0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan10 halaman

Investigasi Kecelakaan Kerja K3

Audit K3 dan investigasi kecelakaan kerja bertujuan untuk meningkatkan kualitas keselamatan kerja dan mencegah terulangnya kecelakaan serupa. Investigasi meliputi pengumpulan informasi, pembentukan tim, rekonstruksi kejadian, identifikasi penyebab, dan rekomendasi perbaikan.

Diunggah oleh

Aisyah zalzabila12
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan10 halaman

Investigasi Kecelakaan Kerja K3

Audit K3 dan investigasi kecelakaan kerja bertujuan untuk meningkatkan kualitas keselamatan kerja dan mencegah terulangnya kecelakaan serupa. Investigasi meliputi pengumpulan informasi, pembentukan tim, rekonstruksi kejadian, identifikasi penyebab, dan rekomendasi perbaikan.

Diunggah oleh

Aisyah zalzabila12
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

AUDIT K3, INVESTIGASI KECELAKAAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Dosen Pengampu: Ir. Heni Fitriani, S.T., M.T., Ph.D.

Disusun Oleh:
1. Dessy Fitrani 03011182025016
2. Muhammad Naufal Aqil 03011182025032
3. Aisyah Najwa Zalzabilah 03011182025036
4. Alridho Rizkiansyah 03011182025076

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2022
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kecelakaan kerja merupakan sesuatu yang sangat dihindari bagi
penyelenggara proyek maupun pekerja. Kecelakaan proyek dapat dikategorikan
dari kecelakaan yang beresiko rendah hingga mengakibatkan kematian. Sangat
banyak faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan proyek, mulai dari pekerja
yang tidak mengikuti aturan K3 yang berlaku, kesalahan pada alat yang
digunakan, hingga tidak tegasnya penyelenggara proyek dalam menerapkan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja dalam lingkungan proyek itu sendiri.
Audit dan investigasi kecelakaan menjadi salah satu alternatif cara untuk
memperbaiki dan menegaskan mengenai sistem K3. Audit dan investigasi
kecelakaan kerja ini harus dilakukan oleh personel atau team investigasi yang
kompeten untuk melaksanakan tugas tersebut. Oleh karena itu, investigator
kecelakaan kerja harus mendapatkan pelatihan tentang prosedur investigasi
kecelakaan kerja, teknik investigasi kecelakaan dan analisa akar penyebab
kecelakaan kerja. Sedangkan Team Investigasi Kecelakaan Kerja (TIK) dapat
disusun oleh Investigator, yang dapat terdiri dari ; orang yang menguasai bidang
tertentu (ahli) dan pendamping team (satpam, Humas, dsb).
Investigasi kecelakaan kerja merupakan salah satu upaya untuk
mengendalikan dan mencegah kerugian (termasuk proses produksi) yang timbul
akibat kecelakaan kerja.

1.2 Rumusan Masalah


1. Menganalisis prosedur pelaksanaan dari investigasi kecelakaan?
2. Menganalisis cara menentukan akar pada penyebab kecelajaan kerja?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui bagaimana cara memperbaiki kualitas keselamatan kerja
2. Mengurangi kesempatan terjadinya kecelakan kerja serupa dimasa datang
3. Menyediakan atau membangun tempat atau lingkungan kerja yang aman
BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Landasan Teori


1.1.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pengertian K3 Menurut Filosofi Mangkunegara, Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan
manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan
makmur. Pengertian K3 Menurut Keilmuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) adalah semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja, penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran
lingkungan. Pengertian K3 Menurut OHSAS 18001:2007 Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) adalah semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak
pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor,
pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja.
Ketiga versi pengertian K3 di atas adalah pengertian K3 yang
umum/paling sering digunakan di antara versi-versi pengertian/definisi K3
(Keselamatan dan Kesehatan Kerja) lainnya. Sebagaimana diketahui, tahun 2017
merupakan tahun ke-3 bagi bangsa Indonesia yang secara terus menerus berusaha
mewujudkan kemandirian masyarakat Indonesia berbudaya K3 tahun 2020.
Menurut Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Muhammad Hanif Dhakiri,
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja mengatur
dengan jelas pelaksanaan K3 di semua tempat kerja dimana terdapat tenaga kerja,
hubungan kerja atau kegiatan usaha dan sumber bahaya baik di darat, didalam
tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara yang berada di dalam
wilayah Indonesia.
Disamping itu, tujuan K3 tidak hanya untuk memberikan perlindungan
terhadap tenaga kerja dan orang lain yang berada di tempat kerja agar terjamin
keselamatannya, tetapi juga untuk mengendalikan resiko terhadap peralatan, aset,
dan sumber produksi sehingga dapat digunakan secara aman dan efisien agar
terhindar dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Perlindungan K3 yang efektif
dan efisien dapat mendorong produktivitas jika di laksanakan dan di terapkan
melalui sistem manajemen K3 sebagaimana amanat pasal 83 Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Untuk itu, tema peringatan
bulan K3 Nasional tahun ini dimaksudkan untuk mendorong semua pihak
berpartisipasi aktif membudayakan K3 yang diharapkan menjadi bagian integral
dalam pembangunan nasional untuk meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan
masyarakat.

1.1.2 Investigasi Kecelakaan


Investigasi kecelakaan adalah suatu cara untuk mencari data dan fakta
yang berhubungan dengan kecelakaan kerja yang mengakibatkan korban jiwa atau
kerugian harta benda. Investigasi kecelakaan dilakukan guna mencari akar
penyebab dari kecelakaan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Ada beberapa langkah dalam mengivestigasi kecelakaan kerja:
1. Segera kumpulkan segala informasi terkait dengan kecelakaan
Hal paling pertama yang harus dilakukan adalah sebisa mungkin segera
mengumpulkan semua data dan informasi terkait dengan kecelakaan kerja.
Informasi bisa diperoleh dengan cara langsung datang ke tempat kejadian,
menginterview semua personel yang terkait dan sebagainya. Jika langkah ini
terlambat dilakukan ditakutkan banyak informasi yang cepat menguap atau
banyak informasi yang ‘dihilangkan’ atau ‘direkayasa’ oleh pihak-pihak tertentu.
Tentu hal ini tidak kita inginkan.
2. Membentuk tim investigasi
Segeralah membentuk tim untuk melakukan investigasi. Besar tim
tergantung jenis kecelakaan. Jika kasus kecelakaan adalah kecelakaan ringan yang
tidak mengakibatkan dampak signifikan bisa saja tim hanya beranggotakan satu
atau dua orang saja dari fasilitas kerja tersebut. Namun jika kasusnya semakin
berat atau kompleks atau kemungkinan dampak yang ditimbulkan bisa berat maka
perlu memasukkan beberapa member yang tepat dalam investigasi misalnya
supervisor, pemiliki fasilitas kerja, expert bidang tertentu (untuk kasus-kasus yang
membutuhkan ahli di bidangnya) dsb. Perlu diperhatikan juga keterlibatan
manajemen dan top manajemen dalam investigasi ini mengingat investigasi
merupakan isu yang sensitif sehingga memerlukan peran dan komitmen yang kuat
dari manajemen.

3. Meruntutkan kejadian kecelakaan kerja


Setelah informasi diperoleh dan tim terbentuk mulailah untuk melakukan
peruntutan kejadian. Kejadian perlu diruntutkan untuk memudahkan tim dalam
mehamami alur cerita dari awal sampai kecelakaan itu terjadi. Jangkauan waktu
dari runtut kecelakaan ini bisa bervariasi, bisa dimulai dari cerita saat pekerja
berangkat kerja pada pagi harinya atau bahkan bisa dimulai dari beberapa tahun
yang lalu misalnya ketika pekerja pertama kali bekerja di industri tersebut.
Pastikan bahwa informasi yang dimasukan dalam runtutan kejadian ini adalah
informasi yang relevan dan berhubungan dengan kecelakaan kerja ini.
4. Mengidentifikasi semua kontrol
Kontrol yang dimaksud disini adalah segala kontrol yang dapat mencegah
atau mengurangi risiko kecelakaan kerja itu terjadi atau mengurangi dampak dari
kecelakaan kerja itu yang meliputi engineering control, administrative control,
atau alat pelindung diri yang terkait dengan kecelakaan kerja. Perlu diidentifikasi
kontrol apa saja yang tersedia dan kontrol apa saja yang tidak tersedia saat
kecelakaan terjadi. Perlu diidentifikasi juga kontrol yang tersedia itu mana saja
yang bekerja dengan baik dalam arti efektif bekerja dan kontrol mana yang tidak
bekerja dengan baik (misalnya karena rusak atau hal lainnya). Identifikasi kontrol
ini diperlukan untuk membantu tim dalam menentukan akar penyebab dari
kecelakaan ini.
5. Mengidentifikasi akar penyebab
Proses identifikasi akar penyebab adalah proses yang paling krusial. Disini
tim diharuskan untuk melakukan analisis dan menentukan apa yang menjadi akar
penyebab dari kecelakaan kerja ini atau sering juga disebut Root Cause Analysis
(RCA). Ada banyak teknik dan metode untuk melakukan RCA, namun pada
dasarnya yang tim perlu lakukan adalah bertanya “why” atau “mengapa”.
Misalnya ada kecelakaan orang terluka jatuh dari sepeda motor, mengapa orang
tersebut jatuh dari sepeda motor, karena mengebut, mengapa mengebut, karena
tidak ada rambu-rambu batas kecepatan dan seterusnya. Pertanyaan “mengapa” ini
dapat bercabang-cabang hingga menemukan lebih dari satu akar penyebab. Perlu
diperhatikan bahwa akar penyebab yang betul bukanlah faktor manusia (human
cause), akar penyebab yang betul adalah dari system (system cause). Memang
sebagian besar kecelakaan terjadi terkait dengan faktor manusia, namun sebagian
besar dari faktor manusia tersebut adalah akibat dari sistem yang ada.
6. Membuat rekomendasi
Setelah akar penyebab diidentifikasi, tim membuat rekomendasi-
rekomendasi berupa solusi untuk mengatasi akar penyebab tersebut sehingga
kecelakaan kerja yang serupa tidak terjadi lagi atau paling tidak dapat mengurangi
risiko berulangnya kecelakaan kerja yang serupa. Peru diperhatikan bawah dalam
dalam membuat rekomendasi ini harus detail, jelas, dan relevan dengan akar
penyebab yang telah diidentifikasi serta sebutkan siapa yang bertanggung jawab
untuk melakukan rekomendasi ini dan kapan rekomendasi ini harus diselesaikan.
Hal ini diperlukan agar rekomendasi ini jelas akuntabilitasnya sehingga
mengurangi risiko rekomendasi yang sia-sia atau tidak terlaksana.
7. Membuat laporan
Langkah terakhir dari investigasi ini adalah melaporkan hasil investigasi
ke manajemen atau top manajemen agar mereka dapat menyetujui dan
mendukung hasil dari investigasi ini dan berkomitmen untuk menerapkan
rekomendasi yang telah dibuat oleh tim agar kecelakaan kerja yang serupa tidak
terulang. Ingat, safety without leadership commitment is nothing.

1.1.3 Audit K3
Audit digunakan untuk meninjau dan menilai kinerja serta efektivitas
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan. Audit internal
dilaksanakan oleh Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk
mengetahui dimana Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja telah
diterapkan dan dipelihara secara tepat.
Pelaksanaan audit didasarkan pada hasil penilaian resiko dari aktivitas
operasional perusahaan dan hasil audit (audit-audit) sebelumnnya. Hasil penilaian
resiko juga menjadi dasar dalam menentukan frekuensi pelaksanaan audit internal
pada sebagian aktivitas operasional perusahaan, area ataupun suatu fungsi atau
bagian mana saja yang memerlukan perhatian manajemen Perusahaan terkait
resiko K3 dan Kebijakan K3 Perusahaan.
Audit tambahan dapat dilaksanakan apabila terdapat kondisi-kondisi
sebagaimana hal-hal berikut :
1. Terdapatnya perubahan pada penilaian bahaya/resiko K3 Perusahaan.
2. Terdapat indikasi penyimpangan dari hasil audit sebelumnya.
3. Adanya insiden tingkat keparahan tinggi dan peningkatan tingkat kejadian
insiden.
4. Kondisi-kondisi lain yang memerlukan audit internal tambahan.
Adapun tahapan – tahapan dalam Pelaksanaan audit, yaitu :
1. Pembukaan audit.
 Menentukan tujuan, ruang lingkup dan kriteria audit
 Pemilihan auditor dan timnya untuk tujuan objektivitas dan
kenetralan audit.
 Menentukan metode audit.
 Konfirmasi jadwal audit dengan peserta audit ataupun pihak lain
yang menjadi bagian dari audit.
2. Pemilihan petugas auditor.
 Auditor harus independen, objektif dan netral.
 Auditor tidak diperkenankan melaksanakan audit terhadap
pekerjaan/tugas pribadinya.
 Auditor harus mengerti benar tugasnya dan berkompeten
melaksanakan audit.
 Auditor harus mengerti mengenai Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perusahaan.
 Auditor harus mengerti mengenai peraturan perundang-undangan
dan persyaratan lainnya yang berkaitan dengan penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan Kerja di tempat kerja.
 Auditor harus memiliki pengetahuan mengenai kriteria audit
beserta aktivitas-aktivitas di dalamnya untuk dapat menilai
kinerja K3 dan menentukan kekurangan-kekurangan di dalamnya.
3. Meninjau dokumen dan persiapan audit.
Dokumen yang ditinjau meliputi :
 Struktur organisasi dalam Sistem Manajemen Keselamatan
dan kesehatan Kerja.
 Kebijakan K3.
 Tujuan dan Program-Program K3
 Prosedur audit internal Sistem Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Perusahaan.
 Prosedur dan Instruksi Kerja K3.
 Identifikasi bahaya, penilaian resiko dan pengendalian
resiko.
 Daftar peraturan perundang-undangan dan persyaratan lain
yang berkaitan dengan penerapan K3 di tempat kerja.
 Laporan insiden, tindakan perbaikan dan pencegahan.
4. Pelaksanaan Audit
Tata cara berkomunikasi dalam audit internal.
 Pengumpulan dan verifikasi informasi.
 Menyusun temuan audit dan kesimpulannya.
 Mengomunikasikan kepada peserta audit mengenai :
 Rencana pelaksanaan audit.
 Perkembangan pelaksanaan audit.
 Permasalahan-permasalahan dalam audit.
 Kesimpulan pelaksanaan audit.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Lemahnya sistem manajemen Kesehatan dan kelamatan kerja disuatu
perusahaan atau proyek dapat menyebabkan suatu kerugian ataupun kecelakaan.
Suatu kecelakan terjadi mempunyai penyebab yang harus diinvestigasi sehingga
sebuah kecelakaan yang sama tidak akan terulang kembali. Investigasi kerja
sangatlah penting dalam sebuah kecelakaan untuk menindak lanjuti pencegahan
dan dampak apasaja yang diakibatkan oleh kecelakaan dalam suatu proyek. Bukan
hanya itu saja investigasi kecelakaan kerja juga memberikan informasi mengenai
kejadian untuk keperluan analisis
Audit (K3) digunakan untuk pengujian kritis secara sistematis untuk
penerapan manajemen K3 diseluruh kegiatan proyek maupun perusahaan.
Pelaksanaan audit K3 memiliki tujuan untuk membuktikan tingkat pencapaian,
penerapan, pengemban dan kinerja K3 di sebuah perusahaan sesuai dengan
ketentuan dan hukum yang berlaku.
3.2 Saran
Untuk setiap investigasi kecelakaan bidang keselamatan kerja konstruksi
harus memberikan langkah- langkah yang tepat dalam menentukan tindakan yang
akan diambil untuk mengurangi tingkat kecelakaan kerja, terutama pada pekerjaan
yang sudah terjadi kecelakaan dan mempunyai tingkat risiko kecelakaan kerja
yang tinggi. Pelaksanan proses investigasi kecelakaan kerja di Indonesia harus
terus diperhatikan dan lebih ditingkatkan kinerjanya dalam menanggulangi
kecelakaan kerja. Serta dalam proses investigasi kerja jangan hanya terfokus pada
satu penyebab saja tetapi harus ditingkatkan keseriusan dalam menangani suatu
kasus kecelakaan.
Penerapan audit di Indonesia, mestilah ditingkatkan kembali seiring dengan
adanya peraturan pemerintah tentang keselamatan dan kesehatan kerja
DAFTAR PUSTAKA
PERMENAKER No. Per 01/MEN/1980 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Pada Konstruksi Bangunan
PERMENAKER No. PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Suardi, Rudi, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Penerbit
PPM, Jakarta, 2005

Anda mungkin juga menyukai