0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan8 halaman

Budidaya Ikan Gurame di Sukawening Bogor

Diunggah oleh

Dapurku Istanaku
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan8 halaman

Budidaya Ikan Gurame di Sukawening Bogor

Diunggah oleh

Dapurku Istanaku
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

View metadata, citation and similar papers at [Link].

uk brought to you by CORE


provided by Scientific Journals of Bogor Agricultural University

Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Maret 2020,Vol 2 (2) 2020: 207–214

Analisis Model Budidaya Ikan Air Tawar Berdominansi Ikan


Gurame (Osphronemus Gouramy) di Desa Sukawening, Bogor,
Jawa Barat

(Model Analysis of Freshwater Fish which is Dominated by


Gurame Fish (Osphronemus Gouramy) in Sukawening Village,
Bogor, West Java)
Lia Sutiani 1, Yannefri Bachtiar2
1
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
2
Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia, IPB University
*
Penulis Korespondensi: liasutiani3424@[Link]

ABSTRAK
Perikanan budidaya merupakan suatu kegiatan perikanan yang memproduksi biota
(organisme) akuatik di lingkungan terkontrol yang bertujuan mendapat keuntungan. Ikan air tawar
merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya yang bernilai ekonomis. Kabupaten Bogor
merupakan salah satu wilayah yang telah mengembangkan perikanan budidaya air tawar. Salah
satu desa di Kabupaten Bogor yang telah mencoba membudidayakan ikan air tawar adalah Desa
Sukawening. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengobservasi dan menganalisis model atau teknik
budidaya ikan air tawar yang diterapkan, serta potensi pengembangannya yang berlokasi di Desa
Sukawening, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat melalui program
SUIJI-SLP. Metode yang diterapkan adalah studi lapang melalui observasi dan wawancara
dilengkapi dengan data sekunder menggunakan studi pustaka. Hasil dari observasi dan analisis
tersebut menunjukkan bahwa model budidaya ikan air tawar yang diterapkan di Desa Sukawening
masih tergolong sederhana dan dalam skala kecil. Kondisi tersebut dikarenakan kurangnya fasilitas
penunjang tanpa disertai modal dan kurangnya pengetahuan secara mendalam terkait budidaya
ikan air tawar.

Kata kunci: budidaya, Desa Sukawening, ikan air tawar

ABSTRACT
Aquaculture is a fishery activity that produces aquatic biota (organism) in a controlled
environment that aims to benefit. Freshwater fish is one of the economically valuable aquaculture
commodities. Bogor Regency is one area that has developed freshwater aquaculture. One of the
villages in Bogor Regency which has tried to breed freshwater fish is Sukawening Village. The
purpose of this activity is to observe and analyze the models or techniques of freshwater fish
farming applied, as well as the potential for development which is located in Sukawening Village,
Dramaga District, Bogor Regency, West Java Province through the SUIJI-SLP program. The
method applied is a field study through observation and interviews supplemented with secondary
data using literature study. The results of these observations and analyzes indicate that the model
of freshwater fish farming applied in Sukawening Village is still relatively simple and on a small
scale. This condition is due to lack of supporting facilities without capital and lack of in-depth
knowledge related to freshwater fish farming.

Keywords: aquaculture, Sukawening Village, freshwater fish

207
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol 2 (2) 2020: 207–214

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kedua yang dikenal dengan keanekaragaman hayatinya.
Salah satu keanekaragaman tersebut adalah di bidang perikanan. Sebanyak 2000 spesies
ikan terdapat di perairan Indonesia dengan berbagai jenis ikan air tawar, laut, maupun
payau (Setiyawan 2016). Banyak dari jenis ikan tersebut telah menjadi komoditas ikan
ekonomis yang diminati masyarakat baik dalam maupun luar negeri. Selain itu, untuk
memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat dilakukan budidaya terhadap
berbagai jenis ikan, terutama ikan air tawar yang telah banyak dibudidayakan.
Ikan air tawar sebagai komoditas budidaya memang sangat bernilai ekonomis. Hal
ini dikarenakan kandungan gizi pada ikan yang dapat memenuhi kebutuhan protein
sehari-hari sehingga tidak mengherankan budidaya sebagai industri yang
menguntungkan. Maka dari itu, budidaya menjadi sektor penting dalam meninkatkan
perekonomian masyarakat. Salah satu budidaya yang telah lama berkembang di
masyarakat adalah budidaya ikan. Perikanan budidaya disebut juga dengan akuakultur,
yakni suatu kegiatan perikanan yang memproduksi biota (organisme) akuatik di
lingkungan terkontrol yang bertujuan mendapat keuntungan (Goimawan 2012).
Budidaya ikan yang biasanya dilakukan oleh masyarakat merupakan jenis budidaya ikan
air tawar. Perikanan budidaya air tawar menurut Goimawan (2012) bertujuan untuk
memproduksi ikan menggunakan beberapa sistem budidaya seperti wadah dan
bergantung terhadap sumber air yang ada.
Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang telah mengembangkan
perikanan budidaya air tawar. Bahkan, kabupaten yang berlokasi di Jawa Barat ini telah
menjadi sentra produksi perikanan budidaya air tawar yang berskala nasional
(Goimawan 2012). Kabupaten Bogor mengembangkan potensi perikanan tersebut karena
ketiadaan laut dan payau pada wilayah ini sehingga perikanan budidaya lainnya sulit
untuk dikembangkan.
Desa Sukawening merupakan salah satu desa di Kabupaten Bogor yang telah
mencoba membudidayakan ikan air tawar. Budidaya ikan air tawar yang telah dilakukan
di antaranya pada spesies ikan gurame, nila, dan lele. Ikan gurame menjadi komoditas
utama yang dibudidaya di desa tersebut. Desa tersebut memiliki potensi besar dalam
wirausaha budidaya ikan air tawar, akan tetapi masih minim dalam teknik, sarana, dan
prasarananya. Hal tersebut dikarenakan model budidaya yang dilakukan masih dalam
skala kecil atau rumah tangga. Sementara itu, kondisi lahan yang luas disertai suasana
lingkungan desa yang masih asri dapat menjadi peluang besar dalam pengembangan
usaha budidaya ikan air tawar ini. Oleh karena itu, diperlukan kajian dan pengembangan
lebih lanjut untuk meningkatkan produktivitas perikanan budidaya ikan air tawar di desa
tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan kegiatan ini adalah untuk
mengobservasi dan menganalisis model atau teknik budidaya ikan air tawar yang
diterapkan, serta potensi pengembangannya yang berlokasi di Desa Sukawening,
Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat melalui program SUIJI-
SLP.

METODE PELAKSANAAN KEGIATAN


Tempat, Waktu, dan Peserta
Kegiatan observasi dan studi lapang disertai wawancara dilakukan selama kegiatan
SUIJI-SLP Tahun 2019 berlangsung. Kegiatan SUIJI-SLP dilaksanakan dari tanggal 25

208
Vol 2 (2) 2020: 207–214 Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat

Februari sampai dengan 08 Maret 2019 di Desa Sukawening, Kecamatan Dramaga,


Kabupaten Bogor.

Metode Pelaksanaan
Metode yang digunakan dalam program ini adalah studi lapang secara langung ke
masyarakat Desa Sukawening disertai pengumpulan data dari hasil wawancara
narasumber. Studi lapang yang diterapkan berupa pembelajaran terkait model budidaya
ikan air tawar dengan meninjau lokasi budidaya secara langsung. Studi lapang tidak
hanya sekadar observasi, namun juga melibatkan komunikasi dua arah dengan
pembudidaya ikan air tawar di Desa Sukawening. Selain itu, studi lapang dan hasil
wawancara tersebut juga didukung dengan data sekunder dari studi pustaka melalui
jurnal, buku, dan lainnya.
SUIJI-SLP merupakan kerja sama antara tiga universitas di Indonesia (IPB, UGM,
dan UNHAS) dan tiga universitas dari Jepang (Kagawa University, Kochi University,
dan Ehime University) dengan dua kegiatan utamanya adalah learning and serving.
Kegiatan pembelajaran dilakukan dengan mengobservasi sekitar, potensi, dan kebiasaan
hidup masyarakat Desa Sukawening. Hasil observasi tersebutlah yang akan menjadi
hasil analisis yang menjadi bahan pembahasan untuk pengembangan Desa Sukawening,
terutama di bidang perikanan budidaya ikan air tawar. Meski demikian, kegiatan
observasi ini tidak hanya pada sektor perikanan, namun pada sektor-sektor atau potensi
lainnya yang ada di Desa Sukawening. Sektor tersebut di antaranya pertanian,
peternakan, dan industri usaha kecil menengah.

Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah analisis secara deskriptif. Adapun jenis
penelitian yang dilakukan berdasarkan data kualitatif deskriptif dengan pendekatan
sosial untuk mengetahui kondisi dan model budidaya ikan air tawar, khususnya ikan
gurame di Desa Sukawening. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan
observasi, wawancara, dan dokumentasi selama kegiatan SUIJI-SLP berlangsung.
Selanjutnya, hasil yang diperoleh dianalisis dengan penjelasan deskriptif disertai kajian
literatur sehingga mencapai penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Profil Perikanan Desa Sukawening


Desa Sukawening merupakan desa yang sektor perekonomiannya berbasis pertanian
dan peternakan. Meski demikian, ditemukan kegiatan perikanan, yakni budidaya ikan
air tawar. Melalui hasil wawancara Ketua Posdaya, yakni pak Andi dan peninjauan
lokasi secara langsung diketahui bahwa pembudidaya ikan yang ada di desa Sukawening
masih dalam skala kecil. Selain sebagai Ketua Posdaya, pak Andi merupakan salah satu
pembudidaya tersebut. Usaha budidaya tersebut dirintis sejak tahun 2010 dengan
awalnya dari 10 ekor induk gurame yang terdiri dari 3 jantan dan 7 betina. Harga dari
sepuluh induk tersebut berkisar 200.000 rupiah.
Melalui hasil observasi dan wawancara dapat diketahui pula bahwa jumlah
pembudidaya ikan di desa ini hanya terdiri dari empat orang. Empat orang tersebut
adalah pak Andi, pak Emang, pak Anim, dan pak Sumardi. Ikan yang dibudidaya
adalah ikan nila, ikan gurame, ikan lele, dan adapula ikan hias. Ikan gurame merupakan
komoditas utama yang dibudidayakan oleh para pembudidaya di Desa Sukawening

209
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol 2 (2) 2020: 207–214

tersebut. Hal ini dikarenakan kedua jenis ikan tersebut memang ikan bernilai ekonomis.
Ikan gurame (Osphronemus gouramy) adalah salah satu spesies ikan air tawar lokal asli
Indonesia. Ikan ini telah lama dikonsumsi dan dibudidayakan oleh masyarakat.
Ditambah lagi dengan dagingnya yang lezat membuat ikan ini banyak digemari
kalangan masyarakat (Khairuman dan Amri 2005).
Hasil panen terbesar dari salah satu petani yang menjadi sumber observasi dan
informasi adalah sebanyak 60 ekor gurame di tahun 2017. Harga jualnya berkisar 30.000
rupiah per kilonya. Tidak hanya itu, penjualan gurame tidak hanya pada stadia dewasa
saja tetapi juga pada fase larva atau benih. Harga jual benih ikan gurame berkisar 100-
250 rupiah per benih tersebut. Menurut penuturan petani, harga tersebut di tahun 90 an
merupakan harga yang cukup mahal.
Sebenarnya, petani di desa ini juga pernah terlibat kerja sama dengan ahli perikanan.
Di tahun 2010 pernah dilakukan pelatihan terkait budidaya, namun hasil implementasi
ilmu yang didapat belum optimal diterapkan. Penerapan budidaya yang dikenalkan
dalam pelatihan tersebut adalah menggunakan aerator. Dikarenakan hasilnya belum
optimal, akhirnya pembudidaya kembali pada teknik manual tanpa aerator. Bahkan,
sebelumnya di tahun 2017 sebanyak 25 ekor gurame mengalami kematian sehingga saat
ini hanya beberapa ikan gurame yang masih dipelihara.

Model Budidaya Ikan Air Tawar di Desa Sukawening


Mengenai perawatannya, beberapa pembudidaya ikan air tawar yang ada di
Sukawening secara keseluruhan menggunakan media air dalam kolam persegi panjang.
Kolam tersebut rata-rata memiliki dasar yang tidak dilapisi dengan semen. Kolam
tersebut diketahui tingginya berkisar 80 cm.
Model budidaya pun masih terkesan sederhana. Hal tersebut dapat dilihat dari
perawatan ikan dari larva hingga tumbuh dewasa. Larva ikan gurame di dalam
pembenihannya diberi sarang berupa ijuk. Sarang tersebut merupakan tempat
menempelnya telur-telur ikan gurame yang telah dibuahi. Sebutan untuk ijuk tersebut
menurut pembudidaya ikan di Sukawening adalah hapa. Tempat penempelan telur
tersebut ditutupi daun sebagai tempat untuk berlindung larva yang nantinya akan
menetas.
Pemberian pakan pada larva berupa cacing, yakni cacing sutera yang disesuaikan
dengan bukaan mulut larva ikan gurame. Pemberian pakan tersebut sesuai dengan
pernyataan dari Rahardja dan Budiana (2018) yang menyatakan bahwa cacing sutera
sangat baik untuk pertumbuhan ikan air tawar seperti guname. Hal tersebut dikarenakan
cacing sutera mengandung protein yang tinggi dan secara umum kelas Oligochaeta
mudah dicerna dalam usus ikan. Cacing sutera menurut Lucas et al. 2015) mengandung
57% protein, 13,30% lemak, dan 2,04% karbohidrat.
Sebelumnya, hapa yang telah menjadi tempat pembenihan tersebut awal mula
ditempatkan di tempat yang tertutup setelah dua minggu hapa dipindahkan ke kolam
terbuka. Hal ini dikarenakan untuk mencegah adanya predator pada malam hari. Teknik
pengembangbiakan benih menggunakan hapa ini menjadi salah satu model budidaya
sebagai tempat sarang telur ikan. Adapun menurut Susanto (1989), umunya induk jantan
akan membangun sarang yang berasal dari rumput atau dahan kecil dengan ukuran
sarang berkisar 30-38 cm.
Sementara itu, apabila ikan yang dipelihara telah melewati masa larva atau dalam
tahap juvenile, pemberian pakannya tidak lagi berupa cacing tetapi menggunakan daun
sente. Hal tersebut diungkapkan pak Andi secara langsung dan melalui hasil observasi
secara langsung memang banyak ditemukan daun sente yang menutupi sebagian kecil

210
Vol 2 (2) 2020: 207–214 Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat

permukaan air. Pemilihan daun sente sebagai pakan ikan gurame yang telah dewasa oleh
pembudidaya ikan di Sukawening merupakan suatu hal yang tepat. Hal tersebut
dikarenakan daun sente (Alocasia macrorrhiza) adalah salah satu bahan pakan alami yang
tersedia untuk induk atau anak (juvenile) ikan gurame.
Daun sente merupakan daun dari tumbuhan yang masih dalam satu golongan dengan
tumbuhan talas (Colocasia sp.). Daun talas memiliki tingkat protein sebesar 4,96%,
sedangkan daun sente memiliki kadar protein yang lebih rendah dan ditemukan zat anti
nutrisi sehingga dapat pemanfaatan pakan bagi ikan gurame kurang optimal (Bakhtiar
2002). Meski demikian, ikan gurame merupakan jenis ikan vegetarian atau hanya
memakan jenis makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Sebagian orang
menyebutkan bahwa ikan gurame adalah ikan herbivora. Di dalam pemanfaatannya,
daun sente ini terlebih dahulu harus dikeringkan hingga layu. Hal tersebut dimaksudkan
untuk menghilangkan getah daun sehingga ikan gurame tidak mudah terserang penyakit
(Susanto 1989).

Kendala Budidaya Ikan Air Tawar di Desa Sukawening


Selain itu, melalui hasil wawancara diketahui bahwa terdapat kendala dalam proses
budidaya ikan air tawar ini. Salah satu kendala tersebut adalah timbulnya penyakit pada
ikan seperti penyakit tipus dengan munculnya warna kehitaman pada bagian tubuh ikan.
Cara mengatasinya adalah dengan pemberian obat warna yang dapat mengembalikan
warna ikan seperti semula. Timbulnya penyakit tersebut menurut Efrianti (2013)
disebabkan oleh jamur yang dapat membuat warna tubuh gurame lebih hitam atau gelap.
Penyakit infeksi tersebut dapat berupa serangan cendawan Aphanomyces sp. Biasanya juga
disertai adanya kapas putih pada bagian tubuh dan ekor ikan.
Sementara itu, apabila ditinjau dari aspek penanggulangannya menggunakan obat
warna belum mampu mencegah atau memastikan penyakit tersebut tidak akan timbul
kembali. Oleh sebab itu, pengobatan yang seharusnya menurut Rahardja dan Budiana
(2018) adalah dengan menggunakan obat bermerek dagang cat fish keep dan ditambah
larutan garam berdosis 500-1000 gram/1000 liter. Agar kondisi tersebut tidak terulang
kembali, cara mencegahnya adalah dengan secara berkelanjutan menjaga kualitas air dan
pemberian obat seperti antibiotik (Rosidah dan Wila 2012).
Tidak hanya terkendala dalam perawatan, pembudidaya ikan air tawar di
Sukawening juga masih terbatas dalam akses modal. Budidaya yang masih dalam
lingkup kecil ini hanya menggunakan daun sente sebagai pakan ikan tanpa ada
pemberian pakan lainnya. Perawatan dalam segi air juga hanya bergantung pada air
sungai sehingga tidak mampu dikontrol secara mudah. Hal-hal inilah yang memerlukan
modal atau biaya dalam penanganannya sehingga tidak mengherankan jika sektor
perikanan di Desa Sukawening ini tergolong rendah. Oleh karena itu, hasil budidaya
yang relatif rendah tersebut menyebabkan pemanenan ikan hanya untuk kebutuhan
pribadi. Sementara apabila diperoleh panen yang besar, pembudidaya baru akan
menjualnya. Terkait hal tersebut, penjualan dilakukan oleh pihak pembudidaya secara
langsung ke penadah atau supplier ikan dengan harga yang sesuai pasar atau tidak
mengalami sistem tengkulak.

Potensi Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar di Desa Sukawening


Hasil observasi yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa Desa Sukawening
memiliki potensi besar sebagai desa pembudidaya ikan air tawar. Meskipun terdapat
beberapa kendala, namun sebenarnya masalah yang ada dalam budidaya ikan air tawar
tersebut bersifat teknis. Selain itu, desa ini memiliki kondisi alam yang masih asri

211
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol 2 (2) 2020: 207–214

sehingga kondisi tersebut dapat mendukung kegiatan budidaya ikan air tawar, khususnya
pada sumber air. Maka dari itu, budidaya ikan air tawar dapat menjadi sektor utama
kedua yang dapat dikembangkan setelah sektor pertanian. Pengembangan tersebut dapat
dimulai dari peningkatan pada fasilitas penunjang budidaya seperti pembangunan lokasi
budidaya, benih ikan dan pengembangan skill pembudidaya ikan air tawar. Di samping
itu, sebagai upaya pengembangan tersebut dibutuhkan persepsi dan partisipasi baik dari
pembudidaya, perangkat desa, maupun fasilitator (stakeholder). Strategi pembangunan
budidaya ikan air tawar menurut Ismail et al. (2019) dapat diarahkan dalam rangka
peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat terutama pembudidaya ikan air
tawar di Desa Sukawening. Adanya pengembangan ini menjadi langkah awal dalam
membangun sektor perikanan di desa tersebut dalam skala besar.

Rekomendasi
Di Desa Sukawening memang tidak banyak ditemukan pembudidaya ikan air tawar.
Hanya beberapa orang yang membudidayakan ikan air tawar, namun masih dalam skala
kecil atau sekadar pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, kondisi alam dan
sumber daya yang ada sangat mendukung kegiatan budidaya ini, terutama sumber air
yang berasal dari sungai. Oleh karena itu, diperlukan para stakeholder untuk mendorong
dan meningkatkan kegiatan budidaya tersebut agar tumbuh dalam skala besar. Tentunya
peran pemerintah daerah sangat penting dengan cara memberikan bantuan berupa
modal atau fasilitas.
Selain itu, hal utama yang harus diperhatikan adalah adanya pelatihan dan
monitoring secara berkelanjutan. Hal ini dimaksudkan agar para pembudidaya ikan air
tawar mengetahui lebih baik dalam budidaya ikan air tawar disertai monitoring yang
berguna dalam memantau atau mengawasi kegiatan budidaya tersebut. Maka dari itu,
dibutuhkan peran dari akademisi perikanan atau ahli perikanan yang dapat memberikan
pelatihan secara intensif dengan memasukkan kegiatan ini dalam program kerja
pemerintah desa.
Terlebih lagi, budidaya ini tidak hanya sekadar memelihara ikan sehingga
pembudidaya ikan di Sukawening ini akan lebih baik mendapat ilmu wirausaha pula.
Hal ini dikarenakan agar kedepannya usaha budidaya yang dirintis dapat masuk dalam
skala besar yang mampu menjangkau pasar secara luas. Bahkan, apabila seluruh aspek
terpenuhi usaha budidaya ikan air tawar ini dapat mendorong Desa Sukawening
kedepannya sebagai sentra budidaya ikan air tawar, khususnya ikan gurame atau ikan
nila.
Berbagai pihak stakeholder yang telah disebutkan sebelumnya, dapat diperinci
kembali, yaitu terdiri dari pemerintah, pihak swasta atau pengembang, ahli perikanan
budidaya, dan tentunya para pembudidaya ikan di Desa Sukawening. Pemerintah dapat
menjadi promotor atau penyedia fasilitas dalam peningkatan budidaya ikan air tawar
yang dilengkapi kerja sama dengan ahli budidaya perikanan yang dapat memberikan
pelatihan sekaligus monitoring sistem. Sementara pihak swasta dapat menjadi penyedia
modal atau investasi sehingga kedepannya dapat memperluas wirausaha budidaya
tersebut. Skema hubungan atau konsep yang dapat diterapkan sebagai bentuk kerja sama
atau pengembangan perikanan budidaya di Desa Sukawening dapat dilihat pada
Gambar 1.

212
Vol 2 (2) 2020: 207–214 Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat

Gambar 1 Konsep koordinasi beberapa pihak dalam pengembangan budidaya perikanan di Desa
Sukawening

SIMPULAN
Hasil dari observasi dan analisis tersebut menunjukkan bahwa model budidaya ikan
air tawar yang diterapkan di Desa Sukawening masih tergolong sederhana dan dalam
skala kecil. Model budidaya tersebut, yakni berupa budidaya dengan wadah kolam
persegi disertai hapa sebagai tempat pembenihan ikan dari ijuk. Usaha budidaya yang
diterapkan lebih diutamakan untuk konsumsi pribadi atau tidak diperjualbelikan apabila
hasil panennya rendah. Kondisi tersebut dikarenakan kurangnya fasilitas penunjang
tanpa disertai modal dan kurangnya pengetahuan secara mendalam terkait budidaya
ikan air tawar. Oleh sebab itu, diperlukan pengembangan lebih lanjut karena desa ini
memiliki potensi bagi dari segi alam maupun sumber daya manusianya untuk
ditingkatkan dalam sektor perikanan. Potensi pengembangan yang dimaksud adalah
dengan pemberdayaan baik dari segi fasilitas maupun sumber daya manusia
(pembudidaya ikan) sehingga dapat mengaplikasikan teknik budidaya secara tepat
sehingga dapat berkembang menjadi skala besar.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam
penelitian yang dilaksanakan melalui Program SUIJI-SLP ini, khususnya dari LPPM
IPB sebagai penyelenggara kegiatan. Selain itu, terima kasih pula kepada Bapak Yan
sebagai pembimbing dalam kegiatan SUIJI-SLP ini. Di samping itu, terima kasih banyak
pula kepada Bapak Andi sebagai Ketua Posdaya Desa Sukawening dan seluruh
masyarakat Desa Sukawening yang telah berkontribusi membantu pelaksanaan dan
kelancaran program ini.

DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar A. 2002. Pengaruh daun sente (Alocasia macrorrhiza (L) Schott) yang
difermentasi Rhizopus oligosporus sebagai bahan substitusi tepung bungkil kedelai

213
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol 2 (2) 2020: 207–214

terhadap pertumbuhan ikan gurame (Oshpronemus gouramy, Lac). [Skripsi]. Bogor


(ID) : Institut Pertanian Bogor.
Efrianti R. 2013. Pemberian ekstrak batang pisang ambon (Musa paradisiaca) pada media
pemeliharaan untuk meningkatkan kelangsungan hidup larva ikan gurame
(Osphronemus gourami). [Skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Goimawan. 2012. Perencanaan pengembangan perikanan budidaya air tawar di
Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. [Tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Hartati S, Lumentut HB. 2015. Sistem pendukung keputusan untuk memilih budidaya
ikan air tawar menggunakan AF-TOPSIS. IJCCS. 9(2) : 197-206.
Ismail L, Yumriani, Sarwana. 2019. Analisis budidaya petani tambak terhadap kondisi
sosial ekonomi di Desa Bulu Cindea Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Jurnal
Pendidikan Sosiologi. 7(2) : 249-256.
Khairuman, Amri K. 2005. Pembenihan dan Pembesaran Gurami Secara Intensif. Depok
(ID) : PT AgroMedia Pustaka.
Lucas WGF, Kalesaran OJ, Lumenta C. 2015. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup
larva ikan gurami (Oshpronemus gouramy) dengan pemberian beberapa jenis pakan.
Jurnal Budidaya Perairan. 3(2) : 19-28.
Oktaviani R, Firdaus M, Rakhman AN. 2017. Rantai nilai pada budidaya kolam ikan air
tawar di Kota Bogor. Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen. 3(3) : 477-485.
Rahardja BS dan Budiana. Teknik pembenihan ikan gurame (Oshpronemus gouramy) di
Balai Benih Ikan Ngoro, Jombang. Journal of Aquaculture and Fish. 7 (3) : 90-97.
Rosidah dan Wila MA. 2012. Potensi ekstrak daun jambu biji sebagai antibacterial untuk
menanggulangi serangan bakteri Aeromonas hydrophila pada ikan gurame
(Oshpronemus gourami lacepede). Jurnal Akuatika. 3(1) : 19-27.
Setiyawan B. 2016. Pengembangan budidaya air tawar rekreatif di Karanganyar[skripsi].
Surakarta (ID) : Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Susanto H. 1989. Budidaya Ikan Gurami. Jakarta (ID) : Kanisius.
Urbasa PA. 2015. Dampak kualitas air pada budi daya ikan dengan jarring tancap di
Desa Toulimembet Danau Tondao. Jurnal Budidaya Perairan. 3(1) : 59-67.

214

Anda mungkin juga menyukai