i
SEKOLAH STAF DAN KOMANDO ANGKATAN DARAT
OPTIMALISASI KEMAMPUAN TIM 42 GRUP 3
KOPASSUS DALAM MENGANTISIPASI PERANG SIBER
(CYBER WARFARE)
KARYA TULIS MILITER ILMIAH
Nama : Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
Nosis : 57054
Dikreg : LVII Seskoad
Diajukan dalam rangka menyelesaikan tugas akhir pendidikan
Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat
Bandung, Oktober 2019
i
ii
LEMBAR PERSETUJUAN
Judul Karlismil : OPTIMALISASI KEMAMPUAN TIM 42
GRUP 3 KOPASSUS DALAM
MENGANTISIPASI PERANG SIBER (CYBER
WARFARE)
Penulis : Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
Nosis : 57054
Telah disetujui oleh :
Mengetahui :
Kepala Depertemen Sos dan Tek Seskoad Perwira Pembimbing
Suparlan Purwo Utomo, S.I.P., [Link]. Kuswanto, [Link]., M.M
Kolonel Inf NRP 1900000671066 Kolonel Kav NRP 11050011330570
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Oleh : Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
Nosis : 57054
Judul Karlismil : OPTIMALISASI KEMAMPUAN TIM 42
GRUP 3 KOPASSUS DALAM
MENGANTISIPASI PERANG SIBER (CYBER
WARFARE)
Telah dipaparkan dihadapan Dewan Penguji pada :
Hari, tanggal : Oktober 2019
Waktu :
Tempat : Seskoad Bandung
Dinyatakan : Lulus / Tidak Lulus
1. Kolonel Kav Kuswanto, [Link]., M.M :
(Perwira Pembimbing)
2. ……………… :
(Penguji 1)
3. ……………… :
(Penguji 2)
iv
PERNYATAAN ORISINALITAS
Dengan ini saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa Karlismil
saya ini adalah hasil karya pemikiran dan ide sendiri, bukan dari plagiat
(menyalin, menyadur, mencontoh atau mengkopi) dari karya orang lain
atau Pasis sebelumnya. Apabila Karlismil saya ternyata dikemudian hari
ditemukan bukti-bukti yang mengandung unsur plagiat atau pelanggaran
lainnya (Juklak tentang produk Pasis) maka saya bersedia menerima
sanksi dari Dewan Kehormatan Akademik sesuai ketentuan yang berlaku.
Bandung, Oktober 2019
Perwira Siswa
Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
Nosis 57054
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
v
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai Perwira Siswa Sekolah Staf Komando AD, saya yang bertanda
tangan di bawah ini :
Nama : Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
Pangkat/Korp/NRP : Mayor Inf NRP 11040009870180
Nosis : 57054
Dikreg : LVII
Jenis Karya : Karlismil Ilmiah
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan
kepada Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat Hak Bebas Royalti
Non-Eksklusif (Non-exlusive Riyalty-Free Right) atas Karya Ilmiah saya
yang berjudul : OPTIMALISASI KEMAMPUAN TIM 42 GRUP 3
KOPASSUS DALAM MENGANTISIPASI PERANG SIBER (CYBER
WARFARE)
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Bebas Hak Royalti
Non-Eksklusif ini Seskoad berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan,
mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan
mempublikasikan yugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama
saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Bandung
Pada Tanggal : Oktober 2019
Yang menyatakan,
Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
Nosis 57054
ABSTRAKSI
vi
Nama : Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
Nosis : 57054
Judul : OPTIMALISASI KEMAMPUAN TIM 42 GRUP 3
KOPASSUS DALAM MENGANTISIPASI PERANG SIBER
(CYBER WARFARE)
Ancaman negara abad ke-21, tidak hanya didominasi oleh
kekuatan militer suatu negara, namun kekuatan non state actor seperti
terrorism, insurgency, cyber crime, human trafficking, pembajakan di laut
(piracy), jaringan narkotika (drug trafficking), bahkan termasuk
pelanggaran terhadap hak azasi manusia (human right). Ancaman di era
glolisasi tidak hanya ditujukan untuk menyerang instansi pemerintah atau
militer melainkan dapat mengancam seluruh aspek kehidupan
masyarakat, seperti ekonomi, politik, budaya, dan keamanan suatu
negara. Beberapa ancaman keamanan dan pertahanan nasional
dilakukan oleh non state actor, seperti terrorism, insurgency, cyber crime,
human trafficking, pembajakan di laut (piracy), jaringan narkotika (drug
trafficking), bahkan termasuk pelanggaran terhadap hak azasi manusia
(human right). Dalam konflik asymmteric warfare, dilakukan oleh non state
actor sebagai pihak lemah (weak) melawan pemerintah (state) sebagai
pihak yang kuat atau bagaimana negara lemah (weak state) melawan
negara yang kuat (strong state). Tim 42 Grup 3 Kopassus terdiri dari Unit
Jaringan dengan tugas pokok melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan
pelatihan di bidang Jaringan dunia Maya (cyber space), jaringan yang
bersifat LAN, WAN sampai dengan Internet. Namun kenyataan yang ada
di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare) kurang optimal,
merupakan sebuah ancaman bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang menggunakan doktrin pertahanan semesta dengan
vii
melibatkan seluruh warga negara, wilayah dan sumber daya nasional
lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan
diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut. Berkaitan
dengan permasalahan tersebut, maka diperlukan optimalisasi kemampuan
Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare).
Karya tulis ini mencoba menggali dan menganalisa kemampuan
Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI),
pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan khusus dalam mengantisipasi
perang siber (cyber warfare). Tulisan ini juga menganalisis strategi dan
langkah-langkah apa yang perlu dilakukan agar Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare) tersebut dapat lebih
efektif dalam mencapai sasaran. Metode yang digunakan dalam tulisan ini
adalah metode kualitatif. Pengumpulan dan pengolahan data kualitatif
dengan analisa deskriptif dan analisa SWOT.
Kata Kunci : Kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus, perang siber (cyber
warfare).
ABSTRACTION
Nama : Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
viii
Nosis : 57054
Title : OPTIMIZATION CAPABILITY OF TEAM 42 GROUP 3
KOPASSUS IN ANTICIPATING THE SIBER WAR
(CYBER WARFARE)
The threat of a 21st century country is not only dominated by a
country's military power, but the power of non-state actors such as
terrorism, insurgency, cyber crime, human trafficking, piracy, drug
trafficking, and even includes violations against human rights (human
rights). Threats in the era of globalization are not only aimed at attacking
government or military agencies but can threaten all aspects of people's
lives, such as the economy, politics, culture, and security of a country.
Some national security and defense threats are carried out by non-state
actors, such as terrorism, insurgency, cyber crime, human trafficking,
piracy, drug trafficking, even including violations of human rights (human
rights). In an asymmetrical warfare conflict, it is carried out by non-state
actors as weak parties against the government as strong parties or how a
weak state against a strong state. Team 42 of Kopassus Group 3 consists
of a Network Unit with the main task of carrying out work, activities and
training in the field of Cyber Networking, cyber networks, WANs to the
Internet. However, the reality on the ground shows that the ability of Team
42 of the Kopassus Group 3 in anticipating cyber warfare is not optimal, is
a threat to the sovereignty of the Unitary Republic of Indonesia which uses
the doctrine of universal defense by involving all citizens, regions and
national resources others, and are prepared early by the government and
are held in a total, integrated, directed, and continuing manner. In
connection with these problems, it is necessary to optimize the ability of
the Kopassus 42 Group 3 Team in anticipating cyber warfare.
This paper tries to explore and analyze the ability of Kopassus 42
Group 3 Teams in the field of information technology (IT) mastery,
ix
maintenance / procurement of special equipment in anticipation of cyber
warfare. This paper also analyzes the strategies and steps that need to be
taken so that the Kopassus 42 Group 3 Team in anticipating cyber warfare
can be more effective in achieving its goals. The method used in this
paper is a qualitative method. Collecting and processing qualitative data
with descriptive analysis and SWOT analysis.
Keywords: The ability of the Kopassus 42 Group 3 Team, cyber warfare.
KATA PENGANTAR
x
Segala puji bagi ALLAH SWT Tuhan semesta alam, karena atas
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Karya Tulis Militer Ilmiah dengan judul
“OPTIMALISASI KEMAMPUAN TIM 42 GRUP 3 KOPASSUS DALAM
MENGANTISIPASI PERANG SIBER (CYBER WARFARE)”, sebagai salah
satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan reguler Seskoad angkatan
LVII TA. 2019, dapat diselesaikan sesuai jadwal waktu yang ditentukan
oleh lembaga. Terima kasih kepada Papa dan Mama tercinta yang
senantiasa melantunkan Doa terbaiknya serta Terima kasih juga kepada
Istri dan anak – anakku tersayang dengan dukungan Doa dan
Semangatnya.
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis mencoba
mengetengahkan bahasan tentang upaya mengoptimalisasikan
kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi Perang
Siber (Cyber Warfare). Penulis mengambil judul tersebut dengan
pertimbangan bahwa perang siber (cyber warfare) merupakan sebuah
ancaman bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
menggunakan doktrin pertahanan semesta dengan melibatkan seluruh
warga negara, wilayah dan sumber daya nasional lainnya, serta
dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara
total, terpadu, terarah, dan berlanjut. Untuk itu penting diperlukan
optimalisasi kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi
perang siber (cyber warfare).
Bandung, Oktober 2019
Perwira Siswa
Abdullah Mahua, S.H.I., M.M.
DAFTAR ISI Nosis 57054
SAMPUL DEPAN ………………………………………......... i
xi
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN .................................................. iii
PERNYATAAN ORISINALITAS ......................................... iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI..................... v
ABSTRAK (BAHASA INDONESIA)..................................... vi
ABSTRACK (BAHASA INGGRIS)....................................... viii
KATA PENGANTAR .......................................................... x
DAFTAR ISI.......................................................................... xi
DAFTAR TABEL................................................................... xv
DAFTAR GAMBAR............................................................... xvi
DAFTAR SINGKATAN........................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................ xix
JUDUL .................................................................................... xx
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah.............................................. 1
1.2. Rumusan Masalah....................................................... 14
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian ..................................... 14
1.3.1. Maksud Penelitian ............................................ 14
1.3.2. Tujuan Penelitian .............................................. 14
1.4. Manfaat Penelitian ....................................................... 15
1.4.1 Aspek Teoritis ................................................... 15
1.4.2. Aspek Praktis..................................................... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Tinjauan Pustaka ........................................................ 16
2.1.1. Teori kemampuan ............................................ 16
2.1.2. Teori Network Centric Warfare (NCW) ............. 18
2.1.3. Doktrin Militer dalam Cyber Warfare ................. 19
2.2. Kerangka Pemikiran ..................................................... 22
2.3. Penelitian Terdahulu .................................................... 23
xii
2.3.1. Perang Siber (cyber warfare) di Dunia............. 23
2.3.2. Perang Dunia Maya……………………………… 24
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian ........................................................ 30
3.2. Data, Tehnik Pengumpulan Data dan Sumber Data .... 30
3.2.1. Data Primer........................................................... 31
3.2.2. Data Sekunder ..................................................... 32
3.2.3. Tehnik Pengumpulan Data .................................. 32
3.2.4. Sumber Data ....................................................... 34
3.3. Analisis Data ................................................................. 36
3.3.1. Redukasi Data .................................................... 36
3.3.2. Penyajian Data ................................................... 37
3.3.3 Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan ............... 37
3.4. Sistematika Penulisan .................................................. 37
3.5. Lokasi dan Jadwal Penelitian ....................................... 38
3.5.1. Lokasi Penelitian ................................................. 38
3.5.2. Jadwal Penelitian .................................................. 38
1. Pra Lapangan .......................................... 38
2. Analsis Data ............................................ 39
3. Penulisan Laporan Penelitian ................. 39
4. Penarikan Kesimpulan ........................... 40
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian.............................................................. 42
4.1.1. Gambaran umum lokasi penelitian dan informan... 42
4.1.2 Deskripsi hasil wawancara dengan informan.......... 45
4.2. Pembahasan....................................................................... 61
4.2.1. Meningkatkan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
di bidang penguasaan teknologi informasi (TI)............... 61
xiii
4.2.2. Pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan khusus
Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang
siber (cyber warfare)........................................................ 69
BAB V PEMECAHAN MASALAH
5.1. Metode Pemecahan Masalah.......................................... 72
5.1.1. Tujuan .................................................................. 72
5.1.2. Sasaran ................................................................ 72
5.1.3. Objek ..................................................................... 73
5.1.4. Subjek .................................................................... 74
5.1.5. Prosedur Pemecahan Masalah ............................. 75
5.1.6. Sarana dan Prasarana .......................................... 112
5.2. Gagasan Inovatif .............................................................. 113
5.2.1. Strategi-1............................................................... 113
5.2.2. Strategi-2............................................................... 114
5.2.3. Strategi-3............................................................... 114
5.2.4. Strategi-4............................................................... 115
5.2.5. Strategi-5............................................................... 115
5.2.6. Strategi-6............................................................... 116
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan.................................................................... 117
6.2 Saran ........................................................................... 118
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………….. 120
LAMPIRAN-LAMPIRAN
xiv
Lampiran-1 Pedoman Wawancara.......................................... 150
Lampiran-2 Surat Ijin Penelitian............................................... 156
Lampiran-3 Riwayat Hidup....................................................... 159
Lampiran-4 Dokumentasi Penelitian........................................ 160
DAFTAR TABEL
xv
Tabel 3.5.2 Jadwal Penelitian………………………………………...........
41
Tabel 4.1 Daftar Nama Narasumber / Informan dalam Penelitian......
43
Tabel 5.1 Matrik SWOT Optimalisasi Kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus………................................................................
76
Tabel 5.2 Internal Factor Analysis Summary (IFAS)..…..…………..
105
Tabel 5.3 External Factor Analysis Summary (EFAS)…..………….
107
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.2 Diagram Kerangka Pemikiran ……………........................
23
Gambar 4.2 Hubungan Doktrin, Strategi dan Kebijakan ……………….
59
Gambar 5.2 Matriks Strategi Posisi Terpilih Berdasarkan Hasil Analisis
SWOT........................................................................... 110
xvii
DAFTAR SINGKATAN
SINGKATAN KEPANJANGAN Pemakaian
pertama kali
pada halaman
AS Amerika Serikat) 1
ATM Automated Teller Machine 6
CCTV Closed Circuit Television 13
CIA Central Intelligence Agency 60
EFAS External Factor Analysis Summary 107
EKKO Evaluasi Kemantapan dan 43
Kesiapsiagaan Operasional
GPS Global Positioning System 18
IT IRMA International Monitoring Team 1
Information Technology Revolution
in Military
ICS-CERT Industrial Control Systems Cyber 28
Emergency Response Team
xviii
IDS Intrusion Detection System 67
IFAS Internal Factor Analysis Summary 105
ISP Internet Service Provider 6
JTFC Joint Task Force Command 19
JDAM Joint Direct Attack Munition 21
NSA National Security Agency 5
LAN Local Area Network 12
NERC North American Electric Reliability 9
Corporation
NCW Network Centric Warfare 18
NKRI Negara Kesatuan Republik 11
Indonesia
US Uni Soviet 1
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran-1 Pedoman Wawancara.............................................. 124
Lampiran-2 Surat Ijin Penelitian.................................................. 156
Lampiran-3 Riwayat Hidup.......................................................... 159
Lampiran-4 Dokumentasi Penelitian........................................... 160
xx
JUDUL
OPTIMALISASI KEMAMPUAN TIM 42 GRUP 3 KOPASSUS
DALAM MENGANTISIPASI PERANG SIBER
(CYBER WARFARE)
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah
mengubah ancaman perang semakin kompleks. Media internet sering
dijadikan sebagai alat senjata (tools) dalam melakukan perang. Perang
menggunakan teknologi internet dan jaringan komputer melalui media
siber (cyberspace), disebut perang siber (cyberwarfare). Di era globalisasi
dan teknologi internet sekarang ini telah mempengaruhi berbagai sendi
kehidupan dalam masyarakat, bangsa, dan negara di dunia. Kemajuan
Internet, telah menjadikan hubungan antar manusia, antar bangsa
semakin lebih mudah, cepat tanpa dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Hal
ini telah membuat pengaburan batas-batas negara (borderless) dan
menimbulkan saling ketergantungan (interdepensi) antar negara. Dengan
perkembangan teknologi yang sangat pesat telah merubah sistem
keamanan nasional dan informasi suatu negara. Inilah yang disebut era
globalisasi.
Pasca berakhir perang dingin (cold war) tahun 1989 antara Amerika
Serikat (AS) dengan Uni Sovyet (US), menjadikan AS sebagai satu-
satunya negara adidaya di dunia ditambah lagi dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang diinvestasikan dalam bentuk
teknologi berbasis komputer telah mendorong AS melakukan transformasi
perubahan berbasis teknologi informasi. Kemudian transformasi ini dikenal
dengan IT IRMA (Information Technology Revolution in Military). 1
Transformasi teknologi ini mengakibatkan ancaman yang dihadapi suatu
bangsa menjadi lebih kompleks. Perubahan ancaman bersifat
1
Dorman Andrew, Smith Mike, and Uttley Matthew, The Changing Face of Military
Power, Palgarave, 2012
1
2
konvensional (convensional) menjadi ancaman uncconvensional atau
asymmetric warfare.
Memasuki tahun 1990, perang tidak lagi menggunakan cara
konvensional, namun menggunakan cara baru yang lebih terorganisir,
dilakukan oleh non state actor dan tidak terikat oleh ruang dan waktu yang
digunakan. Perang seperti ini disebut “Global War on Terror”. Pola
pertempuran dan strategi yang digunakan telah berubah dan beralih
kepada cara-cara perang yang bersifat asimetrik, disebut asymmetric
warfare. Rod Thorton, dalam buku yang berjudul “Asymmetric Warfare”,
mendefinisikan perang asimetrik, sebagai berikut:
“Asymmetric Warfare is violent action undertaken by the „have-
nots‟ against the „have‟ whereby the have-nots, be that state or
sub-state actor, seek to generate profound effects-at all levels or
warfare (however defined), from the tactical to the strategic-by
employing their own specific relative advantages against the
vulnerabilities of much stronger opponents”2
Dalam buku “Cyber War”, pakar keamanan komputer asal AS dan
profesor di Universitas Harvard Richard A. Clarke dan Robert A. Knake
memetakan kekuatan negara-negara dalam menghadapi perang siber.
Amerika Serikat, meski punya kemampuan serangan yang baik, tidak
punya kemampuan untuk memutuskan jaringan Internet saat diserang,
mengingat sebagian terbesar jaringan Internet di negara ini dimiliki dan
dioperasikan oleh swasta. Sebaliknya, China memiliki kemampuan
memutus seluruh jaringan Internet di negaranya bila suatu saat diserang.
China juga mampu membatasi utilisasi trafik, dengan memutus koneksi
dari para pengguna yang tak terlalu berkepentingan. Namun negara yang
dinilai paling mampu bertahan jika terjadi perang dunia maya, menurut
Clarke, adalah Korea Utara. Negara ini mampu memutus koneksi
2
Rod Thornton, Asymmetric Warfare, Cambridge, 2011
3
Internetnya dengan lebih mudah ketimbang China. Bisa dibilang Korea
Utara tak akan mengalami kerugian akibat serangan siber musuh, karena
tak ada infrastruktur kritikal seperti pembangkit listrik, jalur kereta, atau
jalur pipa yang tersambung ke Internet. 3 Dalam Upaya dan strategi
Indonesia ke depan dalam menghadapi ancaman perang siber bukan
sebuah keniscayaan bahwa ancaman dan serangan siber akan semakin
meningkat serta menjadi medan pertempuran utama di masa mendatang.
Belajar dari pengalaman AS dan negara-negara pengguna
teknologi internet lainnya, Indonesia saat ini sudah mulai menerapkan
inisiatif pertahanan siber di lingkungan militer walaupun masih difokuskan
4
untuk melindungi kepentingan internal. Membangun kekuatan siber
nasional yang tangguh tidak terlepas dari peran dan kerjasama militer
dengan memaksimalkan seluruh komponen nasional yang terbentuk
dalam kerjasama sipil-militer (civil-miltary cooperation) dengan
memperhatikan 3 (tiga) kemampuan (daya), yaitu daya tangkal, daya
tindak, dan daya pulih. Daya tangkal, diartikan sebagai kemampuan untuk
melakukan penangkalan terhadap geostrategi Indonesia dalam
menghadapi segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan, dan
tantangan terhadap identitas, integritas, eksistensi bangsa dan negara
Indonesia melalui dunia siber. Daya tindak merupakan kemampuan untuk
melakukan penindakan terhadap ancaman siber yang datang dari dalam
maupun dari luar dengan menggunakan seluruh kekuatan yang ada.
Sedangkan, daya pulih adalah kemampuan untuk melakukan konsolidasi
dan pemulihan pasca terjadi serangan siber, baik terhadap pemulihan
faktor psikologis sumber daya manusia itu sendiri maupun pemulihan
terhadap infrastruktur sebagai dampak dari suatu serangan siber yang
terjadi.
3
Toft-Arreguin Ivan, How the weak win wars: A theory of Asymmetric Conflict,
Cambridge, 2015
4
Universitas Pertahanan Indonesia, 2012. Kajian Strategis Keamanan siber Nasional:
Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional Dibidang Keamanan siber, Jakarta
4
Ancaman negara abad ke-21, tidak hanya didominasi oleh
kekuatan militer suatu negara, namun kekuatan non state actor sangat
menentukan. Ancaman di era glolisasi tidak hanya ditujukan untuk
menyerang instansi pemerintah atau militer melainkan dapat mengancam
seluruh aspek kehidupan masyarakat, seperti ekonomi, politik, budaya,
dan keamanan suatu negara. Beberapa ancaman keamanan dan
pertahanan nasional dilakukan oleh non state actor, seperti terrorism,
insurgency, cyber crime, human trafficking, pembajakan di laut (piracy),
jaringan narkotika (drug trafficking), bahkan termasuk pelanggaran
terhadap hak azasi manusia (human right). Dalam konflik asymmteric
warfare, dilakukan oleh non state actor sebagai pihak lemah (weak)
melawan pemerintah (state) sebagai pihak yang kuat atau bagaimana
negara lemah (weak state) melawan negara yang kuat (strong state).5
Ancaman perang siber (cyber warfare) terbesar dunia yang pernah
dicatat oleh Discovery, seperti: Pertama, serangan Stuxnet. melumpuhkan
pembangkit nuklir Bushehr dengan worm tahun 2010. Kedua, operasi
Aurora tahun 2009, menyerang perusahaan besar termasuk Google dan
Adobe Systems, oleh para hacker dan berhasil mencuri properti intelektual
dari perusahaan-perusahaan tersebut. Ketiga, serangan terhadap Pusat
Komando AS tahun 2008, sebuah USB flash drive yang tidak berwenang
yang diselipkan ke salah satu laptop di sebuah markas militer AS di Timur
Tengah. Flash disk tersebut mengandung kode berbahaya yang
dikembangkan oleh intelijen asing dan menyebar melalui sistem komputer
Departemen Pertahanan AS dan menyebabkan data dikirim ke server
asing. Keempat, kasus Georgia tahun 2008, berawal dari konflik Rusia
dan Georgia di Ossetia Selatan. Serangan siber melumpuhkan beberapa
situs pemerintah Georgia dan situs-situs media lokal, setelah Georgia
menyerang Ossetia Selatan. Ini merupakan serangan yang mirip dengan
serangan ke Estonia pada 2007. Kelima, kasus Estonia tahun 2007,
5
Toft-Arreguin Ivan, How the weak win wars: A theory of Asymmetric Conflict,
Cambridge, 2015
5
dimana Estonia menghadapi gelombang serangan siber yang melanda
segenap infrastruktur internet negara itu, mulai dari situs-situs
pemerintahan, perbankan, hingga situs-situs surat kabar lokal. Serangan
ini terjadi melumpuhkan sistem pemerintahan Estonia selama 2 (dua)
minggu.
Perang siber digunakan untuk melemahkan bahkan
menghancurkan kekuatan suatu negara melalui berbagai aspek
kehidupan bangsa. Aksi spionase Australia terhadap Indonesia adalah
kisah perang siber antara hacker Indonesia Vs Australia yang terjadi pada
September 2013, dimulai ketika harian The Sydney Morning Herald
mengabarkan bahwa sejumlah Kedubes Australia yang berada di wilayah
Asia Tenggara terlibat kegiatan penyadapan yang dimotori dinas intelejen
Amerika Serikat (NSA). Hal ini tentunya membuat pemerintahan negara
yang menjadi korban penyadapan geram dan mengambil tindakan tegas,
termasuk Indonesia. Serangan hacker Indonesia terhadap situs Australia
merupakan aksi balas terhadap penyadapan yang dilakukan negeri
kanguru. Aspek Politik dalam situasi ini terlihat ketikan salah satu
serangan deface terhadap situs resmi Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) yang beralamat di [Link] pada Januari
2013 lalu merupakan bentuk perang siber lainnya. Deface disini berarti
mengubah atau mengganti tampilan suatu website dimana situs yang
memuat berbagai kegiatan presiden itu diubah tampilannya, hanya ada
gambar dengan ikon labu mirip gambar pocong bertuliskan
[Link] dengan latar belakang berwarna hitam, serta tulisan
“! Hacked by MJL 007 ! This is a PayBack From Jember Hacker Team.”
Pada umumnya, deface menggunakan teknik Structured Query Language
(SQL) Injection, namun untuk kasus situs SBY, menurut sejumlah praktisi
teknologi informasi, kemungkinan besar terjadi Domain Name System
(DNS) Poisoning atau populer disebut DNS Hijack (pembajakan DNS),
bukan server situs Presiden SBY yang diretas, tetapi terjadi pembelokan
6
ke situs lain. Pembajakan DNS biasanya dilakukan jika server susah
diretas.6
Pada aspek Sosial Budaya dapat kita lihat ketika terjadi kasus
Pencurian dan penggunaan account Internet milik orang lain di Indonesia.
Salah satu kesulitan dari sebuah ISP (Internet Service Provider) adalah
adanya account pelanggan mereka yang dicuri dan digunakan secara
tidak sah. Berbeda dengan pencurian yang dilakukan secara fisik,
pencurian account cukup menangkap userid dan password saja. Modus
dari pencurian ini adalah hanya informasi yang diinginkan oleh si pencuri.
Sementara itu orang yang kecurian tidak merasakan hilangnya benda
yang dicuri. Pencurian baru terasa efeknya jika informasi ini digunakan
oleh yang tidak berhak. Akibat dari pencurian ini, penggunaan dibebani
biaya penggunaan acocunt tersebut. Kasus ini banyak terjadi di ISP.
Namun yang pernah diangkat adalah penggunaan account curian oleh
dua Warnet di Bandung.
Aspek Ekonomi juga merupakan sasaran dari perang siber yang
dilancarkan oleh musuh terhadap suatu negara. Kasus Denial of Service
(DoS) dan Distributed DoS (DDos) attack atau DoS attack merupakan
serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan target (hang, crash)
sehingga dia tidak dapat memberikan layanan. Serangan ini tidak
melakukan pencurian, penyadapan, ataupun pemalsuan data. Akan tetapi
dengan hilangnya layanan maka target tidak dapat memberikan servis
sehingga ada kerugian finansial. Bisa dibayangkan apabila seseorang
dapat membuat ATM bank menjadi tidak berfungsi, maka akibatnya
nasabah bank tidak dapat melakukan transaksi dan bank serta nasabah
dapat mengalami kerugian finansial. DoS attack dapat ditujukan kepada
server (komputer) dan juga dapat ditargetkan kepada jaringan
6
[Link]
modus dan penyelesaian-nya/diakses pada tanggal 16 April 2019.
7
(menghabiskan bandwidth). Tools untuk melakukan hal ini banyak
tersebar di Internet. DDoS attack meningkatkan serangan dengan
melakukannya dari berberapa (puluhan, ratusan, dan bahkan ribuan)
komputer secara serentak. Efek yang dihasilkan Dos attack lebih dahsyat
dengan modus yang dilakukan sang Cracker adalah ingin membuat suatu
perusahaan atau organisasi rugi besar karena terganggunya system yang
sedang berjalan.
Dari aspek Hankam tentunya merupakan sasaran utama dari cyber
war. Beberapa kejadian yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini antara
lain, terjadinya sebuah ledakan dahsyat yang terdengar di pangkalan misil
Alghadir di Bid Ganeh, barat Teheran pada Sabtu, 12 November 2011.
Guncangannya terasa hingga 30 mil jauhnya. Ledakan itu membunuh 17
anggota pasukan elit Iran, termasuk Mayor Jenderal Hassan Tehrani
Moghaddam, arsitek program misil negeri tersebut. Meski investigasi
belum digelar, Iran secara terburu-buru menegaskan bahwa ledakan itu
bukanlah akibat sabotase yang dilakukan oleh musuh bebuyutan mereka.
Kepala staf militer Iran, Mayor Jenderal Hassan Firouzabadi menyatakan
bahwa kasus tersebut murni kecelakaan, saat petugas tengah
memindahkan amunisi dan tidak ada kaitannya dengan Israel ataupun
Amerika Serikat. Padahal dunia kini memaklumi bahwa kejadian tersebut
adalah salah satu contoh yang menunjukkan betapa perang siber
(cyberwar) bukan lagi sekadar dongeng/ fiksi, tapi telah menjadi bagian
nyata dari percaturan dunia.
Serangan malware Stuxnet pada instalasi pengayaan nuklir Iran di
Natanz pada tahun 2009 juga merupakan salah satu buktinya terjadinya
perang siber. Stuxnet mampu menyusup masuk dan menyabot sistem
dengan cara memperlambat ataupun mempercepat motor penggerak,
bahkan membuatnya berputar jauh di atas kecepatan maksimum.
Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse atau setidaknya merusak
kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar uranium. Malware
paling canggih dan paling hebat yang pernah dibuat sepanjang sejarah itu
8
diakui banyak kalangan sebagai serangan paling cerdas. Pengakuan itu
bukan datang dari sembarang orang, tapi dari kalangan industri aplikasi
pengamanan terkemuka dunia seperti Symantec (Amerika Serikat),
Kaspersky (Rusia), dan F-Secure (Finlandia). 7
Disamping beberapa aspek tersebut tentu saja aspek ilmu
pengetahuan dan teknologi serta Teknologi Informasi tidak luput dari
sasaran cyber war. Serangan worm Stuxnet pada tahun 2010 banyak
dipandang oleh para pakar sebagai salah satu serangan terbesar yang
melibatkan kode program yang sangat kompleks. Serangan worm ini
memanfaatkan berbagai macam celah yang ada di sistem operasi
Windows yang belum banyak diketahui, dan mengincar sistem industri
yang mengendalikan berbagai perangkat mesin di instalasi pembangkit
listrik maupun di pabrik-pabrik.
Operasi Aurora pada 2009, telah menyebabkan sekitar 30
perusahaan besar termasuk Google dan Adobe Systems, dikabarkan
menjadi korban serangan siber yang sangat rumit. Para hacker berhasil
mencuri properti intelektual dari perusahaan-perusahaan tadi dengan
memanfaatkan celah keamanan pada browser Internet Explorer. Vice
President of Threat Research McAfee, Dmitri Alperovitch mengatakan
bahwa ia menemukan kata ‘Aurora’ pada direktori file di komputer
penyerang, saat melakukan pelacakan dari komputer yang telah terinfeksi.
Dipercaya, hacker menamakan Aurora sebagai nama operasi ini. Tak
cuma orang-orang yang bekerja pada perusahaan multinasional yang
harus berhati-hati dengan upaya intrusi ini, namun beberapa tokoh oposisi
China juga diincar. Dari dokumen yang dibocorkan oleh Wikileaks,
serangan ini diinstruksikan oleh seorang petinggi di pemerintahan China.
Pada tahun 2008, Sentral Komando AS - Departemen Pertahanan
AS telah mendapat serangan dengan pencurian data informasi pribadi di
7
([Link]
dan-masa-depan) diakses pada tanggal 16 April 2019.
9
komputer/notebook. Sumbernya adalah sebuah USB flash drive yang
tidak berwenang yang diselipkan ke salah satu laptop di sebuah markas
militer AS di Timur Tengah. Flash disk tersebut mengandung kode
berbahaya yang dikembangkan oleh intelijen asing dan menyebar melalui
sistem komputer Departemen Pertahanan AS dan menyebabkan data
dikirim ke server asing. Serangan militer lainnya yang dilakukan melalui
media portabel adalah peristiwa penyalinan 250 ribu data memo
diplomatik AS dan video serangan heli Apache pasukan AS terhadap
sekelompok sipil oleh Prajurit Satu Bradley Manning ke dalam CD Lady
Gaga dari salah satu markas militer AS di Irak.
Di dalam konsep perang siber (cyber warfare), penggunaan sistim
teknologi informasi dilakukan untuk mendukung kepentingan komunikasi
antar personil perang dengan peralatan pendukung perang lainnya,
seperti pesawat, kapal, peralatan militer lainnya yang terintegrasi dalam
kesatuan sistem komando kendali militer modern, yaitu sistem NCW
(Network Centric Warfare). Untuk menghindari terjadi serangan siber
dapat dilakukan dengan meningkatkan perlindungan terhadap informasi
dan sistem terhadap akses tidak sah, melalui pembatasan informasi,
integritas, kerahasiaan, otentifikasi, memiliki keabsahan yang benar. 8 Ada
tiga metode utama serangan cyber warfare, yaitu: sabotase, spionase
elektronik (mencuri informasi dari komputer melalui virus) dan serangan
pada grid listrik. Serangan yang ketiga adalah mungkin paling
mengkhawatirkan. North American Electric Reliability Corporation (NERC)
memperingatkan dalam pemberitahuan umum bahwa grid listrik AS rentan
terhadap cyberattacks, yang dapat menyebabkan pemadaman listrik yang
besar, tertunda tanggapan militer dan gangguan ekonomi. Dengan
adanya kekuatiran bangsa-bangsa dunia terhadap ancaman siber, maka
diperlukan penerapan keamaan siber nasional yang baik untuk
memberikan perlindungan kepada informasi warga negara, penegakan
8
Fred Schreier, On Cyber Warfare, DCAF Horizaon 2015. Working Paper No. 7.
10
hukum, dan menjaga keamanan nasional dan kedaulatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari berbagai ancaman yang ada.
Indonesia juga tidak luput dari serangan siber yang dilancarkan
musuh. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh cracker adalah
mengubah halaman web, yang dikenal dengan istilah deface.
Pembajakan dapat dilakukan dengan mengeksploitasi lubang keamanan.
Beberapa waktu lalu, statistik diIndonesia menunjukkan satu (1) situs web
dibajak setiap harinya. Modusnya adalah ingin mengacak acak isi dari
web sehingga web tersebut terkesan berantakan dan tidak berfungsi
9
sebagaimana mestinya. Selain itu jagad internet sedang dihebohkan
oleh serangan program jahat Ransomware WannaCry beberapa hari
terakhir yang sudah menyebar di 150 negara termasuk Indonesia.
Sebelum kejadian ini, dunia sudah beberapa kali dihadapkan dari
serangan merugikan dari malware. Malware seperti Ransomware
WannaCry tidak muncul begitu saja. Kemunculan malware berawal dari
bentuk yang paling sederhana seperti virus komputer yang semakin hari
semakin "licin". Malware dalam bentuk virus sudah diciptakan sejak
komputer belum menjadi perangkat yang digunakan secara umum.
Contoh nyata yang mencuat ke publik adalah dua rumah sakit di
wilayah Jakarta disebut kena serangan ransomware ini. Serangan Wanna
Cry ini bikin pelayanan kedua rumah sakit tersendat, diantaranya Rumah
Sakit Kanker, RS Dharmais, Jakarta misalnya, sistem komputernya
terpapar ransomware WannaCry. Dari 600 komputer yang ada di Rumah
Sakit Dharmais, terdapat sekitar 60 unit komputer yang terkena.
WannaCry memang sadis. CTO Avast, Ondrej Vlcek Avast, dalam
keterangan email, Minggu (6/5/2018), mengatakan bahwa pihaknya telah
mendeteksi dan memblok lebih dari 176 juta serangan WannaCry di 217
9
[Link]
modus dan penyelesaian-nya/ diakses pada tanggal 16 April 2019.
11
negara sejak serangan awal tahun lalu. Bahkan serangan ini nyatanya
masih terus berlanjut di tahun 2018.10
Mengutip dari laman blog pribadi Budi Rahardjo, Senin (15/5/2017),
ia menyebut bahwa sistem yang terkena ransomware WannaCry adalah
semua sistem operasi Microsoft Windows. "Selama menggunakan sistem
operasi tersebut, desktop maupun notebook termasuk rentan," tuturnya.
Penanganan yang perlu dilakukan di antaranya adalah: melakukan
backup; memperbaiki sistem operasi Microsoft dengan memasang patch
MS17-010; menonaktifkan SMB (yang biasa digunakan untuk file sharing)
jika memungkinkan; blok port TCP: 139/445 & 3389 dan UDP: 137 & 138,
yang digunakan untuk melakukan penyerangan (jika memungkinkan). 11
Sesuai amanat Undang-Undang RI nomor 34 tahun 2004 tentang
Pertahanan Negara, tugas melaksanakan fungsi pertempuran tersebut
dapat dibedakan menjadi tugas-tugas Operasi Militer untuk Perang (OMP)
menghadapi militer asing (regular force) dan tugas Operasi Militer Selain
Perang (OMSP) yang bersifat tempur maupun non tempur. Dihadapkan
pada berbagai tugas tersebut dengan dimensi pengertian pertempuran
atau peperangan yang sangat luas dan kompleks, maka ancaman yang
mungkin dihadapi bangsa Indonesia ke depan salah satunya adalah
ancaman kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI dalam format, bentuk,
jenis dan cara yang sangat kompleks yang dilakukan oleh aktor negara
(state actor), aktor non negara (non state actor) atau pihak ketiga (proxy
war) yang dikenal dengan ancaman hibrida. Maka melalui konsep
pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memilih
sistem pertahanan semesta merupakan sistem pertahanan yang sangat
ideal untuk menghadapi segala macam bentuk ancaman. Akan tetapi
dihadapkan dengan tren ancaman yang akan datang dan bermutasi
kedalam bentuk baru menuntut konsep pertahanan semesta harus di
10
[Link] dengan judul "Jejak Malware Komputer Hingga Ransomware WannaCry ",
[Link]
11
[Link]
informatika-budi-rahardjo
12
update dan upgrade khususnya pada level strategi sampai dengan
operasionalnya. Pada tahuan 2012 telah terjadi kebocoran data satuan
tugas dan adanya upaya pencurian dan perusakan data satuan tugas
operasi melalui penyebaran Malware, virus dan penyusupan Botnet oleh
pihak lain guna mendapatkan semua laporan satuan tugas operasi. Hal ini
telah mendapat perhatian khusus oleh satuan operasional Grup 3
Kopassus yang didalam susunan organisasinya terdapat Tim 42 yang
membidangi Jaringan dunia Maya (cyber space) harus mampu
melaksanakan fungsi dan tugasnya dalam pengamanan data satuan tugas
agar tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu dalam melakukan aksi
propaganda dan pemutarbalikan fakta dari hasil pencurian data tersebut.
Konsep pertahanan semesta dengan perwujudan Strategi
Pertahanan Berlapis yang dilaksanakan dengan bentuk perang berlarut
harus dipertahankan akan tetapi pengembangan kemampuan Tim 42
Grup 3 Kopassus harus ditingkatkan dalam mengantisipasi perang siber
(cyber warfare). Tim 42 Grup 3 Kopassus terdiri dari Unit Jaringan dengan
tugas pokok melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan pelatihan di bidang
Jaringan dunia Maya (cyber space), jaringan yang bersifat LAN, WAN
sampai dengan Internet. Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya ;
Pertama ; Cyber defence memperkuat pertahanan dengan firewall dan
sistem yang terenkripsi dengan baik. Kedua ; Cyber attack
melaksanakan serangan siber dalam bentuk pembuatan virus, malware,
botnet untuk masuk ke sistem sasaran agar bisa mendapatkan data, sd
menghancurkan data maupun sistem. Ketiga ; Forensik siber
melaksanakan kegiatan pemulihan data, menyelidiki serangan siber yang
sudah terjadi. Saat ini Unit Jaringan Tim jaringan sudah melaksanakan
latihan untuk defence, attack, dan forensic cyber, pembuatan virus,
pembuatan server. Unit Hardware dengan tugas pokok melaksanakan
pekerjaan, kegiatan, pelatihan dan pemeliharaan yang berhubungan
dengan perangkat keras yang dimiliki (almatsus). Dan melakukan
pengembangan perangkat keras disesuaikan dengan tugas pokok Grup 3
13
Kopassus. Tim hardware sudah melaksanakan pengembangan perangkat
keras seperti drone, bom hp, flashdisk perusak dan maintenance alat
matsus. Unit Digital Content dengan tugas pokok melaksanakan
pekerjaan, kegiatan, pelatihan dan pemeliharaan yang berhubungan
dengan digital audio, video dan gambar, melakukan manipulasi gambar,
video, audio bekerja sama dengan Tim 41 (Psikologi) disesuaikan dengan
tugas pokok Grup 3 Kopassus. Tim digital content sudah melaksanakan
pelatihan tentang editing gambar, video, audio di NET TV dan pengajar
yang dipanggil dari univ Bid TI bagian design grafis.
Alat peralatan yang dimiliki oleh Tim 42 Grup 3 Kopassus saat ini
mampu melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan pelatihan dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare) yaitu diantaranya domain
web, data center web, jammer system, hacking program system, radio all
band, HP enkrepsi, wirelles network system, solarcell, network operation
sistem, mesin cetak offset, signal detector, infrared detector, spectrum,
displayer, main carier system, radio receiver yupiter, TR mini, INR3 SSV,
ranger spec,tolkit mekanik set, electronik toolkit set, hub set, data center
CCTV, camera CCTV, LCD monitor CCTV, network intercept,
communication monitoring device, mesin cetak offset dan VSAT mobile
sistem.12
Berdasarkan fenomena diatas, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang bagaimana optimalisasi kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare). Peneliti
ingin mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI) dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
1.2 Rumusan Masalah.
12
Perkasad Nomor 41, tentang organisasi dan tugas Grup 2 dan 3 Kopassus (Orgas
Grup 2 dan 3 Kopassus), Tahun 2015.
14
Kurang optimalnya kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare) merupakan sebuah ancaman
bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menggunakan
doktrin pertahanan semesta dengan melibatkan seluruh warga negara,
wilayah dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini
oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan
berlanjut. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, maka diperlukan
optimalisasi kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi
perang siber (cyber warfare). Sehingga untuk menentukan upaya tersebut
maka yang menjadi pertanyaan rancangan penelitian ini yakni :
1.2.1 Bagaimana mengoptimalkan kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI)
dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare) ?
1.2.2. Bagaimana pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi
perang siber (cyber warfare) ?
1.3 Maksud dan tujuan Penelitian
1.3.1 Maksud Penelitian. Untuk mengetahui dan menganalisa
tentang optimalisasi kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
1.3.2 Tujuan Penelitian.
Untuk mengetahui dan menganalisis kemampuan Tim-42
Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI)
dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
1.4 Manfaat Penelitian.
15
1.4.1 Aspek Teoritis. Secara teoritis, hasil penelitian ini
diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi
peningkatan optimalisasi kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam mengantisipasi Perang Siber (Cyber Warfare).
1.4.2. Aspek Praktis.
1. Bagi TNI AD. Sebagai bahan masukan dalam
pengambilan kebijakan pimpinan TNI AD dalam
mengoptimalkan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
Dalam Mengantisipasi Perang Siber (Cyber Warfare).
2. Bagi Lembaga Pendidikan Seskoad. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi masukan dan sumbangsih
yang berharga bagi Lembaga Seskoad, khususnya tentang
Optimalisasi Kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus Dalam
Mengantisipasi Perang Siber (Cyber Warfare)
3. Bagi Kopassus. Sebagai bahan masukan bagi
Pimpinan Kopassus dalam mengoptimalkan Kemampuan
Tim 42 Grup 3 Kopassus Dalam Mengantisipasi Perang
Siber (Cyber Warfare).
4. Bagi Pasis. Melatih penulis dalam pembuatan karya
tulis ilmiah militer dan memberikan pengetahuan tentang
Optimalisasi Kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus Dalam
Mengantisipasi Perang Siber (Cyber Warfare).
BAB II
16
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Tinjauan Pustaka.
Pada Sub Bab ini, peneliti akan memaparkan tinjauan peneliti atas
beberapa penelitian dan kajian ilmiah terdahulu serta beberapa konsep
yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini. Guna mendukung
Karlismil yang berjudul “Optimalisasi Kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus Dalam Mengantisipasi Perang Siber (Cyber Warfare)”, maka
peneliti melakukan tinjauan pustaka terhadap penelitian-penelitian
terdahulu yang memiliki kemiripan dengan tema peneliti dan juga sumber-
sumber lainnya yang dijadikan sebagai referensi penulisan penelitian
dengan menggunakan beberapa teori diantaranya :
2.1.1. Teori kemampuan. Kemampuan atau ability merujuk ke
suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam
suatu pekerjaan. Seperti Kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam Cyber defence yaitu memperkuat pertahanan dengan
firewall dan sistem yang terenkripsi dengan baik. Cyber attack
melaksanakan serangan siber dalam bentuk pembuatan virus,
malware, botnet untuk masuk ke sistem sasaran agar bisa
mendapatkan data, sampai dengan menghancurkan data maupun
sistem. Forensik siber melaksanakan kegiatan pemulihan data,
menyelidiki serangan siber yang sudah terjadi. Itulah penilaian
dewasa ini akan apa yang dapat dilakukan seseorang. Seluruh
kemampuan seorang individu pada hakekatnya tersusun dari dua
faktor, kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan
(abilities) seseorang akan turut serta menentukan perilaku dan
hasilnya. Maksud dari kemampuan atau abilities ialah bakat yang
melekat pada seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan secara
16
17
phisik atau mental yang ia peroleh sejak lahir, belajar, dan dari
pengalaman.13
Menurut Conney dalam Herman Hudoyono yang dikutip oleh
Risnawati mengajar penyelesaian masalah kepada siswa,
memungkinkan siswa itu lebih analitik dalam mengambil keputusan
dalam hidupnya”. Untuk menyelesaikan masalah seseorang harus
menguasai hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya dan kemudian
menggunakan dalam situasi baru. Karena itu masalah yang
disajikan kepada peserta didik harus sesuai dengan kemampuan
dan kesiapannya serta proses penyelesaiannya tidak dapat dengan
prosedur rutin. Cara melaksanakan kegiatan mengajar dalam
16
penyelesaian masalah ini, siswa diberi pertanyaaan-pertanyaan
dari yang mudah ke yang sulit berurutan secara hirarki. Salah satu
fungsi utama adalah untuk mengembangkan kemampuan
pemecahan masalah. 14
Kemampuan pemecahan masalah ditekankan pada berfikir
tentang cara menyelesaikan masalah dan memproses informasi.
Menurut Kennedy yang dikutip Mulyono Abdurrahman
menyarankan empat langkah proses pemecahan masalah, yaitu:
“memahami masalah, merancang pemecahan masalah,
melaksanakan pemecahan masalah dan memeriksa kembali”.
Jadi dari uraian yang telah dipaparkan dapat diambil
kesimpulan bahwa, pemecahan masalah memberi manfaat yang
besar. Oleh karena itu, pemecahan masalah merupakan bagian
integral dari semua Kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus Dalam
Mengantisipasi Perang Siber (Cyber Warfare).
13
Sigit Soehardi, Perilaku Organisasi, (Yogyakarta: BPFE UST,2003), h. 24.
14
Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Widya Karya,
Semarang, 2005, h. 37
18
2.1.2. Teori Network Centric Warfare (NCW) .15 Network Centric
Warfare (NCW) merupakan teori yang diterapkan dalam konsep
Siskodal operasi militer modern dengan mengintegrasikan seluruh
komponen atau elemen kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus ke
dalam satu jaringan komputer militer NCW berbasis teknologi satelit
dan jaringan Internet rahasia militer yang disebut SIPRNet (Secret
Internet Protocol Router Network).
Dengan adanya teknologi NCW yang didukung infrastruktur
SIPRNet, berbagai komponen atau elemen militer di mandala
operasi dapat saling terhubung (get connected) secara on-line
system dan real-time, sehingga keberadaan lawan dan kawan
dapat saling diketahui melalui visualisasi di layar komputer atau
laptop. Keterhubungan secara elektronik berlaku mulai dari
tataran strategis, taktis hingga operational dari suatu operasi
militer gabungan, mulai dari para panglima perang di markas
komando atau para komandan pasukan di Puskodal hingga ke
unit-unit pasukan tempur di medan pertempuran.
Dengan adanya teknologi Internet SIPRNet serta
penggunaan satelit mata-mata dan satelit GPS,
memungkinkan NC memvisualisasikan seluruh kegiatan operasi
militer, memungkinkan NC memvisualisasikan seluruh kegiatan
operasi militer gabungan yang sedang berlangsung di medan
pertempuran (battle field) ke layar lebar ruang yudha (military
operation room), yang mungkin jaraknya terpisahkan ribuan
kilometer jauhnya. Maksudnya, pusat komando dapat secara on-
line system dan real-time mengendalikan operasi militer yang
sedang berlangsung secara jarak jauh (remotely).
Berbagai informasi tempur digital (video, grafik, peta, suara,
data dan sebagainya) yang tersedia terkait dengan pelaksanaan
15
‘Network Centric Warfare’ diakses melalui [Link]
/2007/12/03/network-centric-warfare/ Pada 29 Februari […]
19
operasi militer gabungan, tidak hanya dapat di akses oleh para
Pimpinan di markas komando saja, tetapi juga dapat diteruskan
(information sharing) ke seluruh komandan unit pasukan tempur di
lapangan. Tujuan utama dari NCW, dalam lingkup Siskodal,
adalah tercapainya keunggulan informasi (information superiority)
sehingga dapat membantu Panglima Perang atau Komandan
Pasukan mengambil keputusan (decision making) secara tepat,
cepat dan akurat guna memenangkan suatu pertempuran (battle).
Namun, konsep NCW hanya dapat diimplementasikan
dengan cara melakukan revisi atau penyesuaian doktrin operasi
militer gabungan terlebih dahulu, sebagai acuan dalam
penyelenggaraan operasi militer gabungan (joint military
campaign). Hal ini dimungkinkan karena doktrin operasi militer
selalu bersifat dinamis menyesuaikan laju perkembangan zaman
dan perkembangan lingkungan global.
Di dalam doktrin operasi militer gabungan, Siskodal NCW
“mengharuskan” seluruh elemen atau komponen militer beroperasi
secara bersama-sama (interoperability) di dalam suatu Joint Task
Force Command (JTFC). Sehingga konsep NCW pada akhirnya
akan merubah paradigma militer lama yang menyatakan bahwa
suatu medan pertempuran dapat dimenangkan hanya oleh satu
komponen militer saja.
2.1.3. Doktrin Militer dalam Cyber Warfare.16 Dalam
mengimplementasikan cyber warfare dalam doktrin militer, berbagai
angkatan bersenjata atau militer di berbagai negara melakukan
penyesuaian akan hal tersebut. Angkatan Bersenjata Amerika
mengikutinya dengan membuat Doktrin Transformasi Militer AB
16
Perlunya Pembangunan Sistem Pertahanan Siber (Cyber Defense) yang tangguh bagi
Indonesia, [Link] Cyber %
[Link]
20
Amerika yang merupakan perubahan atau revisi dari doktrin militer
lama dengan tujuan menghadapi perubahan situasi medan tempur
di abad 21 atau modern warfare.
Doktrin Transformasi Militer ini dicetuskan pertama kali pada
tanggal 11 Januari 2001, oleh Donald Rumsfeld selaku US
Secretary of Defense, yang menginginkan postur AB Amerika yang
lebih efektif, efisien dan modern. Harapannya, pada perang
modern masa depan AB Amerika tidak perlu mengerahkan
pasukan dalam jumlah besar untuk memenangkan suatu
pertempuran, tetapi cukup mengerahkan pasukan yang lebih sedikit
(proporsional) namun lebih efektif dan efisien didukung sistem
kodal berbasis NCW yang modern dan saluran Internet Militer
SIPRNet.
Di dalam Doktrin Transformasi Militer AB Amerika Serikat
terdapat 3 (tiga) kemampuan kunci sebagai tulang punggung, yaitu:
Knowledge, Speed and Precision. Pengertian dari Knowledge (IT
Based knowledge) adalah kemampuan untuk mempelajari
sekaligus mengimplementasikan pengetahuan teknologi informasi
dan sistem informasi seperti sistem satelit, sistem GPS, sistem
komunikasi digital, sistem jaringan komputer dan fasilitas Internet
kedalam satu sistem komando dan kendali terintegrasi medan
tempur (integrated battle field command & control system). Hal
tersebut sudah di aplikasikan AB Amerika dalam teknologi NCW
yang didukung infrastruktur Internet rahasia SIPRNet dan satelit
militer. Pengertian Speed (Strategic Speed), maksudnya
kemampuan untuk mengerahkan pasukan dan peralatan militer
Amerika dan koalisinya ke berbagai lokasi yang menjadi target di
seluruh belahan dunia secara cepat (rapidly). Sedangkan
Precision, yang dimaksud adalah kemampuan untuk
menghancurkan target operasi militer secara tepat (precisely) guna
21
menghindari korban dari kalangan sipil yang tidak berdosa (non
combatant).
Doktrin baru tersebut dapat diimplementasikan terutama
dengan terus dikembangkannya bom-bom pintar (smart boms) oleh
AB Amerika. Saat itu Amerika telah berhasil membuat satu jenis
bom tercanggih dan sudah dipergunakan di Irak, bom tersebut
bernama bom JDAM (Joint Direct Attack Munition), dimana sistim
kontrol dan kendalinya yang mutakhir dipandu oleh satelit GPS AB
Amerika Serikat. Memang pada saat disampaikan oleh US
Secretary of Defence Donald Rumsfeld di depan Kongres, doktrin
NCW tersebut masih berupa wacana atau teori saja. Namun
situasi berubah secara drastis, ketika Teroris berhasil melakukan
serangan bunuh diri menggunakan pesawat sipil tanggal 11
September 2001 (dikenal dengan istilah 911) ke gedung WTC dan
Markas AB Amerika di Pentagon. Sehingga dalam rangka
kampanye mengejar Teroris ke ujung dunia (Global War on
Terrorism), Pemerintah Amerika melalui AB nya mulai
mengimplementasikan Doktrin Transformasi melalui uji coba latihan
gabungan militer Amerika terbesar di bulan Juli 2002. Latihan
tersebut melibatkan sebanyak 30.000 ribu pasukan yang dibagi
menjadi dua kelompok, kelompok pertama adalah pasukan
Amerika dan koalisi sedangkan kelompok kedua adalah kelompok
Teroris atau negara yang dianggap Amerika mendukung terorisme.
Dalam operasi militer gabungan tersebut konsep baru
siskodal NCW diperkenalkan dan diuji coba pertamakali, namun di
tengah jalan latihan terpaksa diulang (re-set) karena belum semua
elemen atau komponen militer dapat berintegrasi, berinteraksi serta
berinteroperasi (interoperability) di dalam sistem komando dan
kendali NCW yang baru tersebut. Namun, pada akhir latihan
gabungan, siskodal NCW hanya dianggap sebagai bentuk
22
pengetahuan baru atau pemahaman baru saja bagi pasukan
Amerika, daripada menentukan suatu kemenangan atau kekalahan.
Sistem kodal NCW juga pernah diuji coba di medan tempur
secara terbatas pada operasi militer Enduring Freedom di
Afganistan tahun 2002, dalam rangka menangkap tokoh Al Qaeda
yaitu Osama bin Laden serta menggulingkan pemerintahan Taliban
yang dianggap pro Teroris oleh Amerika. Namun secara faktual,
siskodal NCW dalam konteks operasi militer gabungan AB Amerika
dan Koalisinya, baru pertama kali diaplikasikan pada saat
Operation Iraqi Freedom tanggal 19 Maret 2003.
2.2. Kerangka Pemikiran.
Berdasarkan tinjauan pustaka terkait teori generasi perang
menjelaskan peperangan generasi ke-IV ini berkembang dan muncul
dalam berbagai istilah seperti asymetric warfare/ Cyber Warfare, oleh
karenanya dalam Doktrin Militer Cyber Warfare menjelaskan bahwa dalam
mengimplementasikan cyber warfare dalam doktrin militer, berbagai
angkatan bersenjata atau militer di berbagai negara melakukan
penyesuaian akan perubahan atau revisi dari doktrin militer lama dengan
tujuan menghadapi perubahan situasi medan tempur di abad 21 atau
modern warfare. Kemudian teori Network Centric Warfare (NCW) yang
diterapkan dalam konsep Siskodal operasi militer modern dengan
mengintegrasikan seluruh komponen atau elemen militer ke dalam satu
jaringan komputer militer NCW berbasis teknologi satelit dan jaringan
Internet rahasia militer yang disebut SIPRNet (Secret Internet Protocol
Router Network) dihubungkan dengan tentang optimalisasi kemampuan
Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare). Untuk lebih jelasnya maka dapat dilihat pada diagram kerangka
pemikiran di bawah ini:
Gambar 2.2 (Diagram Kerangka Pemikiran)
23
PERANG SIBER
(CYBER WAR
FARE)
TERANTISIPASI
OMP
OMP
LANDASAN
IDIIL KEMAMPUAN
TIM 42 GRUP 3 MENINGKATNYA
TIM 42 GRUP 3 KEMAMPUAN
KONST KOPASSUS
KOPASSUS PENGUASAAN IT
HUKUM
OMSP
2.3. Penelitian terdahulu.
Sebagai bahan utnuk mengembangkan penulisan Karya Tulis
Militer Ilmiah Ini dalam penyusunan penelitian ini, peneliti mendasari
kepada beberapa penelitian sebelumnya, yaitu :
2.3.1 Perang Siber (Cyber Warfare) di Dunia, ditulis oleh DR. Ivan
Yulivan, MM. Tulisan ini membahas konstelasi dunia yang menjadi
penyebab timbulnya Perang serta kecenderungan bahwa Perang
Siber (cyber warfare) menjadi bagian tidak terpisahkan dalam pentas
perang yang pernah ada di muka bumi. Pada masa datang, adanya
tren aktor perang asimetris yang lemah semakin memiliki peluang
memenangkan perang yang lebih tinggi. Salah satu contoh aplikasi
perang siber (cyber warfare) yang pernah terjadi adalah perlawanan
24
kaum Hizbullah kepada Israel periode tahun 2006 (Perang Libanon),
dimana perbandingan kekuatan kedua pihak jauh berbeda. Israel
adalah aktor kuat (strong actor) yang memiliki kapabilitas dan
kapasitas jauh melebihi Hizbullah (weak actor), dan untuk mampu
menandingi atau mengalahkan Israel diperlukan cara yang tidak
lazim oleh Hizbullah dengan memanfaatkan sumber daya alam dan
sumber daya manusia yang dimiliki. Hizbullah memiliki strategi yang
handal melalui pemanfaatan sumber daya dengan kemampuan
beradaptasi dengan kondisi alam yang dikombinasikan dengan
penguasaan teknologi mesin perang dan kemampuan mengelola
siber serta indoktrinasi kepada personel akan tujuan perang yang
sedang dijalani baik secara langsung maupun tidak langsung. 17
2.3.2 Perang Dunia Maya, ditulis oleh Budi Rahardjo,18 tulisan ini
membahas belakangan ini kata “cyberwar” banyak disebut-sebut.
Perang di dunia maya. Entah hal ini disebabkan oleh banyaknya
kasus yang terkait dengan dunia maya, atau hanya sekedar issues
yang dilemparkan banyak orang untuk menakutnakuti. Fear,
Uncertainty, Doubt. FUD. Jika memang cyberwar merupakan
masalah serius, maka muncul pertanyaan-pertanyaanberikutnya.
Apakah Indonesia siap dalam menghadapi cyberwar ini ? Apa saja
yang harus dipersiapkan untuk mengantisipasi hal tersebut dilihat
dari kacamata pemerintah, penegak hukum, tentara, dan
masyarakat? Langkah-langkah apa yang harus dilakukan ?
Teknologi informasi mendobrak batas ruang. Saat ini lebih
mudah menyusupkan ideologi ke masyarakat tujuan dengan
menggunakan berbagai aplikasi di internet. Bolehkan sebuah
17
DR. Ivan Yulivan MM. Perang Siber (Cyber Warfare) di Dunia, (Jurnal Yudhagama Edisi
Juni 2013), h. 37
18
[Link]
25
negara menghasut warga negara lain, untuk melakukan makar
misalnya, melalui sebuah situs web ? Atau mungkin serangan yang
tidak terlalu kasar dapat berupa propaganda anti negara atau
pola hidup tertentu. Sebagai contoh, penyisipan ideologi
Komunisme akan dapat dilakukan dengan menggunakan jaringan
internet. Apakah perlu negara kita membatasi akses warganya
dengan menerapkan filtering terhadap content yang bertentangan
dengan ideologi bangsa ? Hal diatas dapat dikategorikan serangan
secara pasif. Bagaimana jika terjadi serangan yang lebih akif ?
Bolehkah tentara sebuah negara menyerang situs dari pemerintahan
negara lain ? Jika situs web dianggap tidak terlalu penting,
bagaimana jika yang diserang adalah infratruktur yang terkait dengan
teknologi informasi? Misalnya yang diserang adalah jaringan
telekomunikasi sehingga negara yang diserang tidak dapat
melakukan kordinasi untuk mengantisipasi serangan peran fisik.
Apakah pelanggaran terhadap hal-hal diatas dapat memicu
terjadinya “perang dunia maya?” Tentara dari kedua negara yang
bersiteru saling serang menyerang di dunia internet. Serang
menyerang dapat dilakukan untuk menjatuhkan server lawan atau
sampai menyusup ke server.
Meskipun internet sudah banyak digunakan olehmasyarakat
Indonesia, efeknya terhadap masyarakat belum terukur. Misalnya,
jika jaringan internet putus untuk waktu yang cukup lama katakanlah
satu bulan apakah ada efek yang terasa secara langsung ? Jika
tidak terjadi “perang” dan tidak terasa efeknya, apakah kita perlu
peduli ?. Dalam bukunya tentang Cyber Warfare, Jeffrey Carr
(Carr, 2012) memberikan beberapa contoh kejadian terkait dengan
perang dunia maya. Untuk kasus yang terkait dengan Indonesia
diberikan contoh tentang kejadian kerusuhan anti-Cina yang terjadi
di bulan Mei 1998. Pada saat itu berbagai hackers dari berbagai
organisasi seperti misalnya China Hacker Emergency Center
26
menyerang berbagai situs yang terkait dengan pemerintah Indonesia
sebagai protes. Serangan yang dilakukan pada saat itu tidak hanya
ditujukan kepada situs pemerintahan Indonesia saja tetapi terhadap
situs-situs lain yang dimiliki oleh pelaku bisnis Indonesia. Perlu
diingat bahwa pada tahun 1998 itu wawasan pemerintah Indonesia
terhadap internet belum besar. Belum banyak instansi pemerintah
yang memiliki situs web. Akhirnya serangan di arahkan kemana saja
selama terkait dengan Indonesia. Pada saat itu saya sempat
membantu sebuah perusahaan penyedia jasa internet yang salah
satu servernya dirusak situs webnya. Situs web ini terkait dengan
layanan pelanggannya untuk mengakses email dari tempat yang
berbeda, mobile, sehingga tidak dapat dilakukan pembatasan
terhadap nomor IP, misalnya. Perlu diingat juga pada waktu itu
penggunaan Virtual Private Network (VPN) belum lazim sehingga
sangat sukar membatasi akses dari server tersebut. Sayangnya
aplikasi yang digunakan memiliki lubang keamanan sehingga dapat
dieksploitasi oleh penyerang dari jarang jauh. Penyerang ini
kemudian dapat mengubah berkas halaman depan situs webnya
Yang menarik dari serangan ini adalah penyerang tidak berusaha
untuk merusak atau melumpuhkan server. Sang penyerang ingin
server tetap menyala sehingga dapat menampilkan halaman web
dengan tampilan yang sudah diubah (deface).
Pengetahuan tentang karakteristik dan itikad penyerang ini
sangat bermanfaat dalam memilih pengamanan yang digunakan.
Dalam kasus yang saya alami, solusi yang kami pilih adalah dengan
mengupdate halaman web secara berkala secara otomatis (dalam
sistem UNIX ini dilakukan dengan fasilitas cron). Berkas di halaman
web di-copy dari sebuah direktori secara periodik sehingga biarpun
halaman diubah, maka dalam waktu tertentu halaman akan
kembali menjadi benar. Pada kasus yang lain, yaitu kasus Timor
Timur, sempat terjadi serang menyerang antara hackers Indonesia
27
dan Portugal. Untuk kasus yang ini, serangan dilakukan untuk
melumpuhkan komputer yang ditargetkan. Jika penyerang dapat
masuk, maka dia akan berusaha menghapus semua berkas atau
memformat disk. Perhatikan bahwa itikad dari penyerang berbeda
dari contoh sebelumnya Bagaimana dengan kondisi Indonesia saat
ini ? Dilihat dari sudut instansi pemerintahaan, sekarang semakin
banyak yang menggunakan sistem komputer dan terhubung ke
internet. Hal ini semakin meningkatkan risiko keamanan. Semakin
banyak aplikasi penting yang menggunakan teknologi informasi.
Sistem informasi satu atap, egovernment, sampai eKTP
mulai mengumpulkan data pribadi warga negara Indonesia.
Pengamanan data yang terkait dengan aplikasi-aplikasi ini harus
dilakukan secara serius. Sayangnya banyak pengembang dan pihak
penyelenggara layanan ini yang belum menerapkan keamanan
secara optimal. Sebagai contoh ada banyak aplikasi yang
menggunakan data pribadi seperti tanggal lahir sebagai bagian dari
nomor identitas. Ini merupakan kesalahan fatal jika ditinjau dari
kacamata keamanan karena seringkali pengguna menggunakan
angka tersebut sebagai bagian dari password. Demikian pula banyak
situs-situs pemerintahan yang sangat lemah keamanannya sehingga
mudah dirusak (deface). “Untungnya” data yang ada disana masih
berupa data yang publik (berita-berita). Jika sistem sudah
digunakan untuk mengambil keputusan, maka kondisi keamanan
seperti ini tidak dapat dibiarkan. Ini dapat menjadi target dalam
perang dunia maya.
Kejadian yang dianggap sebagai bukti telah terjadinya
perang teknologi informasi meskipun tidak terang-terangan adalah
ditemukannya virus Stuxnet disekitar bulan Juni 20121. Virus yang
menyerang sistem operasi Microsoft Windows ini dipercaya dibuat
untuk menyerang infrastruktur dari negara Iran dengan menyerang
perangkat (hardware dan software) yang dibuat oleh Siemens.
28
Perangkat Siemens tersebut banyak digunakan sebagai basis dari
SCADA (supervisory control and data acquisition) yang digunakan
diberbagai tempat industri dan pertahanan Iran. Sampai saat ini
masih diduga siapa pembuat virus Stuxnet tersebut. Setelah
Stuxnet, kemudian muncul malware baru yang bernama Flame yang
memiliki karakteristik serupa dan bahkan dianggap memiliki fitur
yang lebih baik.
Serangan yang dianggap pertama kali terhadap infrastruktur
utama (critical infrastructure), yaitu listrik, terjadi ditahun 2015.
Serangan dilakukan terhadap penyedia jasa listrik di Ukraina.
Penyerangan dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Akibat dari
serangan diatas sekitar 225 ribu orang (pengguna jasa listrik)
kehilangan ayanan. Hari-hari berikutnya setelah serangan
diketahui, sistem juga belum dapat beroperasi sepenuhnya. Diduga
sistem SCADA yang digunakan oleh penyedia jasa istrik di
Amerika (dan seluruh) dunia juga dapat diserang dengan cara
yang sama. Menurut Industrial Control Systems Cyber Emergency
Response Team (ICS-CERT) dari Departement of Homeland
Security Amerika Serikat, penyerangan ini tidak dilakukan secara
sembrono melainkan sudah sistematik.
Untuk melakukan perlindungan perlu diketahui dahulu aset
apa yang ingin dilindungi. Setelah itu baru dapat kita buatkan
rencana dan strategi perlindungannya. Bagi perusahaan, sebelum
melakukan perlindungan dilakukan pendataan aset. Hal yang
sama juga dapat dilakukan pada level negara. Untuk ini biasanya
perlindungan pada level negara dikenal istilah “national critical
infrastructure protection”. Langkah awal adalah dilakukan pemetaan
apa yang masuk kedalam kategori “critical infrastructure”. Beberapa
negara telah melakukan proses ini Nampaknya perlu dilakukan
sebuah pemetaan untuk skala Indonesia.
29
Dari kedua tulisan tersebut, pada umumnya menjelaskan penyebab
dan dampak dari Perang siber (cyber warfare) maupun konsep operasi
untuk menghadapinya, namun belum diuraikan pada aspek strategis dan
taktis dihadapkan pada kondisi Komponen Pertahanan Negara yang terdiri
dari Komponen Utama, Komponen Cadangan dan Komponen Pendukung
termasuk belum mengungkapkan pada aspek penyiapan kemampuan Tim
42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare)
dihadapkan pada kondisi objektif pembangunan TNI yang saat ini
diarahkan untuk menghadapi perang konvensional. Atas dasar tersebut,
penulis berkeinginan untuk membahas penyiapan kemampuan Tim 42
Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
BAB III
METODE PENELITIAN
30
3.1 Desain Penelitian.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif. Menurut Strauss dan Corbin19, yang dimaksud dengan
penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-
penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan
prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari pengukuran. Penelitian
kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang
kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi organisasi
dan aktivitas sosial. Sementara Meleong, mendefinisikan bahwa
penelitian kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah, yang bertujuan
untuk memahami suatu fenomena dalam konteks sosial secara alamiah
dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam
antara peneliti dengan fenomena yang diteliti 20. Oleh karena itu dalam
penelitian kualitatif peneliti adalah sebagai sumber instrumen yakni
sebagai pengumpul data secara langsung. Data yang diteliti dapat
mengalir apa adanya (alamiah) tanpa adanya setingan. Dengan demikian
maka dalam penelitian kualitatif diperlukan adanya informan untuk
mendapatkan data yang akurat dan terpercaya.
3.2 Data, Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data.
Dalam penelitian kualitatif instrumen atau alat penelitian utama
adalah peneliti itu sendiri. Peneliti sebagai instrumen harus dapat
divalidasi untuk mengetahui apakah peneliti telah siap melakukan
penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. Peneliti sendiri akan
melakukan validasi terhadap data, kemampuan tersebut dipengaruhi oleh
pemahaman peneliti terhadap metode kualitatif, penguasaan teori dan
wawasan terhadap bidang yang diteliti, serta kesiapan dan bekal
memasuki lapangan (Sugiyono, Memahami penelitian kualitatif, 2013, h.
19
Definisi Penelitian Kualitatif, lihat V. Wiratna Sujarweni, Metodologi Penelitian Bisnis
dan Ekonomi, Yogyakarta, Pustakabaruppress, 2015, hal 21.
20
Lexy J Meleong, M.A, Metodologi 30 Penelitian Kualitatif, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya,2011, hal 5.
31
59). Selain peneliti yang menjadi instrumen kunci dalam penelitian, peneliti
juga membuat instrumen penelitian dalam bentuk pedoman wawancara
semi terstruktur dan observasi pada saat melaksanakan kegiatan di
lapangan.
3.2.1. Data
1. Data Primer.
Data primer adalah data yang diperoleh langsung,dari
narasumber tanpa perantara (dalam penelitian kualitatif
disebut dengan (key informan). Berupa kata-kata, pokok-
pokok isi pembicaraan key informan dipandu dengan
panduan wawancara dan hasil pengamatan terhadap
fenomena-fenomena yang diteliti yang terjadi di lapangan.
Berkaitan dengan penelitian ini maka, teknik pengambilan
Key informan dengan cara : “Purposive sampling yaitu
dalam menentukan informan dengan pertimbangan dan
tujuan tertentu. Pertimbangan yang dimaksud adalah bahwa
informan yang akan dijadikan sumber data penelitian sangat
paham dan menguasai permasalahan sesuai tujuan
penelitian atau pejabat yang menjabat pada bidang tersebut.
Selanjutnya data yang diperoleh dari informan kemudian
dikumpulkan menjadi satu informasi yang saling terkait “
(Sugiono, 2009 : 219).
2. Data Sekunder.
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara
tidak langsung dari sumbernya. Data yang diperoleh dengan
mengadakan pencatatan, pengamatan dan pengkajian
terhadap dokumen-dokumen yang mendukung penelitian ini.
32
Jenis data sekunder yang dipakai dalam penelitian ini adalah
data yang diperoleh dari hasil telaah dokumen.
3.2.2. Tehnik Pengumpulan Data.
1. Tehnik pengamatan atau observasi. Observasi
menurut Arikunto (2010:199) meliputi kegiatan pemuatan
perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan
seluruh alat indra. Teknik ini dilakukan dengan cara
mengamati dan mencatat secara teliti. Adapun jenis-jenis
observasi tersebut diantaranya yaitu observasi terstruktur,
observasi tak terstruktur, observasi partisipan, dan observasi
nonpartisipan. Peneliti menggunakan observasi
nonpartisipan karena peneliti tidak terlibat secara langsung
hanya sebagai pengamat independen. Dalam penelitian ini
peneliti mengamati aktivitas kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus yang digunakan untuk mengetahui kemampuan
Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi Perang
Siber (Cyber Warfare).
2. Tehnik wawancara. Tehnik wawancara merupakan
suatu cara yang dilakukan dalam rangka mengumpulkan
data. Wawancara dilakukan secara bertatap muka langsung
atau berhadapan antara peneliti dengan informan penelitian.
Wawancara atau interview merupakan salah satu bentuk
tehnik pengumpulan data yang banyak digunakan dalam
penelitian kualitatif dan boleh dikatakan sebagai tehnik
pengumpulan data utama.
Wawancara menurut Sugiyono (2013: 317) adalah
pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide
melalui tanya jawab, sehingga dapat dikostruksikan makna
33
dalam suatu topik tertentu. Wawancara dilakukan secara
mendalam dan terstruktur kepada subjek penelitian dengan
pedoman yang telah di buat, setiap responden diberi
pertanyaan yang sama dan pengumpul data mencatatnya.
3. Tehnik dokumentasi. Yaitu menggunakan
dokumentasi yang diambil oleh penulis dengan sumber data
yang diambil untuk melengkapi penelitian, dimana
dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya
monumental seseorang, studi dokumentasi merupakan
pelengkap dari penggunaan metoda observasi dan
wawancara dalam penelitian kualitatif.
Menurut Arikunto (2010:274) dokumentasi yaitu
mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa
catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti,
notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya. Studi
dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan
metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.
Dalam penelitian ini, studi dokumentasi yang dilakukan oleh
peneliti adalah dengan mengumpulkan data melalui sumber-
sumber tertulis.
4. Tehnik tringulasi. Menurut Moleong (2008:326-332)
agar hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan maka
diperlukan pengecekan data apakah data yang disajikan
valid atau tidak, maka diperlukan teknik keabsahan /
kevalidan data. Untuk memeriksa keabsahan data dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi.
Menurut Sugiyono (2013: 330) triangulasi diartikan sebagai
teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan
data dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber
34
data yang telah ada. Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan dua macam triangulasi yaitu :
a. Triangulasi Teknik Menurut Sugiyono (2013:
330) triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan
teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk
mendapatkan data dari sumber data yang sama.
Peneliti menggunakan observasi partisipatif,
wawancara mendalam, serta dokumentasi untuk
sumber data yang sama secara serempak.
b. Triangulasi Sumber. Menurut Sugiyono (2013:
330) triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan
data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik
yang sama.
3.2.3. Sumber Data.
Pada penelitian kualitatif, peneliti melakukan
observasi dan wawancara kepada orang-orang yang
dipandang tahu dan mengerti serta memahami terkait
dengan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi Perang Siber (Cyber Warfare). Penentuan
sumber data pada orang yang diwawancarai dilakukan
secara purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan
tujuan tertentu. Orang yang dipilih adalah orang yang
sengaja dipilih berdasarkan pemikiran logis karena
dipandang sebagai sumber data atau informasi dan
mempunyai relevansi dengan topik. Kemudian tehnik
pengambilan informan menggunakan tehnik purposive
sampling yaitu tehnik untuk menentukan sampel penelitian
dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan
agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih representative.
35
21
Menurut Margono, pemilihan sekelompok subjek dalam
purposive sampling didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang
dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-
ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dengan kata
lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan
kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan
penelitian. Misalnya, akan melakukan penelitian tentang
disiplin pegawai maka sampel yang dipilih adalah orang
yang memenuhi kriteria-kriteria kedisiplinan pegawai. Cara
memimilih purposive sampling tergantung kriteria apa yang
akan digunakan, jadi ditentukan dulu apa kriteria-kriteria
sampel yang diambil. Oleh karenanya dalam penelitian ini
pemilihan informan dibagi menjadi tiga tahap, yang meliputi:
1. Pemilihan informan awal. Informan yang ditentukan
adalah Wakil Komandan Grup 3 Kopassus.
2. Pemilihan informan lanjutan. Informan lanjutan
dilakukan untuk memperluas informasi dan mendapatkan
data yang lebih banyak. Adapun informan yang ditentukan
adalah Kepala Unit Tim 42 Grup 3 Kopassus .
3. Bilamana data ataupun informasi yang diinginkan
telah terpenuhi, maka pemilihan informan lanjutan tidak perlu
dilanjutkan. Namun bila data yang diinginkan belum
diperoleh, maka jumlah informan dapat ditambah. Informan
yang ditentukan adalah Kepala Seksi Operasi, Kepala Seksi
Intel, Kepala Perhubungan, Bintara Keamanan Jaringan,
Bintara Programmer dan Bintara Elektro.
21
Margono 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, PT Remaja
Rosdakarya,2011, hal 128.
36
3.3. Analisis Data
Setelah mendapatkan data yang diperoleh melalui observasi,
wawancara dan dokumentasi maka tahap selanjutnya adalah melakukan
analisis data. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara
kualitatif. Menurut Sugiyono (2013: 335) analisis data kualitatif ialah
proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari
hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara
mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-
unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang
penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga
mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Analisis data dalam
penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama
di lapangan dan setelah selesai di lapangan.
Analisis data dilakukan menggunakan versi Miles dan Huberman,
dalam Sugiyono (2013: 337) bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif
dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai
tuntas sehingga datanya jenuh. Aktivitas meliputi reduksi data (data
reduction), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan
(verification).
3.3.1. Redukasi Data.
Mereduksi data berarti merangkum,memilih hal-hal yang
pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting ,dicari tema dan
polanya dan membuang yang tidak perlu dengan demikian data
yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas
dan akan mempermudah dalam melakukan pengumpulan data
selanjutnya.
3.3.2. Penyajian Data.
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan
dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori,
37
flowchart dan sejenisnya. Penyajian data dalam penelitian ini
peneliti paparkan dengan teks yang bersifat naratif dan dirancang
guna menggabungkan informasi yang tersusun sehingga mudah
dipahami.
3.3.3. Verifikasi dan Penarikan Kesimpulan.
Langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan,
kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan
akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang
mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi
apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung
oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke
lapangan saat mengumpulkan data maka kesimpulan yang
dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Dengan
demikian kesimpulan mungkin dapat menjawab rumusan masalah
tetapi mungkin juga tidak karena dalam penelitian kualitatif
rumusan masalah masih bersifat sementara dan akan berkembang
setelah penelitian berada di lapangan.
3.4. Sistematika Penulisan.
3.4.1. Bab I. Pendahuluan. Pada bab ini penulis akan
menguraikan tentang latar belakang , Rumusan Masalah, Maksud
dan Tujuan Penelitian serta Manfaat Penelitian.
3.4.2. Bab II. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pemikiran. Pada
bab ini penulis akan menguraikan tentang tinjauan pustaka,
kerangka pemekirin dan penelitian ilmiah terdahulu.
3.4.3. Bab III. Metode Penelitian.
Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang disain
penelitian, data, tehnik pengumpulan data dan sumber data,
38
analisis data, sistematika penulisan serta lokasi dan jadwal
penelitian.
3.4.4. Bab IV. Hasil Penelitian dan Pembahasan.
Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang hasil
penelitian mencangkup uraian hasil analisis data yang telah
disistematiskan dan diarahkan untuk mengungkap berbagai fakta.
Kemudian membahas penjelasan mengenai hasil penelitian yang
telah dilaksanakan.
3.4.5. Bab V. Pemecahan Masalah.
Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang model
pemecahan masalah yang digunakan serta gagasan inovatif.
3.4.6. Bab VI. Penutup.
Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang hasil
kesimpulan dari hasil pelaksanaan penelitian berikut saran dan
masukan.
3.5. Lokasi dan Jadwal Penelitian.
3.5.1. Lokasi Penelitian.
Penelitian dilaksanakan di Tim 42 Grup 3 Kopassus.
3.5.2. Jadwal Penelitian.
1. Tahap pra lapangan. Tahap pra lapangan yaitu
memperhatikan segala macam persoalan dan segala
macam persiapan sebelum peneliti terjun kedalam kegiatan
penelitian. Tahap pra lapangan dilaksanakan pada bulan Mei
2019 dan memiliki enam tahapan yakni:
39
a. Memilih lapangan penelitian dengan cara
mempelajari serta mendalami fokus dan rumusan
masalah penelitian.
b. Menyusun rancangan penelitian tentang
penerapan model pembelajaran berbasis masalah
berdasarkan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI) dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
c. Menjajaki dan menilai lapangan dimana peneliti
melakukan orientasi lapangan.
d. Memilih dan memanfaatkan informan yang
berguna sebagai pemberi informasi tentang situasi
dan kondisi tempat penelitian.
e. Menyiapkan perlengkapan penelitian yang
diperlukan seperti alat tulis dan alat perekam.
2. Analisis data. Peneliti dalam tahapan ini melakukan
serangkaian proses analisis data kualitatif sampai pada
interpretasi data-data yang telah diperoleh sebelumnya.
Selain itu untuk menguji kredibilitas data tersebut peneliti
menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber.
Tahap analisis data dilakukan selama bulan Juli 2019.
3. Penulisan laporan penelitian. Penulisan data subjek
yang telah berhasil dikumpulkan merupakan suatu hal yang
membantu penulis untuk memeriksa kembali apakah
kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini,
penulisan yang dipakai dalam presentase data yang didapat
40
yaitu, penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan
wawancara mendalam dan observasi dengan subjek dan
significant other.
Proses dimulai dari data-data yang diperoleh dari
subjek dan signifikan other, dibaca berulang kali, sehinggga
penulis mengerti benar permasalahanya, kemudian
dianalisis, sehingga didapat gambaran mengenai
penghayatan pengalaman dari subjek. Selanjutnya
dilakukan interprestasi secara keseluruhan, dimana di
dalamnya mencangkup keseluruhan kesimpulan dari hasil
penelitian.
4. Penarikan kesimpulan. Kegiatan analisis penarikan
kesimpulan. Ketika kegiatan pengumpullan data dilakukan,
seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-
benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan,
konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan
proposisi.
Kesimpulan yang mula-mulanya belum jelas akan
meningkat menjadi lebih terperinci. Kesimpulan-kesimpulan
“final” akan muncul bergantung pada besarnya kumpulan-
kumpulan catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan,
dan metode pencarian ulang yang digunakan, kecakapan
peneliti, dan tuntutan pemberi dana, tetapi sering kali
kesimpulan itu telah sering dirumuskan sebelumnya sejak
awal.
Tabel 3.5.2. (Jadwal Penelitian)
No Kegiatan Penelitian Bulan di Tahun 2019
41
2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Studi Pustaka x x x x x x x X
2 Pemilihan Topik x
3 Pengajuan Judul x
4 Penyusunan UP x
5 Sidang UP x
6 Revisi UP x
7 Pengumpulan Data x x
8 Pengolahan Data x x
9 Analisis Data x
10 Penyusunan Karlismil x x x x x x
11 Konsultasi dan Bimbingan x x x x x x x x
12 Perbaikan-perbaikan x x x x x
13 Sidang Karlismil x
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
42
4.1. Hasil Penelitian.
Dalam penelitian kualitatif diperlukan data tentang lokasi penelitian
serta informan yang memberikan keterangan melalui wawancara. Pada
bab ini akan memberikan gambaran secara umum tentang lokasi
penelitian serta informan yang memberikan keterangan secara deskriptif
yang selanjutnya penulis analisa melalui pembahasan yang akan
dituangkan dengan menggunakan pendekatan teori yang telah dijelaskan
pada pembahasan sebelumnya, sehingga diharapkan dapat menjawab
rumusan masalah dalam penelitian ini.
4.1.1 Gambaran umum lokasi penelitian dan informan.
Lokasi penelitian dilaksanakan di Tim 42 Grup 3 Kopassus,
yang merupakan satuan operasional Kopassus yang melaksanakan
pekerjaan, kegiatan dan pelatihan dalam mengantisipasi perang
siber (cyber warfare) yaitu diantaranya domain web, data center
web, jammer system, hacking program system, radio all band, HP
enkrepsi, wirelles network system, solarcell, network operation
sistem, mesin cetak offset, signal detector, infrared detector,
spectrum, displayer, main carier system, radio receiver yupiter, TR
mini, INR3 SSV, ranger spec,tolkit mekanik set, electronik toolkit
set, hub set, data center CCTV, camera CCTV, LCD monitor CCTV,
network intercept, communication monitoring device, mesin cetak
offset dan VSAT mobile sistem22, yang bermarkas di Markas
Komando Cijantung, Jakarta Timur.
Grup-3 Kopassus terdiri dari Batalyon 31/Eka Sandhi Yudha
Utama, Batalyon 32/Apta Sandhi Prayudha Utama dan Batalyon
33/Wira Sandhi Yudha Sakti. Dangrup-3 Kopassus dijabat oleh
22
Perkasad Nomor 41, tentang organisasi dan tugas Grup 2 dan 3 Kopassus (Orgas
Grup 2 dan 3 Kopassus), Tahun 2015.
42
43
seorang perwira menengah berpangkat Kolonel, dengan jumlah
personel sebanyak 1.459 orang. Berdasarkan hasil laporan
Evaluasi Kemantapan dan Kesiapsiagaan Operasional (EKKO)
Grup-3 Kopassus pada semester 2 tahun 2017, didapatkan hasil
dalam bidang personel 66,18%, materil 49,17%, dan pangkalan
70,84%. Aspek terpenting dari hasil EKKO tersebut, yaitu kurang
optimalnya kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare), yang saat ini
ditemukan kurang optimalnya kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI) dan
pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
Dalam penelitian ini penulis menetapkan beberapa
narasumber / informan yang diantaranya ditampilkan dalam tabel
di bawah
Tabel 4.1.
Daftar Nama Narasumber / Informan dalam Penelitian
No Nama Jabatan
1 2 3
Wadan Grup-3
1. Letkol Inf Wing Sandya Udayanto, S.E.
Kopassus
Kepala Seksi Intel
2. Mayor Inf Rafael Hotasi Siagian
Grup-3 Kopassus
Kepala Perhubungan
3. Mayor Chb Hendra Sormin, S.T.
Grup-3 Kopassus
1 2 3
4. Kepala Seksi Operasi
Kapten Inf Febrin
Grup-3 Kopassus
44
Kepala Unit 1 Tim-42
5. Lettu Inf Julianto Sihombing
Grup-3 Kopassus
Kepala Unit 2 Tim-42
6. Lettu Ing Fredy Jaya Sitepu
Grup-3 Kopassus
Bintara Keamanan
7. Serka Jaka Fadillah Jaringan Tim-42 Grup-
3 Kopassus
Bintara Programer Tim-
8. Serka Dede Nurmansyah
42 Grup-3 Kopassus
Bintara Elektro Tim-42
9. Serka Adriyanto Pujo Sulistyo Grup-3 Kopassus
Gambaran umum tentang Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare), yang diperoleh
melalui hasil penelitian (wawancara) terhadap teori kemampuan,
teori Network Centric Warfare (NCW) dan teori Doktrin Militer
dalam Cyber Warfare Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI) dan pemeliharaan /
pengadaan alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare) dapat diuraikan
sebagai berikut :
4.1.2 Deskripsi hasil wawancara dengan informan.
45
1. Kemampuan. Kemampuan atau ability merujuk ke
suatu kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas
dalam suatu pekerjaan. Kemampuan Tim-42 Grup-3
Kopassus di bidang Teknologi Informasi (TI) sudah sesuai
dengan tugas pokok melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan
pelatihan di bidang Jaringan Dunia Maya (cyber space),
mulai dari penguasaan Hardware, Software, infrastruktur
jaringan computer yang bersifat LAN (Local Area Network),
WAN (Wide Area Network) sampai dengan pengelolaan
sumber daya Internet (Interconnection-Networking).
a. Kemampuan Sumber Daya Manusia. Kita
mengenal istilah ”the man behind the gun”, yaitu
menempatkan manusia/prajurit sebagai unsur utama
dalam pertempuran (perang). Namun ke depan,
seiring meningkatnya Iptek, selain SDM sebagai
unsur yang paling dominan, maka teknologi
persenjataan yang dimiliki juga sangat menentukan
dalam memenangkan pertempuran.23 Berubahnya
tren perang mendorong kekuatan pertahanan
Indonesia tidak lagi hanya mengandalkan
kemampuan penguasaan senjata saja, tapi lebih
lanjut berupa penguasaan teknologi dan keahlian
khusus lainnya. Misalnya dalam menghadapi
asymetric warfare maka diperlukan keahlian
penguasaan teknologi informasi yang canggih, berupa
skill hacker dan cracker. Selain itu, bentuk ancaman
terus bermunculan dalam berbagai bentuk yang
berbeda-beda misalnya Electronic Warfare,
23
Subekti, “Modernisasi Alutsista TNI AD Untuk Mencapai Pembangunan Kekuatan
Pokok Minimum”, Jurnal Angkatan Darat Yudhagama, Vol.32,No.1, Maret 2012.
46
Information Warfare, Cyber Warfare, dan
Psychological Warfare.
Keahlian dan kemampuan penguasaan
teknologi pertahanan menjadi sangat penting, namun
untuk menguasainya tidak diperoleh secara instan.
Diperlukan proses panjang melalui human investment
seperti pendidikan dan pelatihan ataupun transfer
teknologi. Keunggulan pertahanan setiap negara akan
bertumpu pada kemampuannya dalam memanfaatkan
potensi SDM yang ada, tidak hanya menambah
secara kuantitatif namun juga harus di-upgrade
kualitasnya berupa keahlian khusus, kemampuan fisik
dan moril. Begitu pula dengan alutsista, harus
ditingkatkan kompetensi teknologinya. Oleh
karenanya, peran pendidikan menjadi sedemikian
penting karena SDM merupakan salah satu faktor
pembangunan dan pertahanan. Individu dengan
human capital yang tinggi akan berpengaruh positif
terhadap pertahanan nasional dan perekonomian
(endowment tenaga kerja).
Hasil wawancara dengan Letkol Wing Sandya
Udayanto, S.E. (Wadan Grup-3 Kopassus),
bersepakat bahwa :
“Kemampuan Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah sesuai
dengan tugas pokok dalam pelaksanaan kegiatan
yang berhubungan dengan Tekhnologi Informasi,
namun masih perlu adanya peningkatan kemampuan
dilihat dari arus perkembangan dan update ilmu
pengetahuan teknologi dan informasi yang sangat
cepat berubah dan berevolusi dalam hitungan detik,
kendati demikian Grup-3 Kopassus selalu
mengadakan latihan-latihan untuk meningkatkan
kemampuan personel Tim-42 baik dalam kegiatan
latihan sehari-hari maupun latihan satuan, baik yang
47
bersifat latihan khusus Tim-42 maupun latihan
Tekhnologi Informasi untuk mendukung Operasi
Sandi Yudha. Sehingga dapat dikatakan bahwa Tim-
42 layak dan siap untuk menghadapi tantangan tugas
yang berhubungan dengan dunia maya dan
jaringan,baik online maupun ofline.”.
Selanjutnya terkait dengan kemampuan SDM
Tim-42 Grup-3 Kopassus Letkol Wing Sandya
Udayanto, S.E. menyatakan bahwa :
“Kemampuan SDM yang ada di Grup-3 saat ini masih
memiliki keterbatasan, sehingga ada kemungkinan
serangan balik yang dilakukan kurang maksimal,
tetapi Tim-42 masih mampu untuk menahan serangan
dan melakukan pertahanan Cyber secara terbatas
dengan peralatan yang dimiliki saat ini.
Dari data tersebut, kemudian penulis
membandingkan dengan pernyataan dari narasumber
/ informan Staf dan Komandan Satuan Bawah,
sebagai berikut :
Berdasarkan hasil wawancara dengan Mayor
Inf Rafael Hotasi Siagian (Kepala Seksi Intel Grup-3
Kopassus), menjelaskan bahwa :
“Kemampuan SDM Tim-42 Grup-3 saat ini masih
belum memadai khususnya dalam mengantisipasi
ancaman perang cyber karena kekurangan tersebut
maka dibidang keamanan Cyber Tim-42 Grup-3 dapat
berpotensi menghambat tugas pokok Tim-42 Grup-3
Kopassus.”
b. Kemampuan Alat Peralatan. Alat peralatan
yang dimiliki oleh Tim 42 Grup 3 Kopassus saat ini
mampu melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan
pelatihan dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare) yaitu diantaranya domain web, data center
web, jammer system, hacking program system, radio
48
all band, HP enkrepsi, wirelles network system,
solarcell, network operation sistem, mesin cetak
offset, signal detector, infrared detector, spectrum,
displayer, main carier system, radio receiver yupiter,
TR mini, INR3 SSV, ranger spec,tolkit mekanik set,
electronik toolkit set, hub set, data center CCTV,
camera CCTV, LCD monitor CCTV, network intercept,
communication monitoring device, mesin cetak offset
dan VSAT mobile sistem.
Selanjutnya terkait dengan kemampuan alat
peralatan Tim-42 Grup-3 Kopassus Letkol Wing
Sandya Udayanto, S.E. menyatakan bahwa :
“Kemampuan alat peralatan yang ada di Grup-3 saat
ini masih memiliki keterbatasan, sehingga ada
kemungkinan serangan balik yang dilakukan kurang
maksimal, tetapi Tim-42 masih mampu untuk
menahan serangan dan melakukan pertahanan Cyber
secara terbatas dengan peralatan yang dimiliki saat
ini. Peralatan yang ada saat ini dapat dikatakan
sebagai peralatan yang modern dan efektif, hanya
perlu adanya penyesuaian setiap beberapa waktu
karena perkembangan teknologi yang tidak pernah
berhenti.”.
Dari data tersebut, kemudian penulis
membandingkan dengan pernyataan dari narasumber
/ informan Staf dan Komandan Satuan Bawah,
sebagai berikut :
Berdasarkan hasil wawancara dengan Mayor
Inf Rafael Hotasi Siagian (Kepala Seksi Intel Grup-3
Kopassus), menjelaskan bahwa :
“Kemampuan alat peralatan Tim-42 Grup-3 saat ini
masih belum memadai khususnya dalam
mengantisipasi ancaman perang cyber karena
kekurangan tersebut maka dibidang keamanan Cyber
Tim-42 Grup-3 dapat berpotensi menghambat tugas
49
pokok Tim-42 Grup-3 Kopassus. Hal tersebut
terjadi karena lemahnya sistem pertahanan alat
peralatan Tim-42 Grup-3 sehingga sangat mungkin
terjadinya ancaman keamanan dan pertahanan cyber
Grup-3 Kopassus.”.
Hasil wawancara dengan Mayor Chb Hendra
Sormin, S.T. (Kepala Perhubungan Grup-3
Kopassus), yang menyampaikan bahwa :
“Untuk alat-peralatan Tim-42 Grup-3 belum memadai
untuk mengantisipasi terhadap ancaran perang Cyber
sebab alat-alat yang dimiliki sejak terbentuknya Tim-
42 Grup-3 masih sedikit dan dengan perkembangan
teknologi yang sangat pesat alat alat tersebut dalam
waktu dekat harus Upgrade (perpanjanngan
pemakaian seperti halnya Sosial Media Intelijen
(SMI), intersep dan Smart Phone Celebrate dimana
masa pakainya per Oktober tahun 2019, sehingga
agar alat ini berfungsi dan dapat digunakan maka
harus diperpanjang dan sudah dalam pengajuan ke
satuan atas melalui Sren Grup-3 Kopassus.”
Hasil wawancara dengan Kapten Inf Febrin
(Kepala Seksi Operasi Grup-3 Kopassus), yang
menjelaskan bahwa :
“Kondisi alat-peralatan dan SDM Tim-42 Grup-3
Kopassus yang tersedia saat ini dirasakan belum
mampu untuk mengantisipasi perang Cyber. Hal ini
disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu ;
Jumlah Alat Peralatan yang ada belum ideal sehingga
perlu pengadaan serta penambahan alat peralatan
yang sesuai kebutuhan (potensi ancaman kedepan).
Jumlah personel yang ada saat ini belum lengkap dan
kemampuannya pun masih perlu ditingkatkan. Kondisi
personel memang sudah menjadi persoalan sejak
lama dimana sampai dengan saat ini prosentase
personel Grup-3 Kopassus hanya 70 % dari TOP.”.
c. Kemampuan perang siber. Penggunaan
teknologi informasi dan jaringan komputer memang
50
sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.
Berbagai aplikasi berbasis teknologi informasi sudah
kita gunakan. Perang cyber (cyber warfare),
merupakan bentuk perang yang menggunakan
jaringan komputer dan Internet atau dunia maya
(cyber space) dengan berbagai strategi pertahanan
atau penyerangan sistim informasi lawan. Cyber
warfare dikenal sebagai perang cyber yang
penggunaan fasilitas www (world wide web) dan
jaringan komputer sebagai media untuk melakukan
perang di dunia maya.
Cyber warfare saat ini termasuk dalam kategori
perang informasi berskala rendah (low-level
information warfare), namun dalam beberapa tahun
mendatang mungkin sudah dikatakan sebagai
peperangan informasi yang sesungguhnya (the real
information warfare). Berbagai aksi dapat dilakukan
dalam cyber warfare atau cyber information, berupa
kegiatan disinformasi atau propaganda mengarah
kepada perang psikologi (phycholocial warfare) yang
dapat mengancam seluruh aspek kehidupan
masyarakat baik ekonomi, budaya, sosial, ataupun
militer suatu negara sebagai bentuk perang modern. 24
Oleh karena itu, pemecahan masalah merupakan
bagian integral dari semua Kemampuan Tim 42 Grup
3 Kopassus Dalam Mengantisipasi Perang Siber
(Cyber Warfare).
24
Trinquier Roger, 1985. Modern Warfare: A French View of Counterinsurgency, Pall Mall
Press, London and Dunmow.
51
Hasil wawancara dengan Lettu Julianto
Sihombing (Kepala Unit 1 Tim-42 Grup-3 Kopassus),
yang menyatakan bahwa :
“Sesuai dengan fungsinya tugas yang diemban dalam
mengantisipasi Perang Cyber (Cyber Warfare) bahwa
Tim-42 Grup-3 Kopassus sesuai Petunjuk Teknis
tentang Teknologi Informasi dalam Operasi Sandi
Yudha untuk mengaktualisasikan kemampuan
operasionalnya melaksanakan operasi Sandi Yudha.
Saat ini kemajuan ilmu Teknologi Informasi
menciptakan produk teknologi terbaik, bahkan
peperangan dilakukan oleh suatu negara maju
saat ini mengedepankan dunia maya yang disebut
Cyber War. Melihat situasi ini Kopassus mengikuti
perkembangan untuk mendukung tercapainya
keberhasilan tugas, dalam menghadapi globalisasi
Teknologi Informasi.”.
Hasil wawancara dengan Lettu Fredy Jaya
Sitepu (Kepala Unit 2 Tim-42 Grup-3 Kopassus), yang
menyatakan bahwa :
“Menurut kami selaku Ka Unit 2 Tim-42 Grup-3
Kopassus, pembentukan Tim-42 yang dititikberatkan
kepada bidang Teknologi Informasi sudah sesuai
dengan fungsinya. Tentu hal ini untuk menghadapi
Perang Cyber (Cyber Warfare). Saat ini kemajuan
ilmu Teknologi Informasi menciptakan produk
teknologi terbaik, bahkan peperangan yang dilakukan
oleh suatu negara mengedepankan dunia maya
yang disebut Cyber War. Melihat situasi ini Kopassus
mengikuti perkembangan untuk mendukung
tercapainya keberhasilan tugas, dalam menghadapi
globalisasi Teknologi Informasi”.
Hasil wawancara dengan Serka Jaka Fadillah
(Bintara Keamanan Jaringan Tim-42 Grup-3
Kopassus), yang menjelaskan bahwa :
“Kemampuan Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah mampu
mengambil peranan dalam mengantisipasi Perang
52
Cyber, hal yang kami lakukan adalah dengan
melakukan counter opini terhadap sentimen/isu
negatif yang berkembang di masyarakat. Ini
merupakan bagian dari perang informasi yang
dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggungjawab. Stabilitas keamanan nasional
sangat bergantung dari informasi yang berkembang.
Sering munculnya berita hoax juga menjadi salah satu
pemicu chaos di wilayah Indonesia. Selain itu kami
juga memproteksi jaringan kami dengan memasang
firewall dan antivirus sehingga serangan Cyber dari
pihak luar dapat terdeteksi dini dan mampu untuk
dicegah.”.
Hasil wawancara dengan Serka Dede
Nurmansyah (Bintara Programer Tim-42 Grup-3
Kopassus), yang menyatakan bahwa :
“Sistem Operasi yang banyak digunakan sebagai
alat/saran untuk melakukan kegiatan serangan cyber
adalah dengan Sitem Operasi Kali linux. Hal ini
dikarenakan, dalam sistem operasi Kali linux sudah
tersedia bermacam-macam Tools/Software
penetration test (Software Hacking) yang dapat
digunakan dengan mudah. Kemudahan akses dalam
mendapatkan program sistem Operasi Kali Linux
yang diberikan secara gratis dan kemudahan dalam
melakukan instalasi menjadi salah satu faktor
mengapa sistem operasi ini sangat populer di dunia
hacking.”.
Hasil wawancara dengan Serka Adriyanto Pujo
Sulistyo (Bintara Elektro Tim-42 Grup-3 Kopassus),
yang menjelaskan bahwa :
“Unit Jaringan Tim-42 Grup-3 Kopassus telah
melaksanakan kegiatan latihan Cyber
Defence/Pertahanan Cyber (dilaksanakan pada
Triwulan I), Serangan Cyber (dilaksanakan pada
Triwulan II) dan Forensci Cyber (dilaksanakan pada
Triwulan III). Pembuatan produk berupa pembuatan
virus malware telah dicoba dan diupayakan pada
materi serangan Cyber, sedangkan untuk pembuatan
server masih sebatas pengetahuan umum..”.
53
2. Di dalam konsep perang cyber (cyber warfare),
penggunaan sistim teknologi informasi dilakukan untuk
mendukung kepentingan komunikasi antar personil perang
dengan peralatan pendukung perang lainnya, seperti
pesawat, kapal, peralatan militer lainnya yang terintegrasi
dalam kesatuan sistem komando kendali militer modern,
yaitu sistem NCW (Network Centric Warfare). Dengan
adanya teknologi NCW yang didukung infrastruktur SIPRNet,
serta penggunaan satelit mata-mata dan satelit GPS,
memungkinkan NC memvisualisasikan seluruh kegiatan
operasi militer / operasi militer gabungan yang sedang
berlangsung di medan pertempuran (battle field) ke layar
lebar ruang yudha (military operation room), yang mungkin
jaraknya terpisahkan ribuan kilometer jauhnya. Maksudnya,
pusat komando dapat secara on-line system dan real-time
mengendalikan operasi militer yang sedang berlangsung
secara jarak jauh (remotely).
Namun, konsep NCW hanya dapat diimplementasikan
dengan cara melakukan revisi atau penyesuaian doktrin
operasi militer gabungan terlebih dahulu, sebagai acuan
dalam penyelenggaraan operasi militer gabungan (joint
military campaign). Hal ini dimungkinkan karena doktrin
operasi militer selalu bersifat dinamis menyesuaikan laju
perkembangan zaman dan perkembangan lingkungan
global.
Hasil wawancara dengan Letkol Wing Sandya
Udayanto, S.E. (Wadan Grup-3 Kopassus), menyatakan
bahwa :
“Kualitas pengetahuan/penguasaan tekhnologi Informasi
sudah sesuai dengan standar, dimana personel yang
54
mengawaki Tim TI atau Tim-42 memiliki kemampuan sesuai
dengan bagiannya masing-masing, tetapi ada sedikit
kendala yaitu personel TI yang ada di basis saat ini belum
terpenuhi sepenuhnya dan banyak yang digunakan dalam
kegiatan operasi, sehingga masih ada pekerjaan rumah
yang perlu diselesaikan untuk tetap terjaganya penguasaan
peralatan yang ada di Tim-42, dan masih perlu adanya
kaderisasi setiap jangka waktu tertentu, sehingga personel
yang menguasai peralatan tidak hanya orang tertentu saja.”.
Dari data tersebut, kemudian penulis membandingkan
dengan pernyataan dari narasumber / informan Staf dan
Komandan Satuan Bawah, sebagai berikut :
Berdasarkan hasil wawancara dengan Mayor Inf
Rafael Hotasi Siagian (Kepala Seksi Intel Grup-3 Kopassus),
menjelaskan bahwa :
“Keterbatasan dan tidak meratanya kemampuan Personal
menguasai alat peralatan Tim-42 serta alat perealatan yang
belum sepenuhnya mendukung Tugas Pokok maka Tim-42
tidak jarang mengalami kesulitan dalam mengatasi situasi
pada saat melakukan Tugas [Link] terkait
NCW Sistem pertahanan cyber dan alat peralatan Tim-42
harus benar-benar yang terbaik dan aman sehingga tidak
mudah terjadinya kebocoran informasi rahasia Grup-3
Kopassus selain itu perlu peningkatan SDM personel Tim-42
yang mengawaki alat peralatan tersebut dengan melakukan
pelatihan khusus secara berkala mengikuti perkembangan
Cyber..”.
Hasil wawancara dengan Mayor Chb Hendra Sormin,
S.T. (Kepala Perhubungan Grup-3 Kopassus), yang
menyampaikan bahwa :
“Untuk alat-peralatan Tim-42 Grup-3 Alat yang dimiliki Tim-
42 Grup-3 Kopassus yang sangat prioritas untuk Disupervisi
dan di Upgrade adalah SMI (Sosial Media Inteligen),
Intersep dan Smart Phone Celebrate.”
55
Hasil wawancara dengan Kapten Inf Febrin (Kepala
Seksi Operasi Grup-3 Kopassus), yang menjelaskan bahwa :
“Berdasarkan pengalaman tugas yang telah dilaksanakan
bahwa alat peralatan Tim-42 yang ada saat ini telah mampu
memberikan dukungan dalam menunjang tugas pokok
satgas. Namun perlu diketahui bahwa alat peralatan TI itu
harus selalu di “up grade”, mengingat perkembangan TI
pada saat ini sangat pesat. Dengan kata lain bahwa alat
peralatan TI harus mengikuti perkembangan zaman, dimana
idealnya adalah setiap alat yang digunakan mempunyai
batas waktu maksimal 5 tahun untuk
pengoperasionalannya.”.
Hasil wawancara dengan Lettu Julianto Sihombing
(Kepala Unit 1 Tim-42 Grup-3 Kopassus), yang menyatakan
bahwa :
“Sangat perlu dilakukan uji kompetensi berkala untuk seluruh
personel Tim-42, hal dihadapkan dengan perkembangan
Teknologi Informasi yang begitu cepat dan massif, sehingga
personel Tim-42 dapat mengetahui tentang perkembangan
Teknologi terkini.”.
Hasil wawancara dengan Lettu Fredy Jaya Sitepu
(Kepala Unit 2 Tim-42 Grup-3 Kopassus), yang menyatakan
bahwa :
“Sangat perlu dilakukan uji kompetensi berkala untuk
personel Tim-42, hal dihadapkan dengan perkembangan
Teknologi Informasi yang begitu cepat dan massif, sehingga
Tim-42 dapat mengetahui tentang perkembangan Teknologi
terkini dan bentuk-bentuk ancaman.”.
Hasil wawancara dengan Serka Jaka Fadillah (Bintara
Keamanan Jaringan Tim-42 Grup-3 Kopassus), yang
menjelaskan bahwa :
“Penguasaan material almatsus sudah dimilki oleh masing-
masing personel Tim-42 Grup-3 Kopassus sesuai dengan
spesialisasinya (Standarisasi kemampuan masing-masing
56
perorangan juga sudah terpenuhi dibarengi dengan
kemampuan khusus sebagai pengguna almatsus).
Sebelumnya para personel Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah
menerima pembekalan materi, pelatihan dan kegiatan
aplikatif dilapangan tentang penggunaan almatsus secara
rutin sehingga pembinaan kemampuan dapat terjaga serta
mampu melaksanakan tugas pokok sesuai dengan fungsi
Tim-42 dalam mendukung Tugas Pokok Sandi Yudha.”.
Hasil wawancara dengan Serka Dede Nurmansyah
(Bintara Programer Tim-42 Grup-3 Kopassus), yang
menyatakan bahwa :
“Kendala terbesar kami adalah penguasaan bahasa
pemrograman yang masih terbatas, kurangnya ketelitian
dalam merangkai bahasa pemrograman dan kurangnya
pemahaman tentang konsep membuat suatu program
(tujuan dibuatnya suatu program, kegunaan program itu
sendiri, dampak positif negatif program tersebut).”.
Hasil wawancara dengan Serka Adriyanto Pujo
Sulistyo (Bintara Elektro Tim-42 Grup-3 Kopassus), yang
menjelaskan bahwa :
“Grup-3 Kopassus memiliki beberapa almatsus yang
digunakan seperti GPS Tracking dan Sosial Media Intelijen
(Software Tangles). Almatsus tersebut telah digunakan
selama ± 1 tahun dan dapat digunakan secara maksimal
dalam mendukung tugas pokok maupun tugas operasi Grup-
3 Kopassus. Akan tetapi saat ini alat tersebut telah
memasuki masa upgrade/perpanjang sehingga perlu
diadakan perpanjang kontrak/upgrade kemampuan almatsus
tersebut.”.
3. Menghadapi cyber warfare sebagai perang modern,
Indonesia perlu mempersiapkan sumber daya manusia
teknologi informasi (SDM TI), insfrastruktur, dan pembuatan
doktrin dan strategi kebijakan keamanan cyber nasional
untuk menghadapi cyber warfare yang sesungguhnya di
57
masa yang akan datang. Dalam mengimplementasikan
cyber warfare diperlukan doktrin dan strategi keamanan
cyber nasional pertahanan negara di bidang cyber. Hampir
seluruh negara di dunia yang menggunakan internet dan
komputer dalam sistem pertahanan negara dan infrastruktur
lainnya melakukan perubahan terhadap doktrin tersebut
dengan tujuan untuk dapat digunakan sesuai dengan
perkembangan teknologi saat ini.
Doktrin Transformasi Militer ini dicetuskan pertama
kali pada tanggal 11 Januari 2001, oleh Donald Rumsfeld
selaku US Secretary of Defense, yang menginginkan postur
AB Amerika yang lebih efektif, efisien dan modern. Doktrin
baru tersebut dapat diimplementasikan terutama dengan
terus dikembangkannya bom-bom pintar (smart boms) oleh
AB Amerika.
Belajar dari pengalaman AS dan negara-negara
pengguna teknologi internet lainnya, Indonesia saat ini
sudah mulai menerapkan inisiatif pertahanan cyber di
lingkungan militer walaupun masih difokuskan untuk
melindungi kepentingan internal 25. Upaya pengembangan
terus dilakukan sehingga diharapkan kedepan mampu
membangun kekuatan cyber nasional yang dapat melindungi
keamanan sistem informasi nasional dengan membentuk
sebuah kekuatan cyber (cyber power) berskala nasional.
Adapun dalam pembuatan strategi keamanan cyber
nasional perlu diperhatikan tiga unsur pokok yang mendasari
pembuatan strategi, yaitu means, ways, dan ends. Mean,
adalah segala sumber daya dan upaya yang dilakukan oleh
seluruh elemen nasional baik militer ataupun pertahanan
25
Universitas Pertahanan Indonesia, 2012. Kajian Strategis Keamanan Cyber Nasional:
Dalam Rangka Meningkatkan Ketahanan Nasional Dibidang Keamanan Cyber, Jakarta
58
negara. Ways, artinya cara yang dilakukan untuk
mempertahanan melalui strategi pertahanan berlapis.
Sedangkan Ends berisi tentang tujuan pertahanan negara,
yaitu menjaga kedaulatan negara, ketuhan wilayah, dan
keselamatan bangsa yang disusun dalam 5 (lima) sasaran
strategis. Adapun kelima sasaran strategis, adalah:
a. Terciptanya pertahanan negara yang dapat
menangkal segala bentuk ancaman dan gangguan
yang dapat membahayakan kedaulatan negara,
keutuhan wilayah negara kesatuan republik Indonesia
(NKRI), dan keselamatan seluruh bangsa Indonesia.
b. Terciptanya pertahanan negara dalam
menghadapi perang agresi militer oleh negara asing.
c. Terciptanya pertahanan negara untuk
menanggulangi ancaman militer yang berpotensi
mengancam keberadan dan kepentingan NKRI.
d. Terciptanya pertahanan negara dalam
menangani ancaman nirmiliter yang berimplikasi
terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan
keselamatan bangsa Indonesia.
e. Terciptanya pertahanan negara dalam
mewujudkan perdamaian dunia dan stabilitas
regional.
59
Penyelenggaraan fungsi pertahanan negara
didasarkan atas nilai-nilai demokrasi yang merdeka,
berdaulat, dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Oleh
karena itu diperlukan doktrin pertahanan negara yang dapat
mengarahkan setiap unsur dalam sistem pertahanan untuk
mencapai tujuan nasional. Doktrin pertahanan negara
dijadikan sebagai modal utama dalam merencanakan
strategi dan kebijakan pertahanan negara
Gambar 4.2. Hubungan Doktrin, Strategi dan Kebijakan 26
Membangun kekuatan cyber nasional yang tangguh
tidak terlepas dari peran dan kerjasama militer dengan
memaksimalkan seluruh komponen nasional yang terbentuk
dalam kerjasama sipil-militer (civil -miltary cooperation)
dengan memperhatikan 3 (tiga) kemampuan (daya), yaitu
daya tangkal, daya tindak, dan daya pulih.
26
Iwan Kustiayawan, Slide MK CSPS:Preliminary kepada Mahasiswa Prodi Peperangan
Asimeris Cohort 2, Universitas Pertahanan Indonesia
60
Hal ini terbukti dari hasil wawancara peneliti dengan
narasumber saat melakukan penelitian tentang kurang
optimalnya kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare) merupakan
sebuah ancaman bagi kedaulatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang menggunakan doktrin pertahanan
semesta dengan melibatkan seluruh warga negara, wilayah
dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan
secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara
total, terpadu, terarah, dan berlanjut.
Hasil wawancara dengan Letkol Wing Sandya
Udayanto, S.E. (Wadan Grup-3 Kopassus), menyatakan
bahwa :
“Dengan mengadakan alat material khusus TI yang
mumpuni baik untuk analisis maupun mendapatkan
informasi dengan cepat dan akurat, karena perlengkapan
yang ada di TI saat ini masih perlu banyak update
kemampuan alat material khusus. Sebagaimana
diungkapkan mantan karyawan Central Intelligence Agency
(CIA) Edward Snowden menyatakan bahwa tim cyber
National Security Agency (NSA) membajak sekaligus
menanam Malware (Malicious Software / suatu program
yang dirancang dengan tujuan untuk merusak / sabotase
dengan menyusup ke sistem komputer melalui virus) pada
produk buatan Amerika seperti ; Personal Computer,
Telepon seluler, Tablet, Pad, Sim Card, Media Sosial,
Google, Yahoo, Youtube, Facebook, Microsoft, Skype dan
Apple. Ini bagian dari inisiasi perang Cyber Amerika”.
“Tantangan terbesar adalah perkembangan dunia
cyber yang semakin pesat dan banyaknya orang yang
menguasai ilmu Cyber baik untuk kepentingan posistif
maupun negatif. Hal ini akan mempengaruhi banyaknya
kerawanan yang dapat digunakan untuk melakukan
penyerangan dari pihak musuh, untuk itu perlu ditingkatkan
perlengkapan dan SDM untuk mengawaki Tim-42, langkah
kongkrit yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan
pemahaman tentang bijak dalam bermedsos, membetasi
pengiriman file penting serta membekali Tim-42 dengan
61
perlengkapan yang mumpuni dan terupdate, juga dengan
melakukan spoting dan recruting anggota yang mampu dan
mahir dalam bidang TI.”.
Dari data tersebut, kemudian penulis membandingkan
dengan pernyataan dari narasumber / informan Staf dan
Komandan Satuan Bawah, sebagai berikut :
Hasil wawancara dengan Kapten Inf Febrin (Kepala
Seksi Operasi Grup-3 Kopassus), yang menjelaskan bahwa :
“Ancaman perang Cyber harus mendapatkan perhatian yang
ekstra guna melindungi keamanan nasional. Oleh sebab itu
maka Grup-3 sebagai salah satu satuan operasional
Kopassus harus selalu mengikuti perkembangan zaman
untuk dapat mempertahankan keamanan nasional. Dalam
hal ini Tim-42 yang merupakan salah satu bagian dari Grup-
3 Kopassus harus selalu mendapatkan perhatian khusus
serta dukungan dalam pengembangannya untuk dapat
mencapai tugas pokok satuan.”.
4.2. Pembahasan. Berdasarkan hasil temuan penelitian yang
telah memberikan gambaran secara jelas dan mempermudah peneliti
dalam menganalisis data yang disesuaikan dengan rumusan masalah
yang diajukan pada Bab I, yaitu :
4.2.1. Meningkatkan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI).
Dari hasil penelitian, sebagaimana disampaikan oleh para
narasumber / informan yang telah diwawancarai, diketahui bahwa
kemampuan Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah sesuai dengan tugas
pokok dalam pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan
Tekhnologi Informasi, namun masih perlu adanya peningkatan
kemampuan dilihat dari arus perkembangan dan update ilmu
pengetahuan teknologi dan informasi yang sangat cepat berubah
dan berevolusi dalam hitungan detik, kendati demikian Tim 42 Grup
62
3 Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi selalu
mengadakan latihan-latihan untuk meningkatkan kemampuan
personel Tim-42 Grup 3 Kopassus baik dalam kegiatan latihan
sehari-hari maupun latihan satuan, baik yang bersifat latihan
khusus Tim-42 Grup 3 Kopassus maupun latihan Tekhnologi
Informasi untuk mendukung Operasi Sandi Yudha. Sehingga dapat
dikatakan bahwa Tim-42 Grup 3 Kopassus layak dan siap untuk
menghadapi tantangan tugas yang berhubungan dengan dunia
maya dan jaringan,baik online maupun ofline.
Akan tetapi kemampuan SDM dan perlatan yang ada di Tim-
42 Grup 3 Kopassus saat ini masih memiliki keterbatasan,
sehingga ada kemungkinan serangan balik yang dilakukan kurang
maksimal, tetapi Tim-42 Grup 3 Kopassus masih mampu untuk
menahan serangan dan melakukan pertahanan Cyber secara
terbatas dengan peralatan yang dimiliki saat ini.
Pada hakikatnya, Sumber Daya Manusia sebuah organisasi
merupakan sumber daya yang paling penting dan hanya akan
dapat diperoleh melalui upaya latihan yang sesuai dengan
Rencana Program Kerja Satuan di bidang latihan dimana dalam
setiap Triwulannya, Tim-42 Grup 3 Kopassus akan melaksanakan
kegiatan latihan secara terpusat. Dengan demikian, untuk
mengoptimalkan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI) dilakukan upaya-upaya
sebagai berikut :
1. Melakukan latihan yang telah sesuai dengan Rencana
Program Kerja Satuan di bidang latihan dimana dalam setiap
Triwulannya, Tim-42 Grup 3 Kopassus akan melaksanakan
kegiatan latihan secara terpusat. Pada Triwulan I Tim-42
Grup 3 Kopassus akan melaksanakan kegiatan Latihan
Pertahanan Cyber, Triwulan II latihan Serangan Cyber,
63
Triwulan III Tim-42 Grup 3 Kopassus melaksanakan latihan
Cyber Forensik dan Triwulan IV akan melaksanakan latihan
Pemantapan Operasi Sandha (Tim-42 membantu
pelaksanaan latihan Operasi Sandha).
2. Melaksanakan Latihan Dalam Satuan dengan cara
mengundang Nara Sumber atau Tenaga Ahli bidang
Teknologi Informasi untuk memberikan pelajaran dan
pengetahuan bagi Tim-42 Grup 3 Kopassus.
3. Mengadakan kerjasama terhadap komunitas Cyber
yang ada di sekitar wilayah Satuan Grup-3 Kopassus guna
meningkatkan kemampuan Tim-42.
Disamping itu untuk mengoptimalkan kemampuan Tim 42
Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI)
dibutuhkan pelatihan atau pendidikan tambahan berupa bimbingan
materi perkuliahan (mengambil kuliah) sebagai dasar kemampuan
sehingga kemampuan Personel Tim-42 Grup 3 Kopassus dapat
diakui secara sah dan tersertifikasi (mempunyai ijazah). Selain itu
juga dibutuhkan tenaga ahli/pakar TI sebagai tenaga pengajar
untuk membina dan memberikan pembekalan materi khususnya di
bidang TI. Sebagai pelengkap, perlu diadakan pelatihan secara
rutin (mingguan/ bulanan/ triwulan) untuk meningkatkan
kemampuan personel Tim-42 Grup-3 Kopassus.
Kemampuan menurut Conney dalam Herman Hudoyono
yang dikutip oleh Risnawati mengajar penyelesaian masalah
kepada siswa, memungkinkan siswa itu lebih analitik dalam
mengambil keputusan dalam hidupnya”. Untuk menyelesaikan
masalah seseorang harus menguasai hal-hal yang telah dipelajari
sebelumnya dan kemudian menggunakan dalam situasi baru. Oleh
64
karena itu untuk meningkatkan kemampuan personel Tim-42 Grup-
3 Kopassus sangat ditentukan oleh latihan mulai dari manajemen
latihan, pentahapan latihan, penentuan jenis latihan sampai aplikasi
latihan yang sesuai dengan prediksi tugas yang akan dilakukan.
Peningkatan kemampuan personel Tim-42 Grup-3 Kopassus
melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi latihan yang
dilakukan secara komprehensif maka latihan personel Tim-42
Grup-3 Kopassus dalam rangka pembinaan kemampuan maupun
kesiagaan operasional diharapkan memberikan tingkat responsif
yang tinggi, kesiapan operasional satuan yang baik serta memiliki
fleksibilitas dalam penggunaannya. Beberapa kondisi pelaksanaan
latihan dalam peningkatan kesiagaan operasional yang diharapkan
sebagai berikut:
1. Latihan meningkatkan siaga operasional (dalam
rangka penggunaan kekuatan) khususnya Latihan
Gabungan diarahkan untuk mengantisipasi perang siber dan
bukan dalam rangka menghadapi ancaman konvensional.
Pelaksanaan latihan menghadapi ancaman konvensional
merupakan kegiatan latihan yang dinilai tidak menjawab
tantangan tugas mendatang dihadapkan pada perubahan
dinamika sosial masyarakat dunia, perubahan strategi
perang, perubahan teknologi persenjataan maupun
perubahan pandangan masyarakat dunia terhadap perang
itu sendiri.
2. Pelaksanaan latihan guna meningkatkan kesiagaan
operasional personel Tim-42 Grup-3 Kopassus tidak
semata-mata ditujukan sebagai demonstrasi atau bahan
tontonan, sehingga proses perencanaan benar-benar
diarahkan pada peningkatan kemampuan satuan serta
65
menampilkan situasi pertempuran yang diatur dalam
skenario yang sangat ketat.
3. Variasi latihan gabungan yang bertujuan untuk
meningkatkan kesiagaan operasional personel Tim-42 Grup-
3 Kopassus dilakukan pada medan yang berganti
sepanjang tahun guna mengakomodasi bervariasinya
kemungkinan daerah operasi dalam Perang Siber maupun
mengantisipasi terjadinya ancaman Perang Siber yang
dapat saja terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
4. Pelaksanaan latihan dilakukan secara realistis sesuai
dinamika operasi yang sangat dinamis tanpa harus
mengakomodasi tampilan unsur-unsur yang terlibat dalam
latihan sebagai bagian kegiatan demonstrasi, dokumentasi
atau terlalu menonjolkan aspek keamanan. Kecenderungan
pelaksanaan latihan diharapkan menonjolkan realisme dan
mampu meningkatkan kemampuan prajurit dan Komandan
Satuan dalam mengambil keputusan taktis maupun strategis
dalam suatu pertempuran.
5. Latihan mampu menjadi efek pengganda (multiple
effect) dalam upaya penangkalan terhadap ancaman yang
mungkin dihadapi, dalam arti pelaksanaan latihan khususnya
latihan gabungan dapat menjadi efek penggentar kepada
calon musuh tentang kekuatan dan kemampuan personel
Tim-42 Grup-3 Kopassus dalam menghadapi setiap
ancaman.
6. Latihan yang dilakukan dijadikan sarana untuk
menguji organisasi dan doktrin yang telah ditetapkan, dalam
66
arti hasil latihan yang dievaluasi ditindaklanjuti dengan
penyempurnaan organisasi atau menyempurnakan doktrin.
7. Tersedianya perangkat mendukung latihan dalam
menghadapi ancaman Perang Siber dimulai dari doktrin TNI
yang memuat ancaman Perang Siber dan dijabarkan
menjadi buku-buku petunjuk penyelenggaraan latihan.
Teknologi selalu memiliki peran dalam perang. Kemampuan
pihak Sekutu dalam memecahkan sistem sandi (kriptografi) dari
Jerman (yang menggunakan Enigma) dianggap sebagai sebuah
hal yang membantu mempercepat selesainya perang dunia kedua.
Bahkan teknologi-teknologi banyak yang berkembang dari dunia
pertahanan (defense). Terlebih lagi dengan perang siber, peran
teknologi adalah mutlak.
Saat ini alat peralatan yang telah dimiliki oleh Tim 42 Grup 3
Kopassus saat ini mampu melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan
pelatihan dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
Beberapa bidang yang harus dikuasai terkait dengan perang siber
antara lain: jaringan, sistem operasi, pemrograman, kriptografi,
protokol, malware, security tools, dan security secara umum. Ini
sebuah bidang yang sangat luas.
Jaringan (Network). Masalah security pada awalnya identik
dengan network security (keamanan jaringan). Berbagai aspek
penyerangan (attack) dan perlindungan dilakukan terhadap
jaringan. Penyerangan dapat dilakukan dengan melihat kelemahan
dari protokol yang digunakan. Secara berkala ditemukan
kelemahan terhadap protokol (atau implementasinya).
Perlindungan di jaringan menghasilkan berbagai perangkat
pemantauan dan perlindungan jaringan (network security devices),
seperti firewall dan intrusion detection system (IDS). Perangkat ini
67
tentu saja belum dapat 100% melindungi jaringan. Kadang
perangkat ini juga masih memiliki celah keamanan.
Malware. Salah satu cara untuk melakukan serangan yang
sudah dilakukan adalah dengan membuat malicious software
(malware) dalam bentuk computer virus atau trojan horse. Malware
ini dapat kita program sesuai dengan tujuannya. Sebagai contoh,
malware dapat kita program agar mengirimkan berkas-berkas yang
berada di komputer yang tersusupi ke sebuah server. Malware ini
kemudian kita sebarkan dengan berbagai cara, seperti misalnya
melalui email. Bayangkan apabila komputer yang berhasil disusupi
malware ini berisi data tentang peta kekuatan militer Indonesia atau
data rahasia lainnya. Berbagai serangan lain dapat dilakukan oleh
malware. Malware dapat diminta untuk mematikan komputer pada
waktu tertentu atau pada kondisi tertentu. Bayangkan apabila
komputer yang terkena serangan ini adalah komputer yang
mengendalikan reaktor nuklir atau pengatur listrik di seluruh
Indonesia. Komputer-komputer yang sudah disusupi oleh malware
ini dapat dikendalikan dari jarak jauh. Mereka disebut zombie atau
(ro)bot. Kelompok komputer-komputer yang tersebar dan sudah
diambil alih ini dapat disebut sebagai botnet. Kemampuan
mendeteksi dan mengatasi malware ini sangat penting. Terkait
dengan bidang ini ada penelitian Intrusion Detection System (IDS),
dan honeypot (honeynet).
Penyusupan di dalam software Kita harus berhati-hati
dengan sumbangan perangkat (hardware dan software) dari negara
lain jika akan digunakan untuk keperluan militer. Seharusnya
hardware dan software tersebut dibuat terbuka sehingga dapat
dievaluasi oleh pakar keamanan kita. Itulah sebabnya penggunaan
open source sangat penting. Di beberapa tempat bahkan
penggunakan closed source tidak diperkenankan. Jika memang
software yang digunakan memiliki intellectual property yang
68
rahasia, bisa saja software tersebut tidak di-open-source-kan tetapi
kita sebagai pembeli harus memiliki hak untuk mengevaluasi
(mengaudit) source code-nya. Tentu saja ini mengambil asumsi kita
memiliki SDM yang mampu menguasai teknologi ini, bukan hanya
sekedar pandai memasang saja. Itulah sebabnya seperti telah
diuraikan pada bagian sebelumnya – kemampuan SDM sangat
penting.
Penguasaan Security Tools Saat ini telah tersedia banyak
security tools yang dapat digunakan untuk memantau, menangkal,
dan melakukan serangan (attack). Penguasaan akan tools ini sama
seperti penguasaan senjata pada perang konvensional. Esensial
ketika terjadi perang. Permasalahan yang dihadapi dalam
penguasaan tools adalah adanya tools yang baru setiap harinya.
Untuk menguasai satu tools saja sudah sulit, apalagi adanya
banyak tools. Untuk itu perlu dilakukan pendidikan (formal, training)
terus menerus dengan melibatkan banyak pihak (perguruan tinggi,
training center, pakar, pelaku) baik di dalam maupun di luar negeri.
Kriptografi. Salah satu cara untuk menghindari penyadapan
adalah dengan menggunakan kriptografi. Data disandikan menjadi
pesan yang tidak dapat dimengerti oleh pihak penyadap. Ilmu
kriptografi ini merupakan gabungan dari Matematika, Elektro, dan
Ilmu Komputer. Kriptografi ini kemudian diimplementasikan dalam
produk tertentu. Sejak dari jaman dahulu, perang dilengkapi
dengan kemampuan merahasiakan pesan. Kriptografi merupakan
salah satu kunci kemenangan dalam perang. Lihatlah bagaiman
keberhasilan Sekutu untuk memecahkan Enigma (sistem kriptografi
yang digunakan oleh Jerman) pada perang dunia kedua dianggap
sebagai kunci untuk mempercepat mencapai kemenangan.
Demikian pula dalam perang siber, kriptografi akan (semakin)
memiliki peran penting. Salah satu kelemahan yang sering kita
temui di lapangan adalah komunikasi dan penyimpanan data tanpa
69
menggunakan kriptografi. Ini adalah faktor manusia. Meskipun kita
memiliki teknologi kriptografi yang canggih, selama dia tidak
digunakan maka akan percuma saja. Salah satu cara untuk
memastikan bahwa pengamanan dilakukan adalah dengan
menggunakan aturan dan standar. Di Indonesia, Lembaga Sandi
Negara merupakan sebuah institusi yang berkepentingan dengan
bidang ini. Mereka harus diberdayakan dan dilibatkan dalam hal
perlindungan data yang melibatkan kriptografi di Indonesia. Riset di
bidang kriptografi perlu dilakukan di Tim 42 Grup 3 Kopassus.
4.2.2. Pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan khusus Tim 42
Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare).
Dari hasil penelitian, sebagaimana disampaikan oleh para
narasumber / informan yang telah diwawancarai, diketahui bahwa
pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus yang ada saat ini mampu melaksanakan pekerjaan,
kegiatan dan pelatihan dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare) yaitu diantaranya domain web, data center web, jammer
system, hacking program system, radio all band, HP enkrepsi,
wirelles network system, solarcell, network operation sistem, mesin
cetak offset, signal detector, infrared detector, spectrum, displayer,
main carier system, radio receiver yupiter, TR mini, INR3 SSV,
ranger spec,tolkit mekanik set, electronik toolkit set, hub set, data
center CCTV, camera CCTV, LCD monitor CCTV, network
intercept, communication monitoring device, mesin cetak offset dan
VSAT mobile sistem.
Akan tetapi alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare) masih jauh dari
harapan dan sangat minim sehingga perlu pengadaan alat-alat
sebagai pendukung tugas yang berhadapan dengan ancaman
70
Cyber global baik software maupun harware salah satu contoh
jaringan internet yang tersedia masih jauh dari harapan dengan
kebutuhan dan kecepatan dan cenderung masih menggunakan
sarana telkom padahal layanan Satelit sudah ada tapi saat ini
belum bisa digunakan.
Berbagai indikator diatas tentunya diperlukan upaya
pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare) agar
dapat tercapai melalui :
1. Pemeliharaan Hardware yang di gelar Tim 42 Grup 3
Kopassus dapat dilaksanakan sesuai ketersediaan
peralatan:
a. Pengecekan jaringan (kabel UTP dan kabel
Outdoor);
b. Pengecekan arus listrik;
c. Pengecekan UPS;
d. Crimping Tools;
e. Pemeliharaan kebersihan dan kerapian; dan
f. Melaksanakan pemeliharaan software terbatas.
2. Pemeliharaan peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus :
a. Infrastruktur jaringan peralatan khusus Tim 42
Grup 3 Kopassus seperti ; SMI (Sosial Media
Inteligen); Intersep dan Smart Phone Celebrate
dilaksanakan oleh Kepala Unit Tim; dan
71
b. Hardware, melaksanakan asistensi teknis dan
perbaikan Hardware dan Software yang mengalami
kerusakan.
3. Pengadaan peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus :
a. Mengadakan alat material khusus TI yang
mumpuni baik untuk analisis maupun mendapatkan
informasi dengan cepat dan akurat.
b. Memperpanjang kontrak / upgrade
kemampuan almatsus yang digunakan seperti GPS
Tracking dan Sosial Media Intelijen (Software
Tangles).
72
BAB V
PEMECAHAN MASALAH
5.1. Metode Pemecahan Masalah.
Pemecahan masalah adalah suatu proses terencana yang perlu
dilaksanakan agar memperoleh penyelesaian tertentu dari sebuah
masalah yang mungkin tidak didapat dengan segera. Pendapat lainnya
menyatakan bahwa pemecahan masalah sebagai usaha mencari jalan
keluar dari suatu kesulitan. Menurut Goldstein dan Levin, pemecahan
masalah telah didefinisikan sebagai proses kognitif tingkat tinggi yang
73
memerlukan modulasi dan kontrol lebih dari keterampilan rutin atau
dasar.27 Proses ini terjadi jika suatu organisme atau sistem kecerdasan
buatan tidak mengetahui bagaimana untuk bergerak dari suatu kondisi
awal menuju kondisi yang dituju.
5.1.1. Tujuan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, peneliti
menemukan beberapa masalah dan kekurangan. Oleh sebab itu,
perumusan dan penyusunan strategi optimalisasi kemampuan
Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber
(cyber warfare), bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan
intensitas ketersediaan dan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam rangka melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan pelatihan di
bidang Jaringan dunia Maya (cyber space), jaringan yang bersifat
LAN, WAN sampai dengan Internet, meliputi penguasaan teknologi
informasi (TI) dan pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus.
5.1.2. Sasaran. Aspek sasaran optimalisasi kemampuan Tim 42
Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare) merupakan hal yang penting dalam rencana penyiapan
ketersediaan dan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
rangka melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan pelatihan di bidang
jaringan dunia maya (cyber space), jaringan yang bersifat LAN,
72 karena pada sasaran terkandung
WAN sampai dengan Internet,
parameter keberhasilan pelaksanaan tugas yang terkandung tujuan
yang harus dicapai. Aspek sasaran dirumuskan dalam bentuk :
1. Mengoptimalkan kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI) .
27
Freddy Rangkuti, Personal SWOT Analysis, Jakarta, PT Gramedia, 2015, Hal 5
74
2. Mengoptimalkan pemeliharaan / pengadaan alat-
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
5.1.3. Objek. Objek yang akan dilibatkan dalam optimalisasi
kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus guna mengantisipasi
perang siber (cyber warfare), adalah :
1. Organisasi. Tim 42 Grup 3 Kopassus yang meliputi
Dangrup-3 Kopassus, Wadan Grup-3 Kopassus, Kasi Intel
Grup-3 Kopassus, Kahub Grup-3 Kopassus, Kasiops Grup-3
Kopassus, Ka Unit 1 dan 2 Tim 42 Grup 3 Kopassus, Ba
Kam Jaringan-1 Unit-3/42 Grup 3 Kopassus, Ba Programer-
1 Unit-3/42 Grup 3 Kopassus dan Ba Elektro-1 Unit-2/42
Grup 3 Kopassus.
2. Personel. Seluruh personel Tim 42 Grup 3 Kopassus.
3. Materiiil. Tim 42 Grup 3 Kopassus memiliki materiil
yaitu domain web, data center web, jammer system, hacking
program system, radio all band, HP enkrepsi, wirelles
network system, solarcell, network operation sistem, mesin
cetak offset, signal detector, infrared detector, spectrum,
displayer, main carier system, radio receiver yupiter, TR
mini, INR3 SSV, ranger spec,tolkit mekanik set, electronik
toolkit set, hub set, data center CCTV, camera CCTV, LCD
monitor CCTV, network intercept, communication monitoring
device, mesin cetak offset dan VSAT mobile sistem. 28
28
Perkas AD Nomor 41, tentang organisasi dan tugas Grup 2 dan 3 Kopassus (Orgas
Grup 2 dan 3 Kopassus), Tahun 2015.
75
4. Piranti Lunak. Buku, referensi, bujuk, protap yang
melandasi Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi
perang siber (cyber warfare).
5.1.4. Subjek. Pejabat yang bertanggung jawab dalam hal ini
adalah :
1. Kasad. selaku unsur pimpinan TNI AD dan
merupakan pembina utama dilingkungan Angkatan Darat
merumuskan pokok-pokok kebijakan dan program
pembinaan dan penyiapan satuan (organisasi, personel,
materiil, dan piranti lunak).
2. Danjen Kopassus. Selaku unsur pimpinan dan
pembina seluruh usaha, pekerjaan dan kegiatan yang
berkenaan dengan perencanaan, penyusunan dan
pembinaan yang terdiri dari personil, materiil, sarana dan
prasarana serta prosedur kerja.
3. Dangrup-3 Kopassus. Selaku Komandan pelaksana
operasional yang berkedudukan langsung dibawah Danjen
Kopassus berkewajiban membina kesiapan operasional dan
menyelenggarakan pembinaan satuan.
5.1.5. Prosedur Pemecahan Masalah.
1. Analisa SWOT.
Untuk mencapai penyiapan ketersediaan dan
kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus guna melaksanakan
pekerjaan, kegiatan dan pelatihan di bidang Jaringan dunia
Maya (cyber space), jaringan yang bersifat LAN, WAN
76
sampai dengan Internet dalam mengantisipasi perang siber
(cyber warfare) yang optimal, diperlukan suatu model
pemecahan masalah atau solusi. Model tersebut digunakan
untuk menganilisis keterkaitan teori “Kemampuan atau
ability” hasil penelitian dan pembahasannya (Bab IV).
Adapun model pemecahan masalah yang digunakan
penulis dalam karya tulis militer ini, dapat ditentukan oleh
kombinasi faktor internal dan eksternal. Kedua faktor
tersebut harus dipertimbangkan dalam Analisis SWOT
(Freddy Rangkuti, 2009 : 19). SWOT adalah singkatan dari
lingkungan internal Strengths dan Weaknesses serta
lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang
dihadapi Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi
perang siber (cyber warfare).
Analisis SWOT membandingkan faktor-faktor
eksternal atau dari luar institusi, berupa peluang
(opportunities) dan kendala (threats), dengan faktor internal
atau dari luar institusi berupa kekuatan (strengths) dan
kelemahan (weaknesses), yang pada akhirnya melahirkan
strategi-strategi baru. Dalam penyajiannya, point-point
analisis SWOT (opportunity, threat, strength, dan weakness)
dirunut berdasarkan skala prioritas. Batasan skala prioritas
yang digunakan dalam analisis SWOT adalah hasil
penelitian, berdasarkan data primer dan sekunder yang
diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa perwira
dan pejabat yang ada di lingkungan Makopassus, khususnya
Grup 3 Kopassus.
Table.5.1
Matrik SWOT Optimalisasi Kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
77
INTERNAL STRENGTHS WEAKNESSES
(KEKUATAN) (KELEMAHAN)
S-1. Kemampuan Tim 42 W-1. Kemampuan
Grup 3 Kopassus sudah SDM yang ada di Grup
sesuai dengan tugas 3 saat ini masih
pokok dalam pelaksanaan memiliki keterbatasan,
kegiatan yang sehingga ada
berhubungan dengan kemungkinan
Tekhnologi Informasi. serangan balik yang
dilakukan kurang
maksimal.
S-2. Kualitas W-2. Keterbatasan dan
pengetahuan/penguasaan tidak meratanya
tekhnologi Informasi kemampuan Personal
sudah sesuai dengan menguasai alat
standar, dimana personel peralatan Tim 42 serta
yang mengawaki Tim TI alat perealatan yang
atau Tim 42 memiliki belum sepenuhnya
kemampuan sesuai mendukung Tugas
dengan bagiannya Pokok maka Tim-42.
masing-masing.
S-3. SDM (Sumber Daya W.3. Alat peralatan
Manusia) dimana prajurit Tim 42 Grup 3 saat ini
yang berada di Tim 42 masih belum memadai
harus merupakan orang- khususnya dalam
orang pilihan yang harus mengantisipasi
mampu mengoperasikan ancaman perang cyber
78
alat alat yang dimiliki dan
memahami tentang soft
ware dan hardware dari
perangkat serta memiliki
pengetahuan tantang IT .
S-4. Sampai dengan saat W.-4. Alat yang dimiliki
ini, Tim 42 Grup 3 Tim 42 Grup 3
Kopassus telah Kopassus yang sangat
melaksanakan kegiatan prioritas untuk
Latihan Program maupun Disupervisi dan di
Nonprogram di bidang Upgrade adalah
Jaringan dunia maya, a. SMI (Sosial
jaringan LAN, WAN Media Inteligen).
sampai dengan Internet. b. Intersep
c. Smart Phone
Celebrate.
S-5. Berdasarkan
pengalaman tugas yang
telah dilaksanakan bahwa
alat peralatan Tim 42
yang ada saat ini telah
mampu memberikan
dukungan dalam
menunjang tugas pokok
satgas.
OPPORTUNITIES
a. STRATEGI SO b. STRATEGI WO
(PELUANG)
O-1. Grup 3 Kopassus SO-1. Peningkatan WO-1. Melakukan
selalu mengadakan kemampuan dilihat dari latihan yang telah
79
latihan-latihan untuk arus perkembangan dan sesuai dengan
meningkatkan update ilmu pengetahuan Rencana Program
kemampuan personel teknologi dan informasi Kerja Satuan di bidang
Tim 42 baik dalam yang sangat cepat latihan dimana dalam
kegiatan latihan sehari- berubah dan berevolusi setiap Triwulannya
hari maupun latihan dalam hitungan detik
satuan, baik yang
bersifat latihan khusus
Tim 42 maupun latihan
Tekhnologi Informasi
untuk mendukung
Operasi Sandi Yudha.
Sehingga dapat
dikatakan bahwa Tim 42
layak dan siap untuk
menghadapi tantangan
tugas yang berhubungan
dengan dunia maya dan
jaringan,baik online
maupun ofline.
O-2. Tim 42 masih SO-2. Personel TNI harus WO-2. Melaksanakan
mampu untuk menahan memiliki aplikasi media Latihan Dalam Satuan
serangan dan sosial atau aplikasi sarana dengan cara
melakukan pertahanan komunikasi yang dibuat mengundang Nara
Cyber secara terbatas oleh Personal Tim 42 Sumber atau Tenaga
dengan peralatan yang Grup 3 Kopossus atau Ahli bidang Teknologi
dimiliki saat ini. menggunakan layanan Informasi untuk
Peralatan yang ada saat aplikasi media sosial memberikan pelajaran
ini dapat dikatakan encrip atau protek dan pengetahuan bagi
sebagai peralatan yang sebagai pelindung aplikasi
80
modern dan efektif, media sosial yang Tim 42.
hanya perlu adanya digunakan.
penyesuaian setiap
beberapa waktu karena
perkembangan teknologi
yang tidak pernah
berhenti
O-3. Meningkatkan
penggunaan VPN SO-3. Mengadakan alat WO-3. Mengadakan
membatasi penggunaan material khusus TI yang kerjasama terhadap
media sosial dan tidak mumpuni baik untuk komunitas Cyber yang
memasukan data analisis maupun ada di sekitar wilayah
penting satuan ke dalam mendapatkan informasi Satuan Grup 3
Gadget yang dimiliki dengan cepat dan akurat, Kopassus guna
oleh personel Tim 42. karena perlengkapan meningkatkan
yang ada di TI saat ini kemampuan Tim 42. .
masih perlu banyak
update kemampuan alat
material khusus
O-4. Matiriil yang dimiliki
Tim 42 Grup 3 Kopassus SO-4. Meningkatkan
WO-4. Personel TNI
telah diadakan peng penggunaan VPN
harus memiliki aplikasi
Upgrade-dan membatasi penggunaan
media sosial atau
media sosial dan tidak
aplikasi sarana
memasukan data penting
komunikasi yang
satuan ke dalam Gadget
dibuat oleh Personal
yang dimiliki oleh personel
Tim 42 Grup 3
Tim 42 Grup 3 Kopassus
Kopassus atau
menggunakan layanan
81
aplikasi media sosial
encrip atau protek
sebagai pelindung
aplikasi media sosial
yang digunakan
THREATS
c. STRATEGI-ST d. STRATEGI-WT
(TANTANGAN)
WT-1. Membuat
T-1. Perkembangan ST-1. Melaksanakan
perencaan latihan Tim
dunia cyber yang penyebaran/distribusi
dan 42 sesuai dengan
semakin pesat dan perangkat lunak
banyaknya orang yang atau perangkat keras Program Kerja Satuan
menguasai ilmu Cyber sesuai dengan sasaran di bidang latihan.
baik untuk kepentingan yang telah ditentukan.
posistif maupun negatif.
T-2. Perlu ditingkatkan WT-2. Melaksanakan
ST-2 Melaksanakan
perlengkapan dan SDM
rekayasa ESTOM pada pengawasan secara
untuk mengawaki Tim
telah melekat terhadap
sasaran yang
42, langkah kongkrit
melalui pelaksanaan latihan
ditentukan
yang dapat dilakukan
jaringan media sosial Tim 42.
adalah dengan
maupun pemberitaan
memberikan
online.
pemahaman tentang
bijak dalam bermedsos,
membatasi pengiriman
file penting
T-3. Membekali Tim 42 WT-3. Membuat
ST-3. Mengidentifikasi
dengan perlengkapan
efek perencanaan Latihan
dan melaporkan
yang mumpuni dan
kondisi Dalam Satuan
perubahan
82
Teknologi (LDS)/Latihan Non
terupdate, juga dengan sasaran
Informasi dalam Operasi Program guna
melakukan spoting dan
recruting anggota yang Sandi Yudha meningkatkan kualitas
berdasarkan umpan balik perorangan maupun
mampu dan mahir dalam
maupun perkembangan tim. Dalam hal ini,
bidang TI
yang diperoleh dari unsur latihan akan
Sandi Yudha di melibatkan pihak luar
baik perorangan
lapangan.
maupun kelompok
(komunitas cyber)
untuk dapat
meningkatkan
kemampuan Tim 42.
WT-4 Melaksanakan
T-4. Hasil Penilaian ST-4. Bertanggung
evaluasi latihan pada
Evaluasi Kemantapan jawab kepada Kepala
setiap latihan yang
dan Kesiapsiagaan Tim Teknologi Informasi
telah dilaksanakan
Operasional (EKKO) dalam pelaksanaan
baik latihan sesuai
masih belum optimal tugas.
Program maupun Non
yang berpengaruh pada
Program (LDS).
kesiapsiagaan
operasional satuan
Keterangan :
- Internal = Internal Strategic Factors Analysis
Summary. Disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis
internal tersebut dalam kerangka Kekuatan dan Kelemahan
(Strength and Weakness).
83
- Eksternal = External Strategic factors analysis
summary. Disusun untuk merumuskan faktor-factor strategis
internal dalam kerangka peluang (opportunities) dan kendala
(threats).
Berdasarkan hasil analisis SWOT diatas, untuk
mengoptimalkan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare), perlu
suatu upaya pemecahan masalah / solusi tepat untuk
meningkatkan kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus yang
memiliki kemampuan dan spesialisasi dalam mengantisipasi
perang siber (cyber warfare), yang dilakukan melalui
langkah-langkah sistematis dan terprogram dengan baik,
mulai dari penetapan tujuan, sasaran, subyek, obyek,
metode, dan prosedur pemecahan masalah, serta metode
dan sarana prasarana
2. Strategi kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare) ditinjau
dari aspek penguasaan teknologi informasi (TI)
berdasarkan Analisis SWOT. Dengan melihat hasil analisis
SWOT terhadap hasil penelitian yang dilakukan di Tim 42
Grup 3 Kopassus, dengan menghadapkan antara kekuatan
(Strengths) dan kelemahan (Weaknesses), dengan peluang
(Opportunities), dan ancaman (Threats), ditemui ada
beberapa hal yang perlu dioptimalkan guna mencapai
kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare) yang eligible
dan berkompeten. Berangkat dari hal tersebut, maka
dirumuskan prosedur pemecahan masalah sebagai berikut :
84
a. Penguasaan teknologi informasi (TI).
Mengoptimalkan SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus
guna penguasaan teknologi informasi (TI) dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare), yaitu :
1) Kegiatan pendidikan ditujukan untuk
meningkatkan wawasan dan pengetahuan
kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI)
baik dalam bidang ilmu teknologi informasi
(TI) yang menjadi bidang tugasnya maupun
untuk mengetahui segala hal tentang teori
kemampuan dan berbagai teknik
penanggulangan yang perlu diambil.
Dalam rangka meningkatkan penguasaan
teknologi informasi (TI) Tim 42 Grup 3
Kopassus melalui kegiatan ini, langkah yang
perlu diambil oleh Kasad sebagai pembina
satuan adalah sebagai berikut:
a) Memberikan kesempatan kepada
para personel Tim 42 Grup 3 Kopassus
baik perwira, bintara maupun tamtama
untuk dapat mengikuti kegiatan
pendidikan teknologi informasi (TI) baik
yang berada di lingkungan pendidikan
satuan Kopassus (Pusdikpassus)
maupun lembaga pendidikan lain yang
ada di luar lingkungan TNI-AD.
Sehingga di lembaga-lembaga
pendidikan tersebut diharapkan
85
personel Tim 42 Grup 3 Kopassus yang
bersangkutan dapat memperdalam
wawasan dan pengetahuan di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI).
b) Mengirimkan perwakilan Perwira
untuk mengikuti kegiatan pendidikan di
bidang teknologi informasi (TI) di bawah
naungan BNPT sehingga para Perwira
Grup 3 Kopassus yang bersangkutan
memiliki pengetahuan yang memadai
tentang segala bentuk perang siber
(Cyber Warfare) dan tindakan serta
teknik-teknik apa saja yang perlu
diterapkan dalam upaya mengantisipasi
perang siber (Cyber Warfare). Dengan
bekal ilmu yang didapatnya tersebut,
maka Perwira tersebut diharapkan dapat
menjadi instruktur di satuan untuk dapat
menularkan wawasan dan pengetahuan
yang didapat kepada seluruh personel
Grup 3 Kopassus.
2) Latihan. Kegiatan latihan ini berkaitan
dengan upaya peningkatan kemampuan Tim
42 Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan
teknologi informasi (TI) dalam mengaplikasikan
kegiatan mengantisipasi perang siber (Cyber
Warfare). Adapun Danjen Kopassus dapat
memerintahkan kepada jajarannya
melaksanakan kegiatan yang perlu dilakukan
86
khususnya oleh personel Tim 42 Grup 3
Kopassus adalah sebagai berikut:
a) Pembuatan suatu perencanaan
latihan dibuat secara aplikatif di
lapangan, dimana rencana latihan
dibuat untuk latihan yang berada di
dalam dan di luar satuan, sehingga
anggota yang sedang melaksanakan
tugas atau ditempatkan secara
permanen di suatu tempat yang
dipertanggung jawabkannya sebagai
wilayah pantauannya dapat tetap
mengaplikasikan ilmunya secara terus
menerus, dapat diuraikan sebagai
berikut :
(1) Latihan secara
bersamaan. Dalam hal ini latihan
sesuai dengan program rencana
satuan yang telah direncanakan.
(2) Latihan secara bergantian.
Kegiatan latihan diatur secara
bergantian, dimana yang dilatih
terlebih dahulu adalah personel
yang berada di dalam satuan,
kemudian setelah selesai diatur
secara bergantian dimana
personel yang telah
melaksanakan latihan ditugaskan
87
untuk menggantikan personel
yang sedang melaksanakan
tugas pemantauan di
lapangan/daerah sementara, dan
personel yang di lapangan
kembali ke satuan untuk
melaksanakan latihan yang telah
diprogramkan sehingga tidak ada
satu personel pun yang tidak
mengikuti latihan.
b) Materi latihan. Sesuai dengan
bidang tugas yang akan dihadapi
personel Tim 42 Grup 3 Kopassus maka
materi latihan yang harus diberikan
kepada personel adalah sebagai
berikut :
(1) Teknik dan taktik
penguasaan teknologi informasi
(TI) sesuai dengan Roda
Perputaran Penyelidikan ( RPP )
dari mulai bagaimana menyusun
rencana, pengumpulan
keterangan, pengolahan maupun
penyampaian yang bernilai
tinggi.
(2) Teknik dan taktik
mengantisipasi perang siber
(Cyber Warfare) yang dimiliki
sebagai langkah dalam
88
meningkatkan kemampuan Tim
42 Grup 3 Kopassus.
b. Pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus. Dalam mengoptimalkan pemeliharaan /
pengadaan alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus guna mengantisipasi perang siber (cyber
warfare) maka Danjen Kopassus perlu melakukan
upaya modernisasi materiil khusus dan sarana
informatika yang digunakan oleh aparat intelijen di
jajarannya.
1) Materiil khusus. Dengan adanya
kemajuan di bidang teknologi dan informasi
pihak lawan / musuh telah memanfaatkan /
menggunakan alat-alat modern agar aksinya
sulit terdeteksi. Dalam rangka menjawab
tantangan tugas mengantisipasi perang siber
(cyber warfare) tersebut maka diperlukan
peralatan yang canggih. Oleh karena itu perlu
adanya modernisasi materiil khusus untuk
tugas mengantisipasi perang siber (Ciber
Warfare) antara lain domain web, data center
web, jammer system, hacking program system,
radio all band, HP enkrepsi, wirelles network
system, solarcell, network operation sistem,
mesin cetak offset, signal detector, infrared
detector, spectrum, displayer, main carier
system, radio receiver yupiter, TR mini, INR3
SSV, ranger spec,tolkit mekanik set, electronik
toolkit set, hub set, data center CCTV, camera
89
CCTV, LCD monitor CCTV, network intercept,
communication monitoring device, mesin cetak
offset dan VSAT mobile sistem
2) Sarana Informatika. Meningkatkan
sarana informatika melalui langkah-langkah
yang dilakukan yaitu :
a) Modernisasi sarana informatika
yang digunakan untuk mempermudah
pelaksanaan tugas.
b) Pembekalan ketrampilan guna
menguasai teknologi informasi (TI)
berbasis komputerisasi agar dapat
mendukung pelaksanaan tugas.
c) Pengadaan perangkat komputer,
melalui perakitan komputer sesuai
kebutuhan oleh personel yang memiliki
kemampuan atau bekerja sama dengan
pihak swasta dalam pengadaan
perangkat komputer tersebut.
d) Pemasangan jaringan berbasis
LAN (Local Area Network) dan WAN
(Wide Area Network) secara on line dari
personel Tim 42 Grup 3 Kopassus di
lapangan dengan komputer di satuan,
atau dari agen-agen ke komputer
personel Tim 42 Grup 3 Kopassus
90
dengan penggunaan sandi tersendiri,
sehingga data yang diperoleh dapat
segera diinventarisir, diolah dan
dianalisis dengan cepat dan tetap
mengutamakan faktor kerahasiaan.
3. Pembahasan hasil pemecahan masalah berdasarkan
analisis SWOT.
a. Analisis SWOT pada kemampuan Tim 42 Grup
3 Kopassus di bidang penguasaan teknologi
informasi (TI).
Analisa ini dilakukan untuk menggali aspek-
aspek pada kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI).
Kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus sudah sesuai
dengan tugas pokok dalam pelaksanaan kegiatan
yang berhubungan dengan Tekhnologi Informasi,
namun masih perlu adanya peningkatan kemampuan
dilihat dari arus perkembangan dan update ilmu
pengetahuan teknologi dan informasi yang sangat
cepat berubah dan berevolusi dalam hitungan detik,
kendati demikian Grup 3 Kopassus selalu
mengadakan latihan-latihan untuk meningkatkan
kemampuan personel Tim 42 baik dalam kegiatan
latihan sehari-hari maupun latihan satuan, baik yang
bersifat latihan khusus Tim 42 maupun latihan
Tekhnologi Informasi untuk mendukung Operasi
Sandi Yudha. Sehingga dapat dikatakan bahwa
seluruh Tim 42 layak dan siap untuk menghadapi
91
tantangan tugas yang berhubungan dengan dunia
maya dan jaringan,baik online maupun ofline.
Kualitas pengetahuan/penguasaan tekhnologi
Informasi sudah sesuai dengan standar, dimana
personel yang mengawaki Tim TI atau Tim 42
memiliki kemampuan sesuai dengan bagiannya
masing-masing, tetapi ada sedikit kendala yaitu
personel TI yang ada di basis saat ini belum terpenuhi
sepenuhnya dan banyak yang digunakan dalam
kegiatan operasi, sehingga masih ada pekerjaan
rumah yang perlu diselesaikan untuk tetap terjaganya
penguasaan peralatan yang ada di Tim 42, dan masih
perlu adanya kaderisasi setiap jangka waktu tertentu,
sehingga personel yang menguasai peralatan tidak
hanya orang tertentu saja. Dalam analisis SWOT ini
akan dianalisa dengan variable penilaian, yaitu:
1) Strengths (S), berarti analisis terhadap
kekuatan SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI),
dituntut untuk alat material khusus TI yang
mumpuni baik untuk analisis maupun
mendapatkan informasi dengan cepat dan
akurat, karena perlengkapan yang ada di TI
saat ini masih perlu banyak update
kemampuan alat material khusus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
2) Weaknesses (W), berarti analisis
terhadap kelemahan atau kendala/
permasalahan SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus
92
di bidang penguasaan teknologi informasi (TI),
maka perlu adanya kaderisasi setiap jangka
waktu tertentu, sehingga personel yang
menguasai peralatan tidak hanya orang
tertentu saja.
3) Opportunities (O), berarti peluang dari
faktor sumber daya manusia (SDM) Tim 42
Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan
teknologi informasi (TI), sehingga mengadakan
kerjasama terhadap komunitas Cyber yang ada
di sekitar wilayah Satuan Grup 3 Kopassus
guna meningkatkan kemampuan Tim 42.
4) Treats (T), merupakan ancaman /
hambatan SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI),
sehingga perlu membuat perencanaan Latihan
Dalam Satuan (LDS)/Latihan Non Program
guna meningkatkan kualitas perorangan
maupun tim. Dalam hal ini, latihan akan
melibatkan pihak luar baik perorangan maupun
kelompok (komunitas cyber) untuk dapat
meningkatkan kemampuan Tim 42.
Atas dasar analisis tersebut di atas dapat
digambarkan kedalam matrik sebagai berikut :
Internal Strength Weakness
Eksternal
Opportunities Strategi S – O Strategi W – O
Threats Strategi S – T Strategi W – T
93
Dari Analisis Matrik tersebut diatas dapat
diuraikan sebagai berikut :
1) Strategi S – O adalah strategi
mengoptimalkan kekuatan untuk
memanfaatkan peluang dari faktor SDM Tim 42
Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan
teknologi informasi (TI), sehingga SDM Tim 42
Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan
teknologi informasi (TI), dapat menguasai alat
material khusus TI yang mumpuni baik untuk
analisis maupun mendapatkan informasi
dengan cepat dan akurat, karena perlengkapan
yang ada di TI saat ini masih perlu banyak
update kemampuan alat material khusus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
Adapun kekuatan untuk memanfaatkan
peluang SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI) :
a) Mengikuti kegiatan pendidikan
teknologi informasi (TI) .
b) Tersedianya menguasai alat
material khusus TI yang mumpuni.
c) Memiliki personel SDM Tim 42
Grup 3 Kopassus yang menguasai di
bidang penguasaan teknologi informasi
(TI) sesuai tugas dan tanggung
jawabnya
94
Kekuatan tersebut di atas dapat dioptimalkan
untuk memanfaatkan peluang yang dimiliki oleh
seluruh Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI). Peluang
tersebut diperoleh dengan mengadakan kerjasama
terhadap komunitas Cyber yang ada di sekitar wilayah
Satuan Grup-3 Kopassus guna meningkatkan
kemampuan Tim 42 dalam mengantisipasi perang
siber (Cyber Warfare).
1) Strategi W – O adalah strategi
mengurangi kelemahan untuk memanfaatkan
SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI) sehingga
dapat dapat menguasai alat material khusus TI
yang mumpuni. Kelemahan yang dimiliki SDM
Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI) dari hasil
penelitian dan data yaitu belum adanya
kaderisasi setiap jangka waktu tertentu,
sehingga personel yang menguasai peralatan
tidak hanya orang tertentu saja.
Melalui pemanfaatkan peluang SDM
Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI) dapat
diterapkan dengan melaksanakan latihan
dalam satuan dengan cara mengundang Nara
Sumber atau Tenaga Ahli bidang Teknologi
Informasi untuk memberikan pelajaran dan
pengetahuan bagi Tim-42.
95
2) Strategi S - T adalah strategi
meningkatkan kekuatan untuk mengatasi
kelemahan SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI).
Kekuatan yang dimiliki Tim 42 Grup 3
Kopassus mempunyai SDM personel yang
mengawaki Tim TI atau Tim-42 memiliki
kemampuan sesuai dengan bagiannya masing-
masing . Untuk mencegah dan mengatasi
kelemahan yang ada dalam rangka
mendukung SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI)
diterapkan strategi S – T, strategi ini adalah
mengeliminir kelemahan dengan
memanfaatkan kekuatan. Sehingga kelemahan
dapat dieliminir oleh Tim 42 Grup 3 Kopassus
dengan diberikannya tanggung jawab kepada
Kepala Tim Teknologi Informasi dalam
pelaksanaan tugas.
3) Strtegi W – T adalah strategi
mengurangi kelemahan untuk mengatasi
kelemahan SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di
bidang penguasaan teknologi informasi (TI).
Strategi W – T diterapkan untuk mencegah dan
mengatasi kelemahan SDM Tim 42 Grup 3
Kopassus di bidang penguasaan teknologi
informasi (TI) dalam mengatnsipasi perang
siber (Cyber Warfare), sehingga menjadi
sebuah peluang untuk dapat mengatasi
permasalahan yang ada dalam SDM Tim 42
96
Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan
teknologi informasi (TI). Kelemahan tersebut
adalah keterbatasan dan tidak meratanya
kemampuan Personal menguasai alat
peralatan Tim 42 serta alat perealatan yang
belum sepenuhnya mendukung Tugas Pokok
maka Tim 42. Kelemahan tersebut dapat
diatasi oleh Tim 42 Grup 3 Kopassus dengan
membuat perencaan latihan Tim 42 sesuai
dengan Program Kerja Satuan di bidang
latihan.
Penetapan Strategi. Berdasarkan analisis
SWOT tersebut diatas, maka dapat diambil strategi
dalam SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI) yang akan
datang dengan penjabaran sebagai berikut :
Strategi S – O adalah strategi mengoptimalkan
kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang dimiliki
untuk selalu meningkatkan kemampuan dilihat dari
arus perkembangan dan update ilmu pengetahuan
teknologi dan informasi yang sangat cepat berubah
dan berevolusi dalam hitungan detik.
Strategi W – O adalah strategi mengurangi
kelemahan untuk memanfaatkan peluang yang
dimiliki untuk selalu melakukan latihan yang telah
sesuai dengan Rencana Program Kerja Satuan di
bidang latihan dimana dalam setiap Triwulannya.
97
Strategi S - T adalah strategi menggunakan
kekuatan untuk mencegah dan mengatasi
kelemahan / kendala yang ada terkait SDM Tim 42
Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan teknologi
informasi (TI) untuk selalu mengidentifikasi dan
melaporkan efek perubahan kondisi sasaran
Teknologi Informasi dalam Operasi Sandi Yudha
berdasarkan umpan balik maupun perkembangan
yang diperoleh dari unsur Sandi Yudha di lapangan.
Strtegi W – T adalah strategi mengurangi kelemahan
untuk mencegah dan mengatasi kelemahan / kendala
terkait SDM Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang
penguasaan teknologi informasi (TI) untuk selalu
melaksanakan pengawasan secara melekat terhadap
pelaksanaan latihan Tim 42.
b. Analisis SWOT pada pemeliharaan /
pengadaan alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare).
Analisa ini dilakukan untuk menggali aspek-
aspek pada pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus. Hal ini sangat
berdampak kepada kemampuan SDM dan peralatan
yang ada di Grup-3 saat ini masih memiliki
keterbatasan, sehingga ada kemungkinan serangan
balik yang dilakukan kurang maksimal, tetapi Tim 42
masih mampu untuk menahan serangan dan
melakukan pertahanan Cyber secara terbatas dengan
peralatan yang dimiliki saat ini. Peralatan yang ada
98
saat ini dapat dikatakan sebagai peralatan yang
modern dan efektif, hanya perlu adanya penyesuaian
setiap beberapa waktu karena perkembangan
teknologi yang tidak pernah berhenti. Dalam analisis
SWOT ini akan dianalisa dengan variable penilaian,
yaitu:
1) Strengths (S), berarti analisis terhadap
pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus, untuk itu
dituntut selalu bahwa alat peralatan Tim-42
yang ada saat ini harus mampu memberikan
dukungan dalam menunjang tugas pokok
satgas.
2) Weaknesses (W), berarti analisis
terhadap kelemahan atau kendala/
permasalahan pemeliharaan / pengadaan alat-
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus,
sehingga dapat menghambat dalam
mengantisipasi perang siber (Cyber Warfare),
untuk itu dituntut alat peralatan Tim 42 harus
benar-benar yang terbaik dan aman sehingga
tidak mudah terjadinya kebocoran informasi
rahasia Grup 3 Kopassus selain itu perlu
peningkatan SDM personel Tim 42 yang
mengawaki alat peralatan tersebut dengan
melakukan pelatihan khusus secara berkala
mengikuti perkembangan Cyber.
3) Opportunities (O), berarti peluang dari
faktor pemeliharaan / pengadaan alat-
99
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus,
sehingga Tim 42 masih mampu untuk
menahan serangan dan melakukan pertahanan
Cyber secara terbatas dengan peralatan yang
dimiliki saat ini. Peralatan yang ada saat ini
dapat dikatakan sebagai peralatan yang
modern dan efektif, hanya perlu adanya
penyesuaian setiap beberapa waktu karena
perkembangan teknologi yang tidak pernah
berhenti.
4) Treats (T), merupakan ancaman /
hambatan faktor pemeliharaan / pengadaan
alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus, sehingga perkembangan dunia
cyber yang semakin pesat dan banyaknya
orang yang menguasai ilmu Cyber baik untuk
kepentingan posistif maupun negatif.
Atas dasar analisis tersebut di atas dapat
digambarkan kedalam matrik sebagai berikut :
Internal Strength Weakness
Eksternal
Opportunities Strategi S – O Strategi W – O
Threats Strategi S – T Strategi W – T
Dari Analisis Matrik tersebut diatas dapat
diuraikan sebagai berikut :
100
1) Strategi S – O adalah strategi
mengoptimalkan kekuatan untuk
memanfaatkan peluang dari faktor
pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus, sehingga
dapat alat peralatan Tim 42 yang ada saat ini
mampu memberikan dukungan dalam
menunjang tugas pokok satgas.
Adapun kekuatan untuk memanfaatkan
peluang pemeliharaan / pengadaan alat-
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus,
yaitu mengadakan alat material khusus TI
yang mumpuni baik untuk analisis maupun
mendapatkan informasi dengan cepat dan
akurat, karena perlengkapan yang ada di TI
saat ini masih perlu banyak update
kemampuan alat material khusus.
Kekuatan tersebut di atas dapat dioptimalkan
untuk memanfaatkan peluang yang dimiliki oleh Tim
42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang
siber (Cyber Warfare). Peluang tersebut diperoleh
dengan mengkoordinasikan dan memberikan saran
serta masukan dalam rangka mengadakan alat
material khusus TI yang mumpuni baik untuk analisis
maupun mendapatkan informasi dengan cepat dan
akurat, karena perlengkapan yang ada di TI saat ini
masih perlu banyak update kemampuan alat material
khusus.
101
1) Strategi W – O adalah strategi
mengurangi kelemahan untuk memanfaatkan
pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus sehingga
dapat menghambat dalam mengantisipasi
perang siber (Cyber Warfare). Kelemahan
yang dimiliki dalam pemeliharaan / pengadaan
alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus dari hasil penelitian dan data antara
lain :
a) Alat peralatan Tim 42 Grup 3
Kopassus saat ini masih belum
memadai khususnya dalam
mengantisipasi ancaman perang cyber
b) Alat yang dimiliki Tim 42 Grup 3
Kopassus yang sangat prioritas untuk
Disupervisi dan di Upgrade adalah SMI
(Sosial Media Inteligen); Intersep dan
Smart Phone Celebrate.
Kelemahan tersebut di atas bisa
menghambat memberikan masukan atau
bantuan kepada Tim 42 Grup 3 Kopassus
dalam mengantisipasi perang siber (Cyber
Warfare). Sehingga kelemahan yang
disebabkan hal tersebut diatas dapat diatasi/
dieliminir dengan memanfaatkan peluang
seperti adanya mengadakan kerjasama
terhadap komunitas Cyber yang ada di sekitar
102
wilayah Satuan Grup 3 Kopassus guna
meningkatkan kemampuan Tim 42
2) Strategi S - T adalah strategi
meningkatkan kekuatan untuk mengatasi
kelemahan pemeliharaan / pengadaan alat-
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus.
Kekuatan yang dimiliki Tim 42 Grup 3
Kopassus melakukan latihan yang telah sesuai
dengan Rencana Program Kerja Satuan di
bidang latihan dimana dalam setiap
Triwulannya. Untuk mencegah dan mengatasi
kelemahan yang ada dalam rangka
pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus diterapkan
strategi S – T, strategi ini adalah mengeliminir
kelemahan dengan memanfaatkan kekuatan.
Sehingga kelemahan dapat dieliminir oleh Tim
42 Grup 3 Kopassus dengan mengadakan
kerjasama terhadap komunitas Cyber yang ada
di sekitar wilayah Satuan Grup 3 Kopassus
guna meningkatkan kemampuan Tim 42.
3) Strtegi W – T adalah strategi
mengurangi kelemahan untuk mengatasi
kelemahan pemeliharaan / pengadaan alat-
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus.
Strategi W – T diterapkan untuk mencegah dan
mengatasi kelemahan pemeliharaan /
pengadaan alat-peralatan khusus dari Tim 42
Grup 3 Kopassus dengan mengurangi
103
kelemahan, sehingga menjadi sebuah peluang
untuk dapat mengatasi permasalahan yang
ada dalam proses pemeliharaan / pengadaan
alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus. Kelemahan tersebut adalah alat-
peralatan Tim 42 Grup 3 belum memadai untuk
mengantisipasi terhadap ancaran perang
Cyber sebab alat-alat yang dimiliki sejak
terbentuknya Tim 42 Grup 3 Kopassus masih
sedikit dan dengan perkembangan teknologi
yang sangat pesat alat alat tersebut dalam
waktu dekat harus Upgrade (perpanjanngan
pemakaian seperti halnya Sosila Media
Intelijen (SMI), intersep dan Smart Phone
Celebrate dimana masa pakainya per Oktober
tahun 2019. Kelemahan tersebut dapat diatasi
oleh Tim 42 Grup 3 Kopassus dengan
mengoptimalkan pemeliharaan / pengadaan
alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus sehingga alat ini berfungsi dan
dapat digunakan maka harus diperpanjang dan
sudah dalam pengajuan ke satuan atas melalui
Sren Grup 3 Kopassus.
Penetapan Strategi. Berdasarkan analisis
SWOT tersebut diatas, maka dapat diambil strategi
dalam pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus yang akan datang
dengan penjabaran sebagai berikut :
104
Strategi S – O adalah strategi mengoptimalkan
kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang dimiliki
untuk pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus yaitu Personel TNI
harus memiliki aplikasi media sosial atau aplikasi
sarana komunikasi yang dibuat oleh Personal Tim 42
Grup 3 Kopossus atau menggunakan layanan aplikasi
media sosial encrip atau protek sebagai pelindung
aplikasi media sosial yang digunakan. Dan
mengadakan alat material khusus TI yang mumpuni
baik untuk analisis maupun mendapatkan informasi
dengan cepat dan akurat, karena perlengkapan yang
ada di TI saat ini masih perlu banyak update
kemampuan alat material khusus.
Strategi W – O adalah strategi mengurangi
kelemahan untuk memanfaatkan peluang yang
dimiliki untuk pemeliharaan / pengadaan alat-
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus selalu
mengadakan kerjasama terhadap komunitas Cyber
yang ada di sekitar wilayah Satuan Grup 3 Kopassus
guna meningkatkan kemampuan Tim 42.
Strategi S - T adalah strategi menggunakan
kekuatan untuk mencegah dan mengatasi
kelemahan / kendala yang ada terkait pemeliharaan /
pengadaan alat-peralatan khusus Tim 42 Grup 3
Kopassus selalu Mengidentifikasi dan melaporkan
efek perubahan kondisi sasaran Teknologi Informasi
dalam Operasi Sandi Yudha berdasarkan umpan
balik maupun perkembangan yang diperoleh dari
unsur Sandi Yudha di lapangan.
105
Strtegi W – T adalah strategi mengurangi kelemahan
untuk mencegah dan mengatasi kelemahan / kendala
terkait pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan
khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus selalu
melaksanakan pengawasan secara melekat terhadap
pelaksanaan latihan Tim-42. Dan melaksanakan
evaluasi latihan pada setiap latihan yang telah
dilaksanakan baik latihan sesuai Program maupun
Non Program (LDS).
Setelah mengelompokkan faktor-faktor kunci dalam
komponen SWOT, maka langkah selanjutnya adalah pemberian
bobot, indeks dan nilai untuk masing-masing komponen SWOT
dalam tabel Internal Factor Analysis Summary (IFAS) pada Tabel
5.2 dan tabel External Factor Analysis Summary (EFAS) pada
Tabel 5.3 sebagai berikut :
Tabel 5.2
Internal Factor Analysis Summary (IFAS)
No Elemen SWOT Hasil Keterangan
Observasi
1 2 3 4
KEKUATAN
1 Kemampuan Tim 42 Grup 3 (+)(+)(+) Sangat
Kopassus sudah sesuai dengan tugas Kuat
pokok dalam pelaksanaan kegiatan
yang berhubungan dengan
106
Tekhnologi Informasi.
2 Kualitas pengetahuan/penguasaan (+)(+)(+) Sangat
tekhnologi Informasi sudah sesuai Kuat
dengan standar, dimana personel yang
mengawaki Tim TI atau Tim 42
memiliki kemampuan sesuai dengan
bagiannya masing-masing
3 SDM (Sumber Daya Manusia) dimana (+)(+)(+) Sangat
prajurit yang berada di Tim-42 harus Kuat
merupakan orang-orang pilihan yang
harus mampu mengoperasikan alat
alat yang dimiliki dan memahami
tentang soft ware dan hardware dari
perangkat serta memiliki pengetahuan
tantang IT
4 Sampai dengan saat ini, personel Tim (+)(+) Kuat
42 Grup 3 Kopassus telah
melaksanakan kegiatan Latihan
Program maupun Nonprogram di
bidang Jaringan dunia maya, jaringan
LAN, WAN sampai dengan Internet
1 2 3 4
5 Berdasarkan pengalaman tugas yang (+)(+) Kuat
telah dilaksanakan bahwa alat
peralatan Tim-42 yang ada saat ini
telah mampu memberikan dukungan
dalam menunjang tugas pokok
satgas.
PENILAIAN KEKUATAN (Strength) 13 (+) Sangat
kuat
107
KELEMAHAN
1 Kemampuan SDM yang ada di Grup 3 (-)(-) Lemah
saat ini masih memiliki keterbatasan,
sehingga ada kemungkinan serangan
balik yang dilakukan kurang maksimal
2 Keterbatasan dan tidak meratanya (-) Cukup Lemah
kemampuan Personal menguasai alat
peralatan Tim 42 serta alat peralatan
yang belum sepenuhnya mendukung
Tugas Pokok maka Tim 42.
3 Alat peralatan Tim 42 Grup 3 saat ini (-)(-) Lemah
masih belum memadai khususnya
dalam mengantisipasi ancaman
perang cyber
1 2 3 4
4 Alat yang dimiliki Tim 42 Grup 3 (-) Cukup Lemah
Kopassus yang sangat prioritas untuk
Disupervisi dan di Upgrade adalah
a. SMI (Sosial Media Inteligen).
b. Intersep
c. Smart Phone Celebrate
108
PENILAIAN KELEMAHAN (Weakness) 6 (-) Lemah
Perbandingan Aspek Internal 13 (+) + 6 (-)
(KEKUATAN-KELEMAHAN) 7 (+) Sangat Kuat
Sumber : Diolah oleh Peneliti 2019
Tabel 5.3
External Factor Analysis Summary (EFAS)
No Elemen SWOT Hasil Total
Observasi skor
1 2 3 4
PELUANG
1 Grup 3 Kopassus selalu mengadakan (+)(+) Positif
latihan-latihan untuk meningkatkan
kemampuan personel Tim 42 baik
dalam kegiatan latihan sehari-hari
maupun latihan satuan, baik yang
bersifat latihan khusus Tim 42 maupun
latihan Tekhnologi Inf ormasi untuk
1 2 3 4
mendukung Operasi Sandi Yudha.
Sehingga dapat dikatakan bahwa Tim-
42 layak dan siap untuk menghadapi
tantangan tugas yang berhubungan
dengan dunia maya dan jaringan,baik
online maupun ofline
2 Tim 42 masih mampu untuk menahan (+) Cukup
serangan dan melakukan pertahanan Positif
Cyber secara terbatas dengan peralatan
109
yang dimiliki saat ini. Peralatan yang
ada saat ini dapat dikatakan sebagai
peralatan yang modern dan efektif,
hanya perlu adanya penyesuaian setiap
beberapa waktu karena perkembangan
teknologi yang tidak pernah berhenti
3 Meningkatkan penggunaan VPN (+)(+) Positif
membatasi penggunaan media sosial
dan tidak memasukan data penting
satuan ke dalam Gadget yang dimiliki
oleh personel Tim 42
4 Matiriil yang dimiliki Tim 42 Grup 3 (+) Positif
Kopassus telah diadakan peng
Upgrade-dan
PENILAIAN PELUANG (Opportunity) 6 (+) Sangat
Positif
TANTANGAN
1 Perkembangan dunia cyber yang (-)(-) Negatif
semakin pesat dan banyaknya orang
1 2 3 4
yang menguasai ilmu Cyber baik untuk
kepentingan posistif maupun negatif
2 Perlu ditingkatkan perlengkapan dan (-) Cukup
SDM untuk mengawaki Tim 42, Negatif
langkah kongkrit yang dapat dilakukan
adalah dengan memberikan
pemahaman tentang bijak dalam
bermedsos, membatasi pengiriman file
penting
3 Membekali Tim 42 dengan (-) Cukup
110
perlengkapan yang mumpuni dan Negatif
terupdate, juga dengan melakukan
spoting dan recruting anggota yang
mampu dan mahir dalam bidang TI
4 Hasil Penilaian Evaluasi Kemantapan (-) Negatif
dan Kesiapsiagaan Operasional
(EKKO) masih belum optimal yang
berpengaruh pada kesiapsiagaan
operasional satuan
Total skor 5 (-) Sangat
Negatif
Total skor terakhir 6 (+) + 5 (-)
(PELUANG-ANCAMAN) 1 (+) Positif
Sumber : Diolah oleh Peneliti 2019
Hasil analisa faktor-faktor berpengaruh pada tabel Internal
Factor Analysis Summary (IFAS) pada Tabel 5.2 dan tabel External
Factor Analysis Summary (EFAS) pada Tabel 5.3 diatas dapat
digambarkan bahwa posisi strategi terpilih dimana S pada posisi (6)
dan T pada posisi (-1) berada pada Kwadran I pada Gambar 5.1.
Posisi hasil analisa IFAS dan EFAS pada Kwadran I seperti
pada Gambar 5.2 menunjukkan bahwa Strategi yang harus
digunakan adalah Maxi-Maxi dimana langkah yang harus dilakukan
adalah menggunakan kekuatan yang dimiliki organisasi untuk
mengatasi ancaman. Strategi yang harus diterapkan adalah
dengan menggunakan kekuatan untuk memanfaatkkan peluang
jangka panjang dengan melaksanakan strategi diversifikasi.
Gambar 5.2
111
Matriks Strategi Posisi Terpilih Berdasarkan Hasil Analisis SWOT
Opportunities
Strategi S-O
7 (MAXI-MAXI)
Weakness Strengths
0 1
Threats
Sumber : Diolah oleh Peneliti 2019
Alasan :
Melakukan proses identifikasi terhadap peluang dan
tantangan yang ada saat ini. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
sejauhmana tantangan yang ditimbulkan dalam mengantisipasi
perang siber (Cyber Warfare). Setelah memahami permasalahan
yang dihadapi Tim 42 Grup 3 Kopassus, maka perlu dilakukan
pengkajian atas masalah yang ada. Pengkajian dapat dilakukan
melalui penelitian literatur/kepustakaan (library research) maupun
membentuk tim perumus untuk menghasilkan sebuah kajian dalam
rangka mengantisipasi perang siber (Cyber Warfare).
Rumusan yang telah diperoleh dari pengkajian akan
ditindaklanjuti melalui kegiatan penilaian dihadapkan kepada
tantangan mengantisipasi perang siber (cyber warfare) yang
berkembang saat ini sehingga diperoleh data atau informasi
tambahan yang dapat digunakan untuk penyempurnaan kajian
112
berikutnya. Data dan informasi yang telah diperoleh kemudian
dianalisis untuk membuat langkah-langkah konseptual dan strategi
mengenai kebijakan mengantisipasi perang siber (cyber warfare)
diharapkan.
Setelah merumuskan hasil kebijakan mengantisipasi perang
siber (cyber warfare), maka hasil kajian dengan menggunakan
Maxi-Maxi dimana langkah yang harus dilakukan adalah
menggunakan kekuatan yang dimiliki organisasi untuk mengatasi
ancaman. Strategi yang harus diterapkan adalah dengan
menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka
panjang dengan melaksanakan strategi diversifikasi (meningkatkan
kinerja yang ada dengan jalan mengidentifikasi peluang untuk
menambah kekuatan)29. Produk akhir diharapkan membekali Tim
42 Grup 3 Kopassus dengan perlengkapan yang mumpuni dan
terupdate, juga dengan melakukan spoting dan recruting anggota
yang mampu dan mahir dalam bidang TI.
5.1.6. Sarana dan Prasarana.
1. Pangkalan / Markas. Markas / Pangkalan Grup-3
Kopassus merupakan wahana yang efektif untuk membina,
membentuk serta meningkatkan kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus melakukan berbagai aktivitas kegiatan baik yang
bersifat rutin dalam hal kegiatan di bidang penguasaan
teknologi informasi (TI) dan pemeliharaan / pengadaan alat-
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
2. Piranti Lunak. Peranti lunak berupa buku referensi,
buku-buku petunjuk dan protap-protap bidang perencanaan
29
[Link] diunggah 23 September 2019.
113
dan anggaran sebagai bahan pelajaran dan pedoman
perwira perencanaan Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam
menyusun dokumen perencanaan program dan anggaran.
Proses pengadaan dan pemeliharaan piranti lunak meliputi :
a. Evaluasi dan revisi terhadap piranti lunak yang
sudah ada, guna penyesuaian kembali dengan
kebutuhan tugas di lapangan.
b. Pembuatan dan pengesahan piranti lunak baru
khususnya yang menyangkut prosedur dan
mekanisme penyusunan perencanaan program dan
anggaran satuan.
c. Sosialisasi piranti lunak yang dimaksud
tersebut kepada unsur staf dan perwira di lingkungan
Tim 42 Grup 3 Kopassus.
3. Anggaran. Kemampuan dukungan anggaran
diarahkan dalam bidang penguasaan teknologi informasi
(TI) dan pemeliharaan / pengadaan alat-peralatan khusus
Tim 42 Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang
siber (cyber warfare).
5.2. Gagasan Inovatif. Dalam mengoptimalkan kemampuan Tim 42
Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare) maka
Danjen Kopassus perlu melakukan upaya modernisasi materiil khusus
penyelidikan dan sarana informatika yang digunakan oleh personel Tim 42
Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare).
114
a. Strategi-1. Melaksanakan transformasi latihan untuk
mendapatkan kemampuan dan kesiagaan operasional yang dirancang
menghadapi prediksi ancaman potensial dihadapi khususnya
ancaman Perang Siber melalui penyempurnaan latihan yang
diarahkan untuk menghadapi Perang Siber; pelaksanaan latihan
dengan memisahkan aspek taktis dengan kepentingan demonstrasi;
variasi latihan gabungan pada aspek medan, materi maupun musuh
yang dihadapi; penyelenggaraan latihan yang realistis sesuai
dinamika operasi; penyelenggaraan latihan yang mampu menjadi
pengganda efek tangkal pertahanan negara; serta evaluasi hasil
latihan secara komprehensif sebagai sarana menguji efektifitas
organisasi dan doktrin. Penerapan strategi ini erat kaitannya dengan
teori Capability Based Planning, yaitu perencanaan kemampuan
pertahanan untuk menghadapi kemungkinan ancaman dengan
menentukan secara pasti bentuk ancaman, lokasi, kondisi, musuh
serta waktu pasti untuk berperang.
b. Strategi-2. Melakukan penataan organisasi yang siap
operasional untuk mengantisipasi Perang Siber (Cyber Warfare)
tanpa adanya tumpang tindih kewenangan pembinaan maupun
operasional satuan melalui penyusunan organisasi dengan
kewenangan yang jelas dan tegas pada aspek pembinaan maupun
operasional, melakukan validasi organisasi satuan operasional
sesuai kebutuhan menghadapi Perang Siber, penyusunan alternatif
dan kombinasi satuan yang paling tepat untuk suatu tugas operasi
dan membentuk satuan anti siber. Pemberian pemahaman para
pemangku kepentingan, prajurit terbawah sampai kepada elemen
masyarakat mengenai esensi ancaman Perang Siber mulai dari ciri,
aktor, bentuk ancaman, dan medan tempur yang digunakan sampai
konsep menghadapinya melalui sosialisasi esensi Perang Siber
baik kepada prajurit maupun masyarakat, perubahan dan
115
penyempurnaan kurikulum pendidikan, melakukan perubahan
materi dan metode latihan, dan meningkatkan pemahaman tentang
ancaman siber. Penerapan strategi ini sangat erat kaitannya
dengan landasan teori dasar-dasar kebijakan pertahanan, antara
lain melakukan penangkalan strategis melalui penyiapan
kemampuan, kehadiran di garis pertahanan (mandala perang),
reaksi cepat terhadap krisis dan memiliki kedalaman serta Network
Centric Warfare (NCW) merupakan teori yang diterapkan dalam
konsep Siskodal operasi militer modern dengan mengintegrasikan
seluruh komponen atau elemen kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus ke dalam satu jaringan komputer militer NCW berbasis
teknologi satelit dan jaringan Internet
c. Strategi-3. Mewujudkan serta melakukan sinkronisasi dan
interoperability antar satuan yang disiapkan untuk menghadapi
ancaman Perang Siber melalui penetapan prosedur penggunaan
satuan TNI maupun komponen Pertahanan Negara lain secara
terpadu guna memperkuat Manajemen Sistem Pertempuran dengan
komputerisasi, sosialisasi pemahaman tugas satuan lain dalam satuan
gabungan dan melakukan uji interoperability, secara terus menerus.
Penerapan strategi ini dilandaskan pada teori Capability Based
Planning yaitu perencanaan kemampuan pertahanan untuk
menghadapi kemungkinan ancaman dan mampu menentukan secara
pasti ancaman tertentu, lokasi, kondisi, musuh serta waktu pasti untuk
berperang sehingga diperlukan waktu reaksi yang cepat serta
sinkronisasi maupun interoperability yang baik. Serta mengoptimalkan
pengadaan (recruitment) internal yaitu memberikan kesempatan
kepada Tim 42 Grup 3 Kopassus untuk melaksanakan pekerjaan,
kegiatan dan pelatihan di bidang jaringan dunia maya (cyber space),
jaringan yang bersifat LAN, WAN sampai dengan Internet. Yang
bertujuan untuk mendapatkan Tim 42 Grup 3 Kopassus dan memiliki
116
kompetensi dalam memperkuat pertahanan dengan firewall dan
sistem yang terenkripsi dengan baik; melaksanakan serangan siber
dalam bentuk pembuatan virus, malware, botnet untuk masuk ke
sistem sasaran agar bisa mendapatkan data, sampai dengan
menghancurkan data maupun sistem dan forensik siber.
d. Strategi-4. Mengoptimalkan pengembangan (development)
alat peralatan yang dimiliki oleh Tim 42 Grup 3 Kopassus saat ini
mampu melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan pelatihan dalam
mengantisipasi perang siber (cyber warfare). Melalui pengembangan
(development) alat peralatan yang dimiliki oleh Tim 42 Grup 3
Kopassus secara terpadu dapat memperkuat sistem pertempuran
dengan komputerisasi dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare) dan mampu menentukan secara pasti ancaman tertentu,
lokasi, kondisi, musuh serta waktu pasti untuk berperang.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan. Berdasarkan pembahasan pada bab-bab
sebelumnya dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu sebagai berikut :
6.1.1. Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi telah
menjadikan internet ini sebagai media dalam melakukan perang
modern saat ini. Penggunaan internet dan jaringan komputer
sebagai media cyber (cyberspace) dalam melakukan kegiatan
perang, disebut perang cyber (cyber warfare). Peperangan siber
(cyber warfare) bertujuan untuk menghancurkan sistem jaringan
komputer suatu negara dan peralatan lain yang berhubungan
dengan penggunaan sistem komputer. Adanya perang siber,
117
sebagai bentuk perang modern dapat mengancam dan
melumpuhkan sistem keamanan dan pertahanan negara serta
mengancam kehidupan masyarakat dalam suatu negara. Hal ini
telah mendapat perhatian khusus oleh satuan operasional Grup 3
Kopassus yang didalam susunan organisasinya terdapat Tim 42
yang membidangi Jaringan dunia Maya (cyber space) harus
mampu melaksanakan fungsi dan tugasnya dalam pengamanan
data satuan tugas agar tidak disalahgunakan oleh pihak tertentu
dalam melakukan aksi propaganda dan pemutarbalikan fakta dari
hasil pencurian data tersebut.
6.1.2. Sesuai amanat Undang-Undang RI nomor 34 tahun 2004
tentang Pertahanan Negara, tugas melaksanakan fungsi
pertempuran tersebut dapat dibedakan menjadi tugas-tugas
Operasi Militer untuk Perang (OMP) menghadapi militer asing
(regular force) dan tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP)
yang bersifat tempur maupun non tempur. Melalui konsep
pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang
memilih sistem pertahanan semesta merupakan sistem pertahanan
yang sangat ideal untuk menghadapi segala macam bentuk
ancaman. Akan tetapi pengembangan kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus harus ditingkatkan dalam mengantisipasi perang siber
(cyber warfare). Tim 42 Grup 3 Kopassus terdiri dari Unit Jaringan
dengan tugas pokok melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan
pelatihan di bidang Jaringan dunia Maya (cyber space), jaringan
yang bersifat LAN, WAN sampai dengan Internet.
6.1.3. Dari hasil analisis terhadap kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare),
diketahui belum menunjukkan hasil yang optimal. oleh sebab itu,
diperlukan upaya pemecahan masalah, mengoptimalkan
118
kemampuan Tim 42 Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan
teknologi informasi (TI) dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare) serta melaksanakan pemeliharaan / pengadaan alat-
peralatan khusus Tim 42 Grup 3 Kopassus guna menghadapi
perubahan situasi medan tempur di abad 21 atau modern warfare.
Dengan menerapkan teori Network Centric Warfare (NCW) yang
diterapkan dalam konsep Siskodal operasi militer modern dengan
mengintegrasikan seluruh komponen atau elemen militer ke dalam
satu jaringan komputer militer NCW berbasis teknologi satelit dan
jaringan Internet rahasia militer yang disebut SIPRNet (Secret
Internet Protocol Router Network) dihubungkan kemampuan Tim 42
Grup 3 Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber
warfare).
6.1.4. Berdasarkan hasil Analisa SWOT dan penentuan kuadran di
dapatkan kuadran I dengan IFAS dan EFAS menunjukkan bahwa
Strategi yang harus digunakan adalah Maxi-Maxi dimana langkah
yang dilakukan adalah menggunakan kekuatan yang dimiliki
organisasi untuk mengatasi ancaman. Strategi yang harus
diterapkan adalah dengan menggunakan kekuatan untuk
memanfaatkkan peluang jangka panjang dengan melaksanakan
strategi diversifikasi yaitu meningkatkan kinerja yang ada dengan
jalan mengidentifikasi peluang untuk menambah kekuatan. Melalui
upaya tersebut didukung dengan Analisa SWOT diharapkan akan
mampu meningkatkan kemampuan
117 Tim 42 Grup 3 Kopassus
dengan perlengkapan yang mumpuni dan terupdate, juga dengan
melakukan spoting dan recruitment anggota yang mampu dan
mahir dalam bidang TI.
119
6.2. Saran. Untuk mengoptimalkan kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare), maka
disarankan sebagai berikut :
6.2.1. Perlu adanya perubahan dan penyempurnaan doktrin
termasuk aturan dan petunjuk pendukungnya baik pada tataran
operasional, pembinaan maupun administrasi guna melihat
kemungkinan ancaman, cara berperang maupun menyiapkannya,
sehingga dalam mewujudkan peningkatan kemampuan Tim 42
Grup 3 Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI)
dapat mampu mengantisipasi perang siber (cyber warfare) yang
merupakan sebuah ancaman bagi kedaulatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
6.2.2. Perlu adanya peningkatan kemampuan Tim 42 Grup 3
Kopassus dalam mengantisipasi perang siber (cyber warfare) yang
diharapkan tercapai melalui pencapaian kekuatan pokok minimum
(minimum essential force) sampai tahun 2024 khususnya
pemeliharaan / pengadaan alat material khusus hendaknya selalu
dievaluasi terutama pada aspek kesesuaian dengan satuan lain
baik dalam satu angkatan maupun dengan angkatan lain, sehingga
dapat menghasilkan sinergisitas kemampuan yang handal dan
dapat didayagunakan untuk mengantisipasi perang siber (cyber
warfare).
6.2.3. Perlu adanya pemanfaatkan seluruh sumber daya nasional
yang ada baik sumber daya manusia, teknologi informasi, sistem
infrastruktur, perundang-undangan dan kemampuan teknologi
melalui upaya kerjasama dan koordinasi secara terpadu antar
lembaga terkait dengan pengelolaan teknologi informasi dan
telekomunikasi.
120
Bandung, Oktober 2019
Perwira Siswa
Abdullah Mahua
Mayor Inf NRP 11040009870180
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Definisi Penelitian Kualitatif, lihat V. Wiratna Sujarweni, Metodologi
Penelitian Bisnis dan Ekonomi, Yogyakarta,
Pustakabaruppress, 2015
Dorman Andrew, Smith Mike, and Uttley Matthew, The Changing
Face of Military Power, Palgarave, 2012
Freddy Rangkuti, Personal SWOT Analysis, Jakarta, PT Gramedia,
2015
121
Lexy J Meleong, M.A, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, PT
Remaja Rosdakarya,2011
Margono 2004, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, PT
Remaja Rosdakarya,2011
Universitas Pertahanan Indonesia, 2012. Kajian Strategis
Keamanan siber Nasional: Dalam Rangka Meningkatkan
Ketahanan Nasional Dibidang Keamanan siber, Jakarta
Rod Thornton, Asymmetric Warfare, Cambridge, 2011
Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Widya Karya, Semarang, 2005
Sigit Soehardi, Perilaku Organisasi, (Yogyakarta: BPFE UST,2003),
Toft-Arreguin Ivan, How the weak win wars: A theory of Asymmetric
Conflict, Cambridge, 2015
B. Peraturan Perundang-Undangan
Perkasad Nomor 41, tentang organisasi dan tugas Grup 2 dan 3
Kopassus (Orgas Grup 2 dan 3 Kopassus), Tahun 2015.
C. Tesis/Disertasi
Wasgito, Tesis “’Analisis Pengaruh Validasi Organisasi Terhadap
Kinerja Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian
Pertahanan.”. Jakarta: Universitas Pembangunan Nasional,
2015.
Prasetyaningsih, Tesis “’Pengaruh Struktur Organisasi,
Kepemimpinan dan Kemampuan SDM Terhadap Efektivitas
122
Pelayanan Pada Kantor Pertanahan Kabupaten Kendal”,
Kendal, Universitas Diponegoro, 2016.
D. Majalah/Artikel
DR. Ivan Yulivan MM. Perang Hibrida di Dunia, (Jurnal Yudhagama
Edisi Juni 2013),
Fred Schreier, On Cyber Warfare, DCAF Horizaon 2015. Working
Paper No. 7.
Henra Hari Sutaryo, Hybrid Warfare dan Implikasinya bagi
Indonesia, (Majalah Yudhagama edisi Juni 2013),
Iwan Kustiayawan, Slide MK CSPS:Preliminary kepada Mahasiswa
Prodi Peperangan Asimeris Cohort 2, Universitas
Pertahanan Indonesia
Subekti, “Modernisasi Alutsista TNI AD Untuk Mencapai
Pembangunan Kekuatan Pokok Minimum”, Jurnal Angkatan
Darat Yudhagama, Vol.32,No.1, Maret 2012.
[Link] dengan judul "Jejak Malware Komputer Hingga
Ransomware WannaCry ", [Link]
komputer-hingga-ransomware-wannacry-coM3.
Trinquier Roger, 1985. Modern Warfare: A French View of
Counterinsurgency, Pall Mall Press, London and Dunmow.
Universitas Pertahanan Indonesia, 2012. Kajian Strategis
Keamanan Cyber Nasional: Dalam Rangka Meningkatkan
Ketahanan Nasional Dibidang Keamanan Cyber, Jakarta
123
E. Kamus
John [Link] dan Hasan Shadly, 2019, Kamus Inggris Indonesia,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
F. Internet
Network Centric Warfare’ diakses melalui https:// hankam
[Link] /2007/12/03/ network-centric-
warfare / Pada 29 Februari […]
Perlunya Pembangunan Sistem Pertahanan Siber (Cyber Defense)
yang tangguh bagi Indonesia, https:// www. kemhan. [Link]/
pothan/wp-content/uploads/migrasi/admin/ Cyber % 20
Defence. Pdf
[Link]
acry- dari-pakar-informatika-budi-rahardjo
[Link]
crime- beserta modus dan penyelesaian-nya/diakses pada
tanggal 16 April 2019.
([Link]
man- nkri-di-masa-kini-dan-masa-depan) diakses pada
tanggal 16 April 2019.
[Link]
ttp://[Link]/blog/2015/9/16/diversifikasi, diakses 23
September 2019.
124
PEDOMAN WAWANCARA
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
WAKIL KOMANDAN GRUP- 3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
125
Nama : Wing Sandya Udayanto, S.E.
Pangkat / NRP : Letkol Inf/11990032920576
Jabatan : Wakil Komandan Grup-3 Kopassus
Pendidikan : S-1
Pertanyaan Penelitian :
1. Menurut Bapak, apakah kemampuan Tim-42 Grup-3 Kopassus di
bidang Teknologi Informasi (TI) sudah sesuai dengan tugas pokok
melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan pelatihan di bidang Jaringan dunia
Maya (cyber space) ? Mulai dari penguasaan Hardware, Software,
infrastruktur jaringan computer yang bersifat LAN (Local Area Network),
WAN (Wide Area Network) sampai dengan pengelolaan sumber daya
Internet (Interconnection-Networking).
Kemampuan Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah sesuai dengan tugas pokok
dalam pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan Tekhnologi
Informasi, namun masih perlu adanya peningkatan kemampuan dilihat
dari arus perkembangan dan update ilmu pengetahuan teknologi dan
informasi yang sangat cepat berubah dan berevolusi dalam hitungan detik,
kendati demikian Grup-3 Kopassus selalu mengadakan latihan-latihan
untuk meningkatkan kemampuan personel Tim-42 baik dalam kegiatan
latihan sehari-hari maupun latihan satuan, baik yang bersifat latihan
khusus Tim-42 maupun latihan Tekhnologi Informasi untuk mendukung
Operasi Sandi Yudha. Sehingga dapat dikatakan bahwa Tim-42 layak dan
siap untuk menghadapi tantangan tugas yang berhubungan dengan dunia
maya dan jaringan,baik online maupun ofline.
2. Apakah alat-peralatan dan SDM Tim-42 Grup-3 Kopassus yang
tersedia saat ini, mampu mengantisipasi ancaman perang Cyber (Cyber
126
Warfare) hingga melakukan intervensi/serangan balik ke pihak yang
menginisiasi perang Cyber ?
Kemampuan SDM dan perlatan yang ada di Grup-3 saat ini masih
memiliki keterbatasan, sehingga ada kemungkinan serangan balik yang
dilakukan kurang maksimal, tetapi Tim-42 masih mampu untuk menahan
serangan dan melakukan pertahanan Cyber secara terbatas dengan
peralatan yang dimiliki saat ini. Peralatan yang ada saat ini dapat
dikatakan sebagai peralatan yang modern dan efektif, hanya perlu adanya
penyesuaian setiap beberapa waktu karena perkembangan teknologi yang
tidak pernah berhenti.
3. Apakah kualitas dan tingkat pengetahuan/penguasaan teknologi
informasi (TI) oleh Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah sesuai standar yang
diharapkan dari Komando atas ? Mohon penjelasan.
Kualitas pengetahuan/penguasaan tekhnologi Informasi sudah sesuai
dengan standar, dimana personel yang mengawaki Tim TI atau Tim-42
memiliki kemampuan sesuai dengan bagiannya masing-masing, tetapi
ada sedikit kendala yaitu personel TI yang ada di basis saat ini belum
terpenuhi sepenuhnya dan banyak yang digunakan dalam kegiatan
operasi, sehingga masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan
untuk tetap terjaganya penguasaan peralatan yang ada di Tim-42, dan
masih perlu adanya aderisasi setiap jangka waktu tertentu, sehingga
personel yang menguasai peralatan tidak hanya orang tertentu saja.
4. Bagaimana cara mengoptimalkan kemampuan/meningkatkan
kompetensi Tim-42 Grup-3 Kopassus dalam mengantisipasi perang Cyber
(cyber warfare) ?
127
Yaitu dengan mengadakan alat material khusus TI yang mumpuni baik
untuk analisis maupun mendapatkan informasi dengan cepat dan akurat,
karena perlengkapan yang ada di TI saat ini masih perlu banyak update
kemampuan alat material khusus.
5. Sebagai penutup, mantan karyawan Central Intelligence Agency
(CIA) Edward Snowden menyatakan bahwa tim cyber National Security
Agency (NSA) membajak sekaligus menanam Malware (Malicious
Software / suatu program yang dirancang dengan tujuan untuk merusak /
sabotase dengan menyusup ke sistem komputer melalui virus) pada
produk buatan Amerika seperti ; Personal Computer, Telepon seluler,
Tablet, Pad, Sim Card, Media Sosial, Google, Yahoo, Youtube, Facebook,
Microsoft, Skype dan Apple. Ini bagian dari inisiasi perang Cyber Amerika.
Menurut Bapak, apa yang perlu dilakukan untuk memperkuat Tim-42
Grup-3 Kopassus ? khususnya guna mengantisipasi hal tersebut di atas.
Untuk memperkuat Tim-42 Grup-3 Kopassus yaitu dengan meningkatkan
penggunaan VPN membatasi penggunaan media sosial dan tidak
memasukan data penting satuan ke dalam Gadget yang dimiliki oleh
personel Tim-42.
6. Komunikasi digital (telepon seluler) kebanyakan orang di Indonesia
termasuk personel TNI adalah menggunakan aplikasi WhatsApp,
Telegram dan Messenger. Ke-3 aplikasi tersebut milik vendor Amerika
dan dipublikasikan oleh mantan karyawan Central Intelligence Agency
(CIA) Edward Snowden bahwa NSA sudah menguasainya. Apa pendapat
Bapak dan bagaimana sebaiknya kita (Kopassus) mempergunakan ke-3
aplikasi tersebut ?
128
Seiring perkembangan, aplikasi tersebut hampir digunakan oleh sebagian
besar penduduk Indonesia ataupun dunia untuk melakukan komunikasi,
sehingga aplikasi tersebut masih layak digunakan, tetapi dengan syarat,
pengiriman berita maupun file yang penting dengan di encrypt baik
dengan SSE maupun aplikasi lain, sehingga pesan yang kita sampaikan
hanya dapat di decrypt oleh personel yang berhak membacanya.
7. Menurut Bapak, apa tantangan terbesar bagi Tim-42 Grup-3
Kopassus saat ini dan apa langkah kongkrit untuk mengantisipasi/
menghadapi tantangan tersebut ?
Tantangan terbesar adalah perkembangan dunia cyber yang semakin
pesat dan banyaknya orang yang menguasai ilmu Cyber baik untuk
kepentingan posistif maupun negatif. Hal ini akan mempengaruhi
banyaknya kerawanan yang dapat digunakan untuk melakukan
penyerangan dari pihak musuh, untuk itu perlu ditingkatkan perlengkapan
dan SDM untuk mengawaki Tim-42, langkah kongkrit yang dapat
dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman tentang bijak dalam
bermedsos, membetasi pengiriman file penting serta membekali Tim-42
dengan perlengkapan yang mumpuni dan terupdate, juga dengan
melakukan spoting dan recruting anggota yang mampu dan mahir dalam
bidang TI.
129
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
KEPALA SEKSI INTEL GRUP-3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak/Ibu untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
130
Nama : Rafael Hotasi Siagian
Pangkat / NRP : Mayor Inf/ 21930022640373
Jabatan : Kasi Intel Grup-3 Kopassus
Pendidikan : SMA
Pertanyaan Penelitian :
1. Menurut Bapak, apakah kemampuan SDM & alat-peralatan Tim-42
Grup-3 Kopassus sudah memadai untuk mengantisipasi ancaman perang
Cyber ? Dinamika apa yang berpotensi terjadi dan menghambat tugas
pokok Tim-42 Grup-3 Kopassus ?
Kemampuan SDM & alat peralatan Tim-42 Grup-3 saat ini masih belum
memadai khususnya dalam mengantisipasi ancaman perang cyber karena
kekurangan tersebut maka dibidang keamanan Cyber Tim-42 Grup-3
dapat berpotensi menghambat tugas pokok Tim-42 Grup-3 Kopassus. Hal
tersebut terjadi karena lemahnya sistem pertahanan alat peralatan Tim-42
Grup-3 sehingga sangat mungkin terjadinya ancaman keamanan dan
pertahanan cyber Grup-3 Kopassus.
2. Dalam pemberian informasi Tugas Operasi, indikasi apa saja yang
Bapak baca dan sampaikan kepada Tim-42 Grup-3 Kopassus ? apakah
Tim mampu memahami situasi dan melaksanakan tugas pokoknya
dengan optimal ?
Keterbatasan dan tidak meratanya kemampuan Personal menguasai alat
peralatan Tim-42 serta alat perealatan yang belum sepenuhnya
mendukung Tugas Pokok maka Tim-42 tidak jarang mengalami kesulitan
dalam mengatasi situasi pada saat melakukan Tugas Operasi.
131
3. Dari sudut pandang Kasi. Intel, menurut Bapak apa yang perlu
diperbaiki ataupun ditingkatkan pada Tim-42 Grup-3 Kopassus ?
Sistem pertahanan cyber dan alat peralatan Tim-42 harus benar-benar
yang terbaik dan aman sehingga tidak mudah terjadinya kebocoran
informasi rahasia Grup-3 Kopassus selain itu perlu peningkatan SDM
personel Tim-42 yang mengawaki alat peralatan tersebut dengan
melakukan pelatihan khusus secara berkala mengikuti perkembangan
Cyber.
4. Media sosial jadi salah satu gerbang bagi Amerika dalam aksi
spionase/intelijen ekonomi. Menurut Bapak, bagaimana sebaiknya kita
(personel TNI) bersikap terhadap media sosial disaat kita-pun butuh
media sosial sebagai alternatif sarana untuk publikasi ?
Sebaiknya penggunaan media sosial personel Grup-3 harus dibekali
pengetahuan tentang bentuk ancaman serangan cyber yang akan
menimbulkan ancaman kebocoran informasi rahasia Satuan Grup-3
Kopassus.
Saran kami sebagai alternatif, Personel TNI harus memiliki aplikasi media
sosial atau aplikasi sarana komunikasi yang dibuat oleh Personal Tim-42
Grup-3 Kopossus atau menggunakan layanan aplikasi media sosial encrip
atau protek sebagai pelindung aplikasi media sosial yang digunakan
tersebut.
5. Menurut Bapak, apakah Tim-42 Grup-3 Kopassus aktif men-
screening media sosial sebagai tindakan deteksi potensi serangan
Cyber ? Dari sudut pandang Kasi. Intel, apakah kinerja Tim-42 Grup-3
Kopassus sudah optimal dalam hal pengawasan media sosial ?
132
Ya... Tim-42 telah melakukan tindakan deteksi akan potensi serangan
Cyber.
Kinerja Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah melakukan tugasnya secara
optimal.
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
KEPALA PERHUBUNGAN GRUP-3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak/Ibu untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
133
Nama : Hendra Sormin, S.T.
Pangkat / NRP : Mayor Chb / 11050024040579
Jabatan : Kahub Grup-3 Kopassus
Pendidikan : S-1
Pertanyaan Penelitian :
1. Menurut Bapak, apakah alat-peralatan Tim-42 Grup-3 Kopassus
sudah memadai untuk mengantisipasi ancaman perang Cyber ? Apakah
dalam waktu dekat diperlukan Upgrade/melakukan peningkatan hardware
dan Software alat-peralatan Tim-42 Grup-3 Kopassus ?
Untuk alat-peralatan Tim-42 Grup-3 belum memadai untuk mengantisipasi
terhadap ancaran perang Cyber sebab alat-alat yang dimiliki sejak
terbentuknya Tim-42 Grup-3 masih sedikit dan dengan perkembangan
teknologi yang sangat pesat alat alat tersebut dalam waktu dekat harus
Upgrade (perpanjanngan pemakaian seperti halnya Sosila Media Intelijen
(SMI), intersep dan Smart Phone Celebrate dimana masa pakainya per
Oktober tahun 2019, sehingga agar alat ini berfungsi dan dapat digunakan
maka harus diperpanjang dan sudah dalam pengajuan ke satuan atas
melalui Sren Grup-3 Kopassus
2. Jika diperlukan dan tidak untuk keseluruhan, alat-peralatan apa
saja yang menjadi prioritas untuk disupervisi dan upgrade ?
Alat yang dimiliki Tim-42 Grup-3 Kopassus yang sangat prioritas untuk
Disupervisi dan di Upgrade adalah
a. SMI (Sosial Media Inteligen).
b. Intersep
134
c. Smart Phone Celebrate
3. Dari sudut pandang Kepala Perhubungan, menurut Bapak apa
yang perlu diperbaiki ataupun ditingkatkan pada Tim-42 Grup-3
Kopassus ?
Yang perlu ditingkatkan antara lain :
a. SDM (Sumber Daya Manusia) dimana prajurit yang berada
di Tim-42 harus merupakan orang-orang pilihan yang harus mampu
mengoperasikan alat alat yang dimiliki dan memahami tentang soft
ware dan hardware dari perangkat serta memiliki pengetahuan
tantang IT sehingga. Untuk itu agar personel tersebut mampu
melaksanakan tugas dihadapkan dengan perkembangan global
khususnya dengan cyber maka harus dididik baik kursus,
pendidikan ataupun penataran.
b. Alat peralatan. Peralatan yang ada di tim-42 Grup-3
Kopassus masih jauh dari harapan dan sangat minim sehingga
perlu pengadaan alat alat sebagai pendukung tugas yang
berhadapan dengan ancaman Cyber global baik software maupun
harware salah satu contoh jaringan internet yang tersedia masih
jauh dari harapan dengan kebutuhan dan kecepatan dan cendering
masing menggunakan saran telkom padahal layanan Satelit sudah
ada tapi saat ini belom bisa digunakan.
135
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
KEPALA SEKSI OPERASI GRUP-3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
136
Nama : Febrin
Pangkat / NRP : Kapten Inf/11070065020286
Jabatan : Kasiops Grup-3 Kopassus
Pendidikan : SMA
Pertanyaan Penelitian :
1. Bagaimana menurut Bapak dalam menyelenggarakan peningkatan
kemampuan Tim-42 Grup-3 Kopassus di bidang penguasaan teknologi
informasi (TI) ?
Pertama, dengan cara melakukan latihan yang telah sesuai dengan
Rencana Program Kerja Satuan di bidang latihan dimana dalam setiap
Triwulannya, Tim-42 akan melaksanakan kegiatan latihan secara terpusat.
Pada Triwulan I Tim-42 akan melaksanakan kegiatan Latihan Pertahanan
Cyber, Triwulan II latihan Serangan Cyber, Triwulan III Tim-42 latihan
Cyber Forensik dan Triwulan IV akan melaksanakan latihan Pemantapan
Operasi Sandha (Tim-42 membantu pelaksanaan latihan Operasi
Sandha).
Kedua, melaksanakan Latihan Dalam Satuan dengan cara mengundang
Nara Sumber atau Tenaga Ahli bidang Teknologi Informasi untuk
memberikan pelajaran dan pengetahuan bagi Tim-42.
Ketiga, dengan cara mengadakan kerjasama terhadap komunitas Cyber
yang ada di sekitar wilayah Satuan Grup-3 Kopassus guna meningkatkan
kemampuan Tim-42.
2. Apakah Bapak sudah melaksanakan pekerjaan, kegiatan dan
pelatihan di bidang Jaringan dunia Maya (Cyber Space), jaringan yang
bersifat LAN, WAN sampai dengan Internet ? Mohon penjelasan.
137
Sampai dengan saat ini, Tim-42 Grup-3 Kopassus telah melaksanakan
kegiatan Latihan Program maupun Nonprogram di bidang Jaringan dunia
maya, jaringan LAN, WAN sampai dengan Internet. Dimana Latihan Tim-
42 diawali dengan lator yang didalamnya memuat materi latihan mulai dari
Jaringan (dimana didalamnya termasuk jaringan dunia maya, jaringan
LAN, WAN sampai dengan Internet), Software dan Hardware. Selanjutnya
akan melaksanakan Latihan Satuan dalam hubungan Unit maupun Tim
dengan Program Latihan Pertahanan Cyber, Serangan Cyber sampai
dengan Cyber Forensik.
3. Apakah menurut Bapak kondisi alat-peralatan dan SDM Tim-42
Grup-3 Kopassus yang tersedia mampu mengantisipasi perang Cyber
(Cyber Warfare) ?
Kondisi alat-peralatan dan SDM Tim-42 Grup-3 Kopassus yang tersedia
saat ini dirasakan belum mampu untuk mengantisipasi perang Cyber. Hal
ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu
a. Jumlah Alat Peralatan yang ada belum ideal sehingga perlu
pengadaan serta penambahan alat peralatan yang sesuai
kebutuhan (potensi ancaman kedepan).
b. Jumlah personel yang ada saat ini belum lengkap dan
kemampuannya pun masih perlu ditingkatkan. Kondisi personel
memang sudah menjadi persoalan sejak lama dimana sampai
dengan saat ini prosentase personel Grup-3 Kopassus hanya 70 %
dari TOP.
4. Berdasarkan pengalaman tugas yang sudah Bapak lakukan,
adakah kendala dalam tugas baik dari alat-peralatan dan SDM Tim-42
Grup-3 Kopassus ? Jika ada, apa saja ? Mohon penjelasan.
138
Berdasarkan pengalaman tugas yang telah dilaksanakan bahwa alat
peralatan Tim-42 yang ada saat ini telah mampu memberikan dukungan
dalam menunjang tugas pokok satgas. Namun perlu diketahui bahwa alat
peralatan TI itu harus selalu di “up grade”, mengingat perkembangan TI
pada saat ini sangat pesat. Dengan kata lain bahwa alat peralatan TI
harus mengikuti perkembangan zaman, dimana idealnya adalah setiap
alat yang digunakan mempunyai batas waktu maksimal 5 tahun untuk
pengoperasionalannya.
5. Sebagai Kasiops yang bersentuhan langsung dengan tugas pokok
dan SDM, apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan
kompetensi Tim-42 Grup-3 Kopassus ?
Upaya kami selaku Kasiops dalam meningkatkan kualitas kompetensi
Tim-42 Grup-3 Kopassus adalah
a. Membuat perencaan latihan Tim-42 sesuai dengan Program
Kerja Satuan di bidang latihan.
b. Melaksanakan pengawasan secara melekat terhadap
pelaksanaan latihan Tim-42.
c. Membuat perencanaan Latihan Dalam Satuan (LDS)/Latihan
Non Program guna meningkatkan kualitas perorangan maupun tim.
Dalam hal ini, latihan akan melibatkan pihak luar baik perorangan
maupun kelompok (komunitas cyber) untuk dapat meningkatkan
kemampuan Tim-42.
d. Melaksanakan evaluasi latihan pada setiap latihan yang
telah dilaksanakan baik latihan sesuai Program maupun Non
Program (LDS).
139
6. Dalam mendeteksi dan mendefinisikan permasalahan serta
memetakan tugas untuk Tim-42 Grup-3 Kopassus, apa pertimbangan
Bapak dan bagaimana menentukan skala prioritas ?
Pertimbangan yang dilakukan dalam mendeteksi dan mendefinisikan
permasalahan serta memetakan tugas untuk Tim-42 Grup-3 Kopassus
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Potensi ancaman yang akan dihadapi kedepan terhadap
pertahanan dan keamanan nasional.
b. Pencapaian tugas pokok dalam setiap penugasan yang
diberikan kepada Grup-3 Kopassus.
c. Perkembangan Teknologi Informasi yang begitu pesat yang
menuntut satuan Grup-3 Kopassus harus memiliki sebuah
organisasi yang dapat menjawab setiap persoalan.
7. Menurut Bapak, apakah ancaman perang Cyber cukup Urgent
(harus-segera) untuk direspon guna melindungi keamanan nasional ?
Menurut kami, ancaman perang Cyber harus mendapatkan perhatian
yang ekstra guna melindungi keamanan nasional. Oleh sebab itu maka
Grup-3 sebagai salah satu satuan operasional Kopassus harus selalu
mengikuti perkembangan zaman untuk dapat mempertahankan keamanan
nasional. Dalam hal ini Tim-42 yang merupakan salah satu bagian dari
Grup-3 Kopassus harus selalu mendapatkan perhatian khusus serta
dukungan dalam pengembangannya untuk dapat mencapai tugas pokok
satuan.
140
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
KEPALA UNIT 1 TIM-42 GRUP-3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
Nama : Julianto Sihombing
Pangkat / NRP : Lettu Inf/31940448750775
Jabatan : Ka Unit 1 Tim-42 Grup-3 Kopassus
141
Pendidikan : SMA
Pertanyaan Penelitian :
1. Apakah menurut Bapak tugas yang diemban dalam mengantisipasi
Perang Cyber (Cyber Warfare) sudah sesuai dengan yang diharapkan dari
Komando atas ? Mohon penjelasan.
Sesuai dengan fungsinya tugas yang diemban dalam mengantisipasi
Perang Cyber (Cyber Warfare) bahwa Tim-42 Grup-3 Kopassus sesuai
Petunjuk Teknis tentang Teknologi Informasi dalam Operasi Sandi Yudha
untuk mengaktualisasikan kemampuan operasionalnya melaksanakan
operasi Sandi Yudha. Saat ini kemajuan ilmu Teknologi Informasi
menciptakan produk teknologi terbaik, bahkan peperangan
dilakukan oleh suatu negara maju saat ini mengedepankan
dunia maya yang disebut Cyber War. Melihat situasi ini Kopassus
mengikuti perkembangan untuk mendukung tercapainya
keberhasilan tugas, dalam menghadapi globalisasi Teknologi
Informasi.
2. Sebagai Komandan Unit 1 Tim-42 Grup-3 Kopassus yang
bertanggung jawab kepada Komandan Grup dalam mengantisipasi perang
Cyber (Cyber Warfare), apakah tugas yang Bapak lakukan sudah berjalan
dengan baik ?
a. Melaksanakan penyebaran/distribusi perangkat lunak
dan atau perangkat keras sesuai dengan sasaran yang
telah ditentukan.
b. Melaksanakan rekayasa ESTOM pada sasaran yang
telah ditentukan melalui jaringan media sosial maupun
pemberitaan online.
142
c. Mengidentifikasi dan melaporkan efek perubahan kondisi
sasaran Teknologi Informasi dalam Operasi Sandi Yudha
berdasarkan umpan balik maupun perkembangan yang
diperoleh dari unsur Sandi Yudha di lapangan.
d. Bertanggung jawab kepada Kepala Tim Teknologi
Informasi dalam pelaksanaan tugas.
3. Menurut Bapak, apakah tingkat kemampuan Tim-42 Grup-3
Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI) sudah berjalan
optimal ? Apakah perlu dilakukan uji kompetensi berkala untuk bawahan
anda ?
Sangat perlu dilakukan uji kompetensi berkala untuk seluruh personel
Tim-42, hal dihadapkan dengan perkembangan Teknologi Informasi yang
begitu cepat dan massif, sehingga personel Tim-42 dapat mengetahui
tentang perkembangan Teknologi terkini.
4. Dari sudut pandang Bapak sebagai Komandan Unit 1 Tim-42 Grup-
3 Kopassus, bagaimana pemeliharaan alat-peralatan yang tersedia
seharusnya dilakukan ?
Pemeliharaan alat-peralatan yang tersedia saat ini sudah dilakukan
pemeliharaan dengan baik dan memang itu seharusnya kami lakukan.
Tujuannya agar alat-peralatan selalu siap digunakan kapan saja.
5. Menurut Bapak, di sisi mana keamanan nasional Indonesia paling
berpotensi terancam serangan Cyber dari pihak asing ? (seperti ; dari
Media Sosial, Personal Computer, Gadget, Provider Jaringan
Telekomunikasi).
143
Menurut kami ada beberapa hal yang berpotensi ancaman serangan
Cyber dari pihak asing :
a. Perangkat keras (hardware) seperti Personal Computer,
Gadget, Server dan peralatan lainnya yang sudah dipasang
spyware.
b. Perangkat lunak (software) seperti Operational system,
aplikasi, sosial media, dan lain sebagainya yang sangat mudah
ditanam spyware.
c. Human. Personel yang membawa langsung spyware dari
luar yang dipasang pada tempat-tempat tertentu untuk
menyebarkan spyware tersebut.
6. Dalam konteks pengamanan internal (TNI) apa yang anda lakukan
terkait permasalahan tersebut di atas ? (pertanyaan nomor 5).
Menurut pendapat kami adalah :
a. Mensosialisasikan tentang ancaman Cyber Warfer kepada
masyarakat secara luas.
b. Membangun system pengamanan data dan jaringan
c. Menyiapkan SDM yang dapat mengelolah system
pengamanan data dan jaringan tersebut.
144
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
WS. KEPALA UNIT 2 TIM-42 GRUP-3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
Nama : Fredy Jaya Sitepu
Pangkat / NRP : Lettu Inf/11140014391092
Jabatan : Ka Unit 2 Tim-42 Grup-3 Kopassus
145
Pendidikan : D-4
Pertanyaan Penelitian :
1. Apakah menurut Bapak tugas yang diemban dalam mengantisipasi
Perang Cyber (Cyber Warfare) sudah sesuai dengan yang diharapkan dari
Komando atas ? Mohon penjelasan.
Menurut kami selaku Ka Unit 2 Tim-42 Grup-3 Kopassus, pembentukan
Tim-42 yang dititikberatkan kepada bidang Teknologi Informasi sudah
sesuai dengan fungsinya. Tentu hal ini untuk menghadapi Perang Cyber
(Cyber Warfare). Saat ini kemajuan ilmu Teknologi Informasi
menciptakan produk teknologi terbaik, bahkan peperangan yang
dilakukan oleh suatu negara mengedepankan dunia maya yang
disebut Cyber War. Melihat situasi ini Kopassus mengikuti
perkembangan untuk mendukung tercapainya keberhasilan tugas,
dalam menghadapi globalisasi Teknologi Informasi.
2. Sebagai Ws. Komandan Unit 2 Tim-42 Grup-3 Kopassus yang
bertanggung jawab kepada Komandan Grup dalam mengantisipasi perang
Cyber (Cyber Warfare), apakah tugas yang Bapak lakukan sudah berjalan
dengan baik ?
a. Tugas yang kami lakukan sudah berjalan dengan baik dan
sesuai dengan yaitu membantu Kaunit dalam melaksanakan
penyebaran/distribusi perangkat lunak dan atau perangkat
keras sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan.
b. Membantu Kaunit dalam melaksanakan rekayasa ESTOM
pada sasaran yang telah ditentukan melalui jaringan media sosial
maupun pemberitaan online.
146
c. Membantu Kaunit dalam mengidentifikasi dan melaporkan
efek perubahan kondisi sasaran Teknologi Informasi dalam
Operasi Sandi Yudha berdasarkan umpan balik maupun
perkembangan yang diperoleh dari unsur Sandi Yudha di
lapangan.
d. Bertanggung jawab kepada Kepala Unit dalam
pelaksanaan tugas.
3. Menurut Bapak, apakah tingkat kemampuan Tim-42 Grup-3
Kopassus di bidang penguasaan teknologi informasi (TI) sudah berjalan
optimal ? Apakah perlu dilakukan uji kompetensi berkala untuk bawahan
anda ?
Sangat perlu dilakukan uji kompetensi berkala untuk personel Tim-42, hal
dihadapkan dengan perkembangan Teknologi Informasi yang begitu cepat
dan massif, sehingga Tim-42 dapat mengetahui tentang perkembangan
Teknologi terkini dan bentuk-bentuk ancaman.
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
BINTARA KEAMANAN JARINGAN TIM-42 GRUP-3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak/Ibu untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
Nama : Jaka Fadillah
Pangkat / NRP : Serka/21060253521186
147
Jabatan : Ba Kam Jaringan-1 Unit-3/42 Grup-3
Kopassus
Pendidikan : SMA
Pertanyaan Penelitian :
1. Apakah menurut Bapak adanya Tim-42 Grup-3 Kopassus dalam
mengantisipasi Perang Cyber (Cyber Warfare) dapat dirasakan
manfaatnya dalam pertahanan negara ?
Menurut kami, kemampuan Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah mampu
mengambil peranan dalam mengantisipasi Perang Cyber, hal yang kami
lakukan adalah dengan melakukan counter opini terhadap sentimen/isu
negatif yang berkembang di masyarakat. Ini merupakan bagian dari
perang informasi yang dilancarkan oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggungjawab. Stabilitas keamanan nasional sangat bergantung dari
informasi yang berkembang. Sering munculnya berita hoax juga menjadi
salah satu pemicu chaos di wilayah Indonesia. Selain itu kami juga
memproteksi jaringan kami dengan memasang firewall dan antivirus
sehingga serangan Cyber dari pihak luar dapat terdeteksi dini dan mampu
untuk dicegah.
2. Apakah menurut Bapak, personel Tim-42 Grup-3 Kopassus sering
melakukan pekerjaan, kegiatan dan pelatihan di bidang Jaringan dunia
Maya (Cyber Space), jaringan yang bersifat LAN, WAN sampai dengan
Internet ? Mohon penjelasan.
Tim-42 Grup-3 Kopassus selalu melakukan latihan secara berkala dan
rutin. Agenda latihan triwulan juga mampu meningkatkan kemampuan
personel Tim-42 Grup-3 Kopassus. Adapun beberapa pelatihan yang
sudah dilakukan adalah pengamanan jaringan (bagian dari pertahanan
148
cyber, penetration test (serangan Cyber) dan Forensic Cyber (forensik
investigasi dan analisa jaringan/hardware).
3. Menurut Bapak, apakah personel Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah
mampu dan benar dalam memelihara alat-peralatan khusus yang
tersedia ?
Sejauh pengalaman kami, Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah mampu dan
benar dalam melaksanakan pemeliharaan. Hal ini terlihat dari inventarisir
barang dan pemetaan kemampuan almatsus yang baik. Selain itu juga
dilakukan pemeriksaan almatsus secara berkala(tiap mingguan) dan
pengecekan rutin dan reparasi secara terbatas jika terdapat almatsus
yang rusak.
4. Sebagai orang yang menjalankan langsung perintah atasan terkait
tugas pokok Tim-42 Grup-3 Kopassus, apakah penguasaan teknologi
informasi dan alat-peralatan khusus yang bapak miliki sudah sesuai
dengan standar yang ditentukan pimpinan ?
Penguasaan material almatsus sudah dimilki oleh masing-masing
personel Tim-42 Grup-3 Kopassus sesuai dengan spesialisasinya
(Standarisasi kemampuan masing-masing perorangan juga sudah
terpenuhi dibarengi dengan kemampuan khusus sebagai pengguna
almatsus). Sebelumnya para personel Tim-42 Grup-3 Kopassus sudah
menerima pembekalan materi, pelatihan dan kegiatan aplikatif dilapangan
tentang penggunaan almatsus secara rutin sehingga pembinaan
kemampuan dapat terjaga serta mampu melaksanakan tugas pokok
sesuai dengan fungsi Tim-42 dalam mendukung Tugas Pokok Sandi
Yudha.
149
5. Jika Bapak diberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan
kemampuan di bidang Teknologi Informasi, pelatihan atau pendidikan
tambahan apa yang bapak inginkan ? Apa alasannya ?
Menurut pendapat kami, personel Tim-42 perlu menerima bimbingan
materi perkuliahan (mengambil kuliah) sebagai dasar kemampuan
sehingga kemampuan Personel Tim-42 dapat diakui secara sah dan
tersertifikasi (mempunyai ijazah). Selain itu juga dibutuhkan tenaga
ahli/pakar TI sebagai tenaga pengajar untuk membina dan memberikan
pembekalan materi khususnya di bidang TI. Sebagai pelengkap, perlu
diadakan pelatihan secara rutin (mingguan/bulanan/triwulan) untuk
meningkatkan kemampuan personel Tim-42 Grup-3 Kopassus.
6. Jika Bapak diberikan kesempatan untuk memberi saran kepada
pimpinan, apa saran Bapak agar kemampuan SDM Tim-42 Grup-3
Kopassus khususnya keamanan Jaringan semakin baik ?
Saran kami adalah mungkin untuk kedepan, kami perlu dukungan saran
dan prasarana yang lebih memadai serta dukungan tenaga pengajar yang
mumpuni. Hal ini bertujuan agar kemampuan kami bisa lebih ditingkatkan
dan mampu mendukung pelaksanaan tugas pokok serta dapat meraih
hasil yang maksimal dalam bertugas.
150
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
BINTARA PROGRAMER TIM-42 GRUP-3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak/Ibu untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
Nama : Dede Nurmansyah
151
Pangkat / NRP : Serka/31960437270775
Jabatan : Ba Programer-1 Unit-3/42 Grup-3 Kopassus
Pendidikan : SMA
Pertanyaan Penelitian :
1. Menurut Bapak, untuk saat ini Sistem Operasi (OS) apa yang
paling dominan digunakan untuk mengantisipasi serangan/perang Cyber
dan OS apa-pula yang paling banyak digunakan para pelaku serangan
Cyber ? Apa alasannya ?
Menurut kami Sistem Operasi yang banyak digunakan sebagai alat/saran
untuk melakukan kegiatan serangan cyber adalah dengan Sitem Operasi
Kali linux. Hal ini dikarenakan, dalam sistem operasi Kali linux sudah
tersedia bermacam-macam Tools/Software penetration test (Software
Hacking) yang dapat digunakan dengan mudah. Kemudahan akses dalam
mendapatkan program sistem Operasi Kali Linux yang diberikan secara
gratis dan kemudahan dalam melakukan instalasi menjadi salah satu
faktor mengapa sistem operasi ini sangat populer di dunia hacking.
2. Sebagai Programer Tim-42 Grup-3 Kopassus, kendala apa yang
sering Bapak alami saat membuat program ataupun Troubleshooting yang
merupakan pencarian sumber masalah secara sistematis sehingga
masalah tersebut dapat diselesaikan ?
Kendala terbesar kami adalah penguasaan bahasa pemrograman yang
masih terbatas, kurangnya ketelitian dalam merangkai bahasa
pemrograman dan kurangnya pemahaman tentang konsep membuat
suatu program (tujuan dibuatnya suatu program, kegunaan program itu
sendiri, dampak positif negatif program tersebut).
152
3. Jika bapak diberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan
kemampuan di bidang Teknologi Informasi, pelatihan atau pendidikan
tambahan apa yang bapak inginkan ? Apa alasannya ?
Pelatihan bahasa pemrograman. Hal ini karena bahasa pemrograman
merupakan dasar dari programer untuk membuat suatu produk. Semakin
kita menguasai dan paham konsep dari pemrograman maka tidak
menutup kemungkinan akan memaksimalkan hasil produk yang dibuat.
4. Apakah menurut Bapak jaringan dunia Maya (Cyber Space),
jaringan yang bersifat LAN, WAN sampai dengan Internet dapat dirasakan
manfaatnya terlebih untuk keamanan Nasional dari ancaman perang
Cyber ?
Selama masih terhubung dalam jaringan internet/dunia maya, maka tidak
ada sesuatu yang bisa dianggap “aman’. Akan tetapi jaringan dunia maya
internet bisa memberikan hal positif dan hal negatif. Terkait dengan
kemanan Nasional, jaringan Internet sangat rawan untuk diretas.
Contohnya adalah Jika data informasi internal bocor maka akan
merugikan suatu negara. Dilain sisi, jaringan internet juga dapat
memberikan keamanan bagi warga negara Indonesia dari ancaman
serangan cyber karena sudah terinstalasi firewall dan antivirus sehingga
mampu melindungi keamanan negara.
5. Apakah Bapak pernah studi kasus atau mengalami sendiri terkait
pertanyaan nomor 4 ? Apa yang dapat Bapak simpulkan ?
Untuk saat ini belum.
Tapi tidak menutup kemungkinan beberapa tahun kedepan Tim-42 grup-3
Kopassus melakukan studi kasus untuk menambah pengalaman dan
peningkatan kemampun.
153
LAMPIRAN
PEDOMAN WAWANCARA
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA DENGAN
BINTARA ELEKTRO TIM-42 GRUP-3 KOPASSUS
Petunjuk Pengisian :
1. Mohon dengan hormat kepada Bapak/Ibu untuk menjawab seluruh
kalimat pertanyaan/pernyataan yang telah disediakan.
2. Mohon sedianya agar setiap jawaban yang diberikan disertai
dengan alasannya.
Identitas Responden :
Nama : Adriyanto Pujo Sulistyo
154
Pangkat / NRP : Serka/21060133330987
Jabatan : Ba Elektro-1 Unit-2/42 Grup-3 Kopassus
Pendidikan : SMA
Pertanyaan Penelitian :
1. Apakah menurut Bapak Unit Jaringan Tim-42 Grup-3 Kopassus
sudah melaksanakan latihan untuk defence, attack, Forensic Cyber,
pembuatan virus dan pembuatan server ?
Unit Jaringan Tim-42 Grup-3 Kopassus telah melaksanakan kegiatan
latihan Cyber Defence/Pertahanan Cyber (dilaksanakan pada Triwulan I),
Serangan Cyber (dilaksanakan pada Triwulan II) dan Forensci Cyber
(dilaksanakan pada Triwulan III). Pembuatan produk berupa pembuatan
virus malware telah dicoba dan diupayakan pada materi serangan Cyber,
sedangkan untuk pembuatan server masih sebatas pengetahuan umum.
2. Menurut Bapak bagaimana melakukan pengembangan perangkat
keras yang disesuaikan dengan tugas pokok Grup-3 Kopassus ?
Sebelum dilakukan pengembangan perangkat keras, ada baiknya hal
yang harus dilakukan adalah melakukan pembinaan kemampuan Sumber
Daya Manusia (personel Tim-42 Grup-3 Kopassus). Hal ini mendasari
dalam pengembangan perangkat keras yang akan dibuat. Hal yang dapat
dilakukan adalah dengan memberikan pembekalan materi terhadap
personel Tim-42 dengan mengundang ahli/teknisi. Selanjutnya dengan
arahan dan bimbingan dari tenaga ahli serta dihadapkan dengan tugas
pokok Grup-3 Kopassus maka dapat dirumuskan / konsep perangkat
keras yang akan dibuat.
155
3. Apakah menurut Bapak Tim hardware sudah melaksanakan
pengembangan perangkat keras seperti drone, bom hp, flashdisk perusak
dan maintenance alat matsus ?
Kegiatan Tim Hardware/Tim Produksi sejauh ini sudah melaksanakan
pembuatan drone,bom hp dan flasdisk perusak meskipun masih terbatas.
Sedangkan maintenance alat matsus dilakukan secara berkala dan rutin
sehingga kekuatan almatsus Grup-3 Kopassus dapat terpelihara dan
terpetakan serta terinventarisir dengan baik.
4. Menurut Bapak, apakah dengan mendapatkan pelatihan tentang
editing gambar, video, audio di NET TV serta pengajar yang dipanggil dari
univ. Bid TI bagian design grafis sudah cukup membantu tugas pokok ?
Sejauh ini berkat pelatihan yang diterima dari pihak NET TV maupun dari
beberapa pengajar desain grafis dari Universitas sudah mampu
mendukung tugas pokok terutama di bidang Produksi Media/Digital
Content.
5. Dari sudut pandang ahli elektro, alat-peralatan khusus apa yang
paling Urgent (harus segera) di perbarui untuk memperkuat Tim-42 Grup-
3 Kopassus ?
Grup-3 Kopassus memiliki beberapa almatsus yang digunakan seperti
GPS Tracking dan Sosial Media Intelijen (Software Tangles). Almatsus
tersebut telah digunakan selama ± 1 tahun dan dapat digunakan secara
maksimal dalam mendukung tugas pokok maupun tugas operasi Grup-3
Kopassus. Akan tetapi saat ini alat tersebut telah memasuki masa
upgrade/perpanjang sehingga perlu diadakan perpanjang kontrak/upgrade
kemampuan almatsus tersebut.
156
SURAT IJIN PENELITIAN
157
158
RIWAYAT HIDUP
1. Nama lengkap : Abdullah Mahua, S.H.I, M.M.
2. Pangkat/Korps/NRP : Mayor Inf / 11040009870180
3. Jabatan : Pasis Seskoad
4. Tempat Tanggal Lahir : Sentani, 05 Januari 1980
5. Pendidikan :
a. Umum : SD Tahun 1992
SMP Tahun 1995
ALIYAH Tahun 1998
S1 Tahun 2002
S2 Tahun 2013
b. Militer : PA PK Tahun 2004
Sussarcabif Tahun 2005
Diklapa II Tahun 2014
c. Dikbangspes : Sus Para Tahun 2004
Combat Intel Tahun 2005
Suspatih Tahun 2005
Sus Komando Tahun 2006
Jump Master Tahun 2007
Suspa Bintal Tahun 2008
Sus Sandha Tahun 2008
Terjun bebas Militer Tahun 2011
159
6. Riwayat Jabatan : - Pama Pussenif
- Pama Kopassus
- Danton-2 KI-1 Yon-21 Grup-2 Kopassus
- Pabintal Grup 3 Kopassus
- Papers Sipers Grup 3 Kopassus
- Dantim-2 Den-2 Yon-32 Grup 3 Kopassus
- Danden-2 Yon-32 Grup 3 Kopassus
- Kasipers Grup 3 Kopassus
- Danden-1 Yon-32 Grup 3 Kopassus
- Pabanda Dik Spers Kopassus
7. Kepangkatan Dan Tanda Jasa:
a. Kepangkatan: TMT b. Tanda Jasa:
1) Letda 01-07-2004 1) Ksatria Yudha
2) Lettu 01-10-2006 2) SL 8 tahun
3) Kapten 01-10-2010 3) Dharma Nusa
4) Mayor 01-10-2015 4) Wira Dharma
5) Wira Nusa
8. Penugasan:
a. Penugasan Operasi: TMT b. Penugasan Luar Negeri:
1) Satgasban-7 Kopassus 2009 1) Cobra Gold
2) KKLN
2) Satgasban-10 Kopassus 2012
3) Satgasban-11 Kopassus 2013
4) Satgasban-13 Kopassus 2014
160
DOKUMENTASI
Wawancara Kepada Wadangrup-3 Kopassus
Wawancara Kepada Kasiops Grup 3 Kopassus
161
Wawancara Kepada Kasi Intel Grup 3 Kopassus
Wawancara Kepada Kahub Grup 3 Kopassus
Wawancara Kepada Ba Elektro-1 Unit-2 Tim 42 Grup 3 Kopassus
162
Wawancara Kepada Ka Unit Tim 42 Grup 3 Kopassus
Wawancara Kepada Ba Elektro-1 Unit-2 Tim 42 Grup 3 Kopassus