, 10, 15, 16, 17, dan 18. Domain 2,

Psikologis terdapat pada pertanyaan nomer 5, 6, 7, 11, 19, dan 26.

Domain 3, Hubungan sosial terdapat pada pertanyaan nomer 20, 21,

dan 22. Domain 4, lingkungan berada pada pertanyaan nomer 8, 9, 12,

13, 14, 23, 24, dan 25. Kemudian dari semua domain pertanyaan dalam

kuisioner ini dihitung dan ditotal setelah itu dikategorikan menjadi

sebuah perhitungan yang meliputi. Tinggi: ≥95, Sedang: 60-95,

Rendah: ≤60 (WHOQOLBREF, 1996).


28

2.3 Dukungan Keluarga

2.3.1 Definisi Keluarga

Keluarga didefinisikan sebagai unit sosial - ekonomi terkecil dalam

masyarakat yang merupakan landasam dasar dari semua institusi. Keluarga

merupakan kelompok primer yang terdiri dari dua atau lebih orang yang

mempunyai jaringan interaksi interpersonal, hubungan darah, hubungan

perkawinan, dan adopsi (Maria, 2017). Dukungan keluarga adalah sikap,

tindakan penerimaan keluarga terhadap anggota keluarganya, berupa

dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan

dukungan emosional (Friedman, 2014). Anggota keluarga memandang

bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan

dan bantuan jika diperlukan. Menurut dalam Friedman dukungan keluarga

adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggota

keluarganya (Psycholgymania, 2012).

Dukungan keluarga adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang masa

kehidupan dimana sifat dan jenis dukungannya berbeda-beda dalam

berbagai tahap-tahap siklus kehidupan (Friedman, 2003). Dukungan

keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap

penderita yang sakit, dukungan bisa berasal dari orang lain (orang tua,

anak, suami, istri atau saudara) yang dekat dengan subjek dimana bentuk

dukungan berupa informasi, tingkah laku tertentu atau materi yang dapat

menjadikan individu merasa disayangi, diperhatikan dan dicintai (Fathra,

2014).
29

2.3.2 Fungsi Keluarga

Menurut Murwani (2007) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga,

sebagai berikut:

a. Fungsi Afektif

Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang

merupakan basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk

pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan melaksanakan fungsi

afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari seluruh anggota

keluarga. Tiap anggota keluarga saling mempertahankan iklim yang

positif. Hal tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui interaksi

dan hubungan dalam keluarga. Dengan demikian, keluarga yang berhasil

melaksanakan fungsi afektif, seluruh anggota keluarga dapat

mengembangkan konsep diri positif. Komponen yang perlu dipenuhi

oleh keluarga dalam melaksanakan fungsi afektif adalah :

1) Saling mengasuh; cinta kasih, kehangatan, saling menerima, saling

mendukung antar anggota keluarga, mendapatkan kasih sayang dan

dukungan dari anggota yang lain, maka kemampuannya untuk

memberikan kasih sayang akan meningkat, yang pada akhirnya tercipta

hubungan yang hangat dan saling mendukung. Hubungan intim didalam

keluarga merupakan modal dasar dalam memberi hubungan dengan

orang lain diluar keluarga/masyarakat.


30

2) Saling menghargai, bila anggota keluarga saling menghargai dan

mengakui keberadaan dan hak setiap anggota keluarga serta selalu

mempertahankan iklim yang positif, maka fungsi afektif akan tercapai.

3) Ikatan dan identifikasi ikatan keluarga dimulai sejak pasangan

sepakat memulai hidup baru. Ikatan antar anggota keluarga

dikembangkan melalui proses identifikasi dan penyesuaian pada

berbagai aspek kehidupan anggota keluarga. Orang tua harus

mengembangkan proses identifikasi yang posisitif sehingga anak-anak

meniru tingkah laku yang positif dari kedua orang tuanya. Fungsi

afektif merupakan “sumber energi” yang menentukan kebahagiaan

keluarga. Keretakan keluarga, kenakalan anak atau masalah keluarga

timbul karena fungsi afektif dalam keluarga tidak dapat terpenuhi.

b. Fungsi Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui

individu, yang menghasilkan interaksi sosial dan belajar berperan dalam

lingkungan sosial. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar

bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu

dan orang-orang yang disekitarnya. Kemudian beranjak balita dia mulai

belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar meskipun demikian

keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi. Keberhasilan

perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau

hubungan antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi.


31

Anggota keluarga belajar disiplin, belajar norma-norma, budaya dan

perilaku melalui hubungan dan interaksi keluarga.

c. Fungsi Repoduksi

Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber

daya manusia. Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain

untuk memenuhi kebutuhan biologis pada pasangan tujuan untuk

membentuk keluarga adalah untuk meneruskan keturunan.

d. Fungsi Ekonomi

Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan

seluruh anggota keluarga seperti memenuhi kebutuhan akan makanan,

pakaian, dan tempat tinggal. Banyak pasangansekarang kita lihat dengan

penghasilan yang tidak seimbang antara suami dan istri hal ini menjadikan

permasalahan yang berujung pada perceraian.

e. Fungsi Perawatan Kesehatan

Keluarga juga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek asuhan

kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau

merawat anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam

memberi asuhan kesehatan mempengaruhi status kesehatan keluarga.

Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat

dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang

dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan

masalah kesehtan (Murwani, 2007).


32

2.3.3 Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan

Menurut Andarmoyo (2012) tugas kesehatan keluarga adalah sebagai

berikut:

a. Mengenal masalah kesehatan.

b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.

c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.

d. Mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.

e. Mempertahankan hubungan dengan menggunakan fasilitas kesehatan

masyarakat (Andarmoyo, 2012).

2.3.4 Jenis-Jenis Dukungan Keluarga

Menurut House dan Kahn (1985) dalam Friedman (2010), terdapat empat

tipe dukungan keluarga yaitu:

a. Dukungan Emosional

Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk bersistirahat dan juga

menenangkan pikiran. Setiap orang pasti membutuhkan bantuan dari

keluarga. Individu yang menghadapi persoalan atau masalah akan merasa

terbantu kalau ada keluarga yang mau mendengarkan dan memperhatikan

masalah yang sedang dihadapi.

b. Dukungan Penilaian

Keluarga bertindak sebagai penengah dalam pemecahan masalah dan juga

sebagai fasilitator dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi.

Dukungan dan perhatian dari keluarga merupakan bentuk penghargaan

positif yang diberikan kepada individu.


33

c. Dukungan instrumental

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan dalam hal pengawasan,

kebutuhan individu. Keluarga mencarikan solusi yang dapat membantu

individu dalam melakukan kegiatan.

d. Dukungan informasional

Keluarga berfungsi sebagai penyebar dan pemberi informasi. Diharapkan

bantuan informasi yang disediakan keluarga dapat digunakan oleh individu

dalam mengatasi persoalan yang sedang dihadapi.

2.3.5 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ludiana dan Supardi

(2020) bahwa dukungan keluarga merupakan sebuah perjalanan dalam

kehidupan yang memiliki sifat dan jenis dukungan sosial yang berbeda antara

satu individu dengan individu lainnya. Namun demikian, dalam semua tahap

siklus kehidupan, besar kecilnya dukungan yang diberikan oleh keluarga

akan memberikan manfaat yang banyak termasuk dalam upaya

meningkatkan kesehatan keluarga. Terakumulasinya berbagai gejala sisa

pasca stroke, baik fisik maupun psikis ini akan mengakibatkan problematika

yang lebih luas. Problematika ini antara lain problematika ketidakmampuan

fungsi dasar, ketidakmampuan dalam beraktifitas sehari-hari,

ketidakmampuan bersosialisasi, kemunduran fungsi kognitif sampai dengan

problematika psikologis. Demikian pula akibat lanjut problematika pasca

stroke adalah ketidakmandirian pasien yang akan menjadikan kualitas hidup

pasien pasca stroke rendah. Kualitas hidup yang menurun dapat


34

mempengaruhi semangat hidup penderita. Oleh karena itu dukungan sosial

keluarga juga berperan dalam meningkatkan kualitas hidup penderita pasca

stroke (ludiana & supardi, 2020).

Berdasarkan uraian hasil penelitian tersebut dapat dijelaskan bahwa

dukungan keluarga terbukti memiliki korelasi positif dalam kategori kuat

terhadap kualitas hidup pasien pasca stroke. Hal ini dapat terjadi karena

dukungan keluarga merupakan sumber daya eksternal utama yang secara

ekstensif mampu menjadi moderator stres kehidupan bagi pasien sehingga

pasien merasa bahwa dirinya diperhatikan atau dicintai, dihargai serta masih

menjadi bagian dari keluarga yang dibutuhkan. Oleh karena itu, jelaslah

bahwa keluarga memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas

hidup pasien pasca stroke sehingga upaya untuk meningkatkan kualitas hidup

pasien pasca stroke dapat dilakukan melalui pendekatan keluarga dimana

keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan pada pasien pasca stroke

baik berbentuk dukungan instrumental, informasional, appraisal, maupun

emosional (Ludiana & Supardi, 2020).


35

2.5 Kerangka Teori


Dukungan Keluarga : Faktor- Faktor Kualitas
Stroke diakibatkan oleh Hidup:
gangguan pembuluh darah 1. Dukungan
otak: Emosional 1. Sistem dukungan
2. Dukungan lingkungan Keluarga
a. Trombosisserebri Penilaian 2. Kontrol prilaku
[Link] 3. Dukungan 3. Kesempatan yang
c. Hemoragik Informental
[Link] 4. Dukungan potensial
pada Arteri Profesional 4. Keterampilan
5. Kejadian dalam hidup
5. Sumber daya
6. Perubahan lingkungan
PASCA STROKE 7. Perubahan politik
Domain Kualitas Hidup:

1. Domain Kesehatan
Fisik
Dampak stroke atau yang
2. Domain psikologis
terjadi pada saat Pasca
stroke: 3. Domain Sosial
a. Paralisis 4. Domain Lingkungan
b. Rasa sakit
c. Defisit fungsi
kognitif
d. Defisit Bahasa
pasien KUALITAS HIDUP
e. Defisit emosional
f. Gangguan Ingatan

Rendah
Keterangan : Sedang Tinggi

= Diteliti

= Tidak di teliti

Gambar 2.2 Kerangka Teori Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas


Hidup Pasien Pasca Stroke
36

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Strategi Pencarian Literature


3.1.1 Protokol dan Registrasi (Kerangka Kerja)
Rangkuman Menyeluruh dalam bentuk literature review mengenai
Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca
stroke Protokol dan evaluasi dari literature review akan menggunakan
pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews (PRISMA)
checklist untuk menentukan penyeleksian studi yang telah ditemukan dan
disesuaikan dengan tujuan dari Literature Review (Nursalam, 2020).

3.1.2 Database Pencarian


Pencarian literatur dilakukan pada bulan September sampai
Desember 2020. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder,
dimana sumber data yang tidak langsung memberikan data pada peneliti.
Data sekunder merupakan data yang sifatnya mendukung keperluan data
primer seperti buku-buku dan literatur yang berkaitan untuk menunjang
penelitian (Sugiyono, 2017). Sumber data diperoleh pada database Google
Scholar, dan Portal Garuda.

3.1.3 Kata Kunci


Penelitian ini memiliki kata kunci yang sangat luas, oleh sebab itu
peneliti menggunakanBoolean“AND”untuk mempersempit hasil pencarian
sehingga didapatkan artikel atau jurnal yang spesifik. Boolean “OR”
digunakan untuk mempeluas hasil pencarian artikel atau jurnal. Kata kunci
yang digunakan untuk variabel pertama yaitu “ Dukungan Keluarga “ atau
“Family support ”, sedangkan untuk kata kunci yang digunakan pada
variabel kedua yaitu“Kualitas hidup”, “Quality of life”, “Pasca Stroke”

37
37

atau “Post stroke”. Kata kunci ini disesuaikan dengan Medical Subject
Heading (MeSH) sebagai berikut:
Tabel 3.1 Kata Kunci Literatur Review

Dukungan Keluarga Kualitas Hidup Pasca Stroke


Dukungan Keluarga Kualitas Hiddup Pasca Stroke
AND AND AND
Family Support Quality Of life Post Stroke

3.2 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


Strategi yang digunakan dalam mengkritisi atau telaah jurnal menggunakan
prinsip PICOS, yaitu terdiri dari:
1) Population/Problem merupakan populasi atau masalah klinis yang akan
dianalisis sesuai dengan tema dalam literature review.
2) Intervention merupakan strategi manajemen atau tindakan
penatalaksanaan yang berhubungna dengan masalah klinis.
3) Comparation merupakan alternatif atau strategi kontrol atau tes sebagai
pembanding.
4) Outcome merupakan hasil yang diperoleh dari studi terdahulu
5) Study design merupakan desain penelitian yang digunakan dalam jurnal-
jurnal yang akan di review.
Tabel 3.2 Kriteria inklusi dan ekslusi literatur review hubungan dukungan
keluarga dengan kualitas hidup pasien pasca stroke
PICOS Kriteria Inklusi Kriteria Ekslusi

Population Artikel dengan responden Pasca Selain Artikel dengan


Stroke responden Pasca Stroke

Intervention Tidak ada intervensi Ada intervensi

Comparation Tidak ada faktor pembanding Ada faktor pembanding

Outcome Adanya hubungan dan tidak ada -


hubungan antara Dukungan
keluarga dengan kualitas hidup
38

pada pasien pasca stroke

Study Design Kuantitatif, korelasional dengan Komparatif, kualitatif,


pendekatan cross sectional. longitudinal, study
kasus, quasi experimens.

Publication Tahun 2017 – 2020 Dibawah tahun 2017


Years

Language Indonesia dan English Bahasa selain Indonesia


dan bahasa English

3.3 Seleksi Studi dan Penilaian Kualitas


Analisis kualitas metodologi dalam setiap studi (n= 5) menggunakan
critical appraisal The Joanna Briggs Institute (JBI) Checklist for
Analytical Cross Sectional Studies. Penilaian kriteria disesuaikan dengan
JBI, yaitu “Yes”, “No”, “Unclear”, “No Applicable”, dan setiap kriteria
dengan skor “Yes” diberi satu poin dan skor untuk kriteria lainnya adalah
nol. Jika skor penelitian setidaknya 50% memenuhi kriteria critical
appraisal, maka studi dimasukkan ke dalam kriteria inklusi. Critical
appraisal merupakan sebuah proses yang terstruktur untuk menentukan
kekuatan dan keterbatasan dari suatu penelitian dalam jurnal, serta
menentukan relevansi dengan tujuan khusus penelitian (Aveyerd dalam
Rumahorbo dkk, 2020). Dari penilaian tersebut diperoleh empat artikel
yang memenuhi kriteria.

3.3.1 Hasil Pencarian dan Seleksi Studi


Berdasarkan hasil pencarian literatur melalui database Google
Scholar,Sage journals, Portal Garudadan menggunakan kata kunci peneliti
mendapatkan1270artikel di Google Scholar, Hasil pencarian yang sudah
didapatkan kemudian diperiksa duplikasi, ditemukan terdapat 452 artikel
yang sama sehingga dikeluarkan dan tersisa 818 artikel. Diskrining
kembali sesuai dengan PICOS mendapatkan 735 artikel, kemudian
dilakukan penilaian critical appraisal menggunakan JBI yang memenuhi
39

kriteria diatas 50% didapatkan 5 artikel. Penilaian yang dilakukan


berdasarkan kelayakan terhadap kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan
sebanyak 3 artikel yang bisa dipergunakan dalam literature review. Hasil
seleksi artikel studi dapat digambarkan dalam Diagram Alur.

Pencarian artikel melalui database


Google Scholar, Portal Garuda
(n=1270)
Dikeluarkan (n= 452)

Artikel yang duplikat


Artikel setelah jurnal duplikat
dihapus (n=818)
Dikeluarkan (n= 732):
Population: Tidak sesuai dengan
topic (n= 132)
Artikel diidentifikasi (n=818) Intervention: Tidak relevan pada
kualitas hidup (n=203)
Comparator: Adanya pembanding
(n=112)
Outcome: Tidak sesuai Variabel
Artikel Full text diidentifikasi Dukungan Keluarga (n= 234)
(n=86) Study Design: Kualitatif (n=51)

Dikeluarkan (n= 81) Penilai


kualitas kelayakan dengan Critical
Artikel yang sesuai dan
Appraisal yang kurang dari 50%
dinilai kelayakannya (n=5)

Artikel akhir yang dapat dianalisa


sesuai rumusan masalah dan
tujuan (n=5)

Gambar 3.1 Diagram alur literature review berdasarkan PRISMA 2009


(Polit and Beck dalam Nursalam, 2020)
40

3.4 Rencana Analisa Data


Hasil pencarian artikel yang telah dilakukan penulis akan dianalisis
meliputi nama author, tahun terbit, nama jurnal, judul dan metode yang
digunakan dalam jurnal berfokus pada hasil dan kesimpulan sesuai dengan
tujuan penelitian sebagai berikut, yaitu “Hubungan Dukungan Keluarga
dengan Kualitas hidup pasien pasca stroke di wilayah kerja puskesmas
Banjarsari metro” oleh Ludiana, Supardi pada Jurnal wacana kesehatan
Volume 5, Nomor 1, Juli 2020 dengan pendekatan cross sectional, “
Hubungan dukungan keluarga sebagai support sistem dan kualitas hidup
pasien pasien stroke infark” oleh Marcelyna Vihandayani1, Puji Astuti
Wiratmo2, Yoaniya Hijriatipada Jurnal Keperawatan Volume 1, Nomor 2,
Agustus 2019 dengan pendekatan cross sectional,“ Analisis Kualitas
Hidup Pasien Pasca Stroke di RSUD Kabupaten Polewali Mandar” oleh
Andi Nur Aida Hafdia, Arman, Muh. Khidri Alwi, Andi Asrina pada
Jurnal Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Volume
1, 2018 dengan pendekatan cross sectional, “Hubungan Dukungan
Keluarga dengan Kualitas Hidup Lanjut Usia Pasca Stroke di Wilayah
Kerja Puskesmas Gajahan Surakarta” oleh Reni Octaviana dengan
pendekatan cross sectional, “Faktor Biopsiksosial yang Mempengaruhi
Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke: A Path Analysis Evidence dari RSUD
Surakarta, Jawa Tengah” oleh Maki Zamzam, Dkk pada Jurnal
Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat 5(1): 1-14, 2020 dengan
pendekatan cross sectional.
41

BAB IV
HASIL DAN ANALISIS

4.1 Karakteristik Studi

Hasil penelusuran Artikel pada penelitian berdasarkan topik literature

review ini “Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pada

Pasien Pasca Stroke” didapatkan 5 artikel penelitian dimana seluruhnya

berjenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian 5 artikel

menggunakan Cross Sectional Study. Dari ke 5 artikel yang didapatkan

penulis memenuhi kriteria Inklusi. Secara keseluruhan penelitian membahas

tentang, Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pada Pasien

Pasca Stroke dan rentang tahun artikel yang diambil yaitu tahun 2017-2020.

Dan berikut ini hasil analisis artikel yang ditampilkan dalam bentuk tabel

berikut:

42
42

Tabel 4.1 Hasil Pencarian Artikel

No. Author Nama Judul Tujuan Peneliti Metode Hasil Penelitian Sumber
Artikel dalam Artikel
dan Tahun
Penelitian
1 Marcelyna Volume 1, Hubungan Tujuan Penelitian Desain: correlasional hasil uji statistik didapatkan nilai Google
Vihandayan Nomor 2, Dukungan ini untuk Sampel: Sampel penelitian sebanyak spearman’s rho sebesar 0,730 Scholar
i, Agustus Keluarga Sebagai mengetahui 40 responden artinya ada hubungan yang kuat
Puji astuti 2019 Support Sistem hubungan antara Sampling: Pengambilan sampel dengan (sign 2 tailed) sebesar
wiratno, dan Kualitas dukungan menggunakan purposive sampling 0,000 yang artinya lebih kecil dari
Yoaniya Hidup Pasien psikososial sesuai kreteria inklusi dan eksklusi 0,05 sehingga dapat disimpulkan
Hijriati Pasca Stroke keluarga terhadap Populasi: Populasi dalam terdapat pengaruh yang signifikan
kualitas hidup pada penelitian antara dukungan psikososial
pasien Stroke ini yaitu responden dengan pasien keluarga terhadap kualitas hidup
Infark di Paviliun pasca stroke stroke.
Kartika lantai tiga Instrumen: Pengumpulan data
RSPAD Gatot menggunakan instrument berupa
Soebroto Jakarta kuesioner A berupa data demografi,
Pusat tahun 2018. kuesioner B untuk variabel
independen: dukungan psikososial
keluarga dan kuesioner C untuk
variable dependen: kualitas hidup
pasien stroke yang merupakan
kuesioner baku Stroke Specific
Quality of Life (SSQoL)
Variabel: Independen: dukungan
psikososial keluarga
Deependen: kualitas hidup pasien
stroke infark.
Analisis: menggunakan analisa
univariat berupa distrbusi frekuensi
dan proporsi dan analisa bivariate
menggunakan uji korelasi spearman
43

rank.
2 Ludiana, Jurnal Hubungan Tujuan Desain: analitik, rancangan cross Hasil Penelitian ini: Rata-rata Google
Supardi Wacana Dukungan penelitian ini sectional. dukungan keluarga pada pasien Scholar
Kesehatan Keluarga dengan adalah untuk Sampel: Sampel dalam penelitian ini pasca stroke adalah 70,63±2,483
Volume 5, Kualitas Hidup mengetahui sebanyak 27 responden dan rata-rata kualitas hidup pasien
Nomor 1, Pasien Pasca hubungan Sampling: teknik pengambilan pasca stroke adalah 120,04±4,328.
Juli 2020 e- Stroke di dukungan sampel total sampling Hasil analisis didapatkan r= 0,774;
ISSN 2544- Wilayah Kerja keluarga Populasi: Populasi dalam peneltian p-value 0,000< 0,05 artinya ada
6251 Puskesmas terhadap ini yaitu pasien pasca stroke hubungan antara dukungan
Banjarsari Mero Kualitas Hidup Instrumen: Pengumpulan data keluarga dengan kualitas hidup
Pasien Pasca untuk mengukur kualitas hidup pasien pasca stroke. Nilai korelasi
Stroke di dilakukan menggunakan stroke yang didapatkan termasuk dalam
Wilayah Kerja specific quality of life scale (SSQOL) kategori kuat dengan arah korelasi
Puskesmas dan untuk mengukur dukungan positif
Banjarsari Metro keluarga menggunakan kuesioner.
tahun 2018 Variabel:

- Independen: Dukungan keluarga


- Dependen: Kualitas hidup pasien
pasca stroke
Analisis: menggunakan uji Person
product moment
3 Andi Nur Sinergitas Analisis Kualitas Tujuan: Desain: penelitian ini menggunakan Hasil penelitian menunjukkan Google
Aida Multidisiplin Hidup Pasien penelitian ini metode kuantitatif dengan bahwa faktor yang berhubungan Scholar
Hafdia, Ilmu Pasca Stroke di bertujuan untuk pendekatan Cross Sectional Study dengan kualitas hidup pasca stroke
Arman,Muh Pengetahuan Rsud Kabupaten mengetahui faktor adalah umur (p=0,001), kecacatan
. Khidri dan Polewali Mandar yang Sampel: Sampel dalam penelitian ini (p=0.001), kecemasan (p=0,004,
Alwi, Andi Teknologi, mempengaruhi sebanyak 170 responden dan dukungan keluarga (p=0,030).
Asrina vol. 1, 2018 kualitas hidup Sedangkan faktor yang tidak
pasien pasca stroke Sampling: Penelitian ini berhubungan adalah jenis kelamin
di RSUD menggunakan purposive sampling (p=0,030), komorbiditas
Kabupaten (p=0,935), dan gangguan tidur
Polewali Mandar Populasi: Populasi dalam peneltian (p=0,162). Dari hasil uji regresi
ini yaitu seluruh pasien pasca stroke logistik yang paling berhubungan
dengan kualitas hidup pasien pasca
Instrumen: Instrumen yang stroke adalah umur dengan nilai
44

digunakan untuk penelitian ini adalah Exp (B) = 3.388 (95% CI ; 1,575-
menggunakan kuesioner WHOQOL, 7,286)
karakteristik responden, Bartel Indext,
gangguan tidur, kecemasan, dan
dukungan keluarga
Variabel:
Independen: kualitas hidup pasien
pasca stroke di rsud kabupaten
polewali mandar
Analisis: menggunakan univariat,
bivariat dengan uji chi square dan
Multivariat dengan regresi logistik

4 Reni Hubungan Tujuan enelitian Desain: deskriptif korelatif dengan Hasil penelitian menunjukkan 54,3% Google
Octaviana Dukungan ini adalah pendekatan crosssectional responden mendapat dukungan Scholar
Keluarga dengan mengetahui Sampel: Sampel dalam penelitian ini keluarga yang baik. Responden yang
Kualitas Hidup hubungan sebanyak 46 responden Sampling: memiliki kualitas hidup tinggi dan
Lanjut Usia Pasca dukungan keluarga teknik pengambilan purposive responden yang memiliki kualitas
Stroke di dengan kualitas Sampling hidup rendah jumlahnya sebanding
Wilayah Kerja hidup lansia pasca Populasi: Populasi dalam peneltian (50%). Terdapat hubungan dukungan
Puskesmas stroke di wilayah ini yaitu pasien pasca stroke keluarga dengan kualitas hidup lansia
Gajahan kerja Puskesmas pasca stroke dengan p value 0,000
Surakarta Gajahan Surakarta Instrumen: panduan wawancara
dukungan keluarga dan kualitas hidup
pasca stroke
Analisis: data menggunakan Rank
Spearman.
45

5 Maki Jurnal Faktor Desain: Jenis penelitian ini adalah Hasil penelitian ini: Kualitas Portal
Zamzam, Epidemiolog Biopsikososial observasional analitik dengan hidup pasien pasca stroke Garuda
Didik i dan yang pendekatan cross sectional. meningkat langsung pada pasien
Gunawan Kesehatan Mempengaruhi Sampel: Sampel dalam penelitian ini berstatus menikah (b=1,79; CI
Tamtomo, Masyarakat Kualitas Hidup sebanyak 200 responden 95%=0,24 hingga 3,35;p=0,024),
Vitri (2020), 5(1): Pasien Pasca memiliki pekerjaan (b=1,93;
Widyanings 1-14 Stroke: A Path Sampling: pengambilan sampel CI95%=0,13 hingga 3,72;
ih Program Analysis Evidence menggunakan purposive sampling p=0,035), dukungan keluarga yang
dari RSUD baik (b=2,17;95% CI=0,46 hingga
Surakarta, Jawa Populasi: Populasi dalam peneltian ini 3,88; p=0,013), dangan ganguan
Tengah yaitu pasien pasca stroke yang dirawat fungsional ringan (b=1,68;
di poli saraf RSUD Kota Surakarta. 95%CI=0,11 hingga 3,25;
Instrumen: Pengumpulan data p=0,036). Kualitas hidup menurun
dilakukan dengan kuesioner. secara langsung pada pasien
Variabel: Variabel terikatnya adalah berusia 60 tahun (b=-1,99; 95%
kualitas hidup pasien pasca stroke. CI=- 3,80 menjadi-0,17; p=0,032),
Variabel bebas adalah umur, jenis jenis kelamin perempuan (b=-1,74;
kelamin, status pekerjaan, jumlah 95% CI=-3,28 hingga -0,19 ;
pasien yang datang, pendapatan p=0,027), stroke lebih dari 1 kali
keluarga, status serangan, penyakit (b=-1,87; 95% CI=-3,59 sampai -
penyerta pasca stroke, lama sakit, status 0,15; p=0,033), sakit 6 bulan (b=-
perkawinan, dukungan keluarga, tingkat 2,12 ; 95% CI=- 3,87 sampai -
gangguan fungsional, dan status 0,36;p=0,018), memiliki penyakit
depresi. penyerta (b=-1,96; 95% CI=-3,67
Analisis: Data dianalisis dengan hingga -0,24; p= 0,025), dan
analisis jalur dengan program Stata. depresi (b=-1,40; 95% CI=-2,97
hingga 0,16; p= 0,078). Kualitas
hidup secara tidak langsung
dipengaruhi oleh usia, penyakit,
status perkawinan, dukungan
keluarga, pendapatan keluarga, dan
status pekerjaan.
46

4.2 Kateristik Responden Studi

a. Karakteristik Usia

Tabel 4.2 Karateristik Responden Studi Berdasarkan Usia

Tahun Frekuensi Persentase Jumlah


No. Peneliti Usia
Penelitian (n) (%)
1. Artikel 1 2019 26-35 tahun 6 11,7 40
Marcelyna
Vihandaya
36-45 tahun 25
ni dkk,
(2019)
56-65 tahun 9

3. Artikel 3 2018 60-69 tahun 52 15,9 54


Andi nur
Dkk, <40 tahun 2
(2018)
4. Artikel 4 2017 60-69 tahun 37 13,5 46
Reni
Octaviana, <70 tahun 9
(2017)
5. Artikel 5 2020 >60 tahun 94 58,9 200
Maki Z Dk,
(2020) <60 tahun 106

Total 100 340

Dari kelima artikel satu artikel menyebutkan karakteristik usia

menggunakan skor rata-rata dalam menjelaskan karakteristik usia. Pada

artikel 2 penelitian oleh Ludiana & Supardi (2020), rata-rata usia pasien pasca

stroke adalah 60,59±7,792 tahun dengan usia termuda 43 tahun dan usia

paling tua adalah 79 tahun. Karakteristik responden berdasarkan usia dari

kelima penelitian ini dimana dari kelima jurnal diatas didapatkan rata-rata

usia pasien pasca stroke adalah 26 tahun sampai 79 tahun. Insiden stroke

meningkat sering dengan bertambahnya usia setelah umur 55 tahun risiko


47

stroke iskemik meningkat 2 kali lipat tiap dekade. Menurut Schutz penderita

terbanyak pada umur antara 70-79 tahun.

b. Karakteristik Jenis Kelamin

Tabel 4.3 Karateristik Responden Studi Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis kelamin
Jumlah Persentase
No. Peneliti Laki-laki Perempuan (n) (%)
(n) (%) (n) (%)
1. Artikel 1 13 32,4 37 67,6 37 100
Marcelyna
Vihandayani
dkk, (2019)

2. Artikel 2 13 48 14 52 25 100
Ludiana &
Supardi (2020)

3. Artikel 3 83 48,8 87 51,2 170 100


Andi nur Dkk,
(2018)

4. Artikel 4 24 52,2 22 47,8 46 100


Reni
Octaviana,
(2017)

5. Artikel 5 94 47 106 53 200 100


Maki Z Dk,
(2020)

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dari kelima

penelitian ini pada pasien pasca stroke dari kelima jurnal diatas sebagian besar

responden berjenis kelamin perempuan.


48

c. Karakteristik Tingkat Pendidikan

Tabel 4.4 Karateristik Responden Studi Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan
Perse
Tidak Jumlah
No. Peneliti SD SMP SMA Sarjana ntase
sekolah (n)
(%)
(n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%) (n) (%)
1. Artikel 1 10 25 21 52,5 9 22,5 40 100
Marcelyna
Vihandayani
dkk, (2019)

2. Artikel 2 17 63 4 22,2 6 14,8 27 100


Ludiana &
Supardi
(2020)

3. Artikel 3 3 3 71 97 100
Andi nur
Dkk, (2018)

4. Artikel 4 11 24 18 39,1 8 17,4 6 13 3 6,5 100


Reni
Octaviana,
(2017)

5. Artikel 5 4 2 70 35 119 59,5 7 3,5 100


Maki Z Dk,
(2020)

Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan dari kelima

penelitian ini dimana pada pasien pasca stroke dari kelima artikel diatas

sebagian besar responden dalam tingkat pendidikan terakhir SD dan SMA.


49

d. Karakteristik Pekerjaan

Tabel 4.5 Karateristik Responden Studi Berdasarkan Pekerjaan


Pekerjaan
Jumlah Persentase
No. Peneliti Bekerja Tidak bekerja (n) (%)
(n) (%) (n) (%)
1. Artikel 1 30 75 10 25 40 100
Marcelyna
Vihandayan
i dkk,
(2019)

2. Artikel 2 13 48,1 14 51,9 27 100


Ludiana &
Supardi
(2020)

3. Artikel 3 29 17,1 141 82,9 170 100


Andi nur
Dkk, (2018)

4. Artikel 4 14 30,4 32 69,6 46 100


Reni
Octaviana,
(2017)
5. Artikel 5 88 44 112 56 200 100
Maki Z Dk,
(2020)

Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dari kelima penelitian

ini dimana pada pasien pasca stroke dari kelima artikel diatas sebagian besar

responden tidak bekerja.


50

e. Karakteristik Status Pernikahan

Tabel 4.6 Karateristik Responden Studi Berdasarkan Status


Pernikahan

Status Pernikahan
Belum Janda/dud Jumlah Persentase
No. Peneliti Menikah
menikah a (n) (%)
(n) (%) (n) (%) (n) (%)
1. Artikel 1 26 65 6 15 8 20 40 100
Marcelyna
Vihandaya
ni dkk,
(2019)

2. Artikel 3 134 85,8 22 14,2 156 100


Andi nur
Dkk,
(2018)
3. Artikel 4 32 69,6 2 4,3 12 26,1 46 100
Reni
Octaviana,
(2017)
4. Artikel 5 106 53 94 47 200 100
Maki Z
Dk, (2020)

Karakteristik responden berdasarkan status pernikahan dari kelima

penelitian ini hanya ada empat artikel yang terdapat karakteristik status

pernikahan dimana pada penelitian oleh Marcelyna Vihandayani dkk (2019),

Andi nur Dkk (2018), Reni Octaviana (2017), Maki Z Dkk (2020), sedangkan

pada penelitian yang dilakukan oleh Ludiana & Supardi (2020) bahwa

penelitian ini tidak menjelaskan tentang karakteristik responden berdasarkan

status pernikahan. Jadi, karakteristik berdasarkan status pernikahan pada


51

pasien pasca stroke dari keempat artikel diatas sebagian besar responden

sudah menikah.

f. Karakteristik Kekambuhan

Karakteristik responden berdasarkan kekambihan dari kelima

penelitian ini hanya ada satu artikel yang terdapat karakteristik

berdasarkan kekambuhan dimana pada penelitian Reni Octaviana (2017)

dari 46 responden didapatkan sebagian besar responden 1 kali

kekambuhan, sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Marcelyna

Vihandayani dkk (2019), Ludiana & Supardi (2020), Andi nur Dkk

(2018), Maki Z Dkk (2020), didapatkan bahwa penelitian ini tidak

menjelaskan tentang karakteristik responden berdasarkan kekambuhan.

g. Karakteristik Penyakit Penyerta

Karakteristik responden berdasarkan penyakit penyerta dari kelima

penelitian ini hanya ada satu artikel yang terdapat karakteristik

berdasarkan kekambuhan yaitu pada penelitian oleh Reni Octaviana

(2017), dari 46 responden didapatkan sebagian besar responden terdapat

penyakit penyerta yang diakibatkan seluruh responden merupakan lansia,

dimana proses penuaan merupakan tahapan kehidupan yang ditandai

dengan penurunan berbagai fungsi organ tubuh sehingga lansia lebih

rentan terkena berbagai penyakit baik degeneratif maupun infeksi,

sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Marcelyna Vihandayani

dkk (2019), Ludiana & Supardi (2020), Andi nur Dkk (2018), Maki Z
52

Dkk (2020), didapatkan bahwa penelitian ini tidak menjelaskan tentang

karakteristik responden berdasarkan penyakit penyerta.

4.3 Analisis Dukungan Keluarga terhadap pasien pasca stroke

Tabel 4.7 Analisis Dukungan Keluarga terhadap Pasien Pasca Stroke


Dukungan keluarga
Jumlah Persentase
No. Peneliti Baik Sedang Kurang (n) (%)
(n) (%) (n) (%) (n) (%)
1. Artikel 1 22 55 11 27,5 7 17,5 40 100
Marcelyna
Vihandaya
ni dkk,
(2019)

2. Artikel 4 25 54,3 21 45,7 46 100


Reni
Octaviana,
(2017)
3. Artikel 5 101 50,5 99 49,5 200 100
Maki Z
Dk, (2020)

Dari kelima artikel, dua artikel menyebutkan dukungan keluarga

menggunakan skor rata-rata dan kategori mendukung, tidak mendukung dalam

menjelaskan kategori dukungan keluarga. Pada artikel 2 penelitian oleh

Ludiana & Supardi (2020), menjelaskan skor rata-rata dukungan keluarga

pada pasien pasca stroke adalah 70,63±2,483. Skor tertinggi dukungan

keluarga adalah 75 dan skor terendah 64. Pada artikel 3 penelitian oleh Andi

Nur dkk (2018), menjelaskan responden yang mendapatkan dukungan


53

keluarga sebanyak 107 yaitu (63,0%) dan responden yang tidak mendapatkan

dukungan keluarga sebanyak 63 yaitu (37,0%).

Tabel 4.8 Jenis-Jenis Dukungan Keluarga dari Setiap Artikel

Jumlah Presentase
No. Peneliti Dukungan Keluarga
(n) (%)

1. Artikel 1 Dukungan Psikososial


Marcelyna Dukungan Emosional - -
Vihandayan
i dkk,
(2019)

2. Artikel 2 Dukungan Instrumental


Ludiana & Dukungan Penilaian - -
Supardi (Apresial)
(2020) Dukungan Emosional

3. Artikel 3 Artikel 3 tidak - -


Andi nur menjelaskan secara rinci
Dkk, (2018) bentuk dukungan keluarga

4. Artikel 5 Dukungan Emosional - -


Maki Z Dk, Dukungan Informasi
(2020) Dukungan Instrumental
Dukungan Penghargaan

Pada kelima artikel terdapat 1 artikel yang menjelaskan jenis-jenis

dukungan keluarga berdasarkan skor rata-rata yaitu pada artikel 4 Reni (2017),

skor rata-rata tertinggi pada dukungan Informasi sebanyak 2,76, sedangkan

pada skor terendah pada domain instrumental 2,65. Pada hasil review dari

kelima artikel, pada artikel 1, 4 dan 5 pasien pasca stroke memperoleh

dukungan keluarga dalam kategori baik. Pada artikel 2 menggambarkan

bahwa dukungan yang diberikan keluarga terhadap pasien pasca stroke

tergolong tinggi. Pada artikel 3 menyebutkan sebagian besar responden


54

mendapatkan dukungan keluarga. Dukungan keluarga yang diberikan meliputi

dukungan penilaian, dukungan emosional, informasi, instrumental, dukungan

psikososial dan dukungan penghargaan. Dari kelima aertikel tidak

menyebutkan instrumen dukungan keluarga secara spesifik.

4.4 Analisis Kualitas Hidup pada Pasien Pasca Stroke

Tabel 4.9 Analisi kualitas hidup pada pasien pasca stroke


Kualitas Hidup
Jumlah Persentase
No. Peneliti Tinggi Sedang Rendah (n) (%)
(n) (%) (n) (%) (n) (%)
1. Artikel 1 24 60 16 40 40 100
Marcelyn
a
Vihanday
ani dkk,
(2019)

2. Artikel 3 55 32,3 115 67,7 170 100


Andi nur
Dkk,
(2018)

3. Artikel 4 23 50 23 50 46 100
Reni
Octaviana
, (2017)
4. Artikel 5 108 54 92 46 200 100
Maki Z
Dk,
(2020)

Dari kelima artikel satu artikel menyebutkan kualitas hidup

menggunakan skor rata-rata. Pada artikel 2 penelitian oleh Ludiana & Supardi

(2020), skor rata-rata kualitas hidup pasien pasca stroke adalah 120,04±4,328.
55

Skor tertinggi kualitas hidup pasien pasca stroke adalah 127 dan skor terendah

110.

Tabel 4.10 Domain Kualitas Hidup

Jumlah
(n)
Presentase
No. Peneliti Kualitas Hidup
Baik Buruk (%)

(n) (%) (n) (%)


1. Artikel 1 Aspek Kualitas
Marcelyna hidup - - - - -
Vihandaya Status Fungsional,
ni dkk, Status Kesejahteraan
(2019) Persepsi, kesehatan
umum
2. Artikel 2 Kualitas hidup
Ludiana & meliputi: - - - - -
Supardi Kesehatan Fisik
(2020) Keadaan Psikologis
Tingkat
ketergantungan
Hubungan sosial
Keyakinan personal

3. Artikel 3 Domain Fisik 86 50,6 84 94,4 100


Andi nur Domain Psikologis 50 29,4 120 70,6 100
Dkk, Domain Hubungan 76 44,7 94 55,3 100
(2018) sosial 100
Domain Lingkungan 138 81,2 32 18,8

5. Artikel 5 Tidak menjelaskan - - - - -


Maki Z domain kualitas
Dk, (2020) hidup

Pada kelima artikel terdapat 1 artikel yang menjelaskan domain kualitas

hidup berdasarkan skor rata-rata yaitu pada artikel 4 Reni (2017), skor rata-

rata tertinggi pada domain sosial sebanyak 3,10 sedangkan pada skor terendah
56

pada domain fisik 3,04. Hasil review dari kelima artikel, pada artikel 1, 4 dan

5 pasien pasca stroke memperoleh kualitas hidup dalam kategori tinggi. Pada

artikel 2 rata-rata kualitas hidup pasien pasca stroke berada dibawah nilai

tengah atau relatif memiliki kualitas hidup yang rendah. Pada artikel 3

menjelaskan kualitas hidup berada pada kategori rendah. Kualitas hidup pada

pasien pasca stroke mempunyai 4 domain kualitas hidup, yaitu: fisik,

psikologis, sosial, spiritual,. Dari kelima artikel menyebutkan instrumen

kualitas hidup pada artikel 1 dan 2 menggunakan instrumen Stroke Specific

Quality Of Life (SSQoL). Pada artikel 3 dan 5 instrumen kualitas hidup hanya

menyebutkan kuesiner tidak menyebutkan secara spesifik. Pada artikel 4

menyebutkan instrumen kualitas hidup menggunakan wawancara dan tidak

menyebutkan secara spesifik.

4.5 Analisis dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca

stroke

Hasil review dari 5 artikel ditemukan seluruh artikel terdapat hubungan

antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke

dengan p-value<0.05 yang artinya ada hubungan yang signifikan antara

dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke.


57

BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Karakteristis Responden

Karakteristik responden berdasarkan usia dari kelima penelitian ini

dimana dari kelima artikel didapatkan rata-rata usia pasien pasca stroke adalah

26 tahun sampai 79 tahun. Menurut Maki (2020) dan Andi (2018) dalam

Bariroh rt al. (2016) Stroke lebih banyak terjadi pada pasien dengan usia rata-

rata >55 tahun karena secara fisiologis terdapat perubahan fisik yang

berhubungan dengan usia, antara lain perubahan pembuluh darah secara

umum, termasuk pembuluh darah otak yang menjadi kurang elastis dan

penumpukan plak pada pembuluh darah. Adanya plak yang terjadi pada

pembuluh darah otak akan mengganggu peredaran darah ke otak sehingga

otak akan mengalami gangguan metabolisme, jika terjadi terus menerus akan

terjadi iskemia dan infark serebral. Kejadian stroke sering terjadi pada usia 55

tahun ke atas yang diakibatkan oleh perubahan fisiologis pada masa lansia,

sehingga perubahan fisiologis ini akan mengakibatkan kualitas hidup menjadi

menurun, sehingga dukungan keluarga diperlukan pada masa-masa lansia.

Penelitian berdasarakan karakteristik responden berdasarkan jenis

kelamin pada pasien pasca stroke dari kelima artikel diatas sebagian besar

responden berjenis kelamin perempuan. Menurut Maki (2020) dalam Lopez-

Espuela et al. (2015), menjelaskan bahwa wanita memiliki kualitas hidup yang

lebih rendah dari pada pria. Gender dikaitkan dengan beberapa pola sehat dan
58

sakit. Dibandingkan dengan pria, wanita cenderung lebih mudah

mengekspresikan penyakit kronisnya. Perempuan secara konsisten memiliki

lebih banyak informasi kesehatan dari pada laki-laki karena peran kesehatan

mereka dalam keluarga. Karakteristik responden perempuan memiliki kualitas

hidup lebih rendah dari pada responden laki-laki yang diakibatkan perempuan

cenderung lebih mudah mengekspresikan rasa sakitnya. Oleh karena itu,

dukungan dari keluarga untuk pasien pasca stroke terutama pada perempuan

sangat diperlukan.

Berdasarkan tingkat pendidikan pada pasien pasca stroke dari kelima

artikel diatas sebagian besar responden pendidikan terakhir SD dan SMA.

Penelitian Reni (207) dalam Zulfa (2012) dimana tingkat pendidikan akan

sangat berperan dengan pengetahuan mereka tentang kesehatan. Status sosial

ekonomi yang rendah secara konsisten berhubungan dengan resiko terjadinya

stroke. Status sosial ekonomi akan mempengaruhi pola hidup dan lingkungan.

Tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya pengetahuan

tentang menjaga kesehatan atau tingkat penghasilan yang rendah

menyebabkan kurangnya perhatian dan kesadaran tentang kesehatan. Tingkat

pengetahuan berperan sangat besar dalam status kesehatan seseorang.

Seseorang dengan tingkat pengetahuan yang tinggi akan lebih banyak

mengetahui berbagai macam sumber kesehatan bagi dirinya dan keluarga akan

membantu dalam meningkatkan kualitas hidupnya dan keluarganya.


59

Responden berdasarkan pekerjaan pada pasien pasca stroke dari kelima

artikel diatas sebagian besar responden tidak bekerja. Maki (2020)

menjelaskan dalam Supraba (2015) yang menyatakan bahwa pekerjaan

memiliki hubungan dengan kualitas hidup dimana kualitas hidup yang baik

bagi orang yang bekerja adalah 9,81 kali lebih besar daripada orang yang tidak

bekerja. Stroke dapat menyebabkan individu mengalami kecacatan fisik dan

kemunduran berupa keterbatasan dalam bergerak karena kelemahan atau

kelumpuhan pada ekstremitas tubuh, gangguan komunikasi. Pada penderita

pasca stroke sebagian sudah dapat bekerja kembali, namun keterampilan yang

dimiliki berbeda dengan sebelum terkena stroke. Kecacatan yang diakibatkan

oleh stroke akan menghambat seseorang dalam melakukan banyak aktivitas,

akibatnya banyak pasien pasca stroke yang tidak bisa bekerja saat masa-masa

pemulihan, keterbatan itu akan membuat seseorang kehilangan peran dalam

keluarga dalam mencari kebutuhan ekonomi sehingga akan membuat kualitas

hidupnya menurun.

Status pernikahan pada pasien pasca stroke dari keempat artikel

sebagian besar responden sudah menikah. Menurut Maki (2020) dalam

Bariroh et al. (2016) yang menyatakan bahwa responden yang memiliki skor

kualitas hidup yang buruk adalah responden yang berstatus duda/belum

menikah dibandingkan dengan responden yang memiliki pasangan. Kualitas

hidup lansia yang lebih baik secara langsung ditingkatkan oleh dukungan

teman sebaya yang kuat, dukungan keluarga dan menikah. Status perkawinan

merupakan suatu bentuk dukungan yang diberikan untuk meningkatkan


60

kesehatan pasien. Dukungan pasangan sangat dibutuhkan selama masa

perawatan baik selama di rumah sakit maupun saat pasien berada di rumah,

dengan adanya kedekatan dengan pasangan dapat berpengaruh penting

terhadap proses penyembuhan (Wahyuni dan Rezkiki, 2015).

Penelitian Andi (2018), menjelaskan status pernikahan merupakan salah

satu dukungan sosial terhadap pasien sehingga dengan adanya pasangan hidup

dapat memberikan dukungan kepada pasangan untuk menjalankan perilaku

yang sehat dan positif. Adanya keberadaan pasangan yang selalu

mendampingi dan memberikan dukungan ataupun bantuan saat pasien

mengalami masalah terkait kondisi kesehatannya, maka pasien akan merasa

lebih optimis dalam menjalani kehidupannya. Hal itu akan memppengaruhi

keseluruhan aspek pada kualitas hidupnya. Oleh karena itu, kualitas hidup

pasien dengan status marital menikah lebih baik. Pasien pasca stroke yang

mempunyai pasangan cenderung lebih memiliki kualitas hidup lebih baik.

Status pernikahan dapat meningkatkan kualitas hidup pada saat anggota

keluarga mengalami sakit. Pada saat pasca stroke dukungan dari anggota

keluarga sangat diperlukan sehingga pasien pacsa stroke merasa dihargai dan

dibutuhkan.

Menurut karakteristik responden berdasarkan kekambuhan dari kelima

penelitian ini hanya ada satu artikel yang terdapat karakteristik berdasarkan

kekambuhan dimana pada penelitian Reni Octaviana (2017) dari 46 responden

didapatkan sebagian besar responden 1 kali kekambuhan. Reni (2017)

menjelaskan dalam Fryer et all (2013), kekambuhan stroke dapat terjadi


61

karena faktor gaya hidup yang tidak sehat. Selain itu, faktor-faktor resiko lain

yang juga berpengaruh adalah riwayat hipertensi, penyakit diabetes mellitus,

kelainan jantung dan ketidakteraturan pengobatan. Kecacatan dan 8 kematian

yang timbul pada kasus stroke berulang jauh lebih tinggi dari pada kasus

stroke serangan pertama. Hal ini dikarenakan pada stroke berulang terjadi

defisit neurologik yang berbeda dengan stroke yang pertama. Kekambuhan

pada pasien pasca stroke diakibatkan oleh banyak faktor riwayat penyakit

pada pasien pasca stroke, kekambuhan pada penyakit stroke tersebut akan

membuat kualitas hidup pasien akan kembali menjadi rendah, sehingga

perlunya dukungan dari kelurga untuk membantu agar tidak ada kekambuhan

yang berulang

5.2 Identifikasi Dukungan Keluarga Pada Pasien Pasca Stroke

Berdasarkan hasil penelitian dari 5 artikel tentang dukungan keluarga

yang telah diperoleh didapatkan, hasil penelitian pada artikel Marcelyna

Vihandayani dkk (2019), Reni Octaviana (2017), Maki Z Dkk (2020),

menjelaskan pasien pasca stroke memperoleh dukungan keluarga dalam

kategori baik. Pada artikel Ludiana & Supardi (2020), menggambarkan bahwa

dukungan yang diberikan keluarga terhadap pasien pasca stroke tergolong

tinggi. Pada artikel Andi Nur dkk (2018), menyebutkan sebagian besar

responden mendapatkan dukungan keluarga.


62

Menurut Ludiana & Supardi (2020), berpendapat bahwa dukungan

keluarga adalah sesuatu yang penting bagi individu yang membutuhkan

sehingga individu tersebut memahami dan tahu bahwa dirinya diperhatikan.

Dukungan keluarga sendiri meliputi dukungan instrumental, dukungan

informasional, dukungan penilaian (Appraisal) dan yang terakhir adalah

dukungan emosional. Keluarga merupakan orang terdekat yang selalu

berinteraksi dengan pasien pasca stroke sehingga peranan keluarga sangat

penting dalam upaya memberikan berbagai dukungan untuk menciptakan rasa

aman bagi pasien. Menurut Octaviana, (2017), penelitian ini sesuai dengan

penelitian Basuki dan Haryanto (2013) dimana dukungan instrumental yang

diberikan dapat berupa waktu, tenaga dan biaya. Dukungan instrumental

dapat diwujudkan dalam tindakan seperti membantu biaya pengobatan,

mengantarkan lansia berobat ke fasilitas kesehatan, membantu lansia

melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan dan mandi serta menyediakan

peralatan yang mempermudah transportasi bagi lansia pasca stroke.

Penelitian dari Maki (2020), hasil ini sejalan dengan penelitian yang

dilakukan oleh Hamalding dan Muharwati (2017), dukungan keluarga dapat

berupa dukungan informasion, dukungan penghargaan dan dukungan

emosional terkait kualitas hidup pasien pasca stroke. Dukungan informasional

meliputi informasi tentang kondisi pasien, pemberian informasi mengenai

pengobatan alternatif, serta saran dalam meningkatkan kesehatan pasien.

Dukungan penghargaan terhadap pasien dari keluarga bertujuan untuk

meningkatkan rasa percaya diri, dukungan penghargaan dapat berupa


63

motivasi, dorongan, serta penguatan kepada pasien sehingga dapat

mempengaruhi kualitas hidupnya. Dukungan emosional merupakan bentuk

kepedulian keluarga terhadap pasien, dukungan emosional sebagai tempat

keluarga yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu

penguasaan emosi, dukungan emosional keluarga diwujudkan dengan

mendengarkan keluhan dari pasien serta perhatian dari keluarga.

Hasil penelitian Vihandayani (2019), menjelaskan dukungan

psikososial keluarga sangat diperlukan dalam proses penyembuhan anggota

keluarga yang sakit, dukungan keluarga yang baik akan meningkatkan derajat

anggota keluarganya. Dukungan psikososial berhubungan dengan pentingnya

konteks sosial dalam menghadapi masalah psikososial yang dihadapi individu

karena kejadian yang membuat stress. Dukungan psikososial keluarga

memiliki efek terhadap kesehatan dan kesejahteraan yang berfungsi secara

bersamaan. Dukungan keluarga dapat mengurangi rasa kebingungan pada

awal serangan stroke. Sedangkan pada pasien pasca stroke, dukungan

keluarga dapat meningkatkan perilaku koping pasien sehingga mereka lebih

mudah menyesuaikan diri dengan keterbatasan dan disabilitas akibat penyakit

stroke Ch’ng, French & Mc Lean, dalam Octaviana, (2017). Menurut Andi

Nur (2018), dukungan keluarga mempengaruhi kualitas hidup pasien pasca

stroke dengan yaitu status pernikahan akan meningkatkan kualitas hidup baik

segi fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan hasil menunjukkan

status pernikahan menikah atau masih memiliki pasangan lebih banyak

memiliki kualitas hidup baik. Beberapa hal penting yang dapat dilakukan
64

untuk mendukung anggota keluarga yang menderita stroke yaitu dengan

meningkatkan kesadaran dirinya untuk mengenali penyakit stroke, bahwa

penyakit tersebut dapat dikontrol sehingga pasien memiliki kesadaran yang

tinggi untuk mengelola penyakitnya.

Kehadiran pasangan atau anggota keluarga merupakan support system

yang baik dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Hasil penelitan juga

menunjukkan adanya dukungan dari keluarga meliputi dukungan penilaian,

dukungan emosional, informasi, instrumental, dukungan psikososial dan

dukungan penghargaan akan membantu pasien pasca stroke yang mengalami

keterbatasan dan disabilitas akibat stroke. Adanya keberadaan pasangan atau

anggota keluarga yang selalu mendampingi dan memberikan dukungan atau

pun bantuan saat pasien mengalami masalah terkait kondisi kesehatannya,

maka pasien akan merasa lebih optimis dalam menjalani pengobatan pasca

stroke dan menjalani kehidupannya.

5.3 Identifikasi Kualitas Hidup Pada Pasien Pasca Stroke

Berdasarkan hasil penelitian dari 5 artikel tentang kualitas hidup yang

telah diperoleh. Pada artikel 1, 4 dan 5 penelitian oleh Marcelyna

Vihandayani dkk (2019), Reni Octaviana (2017) dan Maki Z Dkk (2020),

menjelaskan pasien pasca stroke memperoleh kualitas hidup dalam kategori

tinggi. Pada artikel 2 penelitian oleh Ludiana & Supardi (2020), menjelaskan

rata-rata kualitas hidup pasien pasca stroke berada dibawah nilai tengah atau

relatif memiliki kualitas hidup yang rendah.


65

Penelitian dari Ludiana & Supardi (2020) berpendapat bahwa kualitas

hidup merupakan persepsi individu terhadap posisi mereka dalam konteks

budaya dan nilai dimana mereka hidup dan dalam hubungannya dengan

tujuan hidup, harapan, standar dan perhatian. Hal ini merupakan konsep yang

luas yang mempengaruhi kesehatan fisik seseorang, keadaan psikologis,

tingkat ketergantungan, hubungan sosial, keyakinan personal dan

hubungannya dengan keinginan dimasa yang akan datang. Beberapa

problematika pasca stroke yang menjadikan kualitas hidup pasien pasca

stroke rendah diantaranya adalah ketidakmampuan fungsi dasar,

ketidakmampuan dalam beraktivitas sehari-hari, ketidakmampuan

bersosialisasi, kemunduran fungsi kognitif dan gangguan psikologis.

Menurut penelitian Octaviana (2017), hasil penelitian ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan Lombu (2015) mengenai gambaran kualitas

hidup pasien pasca stroke dimana nilai rata-rata domain terendah adalah

domain fisik. Faktor fisik yang kurang membuat pasien pasca stroke di usia

lanjut atau lansia kehilangan kesempatan dalam mengaktualisasikan dirinya

akibat keterbatasan fisik yang dimiliki. Keterbatasan fisik inilah yang akan

berdampak pada kualitas hidup yang rendah. Skor rata-rata domain kualitas

hidup yang tertinggi adalah domain sosial. Hal ini karena responden dalam

penelitian ini masih tinggal bersama anggota keluarga sehingga meskipun

mereka menderita penyakit stroke, mereka masih dapat berinteraksi baik

dengan keluarga maupun masyarakat di sekitarnya. Lansia merasa masih

berguna bagi keluarga ataupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya


66

sehingga membuat kualitas hidup mereka menjadi lebih baik. Menurut

penelitian dari Arwani, Sobirun dan Wibowo dalam Octaviana (2017),

mengenai kualitas hidup pasien stroke pada fase rehabilitasi didapatkan hasil

bahwa sebagian besar responden mengalami gangguan pada aspek energi,

peran, mobilitas, kepribadian, peran sosial dan fungsi anggota gerak atas.

Aspek yang tidak mengalami gangguan adalah aspek bahasa, suasana hati,

perawatan diri, berpikir, penglihatan, pekerjaan/produktivitas dan spiritual.

Kualitas hidup dipengaruhi oleh fisik, psikologis, sosial, dan

lingkungan. Pada pasien pasca stroke kualitas hidup rentan mengalami

kemunduran dikarenakan terjadinya ketidakmampuan fungsi dasar,

ketidakmampuan dalam beraktivitas sehari-hari, ketidakmampuan

bersosialisasi, kemunduran fungsi kognitif dan gangguan psikologis. Hal ini

menyebabkan pasien pasca stroke mengalami ketergantungan terhadap orang

lain.

5.4 Menganalisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup

Pada Pasien Pasca Stroke

Berdasarkan hasil penelitian dari 5 artikel tentang hubungan dukungan

keluarga dengan kualitas hidup pasien pasca stroke yang telah diperoleh dari

penelitian Marcelyna (2019), dengan judul “Hubungan Dukungan Keluarga

Sebagai Support Sistem dan Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke” didapatkan

bahwa. Hasil analisis hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas

hidup pasien pasca stroke dari 43 responden pasien pasca stroke, dukungan
67

keluarga baik sebanyak 22 responden yaitu (55,0%) berdasarkan kualitas

hidup pasien pasca stroke menunjukkan kualitas hidup baik sebanyak 24

responden (60,0%), sedangkan dukungan keluarga sedang sebanyak 11

responden yaitu (27,5%), dan kualitas hidup kurang sebanyak 16 responden

yaitu (40,0%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang

signifikan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup, uji analisa

diperoleh nilai p value sebesar 0,000 < p value 0,05 dengan nilai rho= 0,738

artinya ada hubungan yang kuat dengan (sign 2 tailed) sebesar 0,000 yang

artinya lebih kecil dari 0,05 hal ini dapat disimpulkan bahwa terdapat

hubungan yang signifikan antara dukungan psikososial keluarga terhadap

kualitas hidup pasien stroke. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil

penelitian yang terhadahulu oleh Dayapoglu dan Tan, (2010) mengatakan

bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara skor pada dukungan

psikososial yang dirasakan dari skala keluarga dan berbagai aspek kualitas

hidup, seperti status fungsional, kesejahteraan, persepsi, dan kesehatan umum

dan kualitas hidup global, pada penelitian lain oleh Bariroh, et al, (2016)

menyebutkan bahwa pasangan merupakan faktor sosial yaitu sebagai support

sistem yang baik dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan

keberadaan pasangan yang selalu mendampingi dan memberikan dukungan

ataupun bantuan saat mengalami masalah terkait kondisi kondisi

kesehatannya, maka pasien akan merasa lebih optimis dalam menjalani

kehidupannya. Hal itu akan mempengaruhi keseluruhan aspek pada kualitas

hidup pasien dengan status marital menikah lebih baik.


68

Pada penelitian Ludiana & Supardi (2020), dengan judul “Hubungan

Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke di Wilayah

Kerja Puskesmas Banjarsari Metro” didapatkan bahwa. Hasil analisis

hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien pasca

stroke dari 27 responden pasien pasca stroke, dukungan keluarga pada pasien

pasca stroke mempunyai skor rata-rata 70,63±2,483 atau setara dengan

dukungan keluarga tinggi dengan skor tertinggi dukungan keluarga adalah 75

dan skor terendah dukungan keluarga adalah 64, sedangkan skor rata-rata

pada kualitas hidup yaitu 120,04±4,328 atau setara dengan kualitas hidup

rendah dengan skor tertinggi kualitas hidup pasien pasca stroke adalah 127

dan skor terendah 110. Hasil analisis dengan menggunakan korelasi Person

Product Moment diperoleh rata-rata dukungan keluarga pada pasien pasca

stroke adalah 70,63±2,483 dan rata-rata skor kualitas hidup adalah

120,04±4,328. Pada hasil uji statistik didapatkan nilai p-value=0,000 (p<

0,05) yang menunjukkan ada hubungan antara dukungan keluarga dengan

kualitas hidup pasien pasca stroke. Dukungan keluarga merupakan sebuah

perjalanan dalam kehidupan yang memiliki sifat dan jenis dukungan sosial

yang berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Namun demikian,

dalam semua tahap siklus kehidupan, besar kecilnya dukungan yang

diberikan oleh keluarga akan memberikan manfaat yang banyak termasuk

dalam upaya meningkatkan kesehatan keluarga. Terakumulasinya berbagai

gejala sisa pasca stroke, baik fisik maupun psikis ini akan mengakibatkan

problematika yang lebih luas. Problematika ini antara lain problematika


69

ketidakmampuan fungsi dasar, ketidakmampuan dalam beraktifitas sehari-

hari, ketidakmampuan bersosialisasi, kemunduran fungsi kognitif sampai

dengan problematika psikologis. Demikian pula akibat lanjut problematika

pasca stroke adalah ketidakmandirian pasien yang akan menjadikan kualitas

hidup pasien pasca stroke rendah. Kualitas hidup yang menurun dapat

mempengaruhi semangat hidup penderita. Oleh karena itu, dukungan sosial

keluarga juga berperan dalam meningkatkan kualitas hidup penderita pasca

stroke.

Penelitian lainnya oleh penelitian Andi (2018), dengan judul “Analisis

Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke di Rsud Kabupaten Polewali Mandar”

didapatkan bahwa. Hasil analisis hubungan antara dukungan keluarga dengan

kualitas hidup pasien pasca stroke dari 170 responden pasien pasca stroke,

responden yang menunjukan adanya dukungan keluarga sebanyak 66

responden yaitu (61,7%) dan dari 107 responden dengan kualitas hidup buruk

sebanyak 66 responden yaitu (61,7%) sedangkan dari 63 responden terdapat

kualitas hidup buruk 49 responden yaitu (77,8%) kemudian yang

menunjukkan tidak adanya dukungan keluarga sebanyak 49 responden yaitu

(77,8%), kualitas hidup baik 41 responden yaitu (338,3%). dan kualitas hidup

baik sebanyak 14 responden yaitu (22,2%). Hasil uji statistik Chi-Square

diperoleh p value = 0,030, karena nilai p<0,05 dengan derajat kemaknaan α =

0,05, maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternative diterima yang

artinya bahwa ada hubungan antara dukungan dengan kualitas hidup pasien

pasca stroke di RSUD Kabupaten Polewali Mandar. Dukungan keluarga akan


70

meningkatkan kualitas hidup pada pasien pasca stroke, status pernikahan akan

meningkatkan kualitas hidup dari segi fisik, psikologis, hubungan sosial dan

lingkungan. Hasil menunjukan status pernikahan memiliki kualitas hidup

baik.

Pada penelitian oleh Octaviana (2017), dengan judul ”Hubungan

Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Lanjut Usia Pasca Stroke di

Wilayah Kerja Puskesmas Gajahan Surakarta” dari 46 responden pasien pasca

stroke, dukungan keluarga baik pada pasien pasca stroke sebanyak 25

responden yaitu (54,3%), responden dengan kualitas hidup tinggi sebanyak 23

responden yaitu (50,0%) dukungan keluarga kurang pada pasien pasca stroke

sebanyak 21 responden yaitu (45,7%) pada kualitas hidup rendah sebanyak 23

responden yaitu (50,0%), Hasil uji statistik didapatkan hasil p value = 0,000

dengan taraf signifikansi (α) sebesar 0,05 maka p < α yang berarti bahwa Ho

ditolak, dimana ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas

hidup lansia pasca stroke. Nilai korelasi Rank Spearman (r) sebesar 0,829

yang berarti arah korelasi dengan kekuatan positif dan sangat kuat. Dapat

diartikan bahwa semakin baik dukungan keluarga yang diberikan maka akan

semakin tinggi kualitas hidupnya. Stroke merupakan penyakit yang banyak

ditemukan pada masyarakat terutama yang berusia 45 tahun ke atas. Efek dari

stroke adalah kematian atau kecacatan yang menetap sehingga penderita

stroke akan sangat bergantung pada keluarga. Hal ini akan mempengaruhi

kualitas hidupnya, kualitas hidup merupakan kapasitas fungsional, psikologis

dan kesehatan sosial serta kesejahteraan individu. Kualitas hidup dipengaruhi


71

oleh kesehatan fisik, kondisi psikologis, tingkat ketergantungan, hubungan

sosial dan lingkungan sekitar. Kualitas hidup pada lansia dipengaruhi oleh

beberapa faktor yang menyebabkan lansia tetap berguna di masa tuanya

antara lain kemampuan dalam menyesuaikan diri, menerima segala perubahan

baik fisik maupun kognitif serta perlakuan dari lingkungan di sekitar lansia

tersebut. Dukungan keluarga termasuk dalam faktor pendukung yang

mempengaruhi perilaku dan gaya hidup seseorang sehingga berdampak pada

status kesehatan dan kualitas hidupnya (Yenni dalam Octaviana, 2017).

Selanjutnya pada penelitian oleh Maki (2020), dengan judul “Faktor

Biopsikososial yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke: A

Path Analysis Evidence dari RSUD Surakarta, JawaTengah” didapatkan

bahwa. Hasil analisis hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas

hidup pasien pasca stroke dari 200 responden pasien pasca stroke, dukungan

keluarga baik sebanyak 101 responden yaitu (50,50%) kualitas hidup baik

sebanyak 108 responden yaitu (54,00%) pada dukungan keluarga kurang

sebanyak 99 responden yaitu (49,50%), dan kualitas hidup rendah sebanyak

92 responden yaitu (46,00%). Hasil analisis kualitas hidup didapatkan

peningkatan kualitas hidup pasien pasca stroke secara langsung dipengaruhi

oleh dukungan keluarga 5,77 < 0,001. Analisis menunjukkan bahwa

dukungan keluarga berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup. Pasien

dengan dukungan keluarga tinggi akan memiliki kualitas hidup yang baik

sebesar 2,17 unit lebih tinggi dibandingkan pasien dengan dukungan keluarga

rendah. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hamalding
72

dan Muharwati (2017) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara

dukungan keluarga dengan kualitas hidup setelah stroke. Semakin tinggi

dukungan keluarga maka semakin baik kualitas hidup pasien pasca stroke.

Dukungan keluarga meliputi dukungan informasi dan apresiasi terhadap

kualitas hidup pasien stroke pasca akut di Kabupaten Wonogiri. Dukungan

keluarga meliputi informasi tentang kondisi pasien dan penghargaan terhadap

pasien dari keluarga untuk meningkatkan rasa percaya diri sehingga dapat

mempengaruhi kualitas hidupnya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa

ada hubungan antara dukungan informasi dan dukungan penghargaan dengan

kualitas hidup pasien stroke pasca akut (Rahman et. al, dalam ware, 2020).

Berdasarkan uraian hasil penelitian di atas dukungan keluarga terbukti

memiliki korelasi positif dalam kategori kuat terhadap kualitas hidup pasien

pasca stroke. Hal ini dapat terjadi karena dukungan keluarga merupakan

sumber daya eksternal utama yang secara ekstensif mampu menjadi

moderator stres kehidupan bagi pasien sehingga pasien merasa bahwa dirinya

diperhatikan atau dicintai, dihargai serta masih menjadi bagian dari keluarga

yang dibutuhkan. Oleh karena itu, keluarga memiliki peranan penting dalam

meningkatkan kualitas hidup pasien pasca stroke sehingga upaya untuk

meningkatkan kualitas hidup pasien pasca stroke dapat dilakukan melalui

pendekatan keluarga dimana keluarga diharapkan dapat memberikan

dukungan pada pasien pasca stroke baik berbentuk dukungan instrumental,

informasional, appraisal maupun emosional.


73

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan analisis dari kelima artikel yang ditemukan, hasil literature

review dapat disimpulkan :

1. Dukungan keluarga berdasarkan literature review dari kelima artikel

menunjukkan sebagian besar pada dukungan keluarga baik.

2. Kualitas hidup berdasarkan literature review dari kelima artikel

menunjukkan sebagian besar responden memiliki kualitas hidup tinggi.

3. Hasil analisis Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada

pasien pasca stroke berdasarkan literature review dari kelima artikel,

semua artikel memiliki hubungan yang signifikan antara dukungan

keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke

6.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian diatas maka peneliti menyarankan beberapa

hal sebagi berikut :

1. Bagi Peneliti

Diharapkan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien

pasca stroke dapat menambah pengetahuan dan diaplikasikan sebagai

intervensi dasar pada saat melakukan asuhan keperawatan pada pasien

pasca stroke

73
74

2. Bagi Masyarakat

Diharapkan masyarakat paham tentang pentingnya dukungan

keluarga sebagai bentuk menunjukkan rasa kasih dan sayang terhadap

anggota keluarganya, terutama kepada anggota keluarga dengan pasca

stroke yang sangat membutuhkan dukungan dari keluarga

3. Bagi Instansi Keperawatan

Penelitian ini perlu dijadikan sebagai sumber bacaan untuk

menerapkan dukungan keluarga kepada pasien pasca stroke untuk

membantu meningkatkan kualitas hidup pada pasien pasca stroke.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya perlu melakukan penelitian langsung

(original research) terkait dukungan keluarga guna untuk meningkatkan

kualitas hidup pada pasien pasca stroke.


75

DAFTAR PUSTAKA
American Heart Association (AHA). (2015). Heart Disease and Stroke Statistics
At-a-Glance. Diakses tanggal 17 Juni 2016 dari
[Link]
ments/downloadable/ucm_480086.pdf. Januari, 14, 2021
Andarmoyo, &Sulistyo. (2012). Keperawatan Keluarga Konsep Teori, Proses dan
Praktik Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Angriyani, D. (2008). Kualitas Hidup pada Orang dengan Penyakit Lupuss
Erythematotus (Odapus). Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas
Airlangga.
Arita, &Murwani. (2007). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep Dan Aplikasi
Kasus, Yogyakarta: Cendikia Press
Bakri, &Maria H. (2017). Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Pustaka
MahardikaHubungan Tingkat Ketergantungan Dalam Pemenuhan
Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari Terhadap Kualitas Hidup Pasien Pasca
Stroke Di Wilayah Kerja Puskesmas Metro Pusat. Malahayati Nursing
Journal. 2, (2), 268-278
Djamaludin, D., & Oktaviana, I. d. (2020). Hubungan Tingkat Ketergantungan
Dalam Pemenuhan Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari Terhadap Kualitas
Hidup Pasien Pasca Stroke Di Wilayah Kerja Puskesmas Metro Pusat.
Malahayati Nursing Journal , 2, (2), 270-271.
Djunizar, D. & Intan, D,O. (2020).
Dourman. (2013). Waspadai Stroke Usia Muda. Jakarta : Cerdas Sehat
Feigin, &Valery. (2006). Stroke, Panduan Bergambar tentang Pencegahan dan
Pemulihan Stroke. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer
Friedman, &Marilyn M. (2003). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek.
Jakarta: EGC
Friedman, M., dkk. (2014). Buku Ajar Keoerawatan Keluarga (Riset, teori, dan
praktik). Jakarta : EGC
Friedman, M. (2010). Buku Ajar Keperawatan keluarga : Riset, Teori, dan
Praktek. Jakarta: EGC
Hastura, D. (2013). Hubungan Strategi Mekanisme Koping Dengan Kualitas
Hidup Pasien Pasca Stroke Di Poliklinik Saraf Badan Layanan Umum
Daerah Rumah Sakit Umum Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun
2013. Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Syiah Kuala.
76

Helmading., dkk.(2017). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Quality Of life


(QOL) Pada Kejadian Stroke. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 7, (2), 147-
148.
Irianto K. (2014). Epidemiologi Penyakit Menular Dan Tidak Menular Panduan
Klinis. Bandung: Alfabeta.
Kusumaningrum, N. (2016). Hubungan Dukungan Sosial Keluarga Dengan
Kualitas Hidup Pasien Pasca Stroke Di RSU PKU Muhammadiyah
Yogyakarta. Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah MadaYogyakarta.
Ludiana, & Supardi. (2020). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kualitas
Hidup Pasien Pasca Stroke Di Wilayah Kerja Puskesmas Banjarsari
Metro. Jurnal Wacana Kesehatan, 5, (1), 509
Mozaffarian, D., dkk.(2015). Heart Disease and Stroke Statistics Update : a
Report from the American Heart Association [Internet]. 2014 [cited 2015
Nov17].Available
from:[Link]/idc/groups/ahamahpublic/@wcm/@sop/@smd/docu
ments/downloadable/ucm_470704.pdf. Januari, 14, 2021.
Muttaqin, &Arif. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan
Gangguan Sistem Imunologi. Jakarta: Salemba Medika
Mahendra, B.,& Rachmawati N.H., Evi. (2007). Atasi Stroke dengan tanaman
obat. Jakarta: Penebar swadaya
Mahendra, I. B., & N.H, d. E. (2005). Atasi Stroke dengan Tanaman Obat.
Jakarta: Penebar swadaya.
Nofitri. (2009). Kualitas Hidup Penduduk Dewasa di Jakarta . Jakarta.
([Link] 10 desember 2015)

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan


Kesehatan Kementerian RI tahun2018.
[Link]
_20 18/Hasil%20Riskesdas%[Link] – Diakses Agustus 2018.
Rachmawati, S. (2013) Kualitas Hidup Orang dengan HIV/AIDS yang Mengikuti
Terapi Antiretrovial. Jurnal Sains dan Praktik Psikologi, 1 (1), 48-62.

Psychologymania. (2012). Pengertian Dukungan Sosial. Psikolog Sosial.


[Link]
[Link].
Salim OCh, dkk. (2016). Validitas dan reliabilitas World Health Organization
Quality of Life-BREF untuk mengukur kualitas hidup lanjut usia.
Universa Medicina. 26, (1), 27-38
77

Sari, S. H., dkk. (2015). Batasan Karakteristik dan Faktor Yang Berhubungan
(Etiologi) Diagnosa Keperawatan: Hambatan Mobilitas Fisik Pada Pasien
Stroke. Universitas Lambung Mangkurat, 3(1), 12–21.
Silva, D. N. (2014). Understanding Stroke A Guide for Stroke Survivors and
Their Families.
Tamara, E..dkk.(2014). Hubungan Antara Dukungan dan Kualitas Hidup Pasien
Diabetes Mellitus Tipe II Di RSUD Arifin Achmad Provinsi [Link]
Online Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, 1,(2), 1-2
Ulfa, B., dkk. (2016). Kualitas Hidup Berdasarkan Karakteristik Pasien Pasca
Stroke. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 4, (4), 486-487
utami, d. P. (2009). Solusi sehat mengatasi stroke . Jakarta: PT Agromedia
Pustaka
Yani, A.,& Fitri, E., (2010). Perbedaan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan Pasien
Stroke Iskemik Serangan Pertama dan Berulang. Skripsi. Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

WHOQOL-BREF. (1996). Introduction, Administration, Scoring and Generic


Version Of The Assessment. Programme on Mental Health World Health
Organization CH-1211 Geneva 27, Switzerland
Wijaya, A.S & Putri, Y.M. (2013). Keperawatan Medikal Bedah 2, Keperawatan
Dewasa Teori dan Contoh Askep. Yogyakarta : Nuha Medika
World Health Organization. World Health Statistic (2014). Geneva: WHO, 2014
78

Lampiran 1
79
80
81

Lampiran 2
82
83
84
85
86

Lampiran 2
87
88
89
90

Lampiran 4
91
92

Lampiran 3

Lampiran 5
93
94
95
96
97
98
99

Lampiran 4
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113

Lampiran 5
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128

Lampiran Bimbingan Skripsi


129
130
131
132

Curriculum Vitae

Nama : Firda Andan Sari

Tempat Tanggal Lahir : Lumajang, 17 Agustus 1998

Alamat : Desa Kebonsari, Kecamatan Sumbersuko,

Kabupaten Lumajang

Email : Firdaandansari@[Link]

Riwayat Pendidikan :

1. RA. Muslimat NU Kebonsari


Lulus Tahun 2007
2. MI. Da’watul Khoir Kebonsari
Lulus Tahun 2012
3. Mts. Putri Nurul Masyitoh Lumajang
Lulus Tahun 2015
4. MA. Putri Nurul Masyitoh Lumajang
Lulus tahun 2017

Anda mungkin juga menyukai