0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan22 halaman

Pengelolaan Pemakaman di Cilacap

Peraturan Daerah ini mengatur tentang pengelolaan dan retribusi pelayanan pemakaman serta pengabuan mayat di Kabupaten Cilacap. Dokumen ini menjelaskan definisi istilah yang digunakan seperti tempat pemakaman umum, tanah makam, izin pemakaman, dan tempat lain yang berkaitan dengan pemakaman. Juga ditetapkan ketentuan umum mengenai pengelolaan pemakaman dan pengabuan mayat di wilayah Kabupaten Cilacap.

Diunggah oleh

reyhan kusuma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan22 halaman

Pengelolaan Pemakaman di Cilacap

Peraturan Daerah ini mengatur tentang pengelolaan dan retribusi pelayanan pemakaman serta pengabuan mayat di Kabupaten Cilacap. Dokumen ini menjelaskan definisi istilah yang digunakan seperti tempat pemakaman umum, tanah makam, izin pemakaman, dan tempat lain yang berkaitan dengan pemakaman. Juga ditetapkan ketentuan umum mengenai pengelolaan pemakaman dan pengabuan mayat di wilayah Kabupaten Cilacap.

Diunggah oleh

reyhan kusuma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUPATI CILACAP

PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP


NOMOR 5 TAHUN 2012
TENTANG
PENGELOLAAN DAN RETRIBUSI
PELAYANAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT
DI KABUPATEN CILACAP

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI CILACAP,
Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka
Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Nomor
1 Tahun 1998 tentang Tempat Pemakaman dan
Penggunaannya, sudah tidak sesuai lagi sehingga perlu ditinjau
kembali dan disesuaikan;
b. bahwa dalam rangka upaya pendayagunaan tanah secara
produktif dan efesien bagi pembangunan, maka penggunaan
tanah untuk tempat pemakaman wajib memperhatikan asas
pemanfaatan tanah disamping aspek keagamaan;
c. bahwa sebagai upaya penertiban dan penataan tempat
pemakaman dan pengabuan mayat di Kabupaten Cilacap perlu
mengatur pengelolaan Pemakaman dan Pengabuan mayat;
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada
huruf a, huruf b dan huruf c, maka perlu menetapkan
Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap tentang Pengelolaan dan
Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat di
Kabupaten Cilacap;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan
Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa
Tengah (Berita Negara Republik Indonesia Tanggal 8 Agustus
1950);
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981
Nomor 79, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3209);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4437) sebagaimana telah diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4844);
5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
6. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan
Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4725);
7. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5049);
8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5059);
9. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5234);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang
Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 58 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 90, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5145);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1987 tentang
Penyediaan dan Penggunaan Tanah untuk Keperluan Tempat
Pemakaman (Lembaran Negara Negara Republik Indonesia
Tahun 1987 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3350);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara
Penghapusan Piutang Negara/Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 31, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4488);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4737);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2010 Nomor 119, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5161);
16. Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Nomor
2 Tahun 1988 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di
Lingkungan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap
(Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Tahun
1988 Nomor 6, Seri D Nomor 3);
17. Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 8 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah
Kabupaten Cilacap Tahun 2007 Nomor 8);
18. Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 9 Tahun 2011
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Cilacap
Tahun 2011-2031 (Lembaran Daerah Kabupaten Cilacap Tahun
2011 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten
Cilacap Nomor 63);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN CILACAP


dan
BUPATI CILACAP

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PENGELOLAAN DAN RETRIBUSI PELAYANAN PEMAKAMAN


DAN PENGABUAN MAYAT DI KABUPATEN CILACAP.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :


1. Daerah adalah Kabupaten Cilacap.
2. Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta Perangkat Daerah sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Daerah.
3. Bupati adalah Bupati Cilacap.
4. Tempat Pemakaman Umum, yang selanjutnya disingkat TPU, adalah tempat
pemakaman yang dikelola oleh Pemerintah Daerah dan atau pemerintah desa
berupa areal tanah yang disediakan untuk keperluan pemakaman jenazah bagi
setiap orang tanpa membedakan agama dan golongan.
5. Tanah makam adalah tempat untuk memakamkan jenazah seseorang yang
telah meninggal dunia.
6. Tanah makam yang langsung dipergunakan adalah petak tanah makam yang
disediakan oleh TPU yang langsung dimanfaatkan untuk pemakaman.
7. Tanah makam cadangan/pemesanan adalah petak tanah makam yang
disediakan oleh TPU atas pemesanan seseorang yang tidak dimanfaatkan
secara langsung untuk pemakaman.
8. Tanah makam tumpang adalah petak tanah makam yang disediakan oleh TPU
untuk memakamkan 2 (dua) jenazah atau lebih.
9. Hiasan/Kijing diatas makam adalah bangunan standar yang terbuat dari
pasangan ½ batu-bata dan atau bahan-bahan lainnya yang bersifat permanent
dengan diberi tanda batu nisan yang didirikan diatas makam seseorang.
10. Izin pemakaman adalah Izin penggunaan Tanah untuk tempat pemakaman dan
atau tempat kremasi jenazah beserta tempat penyimpanan abu jenazah.
11. Izin membangun Hiasan/ Kijing adalah Izin untuk membangun hiasan/kijing
diatas makam.
12. Pemohon Izin adalah pemohon Izin pemakaman atau membangun hiasan/
kijing diatas makam.
13. Pemegang Izin adalah pemegang Izin pemakaman dan membangun hiasan/
kijing diatas makam.
14. Tempat pemakaman bukan umum adalah areal tanah yang disediakan untuk
keperluan pemakaman jenazah yang pengelolaannya dilakukan oleh badan
sosial dan atau badan keagamaan.
15. Tempat pemakaman khusus adalah areal tanah yang digunakan untuk tempat
pemakaman yang karena faktor sejarah kebudayaan mempunyai arti khusus.
16. Tempat penyimpanan abu jenazah adalah tempat yang dibangun dilingkungan
krematorium yang dipergunakan untuk menyimpan abu jenazah setelah
dikremasi.
17. Krematorium adalah tempat pembakaran jenazah seseorang yang telah
meninggal.
18. Kremasi adalah pembakaran jenazah seseorang yang telah meninggal dan atau
kerangka jenazah.
19. Tanah wakaf adalah tanah yang diberikan secara sukarela oleh seseorang,
badan hukum atau organisasi yang digunakan untuk tempat pemakaman.
20. Badan Sosial adalah badan yang bergerak dibidang sosial yang sudah
didaftarkan pada instansi berwenang.
21. Badan Keagamaan adalah badan yang bergerak dibidang keagamaan yang
sudah didaftarkan pada instansi berwenang.
22. Pejabat yang ditunjuk adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang
retribusi daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
23. Instansi yang berwenang adalah Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten
Cilacap.
24. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau Badan yang menurut peraturan
perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran
retribusi, termasuk pemungut dan pemotong retribusi tertentu.
25. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas
waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu
dari Pemerintah Daerah yang bersangkutan.
26. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SKRD adalah
surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi
yang terutang.
27. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat
untuk melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif berupa
bunga dan/atau denda.
28. Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Retribusi Daerah adalah serangkaian
tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan
bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang retribusi
daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
29. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara
yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak
pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
30. Penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk
melakukan penyidikan.

BAB II
ASAS DAN TUJUAN

Pasal 2

(1) Izin pemakaman dan pengabuan mayat diselenggarakan berdasarkan asas


tanggungjawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas
kesadaran hukum, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan,
asas kesehatan dan lingkungan.
(2) Izin pemakaman dan pengabuan mayat bertujuan untuk meningkatkan
penataan penggunaan tanah secara efisien, serta memberikan penghormatan
terhadap harkat dan martabat jenazah.

BAB III
PENGELOLAAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT
Bagian Kesatu
Penetapan Tanah Untuk Tempat Pemakaman
Paragraf 1
Penetapan Lokasi

Pasal 3

(1) Penetapan lokasi tanah untuk keperluan tempat pemakaman umum,


krematorium beserta tempat penyimpanan abu jenazah ditetapkan oleh Bupati.
(2) Penetapan lokasi tanah untuk keperluan tempat pemakaman bukan umum,
termasuk tanah wakaf yang dipakai untuk tempat pemakaman, krematorium
beserta penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh badan sosial dan atau
badan keagamaan diatur lebih lanjut oleh Bupati.
(3) Dalam melakukan penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
harus berdasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah yang berlaku.

Paragraf 2
Hak Pakai

Pasal 4

(1) Areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman umum, krematorium beserta
tempat penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh Pemerintah Daerah atau
Pemerintah Desa diberikan status hak pakai dengan jangka waktu selama
dipergunakan untuk keperluan pemakaman dan diproses berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman bukan umum, krematorium
beserta tempat penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh badan sosial dan
atau badan keagamaan diberikan hak pakai dengan jangka waktu selama 10
(sepuluh) tahun dan tiap kali dapat diperpanjang kembali kecuali tanah wakaf
yang dipergunakan untuk pemakaman dengan status hak milik.
(3) Areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman bukan umum, krematorium
beserta tempat penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh badan sosial
dan/atau badan keagamaan dapat diberikan hak pakai dengan jangka waktu
selama dipergunakan sepanjang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. melampirkan akta pendirian badan sosial dan atau badan keagamaan yang
sudah didaftarkan di Pengadilan Negeri;
b. melampirkan rekomendasi dari Dinas Sosial dan/atau kantor Kementerian
Agama Cilacap yang menyatakan bahwa badan sosial dan/atau badan
keagamaan dimaksud benar-benar bergerak dibidang sosial dan/atau
keagamaan;
c. badan sosial dan/atau badan keagamaan sebagaimana dimaksud pada
huruf a sudah pernah ditunjuk sebagai subjek hak yang dapat mempunyai
tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, namun yang
bersangkutan memandang cukup jika diberikan hak pakai.
(4) Areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman khusus yang pengelolaannya
oleh badan sosial dan/atau badan keagamaan yang digunakan untuk
pemakaman diberikan hak pakai selama masih dipergunakan.
(5) Areal tanah wakaf yang digunakan untuk tempat pemakaman diberikan hak
pakai selama masih dipergunakan.
Paragraf 3
Pembatalan Hak

Pasal 5

(1) Hak pakai atas areal tanah untuk keperluan tempat pemakaman bukan umum,
krematorium beserta tempat penyimpanan abu jenazah yang dikelola oleh
badan sosial dan/atau badan keagamaan yang telah diberikan sewaktu-waktu
dapat dibatalkan haknya.
(2) Pembatalan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat terjadi karena
jangka waktu berakhir, penyimpangan dalam pengelolaan serta
ketidaksesuaian dengan Rencana Tata Ruang dan perkembangan lingkungan.

Pasal 6

Pembatalan hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilakukan setelah


dilaksanakan:
a. peringatan pertama dengan jangka waktu selama 3 (tiga) bulan, peringatan
kedua dengan jangka waktu 2 (dua) bulan dan peringatan ketiga dengan
jangka waktu selama 1 (satu) bulan.
b. apabila sampai dengan peringatan ketiga tidak ada tanggapan perhatian, maka
Pemerintah Daerah dapat menutup dan kemudian mencabut pelayanan
pengelolaanya serta mengusulkan pembatalan hak atas tanahnya sesuai
ketentuan peraturan perundangan-undangan.

Bagian Kedua
Pengelolaan Tempat Pemakaman
Paragraf 1
Pengelolaan

Pasal 7

(1) Pegelolaan tempat pemakaman umum, krematorium serta tempat


penyimpanan abu jenazah milik Pemerintah Daerah dilakukan oleh Dinas
Teknis.
(2) Pengelolaan tempat pemakaman umum di Desa dilaksanakan oleh Pemerintah
Desa dengan tetap harus memperhatikan dan mengindahkan ketentuan
peraturan perundang undangan.
(3) Pengelolaan tempat pemakaman bukan umum, krematorium serta tempat
penyimpanan abu jenazah milik swasta dilakukan oleh badan sosial dan/atau
badan keagamaan yang telah mendapat izin Bupati.
(4) Pengelolaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diberikan kepada pemohon
setelah mendapat persetujuan dari pejabat yang berwenang.
(5) Pengelolaan tempat pemakaman sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak
dibenarkan dilakukan oleh perseorangan dan tidak boleh bersifat komersial
dan tidak bersifat eksklusif.
(6) Tata cara dan syarat-syarat pemberian pengelolaan tempat pemakaman
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Bupati.
Paragraf 2
Penataan Tempat

Pasal 8

Untuk ketertiban tempat pemakaman harus dilakukan hal-hal sebagai berikut :


a. Perlakuan yang sama terhadap setiap jenazah yang akan dimakamkan;
b. Penggunaan tanah untuk pemakaman jenazah seseorang pada pemakaman
umum ditetapkan 2 (dua) meter x 1 (satu) meter, dengan jarak pemakaman
antara satu dengan yang lain ditetapkan 0,5 (setengah) meter dan antara tanah
makam yang satu dengan yang lain ditanami rumput, sedangkan pemakaman
bukan umum ditentukan oleh pengelola dengan memperhatikan efisiensi
penggunaan tanah serta keserasian dan kelestarian lingkungan;
c. Penanaman rumput sebagaimana dimaksud pada huruf (b) adalah rumput
jepang atau rumput manila atau rumput gajah mini;
d. Tempat pemakaman dapat dikelompokkan bagi masing-masing pemeluk agama
yang jumlahnya disesuaikan dengan kondisi setempat;
e. Makam untuk suami/istri boleh dipesan dengan perjanjian dan harus sesudah
salah seorang meninggal dunia dengan syarat sebagai berikut
1. sepanjang tanahnya memungkinkan;
2. pemesanan berlaku untuk jangka waktu 1 (satu) tahun dan dapat
diperpanjang setiap tahun, dengan mempertimbangkan ketersediaan dan
kebutuhan tanah makam.
f. Pemakaman jenazah hanya boleh dilakukan ditempat yang telah ditentukan
dengan memperhatikan adat istiadat penduduk setempat;
g. Ahli waris bertanggung jawab atas keutuhan hiasan/kijing dan makam
tersebut sedangkan pengelola bertanggung jawab atas keindahan, kebersihan
dan sarana prasarana TPU.

Bagian Ketiga
Krematorium

Pasal 9

(1) Untuk pembakaran jenazah dan atau kerangka jenazah sesuai dengan agama
masing-masing dapat dibangun krematorium yang dikelola oleh Pemerintah
Daerah.
(2) Pengelolaan krematorium dapat dilakukan oleh badan sosial dan/atau badan
keagamaan.
(3) Penunjukkan lokasi tanah untuk pembangunan krematorium ditetapkan oleh
Bupati.

Bagian Keempat
Penutupan dan Pemindahan Lokasi

Pasal 10

(1) Apabila terdapat suatu tempat pemakaman umum, tempat pemakaman bukan
umum, krematorium dan penyimpanan abu jenazah yang dipandang tidak
sesuai lagi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, sehingga menjadi
penghambat peningkatan mutu lingkungan harus ditutup dan secara bertahap
diusahakan pemindahannya ke lokasi yang sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah.
(2) Penutupan dan pemindahan tempat pemakaman umum, tempat pemakaman
bukan umum, krematorium dan tempat penyimpanan abu jenazah ketempat
lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Bupati.
(3) Bekas tempat pemakaman umum, tempat pemakaman bukan umum,
krematorium dan tempat penyimpanan abu jenazah sedapat mungkin untuk
kepentingan sosial dan/atau keagamaan.
Pasal 11

Tata cara dan syarat-syarat penutupan dan pemindahan lokasi tempat pemakaman
umum, tempat pemakaman bukan umum, krematorium serta tempat penyimpanan
abu jenazah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Bagian Kelima
Pemakaman dan Kremasi Jenazah serta pembangunan
Hiasan/Kijing di atas makam

Pasal 12

Setiap jenazah wajib dimakamkan atau kremasi ditempat pemakaman umum dan
atau tempat pemakaman bukan umum atau krematorium yang telah ditetapkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.

Pasal 13

(1) Di atas pemakaman umum atau pemakaman bukan umum dapat dibangun
hiasan/kijing makam disesuaikan dengan bentuk standar yang ditentukan
oleh pejabat yang berwenang.
(2) Setiap makam diberi papan nama, tanggal lahir, tanggal wafat yang meninggal,
kode/catatan yang memuat nomor dan tanggal berdasarkan surat izin
pemakaman yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang.

Bagian Keenam
Perizinan
Paragraf 1
Surat Izin

Pasal 14

(1) Setiap orang yang akan mamakamkan jenazah, mengkremasi jenazah dan
penyimpanan abu jenazah atau akan membangun hiasan/kijing diatas makam,
wajib mendapatkan surat izin dari instansi yang berwenang.
(2) Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memuat kewajiban-kewajiban
yang harus ditaati oleh pemegang izin.

Paragraf 2
Syarat-Syarat Izin

Pasal 15

(1) Untuk mendapatkan izin pemakaman jenazah, pengkremasian jenazah dan


penyimpanan abu jenazah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1),
pemohon izin secara tertulis kepada instansi yang berwenang dengan cara
mengisi formulir permohonan yang telah disediakan dengan dilampiri :
a. Foto copy Kartu Tanda Penduduk;
b. Surat Keterangan kematian dari RT/RW;
c. Surat Keterangan kematian dari pejabat yang berwenang atau Dinas
kesehatan.
(2) Untuk mendapatkan izin pembangunan hiasan/kijing diatas makam
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1), pemohon izin harus
mengajukan permohonan izin secara tertulis kepada instansi yang berwenang
dengan cara mengisi formulir yang telah disediakan dengan dilampiri :
a. Foto copy Kartu Tanda Penduduk;
b. Rekomendasi dari kepala desa setempat;
c. Gambar denah lokasi tempat pemakaman yang akan dibangun
hiasan/kijing.

Paragraf 3
Masa Berlakunya Izin

Pasal 16

(1) Izin berlaku selama tanah yang bersangkutan masih berstatus sebagai tempat
pemakaman dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Tempat Pemakaman Umum;
1. Izin pada Tempat Pemakaman Umum yang dikelola oleh Pemerintah
Daerah, wajib didaftar ulang setiap 2 (dua) tahun;
2. Izin pada Tempat Pemakaman Umum yang dikelola oleh Pemerintah
Desa, wajib didaftar ulang setiap 2 (dua) tahun.
b. Izin pada Tempat Pemakaman Bukan Umum, wajib didaftar ulang setiap 5
(lima) tahun.
(2) Daftar ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan 1 (satu)
bulan sebelum masa berlakunya berakhir dengan dilampiri :
a. foto copy Kartu Tanda Penduduk pemohon;
b. izin yang bersangkutan.

Paragraf 4
Pelimpahan Izin

Pasal 17

(1) Dalam hal pemegang izin meninggal dunia atau bermaksud melimpahkan izin
atas namanya kepada orang lain, maka ahli waris atau orang yang
mendapatkan pelimpahan izin wajib mengajukan permohonan pelimpahan izin
kepada instansi yang berwenang dengan dilampiri :
a. foto copy Kartu Tanda Penduduk pemohon;
b. surat keterangan kematian pemegang izin yang dilegalisasi oleh kepala desa
setempat;
(2) Permohonan pelimpahan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus
sudah diajukan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal
meninggalnya pemegang izin atau saat terjadinya perjanjian pelimpahan.

Paragraf 5
Pencabutan Izin

Pasal 18

(1) Izin dicabut tidak berlaku lagi apabila :


a. izin diperoleh secara tidak sah;
b. pemegang izin melanggar ketentuan-ketentuan yang diatur dalam
Peraturan Daerah ini dan atau melanggar syarat-syarat yang ditetapkan
dalam surat izin.
c. lokasi izin tempat Pemakaman dibutuhkan untuk kepentingan
pembangunan atau kepentingan umum;
d. pemegang izin meninggal dunia atau izin dilimpahkan kepada pihak lain
atau ahli waris dan dalam waktu 3 (tiga) bulan terhitung sejak
meninggalnya pemegang izin atau pelimpahan izin, ahli waris atau pihak
yang menerima pelimpahan izin tidak mengajukan permohonan izin;
e. izin tidak didaftar ulang/diperpanjang.
(2) Dalam hal terjadi pencabutan izin atau izin tidak berlaku lagi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), maka Pemerintah Daerah berhak untuk membongkar
bangunan makam yang bersangkutan atas biaya pemegang izin kecuali dalam
hal ini terjadi pembongkaran karena lokasi pemakaman dibutuhkan oleh
Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c.
(3) Pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberitahukan secara
tertulis kepada pemegang izin dengan menyebutkan alasan-alasannya setelah
terlebih dahulu kepada pemegang izin diberikan peringatan paling banyak 3
(tiga) kali.
(4) Tata cara permohonan izin, pendaftaran ulang dan pelimpahan izin diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

BAB IV
RETRIBUSI PELAYANAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi

Pasal 19

Dengan nama Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat dipungut


retribusi sebagai pembayaran atas pelayanan pemakaman mayat yang disediakan
oleh Pemerintah Daerah.

Pasal 20

Objek Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat adalah pelayanan


pemakaman dan pengabuan mayat yang meliputi:
a. pelayanan penguburan/pemakaman termasuk penggalian dan pengurukan,
pembakaran/pengabuan mayat; dan
b. sewa tempat pemakaman atau pembakaran/pengabuan mayat yang dimiliki
atau dikelola Pemerintah Daerah.

Pasal 21

Subjek Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat adalah orang


pribadi atau Badan yang mendapatkan izin tempat pemakaman dan pengabuan
mayat.
Bagian Kedua
Golongan Retribusi

Pasal 22

Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan termasuk golongan Retribusi Jasa


Umum.
Bagian Ketiga
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa

Pasal 23

Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jenis pelayanan dengan


memperhatikan ukuran lahan dan jangka waktu penggunaan.
Bagian Keempat
Prinsip dan Sasaran Dalam Penetapan Struktur Tarif Retribusi

Pasal 24

Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi ditetapkan dengan


memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat,
aspek keadilan dan efektifitas pengendalian atas pelayanan tersebut.

Bagian Kelima
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi

Pasal 25

(1) Terhadap penggunaan tanah untuk tempat pemakaman kepada pemohon


dikenakan retribusi sebagai berikut :
a. Pemakaman Umum yang dikelola oleh Pemerintah Daerah :
1. Penggunaan tanah untuk pemakaman jenazah ukuran 2 (dua) x 1
(satu) meter yang lansung dipergunakan dikenakan tarif Rp. 15.000,-
(lima belas ribu rupiah);
2. Penggunaan tanah makam Cadangan/Pemesanan untuk pemakaman
jenazah bagi suami/istri ukuran 2 (dua) x 1 (satu) meter yang tidak
langsung dipergunakan dikenakan tarif Rp. 45.000,- (empat puluh
lima ribu rupiah);
a. Perpanjangan tahun I (pertama) Rp.90.000,- (sembilan puluh ribu
rupiah).
b. Perpanjangan tahun II (kedua) Rp.180.000,- (seratus delapan
puluh ribu rupiah).
c. Perpanjangan tahun III (ketiga) Rp.360.000,- (tiga ratus enam
puluh ribu rupiah).
d. Perpanjangan tahun IV (keempat) Rp.720.000,- (tujuh ratus dua
puluh ribu rupiah).
3. Penggunaan tanah untuk pemakaman jenazah dengan ukuran
panjang dan lebar kurang dari yang diatur dalam angka 1 dikenakan
tarif Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah);
4. Penggunaan tanah makam Tumpang untuk pemakaman jenazah
pertama dengan ukuran 2 (dua) x 1 (satu) meter yang langsung
dipergunakan dikenakan tarif Rp.2.500,- (dua ribu lima ratus rupiah);
5. Penggunaan tanah makam Tumpang untuk pemakaman jenazah
kedua dengan ukuran 2 (dua) x 1 (satu) meter yang langsung
dipergunakan dikenakan tarif Rp 5.000,- (lima ribu rupiah);
b. Pemakaman Umum yang dikelola oleh Pemerintah Desa :
1. Penggunaan tanah untuk pemakaman jenazah ukuran 2 (dua) x 1
(satu ) meter dikenakan tarif Rp.10.000,- (sepuluh ribu rupiah);
2. Penggunaan tanah untuk pemakaman jenazah dengan ukuran
panjang dan lebar kurang dari yang diatur dalam angka 1 dikenakan
tarif Rp.5.000,- (lima ribu rupiah);
c. Penggunaan tanah untuk pemakamann jenazah yang dilakukan oleh
Pemerintah Daearah bagi keluarga yang tidak mampu dengan
menunjukan surat dari Kepala Desa tidak dikenakan tarif retribusi.
(2) Terhadap perpanjangan izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, kepada
pemohon retribusi yang besarnya sama dengan tarif retribusi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b.
Pasal 26

(1) Pembangunan hiasan/kijing standar oleh Pemerintah Daerah diatas makam


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) dikenakan tarif Rp.5.000,-
(lima ribu rupiah).
(2) Biaya papan nama yang dibuat oleh Pemerintah Daerah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2), adalah sebesar Rp. 15.000,- (lima belas ribu
rupiah).
Pasal 27

(1) Hasil pungutan retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 disetor ke


kas daerah sesuai ketentuan peraturan perundang undangan.
(2) Pembagian hasil pungutan retribusi pelayanan yang berasal dari tempat
pemakaman umum yang dikelola oleh Desa adalah 50% (lima puluh prosen)
untuk Desa yang bersangkutan dan 50% disetor ke kas daerah yang
mekanisme pembagiannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Bagian Keenam
Wilayah dan Kewenangan Pemungutan Retribusi

Pasal 28

Retribusi yang terutang dipungut di wilayah/daerah tempat penyediaan pelayanan


diberikan.
Bagian Ketujuh
Masa Retribusi

Pasal 29

(1) Masa retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas
waktu bagi Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa umum dari Pemerintah
Daerah.
(2) Masa retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Bupati
sebagai dasar untuk menghitung besarnya retribusi.

Bagian Kedelapan
Tata Cara Pemungutan

Pasal 30

(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang
dipersamakan.
(2) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berupa surat izin, karcis, kupon, kuitansi pembayaran, kartu langganan dan
nota perhitungan.

Bagian Kesembilan
Tata Cara Pembayaran

Pasal 31

(1) Pembayaran retribusi dilakukan di kas daerah atau tempat lain yang telah
ditentukan oleh Bupati.
(2) Dalam hal pembayaran dilakukan pada tempat yang telah ditentukan oleh
Bupati, maka hasil penerimaan retribusi harus disetor ke kas daerah
selambat-lambatnya 1 (satu) hari kerja atau dalam waktu yang telah
ditentukan oleh Bupati
(3) Tata cara pembayaran retribusi yang dilakukan di tempat lain sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Pasal 32

(1) Pembayaran retribusi dilakukan secara tunai / lunas.


(2) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat memberi izin kepada Wajib Retribusi
untuk mengangsur retribusi terutang dalam jangka waktu tertentu dengan
alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
(3) Tata cara pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Bagian Kesepuluh
Sanksi Administrasi

Pasal 33

Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang
membayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen)
setiap bulan dari retribusi yang terutang yang tidak atau kurang bayar dan ditagih
dengan menggunakan STRD.

Bagian Kesebelas
Tata Cara Penagihan Retribusi

Pasal 34

(1) Penagihan retribusi yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 di


dahului dengan Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis.
(2) Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) sebagai awal tindakan penagihan retribusi dikeluarkan
7 (tujuh) hari oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk sejak jatuh tempo
pembayaran.
(3) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran atau surat
peringatan atau surat lain yang sejenis, Wajib Retribusi harus melunasi
retribusi yang terutang.
(4) Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk.

Bagian Keduabelas
Tata Cara Pembetulan, Pengurangan Ketetapan, Penghapusan
atau Pembatalan Retribusi

Pasal 35

(1) Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan keberatan berupa pembetulan,


pengurangan ketetapan, penghapusan atau pembatalan kepada Bupati atau
Pejabat yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
disampaikan secara tertulis oleh Wajib Retribusi kepada Bupati atau Pejabat
yang ditunjuk paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan.
(3) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara
tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas.
(4) Pengajuan permohonan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan
pelaksanaan penagihan retribusi.
(5). Tanggapan atas permohonan keberatan ditetapkan dengan Keputusan Bupati
dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat keberatan
diterima.

Bagian Ketigabelas
Kedaluwarsa Penagihan

Pasal 36

(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi kedaluwarsa setelah melalui jangka
waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila
Wajib Retribusi melakukan tindak pidana dibidang retribusi.
(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tertangguh apabila :
a. diterbitkan surat teguran ;
b. ada pengakuan utang retribusi baik langsung maupun tidak langsung.
(3) Dalam hal diterbitkan surat teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf
a, kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya surat teguran
tersebut.
(4) Pengakuan utang retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b, adalah Wajib Retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih
mempunyai utang Retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah
Daerah.
(5) Pengakuan hutang retribusi secara langsung sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b, dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau
penundaan pembayaran dan permohonan keberatan oleh Wajib Retribusi.

Pasal 37

(1) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan
penagihan sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan.
(2) Penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Bupati.
(3) Tata cara penghapusan piutang retribusi yang sudah kedaluwarsa diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Bupati.

Bagian Keempatbelas
Pemeriksaan

Pasal 38

(1) Bupati atau pejabat yang ditunjuk, berwenang melakukan pemeriksaan untuk
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi dalam rangka
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang retribusi.
(2) Wajib Retribusi yang diperiksa wajib :
a. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan dokumen
yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan
objek retribusi yang terutang;
b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang
dianggap perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan;
dan/atau;
c. memberikan keterangan yang diperlukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan retribusi diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kelimabelas
Insentif Pemungutan
Pasal 39
(1) Instansi yang melaksanakan pemungutan Retribusi dapat diberi Insentif atas
dasar pencapaian kinerja tertentu.
(2) Pemberian insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan melalui
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
(3) Tata cara pemberian dan pemanfaatan insentif diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Bupati.
BAB V
PENYIDIKAN
Pasal 40
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Kabupaten
Cilacap diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan
penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah.
(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan
berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi agar keterangan atau
laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas;
b. meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi
atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan
dengan tindak pidana retribusi;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan
sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi;
d. memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak
pidana di bidang retribusi;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,
pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan
bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan
tindak pidana di bidang retribusi;
g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan
atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa
identitas orang, benda dan atau dokumen yang dibawa;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi;
i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi;
j. menghentikan penyidikan; dan/atau
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak
pidana dibidang retribusi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahukan dimulainya
penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum,
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara
Pidana
BAB VI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 41
(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan
keuangan daerah diancam dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan
atau pidana denda paling banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi terutang yang
tidak atau kurang bayar.
(2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 42

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah Kabupaten
Daerah Tingkat II Cilacap Nomor 1 Tahun 1998 tentang Tempat Pemakaman dan
Penggunaanya (Lembaran Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Tahun 1998
Nomor 5) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 43

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis
pelaksanaannya diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Pasal 44

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan


Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten
Cilacap.

Ditetapkan di Cilacap
pada tanggal 24 Januari 2012

BUPATI CILACAP,

Cap & ttd

TATTO SUWARTO PAMUJI

Diundangkan di Cilacap
pada tanggal 24 Januari 2012

SEKRETARIS DAERAH
KABUPATEN CILACAP,

Cap & ttd

M. MUSLICH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CILACAP TAHUN 2012 NOMOR 5


PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP
NOMOR 5 TAHUN 2012
TENTANG
PENGELOLAAN DAN RETRIBUSI
PELAYANAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT
DI KABUPATEN CILACAP

I. UMUM

Dalam upaya pendayagunaan tanah secara produktif dan efesien bagi


pembangunan, maka penggunaan tanah untuk tempat pemakaman harus
memperhatikan asas pemanfaatan tanah disamping aspek keagamaan dan
sosial budaya mengingat tanah tidak mungkin berkembang dilain pihak
pemanfaatannya selalu mengalami perkembangan.
Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah memberikan keleluasaan kepada Daerah
Kabupaten/Kota untuk menggali dan meningkatkan pendapatan asli daerah
seoptimal mungkin baik dari sektor Retribusi Daerah guna menunjang
pembangunan Daerah.
Untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dalam ketentuan Pasal 156 ayat (1)
disebutkan Retribusi ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Bahwa berdasarkan Pasal 110 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang menyebutkan salah satu
jenis Retribusi Jasa Umum adalah Pengelolaan dan Retribusi Pelayanan
Pemakaman dan Pengabuan Mayat di Kabupaten Cilacap.
Pengelolaan dan Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat
di Kabupaten Cilacap sebelumnya telah diatur dengan Peraturan Daerah
Kabupaten Daerah Tingkat II Cilacap Nomor 1 Tahun 1998 tentang Tempat
Pemakaman dan Penggunaanya, dengan dikeluarkannya Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka
Peraturan Daerah dimaksud sudah tidak sesuai sehingga perlu disesuaikan.
Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut di atas maka
perlu mengatur kembali Pengelolaan dan Retribusi Pelayanan Pemakaman dan
Pengabuan Mayat di Kabupaten Cilacap.

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasal 2
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 3
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 4
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jels.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 5
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 6
Cukup jelas.

Pasal 7
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jels.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 10
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 11
Cukup jelas.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal 13
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 14
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 15
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 16
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 17
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 18
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Pasal 19
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas.

Pasal 21
Cukup jelas.

Pasal 22
Jasa Umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah
Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat
dinikmati oleh orang pribadi atau Badan.

Pasal 23
Cukup jelas.

Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 27
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 30
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 31
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 32
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas.

Pasal 34
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 35
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.

Pasal 37
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 38
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 39
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 40
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.

Pasal 41
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal 42
Cukup jelas.

Pasal 43
Cukup jelas.

Pasal 44
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 72

Anda mungkin juga menyukai