0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan105 halaman

Karakteristik Generator Sinkron dan Beban

Modul praktikum ini membahas karakteristik generator sinkron beban linear dan non linear serta hubungan antara torsi, kecepatan, dan daya pada generator sinkron. Mahasiswa akan melakukan percobaan untuk memahami prinsip kerja generator sinkron dan hubungan antara variabel-variabel tersebut."

Diunggah oleh

KHOERUNNISA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan105 halaman

Karakteristik Generator Sinkron dan Beban

Modul praktikum ini membahas karakteristik generator sinkron beban linear dan non linear serta hubungan antara torsi, kecepatan, dan daya pada generator sinkron. Mahasiswa akan melakukan percobaan untuk memahami prinsip kerja generator sinkron dan hubungan antara variabel-variabel tersebut."

Diunggah oleh

KHOERUNNISA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL PRAKTIKUM

KONVERSI ENERGI
TKE192229

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
2022
UNIT I

KARAKTERISTIK GENERATOR SINKRON BEBAN LINEAR DAN NONLINEAR

1.1. Tujuan Praktikum

1. Mahasiswa mampu memahami prinsip kerja generator sinkron.


2. Mahasiswa mampu memahami hubungan kecepatan dengan tegangan pada generator
sinkron beban linear dan nonlinear.
3. Mahasiswa mampu memahami hubungan kecepatan dengan arus pada generator sinkron
beban linear dan nonlinear.

1.2. Dasar Teori

1.2.1 Generator Sinkron

Generator sinkron (sering disebut alternator) adalah mesin listrik arus bolak-balik yang
menghasilkan tegangan dan arus bolak balik (alternating current, AC) yang bekerja dengan cara
merubah energi mekanik (gerak) menjadi energi listrik dengan adanya induksi medan magnet.
Perubahan energi ini terjadi karena adanya pergerakan relatif antara medan magnet dengan
kumparan generator. Pergerakan relatif adalah terjadinya perubahan medan magnet pada
kumparan jangkar (tempat terbangkitnya tegangan pada generator) karena pergerakan medan
magnet terhadap kumparan jangkar atau sebaliknya. Alternator ini disebut generator sinkron
(sinkron = serempak) karena kecepatan perputaran medan magnet yang terjadi sama dengan
kecepatan perputaran rotor generator. Alternator ini menghasilkan energi listrik bolak balik
(alternating current, AC) dan biasa diproduksi untuk menghasilkan listrik AC 1-fasa atau 3-
fasa.

1.2.1 Prinsip Kerja Generator Sinkron

Generator dapat menghasilkan energi listrik karena adanya pergerakan relatif antaran
medan magnet homogen terhadap kumparan jangkar pada generator (magnet yang bergerak dan
kumpran jangkar diam, atau sebaliknya magnet diam sedangkan kumparan jangkar bergerak).
Jadi, jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan magnet homogen,
maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan tersebut. Medan magnet homogen
ini bisa dihasilkan oleh kumparan yang dialiri arus DC atau oleh magnet tetap.
Saat generator sinkron bekerja pada beban nol tidak ada arus yang mengalir melalui kumparan
jangkar (stator), sehingga yang ada pada celah udara hanya fluksi arus medan rotor. Namun jika
generator sinkron diberi beban, arus jangkar Ia akan mengalir dan membentuk fluksi jangkar.
Fluksi jangkar ini kemudian mempengaruhi fluksi arus medan dan akhirnya menyebabkan
berubahnya harga tegangan terminal generator sinkron. Reaksi ini kemudian dikenal sebagai
reaksi jangkar. Reaksi jangkar disebabkan oleh arus beban I yang mengalir pada kumparan
jangkar, arus tersebut akan menimbulkan medan yang melawan medan utama sehingga seolah-
olah jangkar mempunyai reaktansi.

1.2.2. Beban Linear dan NonLinear

Beban listrik adalah suatu perangkat alat yang dapat berfungsi jika dialiri arus listrik.
Perangkat alat tersebut digunakan untuk merubah energi listrik menjadi energi lain misalnya
gerak, panas, cahaya dan lain sebagainya. Beban listrik terdiri dari beban linier dan beban non
linier. Beban disebut linier bila nilai arusnya berbanding lurus terhadap tegangan beban dan
menyebabkan bentuk gelombang arus akan sama dengan bentuk gelombang tegangan dari
beban. Sedangkan untuk beban non linier, bentuk gelombang arus tidak sama dengan bentuk
gelombang tegangan (mengalami distorsi)

1.3. Alat dan Bahan

1. Synchronous Generator Trainer

2. Kabel penghubung

SAFETY NOTES

1. Perhatikan batasan-batasan kemampuan peralatan.


2. Perhatikan kabel penghubung agar tidak telilit dengan putaran generator.
3. Putar DC Motor Speed Control secara bertahap (gradual), jangan menaikkan DC Motor
Speed Control dengan maksimum secara langsung.
4. Minta persetujuan asisten terkait cara pemasangan peralatan dan rangkaian sebelum
dioperasikan.
1.4. Langkah Kerja

1.4.1. Percobaan 1: Generator Sinkron Beban Linear

1. Hubungkan generator sinkron 1 fasa dengan sumber tegangan.

2. Rangkailah kabel pada Synchronous Generator Trainer seperti pada gambar berikut.

Gambar 1.1 Rangkaian Percobaan satu beban linear

3. Atur MCB 1 phasa dengan kondisi ON!

4. Atur power source selector ke 1 phase 220 VAC!

5. Tekan tombol start, dan posisikan DC motor speed control dalam keadaan ON

6. Pastikan semua wiring dalam keadaan aman

7. Putar DC motor speed control hingga nilai rpm 200, 500, 800, 1100, 1400, dan 1700.

8. Untuk membaca nilai arus pada amperemeter dengan membagi nilai yang muncul dengan
50.

8. Catat pada tabel pengamatan.

9. Buatlah kurva hubungan kecepatan dan tegangan serta kecepatan dan arus.

10. Ulangi percobaan diatas dengan kondisi beban linear dua beban.
Gambar 1.2 Rangkaian Percobaan dua beban linear

Tabel 1.1 Data Pengamatan Beban Linear Satu Beban

Kecepatan (RPM) Tegangan (V) Arus (I)

Tabel 1.2 Data Pengamatan Beban Linear Dua Beban

Kecepatan (RPM) Tegangan (V) Arus (I)


Gambar 1.3 Grafik Hubungan Kecepatan dengan Tegangan Satu Beban Linear

Gambar 1.4. Grafik Hubungan Kecepatan dengan Arus Satu Beban Linear
Gambar 1.5. Grafik Hubungan Kecepatan dengan Tegangan Dua Beban Linear

Gambar 1.6. Grafik Hubungan Kecepatan dengan Arus Dua Beban Linear
1.4.2. Percobaan 2: Generator Sinkron Beban Non-Linear

1. Hubungkan generator sinkron 1 fasa dengan sumber tegangan.


2. Rangkailah kabel pada Synchronous Generator Trainer seperti pada gambar berikut.

Gambar 1.7 Bentuk rangkaian percobaan satu beban

3. Atur MCB 1 phasa dengan kondisi ON!


4. Atur power source selector ke 1 phase 220VAC!
5. Tekan tombol start, dan posisikan DC motor speed control dalam keadaan ON
6. Pastikan semua wiring dalam keadaan aman
7. Putar DC motor speed control hingga nilai rpm 950, 1100, 1250, 1400, 1550, 1700.
8. Untuk membaca nilai arus pada amperemeter dengan membagi nilai yang muncul dengan
50.
9. Catat pada tabel pengamatan.
10. Buatlah kurva hubungan kecepatan dan tegangan serta kecepatan dan arus.
11. Ulangi percobaan diatas dengan kondisi beban non- linear dua beban
Gambar 1.8 Bentuk rangkaian percobaan dua beban

Tabel 1.3 Data Pengamatan Beban Non- Linear Satu Beban

Kecepatan (RPM) Tegangan (V) Arus (I)

Tabel 1.4 Data Pengamatan Beban Non-Linear Dua Beban

Kecepatan (RPM) Tegangan (V) Arus (I)


Gambar 1.9 Grafik hubungan kecepatan dengan tegangan satu beban

Gambar 1.10 Grafik hubungan kecepatan dengan arus satu beban


Gambar 1.11 Grafik hubungan kecepatan dengan tegangan dua beban

Gambar 1.12 Grafik hubungan kecepatan dengan arus dua beban


UNIT II

HUBUNGAN TORSI, KECEPATAN, DAN DAYA PADA GENERATOR SINKRON

II.1. Tujuan Percobaan

1. Mahasiswa mampu mengetahui karakteristik generator sinkron beban linear dan non
linear
2. Mahasiswa mampu mengamati dan menganalisis hubungan antara daya dengan torsi
pada generator sinkron
3. Mahasiswa mampu mengamati dan menganalisis hubungan antara kecepatan dengan
torsi pada generator sinkron.

II.2. Dasar Teori

II.2.1 Generator Sinkron

Generator sinkron (sering disebut alternator) adalah mesin listrik arus bolak-balik yang
menghasilkan tegangan dan arus bolak balik (alternating current, AC) yang bekerja dengan cara
merubah energi mekanik (gerak) menjadi energi listrik dengan adanya induksi medan magnet.
Perubahan energi ini terjadi karena adanya pergerakan relatif antara medan magnet dengan
kumparan generator. Pergerakan relatif adalah terjadinya perubahan medan magnet pada
kumparan jangkar (tempat terbangkitnya tegangan pada generator) karena pergerakan medan
magnet terhadap kumparan jangkar atau sebaliknya. Alternator ini disebut generator sinkron
(sinkron = serempak) karena kecepatan perputaran medan magnet yang terjadi sama dengan
kecepatan perputaran rotor generator. Alternator ini menghasilkan energi listrik bolak balik
(alternating current, AC) dan biasa diproduksi untuk menghasilkan listrik AC 1-fasa atau 3-
fasa.

II.2.2 Prinsip Kerja Generator Sinkron

Generator dapat menghasilkan energi listrik karena adanya pergerakan relatif antaran
medan magnet homogen terhadap kumparan jangkar pada generator (magnet yang bergerak dan
kumpran jangkar diam, atau sebaliknya magnet diam sedangkan kumparan jangkar bergerak).
Jadi, jika sebuah kumparan diputar pada kecepatan konstan pada medan magnet homogen,
maka akan terinduksi tegangan sinusoidal pada kumparan tersebut. Medan magnet homogen
ini bisa dihasilkan oleh kumparan yang dialiri arus DC atau oleh magnet tetap.

Saat generator sinkron bekerja pada beban nol tidak ada arus yang mengalir melalui
kumparan jangkar (stator), sehingga yang ada pada celah udara hanya fluksi arus medan rotor.
Namun jika generator sinkron diberi beban, arus jangkar Ia akan mengalir dan membentuk
fluksi jangkar. Fluksi jangkar ini kemudian mempengaruhi fluksi arus medan dan akhirnya
menyebabkan berubahnya harga tegangan terminal generator sinkron. Reaksi ini kemudian
dikenal sebagai reaksi jangkar. Reaksi jangkar disebabkan oleh arus beban I yang mengalir pada
kumparan jangkar, arus tersebut akan menimbulkan medan yang melawan medan utama
sehingga seolah-olah jangkar mempunyai reaktansi.

II.2.2 Hubungan Torsi, Kecepatan dan Daya Motor listrik

Secara umum, kita dapat mengetahui hubungan antara Kecepatan, Torsi dan Daya, yaitu
Tenaga Gerak yang dihasilkan dari sebuah motor listrik disebut dengan Torque (Torsi) dan
biasanya menggunakan satuan Nm (Newtonmeter). Jika kita memerlukan suatu Motor listrik
yang memiliki tenaga putar lebih kuat, maka biasanya kita akan memilih Motor listrik dengan
Daya yang besar, selain itu Kecepatan Putaran Motor listrik juga berpengaruh terhadap besar
kecilnya tenaga putar (Torsi) yang dihasilkan, semakin besar Rpm maka akan semakin kecil
tenaga (torsi).
Rumus Hubungan Torsi, Kecepatan, dan Daya Motor listrik

5252 × 𝑃
𝑇=( ) … … … (2.1)
𝑁

𝑃 = 𝑉 × 𝐼 … … … (2.2)

P: Daya dalam satuan HP (HorsePower)


T: Torsi (Nm)
N: Jumlah putaran per-menit (RPM)
5252 adalah nilai ketetapan (Konstanta) untuk daya motor dalam satuan HP
1 HP = 745,7 Watt
II.3 Alat dan Bahan

1. Synchronous Generator Trainer


2. Kabel penghubung

SAFETY NOTES

1. Perhatikan batasan-batasan kemampuan peralatan.


2. Perhatikan kabel penghubung agar tidak telilit dengan putaran generator.
3. Putar DC Motor Speed Control secara bertahap (gradual), jangan menaikkan DC Motor
Speed Control dengan maksimum secara langsung.
4. Minta persetujuan asisten terkait cara pemasangan peralatan dan rangkaian sebelum
dioperasikan.

II.4 Langkah Kerja

II.4.1 Percobaan 1: Hubungan Antara Daya dengan Torsi pada Generator Sinkron

1. Hubungkan generator sinkron 1 fasa dengan sumber tegangan.


2. Rangkailah kabel pada Synchronous Generator Trainer seperti pada gambar berikut.

Gambar 2.1 Rangkaian Unit 2 Percobaan 1


3. Atur MCB 1 phasa dengan kondisi ON!
4. Atur power source selector ke 1 phase 220VAC!
5. Tekan tombol start, dan posisikan DC motor speed control dalam keadaan ON
6. Pastikan semua wiring dalam keadaan aman
7. Putar DC motor speed control hingga nilai tegangan 30, 35, 40, 45, 50, 55 V.
8. Untuk membaca nilai arus pada amperemeter dengan membagi nilai yang muncul dengan
50.
9. Catat pada tabel pengamatan.
10. Buatlah kurva hubungan daya dengan torsi.

Tabel 2.1 Data Pengamatan Hubungan Daya dengan Torsi

Tegangan (V) Arus (I) Kecepatan Daya (HP) Torsi (Nm)


(RPM)
Gambar 2.2 Grafik Hubungan Daya dengan Torsi

II.4.2 Percobaan 2: Hubungan Antara Kecepatan dengan Torsi pada Generator Sinkron

1. Hubungkan generator sinkron 1 fasa dengan sumber tegangan.


2. Rangkailah kabel pada Synchronous Generator Trainer seperti pada gambar berikut.

Gambar 2.3. Rangkaian Unit 2 Percobaan 2

3. Atur MCB 1 phasa dengan kondisi ON!


4. Atur power source selector ke 1 phase 220VAC!
5. Tekan tombol start, dan posisikan DC motor speed control dalam keadaan ON
6. Pastikan semua wiring dalam keadaan aman
7. Putar DC motor speed control hingga nilai rpm 950, 1100, 1250, 1400, 1550, 1700.
8. Untuk membaca nilai arus pada amperemeter dengan membagi nilai yang muncul
dengan 50.
9. Catat pada tabel pengamatan.
10. Buatlah kurva hubungan kecepatan dengan torsi.

Tabel 2.2 Data Pengamatan Hubungan Kecepatan dengan Torsi

Tegangan (V) Arus (I) Kecepatan Daya (HP) Torsi (Nm)


(RPM)

Gambar 2.4 Grafik hubungan kecepatan dengan torsi


UNIT III

MOTOR INDUKSI SATU FASE “CAPASITOR START”

III.1 Tujuan Praktikum

1. Mahasiswa memahami perbedaan motor dc dan motor ac


2. Mahasiswa memahami parameter yang digunakan untuk menentukan performa motor
ac

III.2 Dasar Teori

Motor induksi merupakan motor listrik arus bolak balik yang paling luas digunakan
Penamaannya berasal dari kenyataan bahwa motor ini bekerja berdasarkan induksi medan
magnet stator ke statornya, dimana arus rotor motor ini bukan diperoleh dari sumber tertentu,
tetapi merupakan arus yang terinduksi sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran
rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang dihasilkan oleh arus stator.

Motor induksi sangat banyak digunakan di dalam kehidupan sehari-hari baik di


industri maupun di rumah tangga. Motor induksi yang umum dipakai adalah motor induksi 3-
fase dan motor induksi 1-fase. Motor induksi 3-fase dioperasikan pada sistem tenaga 3-fase dan
banyak digunakan di dalam berbagai bidang industri, sedangkan motor induksi 1-fase
dioperasikan pada sistem tenaga 1-fase yang banyak digunakan terutama pada penggunaan
untuk peralatan rumah tangga seperti kipas angin, lemari es, pompa air, mesin cuci dan
sebagainya karena motor induksi 1-fase mempunyai daya keluaran yang rendah.

Salah satu jenis dari motor induksi 1-fase adalah motor kapasitor start yang
merupakan jelmaan dari motor fasa belah (jenis lain dari motor induksi 1-fase), tetapi
mempunyai kapasitor yang dihubungkan seri dengan belitan bantu (auxiliriary) dan sakelar
sentrifugal, secara konstruktif sama persis, hanya ditambah satu unit kapasitor untuk
memperbesar kopel awal (start). Seperti dikatakan di awal prinsip kerja motor kapasitor start
ini sama seperti motor induksi, yaitu jika pada lilitan utama diberikan sumber arus maka akan
terjadi medan magnit putar (fluks magnit) yang ada dan besarnya sama, tidak ada resultan gaya.

Tetapi dengan adanya lilitan bantu dan kapasitor maka ada beda fasa diantara
keduanya, disinilah terjadi fluksi magnit dan resultan gaya yang berbeda maju atau mundur
tergantung besarnya resultan gaya itu sendiri dan pada umumnya terjadi resultan gaya searah
jarum jam sehingga motor dapat berputar ke kanan. Setelah motor berputar 75% dari putaran
nominal maka sakelar sentrifugal bekerja memutuskan rangkaian lilitan bantu dan motor
bekerja hanya dengan lilitan utama (main).

Pergeseran fase antara belitan utama (main) dan belitan bantu dalam kondisi starts
dapat dilihat sesuai dengan Gambar 4.1. Keuntungan jenis motor kapasitor start ini dibanding
dengan type motor fasa belah adalah:

- Mempunyai kopel yang lebih kuat.


- Faktor kerjanya lebih besar (mendekati 1)

Secara konstruksi rangkaian kelistrikan motor kapasitor startdapat dilihat pada


gambar 4.2 di bawah ini.

Gambar 3.1

Gambar 3.2
Rumusan

• Daya masukan Motor Induksi Satu Fasa

𝑃𝑖 = 𝑉 × 𝐼 × 𝑐𝑜𝑠 𝜃 … … … (3.1)

• Daya keluaran Motor Induksi Satu Fasa

2 ×𝜋 ×𝑁×𝑇
𝑃𝑜 = … … … (3.2)
60

• Efisiensi pada Motor Induksi Satu Fasa

𝑃𝑜
𝐸𝑓𝑓 = × 100% … … … (3.3)
𝑃𝑖

2 ×𝜋 ×𝑁×𝑇
𝐸𝑓𝑓 = 60 × 100% … … … (3.4)
𝑉 × 𝐼 × 𝑐𝑜𝑠 𝜃

III.3 Alat dan Bahan

1. Perangkat komputer
2. Software Power Simulator
III.4 Langkah Kerja

III.4.1. Percobaan 1 Motor Induksi Satu Fase Capsitor Start

1. Rangkailah rangkaian dibawah ini

2. Pembuatan Sumber Tegangan Ac Tiga Fase:


Klik Element>Sources>Voltage>Sine
3. Set Nilai tegangan Sumber menjadi 230V

4. Pasang Ampermeter dan Voltmeter Sumber Elements>Probes>Current Probe dan


Voltage Probe
Pasang Wattmeter 1 Phase
Pasangkan 1 ph VA/Power Factor Motor
Pasangkan Induktor
Pasangkan Capsitor 100 uF
Pasangkan Motor DC Machine
Pasangkan Speed Sensor dan Torque Sensor
11. Tambahkan Mechanical-Electrical Interface untuk mengubah beban elektrik
menjadi mekanik.
Elements>Power>Mechanical Load and Sensor> Mechanical-Electrical
Interface
12. Tambahkan beban berupa resistor lalu hubungkan ke ground
Elements>Power>RLC Branches>Resistor
Element>Sources>Ground
13. Simulasikan rangkaian di atas dengan nilai parameter simulation control
Simulate>Simulation Control
14. Lakukan Simulasi Simulate> Run Simulation
Klik Variabel simulasi yang dibutuhkan>klik Add>klik ok
Untuk menambahkan variabel simulasi lainya
Klik Screen> Add Screen
Lakukan simulasi untuk semua data yang dibutuhkan
Untuk menampilkan nilai grafik simulasi klik:
Measure>Measure

Klik pada grafik hingga muncul jendela measure (kanan bawah)


15. Arahkan kursor pada grafik untuk mendapatkan nilai torsi 0.1, 0.2, ……, 0.7
16. Catat hasil percobaan pada tabel berikut

Tabel 3.1 Percobaan 1 unit 2 (230 product Version)


Supply Supply Power Torque Speed Input Output Effisiensi
Volt (V) Current Faktor (Nm) (Rpm) Power Power (%)
(A) (Cos 𝜃) (Watt) (Watt)
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7

17. Modifikasi Sumber tegangan menjadi 120 V dan Beban Resistor 25 Ohm.
Ulangi Langkah 14 sampai 15.
18. Catat hasil percobaan pada tabel berikut

Tabel 3.2 Percobaan 2 unit 2 (120 product Version)


Supply Supply Power Torque Speed Input Output Effisiensi
Volt (V) Current Faktor (Nm) (Rpm) Power Power (%)
(A) (Cos 𝜃) (Watt) (Watt)
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
UNIT IV
3-PHASE SQUIRREL CAGE INDUCTION MOTOR

IV.1. Tujuan Praktikum


1. Mahasiswa memahami perbedaan antara motor ac dan motor dc

2. Memahami parameter untuk menentukan performa motor ac

3. Memahami prinsip motor induksi 3 phase

4. Memahami karakteristik torsi

5. Mengetahui hubungan bintang dan segitiga

IV.2. Dasar Teori


Motor Induksi 3 Phase Sangkar Tupai adalah jenis motor induksi tiga fasa yang berfungsi
berdasarkan prinsip elektromagnetisme. Disebut motor 'sangkar tupai' karena rotor di dalamnya
terlihat seperti sangkar tupai. Ketika arus AC dijalankan melalui belitan stator, akan dihasilkan
medan magnet berputar. Hal tersebut akan menginduksi arus pada belitan rotor yang
menghasilkan medan magnetnya sendiri. Interaksi medan magnet yang dihasilkan oleh belitan
stator dan rotor menghasilkan torsi pada rotor ‘Sangkar Tupai’.
Untuk memahami prinsip kerja dari “3 Phase Squirrel Cage Induction Motor” kita harus
memperhatikan dua buah faktor yaitu :
1. Hubungan antarfase dalam sumber daya tiga fase dan bagaimana hal tersebut dapat
menghasilkan perputaran medan magnet dalam stator motor

2. Operasi Flemming atau yang dikenal dengan aturan tangan kanannya.


Motor ini mempunyai stator(pemegun) berbelit dengan 3 belitan yaitu satubelitan setiap
fasa dan mempunyai rotor(pemutar) yang mirip dengan sangkar tupai, oleh karena itu, motor
ini disebut sebagai motor induksi sangkar tupai 3 phase. Perhatikan gambar 15 bahwa terdapat
kumparan pada stator yang dihubungkan satu dengan lainnya.

Gambar 4.1 Kumparan 3 Phase Squirrel Cage Induction Motor


Setiap kumparan (L1, L2, dan L3) dibentuk dalam 3 pasang yang dipasang secara
bersebrangan satu sama lain dan masing-masing pasangan diberikan dengan salah satu sumber
daya.
Arus yang masuk pada masing-masing kumparan pada titik-titik yang ditunjukkan oleh ia,
ib, ic meninggalkan masing-masing kumparan, sehingga menghasilkan medan magnet yang
searah dengan sumbu kumparan atau anda dapat menentukan arahnya dengan menerapkan
aturan tangan kanan Flemming.
Jika ketiga fasa menyuplai arus dc maka resultan medan magnet dari arus akan tampak
seperti gambar 4.2 dengan resultan sama dengan nol.

Gambar 4.2 Resultan medan untuk suplai arus dc

Namun ketika supply arus dari ketiga fasa adalah ac, dan L1 adalah positif maksimum
dan L2, L3 negatif maka bentuk medan magnet yang dihasilkan tampak seperti gambar 4.3.

Gambar 4.3 Resultan medan untuk L1 maksimum

Untuk kondisi L2 adalah positif maksimum maka bentuk medan magnet yang dihasilkan
adalah

Gambar 4.4 Resultan medan untuk L2 atau L3 maksimum

Kondisi ini juga dapat dianggap sama ketika L3 positif maksimum.


Efek keseluruhannya adalah memiliki medan magnet di dalam stator yang berputar pada
frekuensi yang sama dengan frekuensi suplai 3 fasa.
Prinsip Kerja Motor Induksi 3 Fasa Sangkar Tupai dapai diilustrasikan Berdasarkan
Gambar 4.5 dibawah ini:

Gambar 4.5 Pripsip Dasar


Dengan menggunakan magnet permanen yang bergerak dengan kecepatan v dari kiri ke
kanan atau sebaliknya, berdasar aturan tangan kanan flemming maka tegangan yang akan
timbul dan melintas elemen dan bersifat leading pada arus I yang bergerak secara sirkular
pada elemen tersebut dalam arah seperti tampak pada gambar 4.6.

Gambar 4.6 Resultan gaya F, arus I dan medan H

Rumusan
• Daya masukan “3 Phase Squirrel Cage Induction Motor”
𝑃𝑖 = √3 × 𝑉 × 𝐼 × 𝑐𝑜𝑠 𝜃 … … … (4.1)
• Daya keluaran “3 Phase Squirrel Cage Induction Motot”
2 ×𝜋 ×𝑁×𝑇
𝑃𝑜 = … … … (4.2)
60
• Efisiensi motor“3 Phase Squirrel Cage Induction Motot”
𝑃𝑜
𝐸𝑓𝑓 = × 100% … … … (4.3)
𝑃𝑖
IV.3 Alat dan Bahan

1. Perangkat komputer
2. Software Power Simulator

IV.4 Langkah Kerja

IV.4.1. Percobaan 1 3 Phase Squirrel Cage Induction Motor Star Connection


1. Rangkailah rangkaian dibawah ini

2. Pembuatan Sumber Tegangan Ac Tiga Fase: Klik Element>Sources>Voltage>3-ph


Sine
3. Set Nilai tegangan Sumber Sesuai Tabel 25V, 50V, ……,150V

4. Hubungkan Netral Sumber Tiga Fase dengan Ground Klik: Element>Sources>Ground


5. Pasang AC Ampermeter pada salah satu fase dan AC Voltmeter antara fase yang ada
dari Sumber Elements>Probes>AC Ammeter dan AC Voltmeter

6. Pasang kan 3 ph VA/Power Factor Motor


7. Pasang Ampermeter pada salah satu fase dan Voltmeter antara fase yang ada dari Sumber
Elements>Probes> Current Probe dan Voltage Probe
8. Pasang 3 Phase Sequirel-Cage Induction Motor (Liniear)
Elements>Power>Motor Drive Modul> Sequirel-Cage Induction Motor (Liniear)
9. Pasangkan Speed Sensor dan Torque Sensor
Elements>Power>Mechanical Load and Sensor> Speed Sensor dan Torque Sensor
10. Tambahkan Mechanical-Electrical Interface untuk mengubah beban elektrik menjadi
mekanik.
Elements>Power>Mechanical Load and Sensor> Mechanical-Electrical Interface
11. Tambahkan beban berupa resistor lalu hubungkan ke ground
Elements>Power>RLC Branches>Resistor
Element>Sources>Ground
12. Simulasikan rangkaian di atas dengan nilai parameter simulation control
Simulate>Simulation Control
13. Lakukan Simulasi Simulate> Run Simulation
Klik Variabel simulasi yang dibutuhkan>klik Add>klik ok
Untuk menambahkan variabel simulasi lainya
Klik Screen> Add Screen
Lakukan simulasi untuk semua data yang dibutuhkan
Untuk menampilkan nilai grafik simulasi klik: Measure>Measure

Klik pada grafik hingga muncul jendela measure (kanan bawah)


14. Arahkan kursor pada grafik untuk mendapatkan nilai torsi 0.1, 0.2, ……, 0.6

15. Catat hasil percobaan pada tabel berikut

Tabel 4.1 Percobaan 1 3 Phase Squirrel Cage Induction Motor Star Connection
VLL VLN I Cos Speed Kondisi Torsi Po %
25 0.1
50 0.2
75 0.3
100 0.4
125 0.5
150 0.6
IV.4.2. Percobaan 2 3 Phase Squirrel Cage Induction Motor Delta Connection
1. Rangkailah rangkaian dibawah ini

2. Pembuatan Sumber Tegangan Ac Tiga Fase: Klik Element>Sources>Voltage>3-ph


Sine

3. Set Nilai tegangan Sumber Sesuai Tabel 25V, 50V, ……,150V


4. Hubungkan Netral Sumber Tiga Fase dengan Ground Klik: Element>Sources>Ground
5. Pasang AC Ampermeter pada salah satu fase dan AC Voltmeter antara fase yang ada
dari Sumber Elements>Probes>AC Ammeter dan AC Voltmeter

6. Pasang kan 3 ph VA/Power Factor Motor


7. Pasang Ampermeter pada salah satu fase dan Voltmeter antara fase yang ada dari
Sumber
Elements>Probes> Current Probe dan Voltage Probe
8. Pasang 3 Phase Sequirel-Cage Induction Motor (Liniear)
Elements>Power>Motor Drive Modul> Sequirel-Cage Induction Motor (Liniear)
9. Pasangkan Speed Sensor dan Torque Sensor
Elements>Power>Mechanical Load and Sensor> Speed Sensor dan Torque Sensor
10. Tambahkan Mechanical-Electrical Interface untuk mengubah beban elektrik menjadi
mekanik
Elements>Power>Mechanical Load and Sensor> Mechanical-Electrical Interface
11. Tambahkan beban berupa resistor lalu hubungkan ke ground
Elements>Power>RLC Branches>Resistor
Element>Sources>Ground
12. Simulasikan rangkaian di atas dengan nilai parameter simulation control
Simulate>Simulation Control

13. Lakukan Simulasi Simulate> Run Simulation


Klik Variabel simulasi yang dibutuhkan>klik Add>klik ok
Untuk menambahkan variabel simulasi lainya
Klik Screen> Add Screen
Lakukan simulasi untuk semua data yang dibutuhkan
Untuk menampilkan nilai grafik simulasi klik: Measure>Measure

Klik pada grafik hingga muncul jendela measure (kanan bawah)


14. Arahkan kursor pada grafik untuk mendapatkan nilai torsi 0.1, 0.2, ……, 0.6

15. Catat hasil percobaan pada tabel berikut

Tabel 4.2 Percobaan 1 3 Phase Squirrel Cage Induction Motor Delta Connection
VLL VLN I Cos Speed Kondisi Torsi Po %
25 0.1
50 0.2
75 0.3
100 0.4
125 0.5
150 0.6
UNIT V
KARAKTERISTIK TRANSFORMATOR BEBAN NOL

V.1. Tujuan Percobaan

1. Mahasiswa mampu menentukan perbandingan transformasi


2. Mahasiswa dapat mengukur kerugian inti transformator
3. Mahasiswa mampu menggambar karakteristik transformator beban nol
4. Mahasiswa dapat menentukan diagram ekivalen transformator beban nol

V.2 Dasar Teori

Transformator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnet. Maka transformator


dihubungkan ke sumber AC, akan terjadi aliran fluksi (garis-garis) magnet dalam teras inti dan
melalui celah-celah udara inti transformator. Aliran fluksi tersebut adalah energi yang terbuang
dalam teras inti, disebut kerugian inti (besi) transformator. Besar kecilnya kerugian tersebut
sangat bergantung pada permeabilitas teras inti dan kerapian cara menyusun lominasi plat-plat
teras inti tersebut. Oleh sebab itu, dalam percobaan transformator beban nol akan mengalir arus
Io akibat kerugian tersebut diatas. Dengan jelas dapat dilihat rangkaian dibawah ini:

Gambar 5.1

Io = Arus beban nol

Iop = Arus rugi besi

Ioq = Arus kemagnetan


Perumususan:

𝐼𝑜 = 𝐼𝑜𝑝 + 𝐼𝑜𝑞 … … … (5.1)


𝑃0
cos 𝜃0 = … … … (5.2)
𝐼0 𝑉0

𝑉𝑂
𝐼𝑜𝑝 = = 𝐼𝑂 cos 𝜃0 … … … (5.3)
𝑅𝑂
√(𝐼0 𝑉0 )2 −(𝑃0 )2
sin 𝜃0 = … … … (5.4)
𝐼0 𝑉0

𝑉𝑂
𝐼𝑜𝑞 = = 𝐼𝑂 sin 𝜃0 … … … (5.5)
𝑋𝑂
𝑉𝑂
𝑅𝑂 = … … … (5.6)
𝐼𝑜𝑝

𝑉𝑂
𝑋𝑂 = … … … (5.7)
𝐼𝑜𝑞

𝑉0
𝑍0 = … … … (5.8)
𝐼0
𝑃𝑂 = 𝐼𝑂 × 𝑉𝑂 × cos 𝜃0 … … … (5.9)

SAFETY NOTES

5. Perhatikan batasan-batasan kemampuan peralatan


6. Naikkan tegangan transformator secara bertahap (gradual), jangan menerapkan
tegangan besar secara langsung
7. Untuk menghindari pemanasan berlebih (overheating) transformator, perhatikan
tegangan dan arus maksimum modul transformator PT 970721 yang diperbolehkan
sebagai berikut:

Tegangan maksimum yang diperbolehkan adalah 230 Volt per kumparan

Arus maksimum tanpa beban yang diperbolehkan adalah 0,6 Ampere

Arus maksimum berbeban yang diperbolehkan adalah 0,4 Ampere

8. Minta persetujuan asisten terkait cara pemasangan peralatan dan rangkaian sebelum
dioperasikan
9. Kalibrasi semua alat ukur sebelum digunakan
10. Sebelum percobaan dimulai pastikan power suply dalam keadaan minimum. Kemudian
setelah percobaan selesai, pastikan power suply juga dalam kondisi minimum sebelum
melanjutkan percobaan selanjutnya.

V.3 Alat dan Bahan

1. Transformator 1 phasa
2. AC power meter
3. Power supply
4. Kabel penghubung
5. Multimeter

V.4 Langkah Kerja

Gambar 5.2 Diagram rangkaian trafo beban nol

V.4.1 Percobaan 1: Perbandingan Transformasi Tegangan

1. Siapkan alat dan bahan


2. Rangkailah power supply, transformator, dan AC Power Meter sesuai dengan rangkaian
pengujian perbandingan transformasi
Gambar 5.3 Rangkaian Transformator dengan Perbandingan 230:230

3. Amati tegangan primer dan sekunder transformator


4. Dengan langkah yang sama, rangkailah beberapa kombinasi belitan primer dan
sekunder sesuai perbandingan dalam tabel pengamatan.
5. Catat hasil pengamatan pada tabel pengamatan transformasi.
6. Gambarlah hasil pengamatan dalam sebuah grafik yang merealisasikan antara tegangan
primer dan sekunder transformator.

Tabel 5.1 Data Perbandingan Transformasi Tegangan

V2 (Volt)
V1
No N1 : N2 = N1:N2 = N1 : N2 =
(Volt)
230 : 230 230 : 115 115 : 230
1 20
2 40
3 60
4 80
5 100
6 120
7 140
8 160
9 180
10 200
V.4.2 Percobaan 2: Transformasi Arus

1. Siapkan alat dan bahan


2. Rangkailah Power supply, Transformator, dan AC power meter sesuai dengan
rangkaian pengujian perbandingan transformasi
3. Hubungkan dengan beban dengan posisi beban maksimum.
4. Atur beban dan power suply hingga sesuai dengan I1 pada tabel pengamatan. Dengan
arus maksimum 0.1 Ampere
5. Amati arus primer dan sekunder transformator
6. Dengan langkah yang sama, rangkailah beberapa kombinasi belitan primer dan
sekunder sesuai perbandingan dalam tabel pengamatan
7. Catat hasil pengamatan pada tabel pengamatan transformasi.
8. Gambarlah hasil pengamatan dalam sebuah grafik yang merealisasikan antara arus
primer dan sekunder transformator.

Tabel 5.2 Data Perbandingan Transformasi Arus

12 (A)
No 11 (A) N1 : N2 = N1:N2 = N1 : N2 =
230 : 230 230 : 115 115 : 230
1 0,02
2 0,04
3 0,06
4 0,08
5 0,1

V.4.3 Percobaan 3: Pengujian Tanpa Beban (No Load Test)

1. Siapkan alat dan bahan


2. Rangkailah peralatan sesuai dengan diagram rangkaian dengan perbandingan 230:230.
3. Periksakan rangkaian kepada Asisten.
4. Setelah disetujui asisten, hubungkan rangkaian ke sumber tegangan.
5. Atur tegangan primer sebesar 20 V dengan mengatur power supply.
6. Catat penunjukkan alat-alat ukur Vo, Io, Po, dan Vs pada tabel pengamatan pengujian
tanpa beban.
7. Selanjutnya naikkan tegangan input secara bertahap hingga 200 V. Tiap tahap catat hasil
pengukuran seperti langkah 6.
8. Selesai percobaan putuskan hubungan dari sumber dan rapikan kembali alat dan bahan.

Tabel 5.3 Data Pengujian Tanpa Beban

Hasil Pengukuran Hasil Perhitungan


No
Vo (V) Io (mA) Po (W) Vs (V) Zo (Ω) Iop (Ω) Ioq (Ω) Ro (Ω) Xo (Ω)
1 20
2 40
3 60
4 80
5 100
6 120
7 140
8 160
9 180
10 200
UNIT VI

HUBUNG SINGKAT TRANSFORMATOR SATU PHASA

VI.1 Tujuan Praktikum

1. Mahasiswa dapat menentukan nilai tahanan ekivalen transformator satu phasa


2. Mahasiswa dapat menentukan rugi tembaga (Pcu) transformator satu phasa

VI.2 Dasar Teori

Transformator yang bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnet, terdiri dari


belitan kawat tembaga pada inti teras baja lunak. Dimana belitan itu dilairi arus AC akan
mempunyai impedansi dengan besaran tertentu. Impedansi tersebut mengakibatkan adanya
drop tegangan dan kerugian daya diserap oleh belitan itu sendiri. Drop dengan kerugian daya
maksimum didapat saat transformator bekerja pada beban penuh (arus mengalir maksimum).
Oleh sebab itu, keandalan kerja transformator sangat bergantung kepada dua hal tersebut diatas.
Yaitu semakin kecil drop tegangan dan kerugian daya (Pcu) berarti efisiensi suatu transformator
semakin baik. Untuk menentukannya dapat dilakukan dengan percobaan hubung singkat.

Gambar 6.1 Skematik diagram

Dalam percobaan ini, posisi belitan sekunder transformator dihubung singkat sehingga
transformator bekerja hanya melayani tahanan belitannya sendiri. Hasil penunjukan watt meter
adalah besar rugi tembaga transformator dan ditambah dengan penunjukan alat ukur lainnya
akan dapat dihitung tahanan ekivalen transformator. Dari data-data pengukuran dan
perhitungan akan dapat ditentukan kapasitas beban yang dapat dilayani transformator.
Perumusan dalam hubung singkat transformator satu phasa

𝑉𝑠𝑐
𝑍𝑒𝑞 = … … … (6.1)
𝐼𝑠𝑐
𝑃𝑠𝑐
cos 𝜑𝑠𝑐 = … … … (6.2)
𝐼𝑠𝑐 𝑉𝑠𝑐

𝑅𝑒𝑞 = 𝑍𝑒𝑞 cos 𝜑𝑠𝑐 … … … (6.3)

𝑋𝑒𝑞 = 𝑍𝑒𝑞 sin 𝜑𝑠𝑐 … … … (6.4)

𝑋𝑒𝑞 = √𝑍𝑒𝑞 2 − 𝑅𝑒𝑞 2 … … … (6.5)

VI.3 Alat dan Bahan

1. Transformator 1 phasa
2. Power supply
3. Kabel penghubung
4. AC power meter
5. Ampere meter

VI.4 Langkah Kerja

Pre-Prosedural

1. Arus maksimum percobaan = I nominal = 0,6 A.


2. Dalam percobaan hubung singkat, tegangan kerja jauh lebih kecil dari tegangan
nominal.
3. Naikkan tegangan transformator secara bertahap (gradual), jangan menerapkan
tegangan besar secara langsung.
4. Kalibrasi semua alat ukur sebelum digunakan.
5. Jangan menghubungkan rangkaian ke sumber tanpa persetujuan asisten.

6. Sebelum percobaan dimulai pastikan power suply dalam keadaan minimum. Kemudian
setelah percobaan selesai, pastikan power suply juga dalam kondisi minimum sebelum
melanjutkan percobaan selanjutnya.
Gambar 6.2 Diagram rangkaian pengujian hubung singkat

VI.4.1 Percobaan Hubung Singkat Transformator Satu Phasa

1. Siapkan alat dan bahan


2. Rangkailah peralatan sesuai dengan diagram rangkaian

Gambar 6.3 Rangkaian Percobaan Hubung Singkat

3. Periksalah rangkaian kepada asisten. Setelah disetujui asisten, hubungkan rangkaian ke


sumber tegangan
4. Atur tegangan input dengan mengatur power supply hingga Amperemeter menunjukkan
0,1 A. Catat penunjukan alat-alat ukur Vsc, Isc, dan Psc pada tabel hasil pengukuran
5. Selanjutnya naikkan arus Isc dalam tahap 0,05 A sampai maksimal 0,6 A dengan
memutar powersuply secara bertahap. Setiap tahap catat hasil pengukuran seperti
langkah 4.
6. Selesai percobaan putuskan hubungan dari sumber, dan rapikan kembali alat dan bahan.
Tabel 6.1 Data pengamatan hubung singkat trafo satu phasa

Hasil Pengukuran Hasil Perhitungan


No Isc
Vsc (V) Psc (W) Zeq (Ω) Req (Ω) Xeq (Ω) cos 𝜑 sin 𝜑
(A)
1 0.05
2 0.10
3 0.15
4 0.20
5 0.25
6 0.30
7 0.35
8 0.40
9 0.45
10 0.50
UNIT VII

PEMBEBANAN PADA TRANSFORMATOR SATU PHASA

VII.1 Tujuan Praktikum

1. Mahasiswa mampu menentukan regulasi transformator satu phasa pada pembebanan


yang berbeda-beda
2. Mahasiswa mampu menentukan efisiensi transformator satu phasa pada pembebanan
yang berbeda-beda
3. Mahasiswa mampu menggambarkan diagram fasor tegangan trafo pada pembebanan
yang berbeda-beda

VII.2 Dasar Teori

Apabila suatu transformator dihubungkan dengan sebuah beban, maka pada lilitan
sekunder mengalir arus sebesar I2. Belitan sekunder cenderung melemahkan fluks magnet pada
inti sehingga tegangan sekundernya akan mengalami penurunan, turunnya tegangan ini
disebabkan oleh impedansi dari transformator itu sendiri yaitu I x Zeq. Akan tetapi arus pada
sisi primer akan mengimbanginya sehingga fluks magnet akan konstan (I1 naik).

Perubahan tegangan dari tegangan tanpa beban ke tegangan dengan beban penuh disebut
dengan regulasi tegangan yang dapat dinyatakan dengan rumus:

𝑉2𝑁𝐿 − 𝑉2
% 𝑅𝑒𝑔𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 = 𝑥 100 % . . . . . (7.1)
𝑉2

Sedangkan efisiensi transformator adalah perbandingan antara daya keluaran trafo


dengan daya masukannya dapat dinyatakan sebagai berikut:

𝑃𝑜𝑢𝑡
%𝜂 = 𝑥 100 % . . . . . (7.2)
𝑃𝑖𝑛
VII.3 Alat dan Bahan

1. Transformator satu phasa


2. Voltmeter
3. Amperemeter
4. Power supply
5. Beban resistif
6. Kabel penghubung

SAFETY NOTES

1. Perhatikan batasan-batasan kemampuan peralatan


2. Naikkan beban transformator secara bertahap (gradual), jangan menaikkan beban secara
langsung.
3. Untuk menghindari pemanasan berlebih (overheating) transformator, perhatikan
tegangan dan arus maksimum modul transformator PT 970721 yang diperbolehkan
sebagai berikut:

Tegangan maksimum yang diperbolehkan adalah 230 Volt per kumparan

Arus maksimum berbeban yang diperbolehkan adalah 0,4 Ampere

4. Minta persetujuan asisten terkait cara pemasangan peralatan dan rangkaian sebelum
dioperasikan
5. Kalibrasi semua alat ukur sebelum digunakan

6. Sebelum percobaan dimulai pastikan power suply dalam keadaan minimum. Kemudian
setelah percobaan selesai, pastikan power suply juga dalam kondisi minimum sebelum
melanjutkan percobaan selanjutnya.
VII.4 Langkah Kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan


2. Rangkailah peralatan sesuai dengan diagram rangkaian

Gambar 7.3 Diagram rangkaian pembebanan trafo

Gambar 7.4 Rangkaian Percobaan Pembebanan Trafo Satu Fasa

3. Atur tegangan sekunder trafo pada kondisi tanpa beban V2NL = 50 V


4. Ukur beban resistif menggunakan multimeter terlebih dahulu sesuai tabel pengamatan.
5. Pasang beban resistif ke transformator.
6. Ulangi langkah 4 dan 5 untuk setiap nilai beban.
7. Catat hasil penunjukan semua alat ukur pada tabel yang sudah disediakan
8. Hitung regulasi tegangan dan efisiensi pada kondisi pembebanan yang berbeda
Tabel 7.1. Data Pengamatan Pembebanan Pada Transformator Satu Phasa

Beban Hasil Pengamatan Hasil Perhitungan


No
V1 (V) P1 (W) V2 (V) I2 (A) P2 (W) Regulasi (%) η (%)
1 0.2 kΩ
2 0.4 kΩ
3 0.6 kΩ
4 0.8 kΩ
5 1 kΩ
UNIT VIII

MENENTUKAN POLARITAS TRANSFORMATOR

VIII.1 Tujuan Praktikum

1. Setelah melaksanakan praktek ini diharapkan mahasiswa dapat menetukan polaritas satu
phase.

VIII.2 Dasar Teori

Masing-masing ujung primer dari suatu transformator satu fase polaritasnya selalu
bergantian pada waktu bekerja. Hal yang samajuga terjadi pada kumparan sekunder. Polaritas
perlu diketahui untuk membuat sambungan-sambungan pada trafo. Polaritas suatu
transformator ditentukan oleh arah-arah lilitannya.

Untuk menentukan polaritas transformator adalah dengan menghubungkan salah satu


polaritas primer dengan polaritas sekunder. Apabila tegangan primer lebih besar dari bagian
yang tidak disambung, berarti bagian yang dihubungkan polaritasnya sejenis(substractive) dan
bila tegangan primer lebih kecil dari tegangan bagian yang tidak disambnung, berarti bagian
yang dihubungkan polaritasnya berbeda (additive).

Dalam jenis Polaritas Aditif tegangan antara kumparan primer dan juga kumparan
sekunder dari transformator akan menjadi jumlah dari dua tegangan ini. Di sini tegangan
dinotasikan dengan Vc, sedangkan kumparan primer adalah Va (tegangan tinggi) dan kumparan
sekunder adalah Vb (tegangan rendah). Tegangan total untuk polaritas aditif,
𝑉𝑐 = 𝑉𝑎 + 𝑉𝑏 … … … (8.1)

Gambar 8.1 Skema Polaritas Aditif


Dalam jenis polaritas ini, tegangan antara kumparan primer serta kumparan sekunder dari
transformator akan menjadi pengurangan dari kedua tegangan. Di sini tegangan dinotasikan
dengan Vc, sedangkan kumparan primer adalah Va (tegangan tinggi) dan kumparan sekunder
adalah Vb (tegangan rendah). Tegangan total untuk polaritas subtraktif
𝑉𝑐 = 𝑉𝑎 − 𝑉𝑏 … … … (8.2)

Gambar 8.2 Skema Polaritas Substraktif

VIII.3 Alat dan Bahan


1. Perangkat komputer
2. Software Power Simulator
VIII.4 Langkah Kerja

1. Buka Software PSIM dan buat lembar kerja baru.


2. Susunlah komponen yang akan digunakan sesuai dengan gambar rangkaian di bawah
ini.

Gambar 1 Rngkaian simulasi polaritas transformator

3. Masukkan parameter setiap komponen dengan cara klik 2 kali pada omponen yang akan
diisi parameternya.

Gambar 2 Parameter tegangan listrik AC


Gambar 3 Parameter resistansi

Gambar 4 Parameter belitan transformator primer dan sekunder


4. Masukkan Simulation Control untuk melakukan Run simulasi. SimulationControl
berada pada menu Simulate dan pilih Simulation Control.

Gambar 5 Simulation Control

5. Lakukan penyimpan file simulasi sebelum dijalankan. Lalu klik tombol run untuk
menjalankan simulasi.

Gambar 6 Tombol Run Simulation


6. Pilih alat ukur dan tekan tombol Add satu per satu sampai alat ukur masuk ke kolom
sbelah kanan (Variabel for display).

Gambar 7 Variable for display


7. Setelah alat ukur semua tampil maka pilih tampilan data ukur pada bagianbawah untuk
menampilkan nilai RMS atau maksimum

Gambar 8 Menampilkan nilai RMS


8. Lakukan langkah 3 sampai 7 dengan mengganti sumber tegangan listrik AC menjadi
220 V.
9. Ulangi langkah 2 sampai 8 dengan mengganti jenis transformator menjadi ideal
transformator (inverted)
10. Catat dan analisa hasil percobaan yang telah didapatkan pada table berikut ini.

Tabel 8.1 Hasil Percobaan Polaritas Transformator


No Transformator V1 V2 V3 Polaritas
1 Ideal Transformer
(311 V)
2 Ideal Transformer
(220 V)
3 Ideal Transformer
Inverted
(311 V)
4 Ideal Transformer
Inverted
(220 V)
UNIT IX

HUBUNGAN TRANSFORMATOR 3 PHASA

IX.1 Tujuan Praktikum

Setelah melaksanakan praktek ini diharapkan mahasiswa dapat:

1. Membuat sambungan kelompok Y, D dan Z dari transformator 3 phasa

2. Menentukan beda phasa antara lilitan primer dan sekunder pada masing-masing sambungan.

IX.2 Dasar Teori

IX.2.1 Transformator 3 Fasa


Transformator adalah alat yang digunakan untuk menaikan atau menurunkan tegangan
dengan cara induksi elektromagnetik. Pada Transformator 3 fasa, terdapat 3 kumparan primer
dan 3 kumparan sekunder yang dapat dimasuki dengan 3 tegangan listrik dan mengeluarkan 3
tegangan listrik, sementara transformatornya hanya satu.
Sebuah transformator tiga fasa secara prinsip sama dengan sebuah transformator satu fasa,
yaitu Hukum Induksi Faraday. Transformator satu fase dan tiga fase berbeda dalam konfigurasi
kabel. Perbedaan yang paling mendasar adalah pada sistem kelistrikannya yaitu sistem satu
fasa dan tiga fasa. Sehingga sebuah transformator tiga fasa bisa dihubung bintang, segitiga, atau
zig-zag.

IX.2.2 Jenis Umum Hubungan Transformator


Sebuah transformator tiga fasa dapat dihubung bintang, segitiga, atau zig-zag yang akan
dipaparkan berikut ini.
1. Hubungan Bintang
Hubungan bintang adalah hubungan transformator tiga fasa, dimana ujung-ujung
awal atau akhir lilitan disatukan. Titik dimana tempat penyatuan dari ujung-ujung lilitan
merupakan titik netral. Arus transformator tiga phasa dengan kumparan yang dihubungkan
bintang yaitu; IA, IB, IC masing-masing berbeda 120°.
2. Hubungan Segitiga
Hubungan segitiga adalah suatu hubungan transformator tiga fasa, dimana cara
penyambungannya ialah ujung akhir lilitan fasa pertama disambung dengan ujung mula
lilitan fasa kedua, akhir fasa kedua dengan ujung mula fasa ketiga dan akhir fasa ketiga
dengan ujung mula fasa pertama. Tegangan transformator tiga phasa dengan kumparan
yang dihubungkan segitiga yaitu; VA, VB, VC masing-masing berbeda 120°.
3. Hubungan Zig- Zag
Transformator zig–zag merupakan transformator dengan tujuan khusus. Salah satu
aplikasinya adalah menyediakan titik netral untuk sistem listrik yang tidak memiliki titik
netral. Pada transformator zig–zag masing–masing lilitan tiga fasa dibagi menjadi dua
bagian dan masing–masing dihubungkan pada kaki yang berlainan.

Gambar 9.1 Rangkaian Umum Hubungan Bintang, Segitiga, dan Zig- Zag

IX.2.3. Hubungan- Hubungan Transformator Tiga Phasa


Dalam pelaksanaanya, tiga buah lilitan phasa pada sisi primer dan sisi sekunder dapat
dihubungkan dalam bermacam-macam hubungan, seperti bintang dan segitiga, dengan
kombinasi Y-Y, Y-Δ, Δ-Y, Δ-Δ.

1. Hubungan Bintang- Bintang (Y-Y)


Pada hubungan bintang-bintang, rasio tegangan fasa-fasa (L-L) pada primer dan
sekunder adalah sama dengan rasio setiap trafo. Sehingga, tejadi pergeseran fasa sebesar
30° antara tegangan fasa-netral (L-N) dan tegangan fasa-fasa (L-L) pada sisi primer dan
sekundernya. Hubungan bintang-bintang ini akan sangat baik hanya jika pada kondisi
beban seimbang. Karena, pada kondisi beban seimbang menyebabkan arus netral (IN) akan
sama dengan nol. Dan apabila terjadi kondisi tidak seimbang maka akan ada arus netral
yang kemudian dapat menyebabkan timbulnya rugi-rugi. Tegangan phasa primer
sebanding dengan tegangan phasa sekunder.
Gambar 9.2 Rangkaian Transformator Hubungan Y-Y

2. Hubungan Star- Delta (Y-Δ)


Transformator hubungan Y-Δ, digunakan pada saluran transmisi sebagai penaik
tegangan. Rasio antara sekunder dan primer tegangan fasa-fasa adalah 1/√3 kali rasio setiap
trafo. Terjadi sudut 30° antara tegangan fasa-fasa antara primer dan sekunder yang berarti
bahwa trafo Y-Δ tidak bisa diparalelkan dengan trafo Y-Y atau trafo Δ-Δ. Pada hubungan
ini tegangan kawat ke kawat primer sebanding dengan tegangan phasa primer, dan
tegangan kawat ke kawat sekunder sama dengan tegangan phasa.

Gambar 9.3 Rangkaian Transformator Hubungan Y-Δ

3. Hubungan Delta- Star (Δ-Y)


Transformator hubungan Δ-Y, digunakan untuk menurunkan tegangan dari tegangan
transmisi ke tegangan rendah. Pada hubungan Δ-Y, tegangan kawat ke kawat primer sama
dengan tegangan phasa primer.

Gambar 9.4 Rangkaian Transformator Hubungan Δ-Y


4. Hubungan Delta- Delta (Δ-Δ)
Pada transformator hubungan Δ-Δ, tegangan kawat ke kawat dan tegangan phasa
sama untuk sisi primer dan sekunder transformator. Pada jenis ini ujung fasa dihubungkan
dengan ujung netral kumparan lain yang secara keseluruhan akan terbentuk hubungan
delta/ segitiga.

Gambar 9.5 Rangkaian Transformator Hubungan Δ-Δ

IX.3 Alat dan Bahan

1. Perangkat komputer
2. Software Proteus
IX.4 Langkah Kerja

IX.4.1 Percobaan 1: Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Star-Star (Y – Y)

1. Buatlah rangkaian wiring dibawah ini dengan cara menyiapkan 2 komponen utama
pada Proteus, yaitu:
• 1 buah Transformator AC 3 Fasa R, S, T
Ketikkan pada pick devices: TRANS-3PHASE
• 1 buah Sumber Tegangan AC 3 Fasa
Ketikkan pada pick devices: V3PHASE

Gambar 1 Transformator Hubung Star-Star (Y – Y)

2. Pasangkan Voltmeter AC pada tiap-tiap titik pengukuran tegangan seperti gambar


dibawah ini dan jangan lupa beri penamaan variabel pada jalur kabel dan titik
pengukuran tegangan.

Gambar 2 Spesifikasi Tegangan AC 3 Fasa Transformator Hubung Star-Star (Y – Y)


Gambar 3 Spesifikasi Transformator Hubung Star-Star (Y – Y)

Gambar 4 Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Star-Star (Y – Y)


3. Melakukan pengukuran tegangan dengan mengubah nilai amplitudo tegangan
menggunakan satuan AC Volts pada V3PHASE seperti pada data pengamatan
berikut:

Tabel 9.1 Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Star-Star (Y – Y)


NO Sumber Tegangan A - B Tegangan a - b Tegangan B - c Tegangan C - b
Tegangan
AC 3 Fasa

1 5 Volt
2 10 Volt
3 15 Volt
4 20 Volt

4. Mencatat hasil pengukuran tegangan tiap-tiap titik pada data pengamatan

IX.4.2 Percobaan 2: Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Delta-Delta (D–D)

1. Buatlah rangkaian wiring dibawah ini dengan cara menyiapkan 2 komponen utama
pada Proteus, yaitu:
• 1 buah Tranformator 3 Fasa
Ketikkan pada pick devices: TRANS-3PHASE
• 1 buah Sumber Tegangan 3 Fasa AC
Ketikkan pada pick devices: V3PHASE

Gambar 5 Transformator Hubung Delta-Delta (D – D)


2. Pasangkan Voltmeter AC pada tiap-tiap titik pengukuran tegangan seperti gambar
dibawah ini dan jangan lupa beri penamaan variabel pada jalur kabel dan titik
pengukuran tegangan.

Gambar 6 Spesifikasi Tegangan AC 3 Fasa Transformator Hubung Delta-Delta (D – D)

Gambar 7 Spesifikasi Transformator Hubung Delta-Delta (D – D)


Gambar 8 Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Delta-Delta (D – D)

3. Lakukan pengukuran tegangan dengan mengubah sumber tegangan dengan satuan


AC Volts pada V3PHASE seperti pada data pengamatan berikut:

Tabel 8.2 Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Delta-Delta (D – D)


NO Sumber Tegangan A - B Tegangan a - b Tegangan B - c Tegangan C - b
Tegangan 3
Fasa

1 5 Volt
2 10 Volt
3 15 Volt
4 20 Volt

4. Mencatat hasil pengukuran tegangan tiap-tiap titik pada data pengamatan


IX.4.3. Percobaan 3: Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Star-Delta (Y– D)

1. Buatlah rangkaian wiring dibawah ini dengan cara menyiapkan 2 komponen utama
pada Proteus, yaitu:
• 1 buah Tranformator 3 Fasa
Ketikkan pada pick devices: TRANS-3PHASE
• 1 buah Sumber Tegangan 3 Fasa AC
Ketikkan pada pick devices: V3PHASE

Gambar 9 Transformator Hubung Star-Delta (Y – D)

2. Pasangkan Voltmeter AC pada tiap-tiap titik pengukuran tegangan seperti gambar


dibawah ini dan jangan lupa beri penamaan variabel pada jalur kabel dan titik
pengukuran tegangan.

Gambar 10 Spesifikasi Tegangan AC 3 Fasa Transformator Hubung Star-Delta (Y – D)


Gambar 11 Spesifikasi Transformator Hubung Star-Delta (Y – D)

Gambar 12 Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Star-Delta (Y – D)


3. Lakukan pengukuran tegangan dengan mengubah sumber tegangan dengan satuan
AC Volts pada V3PHASE seperti pada data pengamatan berikut:

Tabel 8.3 Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Star-Delta (Y – D)


NO Sumber Tegangan Tegangan a Tegangan Tegangan Tegangan
Tegangan A-B - b B-c C-b C-c
3 Fasa

1 5 Volt
2 10 Volt
3 15 Volt
4 20 Volt

4. Mencatat hasil pengukuran tegangan tiap-tiap titik pada data pengamatan

IX.4.4 Percobaan 4: Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Delta-Star (D – Y)

1. Buatlah rangkaian wiring dibawah ini dengan cara menyiapkan 2 komponen utama
pada Proteus, yaitu:
• 1 buah Tranformator 3 Fasa
Ketikkan pada pick devices: TRANS-3PHASE
• 1 buah Sumber Tegangan 3 Fasa AC
Ketikkan pada pick devices: V3PHASE

Gambar 13 Transformator Hubung Delta-Star (D – Y)


2. Pasangkan Voltmeter AC pada tiap-tiap titik pengukuran tegangan seperti gambar
dibawah ini dan jangan lupa beri penamaan variabel pada jalur kabel dan titik
pengukuran tegangan.

Gambar 14 Spesifikasi Tegangan AC 3 Fasa Transformator Hubung Delta-Star (D – Y)

Gambar 15 Spesifikasi Transformator Hubung Delta-Star (D – Y)


Gambar 16 Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Delta-Star (D – Y)

3. Lakukan pengukuran tegangan dengan mengubah sumber tegangan dengan satuan


AC Volts pada V3PHASE seperti pada data pengamatan berikut:

Tabel 9.4 Pengukuran Tegangan Transformator Hubung Delta-Star (D – Y)


NO Sumber Tegangan Tegangan Tegangan Tegangan Tegangan
Tegangan A-B a - b B-c C-b C-c
3 Fasa

1 5 Volt
2 10 Volt
3 15 Volt
4 20 Volt

4. Catatlah hasil pengukuran tegangan tiap-tiap titik pada data pengamatan

Anda mungkin juga menyukai