0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan43 halaman

Penegakan Hukum Pertambangan Ilegal Kendari

Proposal penelitian ini membahas studi kasus penegakan hukum terhadap tindak pidana pertambangan golongan C tanpa izin di Kota Kendari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penegakan hukum terhadap tindak pidana pertambangan tanpa izin dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum di bidang pertambangan."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan43 halaman

Penegakan Hukum Pertambangan Ilegal Kendari

Proposal penelitian ini membahas studi kasus penegakan hukum terhadap tindak pidana pertambangan golongan C tanpa izin di Kota Kendari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penegakan hukum terhadap tindak pidana pertambangan tanpa izin dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum di bidang pertambangan."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI KASUS PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA

PERTAMBANGAN GOLONGAN C TANPA IZIN DI KOTA KENDARI

PROPOSAL PENELITIAN

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Ujian Proposal Gelar Sarjana
Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo

OLEH:

ANDI SURYA SAPUTRI


H1A119398

BAGIAN HUKUM PIDANA


JURUSAN ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HALUOLEO
2022

i
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL …………………………………………… i
HALAMAN PENGESAHAN …………..………………………. ii
DAFTAR ISI………………………………………………………. iii

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ……………………….……………….. 4
C. Tujuan Penelitian ………………………………………… 4
D. Manfaat Penelitian ………………………………………. 4
E. Keaslian Penelitian……………………………………….. 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Tentang Tindak Pidana…………………………. 8
1. Pengertian Tindak Pidana……………………………… 8
2. Unsur unsur tindak pidana ……………………………. 10
3. Macam Macam Delik ………………………………… 12
B. Tinjauan Umum Pertambangan…………………………… 14
1. Pengertian Pertambangan ……………………………. 14
2. Golongan Pertambangan……………………………... 14
3. Asas asas pertambangan …………………………….. 18
4. Jenis tindak pidana dalam Pertambangan…………… 23
5. Izin usaha pertambangan…………………………….. 29
6. Sumber Hukum Pertambangan ……………………… 31
C. Subjek pidana dalam tindak pidana di bidang 32
pertambangan…………………………………………….. 32
1. Orang Perorangan …………………………………. 32
2. Badan hukum………………………………………. 35
D. Kewenangan Pemerintah Dalam Pemberian Izin Tambang 35

ii
E. Tinjauan Umum Penegakan Hukum …………………….. 35
1. Pengertian Penegakan Hukum……………………….. 35
2. Faktor faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum
BAB III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian………………………………………….. 37
B. Pendekatan Hukum……………………………………… 37
C. Sumber Bahan Hukum………………………………….. 37
D. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum…………………….. 39
E. Analis Bahan Hukum…………………………………….. 39
DAFTAR PUSTAKA

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan Sumber Daya Alamnya yang

di hasilkan dari perut bumi Indonesia yang tersedia begitu melimpah dan dapat digunakan

sebagai mana mestinya. Dalam hal ini Indonesia sebagai negara yang berlandaskan

Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 mengatur dan mengelola sumber daya alam agar

menjamin kesejahteraan rakyat dengan mempertimbangkan kelestarian dan keseimbangan

Lingkungan hidup. Menurut pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menjelaskan bahwa “ Bumi dan

air dan kekayaan alam yang terkandung didalaminya di kuasai oleh negara dan

dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat”

Pertambangan atau penggalian merupakan suatu usaha untuk menggali potensi

potensi yang terkandung dalam perut bumi, menurut Undang Undang nomor 3 tahun 2020

pasal 3 tentang pertambangan mineral dan batu bara menjelaskan bahwa pertambangan

adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka, pengelolaan dan pengusahaan

mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,

konstruksi, penambangan, pengolahan dan atau pemurnian atau pengembangan dan atau

pemanfaatan, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang pertambangan

juga tidak lepas dengan izin – izin pertambangan yang di atur dalam undang – undang

Republik Indonesia. 1

Dalam hal ini hukum pertambangan yang sebagaimana di atur dalam Undang –

Undang nomor 4 Tahun 2009 menjelaskan bahwa “hukum pertambangan Indonesia

merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang

1
Nova Yanti Siburian, ‘Penegakan Hukum Terhadap Pertambangan Pasir Bahan Galian c Di Kabupaten
Kuantan Singingi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan’, 3.2 (2016), 1–15.
1
mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu

pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi

perekonomian nasional dalam usaha mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat

secara berkeadilan.2

Kegiatan pertambangan baik yang dilakukan oleh perorangan atau pun badan usaha

harus memiliki Izin pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagaimana yang

sebutkan pada ketentuan pasal 35 ayat (3) Undang Undang nomor 3 tahun 2020 perubahan

atas undang undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara

yang menyatakan bahwa izin pertambangan sebagaimana yang di maksud adalah :a IUP:,

b. IUPK sebagaimana kelanjutan operasi Kontrak Perjanjian ; d. IPR, SIPB dan izin

penuangan serta izin pengangkutan dan penjualan yaitu IUPJP dan IUP untuk penjualan.

Terkait dengan kegiatan pertambangan tanpa , zin Dengan tidak adanya surat izin

pertambangan dari pemerintah setiap jenis penambangan mineral dan batu bara menjadi

tindakan yang ilegal atau disebut dengan (ilegal mining) yang merupakan perbuatan atau

peristiwa pidana. Tindak pidana pertambangan adalah perbuatan yang dilarang oleh

peraturan yang dikenakan sanksi bagi pelaku perbuatan, guna perlindungan kegiatan dan

usaha pertambangan mineral dan batubara.3

Dalam undang Undang Minerla perlanggaran tindak pidana pertambangan

sebagaimana di atur dalam undang – undang nomor 4 tahun 2009 menjelaskan pasal yang

terkait tindak pidana yang dimaksud dalam 158 UU No. 3 Tahun 2020 tentang

Pertambangan Mineral dan Batubara yang berbunyi :“Setiap orang yang melakukan

Penambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana

2
Ketentuan Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2009, Tentang Pertambangan Mineral Dan Batu Bara, .
3
Herman Herman and others, ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penambangan Mineral Di
Kawasan Hutan Tanpa Izin’, Halu Oleo Legal Research, 4.2 (2022), 261–75
<[Link]
2
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus

miliar rupiah).”.4

Kegiatan pertambangan tanpa izin saat ini masih sangat banyak terjadi salah satunya

di Provinsi Sulawesi Tenggara Khususnya di Kota Kendari, Kelurahan Nambo.

Berdasarkan data kepolisian terdapat 175 kasus pertambangan ilegal dalam awal tahun

2023. Dalam kasus yang terjadi terdapat dua orang yang di tetapkan sebagai tersangka

dalam pertambangan ilegal ini yang menyangkut PT Net dua, namun dalam kegiatan

pertambangan ini pihak PT Net dua tidak mengantongi Izin pertambangan, sebelum di

lakukan penyegelan oleh Pemkot Kendari telah memberikan peringatan keras dan

mengancam akan menghentikan aktivitas penambangan jika pemilik lahan penambangan

tidak melengkapi dokumen pendukung usahanya, karena perusahan tambang galian C di

Kelurahan Abeli , Kecamatan Nambo, Kota Kendari,5.

Salah satu tindak pidana pertambangan yang di lakukan dengan tanpa izin adalah

yang di lakukan oleh PT net di Kabupaten Nambo yang di mana pada tanggal 23 maret 2022

yang bertempat di Nambo yang ditemukan oleh pemkot Kota Kendari yang melakukan

pengecekan terhadap kegiatan pertambangan menemukan bahwa di duga PT net telah

melakukan pertambangan Golongan C tanpa izin dengan melakukan alat berat jenis

Excavator. Berdasarkan hal tersebut di duga Pt net mengerjakan tambang ilegal ini sudah

dari tahun 2019 silam, lokasi pertambangan dilakukan di Namnbo dengan pertambangan

golongan C yang menyangkut pada pengangkutan, dan ekspor, selanjutnya PT net tersebut

di nilai telah melanggar aturan pemerintah [Link] Kota Kendari Nomor 1 tahun 2012 ,serta

peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014, tentang pengelolaan Limba bahan berbahaya,

4
Ketentuan Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2009, Tentang Pertambangan Mineral Dan Batu Bara,pasal
158 .
5
Frianto Didik,2023” 2023 ‘Kasus Pertambangan Di Konut Sulawesi Tenggara’, Antara
Sultra (Kendari,)
3
serta sangat bertentangan dengan UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral

dan Batu Bara.

Dengan tidak mengantongi izin pertambangan tersebut maka PT Net diduga telah

melakukan tindak pidana pada undang – undang minerba dalam pasal 158 Undang Nomor

4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, bahwa Setiap orang yang

melakukan usaha pertambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1) atau ayat (5)

dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak

Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)

Dalam pertambangan ilegal golongan C ini memberikan dampak yang negatif

terhadap lingkungan khususnya dapat mencemari lingkungan area sekitar pertambangan

dan juga dapat mengganggu akses jalan utama warga, dalam hal tersebut tentu selain

melanggar hukum yang berlaku juga sangat memberikan dampak buruk bagi masyarakat

sekitar area pertambangan dan lingkungan setempat. Berdasarkan uraian tersebut di atas

maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan Judul ” Studi Kaus Penegakan

Hukum Terhadap Tindak Pidana Pertambangan Golongan C Tanpa Izin di Kota Kendari

Tahun 2023 “.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana penerapan hukum pada pertambangan ilegal golongan C tanpa izin di Kota

Kendari ?.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah maka pada tujuan penelitian ini adalah

1. untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya pertambangan golongan C tanpa izin di

kota kendari

4
2. serta pencegahan hukum yang dilakukan terhadap pertambangan golongan C tanpa izin

di Kota Kendari

D. Manfaat Penelitian

Salah satu manfaat pada penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan

keilmuan dalam bidang hukum kehsusunya konstruksi hukum pidana mengenai hukum

terhadap kegiatan pertambangan ilegal golongan C dan mampu memberikan peran pada

praktek penegakan hukum. Serta manfaat lainnya yang dapat diperoleh dari peneltiian

ini adalah sebagai berikut :

1. Secara Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat pada pengembangan

pengetahuan dalam bidang ilmu Hukum khususnya pada hukum pidana

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan

kepada mahasiswa dan masyarakat tentang hukum terhadap kegiatan

pertambangan ilegal pada golongan C

c. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi dan literatur

kepustakaan serta dapat dipakai sebagai bahan acuan dalam penelitian atau

sejenis pada tahap berikutnya tentang hukum terhadap kegiatan pertambangan

ilegal pada Golongan di Kota Kendari

2. Secara Praktis

a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan dan menambah masukan – masukan

sebagai bentuk kongkrit penulis pada pemerintah terkait hukum terhadap

pertambangan ilegal pada Golongan C

b. Diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat sehingga

masyarakat memahami dan mengetahui pengaturan hukum terhadap

penambangan ilegal golongan C.

5
E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran dari penulis Skripsi maupun Karya Ilmiah lainnya, bahwa

Penulis menemukan beberapa Karya Ilmiah yang memiliki kemiripan dengan penelitian

yang Penulis lakukan antara lain:

1. Aulia Junita dan tito Handoko yang berjudul kebijakan ekonomi politik lokal studi

pertambangan galian C tanpa izin terhadap pendapatan asli daerah dalam jurnal ini

membahas tentang kasus pertambangan pada golongan C yang menyebabkan

terjadinya eksploitasi terhadap sumber daya alam pasir dan krikil secara

besarbesaran oleh badan usaha atau perorangan yang tidak memiliki izin. Kajian

ekonomi politik lokal membahas bagaimana pemerintah daerah tersebut mampu

menghasilkan kebijakan mengenai perizinan dan pemungutan distribusi pajak daerah

terhadap pelaku usaha pertambangan sehingga bisa menjadi salah satu sumber

pendapatan asli. Dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian yang akan di angkat

penulis yang dimana pada penelitian penulis ini meninjau bagaimana kasus

pertambangan golongan C yang terjadi di Kota kendari dan bagaimana penerapan

hukum untuk mencegah terjadinya pertambangan ilegal golongan C.

2. Penelitian Nova santi Siburian yang berjudul penegakan hukum terhadap

pertambangan pasir dan bahan galian C di Kabupaten Kuatan Singgi Berdasarkan

Undang – undang Nomor 4 tahun 2009 dalam penelitian ini membahas . Faktor apa

saja yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku

penambangan pasir bahan galian C illegal di Kabupaten kuantan Singingi, dalam

penelitian ini berbeda dengan yang akan di angkat penulis yang dimana pada

penelitian penulis ini meninjau bagaimana kasus pertambangan golongan C yang

terjadi di Kota kendari dan bagaimana penerapan hukum untuk mencegah terjadinya

pertambangan ilegal golongan C

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan tentang Tindak Pidana

1. Pengertian Tindak Pidana

Dalam kitab undang – undang Hukum Pidana (KUHP) tindak pidana dapat di

istilahkan sebagai Strafbaarfeit dalam kepustakaan tentang hukum pidana sering

mempergunakan istilah delik, sedangkan pembuat Undang undang merumuskan suatu

undang - undang mempergunakan istilah peristiwa pidana atau perbuatan pidana atau

tindak Pidana.6

istilah Strafbaarfeit adalah peristiwa yang dapat dipidana atau perbuatan yang

dapat dipidana. Sedangkan delik dalam bahasa asing disebut delict yang artinya suatu

perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman (pidana). Istilah delik (delict)

dalam bahasa Belanda di sebut starfbaarfeeit di mana setelah diterjemahkan ke dalam

bahasa Indonesia, oleh beberapa sarjana hukum diartikan secara berlain-lainan sehingga

otomatis pengertiannya berbeda.7

Dalam istilah lain dikatakan bahwa Tindak pidana adalah perbuatan yang

melanggar larangan yang diatur oleh aturan hukum yang di ancam dengan sanksi

pidana.8 Dalam pendapat ahli hukum menggemukkan beberapa definisi tentang tindak

pidana seperti yang dikemukakan oleh Pompe, “strafbaar feit” secara teoritis dapat

merumuskan sebagai suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang

dengan sengaja ataupun dengan tidak disengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, di

6
[Link] Wahyuni, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Perpustakaan Nasional, [Link] 35
7
Fitri [Link]. hlm 39
8
Tofik Yanuar Chandra, Hukum Pidana, ed. by Yasmon Putra (Jakarta: PT Sanggir Multi Usaha,
2020),HLM 21.
7
mana penjatuhan terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib

hukum dan terjaminnya kepentingan hukum. 9

Menurut Indiyanto Seno Adji tindak pidana adalah perbuatan seseorang yang

diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan yang

bagi pelakunya dapat di pertanggungan jawabkan atas perbuatannya.10 Menurut Vos

adalah salah satu diantara para ahli yang merumuskan tindak pidana secara singkat,

yaitu suatu kelakuan manusia yang oleh peraturan perundang-undangan pidana diberi

pidana.11

Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh beberapa ahli dapat di

simpulkan bahwa Tindak pidana adalah suatu perbuatan manusia yang bertentangan

dengan hukum, diancam dengan pidana oleh Undang undang perbuatan mana dilakukan

oleh orang yang dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dipersalahkan pada si

pembuat.

Untuk itu seseorang dengan pelanggaran tindak pidana yang dilakukan oleh

seseorang dapat di proses dengan hukum yang berlaku di suatu negara, hal ini terkait

juga dengan unsur – unsur tindak pidana yang terkandung didalamkan.

2. Unsur Unsur Tindak Pidana

Menurut D simons yang menganut aliran monitis membedahkan unsur unsur

tindak pidana sebagai berikut :

Simons membedakan unsur-unsur tindak pidana menjadi unsur objektif dan unsur

subjektif. Unsur objektif dalam tindak pidana meliputi:

1. perbuatan orang;

9
Erdianto efendi, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar (Bandung: Pt Refika Aditama, 2014).Hlm
159
10
Indriyanto Seno, Korupsi Dan Hukum Pidana, ed. by Oemar Seni Adji (Jakarta: Kantor Pengacara dan
Konsultasi Hukum, 2002).hlm 155
11
Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana Edisi Revisi (Jakarta: Rineka Cipta, 2004).hlm97
8
2. Akibat dari perbuatan itu

3. mungkin ada keadaan tertentu yang menyertai perbuatan itu, seperti di muka

umum (openbaar) pada Pasal 181 KUHP.

Sementara itu, unsur subjektif dalam tindak pidana itu mencakup:

1. orang yang mampu bertanggung jawab;

2. adanya kesalahan (dolus ataupun culpa).12

Pendapat lain mengenai unsur – unsur di bedakan berdasarkan unsur objektif dan

subjektif yang dimana Menurut doktrin, unsur unsur tindak pidana terdiri atas unsur

subjektif dan unsur objektif. Terhadap unsur-unsur tersebut dapat dikemukakan sebagai

berikut :

a. Unsur Subjektif
Menurut Lamintang (2014) menjelaskan bahwa unsur subjektif adalah unsur

yang melekat dan berhubungan dengan diri pelaku dan termaksud dalam segala

sesuatu yang terkandung dalam hati dari si pelaku, unsur unsur subjektif dari suatu

tindak pidana adalah

1) Kesengajaan atau ketidak sengajaan (dolus atau culpa)

2) Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang

dimaksud di dalam Pasal 53 Ayat 1 KUHP

3) Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam

kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain lain

4) Merencanakan terlebih dahulu atau voordebachte raad seperti yang misalnya

yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP;

12
Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar (Bandung: PT Rika Refika Aditama,
2019).hlm 233
9
5) Perasaan takut atau vrees seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan

tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP. 13

b. Unsur Objektif
Lamintang dan Theo Lamintang (2014) menjelaskan bahwa yang dimaksud

unsur-unsur objektif itu adalah unsur unsur yang ada hubungannya dengan keadaan,

yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan si pelaku itu harus

dilakukan. Unsur-unsur objektif dari suatu tindak pidana itu adalah:

1) Sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid

2) Kualitas dari si pelaku, misalnya “keadaan sebagai seorang pegawai negeri‘ di

dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau “keadaan sebagai

pengurus atau komisaris dari suatu perseroan terbatas” di dalam kejahatan

menurut Pasal 398 KUHP

3) Kausalitas, yakni hubungan antara suatu tindakan sebagai penyebab dengan

sesuatu kenyataan sebagai akibat.14

3. Macam macam Delik

Delik di artikan sebagai suatu tindakan yang melanggar hukum yang telah

dilanggar sengaja atau pun tidak sengaja oleh seseorang atau kelompok yang perlu

tertanggung jawabkan dan oleh undang – undang dinyatakan sebagai suatu tindakan

yang dapat hukum. Berikut beberapa delik.15

1) Delik kejahatan adalah perbuatan yang biasanya disebut delik Hukuman, ancaman

Hukumannya lebih berat.

13
Aldiranto Munir, ‘Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Kegiatan Penambangan Di Luar WIlayah
Izin Usaha Pertambagan (WIUP)’ (Universitas Hasanuddin, 2020).
14
[Link] Cit 46
15
Ilham Darwis,2022, ‘Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Pertambangan Tanpa Izin ’ (Universitas
Hasanudin, 2022).hlm 14.
10
2) Delik pelanggaran atau delik Undang Undang adalah perbuatan yang ancaman

hukumannya memberi alternatif bagi setiap pelanggannya

3) Delik formil merupakan delik yang selesai, yaitu tindak pidana atau perbuatan yang

dilarang merupakan perbuatan itu sendiri tanpa melihat akibat dari perbuatannya.

4) Delik materil adalah delik yang melarang akibat dari perbuatan yang menjadi tujuan

si pelaku tindak pidana.

5) Delik umum adalah suatu delik yang berlaku secara umum dan dapat dilakukan oleh

siapa saja.

6) Delik khusus hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu dalam kualitas tertentu

dalam kualitas tertentu.

7) Delik biasa merupakan perbuatan yang tidak memerlukan adanya pengaduan untuk

dapat diproses atau karena kewajiban aparat negara untuk melakukan tindakan

8) Delik dolus merupakan perbuatan atau tindak pidana yang dilakukan secara sengaja

atau ada niat.

9) Delik kulpa adalah perbuatan atau tindak pidana yang dilakukan secara tidak sengaja

atau akibat dari kelalaian si pelaku tindak pidana

10) Delik berkualifikasi merupakan tindak pidana yang disertai dengan keadaan tertentu

yang menyertai perbuatan itu sehingga tindak pidana tersebut diperberat.

B. Tinjauan Umum Pertambangan

1. Pengertian Pertambangan

Istilah terdiri dari dua suku ialah tambang dalam kamus besar bahas

Indonesia (KBBI) tambang adalah cebakan, parit serta lubang sedangkan Istilah

pertambangan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) pertambangan di artikan

sebagai suatu pekerjaan yang berkaitan dengan tambang, jadi dapat di katakan

11
bahwa pertambangan adalah suatu kegiatan menggali potensi bumi dengan galian

untuk di keluarkan.16

Menurut Undang undang nomor 3 tahun 2020 tentang pertambangan mineral

dan batubara pasal 1 angka (1), pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan

dalam rangka penelitian, pengolahan dan pengusahaan mineral dan batu bara. Dalam

pengertian ini memberikan pemahaman bahwa aktifitas pertambangan adalah

keseluruhan sejak pra penambangan sampai proses pasca tambang.

2. Golongan Pertambangan

Dalam Undang-undang Pertambangan Republik Indonesia No 37 Tahun1960 juncto

Undang-undang Pokok Pertambangan Republik Indoesia No 11 Tahun1967 pasal 3,

yang menyebutkan penggolongan bahan galian sebagai berikut :

a. Bahan galian golongan A, merupakan (bahan galian strategis), adalah bahan

galian yang mempunyai peranan penting untuk kelangsungan kehidupan negara

misalnya : minyak bumi, gas alam, batu bara, timah putih, besi, nikel, bahan

galian jenis ini di kuasai oleh negara

b. Bahan galian golongan B, merupakan (bahan galian Vital), adalah bahan galian

yang mempunyai peranan penting untuk kelangsungan kegiatan perekonomian

negara dan dikuasai oleh negara dengan menyertakan rakyat misalnya : emas,

perak, intan, timah hitam, belerang, air raksa, bahan galian ini dapat diusahakan

oleh badan usaha milik negara ataupun bersama-sama dengan rakyat.

c. Bahan galian golongan C, (bukan merupakan bahan galian strategis ataupun

Vital), karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat

16
Arifin Tasrif, Kebijakan Mineral & Batubara Indonesia (Jakarta: PT Rineka, 2021).
12
internasional. Contohnya marmer, batu kapur, tanah liat, pasir, yang sepanjang

tidak mengandung unsur mineral17.

3. Asas – Asas Pertambangan

Dalam pasal 2 Undang-Undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan

mineral dan batubara telah ditentukan asas-asas hukum pertambangan mineral dan

batubara. Ada tujuh asas hukum pertambangan mineral dan batubara. Ketujuh asas

itu meliputi : 18

a. Manfaat

Asas manfaat merupakan asas di mana di dalam pengelolaan sumber

daya mineral dan batubara dapat memberikan kegunaan bagi kesejahteraan

masyarakat banyak. Asas ini sesuai dengan konsep yang dikembangkan Jeremy

Bentham. Hukum harus memberikan manfaat atau kegunaan bagi orang banyak

(to serve utility). Konsep utility yang dikembangkan oleh Jeremy Bentham

adalah dimaksudkan untuk menjelaskan konsep kebahagiaan atau

kesejahteraan. Sesuatu yang dapat menimbulkan kebahagiaan ekstra adalah

sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang menimbulkan sakit adalah buruk.

Aksi-aksi pemerintah harus selalu diarahkan untuk meningkatkan kebahagiaan

sebanyak mungkin orang (the greatest happiness principle).

b. Keadilan

Asas keadilan merupakan asas dalam pengelolaan dan manfaat mineral

dan batubara di mana di dalam pemanfaatan itu harus memberikan hak yang

sama rasa dan rata bagi masyarakat banyak. Masyarakat dapat diberikan hak

untuk mengelola dan memanfaatkan mineral dan batubara, dan juga dibebani

17
Ketentuan Undang undang Pertambangan Nomor 37 tahun 1967 tentang pertambangan republik
Indonesian Pasal 3.
18
Ketentuan undang - undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu [Link] 2.
13
kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Selama ini, masyarakat

kurang mendapat perhatian karena pemerintah selalu memberikan hak istimewa

kepada perusahaan-perusahaan besar dalam mengelola sumber daya mineral

dan batubara.

c. Keseimbangan

Asas keseimbangan adalah suatu asas yang menghendaki bahwa dalam

pelaksanaan pertambangan mineral dan batubara harus mempunyai kedudukan

hak dan kewajiban yang setara dan seimbang antara pemberi izin dengan

pemegang izin. Pemberi izin dapat menuntut hak-haknya kepada pemegang

izin, apakah itu IPR, IUP, maupun IUPK. Bagitu juga pemegang izin dapat

menuntut haknya kepada pemberi izin supaya pemberi izin dapat melaksanakan

kewajibannya, seperti memberi pembinaan dan pengawasan terhadap

pemegang izin. Ini berarti keseimbangan dalam hak dan kewajiban.

d. Keberpihakan kepada kepentingan bangsa

Asas keberpihakan kepada kepentingan bangsa adalah asas bahwa

dalam pelaksaaan pertambangan mineral dan batubara, bahwa pemerintah, baik

pemerintah pusat maupun pemerintah daearah harus memihak atau pro kepada

kepentingan bangsa yang lebih besar. Ini berarti bahwa kepentingan bangsa

yang harus diutamakan dibandingkan dengan kepentingan dari para investor.

Namun, demikian pemerintah juga harus memerhatikan kepentingan investor.

e. Partisipatif

Asas partisipatif merupakan asas bahwa dalam pelaksanaan

pertambangan mineral dan batubara, tidak hanya peran serta pemberi dan

pemegang izin semata-mata, namun masyarakat, terutama masyarakat yang

berada di lingkaran tambang harus ikut berperan serta dalam pelaksanaan

14
kegiatan tambang. Ujud peran serta masyarakat, yaitu masyarakat dapat ikut

bekerja pada perusahaan tambang, dapat menjadi pengusaha maupun

distributor.

f. Transparansi

Asas transparansi, yaitu asa bahwa dalam pelaksanaan pertambangan

mineral dan batubara harus dilaksanakan secara terbuka. Artinya setiap

informasi yang disampaikan kepada masyarakat oleh pemberi dan pemegang

izin harus disosialisasikan secara jelas dan terbuka kepada masyarakat.

Misalnya, tentang tahap-tahap kegiatan pertambangan, kebutuhan tenaga kerja,

dan lainnya.

g. Akuntabilitas

Asas akuntabilitas, yaitu setiap pertambangan mineral dan batubara

harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat degan memperhatikan rasa

keadilan dan kepatutan. Asas akuntabilitas ini erat kaitannya dengan hak-hak

yang akan diterima oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah

daerah yang bersumber dari kegiatan pertambangan mineral dan batubara.

Misalnya, pemegang IUPK memberikan keuntungan kepada pemerintah daerah

sebesar 1 %, maka penggunaan uang tersebut harus dapat dipertanggung

jawabkan kepada rakyat, dalam hal ini adalah DPRD, baik kebupaten/kota

maupun provinsi.

h. Berkelanjutan dan berwawasan lingkungan

Asas berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah asas yang secara

terencana mengintegrasikan dimensi ekonomi, lingkungan, dan social budaya

dalam keseluruhan usaha pertambangan mineral dan batubara untuk

mewujudkan kesejahteraan masa kini dan masa yang akan datang.

15
4. Jenis Tindak Pidana dalam Pertambangan

Dalam UU Pertambangan selain mengenal adanya tindak pidana illegal mining

juga terdapat bermacam-macam tindak pidana lainnya, yang sebagian besar yang

ditujukan kepada pelaku usaha pertambangan, dan hanya satu macam tindak pidana yang

ditujukan kepada pejabat penerbit izin di bidang pertambangan. Tindak pidana tersebut

adalah sebagai berikut

a. Tindak pidana melakukan pertambangan tanpa izin.

Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat dari pemerintah yang melindungi

bangunan, udara, dan kekayaan alam yang digunakan, yang juga dikenal sebagai

tambang. Akibatnya, sekelompok orang terpilih yang mampu melakukan

kegiatan perolehan sumber daya alam disebut "wajib" oleh pemerintah atau

pemerintah.19 Dalam hal yang bersangkutan tidak memiliki izin, maka

prosedurnya sama dengan yang dilakukan dalam Pasal 158 UU No. 4 Tahun 2009

tentang Pertambangan mineral dan batubara. yang berbunyi "setiap orang yang

melakukan usaha penambangan tanpa IUP, HKI, atau IUPK sebagaimana

dimaksud Pasal dalam 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74

ayat (1) atau (5) dipidana dengan pidana penjara layu lama 10 tahun dan denda

layu banyak Rp [Link],00 (sepuluh miliar)".20

b. Tindak pidana menyampaikan data laporan keterangan palsu.

Data atau keterangan-keterangan yang dibangun oleh pengguna, seperti

data kajian, laporan kegiatan penyelesaian, dan laporan penjualan hasil tambang,

digunakan dalam proses pembuatan kegiatan pertambangan agar dapat

19
[Link] Cit hlm 245
20
Ketentuan pasal 158 Undang undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara
16
digunakan. Perbuatan memberikan data atau laporan yang tidak benar sanksinya

sudah diatur dalam Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan Surat.21 Oleh karena itu

pemalsuan suratnya dibidang pertambangan dan sudah diatur secara khusus,

terhadap pelakunya dapat di pidana berdasarkan Pasal 159 UU pertambangan

yang dapat di pidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda

paling banyak Rp [Link],00 (sepuluh milyar) .22

c. Tindak pidana melakukan ekplorasi tanpa hak.

Pada dasarnya untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan wajib

memiliki izin dan setiap izin yang dikeluarkan ada 2 kegiatan yang harus

dilakukan yaitu untuk ekplorasi dan ekploitasi. Kegiatan eksplorasi meliputi

penyelidikan umum, eksplorasi dan studi kelayakan. Yang dimaksud eksplorasi

adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi

secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran kualitas, dan

sumber daya terukur dari bahan galian serta informasi mengenai lingkungan

sosial dan lingkungan hidup (Pasal 1 angka 15) Oleh karena melakukan kegiatan

eksplorasi pertambangan didasarkan atas izin yang dikeluarkan pemerintah yaitu

IUP atau IUPK, maka ekplorasi yang dilakukan tanpa izin tersebut merupakan

tindakan pidana yang diancam hukuman berdasarkan Pasal 160 ayat 1 UU No. 4

tahun 2009 di pidana dengan pidana kurungan paling lama satu tahun atau denda

paling banyak Rp200.000.000,00 (Dua ratus juta rupiah) .23

d. Tindak pidana sebagai pemegang IUP eksplorasi tidak melakukan kegiatan

operasi produksi

21
[Link] Cit hlm 248
22
Ketentuan pasal 159 Undang undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara
23
Ketentuan pasal 160 Undang undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara

17
Sesuai dengan prinsip ini, mereka yang melakukan kegiatan

penambangan melakukan kegiatan penambangan dengan melakukan kegiatan

penambangan dengan melakukan kegiatan penambangan dengan melakukan

kegiatan penambangan dengan melakukan kegiatan penambangan untuk

mencapai hasil 39 tambang kemudian dijual dan akan memperoleh keuntungan.

Selain itu, penggunaan kegiatan pertambangan berkontribusi pada kegiatan

eksploitasi dan eksploitasi. Meskipun ada dua langkah yang terlibat dalam

pelaksanaan penggunaan pertambahan, pelaksanaan kegiatan pekerja harus

dilakukan dengan cara yang terutama bersifat eksploitatif. Akibatnya, pelaksana

IUP yang melakukan penelitian tidak akan dapat melakukan operasi produksi

hingga produk IUP tersebut digunakan.24

e. Tindak pidana pencucian barang tambang

Istilah "pencucian uang" atau "dicuci" mengacu pada praktik mencuri

uang dari rekening bank milik sendiri untuk mendapatkan uang yang sebelumnya

dicuri. Selain itu, pertambangan dapat digunakan untuk menghindari tambang,

dan gelap penambang dapat digunakan bersamaan dengan parapenambang yang

dilengkapi izin untuk memfasilitasi transaksi sah tambang. Tindak pidana

pencucian barang tambang dalam UU No.4 tahun 2009 di pidana dengan pidana

penjara layu lama 10 tahun dan denda banyak Rp10.000.000.000,00 Untuk dapat

membongkar kejahatan tersebut tentu saja tidak 40 mudah karena pada umumnya

penambangan dilakukan di daerah pedalaman yang biasanya jauh dari keramaian

dan sepi petugas, sehingga dibutuhkan adanya pengawasan intensif dengan

kerjasama antara aparat kementerian pertambangan, pemerintaah daerah

setempat, dan kepolisian

24
Ketentuan pasal 159 Undang undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara .
18
f. Tindak pidana menghalangi kegiatan usaha pertambangan

Pengusaha Pertambangan yang telah diberikan kepada orang yang

bingung dapat digunakan untuk melaksanakan tugas di lokasi yang dipilih.

Karena adanya gangguan dari masyarakat setempat, usaha pertambangan

terkadang tidak dapat berjalan lancer dalam melaksanakan kegiatan

terkadang..Gangguan tersebut di atas antara lain dapat dijumpai karena

terbentuknya jalan rusak akibat kendaraan-kendaraan berat, sungai, dan sawah

tertutup tanah galian, tanaman rusak, dan lain-lain. Senjata yang paling umum

adalah protes, yang dapat dilukai dengan berbagai cara untuk mencegah

penetrasi. Perbuatan yang menyebabkan tercapainya tujuan tersebut adalah

tindak pidana yang didaftarkan berdasarkan Pasal 162 UU No. 32 tahun yang

lalu, di Filipina, dengan kurungan lebih dari satu dekade dan jumlah yang sangat

besar yaitu Rp. 100.000.000,00,-. Terlepas dari kenyataan bahwa proyek tersebut

tidak dapat diselesaikan, itu dapat digunakan sebagai dasar untuk analisis psiko,

yang memungkinkan perkiraan risiko yang lebih akurat yang akan terlibat. Selain

itu, dalam hal keterlambatan pelaksanaan proyek setelah tertunda mengakibatkan

penggunaannya untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

g. Tindak pidana yang pelakunya badan hukum

Yang dimaksud dengan "badan hukum" adalah sekelompok orang yang

bekerja pada suatu organisasi tertentu dan dipekerjakan oleh umum selama

setahun. Ketika tindakan organisasi diambil oleh publik, itu menjadi masalah.

Ketika karyawan perusahaan tidak senang, tindakan mereka diambil oleh anggota

HUKU dan HAM dan dilaksanakan oleh pemerintah RI. Ketika hal buruk terjadi,

pengurus melakukannya. Terlepas dari kenyataan bahwa orang jahat itu adalah

laki-laki, orang jahat itu tetap bisa makan dan minum seperti laki-laki. Karena

diatur dalam Pasal 163 ayat 1 UU No 4 Tahun 2009, maka pidana terkecil Badan
19
Hukum Pertambangan dapat dianggap sebagai pelaku pidananya. Jika ada hukum

yang buruk, hukum yang buruk dapat ditemukan di pengadilan, tetapi hukuman

yang ditemukan di penjara, serta hukuman yang ditemukan di pengurus, dapat

ditemukan di pengurus. Akibatnya, badan hukum diwakili oleh pidana dengan

pemberatan 1/3 dari nilai pidana minimum yang ditetapkan. Kemudian hakim

juga dapat menjatuhkan hukuman tambahan terhadap badan hukum berupa

pencabutan izin usaha dan/atau pencabutan status badan hukum.

5. Izin Usaha Pertambangan

Ada tiga jenis usaha pertambangan: Izin Usaha Pertambangan, Izin Usaha

Pertambangan Rakyat, dan Izin Usaha Pertambangan Khusus. Ada dua jenis Izin

Usaha Pertambangan: Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi dan Izin Usaha

Pertambangan Operasi Produksi. Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi berfungsi

sebagai landasan untuk penelitian, analisis, dan kajian. Izin Usaha Pertambangan

Operasi Produksi meliputi konstruksi, produksi, distribusi, dan distribusi, serta

produksi dan distribusi. Izin Usaha Pertambangan ini dapat digunakan oleh dunia

usaha, karyawan, maupun perorangan.25

a. Izin Usaha Pertambangan (IUP)

Izin Usaha Pertambangan (IUP) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23

Tahun 2009 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara

terdiri atas dua tahap yakni Izin Usaha Pertambangan(IUP) Eksplorasi dan perizinan

pertambangan Operasi Produksi. Perizinan pertambangan Eksplorasi meliputi kegiatan

penyelidikan umum, eksplorasi, dan studi kelayakan. Sedangkan perizinan

pertambangan Operasi Produksi meliputi kegiatan konstruksi, penambangan,

pengelolaan, dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan. pemegang IUP

25
Thelisia Kristina,2014 ‘Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Pertambangan Mineral Dan Batu Bara (
Minerba ) Di Kabupaten Pandeglang Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor’, Jurnal Hukum Adigama, 3.1),
1–9.
20
Eksplorasi maupun IUP Operasi produksi memiliki hak untuk dapat melakukan seluruh

atau sebagian kegiatan tambang karena telah memenuhi ketentuan wajib yang

dipersyaratkan di dalam Peraturan Perundang-undangan. Pemberlakuan Peraturan

Pemerintah tentang pertambangan minerba secara jelas memperlihatkan bahwa

pengelolaan dan pertambangan-pertambangan mineral dan batubara merupakan satu-

satunya cabang produksi penting bagi Negara, sehingga pengelolaannya harus sesuai

dengan peraturan agar tidak merusak lingkungan sekitar dan terlebih lagi untuk

menciptakan kesejahteraan rakyat.26

Dalam hal ini pemberian surat Izin pertambangan dapat diberikan kepada

pihak – pihak yang terkait dalam hal ini adalah badan usaha yang meliputi badan

usaha milik Negara (BUMN) dan badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta

Koperasi dan perseorangan yang dapat berupa orang atau perseorangan

perusahaan dan perusahaan komanditer. 27

1) Badan Usaha

Badan Usaha adalah badan hukum yang didirikan oleh rakyat Indonesia dan

merupakan bagian dari Majelis Nasional Republik Indonesia. Badan usaha yang

dimaksud dapat berupa badan usaha swasta, BUMN, atau BUMD. Jenis badan usaha

swasta ini bertanggung jawab atas badan usaha swasta dalam kerangka modal

nasional atau internasional.28

2) Koperasi

Yang dimaksud dengan koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang

perseorangan atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para

26
Iswadi Amiruddin, Muhammadiah, and Anwar Parawangi, ‘Implementasi Kebijakan Izin Usaha
Pertambangan Mineral Dan Batubara Di Kabupaten Kolaka’, [Link], 1.1 (2020), 313–
27
Rehan,2010 Ada Tiga Jenis Usaha Pertambangan: Izin Usaha Pertambangan, Izin Usaha
Pertambangan Rakyat, Dan Izin Usaha Pertambangan Khusus. Ada Dua Jenis Izin Usaha Pertambangan: Izin
Usaha Pertambangan Eksplorasi Dan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi. Izin Us (Jakarta timur,
2010).hlm 24
28
Subakti Asti, ‘Kualitas Pelayanan Izin Usaha Jasa Pertambangan di Inas Energy dan Sumber daya
Mineral’, Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents (Muhammadiyah Makassar, 2021).hlm 22
21
anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan

kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan

prinsip Koperasi.29.

3) Perseorangan dalam hal ini dapat berupa orang perseorangan Warga Negara

Indonesia, perusahaan firma, atau perusahaan komanditer.

Pasal 37 UU Minerba mengatur pejabat yang berwenang menerbitkan IUP. Tiga

pejabat telah diberi wewenang untuk menerbitkan IUP eksplorasi. Ketiga pejabat

tersebut antara lain

1) Bupati, jika Wilayah Izin Usaha Pertambangan (Selanjutnya disingkat WIUP)

yang dimohon berada di Kabupaten / Kota, Kabupaten / Walikota berhak

menerbitkan izin pertambangan mineral dan batubara yang diminta pemohon.

Bupati / Walikota hanya dapat menerbitkan IUP operasi produksi dengan

ketentuan sebagai berikut

2) Gubernur, apabila WIUP berada dalam satu wilayah / kota dalam satu (satu)

provinsi, gubernur berhak menerbitkan izin usaha pertambangan mineral dan

batubara yang diminta oleh pemohon. Kondisi ini setelah adanya rekomendasi

bupati / walikota setempat sesuai peraturan daerah. Gubernur berhak

menerbitkan IUP operasi produksi dengan ketentuan sebagai berikut

3) Menteri, jika WIUP berada di satu provinsi, Menteri berhak menerbitkan izin

pertambangan mineral dan batubara yang dipersyaratkan oleh pemohon.

Kondisi ini dilakukan setelah mendapat arahan dari gubernur dan bupati /

walikota setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Menteri

Energi dan Sumber Daya Mineral berhak menerbitkan IUP operasi produksi.30

b. Izin Usaha Pertambangan Rakyat (IUPR)

29
Subekti [Link] Cit hlm 22
30
Nurfitri,2021 ‘Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Menggngu Kegiatan Usaha pertambangan bagi
pemagang izin usaha pertambangan T’ (Universitas Hasanudiin,).hlm 34
22
Dalam pasal 2 huruf n Undang _undang Nomor 11 tahun 1967 tentang

ketentuan pokok pertambangan dan pengertian pertambangan rakyat adalah suatu

usaha pertambangan bahan – bahan galian dari semua golongan A,B dan C yang

dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil – kecilan atau secara gotong royong

dengan alat – alat sederhana untuk mencari penghasilan sendiri. 31 dalam Undang

– undang Nomor 3 tahun 2020 di sebutkan bahwa Izin Pertambangan Rakyat,

yang selanjutnya disebut IPR, adalah izin untuk melaksanakan Usaha

Pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas wilayah dan

investasi terbatas.32

Dalam pasal 66 dikatakan bahwa kegiatan pertambangan yang di maksud

dalam pasal 20 dikelompokkan sebagai berikut :

A. Pertambangan mineral logam

B. Pertambangan mineral bukan logam

C. Pertambangan batuan.

c. Izin Usaha Pertambangan Khusus

Izin usaha pertambangan khusus (IUPK) adalah izin untuk melaksanakan

usah pertambangan di wilayah usaha pertambangan khusus dalam hal ini pejabat

yang berwenang dalam memberikan izin IUPK adalah menteri ESDM. Izin IUPK

yang diberikan menteri ESDM dengan melalui pertimbangan serta

memperhatikan kepentingan daerah. Dalam memberikan izin ini diberikan

dengan prinsip satu atau izin tambang.

31
Meggi Okka Hadi Miharja, Andreas Dwi Setyo, and Herbowo Presetyo Hadi, ‘Implikasi Hukum Terkait
Pertambangan Rakyat Dalam Bidang Minerba Di Indonesia’, Privat Law, 2015, 97–103 <26601-ID-implikasi-
[Link]>.
32
Ketentuan Undang - Undang Nomor 3 Tahun 2022 Tentang pertambangan mineral dan batu bara
Minerba, 2020.
23
Dalam IUPK diberikan dengan beberapa pertimbangan terkait dengan

perubahan status sebuah wilayah pencadangan negara menjadi wilayah usaha

pertambangan khusus (WUPK) sebagaimana di atur dalam pasal 28 IUPK dapat

diberikan badan usaha yang berbadan hukum Berupa Badan Usaha Milik Negara

(selanjutnya disingkat BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (selanjutnya

disingkat BUMD) dan Badan Usaha Swasta. BUMN dan BUMD diutamakan dari

pada Badan Usaha Swasta untuk memperoleh IUPK. Badan Usaha Swasta

dapatkan IUPK melalui lelang WIUPK (ketentuan pasal 75 ayat (5) telah terubah

sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi).33.

6. Sumber Hukum Pertambangan

Pada dasarnya sumber hukum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu

sumber hukum materiil dan sumber hukum formal. Sumber hukum materiil ialah

tempat dari mana materi hukum itu diambil. Sumber hukum materi ini merupakan

faktor yang membantu pembentukan hukum misalnya hubungan sosial, kekuatan

politik, situasi sosial ekonomi, tradisi (pandangan keagamaan dan kesusilaan), hasil

penelitian ilmiah, perkembangan internasional dan keadaan geografis. Sumber

hukum formal merupakan tempat memperoleh kekuatan hukum. Ini berkaitan

dengan bentuk atau cara yang menyebutkan peraturan hukum formal itu berlaku.

Sumber hukum yang diakui umum sebagai hukum formal ialah undang undang,

perjanjian antarnegara, yurisprudensi, dan kebiasaan. Adapun yang menjadi sumber

hukum pertambangan yaitu:

a) Indische Mijn Wet (IMW)

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok

Agraria, dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang ketentuan ketentuan

33
Dwi Haryadi, Pengantar Hukum Pertambangan Mineral Dan Batu Bara, ed. by UBB Press, ke-1
(bangka Belitung, 2018). hlm 65
24
pokok pertambangan.34 Semua yang berkenaan dengan hukum sudah pasti

memiliki asal-usul. Asal-usul tersebut dinamakan sumber hukum yang

mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa, dan oleh karena itu sumber hukum

memberikan bayangan bahwa setiap pelanggarnya kan diberikan sanksi yang

nyata.

b) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria

Hubungan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 dengan pertambangan erat

kaitannya dengan pemanfaatan hak atas tanah untuk kepentingan pembangunan

di bidang pertambangan.

c) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok

Pertambangan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-

ketentuan Pokok Pertambangan ditetapkan pada tanggal 2 Desember 1967.

Dimana Undang-Undang ini mengedapankan prinsip pancasila.

d) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001 tentang Minyak Gas dan Bumi, Undang-

Undang ini ditetapkan pada tanggal 23 November 2001. Undang-Undang ini

bertujuan untuk melakukan reformasi disegala bidang kehidupan bangsa yang

berdasarkan pancasila dan UUD 1945.35

C. Subjek Pidana dalam Tindak Pidana di Bidang Pertambangan

Rumusan tindak pidana di dalam buku kedua dan ketiga KUHP biasanya dimulai

dengan kata barangsiapa. Ini mengandung arti bahwa yang dapat melakukan tindak

pidana pada umumnya adalah manusia. Juga dari ancaman pidana yang dapat dijatuhkan

sesuai pasal 10 KUHP, seperti pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana

denda dan pidana tambahan mengenai pencabutan hak dan sebagainya menunjukan

34
Ibid, hlm. 21
35
H. Salim, Hukum Pertambangan Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2012, h.17-21
25
bahwa yang dapat dikenai pada umumnya adalah manusia. Setiap tindak pidana pasti

akan dilakukan oleh subjek dari tindak pidana itu sendiri. Adapun Subjek dari tindak

pidana pertambangan antara lain:

1. Orang Perorangan

Perorangan adalah orang atau seorang diri yang melakukan perbuatan pidana

dibidang pertambangan. Seperti yang dijelaskan pada jenis-jenis tindak pidana

dibidang pertambangan yang menunjukan bahwa pelaku tindak pidana tersebut

adalah manusia atau orang perorangan. 36 Subjek tindak pidana yang dilakukan oleh

orang atau perseorangan adalah tindak pidana yang murni dilakukan oleh satu orang

saja.

2. Badan Hukum

Badan hukum adalah sekelompok orang yang terikat suatu organisasi yang

dipandang sebagai manusia pada umumnya. Suatu organisasi disebut badan hukum

apabila akta pendiriannya disahkan oleh pemerintah. Dalam tindak pidana dibidang

pertambangan badan hukum dapat sebagai pelaku pidananya sebagaimana yang diatur

pada pasal 163 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan

Mineral dan Batubara.37

Badan-badan hukum atau korporasi dapat dipertanggungjawabkan secara

pidana harus dikaitkan dengan strict liability, karena suatu korporasi sulit untuk

dilihat dari hal “mampu bertanggungjawab” atau melihat korporasi melakukan tindak

pidana dengan kesalahan berupa kesengajaan atau kelalaian, sehingga lebih baik

melihat korporasi yang telah melakukan tindak pidana maka hukuman pidana

merupakan suatu konsekuensi. Dimaksudkan dengan strict liability adalah

pertanggungjawaban tanpa kesalahan (liability without fault), yang dalam hal ini

36
Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, (Cet. 8 Depok: Rajawali Pers, 2017), h.54
37
Ibid, hlm 253
26
pembuat sudah dapat dipidana jika telah melakukan perbuatan yang dilarang

sebagaimana telah dirumuskan dalam undang-undang tanpa melihat lebih jauh sikap

batin pelaku.38.

D. Kewenangan Pemerintah Dalam Pemberian Izin Tambang

Berdasarkan Undang undang Nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara

hanya terdapat kewenangan pemerintah pusat. Pada ketemtuam Undang-Undang Nomor

3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara telah menghapus ketentuan

kewenangan pemerintah provinsi dan kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Dalam

ketentuan kewenangan pemerintah pusat. Berdasarkan Pasal 6 Ayat (I) Undang-Undang

Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dijelaskan bahwa

kewenangan pemerintah pusat dalam pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batubara,

berwenang sebagai berikut : 39.

a. menetapkan rencana pengelolaan Mineral dan Batubara nasional;

b. menetapkan kebijakan Mineral dan Batubara nasional;

c. menetapkan peraturan perundang-undangan;

d. menetapkan standar nasional, pedoman, dan kriteria;

e. melakukan Penyelidikan dan Penelitian Pertambangan pada seluruh Wilayah Hukum

Pertambangan;

f. menetapkan WP setelah ditentukan oleh Pemerintah Daerah provinsi sesuai dengan

kewenangannya dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik

Indonesia;

g. menetapkan WIUP Mineral logam dan WIUP Batubara;

38
Syarif Saddam Rivantie2019, Hukuman Pidana Akibat Kerusakan Lingkungan Yang dilakukan Oleh
Korporasi dalam Industri Tambang, Jurisprudentie, Vol. 6 No. 2, , Hal 197
39
Ketentuan undang – undang nomor 3 tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batu bara pasal 6
ayat 1
27
h. menetapkan WIUP Mineral bukan logam dan WIUP batuan;

i. menetapkan WIUPK;

j. melaksanakan penawaran WIUPK secara prioritas;

k. menerbitkan Perizinan Berusaha;

l. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Usaha

Pertambangan Mineral dan Batubara yang dilakukan oleh pemegang perizinan

Berusaha;

m. menetapkan kebijakan produksi, pemasaran, pemanfaatan, dan konservasi;

n. menetapkan kebijakan kerja sama, kemitraan, dan pemberdayaan masyarakat;

o. melakukan pengelolaan dan penetapan penerimaan negara bukan pajak dari hasil

Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara;

p. melakukan pengelolaan informasi geologi, informasi potensi sumber daya mineral

dan batubara, serta informasi pertambangan;

q. melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap reklamasi dan pascatambang;

r. melakukan penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat nasional;

s. melakukan pengembangan dan peningkatan nilai tambah kegiatan usaha

pertambangan;

t. melakukan peningkatan kemampuan aparatur pemerintah pusat dan pemerintah

daerah provinsi dalam penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan.

u. menetapkan harga patokan mineral logam, mineral bukan logam jenis tertentu,

mineral radioaktif, dan batubara;

v. melakukan pengelolaan inspektur tambang; dan

w. melakukan pengelolaan pejabat pengawas pertambangan;

E. Tinjauan Umum Penegakan Hukum

1. Pengertian Penegakan Hukum

28
Penegakan hukum adalah perbuatan yang mengatur hubungan nilai yang

dirumuskan dalam hukum-hukum yang kokoh dan dinyatakan dalam sikap perbuatan

yang merupakan tahap akhir dalam pengembangan nilai untuk menciptakan,

memelihara dan memelihara kehidupan sosial yang damai. Dalam kehidupan

bermasyarakat, manusia memiliki standar tersendiri untuk mencapai tujuan hidup,

namun standar tersebut seringkali bertentangan antara individu yang satu dengan

individu lainnya. Penegakan hukum bukanlah tugas penerapan hukum pada peristiwa

tertentu, melainkan aktivitas manusia dengan segala karakteristiknya yang bertujuan

untuk memenuhi harapan yang diinginkan oleh hukum40

2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum

a. Faktor undang undang

Dalam ilmu hukum terdapat produk hukum yang bersifat reaktif, proses

produksi partisipatif, yaitu mengajak partisipasi masyarakat secara maksimal

melalui kelompok-kelompok sosial dan individu dalam festival masyarakat.

Hukum reseptif bersifat ambisius, artinya materi yang dikandungnya umumnya

sesuai dengan keinginan masyarakat yang dilayaninya. Jadikan hukum sebagai

kristalisasi dari kehendak rakyat, kemudian hukum itu selain sebagai kaedah

adalah juga gejala kemasyarakatan, hukum tidak terpisah dari masyarakat.

Selama ini yang terjadi dalam proses pengakuan legislasi tentang peran

masyarakat masih bersifat sepihak dan simbolis. Beberapa komunikasi skala

besar yang dilakukan hanya sebagai pelengkap dari prosedur dasar penyidikan,

yang menjadi dasar dari rencana pengembangan peraturan daerah41.

b. Faktor Penegakan Hukum

40
Lalu Kemal Eka Putra,2021 ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Online Di Tinjau Dari
Undang - Undang Informasi Dan Transsaksi Elektronik’ (Universitas Muhammadiyah Mataram,
41
Lalu Kemal Eka Putra,2021 Op cit hlm 8,
29
Di negara berkembang, khususnya Indonesia, persoalan utama penegakan

hukum bukanlah sistem hukum itu sendiri, melainkan kualitas aparat penegak

hukum. Aparat penegak hukum merupakan panutan di masyarakat yang harus

memiliki keterampilan tertentu yang sesuai dengan aspirasi masyarakat. Mereka

harus bisa berkomunikasi dan membuat dirinya dipahami oleh kelompok sasaran

(masyarakat), sehingga merangsang partisipasi kelompok sasaran atau

masyarakat luas.

c. Faktor Sarana dan Fasilitas

Tanpa Fasilitas peralatan khusus penegakan hukum tidak akan berjalan

mulus. Sarana dan prasarana tersebut meliputi sumber daya orang-orang yang

berpendidikan tinggi dan terampil, terorganisir dengan baik, lengkap dan didanai

penuh. Jika ini tidak dihormati, lembaga penegak hukum tidak akan dapat

mencapai tujuan mereka42

d. Faktor Masyarakat

Masyarakat, khususnya komunitas lingkungan di mana hukum

ditegakkan atau ditegakkan, berarti bahwa warga negara harus mengetahui dan

memahami hukum yang berlaku, mematuhi hukum yang berlaku, dan mematuhi

hukum yang berlaku dengan kesadaran akan pentingnya hukum tersebut. hukum

kehidupan masyarakat. Penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan

untuk membawa kedamaian bagi masyarakat. Oleh karena itu, dalam arti tertentu,

masyarakat dapat mempengaruhi penerapan hukum.

Pada dasarnya pertambangan ilegal kerap terjadi di berbagai wilayah di

indonesia dengan potensi sumber daya alam yang melimpah menjadi daya tarik

bagai seseorang atau sekumpulan orang untuk mengelola sumber daya tersebut,

42
Lalu Kemal Eka Putra,202 Op cit hlm 9,
30
namun pada dasarnya di Indonesia yang merupakan negara hukum yang

berlandaskan pancasila tentu segala aspek di tentukan dengan berlandaskan

Hukum negara yang berlaku di Indonesia.

Pelanggaran dalam bidang pertambangan atau biasa di sebut ilegel mining

merupakan tindak pidana dalam pertambangan yang dimana dalam pelanggaran

ini banyak menyangkut beberapa orang bahkan perusahaan yang mengelola hasil

tambang dalam suatu wilayah, di tinjau dari Undang – undang Pertambangan

Mineral dan batu Bara (Minerba) tindak pidana pertambangan dapat di kenakan

sangsi dalam Undang – undang Nomor 3 tahun 2020 pada pasal 158 yang berbuyi

“ Setiap orang yang melakukan Penambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan

denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah). Dalam pasal

selanjutnya 159 di sebutkan bahwa Pemegang IUP, IUPK, IPR, atau SIPB yang

dengan sengaja menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70

huruf e, Pasal 105 ayat (4), Pasal 110, atau Pasal 111 ayat (1) dengan tidak benar

atau menyampaikan keterangan palsu dipidana dengan pidana penjara paling

lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp [Link],00 (seratus

miliar rupiah) lebih lanjut di jelaskan bahwa dalam pertambangan secara Ilegal

dapat di kenakan sangsi pasal dalam undang – undang nomo3 tahun 2020 yaitu

pasal 160, pasal 161, pasal 161 b, dan pasal 164.

Pertambangan pada golongan C yaitu bahan galian yang tidak termasuk

adalah bahan tambang seperti pasir dan bebatuan yang ada di sungai ataupun bekas

letusan gunung merapi. Segala yang merupakan bahan galian yang berada dalam wilayah

kekuasaan negara tersebut berhak dikuasai dan dimiliki Negara. Hak Penguasaan Negara

berisikan wewenang untuk mengurus, mengatur dan mengawasi segala yang terjadi

dalam pengelolaan bahan galian dalam hal tersebut sangsi pidana atas pelanggaran ini

31
dapat di kenakan sangsi Sanksi pidana terhadap pelaku usaha pertambangan batu padas

tanpa izin diatur berdasarkan pasal 158, 159, pasal 160 ayat (1) dan (2) UU Nomor 4

Tahun 2009 Tentang Minerba dimana sanksi padanannya paling lama 10 tahun dan denda

paling banyak 10 milyar sedangkan dalam pasal 31 ayat (1) dan (2) Peraturan Daerah

Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2017 Tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral Bukan

Logam dan Batuan sanksinya hanya sanksi kurungan maksimal 6 (enam) bulan dan

denda terbanyak Rp. 50 Juta, (lima puluh juta rupiah). Teknis dalam hal sanksi pidana

pertambangan ini ialah adanya pengaduan dari masyarakat yang memandang tambang

tersebut dapat membahayakan lingkungan masyarakat.

F. Studi Kasus Pertambangan Ilegal Golongan C di Kota Kendari

Pertambangan ilegal atau ilegal mining merupakan tindak pidana dalam

pertambangan hal ini menyangkut beberapa tindakan yang dimana pelanggaran ilegal

mining ini bisa terjadi melalui perorangan dan badan hukum, maraknya kasus

pertambangan ilegal di Indonesia khususnya di sulawesi Tenggara seperti yang terjadi

pada pertambagan Golongan C di Nambo, berdasarkan Rada [Link] yang di lansir

pada laman web tahun 2021 memberitakan telah di duka pelanggaran pertambangan

yang dilakukan oleh PT net yang dimana dugaan perlanggaran yang dilakukan dengan

melakukan aktifitas pertambangan tanpa izin usaha pertambangan, berdasarkan

pemaparan yang sekretaris daerah Kota kendari yang di konfirmasi pada senin

mengkonfirmasi bahwa membenarkan adanya penyegelan tambang galian C di

Kelurahan Nambo milik PT Net, namum sebelum di lakukan penyegelan, Pemkot

Kendari telah memberikan peringatan keras dan mengancam akan menghentikan

aktivitas penambangan jika pemilik lahan penambangan tidak melengkapi dokumen

pendukung usahanya, karena perusahan tambang galian C di Kelurahan Nambo,

Kecamatan Nambo, Kota Kendari, Sultra di nilai telah melanggar aturan pemerintah

[Link] Kota Kendari Nomor 1 tahun 2012 ,serta peraturan Pemerintah Nomor 101

32
tahun 2014, tentang pengelolaan Limba bahan berbahaya, serta sangat bertentangan

dengan UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara .

Aktifitas pertambangan ilegal yang dilakukan oleh PT net sejak tahun 2019 m- sampai

sekarang dengan menggunakan alat berat, hal ini tentu jika di biarkan akan

menimbulkan pencemaran lingkungan serta merugikan negara.

33
BAB III

METODELOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian normatif (normative legal research) yang

berarti penulis melakukan proses untuk menentukan suatu aturan yang berarti penulisan

melakukan suatu proses untuk menentukan suatu aturan hukum dan prinsip – prinsip

hukum, serta hukum yang menjawab permasalah hukum dan menghasilkan suatu

argumentasi serta teori – teori dan konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan

masalah yang di hadapi. 43

B. Pendekatan hukum

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian in adalah sebagai berikut

1. Pendekatan Undang – undang adalah suatu pendekatan yang dilakukan terhadap

berbagai aturan hukum yang berkaitan dengan permasalahan hukum yang sedang

diteliti

2. Pendekatan konseptual adalah pendekatan untuk memahami konsep – konsep yang

berkembang dalam ilmu hukum, khususnya terkait analisis hukum penambangan

golongan C. 44

3. Pendekatan Kasus

Pendekatan kasus (the case approach) adalah pendekatan yang dilakukan dengan

cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang

dihadapi dan yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai

kekuatan hukum tetap

C. Sumber Bahan hukum

Sumber Bahan Hukum yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi

43
peter mahmud marzuki, Peneltian Hukum (Jakarta: kencana prenada media group, 2009).hlm 234
44
Peter Mahmud Marzuki 2009 Op Cit . hlm 93
34
beberapa jenis sumber hukum yang terdiri dari :

1. Bahan hukum primer

Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang mengikat bahan hukum

primer yang digunakan untuk penelitian ini yaitu :

a. Undang – undang Dasar Republik Indonesia

b. Undang – Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan

Batu Bara

c. Undang – Undang Nomor 3 tahun 2020 Tentang Pertambangan Mineral dan

Batu Bara

2. Bahan hukum sekunder

Bahan kumu sekunder di artikan sebagai bahan hukum yang tidak mengikat tetapi

menjelaskan mengenai bahan hukum primer yang merupakan hasil olahan pendapat

atau pikiran para pakar atau ahli yang memperlajari suatu bidang tertentu secara

khusus yang akan memberikan petunjuk kemana peneltiian akan mengarah. Yang di

maksud adalah buku, jurnal hukum dan internet.

3. Bahan non hukum

Bahan non hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan

hukum primer dan sekunder yang berkaitan dengan penelitian ini di antaranya

internet, kamus hukum, dan kamus besar bahasa Indonesia.

D. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Bahan hukum dikumpulkan melalui proses inventarisasa dan identify aturan

perundang -undangan, serta klasifikasi dan sistematisasi bahan hukum sesuai

permasalahan penelitian. Dalam hal ini teknik pengumpulan bahan hukum yang

digunakan dalam peneltiian ini adalah studi kepustakaan, studi kepustakaan dilakukan

35
dengan cara membaca, menelaah, mencatat dan membuat ulasan – ulasan bahan hukum

yang berkaitan dengan analisis hukum penambangan golongan C.

E. Analisis Bahan Hukum

Menurut Peter Mahmud Marzuki yang mengutip pendapat Philips M Hadjon

yang memaparkan teknik analisis deduktif atau analisis bahan hukum dengan cara

deduktif yaitu menjelaskan suatu hal yang bersifat umum kemudian menariknya menjadi

kesimpulan lebih khusus.45.

45
peter mahmud marzuki, Op cit .hlm 234
36
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Tasrif, Arifin,2021 Kebijakan Mineral & Batubara Indonesia (Jakarta: PT Rineka,)

Asti, Subakti,2021 ‘Kuaslitas Pelayanan Izin Usaha Pertambangan di Dinas Energi Daya
Mineral, Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents
(Muhammadiyah Makassar,.

Chandra Yanuar Tifik, 2020, Hukum Pidana, ed. by Yasmon Putra (Jakarta: PT Sanggir Multi
Usaha.

Darwis, Ilham,2022 ‘Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pertambangan Tanpa Izin
(Analisis Atas Putusan No. 100/[Link]/2020/PN Bar)’ (Universitas Hasanudin,)

Didik Frianto,2023 ‘Kasus Pertambangan Di Konut Sulawesi Tenggara’, Antara Sultra


(Kendari,)

Effendi, Erdianto, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar (Bandung: PT Rika Refika
Aditama, 2019)

--------------, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar (Bandung: Pt Refika Aditama, 2014)

Hamzah, Andi,2004, Asas-Asas Hukum Pidana Edisi Revisi (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)

Haryadi, Dwi, 2018, Pengantar Hukum Pertambangan Mineral Dan Batu Bara, ed. by UBB
Press, ke-1 (bangka Belitung,).

Herman Herman and others,2022 ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penambangan
Mineral Di Kawasan Hutan Tanpa Izin’, Halu Oleo Legal Research, 4.2 (), 261–75
<[Link]

Salim.H, 2012, Hukum Pertambangan Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers,

Nurfitri,2021 ‘Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Menggangu Kegiatan Usaha Pertambangan Bagi
Pemegang izin Pertambangan (Universitas Hasanudiin,)

Peter Mahmud Marzuki,2009 Penelitian Hukum (jakarta: kencana prenada media group,)

———, Peneltian Hukum (Jakarta: kencana prenada media group, 2009)

Prasetyo teguh, 2017 “ hukum Pidana” Cet. 8 Depok: Rajawali Pers, h-54

Seno, Indriyanto,2002 Korupsi Dan Hukum Pidana, ed. by Oemar Seni Adji (Jakarta: Kantor
Pengacara dan Konsultasi Hukum,).

Tasrif, Arifin,2021 Kebijakan Mineral & Batubara Indonesia (Jakarta: PT Rineka,)

37
Wahyuni, [Link], 2017 Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Perpustakaan Nasional,

PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN


Undang undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara pasal 158,
Lembaran Salinan Republik Indonesia.
Undang undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara pasal 159,
Lembaran Salinan Republik Indonesia.
Undang undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara pasal 160,
Lembaran Salinan Republik Indonesia.
Undang – undang Nomor 3 tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batu bara, lembar
Salinan Republik Indonesia
Undang – undang Nomor 3 tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batu bara, pasal 6
ayat 1 lembar Salinan Republik Indonesia
Ketentuan Undang undang Pertambangan Nomor 37 tahun 1967 tentang pertambangan republik
Indonesian Pasal 3.

Jurnal
Amiruddin, Iswadi, Muhammadiah, and Anwar Parawangi,2020 ‘Implementasi Kebijakan Izin
Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara Di Kabupaten Kolaka’,
[Link], 1.1, 313–62.

Herman, Herman, Oheo Kaimuddin Haris, Sabrina Hidayat, Handrawan Handrawan, Heryanti
Heryanti, and M. Fadli Masulili, ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana
Penambangan
Kristina, Thelisia,2014 ‘Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Pertambangan Mineral Dan Batu
Bara ( Minerba ) Di Kabupaten Pandeglang Setelah Berlakunya Undang-Undang
Nomor’, Jurnal Hukum Adigama, 3.1, 1–9

Mineral Di Kawasan Hutan Tanpa Izin’, Halu Oleo Legal Research, 4.2 (2022), 261–75
Miharja, Meggi Okka Hadi, Andreas Dwi Setyo, and Herbowo Presetyo Hadi, 2015 ‘Implikasi
Hukum Terkait Pertambangan Rakyat Dalam Bidang Minerba Di Indonesia’,
Privat Law, , 97–103 <26601-ID-implikasi-hukum-terkait-pertambangan-rakyat-
[Link]>

Munir, Aldiranto,2020 ‘Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Kegiatan Penambangan Di


Luar WIlayah Izin Usaha Pertambagan (WIUP)’ (Universitas Hasanuddin,)

Putra, Lalu Kemal Eka, 2021, ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Online Di Tinjau
Dari Undang - Undang Informasi Dan Transsaksi Elektronik’ (Universitas
Muhammadiyah Mataram, [Link] 7-9.
Riyanti, Sayrif Saddam, 2019, Hukum Pidana Akibat Kerusakan Lingkungan yang dilakukan
38
Korporasi dalam industri tambang. Jurisprudentie, Vol. 6 No. 2,

Siburian, Nova Yanti,2016 ‘Penegakan Hukum Terhadap Pertambangan Pasir Bahan Galian c
Di Kabupaten Kuantan Singingi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 Tentang Pertambangan’, 3.2, 1–15.

39

Anda mungkin juga menyukai