Daya Tarik Wisata Kota Tua Jakarta
Daya Tarik Wisata Kota Tua Jakarta
PENDAHULUAN
sebagai sektor yang ikut berperan penting dalam usaha peningkatan pendapatan negara.
Pariwisata berasal dari dua kata, yakni Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan sebagai
sebagai perjalanan atau bepergian. Atas dasar itu, maka kata ”Pariwisata” dapat
diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatu
beragam, mulai dari berbagai kepentingan, baik karena kepentingan ekonomi, sosial,
pengalaman ataupun untuk belajar. Perjalanan wisata juga banyak dilakukan untuk
menghilangkan penat dari pekerjaan dan istirahat dari aktivitas sehari-hari, hingga
vital sekaligus penggerak utama bagi wisatawan dalam memutuskan untuk melakukan
perjalanan dan kunjungan ke suatu daerah atau negara. Pengembangan kawasan wisata
1
2
produk, wilayah dan citra atau karakter atraksi yang menjadi fokus penting dalam
banding dan keunggulan saing dalam berkompetisi untuk menarik pasar wisatawan
Daya tarik wisata merupakan suatu kekuatan atau pengaruh yang diberikan oleh
suatu objek atau lokasi wisata, yang dapat mempengaruhi wisatawan sehingga tertarik
dan menyenangi suatu objek atau lokasi wisata. Pada dasarnya, objek daya tarik wisata
dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: objek wisata alam atau lingkungan (ekowisata),
objek wisata sosial budaya dan objek wisata buatan manusia. Objek wisata alam adalah
daya tarik ciptaan Tuhan Yang Maha Esa seperti gunung, laut, pantai, dll. Lalu, daya
tarik wisata budaya seperti situs arkeologi, bangunan, seni dan kerajinan dll.
Sedangkan daya tarik wisata buatan adalah seperti acara olahraga, pameran, konferensi,
dan sebagainya.
destinasi wisata yang ditawarkan pada wisatawan. Besarnya daya tarik wisata suatu
objek akan mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang berkunjung. Daya tarik
wisata dapat terdiri dari beberapa komponen yang akhirnya akan membentuk kekuatan
wisatawan ke daerah objek wisata mempunyai dampak ekonomi kepada daerah tujuan
3
wisata yang didatangi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Suatu objek
wisata memerlukan pengembangan yang tepat sasaran agar tercipta suatu destinasi
wisata yang dikenal luas oleh masyarakat dan menimbulkan minat wisatawan lain
untuk mengunjungi daya tarik wisata tersebut, baik wisatawan domestik maupun
mancanegara.
Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara yang kaya akan sumber
daya alam yang dapat berpotensi untuk diolah dan dimanfaatkan. Selain itu, Indonesia
juga kaya akan seni budaya daerah, adat istiadat, peninggalan sejarah terdahulu dan
yang tidak kalah menarik adalah keindahan panorama alamnya potensial untuk
dikembangkan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan domestik dan
34 provinsi yang ada di Indonesia, yang memiliki potensi wisata yang cukup baik
dengan didukung oleh sumber daya manusia yang cukup adalah Pulau Jawa. Pulau
Jawa terbagi atas enam provinsi yaitu Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Provinsi yang paling besar adalah
DKI Jakarta adalah ibu kota negara dan kota terbesar di Indonesia yang secara
geografis terletak di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Jakarta memiliki banyak
tempat-tempat wisata seperti wisata sejarah, wisata alam, dan wisata budaya. Masing-
masing daya tarik yang ada di Jakarta tentunya memiliki karakteristik tersendiri.
Namun jika berbicara tentang Jakarta, pastinya tidak lepas dari wisata sejarahnya.
4
Salah satu yang paling terkenal adalah seperti Museum Fatahillah, Museum Tekstil,
Museum Wayang, dan Museum Bahari yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta.
Kota Tua yang juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama ini terletak di Jalan
Taman Fatahillah No.1, Jakarta Barat. Di Kawasan Kota Tua, pengunjung dapat
melihat beberapa museum sejarah serta bangunan-bangunan kuno zaman Belanda yang
dibangun beberapa abad yang lalu. Kokohnya bangunan bersejarah membuat karakter
bahwa Kota Tua ini sebagai destinasi budaya dan sejarah. Kota Tua semakin menarik
Kegiatan yang dapat dilakukan di Kota Tua antara lain: menyewa sepeda onthel
museum, berfoto dengan manusia patung, berwisata kuliner, menikmati musik akustik
dan pertunjugan seni lainnya, serta berbelanja oleh-oleh. Adanya kawasan yang
memiliki nilai bersejarah ini menciptakan motivasi dan minat kunjungan baik dari
juga sangat menikmati nuansa zaman dulu yang memang masih klasik.
Tiada hentinya dilakukan upaya pelestarian dan menjaga aset-aset budaya yang
masih tersisa di Kota Tua Jakarta. Upaya revitalisasi menjadi prioritas dalam upaya
menjaga aset-aset tersebut, bahkan beberapa tahun terakhir upaya tersebut sangat
gencar dilakukan. Upaya revitalisasi ini telah dilakukan untuk menghidupkan Kota Tua
Kelapa, Kawasan Kali Besar Timur dan Barat. Hasil dari menghidupkan Kota Tua
5
Jakarta adalah bahwa kawasan tersebut menjadi objek wisata yang sangat menarik,
hanya waktu liburan saja tetapi pada hari biasa juga banyak pengunjung.
diperhatikan, dilihat dari sebagian besar warganya kawasan ini sebatas tempat untuk
mencari uang. Masyarakat yang memang sengaja menjadikan kawasan ini sebagai
ladang mata pencaharian mereka sehari-hari dapat menciptakan persepsi tersendiri bagi
para wisatawan yang berkunjung. Hal ini dapat dilihat bahwa banyaknya pedagang
kaki lima dan pengamen yang masuk ke dalam kawasan dan terkadang sikapnya kurang
ramah. Selain itu, kurangnya penataan tempat karena para pedagang yang menggelar
Permasalahan lainnya yaitu tidak sedikit wisatawan lokal yang datang ke Kota
Tua hanya untuk mewawancarai warga asing atau bule yang berada disana, tanpa
memperdulikan mengenai wisata budaya dan sejarah yang terdapat di Kota Tua
Jakarta. Hal ini bisa saja membuat warga asing menjadi terganggu atau bahkan kapok
untuk berkunjung kembali apalagi tidak hanya satu dua orang saja yang
mewawancarai. Sulitnya mencari toilet umum yang bersih dan juga sampah-sampah
Hal tersebut merupakan hal yang sangat mempengaruhi citra kawasan Kota Tua
Masyarakat setempat dan wisatawan yang datang harus dapat berperan aktif membantu
dalam menjaga kelestarian Kota Tua sendiri. Kota Tua Jakarta memiliki potensi pasar
6
yang cukup besar, hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengunjung yang datang ke
kawasan tersebut dengan kegiatan yang beraneka ragam, namun semua itu dapat
wisatawan dalam mengambil keputusan dalam mengunjungi Kota Tua Jakarta. Dengan
wisatawan, dan meningkatkan belanja wisatawan di suatu destinasi yang pada akhirnya
dilakukan dalam penelitian ini dan hanya fokus pada Pengaruh daya tarik wisata
Tua Jakarta.
Tua Jakarta.
gambaran secara keseluruhan. Proyek akhir ini terdiri dari lima bab. Secara garis besar
BAB I PENDAHULUAN
penelitian.
Bab ini memuat uraian teori yang berisi teori-teori dan pendapat dari
hipotesis.
9
Bab ini berisi hal-hal sebagai berikut: metode dan unit analisis
penelitian.
kondisi daya tarik wisata, dan sejarahnya. Serta hasil dan pembahasan
Bab ini berisi kesimpulan dan saran terhadap masalah yang diteliti serta
keterbatasan penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.1 Pariwisata
bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan
waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud
bukan untuk berusaha (business) atau untuk mencari nafkah di tempat yang
bertamasya dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginaan yang beraneka ragam
10
11
adalah suatu aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar dan mendapat
sendiri ataupun di luar negeri, meliputi pendiaman orang-orang dari daerah lain
beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang dialaminya (dimana ia tinggal).
memperoleh kepuasan yang beraneka ragam dan berbeda dengan apa yang
masyarakat setempat.
12
olah raga atau pesta olah raga seperti arung jeram, diving, skiing, hiking,
dan lain-lain.
Korea, dll.
sebagai berikut:
wisata berkaitan dengan apa yang bisa dilihat (what to see) dan
dilakukan (what to do). Yang dimaksud dengan what to see (apa yang
dilihat) adalah segala sesuatu yang dapat dilihat dan dinikmati oleh
objek wisata serta dapat membuat wisatawan merasa betah dan lama
tinggal di lokasi wisata. Atraksi wisata terdiri atas tiga bagian yaitu: (1)
sungai dan pantai; (2) atraksi wisata budaya seperti kearifan masyarakat,
(Suwena, 2010).
dan baik kualitas amenitas, maka wisatawan akan semakin nyaman dan
wisata seperti pesawat udara, kapal laut, mobil, bis dan sarana angkutan
lainnya dan berapa lama waktu yang harus ditempuh menuju lokasi
yaitu bagaimana cara atau akses menuju atau mencapai lokasi wisata.
mendukung keberadaan suatu objek dan daya tarik wisata tersebut dan
wisata.
16
3. Menghapuskan kemiskinan;
4. Mengatasi pengangguran;
6. Memajukan kebudayaan;
kerja;
merupakan usaha yang bersifat komersial. Hal tersebut dapat dilihat dari betapa
tersebut.
bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan
2.1.2 Wisatawan
(2) tujuan bisnis dan professional; dan (3) tujuan lain-lain sehingga wisatawan
benar ingin melepaskan diri dari rutinitas kehidupan sehari-hari. Jadi bisa juga
tempat lain yang yang jauh dari rumahnya bukan dengan alasan rumah atau
kantor.
Adapun menurut Irawan dalam Diniyah (2018:4), jika ditinjau dari arti
kata “wisatawan” yang berasal dari kata “wisata” maka sebenarnya tidaklah
19
tepat sebagai pengganti kata “tourist” dalam bahasa inggris. Kata itu berasal
dari bahasa Sansekerta “Wisata” yang berarti “perjalanan” yang sama atau
dapat disamakan dengan kata “travel” dalam bahasa inggris. Jadi orang
maupun perjalanan ke luar negeri baik secara inbound (wisatawan asing datang
perjalanan wisata, yang datang memasuki suatu negara lain yang bukan
yang dipunyainya.
kapal laut ataupun kereta api, yang terpaksa mampir atau singgah pada
dalam Diniyah (2018:2) adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau
dalam suatu produk wisata yang didukung oleh jasa penunjang serta atraksi dan
sumber daya pariwisata, serta memiliki batas wilayah, baik secata fisik maupun
administrasi yang menunjukkan citra serta persepsi dari daya saing pasar. WTO
14. Pusat kegiatan MICE dan Konvensi (MICE and convention centers);
17. Kapal pesiar dan perjalanannya (Cruise ship and their destinations).
bahwa destinasi wisata adalah pertemuan titik penawaran dan permintaan yang
minimal satu malam dan di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum,
Gilbert, Shepherd and Wanhill (1998), pada intinya mengandung tujuan yang
1. Daya Tarik Wisata (Atractions), mencakup daya tarik yang bisa berbasis
seperti event atau yang sering disebut sebagai minat khusus (special
interest);
24
Pengertian daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi unsur penarik
bagi wisatawan untuk melakukan kunjungan wisata. Setiap destinasi wisata harus
memiliki daya tarik agar wisatawan mau melakukan kunjungan wisata. Dengan adanya
daya tarik wisata yang kuat maka menjadi magnet untuk menarik para wisatawan
tidak lengkap tanpa daya tarik wisata atau disebut tourist attraction. Daya tarik wisata
25
merupakan fokus utama penggerak pariwisata di sebuah destinasi. Dalam arti, daya
tarik wisata sebagai penggerak utama yang memotivasi wisatawan untuk mengunjungi
suatu tempat. Lebih lanjut, Ismayanti (2010:148) menyatakan daya tarik wisata dibagi
1. Daya tarik wisata ciptaan Tuahn Yang Maha Esa, seperti flora dan fauna,
2. Daya tarik wisata hasil karya manusia, seperti pertunjukan seni budaya, film,
Adapun variasi lain menurut Spillane dalam Diniyah (2018:5), daya tarik
pariwisata adalah hal-hal yang menarik perhatian wisatawan yang dimiliki oleh suatu
daerah tujuan wisata. Terdapat lima unsur penting yang saling tergantung yang dapat
menarik wisatawan untuk datang dan berkunjung ke suatu destinasi wisata, yaitu:
1. Attraction atau atraksi, hal ini merupakan inti dari suatu objek wisata. Baik
atraksi yang berupa wisata alam, budaya maupun wisata buatan dapat menarik
industri pariwisata karena tanpa atraksi, suatu tempat tidak dapat dijadikan
nasional, maka atraksi tersebut juga akan menarik wisatawan pada tingkat
atraksi di suatu lokasi karena fasilitas harus terletak dekat dengan pasarnya,
atas tanah dari suatu wilayah atau daerah. Dalam pariwisata infrastruktur
untuk lebih mudah dalam menjangkau objek wisata yang dituju, dengan
mereka kenal. Khususnya wisatawan yang bepergian jauh ke negara asing perlu
27
wisata.
wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan dan hal-hal menarik, yang
menjadi tujuan atau motivasi wisatawan untuk datang ke suatu daerah tertentu. Dalam
hal ini, daya tarik wisata sangat berhubungan erat dengan atraksi, fasilitas,
infrastruktur, transportasi, dan pelayanan yang baik agar dapat menarik wisatawan.
dapat disamakan dengan minat berkunjung pada wisatawan. Hal tersebut dapat dilihat
pada perilaku yang sama. Minat membeli adalah sebuah perilaku konsumen dimana
kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang
melakukan pembelian.
pelanggan potensial yang mempunyai arti pelanggan yang pernah atau yang belum
28
pernah dan yang sedang akan berkunjung atau menggunakan produk atau jasa yang
akan di gunakan. Minat berkunjung dilakukan berdasar apa yang telah mereka katakan
tentang minat mereka untuk mengambil keputusan. Adapun proses dalam pengambilan
Sehubungan dengan pendapat para ahli yang sudah disebutkan, maka dapat
disimpulkan bahwa minat pembelian pada konsumen dapat disamakan dengan minat
berkunjung pada wisatawan dilihat dari perilaku yang sama. Minat beli adalah sebuah
suatu objek atau hal tertentu tidak akan muncul dengan sendirinya secara tiba-
tiba dalam diri individu. Minat dapat timbul pada diri seseorang melalui proses.
Dengan adanya perhatian dan interaksi dengan lingkungan maka minat tersebut
hal tertentu.
individu.
29
1. Faktor pendorong yang berasal dari dalam (The factor inner urge)
Timbulnya minat dari seseorang dapat didorong dari motif sosial yaitu
ada tiga yaitu dorongan dari diri individu atau internal, dorongan sosial dan
30
motif dan dorongan emosional. Timbulnya minat pada diri individu berasal dari
Minat berwisata
X= mahasiswa STP
Daya Tarik Trisakti ke
Analisis Minat Penelitian Wisata Kepulauan Karimun
Axel Mahasiswa STP deskriptif Jawa termasuk dalam
3. Sulaiman Trisakti Berwisata dengan Y= kategori tinggi (3.91),
(2016) ke Kepulauan pendekatan Minat hal ini dikarenakan
Karimun Jawa kuantitatif Berkunjung faktor pendorong dari
Ulang dalam, faktor motif
sosial, dan faktor
emosi.
31
2.4 Hipotesis
METODOLOGI PENELITIAN
ilmiah. Metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat serta desain
suatu penelitian dilakukan, yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana suatu
penelitian dilakukan.
Mc. Milan dan Scumacher dalam Hamdi dan Bahruddin (2014:4) memaparkan
bahwa penelitian dibedakan atas dua pendekatan yaitu pendekatan kuantitatif dan
kualitatif.
sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat
masalah.
32
33
fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau.
Penelitian deskriptif bisa mendeskripsikan sesuatu keadaan saja, tetapi bisa juga
(2014:7) adalah penelitian yang ditujukan untuk mengetahui hubungan suatu variabel
dengan variabel-variabel lain. Adapun pengertian menurut Fraenkel dan Wallen dalam
hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untuk
Hal ini senada dengan Sugiyono dalam Wirajaya (2019:23) bahwa pendekatan
penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandasan pada
filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu,
atau statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
34
Daya Tarik Wisata Terhadap Minat Berkunjung ke Kota Tua Jakarta” adalah metode
serta mengetahui hubungan suatu variabel dengan variabel-variabel lain dan dikaji
Unit analisis merupakan tingkat kesatuan data yang dikumpulkan selama tahap
analisis data selanjutnya (Sekaran dalam Sahlan, 2019:27). Adapun variasi lainnya
menurut Zulganf dalam Sahlan (2019:27), unit analisis adalah sumber informasi
mengenai variabel yang akan diolah dalam penelitian. Dalam penelitian ini yang
sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh penulis untuk dipelajari sehingga
terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah daya tarik wisata. Dari
35
pengukuran variabel tersebut akan didapat data kuantitatif, agar data tersebut
menjadi informasi yang berguna maka hasil pengukuran tersebut akan diolah
atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam
bebas dan satu variabel terikat, secara operasional adalah sebagai berikut:
Skala
No Variabel Sub Variabel Indikator
Pengukuran
Jenis Kelamin a. Laki-laki
Nominal
b. Perempuan
a. <20 tahun
Usia b. 21-25 tahun Interval
c. >25 tahun
a. 1 kali
Frekuensi b. 2 kali
Berkunjung Nominal
c. 3 kali
Demografi d. >3 kali
1.
a. Teman/Saudara
Sumber b. Sekolah/Univertas
Informasi Nominal
c. Internet/Media Sosial
e. Lainnya
a. Sendiri
Kedatangan b. Teman
Bersama Nominal
c. Keluarga
d. Kelompok
36
Skala Likert menurut Sugiyono dalam Duli (2019:77-78) adalah suatu skala
skala yang paling banyak digunakan dalam riset berupa survei. Skala Likert digunakan
untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang
tentang fenomena sosial. Pada pengukuran skala Likert ini, pengukuran jawaban dari
Pilihan Skor
Sangat Setuju (SS) 6
Setuju (S) 5
Cukup Setuju (CS) 4
Kurang Setuju (KS) 3
Tidak Setuju (TS) 2
Sangat Tidak Setuju (STS) 1
yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Populasi
yang digunakan pada penelitian ini adalah pengujung yang pernah mengunjungi Kota
Tua Jakarta.
Siregar dalam Duli (2019:56) menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar dan peneliti
38
tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat
menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Sampel yang diambil harus betul-
betul representatif. Jika sampel tidak representatif maka hasil penelitian tidak dapat
dipercaya.
dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh
Untuk itu ditentukan jumlah sampel yang akan diambil melalui rumus Slovin, yaitu:
𝑁
𝑛=
1 + 𝑁(𝑒)2
Keterangan:
N : Ukuran populasi
Berdasarkan data dari Kota Tua Jakarta menyatakan bahwa jumlah pengunjung
dari Kota Tua Jakarta tahun 2019 adalah sebanyak 2.002.470 pengunjung (Gambar 3.1)
39
Maka sesuai rumus di atas, jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah:
2.002.470
n=
1+2.002.470(0,1)2
2.002.470
n=
1+20.024,7
Sesuai dengan perhitungan di atas, maka kuesioner atau penarikan sampel yang
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau
ini, data primer yang digunakan adalah kuesioner. Data yang diperoleh adalah
Kota Tua Jakarta. Kuesioner yang digunakan oleh penulis adalah kuesioner
online dengan bantuan google form dan kuesioner akan disebar melalui media
2. Data sekunder
adalah data yang merupakan hasil pengumpulan orang atau instasi lain dalam
bentuk publikasi. Dalam hal tersebut yang dimaksud adalah data yang diperoleh
yang dibahas, website, internet, dan sumber data lainnya yang dijadikan sebagai
bahan referensi.
41
Menurut Tanumihardja (2017:38), data yang telah ada, baik data primer
data tersebut. Kegiatan menganalisis data terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan pengecekan data dan mengumpulkan semua data yang
telah diperoleh secara primer dan sekunder. Data primer dilakukan dnegan
Pada tahap ini dilakukan analisis dari kuesioner yang telah disebarkan secara
Di tahap ini akan diperoleh kesimpulan apa yang menjadi pengaruh daya tarik
wisata terhadap minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta dan faktor
digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid dinyatakan instrumen
tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji validitas
ini dilakukan guna menentukan sah atau tidaknya suatu kuesioner dalam suatu
penelitian. Hasil uji validitas memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar suatu
pertanyaan atau pernyataan dapat dinyatakan valid. Menurut Sugiyono (2010) kriteria
a. Jika rhitung > rtabel, maka item-item pertanyaan dari kuesioner adalah valid.
b. Jika rhitung < rtabel, maka item-item pertanyaan dari kuesioner adalah tidak valid.
n : jumlah responden
Jumlah n pada penelitian ini adalah 100. Sehingga derajat kebebasan menjadi
cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena
43
instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius
reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang
benar sesuai dengan kenyataannya, maka beberapa kalipun diambil tetap akan sama.
cronbach’s alpha (α). Sudibyo dalam Wirajaya (2019:36) menyatakan bahwa butir
Deskripsi tersebut dapat dilihat dari dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian
∑𝑋
Mx =
𝑁
44
Keterangan:
Siregar dalam Gennifer (2020:47) menyatakan bahwa mean atau nilai rata-rata
digunakan dalam analisis data deskriptif untuk mengetahui kecenderungan nilai tengah
suatu data terkumpul. Dari hasil rata-rata ditentukan interval kelas untuk menentukan
kategori penafsiran hasil data. Dalam penelitian ini, digunakan 6 kelas interval untuk
Internal Penafsiran
yang menyatakan kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih atau juga dapat
sedangkan untuk arah dinyatakan dalam bentuk positif (+) dan negatif (-). Misalnya:
bertolak belakang antara variabel X dan variabel Y, bila variabel X naik, maka
variabel Y turun.
Pada tabel 3.4 akan dipaparkan mengenai tingkat korelasi dan kekuatan hubungan:
yang menyatakan atau digunakan untuk mengetahui kontribusi atau sumbangan yang
diberikan oleh sebuah varibel atau lebih X (bebas) terhadap variabel Y (terikat).
KD = (r)2 x 100%
Keterangan:
mengetahui seberapa besar tingkat pengaruh variabel daya tarik wisata terhadap
variabel minat berkunjung. Nilai R2 ini mempunyai range antara 0 sampai 1 atau (0 ≤
R2 ≤ 1). Semakin besar R2 (mendekati satu) semakin baik hasil regresi tersebut, dan
semakin mendekati 0 maka variabel bebas secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan
variabel terikat.
Menurut Priyatno dalam Gennifer (2020:51) analisis regresi linear sederhana dilakukan
untuk mengukur besarnya pengaruh antara satu variabel independen dengan satu
Y=a+bX
47
Keterangan:
Y : Variabel terikat
a : Konstanta
b : Koefisien regresi
X : Variabel bebas
Dalam penelitian ini, maka uji regresi linear sederhana digunakan untuk melihat arah
hubungan fungsional atau kausal antara variabel daya tarik wisata (variabel
jauh pengaruh satu variabel independen secara parsial dalam menerangkan variasi
variabel dependen. Uji t dilakukan pertama dengan cara menentukan tingkat signifikasi
α = 5%. Uji ini dilaksanakan dengan membandingkan nilai t hitung dengan t tabel
dengan rumus:
r √ (n – 2)
t hitung =
√ (1 – r2)
Keterangan:
r = koefisien korelasi
n = jumlah sampel
48
a. Ho: β ≤ 0, artinya tidak terdapat pengaruh dari daya tarik wisata terhadap minat
b. H1: β > 0, artinya terdapat pengaruh dari daya tarik wisata terhadap minat
Penelitian ini dilakukan dari bulan September sampai November 2020 dan
BAB IV
Sejarah Kota Tua Jakarta dimulai dari sebuah pelabuhan yang kini dikenal
sebagai Sunda Kelapa. Pelabuhan ini pernah dikenal berbagai bangsa di dunia sebagai
Pelabuhan Sunda Kelapa diserang oleh tentara Demak yang dipimpin oleh Fatahillah
dan setelah berhasil direbut namanya diganti menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527.
Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa.
Kota Jayakarta hancur diserang VOC Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin
oleh Jan Pieters Zoon Coen. Pada tahun 1620 diatas reruntuhan kota Jayakarta, Belanda
membangun kota baru yang diberi nama Batavia sebagai penghormatan atas kaum
Batavieren (leluhur bangsa Belanda) disebelah sungai Ciliwung yang pusat kotanya
kini masih terlihat di sekitar Taman Fatahillah. Orang-orang pribumi Batavia dijuluki
Batavianen yang kemudian dikenal sebagai orang Betawi, terdiri dari etnis kreol yang
Kota Batavia pada tahun 1635 diperluas ke sebelah barat sungai Ciliwung diatas
kota Jayakarta yang hancur. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap
dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal dengan sistem
50
pertahanannya berupa tembok dan parit sekeliling kota. Tata ruang kota dibagi kedalam
blok-blok yang dipisahkan oleh kanal. Pembangunan kota Batavia selesai pada tahun
1650.
Setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942, nama Batavia diganti menjadi
Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang. Tahun 1972,
Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekret yang resmi menjadikan Kota Tua
sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah
Gambar 4.1 Peta Batavia dengan bentengnya (Kasteel) pada tahun 1667
Sumber: Wikipedia
Nomor 34 Tahun 2005, Kawasan Cagar Budaya Kota Tua adalah kawasan seluas
sekitar 846 Ha yang terletak di Kotamadya Jakarta Utara dan Kotamadya Jakarta Barat.
Di tengah-tengah Kawasan Cagar Budaya Kota Tua ditetapkan zona inti, yaitu area
yang memiliki nilai sejarah yang lebih bernilai. Kawasan Cagar Budaya Kota Tua
Batasnya ke arah utara dari bentangan rel kereta api. Karakter zona ini adalah bahari
Batasnya adalah sekitar Taman Fatahillah, Kalibesar dan Taman Beos. Karakter asal
zona ini adalah kota lama dengan populasi bangunan tua terbanyak. Visi
pengembangannya adalah memori masa lalu, yang memberi fungsi baru sebagai
museum, industri kreatif dan fungsi campuran. Pada zonasi ini dikenakan retriksi yang
Batasnya adalah sekitar Glodok Pancoran. Karakter zona budaya etnik Cina baik
Batasnya adalah sekitar Pakojan, Jembatan Lima dan Bandengan. Karakter zonanya
adalah budaya religius karena pada zona ini terdapat beberapa masjid tua. Visi
Batasnya adalah dari Pancoran ke arah Jalan Gajah Mada (Gedung Arsip). Visi
Kota Tua Jakarta merupakan salah satu tempat wisata yang paling popular di
Jakarta. Daya tarik Kota Tua yang utama terletak pada bangunan peninggalan kolonial
Belanda yang masih terjaga baik. Adapun tempat-tempat yang merupakan daya tarik
Museum Sejarah Jakarta atau dikenal sebagai Museum Fatahillah adalah ikon dari Kota
Tua Jakarta. Dalam museum ini, pengunjung dapat mengenal tentang sejarah Indonesia
Dewasa: Rp5.000
Mahasiswa: Rp3.000
Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu memajang
koleksi keramik dan seni rupa lainnya dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era
Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia. Disana pengunjung
juga dapat berwisata sambil belajar perkembangan kesenian Indonesia dari masa ke
masa.
Dewasa: Rp3.000
Mahasiswa: Rp1.000
3. Museum Wayang
54
Bangunan museum yang juga berada di kawasan Kota Tua Jakarta ini berdiri sejak
tahun 1640. Konon, museum wayang adalah gedung tempat berdirinya VOC. Gak
hanya penuh sejarah tentang VOC, Museum Wayang juga memiliki ribuan koleksi
wayang yang berasal dari seluruh Nusantara dan juga dari mancanegara.
Dewasa: Rp5.000
Mahasiswa: Rp3.000
4. Café Batavia
Kota Tua juga terkenal sebagai pusat kuliner enak di Jakarta dan sekitarnya, salah satu
café yang paling ikonik adalah Café Batavia yang terletak di depan Museum Fatahillah.
Café yang berdiri pada tahun 1993 ini dulunya merupakan bangunan peninggalan
bersejarah Belanda.
5. Museum Bahari
Bangunan museum ini pada mulanya digunakan sebagai gudang penyimpanan hasil
bumi untuk komoditas utama VOC. Namun sekarang telah dijadikan sebagai museum
yang menyimpan beragam perahu dan juga replika perahu serta peralatan yang dulunya
dipakai di masa VOC serta koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan
Dewasa: Rp5.000
Mahasiswa: Rp3.000
Museum Bank Indonesia ini adalah peninggalan De Javasche Bank dan sudah berdiri
terkait perjalanan dari dunia perbankan di Indonesia, sebelum bangsa Belanda dan
Dewasa: Rp5.000
Mahasiswa: Rp3.000
Selama periode 1850an dan 1860an, NHM telah bergerak dan membangun jalinan
Dibuka 7 Desember 2018, Magic Art 3D Museum Jakarta memiliki luas 2000 m2.
Museum ini memiliki berbagai ruangan yang berisi lukisan dengan seni ilusi tiga
dimensi. Di sini wisatawan dapat berfoto sepuasnya dengan lukisan 3D dan spot foto
instagrammable.
Dari tempat inilah, dunia mengetahui tentang Nusantara dan perdagangan dari bangsa
Tiongkok, India, dan Arab datang pada abad ke-12. Meskipun sudah tidak menjadi
pusat perdagangan lagi, Pelabuhan Sunda Kelapa kini menjadi dermaga transportasi
laut. Dengan banyaknya kapal besar bersandar, tempat ini kini menjadi spot perburuan
foto bagi para fotografer untuk hunting foto Jakarta di kala senja.
Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini yang terletak di tepi barat Kali Besar, Kota
Tua Jakarta. Dibangun pada tahun 1730 dan merupakan salah satu bangunan tertua di
Jakarta. Ciri khas warna merah pada bangunan ini yang menjadikan bekas kediaman
57
Gubernur-Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff terkenal dengan sebutan Toko
Jembatan Kota Intan adalah jembatan tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun
1628 oleh pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC. Jembatan itu
kini terletak di Kali Besar kawasan Kota Tua wilayah Jakarta Barat dan berada di
Tak hanya identikan dengan beragam bangunan arsitektur era kolonialisasi, namun di
Kota Tua juga memiliki kawasan pecinan, tepatnya ada di area Glodok. Terdapat
beberapa objek wisata menarik yang dapat dijumpai di Kawasan Pecinaan Glodok,
yaitu: Petak Sembilan, Vihara Dharma Bakti, dan Gereja Santa Maria de Fatima.
Setelah selesainya proses revitalisasi di pertengahan 2018, Kali Besar Kota Tua
menjelma menjadi ruang terbuka publik yang lebih ramah untuk wisatawan. Ruang
publik yang berada di area Kali Besar ini dikelilingi dengan beberapa bangunan
58
bersejarah dan juga fasilitas penunjang. Disana juga terdapat dermaga apung yang
Kota Tua Jakarta berada di alamat: Jalan Pintu Besar Utara Nomer 27, RT 07/
RW 07, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat, DKI Jakarta. Kota Tua Jakarta buka setiap
harinya selama 24 jam. Namun, untuk objek wisatanya masing-masing memiliki jam
operasionalnya sendiri. Kota Tua Jakarta memiliki fasilitas yang memadai seperti area
parkir, petunjuk jalan, penjual makanan, tempat ibadah, toilet, penginapan, dan lainnya.
Letak Kota Tua Jakarta sangat strategis sehingga mudah untuk dicapai oleh
yang melewati Kota Tua antara lain: KRL, Transjakarta, Jak Lingko, Mikrolet, dan
Kopaja. Wisatawan nusantara dan mancanegara yang mengunjungi Kota Tua ini cukup
Tabel 4.1 Acara Yang Telah Diselenggarakan di Kota Tua Jakarta 2020
No Jadwal Acara
18 Januari 2020 Latihan Gabungan Pencak Silat DPD PPSI
1
Taman Fatahillah DKI JAKARTA Kawasan Kota Tua Jakarta
13 Januari – 8 Februari 2020 Menjelang Tahun Baru Imlek dan Cap Go
2
Pantjoran Tea House Meh
25 Januari 2020 Ngobrol Saptu #12: Peluncuran Buku
3
Museum Bank Mandiri “Pusaka Tionghoa”
25 Januari 2020 Kota Tua Berzikir Bersama Majelis Dzikir
4
Taman Fatahillah Ruhha Fatahillah
25 Januari 2020 National Chef Day and The Thirteenth
5
Taman Fatahillah Indonesian Chef Association Anniversary
5 Februari 2020
6 Masjid Jami’ Al-Mukarramah Taklim Bulanan Pembacaan Qasidah Burdah
Maqam Kramat Kp. Bandan
60
Berdasarkan data pengunjung Kota Tua Jakarta tahun 2019 yang berjumlah
pencarian data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner secara online dengan
bantuan google form yang disebar melalui media sosial. Data diri responden terinci
61
dalam jenis kelamin, usia, frekuensi berkunjung, sumber informasi, dan kunjungan
Jenis Kelamin
laki ada 30 orang (30%) dan perempuan ada 70 orang (70%). Sehingga dapat
disimpulkan bahwa wisatawan yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta, didominasi
Usia
21
3%
Berdasarkan data usia responden, diketahui bahwa wisatawan yang berusia <21
tahun ada 48 orang (48%), berusia 21-25 tahun ada 49 orang (49%), dan yang berusia
>25 tahun ada 3 orang (3%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata usia
wisatawan yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta, didominasi oleh rentang usia
21-25 tahun.
Frekuensi Berkunjung
berkujung sebanyak 1 kali ada 18 orang (18%), sebanyak 2 kali ada 14 orang (14%),
sebanyak 3 kali ada 17 orang (17%), dan sebanyak >3 kali ada 51 orang (51%).
Sehingga dapat disimpulkan wisatawan yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta,
Sumber Informasi
(26%), dan mengetahui dari yang lainnya ada 11 orang (11%). Sehingga dapat
disimpulkan Kota Tua Jakarta didominasi oleh wisatawan yang mengetahui informasi
Kunjungan Bersama
3%
berkujung sendiri ada 3 orang (3%), dengan teman ada 68 orang (68%), dengan
keluarga ada 14 orang (14%), dan dengan kelompok ada 15 orang (15%). Sehingga
dapat disimpulkan wisatawan yang pernah mengunjungi Kota Tua Jakarta, didominasi
dilakukan dengan menggunakan analisis Rank Pearson dalam SPSS versi 25. Suatu
pernyataan dapat dikatakan valid apabila nilai r hitung > r tabel. Penelitian ini
menggunakan r tabel pada signifikasi 0,05 dengan jumlah data (n) = 100, dimana df =
Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas Daya Tarik Wisata (Variabel Bebas)
Hasil dari uji validitas Tabel 4.2 menunjukan bahwa seluruh indikator
pernyataan yang berjumlah 18 butir untuk variabel daya tarik wisata mempunyai r
hitung yang lebih besar dari r tabel. Maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pernyataan
dinyatakan valid.
Hasil dari uji validitas Tabel 4.3 menunjukan bahwa seluruh indikator
hitung yang lebih besar dari r tabel. Maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pernyataan
dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu variabel dapat dikatakan reliabel apabila
nilai Cronbach Alpha > 0,60. Hasil uji perhitungan disajikan dalam tabel sebagai
berikut:
Tabel 4.4 Hasil Uji Reliabilitas Daya Tarik Wisata (Variabel Bebas)
Reliability Statistics
Cronbach's N of Items
Alpha
,918 18
Sumber: Data Primer diolah
nilai cronbach alpha sebesar 0,918 yang artinya lebih besar dibandingkan 0,60.
variabel daya tarik wisata dinyatakan handal atau dapat dipercaya sebagai alat ukur.
Reliability Statistics
Cronbach's N of Items
Alpha
,828 12
Sumber: Data Primer diolah
67
nilai cronbach alpha sebesar 0,828 yang artinya lebih besar dibandingkan 0,60.
variabel minat berkunjung dinyatakan handal atau dapat dipercaya sebagai alat ukur.
Dalam bagian ini akan dipaparkan dalam bentuk statistik deskriptif seluruh
jawaban responden dari kuesioner yang telah disebarkan agar hasil dari penelitian lebih
mudah dibaca dan dimengerti. Hasil data yang diolah akan dipaparkan dalam bentuk
Sub variabel atraksi terdiri dari empat indikator pernyataan yang dilampirkan
dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Empat indikator pernyataan
tersebut adalah: (1) Kota Tua Jakarta memiliki suasana yang menarik; (2) Kota Tua
Jakarta terdapat peninggalan yang memiliki nilai sejarah tinggi; (3) Kota Tua Jakarta
merupakan destinasi yang tepat dikunjungi untuk berwisata sejarah; dan (4) Terdapat
banyak kegiatan yang dapat dilakukan di Kota Tua Jakarta. Berikut disajikan dalam
tabel:
Hasil pengukuran indikator Atraksi 1 yaitu “Kota Tua Jakarta memiliki suasana
yang menarik” dalam tabel 4.6 menunjukan bahwa nilai mean 4,78 artinya responden
cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation 0,980. Sedangkan dari
tabel 4.7 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju dengan jumlah 40
responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju dengan jumlah 1 responden.
peninggalan yang memiliki nilai sejarah tinggi” dalam tabel 4.6 menunjukan bahwa
nilai mean 5,53 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan nilai
standard deviation 0,758. Sedangkan dari tabel 4.7 menunjukan responden lebih
banyak menjawab sangat setuju dengan jumlah 63 responden dan tidak ada yang
destinasi yang tepat dikunjungi untuk berwisata sejarah” dalam tabel 4.6 menunjukan
bahwa nilai mean 5,47 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan
69
nilai standard deviation 0,822. Sedangkan dari tabel 4.7 menunjukan responden lebih
banyak menjawab sangat setuju dengan jumlah 62 responden dan tidak ada yang
dapat dilakukan di Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.6 menunjukan bahwa nilai mean
4,66 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation
0,966. Sedangkan dari tabel 4.7 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup
setuju dengan jumlah 38 responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju
Sub variabel fasilitas terdiri dari empat indikator pernyataan yang dilampirkan
dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Empat indikator pernyataan
tersebut adalah: (1) Kota Tua Jakarta memiliki fasilitas wisata yang memadai; (2) Kota
Tua Jakarta memiliki pusat informasi yang responsif; (3) Kota Tua Jakarta
menyediakan tempat ibadah yang bersih; dan (4) Terdapat tempat makan dan toko
suasana yang menarik” dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa nilai mean 4,30 artinya
responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation 0,859.
Sedangkan dari tabel 4.9 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju
dengan jumlah 51 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.
Hasil pengukuran indikator Fasilitas 2 yaitu “Kota Tua Jakarta memiliki pusat
informasi yang responsif” dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa nilai mean 4,28 artinya
responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation 0,922.
Sedangkan dari tabel 4.9 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju
dengan jumlah 38 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.
tempat ibadah yang bersih” dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa nilai mean 4.18 artinya
responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation 1,077.
Sedangkan dari tabel 4.9 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju
dengan jumlah 38 responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju dengan
71
jumlah 1 responden.
Hasil pengukuran indikator Fasilitas 4 yaitu “Terdapat tempat makan dan toko
souvernir di sekitar Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.8 menunjukan bahwa nilai mean
5,12 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation
0,820. Sedangkan dari tabel 4.9 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju
dengan jumlah 41 responden dan dan tidak ada yang memilih sangat tidak setuju dan
tidak setuju.
dilampirkan dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Tiga indikator
tersebut adalah: (1) Kota Tua Jakarta memiliki area pejalan kaki yang memadai; (2)
Kota Tua Jakarta memiliki toilet yang bersih; dan (3) Kebersihan di Kota Tua Jakarta
1 Infrastruktur 1 1 1 2 19 41 36 100
2 Infrastruktur 2 6 6 29 34 16 9 100
3 Infrastruktur 3 2 4 20 32 32 10 100
Sumber: Data Primer diolah
area pejalan kaki yang memadai” dalam tabel 4.10 menunjukan bahwa nilai mean 5,06
artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation 0,941.
Sedangkan dari tabel 4.11 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju
dengan jumlah 41 responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju dan tidak
toilet yang bersih” dalam tabel 4.10 menunjukan bahwa nilai mean 3,75 artinya
responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation 1,242.
Sedangkan dari tabel 4.11 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju
dengan jumlah 34 responden dan paling sedikit menjawab sangat tidak setuju dan tidak
Jakarta selalu terjaga dan terawat” dalam tabel 4.10 menunjukan bahwa nilai mean 4,18
artinya responden cenderung menjawab cukup setuju dengan nilai standard deviation
1,114. Sedangkan dari tabel 4.11 menunjukan responden yang menjawab cukup setuju
dan setuju masing-masing berjumlah 32 responden dan paling sedikit menjawab sangat
Sub variabel transportasi terdiri dari tiga indikator yang dilampirkan dalam
kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Tiga indikator tersebut adalah: (1)
Letak Kota Tua Jakarta strategis dan mudah dicapai; (2) Kota Tua Jakarta dapat
dijangkau dengan transportasi umum; dan (3) Terdapat akses dan petunjuk yang jelas
strategis dan mudah dicapai” dalam tabel 4.12 menunjukan bahwa nilai mean 5,16
artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan nilai standard deviation
0,950. Sedangkan dari tabel 4.13 menunjukan responden lebih banyak menjawab
sangat setuju dengan jumlah 46 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak
setuju.
74
dijangkau dengan transportasi umum” dalam tabel 4.12 menunjukan bahwa nilai mean
5,50 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan nilai standard
deviation 0,798. Sedangkan dari tabel 4.13 menunjukan responden lebih banyak
menjawab sangat setuju dengan jumlah 64 responden dan tidak ada yang menjawab
yang jelas untuk mencapai Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.12 menunjukan bahwa nilai
mean 5,35 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan nilai standard
deviation 0,783. Sedangkan dari tabel 4.13 menunjukan responden lebih banyak
menjawab sangat setuju dengan jumlah 51 responden dan tidak ada yang menjawab
dilampirkan dalam kuesioner untuk disebarkan kepada 100 responden. Empat indikator
pernyataan tersebut adalah: (1) Terdapat pengelola kawasan wisata Kota Tua Jakarta;
(2) Wisatawan dapat berwisata dengan aman di Kota Tua Jakarta; (3) Lingkungan di
Kota Tua Jakarta membuat wisatawan merasa nyaman; dan (4) Adanya perilaku yang
ramah dari pelaku usaha kepada pengunjung. Berikut disajikan dalam tabel:
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pelayanan1 100 3 6 4,98 ,804
Pelayanan2 100 1 6 4,44 1,018
Pelayanan3 100 2 6 4,45 ,947
Pelayanan4 100 2 6 4,69 ,929
Valid N (listwise) 100
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25
wisata Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai mean 4,98 artinya
Sedangkan dari tabel 4.15 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju
dengan jumlah 45 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju dan
tidak setuju.
dengan aman di Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai mean
4,44 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation
1,018. Sedangkan dari tabel 4.15 menunjukan responden menjawab cukup setuju dan
membuat wisatawan merasa nyaman” dalam tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai mean
4,45 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation
0,947. Sedangkan dari tabel 4.15 menunjukan responden lebih banyak menjawab
cukup setuju dengan jumlah 42 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak
setuju.
dari pelaku usaha kepada pengunjung” dalam tabel 4.14 menunjukan bahwa nilai mean
4,69 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation
0,929. Sedangkan dari tabel 4.15 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju
dengan jumlah 44 responden dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.
Sub variabel faktor internal terdiri dari 4 indikator pernyataan yang dilampirkan
tersebut adalah: (1) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk memenuhi rasa
penasaran; (2) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk menambah wawasan; (3)
Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk mendapatkan pengalaman yang baru; dan
(4) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk bersantai dan mencari hiburan. Berikut
Tua Jakarta untuk memenuhi rasa penasaran” dalam tabel 4.16 menunjukan bahwa
nilai mean 4,81 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard
deviation 1,089. Sedangkan dari tabel 4.17 menunjukan responden lebih banyak
menjawab sangat setuju dengan jumlah 33 responden dan paling sedikit menjawab
sangat tidak setuju dan tidak setuju dengan jumlah masing-masing 1 responden.
Tua Jakarta untuk menambah wawasan” dalam tabel 4.16 menunjukan bahwa nilai
mean 4,89 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard
deviation 0,952. Sedangkan dari tabel 4.17 menunjukan responden lebih banyak
menjawab setuju dengan jumlah 47 responden dan paling sedikit menjawab sangat
78
Tua Jakarta untuk mendapatkan pengalaman yang baru” dalam tabel 4.16 menunjukan
bahwa nilai mean 5,10 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai
standard deviation 0,937. Sedangkan dari tabel 4.17 menunjukan responden lebih
banyak menjawab sangat setuju dengan jumlah 40 responden dan tidak ada yang
Tua Jakarta untuk bersantai dan mencari hiburan” dalam tabel 4.16 menunjukan bahwa
nilai mean 4,71 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard
deviation 1,122. Sedangkan dari tabel 4.17 menunjukan responden lebih banyak
menjawab setuju dengan jumlah 39 responden dan paling sedikit menjawab sangat
Sub variabel faktor motif sosial terdiri dari 4 indikator pernyataan yang
pernyataan tersebut adalah: (1) Saya mengunjungi Kota Tua Jakarta karena pengaruh
dari media sosial; (2) Saya membagikan momen di media sosial saat berkunjung ke
Kota Tua Jakarta; (3) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta karena rekomendasi oleh
orang lain; dan (4) Saya berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk berjumpa dengan
79
Kota Tua Jakarta karena pengaruh dari media sosial” dalam tabel 4.18 menunjukan
bahwa nilai mean 3,65 artinya responden cenderung menjawab cukup setuju dengan
nilai standard deviation 1,410. Sedangkan dari tabel 4.19 menunjukan responden lebih
banyak menjawab cukup setuju dengan jumlah 34 responden dan paling sedikit
menjawab sangat tidak setuju dan sangat setuju dengan jumlah masing-masing 10
responden.
momen di media sosial saat berkunjung ke Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.18
menunjukan bahwa nilai mean 4,31 artinya responden cenderung menjawab setuju
80
dengan nilai standard deviation 1,376. Sedangkan dari tabel 4.19 menunjukan
responden lebih banyak menjawab setuju dengan jumlah 26 responden dan paling
Kota Tua Jakarta karena rekomendasi oleh orang lain” dalam tabel 4.18 menunjukan
bahwa nilai mean 3,99 artinya responden cenderung menjawab cukup setuju dengan
nilai standard deviation 1,425. Sedangkan dari tabel 4.19 menunjukan responden lebih
banyak menjawab cukup setuju dengan jumlah 27 responden dan paling sedikit
Kota Tua Jakarta untuk berjumpa dengan seseorang” dalam tabel 4.18 menunjukan
bahwa nilai mean 3,30 artinya responden cenderung menjawab kurang setuju dengan
nilai standard deviation 1,487. Sedangkan dari tabel 4.19 menunjukan responden lebih
banyak menjawab cukup setuju dengan jumlah 26 responden dan paling sedikit
pernyataan tersebut adalah: (1) Saya merasa puas dengan Kota Tua Jakarta; (2) Saya
merasa bangga dengan Kota Tua Jakarta sebagai destinasi di Jakarta; (3) Saya merasa
81
bahagia dapat berkunjung ke Kota Tua Jakarta; dan (4) Saya ingin berkunjung kembali
dengan Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.20 menunjukan bahwa nilai mean 4,58 artinya
Sedangkan dari tabel 4.21 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju
dengan jumlah 44 responden dan tidak ada yang menjawab tidak setuju.
dengan Kota Tua Jakarta sebagai destinasi di Jakarta” dalam tabel 4.20 menunjukan
bahwa nilai mean 5,21 artinya responden cenderung menjawab sangat setuju dengan
82
nilai standard deviation 0,769. Sedangkan dari tabel 4.21 menunjukan responden lebih
banyak menjawab setuju dengan jumlah 43 responden dan tidak ada yang menjawab
dapat berkunjung ke Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.20 menunjukan bahwa nilai mean
4,79 artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation
0,880. Sedangkan dari tabel 4.21 menunjukan responden lebih banyak menjawab setuju
dengan jumlah 38 responden dan dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.
kembali ke Kota Tua Jakarta” dalam tabel 4.20 menunjukan bahwa nilai mean 4,70
artinya responden cenderung menjawab setuju dengan nilai standard deviation 0,980.
Sedangkan dari tabel 4.21 menunjukan responden lebih banyak menjawab cukup setuju
dengan jumlah 34 responden dan dan tidak ada yang menjawab sangat tidak setuju.
variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel daya tarik wisata (Variabel Bebas)
terhadap minat berkunjung (Variabel Terikat). Uji ini dapat mengukur seberapa kuat
hubungan yang dihasilkan kedua variabel dalam penelitian ini. Selain itu uji ini
bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan keduanya signifikan atau tidak. Data
83
diolah dengan menggunakan program SPSS versi 25 untuk mencari korelasi Pearson
Correlations
Daya Tarik Minat
WIsata (X) Berkunjung
(Y)
Daya Tarik WIsata Pearson Correlation 1 ,681**
(X) Sig. (2-tailed) ,000
N 100 100
Minat Berkunjung (Y) Pearson Correlation ,681** 1
Sig. (2-tailed) ,000
N 100 100
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Sumber: Hasil Olahan SPSS 25
Berdasarkan tabel 4.22 di atas, dapat diketahui bahwa nilai korelasi Pearson
sebesar 0,681. Menurut pedoman kriteria penafsiran koefisien korelasi dari Sugiyono
(2008), menggambarkan hubungan yang kuat. Maka berdasarkan nilai korelasi Pearson
tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan antara variabel Daya Tarik Wisata (X)
dengan variabel Minat Berkunjung (Y) adalah kuat. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa daya tarik wisata memiliki hubungan positif yang kuat dimana jika nilai daya
tarik wisata meningkat maka minat berkunjung wisatawan ke Kota Tua Jakarta pun
seberapa besar variasi variabel dependen terhadap variabel independen. Nilai R² berada
pada interval 0 ≤ R² ≤ 1, dan semakin dekat nilai R ke nilai 1 (satu) maka semakin baik
data yang tergambar dalam estimasi model. Uji determinasi dilakukan dengan
menggunakan SPSS versi 25, berikut adalah hasil uji determinasi dalam penelitian ini:
Berdasarkan data pada tabel 4.23 dapat diketahui bahwa nilai koefisien
determinasi terdapat pada nilai R Square yaitu sebesar 0,463 atau 46,3%. Hal ini berarti
variasi variabel minat berkunjung dapat dijelaskan oleh variabel independen (daya tarik
wisata) sebesar 46,3%. Sedangkan 53,7% (100% – 46,3% = 53,7%) dijelaskan oleh
Uji analisis regresi linear sederhana adalah hubungan secara linear antara satu
Berkunjung) yang dilakukan untuk mengetahui arah hubungan apakah daya tarik
wisata berhubungan positif atau negatif terhadap minat berkunjung. Adapun hasil
Berdasarkan analisis data pada tabel 4.24, maka diperoleh hasil persamaan
Y = 20,147 + 1,826
dengan variabel dependen secara parsial, dari persamaan tersebut dapat diambil
secara matematis pada saat variabel daya tarik wisata bernilai nol (0), maka minat
berkunjung wisatawan untuk mengunjungi daerah tujuan wisata adalah sebesar 1,826.
Hal ini menggambarkan bahwa arah hubungan antara variabel daya tarik wisata dengan
variabel minat berkunjung adalah searah atau positif, ini berarti setiap kenaikan satu
satuan variabel daya tarik wisata akan menyebabkan kenaikan nilai minat berkunjung
sebesar 1,826.
Uji t dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh variabel bebas secara
parsial terhadap variabel terikat. Penelitian ini menggunakan t tabel dengan rumus t
tabel = t (a/2; n-k-1), dimana t (0,05/2; 100-5-1) = (0,025; 94) = 1,98552. Hasil uji t
pada variabel daya tarik wisata dengan program SPSS versi 25 dapat dilihat dalam tabel
berikut:
Variabel dapat dikatakan berpengaruh apabila nilai t hitung > t tabel pada
signifikasi 0,05. Sebaliknya apabila nilai t hitung < t tabel pada signifikasi 0,05 maka
variabel dapat dikatakan tidak berpengaruh. Berdasarkan hasil uji t dalam tabel 4.25
dapat disimpulkan bahwa t hitung > t tabel yaitu 9,201 > 1,985. Maka dapat
disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa variabel daya tarik wisata
5.1 Kesimpulan
kuesioner kepada 100 responden, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil uji validitas dan uji reliabilitas yang dilakukan menunjukkan
bahwa semua variabel serta indikator pernyataan dinyatakan valid dan reliabel
menunjukan bahwa nilai korelasi sebesar 0,681 yang berarti variabel daya tarik
wisata mempunyai pengaruh yang kuat dan bersifat positif terhadap minat
Jakarta. Sedangkan 53,7% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
jika prediktor daya tarik wisata dinilai nol maka minat berkunjung akan sama
dengan nilai konstanta yaitu sebesar 20,147 dimana apabila daya tarik wisata
87
88
5. Berdasarkan Uji Hipotesis t, yaitu t hitung sebesar 9,201 lebih besar dari pada
t tabel yaitu 1.985 maka H0 dalam penelitian ini ditolak. Jadi dapat disimpulkan
bahwa hipotesis yang diterima dalam penelitian ini adalah H1 dimana daya tarik
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dijelaskan, ada beberapa saran yang ingin
penulis ajukan kepada pihak pengelola Kota Tua Jakarta, antara lain:
1. Berdasarkan mean terendah dari variabel daya tarik wisata yaitu faktor
terutama untuk fasilitas umum seperti toilet dan mushola agar tetap terlihat
DAFTAR PUSTAKA
Deksono, Favian Rachmadi. 2017. “Pengaruh Motivasi Wisata dan E-WOM Terhadap
Minat Berkunjung ke Daya Tarik Wisata Goa Pindul”. Skripsi. Yogyakarta:
Fakultas Ekonomi Universitas Santa Dharma. Yogyakarta.
Diniyah, Fitrotud dkk. 2018. “Pengaruh Daya Tarik Wisata Terhadap Minat Kunjungan
Ulang Wisatawan Studi di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta”. Jurnal
Fakultas Usaha Perjalanan Wisata: Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA
Yogyakarta. No.1. Vol 1. 1-13.
Fajaria, Novieta. 2020. “Pengaruh Daya Tarik, Aksesibilitas, Harga, Fasilitas, dan
Promosi terhadap Minat Berkunjung Wisatawan ke Puro Mangkunegaran,
Surakarta”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Ekonomi Agama Islam Negeri
Surakarta.
Hamdi, Asep Saepul dan E. Bahruddin. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Aplikasi
dalam Pendidikan. Yogyakarta: Deepublish.
Ihwan, Misbahul Munirul. 2016. “Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan
pada PT. Smart Multi Finance Malang”. Thesis. Malang: Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Natasha, Anabel. 2020. “Pengaruh Daya Tarik Wisata Galeri Nasional Indonesia
Terhadap Motivasi Pengunjung”. Skripsi. Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan
Wisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.
Revida, Erika dkk. 2020. Pengantar Pariwisata. Jakarta: Yayasan Kita Menulis.
Sahlan, Emanuel Geordy Valianto. 2019. “Pengaruh Revitalisasi Daya Tarik Wisata
Kali Besar Jakarta Terhadap Minat Wisatawan untuk Berkunjung”. Skripsi.
Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan Wisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.
Saputra, Randi. 2018. “Pengaruh Iklan dan Citra Merek Terhadap Minat Beli
Konsumen Produk Merek Honda Survei Konsumen Pada Dealer CV. Cempaka
Motor di Kabupaten Sijunjung”. Jurnal FISIP. No.1. Vol 5. 1-19.
Siregar, Syofian. 2017. Statistika Terapan untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kencana.
Sudjarwadi, Doddy. 2012. “Kawasan lama merupakan cikal bakal dari perkembangan
sebuah kota”. Skripsi. Jakarta.
Tanumihardja, Yosua Rendi. 2017. “Minat Pengunjung terhadap Kawasan Kota Tua
Jakarta”. Skripsi. Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan Wisata Sekolah Tinggi
Pariwisata Trisakti.
Wirajaya, Elfrijo Bijak. 2019. “Pengaruh Daya Tarik Wisata Terhadap Minat
Kunjungan Ulang Wisatawan ke Kawasan Puncak, Kabupaten Bogor”. Skripsi.
Jakarta: Fakultas Usaha Perjalanan Wisata Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti.
SUMBER INTERNET
Khairunnisa, Syifa Nuri. 2019. "7 Kegiatan Seru di Kota Tua Jakarta, Liburan Murah
Meriah". [Link]
seru-di-kota-tua-jakarta-liburan-murah-meriah. Diakses tanggal 22 September
2020. Pukul 13.34.
Yuliana. 2019. “10 Tempat Wisata Kota Tua Jakarta yang Wajib Dikunjungi, Gak
Cuma Bangunan Kuno”. [Link]
jakarta/. Diakses tanggal 17 Oktober 2020. Pukul 15.15.