Rekonsiliasi Produksi Nikel Laterit
Rekonsiliasi Produksi Nikel Laterit
OLEH
ANDI ASDAR AL FARUK
219 17 069
“Diajukan sebagai salah satu syarat untuk meluluskan matakuliah Kerja Pratkik
pada Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Kendari”
Berdasarkan latar belakang dan tujuan diatas maka didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut:
V. BATASAN MASALAH
Adapun batasan masalah dalam kerja praktik ini adalah sebagai berikut :
1. Metode perhitungan yang dilakukan dalam kerja praktik ini merupakan
metode statistik
2. Kegiatan pengambilan data berdasarkan aktual yang terjadi pada proses
penambangan
VI. TINJAUAN PUSTAKA
6.1. Nikel Laterit
Endapan nikel laterit merupakan endapan hasil proses pelapukan laterit batuan
induk ultramafik (peridotit, dunit dan serpentinit) yang mengandung Ni dengan kadar
tinggi, agen pelapukan tersebut berupa air hujan, suhu, kelembaban, topografi, dan
lain-lain. Umumnya pembentukan endapan nikel laterit terjadi pada daerah tropis atau
sub tropis.
Nikel sebagai salah satu sumber daya mineral ekonomis di bumi ini perlu
ditemukan keberadaannya untuk dapat memenuhi kebutuhan dibidang perindustrian.
Nikel mempunyai sifat tahan karat. Dalam keadaan murni nikel bersifat lunak, tetapi
jika dipadukan (alloy) dengan besi, krom, dan logam lainnya dapat membentuk baja
tahan karat yang keras. Perpaduan nikel, krom dan besi menghasilkan baja tahan
karat (stainless steel) yang banyak diaplikasikan pada peralatan dapur (sendok, dan
peralatan memasak), ornamen-ornamen rumah dan gedung, serta komponen industri
(Sukandarrumidi, 2007).
Dalam usaha pemenuhan kebutuhan nikel tersebut, kegiatan eksplorasi mutlak
untuk dilakukan khususnya pada daerah dengan potensi cadangan nikel laterit
terbesar. Dalam industri pertambangan, eksplorasi adalah suatu kegiatan yang
dilakukan bertahap dan sistematik dalam rangka menemukan area yang representatif
yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi daerah penambangan (Syahrul
& Dermawan, 2020).
Dialam ada dua jenis bijih nikel, yaitu nikel sulfida dan nikel oksida yang lajim
disebut laterit. Pada umumnya nikel sulfida berada dibelahan bumi subtropis
sedangkan laterit berada dikhatulistiwa, dan jumlah sumber daya alam laterit lebih
besar daripada nikel sulfida. Adapun lokasi sumber daya laterit di Indonesia berada di
Kawasan Timur Indonesia (KTI) terutama di Sulawesi Tenggara, Halmahera Maluku
Utara, dan pulau Gag kepulauan Waigeo Papua seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 1 dibawah ini.
Gambar 1. Sebaran Batuan Ultra Basa, Sumber Daya Laterit,
dan Cadangan Laterit. (Prasetyo, 2016)
Tentunya keberadaan endapan nikel laterit tersebut, memiliki perbedaan
karakteristik pada masing-masing daerah. Perbedaan tersebut dapat diketahui dari
sifat fisik yang nampak di atas permukaan meliputi jenis laterit, litologi, vegetasi
yang tumbuh, dan kondisi morfologi. (Arifin, Widodo, & Anshariah, 2015).
Pembetukan nikel laterit dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, diantaranya
adalah batuan induk, topografi, iklim, struktur geologi, waktu serta senyawa kimia
dan vegetasi.
1. Batuan induk merupakan tempat terbentuknya endapan nikel laterit dan
umumnya terdapat pada batuan ultrabasa yang diantaranya adalah peridotit.
2. Topografi setempat sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagen-reagen
lain. Pada daerah yang landai, maka air akan bergerak perlahan-lahan sehingga
akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam.
Akumulasi endapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai
kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti
bentuk topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang
meluncur (run off) lebih banyak daripada air yang meresap, sehingga dapat
menyebabkan pelapukan kurang intensif (Hasria, Anshari, & Rezky, 2019).
3. Iklim, adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi
kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan
terjadinya proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur
yang cukup besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan
terjadi rekahanrekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau
reaksi kimia pada batuan.
4. Struktur geologi, struktur yang sangat dominan yang terdapat adalah struktur
kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti diketahui,
batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga
penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut akan
lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih
intensif.
5. Waktu, waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup
intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
6. Reagen-reagen kimia dan vegetasi, yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia
adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses
pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2 memegang peranan penting di
dalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi
batuan dan dapat mengubah pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya
dengan vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi akan mengakibatkan: penetrasi
air dapat lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-
pohonan, akumulasi air hujan akan lebih banyak, humus akan lebih tebal.
Hasil proses laterititisasi berupa formasi gradasi pelapisan yang membentuk
profil laterit. Profil nikel laterit keseluruhan yang terdiri dari 4 zona gradasi yakni
overburden, limonit, saprolit dan bedrock.
Gambar 2. Profil Nikel Laterit (Ahmad, 2006)
a. Overburden, tanah Penutup atau top soil (biasanya disebut “Iron Capping”)
Tanah residu berwarna merah tua yang merupakan hasil oksidasi yang terdiri
dari masa hematit, geothit serta limonit. Kadar besi yang terkandung sangat
tinggi dengan kelimpahan unsur Ni yang sangat rendah.
b. Zona Limonit Berwarna merah coklat atau kuning, berukuran butir halus hingga
lempungan, lapisan kaya besi dari limonit soil yang menyelimuti seluruh area.
c. Zona Saprolit Merupakan campuran dari sisa – sisa batuan, bersifat pasiran,
saprolitic rims, vein dari garnierite, nickeliferous quartz, mangan dan pada
beberapa kasus terdapat silika bozwork, bentukan dari suatu zona transisi dari
limonit ke bedrock. Terkadang terdapat mineral quartz yang mengisi rekahan,
mineral mineral primer yang terlapukan, chlorit. Garnierite dilapangan biasanya
diidentifikasi sebagai “colloidal talk” dengan lebih atau kurang nickeliferous
serpentine. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat.
d. Batuan dasar (Bedrock) Tersusun atas bongkahan atau blok dari batuan induk
yang secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis (kadarnya sudah
mendekati atau sama dengan batuan dasar). Bagian ini merupakan bagian
terbawah dari profil laterit (Kurniadi, dkk, 2017).
6.2. Pengontrol Kadar (Grade Control)
Pengontol kadar atau biasa disebut dengan grade control merupakan kegiatan
pengendalian kadar dengan sistem pengawasan stripping overburden dan getting ore
untuk menghindari penurunan kualitas bijih. Untuk mendapatkan hasil prouksi bijih
yang maksimal dengan tetap menjaga kualitas sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Pemeriksaan kualitas bijih dilakukan (pengambilan sampel) pada beberapa tempat
yakni pemuka kerja tambang, pemeriksaan kualitas produksi bijih, pemeriksaan
kualitas produksi bijih untuk menurunkan kadar Moisture Content (MC), pemeriksaan
kualitas produksi bijih hasil penyaringan undersize dan oversize, pemeriksaan
kualitas hasil pemberaian oversize, dan pemeriksaan kualitas pada saat pengapalan
(Masuara, 2018). Tujuan dari grade control adalah untuk memaksimalkan nilai bijih
yang ditambang terutama untuk memungkinkan perusahaan pertambangan untuk
memaksimalkan keuntungan dengan mengurangi risiko yang terkait dengan geologi
(Anatama, 2016).
Dalam proses penambangan grade control melakukan pengawasan terhadap
operator alat gali muat. Tujuannya adalah dengan keahlian dan pengalaman
operatornya memudahkan pada proses ore getting pemisahan mineral-mineral
pengotor saat kegiatan selective mining yang dapat menurunkan kadar bijih nikel
apabila material tersebut terkontaminasi (Firmansyah, 2015).
Untuk dapat meminimalkan perbedaan kadar antara eksplorasi dengan realisasi
penambangan, maka cara penambangan juga perlu diperhatikan. Metode
penambangan dengan penggalian langsung oleh alat gali seperti selective mining
maupun back filling dengan alat gali, dorong dan muat akan berpengaruh terhadap
kadar, karena metode penambangan tersebut rawan terhadap pengotoran/dilusi
(Masuara, 2018).
6.3. Rekonsiliasi
Rekonsiliasi merupakan pencocokan antara dua hal atau lebih yang memiliki
keterkaitan satu sama lain. Dalam industri pertambangan rekonsiliasi merupakan
pencocokan antara rencana penambangan (mineplan design) dengan realisasi aktual
hasil penambangan di lapangan. Pada rekonsiliasi penambangan terdapat istilah
overcut, overstripping, undercut dan in of plan.
a. Overcut merupakan bentuk dan jumlah material yang berasal dari penggalian
yang melebihi dari rencana elevasi penambangan yang telah direncanakan.
b. Over-stripping merupakan bentuk dan jumlah material berasal dari penggalian
diluar dari batas area rencana penambangan (boundary).
c. Undercut merupakan bentuk jumlah material yang tidak tertangani dan sudah
masuk kedalam perencanaan penambangan.
d. In of plan merupakan bentuk dan jumlah material yang telah tergali dan
penggalian sesuai dengan target yang telah di rencanakan.
Keterangan:
Q = Produksi per jam (m3/jam)
Kt = Kapasitas Vessel Truck
KB = Kapasitas bucket (m3)
Cta = Waktu edar (detik)
EFF = Efisiensi Kerja (%)
n = Jumlah Pengisian
SFF = Sweel Factor (%)
2. Physical Avaibility
Physical Avaibility merupakan keadaan fisik dari alat mekanis yang
digunakan untuk produksi dengan memperhitungkan waktu yang selain dari
sebab mekanis, melainkan hujan, jalan rusak, dan istirahat. Untuk
menghitung ketersediaan mekanis dapat menggunakan persamaan sebagai
berikut:
Keterangan:
PA = Keterangan fisik (%)
W = Working Hours atau jumlah kinerja alat (jam)
R = Repair Hours atau jumlah jam untuk perbaikan (jam)
S = Jam Standby (jam)
3. Use Of Avaibility
Use of Avaibility merupakan tingkat daya guna alat yang digunakan
untuk kegiatan produksi pada saat alat dapat digunakan dengan efektif dari
waktu yang tersedia. Untuk menghitung ketersediaan mekanis dapat
menggunakan persamaan sebagai berikut:
Keterangan:
UA = Ketersediaan penggunaan alat (%)
W = Working Hours atau jumlah kinerja alat (jam)
R = Repair Hours atau jumlah jam untuk perbaikan (jam)
S = Jam Standby (jam)
4. Effective Utilization
Effective utilization menunjukan berapa persentase dari waktu kerja
yang digunakan alat untuk produksi dari seluruh waktu yang tersedia. Untuk
menghitung ketersediaan mekanis dapat menggunakan persamaan sebagai
berikut:
Keterangan:
EU = Penggunaan efektif (%)
W = Working Hours atau jumlah kinerja alat (jam)
R = Repair Hours atau jumlah jam untuk perbaikan (jam)
S = Jam Standby (jam)
e. Match Faktor
Match Factor adalah faktor keserasian pola gerak alat-alat yang
terpadu, dimana tidak saling menunggu antara alat muat dan alat angkut.
Suatu angka yang menyetakan seberapa baik penyesuaian antara alat muat
dan alat angkut dinyatakan dalam match factor (MF). Match Factor
digunakan dalam menentukan tingkat keserasian kerja alat gali muat dan
angkut yang di operasikan dalam kegiatan penambangan. untuk menentukan
nilai match factor tersebut, maka dapat digunakan persamaan yang terdapat
dibawah ini:
Keterangan:
MF = Faktor keserasian kerja alat berat
Na = Jumlah alat angkut
Cta = Waktu edar alat angkut (detik)
n = Jumlah pengisian
Nm = Jumlah alat gali muat
Ctm = Waktu edar alat gali muat (detik)
g. Pengawasan
Menurut Husen (2013), pengawasan merupakan pengukuran dan
perbaikan serta evaluasi terhadap pelaksanaan kerja mulai dari pekerja bawahan
hingga atasan, agar rencana yang telah ditargetkan atau dibuat dapat mencapai
tujuan-tujuan perusahaan dapat terselengarakan. Dalam pertambangan banyak
hal yang menjadi pengaruh terhadap produktivitas dari alat mekanis yang
digunakan. Hal ini menyebabkan naik turunya produksi dalam suatu periode
tertentu. Kinerja operator alat mekanis juga dapat bengaruh terhadap produksi,
maka dari itu pengawasan diperlukan agar operator berkerja dengan baik
sehingga dapat meningkatkan produktivitas alat mekanis dan meningkatkan
produksi untuk mencapai target (Ramaddandi, D. & Salia, R., 2021).
RINGKASAN 081271122131
Berpengalaman sebagai pengawas dan pembuatan plan Kendari, South East Sulawesi
penambangan serta pengawas dilapangan, sebagai
geologist eksplorasi bijih nikel, dan studi perubahan kadar 082148716343
bijih nikel. Bekerja tepat waktu, komunikasi interpersonal
yang baik, memiliki inovasi dan kreatifitas serta mampu kerja
sama dalam tim.
Merencanakan bukaan tambang dari hasil test pit Mengolah dan menganalisis hasil sampel udara, tanah,
dan, melakukan pengawasan kegiatan alat berat bising, sediment pond, dan juga sampel air Tri Wulan 2
PT. BATU HIJAU PARAMESTI 2021, Consultant
Merencanakan dan membuat disposal, sediment Menganalisis hasil sampel Air Sungai dan Air Laut
pond, dan juga stockpile.
PT. TRANI MINE SULAWESI 2022, Engineer & Consultant
Freelancer – Geologist & Mine Engineering Membantu dalam konsultasi publik PPM dan RPT
PT. NIKELINDO JAYA NUSANTARA (Tambang Nikel) Membantu dalam pengambilan sampel bising, air
Konawe Utara – Molawe Mei 2022
sungai, tanah, dan vegetasi
Melakukan pemantauan lingkungan IUP PT. GMS
Membuat Desk Assessment area indikasi laterit
dan Peta Planing Test Pit SKILLS
Melakukan Test Pit serta mengestimasi hasil test Microsoft Office Geovia Surpac
pit menggunakan Geovia Surpac Time Management Skills ArcGis
Membuat laporan Test Pit dan sebaran Kerja Sama Tim Corel Draw
sumberdaya dari hasil estimasi Intuisi Split Desktop
Survey Tinjau Tambang Nikel Area Konawe Utara Komunikasi Interpersonal
untuk JO Ekslusif Analisis Data
Mapping Geologist Beberapa IUP untuk SPK Emotional Intelligence
Strategi & Perencanaan
Freelancer – Mine Engineering Kreatif & Inovatif
PT. MANUNGGAL SARANA SURYA PRATAMA
Konawe Utara – Lasolo Kepulauan Februari & April 2022
PENGALAMAN AKADEMIK
Membantu dalam pemembuatan Laporan Asisten Dosen Geologi Dasar
Eksplorasi Asisten Dosen Mineralogi
Membantu dalam pembuatan Dokumen Feasibility Asisten Dosen Petrologi
Studi (Studi Kelayakan) Asisten Dosen Perpetaan dan Pemetaan Geologi
Pembuatan Peta Eksplorasi dan Peta Rencana Asisten Dosen Geologi Struktur
Penambangan Tahunan hingga Mine Out Pengurus HMTP-UMK Divisi Komunikasi dan
Membuat Analisis kelayakan dan cash flow Informasi
RINGKASAN 081271122131