0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan91 halaman

Daya Tarik Wisata Kota Tua Jakarta

Dokumen ini membahas latar belakang Kota Tua Jakarta sebagai objek wisata sejarah dan budaya di ibukota. Ia menjelaskan potensi daya tarik wisata Kota Tua serta permasalahan yang dihadapi seperti lingkungan yang kurang mendukung. Penelitian ini akan menganalisis pengaruh daya tarik wisata terhadap minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

Diunggah oleh

Alen Effendy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan91 halaman

Daya Tarik Wisata Kota Tua Jakarta

Dokumen ini membahas latar belakang Kota Tua Jakarta sebagai objek wisata sejarah dan budaya di ibukota. Ia menjelaskan potensi daya tarik wisata Kota Tua serta permasalahan yang dihadapi seperti lingkungan yang kurang mendukung. Penelitian ini akan menganalisis pengaruh daya tarik wisata terhadap minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

Diunggah oleh

Alen Effendy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, perkembangan pariwisata sangat signifikan karena dianggap

sebagai sektor yang ikut berperan penting dalam usaha peningkatan pendapatan negara.

Pariwisata berasal dari dua kata, yakni Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan sebagai

banyak, berkali-kali, berputar-putar atau lengkap. Sedangkan wisata dapat diartikan

sebagai perjalanan atau bepergian. Atas dasar itu, maka kata ”Pariwisata” dapat

diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatu

tempat ke tempat yang lain.

Alasan-alasan yang digunakan untuk melakukan perjalanan wisata pun

beragam, mulai dari berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial,

politik, budaya, agama, kesehatan maupun kepentingan lain seperti menambah

pengalaman ataupun untuk belajar. Perjalanan wisata juga banyak dilakukan untuk

menghilangkan penat dari pekerjaan dan istirahat dari aktivitas sehari-hari, hingga

untuk menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga.

Dalam pengembangan kepariwisataan, destinasi pariwisata merupakan unsur

vital sekaligus penggerak utama bagi wisatawan dalam memutuskan untuk melakukan

perjalanan dan kunjungan ke suatu daerah atau negara. Pengembangan kawasan wisata

mencakup integrasi semua komponen beserta faktor-faktor yang mempengaruhi

1
2

pengembangan pariwisata. Destinasi pariwisata dibentuk oleh serangkaian komponen

produk, wilayah dan citra atau karakter atraksi yang menjadi fokus penting dalam

pengembangan kepariwisataan, khususnya dalam mengembangkan keunggulan

banding dan keunggulan saing dalam berkompetisi untuk menarik pasar wisatawan

regional maupun internasional.

Daya tarik wisata merupakan suatu kekuatan atau pengaruh yang diberikan oleh

suatu objek atau lokasi wisata, yang dapat mempengaruhi wisatawan sehingga tertarik

dan menyenangi suatu objek atau lokasi wisata. Pada dasarnya, objek daya tarik wisata

dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: objek wisata alam atau lingkungan (ekowisata),

objek wisata sosial budaya dan objek wisata buatan manusia. Objek wisata alam adalah

daya tarik ciptaan Tuhan Yang Maha Esa seperti gunung, laut, pantai, dll. Lalu, daya

tarik wisata budaya seperti situs arkeologi, bangunan, seni dan kerajinan dll.

Sedangkan daya tarik wisata buatan adalah seperti acara olahraga, pameran, konferensi,

dan sebagainya.

Tidak dapat dipungkuri bahwa daya tarik wisata sangat mempengaruhi

destinasi wisata yang ditawarkan pada wisatawan. Besarnya daya tarik wisata suatu

objek akan mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang berkunjung. Daya tarik

wisata dapat terdiri dari beberapa komponen yang akhirnya akan membentuk kekuatan

untuk mempengaruhi wisatawan untuk datang.

Keberhasilan suatu destinasi wisata dapat diukur dengan menggunakan

parameter jumlah kunjungan wisatawan dan uang yang dibelanjakannya. Kunjungan

wisatawan ke daerah objek wisata mempunyai dampak ekonomi kepada daerah tujuan
3

wisata yang didatangi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Suatu objek

wisata memerlukan pengembangan yang tepat sasaran agar tercipta suatu destinasi

wisata yang dikenal luas oleh masyarakat dan menimbulkan minat wisatawan lain

untuk mengunjungi daya tarik wisata tersebut, baik wisatawan domestik maupun

mancanegara.

Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara yang kaya akan sumber

daya alam yang dapat berpotensi untuk diolah dan dimanfaatkan. Selain itu, Indonesia

juga kaya akan seni budaya daerah, adat istiadat, peninggalan sejarah terdahulu dan

yang tidak kalah menarik adalah keindahan panorama alamnya potensial untuk

dikembangkan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik dan

mancanegara untuk berkunjung ke negara Indonesia.

Setiap daerah di Indonesia mempunyai potensi wisata yang berbeda-beda. Dari

34 provinsi yang ada di Indonesia, yang memiliki potensi wisata yang cukup baik

dengan didukung oleh sumber daya manusia yang cukup adalah Pulau Jawa. Pulau

Jawa terbagi atas enam provinsi yaitu Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah,

Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Provinsi yang paling besar adalah

provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 35.377,76 km2.

DKI Jakarta adalah ibu kota negara dan kota terbesar di Indonesia yang secara

geografis terletak di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Jakarta memiliki banyak

tempat-tempat wisata seperti wisata sejarah, wisata alam, dan wisata budaya. Masing-

masing daya tarik yang ada di Jakarta tentunya memiliki karakteristik tersendiri.

Namun jika berbicara tentang Jakarta, pastinya tidak lepas dari wisata sejarahnya.
4

Salah satu yang paling terkenal adalah seperti Museum Fatahillah, Museum Tekstil,

Museum Wayang, dan Museum Bahari yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta.

Kota Tua yang juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama ini terletak di Jalan

Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat. Di Kawasan Kota Tua, pengunjung dapat

melihat beberapa museum sejarah serta bangunan-bangunan kuno zaman Belanda yang

dibangun beberapa abad yang lalu. Kokohnya bangunan bersejarah membuat karakter

bahwa Kota Tua ini sebagai destinasi budaya dan sejarah. Kota Tua semakin menarik

dengan adanya atraksi budaya serta fasilitas-fasilitas lainnya yang membuat

pengunjung makin nyaman berwisata di Kota Tua Jakarta.

Kegiatan yang dapat dilakukan di Kota Tua antara lain: menyewa sepeda onthel

warna-warni yang lengkap dengan topinya, memberi makan burung, berkeliling

museum, berfoto dengan manusia patung, berwisata kuliner, menikmati musik akustik

dan pertunjugan seni lainnya, serta berbelanja oleh-oleh. Adanya kawasan yang

memiliki nilai bersejarah ini menciptakan motivasi dan minat kunjungan baik dari

kalangan wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal. Pengunjung kawasan ini

juga sangat menikmati nuansa zaman dulu yang memang masih klasik.

Tiada hentinya dilakukan upaya pelestarian dan menjaga aset-aset budaya yang

masih tersisa di Kota Tua Jakarta. Upaya revitalisasi menjadi prioritas dalam upaya

menjaga aset-aset tersebut, bahkan beberapa tahun terakhir upaya tersebut sangat

gencar dilakukan. Upaya revitalisasi ini telah dilakukan untuk menghidupkan Kota Tua

Jakarta di antaranya di Kawasan Stasiun Kota, Kawasan Fatahillah, Kawasan Sunda

Kelapa, Kawasan Kali Besar Timur dan Barat. Hasil dari menghidupkan Kota Tua
5

Jakarta adalah bahwa kawasan tersebut menjadi objek wisata yang sangat menarik,

banyak pengunjung di kawasan tersebut khususnya Kawasan Fatahillah yang tidak

hanya waktu liburan saja tetapi pada hari biasa juga banyak pengunjung.

Namun sangat disayangkan apabila daya dukung lingkungannya tidak begitu

diperhatikan, dilihat dari sebagian besar warganya kawasan ini sebatas tempat untuk

mencari uang. Masyarakat yang memang sengaja menjadikan kawasan ini sebagai

ladang mata pencaharian mereka sehari-hari dapat menciptakan persepsi tersendiri bagi

para wisatawan yang berkunjung. Hal ini dapat dilihat bahwa banyaknya pedagang

kaki lima dan pengamen yang masuk ke dalam kawasan dan terkadang sikapnya kurang

ramah. Selain itu, kurangnya penataan tempat karena para pedagang yang menggelar

lapak dagang disembarang tempat sehingga membuat pengunjung tidak nyaman.

Permasalahan lainnya yaitu tidak sedikit wisatawan lokal yang datang ke Kota

Tua hanya untuk mewawancarai warga asing atau bule yang berada disana, tanpa

memperdulikan mengenai wisata budaya dan sejarah yang terdapat di Kota Tua

Jakarta. Hal ini bisa saja membuat warga asing menjadi terganggu atau bahkan kapok

untuk berkunjung kembali apalagi tidak hanya satu dua orang saja yang

mewawancarai. Sulitnya mencari toilet umum yang bersih dan juga sampah-sampah

yang berserakan juga menjadi salah satu permasalahannya

Hal tersebut merupakan hal yang sangat mempengaruhi citra kawasan Kota Tua

Jakarta karena kondisi lingkungan dan masyarakat yang kurang mendukung.

Masyarakat setempat dan wisatawan yang datang harus dapat berperan aktif membantu

dalam menjaga kelestarian Kota Tua sendiri. Kota Tua Jakarta memiliki potensi pasar
6

yang cukup besar, hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke

kawasan tersebut dengan kegiatan yang beraneka ragam, namun semua itu dapat

terhambat oleh masalah-masalah yang telah disebutkan di atas.

Dalam usaha mempertahankan dan meningkatkan jumlah kunjungan

wisatawan, pengelola perlu mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi

wisatawan dalam mengambil keputusan dalam mengunjungi Kota Tua Jakarta. Dengan

mengetahui faktor-faktor daya tarik wisata yang mempengaruhi pengambilan

keputusan tersebut diharapkan akan mampu meningkatkan jumlah kunjungan

wisatawan, memperbesar kunjungan berulang (repeater) serta menambah lama tinggal

wisatawan, dan meningkatkan belanja wisatawan di suatu destinasi yang pada akhirnya

akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan penelitian dengan judul:

“PENGARUH DAYA TARIK WISATA TERHADAP MINAT BERKUNJUNG

WISATAWAN KE KOTA TUA JAKARTA”.

1.2 Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.2.1 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, penulis

menemukan beberapa permasalahan di Kota Tua Jakarta, di antaranya:

1. Belum diketahuinya pengaruh faktor daya tarik di Kota Tua Jakarta.

2. Belum diketahuinya minat berkunjung wisatawan di Kota Tua Jakarta.


7

3. Belum diketahuinya pengaruh faktor daya tarik wisata terhadap minat

berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

1.2.2 Pembatasan Masalah

Untuk menjaga agar penelitian lebih fokus dan terarah pada

permasalahan, maka penulis membuat batasan terhadap masalah yang akan

dilakukan dalam penelitian ini dan hanya fokus pada Pengaruh daya tarik wisata

terhadap minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

1.2.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan di atas, maka perumusan pada penulisan ini

adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh faktor daya tarik di Kota Tua Jakarta?

2. Bagaimana minat berkunjung wisatawan di Kota Tua Jakarta?

3. Bagaimana pengaruh faktor daya tarik wisata terhadap minat

berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi, pembatasan, dan perumusan masalah di atas, tujuan

dari penelitian ini adalah:


8

1. Untuk mengetahui serta mengungkapkan pengaruh faktor daya tarik di Kota

Tua Jakarta.

2. Untuk mengetahui serta mengungkapkan minat berkunjung wisatawan di Kota

Tua Jakarta.

3. Untuk mengetahui serta mengungkapkan pengaruh faktor daya tarik wisata

terhadap minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

1.4 Sistematika Penelitian

Sistematika penulisan dalam penyusunan proyek akhir ini akan diberikan

gambaran secara keseluruhan. Proyek akhir ini terdiri dari lima bab. Secara garis besar

ditulis sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi

masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, dan tujuan

penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini memuat uraian teori yang berisi teori-teori dan pendapat dari

para ahli yang digunakan untuk memperkuat penelitian serta penelitian

terdahulu. Bab ini juga memuat kerangka pemikiran dan pengembangan

hipotesis.
9

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi hal-hal sebagai berikut: metode dan unit analisis

penelitian, variabel dan pengukurannya, populasi dan sampel, prosedur

pengumpulan data, metode analisis data, serta waktu dan tempat

penelitian.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dan pembahasan pada intinya berisi mengenai gambaran umum

objek penelitian yang menjelaskan mengenai subjek penelitian, tentang

kondisi daya tarik wisata, dan sejarahnya. Serta hasil dan pembahasan

yang diperoleh baik secara kuantitatif maupun kualitatif dan memuat

hasil uji statistik.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi kesimpulan dan saran terhadap masalah yang diteliti serta

keterbatasan penelitian.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pariwisata

[Link] Definisi Pariwisata

Definisi yang terdapat pada Undang-undang No.10 Tahun 2009 dalam

Diniyah (2018:2) tentang Kepariwisataan pada Bab 1 pasal 1 mengenai

mengenai ketentuan umum. Berdasarkan isi pasal tersebut dapat disimpulkan

bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau

sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi,

pengembangan pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang

dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Pariwisata adalah berbagai macam

kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan

oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.

Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara

waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud

bukan untuk berusaha (business) atau untuk mencari nafkah di tempat yang

dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna

bertamasya dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginaan yang beraneka ragam

(Yoeti dalam Revida dkk, 2020:3).

10
11

Wahab dalam Luturlean dkk (2019:16) menegaskan bahwa Pariwisata

adalah suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar dan mendapat

pelayanan secara bergantian di antara orang-orang dalam suatu negara itu

sendiri ataupun di luar negeri, meliputi pendiaman orang-orang dari daerah lain

untuk sementara waktu dalam mencari dan memperoleh kepuasan yang

beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya (dimana ia tinggal).

Sehubungan dengan pendapat beberapa ahli yang sudah disebutkan,

maka dapat dinyatakan definisi pariwisata adalah suatu kegiatan perjalanan

sementara yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan

mengunjungi suatu tempat untuk tujuan rekreasi, bertamasya, pengembangan

pribadi, mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi, ataupun

memperoleh kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang

dialaminya di tempat ia tinggal.

[Link] Jenis-jenis Pariwisata

Ada beberapa jenis pariwisata yang menjadi dasar wisatawan untuk

melakukan kunjungan wisata. Jenis-jenis pariwisata berhubungan dengan minat

wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata. Klasifikasi jenis-jenis

pariwisata menurut Revida dkk (2020:5-7) antara lain sebagai berikut:

a) Pariwisata budaya adalah pariwisata yang dilakukan wisatawan

berdasarkan ketertarikannya dengan seni budaya suatu daerah atau

masyarakat setempat.
12

b) Pariwisata bahari adalah pariwisata yang banyak dilakukan di sekitar

pantai, danau, dan laut.

c) Pariwisata olah raga adalah pariwisata yang dilakukan orang berbasis

olah raga atau pesta olah raga seperti arung jeram, diving, skiing, hiking,

dan lain-lain.

d) Pariwisata cagar alam adalah pariwisata yang dilakukan dengan tujuan

ingin menikmati cagar alam, hutan lindung dan sebagainya.

e) Pariwisata agro adalah pariwisata yang dilakukan dengan tujuan

berwisata sambil melihat dan memperdalam pengetahuannya terhadap

pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan sebagainya.

f) Pariwisata kuliner adalah pariwisata untuk menikmati makanan khas

dari berbagai daerah yang disenangi.

g) Pariwisata religius adalah pariwisata yang dilakukan dengan motif

menjalankan ibadah agama atau kepercayaan tertentu seperti pariwisata

rohani dan sebagainya.

h) Pariwisata lokal adalah pariwisata yang dilakukan di lingkungan atau

sekitar tempat tingalnya sendiri.

i) Pariwisata regional adalah pariwisata yang dilakukan di daerah

misalnya untuk Sumatera Utara di Medan, Binjai, Pematangsiantar,

Sibolga, Balige, Nias dan sebagainya.


13

j) Pariwisata nasional adalah pariwisata yang dilakukan di daerah

misalnya kalau masyarakat Sumatera Utara menjalankan pariwisata ke

Jakarta, Bandung, Bali dan sebagainya.

k) Pariwisata internasional adalah pariwisata yang dilakukan di luar

Negara sendiri seperti dari Indonesia ke Negara Jepang, Hongkong,

Korea, dll.

[Link] Komponen Pariwisata

Menurut Revida dkk (2020:9-11), untuk meningkatkan jumlah

kunjungan wisata maka ada beberapa komponen pariwisata harus menjadi

perhatian pengelola pariwisata. Beberapa komponen pariwisata antara lain

sebagai berikut:

a) Atraksi (Attractions), adalah sesuatu yang dapat dilihat dan dilakukan

di objek wisata. Karyono (1997) menyatakan atraksi atau daya tarik

wisata berkaitan dengan apa yang bisa dilihat (what to see) dan

dilakukan (what to do). Yang dimaksud dengan what to see (apa yang

dilihat) adalah segala sesuatu yang dapat dilihat dan dinikmati oleh

mata, seperti pemandangan alam atau panorama yang indah,

pertunjukan atau atraksi yang dapat ditonton wisatawan dan sebagainya.

Sedangkan what to do (apa yang dilakukan) adalah segala sesuatu yang

dapat dilakukan oleh wisatawan seperti berselancar, menari, benenun,

dan sebagainya. Aktivitas what to do membuat wisatawan terlibat pada


14

objek wisata serta dapat membuat wisatawan merasa betah dan lama

tinggal di lokasi wisata. Atraksi wisata terdiri atas tiga bagian yaitu: (1)

atraksi wisata alam seperti perbukitan, perkebunan, gunung, danau,

sungai dan pantai; (2) atraksi wisata budaya seperti kearifan masyarakat,

seni dan kerajinan tangan, masakan khas, arsitektur rumah tradisional,

dan Situs arkeologi; dan(3) atraksi buatan manusia seperti wisata

olahraga, berbelanja, pameran, taman bermain, festival dan konferensi

(Suwena, 2010).

b) Amenitas (Ammenities), adalah sarana prasarana yang dibutuhkan

wisatawan di lokasi wisata. Sugiama (2011) menyatakan fasilitas adalah

segala macam sarana dan prasarana pendukung selama wisatawan

berada di daerah tujuan wisata, meliputi penyediaan makanan dan

minuman, gedung penunjukan, tempat hiburan (entertainment), tempat

perbelanjaan, dan penginapan (what to stay) atau akomodasi.

Ketersediaan fasilitas sarana prasarana (amenitas) wisata sangat

mendukung kenyamanan dan keamanan wisatawan. Semakin lengkap

dan baik kualitas amenitas, maka wisatawan akan semakin nyaman dan

lama tinggal di lokasi wisata, dan akan melakukan kunjungan berulang

sena mengajak dan mempromosikan lokasi wisata kepada wisatawan

baru sehingga menambah jumlah kunjungan wisata. What to buy

(sesuatu yang dapat dibeli) dapat dipenuhi dengan penyediaan amenitas

di lokasi wisata seperti souvenir, kerajinan tangan, makanan dan oleh-


15

oleh yang dijadikan kenang-kenangan untuk dibawa pulang. Demikian

halnya dengan ketersediaan sarana komunikasi, toilet dan air bersih,

restoran, keamanan, dan lain-lain.

c) Aksesibilitas (Accessibility), adalah ketersediaan infrastruktur jalan

menuju lokasi wisata dan transportasi yang digunakan menuju lokasi

wisata seperti pesawat udara, kapal laut, mobil, bis dan sarana angkutan

lainnya dan berapa lama waktu yang harus ditempuh menuju lokasi

wisata. Aksesibilitas harus dapat menjawab penanyaan what to arrived

yaitu bagaimana cara atau akses menuju atau mencapai lokasi wisata.

Semakin baik aksesibilitas, maka akan semakin meningkatkan

kunjungan wisata dan sebaliknya. Damanik dan Weber (2006)

menyatakan aksesibilitas sangat berperan penting untuk menjangkau

suatu objek wisata diperlukan suatu sistem transponasi yang dapat

mendukung keberadaan suatu objek dan daya tarik wisata tersebut dan

juga memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang hendak

mengunjungi objek wisata tersebut. Di sisi lain, Sunaryo (2013)

menyatakan bahwa faktor-faktor yang penting terkait dengan aspek

aksesibilitas wisata meliputi petunjuk arah, bandara, terminal, waktu

yang dibutuhkan, biaya perjalanan, dan transportasi menuju lokasi

wisata.
16

[Link] Peran Penting Pariwisata

Revida dkk (2020:1-2) berkata bahwa pariwisata mempunyai peran

penting yang menguntungkan bagi ekonomi daerah dan kesejahteraan

penduduk setempat. Adapun peran penting pariwisata dapat dilihat dari

banyaknya tujuan kepariwisataan berdasarkan Undang-undang Nomor 10

Tahun 2009, yaitu:

1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi;

2. Meningkatkan kesejahteraan rakyat;

3. Menghapuskan kemiskinan;

4. Mengatasi pengangguran;

5. Melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya;

6. Memajukan kebudayaan;

7. Mengangkat citra bangsa;

8. Memupuk rasa cinta tanah air;

9. Memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa; dan

10. Mempererat persahabatan antarbangsa.

Menurut Luturlean dkk (2019:14), industri pariwisata memiliki peran

atau fungsi yang penting, yaitu:

1. Memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan

kerja;

2. Sarana pendorong bagi pembangunan daerah;


17

3. Memperbesar pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan

kesejahteraan dan kemakmuran rakyat;

4. Memupuk rasa cinta tanah air; dan

5. Memperkaya kebudayaan nasional dan menatapkan pembinaannya

dalam rangka memperkokoh jati diri bangsa dan mempererat

persahabatan antar bangsa.

Luturlean dkk (2019:14) menegaskan bahwa dalam peran-peran

tersebut, jelaslah bahwa usaha-usaha yang berhubungan dengan kepariwisataan

merupakan usaha yang bersifat komersial. Hal tersebut dapat dilihat dari betapa

banyaknya jasa yang diperlukan oleh wisatawan jika melakukan perjalanan

wisata semenjak ia berangkat dari rumahnya hingga kembali ke rumahnya

tersebut.

Menurut kedua penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran

penting pariwisata, khususnya bagi Indonesia adalah meningkatkan

pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat,

menambah pendapatan atau devisa negara, memperluas dan memeratakan

kesempatan berusaha dan lapangan kerja, sarana pendorong bagi pembangunan

daerah, menghapuskan kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan

alam, lingkungan, dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra

bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan

bangsa, dan mempererat persahabatan antarbangsa.


18

2.1.2 Wisatawan

[Link] Definisi Wisatawan

“Wisatawan adalah aktor dalam kegiatan wisata. Berwisata menjadi

sebuah pengalaman manusia untuk menikmati, mengantisipasi, dan

mengingatkan masa-masa di dalam kehidupan. Wisatawan melakukan

perjalanan dengan berbagai tujuan di antaranya: (1) tujuan bersenang-senang;

(2) tujuan bisnis dan professional; dan (3) tujuan lain-lain sehingga wisatawan

dibedakan menjadi wisatawan vakansi dan wisatawan bisnis dengan ciri

tersendiri. Para wisatawan dapat melakukan perjalanan di dalam negeri atau

pariwisata domestik dan perjalanan ke luar negeri atau pariwisata mancanegara

baik secara inbound maupun secara outbound”. (Ismayanti, 2010:2).

Selanjutnya Kusumaningrum dalam Sahlan (2019:21) menjelaskan

bahwa wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah biasanya benar-benar ingin

menghabiskan waktunya untuk bersantai, menyegarkan pikiran dan benar-

benar ingin melepaskan diri dari rutinitas kehidupan sehari-hari. Jadi bisa juga

dikatakan wisatawan adalah seseorang yang melakukan perjalanan dari suatu

tempat lain yang yang jauh dari rumahnya bukan dengan alasan rumah atau

kantor.

Adapun menurut Irawan dalam Diniyah (2018:4), jika ditinjau dari arti

kata “wisatawan” yang berasal dari kata “wisata” maka sebenarnya tidaklah
19

tepat sebagai pengganti kata “tourist” dalam bahasa inggris. Kata itu berasal

dari bahasa Sansekerta “Wisata” yang berarti “perjalanan” yang sama atau

dapat disamakan dengan kata “travel” dalam bahasa inggris. Jadi orang

melakukan perjalanan dalam pengertian ini, maka wisatawan sama artinya

dengan kata “traveler” karena dalam bahasa Indonesia sudah merupakan

kelaziman memakai akhiran “wan” untuk menyatakan orang dengan

profesinya, keahliannya, keadaannya, jabatannya, dan kedudukan seseorang.

Dari ketiga teori tersebut dapat disimpulkan bahwa definisi dari

wisatawan adalah seseorang yang melakukan perjalanan ke tempat lain yang

jauh dari rumahnya dengan tujuan bersenang-senang, bisnis dan professional,

dan lain-lain. Seorang wisatawan dapat melakukan perjalanan di dalam negeri

maupun perjalanan ke luar negeri baik secara inbound (wisatawan asing datang

mengunjungi Indonesia) maupun secara outbound (wisatawan asal Indonesia

yang melakukan perjalanan ke luar negeri).

[Link] Jenis Wisatawan

Adapun jenis-jenis wisatawan ditinjau dari sifat perjalanan dan ruang

lingkup dimana perjalanan wisata tersebut hendak dilakukan, maka Mayasari

(2017:10-11) mengklasifikasikan wisatawan sebagai berikut:

1. Wisatawan asing (foreign tourist), adalah orang asing yang melakukan

perjalanan wisata, yang datang memasuki suatu negara lain yang bukan

merupakan negara di mana ia biasanya tinggal.


20

2. Domestic foreign tourist, adalah orang asing yang berdiam atau

bertempat tinggal pada suatu negara, yang melakukan perjalanan wisata

di wilayah negara di mana ia tinggal.

3. Domestic tourist, adalah wisatawan dalam negeri, yaitu seseorang

warga negara suatu yang melakukan perjalanan wisata dalam batas

wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan baik

kebangsannya, uang yang dibelajakannya atau dokumen perjalanan

yang dipunyainya.

4. Indigenous foreign tourist, adalah warga negara suatu negara tertentu,

yang karena tugasnya atau jabatannya di luar negeri, pulang ke negara

asalnya dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya sendiri.

5. Transit tourist, adalah wisatawan yang sedang melakukan perjalanan

wisata ke suatu negara tertentu, yang menumpang kapal udara atau

kapal laut ataupun kereta api, yang terpaksa mampir atau singgah pada

suatu pelabuhan/bandara/stasiun bukan atas kemauannya sendiri.

6. Business tourist, adalah orang yang melakukan perjalanan (apakah

orang asing atau warga negara sendiri) yang mengadakan perjalanan

untuk tujuan lain bukan wisata, tetapi perjalanan wisata akan

dilakukannya setelah tujuannya yang utama selesai.

Sedangkan WTO dalam Muharto (2020:10) membedakan wisatawan

menjadi dua berdasarkan wilayah perjalanannya, yaitu:


21

1. Domestic tourism involves trips made by local residents within their

own countries. Jadi, wisatawan nasional atau nusantara yaitu wisatawan

yang melakukan perjalanan wisata di dalam negeri sendiri.

2. International Tourism involves trips between two countries. To a certain

country, visits by residents of that country to another country is her

outbound tourism; visits to that country by residents of another country

is her inbound tourism. Jadi, wisatawan mancanegara yaitu wisatawan

yang melakukan perjalanan wisata dari satu negara ke negara lain.

2.1.3 Destinasi Wisata

[Link] Definisi Destinasi Wisata

Definisi destinasi wisata pada Undang-undang No.10 Tahun 2009

dalam Diniyah (2018:2) adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau

lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata,

fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling

terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

Sedangkan Supriadi dan Roedjinandari (2017:37) menyatakan bahwa

pengertian destinasi pariwisata adalah pertemuan titik penawaran dan

permintaan yang disatukan secara geografis untuk menggabungkan pasokan

menjadi produk pariwisata.

Adapun destinasi menurut World Tourism Organization atau WTO

dalam Supriadi dan Roedjinandari (2017:37, 39-40) adalah sebuah lokasi


22

dimana pengunjung menghabiskan waktunya minimal satu malam dan dikemas

dalam suatu produk wisata yang didukung oleh jasa penunjang serta atraksi dan

sumber daya pariwisata, serta memiliki batas wilayah, baik secata fisik maupun

administrasi yang menunjukkan citra serta persepsi dari daya saing pasar. WTO

akhirnya mengklasifikasikan bahwa destinasi pariwisata paling tidak dapat

dibedakan menurut tema utamanya menjadi 17 jenis destinasi sebagai berikut:

1. Kawasan Perairan atau Bahari (coastalzone);

2. Kawasan pantai (Beach destination and sites);

3. Gugusan kepulauan (Small Islands);

4. Kawasan Gurun (Destination in desert and arid areas);

5. Kawasan pegunungan (Mountain destinations);

6. Kawasan Taman Nasional (Natural and sensitive ecological sites);

7. Kawasan Ekowisata (Ecotourism destinations);

8. Kawasan Taman Nasional dan Cagaralam (Park and protected areas);

9. Komunitas di sekitar kawasan lindung atau konservasi (Communities

within or adjacent to protected area);

10. Jalur atau rute perjalanan (Trail and routes);

11. Situs peninggalan sejarah (Built heritages sites);

12. Kawasan permukiman tradisional (Small and traditional communities);

13. Kawasan Wisata Kota (Urban tourism);

14. Pusat kegiatan MICE dan Konvensi (MICE and convention centers);

15. Kawasan Taman Bertema (Themepark);


23

16. Kawasan Taman Air (Waterpark); dan

17. Kapal pesiar dan perjalanannya (Cruise ship and their destinations).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan

bahwa destinasi wisata adalah pertemuan titik penawaran dan permintaan yang

disatukan secara geografis dimana pengunjung menghabiskan waktunya

minimal satu malam dan di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum,

fasilitas pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan

melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

[Link] Komponen Destinasi Wisata

Menurut Supriadi dan Roedjinandari (2017:38) Pemahaman mengenai

destinasi pariwisata seperti halnya diadaptasikan dari banyak batasan

pengertian yang telah diberikan para pakarnya, seperti: Cooper, Fletcher,

Gilbert, Shepherd and Wanhill (1998), pada intinya mengandung tujuan yang

sama bahwa kerangka pengembangan Destinasi Pariwisata paling tidak harus

mencakup komponen-komponen utama sebagai berikut:

1. Daya Tarik Wisata (Atractions), mencakup daya tarik yang bisa berbasis

utama pada kekayaan alam, budaya, maupun buatan atau artificial,

seperti event atau yang sering disebut sebagai minat khusus (special

interest);
24

2. Aksesibilitas (Accessibility), mencakup dukungan sistem transportasi

yang meliputi: rute atau jalur transportasi, fasilitas terminal, bandara,

pelabuhan dan moda transportasi yang lain;

3. Amenitas (Amenities), mencakup fasilitas penunjang dan pendukung

wisata yang meliputi: akomodasi, rumah makan (food and beverages),

retail, toko cenderamata, fasilitas penukaran uang, biro perjalanan, pusat

informasi wisata, dan fasilitas kenyamanan lainnya;

4. Fasilitas Pendukung (Ancillary Services), mencakup ketersediaan

fasilitas pendukung yang digunakan oleh wisatawan, seperti bank,

telekomunikasi, pos, rumah sakit, dan sebagainya; dan

5. Kelembagaan (Institutions), terkait dengan keberadaan dan peran

masing-masing unsur dalam mendukung terlaksananya kegiatan

pariwisata termasuk masyarakat setempat sebagai tuan rumah (host).

2.1.4 Daya Tarik Wisata

Pengertian daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi unsur penarik

bagi wisatawan untuk melakukan kunjungan wisata. Setiap destinasi wisata harus

memiliki daya tarik agar wisatawan mau melakukan kunjungan wisata. Dengan adanya

daya tarik wisata yang kuat maka menjadi magnet untuk menarik para wisatawan

(Revida dkk, 2020:7).

Sedangkan menurut Ismayanti (2010:147), kegiatan wisata di sebuah wilayah

tidak lengkap tanpa daya tarik wisata atau disebut tourist attraction. Daya tarik wisata
25

merupakan fokus utama penggerak pariwisata di sebuah destinasi. Dalam arti, daya

tarik wisata sebagai penggerak utama yang memotivasi wisatawan untuk mengunjungi

suatu tempat. Lebih lanjut, Ismayanti (2010:148) menyatakan daya tarik wisata dibagi

menjadi dua bagian yaitu:

1. Daya tarik wisata ciptaan Tuahn Yang Maha Esa, seperti flora dan fauna,

keindahan alam, dan lain-lain

2. Daya tarik wisata hasil karya manusia, seperti pertunjukan seni budaya, film,

museum, dan sebagainya.

Adapun variasi lain menurut Spillane dalam Diniyah (2018:5), daya tarik

pariwisata adalah hal-hal yang menarik perhatian wisatawan yang dimiliki oleh suatu

daerah tujuan wisata. Terdapat lima unsur penting yang saling tergantung yang dapat

menarik wisatawan untuk datang dan berkunjung ke suatu destinasi wisata, yaitu:

1. Attraction atau atraksi, hal ini merupakan inti dari suatu objek wisata. Baik

atraksi yang berupa wisata alam, budaya maupun wisata buatan dapat menarik

wisatawan yang ingin mengunjunginya. Atraksi merupakan faktor utama dalam

industri pariwisata karena tanpa atraksi, suatu tempat tidak dapat dijadikan

daerah tujuan wisata. Atraksi digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu:

a. Site Attraction: Atraksi yang berwujud fisik dan biasanya bersifat

permanen dengan lokasi yang tetap.

b. Event Attraction: Atraksi yang bersifat semendtara dan lokasinya dapat

diubah atau berpindah dengan mudah. Atraksi dapat diklasifikasikan


26

sebagai sesuatu yang signifikan pada tingkat lokal, provinsi, wilayah,

nasional atau internasional. Jika suatu lokasi dikategorikan sebagai

nasional, maka atraksi tersebut juga akan menarik wisatawan pada tingkat

yang rendah, yaitu tingkat lokal dan provinsi.

2. Facilities atau fasilitas, yang dibutuhkan dalam rangka melayani wisatawan

saat menikmati objek wisata. Kehadiran fasilitas cenderung berorientasi pada

atraksi di suatu lokasi karena fasilitas harus terletak dekat dengan pasarnya,

bukan untuk mendorong pertumbuhan objek wisata atau atraksi. Fasilitas

berkembang di saat yang sama atau sesudah atraksi berkembang.

3. Infrastructure atau infrastruktur, termasuk semua konstruksi di bawah dan di

atas tanah dari suatu wilayah atau daerah. Dalam pariwisata infrastruktur

seperti: sistem pengairan, jaringan komunikasi, fasilitas kesehatan, terminal

pengangkutan, sumber listrik dan energi, sistem pembuangan kotoran atau

pembuangan air, jalan raya, dan sistem keamanan.

4. Transportation atau transportasi yang baik dapat memungkinkan wisatawan

untuk lebih mudah dalam menjangkau objek wisata yang dituju, dengan

kemudahan transportasi maka tentu saja dapat mempengaruhi banyaknya

wisatawan yang akan berkunjung,

5. Hospitality atau pelayanan sangat diperlukan untuk menjamin kenyamanan

wisatawan ketika berada di lingkungan, apalagi di lingkungan yang tidak

mereka kenal. Khususnya wisatawan yang bepergian jauh ke negara asing perlu
27

mendapatkan kepastian mengenai kenyamanan selama berada di daerah tujuan

wisata.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa daya tarik

wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan dan hal-hal menarik, yang

menjadi tujuan atau motivasi wisatawan untuk datang ke suatu daerah tertentu. Dalam

hal ini, daya tarik wisata sangat berhubungan erat dengan atraksi, fasilitas,

infrastruktur, transportasi, dan pelayanan yang baik agar dapat menarik wisatawan.

2.1.5 Minat Berkunjung

Menurut Kotler dalam Saputra (2018:7), minat pembelian pada konsumen

dapat disamakan dengan minat berkunjung pada wisatawan. Hal tersebut dapat dilihat

pada perilaku yang sama. Minat membeli adalah sebuah perilaku konsumen dimana

konsumen mempunyai keinginan dalam membeli atau memilih suatu produk,

berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan dan mengonsumsi atau bahkan

dalam menginginkan suatu produk.

Assael dalam Deksono (2017:25) mendefinisikan minat beli sebagai

kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang

berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen

melakukan pembelian.

Simamora dalam Mayasari (2017:15) berkata bahwa minat merupakan

pelanggan potensial yang mempunyai arti pelanggan yang pernah atau yang belum
28

pernah dan yang sedang akan berkunjung atau menggunakan produk atau jasa yang

akan di gunakan. Minat berkunjung dilakukan berdasar apa yang telah mereka katakan

tentang minat mereka untuk mengambil keputusan. Adapun proses dalam pengambilan

keputusan meliputi: pemrakarsa (initiator), pemberi pengaruh (influencer), pengambil

keputusan (decider), pembeli (buyer), dan pemakai (user).

Sehubungan dengan pendapat para ahli yang sudah disebutkan, maka dapat

disimpulkan bahwa minat pembelian pada konsumen dapat disamakan dengan minat

berkunjung pada wisatawan dilihat dari perilaku yang sama. Minat beli adalah sebuah

perilaku dimana konsumen mempunyai keinginan dalam mengambil keputusan untuk

membeli atau memilih suatu produk yang akan di gunakan.

[Link] Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat

Bernardinus (2016:14) menjelaskan bahwa minat pada seseorang akan

suatu objek atau hal tertentu tidak akan muncul dengan sendirinya secara tiba-

tiba dalam diri individu. Minat dapat timbul pada diri seseorang melalui proses.

Dengan adanya perhatian dan interaksi dengan lingkungan maka minat tersebut

dapat berkembang. Banyak faktor yang mempengaruhi minat seseorang akan

hal tertentu.

Menurut Heri dalam Sahlan (2019:13) faktor-faktor utama yang

mempengaruhi minat seseorang adalah pekerjaan, sistem pendukung, pribadi

individu.
29

Adapun Crow & Crow dalam Sulaiman (2016:8) menyebutkan bahwa

ada tiga faktor yang mendasari timbulnya minat seseorang yaitu:

1. Faktor pendorong yang berasal dari dalam (The factor inner urge)

Merupakan rangsangan yang datang dari lingkungan/ruang lingkup

yang sesuai dengan keinginan/kebutuhan seseorang akan mudah

menimbulkan minat: cenderung terhadap belajar, dalam hal ini

seseorang mempunyai hasrat ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan.

2. Faktor motif sosial (The factor of social motif)

Timbulnya minat dari seseorang dapat didorong dari motif sosial yaitu

kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan dan lingkungan dimana

mereka berada. Misalnya: seseorang berminat pada prestasi tertinggi

agar dapat status sosial yang lebih tinggi pula.

3. Faktor emosional (Emotional factor)

Faktor ini merupakan ukuran intensitas seseorang dalam menaruh

perhatian terhadap sesuatu kegiatan atau objek tertentu. Faktor perasaan

dan emosi mempunyai pengaruh terhadap subjek misalnya: perjalanan

sukses yang dipakai seseorang dalam sesuatu kegiatan tertentu dapat

membangkitkan perasaan senang dan dapat menambah

semangat/kuatnya minat dalam kegiatan tersebut.

Jadi berdasarkan uraian di atas faktor-faktor yang menimbulkan minat

ada tiga yaitu dorongan dari diri individu atau internal, dorongan sosial dan
30

motif dan dorongan emosional. Timbulnya minat pada diri individu berasal dari

individu, selanjutnya individu mengadakan interaksi dengan lingkungannya

yang menimbulkan dorongan sosial dan dorongan emosional.

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Peneliti/ Metode Variabel


No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
Tahun Penelitian Terkait
Pengaruh Daya X= Hasil penelitian ini
Fitrotud Tarik Wisata Daya Tarik menunjukkan adanya
Penelitian
Diniyah, Terhadap Minat Wisata pengaruh signifikan
deskriptif
Lisa B. Kunjungan Ulang antara daya tarik wisata
1. dengan
Gesa, Wisatawan (Studi di Y= di Museum Benteng
analisis
Khoirullah Museum Benteng Minat Vredeburg dengan
regresi
(2018) Vredeburg Berkunjung minat kunjungan ulang
Yogyakarta) Ulang wisatawan.

Pengaruh Iklan dan Iklan dan Citra Merek


X1 = Iklan
Citra Merek produk merek Honda
Terhadap Minat Beli Penelitian pada CV. Cempaka
X2 =
Randi Konsumen Produk deskriptif Motor di Kabupaten
Citra Merek
2. Saputra Merek Honda dengan Sijunjung secara parsial
(2018) (Survei Konsumen pendekatan memiliki pengaruh
Y=
pada CV. Cempaka kuantitatif yang signifikan
Minat Beli
Motor di Kabupaten terhadap Minat Beli
Konsumen
Sijunjung) Konsumen.

Minat berwisata
X= mahasiswa STP
Daya Tarik Trisakti ke
Analisis Minat Penelitian Wisata Kepulauan Karimun
Axel Mahasiswa STP deskriptif Jawa termasuk dalam
3. Sulaiman Trisakti Berwisata dengan Y= kategori tinggi (3.91),
(2016) ke Kepulauan pendekatan Minat hal ini dikarenakan
Karimun Jawa kuantitatif Berkunjung faktor pendorong dari
Ulang dalam, faktor motif
sosial, dan faktor
emosi.
31

2.3 Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran dalam penelitian ini ada di gambar di bawah ini:

Teori Daya Tarik Wisata (X) Teori Minat Berkunjung (Y)


Indikator: Indikator:
1. Atraksi (Attraction) 1. Faktor internal (The factor
2. Fasilitias (Facilities) inner urge)
3. Infrastuktur 2. Faktor motif sosial (The
(Infrastructure) factor of social motif)
4. Transportasi 3. Faktor emosional
(Transportation) (Emotional factor)
5. Pelayanan (Hospitality)
Sumber: Spillane dalam Sumber: Crow & Crow dalam
Diniyah (2018:5) Sulaiman (2016:8)

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

2.4 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini menyatakan bahwa:

Ho = Tidak terdapat Pengaruh Daya Tarik Wisata Terhadap Minat Berkunjung

Wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

H1 = Terdapat Pengaruh Daya Tarik Wisata Terhadap Minat Berkunjung Wisatawan

ke Kota Tua Jakarta.


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode dan Unit Analisis Penelitian

Menurut Nazir dalam Hamdi dan Bahruddin (2014:2-3) penelitian merupakan

usaha untuk menemukan, mengambangkan, dan melakukan verifikasi terhadap

kebenaran suatu peristiwa atau suatu pengetahuan dengan menggunakan metode

ilmiah. Metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat serta desain

penelitian yang digunakan. Metode penelitian membicarakan bagaimana secara berurut

suatu penelitian dilakukan, yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana suatu

penelitian dilakukan.

Mc. Milan dan Scumacher dalam Hamdi dan Bahruddin (2014:4) memaparkan

bahwa penelitian dibedakan atas dua pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif dan

kualitatif.

Menurut Sugiyono dalam Wirajaya (2019:22) metode penelitian dapat diartikan

sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat

ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada

gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengatisipasi

masalah.

Hamdi dan Bahruddin (2014:5) menjelaskan penelitian deskriptif (descriptive

research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan

32
33

fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau.

Penelitian deskriptif bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, tetapi bisa juga

mendeskripsikan keadaan dalam tahapan-tahapan perkembangannya. Penelitian

deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang

berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan,

kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang

berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.

Metode korelasional menurut Nana Syaodih dalam Hamdi dan Bahruddin

(2014:7) adalah penelitian yang ditujukan untuk mengetahui hubungan suatu variabel

dengan variabel-variabel lain. Adapun pengertian menurut Fraenkel dan Wallen dalam

Wirajaya (2019:23) penelitian korelasional adalah suatu penelitian untuk mengetahui

hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untuk

mempengaruhi variabel tersebut sehingga tidak terdapat manipulasi variabel.

Menurut Hamdi dan Bahruddin (2014:5) pendekatan penelitian kuantitatif

menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif dengan

menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur, dan percobaan terkontrol.

Hal ini senada dengan Sugiyono dalam Wirajaya (2019:23) bahwa pendekatan

penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandasan pada

filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,

pengumpulan data menggunakan instrument penelitian, analisis data bersifat kuantitatif

atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
34

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh

Daya Tarik Wisata Terhadap Minat Berkunjung ke Kota Tua Jakarta” adalah metode

deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Dari pengertian di atas dapat

disimpulkan bahwa metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif

adalah penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada

serta mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel-variabel lain dan dikaji

secara kuantitatif dengan menggunakan pengolahan statistik untuk meneliti pada

populasi atau sampel tertentu.

Unit analisis merupakan tingkat kesatuan data yang dikumpulkan selama tahap

analisis data selanjutnya (Sekaran dalam Sahlan, 2019:27). Adapun variasi lainnya

menurut Zulganf dalam Sahlan (2019:27), unit analisis adalah sumber informasi

mengenai variabel yang akan diolah dalam penelitian. Dalam penelitian ini yang

menjadi unit analisis penelitian adalah pengunjung Kota Tua Jakarta.

3.2 Variabel dan Pengukurannya

Menurut Sugiyono dalam Wirajaya (2019:24) variabel penelitian adalah segala

sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh penulis untuk dipelajari sehingga

diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan. Variabel

dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Variabel bebas (independent variable) merupakan variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel

terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah daya tarik wisata. Dari
35

pengukuran variabel tersebut akan didapat data kuantitatif, agar data tersebut

menjadi informasi yang berguna maka hasil pengukuran tersebut akan diolah

dengan alat pengolah data SPSS versi 25.0.

2. Variabel terikat (dependent variable) merupakan variabel yang dipengaruhi

atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam

penelitian ini adalah minat berkunjung wisatawan, yang diukur dengan

menggunakan skala interval pada daerah obyek wisata. Untuk memudahkan

pemahaman dalam penelitian ini penulis akan menggunakan lima variabel

bebas dan satu variabel terikat, secara operasional adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Variabel, Indikator, Alat Ukur, dan Skala Pengukuran

Skala
No Variabel Sub Variabel Indikator
Pengukuran
Jenis Kelamin a. Laki-laki
Nominal
b. Perempuan
a. <20 tahun
Usia b. 21-25 tahun Interval
c. >25 tahun
a. 1 kali
Frekuensi b. 2 kali
Berkunjung Nominal
c. 3 kali
Demografi d. >3 kali
1.
a. Teman/Saudara
Sumber b. Sekolah/Univertas
Informasi Nominal
c. Internet/Media Sosial
e. Lainnya
a. Sendiri
Kedatangan b. Teman
Bersama Nominal
c. Keluarga
d. Kelompok
36

Lanjutan Tabel 3.1


a. Wisata alam
Atraksi b. Wisata budaya Likert
c. Wisata buatan
a. Fasilitas umum
Fasilitas b. Fasilitas ibadah Likert
c. Fasilitas penunjang
a. Sarana dasar pariwisata
Daya Tarik Infrastuktur Likert
2. b. Prasarana dasar
Wisata
pariwisata
a. Jenis transportasi
Transportasi b. Lokasi mudah dijangkau Likert
c. Kondisi jalan
a. Kualitas pelayanan
Pelayanan b. Keamanan Likert
c. Kenyamanan
a. Rasa ingin tahu
Faktor internal b. Menambah wawasan Likert
c. Mendapat pengalaman
a. Mengikuti tren
Minat Faktor motif b. Rekomendasi orang lain
3. Likert
Berkunjung sosial c. Berjumpa dengan
seseorang
Faktor a. Kepuasan pribadi
b. Rasa bangga Likert
emosional
c. Perasaan senang

Pada variabel demografi diuraikan sub-variabel seperti jenis kelamin, jurusan,


angkatan, jumlah kunjungan, sumber informasi dan kedatangan bersama dihitung
menggunakan pengukuran skala nominal. Sedangkan pada sub-variabel usia dihitung
menggunakan skala interval. Pada variabel (X) yaitu Daya Tarik Wisata terbagi
menjadi lima sub-variabel yaitu: atraksi, fasilitas, infrastruktur, transportasi, dan
pelayanan. Kelima sub-variabel terbagi dalam beberapa indikator dan pengukuran pada
variabel ini menggunakan skala Likert. Variabel (Y) yaitu Minat Berkunjung terdiri
dari tiga sub-variabel yaitu: faktor internal, faktor motif sosial, dan faktor emosional
yang pengukurannya juga menggunakan Skala Likert.
37

Skala Likert menurut Sugiyono dalam Duli (2019:77-78) adalah suatu skala

pengukuran variabel-variabel yang umum digunakan dalam angket dan merupakan

skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survei. Skala Likert digunakan

untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang

tentang fenomena sosial. Pada pengukuran skala Likert ini, pengukuran jawaban dari

pernyataan menggunakan enam skor tingkatan sebagai berikut:

Tabel 3.2 Skala Pengukuran Likert

Pilihan Skor
Sangat Setuju (SS) 6
Setuju (S) 5
Cukup Setuju (CS) 4
Kurang Setuju (KS) 3
Tidak Setuju (TS) 2
Sangat Tidak Setuju (STS) 1

3.3 Populasi dan Sampel

Menurut Sugiyono dalam Duli (2019:56), populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi

yang digunakan pada penelitian ini adalah pengujung yang pernah mengunjungi Kota

Tua Jakarta.

Siregar dalam Duli (2019:56) menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari

jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar dan peneliti
38

tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat

menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel yang diambil harus betul-

betul representatif. Jika sampel tidak representatif maka hasil penelitian tidak dapat

dipercaya.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik sampling Purposive

Sampling. Purposive Sampling adalah teknik untuk menentukan sampel penelitian

dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh

nantinya bisa lebih representatif (Sugiyono dalam Deksono, 2019:37).

Responden merupakan pengujung yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta.

Untuk itu ditentukan jumlah sampel yang akan diambil melalui rumus Slovin, yaitu:

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁(𝑒)2

Keterangan:

n : Ukuran sampel yang dibutuhkan

N : Ukuran populasi

e : Margin error (tingkat kesalahan yang diperkirakan)

Margin yang ditetapkan adalah 10% (0,1)

Berdasarkan data dari Kota Tua Jakarta menyatakan bahwa jumlah pengunjung

dari Kota Tua Jakarta tahun 2019 adalah sebanyak 2.002.470 pengunjung (Gambar 3.1)
39

Gambar 3.1 Jumlah Pengunjung Museum di Kota Tua Jakarta 2017-2019


Sumber: Facebook Agenda Pariwisata Kota Tua Jakarta

Maka sesuai rumus di atas, jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah:

2.002.470
n=
1+2.002.470(0,1)2

2.002.470
n=
1+20.024,7

n = 99,99 (dibulatkan menjadi 100)

Sesuai dengan perhitungan di atas, maka kuesioner atau penarikan sampel yang

diambil adalah sebanyak 100 orang atau responden.

3.4 Prosedur Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan beberapa metode untuk mengumpulkan data,

diantaranya adalah sebagai berikut:


40

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau

tidak melalui perantara (Sugiyono dalam Natasha, 2020:37). Dalam penelitian

ini, data primer yang digunakan adalah kuesioner. Data yang diperoleh adalah

hasil kuesioner yang dibagikan kepada pengunjung yang pernah mengunjungi

Kota Tua Jakarta. Kuesioner yang digunakan oleh penulis adalah kuesioner

tertutup, dimana responden hanya diperkenankan memilih satu dari sejumlah

alternatif jawaban yang sudah disediakan. Kuesioner akan dilakukan secara

online dengan bantuan google form dan kuesioner akan disebar melalui media

sosial seperti line, whatsapp, dan instagram.

2. Data sekunder

Data sekunder menurut Kusmayadi dan Sugiarto dalam Natasha (2020:38)

adalah data yang merupakan hasil pengumpulan orang atau instasi lain dalam

bentuk publikasi. Dalam hal tersebut yang dimaksud adalah data yang diperoleh

melalui jurnal-jurnal, buku-buku yang berhubungan dengan pokok masalah

yang dibahas, website, internet, dan sumber data lainnya yang dijadikan sebagai

bahan referensi.
41

3.5 Metode Analisis Data

Menurut Tanumihardja (2017:38), data yang telah ada, baik data primer

maupun sekunder dikumpulkan dan kemudian dilakukan kegiatan menganalisis data-

data tersebut. Kegiatan menganalisis data terdiri dari tiga tahap, yaitu:

1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini dilakukan pengecekan data dan mengumpulkan semua data yang

telah diperoleh secara primer dan sekunder. Data primer dilakukan dnegan

menyebarkan kuesioner kepada responden, sedangkan pada data sekunder

penulis mengumpulkan data melalui jurnal-jurnal, buku-buku, website, internet,

dan sumber data lainnya.

2. Tahap Pengolahan data

Pada tahap ini dilakukan analisis dari kuesioner yang telah disebarkan secara

online dengan menghitung frekuensi dari masing-masing jawaban dari

kuesioner sebanyak 100 responden, kemudian menghitung persentase jawaban

responden dilakukan dengan menggunakan alat bantu program SPSS

(Statictical Package for the Sosial Sciences) versi 25.

3. Tahap Penyajian Data

Di tahap ini akan diperoleh kesimpulan apa yang menjadi pengaruh daya tarik

wisata terhadap minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta dan faktor

apakah yang paling dominan dalam mempengaruhi minat wisatawan dalam

berkunjung ke Kota Tua Jakarta.


42

3.5.1 Uji Validitas

Menurut Sugiyono dalam Wirajaya (2019:35), dinyatakan uji validitias

digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid dinyatakan instrumen

tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas

ini dilakukan guna menentukan sah atau tidaknya suatu kuesioner dalam suatu

penelitian. Hasil uji validitas memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar suatu

pertanyaan atau pernyataan dapat dinyatakan valid. Menurut Sugiyono (2010) kriteria

tersebut adalah sebagai berikut:

a. Jika rhitung > rtabel, maka item-item pertanyaan dari kuesioner adalah valid.

b. Jika rhitung < rtabel, maka item-item pertanyaan dari kuesioner adalah tidak valid.

Sugiyono dalam Natasha (2020:41) menyatakan untuk mengetahui r tabel,

terdapat beberapa kriteria yang harus diketahui, yaitu sebagai berikut:

Taraf signifikasi (α) : 5%

Derajat kebebasan (dk) : dk = n-2

n : jumlah responden

Jumlah n pada penelitian ini adalah 100. Sehingga derajat kebebasan menjadi

df = (100-2) = 98. Dan r tabel yang tercantum adalah sebesar 0,197.

3.5.2 Uji Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen

cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena
43

instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius

mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen yang

reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang

benar sesuai dengan kenyataannya, maka beberapa kalipun diambil tetap akan sama.

Reliabilitas menunjukkan pada tingkat keterandalan sesuatu. Reliabilitas artinya dapat

dipercaya, jadi dapat diandalkan (Sunyoto dalam Deksono, 2017:40-41).

Dalam uji reliabilitas ini, penulis menggunakan perhitungan koefisien

cronbach’s alpha (α). Sudibyo dalam Wirajaya (2019:36) menyatakan bahwa butir

kuesioner dikatakan reliabel jika:

Hasil α > 0.60, maka reliabel (dapat dipercaya)

Hasil α < 0.60, maka tidak reliabel (tidak dapat dipercaya)

3.5.3 Analisis Statistik Deskriptif

Ghozali dalam Gennifer (2020:46) mengatakan bahwa statistik deskriptif

bertujuan untuk mendeskripsikan data dari masing-masing variabel dalam penelitian.

Deskripsi tersebut dapat dilihat dari dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian

maksimum, minimum, sum, range, kurtosis serta skewness (kemencengan distribusi).

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

∑𝑋
Mx =
𝑁
44

Keterangan:

Mx : Mean atau rata-rata yang dicari

∑𝑥 : Jumlah dari skor (nilai-nilai yang ada)

N : Number Of Cases (Jumlah responden seluruhnya)

Siregar dalam Gennifer (2020:47) menyatakan bahwa mean atau nilai rata-rata

digunakan dalam analisis data deskriptif untuk mengetahui kecenderungan nilai tengah

suatu data terkumpul. Dari hasil rata-rata ditentukan interval kelas untuk menentukan

kategori penafsiran hasil data. Dalam penelitian ini, digunakan 6 kelas interval untuk

penilaian, sehingga rumusnya menjadi:

Nilai tertinggi−Nilai terendah


Interval = Banyaknya Kelas
6−1
=
6

= 0,83 (nol koma delapan tiga)

Tabel 3.3 Interpretasi Interval Statistik Deskriptif

Internal Penafsiran

1,00 – 1,83 Sangat Tidak Setuju

1,84 – 2,66 Tidak Setuju

2,67 – 3,49 Kurang Setuju

3,50 – 4,32 Cukup Setuju

4,33 – 5,15 Setuju

5,16 – 6,00 Sangat Setuju


45

3.5.4 Uji Koefisien Korelasi

Pengertian koefisien korelasi menurut Siregar (2013:201-202) adalah bilangan

yang menyatakan kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih atau juga dapat

menentukan arah dari kedua variabel.

Nilai korelasi (r) = (-1 ≤ 0 ≤ 1)

Untuk kekuatan hubungan, nilai koefisien korelasi berada di antara -1 dan l,

sedangkan untuk arah dinyatakan dalam bentuk positif (+) dan negatif (-). Misalnya:

a. Apabila r = -1, artinya korelasi negatif sempurna, artinya terjadi hubungan

bertolak belakang antara variabel X dan variabel Y, bila variabel X naik, maka

variabel Y turun.

b. Apabila r = l, artinya korelasi positif sempurna, artinya terjadi hubungan searah

variabel X dan variabel Y, bila variabel X naik, maka variabel Y naik

Pada tabel 3.4 akan dipaparkan mengenai tingkat korelasi dan kekuatan hubungan:

Tabel 3.4 Tingkat Nilai Korelasi dan Kekuatan Hubungan

Nilai Korelasi Tingkat Hubungan

0,00 – 0,19 Sangat Lemah

0,20 – 0,39 Lemah

0,40 – 0,59 Cukup

0,60 – 0,79 Kuat

0,80 – 1,00 Sangat Kuat


46

3.5.5 Uji Koefisien Determinasi

Siregar (2013:202) memaparkan bahwa koefisien determinasi adalah angka

yang menyatakan atau digunakan untuk mengetahui kontribusi atau sumbangan yang

diberikan oleh sebuah varibel atau lebih X (bebas) terhadap variabel Y (terikat).

Rumusnya adalah sebagai berikut:

KD = (r)2 x 100%

Keterangan:

KD : Nilai koefisien determinasi

r : Nilai koefisien korelasi

Dalam penelitian ini, maka uji koefisien determinasi dilakukan untuk

mengetahui seberapa besar tingkat pengaruh variabel daya tarik wisata terhadap

variabel minat berkunjung. Nilai R2 ini mempunyai range antara 0 sampai 1 atau (0 ≤

R2 ≤ 1). Semakin besar R2 (mendekati satu) semakin baik hasil regresi tersebut, dan

semakin mendekati 0 maka variabel bebas secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan

variabel terikat.

3.5.6 Analisis Regresi Linear Sederhana

Menurut Priyatno dalam Gennifer (2020:51) analisis regresi linear sederhana dilakukan

untuk mengukur besarnya pengaruh antara satu variabel independen dengan satu

variabel dependen dan memprediksi variabel dependen dengan menggunakan variabel

independen. Maka persamaan regresi linear yang digunakan adalah:

Y=a+bX
47

Keterangan:

Y : Variabel terikat

a : Konstanta

b : Koefisien regresi

X : Variabel bebas

Dalam penelitian ini, maka uji regresi linear sederhana digunakan untuk melihat arah

hubungan fungsional atau kausal antara variabel daya tarik wisata (variabel

independen) dengan minat berkunjung (variabel dependen).

3.5.7 Uji t (Uji Hipotesis)

Uji T menurut Deksono (2017:48) digunakan untuk menunjukkan seberapa

jauh pengaruh satu variabel independen secara parsial dalam menerangkan variasi

variabel dependen. Uji t dilakukan pertama dengan cara menentukan tingkat signifikasi

α = 5%. Uji ini dilaksanakan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel

dengan rumus:

r √ (n – 2)
t hitung =
√ (1 – r2)

Keterangan:

r = koefisien korelasi

n = jumlah sampel
48

Hipotesis yang dirumuskan untuk melakukan uji pada masing-masing variabel

adalah sebagai berikut:

a. Ho: β ≤ 0, artinya tidak terdapat pengaruh dari daya tarik wisata terhadap minat

berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

b. H1: β > 0, artinya terdapat pengaruh dari daya tarik wisata terhadap minat

berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

Maka kriteria pengambilan keputusan dalam penelitian ini terdapat pada:

a. Ho diterima, jika t hitung ≤ t tabel pada α (alpha) = 5% atau 0,05.

b. Ho ditolak, jika t hitung > t tabel pada α (alpha) = 5% atau 0,05.

3.6 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari bulan September sampai November 2020 dan

pengerjaannya dilakukan secara online dengan jadwal sebagai berikut:

Tabel 3.5 Jadwal Waktu Penelitian


September Oktober November
No Kegiatan
III IV V I II III IV V I II
1 Penentuan Judul
2 Penyusunan BAB I
3 Penyusunan BAB II
4 Penyusunan BAB III
5 Pengambilan Data
6 Pengolahan Data
7 Penyusunan BAB IV
8 Penyusunan BAB V
Penyusunan Proyek
9
Akhir
49

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1 Sejarah Kota Tua Jakarta

Sejarah Kota Tua Jakarta dimulai dari sebuah pelabuhan yang kini dikenal

sebagai Sunda Kelapa. Pelabuhan ini pernah dikenal berbagai bangsa di dunia sebagai

pelabuhan dagang internasional termegah di Asia Tenggara. Pada tahun 1526,

Pelabuhan Sunda Kelapa diserang oleh tentara Demak yang dipimpin oleh Fatahillah

dan setelah berhasil direbut namanya diganti menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527.

Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa.

Kota Jayakarta hancur diserang VOC Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin

oleh Jan Pieters Zoon Coen. Pada tahun 1620 diatas reruntuhan kota Jayakarta, Belanda

membangun kota baru yang diberi nama Batavia sebagai penghormatan atas kaum

Batavieren (leluhur bangsa Belanda) disebelah sungai Ciliwung yang pusat kotanya

kini masih terlihat di sekitar Taman Fatahillah. Orang-orang pribumi Batavia dijuluki

Batavianen yang kemudian dikenal sebagai orang Betawi, terdiri dari etnis kreol yang

merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.

Kota Batavia pada tahun 1635 diperluas ke sebelah barat sungai Ciliwung diatas

kota Jayakarta yang hancur. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap

dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal dengan sistem
50

pertahanannya berupa tembok dan parit sekeliling kota. Tata ruang kota dibagi kedalam

blok-blok yang dipisahkan oleh kanal. Pembangunan kota Batavia selesai pada tahun

1650.

Setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942, nama Batavia diganti menjadi

Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang. Tahun 1972,

Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekret yang resmi menjadikan Kota Tua

sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah

arsitektur kota dan bangunan yang masih tersisa di sana.

Gambar 4.1 Peta Batavia dengan bentengnya (Kasteel) pada tahun 1667
Sumber: Wikipedia

Gambar 4.2 Peta Batavia tahun 1740


Sumber: Wikipedia
51

4.1.2 Zona Kawasan Cagar Budaya Kota Tua

Berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Nomor 34 Tahun 2005, Kawasan Cagar Budaya Kota Tua adalah kawasan seluas

sekitar 846 Ha yang terletak di Kotamadya Jakarta Utara dan Kotamadya Jakarta Barat.

Di tengah-tengah Kawasan Cagar Budaya Kota Tua ditetapkan zona inti, yaitu area

yang memiliki nilai sejarah yang lebih bernilai. Kawasan Cagar Budaya Kota Tua

dibagi menjadi 5 (lima) zona, yaitu:

Zona 1: Kawasan Sunda Kelapa

Batasnya ke arah utara dari bentangan rel kereta api. Karakter zona ini adalah bahari

yang didominasi dengan perkampungan etnik dan pergudangan, langgam merespon

iklim laut. Visi pengembangannya adalah menyemarakkan aktivitas kebaharian.

Zona 2: Kawasan Fatahillah

Batasnya adalah sekitar Taman Fatahillah, Kalibesar dan Taman Beos. Karakter asal

zona ini adalah kota lama dengan populasi bangunan tua terbanyak. Visi

pengembangannya adalah memori masa lalu, yang memberi fungsi baru sebagai

museum, industri kreatif dan fungsi campuran. Pada zonasi ini dikenakan retriksi yang

ketat demi pelestarian kawasan.

Zona 3: Kawasan Pecinan

Batasnya adalah sekitar Glodok Pancoran. Karakter zona budaya etnik Cina baik

kehidupannya maupun lingkungan arsitekturnya, sedangkan visi pengembangannya

adalah pelestarian bangunannya dan tetap mempertahankan tujuh kehidupan.

Zona 4: Kawasan Pekojan


52

Batasnya adalah sekitar Pakojan, Jembatan Lima dan Bandengan. Karakter zonanya

adalah budaya religius karena pada zona ini terdapat beberapa masjid tua. Visi

pengembangannya adalah kampung multi etnis.

Zona 5: Kawasan Peremajaan

Batasnya adalah dari Pancoran ke arah Jalan Gajah Mada (Gedung Arsip). Visi

pengembangan zonasi ini adalah sebagai pusat bisnis.

Gambar 4.3 Peta Zona Kawasan Kota Tua Jakarta


Sumber: SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 34 Tahun 2005

4.1.3 Daya Tarik Wisata Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta merupakan salah satu tempat wisata yang paling popular di

Jakarta. Daya tarik Kota Tua yang utama terletak pada bangunan peninggalan kolonial

Belanda yang masih terjaga baik. Adapun tempat-tempat yang merupakan daya tarik

bagi wisatawan berkunjung adalah sebagai berikut:


53

1. Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah

Museum Sejarah Jakarta atau dikenal sebagai Museum Fatahillah adalah ikon dari Kota

Tua Jakarta. Dalam museum ini, pengunjung dapat mengenal tentang sejarah Indonesia

dari sekitar 23 ribu koleksi barang bersejarah dari seluruh Nusantara.

Hari dan jam operasional: Senin – Minggu, 09.00 – 15.00 WIB

Harga tiket masuk:

Dewasa: Rp5.000

Mahasiswa: Rp3.000

Pelajar dan anak-anak: Rp2.000

2. Museum Seni Rupa dan Keramik

Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu memajang

koleksi keramik dan seni rupa lainnya dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era

Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia. Disana pengunjung

juga dapat berwisata sambil belajar perkembangan kesenian Indonesia dari masa ke

masa.

Hari dan jam operasional:

Selasa – Minggu, 09.00 – 15.00 WIB

Harga tiket masuk:

Dewasa: Rp3.000

Mahasiswa: Rp1.000

Pelajar dan anak-anak: Rp650

3. Museum Wayang
54

Bangunan museum yang juga berada di kawasan Kota Tua Jakarta ini berdiri sejak

tahun 1640. Konon, museum wayang adalah gedung tempat berdirinya VOC. Gak

hanya penuh sejarah tentang VOC, Museum Wayang juga memiliki ribuan koleksi

wayang yang berasal dari seluruh Nusantara dan juga dari mancanegara.

Hari operasional: Selasa – Minggu, 08.00 – 17.00 WIB

Harga tiket masuk:

Dewasa: Rp5.000

Mahasiswa: Rp3.000

Pelajar dan anak-anak: Rp2.000

4. Café Batavia

Kota Tua juga terkenal sebagai pusat kuliner enak di Jakarta dan sekitarnya, salah satu

café yang paling ikonik adalah Café Batavia yang terletak di depan Museum Fatahillah.

Café yang berdiri pada tahun 1993 ini dulunya merupakan bangunan peninggalan

bersejarah Belanda.

Hari operasional: Senin – Minggu, 09.00 – 24.00 WIB

Harga makanan dan minuman berkisar Rp25.000 – Rp200.000

5. Museum Bahari

Bangunan museum ini pada mulanya digunakan sebagai gudang penyimpanan hasil

bumi untuk komoditas utama VOC. Namun sekarang telah dijadikan sebagai museum

yang menyimpan beragam perahu dan juga replika perahu serta peralatan yang dulunya

dipakai di masa VOC serta koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan

kenelayanan bangsa Indonesia.


55

Hari dan jam operasional: Senin – Minggu, 09.00 – 15.00 WIB

Harga tiket masuk:

Dewasa: Rp5.000

Mahasiswa: Rp3.000

Pelajar dan anak-anak: Rp2.000

6. Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia ini adalah peninggalan De Javasche Bank dan sudah berdiri

sejak tahun 1828. Disana pengunjung dapat melihat beragam informasi-informasi

terkait perjalanan dari dunia perbankan di Indonesia, sebelum bangsa Belanda dan

Jepang mulai berdatangan.

Hari dan jam operasional: Senin – Minggu, 08.00 – 15.30 WIB

Harga tiket masuk:

Dewasa: Rp5.000

Mahasiswa: Rp3.000

Pelajar dan anak-anak: Rp2.000

7. Museum Bank Mandiri

Bangunan museum pada mulanya adalah kantor Nederlandsch Handel-Maatschappij

(NHM) atau Netherlands Trading Corporation alias Maskapai Dagang Belanda.

Selama periode 1850an dan 1860an, NHM telah bergerak dan membangun jalinan

keuangan sedemikian intensif sehingga boleh dikatakan telah terjadi transformasi

NHM dari maskapai dagang menjadi bank.

Hari dan jam operasional: Senin – Minggu, 09.00 – 15.00 WIB


56

Harga tiket masuk: Rp5.000

8. Magic Art 3D Museum

Dibuka 7 Desember 2018, Magic Art 3D Museum Jakarta memiliki luas 2000 m2.

Museum ini memiliki berbagai ruangan yang berisi lukisan dengan seni ilusi tiga

dimensi. Di sini wisatawan dapat berfoto sepuasnya dengan lukisan 3D dan spot foto

instagrammable.

Hari dan jam operasional: Senin – Minggu, 10.00 – 22.00 WIB

Harga tiket masuk:

Senin – Jumat: Dewasa (Rp60.000) dan Anak-anak (Rp40.000)

Sabtu – Minggu: Dewasa (Rp80.000) dan Anak-anak (Rp50.000)

9. Pelabuhan Sunda Kelapa

Dari tempat inilah, dunia mengetahui tentang Nusantara dan perdagangan dari bangsa

Tiongkok, India, dan Arab datang pada abad ke-12. Meskipun sudah tidak menjadi

pusat perdagangan lagi, Pelabuhan Sunda Kelapa kini menjadi dermaga transportasi

laut. Dengan banyaknya kapal besar bersandar, tempat ini kini menjadi spot perburuan

foto bagi para fotografer untuk hunting foto Jakarta di kala senja.

Hari operasional: 24 jam

Harga tiket masuk: Rp2.500

10. Toko Merah

Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini yang terletak di tepi barat Kali Besar, Kota

Tua Jakarta. Dibangun pada tahun 1730 dan merupakan salah satu bangunan tertua di

Jakarta. Ciri khas warna merah pada bangunan ini yang menjadikan bekas kediaman
57

Gubernur-Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff terkenal dengan sebutan Toko

Merah dikalangan masyarakat luas.

Hari operasional: Senin – Minggu, 09.00 – 16.30 WIB

Harga tiket masuk: Rp10.000 (jika masuk ke dalam sesuai izin)

11. Jembatan Kota Intan

Jembatan Kota Intan adalah jembatan tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun

1628 oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC. Jembatan itu

kini terletak di Kali Besar kawasan Kota Tua wilayah Jakarta Barat dan berada di

bawah pengelolaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Hari operasional: 24 jam

Harga tiket masuk: Gratis

12. Kawasan Pencinan Glodok

Tak hanya identikan dengan beragam bangunan arsitektur era kolonialisasi, namun di

Kota Tua juga memiliki kawasan pecinan, tepatnya ada di area Glodok. Terdapat

beberapa objek wisata menarik yang dapat dijumpai di Kawasan Pecinaan Glodok,

yaitu: Petak Sembilan, Vihara Dharma Bakti, dan Gereja Santa Maria de Fatima.

Hari operasional: 24 jam

Harga tiket masuk: Gratis

13. Kali Besar

Setelah selesainya proses revitalisasi di pertengahan 2018, Kali Besar Kota Tua

menjelma menjadi ruang terbuka publik yang lebih ramah untuk wisatawan. Ruang

publik yang berada di area Kali Besar ini dikelilingi dengan beberapa bangunan
58

bersejarah dan juga fasilitas penunjang. Disana juga terdapat dermaga apung yang

dapat digunakan untuk menjelajahi kali besar dengan lebih dekat.

Hari operasional: 24 jam

Harga tiket masuk: Gratis

4.1.4 Informasi Umum Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta berada di alamat: Jalan Pintu Besar Utara Nomer 27, RT 07/

RW 07, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Kota Tua Jakarta buka setiap

harinya selama 24 jam. Namun, untuk objek wisatanya masing-masing memiliki jam

operasionalnya sendiri. Kota Tua Jakarta memiliki fasilitas yang memadai seperti area

parkir, petunjuk jalan, penjual makanan, tempat ibadah, toilet, penginapan, dan lainnya.

Gambar 4.4 Peta Kawasan Kota Tua Jakarta


Sumber: Google Maps

Letak Kota Tua Jakarta sangat strategis sehingga mudah untuk dicapai oleh

pengunjung dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Kendaraan umum


59

yang melewati Kota Tua antara lain: KRL, Transjakarta, Jak Lingko, Mikrolet, dan

Kopaja. Wisatawan nusantara dan mancanegara yang mengunjungi Kota Tua ini cukup

banyak bila dilihat dari segi kunjungan museum di gambar ini:

Gambar 4.5 Jumlah Pengunjung Museum di Kota Tua Jakarta 2017-2019


Sumber: Facebook Agenda Pariwisata Kota Tua Jakarta

Tabel 4.1 Acara Yang Telah Diselenggarakan di Kota Tua Jakarta 2020

No Jadwal Acara
18 Januari 2020 Latihan Gabungan Pencak Silat DPD PPSI
1
Taman Fatahillah DKI JAKARTA Kawasan Kota Tua Jakarta
13 Januari – 8 Februari 2020 Menjelang Tahun Baru Imlek dan Cap Go
2
Pantjoran Tea House Meh
25 Januari 2020 Ngobrol Saptu #12: Peluncuran Buku
3
Museum Bank Mandiri “Pusaka Tionghoa”
25 Januari 2020 Kota Tua Berzikir Bersama Majelis Dzikir
4
Taman Fatahillah Ruhha Fatahillah
25 Januari 2020 National Chef Day and The Thirteenth
5
Taman Fatahillah Indonesian Chef Association Anniversary
5 Februari 2020
6 Masjid Jami’ Al-Mukarramah Taklim Bulanan Pembacaan Qasidah Burdah
Maqam Kramat Kp. Bandan
60

Lanjutan Tabel 4.1


6 Februari – 3 Maret 2020
7 Pertunjukan “Leonardo Opera Omnia”
Museum Mandiri
8 Februari 2020 Pertunjukan “Rekonstruksi Sejarah Tionghoa
8
Museum Sejarah Jakarta Raja Ekonomi di Batavia”
9 8 Februari 2020 Gathering Para Janda
8 – 9 Februari 2020 Festival Pecinan 2020: Legenda Culinary
10
Pasar Glodok China Town
11 Februari – 15 Maret 2020
11 Pameran “We Move Amongst Ghosts”
Museum Seni Rupa dan Keramik
15 Februari 2020
12 Latihan Gabungan Pencak Silat
Taman Fatahillah
13 22 Februari 2020 Pagelaran Akhir Pekan Kota Tua
29 Februari 2020 Zikir Akbar Bersama Majelis Dzikir Ruhha
14
Taman Fatahillah Fatahillah
Plesiran Tempo Doeloe: Naek “Trem” Sampe
15 8 Maret 2020
Mester
16 8 Maret 2020 Festival Pencak Silat Tradisional 2020
21 Maret 2020
17 Latihan Gabungan Pencak Silat
Taman Fatahillah
Plesiran Tempo Doeloe: Lekker Eten di Pasar
18 22 Maret 2020
Lama Tangerang
4 April 2020 Diskusi Bersama: Opini Dampak Penutupan
19
Via Zoom Taman Fatahillah Selama Pandemi Covid-19
[Link]
20 Tur Daring Museum Bank Indonesia
bi/[Link]
Sumber: Facebook Agenda Pariwisata Kota Tua Jakarta

4.2 Hasil dan Pembahasan

4.2.1 Deskripsi Demografi Responden

Berdasarkan data pengunjung Kota Tua Jakarta tahun 2019 yang berjumlah

2.002.470 pengunjung, maka dibagikan kuesioner kepada 100 responden. Proses

pencarian data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner secara online dengan

bantuan google form yang disebar melalui media sosial. Data diri responden terinci
61

dalam jenis kelamin, usia, frekuensi berkunjung, sumber informasi, dan kunjungan

bersama. Secara rinci dapat dilihat di bawah ini:

Jenis Kelamin

Gambar 4.6 Pie Chart Jenis Kelamin Responden

Berdasarkan data jenis kelamin responden, diketahui bahwa wisatawan laki-

laki ada 30 orang (30%) dan perempuan ada 70 orang (70%). Sehingga dapat

disimpulkan bahwa wisatawan yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta, didominasi

oleh jenis kelamin perempuan.

Usia

21

3%

Gambar 4.7 Pie Chart Usia Responden


62

Berdasarkan data usia responden, diketahui bahwa wisatawan yang berusia <21

tahun ada 48 orang (48%), berusia 21-25 tahun ada 49 orang (49%), dan yang berusia

>25 tahun ada 3 orang (3%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata usia

wisatawan yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta, didominasi oleh rentang usia

21-25 tahun.

Frekuensi Berkunjung

Gambar 4.8 Pie Chart Frekuensi Berkunjung

Berdasarkan data frekuensi berkujung, diketahui bahwa wisatawan yang

berkujung sebanyak 1 kali ada 18 orang (18%), sebanyak 2 kali ada 14 orang (14%),

sebanyak 3 kali ada 17 orang (17%), dan sebanyak >3 kali ada 51 orang (51%).

Sehingga dapat disimpulkan wisatawan yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta,

didominasi wisatawan yang berkujung sebanyak >3 kali.


63

Sumber Informasi

Gambar 4.9 Pie Chart Sumber Informasi

Berdasarkan data sumber informasi, diketahui bahwa wisatawan yang

mengetahui informasi melalui teman/saudara ada 36 orang (36%), melalui

sekolah/universitas ada 27 orang (27%), melalui internet/media sosial ada 26 orang

(26%), dan mengetahui dari yang lainnya ada 11 orang (11%). Sehingga dapat

disimpulkan Kota Tua Jakarta didominasi oleh wisatawan yang mengetahui informasi

melalui teman atau saudara.

Kunjungan Bersama

3%

Gambar 4.10 Pie Chart Kunjungan Bersama


64

Berdasarkan data kunjungan bersama, diketahui bahwa wisatawan yang

berkujung sendiri ada 3 orang (3%), dengan teman ada 68 orang (68%), dengan

keluarga ada 14 orang (14%), dan dengan kelompok ada 15 orang (15%). Sehingga

dapat disimpulkan wisatawan yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta, didominasi

wisatawan wisatawan yang melakukan kunjungan bersama teman.

4.2.2 Uji Validitas

Untuk melakukan mengetahui valid atau tidaknya sebuah pernyataan,

dilakukan dengan menggunakan analisis Rank Pearson dalam SPSS versi 25. Suatu

pernyataan dapat dikatakan valid apabila nilai r hitung > r tabel. Penelitian ini

menggunakan r tabel pada signifikasi 0,05 dengan jumlah data (n) = 100, dimana df =

(100-2) = 98, maka didapat r tabel adalah sebesar 0,197.

Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Daya Tarik Wisata (Variabel Bebas)

Sub Variabel Indikator Pernyataan r hitung r tabel Validitas


Atraksi 1 0,780 0,197 Valid
Atraksi 2 0,798 0,197 Valid
Atraksi
Atraksi 3 0,770 0,197 Valid
Atraksi 4 0,807 0,197 Valid
Fasilitas 1 0,774 0,197 Valid
Fasilitas 2 0,803 0,197 Valid
Fasilitas
Fasilitas 3 0,823 0,197 Valid
Fasilitas 4 0,573 0,197 Valid
Infrastruktur 1 0,738 0,197 Valid
Infrastruktur Infrastruktur 2 0,876 0,197 Valid
Infrastruktur 3 0,883 0,197 Valid
Transportasi 1 0,868 0,197 Valid
Transportasi
Transportasi 2 0,907 0,197 Valid
65

Lanjutan Tabel 4.2


Transportasi 3 0,866 0,197 Valid
Pelayanan 1 0,722 0,197 Valid
Pelayanan 2 0,832 0,197 Valid
Pelayanan
Pelayanan 3 0,836 0,197 Valid
Pelayanan 4 0,836 0,197 Valid
Sumber: Data Primer diolah

Hasil dari uji validitas Tabel 4.2 menunjukan bahwa seluruh indikator

pernyataan yang berjumlah 18 butir untuk variabel daya tarik wisata mempunyai r

hitung yang lebih besar dari r tabel. Maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pernyataan

dinyatakan valid.

Tabel berikutnya akan memaparkan mengenai hasil validitas pada variabel

terikat yaitu mengenai minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas Minat Berkunjung (Variabel Terikat)

Sub Variabel Indikator Pernyataan r hitung r tabel Validitas


Faktor Internal 1 0,780 0,197 Valid
Faktor Faktor Internal 2 0,798 0,197 Valid
Internal Faktor Internal 3 0,770 0,197 Valid
Faktor Internal 4 0,807 0,197 Valid
Faktor Motif Sosial 1 0,774 0,197 Valid
Faktor Motif Faktor Motif Sosial 2 0,803 0,197 Valid
Sosial Faktor Motif Sosial 3 0,823 0,197 Valid
Faktor Motif Sosial 4 0,573 0,197 Valid
Faktor Emosional 1 0,774 0,197 Valid
Faktor Faktor Emosional 2 0,803 0,197 Valid
Emosional Faktor Emosional 3 0,823 0,197 Valid
Faktor Emosional 4 0,573 0,197 Valid
Sumber: Data Primer diolah

Hasil dari uji validitas Tabel 4.3 menunjukan bahwa seluruh indikator

pernyataan yang berjumlah 12 butir untuk variabel minat berkunjung mempunyai r


66

hitung yang lebih besar dari r tabel. Maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pernyataan

dalam variabel minat berkunjung dinyatakan valid.

4.2.3 Uji Reliabilitas

Perhitungan uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 25

dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu variabel dapat dikatakan reliabel apabila

nilai Cronbach Alpha > 0,60. Hasil uji perhitungan disajikan dalam tabel sebagai

berikut:

Tabel 4.4 Hasil Uji Reliabilitas Daya Tarik Wisata (Variabel Bebas)

Reliability Statistics
Cronbach's N of Items
Alpha
,918 18
Sumber: Data Primer diolah

Hasil uji reliabilitas di atas menunjukkan bahwa 18 butir pernyataan memiliki

nilai cronbach alpha sebesar 0,918 yang artinya lebih besar dibandingkan 0,60.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pernyataan kuesioner yang digunakan pada

variabel daya tarik wisata dinyatakan handal atau dapat dipercaya sebagai alat ukur.

Tabel 4.5 Hasil Uji Reliabilitas Minat Berkunjung (Variabel Terikat)

Reliability Statistics
Cronbach's N of Items
Alpha
,828 12
Sumber: Data Primer diolah
67

Hasil uji reliabilitas di atas menunjukkan bahwa 12 butir pernyataan memiliki

nilai cronbach alpha sebesar 0,828 yang artinya lebih besar dibandingkan 0,60.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pernyataan kuesioner yang digunakan pada

variabel minat berkunjung dinyatakan handal atau dapat dipercaya sebagai alat ukur.

4.2.4 Analisis Statistik Deskriptif

Dalam bagian ini akan dipaparkan dalam bentuk statistik deskriptif seluruh

jawaban responden dari kuesioner yang telah disebarkan agar hasil dari penelitian lebih

mudah dibaca dan dimengerti. Hasil data yang diolah akan dipaparkan dalam bentuk

tabel dan diurutkan sesuai dengan sub variabelnya.

a. Sub Variabel Atraksi

Sub variabel atraksi terdiri dari empat indikator pernyataan yang dilampirkan

dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Empat indikator pernyataan

tersebut adalah: (1) Kota Tua Jakarta memiliki suasana yang menarik; (2) Kota Tua

Jakarta terdapat peninggalan yang memiliki nilai sejarah tinggi; (3) Kota Tua Jakarta

merupakan destinasi yang tepat dikunjungi untuk berwisata sejarah; dan (4) Terdapat

banyak kegiatan yang dapat dilakukan di Kota Tua Jakarta. Berikut disajikan dalam

tabel:

Tabel 4.6 Statistik Sub Variabel Atraksi


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Atraksi1 100 1 6 4,78 ,980
Atraksi2 100 1 6 5,53 ,758
68

Atraksi3 100 2 6 5,47 ,822


Atraksi4 100 1 6 4,66 ,966
Valid N (listwise) 100
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Tabel 4.7 Penilaian Terhadap Sub Variabel Atraksi


Skor
No Pernyataan Jumlah
STS TS KS CS S SS
1 Atraksi 1 1 2 3 30 40 24 100
2 Atraksi 2 1 - - 6 30 63 100
3 Atraksi 3 - 2 - 9 27 62 100
4 Atraksi 4 1 1 5 38 34 21 100
Sumber: Data Primer diolah

Hasil pengukuran indikator Atraksi 1 yaitu “Kota Tua Jakarta memiliki suasana

yang menarik” dalam tabel 4.6 menunjukan bahwa nilai mean 4,78 artinya responden

cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation 0,980. Sedangkan dari

tabel 4.7 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju dengan jumlah 40

responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju dengan jumlah 1 responden.

Hasil pengukuran indikator Atraksi 2 yaitu “Kota Tua Jakarta terdapat

peninggalan yang memiliki nilai sejarah tinggi” dalam tabel 4.6 menunjukan bahwa

nilai mean 5,53 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan nilai

standard deviation 0,758. Sedangkan dari tabel 4.7 menunjukan responden lebih

banyak menjawab sangat setuju dengan jumlah 63 responden dan tidak ada yang

memilih tidak setuju dan kurang setuju.

Hasil pengukuran indikator Atraksi 3 yaitu “Kota Tua Jakarta merupakan

destinasi yang tepat dikunjungi untuk berwisata sejarah” dalam tabel 4.6 menunjukan

bahwa nilai mean 5,47 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan
69

nilai standard deviation 0,822. Sedangkan dari tabel 4.7 menunjukan responden lebih

banyak menjawab sangat setuju dengan jumlah 62 responden dan tidak ada yang

memilih sangat tidak setuju dan kurang setuju.

Hasil pengukuran indikator Atraksi 4 yaitu “Terdapat banyak kegiatan yang

dapat dilakukan di Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.6 menunjukan bahwa nilai mean

4,66 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation

0,966. Sedangkan dari tabel 4.7 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup

setuju dengan jumlah 38 responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju

dan tidak setuju dengan jumlah masing-masing 1 responden.

b. Sub Variabel Fasilitas

Sub variabel fasilitas terdiri dari empat indikator pernyataan yang dilampirkan

dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Empat indikator pernyataan

tersebut adalah: (1) Kota Tua Jakarta memiliki fasilitas wisata yang memadai; (2) Kota

Tua Jakarta memiliki pusat informasi yang responsif; (3) Kota Tua Jakarta

menyediakan tempat ibadah yang bersih; dan (4) Terdapat tempat makan dan toko

souvernir di sekitar Kota Tua Jakarta. Berikut disajikan dalam tabel:

Tabel 4.8 Statistik Sub Variabel Fasilitas


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Fasilitas1 100 2 6 4,30 ,859
Fasilitas2 100 2 6 4,28 ,922
Fasilitas3 100 1 6 4,18 1,077
Fasilitas4 100 3 6 5,12 ,820
70

Valid N (listwise) 100


Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Tabel 4.9 Penilaian Terhadap Sub Variabel Fasilitas


Skor
No Pernyataan Jumlah
STS TS KS CS S SS
1 Fasilitas 1 - 3 9 51 29 8 100
2 Fasilitas 2 - 1 20 38 32 9 100
3 Fasilitas 3 1 6 16 38 29 10 100
4 Fasilitas 4 - - 3 19 41 37 100
Sumber: Data Primer diolah

Hasil pengukuran indikator Fasilitas 1 yaitu “Kota Tua Jakarta memiliki

suasana yang menarik” dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa nilai mean 4,30 artinya

responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation 0,859.

Sedangkan dari tabel 4.9 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju

dengan jumlah 51 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Hasil pengukuran indikator Fasilitas 2 yaitu “Kota Tua Jakarta memiliki pusat

informasi yang responsif” dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa nilai mean 4,28 artinya

responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation 0,922.

Sedangkan dari tabel 4.9 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju

dengan jumlah 38 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Hasil pengukuran indikator Fasilitas 3 yaitu “Kota Tua Jakarta menyediakan

tempat ibadah yang bersih” dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa nilai mean 4.18 artinya

responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation 1,077.

Sedangkan dari tabel 4.9 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju

dengan jumlah 38 responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju dengan
71

jumlah 1 responden.

Hasil pengukuran indikator Fasilitas 4 yaitu “Terdapat tempat makan dan toko

souvernir di sekitar Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa nilai mean

5,12 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation

0,820. Sedangkan dari tabel 4.9 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju

dengan jumlah 41 responden dan dan tidak ada yang memilih sangat tidak setuju dan

tidak setuju.

c. Sub Variabel Infrastuktur

Sub variabel infrastruktur terdiri dari tiga indikator pernyataan yang

dilampirkan dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Tiga indikator

tersebut adalah: (1) Kota Tua Jakarta memiliki area pejalan kaki yang memadai; (2)

Kota Tua Jakarta memiliki toilet yang bersih; dan (3) Kebersihan di Kota Tua Jakarta

selalu terjaga dan terawat. Berikut disajikan dalam tabel:

Tabel 4.10 Statistik Sub Variabel Infrastruktur


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Infrastruktur1 100 1 6 5,06 ,941
Infrastruktur2 100 1 6 3,75 1,242
Infrastruktur3 100 1 6 4,18 1,114
Valid N (listwise) 100
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Tabel 4.11 Penilaian Terhadap Sub Variabel Infrastruktur


Skor
No Pernyataan Jumlah
STS TS KS CS S SS
72

1 Infrastruktur 1 1 1 2 19 41 36 100
2 Infrastruktur 2 6 6 29 34 16 9 100
3 Infrastruktur 3 2 4 20 32 32 10 100
Sumber: Data Primer diolah

Hasil pengukuran indikator Infrastruktur 1 yaitu “Kota Tua Jakarta memiliki

area pejalan kaki yang memadai” dalam tabel 4.10 menunjukan bahwa nilai mean 5,06

artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation 0,941.

Sedangkan dari tabel 4.11 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju

dengan jumlah 41 responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju dan tidak

setuju dengan jumlah masing-masing 1 responden.

Hasil pengukuran indikator Infrastruktur 2 yaitu “Kota Tua Jakarta memiliki

toilet yang bersih” dalam tabel 4.10 menunjukan bahwa nilai mean 3,75 artinya

responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation 1,242.

Sedangkan dari tabel 4.11 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju

dengan jumlah 34 responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju dan tidak

setuju dengan jumlah masing-masing 6 responden.

Hasil pengukuran indikator Infrastruktur 3 yaitu “Kebersihan di Kota Tua

Jakarta selalu terjaga dan terawat” dalam tabel 4.10 menunjukan bahwa nilai mean 4,18

artinya responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation

1,114. Sedangkan dari tabel 4.11 menunjukan responden yang menjawab cukup setuju

dan setuju masing-masing berjumlah 32 responden dan paling sedikit menjawab sangat

tidak setuju dengan jumlah 2 responden.


73

d. Sub Variabel Transportasi

Sub variabel transportasi terdiri dari tiga indikator yang dilampirkan dalam

kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Tiga indikator tersebut adalah: (1)

Letak Kota Tua Jakarta strategis dan mudah dicapai; (2) Kota Tua Jakarta dapat

dijangkau dengan transportasi umum; dan (3) Terdapat akses dan petunjuk yang jelas

untuk mencapai Kota Tua Jakarta. Berikut disajikan dalam tabel:

Tabel 4.12 Statistik Sub Variabel Transportasi


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Transportasi1 100 2 6 5,16 ,950
Transportasi2 100 2 6 5,50 ,798
Transportasi3 100 3 6 5,35 ,783
Valid N (listwise) 100
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Tabel 4.13 Penilaian Terhadap Sub Variabel Transportasi


Skor
No Pernyataan Jumlah
STS TS KS CS S SS
1 Transportasi 1 - 2 2 20 30 46 100
2 Transportasi 2 - 1 2 7 26 64 100
3 Transportasi 3 - - 3 10 36 51 100
Sumber: Data Primer diolah

Hasil pengukuran indikator Transportasi 1 yaitu “Letak Kota Tua Jakarta

strategis dan mudah dicapai” dalam tabel 4.12 menunjukan bahwa nilai mean 5,16

artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan nilai standard deviation

0,950. Sedangkan dari tabel 4.13 menunjukan responden lebih banyak menjawab

sangat setuju dengan jumlah 46 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak

setuju.
74

Hasil pengukuran indikator Transportasi 2 yaitu “Kota Tua Jakarta dapat

dijangkau dengan transportasi umum” dalam tabel 4.12 menunjukan bahwa nilai mean

5,50 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan nilai standard

deviation 0,798. Sedangkan dari tabel 4.13 menunjukan responden lebih banyak

menjawab sangat setuju dengan jumlah 64 responden dan tidak ada yang menjawab

sangat tidak setuju.

Hasil pengukuran indikator Transportasi 3 yaitu “Terdapat akses dan petunjuk

yang jelas untuk mencapai Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.12 menunjukan bahwa nilai

mean 5,35 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan nilai standard

deviation 0,783. Sedangkan dari tabel 4.13 menunjukan responden lebih banyak

menjawab sangat setuju dengan jumlah 51 responden dan tidak ada yang menjawab

sangat tidak setuju dan tidak setuju.

e. Sub Variabel Pelayanan

Sub variabel pelayanan terdiri dari empat indikator pernyataan yang

dilampirkan dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Empat indikator

pernyataan tersebut adalah: (1) Terdapat pengelola kawasan wisata Kota Tua Jakarta;

(2) Wisatawan dapat berwisata dengan aman di Kota Tua Jakarta; (3) Lingkungan di

Kota Tua Jakarta membuat wisatawan merasa nyaman; dan (4) Adanya perilaku yang

ramah dari pelaku usaha kepada pengunjung. Berikut disajikan dalam tabel:

Tabel 4.14 Statistik Sub Variabel Pelayanan


75

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pelayanan1 100 3 6 4,98 ,804
Pelayanan2 100 1 6 4,44 1,018
Pelayanan3 100 2 6 4,45 ,947
Pelayanan4 100 2 6 4,69 ,929
Valid N (listwise) 100
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Tabel 4.15 Penilaian Terhadap Sub Variabel Pelayanan


Skor
No Pernyataan Jumlah
STS TS KS CS S SS
1 Pelayanan 1 - - 3 24 45 28 100
2 Pelayanan 2 1 1 15 34 34 15 100
3 Pelayanan 3 - 2 11 42 30 15 100
4 Pelayanan 4 - 3 5 30 44 18 100
Sumber: Data Primer diolah

Hasil pengukuran indikator Pelayanan 1 yaitu “Terdapat pengelola kawasan

wisata Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai mean 4,98 artinya

responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation 0,804.

Sedangkan dari tabel 4.15 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju

dengan jumlah 45 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju dan

tidak setuju.

Hasil pengukuran indikator Pelayanan 2 yaitu “Wisatawan dapat berwisata

dengan aman di Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai mean

4,44 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation

1,018. Sedangkan dari tabel 4.15 menunjukan responden menjawab cukup setuju dan

setuju masing-masing berjumlah 34 responden dan paling sedikit menjawab sangat


76

tidak setuju dan tidak setuju dengan jumlah masing-masing 1 responden.

Hasil pengukuran indikator Pelayanan 3 yaitu “Lingkungan di Kota Tua Jakarta

membuat wisatawan merasa nyaman” dalam tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai mean

4,45 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation

0,947. Sedangkan dari tabel 4.15 menunjukan responden lebih banyak menjawab

cukup setuju dengan jumlah 42 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak

setuju.

Hasil pengukuran indikator Pelayanan 4 yaitu “Adanya perilaku yang ramah

dari pelaku usaha kepada pengunjung” dalam tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai mean

4,69 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation

0,929. Sedangkan dari tabel 4.15 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju

dengan jumlah 44 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

f. Sub Variabel Faktor Internal

Sub variabel faktor internal terdiri dari 4 indikator pernyataan yang dilampirkan

dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Indikator pernyataan

tersebut adalah: (1) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk memenuhi rasa

penasaran; (2) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk menambah wawasan; (3)

Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk mendapatkan pengalaman yang baru; dan

(4) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk bersantai dan mencari hiburan. Berikut

disajikan dalam tabel:


77

Tabel 4.16 Statistik Sub Variabel Faktor Internal


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
FaktorInternal1 100 1 6 4,81 1,089
FaktorInternal2 100 1 6 4,89 ,952
FaktorInternal3 100 2 6 5,10 ,937
FaktorInternal4 100 1 6 4,71 1,122
Valid N (listwise) 100
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Tabel 4.17 Penilaian Terhadap Sub Variabel Faktor Internal


Skor
No Pernyataan Jumlah
STS TS KS CS S SS
1 Faktor Internal 1 1 1 9 27 29 33 100
2 Faktor Internal 2 1 1 5 20 47 26 100
3 Faktor Internal 3 - 2 3 18 37 40 100
4 Faktor Internal 4 1 3 11 20 39 26 100
Sumber: Data Primer diolah

Hasil pengukuran indikator Faktor Internal 1 yaitu “Saya berkunjung ke Kota

Tua Jakarta untuk memenuhi rasa penasaran” dalam tabel 4.16 menunjukan bahwa

nilai mean 4,81 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard

deviation 1,089. Sedangkan dari tabel 4.17 menunjukan responden lebih banyak

menjawab sangat setuju dengan jumlah 33 responden dan paling sedikit menjawab

sangat tidak setuju dan tidak setuju dengan jumlah masing-masing 1 responden.

Hasil pengukuran indikator Faktor Internal 2 yaitu “Saya berkunjung ke Kota

Tua Jakarta untuk menambah wawasan” dalam tabel 4.16 menunjukan bahwa nilai

mean 4,89 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard

deviation 0,952. Sedangkan dari tabel 4.17 menunjukan responden lebih banyak

menjawab setuju dengan jumlah 47 responden dan paling sedikit menjawab sangat
78

tidak setuju dan tidak setuju dengan jumlah masing-masing 1 responden.

Hasil pengukuran indikator Faktor Internal 3 yaitu “Saya berkunjung ke Kota

Tua Jakarta untuk mendapatkan pengalaman yang baru” dalam tabel 4.16 menunjukan

bahwa nilai mean 5,10 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai

standard deviation 0,937. Sedangkan dari tabel 4.17 menunjukan responden lebih

banyak menjawab sangat setuju dengan jumlah 40 responden dan tidak ada yang

menjawab sangat tidak setuju.

Hasil pengukuran indikator Faktor Internal 4 yaitu “Saya berkunjung ke Kota

Tua Jakarta untuk bersantai dan mencari hiburan” dalam tabel 4.16 menunjukan bahwa

nilai mean 4,71 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard

deviation 1,122. Sedangkan dari tabel 4.17 menunjukan responden lebih banyak

menjawab setuju dengan jumlah 39 responden dan paling sedikit menjawab sangat

tidak setuju dengan jumlah 1 responden.

g. Sub Variabel Faktor Motif Sosial

Sub variabel faktor motif sosial terdiri dari 4 indikator pernyataan yang

dilampirkan dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Indikator

pernyataan tersebut adalah: (1) Saya mengunjungi Kota Tua Jakarta karena pengaruh

dari media sosial; (2) Saya membagikan momen di media sosial saat berkunjung ke

Kota Tua Jakarta; (3) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta karena rekomendasi oleh

orang lain; dan (4) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk berjumpa dengan
79

seseorang. Berikut disajikan dalam tabel:

Tabel 4.18 Statistik Sub Variabel Faktor Emosional


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
FaktorMotifSosial1 100 1 6 3,65 1,410
FaktorMotifSosial2 100 1 6 4,31 1,376
FaktorMotifSosial3 100 1 6 3,99 1,425
FaktorMotifSosial4 100 1 6 3,30 1,487
Valid N (listwise) 100
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Tabel 4.19 Penilaian Terhadap Variabel Minat Berkunjung


Skor
No Pernyataan Jumlah
STS TS KS CS S SS
1 Faktor Motif Sosial 1 10 11 19 34 16 10 100
2 Faktor Motif Sosial 2 5 4 18 24 26 23 100
3 Faktor Motif Sosial 3 7 8 19 27 23 16 100
4 Faktor Motif Sosial 4 16 15 21 26 15 7 100
Sumber: Data Primer diolah

Hasil pengukuran indikator Faktor Motif Sosial 1 yaitu “Saya mengunjungi

Kota Tua Jakarta karena pengaruh dari media sosial” dalam tabel 4.18 menunjukan

bahwa nilai mean 3,65 artinya responden cenderung menjawab cukup setuju dengan

nilai standard deviation 1,410. Sedangkan dari tabel 4.19 menunjukan responden lebih

banyak menjawab cukup setuju dengan jumlah 34 responden dan paling sedikit

menjawab sangat tidak setuju dan sangat setuju dengan jumlah masing-masing 10

responden.

Hasil pengukuran indikator Faktor Motif Sosial 2 yaitu “Saya membagikan

momen di media sosial saat berkunjung ke Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.18

menunjukan bahwa nilai mean 4,31 artinya responden cenderung menjawab setuju
80

dengan nilai standard deviation 1,376. Sedangkan dari tabel 4.19 menunjukan

responden lebih banyak menjawab setuju dengan jumlah 26 responden dan paling

sedikit menjawab tidak setuju dengan jumlah 4 responden.

Hasil pengukuran indikator Faktor Motif Sosial 3 yaitu “Saya berkunjung ke

Kota Tua Jakarta karena rekomendasi oleh orang lain” dalam tabel 4.18 menunjukan

bahwa nilai mean 3,99 artinya responden cenderung menjawab cukup setuju dengan

nilai standard deviation 1,425. Sedangkan dari tabel 4.19 menunjukan responden lebih

banyak menjawab cukup setuju dengan jumlah 27 responden dan paling sedikit

menjawab sangat tidak setuju dengan jumlah 7 responden.

Hasil pengukuran indikator Faktor Motif Sosial 4 yaitu “Saya berkunjung ke

Kota Tua Jakarta untuk berjumpa dengan seseorang” dalam tabel 4.18 menunjukan

bahwa nilai mean 3,30 artinya responden cenderung menjawab kurang setuju dengan

nilai standard deviation 1,487. Sedangkan dari tabel 4.19 menunjukan responden lebih

banyak menjawab cukup setuju dengan jumlah 26 responden dan paling sedikit

menjawab sangat setuju dengan jumlah 7 responden.

h. Sub Variabel Faktor Emosional

Sub variabel faktor emosional terdiri dari 4 indikator pernyataan yang

dilampirkan dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Indikator

pernyataan tersebut adalah: (1) Saya merasa puas dengan Kota Tua Jakarta; (2) Saya

merasa bangga dengan Kota Tua Jakarta sebagai destinasi di Jakarta; (3) Saya merasa
81

bahagia dapat berkunjung ke Kota Tua Jakarta; dan (4) Saya ingin berkunjung kembali

ke Kota Tua Jakarta. Berikut disajikan dalam tabel:

Tabel 4.20 Statistik Sub Variabel Faktor Emosional


Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
FaktorEmosional1 100 1 6 4,58 ,934
FaktorEmosional2 100 3 6 5,21 ,769
FaktorEmosional3 100 2 6 4,79 ,880
FaktorEmosional4 100 2 6 4,70 ,980
Valid N (listwise) 100
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Tabel 4.21 Penilaian Terhadap Sub Variabel Faktor Emosional


Skor
No Pernyataan Jumlah
STS TS KS CS S SS
1 Faktor Emosional 1 2 - 6 35 44 13 100
2 Faktor Emosional 2 - - 2 15 43 40 100
3 Faktor Emosional 3 - 2 1 36 38 23 100
4 Faktor Emosional 4 - 1 9 34 31 25 100
Sumber: Data Primer diolah

Hasil pengukuran indikator Faktor Emosional 1 yaitu “Saya merasa puas

dengan Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.20 menunjukan bahwa nilai mean 4,58 artinya

responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation 0,934.

Sedangkan dari tabel 4.21 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju

dengan jumlah 44 responden dan tidak ada yang menjawab tidak setuju.

Hasil pengukuran indikator Faktor Emosional 2 yaitu “Saya merasa bangga

dengan Kota Tua Jakarta sebagai destinasi di Jakarta” dalam tabel 4.20 menunjukan

bahwa nilai mean 5,21 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan
82

nilai standard deviation 0,769. Sedangkan dari tabel 4.21 menunjukan responden lebih

banyak menjawab setuju dengan jumlah 43 responden dan tidak ada yang menjawab

sangat tidak setuju dan tidak setuju.

Hasil pengukuran indikator Faktor Emosional 3 yaitu “Saya merasa bahagia

dapat berkunjung ke Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.20 menunjukan bahwa nilai mean

4,79 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation

0,880. Sedangkan dari tabel 4.21 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju

dengan jumlah 38 responden dan dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

Hasil pengukuran indikator Faktor Emosional 4 yaitu “Saya ingin berkunjung

kembali ke Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.20 menunjukan bahwa nilai mean 4,70

artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation 0,980.

Sedangkan dari tabel 4.21 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju

dengan jumlah 34 responden dan dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.

4.2.5 Uji Koefisien Korelasi

Uji koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara kedua

variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel daya tarik wisata (Variabel Bebas)

terhadap minat berkunjung (Variabel Terikat). Uji ini dapat mengukur seberapa kuat

hubungan yang dihasilkan kedua variabel dalam penelitian ini. Selain itu uji ini

bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan keduanya signifikan atau tidak. Data
83

diolah dengan menggunakan program SPSS versi 25 untuk mencari korelasi Pearson

product moment. Hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.22 Hasil Uji Koefisien Korelasi

Correlations
Daya Tarik Minat
WIsata (X) Berkunjung
(Y)
Daya Tarik WIsata Pearson Correlation 1 ,681**
(X) Sig. (2-tailed) ,000
N 100 100
Minat Berkunjung (Y) Pearson Correlation ,681** 1
Sig. (2-tailed) ,000
N 100 100
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Berdasarkan tabel 4.22 di atas, dapat diketahui bahwa nilai korelasi Pearson

sebesar 0,681. Menurut pedoman kriteria penafsiran koefisien korelasi dari Sugiyono

(2008), menggambarkan hubungan yang kuat. Maka berdasarkan nilai korelasi Pearson

tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel Daya Tarik Wisata (X)

dengan variabel Minat Berkunjung (Y) adalah kuat. Sehingga dapat disimpulkan

bahwa daya tarik wisata memiliki hubungan positif yang kuat dimana jika nilai daya

tarik wisata meningkat maka minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta pun

juga akan meningkat.

4.2.6 Uji Koefisien Determinasi

Perhitungan uji R2 atau koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui


84

seberapa besar variasi variabel dependen terhadap variabel independen. Nilai R² berada

pada interval 0 ≤ R² ≤ 1, dan semakin dekat nilai R ke nilai 1 (satu) maka semakin baik

data yang tergambar dalam estimasi model. Uji determinasi dilakukan dengan

menggunakan SPSS versi 25, berikut adalah hasil uji determinasi dalam penelitian ini:

Tabel 4.23 Hasil Uji Koefisien determinasi


Model Summary
Mode R R Adjusted R Std. Error of
l Square Square the Estimate
1 ,681a ,463 ,458 5,917
a. Predictors: (Constant), Daya Tarik WIsata (X)
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Berdasarkan data pada tabel 4.23 dapat diketahui bahwa nilai koefisien

determinasi terdapat pada nilai R Square yaitu sebesar 0,463 atau 46,3%. Hal ini berarti

variasi variabel minat berkunjung dapat dijelaskan oleh variabel independen (daya tarik

wisata) sebesar 46,3%. Sedangkan 53,7% (100% – 46,3% = 53,7%) dijelaskan oleh

variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

4.2.7 Analisis Regresi Linear Sederhana

Uji analisis regresi linear sederhana adalah hubungan secara linear antara satu

variabel independen (Daya Tarik Wisata) dengan variabel dependen (Minat

Berkunjung) yang dilakukan untuk mengetahui arah hubungan apakah daya tarik

wisata berhubungan positif atau negatif terhadap minat berkunjung. Adapun hasil

analisis regresi linier sederhana adalah sebagai berikut:


85

Tabel 4.24 Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana


Coefficientsa
Model Unstandardized Standardized t Sig.
Coefficients Coefficients
B Std. Error Beta
1 (Constant) 20,147 3,731 5,400 ,000
Daya Tarik WIsata 1,826 ,198 ,681 9,201 ,000
(X)
a. Dependent Variable: Minat Berkunjung (Y)
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Berdasarkan analisis data pada tabel 4.24, maka diperoleh hasil persamaan

regresi sebagai berikut:

Y = 20,147 + 1,826

Dari persamaan di atas memperlihatkan hubungan antara variabel independen

dengan variabel dependen secara parsial, dari persamaan tersebut dapat diambil

kesimpulan bahwa nilai konstanta adalah 20,147. Berarti menggambarkan bahwa

secara matematis pada saat variabel daya tarik wisata bernilai nol (0), maka minat

berkunjung wisatawan untuk mengunjungi daerah tujuan wisata adalah sebesar 1,826.

Hal ini menggambarkan bahwa arah hubungan antara variabel daya tarik wisata dengan

variabel minat berkunjung adalah searah atau positif, ini berarti setiap kenaikan satu

satuan variabel daya tarik wisata akan menyebabkan kenaikan nilai minat berkunjung

sebesar 1,826.

4.2.8 Uji t (Uji Hipotesis)


86

Uji t dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh variabel bebas secara

parsial terhadap variabel terikat. Penelitian ini menggunakan t tabel dengan rumus t

tabel = t (a/2; n-k-1), dimana t (0,05/2; 100-5-1) = (0,025; 94) = 1,98552. Hasil uji t

pada variabel daya tarik wisata dengan program SPSS versi 25 dapat dilihat dalam tabel

berikut:

Tabel 4.25 Hasil Uji Hipotesis t


Coefficientsa
Model Unstandardized Standardized t Sig.
Coefficients Coefficients
B Std. Error Beta
1 (Constant) 20,147 3,731 5,400 ,000
Daya Tarik WIsata 1,826 ,198 ,681 9,201 ,000
(X)
a. Dependent Variable: Minat Berkunjung (Y)
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25

Variabel dapat dikatakan berpengaruh apabila nilai t hitung > t tabel pada

signifikasi 0,05. Sebaliknya apabila nilai t hitung < t tabel pada signifikasi 0,05 maka

variabel dapat dikatakan tidak berpengaruh. Berdasarkan hasil uji t dalam tabel 4.25

dapat disimpulkan bahwa t hitung > t tabel yaitu 9,201 > 1,985. Maka dapat

disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa variabel daya tarik wisata

berpengaruh signifikan terhadap minat berkunjung ke Kota Tua Jakarta.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serta hasil penyebaran

kuesioner kepada 100 responden, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil uji validitas dan uji reliabilitas yang dilakukan menunjukkan

bahwa semua variabel serta indikator pernyataan dinyatakan valid dan reliabel

atau dapat dipercaya sebagai alat ukur.

2. Berdasarkan hasil pengujian yang didapat dari Uji Koefisien Korelasi

menunjukan bahwa nilai korelasi sebesar 0,681 yang berarti variabel daya tarik

wisata mempunyai pengaruh yang kuat dan bersifat positif terhadap minat

berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

3. Berdasarkan Uji Koefisien Determinasi, menunjukan bahwa daya tarik wisata

berpengaruh sebesar 46,3% terhadap minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua

Jakarta. Sedangkan 53,7% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak

diteliti dalam penelitian ini.

4. Berdasarkan Uji Regresi Linear Sederhana diperoleh model persamaan regresi

jika prediktor daya tarik wisata dinilai nol maka minat berkunjung akan sama

dengan nilai konstanta yaitu sebesar 20,147 dimana apabila daya tarik wisata

mengalami kenaikkan sebesar satu satuan, maka minat berkunjung wisatawan

87
88

ke Kota Tua Jakarta akan mengalami kenaikkan sebesar 1,826.

5. Berdasarkan Uji Hipotesis t, yaitu t hitung sebesar 9,201 lebih besar dari pada

t tabel yaitu 1.985 maka H0 dalam penelitian ini ditolak. Jadi dapat disimpulkan

bahwa hipotesis yang diterima dalam penelitian ini adalah H1 dimana daya tarik

wisata mempunyai pengaruh secara parsial terhadap minat berkunjung

wisatawan ke Kota Tua Jakarta.

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dijelaskan, ada beberapa saran yang ingin

penulis ajukan kepada pihak pengelola Kota Tua Jakarta, antara lain:

1. Berdasarkan mean terendah dari variabel daya tarik wisata yaitu faktor

infrastruktur, pengelola Kota Tua Jakarta perlu meningkatkan penataan

sarana dan prasarana serta menjaga kebersihan di Kota Tua Jakarta

terutama untuk fasilitas umum seperti toilet dan mushola agar tetap terlihat

bersih dan terawat sehingga dapat memberikan kenyamanan kepada

pengunjung Kota Tua Jakarta.

2. Berdasarkan mean terendah dari variabel minat berkunjung yaitu faktor

motif sosial, diharapkan pengelola Kota Tua Jakarta dapat meningkatkan

promosi di media sosial seperti di Instagram, Tiktok, Youtube, dan

sebagainya supaya semakin banyak menjangkau pengunjung serta menarik

pengunjung yang datang untuk ikut mempromosikan Kota Tua Jakarta.


89

DAFTAR PUSTAKA

Deksono, Favian Rachmadi. 2017. “Pengaruh Motivasi Wisata dan E-WOM Terhadap
Minat Berkunjung ke Daya Tarik Wisata Goa Pindul”. Skripsi. Yogyakarta:
Fakultas Ekonomi Universitas Santa Dharma. Yogyakarta.

Diniyah, Fitrotud dkk. 2018. “Pengaruh Daya Tarik Wisata Terhadap Minat Kunjungan
Ulang Wisatawan Studi di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta”. Jurnal
Fakultas Usaha Perjalanan Wisata: Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA
Yogyakarta. No.1. Vol 1. 1-13.

Duli, Nikolaus. 2019. Metodologi Penelitian Kuantitatif: Beberapa Konsep Dasar


untuk Penulisan Skripsi & Analisis Data dengan SPSS. Yogyakarta:
Deepublish.

Fajaria, Novieta. 2020. “Pengaruh Daya Tarik, Aksesibilitas, Harga, Fasilitas, dan
Promosi terhadap Minat Berkunjung Wisatawan ke Puro Mangkunegaran,
Surakarta”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Ekonomi Agama Islam Negeri
Surakarta.

Febrianingrum, Sri Rahayu dkk. 2019. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi


Perkembangan Pariwisata Pantai di Kabupaten Purwerejo”. Jurnal Program
Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Sebelas
Maret Surakarta. Desa-Kota No. 2. Vol 1, 130-142.

Gennifer, Birgitta. 2020. “Pengaruh Koleksi Museum Benteng Heritage Terhadap


Motivasi Kunjungan Wisatawan”. Skripsi. Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan
Wisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.

Hamdi, Asep Saepul dan E. Bahruddin. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Aplikasi
dalam Pendidikan. Yogyakarta: Deepublish.

Ihwan, Misbahul Munirul. 2016. “Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan
pada PT. Smart Multi Finance Malang”. Thesis. Malang: Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Ismayanti. 2010. Pengantar Pariwisata. Jakarta: Grasindo.

Luturlean, Bachruddin Saleh. 2019. Strategi Bisnis Pariwisata. Bandung: Humaniora.

Mayasari, Desi. 2017. “Dampak Pengembangan Fasilitas Wisata Dalam Meningkatkan


Minat Wisatawan Berkunjung ke Objek Wisata Bukit Sulap di Kota
90

Lubuklinggau”. Skripsi. Palembang: Fakultas Usaha Perjalanan Wisata


Politeknik Negeri Sriwijaya.

Muharto. 2020. Pariwisata Berkelanjutan: Kombinasi Strategi dan Paradigma


Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta: Deepublish.

Natasha, Anabel. 2020. “Pengaruh Daya Tarik Wisata Galeri Nasional Indonesia
Terhadap Motivasi Pengunjung”. Skripsi. Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan
Wisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.

Revida, Erika dkk. 2020. Pengantar Pariwisata. Jakarta: Yayasan Kita Menulis.

Sahlan, Emanuel Geordy Valianto. 2019. “Pengaruh Revitalisasi Daya Tarik Wisata
Kali Besar Jakarta Terhadap Minat Wisatawan untuk Berkunjung”. Skripsi.
Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan Wisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.

Saputra, Randi. 2018. “Pengaruh Iklan dan Citra Merek Terhadap Minat Beli
Konsumen Produk Merek Honda Survei Konsumen Pada Dealer CV. Cempaka
Motor di Kabupaten Sijunjung”. Jurnal FISIP. No.1. Vol 5. 1-19.

Siregar, Syofian. 2017. Statistika Terapan untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kencana.

Sudjarwadi, Doddy. 2012. “Kawasan lama merupakan cikal bakal dari perkembangan
sebuah kota”. Skripsi. Jakarta.

Sulistyadi, Yohanes dkk. 2019. Pariwisata Berkelanjutan Dalam Perspektif


Pariwisata Budaya di Taman Hutan Raya Banten. Ponorogo: Uwais Inspirasi
Indonesia.

Supriadi, Bambang dan Nanny Roedjinandari. 2017. Perencanaan dan Pengembangan


Destinasi Pariwisata Malang: Universitas Negeri Malang.

Tanumihardja, Yosua Rendi. 2017. “Minat Pengunjung terhadap Kawasan Kota Tua
Jakarta”. Skripsi. Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan Wisata Sekolah Tinggi
Pariwisata Trisakti.

Trisnawati, Nana dan Nur Idaman. 2019. “Motivasi Pengunjung Mengunjungi


Museum di Kawasan Kota Tua”. Jurnal Fakultas Ekonomi. No. 1. Vol 2. 125-
136.

Winagun, Rakhmat Wahyu. 2013. “Pengaruh Hub Community Terhadap Kawasan


Kota Tua Jakarta sebagai Kawasan Heritage dan Culture”. Skripsi. Bandung:
Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia.
91

Wirajaya, Elfrijo Bijak. 2019. “Pengaruh Daya Tarik Wisata Terhadap Minat
Kunjungan Ulang Wisatawan ke Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor”. Skripsi.
Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan Wisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.

SUMBER INTERNET

Anonim. 2015. “Sejarah Kota Tua”. [Link]


Diakses tanggal 16 Oktober 2020. Pukul 20.20.

Khairunnisa, Syifa Nuri. 2019. "7 Kegiatan Seru di Kota Tua Jakarta, Liburan Murah
Meriah". [Link]
seru-di-kota-tua-jakarta-liburan-murah-meriah. Diakses tanggal 22 September
2020. Pukul 13.34.

Kota Tua Jakarta. 2020. “Agenda Pariwisata Kota Tua Jakarta”.


[Link]
2469378623209 27/photos/?tab=albums. Diakses tanggal 17 Oktober 2020.
Pukul 14.00.

Okta, Dwi. 2020. “Kota Tua Jakarta”. [Link]


Diakses tanggal 17 Oktober 2020. Pukul 15.50.

Yuliana. 2019. “10 Tempat Wisata Kota Tua Jakarta yang Wajib Dikunjungi, Gak
Cuma Bangunan Kuno”. [Link]
jakarta/. Diakses tanggal 17 Oktober 2020. Pukul 15.15.

Anda mungkin juga menyukai