Pengelolaan Pemakaman di Cilacap
Pengelolaan Pemakaman di Cilacap
BUPATI CILACAP,
Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka
Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Nomor
1 Tahun 1998 tentang Tempat Pemakaman dan
Penggunaannya, sudah tidak sesuai lagi sehingga perlu ditinjau
kembali dan disesuaikan;
b. bahwa dalam rangka upaya pendayagunaan tanah secara
produktif dan efesien bagi pembangunan, maka penggunaan
tanah untuk tempat pemakaman wajib memperhatikan asas
pemanfaatan tanah disamping aspek keagamaan;
c. bahwa sebagai upaya penertiban dan penataan tempat
pemakaman dan pengabuan mayat di Kabupaten Cilacap perlu
mengatur pengelolaan Pemakaman dan Pengabuan mayat;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada
huruf a, huruf b dan huruf c, maka perlu menetapkan
Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap tentang Pengelolaan dan
Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat di
Kabupaten Cilacap;
MEMUTUSKAN:
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
BAB III
PENGELOLAAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT
Bagian Kesatu
Penetapan Tanah Untuk Tempat Pemakaman
Paragraf 1
Penetapan Lokasi
Pasal 3
Paragraf 2
Hak Pakai
Pasal 4
(1) Areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman umum, krematorium beserta
tempat penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh Pemerintah Daerah atau
Pemerintah Desa diberikan status hak pakai dengan jangka waktu selama
dipergunakan untuk keperluan pemakaman dan diproses berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman bukan umum, krematorium
beserta tempat penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh badan sosial dan
atau badan keagamaan diberikan hak pakai dengan jangka waktu selama 10
(sepuluh) tahun dan tiap kali dapat diperpanjang kembali kecuali tanah wakaf
yang dipergunakan untuk pemakaman dengan status hak milik.
(3) Areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman bukan umum, krematorium
beserta tempat penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh badan sosial
dan/atau badan keagamaan dapat diberikan hak pakai dengan jangka waktu
selama dipergunakan sepanjang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. melampirkan akta pendirian badan sosial dan atau badan keagamaan yang
sudah didaftarkan di Pengadilan Negeri;
b. melampirkan rekomendasi dari Dinas Sosial dan/atau kantor Kementerian
Agama Cilacap yang menyatakan bahwa badan sosial dan/atau badan
keagamaan dimaksud benar-benar bergerak dibidang sosial dan/atau
keagamaan;
c. badan sosial dan/atau badan keagamaan sebagaimana dimaksud pada
huruf a sudah pernah ditunjuk sebagai subjek hak yang dapat mempunyai
tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, namun yang
bersangkutan memandang cukup jika diberikan hak pakai.
(4) Areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman khusus yang pengelolaannya
oleh badan sosial dan/atau badan keagamaan yang digunakan untuk
pemakaman diberikan hak pakai selama masih dipergunakan.
(5) Areal tanah wakaf yang digunakan untuk tempat pemakaman diberikan hak
pakai selama masih dipergunakan.
Paragraf 3
Pembatalan Hak
Pasal 5
(1) Hak pakai atas areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman bukan umum,
krematorium beserta tempat penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh
badan sosial dan/atau badan keagamaan yang telah diberikan sewaktu-waktu
dapat dibatalkan haknya.
(2) Pembatalan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terjadi karena
jangka waktu berakhir, penyimpangan dalam pengelolaan serta
ketidaksesuaian dengan Rencana Tata Ruang dan perkembangan lingkungan.
Pasal 6
Bagian Kedua
Pengelolaan Tempat Pemakaman
Paragraf 1
Pengelolaan
Pasal 7
Pasal 8
Bagian Ketiga
Krematorium
Pasal 9
(1) Untuk pembakaran jenazah dan atau kerangka jenazah sesuai dengan agama
masing-masing dapat dibangun krematorium yang dikelola oleh Pemerintah
Daerah.
(2) Pengelolaan krematorium dapat dilakukan oleh badan sosial dan/atau badan
keagamaan.
(3) Penunjukkan lokasi tanah untuk pembangunan krematorium ditetapkan oleh
Bupati.
Bagian Keempat
Penutupan dan Pemindahan Lokasi
Pasal 10
(1) Apabila terdapat suatu tempat pemakaman umum, tempat pemakaman bukan
umum, krematorium dan penyimpanan abu jenazah yang dipandang tidak
sesuai lagi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, sehingga menjadi
penghambat peningkatan mutu lingkungan harus ditutup dan secara bertahap
diusahakan pemindahannya ke lokasi yang sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah.
(2) Penutupan dan pemindahan tempat pemakaman umum, tempat pemakaman
bukan umum, krematorium dan tempat penyimpanan abu jenazah ketempat
lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Bupati.
(3) Bekas tempat pemakaman umum, tempat pemakaman bukan umum,
krematorium dan tempat penyimpanan abu jenazah sedapat mungkin untuk
kepentingan sosial dan/atau keagamaan.
Pasal 11
Tata cara dan syarat-syarat penutupan dan pemindahan lokasi tempat pemakaman
umum, tempat pemakaman bukan umum, krematorium serta tempat penyimpanan
abu jenazah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kelima
Pemakaman dan Kremasi Jenazah serta pembangunan
Hiasan/Kijing di atas makam
Pasal 12
Setiap jenazah wajib dimakamkan atau kremasi ditempat pemakaman umum dan
atau tempat pemakaman bukan umum atau krematorium yang telah ditetapkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.
Pasal 13
(1) Di atas pemakaman umum atau pemakaman bukan umum dapat dibangun
hiasan/kijing makam disesuaikan dengan bentuk standar yang ditentukan
oleh pejabat yang berwenang.
(2) Setiap makam diberi papan nama, tanggal lahir, tanggal wafat yang meninggal,
kode/catatan yang memuat nomor dan tanggal berdasarkan surat izin
pemakaman yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang.
Bagian Keenam
Perizinan
Paragraf 1
Surat Izin
Pasal 14
(1) Setiap orang yang akan mamakamkan jenazah, mengkremasi jenazah dan
penyimpanan abu jenazah atau akan membangun hiasan/kijing diatas makam,
wajib mendapatkan surat izin dari instansi yang berwenang.
(2) Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat kewajiban-kewajiban
yang harus ditaati oleh pemegang izin.
Paragraf 2
Syarat-Syarat Izin
Pasal 15
Paragraf 3
Masa Berlakunya Izin
Pasal 16
(1) Izin berlaku selama tanah yang bersangkutan masih berstatus sebagai tempat
pemakaman dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Tempat Pemakaman Umum;
1. Izin pada Tempat Pemakaman Umum yang dikelola oleh Pemerintah
Daerah, wajib didaftar ulang setiap 2 (dua) tahun;
2. Izin pada Tempat Pemakaman Umum yang dikelola oleh Pemerintah
Desa, wajib didaftar ulang setiap 2 (dua) tahun.
b. Izin pada Tempat Pemakaman Bukan Umum, wajib didaftar ulang setiap 5
(lima) tahun.
(2) Daftar ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan 1 (satu)
bulan sebelum masa berlakunya berakhir dengan dilampiri :
a. foto copy Kartu Tanda Penduduk pemohon;
b. izin yang bersangkutan.
Paragraf 4
Pelimpahan Izin
Pasal 17
(1) Dalam hal pemegang izin meninggal dunia atau bermaksud melimpahkan izin
atas namanya kepada orang lain, maka ahli waris atau orang yang
mendapatkan pelimpahan izin wajib mengajukan permohonan pelimpahan izin
kepada instansi yang berwenang dengan dilampiri :
a. foto copy Kartu Tanda Penduduk pemohon;
b. surat keterangan kematian pemegang izin yang dilegalisasi oleh kepala desa
setempat;
(2) Permohonan pelimpahan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus
sudah diajukan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal
meninggalnya pemegang izin atau saat terjadinya perjanjian pelimpahan.
Paragraf 5
Pencabutan Izin
Pasal 18
BAB IV
RETRIBUSI PELAYANAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi
Pasal 19
Pasal 20
Pasal 21
Pasal 22
Pasal 23
Pasal 24
Bagian Kelima
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 25
Bagian Keenam
Wilayah dan Kewenangan Pemungutan Retribusi
Pasal 28
Pasal 29
(1) Masa retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas
waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa umum dari Pemerintah
Daerah.
(2) Masa retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Bupati
sebagai dasar untuk menghitung besarnya retribusi.
Bagian Kedelapan
Tata Cara Pemungutan
Pasal 30
(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang
dipersamakan.
(2) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa surat izin, karcis, kupon, kuitansi pembayaran, kartu langganan dan
nota perhitungan.
Bagian Kesembilan
Tata Cara Pembayaran
Pasal 31
(1) Pembayaran retribusi dilakukan di kas daerah atau tempat lain yang telah
ditentukan oleh Bupati.
(2) Dalam hal pembayaran dilakukan pada tempat yang telah ditentukan oleh
Bupati, maka hasil penerimaan retribusi harus disetor ke kas daerah
selambat-lambatnya 1 (satu) hari kerja atau dalam waktu yang telah
ditentukan oleh Bupati
(3) Tata cara pembayaran retribusi yang dilakukan di tempat lain sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Pasal 32
Bagian Kesepuluh
Sanksi Administrasi
Pasal 33
Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang
membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang bayar dan ditagih
dengan menggunakan STRD.
Bagian Kesebelas
Tata Cara Penagihan Retribusi
Pasal 34
Bagian Keduabelas
Tata Cara Pembetulan, Pengurangan Ketetapan, Penghapusan
atau Pembatalan Retribusi
Pasal 35
Bagian Ketigabelas
Kedaluwarsa Penagihan
Pasal 36
(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi kedaluwarsa setelah melalui jangka
waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila
Wajib Retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi.
(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tertangguh apabila :
a. diterbitkan surat teguran ;
b. ada pengakuan utang retribusi baik langsung maupun tidak langsung.
(3) Dalam hal diterbitkan surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya surat teguran
tersebut.
(4) Pengakuan utang retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b, adalah Wajib Retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih
mempunyai utang Retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah
Daerah.
(5) Pengakuan hutang retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b, dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau
penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh Wajib Retribusi.
Pasal 37
(1) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan
penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan.
(2) Penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
(3) Tata cara penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Keempatbelas
Pemeriksaan
Pasal 38
(1) Bupati atau pejabat yang ditunjuk, berwenang melakukan pemeriksaan untuk
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi dalam rangka
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang retribusi.
(2) Wajib Retribusi yang diperiksa wajib :
a. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan dokumen
yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan
objek retribusi yang terutang;
b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang
dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan;
dan/atau;
c. memberikan keterangan yang diperlukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan retribusi diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kelimabelas
Insentif Pemungutan
Pasal 39
(1) Instansi yang melaksanakan pemungutan Retribusi dapat diberi Insentif atas
dasar pencapaian kinerja tertentu.
(2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
(3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Bupati.
BAB V
PENYIDIKAN
Pasal 40
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Kabupaten
Cilacap diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan
penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah.
(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan
berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi agar keterangan atau
laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi
atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan
dengan tindak pidana retribusi;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi;
d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak
pidana di bidang retribusi;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,
pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan
bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan
tindak pidana di bidang retribusi;
g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan
atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa
identitas orang, benda dan atau dokumen yang dibawa;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi;
i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi;
j. menghentikan penyidikan; dan/atau
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak
pidana dibidang retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahukan dimulainya
penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum,
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara
Pidana
BAB VI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 41
(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan
keuangan daerah diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan
atau pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi terutang yang
tidak atau kurang bayar.
(2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 42
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah Kabupaten
Daerah Tingkat II Cilacap Nomor 1 Tahun 1998 tentang Tempat Pemakaman dan
Penggunaanya (Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Tahun 1998
Nomor 5) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 43
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis
pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh Bupati.
Pasal 44
Ditetapkan di Cilacap
pada tanggal 24 Januari 2012
BUPATI CILACAP,
Diundangkan di Cilacap
pada tanggal 24 Januari 2012
SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN CILACAP,
M. MUSLICH
I. UMUM
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jels.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 6
Cukup jelas.
Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jels.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.
Pasal 8
Cukup jelas.
Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Cukup jelas.
Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 14
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Cukup jelas.
Pasal 21
Cukup jelas.
Pasal 22
Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah
Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat
dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.
Pasal 23
Cukup jelas.
Pasal 24
Cukup jelas.
Pasal 25
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 27
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 30
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 31
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 33
Cukup jelas.
Pasal 34
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 35
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Pasal 37
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 38
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 39
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 40
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 41
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 42
Cukup jelas.
Pasal 43
Cukup jelas.
Pasal 44
Cukup jelas.