0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan5 halaman

Perlawanan KH Zainal Mustafa di Singaparna

1. KH Zainal Mustafa memimpin pemberontakan terhadap kebijakan Jepang yang mewajibkan tradisi Seikerei di Singaparna, Tasikmalaya. 2. Ia mempersiapkan perlawanan dengan melatih santrinya bela diri dan sabotase, namun gagal ditangkap Jepang pada Februari 1944. 3. Pertempuran antara rakyat Singaparna melawan pasukan Jepang berakhir dengan kekalahan dan eksekusi mati KH Zain

Diunggah oleh

NO CONSEPT
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan5 halaman

Perlawanan KH Zainal Mustafa di Singaparna

1. KH Zainal Mustafa memimpin pemberontakan terhadap kebijakan Jepang yang mewajibkan tradisi Seikerei di Singaparna, Tasikmalaya. 2. Ia mempersiapkan perlawanan dengan melatih santrinya bela diri dan sabotase, namun gagal ditangkap Jepang pada Februari 1944. 3. Pertempuran antara rakyat Singaparna melawan pasukan Jepang berakhir dengan kekalahan dan eksekusi mati KH Zain

Diunggah oleh

NO CONSEPT
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pasca-perpindahan kekuasaan dari Belanda ke

Jepang, Jepang mengharuskan rakyat Singaparna


untuk melakukan Seikerei. Seikerei adalah tradisi
penghormatan kepada Dewa Matahari dengan cara
membungkukkan badan ke arah matahari terbit setiap
pagi. KH Zainal Mustafa, pemimpin sebuah pesantren
di Singaparna, Tasikmalaya, pun menentang kebijakan
tersebut karena tradisi Seikerei bertentangan dengan
hukum Islam.

Untuk itu, KH Zainal Mustafa mengupayakan agar


para santrinya menghindari tindakan menyekutukan
Tuhan. Ia meminta para santrinya untuk memperkuat
keyakinannya dan juga mengajarkan mereka bela diri
silat. Namun, persiapan KH Zainal Mustafa terendus
oleh Jepang. Pada 24 Februari 1944, utusan Jepang
datang untuk menangkap Zainal Mustafa. Namun,
berkat perlawanan dari rakyat dan para santri, Jepang
gagal menangkap Zainal dan mundur ke Tasikmalaya.

Melihat upaya masyarakat yang tetap menolak


kebijakan Jepang, militer Jepang memutuskan
mengambil tindakan tegas. Tindakan tegas yang
dimaksud adalah militer Jepang mengirim pasukannya
pada 25 Februari 1944 untuk menyerang KH Zainal
Mustafa dan rakyat Singaparna. Sedangkan,
perlawanan yang dilakukan oleh KH Zainal Mustafa
adalah menyabotase, memutus kawat-kawat telepon,
dan membebaskan para tahanan politik. Zainal juga
meminta para santrinya untuk menyiapkan bambu
runcing dan golok untuk melawan Jepang.
Sayangnya, dalam pertempuran ini rakyat Singaparna
mengalami kekalahan. Rakyat Singaparna berhasil
ditangkap oleh Jepang dan KH Zainal Mustafa
dijatuhi hukuman mati.
Kiai Zainal Mustafa memulai pertempuran pada
salah satu hari Jumat di Bulan Februari 1944. Sebelum
perang itu dimulai, ada beberapa utusan dari
kepolisian Tasikmalaya dan beberapa orang Indonesia
yang ingin Mengadakan perundingan dengan Zainal
Mustafa. Namun, polisi Jepang Itu dilucuti senjatanya
dan ditahan oleh pengikut Zainal Mustafa. Kemudian
Ada seorang polisi yang disuruh kembali ke
Tasikmalaya untuk melaporkan Yang baru saja terjadi
dan menyampaikan ultimatum dari Kiai Zainal
Mustafa kepada pihak Jepang agar besok segera
memerdekakan Jawa dan jika tidak, maka akan terjadi
pertempuran yang akan mengancam keselamatan
orang-Orang Jepang.
Hari berikutnya datang kembali rombongan utusan
Jepang ke Sukamanah Untuk mengadakan kembali
perundingan dengan Zainal Mustafa. Akan tetapi,
utusan Jepang itu bersikap congkak dan sombong
untuk menunjukkan bahwa Jepang memiliki
kedudukan yang lebih tinggi dan Lebih kuat. Hal ini
menyulut kemarahan pengikut Zainal Mustafa,
sehingga Utusan Jepang itu pun dilucuti senjatanya
dan ditangkap bahkan ada yang dibunuh, sementara
ada juga yang berhasil melarikan diri. Setelah kejadian
Ini, Jepang mengirimkan pasukan ke Sukamanah,
yang terdiri dari 30 orang kempetai dan 60 orang
polisi negara istimewa (tokubetsu keisatsu) dari
Tasikmalaya dan Garut. Pertempuran terjadi lebih
kurang satu jam di Kampung Sukamanah. Pihak
rakyat menyerang dengan mempergunakan pedang
dan bambu runcing yang diikuti dengan teriakan
takbir. Zainal Mustafa dengan pengikutnya bertempur
mati-matian untuk menghadapi gempuran dari pihak
Jepang. Karena jumlah pasukan yang lebih besar dan
peralatan senjata yang lebih lengkap, tentara Jepang
berhasil mengalahkan Pasukan Zainal Mustafa. Dalam
pertempuran ini banyak berguguran para Pejuang
Indonesia. Kiai Zainal Mustafa ditangkap Jepang
bersama gurunya Kiai Emar. Selanjutnya Kiai Zainal
Mustafa bersama 27 orang pengikutnya diangkut ke
Jakarta. Pada tanggal 25 Oktober 1944, mereka
dihukum mati. Sementara Kiai Emar disiksa oleh
polisi Jepang dan akhirnya meninggal.

K.H. Zainal Mustafa (lahir di Bageur, Cimerah,


Singaparna, Tasikmalaya, 1899 - Meninggal di
Jakarta, 28 Oktober 1944) Adalah salah satu pahlawan
nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam
Pahlawan Tasikmalaya.

Pahlawan Nasional Zaenal Mustofa adalah


pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan
pejuang Islam pertama dari Jawa Barat yang
mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan
Jepang. Nama kecilnya Hudaemi. Lahir dari keluarga
petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny.
Ratmah, di kampung Bageur, desa Cimerah,
Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa
Sukarapih kecamatan Sukarame) Kabupaten
Tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir Tahun 1901
dan Ensiklopedia Islam menyebutnya tahun 1907,
sementara Tahun yang tertera di atas diperoleh dari
Catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat
Sejarawan Indonesia CabangJawa Barat). Namanya
menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah
Haji pada tahun 1927.

Anda mungkin juga menyukai