0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan8 halaman

Yurisprudensi Hukum Perdata Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang yurisprudensi sebagai keputusan hakim terdahulu yang menjadi pedoman bagi hakim lainnya. Terdapat beberapa jenis yurisprudensi seperti yurisprudensi tetap, tidak tetap, semi yuridis, dan administratif. Kemudian diberikan dua contoh kasus yurisprudensi mengenai hak milik tanah dan waris adat."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan8 halaman

Yurisprudensi Hukum Perdata Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang yurisprudensi sebagai keputusan hakim terdahulu yang menjadi pedoman bagi hakim lainnya. Terdapat beberapa jenis yurisprudensi seperti yurisprudensi tetap, tidak tetap, semi yuridis, dan administratif. Kemudian diberikan dua contoh kasus yurisprudensi mengenai hak milik tanah dan waris adat."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KAPITA SELEKTA HUKUM PERDATA

Kelompok 2
Datmiko
Edwar Sogalrey
Suherman
Nanda Klaudia
Atika Cahyawati

“YURISPRUDENSI”
Pengertian Yurisprudensi adalah keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi
suatu perkara yang tidak diatur di dalam UU dan dijadikan sebagai pedoman bagi para hakim
yang lain untuk menyelesaian suatu perkara yang sama.
Yurisprudensi diciptakan berdasarkan UU No. 48 Tahun 2009 Mengenai Kekuasaan
Kehakiman, UU ini menyatakan : pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa perkara,
mengadili perkara dan memutuskan perkara yang diajukan dengan alasan hukum tidak ada atau
kurang jelas (kabur), melainkan wajib memeriksa serta mengadilinya. Hakim diwajibkan untuk
menggali, mengikuti dan memahami keadilan dan nilai-nilai hukum yang tumbuh dan
berkembang di dalam masyarakat.
Terdapat beberapa macam yurisprudensi, macam macam yurisprudensi tersebut sebagai
berikut.
1. Yurisprudensi Tetap
Pengertian Yurisprudensi Tetap adalah suatu putusan dari hakim yang terjadi oleh karena
rangkaian putusan yang sama dan dijadikan sebagai dasar bagi pengadilan untuk memutuskan
suatu perkara.
2. Yurisprudensi Tidak Tetap
Pengertian Yurisprudensi Tidak Tetap ialah suatu putusan dari hakim terdahulu yang tidak
dijadikan sebagai dasar bagi pengadilan.
3. Yurisprudensi Semi Yuridis
Pengertian Yurisprudensi Semi Yuridis yaitu semua penetapan pengadilan yang didasarkan
pada permohonan seseorang yang berlaku khusus hanya pada pemohon. Contohnya :
Penetapan status anak.
4. Yurisprudensi Administratif
Pengertian Administratif adalah SEMA (Surat Edaran Mahkamah Agung) yang berlaku hanya
secara administratif dan mengikat intern di dalam lingkup pengadilan.

Contoh Kasus:
1. Putusan Yurisprudensi: 5/Yur/Pdt/2018 tentang Hak Milik Atas Tanah
Kaidah Hukum Jika terdapat sertifikat ganda atas tanahyang sama, dimana
keduanya sama-sama otentik maka bukti hak yang paling kuat
adalahsertifikat hak yang terbit lebih dahulu.

Pengantar Sertifikat adalah surat tanda bukti hakatas tanah, hak


pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun
danhak tanggungan yang masing-masing sudah dibukukan
dalam buku tanah yangbersangkutan (Pasal 1 angka 20
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
tentangPendaftaran Tanah). Idealnya, satu bidang tanah hanya
terdaftar dalam satusertifikat. Namun, pada kenyataanya,
sering ditemukan sengketa hak milik atastanah yang timbul
karena sertifikat ganda. Terhadap tanah yang sama,
terdapatlebih dari sertifikat tetapi beda pemilik. Adanya
sertifikat ganda tentumelahirkan konflik dan saling klaim
kepemilikan atas tanah yang tercatat dalamsertifikat.
Pertanyaannya adalah, apabila terjadisengketa atas tanah
karena adanya sertifikat yang lebih dari satu atas tanahyang
sama, sertifikat mana yang akan diakui legalitasnya?

Pendapat Mahkamah Berkaitan dengan sertifikat gandatersebut, Mahkamah Agung


Agung (MA) berpendapat bahwa bila terdapat dua atau lebihsertifikat
atas tanah yang sama, maka sertifikat yang sah dan
berkekuatan hukumadalah sertifikat yang diterbitkan lebih
awal. Pendapat MA tersebut tertuangdalam putusan No. 976
K/Pdt/2015 (Liem Teddy vs Kodam III/Siliwangi
TNIAngkatan Darat) tanggal 27 November 2015. Dalam
putusan itu, Mahkamah Agungberpendapat:
...bahwa dalam menilai keabsahan salahsatu dari 2 (dua)
bukti hak yang bersifat outentik maka berlaku kaedah
bahwasertifikat hak yang terbit lebih awal adalah yang sah
dan berkekuatan hukum...
Pendapat tersebut ditegaskan lagi dalamputusan No. 290
K/Pdt/2016 (Lisnawati vs Ivo La Bara, dkk.) tanggal 17
Mei2016, dan putusan No. 143 PK/Pdt/2016(Nyonya
Rochadini, dkk. Vs Pintardjo Soeltan Sepoetro dan Nyonya
JandaMumahhaimawati) tanggal 19 Mei 2016. Dalam putusan
tersebut MA menyatakanbahwa:
Bahwa jika timbul sertifikat hak gandamaka bukti hak yang
paling kuat adalah sertifikat hak yang terbit lebihdahulu
Pada tahun 2017, MA tetap konsisten denganpendapat
tersebut di atas. Hal ini terlihat dalam putusan MA No. 170
K/Pdt/2017(Hamzah vs Harjanto Jasin, dkk.) tanggal 10 April
2017; Putusan No. 734PK/Pdt/2017 (Menteri Keuangan
Republik Indonesia dan Kodam III/Siliwangi TNIAngkatan
Darat) tanggal 19 Desember 2017; dan Putusan No. 1318
K/Pdt/2017 (DrsAnak Agung Ngurah Jaya vs Anak Agung
Putri dan A.A. Ngurah Made Narottama)tanggal 26
September 2017.
Pertimbangan hukum putusan No. 734PK/Pdt/2017
menyatakan:
Bahwa jika ditemukan adanya 2 aktaotentik maka berlaku
kaedah sertifikat yang terbit lebih dahulu adalah sah
danberkekuatan hukum Sertifikat Hak Guna Bangunan
(SHGB) Nomor 1458 yang kemudiandiperpanjang dengan
Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) Nomor
46/KelurahanBabakan Ciamis atas nama Turut Tergugat I (PT
Propelat) yang kemudian oleh PTPropelat dijual kepada
Termohon Peninjauan Kembali tanggal 11 Februari
1993,lebih dulu dapat Sertifikat Hak Pakai Nomor 18 yang
terbit tanggal 11 November1998.
Selain itu gugatan atas adanya sertifikatganda tersebut juga
harus menjadikan Kantor Pertanahan setempat sebagai
pihaktergugat atau turut tergugat. Tidak ditariknya pihak
Kantor Pertanahan sebagaipihak mengakibatkan gugatan
harus dinyatakan tidak dapat diterima, oleh karenaapabila
gugatan dikabulkan dapat berakibat putusan tidak dapat
[Link] ini ditegaskan dalam putusan MA No. 3029
K/Pdt/2016 tanggal 26 Januari 2017yang menguatkan putusan
Pengadilan Negeri Sekayu No. 14/Pdt.G/2015/[Link] tanggal
29Desember 2015.

Yurisprudensi Sikap hukum MahkamahAgung, bahwa apabila


terdapatsertifikat ganda atas bidang tanah yang sama, maka
bukti hak yang paling kuatadalah sertifikat hak yang terbit
lebih dahulu, telah menjadi yurisprudensitetap. Hal ini
dikarenakan Mahkamah Agung telah secara konsisten
menerapkansikap hukum tersebut di seluruh putusan dengan
permasalahan hukum serupa sejak tahun 2015.

2. Putusan Yurisprudensi: 3/Yur/Pdt/2018 tentang Waris Adat


Kaidah Hukum Atasdasar persamaan hak antara laki-laki dan perempuan,
perempuan mempunyai hakatas warisan orang tuanya atau
suaminya sehingga mempunyai kedudukan hukum (legal
standing) untuk mengajukan gugatanuntuk memperoleh
warisan dan mendapatkan warisan dengan bagian (porsi)
yangsama dengan laki-laki.

Pengantar Hukum Adat (Customary Law) di sebagian besar suku bangsa


di Indonesia menganutpaham patriarki dengan mengutamakan
laki-laki dan anak laki-laki sebagaipemimpin keluarga yang
mempunyai peran publik dan akan meneruskan
keturunanserta kepemimpinan keluarga sehingga hanya laki-
laki dan anak laki-laki yangdapat memperoleh warisan,
sementara perempuan dan anak perempuan dipandanghanya
dapat berperan di ranah domestik (rumah tangga), karenanya
tidakmemperoleh warisan atau memperoleh warisan dengan
porsi setengah dari laki-lakiatau bagian yang lebih kecil lagi.

Pendapat Mahkamah Melalui Putusan Nomor 179 K/SIP/1961 tanggal23 Oktober


Agung 1961 dalam perkara Langtewas dkk melawan Benih Ginting
terkaitdengan sengketa kewarisan dalam adat Karo yang
sangat kuat menganut pahampatrilineal (garis keturunan
Ayah), Mahkamah Agung menyatakan bahwa:
Mahkamah Agung atas rasa peri kemanusiaan dankeadilan
umum serta atas hakikat persamaan hak antara wanita dan
priamenganggap sebagai hukum yang hidup di seluruh
Indonesia, jadi juga di TanahKaro bahwa seorang anak
perempuan harus dianggap sebagai ahli waris dan
berhakmenerima bagian dari harta warisan orang tuanya.
Pertimbangan hukum yang senada dijumpai puladalam
putusan Mahkamah Agung dalam perkara sengketa kewarisan
dalam hukum adatBatak Mandailing yang juga menganut
paham patrilinialisme. Mahkamah Agungmelalui Putusan
Nomor 415 K/SIP/1970 tanggal 16 Juni 1971 dalam perkara
Usmandkk melawan Marah Iman Nasution dkk menyatakan
bahwa:
Hukum Adat di daerah Tapanuli kini telahberkembang ke
arah pemberian hak yang sama kepada anak perempuan
danlaki-laki;
Dalam perkara lain menyangkut kewarisan yangberlaku pada
hukum adat yang secara tegas juga menganut paham
patrilineal,yaitu Bali, dalam Putusan Nomor 4766 K/Pdt/1998
tanggal 16 November 1999,Mahkamah Agung kembali
menggariskan kaidah hukum bahwa:
Perempuan di Bali berhak atas hartapeninggalan dari
pewaris walaupun sistem pewarisan di Bali sendiri
menganutsystem pewarisan mayorat laki-laki.
Putusan Mahkamah Agung terkait hak yang samaantara laki-
laki dan perempuan di atas kemudian secara konsisten
diterapkandalam berbagai putusan Mahkamah Agung
berikutnya yaitu putusan Nomor 1048K/Pdt/2012 tanggal 26
September 2012. Perkara ini terkait pembagian waris
adatRote Ndao Nusa Tenggara Timur. Putusan ini kemudian
dimasukan ke dalam salahsatu putusan penting (landmark
decision) Mahkamah Agung di Laporan TahunanTahun 2012.
Dalam pertimbangannya Mahkamah Agung menyatakan:
Bahwa alasan-alasan kasasi tersebut di atas, dapat
dibenarkan, Judex Facti/Pengadilan Tinggi Kupang yang
membatalkan putusan Pengadilan Negeri Rote Ndaosalah
dalam menerapkan hukum karena pertimbangan Pengadilan
Tinggi Kupangtersebut bertentangan dengan hukum yang
berlaku, yaitu Pasal 17 Undang-UndangNo. 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan Yurisprudensi
MahkamahAgung RI No. 179 K/Sip/1961 tanggal 11
November 1961 yang menyatakan bahwa hakwaris
perempuan disamakan dengan laki- laki. Artinya, hukum adat
yang tidaksesuai dengan perkembangan hukum dalam
masyarakat, seperti hukum adat yangtidak mengakui hak
perempuan setara dengan kedudukan laki-laki, tidak dapat
lagidipertahankan;
Penyetaraan hak waris perempuan kembalidiputuskan
Mahkamah Agung pada tahun 147 K/Pdt/2017 tanggal 18
April [Link] perkara ini Mahkamah Agung memutus
perkara waris terkait adat [Link] pertimbangannya
Mahkamah Agung menyatakan:
Bahwa dalam rangka kesetaraan gender ,hak wanita dan pria
adalah sama dalam hukum, maka adil dan patut harta benda
sipeninggal waris harus dibagi sama oleh ahli waris tanpa
membedakan pria danwanita terlebih lagi hukum adat
Tionghoa yang tidak tertulis dan harusmenyesuaikan dengan
perkembangan zaman;
Bahwa adalah tidak adil memposisikananak laki-laki tertua
sebagai satu-satunya penerima warisan orang
tuanyaterhadap harta benda tetap, sementara anak
perempuan hanya mendapat perhiasan;
Sikap serupa kembali diputus Mahkamah Agungpada tanggal
19 Juni 2017 yaitu dalam putusan No. 573 K/Pdt/2017
terkaitpembagian waris dalam adat Batak dan putusan
No.1130 K/Pdt/2017 tanggal 10 Juli2017 terkait pembagian
waris dalam adat Manggarai Nusa Tenggara Timur.
Pandangan hukum yang berpihak pada kesetaraandan
keadilan gender sebagaimana termuat di dalam berbagai
putusan di ataskemudian diperkuat oleh Mahkamah Agung
melalui fungsi pengaturan atau legislasidengan
diberlakukannya Peraturan Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun
2017 tentangPedoman Mengadili Perkara Perempuan
Berhadapan Dengan Hukum pada tanggal 4Agustus 2017.

Yurisprudensi Dengan telah konsistennya sikap Mahkamah Agungsejak


tahun 1961 terkait hak yang sama antara laki-laki dan
perempuan dalamkewarisan, maka sikap hukum ini telah
menjadi yurisprudensi di Mahkamah Agung.

3. Putusan Yurisprudensi: 1/Yur/Ag/2018 tentang Wasiat Wajibah


Kaidah Hukum Wasiat Wajibah dapat diberikantidak hanya kepada anak
angkat sebagaimana diatur dalam Pasal 209 KHI namunjuga
dapat diberikan kepadaahli waris yang tidak beragama islam.

Pengantar Dalam hukum Islam diatur bahwa ahli waris adalah orang
yang pada saat meninggaldunia mempunyai hubungan darah
atau hubungan perkawinan dengan pewaris,beragama Islam
dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.
Halini mengandung arti bahwa suami/istri, orang tua, anak
yang tidak beragamaIslam tidak dapat menjadi ahli waris dari
pewaris yang beragama Islam. Selainitu, anak tiri juga tidak
termasuk sebagai ahli waris.
Kedudukan pihak-pihak tersebut walaupun bukan sebagai ahli
waris namuntidak menghalangi untuk mendapatkan wasiat
apabila pewaris sebelum meninggaldunia meninggalkan
wasiat.
Perihal wasiat ini dalam Kompilasi Hukum Islam khususnya
pasal 209 diaturbahwa terhadap orang tua angkat dan anak
angkat yang pada dasarnya juga bukanmerupakan ahli waris
dapat diberikan wasiat wajibah apabila tidak
mendapatkanwasiat dari pewaris dengan ketentuan porsinya
tidak melebihi 1/3 dari hartawaris. KHI tidak mengatur lebih
lanjut apakah selain kedua pihak tersebut dapatdiberikan
wasiat wajibah atau tidak.
Dalam praktek tak jarang ditemukanperkara di mana istri atau
anak dari pihak yang meninggal tidak beragama Islam
danpewaris tidak meninggalkan wasiat kepadanya,pihak-
pihaktersebut mengajukan tuntutan kepada Pengadilan Agama
untuk tetap dapatmendapatkan bagian dari harta pewaris. Tak
jarang juga pihak-pihak tersebutsebagai pihak digugat oleh
para ahli waris karena secara riil telah menguasaiharta waris,
tuntutan yang mana dapat berakibat istri/anak yang tidak
beragamaIslam tersebut akan kehilangan harta tersebut
sementara harta tersebut adalah satu-satunyapenopang
hidupnya.

Pendapat Mahkamah Wasiat Wajibah Terhadap Anakdan Istri yang Tidak Beragama
Agung Islam
Terhadappermasalahan anak atau istri yang tidak beragama
Islam dari pewaris yang tidakmeninggalkan wasiat ini
Mahkamah Agung pada tahun 1998 melalui putusannya
No.368 K/Ag/1999 pernah memutus bahwa anak yang pindah
agama kedudukannya samadengan anak lainnya namun tidak
sebagai ahli waris melainkan mendapatkan wasiatwajibah.
Putusan ini telah memperluas pemberian wasiat wajibah dari
yangsebelumnya oleh KHI diaturhanya untuk anak angkat dan
orang tua angkat.
Putusanpemberian wasiat wajibah kepada anak yang tidak
beragama Islam tersebutkemudian diputuskan kembali oleh
Mahkamah Agung setahun kemudian yaitu tahun1999 melalui
putusan No. 51 K/Ag/1999 tanggal 29 September 1999.
Ahliwaris yang bukan beragama Islam tetap dapat mewaris
dari harta peninggalanPewaris yang beragama Islam,
pewarisan dilakukan menggunakan Lembaga WasiatWajibah,
dimana bagian anak yang bukan beragama Islam mendapat
bagian yang samadengan bagian anak yang beragama Islam
sebagai ahli waris;
Selain terhadap anak pada tahun 2010 yaitu dalamputusan
No. 16 K/Ag/2010tanggal 16 April 2010 Mahkamah Agung
juga telah memutus bahwa istri yangberbeda agama (non
muslim) yang telah menikah dan menemani pewaris selama
18tahun pernikahan juga berhak mendapatkan harta waris
melalui lembaga wasiatwajibah. Dalam putusan tersebut
dipertimbangkan sebagai berikut:

Bahwa perkawinan pewaris dengan Pemohon Kasasi


sudahcukup lama yaitu 18 tahun, berarti cukup lama pula
Pemohon Kasasi mengabdikandiri pada pewaris, karena itu
walaupun Pemohon Kasasi non muslim layak dan adiluntuk
memperoleh hak-haknya selaku isteri untuk mendapat bagian
dari hartapeninggalan berupa wasiat wajibah serta bagian
harta bersama sebagaimanayurisprudensi Mahkamah Agung
dan sesuai rasa keadilan;
Menimbang, bahwa oleh karena itu putusan
PengadilanTinggi Agama Makassar harus dibatalkan dan
Mahkamah Agung akan mengadilisendiri dengan
pertimbangan sebagai berikut :
Bahwa persoalan kedudukan ahli waris non muslim
sudahbanyak dikaji oleh kalangan ulama diantaranya ulama
Yusuf Al Qardhawi,menafsirkan bahwa orang-orang non
Islam yang hidup berdampingan dengan damaitidak dapat
dikategorikan kafir harbi, demikian halnya Pemohon Kasasi
bersamapewaris semasa hidup bergaul secara rukun damai
meskipun berbeda keyakinan,karena itu patut dan layak
Pemohon Kasasi memperoleh bagian dari harta
peninggalanpewaris berupa wasiat wajibah;
Putusan serupa juga diikuti pada tahun2015 melalui putusan
Nomor 721 K/Ag/ 2015 tanggal 19 November 2015.
Dalampertimbangannya Mahkamah Agung menyatakan
sebagai berikut:
Bahwa Pewaris pada saat meninggal dunia beragama
Islamdan hanya meninggalkan satu orang ahli waris yang
memeluk agama Islam, yaituPenggugat (Sumarni binti
Sirat/istri), sedang anak-anak Pewaris (Para
Tergugat)beragama non Islam sehingga menjadi terhalang
sebagai ahli waris. Akan tetapikepada dua orang anak
Pewaris yang beragama non Islam
tersebutmendapat/diberikan bagian dengan jalan wasiat
wajibah;
Bahwa persoalan kedudukan ahli waris non muslim
sudahbanyak dikaji oleh kalangan ulama diantaranya ulama
Yusuf Al Qardhawi,menafsirkan bahwa orang-orang non
Islam yang hidup berdampingan dengan damaitidak dapat
dikategorikan kafir harbi, demikian halnya anak-anak
Pemohon Kasasibersama pewaris semasa hidup bergaul
secara rukun damai meskipun berbedakeyakinan, karena itu
patut dan layak anak-anak Pemohon Kasasi
memperolehbagian dari harta peninggalan pewaris berupa
wasiat wajibah;
Bahwa perkawinanPenggugat dengan almarhum Vincencius
Papilaya bin Yos Papilaya sudahcukup lama yaitu 17 tahun,
karena itu walaupun almarhum Vincencius Papilaya binYos
Papilaya ketika menikah statusnya non muslim, tetapi
amarhum layak dan adiluntuk memperoleh hak-haknya selaku
suami mendapatkan setengah bagian dari harta bersama
selama perkawinantersebut sebagaimana yurisprudensi
Mahkamah Agung dan sesuai rasa keadilan;
Pemberian wasiat wajibah kepada ahli waris non muslim
inikemudian diikuti oleh Pengadilan Agama Yogyakarta pada
tahun 22 Desember 2014di putusannya No.
0042/Pdt.G/2014/[Link] yang kemudian diperkuat oleh
PengadilanTinggi Agama Agama Yogyakarta dan juga
Mahkamah Agung ditingkat kasasi padatahun 2016 melalui
putusan No. 218 K/Ag/2016.

Yurisprudensi Pemberian wasiat wajibah kepada selain anak angkat


danorang tua angkat telah diterapkan oleh Mahkamah Agung
secara konsisten sejaktahun 1998 hingga setidaknya tahun
2016, yaitu kepada anak dan istri yang tidakberagama
[Link] telah konsistennya sikap hukum Mahkamah
Agung tersebut maka telahmenjadi yurisprudensi di
Mahkamah Agung.

Anda mungkin juga menyukai