0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Besaran, Energi, Momentum, dan Elastisitas

Dokumen tersebut membahas tentang besaran dan satuan fisika, momentum dan impuls, usaha dan energi, serta elastisitas. Secara khusus membahas definisi besaran dan satuan dasar sistem metrik, konversi satuan, jenis-jenis energi, hukum kekekalan energi dan momentum, serta sifat elastisitas bahan.

Diunggah oleh

Muhammad Dwi Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Besaran, Energi, Momentum, dan Elastisitas

Dokumen tersebut membahas tentang besaran dan satuan fisika, momentum dan impuls, usaha dan energi, serta elastisitas. Secara khusus membahas definisi besaran dan satuan dasar sistem metrik, konversi satuan, jenis-jenis energi, hukum kekekalan energi dan momentum, serta sifat elastisitas bahan.

Diunggah oleh

Muhammad Dwi Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Besaran dan Satuan, Impuls dan Momentum, Usaha dan Energai dan Elastisitas

1. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bab I Besaran dan Satuan Sifat-sifat dari suatu benda atau
kejadian yang kita ukur, misalnya panjang benda, massa benda, lamanya waktu lari mengelilingi sebuah
lapangan disebut besaran. Dalam kehidupan di dunia masyarakat terdapat satuan-satuan yang tidak
standar atau tidak baku, misalnya satuan panjang dipilih depa atau jengkal. Satuan tersebut tidak baku
karena tidak mempunyai ukuran yang sama untuk orang yang berbeda. Satu jengkal orang dewasa lain
dengan satu jengkal anak-anak. Itulah sebabnya jengkal dan depan tidak dijadikan satuan yang standar
dalam pengukuran fisika. Oleh karena itu, kami menyusun makalah Besaran dan Satuan agar kita dapat
mengukur sesuatu sesuai dengan ukuran yang sama antara satu orang dengan orang lainnya. Bab II
Usaha dan Energi Dalam kehidupan manusia, usaha dan energi berperan vital maka perlu pendalamam
untuk dapat menguasai materi usaha dan energy. Kita tahu bahwa setiap perilaku kita menghasilkan
usaha dan memerlukan energy. Energy adalah hal yang paling dibutuhkan di dunia ini karena banyak
sekali pemanfaatan sumber daya alam untuk dijadikan energy yang mudah dan murah. Bab III
Momentum dan Impuls Implus didefinisikan sebagai besarnya perubahan momentum yang disebabkan
oleh gaya yang terjadi pada waktu singkat. Definisi lain dari impuls (diperoleh dari penurunan Hukum II
Newton) adalah hasil kali antara gaya singkat yang bekerja pada benda dengan waktu kontak gaya pada
benda (biasanya sangat kecil). Berdasarkan definisi di atas, momentum dan implus sering terjadi dalam
kehidupan kita sehari-hari, maka penting bagi kita untuk mempelajari momentum dan implus untuk
mengetahui sebab akibat dari setiap kejadian dalam kehidupan sehari-hari.

2. 2 Bab IV Elastisitas Didalam kehidupan yang semakin canggih, kita tidak pernah terlepas dari kata
fisika. Misalnya pegas, walaupun kadang kita tidak menyadari hal tersebut. Ketika mengendarai sepeda
motor atau berada dalam sebuah mobil, yang bergerak di jalan atau yang permukaanya tidak rata atau
dengan kata lainnya yaitu berlubang. Pegas membantu mengerem atau meredam hingga kita bisa
berhenti. Gerak suatu benda tegar yang merupakan suatu abstraksi matematis guna memudahkan
perhitungan karena semua benda nyata sampai suatu batas tertentu, berubah dibawah pengaruh gaya
yang dikerjakan terhadapnya. Hubungan antara setiap jenis tegangan dengan regangan yang
bersangkutan penting peranannya dalam ilmu fisika yang disebut dengan teori elastis atau pada ilmu
kekuatan bahan di bidang pemesinan. Konstanta suatu pegas dan mempelajari hubungan antara gaya
pegas dan pertambahan panjang pegas. Dengan latar belakang tersebut kami menyusun makalah
dengan sub bab elastisitas. 1.2 Rumusan Masalah Bab I Sistem Satuan 1. Apakah yang dimaksud dengan
system satuan dan contohnya dalam system satuan SI dan British? 2. Apakah yang dimaksud dengan
satuan dasar dan satuan turunan? 3. Bagaimana cara melakukan konversi satuan? Bab II Usaha dan
Energi 4. Apa yang dimaksud dengan usaha dan energi? 5. Apa yang dimaksud dengan energi kinetic? 6.
Apa yang dimaksud dengan energi potensial gravitasi? 7. Apa yang dimaksud dengan energi potensial
elastic? 8. Bagaimana bunyi Hukum Kekekalan Energi? 9. Apa yang dimaksud dengan daya? 10.
Bagaimana hubungan daya dengan kecepatan? Bab III Impuls dan Momentum 11. Apa yang dimaksud
dengan impuls dan momentum?

3. 3 12. Apa satuan impuls dan momentum? 13. Bagaimana bunyi hokum Kekekalan Momentum Linear?
14. Apa yang dimaksud dengan tumbukan tidak elastic? 15. Apa yang dimaksud dengan tumbukan
elastic? Bab IV Elastisitas 16. Apa yang dimaksud dengan tegangan (stress)? 17. Apa yang dimaksud
dengan regangan (strain)? 18. Apa yang dimaksud dengan elastisitas dan plastisitas? 19. Apa yang
dimaksud dengan modulus elastic? 20. Apa yang dimaksud dengan konstanta gaya? 1.3 Tujuan Bab I
Sistem Satuan 1. Menjelaskan pengertian system satuan dan contohnya dalam system satuan SI dan
British. 2. Menjelaskan pengertian satuan dasar dan satuan turunan. 3. Menjelaskan cara melakukan
konversi satuan. Bab II Usaha dan Energi 4. Menjelaskan pengertian usaha dan energi. 5. Menjelaskan
pengertian energi kinetic. 6. Menjelaskan pengertian energi potensial gravitasi. 7. Menjelaskan
pengertian energi potensial elastic. 8. Menjelaskan bunyi Hukum Kekekalan Energi. 9. Menjelaskan
pengertian daya. 10. Menjelaskan hubungan daya dengan kecepatan. Bab III 11. Menjelaskan pengertian
impuls dan momentum. 12. Menjelaskan satuan impuls dan momentum. 13. Menjelaskan bunyi hukum
Kekekalan Momentum Linear. 14. Menjelaskan pengertian tumbukan tidak elastic. 15. Menjelaskan
pengertian tumbukan elastic. Bab IV 16. Menjelaskan pengertian tegangan (stress).

4. 4 17. Menjelaskan pengertian regangan (strain). 18. Menjelaskan pengertian elastisitas dan plastisitas.
19. Menjelaskan pengertian modulus elastic. 20. Menjelaskan pengertian konstanta gaya.

5. 5 BAB II PEMBAHASAN Bab I Sistem Satuan 2.1.1 Besaran dan Satuan Besaran adalah segala sesuatu
yang dapat ditentukan (diukur) nilainya dengan angka dan memiliki satuan. Satuan adalah suatu besaran
dapat dinyatakan dalam berbagai sistem satuan diantaranya Sistem Internasional, sistem MKS (meter
kilogram sekon), Sistem CGS (centimeter gram sekon) bahkan juga ada British Sistem atau Sistem Inggris.
Sistem yang berlaku ada yang bersifat umum dan lokal. Dalam Fisika sistem MKS dan CGS adalah sistem
satuan yang bersifat umum, sedangkan sistem yang berlaku secara internasional yaitu Sistem
Internasional (SI). British Sistem atau Sistem Inggris adalah sistem satuan yang berlaku lokal hanya untuk
beberapa negara seperti Inggris dan Amerika Serikat. Tabel 1.1 Sistem satuan dasar pada sistem matriks
Sistem Satuan MKS CGS 1. Panjang Meter cm 2. Massa Kg gr 3. Waktu Sec sec 4. Gaya Newton Dyne 5.
Usaha N.m = joule [Link] = erg 6. Daya joule/sec erg/sec Tabel 1.2 Sistem satuan British Sistem Satuan
British 1. Panjang foot ( kaki ) 2. Massa Slug 3. Waktu Sec 4. Gaya pound ( lb ) 5. Usaha [Link] 6. Daya
[Link]/sec

6. 6 2.1.2 Macam-macam Besaran Berdasarkan jenisnya, besaran di bagi menjadi dua, yaitu: [Link]
Besaran Pokok Besaran pokok adalah besaran yang satuannya didefinisikan terlebih dahulu dan tidak
dapat dijabarkan dari besaran lain. Dalam Satuan Internasional, besaran pokok ada 7 (tujuh) macam,
yaitu panjang (p), massa (m), waktu (t), suhu (T), kuat arus listrik (I), kuat cahaya, dan jumlah zat (n).
Satuan yang ditetapkan sebagai satuan internasional (SI) harus memenuhi tiga syarat : 1. bersifat tetap
(tidak mengalami perubahan) 2. bersifat internasional (berlaku dimana-mana) 3. bersifat mudah ditiru
(mudah dibuat atau diperbanyak lagi). Tabel 1.3 Matrik Besaran Pokok No. Besaran Pokok Satuan dalam
SI Lambang Satuan 1. Panjang Meter M 2. Masa Kilogram Kg 3. Waktu Sekon S 4. Kuat arus Ampere A 5.
Suhu Kelvin K 6. Intensitas cahaya Candela Cd 7. Jumlah zat Mole Mol [Link] Besaran Turunan Besaran
turunan adalah besaran-besaran yang diturunkan dari besaran-besaran pokok. Tabel 1.4 Matrik Besaran
Turunan No. Besaran Turunan Nama Satuan Lambang Satuan 1. Luas meter² m² 2. Volume meter³ m³ 3.
Massa jenis kilogram/meter³ kg/m³

7. 7 4. Kecepatan meter/sekon m/s 5. Gaya Newton N 6. Usaha Joule J 7. Daya Watt W Tabel 1.5 Matrik
Awalan dalam Satuan Faktor Awalan Simbol Faktor Awalan Simbol 1018 exa- E 10-1 desi- d 1015 peta- P
10-2 senti- c 1012 tera- T 10-3 mili- m 109 giga- G 10-6 mikro- Μ 106 mega- M 10-9 nano- n 103 kilo- K
10-12 piko- p 102 hekto- H 10-15 femto- f 101 deka- Da 10-18 ato- a 2.1.3 Konversi Satuan Konversi
satuan adalah perubahan dari suatu sistem satuan ke sistem satuan yang lain. Konversi satuan tidak
pernah merubah nilai dari suatu besaran. Tabel 1.6 Konversi Panjang Cm M Km In ft Mil 1 sentimeter 1
10-2 10-5 0,4 3,3 x 10- 2 6,2 x 10- 6 1 meter 100 1 10-3 40 3,3 6,2 x 10- 4 1 kilometer 105 103 1 4 x 104
3,3 x 103 6,2 x 10- 1 1 inchi 2,540 25,4 x 10-3 25,4 x 10-6 1 8,3 x 10-2 15,74 x 10-6 1 feet 30,48 30,48 x
10-2 30,48 x 10-5 12 1 18,9 x 10-5 1 mil 160,9 x 103 1.609 160,9 x 10-2 643,6 x 102 5.310 1

8. 8 Tabel 1.7 Konversi Luas M2 Cm2 Ft2 In2 1 meter persegi 1 104 10,76 1549,9 1 sentimeter Persegi
10-4 1 10,76 x 10-4 1549,9 x 10-4 1 foot persegi 92,9 x 10-3 929 1 14,4 x 10-4 1 inchi persegi 0,6452 x 10-
3 6,542 6,94 x 10-3 1 Tabel 1.8 Konversi Volume M2 Cm2 L In2 1 meter kubik 1 106 103 6,1 x 10-6 1
sentimeter Kubik 10-6 1 10-3 6,1 x 10-12 1 liter 10-3 103 1 6,1 x 10-9 1 inchi kubik 16,39 x 10-4 1639
16,39 x 10-1 1 Tabel 1.9 Konversi Tekanan Atm Dyne/cm2 Cm Hg Pa Lb/in2 1 atmosfer 1 10,67 x 105
75,98 10,13 x 104 14,69 1 dyne/cm2 936,9 x 10-9 1 71,185 x 10-6 9.490,79 x 10-5 1.3763,06x 10-9 1 cm
air raksa 13,16 x 10-3 140,42 x 10-2 1 1.333,1 193,32 x 10-3 1 Pascal = 1 N/m2 9,869 x 10-6 10,53 749,84
x 10-6 1 144,97 x 10-6 1 lb/in2 = 1 psi 68,05 x 10-3 726,1 x 102 5.170,44 x 10-3 6893 1

9. 9 Tabel 1.10 Konversi Massa G Kg slug Oz Lb 1 gram 1 10-3 68,5 35,2 x 10-3 2,2 x 10-3 1 kilogram 1000
1 68,5 x 103 35,2 2,2 1 slug 14,59 x 103 14,59 1 513.568 32.098 1 ounce 28,35 28,35 x 10-3 1.941,975 1
62,37 x 10-3 1 pound 453,6 453,6 x 10-3 31.071,6 15.966,72 x 10-3 1 Tabel 1.11 Konversi Massa Jenis
Slug/ft3 kg/m3 g/cm3 pound/ft3 pound/in3 1 Slug/ft3 1 5,15 x 10- 4 0,515 3,2 x 10-5 18,6 x 10-3 1 kg/m3
1,940 x 10-3 1 99,9 x 10-5 6,21 x 10-8 36,08 x 10-3 1 g/cm3 1,940 9,99 x 10-4 1 6,21 x 10-5 36,08 x 10-3 1
pound/ft3 31,08 x 10-3 160,06 x 10-7 16 x 10-3 1 578,09 x 10-3 1 pound/in3 53,71 276,60 x 10-4 27,66
171,87 x 10-5 1 Tabel 1.12 Konversi Daya Btu/h [Link]/s hp Kal/s Kw w 1 British termal unit per jam 1 21,6
x 10-2 39,29 x 10-5 69,97 x 10- 3 29,29 x 10-5 29,29 x 10-2 1 footpound per sekon 4,628 1 181,83 x 10-5
323,82 x 10-3 135,55 x 10-5 6,2 x 10-4 1 horsepower 2545 54972 x 10-2 1 178073,65 x 10-3 74543,05 x
10-5 6,2 x 10-1 1 kalori per sekon 14,29 308,664 x 10-3 561,4541 x 10-5 1 418,55 x 10-5 418,55 x 10-2 1
kilowatt 3413 73720,8 x 10-2 134.096 x 10-5 238.807,61 x 10-3 1 999,66 1 watt 3,413 73,72 x 10-2
134,09 x 10-5 238,807 x 10-3 99,96 x 10-5 1

10. 10 Tabel 1.13 Konversi Kecepatan Ft/s Km/jam m/s ml/jam Cm/s Knot 1 foot per sekon 1 1,09 0,3
0,68 30,48 0,59 1 km per jam 0,9113 1 0,27 0,62 27,77 0,53 1 meter per sekon 3,821 3,57 1 2,23 100,004
1,97 1 mile per jam 1,467 1,6 0,44 1 44,71 0,86 1 cm per sekon 0,0328 0,035 0,0098 0,022 1 0,02 1 knot
1,688 1,84 0,05064 1,147 51,45 1 Tabel 1.14 Konversi Usaha dan Jumlah Panas Btu erg [Link] hp.h J kal kW
h 1 btu 1 10, 55 x10 9 778, 21 64,7 2 x 10-5 10,55 252 293 x10 -6 1 erg 94, 81 x 10- 12 1 73,7 8 x 10-9
61,3 6 x 10-3 10-7 23,8 9 x10-9 27, 78 x10 -15 1 foot pound 1,2 85 x 10-3 13, 55 x10 6 1 83,1 6 x 10-10
135,5 2x 10-4 323, 82 x 10-3 37, 63 x10 -8 1 hourse power- jam 154 5 26, 85 x10 12 1,98 x 106 1 16,29 x
104 641, 4 x103 45, 25 x 10-2 1 joule 948 107 73,7 372, 1 23,8 277

11. 11 ,1 x 10-6 8 5 x 10-6 9 x 104 ,7 x10 -7 1 kalori 3,9 68 x 10-3 41, 86 x10 6 3,08 7 256, 81 x 10-8 418,5
x 10-4 1 1,1 62 x10 -6 1 kilowa tt-jam 341 3 36 x10 12 25,6 5 x 106 22,0 8 x 104 3,6 x105 860, 1 x103 1
Tabel 1.15 Konversi Gaya dyne N Lb Pdl gf kgf 1 dyne 1 10-5 22,48 x 10-5 72,3 x 10-6 1,02 x 10-3 10,19 x
10-7 1 newton 105 1 22,48 7,23 101,9 10,19 x 10-2 1 pound 4,448 x 103 4,448 1 321,6 x 10-3 4,532
45,32 x 10- 4 1 poundal 13830 13,83 x 10- 2 3,108 1 14,10 14,10 x 10- 3 1 gram gaya 980,7 9,807 x 10- 3
22,046 x 10-2 70,93 x 10-3 1 99,93 x 10-5 1 kilogram gaya 980,7 x 103 980,7 x 10- 2 220,46 70,91 999,33
1

12. 12 Bab II Usaha dan Energi 2.2.1 Pengertian Usaha dan Energi 1. Usaha Usaha adalah besarnya gaya
yang diberikan pada suatu benda sehingga benda tersebut mengalami perpindahan. Usaha sangat
dipengaruhi oleh dorongan dan tarikan (gaya). Apabila gaya disimbolkan dengan F dan perpindahan
dengan s, secara matematis usaha dituliskan dalam persamaan berikut. Dengan : W = usaha ([Link]) F =
gaya (lb) s = perpindahan (ft) Namun hal ini hanya berlaku jika gaya (F) dan sudut yang terbentuk (𝜃)
adalah konstan terhadap arah gerak titik tangkapnya. Jika usaha yang dilakukan membentuk sudut 𝜃
terhadp perpindahan, maka berlaku rumus : 2. Energi Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja
atau usaha. Energi merupakan besaran yang kekal, artinya energi tidak dapat diciptakan dan
dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari satu bentuk energy ke bentuk energi lain. Lambang untuk energi
adalah E, satuannya adalah SI adalah joule (J). satuan energi dalam satuan british adalah [Link]. 2.2.2
ENERGI KINETIK Energi kinetic hanya bergantung pada kecepatan/lajunya (v) dan bukan pada arah
benda itu bergerak. Sehingga apabila gaya besar, perpindahannya kecil atau sebaliknya. Rumus Energi
kinetic adalah : W = F.s 𝑾 = 𝑭. 𝒔. 𝐜𝐨𝐬 𝜽 𝑬 𝒌 = 𝟏 𝟐 𝒎. 𝒗 𝟐

13. 13 Jika usaha positif, energi kinetic akhir (𝐸𝑘1) lebih besar daripada energi kinetik mula-mula (𝐸𝑘2)
maka energi kinetic bertambah, dan sebaliknya. Dalam hal khusus, usaha sama dengan nol, sehingga
energi kinetiknya konstan. Sehingga 𝑊 = 𝐸𝑘2 − 𝐸𝑘1. Energi kinetic biasanya dinyatakan dalam satuan
Joule, erg.,atau foot-pound([Link]). 2.2.3 ENERGI POTENSIAL GRAVITASI Gaya gravitasi ke bawah terhadap
benda karena itu konstan. Arah gaya gravitasi berlawanan dengan perpindahan keatas. Sedangkan
rumus energi potensial dituliskan dengan rumus 𝐸 𝑝 = 𝑚𝑔ℎ, sehingga rumus usaha gravitasi adalah :
Karena usaha total sama dengan perubahan energi kinetik, maka Atau dapat juga ditulis 1 2 𝑚𝑣2 2 +
𝑚𝑔ℎ2 = 1 2 𝑚𝑣1 2 + 𝑚𝑔ℎ1, sehingga dapat diketahui bahwa jumlah dari energi potensial dan energi
kinetic disebut energi mekanik. Jika usaha positif, energi mekanik bertambah, dan sebaliknya. Dalam
pembahasan di atas, perubahan ketinggian (elevansi) yang menjadi subyek pembicaraan hanya kecil,
sehingga gaya gravitasi terhadap suatu benda dianggap konstan. Rumus umum untuk gaya gravitasi
adalah 𝐺𝑚𝑚 𝜀 𝑟2 di mana 𝑚 𝜀 adalah massa bumi. Maka, rumus umum energi potensial gravitasi
sebuah benda yang ditarik bumi adalah : 𝑬 𝒑( 𝒈𝒓𝒂𝒗𝒊𝒕𝒂𝒔𝒊) = −𝑮 𝒎𝒎 𝜺 𝒓 dan rumus Energi mekanik
total benda adalah 𝑬 = 𝟏 𝟐 𝒎𝒗 𝟐 − 𝑮 𝒎𝒎 𝜺 𝒓 . G, adalah tetapan gravitasi. G = 6,67 (80) x 10-11 m3 kg-
1 s-2 = 6,67 (80) x 10-11 N 𝑊𝑔𝑜𝑣 = −(𝑚𝑔ℎ2 − 𝑚𝑔ℎ1) 𝑊′ + 𝑊𝑔𝑟𝑜𝑣 = 𝐸𝑘2 − 𝐸𝑘1, 𝑊′ − ( 𝑚𝑔ℎ2 − 𝑚𝑔ℎ1) =
( 1 2 𝑚𝑣2 2 − 1 2 𝑚𝑣1 2 )

14. 14 2.2.4 ENERGI POTENSIAL ELASTIC Gaya elastic suatu benda dapat ditulis dalam rumus 𝐹 =
𝑘𝑥 ,dengan k adalah konstanta pegas. Karena dalam pegas, arah gaya berlawanan dengan arah
simpangan x, dan cos 𝜃 = -1, maka dalam tiap proses dimana pegas direnggangkan dari harga 𝑥1 𝑘𝑒𝑥2,
ialah 𝑊𝑒𝑙 = −( 1 2 𝑘𝑥2 2 − 1 2 𝑘𝑥1 2 ). Besaran 1 2 𝑘𝑥2 , yaitu setengah hasil kali konstanta gaya dengan
kuadrat koordinat benda, disebut energy potensial elastic benda tersebut. Jadi rumus untuk energy
potensial elastic adalah : Jumlah energi kinetic dan potensial benda sama dengan energi mekanik
totalnya dan usaha semua gaya – gaya yang bekerja pada benda itu, dengan pengecualian gaya elastic,
sama dengan perubahan energi mekanik total benda. 2.2.5 HUKUM KEKEKALAN ENERGI 1). Hukum
Kekekalan Energi “ Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari 1
bentuk energi ke bentuk energi yang lain.” Energi alam semesta adalah tetap, sehingga energi yang
terlibat dalam suatu proses kimia dan fisika hanya merupakan perpindahan atau perubahan bentuk
energi. Contoh perubahan bentuk energi : a) Energi listrik menjadi energi panas. Contoh perubahan
energi listrik menjadi energi panas terjadi pada mesin pemanas ruangan, kompor listrik, setrika listrik,
heater, selimut listrik, dan solder. b) Energi mekanik menjadi energi panas. Contoh perubahan energi
mekanik menjadi energi panas adalah dua buah benda yang bergesekan. Misalnya, ketika kamu
menggosok-gosokkan telapak tanganmu maka kamu akan merasa panas. 𝑬 𝒑(𝒆𝒍𝒂𝒔𝒕𝒊𝒌) = 𝟏 𝟐 𝒌𝒙 𝟐 .

15. 15 c) Energi mekanik menjadi energi bunyi. Perubahan energi mekanik menjadi energi bunyi dapat
terjadi ketika kita bertepuk tangan atau ketika kita memukulkan dua buah benda keras. d) Energi kimia
menjadi energi listrik. Perubahan energi pada baterai dan aki merupakan contoh perubahan energi
kimia menjadi energi listrik. e) Energi listrik menjadi energi cahaya dan kalor. Perubahan energi listrik
menjadi energi cahaya dan kalor terjadi pada berpijarnya bohlam lampu. Seperti telah disebutkan
sebelumnya bahwa energi cahaya biasanya disertai bentuk energi lainnya, misalnya kalor. Coba
dekatkan tanganmu ke bohlam lampu yang berpijar! Lama kelamaan tanganmu akan merasa semakin
panas. f) Energi cahaya menjadi energi kimia. Perubahan energi cahaya menjadi energi kimia dapat kita
amati pada proses pemotretan hingga terbentuknya foto. Hukum Kekekalan Energi Mekanik Hukum
kekekalan Enegi Mekanik berbunyi “Pada sistem yang terisolasi (hanya bekerja gaya berat dan tidak ada
gaya luar yang bekerja) selalu berlaku energi mekanik total sistem konstan.” 2.2.6 DAYA Daya adalah
Laju Energi yang dihantarkan selama melakukan usaha dalam periode waktu tertentu. Satuan SI (Satuan
Internasional) untuk Daya adalah Joule / Sekon (J/s) = Watt (W). Satuan Watt digunakan untuk
penghormatan kepada seorang ilmuan penemu mesin uap yang bernama James Watt. Satuan daya
lainnya yang sering digunakan adalah Daya Kuda atau Horse Power (hp), 1 hp = 746 Watt. Daya
merupakan Besaran Skalar, karena Daya hanya memiliki nilai, tidak memiliki arah. Rumus Daya : Satuan
daya adalah satu Joule per sekon (1 J s-1), atau biasa disebut watt (W). karena watt terlalu kecil, maka
yang sering dipakai adalah kilowatt (103 W) dan megawatt (106 W). 𝑷 = 𝑾 𝒕

16. 16 2.2.7 DAYA dan KECEPATAN Jika suatu gaya dilakukan pada sebuah partikel selagi partikel itu
bergerak sejauh s sepanjang lintasannya. Jika Fs adalah benar komponen gaya yang menyinggung
lintasan, maka usaha yang diberikan oleh W = Fs .s dan daya rata – rata ialah : 𝑷̅ = 𝚫𝐖 𝚫𝐭 = 𝑭𝒔 𝚫𝒔 𝚫𝐭 =
𝑭 𝒔 𝒗̅, dengan 𝑷 = 𝑭 𝒔 𝒗 dimana v adalah kecepatan sesaat.

17. 17 Bab III Impuls dan Momentum 2.3.1 Pengertian Impuls dan Momentum a. Impuls Impuls adalah
hasil kali gaya dengan waktu yang ditempuhnya. Impuls merupakan besaran vector yang arahnya se arah
dengan arah gayanya. I = impuls F = gaya ∆t = selang waktu b. Momentum Momentum adalah hasil kali
massa benda dengan kecepatannya. Momentum suatu benda yang bergerak adalah hasil perkalian
antara massa benda dan kecepatannya. Oleh karena itu, setiap benda yang bergerak memiliki
momentum. Secara matematis, momentum linear ditulis sebagai berikut : P = momentum benda m =
massa benda v = kecepatan benda 2.3. 2 Satuan Impuls dan Momentum a. Satuan Impuls I = satuan gaya
x satuan waktu = newton x sekon = N . s = lb.s Jadi, satuan impuls dalam system british adalah lb.s b.
Satuan Momentum Satuan momentum adalah : p = satuan massa x satuan kecepatan = kg x m/s = slug.
ft/s Jadi, satuan momentum dalam system british adalah slug. ft/s I = F . ∆t P = m . v
18. 18 2.3.3 Kekekalan Momentum Linear 1. MOMENTUM LINEAR Momentum sebuah partikel adalah
sebuah vektor P yang didefinisikan sebagai perkalian antara massa partikel m dengan kecepatannya v,
yaitu : (1) Isac Newton dalam Principia menyebut hukum gerak yang kedua dalam bahasa momentum
yang ia sebut sebagai ”kuantitas gerak”. Dalam istilah modern, hukum kedua Newton berbunyi:
”Perubahan momentum (kuantitas gerak) benda tiap satuan waktu sebanding dengan gaya resultan
yang bekerja pada benda dan berarah sama dengan gaya tersebut.” Secara matematis pernyataan ini
dituliskan: (2) Jika komponen P diuraikan, dengan menganggap m bernilai konstan, maka hukum II
Newton dituliskan sebagai : (3) Pada kenyataannya, Hukum II Newton lebih sering dituliskan dalam
bentuk persamaan (3) di atas. Pada sebuah sistem partikel yang memiliki n buah partikel, masing-masing
memiliki momentum P1 , P2, … , Pn Jika dilihat secara kesuluruhan, sistem partikel tersebut mempunyai
momentum : (4) Selengkapnya di tuliskan : (5) F = 𝑑𝑝 𝑑𝑡 F = 𝑑𝑝 𝑑𝑡 = 𝑑 𝑑𝑡 ( 𝑚𝑣) = 𝑚 𝑑𝑣 𝑑𝑡 = 𝑚𝑎 P = m . v
P = P1 + P2 … + Pn P = m1v1 + m2v2 … + mnvn

19. 19 Jika massa total sistem adalah M dan kecepatan pusat massanya adalah vpm, maka : (6) Jika
Persamaan (6) dibagi dengan dt, maka diperoleh: (7) Dan akhirnya diperoleh: (8) M 𝑎 pm didefinisikan
sebagai gaya eksternal (Feks) (9) F eks didefinisikan sebagai gaya eksternal yang bekerja pada sistem
partikel. Penyebutan ini bermaksud agar tidak rancu dengan keberadaan gaya internal antar partikel.
Adapun jumlahan gaya internal antar partikel adalah nol, karena masing- masing saling meniadakan. 2.
KEKEKALAN MOMENTUM LINEAR Seandainya jumlah semua gaya eksternal yang bekerja pada sistem
sama dengan nol, maka: atau P = konstan (10) P = M . vpm “Momentum total sistem partikel sama
dengan perkalian massa total sistem partikel dengan kecepatan pusat massanya” 𝑑𝑃 𝑑𝑡 = 𝑑(𝑀𝑣 𝑝𝑚) 𝑑𝑡
= 𝑀 𝑑𝑣 𝑝𝑚 𝑑𝑡 𝑑𝑃 𝑑𝑡 = 𝑀𝑎 𝑝𝑚 𝑑𝑃 𝑑𝑡 = 𝐹𝑒𝑘𝑠 𝑑𝑃 𝑑𝑡 = 0

20. 20 Bila momentum total sistem P = P1 + P2 … + Pn, maka : (11) Momentum masing-masing partikel
dapat berubah, tetapi momentum sistem tetap konstan. 2.3. 4 Tumbukan Tumbukan biasanya
dibedakan dari kekal-tidaknya tenaga kinetik selama proses. Bila tenaga kinetiknya kekal, tumbukannya
bersifat elstik. Sedangkan bila tenaga kinetiknya tidak kekal tumbukannya tidak elastik. Dalam kondisi
setelah tumbukan kedua benda menempel dan bergerak bersama-sama, tumbukannya tidak elastik
sempurna. [Link] Tumbukan elastik Dari kekekalan momentum : m1 v1 + m2 v2 = m1v’1 + m2v’2 Dari
kekekalan tenaga kinetik : 1/2 m1 v1 2 + 1/2m2 v2 2 = 1/2m1v’1 2 + 1/2 m2v2’2 Dan diperoleh : v1 - v2 =
v’2 - v’1 Dari persamaan ketiga tumbukan elastis dapat dimodifikasi menjadi : e : koefisien elastisitas, e =
1 untuk tumbukan elastis P = P1 + P2 … + Pn = konstan = P0

21. 21 0 < e < 1 untuk tumbukan tidak elastis e = 0 untuk tumbukan tidak elastis sempurna [Link]
Tumbukan tidak elastic Tumbukan dikatakan tidak elastic jika energi kinetic system sebelum dan
sesudah tumbukan tidak sama, artinya ada sebagian energi kinetic yang hilang berubah menjadi bentuk
energi lain seperti energi panas. Jadi, energi kinetic sebelum tumbukan lebih besar dari energi kinetic
setelah tumbukan. Dari kekekalan momentum : m1 v1 + m2 v2 = m1v’1 + m2v’2 Kekekalan tenaga
mekanik tidak berlaku, berkurang/bertambahnya tenaga mekanik ini berubah / berasal dari tenaga
potensial deformasi (perubahan bentuk). [Link].1 Tumbukan tidak elastis sempurna. Pada tumbukan ini
setelah tumbukan kedua benda bersatu dan bergerak bersama-sama. Dari kekekalan momentum : m1
v1 + m2 v2 = (m1 + m2)v’
22. 22 Bab IV Elastisitas 2.4.1 Pengertian Elastisitas Bahan Elastisitas adalah kecenderungan bahan padat
untuk kembali ke bentuk aslinya setelah terdeformasi. Benda padat akan mengalami deformasi ketika
gaya diaplikasikan padanya. Jika bahan tersebut elastis, benda tersebut akan kembali ke bentuk dan
ukuran awalnya ketika gaya dihilangkan. (Wikipedia, ensiklopedia bebas). Sebuah benda dengan tingkat
tinggi elastisitas mampu untuk memiliki banyak perubahan bentuknya, dan masih bisa kembali ke
bentuk aslinya. Zat padat dengan sedikit atau tanpa elastisitas baik menjadi cacat permanen atau pecah
ketika sebuah gaya yang diterapkan kepada mereka. Elastisitas secara jangka panjang juga dapat
digunakan untuk menggambarkan kemampuan proses atau sistem untuk meregangkan atau bersikap
fleksibel. 2.4.2 Tegangan Tegangan atau stress adalah perbandingan antara gaya yang bekerja pada
benda daa luas penampang benda. Dirumuskan sebagai : Keterangan : σ = tegangan atau stress ( N/m2)
F = gaya ( N ) A = luas penampang batang ( m2 ) 2.4.3 Regangan Regangan atau strain adalah
perbandingan antara pertambahan panjang batang dan panjang mula-mula. Dirumuskan : 𝜀 = ∆𝑙 𝑙
Keterangan : l = panjang ( cm ; m ) ∆l = pertambahan panjang ( cm ; m ) 𝜎 = 𝐹 𝐴

23. 23 2.4.4 Elastisitas dan Plastisitas Elastisitas adalah Kemampuan suatu benda untuk kembali ke
bentuk semula setelah gaya luar yang diberikan hilang. Plastisitas adalah Ketidakmampuan suatu benda
untuk kembali ke bentuk semula setelah gaya luar yang diberikan hilang. 2.4.5 Modulus Elastic Modulus
elastisitas adalah angka yang digunakan untuk mengukur obyek atau ketahanan bahan untuk mengalami
deformasi elastis ketika gaya diterapkan pada benda itu. Modulus elastisitas suatu benda didefinisikan
sebagai kemiringan dari kurva tegangan-regangan di wilayah deformasi elastis: Bahan kaku akan
memiliki modulus elastisitas yang lebih tinggi. Modulus elastis dirumuskan dengan: Dimana tegangan
adalah gaya menyebabkan deformasi dibagi dengan daerah dimana gaya diterapkan dan regangan
adalah rasio perubahan beberapa parameter panjang yang disebabkan oleh deformasi ke nilai asli dari
parameter panjang. Jika stres diukur dalam pascal , kemudian karena regangan adalah besaran tak
berdimensi, maka Satuan untuk λ akan pascal juga. Menentukan bagaimana stres dan regangan yang
akan diukur, termasuk arah, memungkinkan untuk berbagai jenis modulus elastisitas untuk
didefinisikan. Tiga yang utama adalah:  Modulus Young ( E ) menjelaskan elastisitas tarik atau
kecenderungan suatu benda untuk berubah bentuk sepanjang sumbu ketika stress berlawanan
diaplikasikan sepanjang sumbu itu; itu didefinisikan sebagai rasio tegangan tarik terhadap regangan
tarik. Hal ini sering disebut hanya sebagai modulus elastisitas saja. Jika ada benda yang bersifat elastis
dengan panjang tertentu kemudian ditarik dengan gaya tertentu yang mengakibatkan pertambahan
panjang benda tersebut maka berlaku hubungan :

24. 24 Penggambaran di atas diasumsikan luas penampangnya berbentuk lingkaran dan besarnya
tegangan (T) dan regangan dari peristiwa tersebut dapat dicari dengan rumus :  Tegangan (T) : 
Regangan (e) : Nilai modulus young/elastisnya = tegangan (T) dibagi regangannya (e) :  Modulus geser
atau modulus kekakuan( G atau ) menjelaskan kecenderungan sebuah objek untuk bergeser (deformasi
bentuk pada volume konstan) ketika diberi kekuatan yang berlawanan; didefinisikan sebagai tegangan
geser terhadap regangan geser. Modulus geser modulus adalah turunan dari viskositas. Dimana =
tegangan geser; 𝜎 = 𝐹 𝐴 𝜀 = ∆𝑙 𝑙 E = 𝜎 𝜀 = 𝐹.∆𝑙 𝑙

25. 25 = gaya yang bekerja = luas di mana gaya itu bekerja dalam teknik, = regangan geser. Selain dari
itu, = perpindahan transvers = panjang awal Satuan turunan SI modulus geser adalah pascal (Pa),
meskipun biasanya dinyatakan dalam gigapascal (GPa) atau dalam ribuan pounds per square inch (ksi).
Bentuk dimensional adalah M1L−1T−2  bulk modulus atau kompresi ( K ) menjelaskan elastisitas
volumetrik, atau kecenderungan suatu benda untuk berubah bentuk ke segala arah ketika diberi
tegangan seragam ke segala arah; didefinisikan sebagai tegangan volumetrik terhadap regangan
volumetrik, dan merupakan kebalikan dari kompresibilitas. Modulus bulk merupakan perpanjangan dari
modulus Young pada tiga dimensi. Modulus kompresi dapat secara formal didefinisikan dengan
persamaan di mana adalah tekanan, adalah volume, dan melambangkan turunan tekanan terhadap
volume. Secara ekuivalen: di mana ρ adalah densitas dan dP/dρ melambangkan turunan tekanan
terhadap densitas. Invers modulus kompresi adalah kompresibilitas zat tersebut.

26. 26 Tiga modulus elastisitas lain adalah modulus axial, parameter pertama Lame, dan modulus
gelombang P. Bahan material homogen dan isotropik (sama di semua arah) memiliki sifat keelastisitasan
yang dijelaskan oleh dua modulus elastisitas, dan satu dapat memilih yang lain. 2.4.6 Konstanta Gaya
[Link] Hukum Hooke Hukum Hooke adalah hukum atau ketentuan mengenai gaya dalam bidang ilmu
fisika yang terjadi karena sifat elastisitas dari sebuah pir atau pegas. Besarnya gaya Hooke ini secara
proporsional akan berbanding lurus dengan jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya, atau lewat
rumus matematis dapat digambarkan sebagai berikut : di mana F adalah gaya (dalam unit newton) k
adalah konstante pegas (dalam newton per meter) x adalah jarak pergerakan pegas dari posisi
normalnya (dalam unit meter)

27. 27 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Bab I Sistem Satuan Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur
dan dinyatakan dengan angka. Pengukuran adalah membandingkan suatu dengan satuan yang dijadikan
sebagai patokan. Dalam fisika pengukuran besaran merupakan sesuatu yang sangat vital. Suatu
pengamatan terhadap besaran fisis harus melalui pengukuran. Pengukuran- pengukuran yang sangat
teliti diperlukan dalam fisika, agar gejala-gejala peristiwa yang akan terjadi dapat diprediksi dengan kuat.
Sesuatu yang dapat di ukur atau di hitung, dan dinyatakan dengan angka dan satuan. Satuan
didefinisikan sebagai pembanding dalam suatu pengukuran besaran. Setiap besaran mempunyai satuan
masing-masing, tidak mungkin dalam 2 besaran yang berbeda mempunyai satuan yang sama. Apa bila
ada dua besaran berbeda kemudian mempunyai satuan sama maka besaran itu pada hakIkatnya adalah
sama. Bab II Usaha dan Energi Usaha merupakan hasil kali antara gaya yang bekerja dengan
perpindahan yang dialami oleh benda. Satuan usaha dalam SI adalah joule (J). Energi menyatakan
kemampuan untuk melakukan usaha. Energi yang dimiliki oleh benda-benda yang bergerak disebut
energi kinetik,sedangkan energi yang dimiliki oleh benda karena kedudukannya disebut energi potensial.
Daya adalah laju usaha yang dilakukan atau besar usaha persatuan waktu. Satuan daya dalam SI adalah
watt (W). Bab III Momentum dan Impuls Momentum didefinisikan sebagai hasil perkalian antara massa
dengan kecepatannya, impuls didefinisikan sebagai hasil kali gaya dengan selang waktu kerja gayanya.
Hukum kekekalan momentum suatu benda dapat diturunkan dari persamaan hukum kekekalan energi
mekanik suatu benda tersebut.

28. 28 Apabila dua buah benda bertemu dengan kecepatan relatif maka benda tersebut akan
bertumbukan dan tumbukan dapat dibedakan menjadi dua yaitu lenting sempurna dan tak lenting. Pada
tumbukan lenting sempurna energi kinetik benda tidak ber kurang atau berubah menjadi energi lain,
pada tumbukan tak lenting energi kinetik benda sebagian berubah menjadi energi lain seperti energi
bunyi, energi panas, dll. Bab IV Elastisitas Beban yang diberikan akan mempengaruhi perubahan
panjang, semakin kecil beban yang diberikan maka pertambahan panjangnya semakin kecil dan
sebaliknya semakin besar beban yang diberikan maka pertambahan panjangnya semakin besar. Gaya
yang diberikan sebanding dengan perubahan panjang. Nilai konstanta pegas diperoleh dari
perbandingan antara gaya dengan pertambahan panjang

29. 29 Daftar Rujukan Askeland, Donald R.; Phulé, Pradeep P. (2006). The science and engineering of
materials (5th ed.). Cengage Learning. p. 198. ISBN 978-0-534-55396-8. Beer, Ferdinand P.; Johnston, E.
Russell; Dewolf, John; Mazurek, David (2009). Mechanics of Materials. McGraw Hill. p. 56. ISBN 978-0-
07-015389-9. Chou, Pei Chi; Pagano, N.J. (1992). Elasticity: tensor, dyadic, and engineering approaches.
Dover books on engineering. Dover Publications. pp. 1–33. ISBN 0-486-66958-0. Foster, Bob. 2000. Fisika
Jilid 2. Jakarta : Erlangga Hartanto, Hendri. 2010. Rumus Jitu Fisika SMP. Jakarta Selatan : Agromedia
Pustaka. Marten Kanginan. 2004. Fisika Untuk SMA. Jakarta : Erlangga. Tipler, P.A. 1998. Fisika untuk
Sains dan Teknik-Jilid I (terjemahan). Jakarta : Erlangga Wahyono, Edi [Link]. 2008. Fisika Praktis SMA.
Yogyakarta : Pustaka Widyatama Young. 2011. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.

Anda mungkin juga menyukai