0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
237 tayangan10 halaman

Mantra Piwulang Sunan Kalijaga

Teks ini merangkum isi dari naskah berjudul Piwulang Sunan Kalijaga yang berisi deskripsi 60 mantra yang dibagi menjadi 5 bagian. Naskah ini berisi mantra-mantra yang pernah diajarkan Sunan Kalijaga kepada Sultan Pajang dan Ngabehi Loring Pasar beserta syarat-syarat pelaksanaannya seperti puasa dan sajian makanan. Teks ini juga menjelaskan asal usul dan ciri fisik naskah tersebut.

Diunggah oleh

Ferri Sendya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
237 tayangan10 halaman

Mantra Piwulang Sunan Kalijaga

Teks ini merangkum isi dari naskah berjudul Piwulang Sunan Kalijaga yang berisi deskripsi 60 mantra yang dibagi menjadi 5 bagian. Naskah ini berisi mantra-mantra yang pernah diajarkan Sunan Kalijaga kepada Sultan Pajang dan Ngabehi Loring Pasar beserta syarat-syarat pelaksanaannya seperti puasa dan sajian makanan. Teks ini juga menjelaskan asal usul dan ciri fisik naskah tersebut.

Diunggah oleh

Ferri Sendya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Piwulang Sunan Kalijaga (Teks tentang Mantra):

Deskripsi Teks dan Akulturasi Bahasa


Oleh: Rahmat
(rahmat_pbj@[Link])
Abstrak
Mantra merupakan salah satu hasil kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa.
Kehadirannya berfungsi sebagai suatu yang bermanfaat atau justru mematikan. Namun demikian,
kajian tentang mantra pada saat ini dapat bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan beberapa
pengetahuan tentang masa lampau, misalnya tentang ajaran laku, makanan, tanaman, benda-
benda, bahkan bahasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan yang bersifat filologis dengan
lebih lanjut mendeskripsikan objek yang menjadi topik penelitian ini yaitu teks naskah Piwulang
Sunan Kalijaga yang merupakan koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman baik dari segi fisik, isi,
dan bahasa.

Kata kunci: mantra, kebudayaan, filologis, laku, bahasa.

Pengantar
Kajian tentang kebudayaan sangatlah menarik untuk dibicarakan. Berbagai artikel
maupun jurnal banyak yang mengulas tentang kebudayaan. Kebudayaan dalam tulisan ini
merujuk pada tradisi intelektual Jerman yang memandang kebudayaan sebagai puncak prestasi
kreatif manusia berupa representasi simbolik manusia pada tingkat-tingkat adiluhung seperti seni
rupa, kesusasteraan, musik, dan (ajaran) kesempurnaan pribadi (Jenks, 2013: 6). Salah satu
representasi simbolik yang akan dibicarakan dalam tulisan ini adalah mantra. Mantra dikenal
dengan tradisi lisan, sedangkan dalam khazanah sastra digolongkan ke dalam sastra lisan, yaitu
sastra yang berupa ucapan-ucapan yang mengandung suatu makna untuk suatu tujuan.
Poerwadarminta menyebut ‘mantra’ sebagai ’donga’, dan atau ‘tetemboengan dianggo ndjapani’
(1939:291). Artinya, lebih jauh sebuah mantra ialah doa yang dapat berupa kata-kata atau pun
kalimat yang berfungsi untuk mengobati. Meski demikian, dapat dimungkinkan sekali kalau
mantra mempunyai fungsi khusus lain selain sebagai pengobatan.
Mantra identik dengan kekayaan intelektual suatu kebudayaan dalam bentuk oral atau
lisan yang hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu. Jadi, tidak sembarang orang dapat
menghafal dan menerapkannya. Mereka yang mengetahui, menghafal, dan menerapkan mantra
biasa disebut dengan istilah dhukun yaitu wong kang gawéné nenambani (Poerwadarminta,
1939:109). Istilah dhukun menunjuk kepada suatu pekerjaan yang dilakukan seseorang untuk
mengobati. Dalam artian yang lebih luas, dhukun tidak saja sebagai seseorang yang dapat
mengobati (suatu penyakit dengan berbagai teknik), tetapi dapat juga berarti seseorang yang
“membantu” memecahkan suatu persoalan hidup, bahkan berkaitan juga dengan suatu prosesi
atau ritual tertentu (misalnya, pernikahan), serta mereka yang berhubungan dengan kekuatan
alam (misalnya, agar hujan turun).
Perwujudannya yang berbentuk lisan atau ucapan, menyebabkan mantra sebagai sebuah
warisan leluhur yang rentan sekali hilang. Adapun penyebab hilangnya hafalan terhadap mantra
dipengaruhi oleh daya tahan ingatan seseorang (mnemonik) dan faktor utama lainnya ialah
apabila seseorang dengan sadar atau tidak sadar tidak menurunkannya kepada orang lain.
Sehingga, bila tidak diajarkan kepada orang lain maka mantra akan lenyap begitu saja.
Meski sudah dikatakan di awal bahwa mantra merupakan suatu tradisi lisan, namun ada
beberapa usaha yang dilakukan oleh orang-orang tertentu untuk mennghadirkannya dalam versi
tulis. Dengan adanya tulisan, pengetahuan yang tersimpan dan ada dalam ingatan dapat dengan
mudah diangkat kembali dan dikembangkan (Achadiati, 2015:238). Hal ini didasari oleh
pentingnya menjaga tradisi lisan agar tidak hilang begitu saja. Sehingga, generasi berikutnya
dapat melacak bahkan mempelajari mantra yang sudah dalam wujud tulisan. Adapun
permasalahannya, apakah saat ini masih ada tulisan yang berisi tentang mantra? Kalau pun ada
tentang apa sajakah mantra-mantra itu dan bagaimanakah bahasanya?

Deskripsi Teks
Berkenaan dengan mantra yang telah hadir dalam wujud tulisan, maka tulisan ini akan
menyajikan sebuah teks naskah yang berisi beberapa mantra. Teks naskah yang dimaksud adalah
Piwulang Sunan Kalijaga (selanjutnya disingkat menjadi PiSuKa), yaitu sebuah naskah koleksi
Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta dengan kode koleksi Pi. 24. Secara fisik naskah ini
berjumlah 86 halaman dan kertas yang dipakai ialah kertas Eropa. Teks ditulis menggunakan
aksara Jawa dan bahasa yang digunakan ada dua, yaitu bahasa Jawa dan Arab. Sementara itu,
keterangan tentang nama penyalin naskah dan penanggalan yang terdapat teks naskah dapat
dibaca pada kutipan berikut.

Sampurnanipun anurat nurun pralampiteng wasita, ing dintěn malěm Kěmis Lěgi tanggal
kaping 21, wulan Rabingulakir warsa Dal 1863 W.G pun Harya Anggadiningrat. (PiSuKa,
72).
Hasil terjemahan:
Selesai penyalinan perlambang ilmu, pada malam Kamis Lěgi tanggal 21, bulan Rabiul
Akhir, tahun Dal 1863 oleh Harya Anggadiningrat.
Kutipan tersebut mengindikasikan bahwa penulis naskah dalam pengertian sebagai
penyalin naskah adalah Harya Anggadiningrat yang selesai menyalin teks naskah pada tanggal
21, hari Kamis Lěgi, bulan Rabiul Akhir, tahun 1863. Sementara itu, teks awal naskah
menerangkan bahwa sumber tulisan berasal dari Sunan Kalijaga. Adapun kutipannya sebagai
berikut.
Punika pěthikan buku pèngětan parimbon kagunganipun ingkang Sinuhun Kalijaga Walios
ingkang sumaré astana ing Dhukuh Kadilangu bawah Kutha Děmak. (PiSuKa, 1)
Hasil terjemahan:
Ini merupakan buku pemikiran (yaitu) primbon ‘perhitungan’ milik Sinuhun Kalijaga yang
dimakamkan di pemakaman (yang terletak) di desa Kadilangu, wilayah Kota Demak.

Kutipan di atas menyatakan bahwa teks naskah merupakan petikan yang berasal dari
buku primbon milik (dapat bersifat kepunyaan, namun secara konteks dapat pula bersifat buatan)
seorang wali yang dikenal dengan nama Sunan Kalijaga. Beliau merupakan salah satu wali yang
dimakamkan di desa kecil bernama Kadilangu yang merupakan wilayah Kota Demak, Jawa
Tengah.
Adapun mantra yang terdapat dalam teks naskah Piwulang Sunan Kalijaga berjumlah 60
mantra yang dibagi menjadi 5 bagian. Adapun sajian uraiannya ada dalam 5 tabel di bawah ini.
Bagian Keterangan Bagian Mantra Isi Mantra
1 Mantra yang diajarkan 1 Permohonan apapun kepada Tuhan
kepada Sultan Kraton 2 Agar dihormati oleh orang lain
Pajang. 3 Dapat melompati sungai
4 Supaya dapat menghilang (tidak terlihat
oleh orang lain)
5 Berubah wujud
6 Berubah aura wajah
7 Berubah badan menjadi terlihat besar
(gagah)
8 Sakti
9 Tolak bala
10 Menangkap orang yang sedang marah,
nafsu agar menjadi tenang
11 Dapat terbang saat terkepung musuh
12 Mengunci hati orang lain

Teks mantra bagian satu terdiri dari 12 mantra dengan penyebutan awal bahwa mantra-
mantra itu dulu diajarkan untuk Sultan yang menguasai Kraton Pajang. Teks tidak hanya berupa
doa saja, namun dituliskan pula syarat-syarat yang harus dipenuhi dan dilakukan. Adapun laku
dan syarat yang harus dipenuhi dan dilakukan sebagai berikut.

Bilih arsa ngagěm kapěthik satunggal bab lampahipun mutih pitung dintěn pitung
dalu nglowong sadintěn sada- [hlm. 2] lu acěgah sahwat. Bilih arsa ngagěm dipunsarěng
sadaya, lampahipun měthak kawandasa dintěn saha dalu, nglowong pitung dintěn miwah
dalu. Riyayanipun angsung dhahar Kangjěng Nabi Mukhamat Rasullullah sěkul wuduk
sapirantosipun ulam ayam pěthak mulus tukung cengger dalima kadonganan měmule.
(PiSuKa, 1—2)
Hasil terjemahan:
Apabila ingin mengambil (mempraktikkan) satu (mantra dalam) bab (ini), (maka)
yang harus dikerjakan (yaitu) puasa mutih tujuh hari tujuh malam, puasa nglowong dan
mencegah nafsu syahwat sehari semalam. Apabila hendak mempraktikkan semua mantra,
yang dilakukan (yaitu) puasa mutih empat puluh hari (empat puluh) malam, puasa nglowong
tujuh hari (tujuh) malam. Selamatannya sajian makanan untuk Rasullullah Kangjěng Nabi
Mukhamat (berupa) nasi wuduk berikut lauknya, (yaitu) daging ayam (dengan ciri) mulus
tukung cengger dalima (disertai) dengan doa yang ditujukan kepada para leluhur.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa laku yang hendaknya dikerjakan ialah puasa mutih
dan nglowong. Sementara itu, sajian makanan yang harus disiapkan ialah nasi wuduk dengan
lauk daging ayam dengan ciri khusus. Pada saat dilakukan selamatan, juga dilaksanakan
pembacaan doa yang ditujukan kepada para leluhur. Dalam tradisi Jawa kata ‘měmule’ berarti
persembahan doa syukur dan terima kasih diserta dengan pemberian sedekah berupa sajen dan
ubarampe (MC, 2010:44).
Setelah teks mantra bagian satu selesai, maka dilanjutkan dengan teks mantra bagian
kedua, yaitu mantra yang diajarkan Sunan Kalijaga kepada Ngabehi Loring Pasar saat mereka
bertemu di Desa Wanamarta. Adapun isi mantra dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Bagian Keterangan Bagian Mantra Isi Mantra
2 Mantra yang diajarkan 1 Mandi
Sunan Kalijaga sebagai 2 Mengetahui kodrat
wasiat kepada Kangjeng 3 Agar dikasihi oleh orang lain,
Panembahan Senapati di mendapatkan pangkat dan kedudukan
Mataram saat masih 4 Agar mendapatkan pencerahan dari Tuhan
bernama Ngabehi Loring 5 Kebal senjata tajam
Pasar ketika mereka bertemu 6 Dapat menghilang
di Desa Wanamarta. 7 Melemahkan kekuatan senjata
8 Raga menjadi kuat
9 Menangkap orang
10 Dimudahkan saat negosiasi
11 Dihormati orang lain
12 Saat bertemu dengan musuh atau hewan
buas.

Laku dan sajian makanan yang harus dilengkapi untuk mantra bagian kedua secara umum
tidak sama, bahkan ada yang tidak menyebutkan laku dan sajian makanan untuk slamětan seperti
mantra bagian dua nomor 1 dan 4. Sementara itu, mantra bagian dua nomor 2 terdapat laku tetapi
tidak disebutkan sajian makanan untuk slamětan.
Beralih pada mantra bagian tiga. Sama seperti bagian satu dan dua, bagian tiga berikut ini
juga terdiri dari 12 mantra. Uraiannya dapat dilihat dari tabel di bawah ini.
Bagian Keterangan Bagian Mantra Isi Mantra
3 Mantra yang diajarkan 1 Setiap hari mendapatkan kekuatan
Sunan Kalijaga sebagai 2 Keluar dari kamar mandi setelah mandi
wasiat kepada Sinuhun 3 Agar terlihat muda
Kangjěng Susuhunan Paku 4 Saat pergi disenangi oleh banyak orang
Buwana yang ke-1 ketika 5 Agar orang welas asih saat duduk di
masih bernama Kangjěng manapun
Pangeran Pugěr di Kraton 6 Memohon derajat, rejeki, dan pasangan
Mantaram. hidup.
7 Saat hati merasa bimbang dan khawatir
8 Meredam nafsu hati orang lain
9 Hendak berperang
10 Menyerang (menubruk) orang lain
sehinga orang itu bisa mati
11 Agar ditakuti oleh orang lain
12 Panjang umur

Mantra bagian tiga adalah mantra yang diajarkan Sunan Kalijaga kepada Kangjeng
Pangeran Puger di Kraton Mantaram yang kemudian hari menjadi Sunan Paku Buwana I.
Adapun tema mantra secara umum agar mendapatkan kesehatan diri yaitu panjang umur dan
awet muda. Selain itu, agar bisa mendapatkan rejeki dan jodoh dan disenangi oleh orang lain.
Sementara itu, mantra untuk kekuatan hanya ada dua, yaitu untuk berperang dan untuk
menghadapi serangan.
Bagian Keterangan Bagian Mantra Isi Mantra
4 Mantra yang diajarkan 1 Mandi untuk bersuci
Sunan Kalijaga sebagai 2 Keluar dari kamar mandi setelah mandi
wasiat untuk Sinuhun 3 Melihat wajahnya sendiri tanpa cermin
Kangjěng Susuhunan 4 Berbusana
Pakubuwana ke-3 di 5 Dapat berjalan cepat bagaikan terbang
Surakarta. 6 Tercapai apa yang diinginkan
7 Ingin bermimpi bertemu dengan Nabi
Muhammad
8 Mendapatkan keselamatan, dijauhkan dari
bahaya yang dikirimkan orang lain, dan
dikabulkan segala permohonan
9 Agar diterangkan hati
10 Awet muda dan panjang umur
11 Agar tidak terlihat oleh orang lain
12 Tolak bala
Bagian 4 teks Piwulang Sunan Kalijaga merupakan ajaran yang diberikan Sunan
Kalijaga kepada Paku Buwana III. Adapun kedua belas isi mantra dengan tema yang bervariasi
termasuk agar dapat menghilang atau agar tidak dapat dilihat orang lain. Selain itu, ada mantra
yang berisi tentang kecepatan berjalan bagaikan terbang. Adapun sajian makanan untuk slamětan
hanya terdapat pada mantra nomor 11.
Teks mantra terakhir dari PiSuKa dalam tulisan ini disebut dengan bagian 5. Bagian ini
secara khusus berisi tentang perlakuan dan asmara terhadap seorang perempuan. Mantra bagian
ini merupakan diajarkan untuk Paku Buwana IV di Surakarta. Adapun urut-urutan isi mantra
dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Bagian Keterangan Bagian Mantra Isi Mantra


5 Mantra Sunan Kalijaga yang 1 Menerawang kehidupan di masa depan
diambil petuahnya untuk 2 Mengetahui kebaikan atau keburukan
Sinuhun Kangjěng seorang perempuan
Susuhunan Pakubuwana ke- 3 Agar seorang perempuan menjadi penurut
4 di Surakarta. 4 Menghadapi dua istri
5 Agar lestari kehidupan rumah tangga
6 Saat akan berhubungan badan
7 Apabila terkena tipu daya perempuan
8 Apabila seorang istri ingin punya anak
9 Suami menuruti keinginan istrinya
10 Asmara
11 Asmara
12 Asmara

Teks mantra bagian 5 telah disebut secara khusus tentang perlakuan dan asmara terhadap
seorang perempuan. Salah satunya yaitu mantra yang berisi tentang kehidupan poligami agar
kedua istri rukun. Adapun kutipannya sebagai berikut.
Bab esmu bilih arsa wayuh garwa kěkalih, arsa pinardi rukun runtut datan brawala,
sulayeng karsa. Punika winatěk kalamun nuju sare. Epek-epek astanira kěkěpna
sanubarine, kaprěnah ngandhap susune garwa ingkang kiwa amurih runtuting karsa.
(PiSuKa, 56—57)
Hasil terjemahan:
Bab bila hendak beristri dua, hendak dibikin rukun (agar) tidak bertengkar, (agar tidak)
berbeda kehendak. Ini diucapkan saat akan tidur. Punggung tangan dekapkanlah (pada)
sanubarinya, (yaitu) tepat di bawah payudara istri sebelah kiri supaya menurut.

Kutipan di atas menunjukkan laku bagaimana seorang laki-laki yang hendak berpoligami,
agar kedua istrinya kelak tidak bertengkar dan supaya istri pertama menurut dengan kehendak
suami (yang akan berpoligami). Adapun laku diiringi dengan bacaan mantra sebagai berikut:
Bismillahhirrohmannirrokim. Hu ananing sun. Hu ananira. Akadiyad ingaranan khandil,
ajali abadi. Ah dhěngkul. Ah dhěngkul. Ah dhěng [57] kul tumungkula sadina aja
tuměnga. Tilikana ta tunggalanira. Ya ingsun katunggalanira. Ya ingsun wěruh ing
bakalira. Lanang musthika yěkti. Jagi tan kěna mosik. Allah amurba amisesa. Sapa kang
masesa marang sira. Ya ingsun kang masesa marang sira. Těka wělas těka asih atine si
anu maring ingsun (lawan maring si anu) saking karsaning Allah. Lailaha ilělah.
(PiSuKa, 57).

Bacaan mantra diawali dengan kata ‘Bismillahhirrahmannirrahim’ dan diakhiri dengan


‘Lailaha ilělah’. Dalam teks terdapat kalimat ‘Těka wělas těka asih atine si anu....’ kata ‘si anu’
secara kontekstual menunjuk pada istri pertama dan kalimat selanjutnya yang berbunyi
‘....maring ingsun (lawan maring si anu) saking karsaning Allah’, pada kata ‘si anu’ yang kedua
ini secara kontekstual menunjuk pada istri kedua.
Akhirnya, dari kelima bagian mantra tersebut dapat diketahui bahwa masing-masing
bagian mengandung 12 mantra. Setiap mantra diawali dengan ‘Bismillahhirrahmannirrahim’ dan
diakhiri dengan ‘Lailaha ilělah’. Adapun laku dan syarat makanan yang dijadikan sebagai sarana
slamětan bervariasi. Begitu pula tema mantra pun berbeda-beda.

Akulturasi Bahasa
Akulturasi merupakan fenomena yang timbul apabila dua kelompok manusia yang
mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung
dan terus-menerus sehingga mengakibatkan perubahan dalam pola kebudayaan pada salah satu
atau kedua belah pihak (Harsojo dalam Kusumohamidjojo, 2010:190). Adapun kaitan antara teks
mantra PiSuKa dengan akulturasi terletak pada bahasa yang digunakan. Berdasarkan dari
beberapa kutipan di atas tentang isi mantra PiSuKa dapat diketahui bahwa telah terjadi akulturasi
bahasa, yakni objek yang hadir dalam dua bahasa yang berbeda, yaitu antara bahasa Jawa dan
Arab.
Berdasarkan pengamatan terhadap teks naskah PiSuKa secara dominan ditulis dengan
medium bahasa Jawa. Sementara itu, bahasa Arab juga digunakan dalam teks naskah PiSuKa
namun tidak dominan. Hal ini disebabkan karena teks naskah PiSuKa adalah teks naskah yang
ditulis dan merupakan kekayaan intelektual masyarakat Jawa.
Berikut ini kosakata berbahasa Arab yang diserap dalam teks naskah PiSuKa.
Bismillahhirrahmannirrahim, Jalallolah, Lailaha illěllah, ya kamalluhu, Jamallullah. Beberapa
kosakata tersebut fungsinya sebagai bacaan doa baik itu sebagai pembukaan doa, isi, dan
penutup doa. Kosakata berbahasa Arab lain yang digunakan ialah kosakata untuk penyebutan
Tuhan, yaitu Allah dan kosakata lain tentang penyebutan nama malaikat dan nabi, seperti
Jabarail, Mingkail, Ngisrapil, Ngijrail, dan Mukhamat Rasullullah. Selain kosakata tunggal
akulturasi bahasa ini terlihat dari penyebutan penghormatan dalam sebuah frasa. Frasa mencakup
persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya (Keraf, 2010:23). Adapun
kutipannya sebagai berikut, “Kangjěng Nabi Mukhamat Rasullullah” (PiSuKa, 2).
Kutipan tersebut merupakan salah satu contoh akulturasi bahasa antara bahasa Jawa
dengan bahasa Arab. Kosakata Kangjěng merupakan kosakata bahasa Jawa yang secara khas
digunakan untuk penghormatan terhadap seorang tokoh atau benda yang disakralkan, misalnya
sebagai gelar penghormatan untuk Raja-raja di Jawa. Sementara itu, kata Nabi, Mukhamat, dan
Rasullullah adalah kosakata bahasa Arab. Jadi, kutipan tersebut merupakan salah satu contoh
akulturasi bahasa antara bahasa Jawa dengan bahasa Arab.
Penutup
Teks-teks naskah yang berisi mantra ternyata ada, dan itu dapat ditelusuri dari beberapa
katalog naskah-naskah dan salah satunya ialah katalog naskah-naskah Perpustakaan Pura
Pakualaman Yogyakarta (Saktimulya, 2005). Sehubungan dengan tema mantra, teks naskah
PiSuKa mempunyai beberapa tema mulai dari aura diri, asmara, derajat, kekebalan, tolak bala,
kekuatan sampai kesaktian.
Meskipun saat ini kemunginan sekali mantra-mantra itu sudah tidak diamalkan
(dipraktikkan), namun informasi mantra sebagai suatu objek hasil intelektual masyarakat Jawa
perlu diketahui dan dijaga. Hal ini penting sekali untuk mengetahui kekayaan intelektual yang
lain misalnya sehubungan dengan masakan yang dijadikan hidangan slamětan. Jadi, masyarakat
Jawa masih dapat mengetahui masakan tradisionalnya tempo dulu.
Secara umum, masyarakat Jawa pada saat ini kemungkinan sudah tidak mengamalkan
mantra, namun kehadirannya sekarang sebagai sebuah teks bacaan, maka kajian pragmatis
terhadap mantra pada saat ini adalah bila ingin mendapatkan atau meraih suatu hal kiranya
seseorang harus melakukan laku prihatin, yaitu puasa. Selain itu, mengajarkan pula tentang rasa
syukur dan berterima kasih terhadap segala suatu pencapaian atau keberhasilan. Terakhir,
sehubungan dengan bahasa yang digunakan dalam teks naskah PiSuKa dapat dikatakan bahwa
secara tidak langsung menggambarkan proses akulturasi budaya Jawa pada zaman itu dengan
budaya Arab yang dapat berjalan dengan indah dan serasi.

Daftar Pustaka
Achadiati. 2015. “Beraksara dalam Kelisanan” dalam Metodologi Kajian Tradisi Lisan (Edisi
Revisi). Editor: Pudentia MPSS. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Jenks, Chris. 2013. Studi Kebudayaan. Diterjemahkan dari Culture oleh Erika Setyawati.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Keraf, Gorys. 2010. Diksi dan Gaya Bahasa. Cetakan ke-20. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.

Kusumohamidjojo, Budiono. 2010. Filsafat Kebudayaan Proses Realisasi Manusia. Cetakan ke-
2. Yogyakarta: Jalasutra.

MC, Wahyana Giri. 2010. Sajen dan Ritual Orang Jawa. Yogyakarta: Narasi.

Poerwadarminta, W.J.S dan C.S. Hardjasoedarma, J. CHR. Poedjasoedira. 1939. Baoesastra


Djawa. Batavia: J.B. Wolters Uitgevers Maatschappij N.V. Groningen.

Saktmulya, Sri Ratna (penyunting). 2005. Katalog Naskah-naskah Perpustakaan Pura


Pakualaman. Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia – The Toyota Foundation.

Anda mungkin juga menyukai