0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan10 halaman

Diagnosa dan Penatalaksanaan SOL Intrakranial

Tumor otak merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang dibahas dalam dokumen ini. Dokumen memberikan informasi mengenai definisi, etiologi, gejala, patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan tumor otak. Proses keperawatan yang tepat untuk merawat pasien tumor otak meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

Diunggah oleh

Indah Budiarti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan10 halaman

Diagnosa dan Penatalaksanaan SOL Intrakranial

Tumor otak merupakan salah satu masalah kesehatan serius yang dibahas dalam dokumen ini. Dokumen memberikan informasi mengenai definisi, etiologi, gejala, patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan tumor otak. Proses keperawatan yang tepat untuk merawat pasien tumor otak meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

Diunggah oleh

Indah Budiarti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

“SOL (SPACE OCCUPYING IESION) INTRAKRANIAL”

Disusun Oleh:

Nama : Indah Budiarti


Nim : 22222031

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN INSTITUT ILMU

KESEHATAN & TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH

PALEMBANGTAHUN AJARAN 2023


LAPORAN PENDAHULUAN
SOL (Space Occupying Lesion)

1. Pengertian
SOL ( Space Occupying Lesion ) merupakan generalisasi masalah tentang adanya
lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Banyak penyebab yang
dapat menimbulkan lesi pada otak seperti kontusio serebri, hematoma, infark, abses otak
dan tumor intracranial.(Suzanne et all Brenda G Bare. 2020).
Tumor otak merupakan salah satu tumor susunan saraf pusat, baik ganas maupun
tidak. Tumor ganas disusunan saraf pusat adalah semua proses neoplastik yang terdapat
dalam intracranial atau dalam kanalis spinalis, yang mempunyai sebagian atau seluruh
sifat-sifat proses ganas spesifik seperti yang berasal dari sel-sel saraf di meaningen otak,
termasuk juga tumor yang berasal dari sel penunjang (Neuroglia), selepitel pembuluh
darah dan selaput otak.(Fransisca et all Batticaca 2018)

2. Etiologi
Penyebab tumor sampai saat ini belum diketahui secara pasti, walaupun telah banyak
penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau yaitu:
a. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami
perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu
glioma.
b. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus dengan maksud untuk mengetahui peran
infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum
ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem
saraf pusat.
c. Substansi-substansi karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogenik sudah lama dan luas dilakukan. Kini
telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik.
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala umum:
a. Nyeri kepala berat pada pagi hari, makin tambah bila batuk dan membungkuk.
b. Kejang.
c. Tanda-tanda peningkatan TIK: nyeri kepala, papil edema, muntah.
d. Perubahan kepribadian.
e. Gangguan memori dan alam perasa.

4. Patofisiologis
Fase awal abses otak ditandai dengan edema lokal, hiperemia infiltrasi leukosit
atau melunaknya parenkim. Trombisis sepsis dan edema. Beberapa hari atau minggu
dari fase awal terjadi proses liquefaction atau dinding kista berisi pus. Kemudian
terjadi ruptur, bila terjadi ruptur maka infeksi akan meluas keseluruh otak dan bisa
timbul meningitis.
Abses otak (AO) dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus
infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh, atau secara
langsung seperti trauma kepala dan operasi [Link] yang terjadi oleh
penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak, tetapi paling sering pada
pertemuan substansia alba dan grisea; sedangkan yang perkontinuitatum biasanya
berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus [Link] tahap awal
AO terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan otak dengan infiltrasi lekosit
disertai udem, perlunakan dan kongesti jaringan otak, kadang-kadang disertai bintik
perdarahan. Setelah beberapa hari sampai beberapa minggu terjadi nekrosis dan
pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu rongga abses. Astroglia,
fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang nekrotik. Mula-mula abses tidak
berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan fibrosis yang progresif terbentuk kapsul
dengan dinding yang konsentris. Tebal kapsul antara beberapa milimeter sampai
beberapa sentimeter. ( long, 2019).
5. Pathway
6. Penatalaksanaan
a. Terapi antibiotik. Kombinasi antibiotik dengan antibiotik spektrum luas. Antibiotik
yang dipakai: Penicilin, chlorampenicol (chloramyetin) dan nafacillen (unipen). Bila
telah diketahui bakteri anaerob, metrodiazelo (flagyl) juga dipakai.
b. Surgery : aspirasi atau eksisi lengkap untuk evaluasi abses.

7. Pemeriksaan penunjang
a. CT Scan : Memberi informasi spesifik mengenal jumlah, ukuran, kepadatan, jejas
tumor, dan meluasnya edema serebral sekunder serta memberi informasi tentang
sistem vaskuler.
b. MRI : Membantu dalam mendeteksijejas yang kecil dan tumor didalam batang otak
dan daerah hiposisis, dimana tulang menggangu dalam gambaran yang menggunakan
CT Scan
c. Biopsi stereotaktik : Dapat mendiagnosa kedudukan tumor yang dalam dan untuk
memberi dasar pengobatan seta informasi prognosi.
d. Angiografi : Memberi gambaran pembuluh darah serebal dan letak tumor
e. Elektroensefalografi (EEG) : Mendeteksi gelombang otak abnormal.

8. Pengkajian
Dari seluruh dampak masalah di atas, maka diperlukan suatu asuhan
keperawatan yang komprehensif. Pola asuhan keperawatan yang tepat adalah
melalui proses keperawatan yang merupakan suatu metode bagi perawat
untuk memberikan asuhan keperawatan pada klien.
Proses keperawatan terdiri atas lima tahap yang berurutan dan saling
berhubungan, yaitu pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, dan
evaluasi.
1. pengkajian
1) Biodata klien (nama, umur, agama dan lain-lain.)
2) Riwayat kesehatan.
(a) Data demografi :lingkungan yang terpapar dengan infeksi virus dan bahan-
bahan kimia.
(b) Riwayat kesehatan sekarang.
(c) Riwayat kesehatan dahulu.
(d) Riwayat kesehatan keluarga.
3) Aktivitas/istirahat..
4) Sirkulasi.
5) Eliminasi.
6) Makanan / cairan.
7) Neurosensori.
8) Nyeri / kenyamanan.
9) Pernafasan .
10) Keamanan.
11) Pemeriksaan fisik
12) Data psikologis
13) Data sosial
14) Data spiritual
15) Pemeriksaan Penunjang
(a) Hasil Laboratorium
(b) EKG
(c) USG
(d) Rontgen
(e) Pemeriksaan (enzim amino transferase (SGOT&SGPT) EEG, CT scan)
2. diagnosa keperawatan
Menurut SDKI (2015), diagnosa keperawatan pada klien yang mengalami sol
inrakranial yaitu sebagai berikut:
1. Ketidak efektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan kurangnya
darah ke jaringan otak.
2. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan TIK.
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kesadaran akibat
tekanan pada serebelum (otak kecil).
4. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan bicara terganggu
5. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengerahuan

11. Intervensi keperawatan


N Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
O
1. Nyeri akut Tingkat nyeri (L.08066) Manajemen nyeri (1.0828)
berhunungan Setelah dilakukan 3x24 jam Obsevasi:
dengan agen diharapkan tingkat nyeri 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi,
cidera fisik
menurun. frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
prosedur operasi
dibuktikan Kriteria Hasil : 2. Identifikasi skala nyeri
dengan kondisi Kriteria hasil Awal Tujuan 3. Identifikasi repon nyeri non verbal
pembedahan Keluhan 3 5 4. Identifikasi faktor yang memperberat
nyeri dan meringankan nyeri
Meringis 3 5 5. Monitor efek samping panggunaan
Gelisah 3 5 analgetik
Kesulitan 3 5 Terapeutik:
tidur 1. Berikan teknik nonfarmakologis untuk
Keterangan : mengurangi nyeri (terapi musi, teknik
1. Meningkat relaksasi nafas dalam, aromaterapi, dll)
2. Cukup meningkat 2. Fasilitasi istirahat dan tidur
3. Sedang 3. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri
4. Cukup menurun dalam pemilihan strategi meredakan
5. Menurun nyeri
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan nyeri
3. Ajarkan teknik non farmakologis untuk
mengurngi nyeri
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian analgetik
2. Gangguan Gangguan mobilitas fisik Manajemen Energi
mobilitas Fisik Respon fisiologis terhap aktifitas Observasi
berhubungan yang membutuhkan tenaga. 1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
dangan N Kriteria Awal Tujuan mengakibatkan kelelahan
o 2. Monitor pola dan jam tidur
gangguan
1. Kemudaha 5 Terapeutik
muskuloskoletal
n dalam 3. Lakukan latihan rentang gerakpasif
melakukan dan/aktif
aktifitas 4. Berikan aktivitas distraksi yang
sehari-hari menenangkan
2. Kekuatan 5 Edukasi
tubuh 5. Anjurkan tirah baring
bagian atas 6. Anjurkan melakukan aktivitas bertahap
3. Kekuatan 5 Kolaborasi
tubuh Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
bagian meningkatkan asupan makanan
bawah
Keterangan :
1. Menurun
2. Cukup menurun
3. Sedang
4. Cukup meningkat
5. Meningkat

3. Hambatan Tujuan Jangka Panjang 1. Gunakan penerjemah, jika diperlukan


komunikasi Hambatan mobilitas isik tidak 2. Beri satu kalimat simple setiap
verbal terjadi bertemu, jika diperlukan
berhubungan 3. Konsultasikan dengan dokter
dengan bicara Tujuan jangka pendek kebutuhan terapi wicara
terganggu Setelah dilakukan tindakan 4. Dorong pasien untuk berkomunikasi
keperawatan Hambatan secara perlahan dan untuk mengulangi
mobilitas fisik tidak terjadi permintaan
dengan, kriteria: 5. Dengarkan dengan penuh perhatian
1. Komunikasi : penerimaan, 6. Berdiri didepan pasien ketika
interpretasi dan ekspresi berbicara
pesan, tulisan, dan non 7. Gunakan kartu baca, kertas, pensil,
verbal meningkat bahasa tubuh, gambar, daftar kosakata
2. Komunikasi ekspresif bahasa asing, computer, dan lain-lain
(kesulitan berbicara) : untuk memfasilitasi komunikasi dua
ekspresi pesan verbal dan arah yang optimal
atau non verbal yang 8.
bermakna

4. Ansietas Tingkat Absietas (L.09093) Reduksi Ansietas (1.09314)


berhubungan Setelah dilakukan tindakan Observasi
dengan stresor asuhan keperawatan, masalah 1. Monitor tanda-tanda ansietas (verbal
teratasi. dan nonverbal)
Kriteria Hasil : Terapeutik
1. Ciptakan suasana terapeutik untuk
Kriteria awal tujuan menumbuhkan kepercayaan
hasil 2. Dengarkan dengan penuh perhatian
Verbalisasi 3 5 3. Gunakan pendekatan yang tenang dan
khawatir meyakinkan
terhadap Edukasi
kondisi 1. Anjurkan keluarga untuk tetap bersama
yang pasien
dihadapi 2. Anjurkan mengungkapkan perasaan
Perilaku 3 5 dan persepsi
gelisah Kolaborasi
Perilaku 3 5 Kolaborasi pemberian obat antiansietas,
tegang jika perlu

Keterangan :
1. Meningkat
2. Cukup meningkat
3. Sedang
4. Cukup menurun
Menurun
5. Bersihan Jalan Pertukaran Gas (L01003) Pemantauan Respirasi
Napas Tidak
Efektif (D001) Setelah dilakukan tindakan 3x24 Observasi
jam atau eliminasi karbon 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman
dioksida pada membran alveolus dan upaya napas
2. Monitor pola napas takipnea,bradipnea
kapiler normal atau asuhan
3. Monitor batuk efektif
keperawatan, masalah teratasi. 4. Monitor adanya produksi sputum
Kriteria awal tujuan 5. Monitor adanya sumbatan jalan napas
hasil 6. Auskultasi bunyai napas
Manajemen 3 5 Terapeutik
batuk 1. Atur interval pemantauan respirasi
efektif sesuai kondisi pasien
2. Terapi oksigen sesuai kebutuhan nasal
Produksi 3 5
kanul, masker rebreathing atau non
sputum rebreathing.
Mengi 3 5 Edukasi
1. Anjurkan posisi semi fowler
Keterangan : 2. Anjurkan pasien relaksasi napas dalam
1. Meningkat Kolaborasi
2. Cukup meningkat 1. Kolaborasi pepemberian obat
3. Sedang
4. Cukup menurun
5. Menurun

1. Implementasi
Implementasi keperawatan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh
perawat maupun tindakan medis lain untuk membantu pasien dalam proses
penyembuhan dan perawatan serta masalah kesehatan yang dihadapi pasien yang
sebelumnya disusun dalam rencana keperawatan. Pada tahap ini perawat juga
akan berkolaborasi dengan tenaga ahli medis lainnya untuk memenuhi kebutuhan
pasien (Ida, 2018)

2. Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan
pasien dengan tujuan kriteria hasil yang telah ditetapkan, dilakukan dengancara
yang berkesinambungan dengan melibatkan tenaga medis yang lain agar
mencapai tujuan kriteria hasil yang ditetapkan (Ida, 2018).

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth (2022). Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 2,[Link].

Carpenito, Linda Juall (2028) Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan( terjemahan) PT
EGC, Jakarta.
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi [Link] Asuhan Keperawatan Berdasarkan

SDKI. (2018). Sandar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: dewan pengurus
pusat persatuan perawat nasional indonesia.
SIKI. (2018). standar intervensi keperawatan indonesia. Jakarta Selatan: dewan pengurus pusat
persatuan perawat nasional indonesia.
SLKI. (2019). standar luaran keperawatan indonesia. Jakarta Selatan: dewan pengurus pusat
persatuan perawat indonesia.

Anda mungkin juga menyukai