0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan8 halaman

Tafsir dan Ta’wil Al-Quran: Analisis Abu Zayd

Buku yang direview membahas tentang tafsir dan ta'wil dalam tekstualitas Al-Quran. Tafsir didefinisikan sebagai upaya mengungkap makna teks, sedangkan ta'wil adalah kembali ke asal usul teks untuk mengungkap makna dan signifikansinya. Di zaman modern, perbedaan tafsir dan ta'wil oleh wacana agama kontemporer sudah tepat, namun perlu diimbangi dengan tidak mengorbankan salah satunya.

Diunggah oleh

Yusril I M
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan8 halaman

Tafsir dan Ta’wil Al-Quran: Analisis Abu Zayd

Buku yang direview membahas tentang tafsir dan ta'wil dalam tekstualitas Al-Quran. Tafsir didefinisikan sebagai upaya mengungkap makna teks, sedangkan ta'wil adalah kembali ke asal usul teks untuk mengungkap makna dan signifikansinya. Di zaman modern, perbedaan tafsir dan ta'wil oleh wacana agama kontemporer sudah tepat, namun perlu diimbangi dengan tidak mengorbankan salah satunya.

Diunggah oleh

Yusril I M
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tafsir dan Ta’wil dalam Tekstualitas Al-Quran

(Mengkaji Karya Nasr Hamid Abu Zayd dengan judul “Mafhumun Nash”)

A’idatul Islahiyyah (220201220002)


Program Magister al-Akhwal al-Syakhsiyah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Abstrak

Tafsir secara makna bahasa adalah upaya menyingkapkan maksud yang


tersembunyi lewat kata, serta mengurai sesuatu yang tertahan untuk dipahami melalui
kata. Sedangkan ta’wil secara makna bahasa adalah kembali pada asal-usul sesuatu,
apakah itu berbentuk perbuatan ataukah cerita. Kembali ke asal-usul dimaksudkan
untuk mengungkapkan makna dan signifikansinya. Tafsir secara makna istilah adalah
ilmu yang mengkaji tentang turunnya ayat, surat dan cerita-cerita yang berkenaan
dengan ayat, isyarat yang ada di dalamnya, kronologi makkiyah dan madaniyyah,
muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh, khashsh dan ‘amm, muthlaq dan
muqayyad, mujmal dan mufassar. Selain itu ada yang menambahkan: ilmu tentang
halal dan haram, janji dan ancaman, perintah dan larangan, pelajaran (hikmah) dan
perumpamaan. Dalam hal ini ra’yu tidak diperkenankan ikut campur.

Dalam review buku ada beberapa tahapan dalam mengumpulkan data, di


antaranya yaitu: menulis identitas buku, baca daftar isi dan sinopsis, baca isi buku,
ungkapkan segala yang disukai dari buku, sampaikan gaya bahasa yang digunakan
penulis dari buku, berikan penilaian dan kesimpulan.

Kajian tentang tafsir dan ta’wil dalam beberapa kajian yang diterbitkan melalui
google scholar lebih dari 200 kajian. Beberapa tema yang banyak mendapatkan perhatian
dalam berbagai terbitan jurnal sekitar 160 pembahasan.
Seiring berjalannya zaman, hingga saat ini masih banyak terjadi kekeliruan terkait
dengan penggunaan tafsir dan ta’wil berdasarkan fungsinya. Yang terjadi dengan
mengedepankan tafsir dan mengorbankan ta’wil pada dasarnya sangat bertendensi pada
ideologis yang didasarkan pada beberapa tradisi yang tertuju pada satu sisi, dan sisi yang
lain bertujuan mendukung status quo lewat upaya memapankan makna teks sebagai hasil
ijtihad ulama kuno.

PENDAHULUAN

Tafsir secara makna bahasa adalah upaya menyingkapkan maksud yang


tersembunyi lewat kata, serta mengurai sesuatu yang tertahan untuk dipahami melalui
kata. Sedangkan ta’wil secara makna bahasa adalah kembali pada asal-usul sesuatu,
apakah itu berbentuk perbuatan ataukah cerita. Kembali ke asal-usul dimaksudkan
untuk mengungkapkan makna dan signifikansinya. Tafsir secara makna istilah adalah
ilmu yang mengkaji tentang turunnya ayat, surat dan cerita-cerita yang berkenaan
dengan ayat, isyarat yang ada di dalamnya, kronologi makkiyah dan madaniyyah,
muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh, khashsh dan ‘amm, muthlaq dan
muqayyad, mujmal dan mufassar. Selain itu ada yang menambahkan: ilmu tentang
halal dan haram, janji dan ancaman, perintah dan larangan, pelajaran (hikmah) dan
perumpamaan. Dalam hal ini ra’yu tidak diperkenankan ikut campur. Abu al-Qasim
bin Habib an-Naisaburi, Baghawi, al-Kawasyi, dan lainnya mengatakan: Ta’wil adalah
mengalihkan ayat pada makna yang sesuai dengan sebelum dan sesudahnya, makna
yang dimungkinkan oleh ayat tidak bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah
melalui istinbath. Ta’wil berkaitan dengan istinbath sedangkan tafsir umumnya
didominasi oleh naql dan riwayat.

PEMBAHASAN

Metode Pengumpulan Data

Dalam review buku ada beberapa tahapan dalam mengumpulkan data, di


antaranya yaitu: menulis identitas buku, baca daftar isi dan sinopsis, baca isi buku,
ungkapkan segala yang disukai dari buku, sampaikan gaya bahasa yang digunakan
penulis dari buku, berikan penilaian dan kesimpulan.1 Membaca dengan teliti dan
analisa pada sumber lain juga digunakan oleh penulis untuk mendapatkan informasi
dengan pandangan yang lain guna menyelesaikan penulisan artikel ini.

1
Gramedia, Cara Mereview Buku yang Baik dan Benar beserta Contohnya, dalam
[Link] pada 09 April 2023
Kajian Literatur

Kajian tentang tafsir dan ta’wil dalam beberapa kajian yang diterbitkan melalui
google scholar lebih dari 200 kajian. Beberapa tema yang banyak mendapatkan perhatian
dalam berbagai terbitan jurnal sekitar 160 pembahasan. Di antara kajian tentang tafsir
dan ta’wil membahas tema Mengenal Tafsir Ta’wil dalam Ulum Al-Qur’an,2 Tafsir
Ta’wil: Penafsiran Ulang Relasi Suami Istri dalam Al-Qur’an,3 Konsep Tafsir dan
Takwil Menurut Quraish Shihab (Penafsiran Ayat-Ayat Tafsir dan Ayat-Ayat Takwil
dalam Tafsir Al-Misbah),4 Perkembangan Tafsir Al-Qur’an Dikalangan Para Sahabat,5
Tafsir, Ta’wil dan Terjemah.6
Data

Kitab yang saya analisis berjudul Mafhumun Nash. Kitab karya Nashr Hamid
Abu Zayd ini diterbitkan Maktabah al-Fikr al-Jadid, tahun 2014. Kitab ini memiliki 312
halaman, termasuk daftar pustaka. Isi dari buku ini terdiri dari 3 Bab yang dibagi menjadi
beberapa pasal. Bab I membahas tentang kajian al-Nashshu fi al-Tsaqafah (Teks dalam
Kebudayaan). Bagian ini memiliki 5 pasal pembahasan, yaitu 1) Konsep Wahyu, 2)
Penerima Pertama, 3) Makki dan Madani, 4) Asbab An-Nuzul, 5) Nasikh dan Mansukh.

Bab II membahas tentang Aliyatun an-Nash (Mekanisme Teks). Bagian ini memiliki
5 pasal pembahasan, yaitu 1) I’jaz, 2) Munasabah antara Ayat dan Surat, 3) Ambiguitas dan
Distingsi, 4) ‘Amm dan Khashsh, 5) Tafsir dan Ta’wil.

2
A MR Anshari dan A M Rifki, MENGENAL TAFSIR & TA'WIL DALAM ULUM ALQURAN,
JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran ([Link])
[Link] 2022
3
M Ruslan, Tafsir Ta'wil: Penafsiran Ulang Relasi Suami Istri dalam Al Qur'an, ICoIS: International
Conference on Islamic Studies ([Link])
[Link] 2022
4
S Tiara, KONSEP TAFSIR DAN TAKWIL MENURUT QURAISH SHIHAB (PENAFSIRAN AYAT-
AYAT TAFSIR DAN TAKWIL DALAM TAFSIR AL-MISBAH ([Link])
[Link] 2021
5
N Aisyah, PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QUR'AN DIKALANGAN PARA SAHABAT
([Link]) [Link]
53/publication/363773922_PERKEMBANGAN_TAFSIR_AL-
QUR'AN_DIKALANGAN_PARA_SAHABAT/links/632da85f6063772afd8910ce/PERKEMBANGAN-
[Link]
6
M Murtado, Tafsir, Ta'wil Dan Terjemah ([Link]) [Link] 2021
Bab III membahas tentang (Perubahan Konsep dan Fungsi Teks). Bagian ini
memiliki 8 poin, yaitu a) Ilmu-Ilmu Kulit dan Cangkang (Lapis Luar), b) Ilmu-Ilmu Inti
(Lapis Teratas) yang terdiri dari 1) Ma’rifatullah, 2) Jalan Menuju Allah, 3) Penjelasan
Mengenai Situasi Ketika Sampai Tujuan, Wushul (Pahala dan Siksa). c) Ilmu-Ilmu Inti
(Lapis Terbawah) yang terdiri dari 1) Ilmu Fiqh, 2) Ilmu Kalam, 3) Cerita Al-Qur’an. d)
Kedudukan Ahli Fiqh dan Mutakallimin, e) Ta’wil (dari Kulit ke Inti), f) Ta’wil (dari
Metafor ke Hakikat), g) Awam dan Elit (Zahir dan Batin), h) Tingkatan Hirearki Teks.

Artikel ini menfokuskan pada Bab II, pasal 5 yang membahas tentang Tafsir dan
Ta’wil. Dalam pasal ini terdiri dari beberapa poin, yaitu tafsir dan ta’wil secara makna
bahasa, tafsir dan ta’wil secara makna istilah dan mekanisme-mekanisme ta’wil. Tafsir
secara makna bahasa adalah upaya menyingkapkan maksud yang tersembunyi lewat
kata, serta mengurai sesuatu yang tertahan untuk dipahami melalui kata. Sedangkan
ta’wil secara makna bahasa adalah kembali pada asal-usul sesuatu, apakah itu
berbentuk perbuatan ataukah cerita. Kembali ke asal-usul dimaksudkan untuk
mengungkapkan makna dan signifikansinya.

Tafsir secara makna istilah adalah ilmu yang mengkaji tentang turunnya ayat,
surat dan cerita-cerita yang berkenaan dengan ayat, isyarat yang ada di dalamnya,
kronologi makkiyah dan madaniyyah, muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh,
khashsh dan ‘amm, muthlaq dan muqayyad, mujmal dan mufassar. Selain itu ada yang
menambahkan: ilmu tentang halal dan haram, janji dan ancaman, perintah dan
larangan, pelajaran (hikmah) dan perumpamaan. Dalam hal ini ra’yu tidak
diperkenankan ikut campur.

Abu al-Qasim bin Habib an-Naisaburi, Baghawi, al-Kawasyi, dan lainnya


mengatakan: Ta’wil adalah mengalihkan ayat pada makna yang sesuai dengan sebelum
dan sesudahnya, makna yang dimungkinkan oleh ayat tidak bertentangan dengan al-
Kitab dan as-Sunnah melalui istinbath. Ta’wil berkaitan dengan istinbath sedangkan
tafsir umumnya didominasi oleh naql dan riwayat.

Mekanisme-mekanisme ta’wil yaitu ketika berijtihad dalam melakukan ta’wil


atas teks tidak dibedakan antara teks di bidang fiqh dan hukum dengan teks di bidang
lainnya, sebab ijtihad didasarkan pada gerak “nalar” untuk menembus ke kedalaman teks.
Jika perbedaan ta’wil dalam bidang fiqh termasuk sebagai “Rahmat” dan untuk
memberikan keringanan bagi umat maka perbedaan ta’wil dalam bidang lain dari teks
harus dipandang dari sudut pandang yang sama, khususnya apabila mu’awwil berpegang
pada perangkat-perangkat analisis teks, dan tidak pada hawa nafsu atau pendapat
pribadinya.

Di era sekarang tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan tafsir dan ta’wil yang
dilakukan oleh wacana agama kontemporer sudah tepat. Tetapi, memfungsikan
perbedaan tersebut dengan mengedepankan tafsir dan mengorbankan ta’wil pada
dasarnya sangat bertendensi pada ideologis yang didasarkan pada beberapa tren tradisi
pada satu sisi, dan sisi yang lain bertujuan mendukung status quo lewat upaya
memapankan makna teks sebagai hasil ijtihad ulama kuno.
Analisis Data

Di zaman sekarang, tidak bisa dielakkan lagi bahwa perbedaan tafsir dan ta’wil
yang dilakukan oleh wacana agama kontemporer sudah tepat. Namun memfungsikan
perbedaan keduanya dengan mengedepankan tafsir dan mengorbankan ta’wil pada
dasarnya sangat bertendensi pada ideologis yang didasarkan pada beberapa tradisi yang
tertuju pada satu sisi, dan sisi yang lain bertujuan mendukung status quo lewat upaya
memapankan makna teks sebagai hasil ijtihad ulama kuno.7
Seperti kekeliruan dari golongan Ahlusunnah dari dulu hingga sekarang adalah
pandangan mereka terhadap perjalanan sejarah dan perkembangan zaman sebagai gerak
yang menuju “yang lebih buruk” dalam semua lapisan. Oleh karena itu golongan
Ahlusunnah berusaha mengaitkan “makna” teks dan signifikansinya dengan masa
keemasan, kenabian, risalah, dan masa turunnya wahyu. Golongan Ahlusunnah lupa
bahwa hal tersebut berarti menegaskan bahwa temporalitas wahyu bukan saja dari sisi
terbentuknya teks, melainkan juga dari sisi makna dan signifikansinya.

Ini bukan sekedar kesalahan pada “konseptualnya”, melainkan mengekspresikan


sikap ideologisnya terhadap realitas, suatu sikap yang mendukung keterbelakangan, anti
kemajuan dan progresivitas. Oleh karena hal tersebut, golongan Ahlusunnah menyusun
sumber-sumber pokok pengambilan tafsir pada empat hal, di antaranya adalah
pengambilan yang bersumber dari Rasulullah SAW., kemudian pengambilan yang

7
Nasr Hamid Abu Zayd, Tekstualitas Al-Qur’an Kritik terhadap Ulumul Qur’an diterjemahkan
oleh Khoiron Nahdliyyin, Cet. Ke-1, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2016), hal. 299
bersumber pada pendapatw sahabat, lalu merujuk pada pengambilan yang bersumber
pada pendapat para tabi’in, dan yang terakhir yaitu tafsir bahasa.

Pembedaan antara tafsir dengan ta’wil, dan mengangkat kedudukan tafsir dengan
mengorbankan ta’wil merupakan bagian dari kekeliruan pemahaman Ahlusunnah dan
posisi nalar mereka dari dulu hingga sekarang. Oleh karena hal tersebut, kita harus bisa
membedakan keduanya secara definitif antara konsep tafsir dan ta’wil.8

Uraian Abu Zayd mengenai konsep hermeneutik Qur'annya terasa rumit karena
banyak dipengaruhi konsep hermeneutik Barat. Proposisinya tentang tekstualitas al-
Qur'an telah menimbulkan kesalahpahaman dan kontroversi di tengah masyarakat akibat
pembahasannya cenderung elitis karena hanya bisa dipahami oleh kalangan intelektual,
itupun bagi mereka yang tidak asing dengan ilmu-ilmu linguistik (humaniora) dan sosial.

Meskipun begitu, pembacaan al-Qur'an yang dilakukan oleh Abu Zayd terhadap
isu-isu sensitif dalam Islam (semisal poligami, hak waris perempuan, perbudakan), telah
memberikan warna lain terhadap pemahaman Islam yang selama ini dimaknai dengan
agama anti HAM, "penindas perempuan", dan stereotype negative lainnya. Seperti pada
kasus poligami: bagi Abu Zayd wacana al-Qur'an tentang poligami mempunyai level
makna ketiga, di mana pemahaman haruslah melampaui makna historisnya dengan
menguak signifikansi masa kininya. Dan bahkan mampu menguak dimensi "yang tak
terkatakan" dari suatu pesan.

Abu Zayd juga menggunakan distingsi adil zahir tentang mabda', qaidah dan
hukm untuk mendukung argumennya. Dengan penggunaan distingsi ini pandangan
bahwa poligami adalah dilarang dapat dengan mudah dansistematis dipahami. Namun
metode ta'wil yang ia anjurkan yang menggunakan epistemologi nalar burhani, ternyata
dipengaruhi oleh semangat berpikir positivistik. Implikasinya, ia mendekonstruksi semua
fenomena transenden agama ke bawah penelitian/pemikiran empirik, sehingga beragama
terasa kering karena nilai-nilai spiritualitasnya selalu dicarikan alasan rasionalnya. 9

8
Nasr Hamid Abu Zayd, Tekstualitas Al-Qur’an Kritik terhadap Ulumul Qur’an diterjemahkan
oleh Khoiron Nahdliyyin, Cet. Ke-1, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2016), hal. 278
9
Alfitri, Studi Qur’an Kontemporer: Telaah atas Hermeneutik Qur’an Nasr Hamid Abu Zayd,
pada [Link] diakses pada 09 April 2023
PENUTUP

Seiring berjalannya zaman, hingga saat ini masih banyak terjadi kekeliruan terkait
dengan penggunaan tafsir dan ta’wil berdasarkan fungsinya. Yang terjadi dengan
mengedepankan tafsir dan mengorbankan ta’wil pada dasarnya sangat bertendensi pada
ideologis yang didasarkan pada beberapa tradisi yang tertuju pada satu sisi, dan sisi yang
lain bertujuan mendukung status quo lewat upaya memapankan makna teks sebagai hasil
ijtihad ulama kuno.
DAFTAR PUSTAKA

Alfitri, Studi Qur’an Kontemporer: Telaah atas Hermeneutik Qur’an Nasr Hamid Abu
Zayd, pada [Link]
diakses pada 09 April 2023
A MR Anshari dan A M Rifki, MENGENAL TAFSIR & TA'WIL DALAM ULUM
ALQURAN, JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran ([Link])
[Link] 2022
Gramedia, Cara Mereview Buku yang Baik dan Benar beserta Contohnya, dalam
[Link] pada 09 April 2023
M Murtado, Tafsir, Ta'wil Dan Terjemah ([Link]) [Link] , 2021
M Ruslan, Tafsir Ta'wil: Penafsiran Ulang Relasi Suami Istri dalam Al Qur'an, ICoIS:
International Conference on Islamic Studies ([Link])
[Link] 2022
N Aisyah, PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QUR'AN DIKALANGAN PARA SAHABAT
([Link]) [Link]
53/publication/363773922_PERKEMBANGAN_TAFSIR_AL-
QUR'AN_DIKALANGAN_PARA_SAHABAT/links/632da85f6063772afd8
910ce/PERKEMBANGAN-TAFSIR-AL-QURAN-DIKALANGAN-PARA-
[Link]
Nasr Hamid Abu Zayd, Tekstualitas Al-Qur’an Kritik terhadap Ulumul Qur’an
diterjemahkan oleh Khoiron Nahdliyyin, Cet. Ke-1, (Yogyakarta: IRCiSoD,
2016)
S Tiara, KONSEP TAFSIR DAN TAKWIL MENURUT QURAISH SHIHAB
(PENAFSIRAN AYAT-AYAT TAFSIR DAN TAKWIL DALAM TAFSIR AL-
MISBAH ([Link])
[Link] 2021

Anda mungkin juga menyukai