SKRIPSI
HUBUNGAN PENGETAHUAN TRIAGE DENGAN TINGKAT
KECEPATAN PENANGANAN PASIEN
DI IGD RS DKT JEMBER
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Keperawatan ([Link])
Oleh :
Sofiyatun
18.1101.1064
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2023
SKRIPSI
HUBUNGAN PENGETAHUAN TRIAGE DENGAN TINGKAT
KECEPATAN PENANGANAN PASIEN
DI IGD RS DKT JEMBER
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Keperawatan ([Link])
Oleh :
Sofiyatun
18.1101.1064
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2023
i
SKRIPSI
HUBUNGAN PENGETAHUAN TRIAGE DENGAN TINGKAT
KECEPATAN PENANGANAN PASIEN
DI IGD RS DKT JEMBER
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Keperawatan ([Link])
Oleh :
Sofiyatun
18.1101.1064
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2023
ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN
HUBUNGAN PENGETAHUAN TRIAGE DENGAN TINGKAT
KECEPATAN PENANGANAN PASIEN
DI IGD RS DKT JEMBER
Sofiyatun
18.1101.1064
Skripsi ini telah diperiksa oleh pembimbing dan telah disetujui untuk dipertahankan
dihadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember
Jember, 1 Juli 2022
Pembimbing I
Ners. Cipto Susilo, S. Pd., S. Kep., M. Kep
NPK. 1970071519305382
Pembimbing II
Ners. M. Ali Hamid. S. Kep., M. Kes.
NPK. 1981080710310368
iii
PENGESAHAN
HUBUNGAN PENGETAHUAN TRIAGE DENGAN TINGKAT
KECEPATAN PENANGANAN PASIEN
DI IGD RS DKT JEMBER
Sofiyatun
18.1101.1064
Dewan Penguji Skripsi pada Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember
Jember,.................... Desember 2022
Penguji,
1. Penguji I : Ns. Ginanjar Sasmito Adi, S. Kep., M. Kep,. Sp. Kep. M.B ( ........... )
NPK. 1990021011509638
2. Penguji II : Ners. Cipto Susilo, S. Pd., S. Kep., M. Kep. ( ........... )
NPK. 1970071519305382
3. Penguji III : Ns. M. Ali Hamid, S. Kep., M. Kes ( ........... )
NPK 1981080710310368
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jember
Ns. Sasmiyanto., S. Kep., M. Kes
NPK. 1979041610305358
iv
PENGUJI PROPOSAL
Dewan Penguji Skripsi Pada Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jember
Jember, ............... Maret 2023
Penguji I
Ns. Ginanjar Sasmito Adi, S. Kep., M. Kep., Sp. Kep. M.B
NPK. 1990021011509638
Penguji II
Ns. Cipto Susilo, [Link]., S. Kep., M. Kep.
NPK. 1970071519305382
Penguji III
Ns. M. Ali Hamid. S. Kep., M. Kes.
NPK. 1981080710310368
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah
memberikan segala kemudahan dan kelancaran dalam menyusun hingga menyelesaikan
skripsi ini. Engkau selalu memberi kesabaran di saat kegilisahan dalam menyusun skripsi
ini, serta selalu memberi kekuatan dan jalan keluar di setiap kesulitan ini agar tetap
semangat dalam meraih cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tua.
Penyusunan proposal ini tidak terlepas dari segala bantuan do’a dan motivasi dari
orang yang saya hormati dan sayangi. Terimaksih kepada :
1. Kedua orang tua saya yang sangat saya cintai dan saya sayangi babe kusnadi dan
ibu muryati serta keluarga besar dan yoga,p yang selalu memberikan kasih sayang,
dukungan, serta doa yang senantiasa tiada henti dan menjadi penyemangat untuk
menyelesaikan tugas akhir ini.
2. [Link], [Link]., [Link]. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammdiyah Jember dan dosen-dosen yang telah menjadi orang tua
kedua saya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terimakasih atas ilmu yang
diberikan kepada saya selama menuntut ilmu di Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jember.
3. [Link] Susilo, [Link].,S. Pd., [Link]. dan [Link] Ali Hamid, [Link].,
[Link]. yang telah membimbing saya dalam penyusunan skripsi saya dengan
penuh kesabaran, ketelitian, dan perduli dan perhatian. Ucapan terimakasih yang
tak terhingga atas ilmu dan arahan yang telah diberikan sangat bermanfaat bagi
saya.
4. Sahabat yang saya sayangi pikacu sodeggo terimakasih sudah menjadi bagian
terpenting dalam hidup saya menjadi penyemangat dan pemberi solusi di setiap
hal apapun termasuk dalam menyelesaikan skripsi ini. Teruntuk teman
seperjuangan akhir semester nadia bestie KKN terimaksih sudah menjadi
pendengar setia dalam keluh kesah kehidupan saya, memberikan motivasi.
5. Teman teman seperjuangan S1-Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jember
Angkatan 2018 terutama kelas B (Nutrix). Terimakasih atas doa dan
dukungannya.
vi
MOTTO
“ Dua hal yang menentukan kualitasmu : kesabaranmu ketika kamu tidak memiliki
apapun dan sikapmu ketika kamu memiliki segalanya.”
( ALI BIN ABI THALIB)
“Ada tiga pekerjaan terberat : sikap dermawan dalam keadaan sempit, menjauhi dosa di
kala sendiri, dan berkata benar di hadapan orang yang di takuti.”
( IMAM SYAFI’I)
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, pencliti
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Pengetahuan Triage dengan
Tingkat Keberhasilan Penanganan Pasien IGD di RS DKT Jember", Skripsi ini dibuat
guna memenuhi syarat untuk melakukan penelitian serta dijadikan sebagai salah satu
tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan S1-Keperawatan di Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember. Skripsi ini dapat terselesaikan berkat
bimbingan, bantuan, dan dorongan dari banyak pihak, maka peneliti mengucapkan terima
kasih dan penghormatan yang Setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak [Link] [Link]. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Jember.
2. Bapak [Link], [Link]., [Link]. selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jember.
3. Ibu [Link] Rhosma Dewi, [Link]., [Link]. selaku Wakil Dekan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember.
4. Ibu [Link] Suryaningasih, [Link]., [Link]. selaku Ketua Program Studi
S1Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember.
5. Ibu [Link] Wahyuning Asih, [Link]., [Link]. selaku Ketua Program Studi Ners
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember.
6. Bapak [Link] Susilo, S. Kep., [Link]., [Link]. selaku Pembimbing I yang telah
banyak meluangkan waktu, tennga dan pikiran dalam membimbing dan
memberikan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
7. Bapak [Link] Ali Hamid, S. Kep., M. Kes. selaku Pembimbing II yang
telah memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh semangat dan kesabaran
yang sangat bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini.
8. Direktur RS DKT Jember yang telah memberikan ijin dalam kegiatan penclitian
yang dilakukan.
Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti menyadari masih jauh dari kata
sempurna maka dari itu peneliti sangat mengharap kritik dan saran demi
viii
sempumanya skripsi ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang keperawatan.
Jember,................ 2023
Penulis
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ..................................................................................... i
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. iv
LEMBAR PENGUJI PROPOSAL ................................................................. v
HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... vi
MOTTO ............................................................................................................. vii
KATA PENGANTAR ...................................................................................... viii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... x
DAFTAR BAGAN ............................................................................................ xii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian ................................................................................... 4
D. Manfaat Penelitian .................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 6
A. Konsep Triage......................................................................................... 6
B. Tingkat Kemampuan Triage ................................................................... 19
C. Kecepatan Penanganan ........................................................................... 23
D. Penelitian Terkait.................................................................................... 26
x
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS .................................... 29
A. Kerangka Konsep.................................................................................... 29
B. Hipotesis ................................................................................................. 29
BAB IV METODE PENELITIAN .................................................................. 30
A. Desain Penelitian .................................................................................... 30
B. Populasi, Sampel, dan Samping.............................................................. 30
C. Definisi Operasional ............................................................................... 32
D. Tempat Penelitian ................................................................................... 34
E. Waktu Penelitian..................................................................................... 34
F. Etika Penelitian ....................................................................................... 34
G. Alat Pengumpulan Data .......................................................................... 35
H. Prosedur Pengumpulan Data................................................................... 35
I. Analisis Data ........................................................................................... 36
BAB V HASIL PENELITIAN ........................................................................ 40
A. Data Umum ............................................................................................. 40
B. Data Khusus ............................................................................................ 43
BAB VI PEMBAHASAN ................................................................................. 45
A. Interpretasi Dan Diskusi Hasil ................................................................ 45
B. Keterbatasan Penelitian .......................................................................... 49
C. Implikasi Terhadap Pelayanan Keperawatan ......................................... 49
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 51
A. Kesimpulan ............................................................................................. 51
B. Saran ....................................................................................................... 51
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 53
LAMPIRAN
xi
DAFTAR BAGAN
Bagan 3.1 Kerangka Konsep .............................................................................. 24
xii
DAFTAR TABEL
Tabel : 2.1 jenis-jenis triage................................................................................. 11
Tabel : 4.1 Definisi Operasional ........................................................................... 27
Tabel : 4.2 Kategori Skoring................................................................................. 30
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Informed consent
Lampiran 2 : Informed responden
Lampiran 3 : Kuisioner
Lampiran 4 : Stupen
Lampiran 5 : Surat Bangkespol
Lampiran 6 : Surat Pengesahan Judul
Lampiran 7 : Surat Permohonan Ujian
Lampiran 8 : Lembar Konsultasi
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan salah satu komponen penting dalam
rumah sakit. IGD peruntukkan untuk pelayanan kesehatan yang bersifat darurat
(Health Direct, 2021). Selain melayani pasien yang datang karena penyakit, IGD
juga melayani pasien yang diantar karena kecelakaan atau trauma bahkan
kekerasan. Menurut Ritchie (2019), kurang lebih 56 juta orang meninggal akibat
penyakit kronis, trauma yang disebabkan kecelakaan lalu lintas, kekerasan oleh
diri sendiri atau orang lain, kebakaran, tenggelam, jatuh, keracunan dan
sebagainya. Menurut Ahsan et al. (2017), dari total seluruh kunjungan rumah sakit
di Indonesia 13,3% diantaranya adalah menuju ke IGD.
Data kunjungan pasien IGD di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2020
berjumlah 8.201.606 kasus atau 32% ( Deviantony, et al 2019). Data kunjungan
pasien di IGD Kabupaten Jember pada tahun 2020 perkiraan neonatus dengan
komplikasi mencapai 15% dari jumlah bayi baru lahir hidup 35.152 bayi,
sehingga perkiraan neonatus yang mengalami komplikasi sebesar 5.283 neonatus.
Sedangkan neonatus yang mengalami komplikasi dan mendapat penanganan
adalah 4.428 neonatus sehingga data kunjungan terbanyak oleh kasus neonatus
bayi mencakup 83,3%. Jumlah ini meningkat seiring dengan bertambahnya tahun.
Dengan peningkatan tersebut maka akan timbul masalah baru yakni kepadatan
yang terjadi di IGD.
Semakin banyaknya pasien yang menunggu di ruang tunggu IGD, maka
semakin besar pula beban perawat. Hal ini ditambah dengan fakta bahwasannya
masalah baru akan muncul akibat kepadatan, yakni menambah waktu tunggu
1
2
pasien. Waktu respon time menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 856/MENKES/SK/IX/2019 tentang Standar Instalasi Gawat
Darurat ( IGD ) Rumah Sakit tahun 2019, salah satu prinsip umumnya tentang
penanganan pasien gawat darurat yang harus ditangani paling lama 5 (lima) menit
setelah sampai di IGD Dihitung dari mulai pasien sampai dipintu IGD dengan
mendapat respon perawat melakukan triase lalu melakukan tindakan
[Link] pasien seringkali tidak mampu menahan sakitnya lebih
lama dan secara tidak langsung akan meningkatkan morbiditas bahkan mortalitas
pasien.
Solusi untuk mengatasi kepadatan IGD adalah salah satunya dengan sistem
triase (Kundiman, et al, 2019). Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 4 Tahun 2018 tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban
Pasien, Rumah sakit harus dapat melaksanakan pelayanan triase, survei primer,
survei sekunder, tatalaksana definitif dan rujukan. Prinsip triase memberlakukan
sistem prioritas, yaitu penentuan/penyeleksian mana yang harus didahulukan
mengenai penanganan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa yang timbul
berdasarkan: a) Ancaman jiwa yang dapat mematikan dalam hitungan menit; b)
Dapat mati dalam hitungan jam; c) Trauma ringan; dan d) Sudah meninggal.
Menurut Gilboy et al. (2020), Sistem triase penting untuk dipahami oleh tenaga
kesehatan IGD. Hal ini dikarenakan kesalahan dalam triase dapat menyebabkan
kesalahan dalam pengambilan keputusan klinis yang dapat merugikan rumah sakit
dan pasien. Oleh karena itu, pengetahuan, sikap, dan keterampilan perawat IGD
diperlukan agar penanganan pasien bisa lebih terarah dan optimal. Menurut
Sartono et al. (2017), Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecepatan
penanganan pasien dalam beberapa kondisi seperti: kecepatan pasien ditemukan,
3
kecepatan respon tenaga kesehatan, kemampuan dan kualitas tenaga kesehatan
serta kecepatan untuk meminta tolong. Hal ini senada dengan pendapat Maatilu et
al. (2018) Salah satu indikator keberhasilan penanganan gawat darurat adalah
kecepatan memberikan pertolongan kepada penderita gawat darurat. Keberhasilan
penanggulangan medik dapat diketahui melalui kecepatan memberikan
pertolongan yang memadai pada pasien dengan tujuan menyelamatkan nyawa
pasien atau mencegah kecacatan di tempat kejadian, dalam perjalanan, hingga
pertolongan ke rumah sakit. Mekanisme tanggap, disamping menentukan keluasan
rusaknya organ-organ dalam, juga dapat mengurangi beban pembiayaan. Menurut
Wilde (2017), waktu tanggap merupakan faktor terpenting dalam penanganan
pasien yang menderita segala penyakit. Kecepatan dan ketepatan pertolongan yang
diberikan pada pasien yang datang ke IGD memerlukan standar sesuai dengan
kompetensi dan kemampuannya sehingga dapat menjamin suatu penanganan
gawat darurat dengan waktu tanggap yang cepat dan penanganan yang tepat. Hal
ini dapat dicapai dengan meningkatkan sarana, prasarana, sumber daya manusia
dan manajemen IGD rumah sakit sesuai standart.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan pada tanggal 22
februari 2023 pada kepala ruangan IGD RS DKT Jember melalui wawancara
didapatkan data jumlah keseluruhan tenaga kesehatan yaitu berjumlah 27 tenaga
kesehatan. Meliputi perawat 14, dokter 7 dan bidan ponek 6 serta menggunakan
jenis triage Australasian triage scale ( ATS ). Berdasarkan Standar Penghitungan
tenaga Ruang IGD pola ketenagaan kerja tenaga kesehatan dengan menggunakan
metode Workload Indicators of Staffing Need ( WISN), dengan menggunakan
metode ini dapat diketahui unit kerja dan kategori SDM nya, waktu kerja, standar
beban kerja, kelonggaran, kuantitas, kegiatan pokok, dan akhirnya dapat
4
mengetahui kebutuhan SDM pada unit kerja ( Julia, et al 2017).
Data kunjungan pasien ke IGD pada tahun 2022 meliputi pasien rawat inap
bpjs berjumlah 3.450, pasien rawat inap swasta 314, pasien rawat jalan bpjs 1.146,
pasien rawat jalan swasta 585 sehingga jumlah total keseluruhan data pengunjung
mencapai 5.495 kasus dalam satu tahun terakhir ini atau 21,1%. Kasus terbanyak
pada ruang IGD adalah pasien dengan penyakit kanker payudara ( ca, mammae).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengetahuan triage tenaga kesehatan di IGD RS DKT Jember?
2. Bagaimana tingkat kecepatan penanganan pasien di IGD RS DKT Jember?
3. Apakah ada hubungan pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan
penanganan pasien di IGD RS DKT Jember?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan triase tenaga kesehatan dengan tingkat
kecepatan penanganan pasien di IGD RS DKT Jember.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi pengetahuan triage tenaga kesehatan di IGD RS DKT
Jember.
b. Mengidentifikasi tingkat kecepatan penanganan pasien di IGD RS DKT
Jember.
c. Menganalisis hubungan pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan
penanganan pasien di IGD RS DKT Jember.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, diharapkan penelitian ini bermanfaat
5
secara teoritis dan praktis. Uraian manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi bagi peneliti
berikutnya yang berminat dalam bidang pengetahuan triage dan kecepatan
penanganan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Manfaat bagi peneliti adalah sebagai tambahan pengetahuan dan
keterampilan mengenai triage dan kecepatan penanganan pasien. Lebih
lanjut, penelitian ini merupakan bentuk pengaplikasian ilmu pengetahuan
mengenai keperawatan dalam bentuk tugas akhir.
b. Bagi Pasien
Manfaat bagi pasien adalah sebagai referensi mengenai proses jalannya
triage sehingga mengetahui alur dan dasar pengambilan keputusan triage.
c. Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian dapat memberikan kontribusi bagi pelayanan kesehatan
khususnya di bidang triage dan kaitannya mengenai kecepatan penanganan
pasien sehingga dapat menjadi referensi untuk peningkatan kualitas SDM dan
sarana prasarana fasilitaas kesehatan.
d. Bagi Masyarakat
Manfaat penelitian ini bagi masyarakat adalah sebagai bahan edukasi
mengenai konsep dan sistem triage sehingga masyarakat tidak awam ketika
berurusan dengan IGD.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Triage
1. Pengertian Triage
Triage atau triase berasal dari bahasa perancis yang berarti memilah
atau menyortir. Menurut Kerie et al. (2018), triase merupakan istilah yang
digunakan untuk menggambarkan penyortiran atau pemilahan pasien
dalam prioritas tindakan di IGD. Hal ini senada dengan pendapat
Cannavacciuolo., (2018) yang menyatakan bahwa triase adalah proses
pengambilan keputusan untuk menentukan prioritas penanganan antar
pasien. Lebih lanjut, Lantz & Rosén (2016) smenyatakan bahwa triase
adalah penilaian medis terhadap pasien yang dilakukan oleh perawat
sehingga didapatkan kategorisasi berdasarkan kebutuhan penanganan
melalui tingkat kegawatdaruratan.
Berdasarkan pengertian menurut para ahli, dapat diketahui bahwa
triase merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan
penyortiran atau pemilahan pasien yang dilakukan oleh perawat dalam
prioritas tindakan di IGD sehingga didapatkan kategorisasi berdasarkan
kebutuhan penanganan melalui tingkat kegawatdaruratan. MenurutGilboy
et al., (2020), triase di IGD bertujuan untuk menentukan skala prioritas
pada pasien dan mengidentifikasi pasien yang harus ditangani terlebih
dahulu. Perawat yang melaksanakan triase melakukan pencatatan,
penilaian terfokus dan menentukan tingkat akuitas pasien.
6
7
2. Prinsip Triage
Beberapa indikator utama dalam prinsip triase adalah
memprioritaskan pasien yang terluka, waktu yang diperlukan untuk
melakukan triase, ketepatan triase, dan factor penyebab cedera. Menurut
Bazyar et al. (2020) prinsip triase sebaiknya menyesuaikan keadaan dan
negara dimana triase itu dilakukan. triase rumah sakit bertujuan
menetapkan kondisi yang paling mengancam nyawa agar dapat
mengerahkan segala daya upaya dan fokus untuk melakukan pertolongan
medis pada pasien sampai keluhan pasien dan semua parameter
hemodinamik terkendali. Prinsip triase yang dianut di IGD adalah
bagaimana agar pasien mendapatkan jenis dan kualitas pelayanan medik
yang sesuai dengan kebutuhan klinis (prinsip berkeadilan) dan
penggunaan sumber daya unit yang tepatsasaran (prinsip efisien)
(Fitzgerald et al., 2017).
Menurut Kartikawati (2015), prinsip triase yang harus diperhatikan
oleh perawat adalah sebagai berikut:
a. Segera dan singkat
Triase yang dilakukan oleh perawat tidak boleh terlalu lama dan
harus sesegera mungkin sejak pasien memasuki ruang IGD. Hal ini
dikarenakan berkenaan dengan morbiditas dan mortalitas pasien.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
856/Menkes/Sk/Ix/2019 tentang Standar Instalasi Gawat Darurat
(IGD) Rumah Sakit, pasien gawat darurat harus ditangani paling lama
5 menit sejak sampai di IGD. Lebih lanjut, setelah merespon
8
kedatangan pasien, rumah sakit harus melakukan penilaian mengenai
kondisi pasien paling lama 10 menit.
b. Kemampuan dan respon
Perawat yang melakukan trisase membutuhkan kemampuan serta
keterampilan yang sesuai agar hasil penilaian triase tidak meleset.
Lebih lanjut respon perawat terhadap hasil penilaian seharusnya sesuai
dengan SOP yang ditentukan oleh rumah sakit.
c. Adekuat dan akurat
Triase yang dilakukan harus adekuat atau dilakukan sesuai dengan
prosedur yang ditetapkan oleh rumah sakit. Selain berkenaan dengan
instrumen triase yang valid dan reliabel, kemampuan perawat
diperlukan agar tidak terjadi kesalahan triase sehingga menyebabkan
triase tidak efektif.
d. Efektif
Efektivitas perawat dalam penanganan pasien berkenaan dengan
adekuat dan akurat atau tidaknya perawat. Triase yang tidak efektif
akan berimbas pada undertriage atau overtriage. Undertriage akan
menyebabkan pasien menunggu lebih lama dari waktu yang
seharusnya mendapatkan penanganan sedangkan overtriage
menyebabkan penggunaan sumber daya manusia dan sarana prasarana
dalam penanganan pasien (Gilboy., 2020)
e. Tanggung jawab
Hal ini merupakan prinsip yang paling penting dalam triase.
Lebih lanjut, tanggung jawab berkenaan dengan bagaimana perawat
9
melakukan follow-up atau tindak lanjut setelah melakukan triase
terhadap pasien.
3. Prosedur Triage
Langkah-langkah yang dilakukan perawat dalam melakukan
penilaian triase umumnya ditentukan oleh rumah sakit melalui SOP yang
telah diterbitkan. Namun pemerintah melalui Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Kewajiban
Rumah Sakit Dan Kewajiban Pasien juga mengeluarkan prosedur triase
yang baik dan benar, yakni:
a. Pasien datang diterima tenaga kesehatan di IGD rumah sakit
b. Di ruang triase dilakukan pemeriksaan singkat dan cepat
untukmenentukan derajat kegawatdaruratannya oleh tenaga kesehatan
dengan cara:
1) Menilai tanda vital dan kondisi umum pasien
2) Menilai kebutuhan medis
3) Menilai kemungkinan bertahan hidup
4) Menilai bantuan yang memungkinkan
5) Memprioritaskan penanganan definitif
c. Namun bila jumlah pasien lebih dari 50 orang, maka triase
dapatdilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD rumah
sakit).
d. Pasien dibedakan menurut kegawatdaruratannya dengan memberi
kode warna:
10
1) Kategori merah
prioritas pertama (area resusitasi), pasien cedera berat
mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila
ditolong segera. Pasien kategori merah dapat langsung diberikan
tindakan di ruang resusitasi, tetapi bila memerlukan tindakan medis
lebih lanjut, pasien dapat dipindahkan ke ruang operasi atau di
rujuk ke rumah sakit lain.
2) Kategori kuning
Prioritas kedua (area tindakan), pasien memerlukan tindakan
defenitif tidak ada ancaman jiwa [Link] dengan kategori
kuning yang memerlukan Tindakan medis lebih lanjut dapat
dipindahkan ke ruang observasi danmenunggu giliran setelah
pasien dengan kategori merah selesai ditangani.
3) Kategori hijau
Prioritas ketiga (area observasi), pasien dengan cedera
minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau mencari
pertolongan. Pasien dengan kategori hijau dapat dipindahkan ke
rawat jalan, atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan,
maka pasien diperbolehkan untuk dipulangkan.
4) Kategori hitam
Prioritas nol dimana pasien meninggal atau cedera fatalyang
jelas dan tidak mungkin diresusitasi. Pasien kategori hitam dapat
langsung dipindahkan ke kamar jenazah.
11
4. Jenis-jenis Triage
Triase yang digunakan di tiap rumah sakit berbeda-beda sesuai
kebijakan rumah sakit itu sendiri. Menurut Habib et al. (2016) metode
triase rumah sakit yang saat ini berkembang dan banyak diteliti reliabilitas,
validitas, dan efektivitasnya adalah Australia Triage
System/ATS,Canadian Triage Acquity System/CTAS, Emergency Severity
Index/ESI dan Manchester Triage Scale/MTS. Metode terstruktur disertai
pelatihan khusus ini dikembangkan sehingga proses pengambilan
keputusan triase dapat dilaksanakan secara metodis baik oleh dokter
maupun perawat terlatih, tidak berdasarkan pengalaman dan wawasan
pribadi atau dugaan (best guess). (Graversen et al., 2020)
Keempat metode tersebut menggunakan penilaian dengan lima
kategori. Kategori pada keempat triase itupun memiliki perbedaan.
Perbandingan kategori keempat metode adalah sebagai berikut:
Tabel: 2.1 jenis-jenis triage
ESI MTS CTAS ATS
Level 1 Merah Resusitasi Segera mengancam nyawa
Level 2 Oranye Emergensi Mengancam nyawa
Level 3 Kuning Segera (Urgen) Potensi mengancam nyawa
Level 4 Hijau Segera (semi-urgen) Segera
Level 5 Biru Tidak Segera Tidak segera
Dari keempat metode yang umum digunakan, ESI menunjukkan hasil
yang unggul dibandingkan metode lainnya bila diterapkan di
12
tempat yang berbeda dari asalnya, yakni Indonesia. Masalah yang ditemui
oleh metode lain adalah tidak akurat bila dilakukan di luar wilayah
asalnya. Lebih lanjut ESI juga memiliki tingkat kesalahan yang lebih
rendah dibandingkan metode lain bila diterapkan di Indonesia (Atmojo,
2019).
a. Triage ATS (Australasian triage scale)
Skala Triase Australasia (ATS) merupakan algoritma triage gawat darurat
yang terdiri dari lima tingkat yang terus dikembangkan di Australia. 5 poin
skala triase, telah disahkan dan diadopsi di Australia dan dinyatakan sesuai
dengan Standar Kesehatan dan diberi nama skala triage nasional/ National
Triage Scale (NTS) dan mulai diimplementasikan pada tahun 1993. Pada
akhir 1990-an, NTS menjalani revisi dan kemudian namanya diganti
menjadi skala triase australasia /Australasian Triage Scale (ATS) (Atmojo,
Putri, Widiyanto, Handayani, & Darmayanti, 2020)
Penilaian triase ini melibatkan kombinasi masalah yang muncul,
kondisi umum pasien, dan dapat dikombinasikan dengan pengamatan
fisiologis. Tanda-tanda vital hanya diukur pada triase jika diperlukan
untuk memperkirakan urgensi, atau jika waktu memungkinkan. Berbagai
penelitian telah menyelidiki validitas dan reliabilias ATS pada populasi
dewasa dan anak-anak. Namun beberapa penelitian melaporkan
konsistensi sedang untuk ATS, tetapi itu perlu dipelajari secara luas dalam
hal peserta, statistik yang digunakan dalam pengukuran, instrumen dan
kriteria lain yang mempengaruhi. (Rashidi Fakari &
13
Simbar, 2020). Pasien dikategorikan berdasarkan kondisi klinis saat
datang ke unit gawat darurat/ emergency department (ED) sehingga pasien
yang lebih kritis akan mendapatkan perawatan yang lebih awal. Penelitian
terkait keandalan ATS menunjukkan nilai kappa berkisar dari 0,25 (adil)
hingga 0,56 (sedang) (Mirhaghi et al., 2015). Namun, hasil ini masih
menunjukan variasi yang cukup besar sehingga terdapat kesenjangan
nyata dalam keandalan skala triase. Hal ini membuat penulis tertarik untuk
membuat review yang menjelaskan menjelaskan pembagian sistem triase
ATS, cara kerja, dan tingkat keandalannya pada unit gawat darurat pada
unit gawat darurat.
Studi meta analisis yang dilakukan (Ebrahimi, 2015) memberikan
hasil yang lebih meyakinkan yakni koefisien gabungan untuk ATS adalah
0,428 (95% CI 0,340-0,509) dimana reliabilitas untuk dewasa lebih tinggi
dari anak-anak. Dengan demikian, ATS telah menunjukkan tingkat
keandalan keseluruhan yang dapat diterima dalam departemen gawat
darurat. Departemen gawat darurat di seluruh Australia dan Selandia Baru
menggunakan berbagai sistem informasi/emergency deparment
information system (EDIS) Dengan menggunakan sistem ini, ED dapat
memilih untuk mengidentifikasi setiap Kategori ATS menggunakan warna
antara lain: Merah (Kategori 1), Oranye (Kategori 2), Hijau (Kategori 3),
Biru (Kategori 4) dan Putih (Kategori 5) (Australasian College For
Emergency Medicine, 2016).
14
1) Merah (Kategori 1)
a) Deskripsi kategori : Kondisi yang mengancam kehidupan atau
memiliki risiko kecacatan dan membutuhkan intervensi agresif
segera.
b) Response: Segera, serentak, penilaian dan perawatan
c) Deskriptor Klinis: Gagal jantung, henti napas, risiko langsung
terhadap jalan napas (laju pernapasan <10 / mnt, gangguan
pernapasan ekstrem, Blood pressure (BP) <80 (dewasa) atau
anak / bayi yang sangat terkejut, Tidak responsif atau hanya
merespons nyeri (GCS <9), Kejang yang sedang berlangsung/
berkepanjangan, overdosis dan tidak responsif atau
hipoventilasi, gangguan perilaku parah dengan ancaman
kekerasan berbahaya.
2) Kuning (Kategori 2)
a) Deskripsi kategori : Kondisi pasien cukup serius atau memburuk
dengan sangat cepat sehingga ada potensi ancaman terhadap
kehidupan, atau kegagalan sistem organ, jika tidak dirawat
dalam waktu sepuluh menit setelah kedatangan atau nyeri yang
sangat parah.
b) Response: Penilaian dan perawatan dalam 10 menit (penilaian
dan perawatan sering bersamaan)
c) Deskriptor Klinis: Risiko jalan nafas, tridor parah, gangguan
pernapasan parah, gangguan peredaran darah (Kulit lembab atau
berbintik-bintik, perfusi buruk, SDM <50 atau> 150
15
(dewasa), Hipotensi dengan efek hemodinamik, kehilangan
darah yang parah), Nyeri dada, Rasa sakit yang sangat parah,
dugaan sepsis), Neutropenia demam, trauma berat, fraktur
mayor, torsi testis, konsumsi, diseksi aorta, kehamilan ektopik
d) Perilaku / Psikiatri: kasar atau agresif
• Ancaman langsung terhadap diri sendiri atau orang lain
• Agitasi atau agresi yang parah
• Stroke akut, percikan asam atau alkali ke mata,
endophthalmitis yang dicurigai (pasca katarak, injeksi
pasca-intravitreal), dan multi trauma besar (membutuhkan
respons tim yang terorganisir dengan cepat).
3) Hijau (kategori 3)
a) Deskripsi kategori : Berpotensi Mengancam kehidupan kondisi
pasien dapat mengancam anggota tubuh, atau dapat
menyebabkan morbiditas yang signifikan, jika penilaian dan
pengobatan tidak dimulai dalam waktu tiga puluh menit.
b) Response: Penilaian dan perawatan dimulai dalam 30 menit.
c) Deskriptor Klinis: Hipertensi berat, kehilangan darah yang
cukup parah, kejang, muntah yang persisten, dehidrasi, cidera
kepala dugaan sepsis, nyeri yang cukup parah, nyeri perut tanpa
fitur risiko tinggi atau usia pasien> 65 tahun, cidera ekstremitas
sedang, deformitas, laserasi parah, himpitan tanpa fitur berisiko
tinggi lainnya, anak yang berisiko mengalami pelecehan
16
d) Perilaku / Psikiatri:
• Sangat tertekan, risiko membahayakan diri sendiri
• Psikotik akut atau pikiran kacau
• Krisis situasional,
• Gelisah yang berpotensi agresif
4) Biru (Kategori 4)
a) Deskripsi kategori: Berpotensi serius, kondisi pasien dapat
memburuk, atau hasil yang merugikan dapat terjadi, jika
penilaian dan pengobatan tidak dimulai dalam satu jam setelah
kedatangan di UGD. Mungkin membutuhkan pemeriksaan dan
konsultasi yang rumit dan / atau manajemen rawat inap
b) Respone : Penilaian dan perawatan dimulai dalam 60 menit
c) Deskriptor klinis: Perdarahan ringan, aspirasi benda asing, tidak
ada gangguan pernapasan, cidera dada tanpa nyeri tulang rusuk,
kesulitan menelan, cidera kepala ringan, nyeri sedang, muntah
atau diare tanpa dehidrasi, peradangan mata, trauma tungkai,
kemungkinan patah tulang, laserasi tanpa komplikasi , nyeri
perut non-spesifik
d) Perilaku / Psikiatri:
• Masalah kesehatan mental semi mendesak
• Di bawah pengamatan dan / atau tidak ada risiko langsung
terhadap diri sendiri atau orang lain.
17
5) Putih (Kategori 5)
a) Deskripsi kategori : Kurang mendesak, kondisi pasien cukup
kronis atau minor sehingga gejala atau hasil klinis tidak akan
terpengaruh secara signifikan.
b) Respone : Penilaian dan perawatan dimulai dalam 120 menit
c) Deskriptor klinis : Nyeri minimal tanpa fitur risiko tinggi, gejala
minor penyakit yang stabil, gejala minor dari kondisi berisiko
rendah, luka ringan, laserasi minor (tidak perlu dijahit)
d) Perilaku / Psikiatri:
• Pasien yang dikenal dengan gejala kronis
• Krisis sosial, sabar secara klinis.
b. Pengaplikasian triage tenaga kesehatan
Simple Triage and Rapid Treatment ( START) Metode START
dikembangkan oleh rumah sakit Hoag dan Newpoirt Beach Fire
Departemen Amerika Serikat untuk menjadi penolong pertama yang
bertugas untuk memisahkan pasien pada korban musibah massal/bencana
dengan waktu 60 detik atau bahkan lebih cepat berdasarkan tiga
pemeriksaan yaitu respirasi, perfusi mengecek nadi radialis, dan status
mental. (Pira, Rahmawati, & Kholina, 2021). Namun yang paling penting
diperhatikan adalah tidak diperkenankan melakukan tindakan terapi pada
pasien yang akan dilakukan triage. Akan tetapi yang paling utama yang
harus dilakukan penolong triage adalah memeriksa pasien secepat
mungkin dan memisahkan pasien berdasarkan berat ringannya cedera yang
dialami. Apabila penolong lain sudah datang ke lokasi kejadian
18
maka korban akan dilakukan re-triage dengan pemeriksaan yang lebih
lengkap untuk mengenali kegawatan yang mungkin terjadi, evaluasi lebih
lanjut, resusitasi, stabilisasi, dan trasfortasi. Re-tiage dilakukan dengan
menggunakan pemasangan label metag sistem. Pasien diberi label dengan
tujuan agar mudah dikenali oleh penolong lain saat tiba ditempat kejadian
kegawatannya sebagai berikut:
1. Korban kritis/immediate diberi label merah yang berarti kegawatan
yang mengancam nyawa (ATS I). Dengan kriteria hasil pengkajian
respirasi >30x/menit, Tidak ada nadi radialis, Tidak sadar/tingkat
kesadaran menurun.
2. Delay/tertunda diberi label kuning kegawatan yang tidak mengancam
nyawa dalam waktu dekat (ATS 2) dengan hasil pengkajian respirasi
<30x/menit, nadi teraba, status mental normal.
3. Korban luka namun masih bisa berjalan diberi label hijau/tidak gawat
penanganan masih bisa ditunda (ATS 3). Penolong akan memberikan
instruksi verbal agar pasien dibawa ke lokasi yang aman dan
melakukan pengkajian trauma dan mengirim korban ke rumah sakit.
4. Meninggal diberi label hitam/tidak memerlukan penanganan
Metode START dilakukan dengan dua tahap yakni:
a) Memberikan instruksi menggunakan loud speaker memerintahkan
para korban yang masih bisa berjalan segera meninggalkan lokasi
kejadian dan mencari tempat yang lebih aman. Namun jika korban
mengeluh nyeri dan menolak untuk
19
berjalan jangan dipaksa untuk pindah tempat. Pasien yang dapat
berjalan dikategorikan sebagai minor.
b) Pasien yang tidak dapat berdiri dan bergerak lakukan pengkajian
singkat kurang dari satu menit setiap pasien dan berikan label yang
sesuai pada korban tersebut. Namun tugas penolong adalah untuk
menemukan pasien dengan label merah (immediate) yang
membutuhkan pertolongan segera, periksa setiap korban,
perhatikan gangguan airway dan breathing yang mengancam
nyawa dan berikan label merah pada korban. (Hizkia, 2019)
B. Tingkat Pengetahuan Triage
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan
peninderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pasca
indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,2018).
Pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hal
pengenalan atas sesuatu pola. Sebagai contoh, pengetahuan seorang ibu tentang
pentingnya menjaga kesehatan mata anak diperoleh dari suatu pola kemampuan
prediktif dari pengalaman dan informasi yang terima. Pengetahuan bukanlah
fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai kontruksi
kognitif seseorang terhadap obyek, pengalaman maupun lingkungannya.
Pengetahuan adlah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh
seseoeang yang setiap saat mengalami reorganisasi karen adanya pemahaman-
pemahaman baru (Budiman dan Riyanto, 2018).
Pengetahuan sangat diperlukan untuk membentuk suatu sikap dan tindakan
meskipun tindakan tidak selalu didasari oleh pengetahuan. Sikap yang didasari
20
oleh pengathuan (Notoatmodjo,2019).
Pengetahuan seseorang juga dapat diperoleh dari mengisi angket yang
berisikan tentang materi yang akan diukur dari subyek penelitian. Kedalaman
pengetahuan seseorang dapat disesuaikan dengan tingkat pengetahuan yaitu:
tahu, memehami, aplikasi, sintesis dan evaluasi (Hutauruk,2017).
Menurut teori Word Health Organization (WHO) yang dikutip oleh (Wawan
& Dewi,2017) salah satu bentuk objek kesehatan dapat dijabarkan oleh
pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri.
Pengetahuan triage pada tenaga Kesehatan IGD berfokus pada penilian
cepat, kategori pasien dan alokasi pasien,(Khairina, Malini, & Huriani, 2020).
Selain menjadi ketrampilan utama, triage dapat menjadi sebuah instrument
untuk mengatur, memonitoring, dan mengevaluasi pasien serta sumber daya
ada di ED. Ketidak akuratan triage dapat mengakibatkan hasil klinis yang
buruk, lamanya waktu untuk mendiagnosa dan waktu untuk mendapatkan
perawatan, ketidak efesienan dalam pemakaian sumberdaya dan fasilitas, dan
bahkan meningkatkan mortalitas dan morbilitas.
Kemampuan dalam penilian triage,(Sutriningsih, Wahyuni, & Haksama, 2020)
penilian triage terdiri dari : Primary Survey prioritas (ABC) untuk
menghasilkan prioritas 1 dan seterusnya, Secondary Survey pemeriksaan
menyeluruh (head to Toe) untuk menghasilkan prioritas I, II, III, 0 dan
selanjutnya.
Monitoring korban akan kemungkinan terjadinya perubahan pada (ABC)
derajat kesadaran dan tanda vital lainnya, perubahan prioritas karena perubahan
kondisi korban, dalam menangani pasien di IGD tenaga kesehatan harus
melaksanakan triage sesuia dengan perotap pelayanan triage agar penanganan
pasien tidak terlalu lama.
Perawat dan tenaga kesehatan yang bertugas di bagian triage dituntut
21
untuk memiliki kepekaan terhadap morbiditas yang diderita pasien.
Kemampuan suatu fasilitas kesehatan secara keseluruhan dalam kualitas dan
kesiapan perannya sebagaipusat rujukan penderita dari pra rumahsakit
tercermin dari kemampuaninstalasi gawat darurat (Hendianti, 2012). Perawat
sebagai garda terdepan yang menangani pasien sejak datang di IGD harus
diperhatikan serta ditingkatkan kemampuannya dalam melakukan penilaian
Triase. Faktor yang mempengaruhi kemampuan perawat dalam triase adalah
pengetahuan, tingkat pendidikan, pengalaman bekerja, dan pelatihan
(Sutriningsih, Wahyuni, & Haksama, 2020). Hal ini senada dengan pendapat
Khairina et al. (2020) yang menyatakan bahwa kemampuan triase yang optimal
dapat diterapkan dengan baik oleh perawat yang memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang adekuat. Pada penelitian ini, kemampuan triase didasarkan
pada pengetahuan tentang triase.
Notoatmodjo (2017) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang, sebab dari hasil pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dari pada tidak didasari oleh
pengetahuan. Tingkatan pengetahuan adalah sebagai berikut:
1. Know
Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2. Comprehension
Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, yang dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar
22
3. Application
Diartikan sebagai kemamampuan menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain
4. Analysis
Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatuobjek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu
strukturorganisasi tersebut dan masih ada kaitannya antara satu sama
lain.
5. Sinthesys
Menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru.
6. Evaluation
Suatu kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap
suatu materi atau objek.
Pengetahuan yang dimiliki oleh perawat tidaklah sama satu dengan yang
lain. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa faktor yang mendasari hal tersebut.
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan perawat adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan
Melalui pendidikan seseorang akan memperoleh pengetahuan, apabila
semakin tinggi tingkat pendidikan, maka hidup akan semakin berkualitas,
dimana seseorang akan berfikir logis dan memahami informasi yang
diperolehnya
2. Pengalaman
23
Pengalaman belajar dan bekerja yang dikembangkan memberikan
pengetahuan dan ketrampilan profesional serta pengalaman belajar
selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil
keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara
ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang
keperawatan
3. Pekerjaan
Pekerjaan dapat membawa suatu pengalaman, pengalaman belajar dalam
bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan ketrampilan
profesional serta pengalaman.
4. Motivasi
Motivasi merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang mengambil
suatu tindakan. Motivasi dapat berasal dari motif sosial, tugas, atau fisik.
Penyelesaian tugas sosial dan motivasi fisik menstimulasi seseorang
untuk belajar.
5. Informasi
Informasi merupakan faktor yang mungkin mencakup ketrampilan dan
sumber daya untuk melakukan prilaku kesehatan. Semakin banyak
informasi yang diterima oleh seseorang maka semakin meningkat pula
pengetahuan yang dimilikinya. Sumber informasi adalah data yang
diproses ke dalam suatu bentuk dan mempunyai nilai nyata. Salah satu
faktor yang mempengaruhi pengetahuanyang menjadi sumber informasi
adalah lingkungan Kecepatan Penanganan.
C. Kecepatan Penanganan
Respon time merupakan kecepatan dalam menangani pasien, di hitung
sejak pasien datang sampai dilakukan penanganan dengan ukuran kecepatan
penanganan adalah respon time selama 0 menit dan waktu definitive ≤ 2 jam,
24
yang dilakukan oleh perawat akan menentukan keselamatan pasien. Semakin
baik kualitas penanganan yang diberikan maka semakin rendah tingkat
mortalitas pasien. Respon time menjadi salah satu indikator penting dalam
tingkat keberhasilan penanganan. (Phukubye, Mbombi, & Mothiba, 2021)
Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa keberhasilan waktu tanggap
atau response time sangat tergantung pada kecepatan yang tersedia serta kualitas
pemberian pertolongan untuk menyelamatkan nyawa atau mencegah cacat sejak
di tempat kejadian, dalam perjalanan hingga pertolongan rumah sakit. Menurut
(Kerie., 2018). Jika pasien tidak ditangani dengan segera atau lambat maka
menyebabkan terjadinya komplikasi kecacatan bahkan kematian dan akan
berdampak positif jika dilakukan dengan cepat yaitu dapat mengurangi beban
pembiayaan tanpa adanya kerusakan pada organ tubuh, berkurangnya angka
mortalitas, morbiditas dan dapat meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
(Nino, Schiel, Bellows, & Claudio, 2020)
1. Faktor –faktor yang mempengaruhi kecepatan penangana
Faktor-faktor yang berhubungan denganketepatan waktu tanggap
penanganan kasus di IGD adalah :
a. Ketersediaan stretcher
b. Ketersediaan petugas
c. Pola penempatan staf
d. Tingkat karakteristik pasien
e. Faktor pengetahuan, keterampilan dan pengalaman petugas kesehatan
yang menangani kejadian gawat darurat.(Karokaro, 2020)
2. Klasifikasi kecepatan penanganan berdasarkan kegawatan
Salah satu indicator keberhasilan penanganan medic penderita gawat
darurat adalah kecepatan memberikan pertolongan yang memadai kepada
25
penderita gawat darurat baik pada keadaan rutin sehari-hari atau sewaktu
bencana. Keberhasilan waktu tanggap sangat tergantung pada kecepatan
yang tersedia serta kualitas pemberian pertolongan untuk menyelamatkan
nyawa atau mencegah cacat sejak di tempat kejadian, dalam perjalanan
hingga pertolongan di rumah sakit. (Duko., 2019)
26
D. Penelitian Terkait
No Judul tahun Peneliti Tujuan Populasi sampel Metode penelitian Hasil
1 Hubungan Agus mengidentifikasi Populasi: metode analitik Mayoritas pengetahua n perawat
pengetahuan Kholiq hubungan pengetahuan seluruh jumlah korelasi dengan dalam kategori cukup 76,5%
dan sikap dan sikap perawat tentang perawat yang pendekatan cross (13orang), sikap perawat mayoritas
perawat triage dengan penerapan bertugas di IGD sectional baik 52,9%
tentang triage triage di IGD RSUD RSUD (9 orang) dan mayoritas perawat
dengan Mardi Waluyo Blitar Mardi Waluyo menerapkan triage dalam
penerapan Blitar sebanyak kategoriCukup76,5% (13orang).
triage di IGD 17 perawat Uji statistik menggunakan
RSUD Sampel: total spearman rho. Hasil uji statistik
MardiWaluy sampling (17 antara variabel pengetahua n
Blitar (2018) perawat) dengan penerapan triage
didapatkan nilai p = 0,[Link]
sikap dengan penerapan triage
didapatkan nilai p = 0,031 dan
variabel pengetahuan dengan sikap
perawat tentang triage didapatkan
nilai p = 0,048. Nilai kooefisien
korelasi variabel diatas secara
berurutan (r= 0,572;0,523; 486)
yang memiliki arti terdapat
hubungan pengetahua n dengan
penerapan,sikap dengan penerapan
dan pengetahua n dengan sikap
serta memiliki hubungan
yang positif
2 Hubungan Danang, untuk mengetahui Populasi: seluruh rancangan analitik Mayoritas pengetahuan perawat
Pengetahuan dkk hubungan pengetahuan perawat yang correlation dengan dalam kategori baik 75% (12orang)
27
Perawat perawat tentang triase ada di Ruang pendekatan dan mayoritas perawat tepat dalam
tentang Triase dengan tingkat ketepatan Unit Gawat crosssectional. melakukan triase sesuai SOP87,5%
dengan pemberian label Triase di Darurat (UGD) (14orang). Analisa penelitian ini
Tingkat UGD RSUD Kota RSUD Kota menggunak an uji rank spearman.
Ketepatan Surakarta Surakarta Hasil penelitian ini menunjukka n
Pemberian sebanyak 16 nilai p value 0.006
Label Triase di [Link]: sehingga ada hubungan
UGD RSUD total sampling pengetahuan perawat tentang triase
Kota Surakarta (16 orang) dengan tingkat ketepatan pemberian
(2020) label triase di UGD RSUD Kota
Surakarta
3 hubungan Antoni, untuk mengetahui Populasi : semua Deskriptif Mayoritas pengetahuan perawat
tingkat dkk. hubungan tingkat perawat perawat Korelasional, dengan kategori cukup 78% (14
pengetahuan pengetahuan pelaksana yang dengan orang) dan mayoritas perawat
perawat tentang perawattentang melakukan triage menggunakan melaksanak an triage tepat sesuai
triage dengan triagedengan penerapan di IGD Rumah pendekatan SOP 89% (16 orang). Berdasarkan
penerapan triage di IGD Rumah Sakit Umum cross sectional.. hasil pengolahan data menggunakan
triage di IGD SakitUmum Daerah Patut Daerah Patut uji chi- square, didapatkan hasil
Rumah Sakit Patuh Patju Kabupaten Patuh Patju dengan perhitungan SPSS dengan
Umum Daerah Lombok Barat Kabupaten taraf signifikan P value = 0,040
Patut Patuh Lombok Barat 18 dengantaraf kesalahan α= 0,05
Patju orang. Sampel : maka nilai P value < nilai α
Kabupaten total sampling (0,040<0,05).
Lombok Barat (18 orang)
(2016)
4 Perceptions Agani, untuk menilai persepsi Populasi: perawat Deskriptif dengan mengungka pkan bahwa tingkat
and dkk. dan pengetahuan perawat UGD yang pendekatan pengetahuan perawattentang triase
Knowledge on tentang triase di IGD bekerja di tiga crosssectional diUGD di atasrata-rata yaitu 62,6%
Triage of rumah sakit Tamela rumahsakit dan perawat memiliki persepsi yang
Nurses Metropolis, Ghana yang ada sangatbaik tentang triase 96%.
28
Working in di Tamale 96
Emergency perawat. sampel:
Departments purposive
of Hospitals in sampling (65
the Tamale perawat)
Metropolis,
Ghana (2017)
5 Relationships Mukha untuk mengetahui Populasi: perawat Deskriptif korelasi hasil penelitian ini menunjukka n
between Triage mad, dkk. hubungan antara yang bekerja di adanya hubungan yang signifikan
Knowledge, pengetahuan UGD,di dua antara antara keterampilan triase
Training, pengalaman kerja,dan rumah sakit dan pengalaman kerja (r = .27,
Working keterampilan pemerintah di <.01), pengalaman pelatihan
Experiences perawatgawat darurat Jawa Timur yaitu (r =. 37, p <.01), dan pengetahuan
and Triage diJawaTimur,Indonesia sebanyak 306 triase (r =. 38, p <. 01). Hasil
Skills among subjek. Sampel: pengolahan data menggunak an uji
Emergency purposive korelaso Pearson.
Nurses in sampling (266
EastJava, perawat.)
Indonesia
(2013)
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
INPUT PROSES OUTPUT
Variabel Independen Variabel Dependen
Tenaga kesehatan Tingkat Kecepatan
Pengetahuan
di IGD RS DKT Penanganan Pasien
Triage
Jember di IGD
Variabel Confounding
1. Kompetensi Tenaga
Kesehatan
2. Sarana dan Prasarana
3. Pengetahuan dan
Ketrampilan
Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Diteliti Tidak
Diteliti
B. Hipotesis Penelitian
H1: Ada hubungan pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan penanganan
pasien di IGD RS DKT Jember
29
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik dengan metode cross-sectional.
Menurut Irmawartini & Nurhaedah (2017), penelitian analitik bertujuan untuk mencari
hubungan sebab akibat dari dua atau lebih variabel penelitian. Sedangkan desain penelitian
cross-sectional mencari hubungan sebab akibat diamana dimana variabel bebas dan terikat
diamati pada saat yang bersamaan dan tanpa adanya intervensi peneliti. Berdasarkan hal
tersebut, penelitian ini berupaya mencari hubungan sebab akibat antara pengetahuan triase dan
tingkat kecepatan penanganan pasien di IGD RS DKT Jember
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi menurut Dewi & Nathania, (2018) yaitu wilayah generalis yang
terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu. Populasi dalam penelitian ini adalah Tenaga Kesehatan meliputi
perawat, dokter, bidan IGD di RS DKT Jember sebanyak 27 Responden.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah karakteristik yang dimilki oleh
populasi tersebut menurut Bank et al., (2017). Sampel yang ingin di jadikan
responden dalam penelitian ini yaitu Tenaga kesehatan IGD di RS DKT
Jember, sebanyak 27 responden.
30
31
Jadi jumlah sampel penelitian ini adalah 27 Responden yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi yaitu sebagai berikut:
a. Kriteria Inklusi
Merupakan kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel karena
penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Rahmawati & Dewi,
2020) Pada penelitian ini yang menjadi kriteria Inklusi adalah :
1. Tenaga Kesehatan yang bertugas di IGD RS DKT Jember
2. Berada di tempat penelitian yang diteliti oleh peneliti pada waktu
pengambilan data dilakukan.
3. Bersedia menjadi responden.
b. Kriteria Eksklusi
Merupakan kriteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sampel
karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian,
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah :
1. Tenaga Kesehatan, yang dalam masa cuti dan izin sakit pada saat
dilakukan penelitian
2. Tenaga Kesehatan, yang sedang melaksanakan studi lanjut
3. Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan proses pengambilan penyeleksian porsi dari populasi
yang dapat mewakili populasi yang ada. Teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Non Probability sampling dan Total sampling atau yang biasa
dikenal sebagai sampling jenuh adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan
dengan mengambil semua populasi menjadi sampel penelitian. Teknik ini
biasanya dilakuakan bilamana jumlah populasi yang jumlahnya sedikit (H Kara,
2018).
32
C. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel menurut Sugiyono (2017) adalah seperangkat
petunjuk yang lengkap tentang apa yang harus di amati dan mengukur suatu
variabel atau konsep untuk menguji kesempurnaan. Defenisi operasional variabel
ditemukan item-item yang dituangkan dalam instrument penelitian Edie
Sugiarto,(2017)
33
4.1 Tabel Definisi Operasional
Variabel Penelitian
No Definisi Operasional Indikator Alat Ukur Skala Hasil Ukur
1 Variabel Independen: Pengetahuan tenaga 1. Tahu Triage knowledge Ordinal Kategori
Pengetahuan Triase kesehatan adalah 2. Memahami Questionnaire (TKQ) Setiap jawaban yang benar
segala sesuat yang 3. Penerapan diberi nilai 1 dan yang
diketahui melaui salah diberikan nilai 0
proses pembelajaran
mengenai penerapan Skoring
triase. 1. Pengetahuan rendah
(0-50%)
2. Pengetahuan sedang
(60-80%)
3. Pengetahuan tinggi
(80%-100%)
2 Variabel Kecepatan tenaga 1. Start saat pertama 1. Lembar Nominal A. ATS 1
Dependen: kesehatan dalam tiba di IGD observasi. Cepat (< 0 menit)
Kecepatan menangani pasien 2. Finish sampai 2. Stopwatch Lambat (>0menit)
Penanganan yang datang terhitung dilakukan Primary B. ATS 2
dari masuk ruang Survey (initial Cepat ( <10menit)
IGD assesment) dan Lambat (>10menit)
(resuitasi), C. ATS 3
( urgensi), ( non Cepat (<30 menit)
urgensi). Lambat (>30 menit)
D. ATS 4
Cepat (<60 menit)
Lambat (>60 menit)
E. ATS 5
Cepat (<120 menit)
Lambat (>120
menit)
Skor :
1. Lambat (1)
2. Cepat (2)
34
D. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruang IGD RS DKT Jember
E. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini di laksanakan sejak pembuatan proposal penelitian
yaitu pada bulan Maret 2022, kemudian dilanjutkan seminar proposal dan
pengajuan uji kelayakan etik yang rencananya dilakukan bulan juli 2022.
Selanjutnya dilakukan penelitian pada bulan Februari 2023. Hasil penelitian
ini akan di publikasikan setelah diadakan sidang hasil pada bulan Maret
2023.
F. Etika Penelitian
1. Informed Consent
Lembar persetujuan atau informed consent diberikan kepada subjek
penelitian atau responden oleh peneliti sebelum penelitian dilakukan
sehingga dapat diketahui kesediaan responden untuk berpartisipasi dalam
penelitian ini. Lebih lanjut, lembar ini memuat informasi mengenai tujuan
hingga prosedur penelitian.
2. Confidentiality
Prinsip confidentiality berarti menjaga kerahasiaan informasi yang
bersifat privat kecuali pihak yang bersangkutan memberikan ijin untuk
memberikan informasi yang dijaga kepada pihak lain. Lebih lanjut,
peneliti berusaha menjaga kerahasiaan hasil penelitian kepada pihak atau
orang lain.
3. Anonymity
Prinsip anonymity berarti penjagaan rahasia pribadi responden yang
terlibat dalam penelitian ini. Lebih lanjut, peneliti akan melakukan kode
35
fikasi atau perubahan nama responden yang terlibat ke dalam kode atau
inisial yang hanya akan dipahami oleh peneliti.
4. Benefience
Penelitian ini dilakukan dengan prosedur penelitian yang telah
ditetapkan sehingga dapat mengetahui hasil yang maksimal dan
bermanfaat bagi responden dan pembaca. Lebih lanjut, hasil penelitian ini
diharapkan dapat digeneralisasikan di tingkat populasi.
G. Alat Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber
data dengan observasi langsung (Sugiyono, 2017). Lebih lanjut, data
primer yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil pengisian
instrument atau kuisioner, hasil pengukuran, dan survey.
2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung memberikan data
kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen
(Sugiyono, 2017). Pada penelitian ini, data sekunder yang dimaksud
adalah data mengenai kunjungan pasien yang didapatkan melalui
dokumentasi RS DKT Jember
3. Alat Pengumpulan Data
Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data TKQ (Triage
knowledge Questionnaire) atau kuisioner pengetahuan dan lembar
observasi. Kuesioner yang digunakan untuk mengetahui pengetahuan
triase tenaga kesehatan dalam melakukan triase, yakni TKQ (Triage
knowledge Questionnaire), yang dimodifikasi dan dialih bahasa ke dalam
bahasa Indonesia. Instrument TKQ berisi 25 pertanyaan yang terbagi
36
kedalam 2 kategori yang diukur, yakni Benar bernilai 1 dan salah bernilai
0.
Sedangkan untuk mengukur tingkat kecepatan penanganan pasien
digunakan lembar observasi. Selanjutnya setelah diketahui lamanya waktu
penanganan tiap responden, dilakukan perhitungan secara keseluruhan
dengan persentase dengan ketentuan sebagai berikut (Banoet, 2019):
H. Prosedur PengumpulanData
Peneliti melakukan uji etik penelitian sebelum melakukan pengambilan
data responden. Adapun teknik pengambilan data penelitian ini sebagai
berikut:
1. Identifikasi responden, teknik ini dilakukan guna mendapatkan
responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah
ditetapkan serta pengumpulan persetujuan responden yang dibuktikan
melalui tandatangan informed consent oleh responden.
2. Melakukan pencatatan dan observasi responden dalam melakukan triase
sehingga dapat diketahui pengetahuan responden. Selain itu, dilakukan
pencatatan waktu respon dan dalam merespon kedatangan pasien.
Pencatatan dan observasi ini dilakukan setiap responden menerima
pasien.
3. Data yang telah diperoleh kemudian dikumpulkan dan dicek kembali
kelengkapannya. Setelah itu dilakukan entry dan tabulasi ke dalam
computer guna mempermudah analisa data yang telah terkumpul.
1. Analisis Data
1. Pengolahan Data
Pengelolaan data adalah sesuatu yang dilakukan untuk memperoleh data
berdasarkan suatu kelompok data yang mentah dengan menggunakan
37
rumus tertentu sehingga mendapatkan informasi yang diperlukan
(Notoatmodjo, 2019). Pengelolaan data bertujuan untuk memperoleh
hasil data dan kesimpulan yang baik, data yang diperoleh dari peneliti
masih mentah, belum dapat memberikan informasi, maka diperlukan
pengolahan data. Berdasarkan kegiatan yang dilakukan dalam
pengolahan data peneliti, yaitu: editing, coding, entry, cleaning.
a. Editing
Editing yaitu kegiatan dalam pemeriksaan validitas data yang
dikumpulkan dan pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan
kelengkapan kuesioner yang telah di isi oleh responden, kejelasan
jawaban dari responden, ketepatan respoden dalam menjawab, dan
pengukuran yang beragam
b. Coding
Coding yaitu kegiatan dalam mempermudah pengelompokan data
menurut kategori masing-masing dengan cara klasifikasi data dan
jawaban responden.
Pemberian kode pada penelitian ini
adalah : 1). Variabel Independen
(pengetahuan triage)
Benar 1
Salah 0
2). Variabel Dependen (Kecepatan penanganan pasien )
Lembar observasi dengan skoring cepat = 2 dan lambat = 1
c. Entry
Entry yaitu kegiatan memasukkan data yang dilakukan oleh peneliti pada
data base komputer dari hasil pengisian kuisioner untuk memperoses data
sehingga dapat dianalisis.
38
d. Cleaning
Cleaning yaitu kegiatan pemeriksaan data yang sudah diteliti dan
diolah dalam mengetahui adanya kesalahan tersebut, sehingga
peneliti dapat melakukan perbaikan apabila terjadi kesalahan dalam
penulisan maupun pengelolaan data. Tidak ada kesalahan dalam
pengelolaan data.
2. Analisis Univariat
Analisis univariat disebut juga dengan analisis deskriptif yaitu
analisis yang menjelaskan secara rinci karakteristik masing-masing
variabel yang diteliti. Untuk data kategorik maka masing-masing variabel
dideskripsikan dalam bentuk persentase. Sedangkan untuk data numerik
maka masing-masing variable dapat dideskripsikan berdasarkan ukuran
tengahnya (mean, median, modus), ukuran sebenarnya (nilai minimum,
nilai maksimum, standard deviasi, varian dan inter kuartil range)
(Irmawartini & Nurhaedah, 2017).
Data yang disajikan dalam bentuk persentase adalah data mengenai
jenis kelamin, status perkawinan, agama, pendidikan terakhir, status
kepegawaian, lama kerja, dan pelatihan.
3. Analisis Bivariat
Analisis bivariat merupakan analisis untuk melihat hubungan antar
dua variabel. Untuk analisis bivariat, maka terlebih dahulu dirumuskan
hipotesis. Uji statistic dibedakan atas dua yaitu statistik parametrik dan
statistik non parametrik. Statistik parametric digunakan untuk variabel
39
yang datanya berdistribusi normal, sedangkan uji statistik non parametric
digunakan untuk variabel yang datanya berdistribusi tidak normal. Jenis uji
statistik yang akan digunakan sangat tergantung pada skala data dari
masing-masing variabel.
Secara umum skala data dibedakan atas dua yaitu kategorik (skala
nominal dan ordinal), dan numerik (skala interval dan rasio) analisis ini
dilakukan menggunakan uji korelasi person untuk menentukan keeratan
hubungan variabel independen dan variabel dependen dengan tingkat
signifikan 5% (0.05). Bila nilai p < 0,05 maka terdapat hubungan yang
bermakna antara dua variabel dependen dan independen (H1 diterima),
sedangkan bila nilai p > 0,05 maka tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara dua variabel dependen dan independen (H1 ditolak) (Irmawartini &
Nurhaedah, 2017).
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Data Umum
1. Karakteristik Responden
a. Jenis Kelamin
Tabel 5.1 Distribusi jenis kelamin responden di IGD RS DKT Jember
(N = 30).
Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%)
Laki-laki 15 50,0
Perempuan 15 50,0
Total 30 100,0
Berdasarkan tabel 5.1 tentang jenis kelamin responden didapatkan hasil
yang seimbang , yakni berjenis kelamin laki-laki 15 orang (50,0%) dan
perempuan 15 orang (50,0%).
b. Usia
Tabel 5.2 Distribusi frekuensi usia responden di IGD RS DKT Jember
(N = 30).
Usia Frekuensi Presentase (%)
24 3 10,0
25 1 3,3
27 2 6,7
28 2 6,7
29 2 6,7
31 2 6,7
32 1 3,3
34 2 6,7
35 6 20,0
36 1 3,3
40 5 16,7
41 2 6,7
42 1 3,3
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.2 tentang karakteristik responden berdasarkan usia
didapatkan responden terbanyak yakni berusia 35 tahun sebanyak 6 Orang
(20,0%).
40
41
c. Status Pernikahan
Tabel 5.3 Distribusi frekuensi status pernikahan responden di IGD RS
DKT Jember (N = 30).
Status Pernikahan Jumlah Presentase (%)
Menikah 26 86,7
Belum Menikah 4 13,3
Janda 0 0
Duda 0 0
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.3 tentang karakteristik responden berdasarkan status
pernikahan pada penelitian ini mayoritas responden adalah telah menikah
yakni sebanyak 26 Orang (86,7%).
d. Agama
Tabel 5.4 Distribusi frekuensi agama responden di IGD RS DKT Jember
(N = 30).
Agama Jumlah Presentase (%)
Islam 29 96,7
Kristen 1 3,3
Hindu 0 0
Budha 0 0
Katolik 0 0
Lainnya 0 0
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.4 tentang karakteristik responden berdasarkan agama
yang menjadi responden pada penelitian ini mayoritas responden
beragama islam yakni sebanyak 29 Orang (96,7%).
e. Latar Belakang Pendidikan
Tabel 5.5 Distribusi frekuensi latar belakang pendidikan responden di IGD
RS DKT Jember (N = 30).
Latar Belakang Jumlah Presentase (%)
Pendidikan
D3 5 16,7
S1 15 50,0
Ners 10 33.3
Lainnya 0 0
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.5 tentang karakteristik responden berdasarkan latar
belakang pendidikan yang menjadi responden pada penelitian ini
mayoritas berpendidikan S1 yakni sebanyak 15 Orang (50,0%).
42
f. Status Kepegawaian
Tabel 5.6 Distribusi frekuensi status kepegawaian responden di IGD RS
DKT Jember (N = 30).
Status Kepegawaian Jumlah Presentase (%)
Magang 9 30,0
Kontrak 6 20,0
Tetap 15 50,0
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.6 tentang karakteristik responden berdasarkan status
kepegawaian yang menjadi responden pada penelitian ini mayoritas adalah
tetap sebanyak 15 Orang (50,0%).
g. Lama Kerja di IGD
Tabel 5.7 Distribusi frekuensi lama kerja di IGD responden di IGD RS
DKT Jember (N = 30).
Lama Kerja di IGD Jumlah Presentase (%)
0-5 tahun 10 33,3
5-10 tahun 20 66,7
10-15 tahun 0 0
>15 tahun 0 0
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.7 tentang karakteristik responden berdasarkan
frekuensi lama kerja di IGD pada penelitian ini mayoritas adalah 5-10
tahun yakni sebanyak 20 Orang (66,7%).
h. Pendidikan/Pelatihan Mengenai Keperawatan IGD
Tabel 5.8 Distribusi frekuensi pendidikan/pelatihan mengenai keperawatan
IGD responden di IGD RS DKT Jember (N = 30).
Pendidikan / Pelatihan Jumlah Presentase (%)
Keperawatan IGD
BTCLS 18 60,0
BLS 1 3,3
BCLS 3 10,0
PPGD 1 3,3
Belum Pernah 5 16,7
Lainnya 2 16,7
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.8 tentang karakteristik responden berdasarkan
Pendidikan/pelatihan keperawatan IGD pada penelitian ini mayoritas
pernah mengikuti pelatihan BTCLS yakni sebanyak 18 Orang (60,0%).
43
B. Data Khusus
Pada data ini menampilkan data yang menunjukkan hubungan pengetahuan
triage dengan tingkat kecepatan penanganan pasien di IGD RS DKT Jember.
1. Pengetahuan Triage
Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Tentang Pengetahuan Triage (N=30)
Pengetahuan Triage Frekuensi Persentase (%)
Baik 22 73,3
Cukup 1 3,3
Kurang 7 23,3
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.9 diketahui bahwa pengetahuan tentang triage
responden adalah mayoritas baik dengan persentase 73,3 %.
2. Kecepatan Penanganan Pasien
Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Tentang Kecepatan Penanganan Pasien
(N=30)
Kecepatan Frekuensi Persentase (%)
Penanganan Pasien
Cepat 29 96,7
Lambat 1 3,3
Total 30 100,0
Berdasarkan Tabel 5.10 diketahui bahwa mayoritas kecepatan penanganan
pasien adalah cepat dengan persentase 96,7 %.
3. Hubungan Pengetahuan Triage Dengan Tingkat Kecepatan
Penanganan Pasien di IGD RS DKT Jember
Tabel 5.11 Hubungan pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan
penanganan pasien di IGD RS DKT Jember (N = 30).
Variabel Independen Variabel Dependen P Value
Pengetahuan Triage Tingkat Kecepatan 0.56
Penanganan Pasien
Berdasarkan tabel 5.11 didapatkan hasil bahwa H1 diterima yakni terdapat
korelasi atau hubungan antara pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan
penanganan pasien di IGD RS DKT Jember yang dibuktikan dengan nilai
pearson correlation yakni sebesar 0,56 .
BAB VI
PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian yang difokuskan pada tenaga keperawatan
di IGD RS DKT Jember sebagai subjek penelitian, untuk mengetahui hubungan
antara pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan penanganan pasien di IGD RS
DKT Jember.
A. Interpretasi Dan Diskusi Hasil
1. Pengetahuan Triage
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang
melakukan peninderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi melalui pasca indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa,
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo,2018).
Pengetahuan triage pada tenaga Kesehatan IGD berfokus pada
penilian cepat, kategori pasien dan alokasi pasien,(Khairina, Malini, &
Huriani, 2020). Selain menjadi ketrampilan utama, triage dapat menjadi
sebuah instrument untuk mengatur, memonitoring, dan mengevaluasi
pasien serta sumber daya ada di ED. Ketidak akuratan triage dapat
mengakibatkan hasil klinis yang buruk, lamanya waktu untuk
mendiagnosa dan waktu untuk mendapatkan perawatan, , dan bahkan
meningkatkan mortalitas dan morbilitas.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa tingkat
pengetahuan tentang triage pada tenaga kesehatan IGD RS DKT Jember
adalah dalam kategori baik dengan persentase 73,3%.
45
46
Perawat dan tenaga kesehatan yang bertugas di bagian triage dituntut
untuk memiliki kepekaan terhadap morbiditas yang diderita pasien.
Kemampuan suatu fasilitas kesehatan secara keseluruhan dalam kualitas
dan kesiapan perannya sebagaipusat rujukan penderita dari pra rumahsakit
tercermin dari kemampuaninstalasi gawat darurat (Hendianti, 2012).
Perawat sebagai garda terdepan yang menangani pasien sejak datang di
IGD harus diperhatikan serta ditingkatkan kemampuannya dalam
melakukan penilaian Triase. Faktor yang mempengaruhi kemampuan
perawat dalam triase adalah pengetahuan, tingkat pendidikan, pengalaman
bekerja, dan pelatihan (Sutriningsih, Wahyuni, & Haksama, 2020). Hal ini
senada dengan pendapat Khairina et al. (2020) yang menyatakan bahwa
kemampuan triase yang optimal dapat diterapkan dengan baik oleh
perawat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang adekuat.
Notoatmodjo (2017) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang, sebab dari hasil pengalaman dan penelitian ternyata perilaku
yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dari pada tidak didasari
oleh pengetahuan.
2. Kecepatan Penanganan Pasien
Respon time merupakan kecepatan dalam menangani pasien, di
hitung sejak pasien datang sampai dilakukan penanganan dengan ukuran
kecepatan penanganan adalah respon time selama 0 menit dan waktu
47
definitive ≤ 2 jam, yang dilakukan oleh perawat akan menentukan
keselamatan pasien. Semakin baik kualitas penanganan yang diberikan
maka semakin rendah tingkat mortalitas pasien. Respon time menjadi
salah satu indikator penting dalam tingkat keberhasilan penanganan.
(Phukubye, Mbombi, & Mothiba, 2021).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa
mayoritas tingkat kecepatan penanganan pasien oleh tenaga kesehatan di
IGD RS DKT Jember berada dalam kategori cepat dengan persentase
96,7%.
Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa keberhasilan waktu tanggap
atau response time sangat tergantung pada kecepatan yang tersedia serta
kualitas pemberian pertolongan untuk menyelamatkan nyawa atau
mencegah cacat sejak di tempat kejadian, dalam perjalanan hingga
pertolongan rumah sakit. Menurut (Kerie., 2018).
Salah satu indikator keberhasilan penanganan medis pasien gawat
darurat adalah kecepatan memberikan pertolongan yang memadai kepada
penderita gawat darurat baik pada keadaan rutin sehari-hari atau sewaktu
bencana. Keberhasilan waktu tanggap sangat tergantung pada kecepatan
yang tersedia serta kualitas pemberian pertolongan untuk menyelamatkan
nyawa atau mencegah cacat sejak di tempat kejadian, dalam perjalanan
hingga pertolongan di rumah sakit. (Duko., 2019).
48
3. Hubungan Pengetahuan Triage Dengan Tingkat Kecepatan
Penanganan Pasien di IGD RS DKT Jember
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa H1 diterima
yakni terdapat korelasi atau hubungan antara pengetahuan triage dengan
tingkat kecepatan penanganan pasien di IGD RS DKT Jember yang
dibuktikan dengan nilai pearson correlation yakni sebesar 0,56.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa H1 diterima
yakni terdapat hubungan pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan
penanganan pasien di IGD RS DKT Jember, yang dibuktikan dengan hasil
pengumpulan data responden yang memiliki pengetahuan tentang triage
yang baik serta mampu dengan cepat menangani pasien gawat darurat.
Pengetahuan yang adekuat sangat berperan sangat penting terhadap
kecepatan penanganan pasien secara optimal.
Hasil penelitian juga didukung oleh penelitian Charles dkk (2022)
tentang hubungan tingkat pengetahuan triage perawat dengan response
time di instalasi gawat darurat RSUD Selasih Kabupaten Pelalawan yang
mana didapatkan hasil ada hubungan antara tingkat pengetahuan triage
perawat dengan response time penanganan pasien IGD .
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu. Pengetahuan pada
dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yyang memungkinkan
seseorang untuk dapat memecahkan sebuah permasalahan yang
dihadapinya.(Notoatmojo,2019)
49
Pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai
hal pengenalan atas sesuatu pola. Sebagai contoh, pengetahuan seorang
ibu tentang pentingnya menjaga kesehatan mata anak diperoleh dari suatu
pola kemampuan prediktif dari pengalaman dan informasi yang terima.
Pengetahuan bukanlah fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari,
melainkan sebagai kontruksi kognitif seseorang terhadap obyek,
pengalaman maupun lingkungannya. Pengetahuan adlah sebagai suatu
pembentukan yang terus menerus oleh seseoeang yang setiap saat
mengalami reorganisasi karen adanya pemahaman-pemahaman baru
(Budiman dan Riyanto, 2018).
B. Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan pengalaman langsung peneliti dalam proses penelitian,
terdapat beberapa keterbatasan dan mungkin beberapa faktor yang harus lebih
diperhatikan oleh peneliti selanjutnya untuk lebih menyempurnakan
penelitiannya. Adapun keterbatasan pada penelitian ini adalah peneliti hanya
menilai secara subjektif melalui media kuisioner yang mana hal ini
kemungkinan mempengaruhi kredibilitas hasil [Link] ini
tentunya memiliki kekurangan yang memerlukan perbaikan penelitian secara
terus menerus oleh peneliti selanjutnya.
C. Implikasi Terhadap Pelayanan Keperawatan
Beberapa implikasi untuk perbaikan yang dapat dilakukan, khususnya di
bidang perawatan, diantaranya:
1. Pelayanan Keperawatan
Hasil dari penelitian ini berimplikasi pada upaya peningkatan
pelayanan kesehatan oleh petugas kesehatan utamanya keperawatan dalam
hal meningkatkan dan memotivasi seluruh tenaga kesehatan agar dapat
meningkatkan pengetahuannya mengenai triage supaya sistem pelayanan
50
Kesehatan yang diberikan terus meningkat dan optimal .
2. Pendidikan Keperawatan
Hasil dari penelitin ini dapat dijadikan sebagai bahan diskusi dari
pengetahuan betapa pentingya tingkat pengetahuan tentang triage terhadap
kecepatan penanganan pasien khusunya yang berada di instalasi gawat
darurat ( IGD).
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1. Pengetahuan triage tenaga kesehatan di IGD RS DKT Jember berada pada
kategori baik.
2. Kecepatan penanganan pasien di IGD RS DKT Jember berada pada
kategori cepat.
3. Terdapat hubungan antara pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan
penanganan pasien di IGD RS DKT Jember.
B. Saran
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini hendaknya menjadi acuan atau acuan bagi
peneliti selanjutnya dalam melakukan penelitian mengenai hubungan
pengetahuan triage dengan tingkat kecepatan penanganan pasien
khusunya di ranah IGD.
2. Bagi Pasien
Hasil penelitian ini dapat referensi baru mengenai proses jalannya
triage sehingga mengetahui alur dan dasar pengambilan keputusan triage.
3. Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi
pelayanan kesehatan khususnya di bidang triage dan kaitannya mengenai
51
52
kecepatan penanganan pasien sehingga dapat menjadi referensi untuk
peningkatan kualitas SDM dan sarana prasarana fasilitaas kesehatan.
4. Bagi Masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebagai bahan edukasi
mengenai konsep dan sistem triage sehingga masyarakat tidak awam
ketika berurusan dengan IGD.
53
DAFTAR PUSTAKA
Ahsan, A., Deviantony, F., & Setyoadi, S. (2017). RETRACTED: Analysis of the
Associated Factors of Boarding Time in Yellow Zone Patients in Emergency
Department. Jurnal Ners, 12(2), 261–266.
Atmojo, J. T., Putri, A. P., Widiyanto, A., Handayani, R. T., & Darmayanti, A. T.
(2020). Australasian Triage Scale (Ats): Literature Review. Journal of
BorneoHolisticHealth,3(1),20–25.
[Link]
Atmojo, J. T., Widiyanto, A., & Yuniarti, T. (2019). RELIABILITAS SISTEM
TRIASE DALAM PELAYANAN GAWAT DARURAT: A REVIEW. Intan
Husada: Jurnal Ilmiah Keperawatan, 7(2), 23–31.
Bank, P. T., Indonesia, N., & Cabang, P. (2017). 3 1,2,3. 5(2), 1238–1249.
Banoet, S. N. (2019). Efektifitas Penggunaan ATS (Australasian Triage Scale)
Modifikasi Terhadap Response Time Perawat Di Instalasi Gawat Darurat.
Universitas Airlangga.
Bazyar, J., Farrokhi, M., Salari, A., & Khankeh, H. R. (2020). The principles of
triage in emergencies and disasters: a systematic review. Prehospital and
Disaster Medicine, 35(3), 305–313.
Cannavacciuolo, L., Ippolito, A., Ponsiglione, C., Rossi, G., & Zollo, G. (2018).
How organizational constraints affect nurses’ decision in triage assessment
performances. Measuring Business Excellence, 22(4), 362–374.
[Link]
Duko, B., Geja, E., Oltaye, Z., Belayneh, F., Kedir, A., & Gebire, M. (2019). Triage
knowledge and skills among nurses in emergency units of Specialized Hospital
in Hawassa, Ethiopia: Cross sectional study. BMC Research Notes, 12(1), 19–
22. [Link]
FitzGerald, G., Jelinek, G. A., Scott, D., & Gerdtz, M. F. (2017). Emergency
department triage revisited. Emergency Medicine Journal : EMJ, 27(2), 86–92.
[Link]
Gilboy, N., Tanabe, P., Travers, D., & Rosenau, A. M. (2020). Emergency Severity
Index: Implementation Handbook 2020 Edition (4th ed.). Illinois: Emergency
Nurses Association.
Graversen, D. S., Huibers, L., Christensen, M. B., Bro, F., Collatz Christensen, H.,
Vestergaard, C. H., & Pedersen, A. F. (2020). Communication quality in
telephone triage conducted by general practitioners, nurses or physicians: A
quasi- experimental study using the AQTT to assess audio-recorded telephone
calls to out-of-hours primary care in Denmark. BMJ Open, 10(3), 1–12.
[Link]
H Kara, O. A. M. A. (2018). Paper Knowledge .Toward a Media History of Documents,
7(2), 107–115.
54
Habib, H., Sulistio, S., Mulyana, R. M., Albar, I. A., & RSCM, I. G. D. (2019).
Triase Modern Rumah Sakit dan Aplikasinya di Indonesia. Medika.
Health Direct. (2021). Hospital emergency departments.
Hendianti, G. N. (2012). Gambaran Beban Kerja Perawat Pelaksana Unit Instalasi
Gawat Darurat Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Students E-Journal,
1(1), 31.
Hizkia. (2019). Hubungan Response Time Triage Dengan Los ( Length of Stay )
Pada Pasien Igd Di Rsu Karsa Husada Batu Skripsi Oleh : Hizkia Indriani
Program Studi Keperawatan.
Irmawartini, & Nurhaedah. (2017). Metodologi Penelitian. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Karokaro, T. M., Hayati, K., Sitepu, S. D. E. U., & Sitepu, A. L. (2020). Faktor –
Faktor Yang Berhubungan Dengan Waktu Tanggap (Response Time) Pasien
Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Grandmed. Jurnal Keperawatan Dan
Fisioterapi (Jkf), 2(2), 172–180. [Link]
Kartikawati, D. (2015). Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta:
Salemba Medika.
Kerie, S., Tilahun, A., & Mandesh, A. (2018). Triage skill and associated factors
among emergency nurses in Addis Ababa, Ethiopia 2017: a cross-sectional
study. BMC Research Notes, 11(1), 658. [Link]
3769-8
Khairina, I., Malini, H., & Huriani, E. (2020). Pengetahuan Dan Keterampilan
Perawat Dalam Pengambilan Keputusan Klinis Triase. Link, 16(1), 1–5.
Kundiman, V., Kumaat, L., & Kiling, M. (2019). Hubungan Kondisi Overcrowded
Dengan Ketepatan Pelaksanaan Triase Di Instalasi Gawat Darurat Rsu Gmim
Pancaran Kasih Manado. JURNAL KEPERAWATAN, 7(1).
Lantz, B., & Rosén, P. (2016). Measuring effective capacity in an emergency
department. Journal of Health Organization and Management, 30(1), 73–84.
[Link]
Maatilu, V., Mulyadi, N., & Malara, R. (2014). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Response Time Perawat pada Penanganan Pasien Gawat Darurat di IGD RSUP Prof. Dr.
RD Kandou Manado. Jurnal Keperawatan, 2(2).
Mackway-Jones, K., Marsden, J., & Windle, J. (2013). Emergency triage:
Manchester triage group. Massachussets: John Wiley & Sons.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 856/Menkes/SK/IX/2019 TENTANG
STANDAR INSTALASI GAWAT DARURAT ( IGD ) RUMAH SAKIT. , Pub. L.
No. 856/Menkes/SK/IX/2009 (2019).
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. PERATURAN MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2018 TENTANG KEWAJIBAN
RUMAH SAKIT DAN KEWAJIBAN PASIEN. , (2018).
Nino, V., Schiel, C., Bellows, B., & Claudio, D. (2020). Wearable devices and
55
decision theory in the emergency triage process. Proceedings of the 2020 IISE
Annual Conference, 1003–1008.
Notoatmodjo, S. (2017). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Phukubye, T. A., Mbombi, M. O., & Mothiba, T. M. (2021). Strategies to enhance
knowledge and practical skills of triage amongst nurses working in the
emergency departments of rural hospitals in South Africa. International
Journal of Environmental Research and Public Health, 18(9).
[Link]
Pira, P., Rahmawati, A., & Kholina. (2021). Jurnal Wacana Kesehatan Hubungan
Response Time Perawat Dengan Pelayanan Gawat Darurat Di The
Relationship Of Response Time To Services In The Emergency Installation
Demang Sepulau Raya Hospital Central Lampung 2021 Fakultas Kesehatan
Universitas Muhammadi. Jurnal Wacana Kesehatan, 6, 69–79.
Rahmawati, A. S., & Dewi, R. P. (2020). View metadata, citation and similar papers
at [Link]. Kriteria Inklusi Dan Eksklusi, 3(23), 274–282.
Rashidi Fakari, F., & Simbar, M. (2020). Explaining challenges of obstetric triage
structure: A qualitative study. Nursing Open, 7(4), 1074–1080.
[Link]
Sartono, H., Masudik, & Suhaeni, A. E. (2016). Basic Trauma Cardiac Life Support.
Bekasi: Gadar Medik Indonesia.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sutriningsih, A., Wahyuni, C. U., & Haksama, S. (2020). Factors affecting
emergency nurses’ perceptions of the triage systems. Journal of Public Health
Research, 9(2).
Wilde, E. T. (2013). Do emergency medical system response times matter for health
outcomes? Health Economics, 22(7), 790–806.
56
LAMPIRAN
57
Lampiran : 1 informed consent
INFORMED CONSENT
Kepada Yth.
Calon Responden
Penelitian
Assalamualaikum Wr.
Wb. Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu
Kesehatan Program studi S1-Keperawatan Universitas Muhammadiyah
Jember.
Nama : sofiyatun
NIM : 1811011064
Bermaksud akan melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan
Pengetahuan Triage Dengan Tingkat Kecepatan Penanganan Pasien di IGD
RS DKT Jember”
Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu saya informasikan terkait dengan
keikut sertaan sebagai responden dalam penelitian ini :
1. Penelitian ini melibatkan tenaga kesehatan langsung sebagai
responden penelitian. Dalam penelitian ini tidak ada unsur paksaan,
melainkan atas dasar suka rela. Oleh karena itu, anda berhak
memutuskan akan melanjutkan ataupun menghentikan keikut sertaan
dengan alas an tertentu kepada peneliti.
2. Penelitian ini tidak akan menimbulkan dampak yang merugikan bagi
tenaga kesehatan sebagai responden.
3. Segala informasi yang diperoleh selama penelitian akan dijaga
kerahasiaannya dan menjadi tanggung jawab peneliti.
Atas perhatian dan kesedian tenaga kesehatan menjadi responden, saya
ucapkan terimaksih.
Jember, ................ 2023
Peneliti
SOFIYATUN
58
Lampiran : 2 informend responden
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN
Identitas Responden
Nama ( Inisial ) :
Jenis Kelamin : laki-laki / perempuan
Usia : Tahun
Setelah saya membaca dan mendengar serta memahami tujuan dari
penelitian berjudul “ Hubungan Pengetahuan Triage Dengan Tingkat
Kecepatan Penanganan Pasien di IGD RS DKT Jember” maka dengan
sukarela dan tanpa paksaan bersedia menjawab setiap pertanyaan yang
diajukan peneliti dan bersedia diberikan perlakuan sesuai dengan tujuan
penelitian. Bila pertanyaan yang diajukan maupun perlakuan menimbulkan
ketidaknyamanan bagi saya, maka saya berhak mengundurkan diri sebagai
responden.
Jember. ............... 2023
Responden
59
Lampiran : 3 kuisioner
IdentitasResponden
Nama :
Jenis Kelamin : □Laki-Laki □ Perempuan
Status Pernikahan : □Menikah □ Belum Menikah
□Janda □Duda
Agama : □ Islam □ Kristen
□ Hindu □ Buddha
□Katolik □Lainnya
Latar Belakang : □ D3 □ S1
Pendidikan
□Ners □Lainnya(......................... )
Status Kepegawaian : □Magang □Kontrak
□Tetap
Lama Kerja di IGD : □ 0-5 tahun □ 5-10 tahun
□ 10-15 tahun □>15 tahun
Pendidikan/Pelatihan : □ Belum pernah □ BTCLS
mengenai
keperawatan IGD □ BLS □ PPGD
□ BCLS □Lainnya (..........................)
60
Triage Knowledge Questionnaire (TKQ)
Petunjuk Pengisian :
Kuesioner ini terdiri dari berbagai pernyataan yang mungkin sesuai dengan
pengalaman saudara dalam menghadapi situasi hidup sehari-hari. Terdapat dua
pilihan jawaban yang disediakan untuk setiap pernyataan yaitu:
Benar 1
Salah 0
Selanjutnya, saudara diminta untuk menjawab dengan cara memberi tanda
silang (X) pada salah satu kolom yang paling sesuai dengan pengalaman.
No Pengetahuan Triase Pengetahuan Triase
yang Dirasakan
Benar Salah
1 Mendengarkan suara keluar masuknya udara
dari hidung ( menilai pernafasan)
2 Merasakan adanya udara dari mulut dan
hidung dengan pipi atau punggung tangan
3 Berikan terapi oksigen pada pasien ATS 3
4 Lakukan ventilasi manual pada pasien ATS 2
5 Melakukan bag - valve - mask ventilations
pada pasien gawat darurat
6 Melindungi tulang belakang leher pasien di
takutkan adanya fraktur servikal
7 Memeriksa denyut nadi dan ritme sesuai
penilaian sirkulasi (C)
8 Evaluasi isi ulang kapiler pada bayi baru lahir
9 Mengkaji TTV pasien
10 Mengkaji pasien dengan diaforesis pada
pasien suhu normal
11 Melakukan kompresi dada pada kondisi
pasien tidak gawat darurat
12 Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
obat darurat
13 Mengkaji perdarahan internal dan eksternal
61
No Pengetahuan Triase Pengetahuan Triase
yang Dirasakan
Benar Salah
pada pasien kecelakaan atau cidera
14 Melakukan kontrol kehilangan darah dengan
tepat meliputi mengurangi rasa nyeri, rasa
tidak nyaman, dan rasa cemas. Untuk
menghentikan perdarahan pasien
15 Kolaborasikan resusitasi untuk memberikan
cairan intravena yang sesuai
16 Kategorisasi pasien tidak berdasarkan
kategori triase
17 Identifikasi pasien yang membutuhkan
perawatan segera, mendesak, dan tidak
mendesak sesuai dengan kategorisasi triase
18 Menghindari kondisi pasien dengan over-
triage dan under-triage
19 Intervensi tenaga kesehatan sesuai dengan
kategorisiasi prosedur triage
20 Membuat keputusan untuk menempatkan
pasien dengan warna merah (Resusitasi di
IGD) di ATS 2
21 Membuat keputusan untuk menempatkan
pasien dengan ATS 2 (Perawatan kritis di
IGD) di lebel warna kuning
22 Membuat keputusan untuk menempatkan
pasien dengan ATS 3 di tempat yang tepat
(Ambulatory in ED) dengan benar
23 menempatkan pasien dengan keselamatan
intervensi keperawatan di IGD
24 menempatkan pasien dengan berkolaborasi
dengan perawat darurat & dokter medis
lainnya dengan serah terima secara efektif
25 Menempatkan pasien untuk mendapatkan
perawatan lanjutan di IGD secara akurat dan
tepat waktu sesuai prosedur triage
62
OBSERVASI PENELITIAN
Kecepatan Penanganan Pasien Di Instalasi Gawat Darurat RS DKT Jember
A. Lembar Observasi
WAKTU TANGGAP
KATAGORI PASIEN KECEPATAN PENANGANAN SKOR
NO ATS 1 ATS 2 ATS 3 ATS 4 ATS 5
Kode Kode
TANGGAL ATS ATS ATS ATS ATS Lambat Cepat
Nakes Pasien
1 2 3 4 5 Cepat Lambat Cepat Lambat Cepat Lambat Cepat Lambat Cepat Lambat (1) (2)
(≤0Menit) (>0menit) (≤10Menit) (>10menit) (≤30Menit) (>30menit) (≤60Menit) (>60menit) (≤120Menit) (>120menit)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
63
Lampiran : 4 stupen
64
Lampiran : 5 surat bankesbangpol
65
Lampiran : 6 surat pengesahan
judul
66
67
68
Lampiran : 7 surat permohonan ujian
69
Lampiran : 8 lembar konsul