MAKALAH
“Pola Dasar Manajemen Bank”
Di Susun Oleh :
Nama : Muhammad Muzzamil S. Kaluy
NPM : 202110162
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mujahidin Tolitoli
Program Studi Manajemen
T.A 2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah, rahmat,
dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pola Dasar
Manajemen Dana Bank” ini dengan tepat waktu.
Makalah disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Dana Bank. Selain itu,
tujuan disusunnya makalah ini adalah sebagai salah satu agenda kegiatan akademis yang
ditempuh oleh setiap mahasiswa/mahasiswi di tingkat perkuliahan semester 4 (empat) serta
menambah wawasan tentang desain produk dan jasa bagi para pembaca dan juga bagi penyusun.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak Samsudin B. Messa, SE., MM.
selaku dosen Mata Kuliah Manajemen Dana Bank. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada
semua pihak yang telah berpartisipasi dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga Tuhan Yang
Maha Esa senantiasa memberikan limpahan rahmat dan hidayah bagi keikhlasan dan ketulusan.
Sangat disadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.
Oleh sebab itu, diharapkan para pembaca dapat memberi saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
khususnya bagi kita semua.
Tolitoli, 17 April 2023
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
Bab II Pembahasan
A. Perumusan Kebijakan dan Manajemen Operasi Bank.
B. Organisasi dan Tata Perbankan Diindosesia
C. Pengawasan internal
D. Sistem Manajemen Bank
Bab III Penutup
A. Kesimpulan
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perbankan merupakan sektor bisnis yang bergerak di dalam jasa keuangan, yang
dijadikan sebagai fasilitas untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan
masalah keuangan. Jika dilihat dari fungsinya, bank merupakan sebuah mediasi yang harus
mampu menyediakan atau memberikan kemudahan kepada nasabahnya. Kemudahan itu
seperti, keamanan simpanan, kemudahan dalam menarik kembali dana dalam jumlah yang
disesuaikan, dan lain- lain.
Mengingat fungsi dan peranannya yang sangat penting, maka mutlak diperlukan adanya
sistem manajemen terpadu dan tepat- guna dalam pengoprasian bank. Hanya bank yang diurus
secara baik dan teratur yang mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan
memungkinkan untuk berfungsi secara efektif . Maka berkaita dengan hal tersebut, diperlukan
pemahaman yang lebih mendalam terkait dengan kegiatan bank .
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan tujuan intruksi khusus mata kuliah Anggaran dan Administrasi Perbankan,”
masalah yang dibahas adalah mengenai Pola Dasar Manajemen Bank. Dengan pokok bahasan
yang lebih spesifik yaitu:
1. Perumusan Kebijakan dan Manajemen Operasi Bank.
2. Organisasi dan Tata Perbankan di Indonesia.
3. Pengawasan Internal.
4. Sistem Manajemen Bank.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perumusan Kebijakan dan Manajemen Operasi Bank.
1. Perumusan kebijakan bank
Bank yang sehat adalah bank yang merumuskan kebijakan dan melaksanakan seluruh
rencananya dengan sebaik- baiknya. Kegiatan ini merupakan suatu proses yang vital karena
kebijakan yang telah dirumuskan dengan jelas dan dikomukasikan secara efektif akan dapat
merangsang tindakan yang tertib ( concerted) dari setiap orang yang terlibat didalamnya.
Kebijakan tersebut hendaknya dirumuskan untuk hal- hal sebagai berikut:
a. Tipe klien perbankan yang dilayani.
b. Pelayanan yang harus diberikan.
c. Daerah yang harus dilayani.
d. Metode mendapatkan bisnis:
Ø Iklan.
Ø Solisitas.
Ø Kontribusi.
e. Komposisi dan distribusi aktiva.
f. Preferensi likuiditas.
g. Persaingan:
Ø Bank-bank lain.
Ø Lembaga-lembaga keuangan lain.
h. Pengembangan dan latihan staf.
i. Ruangan bank.
2. Manajemen Operasi Bank
Pengertian Manajemen Operasi:
Manajemen operasi adalah kegiatan untuk menciptakan nilai produk baik berupa barang
maupun jasa melalui proses transformasi input menjadi output.
Operasi bank merupakan suatu proses transformasi aset dengan mempertimbangkan
faktor- faktor likuiditas, risiko, dan keuntungan.
Maka dari pengertian diatas dapat penulis simpulkan bahwa manajemen operasi bank
adalah suatu proses transformasi terhadap penglolaan manajemen bank dalam rangka
mengevaluasi tingkat kesehatan bank sesuai dengan apa yang diharapkan oleh bank
tersebut.
B. Organisasi dan Tata Perbankan Diindosesia
1. Organisasi Bank Umum Syari’ah dan BPRS
Tugas utama DPS adalah mengawasi kegiatan usaha bank agar tidak menyimpang dari
ketentuan dan prinsip syari’ah yang telah difatwakan oleh DSN. Selain itu DPS juga
mempunyai fungsi:
a. Sebagai penasehat dan pemberi saran kepada direksi, Pimpinan Unit Syari’ah, dan
Pimpinan Kantor Cabang Syari’ah mengenai hal-hal yang terkait dengan aspek syari’ah.
b. Sebagai mediator antara Bank dan DSN dalam mengkomunikasikan usul dan saran
pengembangan produk dan jasa dari Bank yang memerlukan kajian dan fatwa dari DSN.
c. Sebagai perwakilan DSN yang ditempatkan pada Bank. DPS wajib melaporkan kegiatan
usaha serta perkembangan Bank Syari’ah yang diawasinya kepada DSN sekurang-
kurangnya satu kali dalam 1 tahun.
2. Tata Perbankan di Indonesia:
Pada dasarnya Bank dapat dibedakan menurut fungsi serta tujuan usahanya yaitu :
Bank Sentral ( Central Bank ).
Bank Umum ( Commercial Bank ).
Sedangkan perbedaan lainnya hanya berdasarkan pemilik atau pengelola yang dapat
dibedakan sebagai berikut :
Bank Pemerintah.
Bank Swasta Nasional.
Bank Asing ( Swasta ).
Menurut Undang-undang Nomor 14 tahun1967 (Undang-undang Pokok Perbankan),
sistem perbankan di Indonesia disusun sedemikian rupa agar Bank Sentral dapat melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan moneter oleh bank-bank dan untuk
mengawasi serta memimpin seluruh sistem perbankan di Indonesia.
Seperti tertuang di dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 1967 (Undang-undang Pokok
Perbankan) maka jenis-jenis Lembaga Perbankan di Indonesia dibedakan menjadi 5 yaitu :
Bank Sentral
Ialah bank indonesia yang bertugas membimbing pelaksanaan kebijaksanaan
keuangan pemerintah dan mengakomodir serta mengawasi perbankan diseluruh
Indonesia.
Bank Umum
Ialah bank yang dalam usahannya bertindak sebagai pengumpul dana dalam
bentuk simpanan baik giro maupun deposito serta di dalam penyaluran dananya bertindak
sebagai penyalur kredit jangka pendek.
Bank Tabungan
Ialah bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan
dalam bentuk tabungan, dan dalam usahanya terutama memperbungakan dananya dalam
utama memperbungakan dananya dalam kertas-kertas berharga yang aman (solide).
Bank Pembangunan
Yaitu bank dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam
bentuk deposito dan atau mengeluarkan kertas-kertas berharga jangka menengah dan
jangka panjang dan dalam usahanya memberikan kredit terutama memberikan kredit
jangka menengah dan jangka panjang di bidang pembangunan.
Bank- Bank Sekunder Lainnya
Yaitu Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai, Bank Koperasi
dan lain-lainya yang dapat dipersamakan dengan itu, yang diselenggarakan oleh
masyarakat.
C. Pengawasan internal
Beberapa unsur pengawasan internal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Kebijaksanaan manajerial.
Kebijaksanaan kepegawaian yang sehat merupakan jaminan paling baik terhadap moral
yang jelek, kegelisahan dan ketidakpuasan yang selanjutnya membawa kepada pelaksanaan
kerja yang jorok, pekerjaan yang ceroboh dan bahkan ketidakjujuran di dalam. Dalam hal ini
Bank harus melakukan tindakan, yaitu penempatan pegawai Bank harus di pertahankan,
Administrasi gaji dan kebijaksanaan pengangkatan pangkat harus pantas dan adil, keharusan
cuti untuk kesehatan dan kesejahteraan pegawai.
2. Usaha penjagaan operasi.
Usaha penjagaan operasi dapat didefinisikan sebagai pekerjaan-pekerjaan rutin khusus
yang dimasukkan kedalam prosedur sehari-hari. Dalam menetapkan prosedur-prosedur yang
sah, sebaiknya secara tertulis dalam bentuk buku petunjuk prosedur (procedural manuals).
Seperti:
a. Penggiliran tugas adalah baik jika dapat dilaksanakan, bukan saja sebagai tindakan
pengawasan (kontrol) tetapi juga sebagai alat pengembangan pegawai.
Pemisahan tugas atau pembagian tugas, berdasarkan prinsip bahwa tidak satupun
transaksi di Bank boleh dikontrol seluruhnya oleh satu orang saja, maka pemisahan tugas ini
mengharuskan sekurang-kurangnya dua orang harus terlibat dalam setiap transaksi.
Mengadakan pengawasan rangkap, dalam pengawasan rangkap ini orang kedua
dilibatkan dalam transaksi itu, baik untuk mengesahkan transaksi itu atau untuk bertindak
sebagai salah satu pihak dalam transaksi tersebut.
Bentuk pengawasan lain yaitu sistem akunting yang dapat dibuat sedemikian rupa
sehingga memberikan catatan yang jelas dan dapat di telusuri. Peralatan yang digunakan
dalam pekerjaan sehari-hari dapat diperlengkap dengan pengawasan intern yang dibuat
sendiri misalnya mesin posting berjendela.
Pengawasan Efisien. Dapat dilakukan dengan peninjauan sistem, pengukuran kerja dan
sasaran produksi. Peninjauan sistem secara berkala hendaklah diselenggarakan untuk
menjamin dimanfaatkannya jika mungkin teknik-teknik dan peralatan-peralatan yang
paling modern. Program pengukuran kerja untuk bank-bank besar dapat merupakan suatu
tugas yang sangat ilmiah. Pengamatan dan studi yang hati-hati mengenai proses kerja,
digabungkan dengan pencatatan regular tentang jam-jam kerja dan volume data akan
memungkinkan manajemen mencapai suatu standar jam orang yang layak yang
diperlukan untuk mengelola sejumlah tertentu item-item, transaksi-transaksi, posting-
posting dan sebagainya. Pengukuran kerja dan standar kerja yang dihasilkannya
memungkinkan manajemen menetapkan sasaran-sasaran produksi yang layak. Sekali
standar-standar telah dipakai, produksi perorangan dari pegawai dapat diukur dan
produksi keseluruhan dari suatu bagian dapat dibandingkan dengan sasaran produksi
yang ditetapkan untuk bagian tersebut.
Pengawasan Audit. Tujuan pokok dari program dan fungsi audit adalah pemeriksaan
(verification). Pada dasarnya, empat aspek yang terdapat dalam program ini adalah:
a) Pemeriksaan aktiva.
b) Pemeriksaan pasiva.
c) Pemeriksaan pendapatan.
d) Pemeriksaan biaya.
Pengawasan Catatan. Dalam jalan usaha yang normal, bank-bank menghasilkan banyak
sekali catatan-catatan kertas ( paper records). Sebagian besar dari catatan ini perlu
dipelihara karena seringkali diperlukan dan berguna untuk menelusuri dan menjadi bukti
transaksi-transaksi yang lampau.
Pengawasan formulir. Yang erat hubungannya dengan pengawasan catatan adalah
pengawasan formulir, yang menyangkut pembaharuan secara berkala seluruh formulir-
formulir yang digunakan di bank. Dengan mengikuti prosedur yang serupa dengan
prosedur yang dipakai dalam pengawasan catatan, masing-masing formulir hendaklah
ditinjau lagi dan dianalisa untuk kemungkinan perbaikan atau pencabutan.
D. Sistem Manajemen Bank
Manajemen sebagai suatu system yang di dalamnya terdapat unsur- unsur yang saling
terkait antara satu dengan yang lain dalam rangka mencapai sasaran. Unsur satu dengan yang lain
tidak dapat dipisahkan. Hal inilah sebagai suatu konsep keutuhan. Islam memberikan dorongan
kepada umatnya untuk melihat sesuatu dengan utuh ( kaafah). Terkait dengan manajemen sabagai
suatu sistem, maka didalamnya terdapat unsur- unsur, yaitu: perencanaan, penggorganisasian,
Pelaksanan dan pengawasan.
Perencanaan
Semua dasar dan tujuan manajemen seperti diatas haruslah terintegrasi, konsisten, dan
saling menunjang satu sama lain. Untuk menjaga konsistensi ke arah pencapaian tujuan
manajemen maka setiap usaha harus didahului oleh proses perencanaan yang baik. Allah
berfirman:
“ Wahai orang- orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan rencanakanlah masa
depanmu. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha tahu atas apa- apa
yang kalian perbuat.
Suatu perencanaan yang baik dilakukan melalui beberapa prises kegiatan yang meliputi
forecasting, objective, policies, programs, procedures dan budget.
1) Forecasting
Forecasting adalah suatu ramalan usaha yang sistematis, dengan dasar penaksiran
dan menggunakan perhitungan yang rasional atas fakta yang ada. Peramalan ini meliputi
kondisi internal dan eksternal. Yang mana kondisi internal meliputi potensi dan fasilitas
yang tersedia, distribusi aktiva, posisi dana- dana, pendapatan dan biaya. Kemudian
kondisi eksternal meliputi situasi moneter, peraturan- peraturan. Dan kondisi
perdagangan.
2) Objektive
Objektive ( Tujuan) adalah nilai yang akan dicapai atau diinginkan oleh seseorang
atau badan usaha. Dalam hal ini organisasi harus dirumuskan dengan jelas, realistis dan
dapat diketahui oleh semua orang yang terlibat dalam organisasi , agar mereka dapat
berpartisipasi dengan penuh kesadaran.
3) Policies
Policies dapat berarti rencana kegiatan ( plan of action) atau juga dapat diartikan
sebagai suatu pedoman pokok ( guiding Prinsiples) yang diadakan oleh suatu badan untuk
menentukan kegiatan yang berulang- ulang.
4) Programs
Programs adalah deretan kegiatan yang digambarkan untuk melaksanakan policies.
Program itu merupaan program kegiatan yang dinamis yang biasanya dilaksanakan secara
bertahap, dan terikat dengan ruang ( placa) dan waktu ( time). Program itu harus merupakan
suatu kesatuan yang terkait erat dan tidak dapat dipisahkan dengan tujuan yang telah
ditentukan oleh organisasi ( closet intregreted).
5) Prosedure
Prosedur adalah suatu sifat gambaran sifat atau metode untuk melaksanakan suatu
kegiatan atau pekerjaan. Perbedaanya dengan program adalah program menyatakan apa
yang harus dikerjakan, sedangkan prosedur berbicara tentang bagaimana
melaksanakannya.
6) Budget
Budget adalah suatu taksiran atau perkiraan biaya yang harus dikeluarkan dan
pendapatan yang diperoleh di masa yang akan datang. Dengan demikian, budget
dinyatakan dengan waktu, uang, material dan unit- unit yang melakukan pekerjaan guna
memperoleh hasil yang diharapkan.
Pengorganisasian
Allah menciptakan manusia dalam keadaan dalam suatu komoditas, satu sama lainnya
saling berhubungan dan berinteraksi. Kesemuanya ditugasi atau diamanahi sebagai khalifah
di muka bumi. Dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya diharapkan dapat menciptakan
kemakmuran. Kemakmuran akan terwujud jika diantara manusia itu saling tolong- menolong,
tidak berpecah- belah.
Pelaksanaan dan Pengawasan
Kelancaran operasi bank adalah kepentingan utama bagi manajemen puncak ( top
management). Melalui pengawasan para manajer dapat memastikan tercapai atau tidaknya
harapan mereka. Pengawasan juga dapat membantu mereka mengambil keputusan yang lebih
baik.
Kata pengawasan dipakai sebagai arti harfiah dari kata controlling. Dengan demikian
pengertian pengawasan meliputi segala kegiatan penelitian, pengamatan dan pengukuran
terhadap jalannya oprasi berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, penafsiran dan
perbandingan hasil yang dicapai dengan standar yang diminta, melakukan tindakan koreksi
penyimpangan, dan perbandingan antara hasil ( output) yang dicapai dengan masukan ( input)
yang digunakan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kaitan dengan pengawasan,
diantaranya adalah:
1) Proses pengawasan
Menurut prosesnya, pengawasan meliputi pengawasan- pengawasan sebagai berikut:
a. Menentukan standar sebagai penentu pengawasan.
b. Pengukuran dan pengamatan terhadap jalannya oprasi berdasarkan rencana yang
telah ditetapkan.
c. Penafsiran dan perbandingan hasil yang dicapai dengan standar yang diminta.
d. Melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan.
e. Perbandingan hasil akhir (output) dengan masukan (input ) yang digunakan.
Dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Menentukan standar:
Dalam kegiatan pengawasan, yang pertama kali harus dilakukan adalah
mementukan standar yang yang menjadi ukuran dan pola untuk melaksanakan suatu
pekerjaan dan produk yang dihasilkan. Standar itu harus jelas, wajar, obyektif sesuai
dengan keadaan dan suber daya yang tersedia. Setiap bank mungkin mempunyai sistem
pengawasan yang berbeda- beda. Namun demikian harus tetap diidentifikasikan adannya
unsur- unsur pengawasan yang lazim terdapat pada semua sistem yang baik, diantaranya
adalah :
Standar hendaknya adalah suatu prestasi yang dapat diukur, baik bersifat keuangan
maupun non- keuangan, misalnya standar perputaran pegawai (labaur turnover).
Prestasi yang dicapai hendaknya dibandingkan dengan standar. Misalnya, jika standar
biaya telepon telah ditetapkan, maka realisasi biaya telepon. Harus dibandingkan
dengan standar biaya itu. Kemudian dianalisis untuk menjelaskan devisiasinya
dengan standar.
Deviasi antara prestasi yang terjadi dengan standar prestasi yang ditetapkan harus
merupaka isyarat akan perlunya koreksi atau perbaikan guna mencegah terjadinya
devisiasi yang lebih besar dikemudian hari.
Standar itu pula harus dievaluasi secara berkala untuk memungkinkan perbaikannya.
Jika perlu dengan membuat standar- standar baru bagi unsur- unsur relevan bagi
manajemen, yang sebelumnya tidak diukur.
b. Pengukuran dan pengamatan terhadap jalnnya operasi
Pelaksanaan jalannya oprasi harus selalu diawasi dengan cermat. Untuk
keperluan tersebut harus pula dibuat catatan (recort) sebagai laporan pekembangan
proses [Link] catatan itu hendaknya dilakukan pengukuran prestasi,
baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil evaluasi itu dijadikan bahan laporan
untuk dievaluasi lebih lanjut.
c. Penafsiran dan perbandingan hasil yang dicapai dengan standar yang diminta
Prestasi pekerjaan harus diberikan penilaian dengan memberikan penafsiran,
apakah sesuai dengan standar, sejauh mana terdapat peyimpangan dan apa saja
faktor- faktor penyebabnya.
d. Tindakan koreksi terhadap penyimpangan
Tindakan koreksi, selain untuk mengetahui adanya kesalahan, juga menerangkan
apa yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dan memberikan cara bagaimana
memperbaikinya agar kembali kepada standar dan rencana yang seharusnya.
Tindakan koreksi sangat perlu dan harus dilakukan, agar jangan berlarut- larut,
karena dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar.
e. Perbandingan hasil ( output) dengan masukan ( input)
Setelah proses pelaksanaan pekerjaan selesai segara diberikan pengukuran
dengan membendingkan penghasilan yang diperolah dengan sumber daya yang
digunakan serta standar yang ditetapkan. Hasil pengukuran ini akan memperlihatkan
tingkat efesiensi kerja dan produktivitas sumber daya yang ada, dan dapat dugunakan
sebagai:
Standar dari harga pokok untuk menentukan harga jual ( pricing).
Menentukan tinggi rendahnya efisiensi.
Sebagai bahan ukuran bagi penyusunan rencana yang baru.
1. Sistem informasi pengawasan
Laporan- laporan yang dihasilkan dari proses pengawasan itu harus
disusun dalam suatu format yang sistematis, agar dapat dengan segera dan mudah
digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan secara tepat dan tepat.
Kemajuan teknologi informasi telah memungkinkan sistem informasi manajemen
memiliki kesanggupan memberikan berbagai jenis informasi dengan cepat dan
akurat serta memberikan fleksibilitas dalam cara penyajiannya. Melalui laporan
ini para manajer dapat memperoleh informasi atau data yang tidak termuat dalam
laporan leguler, yang dibutuhkan untuk menghadapi laporan tertentu.
2. Program audit internal
Pada dasarnya manajer puncak (top manajemen) merupakan pengawas
tertinggi bagi seluruh bawahannya. Untuk memudahkan pelaksanaan fungsi
pengawasan setiap organisasi perusahaan besar selalu mengadakan suatu badan
khusus (special staf) dengan program audit internal yang oleh Bank Indonesia
disebut SKAI ( Satuan Kerja Audit Internal).
Unsur dasar dari program audit internal adalah meliputi verifikasi aktiva
dan pasiva, memastikan keseksamaan ayat- ayat penghasilan dan biaya,
memastikan kebenaran pelaksanaan prosedur bank yang telah ditetapkan dan
memberikan saran- saran perbaikan cara- cara pelaksanaan oprasional.
Sebagai pedoman oprasional dan pedoman pengawasan, bank dan kantor
cabang syariah wajib memiliki buku- buku pedoman kerja mengenai kegiatan
oprasional bank syariah, yang antara lain berupa:
Buku pedoman penghimpunan dana.
Buku pedoman pembiayaan.
Buku pedoman penglolaan dana.
Buku pedoman kegiatan jasa perbankan lainnya.
Buku pedoman standar perhitungan bagi hasil.
Buku pedoman system kas/ teller.
Buku- buku pedoman diatas memuat hal- hal mengenai prinsip syariah,
prinsip kehati- hatian, organisasi dan manajemen masing- masing kegiatan usaha,
prosedur kerja, administrasi dan dokumentasi, serta pengawasan dan
penyelesaian masalah yang dihadapi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan makalah di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Pola
Dasar Manajemen Bank adalah suatu proses transformasi aset yang mana di dalamnya
terdapat suatu kegiatan yang mempertimbangkan faktor- faktor likuiditas, risiko dan
keuntungan.
Transformasi aset adalah proses pengalihan dana yang dihimpun bank dari berbagai
sumber, yang menjadi kewajiban sebuah bank.
Manajemen adalah kegiatan bank yang perlu dirumuskan dalam wujud kebijakan
dasar (basic policies) yang meliputi bidang penting bagi aktivitas bank, hal ini juga dapat
menjadi penentu terhadap kadar kesehatan bank, dan hal itu dapat diketahui dengan
melakukan evaluasi terhadap bank yang sedang dikelola.
DAFTAR PUSTAKA
Hasymi Ali, Manajemen Bank,Bumi Aksara,Jakarta,1992.
Muhammad, manajemen bank syari’ah, UPP AMP YKPN,Jogjakarta, 2005.
Hasymi Ali, Dasar-dasar Operasi Bank,PT Rineka Cipta,Jakarta,1995.
Muchdarsyah Sinungan,Manajemen Dana Bank, PT Bumi Aksara,Jakarta,2000.
[Link]. b4on_ [Link], Manajemen Perbankan, ( 1 april 2010).
[Link]. xmanhoky. [Link], Manajemen Oprasional Bank, ( 31 maret 2011).
[Link]/doc.83982680p/Terapan-Komputer-Perbankan,( 15-10-2012)