0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan77 halaman

Media Animasi untuk Edukasi Gigi Sehat

Dokumen tersebut membahas pengaruh penggunaan media booklet dan video animasi terhadap perilaku menyikat gigi pada siswa kelas V di SDN Rawua. Media booklet dan video animasi digunakan untuk memberikan penyuluhan kesehatan gigi kepada siswa dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan perilaku menyikat gigi yang benar. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kedua media tersebut terhadap peningkatan perilaku menyikat gigi siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
168 tayangan77 halaman

Media Animasi untuk Edukasi Gigi Sehat

Dokumen tersebut membahas pengaruh penggunaan media booklet dan video animasi terhadap perilaku menyikat gigi pada siswa kelas V di SDN Rawua. Media booklet dan video animasi digunakan untuk memberikan penyuluhan kesehatan gigi kepada siswa dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan perilaku menyikat gigi yang benar. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kedua media tersebut terhadap peningkatan perilaku menyikat gigi siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA BOOKLET DAN VIDEO ANIMASI

TERHADAP PERILAKU MENGGOSOK GIGI PADA SISWA KELAS V DI

SDN RAWUA

Diajukan Oleh :

WULAN RAHMADANI

KG.20.056

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN GIGI

POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI

KENDARI

2023
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL.................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................v
DAFTAR SINGKATAN......................................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................5
C. Tujuan Penelitian..................................................................................5
D. Manfaat Penelitian................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................7
A. Rujukan Penelitian................................................................................7
B. Landasan Teori......................................................................................9
1. Perilaku............................................................................................9
2. Pendidikan kesehatan.......................................................................21
3. Penyuluhan kesehatan......................................................................24
4. Media booklet...................................................................................31
5. Media video animasi........................................................................35
6. Menyikat gigi...................................................................................39
C. Kerangka Konsep..................................................................................42
D. Kerangka Teori.....................................................................................43
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................44
A. Jenis Penelitian......................................................................................44
B. Desain Penelitian..................................................................................44
C. Waktu Dan Tempat Penelitian..............................................................45
D. Populasi Dan Sampel............................................................................45
E. Variabel Penelitian................................................................................46

ii
F. Definisi Operasional Dan Kriteria Objektif..........................................46
G. Hipotesis...............................................................................................51
H. Prosedur Penelitian...............................................................................52
1. Alat Dan Bahan Penelitian.............................................................52
2. Cara Kerja......................................................................................52
3. Analisis Data..................................................................................53
a. Data.........................................................................................53
b. Sumber data............................................................................54
c. Tehnik pengambilan data........................................................55
d. Penyajian data.........................................................................55
e. Pengolahan data......................................................................55
f. Skema jalannya penelitian......................................................56
g. Etika penelitian.......................................................................57
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional..............................................................................44

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Teori..................................................................................40


Gambar 2.2 Kerangka Konsep..............................................................................41
Gambar 2.3 Skema Penelitian...............................................................................55

v
DAFTAR ISTILAH

WHO = Word Health Organization


ADA = American dental association
Facial = Muka
Lingual = lidah
Palatal = langit – langit mulut
Proximal = daerah pengunyahan
VCR = Video cassete recording
HDTV =hightdevinitiontelevision

vi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut adalah bagian dari kesehatan secara

keseluruhan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dan

menjadi perhatian penting dalam pembangunan kesehatan penduduk

Indonesia maupun Negara berkembang. Kesadaran terhadap kebersihan

mulut pada anak sangat kurang yang diakibatkan karena kurangnya

pengetahuan dan kemampuan anak dalam menjaga kebersihan gigi dan

mulut. Umunya pada usia anak sekolah 6-12 tahun kurang mengetahui dan

mengerti tentang cara memelihara kebersihan mulut (Tenggara 2022).

Menurut World Health Organization (WHO) anak usia sekolah

mengalami masalah pada kesehatan gigi sebanyak 60 - 90% dan hampir

98% orang dewasa mengalami kerusakan gigi. Prevalensi karies gigi telah

mengalami penurunan selama beberapa tahun di banyak negara. Hal ini

dapat dilihat dari hasil pengukuran indeks karies yang lebih kecil di negara-

negara maju. Namun studi epidemologi yang ada menunjukkan bahwa

distribusi karies gigi tidak sama di setiap negara, di negara berkembang

seperti Indonesia, indeks karies cenderung meningkat sebagai akibat

kurangnya pemeliharaan gigi (WHO, 2020).

Menurut data Riskesdas 2018 sebanyak 57,6% penduduk Indonesia

bermasalah gigi dan mulut, tetapi hanya 10,2% yang mendapat perawatan

oleh tenaga medis gigi. Berdasarkan kelompok usia 5-9 tahun, proporsi

terbesar dengan masalah gigi dan mulut pada anak adalah (67,3%) dengan

1
14,6% telah mendapat perawatan oleh tenaga medis gigi. Mayoritas

penduduk Indonesia (94,7%) sudah memiliki perilaku menyikat gigi yang

baik yaitu menyikat gigi setiap hari. Namun dari persentase tersebut hanya

2,8% yang menyikat gigi di waktu yang benar, yaitu minimal dua kali,

sesudah makan pagi dan sebelum tidur (Riskesdas 2021).

Provinsi Sulawesi Tenggara terdapat 60-70% masyarakat bermasalah

dengan gigi dan mulut. Namun hal itu tidak diimbangi dengan perilaku

masyarakat yang mengabaikan pengobatan ataupun perawatan gigi.

Riskedas juga mengidentifikasi perilaku menyikat gigi dengan benar

penduduk di atas 3 tahun di Indonesia hanya mencapai 2,8 persen dan di

Provinsi Sulawesi Tenggara baru 8,8 persen saja (Tenggara 2022).

Perilaku menyikat gigi yang benar dipengaruhi oleh beberapa faktor

yang mendasar yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pengetahuan

didapatkan melalui serangkaian proses belajar yang kompleks hingga dapat

mengingat kembali. Sikap berawal dari pengetahuan yang diikuti dengan

kecenderungan seseorang untuk melakukan tindakan berdasarkan

kemampuan yang dimiliki. Sedangkan, tindakan terbentuk berdasarkan

tingkat pengetahuan yang berkolaborasi dengan sikap dan bertindak sesuai

kesadaran yang terkontrol dari masing-masing individu. Ketiga faktor ini

apabila telah berada pada tingkatan yang baik maka akan dapat menuntun

pada perilaku yang baik. Usia sekolah dasar merupakan usia yang ideal

untuk memberikan pengetahuan dan melatih kemampuan. Pada usia sekolah

dasar, anak mulai mengerti perintah dan larangan yang tidak boleh

2
dilakukan dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut mereka. Anak usia

sekolah dasar merupakan suatu kelompok yang tergolong strategis dalam

pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut (Risna,2021).

Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih menjadi

perhatian yang sangat penting dalam pembangunan kesehatan dan perlu

diperhatikan oleh tenaga kesehatan. Penyakit gigi dan mulut yang paling

banyak diderita masyarakat adalah penyakit karies gigi (lubang gigi) dan

peradangan gusi. Penyebab utama kedua penyakit tersebut disebabkan oleh

kebersihan mulut dan pola makan yang kurang baik (Herawati, Hidayah,

and Faridah 2020).

Pengetahuan menyikat gigi anak sekolah dasar dapat dipengaruhi

oleh banyak hal, salah satunya motivasi. Demikian pula sebaliknya dengan

kebiasaan yang baik. Salah satu kebiasaan baik yang dapat dikembangkan

untuk menghasilkan suatu perilaku yang baik, yakni kebiasaan menyikat

gigi (Wanti, Mintjelungan, and Wowor 2021).

Menyikat gigi merupakan salah satu metode mekanis guna menjaga

kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut. Perilaku menyikat gigi sebaiknya

sudah ditanamkan sejak dini pada anak-anak agar dapat menumbuhkan

motivasi dan kesadaran yang tinggi untuk mampu memelihara kebersihan

dan kesehatan [Link] kebersihan dan kesehatan gigi serta mulut yang

maksimal dapat diwujudkan dengan menerapkan perilaku menyikat gigi

yang benar. Terdapat beberapa perilaku penting dalam menyikat gigi

sehingga dapat menyikat gigi dengan benar yaitu teknik menyikat gigi,

3
waktu menyikat gigi, frekuensi dan durasi menyikat gigi, pemilihan sikat

gigi dan penggunaan pasta gigi (Firda,2021).

Pendidikan kesehatan gigi dan mulut merupakan upaya atau

aktivitas seseorang dalam menjaga dan meningkatkan kesadaran akan

kesehatan gigi dan mulut. Dalam proses promosi kesehatan, diperlukan

media sebagai alat yang digunakan oleh petugas kesehatan dalam

menyampaikan informasi kesehatan. Pemilihan media promosi kesehatan

harus didasarkan pada selera serta usia sasaran, terutama untuk anak-anak

karena dapat menunjang keberhasilan dari edukasi yang diberikan. Metode

pembelajaran dan media edukasi yang bagus dan efektif akan memberikan

dampak yang baik terhadap anak-anak, yaitu berupa perubahan

pengetahuan, sikap dan keterampilan anak kearah yang positif (Rahma

Belinda and Sang Surya 2021).

SDN Rawua merupakan salah satu SDN di Desa Rawua, Kecamatan

Sampara, Kabupaten Konawe. Berdasarkan survei awal yang telah

dilakukan pada tanggal 02 februari 2023 pada siswa kelas V SDN Rawua

dengan jumlah siswa 30 siswa. Di ketahui bahwa hampir 60% siswa

memiliki pengetahuan yang kurang, hal demikian sejalan dengan

keterampilan siswa tentang menyikat gigi masih kurang dengan persentase

sebanyak 70% siswa memiliki perilaku yang kurang baik hal ini tergambar

dari kondisi gigi siswa yang masih kotor serta pengetahuan siswa yang

kurang sehingga menimbulkan masalah kesehatan gigi dan mulut.

4
Kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang cara menggosok gigi

yang baik dan benar dikarenakan terbatasnya sarana dan prasarana.

Berdasarkan latar belakang diatas, Maka penelitian ini dilakukan

untuk mengetahui pengaruh penggunaan media booklet dan video animasi

dalam meningkatkan perilaku menggosok gigi pada siswa kelas V di SDN

Negeri Rawua.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan,maka dapat ditarik

rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut : “Bagaimana pengaruh

penggunaan media booklet dan video animasi terhadap perilaku menggosok

gigi pada siswa kelas V di SDN Negeri Rawua ? “

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media booklet dan

video animasi terhadap perilaku menggosok gigi pada siswa kelas V di

SDN Rawua”.

2. Tujuan khusus

a. Untuk mengetahui pengetahuan penggunaan media booklet dan

video animasi pada siswa kelas V di SDN Rawua.

b. Untuk mengetahui sikap penggunaan media booklet dan video

animasi dalam meningkatkan perilaku menggosok gigi pada siswa

kelas V di SDN Rawua.

5
c. Untuk mengetahui keterampilan menggosok gigi pada siswa kelas

V di SDN Rawua.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Memberikan informasi mengenai pengaruh penggunaan media booklet

dan video animasi dalam meningkatkan perilaku menggosok gigi pada

siswa kelas V di SDN Rawua.

2. Manfaat praktis

a. Memberikan informasi dan pengetahuan tentang cara menyikat gigi

yang baik dan benar dengan menggunakan media booklet dan

video animasi pada siswa kelas V di SDN Rawua.

b. Sebagai media informasi untuk memotivasi anak agar rajin

menggosok gigi sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit gigi

dan mulut.

c. Sebagai sarana informasi bagi peneliti selanjutnya yang

berhubungan dengan judul tersebut.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Rujukan Penelitian

1. Menurut penelitian yang dilakuka [Link] [Link] (2019) tentang

Efektivitas Booklet Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pemeliharaan

Kesehatan Gigi Mulut Pada Ibu Hamil, hasil uji validitas dan reliabilitas

menunjukan bahwa ada perbedaan pengetahuan antara sebelum (p value

0,001<0,0005) dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan pengetahuan sebelum dan sesudah

pemberian booklet. Ditinjau dari nilai rata-rata, pengetahuan sesudah

pemberian booklet bernilai lebih tinggi dari pengetahuan sebelum

pemberian booklet (Fitri, 2019).

2. Meneliti penelitian Fione VR [Link] (2021) tentang Pengaruh Edukasi

Menggunakan Media Animasi Terhadap Pengetahuan Kesehatan Gigi

Dan Mulut Siswa Sekolah Dasar Negeri 31 Kota Manado, Hasil uji pre

test menunjukkan bahwa sebagian besar responden (64,7%) memiliki

pengetahuan yang kurang baik dan 35,3% memiliki pengetahuan baik.

Setelah diberikan tontonan materi tentang kesehatan gigi dan mulut

melalui media animasi responden memiliki perubahan pengetahuan dari

yang sebelumnya 64,7 % berpengetahuan baik kini menjadi 100%.

Hasil uji paired Test P value:0,[Link] perbedaan pengetahuan

kesehatan gigi dan mulut sebelum dan sesudah menonton media video

animasi (Dasar and Kota, 2021).

7
3. Menurut penelitian Linda Marlia dan Rusmiati, tentangPengembangan

Booklet Dan Video Edukasi Kesehatan Gigi Dalam Meningkatkan

Derajat Kebersihan Gigi Dan Mulut Pada Anak Kelas V SD Hasil uji

kelayakan booklet dan video edukasi kesehatan gigi dilakukan melalui

tiga tahap yaitu tahap pertama uji validasimateri dan desain rancangan.

Booklet dan video edukasi kesehatan gigi efektif meningkatkan derajat

kebersihan gigi dan mulut dan efektif meningkatkan pengetahuan dan

perilaku pemeliharaan kesehatan gigi pada anak kelas V SD dengan

nilai p-value yakni 0,0001 atau < 0,05. media booklet edukasi kesehatan

gigi, hasilnya semua expert (100%) menyatakan media booklet dan

video edukasi kesehatan gigi layak digunakan sebagai media edukasi

kesehatan gigi.

4. Menurut penelitian Ilmi Choirotun [Link] (2021) tentang Karies

Pada Anak Sekolah Dasar Ditinjau Dari Perilaku Menggosok Gigi Di

Indonesiadidapatkan mengenai karies anak sekolah dasar ditinjau dari

perilaku menggosok gigi di Indonesia dapat diklasifikasikan menjadi 5

yaitu frekuensi menggosok gigi, waktu menggosok gigi, keterampilan

menggosok gigi, penggunaan sikat gigi, penggunaan pasta gigi dan

dapat disimpulkan bahwa : 1) Perilaku Anak tentang Frekuensi, Waktu

dan Cara Menggosok gigi, Anak Sekolah Dasar sudah banyak anak

yang menyikat gigi 2 kali sehari setiap harinya (77,8%) dibanding yang

tidak menyikat gigi setiap hari, tetapi masih memiliki karies gigi. Anak

sekolah dasar belum menerapkan waktu menggosok gigi dengan benar,

8
anak masih banyak yang mengetahui waktu menggosok gigi yaitu

sebelum makan (63,9%) dan anak sekolah dasar menggosok gigi

dengan cara yang salah sehingga gagal (70%) dalam mempraktikkan

cara menggosok gigi, anak tidak menyikat gigi mulai dari rahang atas

lanjut ke bagian rahang bawah atau sebaliknya.

B. Landasan Teori

1. Perilaku

Menurut Notoadmojo menjelaskan bahwa perilaku adalah hasil

dari semua bentuk pengalaman serta interaksi individu dengan

lingkungannya yang terwujud dalam bentuk tindakan, perbuatan dan

sikap.

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus, maka perilaku

dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Bentuk pasif/Perilaku tertutup (covert behavior)

Respons seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung

atau tertutup. Respons atau reaksi terhadap stimulus ini masih

terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan atau kesadaran dan

sikap yang terjadi pada seseorang yang menerima stimulus

tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain

(Ahmad Fadillah 2021).

9
b. Perilaku terbuka (Overt behavior)

Respons terhadap stimulus tersebutsudah jelas dalam bentuk

tindakan atau praktik, yang dengan mudah dapat diamati atau

dilihat orang lain (Ahmad Fadillah 2021).

1) Cara Mengukur Perilaku

Menurut (Notoatmodjo, 2014) untuk mengukur

perilaku kesehatan dibagi menjadi 3, yaitu :

a) Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia,

atau hasil dari tahu seseorang terhadap suatu objek

melalui indra yang dimiliki (mata, hidung, telinga dan

yang lainnya). Menurut (Notoatmodjo,2010) untuk

mengukur pengetahuan dilakukan dengan cara

wawancara atau angket (kuisioner) yang berisi tentang

materi yang ingin diukur dari subjek penelitian.

Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau

diukur dapat disesuaikan dengan tingakat – tingkat

diatas. Tujuan pengukuran tingkat pengetahuan adalah

untuk mengetahui status pengetahuan seseorang dan

disajikan dalam tabel frekuensi.

Pengetahuan seseorang Sebagian besar diperoleh

melalui indra pendengaran dan indra penglihatan.

10
Tingkat pengetahuan yang dicapai dalam domain

kognitif (Ayu Dewi Kumala Ratih et al., 2019) yaitu :

1) Tahu

Dalam tingkat ini diartikan sebagai penginat sebuah

materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Pada

pengetahuan tingkat ini yaitu dapat mengingat

kembali dari seluruh bahan materi yang telah

dipelajari ataupun rangsangan yang telah diterima,

maka dari itu tahu merupakan tingkatan dari

pengetahuan paling rendah dan digunakan untuk

mengukur apakah seseorang tahu tentang apa yang

dipelajari (menyebutkan, menguraikan,

mendefenisikan, menyatakan dan lain – lain).

2) Memahami

Dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk

menjelaskan dengan benar tentang objek yang telah

diketahui dan dapat menginterprestasikan materi

yang telah disampaikan dengan benar.

3) Aplikasi

Diartikan sebagai sebuah kemampuan seseorang

untuk dapat menggunakan materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Tahap ini dapat diartikan

11
sebagai penggunakan aplikasi atau hukum – hukum,

rumus, metode, prinsip dan lainnya.

4) Analisis

Pada tahap ini adalah kemampuan untuk

menjalankan materi/obkjek ke dalam komponen –

komponen tetapi masih berkaitan dengan satu sama

lain dan masih dalam suatu struktur organisasi.

5) Sintesa

Sintesa adalah kemampuan untuk menggabungkan

formasi baru yang diperoleh dari informasi yang ada

misalnya dapat menyusun, menggunakan,

meringkas, menyesuaikan terhadap suatu teori yang

sudah ada.

6) Evaluasi

Ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk

melakukan penelitian terhadap suatu materi ataupun

objek. Pada tahap ini penilaian berdasarkan sebuah

kriteria yang sudah ada. Untuk melakukan

pengukuran nilai dapat dilakukan dengan cara

wawancara atau angket yang berisi tentang materi

yang ingin digunakan sebagai alau ukur dari suatu

penelitian atau responden.

12
b) Sikap

Dalam buku yang ditulis oleh (Irwan, 2017),

pengertian dari sikap adalah suatu respon tertutup

seseorang terhadap sebuah stimulus atau objek, baik

bersifat intern atau ekstern sehigga manifestasinya tidak

dapat langsung dilihat, tetapi hanya ditafsirkan terlebih

dahulu dari sebuah perilaku yang tertutup tersebut.

Tingkatan dari sikap, yaitu :

1) Menerima (receiving)

Adalah orang (subjek) mau memperhatikan stimulus

yang diberikan (objek).

2) Merespon (responding)

Sasaran dapat memberikan jawaban pada saat

diatnya, dapat mengerjakan atau menyelesaikan

tugas yang telah diberikan, kegiatan diatas adalah

suatu indikasi dari sikap.

3) Menghargai (valuing)

Pada tingkatan ini sasaran dapat mengajak orang lain

untuk mengerjakan ataupun berdiskusi tentang suatu

masalah, ini merupakan suatu indikasi sikap di

tingkat tiga.

13
4) Bertanggung Jawab (responsibility)

Segala suatu yang telah dipilih dengan setiap

resikonya sasaran dapat bertanggung jawab,

merupakan sikap yang paling tinggi (Irwan, 2017).

c) Tindakan

Tindakan merupakan sebuah realisasi dari

pengetahuan dan sikap suatu perbuatan nyata. Tindakan

seseorang terhadap srimulus tertentu dintentukan oleh

bagaimana kepercayaan dan perasaan terhadap suatu

stimulus tersebut (Irwan, 2017).

Menurut (Notoatmodjo dalam Irwan, 2017)

tindakan memiliki 4 tingkatan yaitu :

1) Persepsi (Perception), tingkatan ini sasaran perlu

mengenal dan memiliki berbagai objek sehubungan

dengan tindakan yang akan diambil,

2) Respon terpimpin (Guide Response), tingkatan ini

sasaran dapat melakukan sesuatu dengan baik dan

dengan urutan yang benar,

3) Mekanisme (Mechanism), jika seseorang dapat

melakukan sesuatu dengan benar dan seacar

otomatis hal tersebut sudah menjadi kebiasaan,

4) Adaptasi (Adaptation), yaitu praktek atau tindakan

yang dilakukan sudah berkembang tanpa

14
mengurangi kebenaran tindakan tersebut (Irwan,

2017).

2) Faktor yang mempengaruhi perilaku

Faktor internal merupakan faktor-faktor yang

mempengaruhi dari dalam diri seseorang, seperti usia,

pengalaman dan motivasi anak hal ini dapat dijelaskan yaitu :

a) Usia

Usia merupaka faktor mempengaruh perawatan gigi pada

anak. Semakin bertambah usia seseorang maka berbanding

lurus pengetahuan yang dimiliki (Nurlinda 2020).

b) Pengalaman

Pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau

pengalaman itu suatu cara untuk memperoleh kebenaran

pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang

kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan

permasalahan yang dihadapi masa lalu. Anak usia sekolah

tidak akan mengkomsumsi permen tampa menggosok

gigisetelahnya apabila ia belum memiliki atau melihat orang

lain. Ia akan mengantisipasi hal yang dapat terjadi apabila

kegiatan tersebut dilakukan (Nurlinda 2020).

c) Motivasi Anak

Anak usia sekolah memiliki tanggu jawab dalam melakukan

sesuatu namun anak usia sekolah memiliki motivasi rendah

15
dalam memperhatikan penampilan dan bau mulut sampai

mereka usia remaja (Nurlinda 2020).

Faktor eksternal merupakan faktor yang dapat

mempengaruhi perilaku seseorang dari luar yaitu sebagai berikut:

a) Lingkungan

Lingkungan merupakan salah satu faktor mempengaruhi

pengetahuan seseorang. Lingkungan memberikan pengaruh

pertama bagi seseorang, dimana seseorang dapat mempelajari

hal-hal yang baik dan juga hal-hal buruk tergantung pada

sifat kelompoknya (Nurlinda 2020).

b) Orang Tua

Orang tua memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan

anggota keluarganya terutama anak. Orang tua harus

memiliki pengetahuan yang cukup tentang kesehatan gigi dan

mulut serta karies gigi (Nurlinda 2020).

c) Tingkat pendidikan

Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pebelajaran

untuk meningkatkan kemampuan tertentu, sehingga sasaran

pendidikan turut. Pendidikan adalah suatu kegiatan atau

proses pebelajaran untuk meningkatkan kemampuan tertentu,

sehingga sasaran pendidikan turut pula menentukan mudah

tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan

yang mereka peroleh, padaumumnya semakin tinggi

16
pengetahuan seseorang makin baik pula pengetahuanya

(Nurlinda 2020).

d) Sosial Budaya

Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat

mempengaruhi pengetahuan persepsi, dan sikap seseorang

terhadap sesuatu. Apabila dalam keluarga jarang melakukan

kebiasaan gosok gigi sebelum tidur, maka itu dapat

berdampak kebiasaan dalam perilaku anak yang mengikuti

orang tuanya (Nurlinda 2020).

Faktor yang yang dapat menyebabkan dan mempengaruhi

perilaku dan personal hygiene seseorang adalah penyebab

masalah yang di timbulkan serta perilaku dan sikap yang

mengabaikan kesehatan gigi (Afdilla et al. 2022).

3) Perilaku yang baik dalam kesehatan Gigi dan Mulut

Upaya perawatan kesehetan gigi dan mulut seharusnya

dilakukan sedini mungkin sehingga kerusakan gigi dapat dicegah

(Taadi & Almujadi, 2017). Upaya perawatan kesehetan gigi dan

mulut seharusnya dilakukan sedini mungkin sehingga kerusakan

gigi dapat dicegah (Taadi & Almujadi, 2017).

a) Cara Menyikat Gigi yang Benar

Menyikat gigi penting untuk membersihkan gigi dan

mulut. Menyikat gigi dengan teknik yang tepat dapat

mencegah pembentukan plak, membersihkan gigi dari plak,

17
membersihkan lidah dan gingiva. Cara menyikat gigi dengan

gerakan memutar dapat memudahkan anak untuk menyikat

giginya sendiri karena tidak membutuhkan tenaga yang kuat,

mudah untuk dipelajari, dan membutuhkan waktu yang

singkat. Cara menyikat gigi dengan gerakan naik turun juga

penting untuk dilakukan karena efektif untuk anak dengan gigi

sulung, dan paling nyaman (Suhasini & Valiathan, 2020).

Cara apapun yang digunakan, menyikat gigi harus

dilakukan dengan lembut agar tidak merusak jaringan keras

atau lunak, dan tidak menyebabkan keausan gigi yang

berlebihan. Seluruh bagian gigi seperti facial, lingual/palatal,

oklusal, dan proksimal harus terkena saat menyikat gigi

(Baruah et al., 2017).

b) Penggunaan Dental Floss

Dental floss adalah benang gigi yang berguna untuk

membersihkan sisa-sisa makanan dan plak di bagian

interproksimal gigi dan dapat menmbus sela-sela gigi yang

berdekatan. Menyikat gigi disertai penggunaan dental floss

efektif terhadap penurunan plak. Dental floss dapat digunakan

dengan dua teknik yaitu teknik manual tanpa menggunakan

pegangan, dan teknik menggunakan pegangan. Pada penelitian

sebelumnya menyatakan menggunakan dengan teknik apapun

dapat menurunkan skor plak. Tetapi dental floss dengan

18
pegangan banyak disukai dikarenakan dengan pegangan lebih

praktis digunakan karena dapat langsung masuk ke

interproksimal melalui titik kontak. Berdasarkan rekomendasi

dari American Dental Association (ADA), dental floss

sebaiknya digunakan sehari sekali yaitu ketika sebelum

menyikat gigi untuk membersihkan bagian gigi yang tidak bisa

dicapai oleh sikat gigi sehingga dapat membantu melindungi

gigi dari penempelan plak (Magfirah & Rachmadi, 2014).

c) Pemeriksaan Ke Dokter gigi

Untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut wajib

dilakukan pemeriksaan gigi ke dokter gigi minimal 6 bulan

sekali. Hal yangdilakukan untuk pemeriksaan gigi rutin adalah

untuk melakukan pembersihan kalkulus, dan dapat mencari

secara dini apakah ada kerusakan yang terjadi di dalam rongga

mulut. Pembersihan karang gigi yang dilakukan secara rutin

dapat menjaga kesehatan gigi dan jaringan periodontal di

sekelilingnya. Apabila kerusakan-kerusakan gigi dapat

terdeteksi secara dini, maka dapat segera dilakukan perawatan

yang tepat, sehingga tidak akan berkembang menjadi lebih

parah (Dyah & Santik, 2015).

d) Memperbaiki Nutrisi

Nutrisi memiliki peran penting dalam menjaga

kesehatan gigi. Nutrisi dan kesehatan gigi dan mulut memiliki

19
hubungan dua arah yaitu nutrisi yang baik penting dalam

menjaga kesehatan gigi dan mulut, sebaliknya kesehatan mulut

juga penting untuk menjaga asupan nutrisi yang kuat. Makanan

kariogenik merupakan makanan yang dapat menurunkan pH

saliva pada tingkat asam sehingga dapat menyebabkan

demineralisasi enamel. Makanan kariogenik mengandung

karbohidrat yang tinggi dapat difermentasi oleh

mikroorganisme seperti makanan yang manis dan lengket

seperti permen dan coklat, minuman bersoda, dan makanan

cepat saji. Makanan ini dapat menurunkan pH saliva dibawah

5,5 dan memicu terjadinya demineralisasi. Beberapa jenis

makanan dan minuman kariogenik yang mengandung kadar

gula yang tinggi seperti sirup memiliki kadar gula sebanyak

100%, minuman bersoda sebanyak 96%, dan makanan manis

dan lengket seperti permen dan coklat sebanyak 93%. Oleh

kerena tingginya kadar gula yang dikandung oleh berbagai

makanan dan minuman di atas, konsumsi makanan dan

minuman tersebut harus dicegah atau dibatasi untuk mencegah

terjadinya karies gigi pada anak (Hendarto, 2015).

2. Pendidikan Kesehatan

a. Pengertian

Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep

pendidikan dalam bidang kesehatan. Pendidikan kesehatan pada

20
hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan

pesan kesehatan pada masyarakat, kelompok dan individu agar

memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik dan

dapat memberi perubahan pada sikap sasaran (Murwarni, 2018).

Menurut Otta Charter, pendidikan kesehatan adalah upaya

yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga mau dan mampu

untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.

Pendidikan kesehatan identik dengan penyuluhan kesehatan

karena keduanya berorientasi kepada perubahan perilaku yang

diharapkan yaitu perilaku sehat sehingga mempunyai kemampuan

mengenal masalah kesehatannya sendiri, keluarga, kelompok

untuk meningkatkan kesehatan (Novita, 2011).

b. Tujuan Pendidikan Kesehatan

1) Mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka

sendiri.

2) Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara

dan meningkatkan derajat kesehatan baik fisik, mental,

sosialnya sehingga produktif secara ekonomi dan sosial.

3) Menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan

yang kondusif bagi kesehatan (Novita, 2011).

21
c. Sasaran pendidikan Kesehatan

Menurut Maryam, 2015 ada beberapa sasaran pendidikan

kesehatan dibagi dalam tiga kelompok sasaran yaitu sebagai

berikut:

1) Sasaran primer (primary target) adalah sasaran yang

mempunyai masalah, yang diharapkan mau berperilaku

sesuai harapan dan memperoleh manfaat paling besar dari

perubahan perilaku tersebut.

2) Sasaran sekunder (secondary target) adalah individu atau

kelompok yang memiliki pengaruh atau disegani oleh sasaran

primer.

3) Sasaran tersier (tertiary target) adalah para pengambilan

kebijakan, penyandang dana, pihak-pihak yang berpengaruh

di berbagai tingkatan (pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan,

dan desa/kelurahan)

d. Media Pendidikan Kesehatan

Media pendidikan kesehatan merupakan saluran untuk

menyampaikan informasi kesehatan dan dipergunakan untuk

memepermudah penerimaan pesan - pesan kesehatan. Pendidikan

kesehatan dapat dilakukan dengan menggunakan sarana media

above the line dan sarana media Below the line.

1) Media lini atas (Media above the line)

a) Media cetak: surat kabar, majalah, tabloid

22
b) Media radio: media ini sampai sekarang masih banyak

diandalkan sebagai media komunikasi pendidikan

kesehatan di banyak Negara berkembang, sering disebut

juga sebagai shadow medium.

c) Media televisi: media massa yang ada dan kelahirannya

paling akhir.

d) Media film: kelebihan dan kekurangannya hampir sama

dengan media TV karena di antara keduanya memiliki

kesamaan tipologi yaitu audio visual.

2) Media ini bawah (media Below the line)

Media ini diantaranya adalah :

a) Poster adalah bentuk media cetak yang berisi pesan atau

informasi kesehatan, yang biasanya ditempel di tembok-

tembok, tempat-tempat umum, atau kendaraan umum.

b) Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan-

pesan kesehatan dalam bentuk buku, baik berupa tulisan

maupun gambar.

c) Leaflet adalah bentuk penyampaian informasi atau

pesan-pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat.

d) Flyer (selebaran), bentuknya seperti leaflet tetapi tidak

berlipat.

e) Flipchart (lembar balik), media penyampaian pesan atau

informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik.

23
f) Pameran adalah media untuk memamerkan suatu produk

dan dapat terjadi intensitas komunikasi yang sangat

tinggi antara pembeli dan penjual (Novita, 2011).

3. Penyuluhan Kesehatan

a. Pengertian Penyuluhan Kesehatan

Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan

kesehatan yangdilakukan dengan menyebarkan pesan,

menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak hanya sadar,

tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu

anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Prabandari,

2018).

Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan

dankesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk

mencapai suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok,

atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu

bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan,

secara kelompok dan meminta pertolongan (Prabandari, 2018).

b. Sasaran Penyuluhan Kesehatan

Penyuluhan kesehatan dilakukan untuk dapat

menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada masyarakat atau

kelompok sasaran sesuai dengan masalahkesehatan yang dihadapi

oleh kelompok tersebut. Penyuluhan kesehatan masyarakat

memiliki pengertian yakni sebagai proses perubahan,

24
pertumbuhan, dan perkembangan diri manusia menuju kepada

keselarasan dan keseimbangan jasmani, rohani dan sosial dari

manusia tersebut terhadap lingkungannya, sehingga mampu dan

bertanggung jawab untuk mengatasi masalah-masalah

kesehatannya sendiri serta masyrakat lingkungannya (Iyong,

Kairupan and Engkeng, 2020).

Menurut pendapat Notoatmodjo menjelaskan bahwa

penyuluhan kesehatan dengan sasaran kepada masyarakat dapat

dilakukan pada masyarakat binaan baik dipuskesmas atau pun di

tempat lain seperti pada masyarakat pedesaan, nelayan, yang

membuhkan informasi tentang kesehatan. Untuk itu sebagai

seorang penyuluh perlu mengetahui sasaran yang akan diberikan

penyuluhan guna tercapainya infromasi yang di inginkan.

Berdasarkan penelitian (Arif,2019) menjelaskan

bahwapenyuluhan kesehatan dengan ketepatan sasaran

penyuluhan dapat mempengaruhi penyampaian informasi kepada

penerima pesan tersebut.

c. Metode Penyuluhan

Metode penyuluhan merupakan salah satu faktor

tercapainya hasil penyuluhan yang optimal dengan menggunakan

media edukasi kesehatan yang tepat, sehingga penyampaian

informasi dapat lebih mudah diterima oleh sasaran (Ramadhanti,

Adespin and Julianti, 2019).

25
Dari sekian banyak metode yang dapat memberikan

penyuluhan kesehatan di antaranya adalah :

1) Metode Individual

Dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan

kesehatan gigi yang bersifat inti digunakan untuk membina

perilaku menjadi yang baru, dalam hal ini pembinaan yang

mulai tertarik kepada suatu perubahan atau pembinaan untuk

merubah perilaku dengan di lakukan berbagai pendekatan di

antaranya adalah.

a) Bimbingan dan Penyuluhan

Dengan cara ini di harapkan setiap masalah yang di

hadapi dapat di teliti dan dibantu untuk mencari jalan

keluar dari permasalah tersebut.

b) Wawancara

Melalui cara ini diharapkan bagian dari bimbingan

penyuluhan melalui wawacara petugas kesehatan dengan

klien untuk menggali suatu informasi tertentu.

2) Metode Kelompok

Dalam metode ini besarnya kelompok sasaran serta

tingkat pendidikan yang formal dan sasaran untuk kelompok

besar metodenya sebagai berikut :

26
a) Kelompok besar

Dalam kelompok besar ini adalah apabila peserta

penyuluhan tersebut lebih dari 15 orang dengan metode

yang baik untuk kelompok besar ini adalah ceramah dan

seminar.

1) Ceramah

Metode ini baik digunakan untuk sasaran yang

berpendidikan tinggi maupun rendah.

2) Seminar

Metode ini cocok untuk sasaran kelompok besar

dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar

adalah penyajian dari suatu ahli atau beberapa ahli

tentang suatu topik yang di anggap penting dan

biasanya hangat dimasyarakat.

b) Kelompok kecil

Dalam metode ini apabila rewsponden kurang dari 15

orang biasanya disebut sebagai kelompok kecil. Metode

– metode ini cocok untuk kelompok kecil adalah :

1) Diskusi kelompok

Dalam metode ini semua anggotan dapat bebas

berpartisipasi dalam diskusi dengan formasi duduk

para peserta di atur sedemikian rupa sehingga

mereka dapat berhadap – hadapan.

27
2) Curah Pendapat

Metode ini modifikasi dari metode kelompok yang

pada prinsipnya sama dengan metode diskusi namun

beda pada permulaan pemimpin kelompok yang

memancing dengan suatu isu permasalah yang akan

di bahas.

3) Bola Salju

Dalam model ini kelompok di arahkan berpasangan

kemudian di lontarkan suatu pertayaan atau suatu isu

permasalah dan setelah lebih dari 5 menit maka tiap

kelompok bergabung menjadi 1.

4) Bermain peran

Dalam metode ini beberapa anggota ditinjau sebagai

pemegang peran tertentu uttuk memainkan

perananya.

c) Metode Massa

Berikut merupakan beberapa contoh metode yang cocok

untuk pendekatan massa.

1) Ceramah Umum

Pada metode ini dapat digunakan pada acara – acara

tertentu seperti padahari kesehatan nasional yang

dimana para pejabat kesehatan berpidato kepada

28
masyarakat untuk menyampaikan pesan – pesan

kesehatan.

2) Simulasi dialog antara pasien dengan dokter atau

petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit

atau permasalah kesehatan.

3) Tulisan – tulisan majalah atau koran baik dalam

bentuk artikel atau maupun jawab konsultasi tentang

kesehatan.

4) Billiboard yang dipasang di pinggir jalan, spanduk,

poster dan sebagainya sebagai bentuk pendidikan

kesehatan (Rismawan, 2017).

d. Media Penyuluhan Kesehatan

Media promosi kesehatan merupakan sebuah sarana yang

berguna untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin

disampaikan ke komunikator. Media promosi kesehatan bertujuan

agar sasaran dapat mendapatkan pengetahuan dan

kemudianmampu merubah perilaku sasaran menjadi lebih positif

(Lina Eta Safitri, Nurlaila Agustikawati and Putri Adekayanti,

2022).

Sedangkan menurut Notoadmodjo tahun 2004 dalam

bukunya menyatakan bahwa Media promosi kesehatan adalah

semua sarana atau upaya untuk menyampaikan informasi

29
kesehatan dan mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan

bagi masyarakat atau klien.

fungsinya sebagai penyaluran pesan kesehatan, media

dibagi menjadi tiga, yaitu:

1) Media Cetak

Media ini mengutamakan pesan-pesan visual, biasanya terdiri

dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata

warna. Yang termasuk dalam media ini yaitu booklet, leaflet,

flyer, flip chart, rubric, poster dan foto yang mengungkapkan

informasi kesehatan. Kelebihan media cetak yaitu tahan lama,

mencakup banyak orang, dapat dibawa kemana-mana.

Kelemahan media cetak yaitu media ini tidak dapat

menstimulir efek suara dan efek gerak.

2) Media Elektronik

Media ini merupakan media yang bergerak dan dinamis,

dapat dilihat dan didengar dan penyampainnya melalui alat

bantu elektronika. Yang termasuk dalam media ini yaitu

televisi, radio, video, slide dan film strip. Kelebihan media ini

yaitu sudah dikenal masyarakat, mengikutkan panca indera

dan lebih menarik. Kekurangan dari media ini yaitu perlu

persiapan matang, biaya tinggi, sedikit rumit dan perlu

keterampilan penyimpanan

30
3) Media Luar ruang

Media ini menyampaikan pesannya di luar ruang, biasanya

melalui media cetak maupun elektronik misalnya papan

reklame, spanduk, pameran, banner, dan televisi layar lebar.

Kelebihan media luar ruang yaitu sebagai informasi umum

dan hiburan, lebih mudahdipahami, lebih menarik, bertatap

muka, penyajian dapat dikendalikan dan sebagai alat diskusi

serta dapat diulang-ulang (Prabandi, 2018)

4. Media Booklet
a. Pengertian media Booklet

Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan pada

anak adalah dengan Booklet. Booklet merupakan media

komunikasi massa yang bertujuan untuk menyampaikan pesan

yang bersifat promosi, anjuran, larangan-larangan kepada

khalayak massa dan berbentuk cetakan. Sehingga akhir dari

tujuannya tersebut adalah agar masyarakat yang sebagai obyek

memahami dan menuruti pesan yang terkandung dalam media

komunikasi massa tersebut (Jurnal et al., 2022).

Booklet merupakan suatu sumber belajar dapat digunakan

untuk menarik minat dan perhatian siswa karena bentuknya yang

sederhana dan banyaknya warna serta ilustrasi yang ditampilkan

(Sari, Suniasih and Suadnyana, 2018).

Booklet merupakan alat bantu berbentuk buku, dilengkapi

dengan tulisan maupun gambar yang disesuaikan dengan sasaran

31
pembacanya. Informasi yang ada dalam booklet disusun dengan

jelas dan rinci sehingga dapat ditangkap dengan baik oleh sasaran

pendidikan dan tidak menimbulkan kesalahan persepsi ("SDN

126 Manado", 2016).

b. Tujuan Media Booklet

Keunggulan dari Booklet adalah bahwa Booklet ini

menggunakan media cetak sehingga biaya yang dikeluarkan itu

bisa lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan media

audio dan audio visual. Proses Booklet agar sampai kepada obyek

atau masyarakat bisa dilakukan sewaktu-waktu. Proses

penyampaian juga bisa disesuaikan dengan kondisi yang ada,

lebih terperinci dan jelas, karena lebih banyak bisa mengulas

tentang pesan yang disampaikan. Kelemahan dari Booklet ini

tidak bisa menyebar ke seluruh masyarakat, karena disebabkan

keterbatasan. Tidak langsungnya proses penyampaiannya,

sehingga umpan balik dari obyek kepada penyampaian pesan

tidak secara langsung (tertunda). Memerlukan banyak tenaga

dalam penyebarannya (Sari, 2017).

c. Kelebihan dan Kekurangan Media Booklet

Adapun kelebihan dan kekurangan booklet adalah sebagai

berikut :

1) Kelebihan

a) Tidak tebal sehingga tidak sulit untuk di bawah

32
b) Lebih terperinci dan jelas karena bisa booklet yaitu dapat

dipelajari setiap saat karena desainya berbentuk buku.

Hal ini lebih banyak mengulas tentang pesan yang di

sampaikan.

c) Booklet memuat informasi lebih banyak dibandingkan

dengan poster.

2) Kekurangan

a) Memerlukan tenaga ahli untuk membuatnya

b) Booklet tidak dapat menyebar langsung keseluruh objek

karena disebabkan keterbatasan penyebaran jumlah

halaman yang dapat dimuat dalam booklet (Putri, 2023).

d. Langkah – langkah Membuat dan Menyusun Booklet

Secara umum untuk membuat booklet perlu dilakukan

beberapa analisa yang ditentukan demi terpaianya pencapaian

informasi secara baik dan sampai dengan apa isi yang akan

disampikan, adapun langkah – langkah tersebut adalah sebagai

berikut:

1) Judul diturunkan dari materi pokok sesuai dengan besar

kecilnya materi

2) Materi pokok yang akan dicapai sesuai dengan judul

penyuluhan informasi pendukung dijelaskan secara jelas dan

pada serta menarik dengan kalimat yang baik

33
3) Dalam booklet lebih banyak terdapat gambar pada teks

sehingga tidak terkesan monoton

4) Mudah dibawah ke mana saja dan dapat dibaca kapan saja

5) Memuat informasi yang lengkap walau tidak rinci dan

berurutan.

Dalam pendapat lain dalam menyusun media booklet perlu


di perhatikan beberapa langkah tersebut sebagai berikut :
1) Ukuran Kertas

Kertas yang direkomendasikan untuk pembuatan booklet

adalah berukuran setengah dari kertas A4 atau sekitar 15 cm

x 21 cm.

2) Content atau Isi

Tulisan-tulisan yang terdapat dalam booklet sebaiknya

singkat, padat, menarik serta membuat penasaran pembaca.

3) Beckground

Gunakan warna beckground yang kontras dengan tulisan

serta tidak membuat pembaca booklet kesulitan ketika

membaca.

4) Tata letak

Fungsi tata letak adalah untuk membuat booklet menjadi

tampak rapi dan elegan.

5) Pemakaian Huruf

34
Pemilihan huruf dalam pembuatan booklet dapat

menggantikan fungsi gambar sebagai sarana visualisasi isi

booklet. Huruf yang digunakan harus mudah dipahami oleh

pembaca.

6) Pemilihan Gambar

Penambahan gambar dalam booklet akan menambah

keindahan dalam booklet dan pemilihan gambar harus sesuai

dengan tema (Andreansyah, 2018).

5. Media Video Animasi

a. Pengertian Video Animasi

Video Animasi merupakan sebuah gambar-gambar

bergerak yang berasal dari berbagai objek yang di buat dengan

cara khusus agar bisa bergerak sesuai alur yang sudah di buatpada

setiap hitunganwaktu. Objek yang dimaksud bisa berupa beberapa

gambar manusia, tulisan teks, gambar hewan, gambar tumbuhan,

gedung, dan berbagai macam lainnya (Yudi Pratama, 2019).

Menurut Salim (2003 dalam Yudi Pratama,2019), video

animasi adalah proses pembuatan efek perubahan bentuk yang

terjadi pada beberapa waktu (morphing). Menurut Suheri (2006)

dalam Yudi Pratama (2019) berpendapat bahwa animasi juga

merupakan gambar – gambar yang dapat di susun sedemikian

rupa untuk menghasilkan gerakan yang sesuai seperti yang kita

inginkan.

35
Pembelajaran adalah media audio visual yang berupa

kumpulan gambar bergerak dan memiliki suara yang berisi

tentang materi pembelajaran yang ditampilkan menggunakan

media elektronik seperti proyektorsebagai suatu usaha untuk

membuat suatu proses pembelajaran yang menarik dan

menyenangkan (Rochimah, 2019).

b. Manfaat Media Video Animasi

Menurut (Arsyad, 2018) manfaat dari media video animasi

adalah :

1) Mampu mempengaruhi tingkah laku manusia melebihi media

cetak,

2) Dapat di gunakan secara berulang,

3) Dapat di gunakan unutk klasikal ataupun individu,

4) Dapat diperlambat atau di percepat,

5) Dapat menyajikan materi secara fisik tidak dapat di bawa ke

dalam kelas,

6) Dapat menyajikan objek yang berbahaya.

c. Jenis – jenis Video Animasi

Secara garis besar macam video diklasifikasikan menjadi

dua tipe yaitu video analog dan digital. Kedua tipe tersebut yang

mendasari format video (Yulyani Arifin, 2015).

1) Video analog

36
Jenis video ini menggunakan sinyal dari kamera yang dikirim

ke dalam VCR (Video Cassette Recording) yang akan

direkam pada video tape magnetic.

2) Video digital

Video digital merupakan bagian terpenting multimedia yang

menarik dan juga merupakan perangkat yang kuat yang

terdapat pada pengguna komputer yang lebih dekat ke dunia

nyata (Yulyani Arifin, 2015). Jenis video juga merupakan

gabungan antara video digital dalam kamera dengan

komputer yang berbeda dengan bentuk televisi analog yang

videonya diproduksi multimedia dan media pengirimnya.

Salah satu contoh video digital adalah HDTV (High

Definition Television).

d. Jenis – jenis Animasi

Secara garis besar animasi juga dibedakan menjadi

dua antara lain (Yulyani Arifin, 2015) :

1) Animasi Path

Animasi ini merupakan animasi dalam ruang lingkup 2

dimensi dan 3 dimensi, pada lingkup 2 dimensi untuk

meningkatkan kompleksitas animasi dan juga menghasilkan

gerakan, mengubah posisi gambar sepanjang jalur yang telah

ditentukan (posisi) dalam masa tenggang waktu yang sudah

ditentukan (kecepatan) sedangkan lingkup 3 dimensi untuk

37
menciptakan ilusi yang nyata dalam tiga dimensi dan

menemukan perubahan gerakan yang dihitung dari tiga aksis

(x, y dan z), hal tersebut yang membuat gambar atau objek

yang diciptakan dapat bergerak mendekati dan menjauhi serta

mengijinkan penonton agar dapat melihat secara keseluruhan

gambar atau objek tersebut.

2) Animasi Cel

Animasi Cel adalah teknik animasi yang dipopulerkan oleh

Disney dengan menggunakan serangkaian grafis progresif

yang berbeda dalam setiap frame misalnya dalam bioskop

(yang mempunyai kecepatan 24 frame per detik). Istilah cel

berasal dari lembaran seluloid (celluloid) transparan yang

digunakan untuk menggambar di setiap frame serta saat ini

sudah digantikan oleh penggunaan plastik.

e. Kelebihan dan Kekurangan Video Animasi

1) Kelebihan

a) Video pembelajaran dapat dimanfaatkan oleh masyarakat

luas melalui akses di media sosial youtube.

b) Video dapat digunakan dalam jangka waktu yang

panjang dan kapanpun apabila materi yang ada dalam

video tersebut masih relevan dengan materi yang ada.

c) Media pendidikan kesehatan yang simpel dan

menyenangkan.

38
d) Dapat membantu siswa dalam memahami materi

pelajaran atau topik yang dibahas dan juga membantu

guru atau dosen dalam proses pembelajaran.

e) Bersifat mandiri, yaitu memberi kemudahan dan

kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna

dapat 29 menggunakan sendiri tanpa bimbingan orang

lain (Johari et al., 2016).

2) Kekurangan

a) Hanya dapat digunakan dengan bantuan media komputer

dan juga memerlukan bantuan proyektor serta speaker

selama penggunaan pada proses pembelajaran di kelas.

b) Memerlukan biaya yang cukup besar untuk keperluan

pembuatan video pembelajaran.

c) Memerlukan waktu yang cukup panjang pada proses

pembuatan sampai dengan terciptanya video

pembelajaran (Johari et al., 2016).

6. Menyikat Gigi

a. Pengertian Menyikat gigi

Menyikat gigi adalah cara yang umum yang dianjurkan

untuk membersihkan berbagai kotoran yang melekat pada

permukaan gigi dan mulut yang bertujuan unutuk mencegah

adanya penyakit pada jaringan keras maupun lunak. Dalam hal ini

Tindakan menyikat gigi yang kurang sebelum diberikan

39
penyuluhan, hal ini disebabkan karena informasi yang didapat

kurang sehingga akan mempengaruhi kondisi kebersihan gigi dan

mulutnya, sama halnya bahwa informasi tentang kesehatan gigi

dan mulut tidak ditangkap secara maksimal sehingga akan

membentuk perilaku yang keliru dan dapat mempengaruhi kondisi

Oral Hygiene nya. Frekuensi menyikat gigi sebagai bentuk

perilaku akan memengaruhi baik atau buruknya kebersihan

rongga mulut (Zulkaidah, 2022).

b. Waktu yang tepat untuk menyikat gigi

Kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan cara

menyikat gigi 2 kali sehari waktu pagi dan sebelum tidur, dengan

berbagai macam tekhnik dan cara yang bisa digunakan.

Menggosok gigi dua kali sehari adalah mutlak, terutama pada

anak karena gigi anak lebih rentan dibandingkan gigi orang

dewasa karena enamelnya belum terbentuksempurna. Jutaan

bakteri yang hidup di mulut bisa merusak gigi anak jika mereka

tidak menyikat gigi setelah makan, khususnya dimalam hari

sebelum tidur. Makin lama menyikat gigi secara teratur maka

akan makin mengurangi jumlah debris dan makin menurunkan

jumlah gigi karies (Estiani,2017).

c. Metode Menyikat gigi

1) Gerakan Vertikal

40
Teknik vertikal dilakukan dengan kedua rahang tertutup,

kemudian permukaan bukal gigi disikat dengan gerakan

keatas dan bawah. Untuk permukaan lingual dan palatial

dilakukan gerakan yang sama dengan mulut terbuka.

2) Gerakan Horizontal

Permukaan bukal dan lingual disikat dengan gerakan kedepan

dan kebelakang. Untuk permukaan oklusal gerakan horizontal

yang sering disebut “scrub brush technic” dapat dilakukan

dan terbukti merupakan cara yang sesuai dengan bentuk

anatomis prmukaan oklusal.

3) Gerakan Roll / Teknik Modifikasi Stillman

Teknik ini disebut “ADA-roll Technic”, dan merupakan cara

yang paling sering dianjurkan karena sederhana tetapiefisien

dan dapat digunakan diseluruh bagian mulut. Bulu-bulu sikat

ditempatkan pada gusi sejauh mungkin dari permukaan

oklusal dengan ujung-ujung bulu sikat mengarah ke apeks

41
dan sisi bulu sikat digerakan perlahan-lahan melalui

permukaan gigi sehingga bagian belakang dari kepala sikat

bergerak dengan lengkungan. Pada waktu bulu-bulu sikat

melalui mahkota klinis, kedudukannya hamper tegak lurus

permukaan email. Gerakan diulang 8-12 kali setiap daerah

dengan sistematis sehingga tidak ada yang terlewat.

4) Teknik Bass

Sikat di tempatkan dengan sudut 45⁰ terhadap terhadap

sumbu panjang gigi mengarah ke apikal dengan ujung-ujung

bulu sikat pada tepi gusi. Dengan demikian, saku gusi dapat

dibersihkan dan dapat dipijat. Untuk menyikat permukaan

bukal dan labial tangkai dipegang dalam kedudukan

horizontal dan sejajar dengan lengkung gigi, untuk

permukaan

42
C. Kerangka Konsep

Media Video Animasi dan


Media Booklet Perilaku Menggosok Gigi pada
Anak

Keterangan :

= Variabel Bebas

= Variabel Terikat

43
D. Kerangka Konsep

Faktor Perilaku

Internal Eksternal
 Pekerjaan  Lingkungan
 Umur  Sosial
 Pendidikan  Budaya

Media Penyuluhan
 Media cetak
 Media elektronik

Media booklet Media video animasi

Kelebihan Kekurang Kelebihan Kekurang


an an

 Mudah dibawah  Memerlukan  Simpel dan  memerlukan


 Memuat tenaga ahli menyenangkan bantuan komputer
informasi lebih  Keterbatasan  Berisi suara dan  biaya yang cukup
banyak di halaman gambar besar
banding poster  Tidak dapat  Dapat digunakan  memerlukan waktu
menyebar dalam jangka yang lama dalam
langsung waktu panjang pembuatannya
44
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif adalah salah satu jenis

penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana dan terstruktur

dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Metode

penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada

filsafat positivisme digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel

tertentu dengan pengumpulan data menggunakan instrument penelitian dan

analisis datanya bersifat kuantitatif/statistik dengan suatu tujuan untuk

menguji hipotesis yang telah di tetapkan (Sugiyono, 2012).

B. Desain Penelitian

Desain peneltiian penelitian ini menggunakan “pre-test and post test

group design”. Pendekatan yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum

eksperimen disebut pre-test dan sesudah eksperimen disebut post-test

(Notoadmodjo, 2018). Dengan menggunakan pendekatan cross sectional.

Berikut Desainya :

Pre-tets Perlakuan Post-tets

45
O1 X1 O2

Keterangan :

O1 = pengukuran pengetahuan, sikap dan tindakan siswa sebelum diberi

penyuluhan dengan media booklet dan video animasi (pre-tets )

X1 = Pemberian perlakuan berupa penyuluhan dengan media video

animasi dan Booklet

O2 = pengukuran pengetahuan, sikap dan tindakan siswa sesudah diberi

penyuluhan dengan media booklet dan video animasi (Post-tets ).

C. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan di lakukan pada awal bulan Mei tahun 2023

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan bertempat kelas V di SDN Negeri Rawua

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari subjek yang akan diteliti yang dimana

pada penelitian ini terdiri dari siswa kelas V SD Negeri Rawua yang

berjumlah 30 orang siswa.

2. Sampel

46
Sampel adalah sebagian dari populasi yang akan diteliti dalam

penelitian ini sampel merupakan siswa kelas V yang berjumlah 30

orang siswa yang di tentukan menggunakan teknik total sampling.

E. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

Pada penelitian ini variabel bebas adalah penggunaan media booklet dan

video animasi

2. Variabel terikat

Pada peneltian ini variabel terikat adalah perilaku anak dalam menggosok

gigi dan mulut.

F. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Definisi operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Kriteria Cara Ukur Skala

Penelitian Data

Variabel bebas Video Animasi 1. Melakukan Memberikan


Media video merupakan sebuah dengan skor 1 Penyuluhan Rasio
animasi gambar-gambar 2. Tidak di lakukan Kesehatan
bergerak yang berasal dengan skor 2 Gigi dan
dari berbagai objek Mulut
yang di buat dengan
cara khusus agar bisa
bergerak sesuai alur
yang sudah di buat,
pada setiap hitungan,
waktu subjek yang
dimaksud bisa berupa

47
beberapa gambar
manusia, tulisan teks,
gambar hewan,
gambar tumbuhan,
gedung, dan berbagai
macam lainnya
Media Booklet
Booklet merupakan
suatu media cetak
untuk menyampaikan
pesan-pesan, booklet
lebih di kenal sebagai
buku kecil yang
ditidak sampai 30
halaman,

Variabel Tindakan pemilihan Buruk : 0- 20 Memberikan


terikat yang dilakukan Sedang : 21 – 40 kuesioner Rasio
Perilaku responden dalam Baik : 41 – 60 yang berisi
merawat kesehatan variabel sikap
gigi dan mulut dalam dan tindakan
pengukuran perilaku dengan masing
di lakukan dengan – masing
mengukur 3 indikator berisi 10
yaitu pengetahuan, pertanyaan
sikap dan tindakan pilihan ganda
Merupakan hasildari Baik : bila Memberikan
Pengetahuan tahu, dan ini terjadi kuesioner pre Rasio
setelah melakukan responden dan post tets
penginderaan dengan 10
terhadap suatu objek menjawab benar pertayanmutip
tertentu e choice
>50% dengan
penilaianya
Kurang: bila jawaban benar
point 1 dan
responden menjawab jawaban salah
diberi skor 0
benar ≤ 50%

Baik : jika skor kuesioner pre


Sikap merupakan reaksi atau responden > 60% dan post tets Rasio
respon yang masih Kurang : jika dengan 10
tertutup dari skor responden ≤ pertayandenga

48
seseorang terhadap 60% n pilihan
suatu stimulus atau jawab SS
objek. ( snagat Setuju
) dan KS =
kurang Setuju
dan TS = tidak
setuju dengan
tiap2 jawaban
memili point
sebagai
berikut
SS = 3
KS= 2
TS=1
Suatu sikap belum
Keterampilan otomatis terwujud Baik : bila kuesioner pre
dalam suatu tindakan responden dan post tets Rasio
(overt behavior). menjawab benar dengan 10
untuk mewujudkan >50% pertayanmutip
sikap Kurang: bila e choice
responden dengan
menjawab benar ≤ penilaianya
50% jawaban benar
point 1 dan
jawaban salah
diberi skor 0

2. Kriteria Objektif

a. Pengetahuan

Kriteria penelitian menggunakan skala guttman yang didasarkan

atas jumlah pertanyaan keseluruhan yaitu sebanyak 10 pertanyaan

dan setiap pertanyaan diberikan nilai 1 jika jawaban benar dan 0

jika jawaban salah.

Sehingga diperoleh skor :

Skor tertingi = jumlah pertanyaan X bobot tertinggi

= 10 X 1

= 10 (100%)

49
Skor terendah = jumlah pertanyaan X bobot terendah

= 10 X 0

= 0 (0%)

Kemudian diukur menggunakan rumus (Sugiono, 2012)

R
I = dimana :
K

I = interval

R = range/kisaran (100-0=100)

K = jumlah kategori = 2 (Baik dan Kurang)

Maka:

R
Interval I =
K

100
= 2 = 50%

Kriteria objektif :

Baik : bila responden menjawab benar >50%

Kurang: bila responden menjawab benar ≤ 50%

b. Sikap

Kriteria penilaian menggunakan skala likert, jumlah

pernyataan keseluruhan sebanyak 10 nomor dan setiap pernyataan

mempunyai 3 pilihan jawaban dengan skor nilai : sangat setuju=3,

Kurang Setuju = 2 dan tidak Setuju = 1

Sehingga diperoleh skor nilai :

Skor tertinggi : 10 X 5 = 50 (100%)

Skor terendah : 10 X 1 = 10 (20%)

50
Kemudian diukur menggunakan rumus interval :

R
I = (Sugiyono, 2012)
K

Keterangan :

I = interval

R = range/kisaran yaitu nilai tertinggi – nilai terendah

= 100% - 20% = 80%

K = kategori, jumlah kategori sebanyak 2 yaitu baik dan

kurang

80 %
= = 40%
2

Sehingga kriteria penilaian 100 – 40% = 60%

Kriteria objektif :

Baik : jika skor responden > 60%

Kurang: jika skor responden ≤ 60%

c. Keterampilan

Kriteria penelitian menggunakan skala guttman yang

didasarkan atas jumlah pernyataan keseluruhan yaitu sebanyak 10

pernyataan dan setiap pernyataan diberikan nilai 1 jika jawaban

benar dan 0 jika jawaban salah.

Sehingga diperoleh skor :

Skor tertingi = jumlah pernyataan X bobot tertinggi

= 10 X 1

51
= 10 (100%)

Skor terendah = jumlah pernyataan X bobot terendah

= 10 X 0

= 0 (0%)

Kemudian diukur menggunakan rumus (Sugiono, 2012)

R
I = , dimana :
K

I = interval

R = range/kisaran (100-0=100)

K = jumlah kategori = 2 (Baik dan Kurang)

Maka:

R
Interval I =
K

100
= = 50%
2

Kriteria objektif :

Baik : bila responden menjawab benar >50%

Kurang : bila responden menjawab benar ≤ 50%

G. Hipotesis

Hipotesisi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. H0 : tidak ada pengaruh Penggunaan media booklet dan video animasi

terhadap perilaku menggosok gigi pada siswa kelas V di SDN

Rawua.

2. H1 : ada pengaruh Penggunaan media booklet dan video animasi

52
terhadap perilaku menggosok gigi pada siswa kelas V di SDN

Rawua.

H. Prosedur Penelitian

1. Alat, bahan dan Subjek Penelitian

a. Alat dan bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

(pengetahuan, sikap dan keterampilan), alat tulis, media Booklet,

media video animasi, proyektor, laptop, pasta gigi, sikat gigi

b. Subjek penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V di SDN Rawua yang

berjumlah 30 orang siswa

2. Cara kerja

Dalam penelitian ini prosedur penelitian di bagi menjadi 2 tahapan yaitu

tahap persiapan dan tahap kerja

a. Tahap persiapan :

1) Peneliti melakukan tinjauan ke lokasi penelitian

2) Peneliti meminta izin penelitian dari kampus Politeknik Bina

Husada Kendari

3) Peneliti menyampaikan surat izin penelitian kepada kepala

sekolah di SDN Rawua

4) Peneliti mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

dalam penelitian

53
5) Peneliti memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud dan

tujuan penelitian kepada siswa di SDN Rawua Kendari.

b. Tahap Kerja :

1) Peneliti menjelaskan tata cara pengisian kuesioner pengetahuan ,

sikap dan keterampilan,

2) Peneliti membagi tahapan jalanya penelitian dengan pre tets dan

post tets,

3) Setelah itu peneliti membagikan kuesioner kepada sampel

kemudian di kumpulkan setelah di isi setelah itu peneiti

mengarahkan sampel untuk menyikat gigi dengan sikat gigi

yang di siapkan,

4) Peneliti pada tahap post tets ini melakukan penyuluhan dengan

menggunakan media Booklet dan Video animasi,

5) Setelah itu peneliti mengukur pengetahuan siswa, sikap dan

keterampilan siswa setelah itu siswa di arahkan untuk menyikat

gigi kembali,

6) Peneliti mengumpulkan hasil kuesioner yang diisi oleh siswa.

3. Analisa Data

a. Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan data kuantitatif,

suatu data yang diperoleh nantinya berupa angka. Dari data yang

dihasilkan kemudian dikumpulkan dan disajikan dalam bentuk

54
tabel,dan akan di analisis lebih lanjut menggunakan program SPSS.

Analisis data dapat dilakukan melalui uji t (t – test). Uji t berguna

untuk menguji ada dan tidaknya pengaruh parsial (sendiri) yang

diberikan dengan variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y)

(Sajid Rahardjo, 2018).

Dasar pengambilan keputusan (Sahid Rahardjo, 2018) :

1) Jika nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 atau thitung > ttablemaka

terdapat suatu pengaruh dari variabel X dengan Y

2) Jika nilai signifikan lebih besar dari 0,05 atau thitung < ttablemaka

tidak terdapat suatu pengaruh dari variabel X dan Y.

Rumus ttable (Sahid Rahaedjo, 2018)

Ttable = t (ɑ/2 : n – k - 1)

Keterangan :
ɑ = tingkat kepercayaan (0.05)

n = jumlah sampel

k = jumlah variabel X

b. Sumber Data

1) Data Primer

Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh

langsung dari lapangan berupa hasil kuisioner.

2) Data Sekunder

55
Data sekunder adalah data yang disajikan oleh pihak lain

dalam bentuk publikasi dan jurnal serta data-data siswa dari

pihak sekolah.

c. Teknik Pengumpulan data

Metode pemgumpulan data adalah suatu proses pengumpulan

data primer dan data sekunder dalam suatu penelitian. Metode

pengumpulan data yang umum digunakan dalam suatu penelitian

adalah wawancara, kuisioner, dan observasi (sugiono, 2010).

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan

adalah kuisioner pretest dan kuisioner postest.

d. Penyajian Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini diolah dan disajikan

dalam bentuk tabel dan narasi serta menggunakan program SPSS

(Statistical Program for Social Science).

e. Pengolahan data

Setelah data berhasil di kumpulkan langkah selanjutnya adalah

mengolah data. Proses pengolahan data dilakukan dengan

menggunakan beberapa tahap sebagai berikut :

1) Edit (editing)

56
Editing dilakukan untuk meneliti setiap item

penelitian/memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan

2) Kode (coding)

Memberi kode pada lembar kuisioner. Pengisian

berdasarkan pelaksanaan setiap indikator yang ada pada

responden

3) Tabulasi (tabulating)

Membuat tabel-tabel yang berisikan data yang telah diberi

kode sesuai dengan analisis yang dibutuhkan.

4) Entry

Kegiatan memasukan data ke dalam program komputer

untuk selanjutnya dilakukan pengelompokan data atau

analisis data menggunakan uji statistik.

57
f. Skema Jalanya Penelitian

Membuat Surat Izin


Penelitian

Peengisian Informend
Consend

Pengumpulan Sampel
Penelitian

Pengarahan Tentang Penelitian Kepada Siswa Kelas III


SD Rowua

Pengisian Lembar Kuesioner Pre


tets

Post Tets Boklet Post Tets Video ANimasi

58
Pengisian Kuesioner Post Tets

Analisa Data

Hasil

Gambar 3.2 Skema jalannya penelitian

g. Etika Penelitian

Penelitian ini dilakukan setelah prodi kesehatan gigi

politeknik bina husada kendari menerbitkan surat persetujuan

untuk dilakukan penelitian di kelas V SDN Rawua. Hal-hal yang

terkait dengan etika penelitian dalam penelitian ini adalah :

1. Menyertakan surat pengantar yang ditujukan kepada institut

terkait sebagai permohonan izin untuk melakukan penelitian

2. Kerahasiaan (confidentiality) informasi yang diperoleh dari

data siswa menjadi koleksi pribadi dan tidak akan

disebarluaskan kepada orang, dan jika disebarluaskan hanya

dalam kepentingan akademik berupa kode atau simbol.

59
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Fadillah (2021) ‘Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku
Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Murid SD Kelas IV-VI di
Kelurahan Gunung Bahagia Kota Balik Papan’, (September), p. [Link]
acces 15 februari 2023
Aprilia Nia , 2021, " efektifitas Promosi Kesehatan Gigi dalam meningkatkan
Pengetahuan Anak dengan Media Permainan Ular Tangga Pada siswa
kelas 1, Jurna Kesehatan Gigi,3,1,[Link] acces 15 februari 2023
Andreansyah (2018) ‘[Link] Booklet sebagai Media Kehidupan di
Muka Bumi Kelas X di SMA Negeri 12 Semarang Tahun 2015 Skripsi’, p.
[Link] acces 15 februari 2023
Arif, Syaiful. 2019. “Pengembangan Media Video Anti Narkoba Sebagai Media
Penyuluhan Di Bidang Pemberdayaan Masyarakat Bnnp Jawa Timur
Untuk Meningkatkan Minat Dan Pemahaman Pelajar Di Smkn 3 Surabaya
Pengembangan.” Universitas Negeri Surabaya 53(9): 1689–[Link] 15
February 2023
Arsyad (2018) ‘Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan Pada Murid Kelas Iv
Dan V Sd Arsyad’, Journal of Physical Therapy Science, 9(1), pp. 1–
[Link]:[Link]
0A[Link]
10.1016/[Link].2018.08.006%0A[Link]
24582474%0A[Link]
acces 18 februari 2023
Claudiati, Endang Purwaningsih, and Siti Fitria Ulfah. 2021. “Literature Review:
Efektivitas Penggunaan Media Video Dalam Meningkatkan.” Dental
Therapist Journal 3(2): 58–[Link] 18 Februaray 2023
Dasar, Sekolah, Kelas V Dan, and V I Mi. 2021. “Sekolah Dasar Kelas V Dan Vi
Mi Al-.”diacces 18 Februaray 2023
Dasar, S. and Kota, N. (2021) ‘JIGIM (Jurnal Ilmiah Gigi dan Mulut) Fione VR
dkk, Pengaruh Edukasi’, 4(2), pp. 14–[Link] acces 11 februari 2023
Fitri, Rahmaini. 2019. “Efektivitas Booklet Terhadap Pengetahuan Dan Sikap
Pemeliharaan Kesehatan Gigi Mulut Pada Ibu Hamil.” Jurnal Maternitas
Kebidanan 4(1): [Link] 20 Februaray 2023.
Herawati, Desinta, Noor Hidayah, and Umi Faridah. 2020. “Hubungan Antara
Jumlah Anak, Usia Dan Pola Gosok Gigi Dengan Karies Gigi Pada Wanita
Usia Subur Di Rsu Kumala Siwi Kudus.” Indonesia Jurnal Perawat 5(2):
[Link] acces 20 Februaray 2023
Iyong, E. A., Kairupan, B. H. R. and Engkeng, S. (2020) ‘Pengaruh Penyuluhan
Kesehatan Terhadap Pengetahuan Tentang Gizi Seimbang Pada Peserta
Didik di SMP Negeri 1 Nanusa Kabupaten Talaud’, Jurnal Kesmas, 9(7),
pp. 59–[Link] acces 20 februari 2023
Jurnal, J. et al.(2022) ‘Edukasi Tentang Covid Dengan Media Booklet Pada Anak
Usia I . Pendahuluan Penyebaran virus Corona penyebab pandemi Covid-
19 di dunia belum juga mereda . Beberapa negara varian Delta dan
Omicron merebak dan menyebabkan lonjakan kasus . Masih tingginya
juml’, 3(2), pp. 66–[Link] acces 15 februari 2023
Lina Eta Safitri, Nurlaila Agustikawati and Putri Adekayanti (2022) ‘Peningkatan
Pemahaman Mahasiswa Terhadap Pembuatan Media Promosi Kesehatan’,
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan, 2(2), pp. 22–27. doi:
10.55606/[Link] acces 15 februari 2023
Nurlinda. 2020. “Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Menyikat Gigi
Pada Anak Usia Sekolah Sd Inpres Perumnas 1 Makassar.” : 1–[Link] acces
20 Februaray 2023
‘Perbedaan efektivitas DHE dengan media booklet dan media flip chart terhadap
peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut siswa SDN 126
Manado’ (2016) e-GIGI, 4(2). doi: 10.35790/[Link] acces
15 februari 2023
Prabandi, A. wahyu (2018) ‘Pemberian Pendidika Kesehatan Tentang Kesehatan
Reproduksi kepada RemajaPutri Melalui Vidio di SMA N 8’, Skripsi
[Link]:[Link]
1675/1/SKRIPSI .[Link] acces 15 februari 2023
Putri, fika ananda (2023) Pengaruh penyuluhan media booklet terhadap
pengetahuan keries gigi pada siswa sekolah [Link] acces 15 februari
2023
Rahma Belinda, Nessia, and Leny Sang Surya. 2021. “Jurnal Riset Intervensi
Pendidikan (JRIP) Media Edukasi Dalam Pendidikan Kesehatan Gigi Dan
Mulut Pada Anak-Anak.” Jrip 3(1): 56–60. di acces 20 Februaray 2023
Ramadhanti, C. A., Adespin, D. A. and Julianti, H. P. (2019) ‘Perbandingan
Penggunaan Metode Penyuluhan Dengan Dan Tanpa Media Leaflet
Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Tumbuh Kembang Balita’,
Jurnal Kedokteran Diponegoro, 8(1), pp. 99–120. di acces 01 maret 2023
Rismawan, bayu praditya (2017) ‘Pengaruh penyuluhan kesehata dengan
menggunakan metode review terhadap perilaku remaja dalam pencegahan
narkoba’, Advanced Drug Delivery Reviews, 135(January 2006), pp. 989–
1011. Available at:
[Link]
media/[Link]%0A[Link]
[Link] acces 01 maret 2023
Rochimah, S. (2019) ‘Pengembangan Media Pembelajaran Berbentuk Video
Animasi Pada Pokok Bahasan Keliling Dan Luas Segitiga Untuk
Meningkatkan Minat Belajar Siswa Di Kelas Iv Sekolah Dasar Negeri
Sumberagung Peterongan Jombang’, Skripsi.
Sari, Made Dwi Lavita, Ni Wayan Suniasih, and Nengah Suadnyana. 2018.
“Pengaruh Model Pembelajaran Artikulasi Menggunakan Media Booklet
Terhadap Kompetensi Pengetahuan IPA.” Jp2 1(3): 154–61. diacces 20
Februaray 2023
Sulastri, Sulastri. 2018. “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Sikap Dan
Perilaku Dalam Memelihara Personal Hygiene Gigi Dan Mulut Pada Anak
Usia Sekolah Di SD Negeri Payung.” Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan
6(1): [Link] 21 Februaray 2023
Tenggara, Sulawesi. 2022. “Politeknik Bina Husada Kendari Program Studi D3
Kesehatan Gigi Jl. Sorumba No.17, Kendari, Sulawesi [Link] acces
18 februari 2023”
Wanti, Melyana, Christy N. Mintjelungan, and Vonny N. S. Wowor. 2021.
“Pengaruh Motivasi Ekstrinsik Terhadap Perilaku Menyikat Gigi Pada
Anak.” e-GiGi 9(1): 15–[Link] 20 Februaray 2023
Yudi Pratama (2019) Pengembagan Video Animasi Pembelajaran Untuk
Meningkatkan Hasil belajar Siswi Kelas III. Universitas Muhammadiyah
Mataramdi acces 05 maret 2023
L
A
M
P
I
R
A
N
Lampiran 1

KUESIONER PERILAKU MENNGGOSOK GIGI PADA SISWA


KELAS V DI SDN RAWUA

Nama Responden :

Umur :

Kelas :

A. Pengetahuan

1. Kapan adik menggosok gigi ?

a. Pagi bangun tidur dan malam sebelum tidur

b. Mandi pagi dan mandi sore

c. Pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur

2. Bagaimana cara menggosok gigi yang baik dan benar ?

a. Dengan gerakan kencang

b. Dengan gerakan bulat – bulat

c. Dengan gerakan sesuka hati

3. Bagaimana sikat gigi yang baik untuk digunakan ?

a. Bulu sikat yang halus

b. Gagang sikat yang pendek

c. Bulu sikat yang kasar

4. Kapan waktu yang rutin untuk memeriksakan gigi ?

a. 6 bulan sekali
b. 1 tahun sekali

c. 2 tahun sekali

5. Makanan yang membuat gigi sehat ?

a. Mengandung gula

b. Sayur dan buah – buahan

c. Makanana yang lengket

6. Apa yang term,aksud kebiasaan yang baik ?

a. Menyikat gigi sebelum tidur

b. Makan makanan yang manis dan lengket

c. Menyikat gigi dengan keras dan cepat

7. Gigi berlubang terjadi karena ?

a. Suka makan sayur dan buah

b. Malas menggosok gigi

c. Makan makanan yang keras

8. Mana bagian gigi yang harus disikat ?

a. Gigi bagian luar dan dalam

b. Gigi bagian penguyahan

c. Seluruh bagian gigi

9. Apa yang tdiak termaksud manfaat menyikat gigi ?

a. Menghindari gigi berlubang

b. Agar nafas terasa segar

c. Gigi menjadi kuat


10. Apa ciri – ciri gigi berlubang ?

a. Sakit

b. Menular

c. Batuk
B. Sikap

No Pertayaan SS KS TS

1 Saya menyikat gigi malam sebelum tidur

2 Saya menyikat gigi malam tanpa disuruh

3 Saya menyikat gigi malam sebelum tidur


ditemani orang tua
4 Saya malas menyikat gigi sebelum tidur karena
ngantuk
5 Saya tidak mau punya gigi yang berlubang
karenan menimbulkan bau mulut
6 Saya lebih suka menyikat gigi sewaktu mandi
karena praktis
7 Saya tidak makan dan minum yang manis
sebelum tidur
8 Saya malas periksa gigi karena gigi saya tidak
ada yang sakit
9 Saya menyikat gigi dengan cara yang keras dan
cepat
10 Saya menggunakan sikat gigi bersama dengan
keluarga

Keterangan :

SS : Sangat setuju

KS : Kurang setuju

TS : Tidak setuju
C. Keterampilan

Nama Responden :

Umur :

Kelas :

No Pertanyaan Ya Tidak
1 Siswa menggosok gigi seluruh permukaan
2 Siswa periksa gigi rutin 6 bulan sekali
3 Siswa makan makanan yang manis sebelum
tidur
4 Siswa menggunakan sikat gigi bersama dengan
kelaurga
5 Siswa menggosok gigi dengan teliti
6 Siswa menggosok gigi dengan sikat gigi dan
pasta gigi
7 Siswa menggosok gigi depan cermin

8 Siswa menggosok gigi di dampingi orang tua

9 Siswa menggosok gigi malam sebelum tidur


dengan kesadaran sendiri
10 Siswa menggosok gigi malam sebelum tidur
Lampiran 2

DOKUMENTASI SURVEI AWAL


Lampiran 3

SURAT PERSETUJUAN SURVEI AWAL

Anda mungkin juga menyukai