0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
88 tayangan57 halaman

Gingivitis pada Perokok Aktif di Konawe

Usulan penelitian ini membahas gambaran gingivitis pada perokok aktif di masyarakat Dusun 3 Desa Meraka Kecamatan Lambuya Kabupaten Konawe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keparahan gingivitis pada perokok aktif dan hubungannya dengan frekuensi merokok. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
88 tayangan57 halaman

Gingivitis pada Perokok Aktif di Konawe

Usulan penelitian ini membahas gambaran gingivitis pada perokok aktif di masyarakat Dusun 3 Desa Meraka Kecamatan Lambuya Kabupaten Konawe. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keparahan gingivitis pada perokok aktif dan hubungannya dengan frekuensi merokok. Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak merokok terhadap kesehatan gigi dan mulut.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

GAMBARAN GINGIVITIS PADA PEROKOK AKTIF DI

MASYARAKAT DUSUN 3 DESA MERAKA KECAMATAN


LAMBUYA KABUPATEN KONAWE

Usulan Penelitian untuk Karya Tulis Ilmiah

Diajukan Oleh:

SINTIA ASPIN

KG.17053

Kepada

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN GIGI

POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI

KENDARI

2021

i
HALAMAN PERSETUJUAN

GAMBARAN GINGIVITIS PADA PEROKOK AKTIF DI MASYARAKAT


DUSUN 3 DESA MERAKA KECAMATAN LAMBUYA KABUPATEN
KONAWE

Oleh:

SINTIA ASPIN

KG.17053

Untuk Dipertahankan Di Hadapan Dosen Penguji seminar usulan penelitian

Program Studi Diploma III

Politeknik Bina Husada

Kendari

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

[Link]. Syaiful Saehu, ST.,[Link] Drg. Nurfillah, [Link]

NIDN. 0929127301

DAFTAR ISI

ii
HALAMAN SAMPUL.................................................................................i

HALAMAN PERSETUJUAN....................................................................ii

DAFTAR ISI ................................................................................................iii

DAFTAR TABEL........................................................................................iv

DAFTAR GAMBAR....................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...................................................................................1
B. Rumusan Masalah .............................................................................4
C. Tujuan Penelitian...............................................................................5
D. Manfaat Penelitian.............................................................................5
1. Manfaat Teoritis...........................................................................5
2. Manfaat Praktis............................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Rujukan Penelitian.............................................................................6
B. Landasan Teori...................................................................................8
1. Gingiva.........................................................................................8
2. Gingivitis.....................................................................................10
3. Perawatan Dasar Gingivitis .........................................................17
4. Cara Menentukan Gingivitis........................................................17
5. Rokok...........................................................................................24
6. Hubungan Merokok dengan Gingivitis........................................27
BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan desain Penelitian.................................................................25


B. Waktu dan Tempat penelitian............................................................25
C. Populasi dan sampel penelitian..........................................................25
D. Variabel Penelitian.............................................................................26

iii
E. Definisi operasional Variabel............................................................26
F. Prosedur penelitian.............................................................................27
G. Analisis data.......................................................................................28
H. Tehnik pengumpulan data..................................................................28
I. Tehnik pengolahan data.....................................................................29

DAFTAR PUSTAKA

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nilai atau skor indeks gingival......................................................17

Tabel 2.2 Kriteria Penilaian Indeks Gingiva..................................................18

Tabel 2.3 Kriteria Penilaian CPITN...............................................................33

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1........................................................................................................8

Gambar 2........................................................................................................10

Gambar 3........................................................................................................13

Gambar 4........................................................................................................14

Gambar 5........................................................................................................23

vi
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kesehatan gigi dan mulut merupakan

bagian dari kesehatan tubuh manusia yang tidak

bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya sebab

kesehatan gigi dan mulut akan mempengaruhi

kesehatan tubuh. Pemeliharaan kesehatan gigi dan

mulut merupakan salah satu upaya untuk lebih

meningkatkan kesehatan gigi dan mulut. Peranan

rongga mulut sangat besar bagi kesehatan dan

kesejahteraan bagi manusia. Secara umum,

seseorang dikatakan sehat bukan hanya tubuhnya

saja yang sehat melainkan juga sehat rongga mulut

dan giginya. Oleh karena itu, kesehatan gigi dan

mulut sangat berperan penting dalam menunjang

ksehatan tubuh seseorang (Jumriani, 2017).

Kebersihan mulut sangat mempengaruhi

kesehatan rongga mulut khususnya kesehatan

jaringan periodonsium, dalam arti bahwa bila

kebersihan mulut kurang baik maka frekuensi

terjadinya kelainan di rongga mulut lebih sering

1
dibandingkan dengan kebersihan mulut yang baik.

Kebersihan mulut seseorang dapat ditentukan dari

banyaknya plak dan debris serta kalkulus yang

dinyatakan dalarn indeks. Merokok merupakan

salah satu faktor mudah melekatnya debris pada

gigi. Hal ini dapat meningkatkan terjadinya

periodontitis dan periodontitis merupakan

kelanjutandari gingivitis (Pratiwi, Niniek dan

Lestari,2010).

Gingivitis merupakan suatu kelainan pada

gigi berupa peradangan pada gusi yang mengalami

perubahan warna mulai dari kemerahan sampai

merah kebiruan, sesuai dengan bertambahnya

proses peradangan yang terus menerus.

Penyebab gingivitis bermula dari plak yang

menempel pada gigi, plak merupakan suatu lapisan

yang utamanya terdiri dari bakteri. Plak lebih

sering menempel pada tambalan gigi yang salah,

atau disekitar gigi yang terletak berseblahan

dengan gigi palsu yang jarang dibersihkan. Jika

plak pada gigi tetap melekat pada gigi selama dari

72 jam, maka akan mengeras dan membentuk

karang gigi. Plak merupakan penyebab utama dari

2
Gingivitis, kekurangan vitamin C bisa juga

menyebabkan gingivitis, dimana gusi meradang

dan mudah berdarah, kekurangan niasin (Pellgra)

juga bisa menyebabkan peradangan dan

perdarahan gusi serta mempermudah terjadi infeksi

mulut. (Ikhsan 2009)

Rokok merupakan silinder dari kertas

berukuran panjang antara 70-120 mm (bervariasi

tergantung Negara itu masing-masing) dengan

diameter 10 mm yang berisikan daun-daun

tembakau yang telah dicacah dan diberi saus

perisa. Setelah itu Rokok dibakar pada salah satu

ujungnya dan dibiarkan membara hingga asapnya

dapat dihirup melalui mulut pada ujung lainnya

(Sinaga, 2014).

Merokok adalah suatu kebiasaan yang

sering kita jumpai di setiap penjuru dunia.

Kebiasaan ini sudah sangat begitu luas dilakukan

baik dalam lingkungan berpendidikan rendah

maupun tinggi. Merokok telah diketahui dapat

menyebabkan gangguan kesehatan namun masih

banyak juga yang mengkomsumsi rokok tersebut.

Menurut WHO, lingkungan pada asap rokok

3
adalah penyebab dari berbagai penyakit, dan juga

dapat mengenai orang yang bukan perokok atau

yang biasa dikenal dengan sebutan Perokok pasif

(Khalisa, 2016).

Saat ini, perokok di Indonesia sudah

mencakup ke kalangan remaja 15-19 tahun. Fase

remaja sangat rentan untuk mencoba hal-hal baru

dengan tujuan untuk pencarian jati dirinya, salah

satunya yaitu dengan cara merokok. Kebiasaan

merokok tidak hanya menimbulkan efek sistemik

pada tubuh, tetapi juga dapat menimbulkan kondisi

patologis di rongga mulut, salah satunya yaitu

gingivitis.

Jumlah perokok di Indonesia kini terus

menerus mengalami peningkatan yang sangat

drastis, bahkan mencapai 40% jumlah perokok

dunia. Saat ini sudah diperkirakan sebanyak 52

juta orang di Indonesia yang memiliki kebiasaan

merokok dalam sehari-harinya (Krismaningsih,

2018). Dalam kehidupan sehari-hari banyak

ditemukan orang merokok baik di kantor, di pasar,

ataupun tempat umum lainnya, atau bahkan di

kalangan rumah tangga sekalipun.

4
Kebiasaan merokok dimulai dengan adanya

rokok pertama, pada umumnya rokok pertama

dimulai saat usia remaja. Sejumlah studi di

temukan penghisap rokok pertama kali pada usia

11-13 tahun (Smet, 1994). Studi mirnet (Tuakli

dkk. 1990) menemukan bahwa perilaku merokok

diawali oleh rasa ingin tahu dan pengaruh dari

teman sebaya nya. Smet (1994) mengemukakan

bahwa merokok terjadi akibat pengaruh

lingkungan sosial. Modeling atau yang sering

biasa dikenal dengan perilaku meniru orang lain

menjadi salah satu determinan dalam memulai

perilaku merokok (Smet, 1994, cit, Paramita,

2015).

Tingkat prevalensi perokok di berbagai

provinsi Indonesia, seperti wilayah provinsi

lampung menduduki peringkat ke-10 dari 34

provinsi di Indonesia, yakni sebesar 38%, dimana

posisi pertama tingkat prevalensi perokok tertinggi

adalah Kalimantan tengah, yakni 43,2% dan

terendah adalah di provinsi Sulawesi Tenggara

yakni 28,3% (Depkes RI, 2012).

5
Menurut pengamatan penulis, di masyarakat

Kecamatan Lambuya Khususnya Dusun 3 Desa

Meraka banyak sekali orang tua khususnya bapak-

bapak dan remaja yang mulai mengenal rokok.

Mereka dengan tidak canggung lagi merokok

didepan umum.

Berdasarkan latar belakang ini penulis

tertarik untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah

tentang “Gambaran Gingivitis pada Perokok di

Masyarakat Dusun 3 desa meraka kecamatan

Lambuya kabupaten Konawe”

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah

diuraikan, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah

bagaimanakah gambaran Gingivitis pada perokok

aktif di masyarakat dusun 3 desa meraka

Kecamatan Lambuya Kabupaten Konawe ?

B. Tujuan penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran Gingivitis pada

Perokok aktif di masyarakatan Dusun 3 Desa

6
Meraka Kecamatan Lambuya Kabupaten

Konawe

2. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui Gambaran Gingivitis pada

Perokok aktif di usia 45-54 tahun Di

Masyarakat Dusun 3 Kecamatan Lambuya

Kabupaten Konawe

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Toratis

Manfaat Teoritis penelitian ini diharapkan

memberikan data atau

informasi yang di dapat digunakan sebagai

bahan pustaka untuk mengembangkan ilmu

kesehatan yang berhubungan dengan gingivitis

pada perokok aktif

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Politeknik Bina Husada Kendari

Diharapkan menambah sumber pustaka

mengenai gambaran gingivitis pada

perokok aktif

b. Bagi Peneliti

Untuk menambah wawasan dan

pengetahuan tentang Gambaran gingivitis

7
terhadap perokok aktif di Dusun 3 Desa

Meraka Kecamatan Lambuya

c. Bagi Masyarakat Dusun 3 Desa Meraka Kecamatan Lambuya

Di harapkan dapat menambah wawasan

Masyarakat Dusun 3 Desa Meraka tentang

dampak merokok bagi kesehatan gigi dan

mulut khususnya gingivitis.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Rujukan penelitian

1. Berdasarkan penelitian yang dilakukakan (Ni

Ketutramini et al, 2015). Perokok lebih

mudah mengalami gingivitis daripada orang

yang tidak merokok. Dewasa ini remaja sudah

mulai merokok, dimana perokok aktif di

kalangan anak-anak mengalami peningkatan

cukup signifikan dalam 10 tahu terakhir.

Indonesia memiliki prevalensi perokok aktif

tertinggi sebanyak 36,1% orang dewasa, dan

67% pria remaja.

2. Penelitian yang dilakukan Katarina D. Manibuy

dkk, (2015) . Menunjukkan bahwa sebanyak

49 orang (49,5%) memiliki kebiasaan

merokok ringan berdasarkan jumlah rokok (1-

4 batang rokok/hari), 39 orang (39,4%)

memiliki kebiasaan merokok berat

berdasarkan lama merokok (>2 tahun), 70

orang (70,7%) yang memiliki status gingiva

ringan. Hasil uji chi-sqaure menunjukkan

bahwa tidak terdapat hubungan antara

9
kebiasaan merokok berdasarkan jumlah rokok

dengan status gingiva (p>0,05) namun

kebiasaan merokok berdasarkan lama

merokok berhubungan dengan status gingiva

((p<0,05).

3. Penelitian yang dilakukan Nia Rohmawati dkk,

(2018). Untuk mengetahui faktor risiko yang

berhubungan dengan status penyakit

periodontal pada pria perokok dewasa. Jenis

penelitian ini adalah analitik observasional

dengan pendekatan case control. Sampel

sebesar 42 sampel kasus dan 42 sampel

kontrol dengan teknik purposive sampling.

Instrumen penelitian yang digunakan adalah

lembar kuesioner dengan teknik wawancara.

Analisis data yang digunakan adalah Chi-

square dan regresi logistik. Hasil menujukkan

bahwa status merokok (p=0,017), lama

merokok (p=0,037), jumlah rokok (p=0,040),

perilaku menyikat gigi (p=0,030), konsumsi

buah dan sayur (p=0,008) berhubungan

dengan status penyakit periodontal pada pria

perokok dewasa.

10
4. Penelitian yang di lakukan Desya Vallentina

Johan. (2018). Dengan mengambil jumlah

populasi 300 orang dan sampel yang diteliti

100 orang. Teknik pengambilan sampel yang

dilakukan adalah Purposive Sampling.

Data yang diperoleh di analisa dan

memperoleh hasil dari jumlah rokok yang

dihisap per hari, yang menghisap kurang

dari 10 batang perhari berjumlah 29%, untuk

yang lebih dari 10 batang perhari berjumlah

37%, danyang lebih dari 20 batang perhari

berjumlah 34%. Jika dilihat dari lama

merokok ,yang merokok kurang dari 5 tahun

dan lebih dari 10 tahun berjumlah 40%,

lebih dari 5 tahun berjumlah 20%. Dilihat

menurut status gingivanya yang terbanyak

terdapat pada Peradangan sedang dengan

37%, lalu diikuti peradangan berat 34%,

kemudian gingiva sehat 16% dan yang

terakhir 13% .

5. Penelitian yang di lakukan Priska M. Poana

dkk (2015). Dari 72 orang subjek penelitian

yang di periksa, 4.17% perokok yang

11
menghisap rokok >20 batang perhari

memiliki status gingival inflamasi ringan

sedang dan 25% perokok dengan lama

merokok >10 tahun memiliki status gingival

inflamasi ringan.

B. Landasan Teori

1. Gingiva

Gingiva menurut Hermawan (2010) adalah

jaringan lunak yang menutupi leher gigi dan tulang

rahang, baik yang terdapat pada rahang atas

maupun rahang [Link] juga merupakan

satu dari jaringan penyangga gigi. Gambaran klinis

gingiva sebagai dasar untuk mengetahui perubahan

patologis yang terjadi pada gingiva yang terjangkit

suatu penyakit. Menurut Megananda (2010)

gambaran klinis gingiva normal terdiri dari:

Gambar 1. Gingiva Normal

12
(Sumber: Ary Jayadi)

a. Warna Gingiva

Warna gingiva normal umumnya berwarna

merah jambu (coral pink) yang diakibatkan

oleh adanya suplai darah dan derajat lapisan

keratin epitelium serta sel-sel [Link]

ini bervariasi pada setiap orang dan erat

hubungannya dengan pigmentasi kutaneous.

Pigmentasi pada gingiva biasanya terjadi pada

individu yang memiliki warna kulit gelap.

Pigmentasi pada attached gingiva mulai dari

coklat sampai hitam. Warna pada alveolar

mukosa lebih merah disebabkan oleh mukosa

alveolar tidak mempunyai lapisan keratin dan

epitelnya tipis.

b. Besar Gingiva

Besar gingiva ditentukan oleh jumlah elemen

seluler, interseluler dan pasokan darah.

Perubahan besar gingiva merupakan gambaran

yang paling sering dijumpai pada penyakit

periodontal.

c. Kontur Gingiva

13
Kontur dan ukuran gingiva sangat

[Link] ini dipengaruhi oleh bentuk

dan susunan gigi geligi pada lengkungnya,

lokalisasi dan luas area kontak proksimal dan

dimensi embrasur (interdental) gingiva oral

maupun [Link] papil menutupi

bagian interdental gingiva sehingga tampak

lancip.

d. Konsistensi Gingiva

Gingiva melekat erat ke struktur

dibawahnya dan tidak mempunyai lapisan

submukosa sehingga gingiva tidak dapat

digerakkan dan kenyal.

e. Tekstur Gingiva

akan terlihat jelas apabila permukaan gingival

dikeringkan. Permukaan attached gingiva

berbintik-bintik seperti kulit jeruk. Bintik-

bintik ini biasanya disebut stippling.

2. Gingivitis

A. Definisi gingivitis

Gingiva merupakan bagian dari mukosa

yang memiliki hubungan erat dengan elemen-

14
elemen gigi, ruang interdental dan tulang alveolar.

Secara topografi, gingival di bagi dalam tiga

kategori klasik yaitu gingiva bebas, gingival cekat

dan gingiva interdental. Gingival yang sehat

berwarna merah muda, tepinya seperti pisau,

menutupi susunan gigi geligi dengan mengikuti

konturnya (Marunaya, 2015).

Gambar 2. Gingivitis

(sumber: devon street dental clinic)

B. Gejala klinis gingivitis

Gusi yang mudah berdarah adalah salah satu tanda-

tanda dari radang gusi (gingivitis). Gingivitis biasanya

ditandai dengan gusi bengkak, warnahnya merah

terang, dan mudah berdarah hanya dengan sentuhan

ringan.

15
C. Jenis-jenis Gingivitis

Pembagian gingivitis menurut durasinya dibagi

menjadi :

1) Gingivitis Akut

Adalah suatu kondisi yang sangat nyeri datang

tiba-tiba dan durasi waktu yang singkat

2) Gingivitis sub akut

Merupakan fase ringan dari gingivitis akut.

3) Gingivitis Rekuren

Gingivitis yang muncum kembali setelah

dirawat/hilang dengan sendirinya kemudian

muncul kembali.

4) Gingivitis kronis

Yaitu gingivitis yang munculnya secara

perlahan-lahan, durasi lama, tidak begitu nyeri

kecuali disertai eksaserbasi akut, gingivitis

kronis merupakan tipe yang sering di jumpai.

D. Penyebab Gingivitis

Factor penyebab gingivitis di antaranya:

1) Bersifat lokal

16
Yaitu penyebab yang bersumber di

dalam rongga mulut, efeknya langsung

dan merupakan penyebab utama.

Adapun factor-faktor tersebut ialah:

a. Pengertian Stain

Stain adalah deposit berpigmen yang

berwarna kuning sampai kecoklatan yang

terdapat pada permukaan gigi. Stain Merupakan

masalah estetik yang gejala awalnya tidak

menyebabkan peradangan pada gingival. Apabila

tidak di bersihkan, plak akan mengeras dan

membentuk kalkulus (karang gigi) yang dapat

merambat ke akar gigi, akibatnya gusi akan

mudah berdarah, gigi gampang goyah, dan

mudah tanggal (Mumpuni, 2013).

Pembentukan stain pada gigi dapat di

pengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti

penggunaan obat kumur, mengkomsumsi

makanan dan minuman berwarna, kopi, teh, soft

drink, makanan yang banyak mengandung asam,

glukosa dan di tambah lagi dengan oral hygine

yang dapat menyebabkan pembentukan stain plak

dan kalkulus pada gigi akibatnya gigi mudah

17
infeksi. Jika dibiarkan akan mengarah pada

komplikasi lain, misalnya karies gigi, penyakit

periodontal, bau mulut (halitosis), bibir pecah-

pecah (keilosis), sariawan (stomatitis).

Stain gigi adalah warna yang menempel pada

permukaan gigi yang biasanya terjadi karena

perlekatan warna makanan, minuman ataupun

kandungan nikotin. Pada dasarnya stain gigi dapat

di bagi menjadi dua yaitu stain stain ekstrinsik

dan stain intrinsik.

1. Stain Ekstrinsik

Stain ekstrinsik di definisikan sebagai

perubahan warna pada permukaan luar

struktur gigi dan disebabkan oleh agen

topikal atau agen ekstrinsik seperti teh, kopi,

merokok dan sebagainya.

2. Stain intrinsik

Stain intrnsik adalah stain yang terjadi

didalam substansi gigi yaitu pada email dan

dentin gigi, penyebabnya adalah

penumpukan atau penggabungan bahan-

bahan di dalam struktur gigi dan tidak dapat

18
dihilangkan secara manual kecuali dengan

scalling.

b. Plak

Plak merupakan deposit lunak yang melekat

erat pada permukaan gigi, terdiri atas

mikroorganisme yang berkembang dalam

suatu matrik interseluler jika seseorang

melalaikan kebersihan gigi dan mulutnya

(megananda, 2010).

c. Karang gigi

Adalah suatu endapan keras yang melekat

pada permukaan gigi mempunyai permukaan

kasar yang kasar bewarna kekuning-

kuningan, kecoklat-coklatan, sampai

kehitam-hitaman (Pratiwi Donna, 2009).

Karang gigi jarang ditemukan pada gigi susu

yang biasanya ditemukan pada gigi permanen

anak usia muda. Meskipun demikian pada

usia 9 tahun karang gigi sudah dapat

ditemukan pada sebagian besar rongga mulut,

dan pada seluruh rongga mulut individu

orang dewasa. Menurut hubungan tepi

gingival karang gigi terbagi dua yaitu :

19
1. Kalkulus supra gingival

Supra gingival adalah kalkulus yang melekat pada

permukaan mahkota gigi mulai dari puncak gingival

margin dan dapat dilihat. Kalkulus berwarna putih

kekuning-kuningan. Konsistennya keras seperti batu

tanah liat dan mudah dilepaskan dari permukaan

gigi dengan scaler. Warna kalkulus dapat di

pengaruhi oleh pigmen sisa makanan atau dari

merokok. Kalkulus supra gingival dapat terjadi pada

satu gigi, sekolompok gigi. Pada seluruh gigi. (Putri

Megananda Hiranya dkk. 2010).

Gambar 3. Supra gingiva kalkulus

(Sumber [Link])

2. Kalkulus subgingival

Kalkulus sub gingival adalah kalkulus yang

berada dibawah batas gingiva margin, biasanya

20
pada daerah saku gusi dan tidak dapat terlihat

pada waktu pemeriksan. Untuk menentukan

lokasi dan perluasaannya harus dilakukan

probing dengan eksplorer, biasanya padat dan

keras, warnanya coklat tua atau hijau kehitam-

hitaman, konsistensinya seperti kepada korek

api, dan melekat erat dipermukaan gigi.

Gambar 4. Sub gingival kalkulus

(Sumber: Iqbalsandira)

a. Bernafas melalui mulut

Bernafas melalui mulut mengakibatkan gusi

menjadi kering yang menimbulkan iritasi pada gusi.

Bagian paling parah terkena peradangan adalah bagian

yang selalu terbuka tidak bisa di tutup oleh bibir.

b. Kesalahan perawatan gigi

21
Seperti memakai sikat gigi yang salah, tambalan

maloklusi, gigi yang menggantung, pembuatan gigi

palsu yang tidak baik.

c. Gingivitis karena merokok

Hal ini dapat terjadi karena merokok mempunyai

efek memperburuk status kebersihan mulut yang

memicu terjadinya gingivitis dan penumpukan plak

(yang disebabkan defisiensi vitamin c). Merokok

membuat jaringan gigi lebih sulit memperbaiki dirinya

sendiri (Wulan, 2010).

b. Bersifat Sistemik

Yaitu penyebab yang bersumber ditempat

lain didalam tubuh merupakan faktor yang

mempunyai pengaruhg terhadap jalannya

penyakit, penyebab tidak langsung. Faktor lain

yang akan memperburuk peradangan adalah:

1. Ketidakseimbangan Hormonal

Misalnya pubertas, dan kehamilan

2. Kelainan Genetik

3. Kelainan Darah

4. Malnutrisi

5. Obat-Obatan

6. Stress

22
Penyakit periodontal dapat mengenai siapa saja

terutama masyarakat Dusun 3 Desa Meraka Kecamatan

Lambuya yang masih kurang menjaga atau mengetahui

tentang kesehatan gigi dan Mulut serta masih menganggap

sepele tentang kesehatan gigi. Pada penelitian ini penulis

mengambil sampel beberapa masyarakat Dusun 3 Desa

Meraka Kecamatan Lambuya usia 45-54 tahun. Karena di

duga pada usia ini penyakit periodontal cenderung

meningkat dan lebbih parah di banding pada usia remaja.

Penyakit periodontal biasanya semakin parah seiring

dengan bertambahnya usia karena dipengaruhi oleh factor

fisiologis ataupun patologis. Pada usia dewasa sering kali

ditemukan penyakit periodontal yang berlanjut,

dikarenakan adanya poket karena adanya kalkulus yang

tidak segera dibersihkan dan menyebabkan penumpukan

pada gingival.

3. Perawatan Dasar Gingivitis

Menurut Manson, J.D dan Eley, B.M

(2013) perawatan gingivitis dengan cara :

a. Intruksi pembersihan Mulut

23
b. Menghilangkan plak dan kalkulus dengan

skaling

c. Memperbaiki factor-faktor retensi plak

d. Perawatan gigi yang baik akan

menghilangkan karang gigi kemudian

dibantu konsumsi vitamin dan nutrisi

seperti buah-buahan dan sayur-sayuran

untuk mengembalikan kesehatan gigi.

4. Cara Menentukan Gingivitis

Indeks gingiva pertama kali diusulkan pada

tahun1963 untuk menilai tingkat keparahan dan

banyaknya peradangan gusi pada seseorang atau

pada subjek dikelompok populasi yang besar.

GI hanya menilai keradangan gusi. Menurut

metode ini keempat area gusi pada masing-

masing gigi (fasial, mesial, distal, dan lingual ).

Cara menentukan Gingivitis dengan indeks

gingiva antara lain sebagai berikut:

b. Perdarahan dinilai dengan cara menelusuri dinding margin gusi

pada bagian dalam saku gusi dengan probe periodontal.

c. Pemeriksaan dilakukan pada enam gigi terpilih yang digunakan

sebagai gigi indeks, yaitu molar pertama kanan atas, insisif

24
pertama kiri atas, premolar pertama kiri atas, molar pertama

kiri bawah insisif pertama kanan bawah, dan premolar kanan

bawah. Gigi-gigi indeks tersebut dikenal dengan nama

Ramfjord Teeth.

d. Perukaan yang diperiksa adalah mesial, distal, dan

lingual/palatal

e. Skor ke empat area selanjutnya dijumlahkan dengan dibagi

empat, dan merupakan skor gingival untuk gigi yang

bersangkutan. Dengan menjumlahkan seluruh skor gigi dan

dibagi dengan jumlah gigi yang diperiksa akan di dapat skor GI

sesorang.

Cara Penilaian adalah sebagai berikut:

Tabel 2. 1: Nilai atau skor indeks

gingival

S Keadaan Gingiva

25
k

0 Gingiva normal: tidak ada keradangan, tidak ada perubahan warna

dan tidak ada pendarahan

1 Perdangan ringan: terlihat ada sedikit perubahan warna dan sedikit

edema, tetapi tidak ada perdarahan saat probing

2 Peradangan sedang: warna kemerahan, adanya edema, dan terjadi

pendarahan saat probin

3 Peradangan berat: warna merah terang atau merah menyala,

adanya edema, ulserasi, kecenderungan adanya perdarahan

spontan

d. Cara penghitungan indeks Gingival yaitu dengan rumus dibawah

ini dengan nilai yang dihasilkan adalah berupa angka.

Indeks gingival = Total skor gingiva

Jumlah indeks gigi X jumlah perukaan gigi yang di periksa

e. Kriteria penilaian indeks gingival yaitu:

26
Tabel 2.2: Kriteria Penilaian Indeks

Gingiva

Kriteri Skor

Sehat 0

Peradan 0,1-

gan 1,0

Ringan

Peradan 1,1-

gan 2,0

Sedang

Peradan 2,1-

gan 3,0

Berat

1) Indeks Gingival

Gingivitis diukur dengan indeks

[Link] adalah suatu metode untuk

mengukur kondisi dan keparahan suatu

penyakit atau keadaan pada individu atau

populasi. Indeks digunakan pada praktik di

klinik untuk menilai status gingival pasien dan

27
mengikuti perubahan status gingival seseorang

dari waktu ke waktu.(Megananda,dkk).

Indeks Gingival pertama kali diusulkan

pada tahun 1963 untuk menilai tingkat

keparahan dan banyaknya peradangan gusi

pada seseorang atau pada subjek di kelompok

populasi yang [Link] metode ini,

keempat area gusi pada masing-masing gigi

(fasial, mesial, distal, dan lingual) dinilai

tingkat peradangannya dan diberi skor dari 03.

(Megananda,dkk.)

Perdarahan dinilai dengan cara menelusuri

dinding margin gusi pada baggian dalam saku

gusi dengan probe periodontal. Skor keempat

area selanjutnya dijumlahkan dan dibagi

empat, dan merupakan skor gingival untuk gigi

yang bersangkutan. Dengan menjumlahkan

seluruh skor GI dan dibagi dengan jumlah gigi

yang diperiksa, akan didapat skor GI seseorang

2) Indeks kebutuhan Perawatan Periodontal komunitas (Community index

Treatment-CPITN)

Definisi CPITN :

28
CPITN diperkenalkan pada tahun 1997.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) mulai

mengembangkan suatu indeks yang disebut

Community Periodontal Index Treatment

Needs (CPITN), yang kecuali dapat

menggambarkan tingkat kondisi jaringan,

kebutuhan perawatan.

Pada tahun 1978, dibentuk kerja sama

antara FDI dan “Oral Health Unit” dari WHO.

Tujuannya adalah untuk menetapkan validitas

dari CPITN dengan melakukan suatu trial

lapangan. CPITN diterima sebagai indeks

resmi pada Word Dental Congress dari

Federasi kedokteran Gigi internasional (FDI) di

Rio De Janeiro pada bulan September 1983.

CPITN adalah untuk mengukur kebutuhan

perawatan penyakit periodontal dan juga

merekomendasikan jenis perawatan yang

dibutuhkan untuk mencegah penyakit

periodontal.

Terdapat indikator status periodontal yang

digunakan dalam penilaian ini, yaitu:

29
a. Skor tidak ada poket atau perdarahan gingival pada saat

penyondean.

b. Skor 2 perdarahan gingival pada saat penyondean.

c. Skor 2 kalkulus supra dan subgingiva

d. Skor 3 poket sedalam 3,5-5,5 mm

e. Skor 4 poket periodontal dengan kedalaman 6 mm

3) Prinsip kerja CPITN

Pada pengukuran CPITN dilakukan hal-hal

sebagai berikut :

1. Menggunakan sonde khusus (WHO Periodontal Examining Probe)

2. Menggunakan 6 buah sektan

3. Menggunakan gigi indeks

4. Menggunkan skor untuk menilai tingkatan kondisi jaringan

periodontal

Menetukan relasi skor tertinggi KKP

(kategori kebutuhan perawatan), tenaga dan

tipe pelayanan

1. Sonde khusus (WHO probe)

Pada pengukuran CPITN digunakan

sonde khusus yang dinamakan WHO

ujungnya bulat seperti ujung jarum

pentul, kalibrasi 3, 5, 8 dan 11 mm (3,

5, 5. 8,5. 11,5 mm) tiap interval warna

30
beda, mempunyai sonde khusus,

jenisnya yaitu Probe Michigan-O

kalibrasi 3, 6 kalibrasi 8 mm. Dengan

bentuk khusus dari probe WHO, probe

ini dapat dipakai sebagai alat perasa

(sensing instrument) atau explorer,

untuk mengetahui ada tidaknya

perdarahan, untuk mengetahui ada

tidaknya kalkulus, mengetahui ada

tidaknya poket dan untuk mengetahui

kualitas kedalaman poket.

Gambar 5. Cara memasukkan dan


melakukan probing
(Sumber: Akademik kedokteran gigi-
Universitas Brawijaya)

5. Sextan

31
Untuk memperoleh penilaian CPITN

dipergunakan sextan yang meliputi 6

region, yaitu:

a. Sextan 1 : gigi 4,5,6,7 ka RA

b. Sextan 2 : gigi 1,2,3 ki RA

c. Sextan 3 : gigi 4,5,6,7 ki RA

d. Sextan 4 : gigi 4,5,6,7 ka RA

e. Sextan 5 : gigi 1,2,3 ka/ki RB

f. Sextan 6 : gigi 4,5,6,7 ki RB

Suatu seextan dapat diperiksa jika

terdapat paling sedikit 2 gigi dan merupakan

indikasi untuk pencabutan. Jika pada sextan

tersebut hanya satu gigi, gigi tersebut

dimasukkan ke sextan sebelaahnya. Pada

sextan yang tidak bergigi tidak diberi skor.

Penilaian untuk sextan adalah kesalahan yang

terparah/skor tertinggi.

5. Rokok

a. Pengertian Rokok

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

rokok meiliki arti gulungan tembakau (kira-kir

sebesar kelingking) yang dibungkus daun

nipah atau kertas. Merokok berarti mengisap

32
rokok. Perokok adalah orang yang suka

merokok. Perokok terbagi menjadi perokok

aktif dan perokok pasif.

Merokok merupakan salah satu kebiasaan

yang sering dijumpai sehari-hari. Kebiasaan

ini tidak hanya menimbulkan efek secara

sistemik, tetapi juga dapat menimbulkan

kondisi patologis di rongga mulut. Gingiva

merupakan salah satu bagian jaringan lunak

mulut. Panas dan akumulasi produk hasil

pembakaran rokok dapat mempengaruhi

respon inflamasi gingiva (Poana,dkk.2015).

Menurut WHO (2013) tipe perokok dibagi

menjadi 3 :

1) Perokok Ringan merokok 1-10 batang per hari

2) Perokok Sedang merokok 11-20 batang per hari

3) Perokok Berat merokok lebih dari 20 batang per hari

b. Jenis-Jenis Rokok

Berdasarkan penggunaan filter rokok dibedakan

menjadi 2 jenis, yaitu :

1. Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian

pangkalnya terdapat gabus.

33
2. Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada

bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.

c. Kandungan yang Terdapat Pada Rokok

Berikut adalah bahan kimia yang

terkandung dalam rokok:

1) Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks,

zat ini juga dapat membuat perokok menjadi kecanduan.

Nikotin berasal dari daun tembakau. Sebatang rokok umumnya

berisi 1-3 mg nikotin. Nikotin masuk kedalam otak dengan

cepat dalam waktu kurang lebih 10 detik. Dan melewati barier

diotak dan diedarkan keseluruh bagian tubuh dalam waktu 15-

20 menit pada waktu penghisapan terakhir.

2) Tar, yang terdiri dari 4.000 bahan kimia yang mana 60 bahan

kimia di antaranya bersifat karsinogenik dan dapat

menumbuhkan kanker. Kadar tar yang terkandung di dalam tar

inilah yang berhubungan dengan resiko timbulnya kanker.

3) Ammonia, dapat ditemukan dimana-mana tetapi sangat beracun

dalam kombinasi dengan unsure-unsur tertentu.

4) Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang tidak bewarna

biasanya diteukan juga dalam asap buangan mobil dan motor.

Kandungan di dalam asap rokok 2-6%. Karbon monoksida

dalam paru-paru mempunyai daya pengikat (afinitas) dengan

34
hemoglobin (Hb) sekitar 200 kali lebih kuat daripada daya ikat

Oksigen dengan Hb.

Pengurangan Oksigen dalam

jangka panjang dapat mengakibatkan

pembuluh darah akan terganggu karena

manyempit dan mengeras. Bila

menyerang pembuluh darah jantung,

maka akan terjadi serangan jantung

(Sukendro,2007).

d. akibat merokok pada kesehatan

1. Gangguan kesehatan

Rokok dapat membuat pecandunya menderita

beragam penyakit. Berdasarkan penelitian, rokok

dapat menyebabkan gangguan pernapasan, batuk

kering, hingga nyeri pada paru-paru. Selain itu,

rokok juga dapat menyebabakan sakit paru-paru,

serangan jantung, stroke, kanker, impotensi, dan

gangguan kehamilan.

Efek merokok yang timbul dipengaruhi

oleh banyaknya jumlah rokok yang di hisap,

lama merokok, jenis rokok yang dihisap, bahkan

berhubungan dengan dalamnya hisapan yang

35
dilakukan. Hal ini berarti dengan semakin

banyaknya rokok yang dihisap, lama kebiasaan

merokok, tinggi kadar tar yang dihisap

seseorang, dan semakin dalam seseorang

menghisap rokoknya, maka akan semakin tinggi

efek perusakan yang diterima orang tersebut

(Poana,dkk.2015)

2. Terhadap Kesehatan Gigi dan Mulut

Zat-zat kimia beracun dalam rokok dan asap

rokok memiliki dampak buruk terhadap kesehatan

gigi dan mulut, yaitu :

a) Rusaknya jaringan periodontal yang berujung

pada hilangnya gigi

b) Pewarnaan ekstrinsik pada gigi (stain)

c) Memperlambat penyembuhan luka pasca

ekstraksi

d) Kanker mulut (Pratiwi,2009)

6. Hubungan Merokok dengan Gingivitis

Hubungan antara merokok dengan

kesehatan mulut sangat perlu diperhatikan

karena pada rongga mulut yang merupakan

tempat pertama yang terpapar asap rokok yang

36
dihisap oleh perokok dapat terjadi berbagai

penyakit gigi dan mulut. Penyakit ini bervariasi

mulai dari kebersihan mulut yang buruk, gigi

yang mudah tanggal, karies pada gigi, halitosis,

gingivitis, periodontitis sampai kanker

(Warnakulasuriya, 2010).

Komponen toksik dalam rokok dapat

mengiritasi jaringan lunak rongga mulut, dan

menyebabkan terjadinya infeksimukosa, dry

socket, memperlambat penyembuhan luka,

memperlemah kemampuan fagositosis,

menekan proliferasi osteoblast, serta dapat

mengurangi asupan aliran darah ke gingiva.

Merokok merupakan salah satu kebiasaan

yang sering kita jumpai sehari-hari. Kebiasaan

ini tidak hanya menimbulkan efek secara

sistemik, tetapi juga dapat menimbulkan kondisi

patologis di rongga mulut. Hal ini disebabkan

karena rongga mulut merupakan tempat

terjadinya penyerapan zat hasil pembakaran

rokok, terutama jaringan lunak mulut yang lebih

rentan terpapar efek rokok (Poana,dkk,2015).

37
Menurut WHO (2013) tipe perokok dibagi

menjadi 3 :

a. Perokok Ringan merokok 1-10 batang per

hari

b. Perokok Sedang merokok 11-20 batang

per hari

c. Perokok Berat merokok lebih dari 20

batang per hari

Rongga mulut merupakan jalan atau

tempat kontak pertama dari asap hasil

pembakaran rokok, sehingga kemungkinan

besar di daerah ini dapat terjadi berbagai

perubahan sebagai akibat pengaruh partikel

yang terdapat dalam asap rokok Keradangan

gusi (gingivitis) merupakan salah satu kelainan

dalam rongga mulut yang memiliki prevalensi

paling tinggi dari penyakit-penyakit jaringan

periodontal lainnya.

Gingivitis merupakan kelainan jaringan

penyangga yang hampir selalu tampak pada

segala bentuk kelainan Gingiva. Beberapa

penyakit dalam rongga mulut, seperti;

38
karsinoma rongga mulut, leukoplakia,

periodontitis, acute necrotizing ulcerative

gingivitis, gangguan proses penyembuhan luka,

karies gigi, halitosis, perubahan pada indra

perasa, stomatitis nikotina berhubungan dengan

kebiasaan merokok.

Nikotin, akrolean, dan sianida

menurunkan aktivitas dan fungsi leukosit PMN,

sehingga aliran darah ke gingiva akan menurun,

yang berakibat pada Jurnal Kesehatan Gigi Vol.

3 No. 2 (Agustus 2015) 77 menurunnya respon

imun jaringan gingiva tersebut. Selain itu

nikotin juga merupakan senyawa yang potensial

untuk meningkatkan kadar epinefrin dalam

darah, menyebabkan penurunan aliran darah ke

gingiva sehingga respon imum jaringan turun.

Pengaruh asap rokok yang ditimbulkan

secara langsung dapat mengiritasi gusi dan

secara tidak langsung melalui produk-produk

rokok seperti nikotin yang masuk melalui aliran

darah dan ludah, jaringan pendukung gigi yang

sehat seperti gusi, selaput gigi, semen gigi dan

tulang tempat tertanamnya gigi menjadi rusak

39
karena terganggunya fungsi normal mekanisme

pertahanan tubuh terhadap infeksi dan dapat

merangsang tubuh untuk menghancurkan

jaringan sehat disekitarnya.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Desain Penelitian

40
Metode deskriptif yaitu suatu metode

penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan

atau menggambarkan suatu keadaan secara

objektif. Metode ini digunakan untuk memecahkan

atau menjawab permasalahan yang sedang

dihadapi pada situasi sekarang. Bentuk

pelaksanaan penelitian deskriptif yang digunakan

adalah jenis survei yaitu suatu cara pendekatan

yang dilakukan terhadap sekumpulan

(Notoadmodjo, 2010).

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan

April 2021

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di dusun 3 desa

Meraka Kecamatan Lambuya

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah

Masyarakat Dusun 3 Desa Meraka Kecamatan

Lambuya Kabupaten Konawe

41
2. Sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini

menggunakan Purposive Sampling, yaitu

pengambilan sampel didasarkan pada

pertimbangan tertentu yang telah dibuat oleh

peniliti sendiri. Berdasarkan cirri atau sifat-

sifat populasi yang sudah diketahui

sebelumnya (Notoadmodjo, 2010). Peneliti

telah menentukan kriteria untuk sampel yang

akan diteliti, meliputi :

1. Usia : 45-54 tahun

2. Pria

3. Lama merokok > 5 tahun 6-10 tahum

D. Variabel Penelitian

Variabel bebas dalam penelitan ini adalah masyarkat perokok sedangkan

variabel terikat dalam penelitian ini terjadinya Gingivtis pada gigi.

E. Definisi Operasional Variabel

1. Gingivitis

a. Definisi Operasional Gingivitis

Gingivitis adalah radang pada gingival

diamana epithelium jungsional masih

utuh melekat pada gigi pada kondisi

42
awal sehingga perletakannya belum

mengalami perubahan

b. kriteria Obyektif Gingivitis

Tabel 2.3 Kriteria Penilaian

Nilai Kondisi

Jaringan periodontal

0 Tidak terdapat

perdarahan, tidak terdapat

kalkulus, tidak terdapat poket

patologis

1 perdarahan pada probing

margin gingival, tidak terdapat

kalkulus, tidak terdapat poket

patologis

2 terdapat kalkulus (sub atau

supragingival) dengan atau tanpa

perdarahan, tidak terdapat poket

patologis

3 poket patologis sedalam 4-5

mm dengan atau tanpa kalkulus

atau perdarahan

4 poket patologis 6 mm atau

lebih dengan tanpa kalkulus dan

43
perdarahan

2. Perokok

a. Definisi Operasional Perokok

Perokok adalah orang yang melakukan aktivitas

merokok secara rutin atau terus menurus.

b. Kriteria Obyektif Perokok

Ringan : 1-10 batang

Sedang : 11-20 batang

Berat : lebih dari 20 baatang

G. Prosedur penelitian

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Alat

a. Oral Diagnostik (kaca mulut, sonde, excavator, pingset)

b. Nierbekken

c. Senter

d. Periodontal probe WHO

e. Lembar observasi

f. Alat tulis

2. Bahan

a. Kapas

b. Alcohol

44
c. Masker

d. Handscoen

Subjek penelitian ini dilakukan pada

masyarakat di Dusun 3 Desa Meraka

Kecamatan Lambuya Kabupaten Konawe.

1. Cara kerja

Prosedur kerja penelitian atau tahap-tahap

kegiatan untuk penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Tahap persiapan

1. Sebelum melakukan penelitian, peneliti

terlebih dahulu meminta izin kepada

kepala Desa untuk mengambil data di

Desa Meraka khususunya Dusun 3

2. Member lembar observasi kepada

masyarakat, lembar observasi

selanjutnya dikembalikan kepada

peniliti untuk dilakukan pengolahan

data oleh pihak peneliti

b. Tahap kerja

1. Melakukan wawancara terlebih dahulu

kepada responden

45
2. Menyiapkan lembar observasi dan di

berikan kepada masyarakat

3. Menyiapkan alat oral diagnostik untuk

pemeriksaan

4. Mencatat hasil kedalam lembar

observasi

H. Analisis data

Penelitian ini menggunakan analisis Univariat yang dilakukan tiap

variabel dari hasil penelitian. Dalam analisa ini hanya menghasilkan

distrbusi frekuensi dan persentase dari setiap variabel dalam bentuk tabel.

(Notoadmodjo, 2010).

I. Tehnik pengumpulan data

1. Sumber data

a. Data primer

Data primer yang diperoleh dari format

pemeriksaan melihat langsung gingivitis pada

perokok.

b. Data sekunder

Tehnik pengumpulan data dengan mengajukan

pertanyaan secara langsung pertanyaan untuk

diisi sendiri oleh responden oleh pewawancara

46
kepada responden dicatat dan di rekam oleh

alat perekam.

J. Tehnik Pengolahan Data

Teknik analisa data dilakukan melalui sistematika atau pentahapan yang

terdiri dari.

1. Pengolahan Data

a. Pengeditian (editing)

Editing atau penyuntingan dilakukan pada

saat penelitian yakni pemeriksaan semua

lembar observasi yang telah di isi yaitu

kelengkapan data, kesinambungan data,

dan pemeriksaan keseragaman data

b. Pemberian kode (coding)

Coding atau pengkodean pada lembaran

pbservasi, pada tahap ini kegiatan yang

dilakukan adalah mengisi kode pada

lembaran observasi sesuai hasil penelitian

yang dilakukan

c. Pemberian skor (scoring)

Setelah melakukan pengkodean maka

dilakukan tahap pemberian skor pada

lembaran bentuk angka-angka.

d. Tabulasi data (tabulating)

47
Setelah pembuatan kode selesai,

selanjutnya dilakukan pengolahan data

kedalam suatu tabel yang dimiliki oleh

setiap responden sesuai dengan penelitian.

2. Penyajian data

Penyajian data dalam penelitian ini di sajikan

dalam bentuk presentase dan gambaran yang

selanjutnya di dapatkan kesimpulan penelitian

48
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. RI, 2012. Kemenkes Luncurkan hasil survey Tembakau. Departemen


kesehatan Indonesia. Diakses pada tanggal 9 juni 2017.

Jumriani, 2017. Serba-Serbi Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta: Bukune

Megananda, Hiranya. 2010. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan


Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta : EGC

Khalisa, 2016. Hubungan kebiasaan merokok dengan tingkat keparahan


gingivitis (Studi kasus pada anggota TNI AD Batalyon
Infanteri 400/ raider Semarang). [Skripsi]. Fakultas Kesehatan
Masyarakat UNDIP; 2008

Krismaningsih, 2018. Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Rokok yang


Dihisap Perhari pada Remaja Pria di SMA Negeri 1 Bungku
Selatan Kecamatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali Di
Sulawesi Tengah Tahun 2018. Naskah Publikasi. Universitas
Hassanudin: Makassar

Manson dan Eley.2013. Buku Ajar [Link]:EGC

Mumpuni Yekti Erlita Pratiwi. 45 Masalah dan Solusi Penyakit Gigi dan
Mulut. Yogyakarta: Rapha Publishing. 2013.

Nellis, Surya dkk.2015. Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Status


Kesehatan
jaringanPeriodontal.Volume12,Nomor2,[Link]//STOMA/artic
le/download/3171/2531) diaksespada tanggal 11 mei 2018 .

Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :


Rineka Cipta

1
Pratiwi,Niniek dan Lestari.2010. Resiko Perokok Terhadap Kejadian
[Link] Penelitian Sistem Kesehatan volume 3 nomor 2,
diakses pada 12 Januari 2018

Pratiwi, Donna. 2009. Gigi Sehat. Jakarta : PT Kompas Media Nusantar

Poana, dkk.2015. Gambaran status Gingiva pada perokok di Desa Buku


kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara. Jurnal e-gigi
volume 3 nomor 1 diakses pada 12 januari 2018

Putri, Megananda Hiranya, dkk.2010. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan


Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. Jakarta:EGC

Riskasdes. 2018. “kesehatan gigi dan Mulut”. Laporan Hasil Riset


Kesehatan dasar Indonesia (Riskasdes)

Riset Kesahatan Dasar. (2010). Masalah dan Prevelensi Merokok di Indonesia.

Sukendro. [Link] Rokok. Yogyakarta : Pinus Book Publisher

Smet, 1994, cit, Paramita 2015. Remaja dan Rokok. http:www.e-


[Link]. Diakses Desember 2015

WHO. 2013. Konsumsi Tembakau dan prevalensi Merokok di Indonesia.


(diakses pada 12 Januari.2018)

Warnakulasuriya S. [Link] health risks of tobacco use and effects of

Wulan.2010. Penyebab Gingivitis. [Link]. Diakses pada


tanggal 04 Januari 2018

2
3

Anda mungkin juga menyukai