Penegakan Hukum Pertambangan Ilegal Kendari
Penegakan Hukum Pertambangan Ilegal Kendari
PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mengikuti Ujian Proposal Gelar Sarjana
Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Halu Oleo
OLEH:
i
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL …………………………………………… i
HALAMAN PENGESAHAN …………..………………………. ii
DAFTAR ISI………………………………………………………. iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ……………………….……………….. 4
C. Tujuan Penelitian ………………………………………… 4
D. Manfaat Penelitian ………………………………………. 4
E. Keaslian Penelitian……………………………………….. 6
ii
E. Tinjauan Umum Penegakan Hukum …………………….. 35
1. Pengertian Penegakan Hukum……………………….. 35
2. Faktor faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian………………………………………….. 37
B. Pendekatan Hukum……………………………………… 37
C. Sumber Bahan Hukum………………………………….. 37
D. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum…………………….. 39
E. Analis Bahan Hukum…………………………………….. 39
DAFTAR PUSTAKA
iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan Sumber Daya Alamnya yang
di hasilkan dari perut bumi Indonesia yang tersedia begitu melimpah dan dapat digunakan
sebagai mana mestinya. Dalam hal ini Indonesia sebagai negara yang berlandaskan
Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 mengatur dan mengelola sumber daya alam agar
Lingkungan hidup. Menurut pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menjelaskan bahwa “ Bumi dan
air dan kekayaan alam yang terkandung didalaminya di kuasai oleh negara dan
potensi yang terkandung dalam perut bumi, menurut Undang Undang nomor 3 tahun 2020
pasal 3 tentang pertambangan mineral dan batu bara menjelaskan bahwa pertambangan
adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka, pengelolaan dan pengusahaan
mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,
konstruksi, penambangan, pengolahan dan atau pemurnian atau pengembangan dan atau
juga tidak lepas dengan izin – izin pertambangan yang di atur dalam undang – undang
Republik Indonesia. 1
Dalam hal ini hukum pertambangan yang sebagaimana di atur dalam Undang –
merupakan kekayaan alam tak terbarukan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang
1
Nova Yanti Siburian, ‘Penegakan Hukum Terhadap Pertambangan Pasir Bahan Galian c Di Kabupaten
Kuantan Singingi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan’, 3.2 (2016), 1–15.
1
mempunyai peranan penting dalam memenuhi hajat hidup orang banyak, karena itu
pengelolaannya harus dikuasai oleh Negara untuk memberi nilai tambah secara nyata bagi
secara berkeadilan.2
Kegiatan pertambangan baik yang dilakukan oleh perorangan atau pun badan usaha
harus memiliki Izin pertambangan yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagaimana yang
sebutkan pada ketentuan pasal 35 ayat (3) Undang Undang nomor 3 tahun 2020 perubahan
atas undang undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara
yang menyatakan bahwa izin pertambangan sebagaimana yang di maksud adalah :a IUP:,
b. IUPK sebagaimana kelanjutan operasi Kontrak Perjanjian ; d. IPR, SIPB dan izin
penuangan serta izin pengangkutan dan penjualan yaitu IUPJP dan IUP untuk penjualan.
Terkait dengan kegiatan pertambangan tanpa , zin Dengan tidak adanya surat izin
pertambangan dari pemerintah setiap jenis penambangan mineral dan batu bara menjadi
tindakan yang ilegal atau disebut dengan (ilegal mining) yang merupakan perbuatan atau
peristiwa pidana. Tindak pidana pertambangan adalah perbuatan yang dilarang oleh
peraturan yang dikenakan sanksi bagi pelaku perbuatan, guna perlindungan kegiatan dan
sebagaimana di atur dalam undang – undang nomor 4 tahun 2009 menjelaskan pasal yang
terkait tindak pidana yang dimaksud dalam 158 UU No. 3 Tahun 2020 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara yang berbunyi :“Setiap orang yang melakukan
Penambangan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana
2
Ketentuan Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2009, Tentang Pertambangan Mineral Dan Batu Bara, .
3
Herman Herman and others, ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penambangan Mineral Di
Kawasan Hutan Tanpa Izin’, Halu Oleo Legal Research, 4.2 (2022), 261–75
<[Link]
2
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus
miliar rupiah).”.4
Kegiatan pertambangan tanpa izin saat ini masih sangat banyak terjadi salah satunya
Berdasarkan data kepolisian terdapat 175 kasus pertambangan ilegal dalam awal tahun
2023. Dalam kasus yang terjadi terdapat dua orang yang di tetapkan sebagai tersangka
dalam pertambangan ilegal ini yang menyangkut PT Net dua, namun dalam kegiatan
pertambangan ini pihak PT Net dua tidak mengantongi Izin pertambangan, sebelum di
lakukan penyegelan oleh Pemkot Kendari telah memberikan peringatan keras dan
Salah satu tindak pidana pertambangan yang di lakukan dengan tanpa izin adalah
yang di lakukan oleh PT net di Kabupaten Nambo yang di mana pada tanggal 23 maret 2022
yang bertempat di Nambo yang ditemukan oleh pemkot Kota Kendari yang melakukan
melakukan pertambangan Golongan C tanpa izin dengan melakukan alat berat jenis
Excavator. Berdasarkan hal tersebut di duga Pt net mengerjakan tambang ilegal ini sudah
dari tahun 2019 silam, lokasi pertambangan dilakukan di Namnbo dengan pertambangan
golongan C yang menyangkut pada pengangkutan, dan ekspor, selanjutnya PT net tersebut
di nilai telah melanggar aturan pemerintah [Link] Kota Kendari Nomor 1 tahun 2012 ,serta
peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014, tentang pengelolaan Limba bahan berbahaya,
4
Ketentuan Undang - Undang Nomor 4 Tahun 2009, Tentang Pertambangan Mineral Dan Batu Bara,pasal
158 .
5
Frianto Didik,2023” 2023 ‘Kasus Pertambangan Di Konut Sulawesi Tenggara’, Antara
Sultra (Kendari,)
3
serta sangat bertentangan dengan UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
Dengan tidak mengantongi izin pertambangan tersebut maka PT Net diduga telah
melakukan tindak pidana pada undang – undang minerba dalam pasal 158 Undang Nomor
4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, bahwa Setiap orang yang
melakukan usaha pertambangan tanpa IUP, IPR atau IUPK sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74 ayat (1) atau ayat (5)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak
dan juga dapat mengganggu akses jalan utama warga, dalam hal tersebut tentu selain
melanggar hukum yang berlaku juga sangat memberikan dampak buruk bagi masyarakat
sekitar area pertambangan dan lingkungan setempat. Berdasarkan uraian tersebut di atas
maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan Judul ” Studi Kaus Penegakan
Hukum Terhadap Tindak Pidana Pertambangan Golongan C Tanpa Izin di Kota Kendari
Tahun 2023 “.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana penerapan hukum pada pertambangan ilegal golongan C tanpa izin di Kota
Kendari ?.
C. Tujuan Penelitian
kota kendari
4
2. serta pencegahan hukum yang dilakukan terhadap pertambangan golongan C tanpa izin
di Kota Kendari
D. Manfaat Penelitian
Salah satu manfaat pada penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan
keilmuan dalam bidang hukum kehsusunya konstruksi hukum pidana mengenai hukum
terhadap kegiatan pertambangan ilegal golongan C dan mampu memberikan peran pada
praktek penegakan hukum. Serta manfaat lainnya yang dapat diperoleh dari peneltiian
1. Secara Teoritis
kepustakaan serta dapat dipakai sebagai bahan acuan dalam penelitian atau
2. Secara Praktis
5
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran dari penulis Skripsi maupun Karya Ilmiah lainnya, bahwa
Penulis menemukan beberapa Karya Ilmiah yang memiliki kemiripan dengan penelitian
1. Aulia Junita dan tito Handoko yang berjudul kebijakan ekonomi politik lokal studi
pertambangan galian C tanpa izin terhadap pendapatan asli daerah dalam jurnal ini
terjadinya eksploitasi terhadap sumber daya alam pasir dan krikil secara
besarbesaran oleh badan usaha atau perorangan yang tidak memiliki izin. Kajian
terhadap pelaku usaha pertambangan sehingga bisa menjadi salah satu sumber
pendapatan asli. Dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian yang akan di angkat
penulis yang dimana pada penelitian penulis ini meninjau bagaimana kasus
Undang – undang Nomor 4 tahun 2009 dalam penelitian ini membahas . Faktor apa
saja yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku
penelitian ini berbeda dengan yang akan di angkat penulis yang dimana pada
terjadi di Kota kendari dan bagaimana penerapan hukum untuk mencegah terjadinya
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam kitab undang – undang Hukum Pidana (KUHP) tindak pidana dapat di
undang - undang mempergunakan istilah peristiwa pidana atau perbuatan pidana atau
tindak Pidana.6
istilah Strafbaarfeit adalah peristiwa yang dapat dipidana atau perbuatan yang
dapat dipidana. Sedangkan delik dalam bahasa asing disebut delict yang artinya suatu
perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman (pidana). Istilah delik (delict)
bahasa Indonesia, oleh beberapa sarjana hukum diartikan secara berlain-lainan sehingga
Dalam istilah lain dikatakan bahwa Tindak pidana adalah perbuatan yang
melanggar larangan yang diatur oleh aturan hukum yang di ancam dengan sanksi
pidana.8 Dalam pendapat ahli hukum menggemukkan beberapa definisi tentang tindak
pidana seperti yang dikemukakan oleh Pompe, “strafbaar feit” secara teoritis dapat
merumuskan sebagai suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang
dengan sengaja ataupun dengan tidak disengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, di
6
[Link] Wahyuni, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Perpustakaan Nasional, [Link] 35
7
Fitri [Link]. hlm 39
8
Tofik Yanuar Chandra, Hukum Pidana, ed. by Yasmon Putra (Jakarta: PT Sanggir Multi Usaha,
2020),HLM 21.
7
mana penjatuhan terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib
Menurut Indiyanto Seno Adji tindak pidana adalah perbuatan seseorang yang
diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan yang
adalah salah satu diantara para ahli yang merumuskan tindak pidana secara singkat,
yaitu suatu kelakuan manusia yang oleh peraturan perundang-undangan pidana diberi
pidana.11
simpulkan bahwa Tindak pidana adalah suatu perbuatan manusia yang bertentangan
dengan hukum, diancam dengan pidana oleh Undang undang perbuatan mana dilakukan
oleh orang yang dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dipersalahkan pada si
pembuat.
Untuk itu seseorang dengan pelanggaran tindak pidana yang dilakukan oleh
seseorang dapat di proses dengan hukum yang berlaku di suatu negara, hal ini terkait
Simons membedakan unsur-unsur tindak pidana menjadi unsur objektif dan unsur
1. perbuatan orang;
9
Erdianto efendi, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar (Bandung: Pt Refika Aditama, 2014).Hlm
159
10
Indriyanto Seno, Korupsi Dan Hukum Pidana, ed. by Oemar Seni Adji (Jakarta: Kantor Pengacara dan
Konsultasi Hukum, 2002).hlm 155
11
Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana Edisi Revisi (Jakarta: Rineka Cipta, 2004).hlm97
8
2. Akibat dari perbuatan itu
3. mungkin ada keadaan tertentu yang menyertai perbuatan itu, seperti di muka
Pendapat lain mengenai unsur – unsur di bedakan berdasarkan unsur objektif dan
subjektif yang dimana Menurut doktrin, unsur unsur tindak pidana terdiri atas unsur
subjektif dan unsur objektif. Terhadap unsur-unsur tersebut dapat dikemukakan sebagai
berikut :
a. Unsur Subjektif
Menurut Lamintang (2014) menjelaskan bahwa unsur subjektif adalah unsur
yang melekat dan berhubungan dengan diri pelaku dan termaksud dalam segala
sesuatu yang terkandung dalam hati dari si pelaku, unsur unsur subjektif dari suatu
2) Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang
12
Erdianto Effendi, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar (Bandung: PT Rika Refika Aditama,
2019).hlm 233
9
5) Perasaan takut atau vrees seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan
b. Unsur Objektif
Lamintang dan Theo Lamintang (2014) menjelaskan bahwa yang dimaksud
unsur-unsur objektif itu adalah unsur unsur yang ada hubungannya dengan keadaan,
dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau “keadaan sebagai
Delik di artikan sebagai suatu tindakan yang melanggar hukum yang telah
dilanggar sengaja atau pun tidak sengaja oleh seseorang atau kelompok yang perlu
tertanggung jawabkan dan oleh undang – undang dinyatakan sebagai suatu tindakan
1) Delik kejahatan adalah perbuatan yang biasanya disebut delik Hukuman, ancaman
13
Aldiranto Munir, ‘Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Kegiatan Penambangan Di Luar WIlayah
Izin Usaha Pertambagan (WIUP)’ (Universitas Hasanuddin, 2020).
14
[Link] Cit 46
15
Ilham Darwis,2022, ‘Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Pertambangan Tanpa Izin ’ (Universitas
Hasanudin, 2022).hlm 14.
10
2) Delik pelanggaran atau delik Undang Undang adalah perbuatan yang ancaman
3) Delik formil merupakan delik yang selesai, yaitu tindak pidana atau perbuatan yang
dilarang merupakan perbuatan itu sendiri tanpa melihat akibat dari perbuatannya.
4) Delik materil adalah delik yang melarang akibat dari perbuatan yang menjadi tujuan
5) Delik umum adalah suatu delik yang berlaku secara umum dan dapat dilakukan oleh
siapa saja.
6) Delik khusus hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu dalam kualitas tertentu
7) Delik biasa merupakan perbuatan yang tidak memerlukan adanya pengaduan untuk
dapat diproses atau karena kewajiban aparat negara untuk melakukan tindakan
8) Delik dolus merupakan perbuatan atau tindak pidana yang dilakukan secara sengaja
9) Delik kulpa adalah perbuatan atau tindak pidana yang dilakukan secara tidak sengaja
10) Delik berkualifikasi merupakan tindak pidana yang disertai dengan keadaan tertentu
1. Pengertian Pertambangan
Istilah terdiri dari dua suku ialah tambang dalam kamus besar bahas
Indonesia (KBBI) tambang adalah cebakan, parit serta lubang sedangkan Istilah
sebagai suatu pekerjaan yang berkaitan dengan tambang, jadi dapat di katakan
11
bahwa pertambangan adalah suatu kegiatan menggali potensi bumi dengan galian
untuk di keluarkan.16
dan batubara pasal 1 angka (1), pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan
dalam rangka penelitian, pengolahan dan pengusahaan mineral dan batu bara. Dalam
2. Golongan Pertambangan
misalnya : minyak bumi, gas alam, batu bara, timah putih, besi, nikel, bahan
b. Bahan galian golongan B, merupakan (bahan galian Vital), adalah bahan galian
negara dan dikuasai oleh negara dengan menyertakan rakyat misalnya : emas,
perak, intan, timah hitam, belerang, air raksa, bahan galian ini dapat diusahakan
16
Arifin Tasrif, Kebijakan Mineral & Batubara Indonesia (Jakarta: PT Rineka, 2021).
12
internasional. Contohnya marmer, batu kapur, tanah liat, pasir, yang sepanjang
mineral dan batubara telah ditentukan asas-asas hukum pertambangan mineral dan
batubara. Ada tujuh asas hukum pertambangan mineral dan batubara. Ketujuh asas
itu meliputi : 18
a. Manfaat
masyarakat banyak. Asas ini sesuai dengan konsep yang dikembangkan Jeremy
Bentham. Hukum harus memberikan manfaat atau kegunaan bagi orang banyak
(to serve utility). Konsep utility yang dikembangkan oleh Jeremy Bentham
sesuatu yang baik. Sebaliknya, sesuatu yang menimbulkan sakit adalah buruk.
b. Keadilan
dan batubara di mana di dalam pemanfaatan itu harus memberikan hak yang
sama rasa dan rata bagi masyarakat banyak. Masyarakat dapat diberikan hak
untuk mengelola dan memanfaatkan mineral dan batubara, dan juga dibebani
17
Ketentuan Undang undang Pertambangan Nomor 37 tahun 1967 tentang pertambangan republik
Indonesian Pasal 3.
18
Ketentuan undang - undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu [Link] 2.
13
kewajiban untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Selama ini, masyarakat
dan batubara.
c. Keseimbangan
hak dan kewajiban yang setara dan seimbang antara pemberi izin dengan
izin, apakah itu IPR, IUP, maupun IUPK. Bagitu juga pemegang izin dapat
menuntut haknya kepada pemberi izin supaya pemberi izin dapat melaksanakan
pemerintah pusat maupun pemerintah daearah harus memihak atau pro kepada
kepentingan bangsa yang lebih besar. Ini berarti bahwa kepentingan bangsa
e. Partisipatif
pertambangan mineral dan batubara, tidak hanya peran serta pemberi dan
14
kegiatan tambang. Ujud peran serta masyarakat, yaitu masyarakat dapat ikut
distributor.
f. Transparansi
dan lainnya.
g. Akuntabilitas
keadilan dan kepatutan. Asas akuntabilitas ini erat kaitannya dengan hak-hak
yang akan diterima oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah
jawabkan kepada rakyat, dalam hal ini adalah DPRD, baik kebupaten/kota
maupun provinsi.
15
4. Jenis Tindak Pidana dalam Pertambangan
juga terdapat bermacam-macam tindak pidana lainnya, yang sebagian besar yang
ditujukan kepada pelaku usaha pertambangan, dan hanya satu macam tindak pidana yang
ditujukan kepada pejabat penerbit izin di bidang pertambangan. Tindak pidana tersebut
Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat dari pemerintah yang melindungi
bangunan, udara, dan kekayaan alam yang digunakan, yang juga dikenal sebagai
kegiatan perolehan sumber daya alam disebut "wajib" oleh pemerintah atau
prosedurnya sama dengan yang dilakukan dalam Pasal 158 UU No. 4 Tahun 2009
tentang Pertambangan mineral dan batubara. yang berbunyi "setiap orang yang
dimaksud Pasal dalam 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), Pasal 74
ayat (1) atau (5) dipidana dengan pidana penjara layu lama 10 tahun dan denda
data kajian, laporan kegiatan penyelesaian, dan laporan penjualan hasil tambang,
19
[Link] Cit hlm 245
20
Ketentuan pasal 158 Undang undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara
16
digunakan. Perbuatan memberikan data atau laporan yang tidak benar sanksinya
sudah diatur dalam Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan Surat.21 Oleh karena itu
yang dapat di pidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda
memiliki izin dan setiap izin yang dikeluarkan ada 2 kegiatan yang harus
secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran kualitas, dan
sumber daya terukur dari bahan galian serta informasi mengenai lingkungan
sosial dan lingkungan hidup (Pasal 1 angka 15) Oleh karena melakukan kegiatan
IUP atau IUPK, maka ekplorasi yang dilakukan tanpa izin tersebut merupakan
tindakan pidana yang diancam hukuman berdasarkan Pasal 160 ayat 1 UU No. 4
tahun 2009 di pidana dengan pidana kurungan paling lama satu tahun atau denda
operasi produksi
21
[Link] Cit hlm 248
22
Ketentuan pasal 159 Undang undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara
23
Ketentuan pasal 160 Undang undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara
17
Sesuai dengan prinsip ini, mereka yang melakukan kegiatan
eksploitasi dan eksploitasi. Meskipun ada dua langkah yang terlibat dalam
IUP yang melakukan penelitian tidak akan dapat melakukan operasi produksi
uang dari rekening bank milik sendiri untuk mendapatkan uang yang sebelumnya
pencucian barang tambang dalam UU No.4 tahun 2009 di pidana dengan pidana
penjara layu lama 10 tahun dan denda banyak Rp10.000.000.000,00 Untuk dapat
membongkar kejahatan tersebut tentu saja tidak 40 mudah karena pada umumnya
24
Ketentuan pasal 159 Undang undang Nomor 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu
Bara .
18
f. Tindak pidana menghalangi kegiatan usaha pertambangan
tertutup tanah galian, tanaman rusak, dan lain-lain. Senjata yang paling umum
adalah protes, yang dapat dilukai dengan berbagai cara untuk mencegah
tindak pidana yang didaftarkan berdasarkan Pasal 162 UU No. 32 tahun yang
lalu, di Filipina, dengan kurungan lebih dari satu dekade dan jumlah yang sangat
besar yaitu Rp. 100.000.000,00,-. Terlepas dari kenyataan bahwa proyek tersebut
tidak dapat diselesaikan, itu dapat digunakan sebagai dasar untuk analisis psiko,
yang memungkinkan perkiraan risiko yang lebih akurat yang akan terlibat. Selain
bekerja pada suatu organisasi tertentu dan dipekerjakan oleh umum selama
setahun. Ketika tindakan organisasi diambil oleh publik, itu menjadi masalah.
Ketika karyawan perusahaan tidak senang, tindakan mereka diambil oleh anggota
HUKU dan HAM dan dilaksanakan oleh pemerintah RI. Ketika hal buruk terjadi,
pengurus melakukannya. Terlepas dari kenyataan bahwa orang jahat itu adalah
laki-laki, orang jahat itu tetap bisa makan dan minum seperti laki-laki. Karena
diatur dalam Pasal 163 ayat 1 UU No 4 Tahun 2009, maka pidana terkecil Badan
19
Hukum Pertambangan dapat dianggap sebagai pelaku pidananya. Jika ada hukum
yang buruk, hukum yang buruk dapat ditemukan di pengadilan, tetapi hukuman
pemberatan 1/3 dari nilai pidana minimum yang ditetapkan. Kemudian hakim
Ada tiga jenis usaha pertambangan: Izin Usaha Pertambangan, Izin Usaha
Pertambangan Rakyat, dan Izin Usaha Pertambangan Khusus. Ada dua jenis Izin
sebagai landasan untuk penelitian, analisis, dan kajian. Izin Usaha Pertambangan
produksi dan distribusi. Izin Usaha Pertambangan ini dapat digunakan oleh dunia
Tahun 2009 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara
terdiri atas dua tahap yakni Izin Usaha Pertambangan(IUP) Eksplorasi dan perizinan
25
Thelisia Kristina,2014 ‘Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Pertambangan Mineral Dan Batu Bara (
Minerba ) Di Kabupaten Pandeglang Setelah Berlakunya Undang-Undang Nomor’, Jurnal Hukum Adigama, 3.1),
1–9.
20
Eksplorasi maupun IUP Operasi produksi memiliki hak untuk dapat melakukan seluruh
atau sebagian kegiatan tambang karena telah memenuhi ketentuan wajib yang
satunya cabang produksi penting bagi Negara, sehingga pengelolaannya harus sesuai
dengan peraturan agar tidak merusak lingkungan sekitar dan terlebih lagi untuk
Dalam hal ini pemberian surat Izin pertambangan dapat diberikan kepada
pihak – pihak yang terkait dalam hal ini adalah badan usaha yang meliputi badan
usaha milik Negara (BUMN) dan badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta
1) Badan Usaha
Badan Usaha adalah badan hukum yang didirikan oleh rakyat Indonesia dan
merupakan bagian dari Majelis Nasional Republik Indonesia. Badan usaha yang
dimaksud dapat berupa badan usaha swasta, BUMN, atau BUMD. Jenis badan usaha
swasta ini bertanggung jawab atas badan usaha swasta dalam kerangka modal
2) Koperasi
Yang dimaksud dengan koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang
26
Iswadi Amiruddin, Muhammadiah, and Anwar Parawangi, ‘Implementasi Kebijakan Izin Usaha
Pertambangan Mineral Dan Batubara Di Kabupaten Kolaka’, [Link], 1.1 (2020), 313–
27
Rehan,2010 Ada Tiga Jenis Usaha Pertambangan: Izin Usaha Pertambangan, Izin Usaha
Pertambangan Rakyat, Dan Izin Usaha Pertambangan Khusus. Ada Dua Jenis Izin Usaha Pertambangan: Izin
Usaha Pertambangan Eksplorasi Dan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi. Izin Us (Jakarta timur,
2010).hlm 24
28
Subakti Asti, ‘Kualitas Pelayanan Izin Usaha Jasa Pertambangan di Inas Energy dan Sumber daya
Mineral’, Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents (Muhammadiyah Makassar, 2021).hlm 22
21
anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan
kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan
prinsip Koperasi.29.
3) Perseorangan dalam hal ini dapat berupa orang perseorangan Warga Negara
pejabat telah diberi wewenang untuk menerbitkan IUP eksplorasi. Ketiga pejabat
2) Gubernur, apabila WIUP berada dalam satu wilayah / kota dalam satu (satu)
batubara yang diminta oleh pemohon. Kondisi ini setelah adanya rekomendasi
3) Menteri, jika WIUP berada di satu provinsi, Menteri berhak menerbitkan izin
Kondisi ini dilakukan setelah mendapat arahan dari gubernur dan bupati /
Energi dan Sumber Daya Mineral berhak menerbitkan IUP operasi produksi.30
29
Subekti [Link] Cit hlm 22
30
Nurfitri,2021 ‘Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Menggngu Kegiatan Usaha pertambangan bagi
pemagang izin usaha pertambangan T’ (Universitas Hasanudiin,).hlm 34
22
Dalam pasal 2 huruf n Undang _undang Nomor 11 tahun 1967 tentang
usaha pertambangan bahan – bahan galian dari semua golongan A,B dan C yang
dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil – kecilan atau secara gotong royong
dengan alat – alat sederhana untuk mencari penghasilan sendiri. 31 dalam Undang
investasi terbatas.32
C. Pertambangan batuan.
usah pertambangan di wilayah usaha pertambangan khusus dalam hal ini pejabat
yang berwenang dalam memberikan izin IUPK adalah menteri ESDM. Izin IUPK
31
Meggi Okka Hadi Miharja, Andreas Dwi Setyo, and Herbowo Presetyo Hadi, ‘Implikasi Hukum Terkait
Pertambangan Rakyat Dalam Bidang Minerba Di Indonesia’, Privat Law, 2015, 97–103 <26601-ID-implikasi-
[Link]>.
32
Ketentuan Undang - Undang Nomor 3 Tahun 2022 Tentang pertambangan mineral dan batu bara
Minerba, 2020.
23
Dalam IUPK diberikan dengan beberapa pertimbangan terkait dengan
diberikan badan usaha yang berbadan hukum Berupa Badan Usaha Milik Negara
disingkat BUMD) dan Badan Usaha Swasta. BUMN dan BUMD diutamakan dari
pada Badan Usaha Swasta untuk memperoleh IUPK. Badan Usaha Swasta
dapatkan IUPK melalui lelang WIUPK (ketentuan pasal 75 ayat (5) telah terubah
Pada dasarnya sumber hukum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
sumber hukum materiil dan sumber hukum formal. Sumber hukum materiil ialah
tempat dari mana materi hukum itu diambil. Sumber hukum materi ini merupakan
politik, situasi sosial ekonomi, tradisi (pandangan keagamaan dan kesusilaan), hasil
dengan bentuk atau cara yang menyebutkan peraturan hukum formal itu berlaku.
Sumber hukum yang diakui umum sebagai hukum formal ialah undang undang,
33
Dwi Haryadi, Pengantar Hukum Pertambangan Mineral Dan Batu Bara, ed. by UBB Press, ke-1
(bangka Belitung, 2018). hlm 65
24
pokok pertambangan.34 Semua yang berkenaan dengan hukum sudah pasti
mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa, dan oleh karena itu sumber hukum
nyata.
di bidang pertambangan.
d) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001 tentang Minyak Gas dan Bumi, Undang-
Rumusan tindak pidana di dalam buku kedua dan ketiga KUHP biasanya dimulai
dengan kata barangsiapa. Ini mengandung arti bahwa yang dapat melakukan tindak
pidana pada umumnya adalah manusia. Juga dari ancaman pidana yang dapat dijatuhkan
sesuai pasal 10 KUHP, seperti pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana
denda dan pidana tambahan mengenai pencabutan hak dan sebagainya menunjukan
34
Ibid, hlm. 21
35
H. Salim, Hukum Pertambangan Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2012, h.17-21
25
bahwa yang dapat dikenai pada umumnya adalah manusia. Setiap tindak pidana pasti
akan dilakukan oleh subjek dari tindak pidana itu sendiri. Adapun Subjek dari tindak
1. Orang Perorangan
Perorangan adalah orang atau seorang diri yang melakukan perbuatan pidana
adalah manusia atau orang perorangan. 36 Subjek tindak pidana yang dilakukan oleh
orang atau perseorangan adalah tindak pidana yang murni dilakukan oleh satu orang
saja.
2. Badan Hukum
Badan hukum adalah sekelompok orang yang terikat suatu organisasi yang
dipandang sebagai manusia pada umumnya. Suatu organisasi disebut badan hukum
apabila akta pendiriannya disahkan oleh pemerintah. Dalam tindak pidana dibidang
pertambangan badan hukum dapat sebagai pelaku pidananya sebagaimana yang diatur
pada pasal 163 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
pidana harus dikaitkan dengan strict liability, karena suatu korporasi sulit untuk
dilihat dari hal “mampu bertanggungjawab” atau melihat korporasi melakukan tindak
pidana dengan kesalahan berupa kesengajaan atau kelalaian, sehingga lebih baik
melihat korporasi yang telah melakukan tindak pidana maka hukuman pidana
pertanggungjawaban tanpa kesalahan (liability without fault), yang dalam hal ini
36
Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, (Cet. 8 Depok: Rajawali Pers, 2017), h.54
37
Ibid, hlm 253
26
pembuat sudah dapat dipidana jika telah melakukan perbuatan yang dilarang
sebagaimana telah dirumuskan dalam undang-undang tanpa melihat lebih jauh sikap
batin pelaku.38.
3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara telah menghapus ketentuan
Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dijelaskan bahwa
Pertambangan;
Indonesia;
38
Syarif Saddam Rivantie2019, Hukuman Pidana Akibat Kerusakan Lingkungan Yang dilakukan Oleh
Korporasi dalam Industri Tambang, Jurisprudentie, Vol. 6 No. 2, , Hal 197
39
Ketentuan undang – undang nomor 3 tahun 2020 tentang pertambangan mineral dan batu bara pasal 6
ayat 1
27
h. menetapkan WIUP Mineral bukan logam dan WIUP batuan;
i. menetapkan WIUPK;
Berusaha;
o. melakukan pengelolaan dan penetapan penerimaan negara bukan pajak dari hasil
r. melakukan penyusunan neraca sumber daya mineral dan batubara tingkat nasional;
pertambangan;
u. menetapkan harga patokan mineral logam, mineral bukan logam jenis tertentu,
28
Penegakan hukum adalah perbuatan yang mengatur hubungan nilai yang
dirumuskan dalam hukum-hukum yang kokoh dan dinyatakan dalam sikap perbuatan
namun standar tersebut seringkali bertentangan antara individu yang satu dengan
individu lainnya. Penegakan hukum bukanlah tugas penerapan hukum pada peristiwa
Dalam ilmu hukum terdapat produk hukum yang bersifat reaktif, proses
kristalisasi dari kehendak rakyat, kemudian hukum itu selain sebagai kaedah
Selama ini yang terjadi dalam proses pengakuan legislasi tentang peran
besar yang dilakukan hanya sebagai pelengkap dari prosedur dasar penyidikan,
40
Lalu Kemal Eka Putra,2021 ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Online Di Tinjau Dari
Undang - Undang Informasi Dan Transsaksi Elektronik’ (Universitas Muhammadiyah Mataram,
41
Lalu Kemal Eka Putra,2021 Op cit hlm 8,
29
Di negara berkembang, khususnya Indonesia, persoalan utama penegakan
hukum bukanlah sistem hukum itu sendiri, melainkan kualitas aparat penegak
harus bisa berkomunikasi dan membuat dirinya dipahami oleh kelompok sasaran
masyarakat luas.
mulus. Sarana dan prasarana tersebut meliputi sumber daya orang-orang yang
berpendidikan tinggi dan terampil, terorganisir dengan baik, lengkap dan didanai
penuh. Jika ini tidak dihormati, lembaga penegak hukum tidak akan dapat
d. Faktor Masyarakat
ditegakkan atau ditegakkan, berarti bahwa warga negara harus mengetahui dan
memahami hukum yang berlaku, mematuhi hukum yang berlaku, dan mematuhi
hukum yang berlaku dengan kesadaran akan pentingnya hukum tersebut. hukum
untuk membawa kedamaian bagi masyarakat. Oleh karena itu, dalam arti tertentu,
indonesia dengan potensi sumber daya alam yang melimpah menjadi daya tarik
bagai seseorang atau sekumpulan orang untuk mengelola sumber daya tersebut,
42
Lalu Kemal Eka Putra,202 Op cit hlm 9,
30
namun pada dasarnya di Indonesia yang merupakan negara hukum yang
ini banyak menyangkut beberapa orang bahkan perusahaan yang mengelola hasil
Mineral dan batu Bara (Minerba) tindak pidana pertambangan dapat di kenakan
sangsi dalam Undang – undang Nomor 3 tahun 2020 pada pasal 158 yang berbuyi
dalam Pasal 35 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan
selanjutnya 159 di sebutkan bahwa Pemegang IUP, IUPK, IPR, atau SIPB yang
huruf e, Pasal 105 ayat (4), Pasal 110, atau Pasal 111 ayat (1) dengan tidak benar
miliar rupiah) lebih lanjut di jelaskan bahwa dalam pertambangan secara Ilegal
dapat di kenakan sangsi pasal dalam undang – undang nomo3 tahun 2020 yaitu
adalah bahan tambang seperti pasir dan bebatuan yang ada di sungai ataupun bekas
letusan gunung merapi. Segala yang merupakan bahan galian yang berada dalam wilayah
kekuasaan negara tersebut berhak dikuasai dan dimiliki Negara. Hak Penguasaan Negara
berisikan wewenang untuk mengurus, mengatur dan mengawasi segala yang terjadi
dalam pengelolaan bahan galian dalam hal tersebut sangsi pidana atas pelanggaran ini
31
dapat di kenakan sangsi Sanksi pidana terhadap pelaku usaha pertambangan batu padas
tanpa izin diatur berdasarkan pasal 158, 159, pasal 160 ayat (1) dan (2) UU Nomor 4
Tahun 2009 Tentang Minerba dimana sanksi padanannya paling lama 10 tahun dan denda
paling banyak 10 milyar sedangkan dalam pasal 31 ayat (1) dan (2) Peraturan Daerah
Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2017 Tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral Bukan
Logam dan Batuan sanksinya hanya sanksi kurungan maksimal 6 (enam) bulan dan
denda terbanyak Rp. 50 Juta, (lima puluh juta rupiah). Teknis dalam hal sanksi pidana
pertambangan ini ialah adanya pengaduan dari masyarakat yang memandang tambang
pertambangan hal ini menyangkut beberapa tindakan yang dimana pelanggaran ilegal
mining ini bisa terjadi melalui perorangan dan badan hukum, maraknya kasus
pada laman web tahun 2021 memberitakan telah di duka pelanggaran pertambangan
yang dilakukan oleh PT net yang dimana dugaan perlanggaran yang dilakukan dengan
pemaparan yang sekretaris daerah Kota kendari yang di konfirmasi pada senin
Kecamatan Nambo, Kota Kendari, Sultra di nilai telah melanggar aturan pemerintah
[Link] Kota Kendari Nomor 1 tahun 2012 ,serta peraturan Pemerintah Nomor 101
32
tahun 2014, tentang pengelolaan Limba bahan berbahaya, serta sangat bertentangan
dengan UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara .
Aktifitas pertambangan ilegal yang dilakukan oleh PT net sejak tahun 2019 m- sampai
sekarang dengan menggunakan alat berat, hal ini tentu jika di biarkan akan
33
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian normatif (normative legal research) yang
berarti penulis melakukan proses untuk menentukan suatu aturan yang berarti penulisan
melakukan suatu proses untuk menentukan suatu aturan hukum dan prinsip – prinsip
hukum, serta hukum yang menjawab permasalah hukum dan menghasilkan suatu
argumentasi serta teori – teori dan konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan
B. Pendekatan hukum
berbagai aturan hukum yang berkaitan dengan permasalahan hukum yang sedang
diteliti
golongan C. 44
3. Pendekatan Kasus
Pendekatan kasus (the case approach) adalah pendekatan yang dilakukan dengan
cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang
dihadapi dan yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai
Sumber Bahan Hukum yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi
43
peter mahmud marzuki, Peneltian Hukum (Jakarta: kencana prenada media group, 2009).hlm 234
44
Peter Mahmud Marzuki 2009 Op Cit . hlm 93
34
beberapa jenis sumber hukum yang terdiri dari :
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang mengikat bahan hukum
Batu Bara
Batu Bara
Bahan kumu sekunder di artikan sebagai bahan hukum yang tidak mengikat tetapi
menjelaskan mengenai bahan hukum primer yang merupakan hasil olahan pendapat
atau pikiran para pakar atau ahli yang memperlajari suatu bidang tertentu secara
khusus yang akan memberikan petunjuk kemana peneltiian akan mengarah. Yang di
Bahan non hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan
hukum primer dan sekunder yang berkaitan dengan penelitian ini di antaranya
permasalahan penelitian. Dalam hal ini teknik pengumpulan bahan hukum yang
digunakan dalam peneltiian ini adalah studi kepustakaan, studi kepustakaan dilakukan
35
dengan cara membaca, menelaah, mencatat dan membuat ulasan – ulasan bahan hukum
yang memaparkan teknik analisis deduktif atau analisis bahan hukum dengan cara
deduktif yaitu menjelaskan suatu hal yang bersifat umum kemudian menariknya menjadi
45
peter mahmud marzuki, Op cit .hlm 234
36
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Tasrif, Arifin,2021 Kebijakan Mineral & Batubara Indonesia (Jakarta: PT Rineka,)
Asti, Subakti,2021 ‘Kuaslitas Pelayanan Izin Usaha Pertambangan di Dinas Energi Daya
Mineral, Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents
(Muhammadiyah Makassar,.
Chandra Yanuar Tifik, 2020, Hukum Pidana, ed. by Yasmon Putra (Jakarta: PT Sanggir Multi
Usaha.
Darwis, Ilham,2022 ‘Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pertambangan Tanpa Izin
(Analisis Atas Putusan No. 100/[Link]/2020/PN Bar)’ (Universitas Hasanudin,)
Effendi, Erdianto, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar (Bandung: PT Rika Refika
Aditama, 2019)
--------------, Hukum Pidana Indonesia Suatu Pengantar (Bandung: Pt Refika Aditama, 2014)
Hamzah, Andi,2004, Asas-Asas Hukum Pidana Edisi Revisi (Jakarta: Rineka Cipta, 2004)
Haryadi, Dwi, 2018, Pengantar Hukum Pertambangan Mineral Dan Batu Bara, ed. by UBB
Press, ke-1 (bangka Belitung,).
Herman Herman and others,2022 ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penambangan
Mineral Di Kawasan Hutan Tanpa Izin’, Halu Oleo Legal Research, 4.2 (), 261–75
<[Link]
Nurfitri,2021 ‘Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Menggangu Kegiatan Usaha Pertambangan Bagi
Pemegang izin Pertambangan (Universitas Hasanudiin,)
Peter Mahmud Marzuki,2009 Penelitian Hukum (jakarta: kencana prenada media group,)
Prasetyo teguh, 2017 “ hukum Pidana” Cet. 8 Depok: Rajawali Pers, h-54
Seno, Indriyanto,2002 Korupsi Dan Hukum Pidana, ed. by Oemar Seni Adji (Jakarta: Kantor
Pengacara dan Konsultasi Hukum,).
37
Wahyuni, [Link], 2017 Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Perpustakaan Nasional,
Jurnal
Amiruddin, Iswadi, Muhammadiah, and Anwar Parawangi,2020 ‘Implementasi Kebijakan Izin
Usaha Pertambangan Mineral Dan Batubara Di Kabupaten Kolaka’,
[Link], 1.1, 313–62.
Herman, Herman, Oheo Kaimuddin Haris, Sabrina Hidayat, Handrawan Handrawan, Heryanti
Heryanti, and M. Fadli Masulili, ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana
Penambangan
Kristina, Thelisia,2014 ‘Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Pertambangan Mineral Dan Batu
Bara ( Minerba ) Di Kabupaten Pandeglang Setelah Berlakunya Undang-Undang
Nomor’, Jurnal Hukum Adigama, 3.1, 1–9
Mineral Di Kawasan Hutan Tanpa Izin’, Halu Oleo Legal Research, 4.2 (2022), 261–75
Miharja, Meggi Okka Hadi, Andreas Dwi Setyo, and Herbowo Presetyo Hadi, 2015 ‘Implikasi
Hukum Terkait Pertambangan Rakyat Dalam Bidang Minerba Di Indonesia’,
Privat Law, , 97–103 <26601-ID-implikasi-hukum-terkait-pertambangan-rakyat-
[Link]>
Putra, Lalu Kemal Eka, 2021, ‘Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Online Di Tinjau
Dari Undang - Undang Informasi Dan Transsaksi Elektronik’ (Universitas
Muhammadiyah Mataram, [Link] 7-9.
Riyanti, Sayrif Saddam, 2019, Hukum Pidana Akibat Kerusakan Lingkungan yang dilakukan
38
Korporasi dalam industri tambang. Jurisprudentie, Vol. 6 No. 2,
Siburian, Nova Yanti,2016 ‘Penegakan Hukum Terhadap Pertambangan Pasir Bahan Galian c
Di Kabupaten Kuantan Singingi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2009 Tentang Pertambangan’, 3.2, 1–15.
39