Uploaded for [Link].
com
RKS Pekerjaan Beton
1. Pengertian
Beton merupakan hasil suatu adukan yang merata dari bahan-bahan : air, semen (pc) dan agregat
(pasir dan kerikil atau batu pecah). Adukan tersebut akan mengeras beberapa jam sesuai dengan
umur beton tersebut.
2. Bahan Beton
Bahan beton dalam pekerjaan konstruksi harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku dan
ditetapkan dalam spesifikasi bahan. Berikut adalah uraian mengenai beberapa bahan penyusun
beton dalam pekerjaan konstruksi :
a. Air
Air yang digunakan dalam air yang bersih, tidak mengandung minyak, garam, kotoran organik
atau bahan – bahan lain yang dapat merusak beton dan besi. Air untuk adukan dan untuk
merawat beton harus bersih dan bebas dari semua kotoran yang dapat merusak daya lekat semen
atau dapat menurunkan mutu beton.
b. Semen
Semen merupakan bahan yang terpenting untuk membuat beton. Semen merupakan bahan yang
dapat menjadi keras apabila diberi air. Dengan demikian maka semen menjadi bahan yang
mempersatukan butir - butir pasir pasir dan kerikil menjadi satu kelompok. Semen yang akan
digunakan sebagai bahan pembuat beton bertulang dan diisyaratkan memenuhi ketentuan yang
tercantum dalam N I 18. Berikut adalah persyaratan semen untuk pekerjaan beton :
1) Semen yang dipakai adalah semen portland type I dari merk yang Gresik dan mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi dan memenuhi syarat PBI - 1971.
2) Selama pengangkutan dan penyimpanan, semen tidak boleh kena air dan kantongnya harus
asli dari pabriknya dan tetap utuh dan tertutup rapat.
3) Semen yang sudah membeku, tidak dibenarkan dipakai dalam pekerjaan ini.
4) Semen disimpan pada tempat yang beralas dari kayu yang tingginya tidak kurang dari 30 cm
dari lantai.
5) Semen tidak boleh ditumpuk lebih tinggi dari 2,00 meter.
6) Pengeluaran semen dari tempat penyimpanan berurutan sesuai dengan datangnya semen
ditempat penyimpanan.
Uploaded for [Link]
Uploaded for [Link]
7) Untuk pekerjaan beton yang berhubungan langsung dengan tanah, dimana air tanah
mengandung kadar sulfat lebih dari 300 ppm, maka harus digunakan semen khusus yang
memiliki ketahanan terhadap sulfat (Semen Type V).
c. Agregat
Agregat terdiri dari agregat halus yaitu pasir dan agregat kasar kerikil atau batu pecah. Agregat
berfungsi dalam memperkuat beton saat mengering.
d. Pasir
Penggunaan pasir untuk pekerjaan beton harus memenuhi syarat sebagai berikut :
- Pasir halus mempunyai tekanan hancur yang lebih besar dari pada tekanan hancur semen yang
telah menjadi keras.
- Tidak mengandung lumpur lebih dari 5% ditentukan terhadap berat kering.
- Tidak mengandung bahan–bahan organik.
- Butiran pasir mempunyai diameter antara 0 – 5 mm dan memenuhi analisa kerja (PBI-1971).
e. Kerikil dan Batu Pecah
Penggunaan kerikil dan batu pecah untuk beton harus memenuhi syarat sebagai berikut :
- Agregat kasar harus terdiri dari butir - butir yang keras dan tidak berpori dengan besar butir
lebih dari 5 mm.
- Dimensi maksimum kerikil tidak lebih dari 2,5 mm dan tidak lebih dari seperempat dimensi
beton yang terkecil dari bagian konstruksi yang bersangkutan.
- Tidak mengandung lumpur lebih dari 1% ditentukan terhadap berat kering.
- Tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak beton seperti zat - zat yang reaktif alkali.
- Besar butir beraneka ragam dan memenuhi analisa kerja (PBI – 1971).
f. Bahan Campuran Tambahan (Admixture).
Bahan campuran tambahan bila dipandang perlu dapat digunakan untuk mempercepat
pengerasan, perbaikan beton. Produk yang digunakan adalah ”Sika” atau bahan lain yang dan
sesuai dengan sifat-sifat yang diharapkan dan harus mendapat persetujuan Konsultan Pengawas
dan Direksi terlebih dahulu. Bahan-bahan tersebut tidak boleh mengandung bahan - bahan yang
merugikan sifat beton bertulang.
Uploaded for [Link]
Uploaded for [Link]
3. Besi – Beton (Tulangan Beton)
Mutu besi beton yang digunakan adalah :
1) Mutu besi tulangan beton untuk diamater batang polos adalah BJTP 24 (fy = 240 Mpa / 2400
kg/cm2), sedangkan mutu besi beton yang diprofil ( Deform / ulir) minimal BJTD 40 (fy = 400
Mpa / 4000 kg / cm2), untuk tulangan baja jaring (wire mesh ) BJTD 50 (fy=500 Mpa / 5000 kg /
cm2) dan ukuran sesuai ketentuan dalam gambar. Simbol “Ø” ( menunjukkan baja tulangan
polos ), Simbol “D” (menunjukan Baja Tulangan Deform/Ulir ). Simbol “M” tulangan baja
jaring ( wire mesh).
2) Semua besi yang dipakai diatas harus mempunyai sertifikat dari produsen atau pabrik.
Ketentuan toleransi ukuran besi disesuaikan dengan standar SII atau [Link] besi yang
digunakan KS,CS dan WS.
3) Jika besi yang di datangkan ke lokasi tidak sesuai dengan yang tercantum dalam sertifikat atau
diragukan, Direksi pekerjaan berhak memerintahkan kontraktor untuk melakukan pengujian
terhadap besi tersebut. Semua biaya hasil pengujian menjadi tanggungan kontraktor. Bila hasil
pengujian tidak sesuai dengan yang tercantum dalam sertifikat, maka Direksi berhak menolak
semua besi tersebut.
4) Membengkokkan dan meluruskan besi beton harus dalam keadaan dingin, sesuai dengan
aturan yang berlaku. Panjang penyaluran besi beton dan panjang pengangkeran pada bagian -
bagian konstruksi disesuaikan dengan gambar kerja atau menurut aturan beton terbaru.
5) Besi beton harus bebas dari kotoran, karat, minyak, cat dan kotoran lain yang dapat
mengurangi daya lekat semen atau dapat menurunkan mutu besi beton.
6) Besi beton harus dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan gambar. Kemudian dibentuk dan
dipasang sedemikian rupa sehingga sebelum dan selama pengecoran tidak berubah tempat.
7) Kawat beton yang dipergunakan harus lazim dipakai, sehingga dapat mengikat besi beton
tetap pada tempatnya. Untuk mendapatkan mutu besi beton yang diinginkan, dapat dipergunakan
besi beton dari produk yang ditunjuk Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.
8) Besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di alam
terbuka untuk jangka waktu yang panjang.
9) Dalam segala hal, besi beton harus memenuhi ketentuan PBI - 1971 dan PBI yang telah
disempurnakan, serta diameternya harus sama dengan yang tertera atau disyaratkan dalam
gambar rencana.
10) Pemborong harus membawa hasil test laboratorium resmi dan contoh terhadap semua jenis
dan diameter besi yang akan dipakai untuk mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas dan
Direksi.
11) Membengkokkan dan meluruskan besi beton harus dalam keadaan dingin, sesuai dengan
aturan yang berlaku.
Uploaded for [Link]
Uploaded for [Link]
12) Besi beton harus bebas dari kotoran, karat, minyak, cat, dan kotoran lainnya yang dapat
mengurangi daya lekat semen atau dapat menurunkan mutu besi beton.
13) Kawat beton yang dipergunakan harus yang lazim dipakai, sehingga dapat mengikat besi
beton pada tempatnya. Setiap pertemuan dan atau persilangan besi harus diikat kuat dan rapi
dengan kawat beton.
Untuk mendapatkan mutu besi beton yang diinginkan, dapat dipergunakan besi beton dari
produk yang berstandar SNI dan mendapat persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi.
14) Jaminan Mutu
a) Mutu bahan yang dipasok dan campuran yang dihasilkan, cara kerja dan hasil akhir harus
dipantau dan dikendalikan seperti yang disyaratkan dalam Seksi Standar Rujukan. Mutu
performance beton yang ditargetkan adalah kualitas “Beton Expose” terutama untuk Kolom,
Balok, Listplang beton dan Dinding beton dengan finishing expose.
b) Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas data - data kualitas besi yang dipasang dengan
disahkan oleh Direksi Pekerjaan dan laporan tersebut harus dilengkapi dengan nilai
karakteristiknya. Laporan tertulis tersebut harus disertai sertifikat dari laboratorium. Penunjukan
Laboratorium Pengujian harus dengan persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi Pekerjaan.
4. Cetakan Beton atau Bekisting
a. Bahan cetakan beton atau bekisting :
- Semua cetakan beton harus dibuat dari papan plywood yang tebalnya minimal 9 mm
tergantung kualitas dan jarak rangka penguat cetakan tersebut.
- Cetakan untuk beton finishing kasar, harus terbuat dari papan terentang atau dari bahan sejenis
setelah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi.
- Bahan steger (tiang penyangga) harus terbuat dari kayu bermutu baik. Bambu tidak dibenarkan
dipakai untuk steger.
b. Konstruksi
- Cetakan dibuat dan disangga sedemikian rupa sehingga dapat mencegah getaran yang merusak,
dan tidak merubah bentuk sebelum, selama pengecoran berlangsung dan selama beton belum
padat.
- Cetakan dibuat sedemikian rupa untuk mempermudah pengecoran dan pemadatan beton tanpa
merusak konstruksi beton.
- Kayu steger (penyangga) harus dibuat sedemikian rupa dengan ukuran minimal usuk 4/6
sehingga dapat menahan beban yang dipikulnya.
- Pemborong harus membuat shop drawing dari bagian - bagian konstruksi cetakan atau
bekisting serta mendapat persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi.
Uploaded for [Link]
Uploaded for [Link]
c. Pelapis Cetakan
- Untuk mempermudah membuka bekisting beton, dapat digunakan melapis cetakan dari bahan
plastik yang dipasang sedemikian rupa dibagian dalam cetakan sehingga mudah dilepaskan dan
hasil cetakan rapi atau dari bahan yang disetujui Konsultan Pengawas dan Direksi.
- Minyak pelumas, baik bekas maupun yang baru, tidak dibenarkan dipakai sebagai pelapis
cetakan.
5. Adukan Beton
Rencana Adukan
- Nama “jenis adukan” di bawah diberikan untuk setiap jumlah bahan pengisi (pasir dan kerikil)
terhadap 50 kg semen.
- Gradasi butiran bahan pengisi harus sesuai dengan syarat – syarat gradasi dalam tabel dibawah ini :
Ukuran Ayakan Persentase Berat Yang Lolos
Standar Inch Agregat Pilihan Agregat
(mm) (in) Halus Kasar
50 2 - 100 - - -
37 1½ - 95-100 100 - -
25 1 - - 95-100 100 -
19 ¾ - 35-70 - 90-100 100
13 ½ - - 25-60 - 90-100
10 3/8 100 10-30 - 20-55 40-70
4.75 #4 90-100 0-5 0-10 0-10 0-15
2.36 #8 - - 0-5 0-5 0-5
1.18 #16 45-80 - - - -
0.3 #50 10-30 - - - -
0.15 #100 2-10 - - - -
- Agregat kasar harus dipilih sedemikian sehingga ukuran partikel terbesar tidak lebih dari ¾ dari
jarak minimum antara tulangan baja atau antara tulangan baja dengan acuan, atau antara
perbatasan lainnya.
- Jenis adukan Beton :
Uploaded for [Link]
Uploaded for [Link]
Catatan : pc = portland cement m3
ps = pasir (bahan pengisi halus) m3
krl = kerikil (bahan pengisi kasar) m3
6. Kekuatan beton
- kuat tekan beton yang direncanakan adalah f’c= 21 Mpa atau K250
7. Pengadukan beton
- Pencampuran bahan - bahan penyusun beton dilakukan agar diperoleh suatu komposisi yang
solid dari bahan - bahan penyusun berdasarkan rancangan campuran beton. Sebelum
diimplementasikan dalam pelaksanaan konstruksi di lapangan, pencampuran bahan - bahan dapat
dilakukan di laboratorium, untuk mendapatkan formula rancangan sesuai rencana (membuat Job
Mix Formula).
- Secara umum pengadukan beton dengan mesin (batching plant) harus disesuaikan dengan
kecepatan yang direkomendasikan oleh pabrik pembuatnya. Ketentuan waktu pengadukan
minimal untuk campuran beton yang volumenya lebih kecil atau sama dengan 1 m3 adalah 1.5
menit atau menurut petunjuk konsultan pengawas dan direksi.
- Selama proses pengadukan, kekentalan campuran beton harus diawasi terus dengan cara
memeriksa nilai slump yang disesuaikan dengan jarak pengangkutan.
8. Beton Dekking
- Beton dekking atau ganjal 1 pc : 2 ps harus dibuat terlebih dahulu, sebelum pekerjaan beton
konstruksi dimulai. Dicetak setebal 2 cm berukuran 4 x 4 cm atau sesuai dengan yang
diisyaratkan, lengkap dengan kawat pengikatnya.
- Sesudah mengeras dan kering udara, beton dekking ini direndam dengan air.
- Untuk beton balok dan kolom, dipasang 10 (sepuluh) buah untuk setiap 1 m2 dengan ketebalan
3 cm. Dan untuk beton plat dipasang beton dekking dengan ketebalan 2 cm sebanyak 5 buah
untuk setiap 1 m2.
- Selain beton dekking untuk balok yang mempunyai dua baris atau lebih tulangan, harus
diberikan ganjalan dengan besi beton dengan diameter yang sama dengan tulangan rangkap.
Ganjalan ini dipasang pada bagian samping dan bawah balok sebanyak 3 buah untuk setiap 1 m2.
9. Adukan Beton “Ready Mix”
Uploaded for [Link]
Uploaded for [Link]
- Bila dipakai adukan beton “ready mix” maka nama dan alamat supplier-nya harus mendapat
persetujuan konsultan pengawas dan direksi.
- Kontraktor bertanggung jawab penuh, bahwa adukan yang disuplai tersebut memenuhi syarat
spesifikasi dengan membawa hasil test laboratorium sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan
dalam RKS dan menjamin kontinuitas kedatangan setiap delivery.
- Direksi mempunyai wewenang untuk setiap saat meminta kepada kontraktor untuk
mengadakan percobaan mutu beton tersebut. Apabila mutunya diragukan direksi berhak
menghentikan dan menolak beton ready mix tersebut dan semua kerugian yang ditimbulkan oleh
hal ini menjadi tanggungan kontraktor.
10. Adukan beton “Site Mixing” (setempat)
- Adukan beton dibuat dengan alat pengaduk “batch mixer” dengan type dan kapasitas yang
mendapat persetujuan konsultan pengawas dan direksi.
- Kecepatan aduk sesuai dengan rekomendasi pabrik pembuatnya.
- Kapasitas aduk tidak boleh lebih dari yang diijinkan.
11. Syarat Mutu Beton
- Tidak boleh lebih dari satu diantara 21 nilai hasil percobaan kubus coba berturut - turut terjadi
kuat tekan karakteristik kurang dari yang direncanakan.
- Tidak boleh satupun nilai rata - rata dari empat buah percobaan kubus coba berturut - turut
mempunyai kuat tekan kurang dari (Kr + 0,82 Sr). Sebaiknya antara nilai tertinggi dan rendah
diantara empat kubus hasil percobaan berturut - turut tidak boleh lebih besar dari 4,30 x Sr.
12. Pengecoran Beton
- Proporsi perbandingan campuran semen dengan bahan pengisi (pasir dan kerikil) adalah
minimal. Jadi tidak dibenarkan untuk dikurangi semennya.
- Sebelum adukan beton dicorkan, semua cetakan harus betul - betul bersih dari kotoran seperti
serbuk gergaji, tanah, minyak dan kotoran lainnya. Kemudian cetakan tersebut dibasahi dengan
air secukupnya, namun tidak boleh ada genangan air pada cetakan tersebut.
- Pengecoran baru bisa dimulai setelah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi.
Apabila pengecoran beton dilakukan tanpa adanya persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi,
maka kerugian akibat pembongkaran, sepenuhnya menjadi tanggungan Pemborong.
- Adukan harus homogen atau dengan warna yang merata dan harus sudah dicorkan dalam waktu
1 ( satu ) jam setelah pencampuran dengan air dimulai.
Uploaded for [Link]
Uploaded for [Link]
- Pengecoran suatu unit pekerjaan beton harus dilaksanakan terus menerus sampai selesai dengan
tanpa berhenti, kecuali mendapat persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi.
- Tidak dibenarkan mengecor beton disaat hujan, kecuali ada tindakan pengamanan Pemborong,
terutama untuk meneruskan pengecoran suatu unit pekerjaan, yang mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas dan Direksi. Dalam hal ini Pemborong harus berupaya agar beton yang
baru dicorkan tidak dirusak oleh air.
- Setelah dicorkan pada cetakan, adukan harus dipadatkan dengan alat penggetar (vibrator
beton) yang berfrekuensi dalam adukan paling sedikit 3000 putaran setiap menit.
- Penggetaran dilakukan selama 20 detik setiap satu adukan yang dicorkan, mulai pada saat
adukan dicorkan dalam cetakan dan dilanjutkan dengan adukan selanjutnya. Vibrator tidak boleh
menyentuh cetakan dan besi beton yang salah satu bagiannya telah dicor dengan adukan beton
yang telah mengeras. Penggetaran harus dilakukan sebelum adukan yang dicorkan mencapai 7,5
cm.
- Adukan beton harus diangkut sedemikian rupa, sehingga dapat dicegah adanya pemisahan atau
pengurangan bagian - bagian bahan. Adukan tidak boleh dijatuhkan lebih dari 2 meter. Untuk
kolom - kolom yang tinggi, harus dibuatkan jendela - jendela dengan jarak vertikal tidak lebih
dari 2 meter.
13. Toleransi-toleransi
a. Toleransi pada beton cetakan kasar.
- Toleransi terhadap posisi untuk masing-masing bagian konstruksi adalah 1 cm.
- Toleransi terhadap ukuran masing - masing bagian konstruksi adalah - 0,3 dan + 0,5 cm.
b. Toleransi pada beton cetakan halus.
- Toleransi terhadap posisi untuk masing - masing bagian konstruksi adalah 0,6 cm.
- Toleransi terhadap ukuran masing-masing bagian konstruksi adalah - 0,2 dan +0,4 cm.
c. Toleransi posisi vertikal : 2 mm/m’.
d. Toleransi posisi horizontal : 1 mm/m’.
14. Penggunaan Beton
Pekerjaan beton digunakan untuk :
a. Bangunan : pondasi, sloof, kolom, balok lantai, plat lantai, ring, dan lain - lain sesuai dengan
gambar kerja.
Uploaded for [Link]
Uploaded for [Link]
b. Halaman : kanstein, beton rabat, pagar halaman dan lain - lain sesuai dengan petunjuk gambar
kerja.
c. Penggunaan adukan beton yang berbeda dalam pekerjaan yang monolith seperti pada
pertemuan balok dengan kolom, perbedaan adukan beton supaya dicorkan serentak atau
berseling dimana beton yang mutunya lebih tinggi dicorkan lebih dahulu, kemudian tidak lebih
20 menit, dicorkan beton yang mutunya lebih rendah dan kemudian digetarkan sampai kiranya
kedua mutu beton tersebut saling mengikat. Pemasangan heavy duty sealant merk Sikaflex 15
LM untuk ”expansion joint” (pertemuan kolom atau balok atau lantai) ada dibawah pengawasan
Konsultan Pengawas dan Direksi.
15. Perawatan Beton
- Beton Harus dilindungi dari pengaruh panas, hingga tidak terjadi pengauapan cepat.
- Beton harus dibasahai paling sedikit selama 7 hari setelah pengecoran.
16. Perbaikan Permukaan Beton
- Penambahan pada daerah yang tidak sempurna, keropos denngan cara grouting setelah
pembukaan acuan, hanya boleh dilakukan setalah mendapat persetujuan Konsultan Pengawas
dan Direksi atau Konsultan Pengawas. Bahan Grouting yang akan dipergunakan harus mendapat
persetujuan terlebih dahulu dari Direksi atau Pengawas.
- Jika ketidak sempurnaan itu tidak dapat diperbaiki untuk menghasilkan permukaan yang
diharapkan dan diterima oleh Direksi atau Konsultan Pengawas, maka harus dibongkar dan
diganti dengan pembetonan kembali atas beban biaya kontraktor.
- Ketidak sempurnaan yang dimaksud adalah susunan yang tidak teratur, pecah atau retak, ada
gelembung udara, keropos, berlubang, tonjolan dan ada yang lain yang tidak sesuai dengan
bentuk diharapkan atau diinginkan.
Uploaded for [Link]