Pembelajaran Matematika Inovatif
Pembelajaran Matematika Inovatif
MATEMATIKA
ISBN. 978-602-7755-10-9
PENERBIT: CV INSAN MANDIRI
i
KATA PENGANTAR
ii
DAFTAR ISI
A. KATA PENGANTAR…………………..……………………………………. ii
B. DAFTAR ISI ………………………………………………… ……………... .iii
C. PENDAHULUAN............................................................................................ ..1
BAB I ANALISIS ARTIKEL MODEL PEMBELAJARAN ..
MATEMATIKA BERBASIT RISET................................................................ .4
BAB II GRAND TEORI PEMBELAJARAN MATEMATIKA………………… .5
BAB III HAKIKAT MATEMATIKA……………………………………………11
BAB IV IDEOLOGI –IDEOLOGI PENDIDIKAN MATEMATIKA…………...14
BAB V PERUBAHAN PARADIGMA MENGAJAR KE
PEMBELAJARAN MATEMATIKA…………………………………..16
BAB VI PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERLANDASKAN
KONSTRUKTIVIS…………………………………………………….21
BABVII PEMBELAJARAN MEMBACA MATEMATIKA/
LITERASI MATEMATIS………………………………………………………..25
BAB VIII MENINGKATKAN AKTIFITAS BELAJAR .MATEMATIKA…….29
BAB IX PEMBELAJARAN MATEMATIKA ABAD GLOBAL ……………..34
BAB X MODEL, STRATEGI, PENDEKATAN, METODE DAN
TEKNIK PEMBELAJARAN MATEMATIKA REFORMASI………….40
BAB XI PROBLEM SOLVING………………………………………………...59
BAB XII APLIKASI ICT DALAM MODEL, STRATEGI,
PENDEKATAN, METODE DAN TEKNIK PEMBELAJARAN
MATEMATIKA…………………………………………………… …96
Daftat Pustaka……………………………………………….…………………...99
iii
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkuliahan Belajar dan Pembelajaran Matematika sebagai bagian integral dari
penerapan khusus kuliah belajar dan pembelajaran dalam bidang studi matematika di
sekolah, yang harus disesuaikan dengan struktur Kurikulum 2019.
Pada pelaksanaan kegiatan belajar dalam perkuliahan ini, mahasiswa tidak lagi
dibekali pengetahuan secara teoritik, melainkan diarahkan pada implementasi
pembelajaran matematika sekolah. Strategi yang digunakan dalam perkuliahan ini lebih
ditekankan pada upaya pemahaman secara mendalam tentang model pembelajaran
berbasis riset, model –model pembelajaran inovatif, strategi belajar-mengajar,
pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, serta teknik pembelajaran matematika.
Selain itu mahasiswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalaman nyata dari
sekolah untuk membuat artikel berdasarkan litratur.
Untuk mengintensifkan pemahaman dan kajian yang ditampilkan dalam buku
ini, mahasiswa dituntut terlibat aktif dalam bentuk, diskusi kelompok, tanya jawab,
penugasan, dan praktek dalam ruang kuliah berupa simulasi, hal yang penting adalah
bahwa mahasiswa datang di ruang kuliah tidak hanya duduk manis, hadir fisik saja akan
tetapi telah siap belajar dengan mental, pikiran dan berbekal problem sesuai dengan
usahanya. Berdasarkan asumsi bahwa setiap mahasiswa adalah individu yang memiliki
potensi sebagai pebelajar mandiri baik dari sumber lain, media masa, atau
lingkungannya dan sebagai pemecah masalah sepanjang hidup.
Pernahkah anda sebagai pendidik mengalami kejenuhan saat pembelajaran
karena siswanya tidak serius memperhatikan apa yang sedang anda jelaskan di depan
kelas? Setelah anda menegur dengan suara keras atau membentak bahkan memarahi
siswa tersebut, anda akan sedikit merasa lega, karena anda berfikir bahwa siswa tersebut
mau mendengarkan apa yang anda jelaskan. Siswa tersebut dengan terpaksa
mendengarkan atau bahkan melayang pikirannya entah kemana karena ia tidak
menyukai atau bosan untuk mendengarkan apa yang anda jelaskan. Tapi pernahkah
anda berpikir bahwa siswa-siswa tidak tertarik pada anda saat menjelaskan di depan
kelas karena metoda yang anda pakai itu tidak menarik perhatian siswa? Pernahkah
anda berpikir untuk merubah metoda mengajar dengan sesuatu model, strategi,
pendekatan, metoda, dan teknik pembelajaran yang menarik perhatian siswa?
Dengan komitmen bahwa kalau respon siswa salah untuk tidak dimarahi karena
tidak akan memperbaiki keadaan malahan akan timbul rasa cemas dan frustasi. Mudah-
mudahan tidak terdengar lagi guru matematika di sekolah yang pemarah, kurang
toleransi, angker, sulit bersosialisasi, dan semacamnya. Sehingga akan memperbaiki
citra pembelajaran matematika di sekolah menyenangkan (enjoy) tidak lagi menakutkan.
B. Tujuan Perkuliahan
C. Peta Konsep
BAB I
ANALISIS ARTIKEL
MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIT RISET
A. Kompetensi Pembelajaran
Dengan menyelesaikan teks ini, anda akan mampu:
1. Memperkaya bahan ajar menggunakan hasil penelitian pendidikan matematika.
2. Mendeskripsikan model-model pembelajaran matematika berbasis Riset.
3. Mendesain model pembelajaran matematika berbasis Riset .
4. Merelasikan kelebihan dan kekurangan dari artikel yang dibedah.
C. Contoh artikel 2:
Heriyadi, Rully Charitas Indra Prahmana, 2020. Pengembangan lembar kegiatan siswa
menggunakan pendekatan pendidikan matematika realistik AKSIOMA: Jurnal Program
Studi Pendidikan Matematika. Volume 9, No. 2, 2020, 395-412. DOI:
[Link]
Contoh artikel 3. Efuansyah, E., & Wahyuni, R. (2018). Pengembangan Bahan Ajar
Matematika Berbasis PMRI pada Materi Kubus dan Balok Kelas VIII. Jurnal Derivat:
Jurnal Matematika dan PendidikanMatematika, 5(2), 28-41.
Zulkardi & Putri, R. I. I. (2010).
BAB II
A. Kompetensi Pembelajaran
Dengan menyelesaikan teks ini, anda akan mampu:
1. Mengembangkan teori-teori yang diperoleh dari pengalaman empiris dengan
menggabungkan kajian teori dengan proses kegiatan pembelajaran.
2. Dapat menghasilkan landasan teori melalui kajian pendekatan kualitatif.
3. Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang
mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran yang diampu.
4. Mengolah materi pelajaran yang diampu secara kreatif.
5. Berkomunikasi dengan teman sejawat dan komunitas ilmiah lainnya secara santun,
empatik dan efektif.
1) Tahap sensori motor, anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh
melalui perbuatan fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra).
Pada mulanya pengalaman bersatu dengan dirinya, berarti bahwa suatu objek ada
pada penglihatan kemudian menghilang dari pandangan. Ahirnya ia mulai mencari
objek yang hilang. Objek mulai terpisah dari dirinya dan konsep objek dalam
struktur kognitifnya mulai matang. Ia mulai mampu melambungkan objek fisik ke
dalam simbol misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kendaraan.
2) Tahap pra operasi, tahap persiapan untuk pengorganisasian operasi konkrit, berupa
tindakan-tindakan kognitif. Seseorang mengklasifikasikan sekelompok objek,
menata letak benda-benda, menurut urutan tertentu, dan membilang. Pada tahap ini
pemikiran anak lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkrit dari pada
pemikiram logis sehingga jika ia melihat obyek-obyek yang kelihatannya berbeda,
maka ia mengatakannya berbeda. Contoh:
a) Perlihatkan lima buah kelereng yang sama besar di atas meja, kemudian
ubahlah kelereng itu menjadi agak berjauhan. Anak akan menjawab kelereng
yang berjauhan lebih banyak.
Diubah
menjadi
7
Diubah menjadi
c) Perlihatkan dua bejana yang berbeda ukurannya, kemudia isi dengan cairan
yang berwarna sama banyak. Anak akan menjawab bahwa cairan itu
berbeda.
Dipindahkan
menjadi
d) Dua utas tali yang sama panjang direntangkan, anak akan mengatakan bahwa
kedua tali itu berbeda panjangnya.
Diubah
menjadi
Pada tahap pra operasional anak belum memahami konsep kekekalan, yaitu
kekekalan banyak, kekekalan materi, kekekalan volum, dan kekekalan panjang.
3) Tahap operasi konkrit, pada tahap ini anak sudah duduk di Sekolah Dasar.
Umumnya anak pada tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan
benda-benda konkrit. Pada tahap ini baru mampu mengingat definisi dan
mengungkapkannya kembali, akan tetapi belum mampu untuk merumuskan
sendiri definisi-definisi tersebut secara tepat, belum mampu menguasai simbol
verbal dan ide-ide abstrak. Misalnya jika anak diperlihatkan kubus, maka anak
baru mengetahui bentuk kubus.
4) Tahap operasi formal, pada tahap ini anak sudah mampu melakukan penalaran
dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Penggunaan benda konkrit tidak
diperlukan lagi, tapi berhubungan dengan tipe berfikir. Misal anak mampu
mengemukakan karakteristik bentuk kubus tanpa menghadirkan bentuk kubus.
2. Teori Bruner
Jerome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih
berhasil, jika proses pembelajaranya dilengkapi dengan alat peraga, objek-objek untuk
dimanipulasi anak. Bruner mengungkapkan bahwa dalam proses belajar, anak akan
melewati tiga tahap yaitu:
a. Tahap inaktif, dalam tahap ini anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi
(mengotak-atik) objek. Dari tahap ini muncul dalil penyusunan construction
[Link] anak diberi bentuk-bentuk kubus enam buah. Anak diberi
kebebasan untuk mengeksplor bentuk-bentuk kubus tersebut menjadi bentuk balok,
siswa bisa menentukan luas balok, volume balok dengan cara menyusun kubus–
kubus tersebut sesuai dengan konsep yang disampaikan guru. Contoh lain, anak
yang mempelajari konsep perkalian yang didasarkan pada prinsip penjumlahan
berulang, akan lebih memahami konsep tersebut. Jika anak tersebut mencoba sendiri
8
a) Tahap inaktif
Setiap siswa (atau kelompok) menjiplak segitiga masing-masing pada kertas.
Segitiga jiplakan itu diberi nama ABC. Segitiga itu kemudian diputar 180 derajat,
arah jarum jam dengan pusat titik O yaitu tengah-tengah sisi AC. Akibatnya titik A
sampai di titik C (tandai A`), titik B sampai di B` dan titik C sampai di A (tandai
dengan C`). Siswa diminta menjiplak segitiga hasil putaran itu sehingga terjadi
segiempat seperti pada gambar di bawah ini.
A A = C’ B
B
P
C B’ C = A’
Gambar -1 Gambar-2
Segiempat ABCB` atau (ABA`B`) adalah suatu jajargenjang.
Siswa diminta untuk memperbaiki gambarnya supaya jelas. (siswa telah
mengkonstruksi secara fisik jajargenjang dengan cara memutar segitiga).
Catatan: Guru membuat jajargenjang dengan proses yanga sama di
papan tulis, sehingga siswa dapat mencocokan hasilnya.
b) Tahap ikonik
Siswa diminta untuk menyisihkan segitiga pada kartonnya dan mencurahkan
perhartian kepada gambar jajargenjang yang diperoleh dari kegiatan memutar
9
tersebut. Siswa diminta mencermati panjang sisi, besar sudut yang terlihat dalam
gambar itu.
A=C’ B A=C’ B
x o
o x
C=A’ B C=A’
Gambar-3 Gambar-
BAC seteleh diputar menjadi B`A`C` atau B`CA, jadi BAC = B`CA. …1
akibatnya AB sejajar B`C (siswa diminta mengemukakan alasannya).
ACB setelah diputar menjadi A`C`B` atau CAB`, jadi ACB = CAB`…2 Akibatnya
AB` sejajar BC (siswa diminta mengemukakan alasannya).
ABC setelah diputar menjadi A`B`C atau CB`A, jadi ABC = AB`C. dari 1 dan 2
Siswa diminta menyimpulkan menyimpulkan bagaimanakah besar sudut BAB` dan
sudut BC`B.
Selanjutnya perhatian siswa diminta diarahkan pada panjang sisi-sisi jajar genjang
ABCB`.
AB setelah diputar menjadi A` B` atau CB`, jadi AB = CB`.
BC setelah diputar menjadi B`C` atau B`A, jadi BC = B`A.
Kesejajaran sisi dan kesamaan panjang sisi ditandai sehingga diperoleh gambar-4.
Catatan: guru melengkapi gambarnya di papan tulis, siswa memeriksa
kebenaran gambar masing-masing.
c) Tahap Simbolik
Berdasar hasil tahap ikonik, siswa diminta untuk menyimpulkan tentang ciri-ciri
yang dimiliki sebuah jajar genjang. Diharapkan dapat diperoleh:
• Jajar genjang memiliki dua pasang sisi sejajar.
• Jajar genjang memiliki sudut-sudut berhadapan sama besar.
• Jajar genjang memiliki sudut-sudut yang berdekatan berjumlah 180 derajat.
• Jajar genjang memiliki dua pasang sisi yang sama panjang.
Siswa diminta menggambar sebarang jajar genjang dan menandai sudut yang sama
besar, sisi yang sejajar dan sisi yang sama panjang.
Catatan: Guru juga menggambar sebarang jajar genjang di papan tulis.
Guru mengembangkan kebebasan dengan memberi kesempatan kepada siswa
untuk menyusun definisi jajar genjang dengan bahasanya sendiri.
3. Teori Hebb: Kecerdasan manusia tergantung dari lingkungan dan bakat. Bakat susah
di ubah tetapi kalo lingkungan bisa diubah.
4. Teori Cattel: Otak manusia ada yang kristal ada yang cair, maka agar otak mencair
harus dipakai untuk berpikir dan memecahkan masalah.
5. Teori Hoffer: Geometri menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan, yang sebelah kiri
analisis yang sebelah kanan hapalan.
6. Teori Thurstone: Orang yang bisa menguasai matematika lebih cerdas dari pada
orang yang tidak bisa matematika.
7. Teori Gestalt, John Dewey: Pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar harus
memperhatikan kesiapan intelektual siswa, suasana kelas harus di tata dan diataur
agar siswa siap belajar, penyajian konsep harus lebih mengutamakan pemahaman.
10
8. Teori Brownell: Belajar matematika harus bermakna, harus paham konsep dulu,
baru di hapalkan atau di drill.
9. Teori Dienes (Zoltan P. Dienes): Belajar diusahakan menggunakan alat peraga
agar lebih konkrit, belajar melalui permainan sangat berperan bila dimanipulasi.
10 Teorema Van Hiele: Menguraikan tahap-tahap perkembangan mental dalam
geometri. Terdapat 5 tahap:
a. Tahap pengenalan, contoh bangun kubus. Anak belum mengetahui sifat-sifat
kubus.
b. Tahap analisis, anak sudah mampu mengenal sifat-sifat kubus.
c. Tahap pengurutan, anak sudah bisa menarik kesimpulan, bahwa kubus
adalah balok istimewa.
d. Tahap deduksi, anak sudah bisa menyimpulkan secara deduktif.
e. Tahap akurasi, anak sudah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan
dari prinsip dasar yang melandasi suatu pembuktian.
11. Teori Thorndike: Belajar bisa berhasil jika diikuti rasa senang. Rasa senang
timbul jika anak mendapat pujian.
12. Teori Skiner: Penguatan berupa pujian positif akan memotivasi anak untuk rajin
belajar. Misal anak mampu menjawab pertanyaan guru.
13. Teori Ausubel terkenal dengan belajar bermakna, sebelum pelaksanaan
pembelajaran dimulai hendaknya siswa membaca bahkan mengulangi hingga
paham materi yang akan diajarkan oleh guru.
14. Teori Gagne: terkenal dengan pemecahan masalah yang terdiri dari 5 tahap:
a. Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas.
b. Menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih oprasional.
c. Menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur kerja.
d. Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya.
e. Mengecek kembali hasil yang sudah diperoleh.
15. Teori Pavlov adalah teori pembiasaan, agar siswa belajar dengan baik maka harus
dibiasakan.
16. Teori Baruda adalah teori belajar dengan cara meniru. Jika tulisan guru baik,
maka murid akan menirunya.
11
BAB III
HAKIKAT MATEMATIKA
A. Kompetensi Pembelajaran
Dengan menyelesaiakan teks ini, anda akan mampu:
5. Mendeskripsikan suatu program matematika sekolah.
6. Membedakan karakteristik program matematika masa kini dari program-
program tradisional.
7. Merelasikan kelebihan dan kekurangan program matematika masa kini.
B. Hakikat Matematika
Ungkapan pengertian matematika pada bagian ini hanya dikemukakan terutama
berfokus pada tinjauan pembuat definisi agar pembaca dapat dengan mudah menangkap
keseluruhan pandangan para akhli matematika. Ada tokoh yang tertarik terhadap
bilangan, ia melihat matematika dari sudut pandang bilangan itu. Tokoh lain
mencurahkan perhatiannya pada stuktur-struktur, ia melihat matematika dari sudut
pandang struktur-struktur itu. Tokoh lain lagi lebih tertarik pada pola pikir ataupun
sistematika, ia melihat matematika dari sudut pandang sistematika itu. Demikian
sehingga muncul definisi-definisi matematika yang beraneka ragam. Atau dengan kata
lain tidak terdapat satu definisi tentang matematika yang tunggal dan disepakati oleh
semua tokoh atau pakar matematika.
Beberapa definisi tentang matematika (Hudoyo 2005) mengungkap bahwa:
(1) Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara
sistematik.
(2) Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.
C. Karakteristik Matematika
(1) Memiliki objek kajian abstrak. Meliputi (a) fakta berupa konvensi-konvensi yang
diungkap dengan simbol contoh 3 x 5 = 5 + 5 + 5. (b) konsep adalah ide abstrak
yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasi sekumpulan
objek. Contoh segitiga: Ada segitiga sama kaki, segi tiga siku-siku, segitiga sama
sisi, segi tiga sembarang. (c) operasi hitung dan (d) prinsip (abstrak). Prinsip dapat
terdiri atas beberapa fakta, beberapa konsep yang dikaitkan oleh suatu relasi
ataupun oprasi. prinsip dapat berupa (aksioma atau postulat yaitu pernyataan
pangkal yang tidak perlu dibuktikan).
(2) Bertumpu pada kesepakatan. Kesepakatan adalah penting dalam matematika dan
keseharian, contoh tanda < dan >.
(3) Berpola pikir deduktif. Berpikir matematika tidak hanya melalui pengamatan
(induktif) akan tetapi harus melalui pembuktian-pembuktian (deduktif).
(4) Memiliki simbol yang kosong dari arti dapat dimanfaatkan oleh yang memerlukan
matematika sebagai alat menempatkan matematika sebagai bahasa simbol.
Contoh: x + y = z oprasi tersebut belum tentu oprasi tambah tergantung
permasalahan.
(5) Konsisten dalam sistemnya. Misal dikenal sistem geometri; ada geometri Euclides
dan non Euclides. Geometri Euclides memiliki teorema yang berbunyi: Jumlah
besar sudut-sudut sebuah segitiga adalah seratus delapan puluh derajat. Sedangkan
Geometri Non Euclides memiliki teorema yang berbunyi: Jumlah besar sudut-
sudut sebuah segitiga lebih besar dari seratus delapan puluh derajat.
D. Matematika Sekolah
Sajian matematika dalam buku sekolah tidak selalu diawali dengan teorema
ataupun definisi. Melainkan disesuikan antara lain dengan perkembangan intelektual
peserta didik, dengan mengaitkan butir-butir matematika yang akan disampaikan
dengan realitas disekitar siswa. Hal tersebut akan lebih terasa pada matematika informal
yang biasanya diterapkan dijenjang Taman Kanak-kanak dengan bentuk permaianan
ataupun nyanyian. Misal bermain tangga, bisa ditanamkan pengertian “lebih tinggi dan
lebih rendah”. Permaian jungkat jungkit dapat ditanamkan pengertian “lebih berat dan
lebih ringan”.
Contoh di SD, pengertian perkalian didahului dengan penjumlahan berulang
menggunakan peraga misal kelereng, dengan mengelompokan kelereng menjadi 4
kelompok yang setiap kelompok berisi 3 kelereng bahwa 4 x 3 = 12. Dengan mengubah
cara pengelompokan, guru menunjukkan bahwa 3 x 4 juga 12. Sama hasilnya tetapi
beda makna perkaliannya. Setelah memahami makna perkalian dengan baik barulah
siswa diminta menghapalkan perkalian-perkalian dasar. Ingat bahwa menghapalkan
dalam matematika tidaklah dilarang tetapi hendaknya dilakukan setelah memahaminya.
Pola pikir dalam matematika sebagai ilmu adalah deduktif. Sifat atau teorema
yang ditemukan secara induktif ataupun empirik harus kemudian dibuktikan
kebenarannya dengan langkah-langkah deduktif sesuai dengan strukturnya. Tidaklah
demikian, dalam matematika Sekolah Dasar menggunakan pola pikir induktif, meskipun
siswa pada akhirnya tetap diharapkan mampu berpikir deduktif, namun dalam proses
pembelajarannya dapat digunakan pola pikir induktif. Pola pikir induktif digunakan
untuk menyesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa. Sedangkan di SLTP
dan SLTA pola pikir matematikanya sudah deduktif.
3. Keterbatasan Semesta
Dalam matematika di Sekolah Dasar terlihat secara bertahap diperkenalkan
bilangan bulat positif, demikian pula pecahan dan bilangan negatif semestanya
menyempit dan kemudian meluas.
BAB IV
IDEOLOGI –IDEOLOGI PENDIDIKAN MATEMATIKA
Secara ideologi pendidikan matematika terdiri atas dua kubu yaitu kubu
tradisional dan kubu reformasi, berisiko dapat memicu tanggapan-tanggapan emosional
oleh para pendukung atau para penentangnya. Deskripsi-deskripsi tentang dua set ide
tersebut berada pada tataran ideal.
Sebagian besar ide yang dinyatakan tadi sama sekali tidak saling kontradiksi,
tetapi saling melengkapi, khususnya skil-skil dan penalaran tidaklah bertolak belakang.
Epistemologi dalam pendidikan matematika yang tidak peduli adanya matematika
abstrak VS matematika dalam konteks. Hal ini mempengaruhi strategi pembelajaran.
a) Matematika abstrak meliputi:
• Definisi.
• Contoh dan non contoh.
• Soal-soal latihan bisa saja ada problem solving.
• Assessment (evaluasi untuk mengases apakah pemahaman matematika siswa
sudah benar).
b) Matematika dalam konteks meliputi:
• Masalah berupa soal cerita.
15
• Pemahaman konsep.
• Kesimpulan-kesimpulan.
• Soal-soal kontekstual (soal harus open ended, problem solving).
G. Rangkuman
Soal Latihan
1. Selama ini apa yang anda ketahui tentang matematika sebagai suatu ilmu?
2. Berikan penjelasan bahwa matematika sebagai suatu ilmu deduktif?
3. Berikan suatu contoh bagaimana membuktikan aturan matematika menggunakan
aturan deduktif?
4. Selain faktor penguasaan materi matematika, mengapa pengembangan daya
matematika (mathematical power) memegang peranan yang sangat penting dalam
pembelajaran matematika?
5. Dari hasil-hasil belajar yang diharapkan oleh anda, melalui pola-pola strategi
instruksional, bagaimanakah anda menyikapi hal itu? Adakah diantaranya yang
membuat anda resah? Kenapa?
6. Guru dituntut harus mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Bagaimanakah
menurut anda meningkatkan motivasi seorang guru dalam aktivitasnya sebagai
pembelajar?
7. Bagaimana anda akan meningkatkan pemahaman lewat hubungan-hubungan dengan
matematika-matematika yang lain atau dengan bidang-bidang studi yang lain?
16
BAB V
PERUBAHAN PARADIGMA MENGAJAR KE PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
Kompetensi Mengajar
Dengan menyelesaikan teks ini anda akan mampu:
1. Mendeskripsikan proses pembelajaran matematika.
2. Membedakan proses mengajar dengan proses pembelajaran matematika.
3. Merealisasikan kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran
maatematika.
4. Mendeskripsikan secara umum proses pembelajaran matematika yang
berlandaskan masalah.
A. Paradigma Mengajar
Kecenderungan perubahan dari paradigma mengajar menjadi pembelajaran
matematika dirasakan sangat perlu terjadi karena paradigma mengajar sering diartikan
sebagai proses penyampaian informasi atau pengetahuan dari guru kepada siswa (proses
mentransfer ilmu). Kita analogikan mentransfer uang, maka jumlah uang yang dimiliki
oleh seseorang akan berkurang bahkan hilang setelah ditransfer pada orang lain. Apakah
mengajar juga demikian? Apakah ilmu yang dimiliki oleh guru akan hilang? Tidak
bukan? Bahkan mungkin saja ilmu yang dimiliki guru akan bertambah. Nah sebagai
proses menyampaikan pengetahuan akan lebih tepat jika diartikan dengan menanamkan
ilmu pengetahuan atau keterampilan (teaching is imparting knowledge or skill) (Smith
1987), Mengajar memiliki karakteristik sebagai berikut:
(1) Proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered). Proses
pengajaran biasanya hanya berlangsung manakala ada guru.
(2) Siswa sebagai objek belajar. Siswa sebagai objek harus menguasai pelajaran.
Mereka dianggap sebagai organisme yang pasif yang belum memahami apa
yang harus dipahami. Siswa tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan
potensi dirinya.
(3) Kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu.
(4) Tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran.
Pandangan mengajar yang hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan itu,
dianggap sudah tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang. Mengapa demikian?
Minimal ada 3 alasan penting yang menuntut perlu terjadinya perubahan paradigma
mengajar.
Pertama. Siswa bukan orang dewasa mini, akan tetapi mereka adalah organisma
yang sedang berkembang. Agar mereka dapat melaksanakan tugas-tugas
perkembangannya, dibutuhkan orang dewasa yang dapat mengarahkan mereka agar
tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kedua. Ledakan ilmu pengetahuan mengakibatkan kecenderungan setiap orang
tidak mungkin dapat menguasai setiap cabang keilmuan. Abad pengetahuan itulah yang
seharusnya menjadi dasar perubahan. Bahwa belajar bukan hanya sekedar menghapal
informasi, menghapal rumus-rumus akan tetapi bagaimana menggunakan informasi dan
pengetahuan itu untuk mengasah kemampuan berfikir.
Ketiga. Penemuan-penemuan baru dalam bidang psikologi, mengakibatkan
pemahaman baru terhadap konsep perubahan tingkah laku. Dewasa ini anggapan
manusia sebagai organisma yang pasif yang prilakunya dapat ditentukan oleh
17
B. Paradigma Pembelajaran
Istilah mengajar bergeser pada istilah pembelajaran, yang diartikan sebagai
proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk merubah prilaku siswa ke arah
positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa.
Menurut Gagne (1992) dalam pembelajaran, peran guru lebih ditekankan kepada
bagaimana merancang atau mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia
untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu.
Bruce Weil, (1980) mengemukakan tiga prinsip penting dalam proses
pembelajaran.
(1) Proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat
membentuk atau merubah struktur kognitif siswa melalui pengalaman
belajar. Oleh karena itu proses pembelajaran menuntut aktivitas siswa secara
penuh untuk mencari dan menemukan sendiri.
(2) Berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari, fisis,
sosial, dan logika.
(3) Proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial. Anak lebih
baik belajar dari temannya sendiri (cooperative learning).
1. Siswa memiliki peran sebagai subjek belajar. Siswa diposisikan sebagai pemegang
peranan utama, sehingga siswa dituntut beraktivitas secara penuh bahkan secara
individual mempelajari bahan pelajaran sendiri. Pembelajaran perlu memberdayakan
semua potensi siswa untuk menguasai kompetensi supaya setiap individu mampu
menjadi pembelajar mandiri dan mewujudkan masyarakat belajar. Peran guru
kolaborasi dengan siswa, membelajarkan siswa, memanage sumber dan fasilitas
untuk dipelajari siswa.
2. Pembelajaran adalah proses berpikir. Belajar berpikir menekankan kepada proses
mencari dan menemukan pengetahuannya sendiri (Self regulated).
3. Proses pembelajaran adalah memanfaatkan potensi otak. Keseimbangan otak kiri
yang bersifat logis, rasional dan otak kanan yang bersifat non verbal seperti
perasaan, emosi, musik, kreativitas.
4. Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat. Siswa akan dapat belajar memecahkan
setiap masalah yang dihadapi sampai akhir hayat.
Bagaimana guru membelajarkan siswa sekaligus menyadari bagaimana belajar
matematika itu. Ini hanya bisa terjadi bila ada keterlibatan siswa dalam belajar, siswa
dibangkitkan minatnya untuk mengkonstruk sendiri konsep dan prinsip matematika.
Proses pembelajaran semestinya diawali dari suatu permasalalahan yang sesuai dengan
perkembangan kognitif siswa.
Paradigma pembelajaran bercirikan adanya aktivitas siswa agar siswa belajar
bagaimana belajar itu, bahkan merasakan munculnya habit learning bagaimana belajar
itu. Bagaimana guru membelajarkan siswa. Hal ini bisa terlaksana bila proses
pembelajaran dapat mengajak siswa terlibat mengkonstruk konsep/prinsip matematika,
sejalan dengan pandangan konstruktivis, untuk mengerti merupakan proses adaptif
dengan mengorganisasikan pengalaman siswa.
Bahwa siswa aktif dalam belajar dalam membentuk pengetahuan baru harus
menggunakan beberapa objek konkret yang dapat diutak-atik. Pembentukan
pengetahuan baru dikaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya,
menyatakan pemecahan pengetahuan baru harus secara tertulis dengan arahan
terbimbing (scaffolding). Dengan demikian belajar adalah membangun pemahaman.
Menurut pandangan konstruktivis yang diungkapkan Nickson (Grouws, 1992:
106) bahwa belajar adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep/prinsip-
prinsip dengan kemampuan sendiri melalui proses internalisasi scafolding sehingga
konsep itu terbangun kembali, transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep
baru, transformasi informasi mudah terjadi bila pemahaman terjadi karena terbentuknya
skema dalam benak siswa dengan demikian belajar adalah membangun pemahaman.
Pembelajaran terdiri dari semua aktivitas bertujuan dari guru yang diarahkan
untuk mempermudah belajar oleh siswa. Guru boleh mendirikan panggung untuk
belajar, tetapi dia berbagi panggung dengan siswa, dan segera setelah pembelajaran
dimulai maka para siswalah yang menempati pusat panggung itu. Pembelajaran menurut
ungkapan Wahyudin, (2004: 1) adalah suatu proses aktif dan menuntut supaya para
siswa ikut serta dalam aktivitas yang tidak mesti bersifat lahir dan fisik, dapat saja
berupa menyimak, membaca, dan berfikir.
Kondisi lingkungan belajar konstruktif penting, namun tidak secara otomatis
menghasilkan belajar konstruktif. Siswa perlu mengembangkan keyakinannya,
kebiasaannya dengan gayanya dalam belajar sehingga kemampuan keterampilan
kognitif siswa berkembang. Guru harus mencoba merancang tugas-tugas, aktivitas-
19
3 Evaluasi: Hasil
Evaluasi: Hasil belajar dari
belajar diukur
penilaian secara komprehensif
dengan
proses dan hasil tes belajar.
ketercapaian tujuan
4 Pelaksanaan:
Ekspositori, Tanya
Pelaksanaan: Siswa mengkonstruk
jawab mungkin
masalah matematika, kolaborasi
juga diskusi.
siswa dengan siswa, siswa
Evaluasi terpisah
dengan guru. Evaluasi terpadu
dengan
dengan pembelajaran.
pembelajaran.
20
D. Soal Latihan
1. Buatlah soal matematika MI/MTs sebanyak lima item Soal boleh berupa situasi
masalah maupun soal pemecahan masalah yang tidak mudah ditebak, tidak
langsung menerapkan rumus, atau procedural, belum pernah dibaca siswa, banyak
cara penyelesaian, realita kehidupan sehari-hari siswa!
2. Simulasikan di depan kelas dengan mengaplikasikan rekonstruksi pembelajaran
matematika
21
BAB VI
PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERLANDASKAN
KONSTRUKTIVISTIK
Kompetensi pembelajaran
Dengan menuntaskan teks ini anda hendaknya mampu:
1. Mengimplikasikan pembelajaran konstruktivisme.
2. Membedakan peran guru matematika konstruktivisme.
3. Menganjurkan pengorganisasian pelajaran yang tepat untuk topik tertentu.
A. Pendahuluan
Belajar matematika merupakan proses membangun atau mengkonstruksi
konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang tidak terkesan pasif dan statis namun belajar itu
harus aktif dan dinamis. Siswa perlu mengembangkan keyakinannya, kebiasaannya dan
gayanya dalam belajar sehingga kemampuan keterampilan kognitif siswa berkembang.
Pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivistik pendapat
Nickson (Grouws 1992: 106) adalah membantu siswa untuk membangun konsep-
konsep/prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses
internalisasi sehingga konsep/prinsip itu terbangun kembali, transformasi informasi
yang diperoleh menjadi konsep/prinsip baru. Transformasi tersebut mudah terjadi bila
pemahaman terjadi karena terbentuknya skemata dalam benak siswa. Dengan demikian,
pembelajaran matematika adalah membangun pemahaman. Proses membangun
pemahaman lebih penting dari pada hasil belajar sebab pemahaman akan bermakna
kepada materi yang dipelajari
Proses pembelajaran merupakan pengelolaan pemrosesan ide dalam benak siswa
sehingga dalam interaksi belajar-mengajar matematika tidak semata-mata pengelolaan
siswa, lingkungan dan fasilitas belajarnya. Pengetahuan harus dibangun oleh siswa
sendiri berdasarkan pengalaman/pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Agar
lebih spesifik (Skemp, 1977) mengemukakan pembelajaran matematika dalam
pandangan konstruktivistik antara laian sebagai berikut:
(1) Siswa terlibat aktif dalam belajarnya. Siswa belajar materi matematika
secara bermakna dengan bekerja dan berfikir. Siswa belajar bagaimana
belajar.
(2) Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu
dengan skemata yang dimiliki siswa agar pemahaman terhadap informasi
(materi) kompleks terjadi.
(3) Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya
adalah pemecahan masalah.
2. Agar interaksi guru dan siswa efektif, kolaborasi antara guru dengan siswa akan
lebih meningkatkan keterampilan siswa dari pada bekerja sendiri. Oleh karena itu,
siswa akan memperoleh perkembangan kompetensi keterampilan, siswa mendapat
bantuan dan supervisi dari guru yang berpengetahuan. Dalam mengacu scaffolding
guru perlu memahami siswanya sehingga guru dapat membimbing siswa dalam
tingkat bimbingan yang tepat dan akhirnya secara gradual melepaskan bimbingan
dan siswa dapat memahami dan mengerjakan sendiri. Jadi tidak mungkin guru
membiarkan siswa untuk menemukan sendiri. Siswa memerlukan pertukaran ide
dengan orang lain agar siswa belajar, sedang guru perlu memahami prilaku siswa,
atensi yang kuat terhadap kerja siswa dan tetap mengembangkan proses yang
relevan dan kesimpulan yang bermakna.
3. Guru perlu berkesempatan untuk mengobservasi siswa sehingga guru dapat melihat
bagaimana menyelesaikan bantuannya ketingkat pemahaman siswa. Dengan maksud
23
4. Dalam kerja kolaborasi di SD, guru perlu berpartisifasi aktif dengan siswa secara
berkelanjutan, terutama pada awal penanaman konsep matematika. Tetapi tidak
begitu penting keterlibatan guru bagi siswa yang dewasa dalam kelompok yang
lebih berpengetahuan. Di dalam kelas pembelajaran matematika konstruktivisti.
Siswa mau dan berani mengemukakan ide kepada siswa lainnya dan gurunya.
Implikasi siswa berani mengemukakan model matematika dalam menyelesaikan
masalah matematika. Hal ini mengindikasikan bahwa proses mengkonstruksi konsep
matematika terjadi interaksi aktif antara siswa–siswa dan guru sehingga proses
belajar siswa diutamakan, tidak sekedar hasil belajar.
E. Rangkuman
c. Keaslian respon siswa yang ditunjukkan oleh ketinggian derajat ide-ide yang
dikemukakan siswa.
D. Soal Latihan
1. Apa yang anda ketahui tentang pembelajaran matematika
konstruktivistik. Diskusikan!
2. Simulasikan di depan kelas tentang pembelajaran
konstruktivistik dengan mengaplikasikan konsep matematika!
25
BAB VII
PEMBELAJARAN MEMBACA MATEMATIKA/ LITERASI MATEMATIS
Kompetensi pembelajaran
Dengan menuntaskan teks ini, Anda diharapkan mampu:
1. Menyatakan antisipasi tentang pengetahuan matematika yang dimiliki siswa saat
mereka membaca matematika.
2. Membedakan karakteristik membaca matematika tingkat rendah dan yang
tingkat tinggi.
A. Pendahuluan
Seorang guru menyampaikan gagasan matematika ke siswanya memerlukan
komunikasi sedemikian hingga dipahami siswanya. Komunikasi tersebut bergantung
kepada bagaimana guru memahami matematika dan bagaimana pula siswa memahami
matematika yang disampaikan guru. Jika diperluas, dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Ahli menginterpretasikan matematika dan kemudian menyusun buku matematika.
2. Guru menginterpretasikan buku matematika tersebut yang kemudian disampaikan
kepada siswanya dengan lisan atau tertilis saling bergantian.
3. Siswa memahami matematika yang disampaikan guru dan kemudian siswa
memproduksinya.
Apa yang dibaca seseorang dalam matematika antara lain adalah gagasan
(konsep dan prinsip) dari objek-objek matematika yang terdiri dari fakta, konsep, oprasi
dan prinsip. Disini akan diringkas konsep dan prinsip (teorema, dalil, rumus, aturan, dan
sebagainya), problem solving, yang termasuk didalamnya penalaran dan komunikasi
matematika.
1. Konsep matematika adalah suatu gagasan abstrak sehingga seseorang dapat
mengklasifikasikan objek/peristiwa dan menspesifikasikan apakah objek/peristiwa
adalah contoh atau bukan contoh dari gagasan tersebut. Misalnya segitiga,
kesamaan, kubus, himpunan. Konsep dapat dipelajari dengan definisi atau dengan
observasi langsung. Terdapat 3 macam konsep yang dapat dinyatakan dengan
definisi:
a. Definisi analitik yang menyatakan adanya genus proksimum (kelompok) dan
diferensiasi spesifika contoh segitiga sama sisi. Genus proksimumnya adalah
segitiga. Dan diferensiasi spesifiknya adalah segitiga sama sisi.
b. Definisi genetik yaitu definisi yang menyebutkan bagaimana konsep itu
terbentuk atau terjadi. Contoh; fungsi adalah relasi yang terjadi jika setiap unsur
didomain mempunyai kawan tunggal unsur dikodomain.
c. Definisi dalam bentuk rumus dinyatakan dalam bentuk simbul.
Definisi dapat dinyatakan secara ekplisist atau implisit. Definisi secara eksplisit
biasanya menggunakan kata’adalah” atau “jika maka”. Definisi implisit biasanya
dengan menunjukkan ciri-cirinya saja, tidak perlu dalam kalimat definisi.
2. Prinsip dalam matematika adalah rangkaian dari konsep-konsep yang secara
bersama menunjukkan keterkaitan antara konsep tersebut. Prinsip bisa berbentuk:
teorema, dalil, rumus, aturan, dan lain-lain. Contoh dua segitiga konkruen jika dua
sisi dan sudut yang diapit konkruen. Prinsip bisa dipelajari dengan proses inkuiri,
penemuan terbimbing, diskusi kelompok, pemecahan masalah dan demontrasi.
26
salah satu keterampilan yang perlu dikuasai siswa pada abad 21 karena merupakan
perimbangan antara matematika dengan dan tanpa angka. Literasi matematika dapat
membantu siswa untuk membaca informasi, mengidentifikasi, memahami masalah dan
membuat suatu keputusan dengan metode penyelesaian yang tepat (Salsabila, Rahayu,
Kharis, & Putri, 2019).
C. Rangkuman
Membaca matematika tidak hanya melafalkan kata demi kata atau kalimat demi
kalimat tanpa arti, namun lebih dari itu membaca harus memahami makna yang
dibacanya. Membaca matematika berkaitan dengan pemahaman terhadap simbol,
gambar, dan atau pola matematika, pemahaman terhadap konsep matematika dan
keterkaitannya, pemahaman terhadap sifat keteraturan susunan unsur-unsurnya,
pemahaman terhadap sifat berfikir matematika yang induktif dan deduktif. Keberhasilan
pembelajaran matematika menuntut para siswa memahami dengan jelas berbagai simbol
dan kata teknis yang digunakan untuk mengekpresikan konsep-konsep matematis.
Kegiatan membaca materi matematika yang berhasil seringkali memerlukan
tindakan membaca secara seksama dan pembacaaan ulang untuk memahami dan
menginterpretasi berbagai kata dan frasa teknis serta hubungan antara konsep-konsep
yang dihadirkannya.
D. Latihan
1. Pilih 2 konsep dan 2 prinsip matematika MI/MTs. Klarifikasi konsep dan prinsip
yang anda kemukakan sehingga anda mengetahui bagaimana pemahaman siswa
terhadap konsep dan prinsip tersebut.!
2. Bacalah dua artikel dari buku teks terlampir. Klarifikasi pemahaman anda terhadap
masalah [Link] selesaikan masalah tersebut yang kemudian
klarifikasikan mana yang kerja matematik (doing math) dan mana penalaran dan
komunikasi matematik!
29
BAB VIII
MENINGKATKAN AKTIFITAS BELAJAR MATEMATIKA
Kompetensi pembelajaran
Dengan menuntaskan teks ini Anda hendaknya mampu:
1. Mendeskripsikan hubungan antara pengalaman-pengalaman dunia nyata dan
konsep-konsep matematika.
A. Pendahuluan
Dalam belajar konsep dan ide matematika, siswa dibawa dari dunia nyata yang
kemudian dimatematisasikan. Dari pengalaman konkrit, diobservasi dan direfleksi
untuk pembentukan konsep abstrak dan generalisasi. Pernyataan ini menunjukkan
penekanan kepada proses yang berlawanan dengan konten (hasil). Pengetahuan
merupakan proses transformasi yang secara kontinu dikreasikan dan dikreasikan
kembali bukan merupakan entitas yang saling bebas.
Membelajarkan siswa memahami matematika dengan kerangka kerja aktifitas
proses yang diaplikasikan kedalam bentuk diskusi kelompok kecil, akan terjadi belajar
kooperatif yang akan terlaksana bila masalah yang disajikan realistik, sehingga siswa
akan lebih mudah memahami matematika melalui kehidupan nyata.
Berkembangnya teknologi informasi membuat semakin dapat dinilainya aplikasi
yang realistik dengan alat matematika, dan dapat mengembangkan lebih banyak alat-
alat, yang pada gilirannya membuka aplikasi baru. Perubahan sikap ini mempengaruhi
kurikulum matematika yang menjadi semakin lebih aplikatif, bahwa masalah motivasi
siswa menjadi lebih mudah bila aplikasi digunakan sebagai salah satu kemungkinan
motivasi yang pada akhirnya masalahnya semakin realistik ditinjau dari tingkat
pemahaman siswa, menjadi lebih sesuai digunakan dalam pendidikan.
Seseorang dikatakan belajar, bila orang itu dapat mengerjakan sesuatu yang
sebelumnya orang itu tidak dapat mengerjakannya. Konsep-konsep matematika yng
disampaikan kepada pelajar lebih diarahkan kepada penyelesaian masalah sehingga
pelajar mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk menyelesaikan masalah. Cara
belajar pelajar dalam menyelesaikan masalah menurut Hudoyo (2005: 9) antara lain
sebagai berikut:
1. Bahan disusun oleh pengajar secara bermakna dan diajarkan secara rinci dengan
melibatkan pelajar belajar, misal diskusi.
2. Pengajar cukup menyediakan bahan-bahan yang akan dipelajari oleh pelajar dengan
petunjuk-petunjuk seperlunya dan pelajar sendirilah yang menentukan bahan
tersebut untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Seseorang dikatakan aktif dalam proses belajar matematika ialah bila orang
tersebut mengerjakan karena ia merasa perlu dan harus mengerjakan sesuatu bukan
karena ia terpaksa mengerjakan sesuatu. Ini berarti;
1. Pelajar dikatakan aktif belajar, bila pelajar berkemauan belajar dan belajar dilakukan
bukan karena diinstruksikan untuk belajar.
2. Pengajar dikatakan aktif melaksanakan pembelajaran, bila pengajar melaksanakan
bimbingan dan memberikan arahan belajar kepada pelajar dengan kualitas dan
kuantitas yang tinggi, karena pengajar merasa perlu untuk melakukannya.
Dari uraian di atas tercipta definisi belajar aktif bila permasalahan matematika
diperoleh pelajar dan kemudian pelajar mencoba menyelesaikannya dengan
kesadaran/keinginan sendiri, maka barulah itu dikatakan belajar aktif.
Pada usia pelajar SD perkembangan intelektualnya adalah operasi konkrit.
Kemampuan abstraksi/generalisasi dan berpikir matematika formal masih belum
dimiliki pelajar. Karena matematika itu bersifat abstrak dan formal maka klasifikasi
kemampuan pelajar dalam matematika masih tergolong tidak mampu. Kamauan belajar
matematika pun belum ada, kecuali bila belajar matematika disertai contoh-contoh
konkret sesuai dengan perkembangan intelektualnya. Oleh karena kemauan dan
kemampuan belajar pelajar rendah. Murid-murid SD kelas VI dan SMP kelas I
seyogyanya diajar oleh guru-guru berpengalaman sebab saat itu merupakan masa
transisi dari tahap masa berpikir operasi konkrit ke operasi formal.
Dengan demikian pengajar dalam mengembangkan kemampuan keterampilan
kognitif pelajar, haruslah melibatkan diri secara emosional dan sosial sehingga
matematika menjadi menarik dan pelajar menjadi mau belajar. Bahkan yang disusunpun
harus bermakna. Agar konsep yang dipelajari pelajar bermakna diperlukan suatu
penanaman konsep matematika berupa rangkaian terpadu antara bahasa dan kata serta
kalimat, benda konkrit, simbol dan gambar. Jenis intensitas tugas yang diberikan kepada
pelajar tinggi.
E. Kesimpulan
Gagasan yang dikemukakan tentunya merupakan suatu alternatif penyampaian
matematika dalam menjawab permasalahan “besar” bagaimana kita dapat
membelajarkan anak sehingga anak tidak merasa takut, frustasi dan sebagainya bila
mereka menghadapi pelajaran matematika. Tentu saja mengajak anak berpartisipasi
dalam belajar matematika. Jadi yang diutamakan adalah proses belajarnya atau
memperbaiki proses belajar yang terlaksana selama ini. Agar belajar matematika tidak
33
F. Soal Latihan
1. Buatlah laporan hasil dari kumpulan pengalaman belajar (portofolio) selama
melaksanakan proses pembelajaran matematika di sekolah!
2. Rencanakan LKS yang dapat menunjukkan indikasi bahwa siswa aktif
mengkonstruk konsep/prinsip matematika.
3. Sebutkan sebanyak mungkin alasan mengapa seorang guru hendaknya mencoba
merealisasikan pembelajaran konsep-konsep matematika pada dunia nyata
siswa?
4. Buatlah format observasi aktivitas siswa dan aktivitas guru sesuai model
pembelajaran yang digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran
matematika di sekolah.
5. Kolaborasi dengan rekan untuk melaksanakan pengamatan observasi di sekolah
tentang proses belajar-mengajar yang menyenangkan.
6. Sebutkan sebanyak mungkin alasan mengapa seorang guru hendaknya mencoba
merealisasikan pembelajaran konsep-konsep matematika pada dunia nyata
siswa?
34
BAB IX
PEMBELAJARAN MATEMATIKA ABAD GLOBALISASI
Kompetensi Pembelajaran
Dengan menuntaskan tema ini, anda diharapkan mampu:
1. Mendeskripsikan bagaimana matematika diajarkan.
2. Mengaplikasikan penanaman konsep awal matematika terlebih dahulu baru di
drill kemudian dihapalkan.
A. Pendahuluan
Pada era globalisasi mengakibatkan IPTEKS berkembang pesat dan semakin
menentukan. Dalam keadaan demikian akan terasa pentingnya peranan sumber daya
manusia (SDM) yang terdidik yang mempunyai kemampuan yang handal dalam
menyesuaikan diri dalam menghadapi perubahan jaman yang semakin cepat. Dalam
memasuki abad 21 dunia menghadapi permasalahan yang lebih kompleks dari pada
sebelumnya sehingga pendidikan matematika tidak mungkin menghindari untuk melatih
siswa agar mampu dan terampil menyelesaikan masalah, sehingga siswa terlatih dan
terkondisi untuk mampu belajar mandiri sehingga belajar menjadi “Learning Habit”
Dalam hal ini, matematika berfungsi mendasari pengembangan ipteks. Ipteks
sendiri dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan matematika. Matematika sangat
diperlukan dalam kehidupan dan kemaslahatan manusia. Matematika merupakan
pengetahuan yang esensial sebagai dasar untuk bekerja seumur hidup dalam abad
globalisasi. Oleh karena itu penguasaan tingkat tertentu terhadap matematika diperlukan
bagi seluruh siswa agar kelak dalam hidupnya memungkinkan untuk mendapatkan
pekerjaan yang layak karena abad ini tiada pekerjaan yang tanpa matematika.
Mengapa matematika diajarkan? Matematika merupakan pengetahuan yang
berpola dan hierarkis. Cara berfikir matematika deduktif, abstrak, dan generalisasi. Cara
berfikir matematika menakjubkan ternyata mendasari dan mengembangkan disiplin
ilmu lain. Hal ini menurut Hudoyo (2005:38) disebabkan kerja matematika pada
dasarnya:
1. Penyusunan model, yaitu mempresentasikan fenomena dunia yang penting dan
berguna dengan mengkonstruksikan mental secara visual atau simbol.
2. Optimasi, yaitu mendapatkan penyelesaian yang terbaik dengan bertanya”apa
jika…” dan kemudian menjabarkan kesegala kemungkinan.
3. Simbolisasi, yaitu memperluas bahasa dengan representasi simbolik sebagai
konsep abstrak dalam bentuk yang “ekonomis” sehingga memungkinkan untuk
komunikasi dan komputasi.
4. Inferensi, yaitu menyimpulkan dari data, dari premis, dari grafik, dari sumber-
sumber yang tidak lengkap dan konsisten.
5. Analisa logis, yaitu mencari implikasi dari premis-premis dan mencari prinsip-
prinsip untuk menjelaskan fenomena yang diobservasi.
6. Abstraksi, yaitu memilih sesuatu untuk dipelajari secara khusus tentang sifat-sifat
yang sama dari banyak fenomena yang berbeda-beda.
3. Mempunyai peran besar dalam mengembangkan ilmu yang lain, disamping memang
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari baik saat ini maupun masa yang akan
datang.
4. Siswa menjadi terlatih mempunyai keyakinan bahwa apabila ia menyelesaikan
masalah maka kebenaran cara pemecahan masalahnya memang benar adanya, bukan
karena gurunya yang mengatakan, tetapi penalarannya sangat jelas
membenarkannya.
mengetes konsep abstrak. Kedua, prinsip umpan balik dalam proses. Dengan demikian,
bahwa belajar itu merupakan proses pembentukan pengetahuan yang dikreasikan
melalui transformasi pengetahuan (Kolb’s dalam Jan de Lange, 1992: 58). Pernyataan
ini menunjukkan penekanan pada proses yang berlawanan dengan “konten atau hasil”.
Pengetahuan merupakan proses transformasi, yang secara kontinu dikreasikan dan
dikreasi kembali, tidak merupakan entitas yang bebas untuk dikuasai.
Karena itu, diperkirakan pengajaran matematika yang dilaksanakan secara
konvensional (tradisional) tidak akan mampu menghasilkan SDM yang dapat
beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang cepat sebagai ciri kehidupan abad
globalisasi. Dengan demikian, pembelajaran matematika di Indonesia ini haruslah
diarahkan kepada kebutuhan masa depan yang sekiranya dapat mengembangkan
kreativitas dan kemandirian siswa.
Untuk keperluan itu, matematika diajarkan dengan melatih para siswa untuk
menyelesaikan masalah. Cara penyelesaiannya hendaknya membimbing siswa yang
pada akhirnya siswa terlatih dan terkondisi untuk mampu belajar mandiri. Dengan
demikian kebiasaan belajar (learning habit) terbina sehingga siswa selalu bertanya
terhadap informasi-informasi baru, tidak sekedar menerima informasi tanpa berfikir
kritis.
Menurut Holmes (1985) masalah matematika diklasifikasikan menjadi masalah
rutin dan masalah non rutin. Masalah rutin adalah masalah yang prosedur
penyelesaiannya sekedar mengulangi lagi, misalnya secara algoritmik, sedangkan
masalah non rutin adalah masalah yang penyelesaiannya memerlukan tingkat
pemahaman yang tinggi, yang prosedur penyelesaiannya memerlukan perencanaan
penyelesaian
Masalah rutin ada 2 yaitu masalah rutin aplikasi dan masalah rutin non aplikasi.
Masalah non rutin ada 2 juga yaitu masalah non rutin aplikasi dan masalah non rutin
non aplikasi.
Contoh masalah rutin aplikasi:
▪ Apabila ibu Eni menabung di BNI1946 sebesar Rp. 1.000.000,00 mulai tanggal 1
Januari 2008 dengan bunga sederhana (simple interes) 9% setahun, maka berapa
uang Ibu Eni pada tanggal 31 Oktober 2008?.
Apabila masalah rutin tersebut lebih ke matematikanya dari pada ke kehidupan nyata
maka disebut masalah rutin non aplikasi.
Contoh masalah rutin non aplikasi:
▪ Apabila terdapat dua bilangan bulat, bilangan pertama dua kali kedua dan jumlah
kedua bilangan tersebut 57, maka carilah kedua bilangan tersebut!
Masalah non-rutin aplikasi adalah masalah yang penyelesaiannya menuntut perencanaan
dengan mengaitkan dunia nyata/kehidupan sehari-hari, ilmu pengetahuan alam/sosial
yang penyelesaiannya mungkin saja open-ended.
Contoh masalah non-rutin aplikasi:
▪ Ali dapat mengerjakan sendiri suatu pekerjaan dalam 6 hari dan Ani dapat
mengerjakan sendiri pekerjaan tersebut dalam 8 hari. Apabila pekerjaan itu secara
bersama dikerjakan mulai hari senin jam 07.00 pagi, kapan pekerjaan itu selesai bila
1 hari kerja dihitung 7 jam.
Masalah non-rutin non–aplikasi adalah masalah yang berkaitan murni tentang hubungan
matematis, misalnya bentuk, pola dan logika yang penyelesaiannya mungkin saja open-
ended.
Contoh masalah non-rutin non–aplikasi
37
▪ Lukislah bentuk geometri yang terdiri dari dua bujur sangkar dan empat segitiga
dengan menggunakan delapan garis.
Dril artinya latihan soal serupa tanpa pemahaman konsep yang terkandung
dalam materi sehingga proses belajarnya menjadi mekanistik dan rutin. Dengan cara
drill siswa terlatih menyelesaikan soal-soal yang serupa. Tapi kurang paham konsep
awal. Boleh saja siswa di drill tetapi harus paham dahulu konsep-konsepnya.
Masalah yang sering muncul di SD adalah mencongak. Mencongak yang
berlebihan akan mengakibatkan siswa sulit mengaplikasikan konsep materi yang
dipelajari apabila siswa menghadapi problema yang tidak dikerjakan sebagaimana yang
dilatihkan sebelumnya. Jadi, disini transfer belajarnya lemah.
Pembelajaran yang diorientasikan ke penanaman konsep, maka siswa akan
memahami konsep dengan baik sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah. Jadi
transfer belajarnya tinggi. Namun kelemahannya siswa bisa menjadi terlalu lama
menyelesaikan suatu masalah karena terbentur dengan ketidakterampilannya, misalnya
dalam menghitung (tidak hapal, karena mesti harus menjabarkan hal-hal yang
semestinya harus dengan cepat diketahui).
Mengingat siswa akan menghadapi masa depan yang belum menentu, maka
siswa perlu dibekali dengan konsep-konsep yang mantap sehingga transfer belajarnya
kuat. Disamping itu untuk tingkat SD keterampilan hitung-menghitung, mencongak
dengan porsi terbatas tetap digunakan, tapi tyidak perlu lagi menghitung dengan
bilangan-bilangan besar sebab sudah bisa dikerjakan kalkulator. Dalam pembelajaran
matematika diperlukan latihan soal yang terbagi menjadi 2 bagian: Pertama, dril
dengan paham konsep terlebih dahulu terus latihan menghapal, sehingga siswa
menjawab cepat. Ke-dua: latihan menyelesaikan masalah terutama soal-soal ceritera.
Secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut.
Penanaman Penyelesaian
Drill
Konsep Masalah
2. CBSA VS MENTAL
mental yaitu belajar sambil bekerja dan memikirkan apa yang dikerjakan dalam
penyelesaian masalah dengan adanya interaktif antara guru dan sesama siswa lainnya.
d. Siswa tidak diberi kepercayaan, kesempatan untuk terlibat aktif, menemukan konsep
awal, menebak, mengajukan pertanyaan, memecahkan masalah dan menanggung
resiko dalam pembelajaran matematika. Padahal semua itu merupakan proses belajar
matematika yang amat penting.
e. Guru berusaha keras agar siswa tidak membuat kesalahan, padahal kesalahan yang
dibuat siswa sebagai landasan belajar bagi siswa itu sendiri untuk mengetahui bahwa
yang dikerjakan/dibuat siswa itu sebagai usaha untuk memperbaiki kesalahannya.
Itulah beberapa hal yang menyebabkan kesulitan siswa dalam belajar
matematika sehingga menyebabkan kegagalan siswa dalam belajar matematika.
Kegagalan-kegagalan siswa yang berlangsung terus-menerus ini menjadikan
“matematika fobi” sehingga ada kesan bahwa belajar matematika itumenghendaki
kemampuan khusus yang kebanyakan siswa tidak mampu mengerjakan matematika.
Padahal sebenarnya para siswa itu mampu belajar matematikajauh lebih baik dari pada
yang diduga, asalkan bantuan belajar matematika yang diberikan kepada siswa sesuai
dengan perkembangan intelektual dan sosial siswa.
Kesimpulan
Pembelajaran matematika disajikan untuk membangkitkan minat siswa agar
mengasah dan menata pola berpikir. Pemahaman konsep matematika lebih utama
dibandingkan dengan drill. Karena paham terhadap konsep merupakan bekal utama
dalam menyelesaikan masalah matematika. Drill secara terbatas dapat ditolelir sebagai
bagian dari penanaman konsep. Proses belajar matematika yang utama adalah
melibatkan mental. Keterlibatan mental terjadi bila siswa dihadapkan pada
permasalahan matematika yang penyelesaiannya menuntut daya kreativitas yang tinggi.
Penyajian konsep dan permasalahan matematika harus disesuaikan dengan kemampuan
dan kesiapan siswa. Yang pelu mendapat perhatian adalah siswa mampu memahami
konsep dan menyelesaikan masalah dengan catatan tidak membunuh kreativitas siswa.
Eksplorasi guru diawal pembelajaran dengan teknik scaffolding dan probing dalam
penanaman konsep awal diperlukan untuk menggiring kemampuan awal siswa dalam
belajar sendiri, sehingga kebiasaan belajar siswa terbina, masa depan sangat
memerlukan kemampuan belajar mandiri. Yang utama adalah pemahaman terhadap
bahan ajar, bukan selesainya GBPP.
Belajar matematika untuk menghadapi masa yang akan datang tidak cukup
learning by doing namun hendaknya sesuai dengan ungkapan (Mel Silberman: 1996).
Apa yang saya dengar, saya lupa.
Apa yang saya lihat, saya ingat sidikit.
Apa yang saya dengar, lihat, dan diskusikan saya mulai paham.
Apa yang saya dengar, lihat, dan diskusikan, dan saya kerjakan, saya dapat
pengetahuan dan keterampilan.
Apa yang saya ajarkan saya kuasai.
Pembelajaran matematika hendaknya:
1. Melibatkan perasaan siswa terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam matematika.
2. Disajikan secara menarik dan menantang, tidak kering dan membosankan.
3. Disajikan berupa masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
40
D. Soal Latihan
1. Siapa saja yang berkepentingan dengan matematika? Jelaskan!
2. Bagaimanakah karakteristik pembelajaran matematika di sekolah? Jelaskan!.
3. Mengapa kita sebagai guru perlu mengetahui karakteristik pembelajaran matematika
di sekolah?
BAB X
MODEL, STRATEGI, PENDEKATAN, METODE DAN TEKNIK
PEMBELAJARAN MATEMATIKA REFORMASI
Kompetensi Pembelajaran
Setelah menuntaskan tema ini, anda diharapkan mampu:
1. Mendeskripsikan berbagai model pempelajaran matematika.
2. Mendemonstrasikan kemampuan dalam menggunakan model, strategi,
pendekatan, metode dan teknik pembelajaran matematika.
3. Terampil mengaplikasikan strategi, pendekatan, metode serta teknik
pembelajaran dalam proses pembelajaran matematika.
orang-orang beruntung dan mempunyai bekal yang banyak jumlahnya untuk berjumpa
kelak dengan tuhannya.
Pengertian strategi pembelajaran matematika adalah siasat atau kiat yang
sengaja direncanakan oleh guru berkenaan dengan persoalan pembelajaran, agar
pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan lancar dan tujuannya berhasil sehingga
belajar bisa tercapai secara optimal.
Strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru matematika sebelum
melaksanakan pembelajaran matematika di kelas, biasanya dibuat secara tertulis, mulai
dari telaah kurikulum, petunjuk pelaksanaan, dan petunjuk teknis pembelajaran
matematika, menyusun program tahunan, program semester, silabus, rencana
pelaksananan pembelajaran (RPP).
Stratergi guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas yang meliputi satu
pokok bahasan yang terdiri atas beberapa sub pokok bahasan untuk beberapa kali
pertemuan tatap muka. Dalam RPP guru harus sudah menentukan indikator, tujuan
pembelajaran, memilih model pembelajaran, strategi, pendekatan, metode dan teknik
pembelajaran tertentu yang tepat untuk materi yang disajikan, dijabarkan secara rinci
dan fungsional berikut fasilitas belajar yang diperlukan, kegiatan belajar- mengajar
hususnya kegiatan inti harus sesuai dengan model pembelajaran yang dilaksanakan
yaitu student center, serta melaksanakan evaluasi secara komprehensif dari mulai proses
belajar hingga hasil belajar.
Kedua para siswa harus belajar memahami makna dari simbol-simbol, dan menangkap
makna dari rumus, grafik, dan diagram.
Ketiga Membaca materi matematika seringkali menuntut para siswa untuk mengingat
banyak konsep dan keterampilan yang sudah dipelajari waktu sebelumnya.
Ke-empat berkenaan dengan kecepatan membaca. Ini berarti bahwa kegiatan membaca
materi matematika yang berhasil seringkali memerlukan tindakan membaca secara
seksama dan pembacaan ulang untuk memahami dan menginterpretasi berbagai kata
dan frasa teknis serta hubungan antara konsep-konsep yang dihadirkan.
Strategi- strategi instruksional sebagai serangkaian mode-mode belajar-mengajar
yang dirancang untuk mengambil dan memberikan feedback yang dihasilkan dari
imleplementasi rencana-rencana pembelajaran. Beberapa pola strategi instruksional
diantaranya:
1. Pola strategi instruksional untuk konsep. Contoh, bilangan, bilangan prima, titik.
Guru menggali pengetahuan siswa dengan suatu masalah, memperlihatkan contoh
dan yang bukan contoh secara berurutan sehingga membuat perbedaan,
mengusahakan teridentifikasinya karakteristik-karakteristik yang esensial dan yang
non esensial, membuat model memakai analogi, mendapatkan generalisasi konsep
itu pada beragam contoh spesifik yang sebelumnya belum pernah [Link]
akhirnya memunculkan definisi yang operasional
2. Pola strategi instruksional untuk kosa kata. Contoh, poligon, limit, integral,
Guru menggali pengetahuan siswa dengan suatu masalah. dengan memperlihatkan
obyek (gagasan-gagasan percontohan), kemudian memunculkan pernyataan gagasan
atau deskripsi obyek, Siswa mengajukan pertanyaan dan siswa lain memecahkan
masalahnya, guru mengajak kolaborasi dengan siswa agar terbentuk pemahaman
matematika dalam konteks.
3. Pola strategi instruksional untuk aturan/ prinsip. Contoh, algoritma akar kwadrat,
bukti kongruensi. Guru mengajak siswa untuk mengingat/meninjau kembali
berbagai prasyarat, mengindikasikan sifat performasi akhir yang diharapkan,
memberi petunjuk (via pertanyaan-pertanyaan, kerja percobaan, aplikasi-aplikasi)
untuk mencari pola dengan mempertalikan konsep-komsep, mengupayakan agar
aturan itu dikemukakan oleh siswa jika mungkin dalam pernyataan, memberikan
44
memilih pola-pola strategi yang sesuai dengan masing-masing kategori muatan dan
mengkolaborasikan pola strategi tersebut dalam suatu pelajaran.
Model pembelajaran adalah sebagai pola interaksi siswa dengan guru di dalam
kelas yang menyangkut strategi, Pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang
diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Model pembelajaran
matematika yang lazim diterapkan antara lain model pembelajaran klasikal, individual,
diagnostik, remidial, terprogram, modul, dan cooperatif learning tipe jigsaw, TGT, TAI,
STAD, GI, dan TPS (Think Pair Share)
c. Tiap kelompok diberi masalah yang berbeda-beda berupa item soal untuk
diselesaikan dalam kelompok.
d. Ketua kelompok setelah membaca soal, kemudian bergabung dengan ketua
kelompok lain membentuk kelompok ahli dengan nomor urut yang sama, untuk
menyamakan persepsi tentang pemecahan masalah/soal masing-masing.
e. Ketua kelompok kembali kepada kelompok asal untuk menjelaskan hasil
diskusinya kepada anggota kelompoknya masing-masing.
f. Wakil dari kelompok masing-masing mempresentasikannya didepan kelas.
g. Siswa lain mengomentari, melengkapi dan menyimpulkan.
h. Guru mengklarifikasi masalah jika diperlukan.
i. Pemberian kuis untuk mengasess kemampuan masing-masing siswa.
j. Penghitungan skor kelompok untuk menentukan penghargaan kelompok yaitu:
good team untuk level rendah, great team untuk level sedang, dan super team
untuk kelompok unggul.
Karakteristik PAIKEM
a. Sumber belajar yang beranekaragam.
b. Siswa dikelompokan 5 atau 6 orang yang heterogen prestasi matematiknya.
c. Guru mengeksplorasikan konsep matematika dengan media dan bimbingan terarah
secara scafolding, probing.
d. Guru memberikan situasi masalah. Situasi masalah bisa muncul dari siswa.
e. Siswa mengemukakan pertanyaan (Aktif)
f. Siswa menemukan masalah, masalah dikerjakan masing-masing kemudian
didiskusikan akhirnya muncul kesepakatan mengemukakan gagasan untuk
merencanakan penyelesaian masalah (Inovatif).
50
5. Strategi Think-talk-write
a. Siswa dikelompokan masing-masing 5 atau 6 orang yang heterogen.
b. Siswa dihadapkan pada suatu masalah penalaran, komunikasi matematika.
c. Siswa memahami masalah dan menyelesaikan masalah tersebut secara
individual (think).
d. Siswa diskusi tentang hasil pemecahan masalah. Agar terjadi kesepahaman
dalam kelompok (talk).
e. Setiap siswa menyampaikan hasil diskusinya secara tertulis(write).
5. Pendekatan Realistik
a. Siswa dikelompokan 5 atau 6 orang secara heterogen.
b. Siswa dihadapkan pada suatu masalah matematika kontekstual.
c. Siswa mengkonstruk sendiri algoritma, aturan, hingga terbentuk konsep
matematika formal.
d. Siswa membuat jalinan antar topik antar pokok bahasan, dengan berfikir
divergen.
e. Siswa memecahkan masalah dalam diskusi kelompok agar terjadi kesepahaman.
f. Siswa menyajikan temuannya.
9. Pendekatan Konstruktivis
a. Siswa dikelompokan lima atau enam orang yang heterogen.
b. Guru mengajak siswa bereksplorasi,untuk kolaborasi dalam proses pembelajaran
membentuk konsep pemahaman awal siswa.
c. Awal gagasan siswa sebagai titik tolak untuk memulai pembelajaran dibangun
oleh siswa secara aktif.
d. Sajian proses pembelajaran, diawali dengan masalah atau situasi masalah.
e. Siswa diberi kesempatan untuk menemukan atau membentuk pemahaman
sendiri, memodivikasi masalah dengan bahasanya sendiri dan merumuskan
permasalahan.
f. Siswa dalam kelompok mengajukan permasalahan, dan kelompok lain berusaha
menyelesaikannya sehingga muncul jamping-jamping atau loncatan-loncatan
kesepahaman.
g. Hasil diskusi dipresentasikan di depan kelas.
h. Hubungan guru dengan siswa sebagai mitra yang sama-sama membangun
pengetahuan. Kesimpulan pembelajaran diungkapkan oleh siswa.
i. Guru mengklarifikasi permasalahan yang muncul jika diperlukan.
j. Tes formatif individu.
k. Refleksi.
D. Aplikasi Metode Pembelajaran Matematika
1. Metode Penemuan (Sanjaya, W. 2006).
a. Siswa dikelompokan masing-masing lima atau enam orang
b. Tahap orientasi, guru mengorientasikan siswa pada proses pembelajaran.
c. Tahap pelacakan, ekplorasi dilakukan untuk menggali potensi prasyarat siswa,
dengan teknik probing, scafolding.
d. Tahap konfrontasi, disajikan masalah matematika.
e. Tahap penemuan konsep awal, dikonstruk oleh siswa dalam kelompok.
f. Tahap akomodasi, tahap penyimpulan dalam pembentukan pemahaman konsep
oleh siswa.
g. Tahap transfer, disajikan masalah baru yang relevan dengan materi yang telah
disampaikan berupa tes formatif.
h. Refleksi.
54
G. Rangkuman
Standar-standar pembelajaran matematika dari NCTM mengangkat suatu
gambaran pembelajaran di mana para guru lebih cakap dalam:
1. Menyeleksi tugas-tugas matematis untuk melibatkan minat dan intelek siswa.
55
1. Pemahaman matematika
a. Pemahaman induktif terdiri dari pemahaman mekanikal, instrumental
(melaksanakan perhitungan rutin), komputasional (algoritmik), knowing how to
(menerapkan rumus pada kasus serupa).
b. Pemahaman deduktif terdiri dari pemahaman rasional (membuktikan
kebenaran), relasional (mengaitkan satu konsep dengan konsep lainnya),
fungsional (mengerjakan kegiatan matematika secara sadar), dan knowing
(memperkirakan satu kebenaran tanpa ragu).
c. Pemahaman Relasional; (Kilpatrick dan Findel) yaitu
1) Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.
2) Kemampuan mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi atau
tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut.
3) Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.
4) Kemampuan memberikan contoh dan contra contoh dari konsep yang telah
dipelajari.
5) Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk representatif
matematika.
6) Kemampuan mengaitkan berbagai konsep matematika.
7) Kemampuan mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep.
2. Komunikasi matematik
a. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika.
b. Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematik, secara lisan atau tulisan, dengan
benda nyata, gambar, grafik dan aljabar.
c. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa matematika.
d. Mendengarkan, diskusi, dan menulis tentang matematika.
e. Memebaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.
f. Menyusun pertanyaan matematika yang relevan dengan situasi masalah.
57
3. Penalaran matematika
a. Menarik kesimpulan secara logik.
b. Memberikan penjelasan dengan menggunakan model, fakta, sifat, dan
hubungan.
c. Memperkirakan jawaban dan proses solusi.
d. Menggunakan pola dan hubungan untuk menganalisis situasi matematika,
menarik analogi dan generalisasi.
e. Menyusun dan menguji konjektur.
f. Memberikan lawan contoh (Counter example) atau non contoh.
g. Mengikuti aturan inferensi (menarik kesimpulan), memeriksa validitas argumen.
h. Menyusun argumen yang valid.
i. Menyusun pembuktian langsung, pembuktian tak langsung, dan induksi
matematik.
4. Koneksi matematika
a. Mencari hubungan berbagai representasi (gambaran) konsep dan prosedur
(prasyarat).
b. Memahami hubungan antara topik matematika.
c. Menggunakan matematika dalam bidang studi lain atau kehidupan sehari hari.
d. Memahami representasi ekuivalen konsep atau prosedur yang sama.
e. Mencari koneksi satu prosedur ke prosedur lain dalam reoresentasi yang
ekuivalin.
f. Menggunakan koneksi antar topik matematika, dan antara topik matematika
dengan topik lain.
I. Soal Latihan
1. Pilih sebuah konsep matematika yang spesifik untuk diajarkan, dan periksa
bagaimana beberapa buku teks matematika sekolah yang berbeda membangun
konsep itu. Diskusikan apa yang menurut anda merupakan aspek-aspek positif
dan negatif dari masing-masing penyajian.
2. Buatlah soal matematika MI/MTs sebanyak lima item Soal boleh berupa situasi
masalah maupun soal pemecahan masalah yang tidak langsung menerapkan
rumus, atau prosedural!
3. Simulasikan di depan kelas dengan mengaplikasikan model, strategi,
pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran matematika!
4. Buat laporan proses pembelajaran dan hasil pembelajaran matematika di
sekolah dengan mengaplikasikan salah satu model, strategi, pendekatan,
metode, dan teknik pembelajaran matematika.
5. Pilih sebuah konsep matematika yang spesifik untuk diajarkan, dan periksa
bagaimana beberapa buku teks matematika sekolah yang berbeda membangun
konsep itu. Diskusikan apa yang menurut anda merupakan aspek-aspek positif
dan negatif dari masing-masing penyajian.
6. Buatlah soal matematika MI/MTs sebanyak lima item Soal boleh berupa situasi
masalah maupun soal pemecahan masalah yang tidak langsung menerapkan
rumus, atau prosedural!
58
BAB XI
PROBLEM SOLVING
Kompetensi Pembelajaran
1. Mendeskripsikadengan pendekatan Pemecahan Masalah matematika.
2. Terampil mengaplikasikan soal strategi pemecahan masalah matematika.
3. Terampil membelajarkan siswa melalui pendekatan problem solving.
A. Pendahuluan
Pemecahan masalah merupakan bagian dari Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan yang sangat penting dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya.
Siswa memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang
sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin.
Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematik penting seperti penerapan
aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi
matematik, dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik.
Realita di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan pemecahan masalah dalam
proses pembelajaran matematika belum dijadikan sebagai kegiatan utama. Padahal di
Amerika dan Jepang kegiatan tersebut dapat dikatakan merupakan inti dari kegiatan
pembelajaran matematika sekolah. Suryadi dkk. (1999) dalam surveynya tentang
Current situation on mathematics and science education in Bandung yang disponsori
JICA, antara lain menemukan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah
satu kegiatan matematik yang dianggap penting baik oleh para guru maupun siswa
disemua tingkatan sekolah mulai dari Sekolah Dasar sampai SMA.
Pemecahan masalah masih dianggap sebagai bagian yang paling sulit dalam
matematika baik oleh siswa dalam mempelajarinya maupun bagi guru dalam
membelajarkan siswa. Berbagai kesulitan ini muncul antara lain karena mencari
jawaban dipandang sebagai satu-satunya tujuan yang ingin dicapai. Karena hanya
berfokus pada jawaban, anak sering kali salah dalam memilih teknik penyelesaian yang
sesuai.
bahwa masalah sebagai suatu tugas yang apabila kita membacanya, melihatnya atau
mendengarnya pada waktu tertentu, dan kita tidak mampu menyelesaikannya pada saat
itu juga.
Disadari atau tidak, setiap hari kita harus menyelesaikan berbagai masalah.
Dalam penyelesaian suatu masalah, kita seringkali dihadapkan pada suatu hal yang
sangat rumit dan pelik, kadang-kadang pemecahannya tidak dapat diperoleh dengan
segera. Suatu masalah dapat dipandang sebagai “masalah”, dan merupakan hal yang
sangat relatif; artinya suatu persoalan yang dianggap sebagai masalah bagi seseorang,
bagi orang lain mungkin hanya merupakan hal yang rutin belaka.
Menurut Utari-Sumarmo (1994) bahwa pemecahan masalah dapat berupa
menciptakan ide baru, menemukan teknik atau produk baru. Bahkan dalam
pembelajaran matematika pemecahan masalah mempunyai interpretasi berbeda.
Misalnya menyelesaikan soal ceritera, soal yang tidak rutin, dan mengaplikasikan
matematika dalam kehidupan sehari-hari. Masalah non–rutin yaitu masalah yang
penyelesaiannya menuntut perencanaan dengan mengaitkan dunia nyata/kehidupan
sehari-hari, dan penyelesaiannya tersebut mungkin saja banyak cara atau banyak jawab
(open-ended) yang memerlukan cara berpikir divergen yang dapat melatih siswa
berpikir kreatif.
Polya (1985) mendefinisikan, bahwa pemecahan masalah merupakan suatu
usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak
begitu mudah segera dapat dicapai. Sejak lama, pemecahan masalah telah menjadi fokus
perhatian utama dalam pembelajaran matematika di sekolah, dan merupakan salah satu
agenda yang dicanangkan NCTM di Amerika Serikat pada tahun 1980-an,
(1) the mathematics curriculum should be organized around problem solving, (2)
the definition and language of problem solving in mathematics should be
developed..., (3) mathematics teachers should create classroom environment in
which problem solving can flourish, (4) appropriate curricular materials to
teach problem solving should be developed.
Foshay dan Kirkley (2003) mengidentifikasi suatu urutan dasar dari tiga
aktivitas kognitif dalam proses pemecahan masalah:
1. Merepresentasi masalah yang meliputi pemanggilan kembali konteks pengetahuan
yang sesuai, dan mengidentifikasi tujuan dan kondisi awal yang relevan untuk
masalah.
2. Mencari solusi yang meliputi menghaluskan tujuan dan mengembangkan suatu
rencana tindakan dalam mencapai tujuan.
62
f) Menuntut penggunaan lebih dari satu strategi untuk mencapai solusi yang
benar.
g) Menuntut adanya proses pengambilan keputusan.
3) Sumber
Guru yang kreatif membuat dan mengembangkan soal-soal sendiri yang memuat
masalah-masalah yang tidak rutin.
4) Teknologi.
Penyelesaian masalah menggunakan kalkulator hal ini karena menyangkut waktu
ynag dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dapat digunakan untuk meningkatkan
keterampilan dalam menggunakan strategi pemecahan masalah.
5) Manajemen Kelas.
Membelajarkan siswa dalam proses pemecahan masalah lebih efektif dengan model
kooperatif learning, karena siswa mampu menunjukkan kemampuan yang lebih baik
dalam memahami permasalahan secara lebih mendalam jika belajar dari temannya
melalui diskusi kelompok.
Schroeder and Lester (Bay, 2000) menginterpretasi jenis pemecahan masalah di
dalam kelas sebagai berikut:
1. Pembelajaran untuk pemecahan masalah adalah pembelajaran konvensional.
Pembelajaran ini bertujuan untuk menerapkan konsep terlebih dahulu, kemudian
siswa mengaplikasikan pengetahuannya pada situasi pemecahan masalah. Konsep
ini umumnya terdapat di dalam buku teks, dimana soal latihan diikuti oleh soal
cerita dengan menerapkan konsep yang sama.
2. Pembelajaran tentang pemecahan masalah. Pembelajaran ini mengupas tentang
strategi atau heuristic Pollya untuk menyelesaikan masalah (1985: 5) dengan
mengajukan empat langkah pemecahan masalah, yaitu: a) memahami masalah, b)
merencanakan pemecahan, c) melakukan perhitungan dan d) memeriksa kembali
hasil. Pembelajaran ini adalah bagaimana menerapkan strategi pemecahan masalah,
tidak perlu mengajarkan konten matematikanya.
3. Pembelajaran melalui pemecahan masalah. Pembelajaran ini bertujuan
menyampaikan konten matematika dalam suatu lingkungan pemecahan masalah
yang berorientasi diskavery. Pembelajaran ini melibatkan siswa melakukan
eksplorasi, menemukan, menginvestigasi masalah yang konkrit dan perlahan-lahan
menuju abstrak.
aturan, melainkan sebagai suatu seni yang eksperimental dan induktif. Tujuan dari
melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah sebagai seni adalah untuk
mengembangkan kemampuan siswa supaya menjadi pemecah masalah yang
terampil dan antusiastik, menjadi pemikir yang independen, sehingga mampu
mengatasi masalah yang ill-structured dan openp-ended.
Strategi Tebak dan Uji Kembali adalah strategi pemecahan masalah yang dilakukan
dengan cara menerka dan menguji kembali suatu jawaban dalam proses pemecahan
masalah matematika. Untuk mneggunakan strategi ini, saudara harus mengerti lebih
dulu soalnya. Kemudian mencatat syarat syarat yang diketahui dan harus dipenuhi dari
soal tersebut. Akhirnya, ketika menerka, saudara harus menguji apakah jawaban
tersebut memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Jika satu atau lebih syarat tidak
dipenuhi, maka jawaban salah.
Masalah 1
Disuatu persimpangan jalan terdapat beberapa tukang becak dan tukang ojeg motor.
Disana terdapat 12 kendaraan dan jumlah roda seluruhnya 29 buah. Berapakah jumlah
masing masing becak dan motor?
Selesaikan
Langkah 1
Terka jawaban mulai dengan angka ditengah dari angka yang diketahui pada soal,
kemudian dapat memilih untuk menambahkan atau mengurangi angka angka terkaan
pada terkaan berikutnya.
Langkah kedua
Gunakan syarat-syarat yang diketahui untuk menguji jawaban, semua syarat yang
diketahui harus dipenuhi. Jika jawaban masih salah, kembali ke langkah pertama.
Terkaan pertama
6 becak dan 6 motor
mulai dengan angka 6, karena merupakan angka ditengah antara 6 dan 12
uji kembali
bacak mempunyai 3 roda dan motor mempunyai 2 roda
67
Terkaan kedua
Karena jumlah roda pada terkaan pertama lebih banyak dari yang diketahui (30 > 29),
maka kendaraan yang mempunyai roda lebih banyak dikurangi sehingga terkaan
menjadi 5 becak dan 7 motor.
Uji kembali
5 becak + 7 motor = 12 kendaraan
(memenuhi syarat pertama)
Kendaraan Jumlah Roda
Bacak 5 x 3 = 15
Motor 7 x 2 = 14
Total jumlah roda = 15 + 14 = 29
(memenuhi syarat kedua)
jadi, jumlah becak dan motor di persimpangan jalan adalah 5 dan 7
2. Menyederhanakan Masalah
Strategi menyederhanakan masalah digunakan untuk menyelesaikan masalah
matematika dengan mencobakan pada masalah yang lebih sederhana. Kemudian setelah
di dapatkan solusi atau berupa pola dari soal yang sederhana ini, dapat membuat
penyelesaian untuk masalah yang lebih rumit.
MASALAH 1
Berapakah banyaknya persegi yang berbeda pada papan catur 8 x 8
BACA DAN PAHAMI
a. Apa yang kalian ketahui?
1. Bentuk papan 8 x 8
68
Selesaikan
Langkah 1
Bagi atau ubah suatu masalah menjadi lebih disederhanakan untuk dipecahakan dan
diselesaikan
Langkah 2
Gunakan jawaban masalah tersebut untuk menyelesaikan masalah yang lebijh rumit
1. untuk menemukan polanya, cobakan pada bentuk persegi yang lebih sederhana
a. persegi 1 x 1
Jumlah persegi yang berbeda = 1 = 1 2
b. persegi 2 x
Jumlah persegi yang berbeda
= (Persegi 2 x 2) + (persegi 1 x 1)
=1+4
= 12 + 22
c. persegi 3 x 3
Jumlah persegi yang berbeda
= (Persegi 3 x 3) + (Persegi 2 x 2) + (persegi 1 x 1)
=1+4+9
= 12 + 22 + 32
d. persegi 4 x 4
Jumlah persegi yang berbeda
= (Persegi 4 x 4) + (Persegi 3 x 3) + (Persegi 2 x 2) + (persegi 1 x 1)
= 1 + 4 + 9 + 16
= 12 + 22 + 32 + 42
[Link] dapat menentukan banyaknya persegi yang berbeda pada papan catur 8 x 8
Jumlah = 12 + 22 + 32 + 42 + 52 + 62 + 72+ 82
= 1 + 4 + 9 + 16 + 25 + 36 + 49 + 64
= 204 persegi.
3. MELIHAT POLA
69
Masalah 1
Andi adalah anak yang cerdas. pada saat pelajaran Matematika, gurunya menanyakan
kepada seluruh murid berapakah jumlah bilangan asli dari 1 sampai 100. Dengan cepat,
Andi dapat langsung menjawabnnya. Bagaimanakah cara Andi menyelesaiakan soal
tersebut?
c. Rencanakan Strategi
Melihat Pola
Selesaikan!
Langkah 1
Daftarkan data yang diketahui dan temukan Polanya
Langkah 2
Gunakan pola tersebut untuk membuat dugaan atau hipotesis (asumsi) dan selesaikan
masalah tersebut.
1+ 2+ 3+ ...+ 98 + 99 + 100
100 + 99 + 98 + ...+ 3+ 2+ 1
101 + 101 + 101 + ……+ 101 + 101 + 101
2. Dari penjumlahan di atas didapat penjumlahan 100 kali dari 101, sehingga
2 x (1 + 2 + . . . + 99 + 100) = 100 x 101
2 x (1 + 2 + . . . + 99 + 100) = 100 x 101 / 2
1 + 2 + . . . + 99 + 100 = 5.050
70
tips. Jumlahkan barisan bilangan tersebut dengan bilangan bilangan yang sama, tetapi
urutanya terbalik.
Masalah 2
Masalah Satu
Di suatu ruangan kelas, masing masing siswa mempunyai kursi dan meja. Jumlah
kursi setiap baris sama. Anita duduk di baris ketiga dari depan dan keempat dari
belakang. Di sebelah kanannya ada 2 siswa dan di sebelah kirinya ada 5 siswa.
Berapakah jumlah siswa seluruhnya?
Selesaikan
Langkah 1
Buatlah gambar atau model setiap informasi yang diketahui
71
Langkah 2
Cek kembali apakah gambar tersebut sesuai dengan semua informasi, kemudian
temukan jawabannya melalui gambar tersebut.
Masalah 2
Empat orang anak sedang membandingkan tinggi badan mereka masing masing.
Annisa lebih tinggi 14 cm daripada Bambang. Cici lebih pendek 7 cm dari pada
Anisa. Dani lebih tinggi 10 cm daripada Cici. Berapakah selisih tinggi antara
bambang dengan Deni?
Strategi membuat daftar terurut dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Strategi
ini dilakukan dengan cara mengumpulakn informasi dalam suatu daftar. Dengan
membuatkan satu daftar, maka akan sangat membantu menghitung berbagai
kemungkinan dan terhindar dari pengulangan ketika harus menyelesaikan soal yang
membutuhkan data dalam jumlah besar.
Masalah 1
Henry sedang bermain melemparkan tiga panah kecil pada sasaran lingkaran 2, 5, 10.
berapa banyak kemungkinan total nilai yang dapat diperoleh Henry jika lemparannya
tidak ada yang meleset dari sasaran?
b. Apa yang ditanyakan? Banyaknya kemungkinan total nilai yang dapat diperoleh
72
Penyelesaian
Langkah satu
tentukan dari urutan mana yang akan dibuat suatu daftar agar tidak terjadi pengulangan.
Kemudian buatlah daftar kombinasinya dari data yang ada.
Langkah 2
Cek kembali apakah ada yang belum terdaftar atau terulang, kemudian hitunglah
banyaknya kemungkinan yang terjadi.
Masalah 2
Reni memiliki 4 buah huruf, yaitu R, E, A, dan D. berapa banyak kemungkinan kata
sandi berbeda yang dibuat dengan menggunakan huruf tersebut dimana tidak ada
pengulangan huruf?
6. Membuat Tabel
Tabel digunakan untuk mencari pola yang muncul dalam suatu soal, sehingga
mempermudah untuk memperoleh jawaban.
Masalah 1
73
Dina mempunyai uang Rp 100.000, yang terdiri dari lembaran uang RP. 10.000, dan
lembaran uang Rp. 5.000, Berapa banyaknya kemungkinan lembaran uang yang
dimiliki Dina?
2. Dari table di atas ada 9 kemungkinan kombinasi uang 10.000 dan 5.000 yang
menghasilkan uang Rp. 100.000,
Masalah 2.
Feri melemparkan dua buah dadu yang masing-masing permukaannya memiliki titik
yang berjumlah 1 sampai 6. Berapa kemungkinan dua mata dadu tersebut berjumlah
7?
7. Bekerja mundur
Masalah 1.
74
Bu Nety pergi ke pasar membeli daging dan membelanjakan ¼ dari uang nya.
Kemudian ia membeli buah-buahan dan membayarkan 1/3 dari sisa uangnya. Lalu ia
membayarkan 1/2 dari sisa uang terakhir untuk membeli kemeja suaminya. Setelah itu,
sisa uangnya adalah Rp. 30.000, Berapakah uang yang dibawa bu Nety sebelum
berangkat ke pasar?
Jawab:
a. Apa yang diketahui?
1. Bu Nety membelanjakan ¼ dari uangnya untuk membeli daging.
2. Ia membelanjakan 1/3 dari sisa uangnya untuk membeli buah-buahan.
3. Terakhir ia membelanjakan ½ dari sisa uang terakhir untuk membeli kemeja.
4. Sisa uang terakhir Rp. 30.000,
b. Apa yang ditanyakan?
Uang awal yang dimiliki bu Nety.
Jawab
1. Soal ini terdiri dari 4 tahapan.
Sisa uang terakhir Rp. 30.000,
Membelanjakan ½ sisa untuk membeli kemeja Rp. 30.000,
Membelanjakan 1/3 sisa untuk membeli buah
Membelanjakan ¼ sisa untuk membeli daging
masalah 2
Seorang office boy di suatu gedung bertingkat naik dari satu tingkat ke tingkat
lainnya menggunakan lift. Pertama, ia naik 12 lantai, kemudian turun 18 lantai,
dan terakhir naik lagi 20 lantai. Jika ia terakhir sampai di lantai 25, dari lantai
berapakah ia naik pertama kali?
8. Menyisihkan Kemungkinan
Menyisihkan kemungkinan adalah stratedgi pemecahan masalah matematika
yang bertujuan untuk memperkecil ruang lingkup kemungkinan jawaban dari satu
75
soal. Strategi ini dilakukan dengan menyisihkan berbagai alternatif jawaban yang
tidak mungkin, sehingga perhatian tercurah sepenuhnya untuk hal-hal yang tersisa
dan masih mungkin saja.
Masalah 1
Ali, Kevin, Bertus dan Erwin masing-masing menyukai olah raga yang
berbeda olah raga yang mereka sukai adalah voli, biliar, lari lintas alam dan golf.
Gunakan informasi berikut untuk mengetahui olah raga yang mereka sukai masing-
masing.
• Ali lebih pendek dari pada anak yang menyukai voli
• Erwin mempunyai masalah dengan cuaca panas, sehungga ia tidak dapat
bermain di luar ruangan.
• Bertus hanya menyukai permainan bola kulit.
• Kevin berlatih memasukan bola ke lubang untuk melatih kemampuannya.
Jawab.
1. Ada 4 anak dan 4 jenis olah raga .Buat table.
Olah Raga ALI Kevin Bertus Erwin
Voli - - x -
Billiar - - - x
Lari L. A X - - -
Golf - x - -
Masalah 2
Perkalian usia abdul, Budi, Cecep, dan dedi adalah 156.009, Usia mereka
merupakan bilangan ganjil berurutan. Brerapakah usia mereka masing-masing?
Masalah 3.
Wahyu, Luna, Evan, dan Alisa masing-masing menyukai jenis buku yang
berbeda, yaitu buku komik, komputer, novel, dan misteri. Saudara laki-laki
Alisa suka membaca buku komik. Lina tidak menyukai buku komputer,
Evan biasa membaca buku novel, tetapi sekarang ia selalu berceritera
tentang misteri.
a. Buku mana yang mereka sukai masing-masing?
b. Siapakah saudara laki-laki Alisa?
Masalah I
Edi melemparkan satu buah koiin uang dan satu buah dadu secra bersamaan.
koin mata uang menampilkan angka (A) dan gambar (G) sedangkan dadu
menampilkan angka 1,2 3, 4, 5, 6, Berapakah banyaknya kemungkinan hasil
pelemparan yang terjadi?
77
1. Koin: A,G.
Dadu: 1, 2,3 ,4 ,5 ,6.
Kemungkinan kejadian:
(A,1), (A,2), (A,3), (A,4), (A,5), (A,6),
(G,1) (G,2) (G,3) (G,4) (G,5) (G,6),
Satu koin uang menampilkan 2 kemungkinan dan satu buah dadu menampilkan
6 kemungkinan. Jadi, banyaknya kemungkinan pelemparan koin dan dadu
tersebut = 2 x 6 = 12. Kemungjinan.
Masalah 2
Para pemain sepak bola dapat menggunakan kaos no 1 sampai no 99. Jika yang
bisa digunakan hanya angka 0,1,4,7,9, Berapakah kemungkinan jumlah kaos
yang ada?
Masalah 1.
Seorang tukang kayu dapat memotong kayu yang berbentuk sislinder menjadi
beberapa bagian menggunakan gergaji. Bagaimanakah cara tukang kayu memotong
kayu tersebut menjadi 8 bagian yang sama dengan hanya 3 kali potong?
a. apa yang diketahui?
1. Kayu berbentuk sislinder
2. Kayu akan dibagi menjadi 8 bagian yang sama dengan 3 kali potongan.
d. Cek kembali.
Potongan pertama membagi kayu menjadi dua bagian. Potongan kedua membagi
kayu menjadi 4 bagian. potongan ke tiga menjadi kayu menjadi 8 bagian. untuk
menghasilakan kayu menjadi 8 bagian yang sama; potongan ketiga harus
membagi setiap 4 bagian hasil potongan ke dua menjadi dua, yaitu dengan
memotong dari samping.
Bagian kayu = 2 x2 x2 = 8 bagian
Banyaknya potongan = 2 atas + satu samping= 3 kali.
Masalah 2.
Sepuluh jilid Buku ensiklopedia ditempatkan secara berururan dari kiri ke kanan
. setiap buku mempunyai ketebalan yang sama. Sampul depan dan belakang
masing-masing mempunnyai tebal 0,5 cm. Bagian halaman buku mempunyai
tebal 3 cm. Seerkor rayap pemakan buku memakan buku–buku tersebut dari
halamaan pertama jilid satu sampai halaman terahir jilid sepuluh dalam satu
garis lurus. Berapakah jarak yang ditempuh rayap tersenbut? (jaraknya harus
lebih kecil dari 35 cm)
a. apa yang diketahui?
1. 10 jilid buku disusun berurutan dari kiri ke kanan.
2. Tebal sampul depan dan belakang masing-masing 0,5 cn.
3. Tebal bagian halaman buku 3 cm.
4. Seekor rayap memakan dari halaman 1 jilid 1 sampai halaman
terakhir jilid 10.
5. Jaraknya kurang dari 35 cm.
Masalah 1.
Lukman dan Bondan membeli jeruk dan apel di toko buah. Lukman membeli 2 buah
jeruk dan 4 buah apel seharga Rp 8.000,00, sedangkan Bondan membeli 4 uah jeruk
dan 2 buah apel seharga Rp7.000,00. Jika Ana juga membeli 3 buah jeruk dan 3
buah apel, berapakah uang yang ia bayar?
a. Apa yang diketahui?
1. Harga 2 jeruk dan 4 apel adalah Rp. 8.000,
2. Harga 4 jeruk dan 2 apael adalah Rp.7.000,
Masalah 2.
Empat ekor bebek dapat menghasilkan 5 butir telur dalam waktu 3 hari. Berapakah
waktu yang diperlukan satu lusin bebek untuk menghasilkan 5 lusin telur dengan
kecepatan yang sama?
12 Melakukan Percobaan.
Masalah 1
Gambar di bawah ini adalah bangun yang dibentuk dari 40 batang korek api.
Bagaimana cara mengambil 9 batang korek api sehingga tidak ada batang korek api
yang membentuk bangun persegi?
80
a. diketahui :
1. Pada gambar persegi 4 x 4 tersebut ada jenis
persegi, yaitu 16 persegi 1 x 1, ada 9 persegi 2 x 2, 4
persegi 3 x3, dan 7 persegi 4 x 4.
2. Jumlah batang korek api ada 40 batang .
b. ditanyakan: Cara mengambil 9 batang korek api agar tidak ada bangun persegi
yang tersisa?
Masalah 2
Mita melipat kertas yang bertuliskan angka 1 sampai 8 dengan susunan seperti berikut.
3 4 2 7
6 5 1 8
Bagaimana cara melipat kertas tersebut sehingga hasil lipatan berurutan 1 sampai 8?
Masalah 2
Suatu kelas yang terdiri dari 36 orang siswa dihitung satu-persatu secara beraturan.
Siswa yang mendapat giliran nomor ganjil diminta untuk berdiri. Kemudian, siswa
yang masih duduk dihitung ulang satu-persatu secara berurutan lagi dan yang mendapat
giliran nomor ganjil diminta untuk berdiri. Setelah perhitungan kedua selesai, berapa
banyak siswa yang masih duduk?
14 Menulis Persamaan.
Masalah 1
Enam belas tahun yang akan datang, usia andi menjadi 3 kali usianya sekarang. Berapa
usia andi sekarang ?
a. Diketahui: Usia andi sekarang ditambah 16 sama dengan 3 kali usia andi sekarang.
Masalah 2
Seorang tukang buah membandingkan berat buah rambutan, jeruk, dan anggur.
Tiga buah rambutan sama beratnya dengan satu buah jeruk. Satu buah jeruk
sama beratnya dengan 9 buah anggur. Berapa banyak buah anggur yang sama
berat dengan satu buah rambutan?
15 Metode Diagram
Masalah 1
Jumlah uang Ruben dan Fahri adalah Rp 46.000, setelah masing-masing
membelanjakan Rp. 5.000, untuk membeli buku komik, perbandingan uang
ruben dan Fahri adalah 1: 3. Berapakah uang yang dimiliki mereka masing-
masing?
[Link]: 1. Jumlah uang awal mereka Rp. 46.000,
2. Setelah dikurangi Rp.5000. masing-masing perbandingan uang
Ruben dan Fahri adalah 1 :3.
Masalah 2.
Disuatu kelas, jumlah murid perempuan 60%. Jumlah murid laki-laki 8 orang
lebih sedikit dari pada jumlah murid perempuan. Berapakah jumlah seluruh
murid di kelas tersebut?.
Masalah 1.
Irfan memiliki dua buah bilangan prima. Jika kedua bilangan tersebut
dijumlahkan, hasilnya adalah 12345. Berapakah hasil kali kedua bilangan
tersebut?
Masalah 2.
Pada saat mengerjakan soal olimpiade matematika, Bimo kesulitan mengerjakan
sebuah soal. Soal tersebut adalah sebagai berikut. Hitunglah nilai dari:
1 1 1 1
+ + ... + + x1.000
1x 2 2 x3 98 x99 99 x100
84
1 1 1 1
b. Ditanyakan: nilai dari + + ... + + x1.000
1x 2 2 x3 98 x99 99 x100
1 1 1
1. = −
1x2 1 2
1 1 1
= −
2 x3 2 3
1 1 1
= −
3x 4 3 4
1 1 1
= −
98 x99 98 99
1 1 1
= −
99 x100 99 100
1 1 1 1
+ + ... + + x1.000
1x 2 2 x3 98 x99 99 x100
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
= − + − + − + ........+ − + −
1 2 2 3 3 4 98 99 99 100
1 1
2. = − x1.000
1 100
= 1.000 − 10
= 990
Masalah Satu.
Seorang arsitek memperkirakan bahwa pembangunan suatu gedung akan selesai dalam
120 hari kemudian. Jika pembangunan dimulai pada hari jumat, pada hari apakan
gedung tersebut selesai dibangun?
penyelesaian
langkah Satu. pahami soal dan ingat urutan operasi hitungnya, kemudian
sederhanakan
langkah dua selesaikan soal menggunakan operasi hitung
MASALAH 2
Sejumlah jeruk dapat dibagikan secara merata kepada 3, 4, 5, 6 atau 8 anak dengan tidak
ada jeruk yang tersisa. Berapakah paling sedikit jumlah jeruk tersebut?
Masalah Satu
Sebuah mobil mampu menempuh jarak 1 km dalam waktu 1 menit 30 detik. Jika mobil
ini terus bergerak dalam kecepatan tersebut. Berapa jarak yang ditempuh dalam waktu 2
jam?
Langkah Satu
Catatlah nilai-nilai yang diketahui yang memiliki variable dalam rumus, kemudian
pilihlah rumus yang sesuai untuk digunakan
Langkah dua
Subtitusikan nilai nilai yang diketahui ke dalam rumus dan selesaikan
1. diketahui : S1 = 1 km
t1 = 1 menit 30 detik
= 90 detik
90
= = 0,025 jam
3600
t2 = 2 jam
v1 = v2
s
Gunakan rumus kecepatan v =
t
s1 1
v1 = = = 40km / jam
t1 0.025
s2 s
v2 = 40 = 2
t2 2
s 2 = 40 x 2 = 80km
d. Lihat dan cek kembali!
perjalanan 2 km ditempuh dalam waktu 2 x (1 menit + 30 detik) = 3 menit
dalam 2 jam atau 120 menit, berarti ada 40 kali 30 menit
jadi, jarak perjalanan mobil = 40 x 2 km = 80 km
Masalah 2
87
Desta mempunyai persegi yang luasnya 576 cm 2. persegi tersebut terdiri dari 12 persegi
panjang yang sama. Berapakah keliling satu buah persegi panjang?
Fakta-fakta
a. Apa sajakah fakta-fakta yang diketahui.
b. Apakah ketrangan yang tersedia itu terlalu banyak atau terlalu sedikit?
c. Apakah diperlukan data dari gambar, tabel, grafik?
d. Perlukah anda mengumpulkan beberapa data?
Ide Kunci
a. Bagaimanakah hubungan antara fakta-fakta dan pertanyaan?
b. Apakah terdapat grup-grup yang merupakan bagian dari keseluruhan?
c. Apakah dua grup yang sedang diperbandingkan?
d. Apakah terdapat grup-grup yang bersatu atau berpisah?
e. Apakah terdapat grup-grup yang sama besar?
3. Pikirkan Kembali.
Jawaban yang masuk akal.
a. Apakah anda telah memeriksa pekerjaan anda?
b. Apakah anda telah menggunakan semua data yang diperlukan?
c. Apakah jawaban anda mempunyai satuan-satuan yang benar?
d. Apakah jawaban anda mendekati estimasi?
e. Apakh jawaban anda masuk akal untuk situasi itu?
Alternatif Pendekatan
a. Apakah ada satu cara lain untuk mendapatkan jawaban yang sama?
b. Bisakah anda memakai strategi yang sama secara berbeda?
c. Akankah satu strategi yang lain lebih cepat atau lebih sederhana?
SD Mutiara hanya memiliki tim bola poli, renang, sepak bola, dan basket. Erika,
Yahya, Maya dan Dudi masing-masing adalah pemain olah raga yang berbeda. Olah
raga yang dimainkan Yahya tidak menggunakan bola. Maya Lebih tua daripada
pemain bola poli. Maya dan Dudi pemain sepak bola. Siapakah pemain bola poli?
Yahya adalah perenang karena olah raganya tidak memakai bola. Tuliskan ya untuk
renang dan tidak untuk olah raga-olah raga lainnya. Juga, tuliskan tidak pada renang
untuk para siswa yang lain. Maya tidak lebih tua daripada dirinya sendiri. Tuliskan
tidak untuknya pada bola poli. Karena Maya dan Dudi tidak bermain sepak bola.
Tabel itu menunjukkan bahwa hanya Erika yang dapat bermain sepak bola. Jadi dia
tidak bermain bola poli.
JAWABAN : Dudi adalah pemain bola poli
PIKIRKAN KEMBALI : Periksa bahwa jawaban itu sesuai dengan semua fakta.
1. Pahami masalah
2. Rumuskan suatu rencana
3. Jalankan rencana itu
4. Tinjau kembali
91
Kaitan antara Pemecahan Masalah dengan Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif.
Paling sedikit ada tiga aspek keterampilan berpikir yaitu: pemecahan masalah,
berpikir kritis dan berfikir kreatif.(Westminster Institute of education, 2001). Orang
cenderung memandang bahwa berfikir kritis terutama sebagai evaluatif, sedangkan
berpikir kreatif sebagai generatif. Kedu ajenis berpikir tersebut tidak betentangan, tetapi
saling berkomplemen atau saling melengkapi satu sama lain dan bahkan mempunyai
karakteristik yang hampir sama (Marzano et al., 1989: 17) Berpikir kritis dan kreatif
seperti dua buah sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, saling
keterkaitan dan saling menunjang. Selain itu berpikir kritis dan kreatif merupakan dua
kemampuan dasar, ketika seseorang mencari jawabannyasecara kreatif sehingga
diperoleh sesuatu yang baru yang lebih baik dan bermanfaat.
Apa yang mendasari upaya-upaya untuk memecahkan suatu masalah adalah
suatu bentuk dari proses kognitif, dengan kata lain berpikir adalah sesuatu yang
essensial dalam pemecahan masalah. Fisher (1995: 98) mengemukakan yang dimaksud
dengan pemecahan masalah adalah penerapan berpikir dan dapat dibedakan dari dua
jenis berfikir lain yaitu berfikir kreatif (divergen) dan berpikir kritis (analitis). Berpikir
kreatif dan kritis adalah bentuk secara umum dari berpikir investigatif, yang
memerlukan penemuan mencapai suatu tujuan dalam pemecahan masalah. Ketiga jenis
berpikir ini saling berkaitan. Apabila seseorang dihadapkan pada proses pemecahan
masalah, secara otomatis akan melibatkan berpikir kritis dan kreatif. Demikian pula
apabila seseorang berpikir kreatif secara otomatis melibatkan berpikir kritis, begitu pula
sebaliknya.
Aktivitas pemecahan masalah akan menstimulasi dan mengembangkan
keterampilan berpikir dan bernalar. Aktivitas ini menggunakan dan membuat
relevansinya pada pengetahuan siswa tentang fakta dan keterkaitan. Hasilnya membantu
mengembangkan sikap kepercayaan diri dan kemampuan, dan juga memberi
kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi berbagi ide dan gagasan dan belajar bekerja
secara efektif dengan yang lainnya. Aktivitas pemecahanmasalah tidak hanya
meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap , tetapi memberikan kesempatan
kepada guru-guru mengamati bagaimana siswa menyelesaikan masalah, dan bagaimana
siswa mampu berkomunikasi dengan percaya diri.
92
c. Tahap problem-finding
• Fase Divergen: memperhatikan berbagai pernyataan masalah yang mungkin.
• Fase Konvergen: mengkonstruksi atau memilih suatu pernyataan masalah yang
spesifik (menyatakan tantangan).
2. Membangun idea (generating ideas) mencakup tahap idea-finding.
• Fase Divergen: menghasilkan ide-ide bervariasai dan tidak umum.
93
Pemecahan masalah secara kreatif yang telah diuraikan di atas masih bersifat
umum serta lebih mengarah kepada proses penelitian, integrasi pemecahan masalah
secara kreatif pada proses pembelajaran di kelas digunakan sebagai tahapan dalam
memecahkan masalah yang melibatkan proses berpikir kompleks yaitu kreatif dan
kritis. Mula-mula berfikir divergen untuk memperoleh gagasan sebanyak mungkin,
kemudian berpikir konvergen(berpikir logis kritis) untuk menyek=leksi gagasan
atau menarik kesimpulan.
Sebagai ilustrasi, berikut ini contoh soal pemecahan masalah berpikir kreatif
matematika pada aspek kepekaan.
Sebuah kelas berbentuk persegi panjang. Jika pada setiap baris ditambahkan
lagi 3 buah kursi maka banyaknya baris berkurang 2. apakah banyaknya
kursi pada setiap baris sebelum posisinya dirubah dapat dihitung? Berikan
penjelasan!
Siswa harus peka terhadap soal tersebut artinya mampu mendeteksi apakah
soal tersebut dapat diselesaikan dengan informasi yang diketahui padasoal tersebut.
Hal ini dikarenakan, seandainya mau mengetahui banyaknya kursi sebelum
possinya dirubah, pada soal harus diketahui kapasitas kelas dapat memuat berapa
buah kursi, sedangkan pada soal informasi itu belum ada.
Ilustrasi lain, berikut ini contoh soal pemecahan masalah berpikir kreatif
matematika pada aspek keluwesan.
KESIMPULAN
Kita katakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui dan mempelajari bagaimana
menyelesaikan masalah adalah dengan memecahkan masalah. Problem solving dapat
mempertajam kekuatan analitis dan kekuatan kritis siswa. Para guru harus mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi problem solving sehingga mereka dapat
mengantisipasi kesukaran-kesukaran yang mungkin dihadapi oleh para siswa dan
memberikan jalan keluar yang tepat. Para siswa harus didorong agar berpikir bahwa
sesuatu itu multi dimensi sehingga mereka dapat melihat banyak kemungkinan
penyelesaian untuk suatu masalah. Ada sepuluh strategi yang secara luas digunakan
dalam problem solving dan pembuatan keputusan serta situasi-situasi problem solving
di kehidupan nyata, yaitu: bekerja mundur, menemukan pola, mengambil suatu sudut
pandang yang berbeda, memecahkan suatu masalah yang beranalogi dengan masalah
yang sedang dihadapi tetapi lebih sederhana, mempertimbangkan kasus-kasus ekstrim,
membuat gambar, menduga dan menguji berdasarkan akal, memperhitungkan semua
95
kemungkinan, mengorganisasikan data, dan penalaran logis. Jarang sekali ada suatu
cara yang unik (tersendiri) untuk memecahkan atau menyelesaikan suatu masalah.
Beberapa masalah dapat tunduk pada keanekaragaman metode penyelesaian. Oleh
karena itu, para siswapun harus didorong untuk memikirkan solusi-solusi alternatif
untuk suatu masalah. Seluruh aspek dari satu masalah tertentu harus diperiksa secara
seksama sebelum menempuh strategi tertentu.
Soal latihan
1. Buatlah suatu setting pembelajaran dengan pendekatan problem solving!.
2. Berikan umpan balik terhadap kegiatan pembelajaran dengan pendekatan problem
solving!
96
BAB XII
APLIKASI ICT DALAM MODEL, STRATEGI, PENDEKATAN, METODE
DAN TEKNIK PEMBELAJARAN MATEMATIKA.
Media pembelajaran merupakan suatu wadah, sarana atau fasilitas yang dapat
memberikan kemudahan pendidik untuk menyampaikan pesan ataupun informasi agar
dapat diterima dengan baik dan menarik. Pemilihan media pembelajaran yang tepat
akan memberikan dapak dalam mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan
tersedianya media pembelajaran, pendidik dapat menciptakan berbagai situasi kelas,
menentukan model, strategi, pendekatan, metode dan teknik pembelajaran matematika
dalam situasi yang berlainan dan menciptakan iklim dengan emosional yang sehat di
antara peserta didik. media pembelajaran ICT dapat di fungsikan secara tepat dan
proporsional dalam proses pembelajaran secara efektif.
Manfaat Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis ICT , yaitu:
1. Materi abstrak (diluar pengalaman sehari-hari)
2. Kekuatan Hypertext (dibandingkan Buku)
3. Penggambaran ulang object belajar dan pola pikir siswa
4. Meningkatkan retensi/daya ingat siswa dengan belajar secara multimedia
5. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan tenaga
6 Siswa belajar mandiri, sesuai bakat, kemampuan visual, auditori
dan kinestetiknya.
7. Memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan
persepsi yang sama
8. Pembelajaran dapat lebih menarik
9. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
10. Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan.
Pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan akhir-akhir ini digalakkan oleh
pemerintah dengan memanfaatkan Information and Communication Technology (ICT).
Pemanfaatan ICT ini secara umum bertujuan menghubungkan peserta didik dengan
jaringan pengetahuan dan informasi. Di bawah ini akan di ulas lebih lanjut manfaat ICT
dalam pembelajaran matematika, anatara lain:
1. Pembelajaran Matematika berbasis ICT Lebih Inovatif
Paradigma pembelajaran matematika yang terbiasa dengan angka, rumus, PR, dan
latihan soal yang menjemukan tentu harus diubah menjadi pembelajaran matematika
membuat fun dan enjoy. Hal ini bisa dilakukan dengan
menggunakan multimedia dalam menyampaikan materi yang diselingi berbagai hal
unik dari media yang ada. Sebagai contohnya adalah ketika kita ingin menjelaskan
materi tentang [Link] bantuan laptop dan LCD kita bisa menampilkan
intermezzo gambar tiga kaos dan dua celana dengan warna yang berbeda dan siswa
bisa diajak berpikir tentang berapa kombinasi yang mungkin untuk memakai kostum
tersebut. Jadi dengan adanya teknologi pembelajaran matematika lebih inovatif dan
membuat siswa mampu memanifestasikan dalam dunia real yang tak terbatas pada
symbol matematika semata.
97
Berdasarkan paparan manfaat ICT, hal yang perlu dilakukan dalam rangka
pemanfaatan ICT adalah dengan menyediakan prasarana dan fasilitas ICT untuk peserta
didik dan guru yang memungkinkan mereka berada dalam suatu sistem yang
diharapkan.
Aplikasi pembelajaran matematika diantaranya:
1. MAL MATH,
2. FX CALCULUS PROBLEM SOLVER,
[Link],
4. LECTORA INSPIRE,
5. MOODLE,
6. SOFWARE ALGEBRATOR,
7. ANDROID /PHOTO CAM CALCULATOR,
8. MICROSOFT MATHEMATICS,
9. SKETPAD,
10. MATH WAY,
11. VEDICT MATH
12. MATH EXPRESS,
13. MATH HELPER,
14. MATH TRICK,
15. AUTO MATH PHOTO,
16. FREAKING MATH
17. Y HOME WORK,
18. SYMBOLAB,
19. SOCRATIC,
20. MATH MASTER,
21. AUTO MATH,
22. QUIZIZ,
23. SCHOLOGI,
24. PHOTO MATH,
25. KINE MASTER SKETCH,
26. FASTORE CAPTURE
27. WINGEOM,
28. CABRI 3D
29. GEOGEBRA,
30. MYSCRIPT CALCULATOR
31. COURSELAB 2.4
32. ADOBE FLASH
33. PM-ANIMATION
34. GEOMETRYX
35. POWTOON
36. EDMODO
37. SOFTWARE AUTOGRAPH
38. MATH GAME
39. DEMOSH GRAPHING CALCULATOR
40. WOLFRAM MATHEMATICA
41. SOFTWARE CORELDRAW
42. GRAPHMATICA
99
DAFTAR PUSTAKA
Budhi, W.S, Kartasasmita ,B.G (2015). Berpikir Matematis untuk Semua. Jakarta:
Erlangga.
de Bono, E. (2009) Berpikir Praktis Metode Pembelajaran. Inggris: Penguin Books.
Jurnal Teaching and Learning 2014-2019.
Farhan, M 2008. Research Based Learning. Jakarta. UIN Syarif Hiayatullah.
Gagne, R.M (1985) The Condition of Learning. New York: Holt. Reinhart and Winston.
Hermasn Hudoyo (2005). Pembelajaran Matematika. Malang: UM PRESS.
Joyce Bruce et al. (2009). Models of teaching. Yogyakarta: pustaka Pelajar.
Made Wena. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Jakarta. Bumi
Aksara.
Paul Eggen, Don Kauchak. (2012). Strategi dan Model [Link]: PT
Indeks Permata Puri Media.
Polya G. (1957). How to Solve It. Princeton: Princeton University Press.
Rusman, Kurniawan, Riyana, C. (2011). Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi
dan Komunikasi. Bandung: Rajawali Press.
Rully Charitas Indra Prahmna (2018 ) Design Research. Jakarta. Raja Wali Press.
Suyono, Hariyanto. (2011). Teori dan Konsep Dasar Belajar dan pembelajaran.
Skemp, R.R (1977). The psychology of Mathematics. Auklan: Penguin Books.
Steffe, L.P. Eds (1996) Theories of Mathematical Learning. New Jersey: Lawrance
Erbaum Ass.
100