PENERAPAN LEGALITAS PRAKTEK TUKANG GIGI
DALAM PERPEKTIF UNDANG – UNDANG KESEHATAN
DI KOTA KENDARI TAHUN 2023
A. Latar belakang
Pengertian Tukang Gigi dituangkan dalam Pasal 1 Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Pembinaan,Pengawasan,Dan Perizinan
Tukang Gigi ayat (1) Tukang gigi adalah setiap orang yang memiliki keahlian
membuat dan memasang gigi tiruan lepas pasang.1 Peran pemerintah dalam
mengawasi keberadaan tukang gigi adalah dengan menerbitkan Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 53 Tahun 1969 Tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin
Menjalankan Profesi Tukang Gigi. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan berisi tata
cara pencatatan serta penyerahan izin dalam melakukan profesi tukang gigi, regulasi
ini diterbitkan atas dasar pertimbangan, pada saat itu di Indonesia masih ramai yang
melakukan profesi di ranah kesehatan tidak mempunyai pengalaman ilmiah yang
dibutuhkan dan melaksanakan pekerjaan di luar batas kewenangan maupun
keahliannya, yang dikhawatirkan dapat membahayakan dan merugikan kesehatan
masyarakat
Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 39
Tahun 2014 berdasarkan peraturan tersebut menyebutkan bahwa tukang gigi adalah
setiap orang yang mempunyai kewenangan dan kemampuan untuk membuat dan
memasang gigi lepasan. Dalam peraturan ini juga menjelaskan bahwa kewengan
tukang gigi tidak lebih dari yang sudah di atur dalam peraturan menteri kesehatan
tersebut.
Dalam profesi tukang gigi telah banyak di kenal oleh masyarakat Indonesia
bahkan sebelum dikenalnya dunia kedokteran gigi yang berdiri di Indonesia. Di
Indonesia sekitar 75.000 jumlah profesi yang masih membuka praktek yang
menandakan bahwa masih banyaknya masyarakat yang meminati jasa tukang gigi,
dalam era sekarang masih banyak kita temui praktek tukang gigi yang membuka
praktek untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam aspek hukum dapat dilihat bahwa profesi tukang gigi merupakan
profesi dalam bidang kesehatan yang mencakup pada pembuatan gigi tiruan yang
berkolaborasi dengan dokter gigi, namun nyatanya masih banyak yang kita temui di
lapangan profesi tukang gigi tersebut masih melakukan tindakan sejenis dengan
dokter gigi yang dalam hakikatnya sudah tidak sesuai dengan kewenangan.
Dalam hal ini banyak aspek yang mendasari eksistensi profesi tukang gigi
masih sangat di minati oleh masyarakat karena marahnya biasa yang di ajukan serta
cepatnya pelayanan kesehatan yang diberikan, namun dalam penerapan ya profesi
tukang gigi ini masih sangat mengabaikan resiko kesehatan. Dalam praktiknya dapat
kita liat banyaknya praktek tukang gigi yaang masih eksis menunjukkan bahwa
kurangnya pengawasan pemerinta dalam menertibkan profesi tukang gigi
sebagaimana yang di atur dalam Undang – undang kesehatan, dalam kontek tersebut
banyak juga di dapatkan masalah yang ditimbulkan dari praktek yang menyalai
aturan yang sudah di atur dalam hal ini praktek profesi tukang gigi.
Pada dasarnya, tukang gigi dianggap sebagai tenaga di bidang pengobatan
tradisional yang diakui pemerintah berdasarkan pada Putusan Mahkamah Konstitusi
(yang selanjutnya disebut dengan MK) Nomor 40/PUU-X/2012 tentang pekerjaan
tukang gigi, selama para tukang gigi tersebut menaati aturan yang terdapat dalam
Peraturan Menteri Kesehatan (yang selanjutnya disebut dengan PERMENKES)
Nomor 39 tahun 2014 tentang “Pembinaan, Pengawasan, dan Perizinan, Pekerjaan
Tukang Gigi” dalam menjalankan praktiknya.
Menurut Muhammad Luthfi dalam sebuah acara Indonesian Dental
Exhibition and Conference (IDEC) 2017 di Jakarta, jumlah tukang gigi saat ini yaitu
berjumlah kurang lebih 75.000 orang yang tersebar diseluruh Indonesia sedangkan
jumlah dokter gigi hanya ada sekitar 2.800 orang (Profesi Tukang Gigi Jadi Sorotan
Forum IDEC, 2017 )
Sedangkan untuk di Provinsi sulawesi tenggara jumlah tukang tukang gigi
sebanyak 1832 orang yang tersebar di berbagai daerah yang memiliki ijin praktek
legal dan non legal. Dalam hal ini seperti yang dilangsir dari sultra New tahun 2019
Dinas Kesehatan Kota Kendari Menyeba bahwa tukang gigi kendari belum
memiliki ijn poraktek, dalam hal ini berdasarkan hasil telusuri penulis banyak
mendapatkan dari beberapa sumber banyak korban tukang gigi yang mengeluh
karena kesehatan giginya yang rusak akibat dari korban gigi. Korban tukang gigi
yang di langsir dari laman Instagram Kor tugi korban tukang menyebut bahwa dari
beberapa tahun terakhir korban tukang gigi dikendari terus meningkat hal ini seperti
yang dapatkan dari wawancara penulis dengan salah satu dental asisten dokter gigi
yang menyatakan bahwa banyak sekali korban tukang gigi yang datang periksa ke
rumah sakit dengan kondisi gigi yang begitu parah.
Berdasarkan latar belakang diatas dapat di tarik permasalahan yaitu sebagai
berikut :
1. Bagaimana perarapan legalitas praktek profesi tukang gigi dalam perpektif undang –
undang kesehatan RI di Kota Kendari
2. Bagaimana perlakuan hukum yang ditimbulkan dari praktek ilegal yang di
jalankan
B. Rumusan Masalah
Bagaimana perarapan legalitas praktek profesi tukang gigi dalam perpektif
undang – undang kesehatan RI di Kota Kendari \
C. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana penerapan undang – undang kesehatan dalam
praktek profesi tukang gigi di kota Kendari
D. Sumber
Dharmawan, Devi, and Ivonne Jonathan. 2019. “Pertanggungjawaban Hukum Praktik
Tukang Gigi Yang Melebihi Wewenangnya.” Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan
8(1): 121–29.
Permenkes Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Pembinaan, Pengawasan Dan Perizinan,
Pekerjaan Tukang Gigi. 2014. “Permenkes Nomor 39 Tahun 2014 Tentang
Pembinaan, Pengawasan Dan Perizinan, Pekerjaan Tukang Gigi.” Paper
Knowledge . Toward a Media History of Documents.