Penentuan Waktu Sinyal Lalu Lintas
Penentuan Waktu Sinyal Lalu Lintas
_-----~----=_:'-'--------'---
BABID
Menurut MIdI 1997, fase sinyal adalah bagian dari siklus sinyal dengan
lampu lalu lintas disediakan bagi kombinasi tertentu dan gerakan lalu lintas. Jik.a
jumlah dan jenis fase sinyal tidak diketahui, maka pengaturan dengan dua fase
200 smp/jam. Hubungan antara penentuan fase dengan waktu hijau dapat dilihat
pada 1abe13. 1.
tundaan total pada simpang. Pertama ditentukan waktu siklus (c), selanjutnya
11
[Link] siklus
Waktu siklus adalah waktu untuk urutan lengkap dari indikasi sinyal
(3.1) berikut.
dengan:
:L ("FRcnt) = Rasio simpang = jumlah FRcnt dari semua fase siklus tersebut.
Jika waktu siklus tersebut lebih kecil daripada nilai ini,· maka ada risiko
serius akan terjadinya lewat jenuh pada simpang tersebut. Waktu siklus
nilai :L (FRent) mendekati atau lebih dari 1 (satu), maka simpang tersebut akan
Menurut MKJl 1997 waktu hijau adalah nyala dalam suatu pendekat
dengan satuan detik. Waktu hijau dihitung dengan menggunakan persamaan (3.2)
berikut.
12
~-------.-'
-------..::..:::::._-_... - .. _----
dengan:
panjangnya waktu siklus. Penyimpangan keeil dari rasio hijau (g/e) dari
memberikan infonnasi lebar jalan, batas sisi jalan, lebar bahu dan lebar median
serta petunjuk arah untuk tiap lengan persimpangan. Lebar Approach (WA)
untuk tiap lengan diukur kurang lebih sepuluh meter dari garis henti. Kondisi lain
menggambarkan tipe lingkungan jalan yang dibagi menjadi tipe yaitu : tipe
lalu lintas ke kiri· atau ke kanan dipisahkan dengan pulau lalu lintas,
2. Lebar pendekat (WA) adalah lebar dari bagian pendekat yang diperkeras,
3. Lebar masuk (WENTRY) adalah lebar dari bagian pendekat yang diperkeras,
13
4. Lebar keluar (WEX1T) adalah lebar dari bagian pendekat yang diperkeras,
jalan (m).
5. Lebar efektif (WE) adalah lebar dari bagian pendekat yang diperkeras,
terhadap W A, WENTRY dan Wmm dan gerakan lalu lintas membelok (m).
arah perjalanan ( %)
.-....
W EXIT
ENTRY
WLTOR _.-._._.-
WA
Sumber:~, 1997
restoran, kantor) dengan jalan masuk langsung bagi pejalan kaki dan
kendaraan.
14
_.-,.:....'-_:_-----
2. Pemukiman adalah tata guna laban tempat tinggal dengan jalan masuk
3. Akses terbatas adalah jalan masuk langsung terbatas atau tidak ada
4. Hambatan samping adalah interaksi antara arus lalu lintas dan kegiatan
dalam pendekat.
3.3. Kapasitas
C= S xg/c (3.3)
dengan:
C .. Kapasitas (smp/jam).
c = Waktu siklus, yaitu selang waktu uutuk urutan pembahall sinyal yang
lengkap (yaitu antara dua awal hijau yang berurutan pada fase yang
sama).
Oleh karena itu, perlu diketahui atau ditentukan waktu simpang dari
]5
I
-_ .. __ ._~_ ..
Pada persamaan diatas arus jenuh ( S ) dianggap tetap sama selama waktu hijau.
Meskipun demikian dalam kenyataanny~ arus berangkat mulai dari 0 pada awal
hijau dan mencapai puncaknya setelah 10 - 15 detik. Nilai ini akan menurun
sedikit sampai arus berangkat terus berlangsung selama waktu kuning dan merah,
semua hingga turun menjadi 0, yang biasanya terjadi 5 - 10 detik setelah awal
sinyal merah.
kehilangan awal dari waktu hijau efektif Arus berangkat setelah akhir waktu
hijau dilihat pada gambar 3.2, sehingga besarnya waktu hijau efektif, yaitu
Iamanya waktu hijau dimana arus berangkat terjadi dengan besaran tetap sebesar S,
akhir.
16
· -----_.--
r
Lengkung :'""'l. ~ • - • -..s
ams efektif \:
Waktu hijau efektif
1 -.coo.:..:
1
lU
"0
lU
Cl..
=::s
c
c Q)
lUCl..
Lengkung ams
:53
c c [Link]
lU Q)
c .~
lU ::s Kehilangan
Arusjenuh
..... lU
~:=
==
C
lU"O
Q)
awal
.... 0
.8 -i::
J~ I~M
."... ..} I' ~
Tampila waktu hijau •
I'" \ Waktu
rmw?2??/d kUning
Gambar 3.2 Model dasar untuk arus jenuh ( Akcelik ) dalam MKJl 1997.
Surnber : MKJI, 1997
rnempunyai nilai sekitar 4,8 detik. Sedangkan persamaan dengan waktu hijau
dan besar starIdar~ besamya waktu hijau efektif menjadi sarna dengan waktu
hijau dan besar arus jenuh puncak yang diamati di lapangan untuk masing-masing
pendekat tanpa penyesuaian dengan kehilangan awal dan tambahan awal dan
Arus jenuh (S) dapat dinyatakan sebagai hasil perkalian dari arus jenuh
dasar (So) untuk keadaan standar, dengan faktor penyesuaian (F) untuk
17
--_., ._._----- - - .c... -_ _ , __ ---, __
~_-.-
(3.4) berikut.
S = SO x Fl x F2 x F3 x F 4 x .... x Fn (3.4)
dengan:
S = Arusjenuh(smp/jam)
So = 600 x We (3.5)
dengan :
belok kanan memaksa menerobos lalu lintas lurus yang berlawan. Model
18
.~~~-~
model dari negara barat tentang keberangkatan ini, yang didasarkan pada teori
yang telah rendah jika dibandingkan dengan model barat yang sesuai. Nilai
nilai smp yang berbeda untuk pendekat terlawan juga digunakan seperti
diuraikan di atas.
Arus jenuh dasar (So) ditentukan sebagai dari lebar efektif pendekat (We)
dan arus lalu lintas belok kanan pada pendekat tcrsebut dan juga pada pendekat
Menurut MKJI (1997), berbagai ukuran perilaku lalu lintas dapat ditentukan
berdasarkan pada arus lalu lintas (Q), derajat kejenuhan (DS) dan waktu sinyal
dengan:
DS = Derajat kejenuhan
C = Kapasitas (smp/jam)
19
Jumlah rata-rata antrian smp pada awal sinyal hijau (NQ) dihitung
sebagai jumlah smp yang tersisa dari fase hijau sebelumnya (NQI) ditambah
dengan:
dengan:
NQ2 = Jumlah smp yang datang selama fase merah. DS = Derajat kejenuhan
GR = Rasio hijau
Panjang antrian (QL) diperoleh dari perkalian (NQ) dengan luas rata-rata
yang dipergunakan per smp (20 m 2) dan pembagian dengan lebar masuk.
20
/
/!
/1
:~_ .c....•• ~~ _~/ __ :
20
QL=NQmax x Wmasuk (3.10)
dengan:
Rasio kendaraan terhenti (Psv), yaitu rasio kendaraan yang harus berhenti
dcngan:
3.4.4. Tundaan
1. Tundaan lalu lintas (DT) karena interaksi lalu lintas dengan gerakan
..
lainnya pada suatu simpang.
21
-' -- _.. __ ."------_ .._ .. ~---
membelok pada suatu simpang dan atau terhenti karena lampu merah.
dengan:
DS = Derajat kejenuhan
C = Kapasitas (smp/jam)
faktor luar seperti terhalangnya jalan keluar akibat kemacetan pada bagian
22
~/
"7"
dengan :
frustasi pengemudi, kebutuhan bahan bakar kendaraan dan waktu perjalanan yang
selama 15 menit. Dalam hal ini, HCM (1985) , menjelaskan hubungan antara
1. Tingkat Pelayanan A
0,5 detik tiap kendaraan. Hal ini terjadi jika gerak maju kendaraan sangat
;
n
serta tidak berhenti sama sekali. Panjang putaran yang teIjadi juga dapat 'I
F
~.
,
~
mengurangi waktu penundaan.
I .. i
I'
l
2. Tingkat Pelayanan B ~
~~
23 . ~
5,1 - 15 detik tiap kendaraan . Hal ini terjadi dengan adanya gerak maju
kendaraan yang baik atau waktu putar yang pendek dan kendaraan yang
3. Tingkat Pelayanan C
interval 15,1 - 25 detik tiap kendaraan. Hal ini disebabkan oleh gerak
maj u kendarnan yang sedang saja dan panjang putaran yang lama
4. Tingkat Pelayanan D
lebih lama, mungkin disebabkan oleh kombinasi dari gerak maju yang
yang tidak berhenti jumlahnya menurun serta kegagalan individu mulai terlihat.
5. Tingkat Pelayanan E
kendaraan dan dianggap sebagai batas penundaan yang dapat diterima Nilai
tersebut menunjukan gerak maju tiap kendaraan yang tidak baik, waktu
"1'
6. Tingkat Pelayanan F
~
~_~.:::~~:::::=:::-!::::: tingkat pengoperasian dengan penundaan lebih dari 60 #
24
...
----_.. _ - - - - - _ . - - - - -
detik tiap kendaraan. lni dianggap sebagai penundaan yang tidak dapat
dengan keadaan terlalu jenuh, yaitu pada saat angka arus kedatangan
individual. Gemk maju kendaraan yang tersendat dan waktu putaran yang
karakteristik yang berbeda tersebut memberikan dampak terhadap jalan dan pola
arus lalu lintas yang berbeda pula. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan suatu
merupakan nilai konversi dari aliran arus lalu lintas yang tercampur mix traffic
yang berguna untuk mengetahui volume laIu lintas yang aktual dengan cara
25
Perhitungan dilakukan persatuan jam untuk satu atau lebih periode,
misalnya didasarkan pada kondisi arus lalu !intas rencana jam puncak pagi,
siang dan sore. Arus lalu !intas (Q) untuk tiap gerakan (belok kiri LTIlejTurning,
Menurut MKJl 1997, satuan mobil penumpang adalah suatu arus lalu
lintas dari berbagai tipe kendaraan yang diubah menjadi kendaraan ringan
masing-masing pendekat terlindung dan terlawan, nilai ini dapat dilihat pada
tabeI3.3.
endekat
Terlawan
Kendaraan Ringan (LV) 1.0
Kendaraan Bernt ( HV ) 1.3
Sepeda Motor ( Me) 0.4
Urullotorized 1.0
Sumber:[Link], 1997
f'
iIi
26
.. _,~.~_..:...i....:...::-~.,- __ ~ _
yang terdapat dalam Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJ1) 1997. Bagan alir
...
LANGKAH A: DATAMASUKAN
A-I: Geometri, pengaturan lalu Iintas dan Iingkungan
A-2 : Kondisi arus lalu Iintas
I
~
LANGKAH B : SINYALISASI
B-1 : Penentuan waktu sinyal
B-2 : waktu pengosongan dan waktu hilang
PERUBAHAN
Ubah Penentuan fase sinyal
Lebar pendekat, aturan membelok
LANGKAH C : PENENTUAN WAKTU SINYAL
C-I : Tipe pendekat
C-2 : Lebar pendekat efektif
C-3 : Arus jenuh dasar
C-4 : Faktor penyesuaian
C-S : Rasio arus jenuh
C-6 : Waktu siklus dan waktu hijau
LANGKAHD: KAPASITAS
D-I : Kapasitas
D-2 : Keperluan untuk perubahan
...
Gambar 3.3 Bagan alir analisis simpang bersinyal
Sumber : MKJI,1997
27
Fonnulir-fonnulir ini digunakan untuk perhitungan:
1) Dmwn, mengisi tanggal, Dikerjakan oleh, Kota, Simpang, Hal (mis Alt. 1)
penduduk)
3) Belok kiri lansung left turn on red (LTOR) yaitu menyatakan pada diagram
4) Kolom (1), kode pendekat menggunakan utara , selatan, timur, dan bamt.
6)Kolom (3), tingkat hambatan samping tinggi apabila besar arus berangkat
pada tempat masuk dan keluar berkurang oleh karena aktivitas di samping
sebagainya. Rendah apabila besar arus berangkat pada tempat masuk dan
28
~j
keluar tidak berkurang oleh hambatan samping dari jenis-jenis yang disebut
frekwensi berbobot kejadian per jam 200 m dari segmenjalan yang diamati
pada kedua sisi jalan, nilainya seperti yang ditampilkan pada tabel 3.1. dan
7) Kolom (4) Median, memasukkan jika terdapat median pada bagian kanan
9)Kolom (6) Belok kiri langsung, masukkan jika belok kiri langsung (LTOR)
29
__ ..
. :.....:~._-_ . .;.--~.---'.
garis henti dan kendaraan pertama yang diparkir sebelah hulu pendekat.
11) Kolom (8-11), dari sketsa, lebar ketelitian sampai sepersepuluh meter
bermotor.
2) Kolom 4, 5, 7, 8, 10, 11, Menghitung arus lalu lintas dalam srnp/jam bagi
terlawan yang sesuai (yang sesuai tergantung pada fase sinyal dan gerakan
belok kanan yang diijinkan) dengan menggunakan emp pada tabel 3.4.
3) Kolom 12, 14, jumlah arus lalu lintas total QMV dalam kendaraan dan
kendaraan belok kiri P LT , dan rasio belok kanan PRr. Perhitungan ini
RT(smp/ jam)
PRT (3.16)
Total(smp/ jam)
30
------ ~-------
kendaraan tak bermotor QUM kendaraan/jam pada kolom (17) dengan arus
formulir SIG-IV dengan cara dilakukan berbagai altematif untuk evaluasi. Dalam
perencanakan fase sinyal disarankan langkah awal mencoba dengan dua fase
sebagai kasus dasar, jumlah fase yang baik adalah fase yang menghasilkan
Pengendalian arus belok kanan sebaiknya dilakukan jika arus lalu lintas
yang melewati garis henti pada pendekat, kapasitasnya telah melebihi 100
smp/jam. Hal ini mungkin dikehendaki jika keselamatan lalu lintas menjadi
pertimbangan. Keadaan ini akan menambah jumlah fase dan waktu antar hijau
yang berakibat bertambahnya waktu siklus dan waktu hilang walaupun dari segi
keselematan meningkat, biasanya hal ini akan menurunkan kapasitas. Bila arus
belok kanan dari satu kaki dan, atau arus belok kanan kaki lawan arah teriadi pada
fase yang sama, arus ini dinyatakan sebagai pendekat tak terlindung (opposed).
Sedangkan arus belok kanan yang dipisahkan fasenya dengan arus lurus atau
belok kanan tidak diijinkan, maka arus ini dinyatakan sebagai pendekat terlindung
(protecied).
31
B-2: Waktu pengosongan
pengosongan pada akhir fase hams memberi kesempatan bagi kerdaraan terakhir
(melewati garis henti pada akhir sinyal kuning) berangkat dari titik konflik
(melewati garis henti pada awal sinyal hijau) pada titik yang sama. Jadi waktu
pengosongan merupakan fungsi dari kecepatan dan, jarak dari kendaraan yang
berangkat dan yang datang dari garis henti sampai titik konflik, dan panjang dari
datang pertama dari fase berikutnya. Gambar 3.4. berikut memperlihatkan titik
32
IiI
I
Ij
~----'-~--~ _._-_.
LAV
"Iitilc-tib~ooflik bilis
~
-....... ~
"" ""
.......
KcDdanu
yaag dataDg ....... " ........",
"" ""
L EP
______ ~-4'
LEV
Pcjalubki ..
)'aDg beraapal
~.a
JUg beraDgkal
Gambar 3.4. Titik konflik kritis danjarak untuk. keberangkatan dan kedatangan
Surnber:~, 1997
Suatu antrian kendaraan yang tertahan oleh tanda larnpu nierah dan pada
saat rnendapat hak jalan kendaraan rnengalarni percepatan pada kondisi terjadi
kejadian ini disebut dengan arus jenuh. Kendaraan-kendaraan beIjalan keluar dari
arus jenuh sarnpai waktu hijau habis dan beberapa kendaraan rnelewati larnpu
Setelah waktu rnerah sernua (all red), ditentukan, total waktu hilang (lost
lime) dapat dihitung sebagai penjurnlahan periode waktu antar hijau (IG). Hal ini
33
;/
~
LANGKAH C: PENENTUAN W AKTU SINYAL
C - 1 : Tipe pendekat
SIG-IV kolom(l). Apabila dua gerakan lalu- lintas pada sutau pendekat
diberangkatkan pada fase yang berbeda (misal, lain lintas lurus dan lalu
lintas be10k kanan dengan jalur terpisah), hams dicatat pada baris
! .
terpisah dan diperlakukan sebagai pendekat-pendekat terpisah dalam
pada dua fase, dimana pada keadaan tersebut, tipe lajur dapat berbeda untuk
3) Menentukan tipe dari setiap pendekat terlindung (P) atau terlawan (0), dan
SIG-II kolom (13-14) dalam smp/jam pada kotak sudut kiri atas formulir
SIG-IV (pilih hasil yang sesuai). Untuk kondisi terlindung (tipe P) atau
5) Masukkan rasio kendaraan berbelok ( P LTOR atau PLT, P RT) untuk setiap
6) Masukkan dari sketsa arus kendaraan belok kanan dalam smp/jam, dalam
34
.. -
- _.. - - ------- -'_. ....'..::.._~-""'-:::.,_.:
, . _ -'~:....~----~
-I
kendaraan belok kanan, dalam arah yang berlawanan (QRTO) pada kolom (8)
(dari formulir SIG-ll kolom 8). Penentuan tipe pendekat lebih lanjut dapat dilihat
Tabel3.6 p, f . dekat
Tipe
Keterangan Contob pola-pola pendekat
pendekat
Terlindung Arus Jalan satu arah jalan satu arah simpang T
P berangkat
tanpa konflik
-
r
dengan lalu
lintas dan
arah
~t --
berlawanan I
Jalan dua arah,
gerakan belok kanan terbatas
~ kIF
'---
IIII ~I
~
- '---
11f~
Terlawan Arus Jalan dua arah, arus berangkat dari arah-arah
0 berangkat berlawanan dalarn fase yang sarna. Semua belok
dengan kanan tidak terbatas.
~m I~ L
konfik lalu
lintas dan
arah ~
~~1
m \I
berlawanan
35
-- - -
~---'-~~~ ~~-~-~
infonnasi tentang lebar pendekat (WA), lebar masuk (WENlRy) dan lebar ke1uar
Lebar efektif (WE) dapat dihitung untuk pendekat dengan pulau lalu
lintas, penentuan lebar masuk (WE.N1RY), untuk pendekat tanpa pulau lalu lintas
yang ditunjukkan pada bagian kanan. dari gambar pada keadaan terakhir
keadaan tersebut. Untuk pendekat dengan dan tanpa pulau lalu lintas dapat dilihat
~
~ ij
J~ ~
~W"_
td
W llOR
~·,
or' ,.
WA
. •, WA,
I""
36
1
---'-'---'-~--_--:""':"':" ----' ---_ .. ----
C - 4 : Faktor penyesuaian.
dari jenis lingkungan jalan, tingkat hambatan samping dan rasio kendaraan
37
Samb
Terlawan 0,98 0,93 0,88 0,83 0,80 0,74
Rendah
I Terlindung 0,98 0,96 0,94 0,91 0,88 0,86
lAkses
Tinggi/Sedang Terlawan 1,00 0,95 0,90 0,85 0,80 0,75
~erbatas (RA)
lRendah Terlindung 1,00 0,98 0,95 0,93 0,90 0,88
Sumnber:~, 1997
3) Kolom (13), faktor penyesuaian kelandaian (FG) ditentukan dari gambar 3.6.
.----
C
'"'
.• .... ....
.
t.
....
-',
J
i
... "." -'-"'-' ..
t
--,.
•
J
i
,,...
......~
Z t
...... .....
~ J
<:
~
,.
- I
...... .......
, I
• I
Z
j
~
,
,....
i
I
" .....1
., .
t:l::
I
•
f".
f".
•f
••
I
0
~
f".' •t
<:
~ • '" roo... l
'---- t ..,
6.
• .It.. 1
I
: I"I',.
.. .J .. ., .. .J -t .,
•• t J • • • i $
TURUNAN(%) TANJAKAN(%)
Gambar 3.6. Fnktor penyesuaian untuk kelandaian (FG).
4) Kolom (14), faktor penyesuaian parkir (FP) fungsi jarak [Link] henti sampai
38
___ ____L ,
1~H±ffE8±H±fEE±ifEltH-+lll j~
dengan:
39
dengan:
7) Ko1om (17), menghitung ni1ai arus jenuh (s) yang disesuaikan dihitung
dengan :
C - 5 : Rasio [Link]
masing-masing pendekat.
2) Kolom (19), Perhitungan perbadingan arus (Q) dengan arus jenuh (S) untuk
FR= Q (3.22)
s
dengan:
FR = Rasio arus
40
-'.'':_~"--- _..:..._:_--~- o I"
3) Kolom (19), Perbandingan arus kritis (F'R:rit) yaitu nilai perbandingan arUs
tertinggi dalam tiap fase. Jika nilai perbandingan arus kritis untuk tiap
, fase dijumlahkan akan di dapat arus jenuh persimpangan, hal ini dihitung
dengan:
PR = FRcri' (3.24)
IFR
dengan:
PR = Rasio fase
41
L -------
~I
lE f~1~~~~~f0:~±:fF~[Link]~6~
160
~
.. ...: • .y .. , ..
~: ; . '.
··y····..
.: <
,··t· ..,...
".'
~,.-i ...... -i" -:...... I-;--H- -4+-;- --:-....,..
.':' :._. • < .: >:'.,
-+-
•
'-..:/. ..1./;...... '_
;-"'7' TIT':T
., - : ...._.
• : ,
.. ;~::i .. ..:......1-.•.;.. _:.~•• " '.' < .: -t++....... -++·H- ....;.. ~/- -y..!-+/,:- - ....:........~y
,-. '~150 ~:-H-:~-f : .~~-f-:+ ;: ~) :: ( . --H- -1-H- : :". ~ .: ~H~
hC.P:;..:.~l.:-~-Li .: .~'< ~
-...::.:;:: 140
+.: ;-, ;.. ~ ;..l ·+H
:..J- S
"W-H" +1''';''''-
'. .'
-t-1.";'.. ~· -
:
~
:
i-t/i··.- ,.to.•..: ,..
~ ~~ i~~~~5i~
j;;Jg ,-y-
.
~;;...,..t- ..,.....H· ··H··..·:·
100
.., ;..,...,
';:;~ ..H--Yt·
:.. ~
t::t:;:-:..,-I-:-i-r/""
·f.
~-':-: <:.
)1·:
. • • . . . .
;';; .' ~: iti
"~;I'
A-t· .-! 1 . :. L,.
• •.•"• .
90 ~q~H-r-'r:~tP'"~:: ':: . ~: ~: : . ' ~ ::'
00 "h";"~" ~::t:.::f,:~;:' ':':;::t:,tj t"J··t-~· "!'+- +- '+++:71-++';,0'· -H-r1-' -...M,""i- ·+-;-t+·
j;;J
~
80
70
,::t..:.. t:-;': ...;..:.. l::'.;... ..;...: i
H: .. ~_I-'. ; . '!- roW.' ' .
:..• ..:.. ~...1..... '-/.. .• ~,-k..;. ..;.. ..:l.j.;•.. ~...........J....... ~,~ ..:..._ ..,'_+.':...L
30 LTl· lS~I-:;:
20 LTI. 10 :-.
' . i..:
\ ..1··..... ''f'': :
>
,,'
:' • i..
, -:
...H
.'
t
..
! ... -L1....L
-T"1--r·
3) Waktu siklus yang disesuaikan. hitung waktu hijau yang disesuaikan (c)
berdaskan pacta waktu hijau yang diperoleh yane telah dibulatkan dan
waktu hilang LTI setelah itu masukkan hasilnya pada bagian terbawah
dengan:
42
.. -
~_
, ----~---
Langkah D Kapasitas
D -1 : Kapasitas
3) Kolom (11), nilai waktu hijau (g) dan waktu siklus (c).
5) Kolom (18) dan (22), nilal arus lalu lintas (Q) dan kapasilas (C).
1) Kolom (19), penambahan lebar pendekat, pengaruh terbaik dari ini akan
FR kritis tertinggi.
(tipe 0) dan rasio belok kanan (PRT) tinggi menunjukkan nilai FR kritis
>0,8 suatu rencana fase altematif dengan fase terpisah untuk lalu lintas
E -1 : Persiapan.
43
formulir SIG- V.
6) Memasukkan arus total dari .seluruh gerakan LTOR dalam smp/jam yang
SIG-V
E - 2 : Panjang antrian
jumlah antrian smp (NQ1) yang tersisa dari fase sebelumnya dengan
kolom (6).
2) Untuk menghitung jumlah antrian smp yang datang selama fase merah
44
_._f
~.
disarankan POL < 5%, untuk operasi suatu nilai POL= 5-10% mungkin
dapat diterima
. M
...
+
~_
. .;
00f ...l
+::i.:l-8.....l ·++t~~.:
-+••'-.-+..
J,::;::::... i- -• ••·J::i-
-i-t+ .. -!-f··:-.....~+·
r
~.+.+-·
. t ..-!...·
~H- -!-;-t- .. _"~"-;-'!-
-,! •• ;-~
..-i
~-i+
T""t""'t
40 "5 50
E - 3 : Kendaran Terhenti
45
i
fungsi dari NQ kolom (8) dibagi dengan waktu siklus dan rasio hijau kolom
N sv = Q x NS (smp/jam) (3.26)
dengan:
NS = Angka henri
dengan:
E - 4 : Tundaan
1) Menghitung untuk setiap pendekat lalu lintas rata-rata (DT) akibat pengaruh
46
(3.13) di depan dan hasilnya dimasukkan pada kolom (13). Untuk menentukan
.
··,
0.5
I ! ! 1 t I I I ; I ,
I : ; I J ! RE EN ""RAT I v J t J I • J
!
i
I
J
t
J
J
I •
j
J ,
t I
. "
I
t I I t
I
I
•
I t
J I
I I
0.4
.
j I I I I
J t I .. 2 I I
; I I
j I •
~ 0.3 I i
Z .f • I I
;-or I - -
~
00 I
Z0.2 I . I
•
~
I
•
0.1
0.0
-- f--
I
I •
-n--
I
I
I
-
I
.,
G
I
71
-
..
. .
.. ..1-- -W
•
~
I
!
I
I
I .
I
_t' 6~
I
I
-
0.0 0.1 0.2 0.3 9.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
DERAJAT KEJENUHAN DS
akibat perlambatan <hin percepatan ketika menunggu giliran pada suatu simpang
47