0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan49 halaman

Teori Dasar Irigasi dan Bangunan Air

Dokumen tersebut membahas tentang teori dasar irigasi dan bangunan air. Ia menjelaskan pengertian irigasi dan tujuannya untuk membasahi tanah, serta daerah yang dapat diairi. Dokumen ini juga menjelaskan istilah terkait areal irigasi, peta petak, trase saluran, jaringan irigasi, dan jalan inspeksi.

Diunggah oleh

ADE BHAYU PRATAMA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan49 halaman

Teori Dasar Irigasi dan Bangunan Air

Dokumen tersebut membahas tentang teori dasar irigasi dan bangunan air. Ia menjelaskan pengertian irigasi dan tujuannya untuk membasahi tanah, serta daerah yang dapat diairi. Dokumen ini juga menjelaskan istilah terkait areal irigasi, peta petak, trase saluran, jaringan irigasi, dan jalan inspeksi.

Diunggah oleh

ADE BHAYU PRATAMA
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS TADULAKO

IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1


TEORI DASAR IRIGASI DAN BANGUNAN AIR I

A. Pengertian Irigasi
Irigasi adalah kegiatan - kegiatan yang bertalian dengan usaha mendapatkan air
untuk sawah, ladang, perkebunan dan usaha lain-lain. Usaha tersebut berupa :
1. Membuat sarana dan prasarana untuk membagikan air secara teratur
2. Membuang kelebihan air yang tidak diperlukan lagi.

B. Tujuan Irigasi
Tujuan irigasi adalah membasahi tanah agar dapat mencapai suatu kondisi tanah
yang baik untuk pertumbuhan tanaman. (Teknik Sumber Daya Air, 1996)

C. Areal Irigasi
Areal irigasi adalah daerah-daerah yang dapat diairi semaksimal mungkin, dimana
airnya diambil dari bangunan sadap utama. Batas keliling areal diambil dari petak-petak
tersier terluar.

Gambar 1. Daerah-Daerah Irigasi

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
Dalam irigasi khususnya jaringan ada beberapa istilah yaitu :
1. Wilayah (region) adalah areal yang airnya diambil dari beberapa bangunan sadap
utama yang selanjutnya dibawa ke jaringan irigasi tunggal / majemuk.
2. Daerah (zone) adalah areal yang airnya diambil dari satu bangunan sadap utama.
3. Petak primer adalah areal yang airnya diambil dari sebuah saluran-saluran primer dan
terdiri dari beberapa petak-petak sekunder.
4. Petak sekunder adalah areal yang airnya diambil dari sebuah saluran-saluran
sekunder dan terdiri dari beberapa petak-petak tersier.
5. Petak tersier adalah areal yang airnya diambil dari saluran-saluran tersier dan terdiri
dari beberapa petak kwarter (sawah).
6. Areal mati adalah areal yang tidak dapat diairi dari suatu sistem irigasi.
7. Areal bruto (gross irrigable area) adalah keseluruhan areal irigasi baik yang
mendapat air maupun yang tidak mendapat air irigasi karena permukaan tanah lebih
tinggi, jalan inspeksi dan lain-lain.
8. Areal netto (culturable irrigation area) areal bersih yang mendapat air.

D. Peta Petak
Peta petak adalah suatu peta yang menerangkan suatu lokasi dari sistem jaringan
irigasi yang akan diairi. Peta ini memuat arah saluran, letak bangunan, batas-batas jalan,
batas-batas pembuang alam, daerah yang dapat diairi dan yang tidak dapat diairi.
Penentuan peta petak ini di dasarkan pada kondisi topografi yang tergambar pada peta
situasi seperti dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria umum untuk pengembangan petak
Ukuran Petak Luas ( Ha )
Ukuran petak sekunder 500 - 800 Ha
Ukuran petak tersier 50 - 100 Ha
Ukuran petak kuarter 8 – 15 Ha
Ukuran petak petani 0 – 1,75 Ha
Sumber : (KP – 01, 2010)

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
Petak – petak dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Petak Sekunder adalah suatu petak yang berupa kumpulan dari beberapa petak yang
mendapat air / pengambilannya dari saluran sekunder.
2. Petak tersier didasarkan pada kondisi topografi daerah itu hendaknya diatur sebaik
mungkin, sedemikian rupa sehingga satu petak tersier terletak dalam satu daerah
administrasi desa. Jika ada dua desa dalam satu petak tersier yang luas dianjurkan
untuk membagi petak tersier tersebut menjadi dua petak sub tersier yang
berdampingan sesuai dengan daerah desa masing-masing.
3. Petak kuarter biasanya akan berupa saluran irigasi dan pembuang kuarter yang
memotong kemiringan medan dan saluran irigasi tersier serta pembuang tersier atau
primer yang mengikuti kemiringan medan. Jika mungkin batas-batas ini bertepatan
dengan batas-batas hak milik tanah.
4. Dari kriteria umum pengembangan petak, maka dipilih pengembangan petak ukuran
petak tersier dimana untuk luasan petak tersier adalah 50 – 100 Ha.

E. Trase Saluran
Trase saluran merupakan jalur rencana saluran yang dibuat dari kondisi topografi
tentang penggambaran baik berupa relief tanah, alur-alur, jalan, batas kampung, sungai,
yang menunjang dalam perencanaan jaringan irigasi.
Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yakni :
1. Daerah yang sudah diairi
2. Daerah yang belum diairi
Trase saluran terbagi atas trase saluran pembawa dan trase saluran pembuang.
Jika daerah irigasi baru akan dibangun, aturan yang sebaiknya diikuti adalah menetapkan
lokasi saluran pembuang terlebih dahulu, ini sudah ada kebanyakan di daerah tanah
hujan.

F. Jaringan Irigasi
1. Sistem jaringan irigasi
Sistem jaringan irigasi dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Sistem irigasi tunggal (independent irrigation system) yaitu suatu sistem irigasi
dengan sumber air yang berasal dari satu bangunan sadap utama berupa waduk,
bendung atau rumah pompa yang letaknya masih dalam areal irigasi itu sendiri.

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
b. Sistem irigasi majemuk (dependent irrigation system) yaitu sistem irigasi dengan
sumber air yang berasal lebih dari satu bangunan sadap utama dan semuanya
terletak di dalam areal irigasi atau juga bangunan sadap utamanya terletak disuatu
jaringan irigasi ditempat lain. Dalam pengerjaan tugas studio perancangan irigasi
dan air menggunakan sistem irigasi tunggal (independent irrigation system) yaitu
suatu sistem irigasi dengan sumber air yang berasal dari satu bangunan sadap
utama.
2. Klasifikasi jaringan irigasi
Jaringan irigasi dapat diklasifikasikan dalam tiga tingkatan, yaitu :
a. Jaringan irigasi sederhana
Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasi karena para pemakai air tergabung
dalam satu kelompok sosial yang sama, dan tidak diperlukan keterlibatan
pemerintah di dalam organisasi jaringan irigasi semacam ini.
b. Jaringan irigasi semi teknis
Adapun ciri-ciri dari sistem jaringan irigasi semi teknis ini antara lain :
1) Sudah dibangun beberapa bangunan permanen di jaringan saluran
2) Daerah pelayanan lebih luas dibandingkan dengan sistem jaringan irigasi
sederhana.
3) Organisasinya lebih rumit sehingga diperlukan lebih banyak keterlibatan
pemerintah dalam hal ini Departemen Pekerjaan Umum.
c. Jaringan irigasi teknis
Salah satu prinsip dalam perencanaan jaringan irigasi teknis adalah pemisahan
antara jaringan irigasi dan jaringan pembuang. Hal ini berarti baik saluran irigasi
maupun pembuang bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Dalam
irigasi teknis petak tersier memiliki fungsi sentral. Petak tersier menerima air di
suatu tempat dalam jumlah yang sudah diukur dari suatu jaringan pembawa.
Pembagian air di dalam petak tersier diserahkan kepada para petani. Dalam hal-
hal khusus, dibuat sistem gabungan (fungsi saluran irigasi dan pembuang di
gabung). Secara sederhana klasifikasi jaringan irigasi dapat dilihat pada Tabel 2.

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Tabel 2. Klasifikasi Jaringan Irigasi


Klasifikasi Jaringan Irigasi
Keterangan Teknis Semi teknis Sederhana

Bangunan Bangunan
Bangunan Utama Permanen atau Bangunan sementara
permanen
semi permanen
Kemampuan bangunan
dalam mengukur dan Baik Sedang Jelek
mengatur debit
Saluran irigasi
Saluran irigasi dan Pembuang Saluran irigasi dan
Jaringan saluran dan Pembuang tidak Pembuang menjadi
terpisah Selamanya Satu
terpisah

Petak tersier Dikembangkan - -


Sepenuhnya
Efisiensi secara
50 – 60 % 40 – 50 % < 40 %
keseluruhan

Tak lebih dari 500


Ukuran Tidak ada batasan Sampai 2.000 Ha
Ha

Ada ke seluruh Hanya sebagian


Jalan Usaha Tani Cenderung tidak ada
areal areal

Ada instansi yang


menangani
Kondisi O & P Belum teratur Tidak ada O & P
Dilaksanakan
teratur

Sumber : (KP – 01, 2010)

G. Jalan Inspeksi
Jalan inspeksi direncana, dibangun dan dipelihara oleh dinas pengairan. Jalan ini
terutama digunakan untuk memeriksa, mengeksploitasi dan memelihara jaringan irigasi
dan pembuang, yakni saluran dan bangunan-bangunan pelengkap. Akan tetapi, di
kebanyakan daerah pedesaan, jalan-jalan ini juga sekaligus berfungsi sebagai jalan utama
dan oleh karena itu juga digunakan pada kendaraan-kendaraan komersial dengan

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
pembebanan as yang lebih berat dibandingkan dengan kendaraan-kendaraan inspeksi.
Jalan inspeksi  dibuat untuk memantau sepanjang saluran yang dilewati jalan tersebut.
Jadi apabila ada kerusakan atau kehilangan barang-barang infrastrukstur  apalagi yang
bersifat vital, dapat ditangani secepatnya sebelum terjadi kerusakan yang lebih parah dan
merugikan. Jalan inspeksi bisa dibangun melintasi saluran, ataupun dengan menyusuri
saluran tersebut.

H. Pintu Air Irigasi (Box)


 Box Tersier
Yaitu bangunan bagi disaluran tersier / sub tersier untuk membagi air kesaluran sub
tersier / kuarter.
 Box Kuarter
Yaitu bangunan pengambilan disaluran tersier / sub tersier dimana lewat bangunan
itu air mengalir kepetak kuarter, setiap petak kuarter pada umumnya memiliki satu
buah box kuarter.

I. Saluran Pembawa dan Saluran Pembuang


1. Saluran Pembawa
Saluran pembawa berfungsi membawa/ mengalirkan air dari sumber ke petak sawah.
Dari tingkat percabangannya, maka saluran pembawa ini dibedakan menjadi
 Saluran Primer
Berfungsi membawa air dari sumbernya dan membagikannya ke saluran
sekunder atau membawa air dari jaringan utama ke jaringan sekunder untuk
dibagikan ke petak-petak tersier yang akan dialiri. Air yang dibutuhkan untuk
irigasi dapat berasal dari sungai,danau, maupun waduk. Akan tetapi umumnya
penggunaan air sungai lebih baik, karena air sungai mengandung banyak zat
lumpur yang merupakan pupuk bagi tanaman. Batas akhir dari saluran primer
adalah bangunan bagi yang terakhir.
 Saluran Sekunder
Dari saluran primer air disadap melalui saluran-saluran sekunder untuk mengaliri
daerah saluran-saluran alam yang dapat digunakan untuk membuang air hujan
yang berlebihan. Fungsi utama dari saluran sekunder adalah membawa air dari
saluran primer dan membagikannya ke saluran tersier. Sedapat mungkin saluran
dapat dibagi untuk kedua belah sisi. Atau biasa disebut dengan saluran punggung

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
yang memotong atau melintang terhadap garis tinggi sedemikian rupa melalui
titik tertinggi daerah sekitarnya, sehingga dapat mengaliri petak yang ada di
bagian kiri dan kanan dari saluran.
 Saluran Tersier
Fungsi utama dari saluran tersier adalah membawa air dari saluran sekunder dan
membagikannya ke petak - petak sawah yang memiliki luas antara 75 ha- 125 ha.
Jika saluran tersier disadap dari saluran sekuder, maka saluran tersier juga dapat
membagikan air ke sisi kanan - kiri saluran.
2. Saluran Pembuang
Fungsi utama dari saluran pembuang adalah membuang sisa atau kelebihan air yang
terdapat pada petak sawah ke sungai. Biasanya digunakan saluran lembah yaitu
saluran yang memotong atau melintang terhadap garis tinggi sedemikian rupa hingga
melewati titik terendah dari daerah sekitar. Jadi saluran melalui lembah dari
ketinggian tanah setempat.

J. Tata Nama/Nomenklatur
1. Pengertian
Nomenklatur atau tata nama petunjuk atau indeks yang jelas dan singkat dari suatu
objek, baik itu petak, saluran atau bangunan, bangunan bagi, bangunan silang dan
lain sebagainya, sehingga akan memudahkan dalam pelaksanaan eksploitasi dan
pemeliharaan dari tiap-tiap bagian dari jaringan irigasi.
2. Ketentuan Nomenklatur
Dalam pemberian tata nama pada suatu jaringan irigasi, harus diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a. Singkat dan jelas, jika mungkin hanya terdiri dari satu huruf
b. Huruf ini harus menyatakan petak, saluran atau bangunan
c. Dibedakan antara saluran pembawa dan pembuang
3. Tata cara pemberian nama
3.1. Ketentuan umum tata nama
Dalam suatu sistim irigasi akan banyak dijumpai bangunan-bangunan irigasi.
Untuk memudahkan pada waktu pelaksanaan pembangunannya serta untuk
kepentingan eksploitasi dan pemeliharaannya maka daerah irigasi termasuk
semua bangunan irigasi diberi notasi atau nomenklatur. Ketentuan dalam
membuat nomenklatur adalah :

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
1. Notasi harus singkat dan tidak mempunyai tafsiran ganda (ambigu).
2. Nama menunjukkan luas areal, saluran, bangunan irigasi, drainase dan
lain -
lain.
3. Harus dimungkinkan untuk menambah bangunan irigasi baru tanpa
mengubah semua nama yang sudah ada.
4. Sedapat mungkin sebutan hanya menggunakan satu huruf, kecuali terpaksa.
5. Jika perlu huruf ditambah angka untuk menunjukkan letak objek bagi
saluran,
juga arah saluran air.
6. Dapat menyatakan jenis saluran dan dapat menyatakan jenis bangunan,
terutama perbedaan antara bangunan sadap atau bangunan bagi dan jenis
bangunan lain.
7. Dapat menyatakan jenis dan letak petak misalnya petak primer, petak
sekunder, petak tersier serta letaknya disebelah kiri atau sebelah kanan
saluran.
3.2. Tata nama daerah irigasi
Daerah irigasi dapat diberi nama sesuai dengan :
 Nama daerah setempat atau desa penting di daerah itu seperti D.I. Makawa
karena desa utama di daerah yang dilayani adalah Desa Makawa, atau
 Nama sungai yang airnya diambil untuk keperluan irigasi seperti D.I.
Sempor karena airnya diambil dari Sungai Sempor.
Apabila pada satu sungai terdapat dua pengambilan atau lebih maka
daerah irigasi diberi nama sesuai ketentuan pertama diatas yaitu sesuai nama
desa penting di daerah-daerah layanan setempat tetapi apabila hanya satu
pengambilan maka dapat diberi nama sesuai ketentuan kedua yaitu sesuai nama
sungai.
a. Untuk suatu sistim irigasi tunggal dapat diambil nama sungainya.

Sungai
SEMPO
R
Daerah Irigasi
SEMPOR
(D.I. SEMPOR)

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Gambar 2. Sistim Irigasi Tunggal

b. Untuk suatu sistim irigasi majemuk diambil nama desa terkenal yang ada
didalam daerah layanannya. Misalnya D.I. Singomerto mengambil nama
Desa Singomerto yang ada dalam daerah layanannya. Demikian juga untuk
D.I. Banjar Cahyana.

Sungai
SEMPOR
Daerah Irigasi
SINGOMERTO
(D.I. SINGOMERTO)

Desa
Singomerto

Daerah Irigasi BANJAR


CAHYANA
(D.I. BANJAR
CAHYANA)
Desa
Banjar
Cahyana

Gambar 3. Sistim Irigasi Majemuk


3.3. Tata nama bangunan intake
Bangunan sadap yang berupa bendungan atau bendung diberi nama sesuai
nama desa atau kampung penting dimana letak bangunan tersebut.

Kampung
BENTENG

Bendung BENTENG

Sungai SADANG

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
Gambar 4. Layout Tata Nama Bangunan Sadap

Desa
JATILUHUR

Bendung JATILUHUR

Sungai CITARUM

Gambar 5. Layout Tata Nama Bangunan Sadap


3.4. Tata nama saluran
a. Saluran induk
Saluran induk sebaiknya diberi nama menurut nama daerah irigasi yang
dilayani seperti saluran induk Makawa karena melayani D.I. Makawa, tetapi
dapat juga diberi nama dengan menurut nama sungai tempat pengambilan
air. Sering dijumpai pada satu bangunan sadap ada dua pengambilan air
maka ditetapkan sebagai berikut :

Sungai SEMPOR

Saluran induk Saluran induk


SEMPOR BARAT SEMPOR TIMUR
A = … Ha A = … Ha
Q = … l/det Q = … l/det

Gambar 6. Layout Irigasi Sempor

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

sungai TELAGA LANGSAT


saluran induk
saluran induk
TELAGA LANGSAT KANAN
TELAGA LANGSAT KIRI

A = … Ha
Q=… A = … Ha
l/det
Q = … l/det

Gambar 7. Layout Irigasi Telaga


b. Saluran sekunder
Saluran sekunder diberi nama menurut nama desa yang terletak di petak
sekunder misalnya saluran sekunder Kedawung berarti saluran sekunder
tersebut terletak di Desa Kedawung. Apabila dijumpai nama huruf depannya
sama, misalnya saluran Jrakah dan saluran Jragung, maka ditetapkan saja
misalnya saluran Jrakah dengan Jk dan saluran Jragung dengan Jg. Saluran
yang terletak diantara bangunan bagi/sadap dinamakan Ruas misalnya R.K 1
berarti ruas pertama Saluran Kedawung.

Saluran Sekunder KEDAWUNG


R.K 1 R.K 2
A = … Ha A = … Ha
Q = … l/det Q = … l/det

Gambar 8. Layout Saluran Sekunder


c. Saluran tersier muka

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
Misalkan pada bangunan bagi sadap Makawa 2 (B.M 2). Dibagian kiri ada 3
buah saluran tersier maka pemberian notasi seperti pada gambar dibawah ini,
dimana arah kiri dan kanan harus mengikuti arah aliran air. Untuk petak
tersier yang diairi diberi nama sesuai dengan nama saluran tersier yang
melayaninya kemudian ditandai pula dengan luas areal dan debit maksimum
yang perlu diberikan.

M 2 ki 1
S.M.2 ki 1 76 Ha 106
l/det

M 2 ka S.M 2 S.M 2 ki 2 M 2 ki 2
110 Ha 154 ka 96 Ha 134
l/det B.M l/det
2
M 3 ka S.M 3 S.M.2 ki 3 M 2 ki 3

148 Ha 207 ka 116 Ha 162


l/det
B.M l/det
3

Gambar 9. Layout Saluran Tersier Muka


3.5. Tata nama bangunan bagi/sadap
Bangunan bagi dan atau sadap diberi nama sesuai nama saluran dimana
bangunan tersebut mengambil air.
saluran sekunder KEDAWUNG
B.M.1

B.K 2
B.K 1

R.K 1 R.K 2
A = … Ha A = … Ha
Q = … l/det Q = … l/det

Gambar 10. Layout Tata Nama Bangunan Bagi/Sadap


Keterangan : B.M 1 adalah bangunan bagi sadap
B.K1 dan B.K 2 adalah bangunan sadap

3.6. Tata nama bangunan lainnya


Mungkin juga diantara dua buah bangunan bagi/sadap terdapat bangunan-
bangunan lain seperti jembatan, gorong-gorong, dll. Maka bangunan-bangunan

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
ini juga diberi notasi. Misalkan diantara banguan-sadap B.K 2 dan B.K 3
terdapat sebuah jembatan orang, sebuah bangunan terjun dan sebuah sipon
maka bangunan-bangunan ini diberi notasi menurut nomor dari bangunan sadap
di hilir, ditambah huruf petunjuk a, b dan c dihitung dari hulu kehilir menurut
arah aliran air. Jadi notasi bangunan-bangunan ini adalah B.K 3a, B.K 3b dan
B.K 3c.
3.7. Tata nama didalam petak tersier
1. Petak tersier diberi nama sesuai nama saluran muka tersier yang mendapat
air dari bangunan-sadap. Misalnya petak M 4 ka mendapat air dari saluran
S.M 4 ka
2. Boks tersier diberi kode T, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum
jam, mulai dari boks pertama di hilir bangunan sadap tersier misalnya T 1,
T 2, T 3 dan seterusnya.
3. Petak kuarter diberi nama sesuai dengan petak rotasi pola tanam, diikuti
dengan nomor urut menurut arah jarum jam. Petak rotasi diberi kode A, B,
C dan seterusnya menurut arah jarum jam.
4. Boks kuarter diberi kode K, diikuti dengan nomor urut menurut arah jarum
jam, mulai dari boks pertama di hilir boks tersier misalnya K 1, K 2, K 3
dan seterusnya. Perlu diingatkan bahwa boks kuarter melayani sekurang-
kurangnya dua petak kuarter.
5. Ruas-ruas saluran tersier diberi nama sesuai dengan nama boks yang
terletak di antara kedua boks, misalnya (T 1-T 2), (T 2-T 3), (T 3-K 2).
6. Saluran irigasi kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang
dilayani tetapi dengan huruf kecil, misalnya a 1, a 2, a 3 dan seterusnya.
7. Saluran pembuang kuarter diberi nama sesuai dengan petak kuarter yang
dibuang airnya, dengan menggunakan huruf kecil dan dimulai dengan dk,
misalnya d.k.a 1, d.k.a 2, d.k.a 3 dan seterusnya.
8. Saluran pembuang tersier diberi kode d.t 1, d.t 2 juga menurut arah jarum
jam

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

A A1 A2 B1 B
B2
K1
B.M 4
ka S.M 4 ka T 1 T2 T3
B3
C1
T4
K2
C

C3 C2

Gambar 11. Layout Tata Nama Didalam Petak Tersier

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
Gambar 12. Layout Saluran Pembuang Sekunder (Sungai)

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Gambar 13. Skema Layout Penggunaan Notasi Simbol

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Gambar 14. Standar Sistim Tata Nama Untuk Skema Irigasi

3.8 Notasi Gambar Pada Jaringan Irigasi


Tabel 3. Bangunan Waduk
Nama Gambar

Bendungan

Tanggul

Pelimpah Banjir

Menara Pengambil

Tabel 4. Bangunan Pengambil

Sumur dengan pompa

Pengambilan bebas

Pengambilan bebas dengan pompa

Bendung

Bendung dengan pompa

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Tabel 5. Bangunan Pembawa

Saluran induk yang telah ada

Saluran induk baru

Saluran sekunder yang telah ada

Saluran sekunder baru

Saluran tersier yang telah ada

Saluran tersier baru

Saluran pembuang

Bangunan bagi

Bangunan bagi dan sadap

Bangunan sadap

Got miring

Bangunan terjun

Talang

Syphon

Gorong-gorong

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Saluran pasangan

Saluran tertutup atau terowongan

Pelimpah samping

Sumber : (KP – 07, 2013)

K. Perencanaan Saluran
Perencanaan hendaknya didasarkan pada prinsip-prinsip teknis yang andal, tetapi
juga harus dapat memenuhi keinginan yang diajukan para pemakai air. Kapasitas saluran
irigasi ditentukan oleh kebutuhan air irigasi selama penyiapan lahan.
Cara pemeliharaan saluran menentukan koefesien yang akan dipilih. Pemeliharaan
yang jelek akan menyebabkan kecepatan aliran akan menjadi rendah dan kemudian akan
diperlukan saluran yang lebih besar.
Saluran harus direncanakan sedemikian sehingga mempunyai efisiensi yang tinggi
dan biaya pembuatan yang ekonomis serta mudah dalam pengoperasiannya.

L. Kapasitas rencana
1. Debit Rencana
Debit rencana di saluran di hitung berdasarkan kebutuhan bersih air disawah,
efisiensi dan luas areal yang akan diairi. (KP – 03, 2010)
Persamaan untuk menghitung debit rencana saluran sebagai berikut :
c . NFR . A
Q= (Ltr /dtk ) . . . . (Pers 1)
e

Dimana :
Q = Debit rencana, m3/det
C = Koefesien pengurangan karena adanya sistem golongan ( c = 1 )
NFR = Kebutuhan bersih (netto) air disawah, [Link]/dt
A = Luas petak yang diairi, ha
e = Efisiensi irigasi secara keseluruhan

2. Kebutuhan Air di sawah

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
Kebutuhan bersih air disawah (NFR) untuk padi dapat ditentukan oleh faktor-faktor
berikut :
a. Cara penyiapan lahan
b. Kebutuhan air untuk tananaman
c. Perkolasi dan rembesan
d. Pergantian lapisan air
e. Curah hujan efektif
3. Efisiensi
Akibat eksploitasi dan rembesan, sebagian air yang dibagikan akan hilang sebelum
mencapai tanaman padi. Kehilangan air akibat evaporasi dan perembesan kecil saja
dibanding kehilangan akibat eksploitasi.
Pada umumnya kehilangan air di irigasi akibat kemungkinan diatas dapat dibagi-bagi
sebagai berikut : (KP – 03, 2010)
Untuk saluran tersier e = 0,775 – 0,850 ( diambil 0,80 )
Untuk saluran sekunder e = 0,875 – 0,925 ( diambil 0,90 )
Untuk saluran primer e = 0,875 – 0,925 ( diambil 0,90 )

M. Perencanaan Saluran Yang Stabil


Pada umumnya penampang saluran dibuat trapesium karena memiliki efisiensi yang
tinggi dalam mengalirkan air. Untuk perencanaan ruas aliran saluran dianggap sebagai
aliran tetap, dan untuk itu diterapkan aliran yang juga dikenal sebagai rumus Strickler.
Berikut ini merupakan gambar saluran parameter melintang dari penampang yang dibuat
trapesium.

1,50 - 2,00

0,50 1 : 20

1:1 1:1 0,50


w 0,30

h
Saluran tersier k = 35

b 0,30

w 0,20
0,40 1,00-1,50

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


h 1:1
b 0,30

UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Gambar 15. Potongan Melintang k=30 (Diktat Arodi Tanga dkk)

Ketentuan dimensi dan kecepatan minimum yang disyaratkan pada saluran tanpa
pasangan juga berlaku untuk saluran pasangan. Harga koefisien k diambil sebagai
berikut :
- Pasangan batu k = 50 m1/3/dt
- Pasangan beton (untuk talud saja) k = 60 m1/3/dt
- Pasangan beton (untuk talud dan dasar) k = 70 m1/3/dt
Tebal pasangan batu sekurang-kurangnya diambil 20 cm bila diameter batu yang
digunakan sekitar 15 cm. Pasangan beton atau yang dibuat dari ubin beton jauh lebih
tipis yakni 7 - 10 cm. Pada ujung dan dasar saluran diberi koperan.

Gambar 16. Potongan Melintang k=50 (Diktat Arodi Tanga dkk)

Gambar 17. Potongan Melintang k=60 (Diktat Arodi Tanga dkk)

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Gambar 18. Potongan Melintang k = 70 (Diktat Arodi Tanga dkk)

Persamaan untuk menghitung ruas saluran penampang trapesium sebagai berikut :


(KP – 03, 2010) :
Q = V x A ( m3/dt ) . . . . . (Pers. 2)
v = K x R2/3 x I1/2 ( m/dt ) . . . . . (Pers. 3)
A
R = (m) . . . . . (Pers. 4)
P
A = ( b + m.h ) h ( m2 ) . . . . . (Pers. 5)
P = b + 2.h √ m2+1 ( m ) . . . . . (Pers. 6)
b = n.h . . . . . (Pers. 7)
Dari persamaan rumus diatas dapat diuraikan menjadi persamaan rumus sebagai berikut :
Q = VxA
Q = ( K x R2/3 x I1/2 ) x ( b + m.h ) h
A
Q = ( K x P x I1/2 ) x ( b + m.h ) h

( b+m .h ) h
Q = (Kx( ) 2/3 x I1/2 ) x ( b + m.h )
b+2 h √ m +1
2

( ( n. h )+ m. h ) h
Q = (Kx ( ) 2/3
x I1/2 ) x ( n.h + m.h ) h . . . (Pers. 8)
( n . h ) +2. h √ m +1
2

Dimana :
V = Kecepatan, m/det
K = Koefesien kekasaran strickler, m1/3/det
R = Jari-jari hidrolis, m2/3
I = Kemiringan rencana saluran

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
A = Luas penampang basah, m2
P = Keliling basah, m
Q = Debit rencana, Ltr/det
b = Lebar dasar saluran, m
h = Kedalaman air saluran, m
n = Perbandingan kedalaman dan lebar saluran
m = Kemiringan talud horizontal / vertikal

N. Kecepatan Saluran
Distribusi kecepatan maksimum disebabkan oleh tekan pada muka air akibat
adanya perbedaan fluida atau udara dan juga akibat gaya gesekan pada dasar maupun
dinding saluran, maka kecepatan aliran pada suatu potongan melintang saluran tidak
seragam. Ketidakseragaman ini disebabkan oleh bentuk tampak melintang saluran
dilokasi saluran. (Robert.J.K,2002).
Kecepatan minimum yang diizinkan atau kecepatan tanpa pengendapan,
merupakan kecepatan terendah yang tidak menimbulkan sedimentasi dan mendorong
pertumbuhan tanaman air ganggang. Kecepatan ini sangat tidak menentu dan nilainya
yang tidak tepat dapat membawa pengaruh besar kecuali terhadap pertumbuhan tanaman.
Umumnya dapat dikatakan bahwa kecepatan rata-rata 2 sampai 3 kali perdetik dapat
digunakan bila presentase lanau ditunjukan dalam saluran kecil tidak kurang dari 2,5
perdetik dapat mencegah pertumbuhan tanaman air yang dapat mengurangi kapasitas
saluran tersebut. (VenTeChow,1984).
Kecepatan maksimum yang di izinkan juga akan menentukan kecepatan rencana
untuk dasar saluran tanah dengan pasangan campuran. Prosedur perencanaan saluran
untuk saluran dengan pasangan adalah sama dengan prosedur perencanaan saluran tanah.
Harga kecepatan minimum yang direncanakan untuk saluran tersier dan kuarter
pada saluran irigasi tanpa pasangan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Kriteria Perencanaan Untuk saluran Irigasi Tanpa Pasangan


Karakteristik Satuan Saluran Tersier Saluran Kuarter

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
perencanaan
Kecepatan maksimum m/det Sesuai dengan grafik perencanaan
Kecepatan minimum m/det 0,20 0,20
Harga k m1/3/det 35 30
Lebar minimum dasar
M 0,30 0,30
saluran
Kemiringan talud M 1:1 1:1
Tanggul Tanggul
0,50 0,40
Lebar minimum mercu M
Jalan inspeksi Jalan inspeksi
1,50 – 2,00 m 1,50 – 2,00 m
Tinggi Jagaan minimum
M 0,30 0,30
(W)
Sumber : (KP – 05, 2010)

Batas kecepatan maksimum sesuai jenis-jenis bahan dasar saluran di anjurkan


pemakaiannya adalah sebagai berikut :
Pasangan Batu = 3,00 m/dt
Pasangan Pelat Beton = 3,00 m/dt
Dapat ditentukan kecepatan rencana didalam saluran. Sebagai perhitungan kontrol maka
dilakukan perhitungan kecepatan dengan menggunakan rumus Strickler :

Vr = k . R2/3 . Ir1/2
dimana :
k = Koefisien Strikler yang digunakan, m1/3/dt
A
R = = Jari-jari hidrolis, m
P
A = bh + mh2 = Luas penampang basah saluran, m2
P = b+ 2h √ 1+m 2 = Keliling basah saluran, m
Ir = Kemiringan rencana

O. Koefesien Kekasaran Stickler


Koefesien kekasaran Stickler bergantung pada kekasaran permukaan saluran,
ketidak teraturan permukaan saluran, trase saluran, vegetasi dan sedimen. Pada saluran

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
irigasi, ketidakteraturan permukaan yang meyebabkan perubahan dalam keliling basah
dan potongan melintang mempunyai pengaruh lebih penting pada koefesien kekasaran
saluran daripada kekasaran permukaan. Koefisien kekasaran Strickler k (m1/3/det) yang
dianjurkan pemakaiannya untuk saluran pasangan adalah :
1. Pasangan batu 50 (m1/3/det)
2. Pasangan beton 60 (m1/3/det)
3. Pasangan tanah 35 – 45 (m1/3/det)
4. Ferrocemen 70 (m1/3/det)

P. Kemiringan minimum Talud


Untuk menekan biaya pembebasan tanah dan penggalian, talud saluran di rencana
securam mungkin. Bahan tanah, kedalaman saluran dan terjadinya rembesan akan
menentukan kemiringan maksimum untuk talut yang stabil. Kemiringan galian minimum
talud ( m ) dan perbandingan kedalaman dan lebar saluran ( n ) dapat dilihat pada Tabel
7.
Tabel 7. Harga-harga kemiringan talut untuk saluran pasangan
Jenis tanah h < 0,75 m 0,75 m < h < 1,5 m
Lempung pasiran
Tanah pasiran kohesif 1 1
Tanah pasiran, lepas 1 1,25
Geluh pasiran, lempung berpori 1 1,5
Tanah gambut lunak 1,25 1,5
Sumber : (KP – 03, 2010)

Q. Kemiringan Saluran
Kemiringan saluran diusahakan sedapat mungkin mengikuti kemiringan medan
yang ada, selama itu tidak mengakibatkan munculnya kecepatan aliran di saluran yang
melampaui batas izin.
Kemiringan minimum dibuat untuk mencegah munculnya sedimentasi disaluran
sedangkan kemiringan maksimum untuk mencegah terjadinya erosi saluran. Untuk itu
keduanya harus dibatasi, sesuai Kriteria Perencanaan Irigasi.
Penentuan kemiringan saluran rencana dapat dilakukan dengan cara mem-plot
nilai debit (Q) dan kemiringan medan (i) pada gambar 5- grafik perencanaan saluran

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
irigasi kuarter (k = 30 m1/3/dtk). Untuk perencanaan saluran pasangan, kemiringan
saluran dapat dilihat pada lampiran grafik.

Gambar 19. Grafik perencanaa saluran irigasi kuarter (k=35m 1/3/dtk)


Sumber : (KP-05,2010)

60

Gambar 20. Grafik perencanaa saluran irigasi tersier


Sumber : (KP-05,2010)

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Gambar 21. Grafik saluran pasangan batu (k=50m 1/3/dtk)


Sumber : (KP-05,2010)

Berikut langkah-langkah penentuan kemiringan saluran (Diktat, Arody Tanga dkk):


1) Plot titik pertemuan antara kemiringan yang ada Im dengan debit rencana Q (Im
versus Q).
2) Apabila titik hasil plot berada di bawah garis kecepatan minimum 0,20 m/dt maka di
atas Q tarik garis vertikal ke atas kemudian pilih satu titik sembarang yang terletak
diantara garis kecepatan minimum 0,20 m/dt dengan garis putus-putus saluran
pasangan atau bangunan terjun. Namun disarankan memilih titik tepat atau berada
disekitar garis kecepatan minimum agar pekerjaan timbunan menjadi kecil. Dari titik
yang telah dipilih, tarik garis horsontal ke kiri guna menentukan kemiringan rencana
(Ir).
3) Apabila titik hasil plot berada diantara garis kecepatan minimum 0,20 m/dt dengan
garis putus-putus maka kemiringan yang ada dapat digunakan sebagai kemiringan
rencana atau Ir = Im.
4) Apabila titik hasil plot berada di atas garis putus-putus maka kemiringan yang ada
dapat digunakan sebagai kemiringan rencana tetapi dengan syarat saluran harus
terbuat dari pasangan dan menggunakan grafik perencanaan untuk saluran pasangan
(Lampiran). Apabila tetap diinginkan saluran tanpa pasangan (saluran tanah) maka di
atas Q tarik garis vertikal ke bawah kemudian pilih satu titik sembarang yang terletak

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
diantara garis kecepatan minimum 0,20 m/dt dengan garis putus-putus untuk saluran
pasangan atau bangunan terjun dan pada saluran harus diberi bangunan terjun.
Namun disarankan untuk memilih titik tepat atau berada disekitar garis putus-putus
agar pekerjaan galian menjadi kecil. Dari titik yang telah dipilih, tarik garis
horisontal ke kiri untuk menentukan kemiringan rencana (Ir).

R. Tinggi Air di Saluran (h)


Apabila titik yang dipilih pada grafik tepat berada digaris b = h maka lebar dasar
saluran (b) dan tinggi air di saluran (h) sama besar. Tetapi apabila tidak berada tepat di
garis b = h maka kedalaman air (h) harus dicari dengan interpolasi menggunakan tabel 5
sampai tabel 9, dimana nilai F didapat dengan menurunkan rumus Strickler dan debit
sebagai berikut:
Rumus Strickler : Vr = k . R2/3 . Ir1/2 . . . . . (Pers
9)
Rumus debit : Q = v. A . . . . . (Pers
10)
Dari kedua rumus diatas dapat ditulis :
Q
= k . R2/3 . Ir1/2
A
Q
k . R2/3 . A = 1
Ir 2
Apabila F = k . R 2/3. A maka dapat juga ditulis :
Q
F= 1 .....
Ir 2

(Pers 11)
Untuk saluran tanpa pasangan, saluran kuarter menggunakan F dengan k = 30 sedangkan
untuk saluran tersier menggunakan F dengan k = 35. Bila menggunakan pasangan maka
menggunakan F dengan k = 50 untuk saluran pasangan batu, F dengan k = 60 bila talud
saja dari beton dan F dengan k = 70 bila talud dan dasar dari beton.

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Tabel 8. Dimensi saluran dengan lebar dasar saluran (b) =0,3 m


UNTUK LEBAR SALURAN = .30 M
------------------------------------------------------------------------
B H ! F ! A
!-----------------------------------------------------!
(m) (m) ! k=25 k=30 k=35 k=50 k=60 k=70 ! (m2)
===============================================
.300 .100 .168 .201 .235 .335 .402 .469 .040
.300 .110 .198 .238 .278 .397 .476 .555 .045
.300 .120 .232 .278 .324 .463 .556 .649 .050
.300 .130 .267 .321 .374 .535 .642 .749 .056
.300 .140 .306 .367 .428 .612 .734 .856 .062
.300 .150 .347 .416 .486 .694 .833 .971 .068
.300 .160 .391 .469 .547 .781 .937 1.094 .074
.300 .170 .437 .524 .612 .874 1.049 1.224 .080
.300 .180 .486 .583 .681 .972 1.167 1.361 .086
.300 .190 .538 .646 .753 1.076 1.292 1.507 .093
.300 .200 .593 .712 .830 1.186 1.423 1.660 .100
.300 .210 .651 .781 .911 1.301 1.562 1.822 .107
.300 .220 .711 .854 .996 1.423 1.707 1.992 .114
.300 .230 .775 .930 1.085 1.550 1.860 2.170 .122
.300 .240 .842 1.010 1.178 1.683 2.020 2.357 .130
.300 .250 .911 1.094 1.276 1.823 2.187 2.552 .138
.300 .260 .984 1.181 1.378 1.969 2.362 2.756 .146
.300 .270 1.060 1.272 1.485 2.121 2.545 2.969 .154
.300 .280 1.140 1.368 1.596 2.279 2.735 3.191 .162
.300 .290 1.222 1.467 1.711 2.444 2.933 3.422 .171
.300 .300 1.308 1.570 1.831 2.616 3.139 3.663 .180

Sumber :Diktat, Arody Tanga dkk

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Tabel 9. Dimensi saluran dengan lebar dasar saluran (b) =0,35 m


UNTUK LEBAR SALURAN = .35 M
------------------------------------------------------------------------------
B ! H ! F !A
------------------------------------------------------------------------------
(m) (m) k=25 k=30 k=35 k=50 k=60 k=70 (m²)
==============================================
.350 .100 .193 .232 .270 .386 .463 .541 .045
.350 .110 .228 .274 .319 .456 .547 .638 .051
.350 .120 .266 .319 .372 .531 .638 .744 .056
.350 .130 .306 .367 .429 .612 .735 .857 .062
.350 .140 .349 .419 .489 .699 .839 .978 .069
.350 .150 .395 .475 .554 .791 .949 1.107 .075
.350 .160 .444 .533 .622 .889 1.067 1.244 .082
.350 .170 .496 .595 .695 .992 1.191 1.389 .088
.350 .180 .551 .66 .771 1.102 1.322 1.543 .095
.350 .190 .609 .731 .852 1.218 1.461 1.705 .103
.350 .200 .670 .803 .937 1.339 1.607 1.875 .110
.350 .210 .733 .880 1.027 1.467 1.760 2.053 .118
.350 .220 .800 .960 1.120 1.601 1.921 2.241 .125
.350 .230 .870 1.044 1.219 1.741 2.089 2.437 .133
.350 .240 .944 1.132 1.321 1.887 2.265 2.642 .142
.350 .250 1.020 1.224 1.428 2.040 2.448 2.857 .150
.350 .260 1.100 1.320 1.540 2.200 2.640 3.080 .159
.350 .270 1.183 1.420 1.656 2.366 2.839 3.313 .167
.350 .280 1.270 1.524 1.777 2.539 3.047 3.555 .176
.350 .290 1.360 1.631 1.903 2.719 3.263 3.807 .186
.350 .300 1.453 1.743 2.034 2.906 3.487 4.068 .195
.350 .310 1.550 1.860 2.170 3.100 3.719 4.339 .205
.350 .320 1.650 1.980 2.310 3.300 3.960 4.620 .214
.350 .330 1.754 2.105 2.456 3.508 4.210 4.912 .224
.350 .340 1.862 2.234 2.607 3.724 4.468 5.213 .235
.350 .350 1.973 2.368 2.762 3.946 4.736 5.525 .245

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
Sumber :Diktat, Arody Tanga dkk

Tabel 10. Dimensi saluran dengan lebar dasar saluran (b) =0,4 m
UNTUK LEBAR SALURAN = .40 M
-------------------------------------------------------------------------------
B H ! F ! A
!-----------------------------------------------------------------------------!
(m) (m) k=25 k=30 k=35 k=50 k=60 k=70 (m²)
==============================================
.400 .100 .219 .263 .306 .438 .525 .613 .050
.400 .110 .258 .310 .361 .516 .619 .722 .056
.400 .120 .300 .360 .420 .600 .720 .840 .062
.400 .130 .345 .414 .483 .691 .829 .967 .069
.400 .140 .393 .472 .551 .787 .944 1.102 .076
.400 .150 .445 .534 .622 .889 1.067 1.245 .083
.400 .160 .499 .599 .698 .998 1.197 1.397 .090
.400 .170 .556 .667 .779 1.112 1.335 1.557 .097
.400 .180 .617 .740 .863 1.233 1.480 1.727 .104
.400 .190 .680 .816 .952 1.360 1.633 1.905 .112
.400 .200 .747 .896 1.046 1.494 1.793 2.092 .120
.400 .210 .817 .981 1.144 1.634 1.961 2.288 .128
.400 .220 .890 1.068 1.247 1.781 2.137 2.493 .136
.400 .230 .967 1.160 1.354 1.934 2.321 2.708 .145
.400 .240 1.047 1.256 1.466 2.094 2.513 2.932 .154
.400 .250 1.130 1.356 1.583 2.261 2.713 3.165 .163
.400 .260 1.217 1.461 1.704 2.434 2.921 3.408 .172
.400 .270 1.308 1.569 1.831 2.615 3.138 3.661 .181
.400 .280 1.401 1.682 1.962 2.803 3.363 3.924 .190
.400 .290 1.499 1.798 2.098 2.997 3.597 4.196 .200
.400 .300 1.600 1.920 2.240 3.199 3.839 4.479 .210
.400 .310 1.704 2.045 2.386 3.409 4.090 4.772 .220
.400 .320 1.813 2.175 2.538 3.625 4.350 5.075 .230
.400 .330 1.925 2.310 2.695 3.849 4.619 5.389 .241
.400 .340 2.041 2.449 2.857 4.081 4.897 5.714 .252
.400 .350 2.160 2.592 3.024 4.320 5.184 6.048 .262
.400 .360 2.284 2.740 3.197 4.567 5.481 6.394 .274
.400 .370 2.411 2.893 3.376 4.822 5.787 6.751 .285
.400 .380 2.542 3.051 3.559 5.085 6.102 7.119 .296
.400 .390 2.678 3.213 3.749 5.356 6.427 7.498 .308
.400 .400 2.817 3.381 3.944 5.634 6.761 7.888 .320

Sumber :Diktat, Arody Tanga dkk

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Tabel 11. Dimensi saluran dengan lebar dasar saluran (b) =0,45 m
UNTUK LEBAR SALURAN = .45 M
----------------------------------------------------------------------------------
B H ! F ! A
!----------------------------------------------------------------------------------!
(m) (m) k=25 k=30 k=35 k=50 k=60 k=70 (m2)
================================================
.450 .100 .245 .294 . 343 .489 .587 .685 .055
.450 .110 .288 .346 .403 .576 .692 .807 .062
.450 .120 .335 .402 .469 .670 .804 .938 .068
.450 .130 .385 .462 .539 .769 .923 1.077 .075
.450 .140 .438 .525 .613 .876 1.051 1.226 .083
.450 .150 .494 .593 .692 .988 1.186 1.384 .090
.450 .160 .554 .665 .775 1.108 1.329 1.551 .098
.450 .170 .617 .740 .863 1.233 1.480 1.727 .105
.450 .180 .683 .820 .956 1.366 1.639 1.912 .113
.450 .190 .752 .903 1.053 1.505 1.806 2.107 .122
.450 .200 .825 .990 1.156 1.651 1.981 2.311 .130
.450 .210 .902 1.082 1.262 1.804 2.164 2.525 .139
.450 .220 .982 1.178 1.374 1.963 2.356 2.748 .147
.450 .230 1.065 1.278 1.491 2.130 2.556 2.981 .156
.450 .240 1.152 1.382 1.612 2.303 2.764 3.224 .166
.450 .250 1.242 1.490 1.739 2.484 2.981 3.477 .175
.450 .260 1.336 1.603 1.870 2.672 3.206 3.740 .185
.450 .270 1.433 1.720 2.007 2.867 3.440 4.014 .194
.450 .280 1.535 1.842 2.148 3.069 3.683 4.297 .204
.450 .290 1.640 1.967 2.295 3.279 3.935 4.591 .215
.450 .300 1.748 2.098 2.448 3.497 4.196 4.895 .225
.450 .310 1.861 2.233 2.605 3.722 4.466 5.210 .236
.450 .320 1.977 2.373 2.768 3.954 4.745 5.536 .246
.450 .330 2.097 2.517 2.936 4.195 5.034 5.872 .257
.450 .340 2.221 2.666 3.110 4.443 5.331 6.220 .269
.450 .350 2.349 2.819 3.289 4.699 5.639 6.579 .280
.450 .360 2.482 2.978 3.474 4.963 5.956 6.948 .292
.450 .370 2.618 3.141 3.665 5.235 6.282 7.329 .303
.450 .380 2.758 3.309 3.861 5.516 6.619 7.722 .315
.450 .390 2.902 3.483 4.063 5.804 6.965 8.126 .328
.450 .400 3.051 3.661 4.271 6.101 7.321 8.542 .340
.450 .410 3.203 3.844 4.485 6.406 7.688 8.969 .353
.450 .420 3.360 4.032 4.704 6.720 8.064 9.408 .365
.450 .430 3.521 4.226 4.930 7.043 8.451 9.860 .378
.450 .440 3.687 4.424 5.162 7.374 8.848 10.323 .392
.450 .450 3.857 4.628 5.399 7.713 9.256 10.799 .405

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
Sumber :Diktat, Arody Tanga dkk

Tabel 12. Dimensi saluran dengan lebar dasar saluran (b) =0,50 m
UNTUK LEBAR SALURAN = .50 M
----------------------------------------------------------------------------------
B H ! F ! A
!----------------------------------------------------------------------------------!
(m) (m) k=25 k=30 k=35 k=50 k=60 k=70 (m2)
================================================
.500 .100 .271 .325 .379 .541 .650 .758 .060
.500 .110 .318 .382 .446 .637 .764 .892 .067
.500 .120 .370 .444 .518 .740 .887 1.035 .074
.500 .130 .424 .509 .594 .849 1.019 1.188 .082
.500 .140 .483 .579 .676 .965 1.158 1.351 .090
.500 .150 .544 .653 .762 1.088 1.306 1.524 .098
.500 .160 .609 .731 .853 1.218 1.462 1.706 .106
.500 .170 .678 .813 .949 1.356 1.627 1.898 .114
.500 .180 .750 .900 1.050 1.500 1.800 2.099 .122
.500 .190 .825 .990 1.156 1.651 1.981 2.311 .131
.500 .200 .904 1.085 1.266 1.809 2.171 2.533 .140
.500 .210 .987 1.185 1.382 1.974 2.369 2.764 .149
.500 .220 1.074 1.288 1.503 2.147 2.576 3.006 .158
.500 .230 1.163 1.396 1.629 2.327 2.792 3.258 .168
.500 .240 1.257 1.509 1.760 2.514 3.017 3.520 .178
.500 .250 1.354 1.625 1.896 2.709 3.251 3.793 .188
.500 .260 1.456 1.747 2.038 2.911 3.493 4.076 .198
.500 .270 1.561 1.873 2.185 3.121 3.745 4.370 .208
.500 .280 1.669 2.003 2.337 3.339 4.006 4.674 .218
.500 .290 1.782 2.138 2.495 3.564 4.277 4.989 .229
.500 .300 1.898 2.278 2.658 3.797 4.556 5.315 .240
.500 .310 2.019 2.423 2.826 4.038 4.845 5.653 .251
.500 .320 2.143 2.572 3.001 4.287 5.144 6.001 .262
.500 .330 2.272 2.726 3.180 4.543 5.452 6.361 .274

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
.500 .340 2.404 2.885 3.366 4.808 5.770 6.732 .286
.500 .350 2.541 3.049 3.557 5.082 6.098 7.114 .297
.500 .360 2.682 3.218 3.754 5.363 6.436 7.508 .310
.500 .370 2.826 3.392 3.957 5.653 6.783 7.914 .322
.500 .380 2.976 3.571 4.166 5.951 7.141 8.332 .334
.500 .390 3.129 3.755 4.380 6.258 7.509 8.761 .347
.500 .400 3.287 3.944 4.601 6.573 7.888 9.202 .360
.500 .410 3.449 4.138 4.828 6.897 8.277 9.656 .373
.500 .420 3.615 4.338 5.061 7.230 8.676 10.122 .386
.500 .430 3.786 4.543 5.300 7.571 9.086 10.600 .400
.500 .440 3.961 4.753 5.545 7.922 9.506 11.090 .414
.500 .450 4.141 4.969 5.797 8.281 9.937 11.594 .427
.500 .460 4.325 5.190 6.055 8.650 10.380 12.109 .442
.500 .470 4.514 5.416 6.319 9.027 10.833 12.638 .456
.500 .480 4.707 5.648 6.590 9.414 11.297 13.180 .470
.500 .490 4.905 5.886 6.867 9.810 11.772 13.734 .485
.500 .500 5.108 6.129 7.151 10.215 12.259 14.302 .500

Sumber :Diktat, Arody Tanga dkk

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

S. Lebar Dasar Saluran (b)


Dari grafik yang digunakan untuk menentukan kemiringan rencana diatas, lebar
dasar saluran dapat ditentukan. Cara penentuannya adalah pilih lebar dasar saluran yang
terletak di sebelah kanan dari titik yang telah dipilih dengan tetap memperhatikan
persyaratan teknis lebar minimum saluran yaitu 0,30 m untuk saluran tersier dan kuarter.

T. Tinggi Jagaan (W)


Tinggi jagaan di saluran tersier minimum 0,30 m dan di saluran kuarter minimum
0,20 m. Untuk praktisnya, biasanya diambil sebagai berikut :
a. Saluran tersier Wst = 0,30 + 0,25h
b. Saluran kuarter Wsk = 0,20 + 0,25h

U. Elevasi Muka Air


1. Elevasi hilir dan udik saluran (uhs dan uus)
Elevasi hilir (EHS) dan elevasi udik (EUS) setiap ruas saluran ditentukan langsung
dari garis-garis kontur peta topografi berdasarkan medan. Apabila ujung hilir atau
udik saluran terletak diantara dua garis kontur maka penentuan elevasinya diperoleh
dengan cara interpolasi linear.
2. Elevasi muka air sesuai medan (MAHr dan MAUm)
Elevasi muka air hilir rencana (MAHr) untuk saluran tersier didasarkan pada elevasi
muka air udik rencana tertinggi dibagian hilir boks yang dilayani + kehilangan tinggi
energi di boks tersebut (sebagai asumsi awal biasanya diambil 5 – 15 cm). Elevasi
muka air udik sesuai medan (MAUm) saluran tersier didasarkan pada eleveasi muka
air udik rencana tertinggi saluran kuarter dibagian hilir boks dimana saluran tersebut
mendapat air. Bila pada boks tersebut tidak terdapat saluran kuarter maka
penentuannya didasarkan pada elevasi udik saluran (EUS) sesuai kontur.
MAUr−MAHr−∆ h 1
Im = L . . . (Pers. 12)

Dimana :
Im = Kemiringan medan yang ada

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
MAHr = Elevasi muka air hilir rencana
MAUm = Elevasi muka air udik rencana
L = Panjang Saluran (m)
Δh1 = Jumlah perkiraan kehilangan energi digorong-gorong atau
talang, tidak termasuk bangunan terjun.
(sebagai asumsi awal diambil 5 – 15 cm perbangunan)

3. Muka air udik rencana (MAUr)


Bila pada ruas saluran tidak terdapat bangunan terjun, maka muka air udik rencana
dapat dilihat pada gambar 18 dengan persamaan yaitu :

MAUr = MAHr + ( Ir x L ) + h1 . . . . . (Pers. 13)

MAUr
H1 ( 5 – 15 cm )

Ir x L MAHr

Gambar 19. Ilustrasi perhitungan muka air udik rencana (MAHr) tanpa bangunan terjun
( KP – 01, 2010 )

Tetapi apabila pada ruas saluran terdapat bangunan terjun, maka muka air udik rencana
dapat dilihat pada gambar 19 dengan persamaan yaitu :
MAUr = MAUm . . . . . (Pers.14)
Dan diperoleh tinggi Bangunan Terjun :
Z = MAUr – MAHr - ( Ir x L ) - h1 . . . . .(Pers.15)

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

MAUr

Gorong-gorong / Talang

H2
H2

H1 ( 5 – 15 cm )

Ir x L MAHr

Gambar 20. Ilustrasi perhitungan muka air udik rencana (MAHr) dengan bangunan
terjun ( KP – 01, 2010 )

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

4. Elevasi hilir dan udik pintu ukur (MAHps dan MAUps)


Elevasi muka air yang diperlukan dihilir pintu alat ukur bangunan sadap tersier
(MAHps) adalah elevesi muka air udik rencana (MAUr) saluran tersier muka yang
dilayaninya. Elevasi muka air yang diinginkan didasarkan pada tinggi muka air yang
diperlukan disawah yang diairi. Berikut ini pada Gambar 20 dapat dilihat ilustrasi
mengenai cara perhitungannya :

Sal. Sekunder Sal. Tersier Sal. Kuarter

g
f
h e
d
P c
b

H
H100 H70
1%

A a

L L

Bangunan Sadap
Tersier dengan alat Gorong-gorong Box Bagi Tersier Box Bagi Kuarter
ukur

Gambar 21. Ilustrasi perhitungan tinggi muka air yang dibutuhkan.


( KP – 03, 2010 )

P = A + a + b + m . c + d + n . e + f + g + h + Z . . . . . (Pers.16)
Dimana :
P = Muka air yang dibutuhkan disaluran sekunder
A = Elevasi sawah dengan elevasi yang menentukan
a = Lapisan air disawah, ± 10 cm
b = Kehilangan tinggi energi di saluran kuarter sampai kesawah ± 5 cm
c = Kehilangan tinggi energi di boks kuarter ± 5 cm/box

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
d = Kehilangan pada bangunan pembawa disaluran irigasi, I x L
L = Panjang saluran, m
e = Kehilangan tinggi energi di boks tersier ± 10 cm
f = Kehilangan tinggi energi digorong-gorong ± 10 cm
g = Kehilangan tinggi energi dibangunan sadap tersier 1/3 H
h = Variasi muka air = 0,18 h100 ( sekitar 0,05 – 0,30 cm )
Z = Kehilangan tinggi energi dibangunan petak tersier lainnya
m = Jumlah boks kuarter di trase tersebut
n = Jumlah boks tersier di trase tersebut
Elevasi muka air di udik pintu sadap (MAUps) diperoleh dari elevasi muka air dihilir
pintu sadap + kehilangan tinggi energi dipintu ukur.
MAUps = MAHps + Δh . . . . . (Pers.17)
Dimana :
MAHps = Elevasi muka air dihilir pintu sadap, m
Δh = Kehilangan energi pada pintu ukur

5. Jalan inspeksi
Jalan inspeksi merupakan jalan-jalan yang digunakan baik oleh oleh para petani,
kendaraan maupun ternak yang menghubungkan antara jaringan irigasi yang lain atau
jalan-jalan umum desa yang sudah ada. Jalan inspeksi biasanya dibangun diatas
tanggul saluran atau pembuang jika ini dianggap tidak ekonomis jarak maksimum
antara jalan inspeksi dan saluran atau pembuang adalah 300 m.

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

1. Perhitungan Timbunan dan Galian Patok T4

d c d c

b a
a b
a d

b c

Timbunan 1
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 6,904 91,711 633,173 907,572
2 b 9,896 91,711 913,668 816,778
3 c 8,906 92,327 822,264 725,136
4 d 7,854 92,327 720,298 637,426
5 a 6,904 91,711 0,000 0,000
∑ 3089,403 3086,912

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2
3089,403 - 3086,912
=
2
= 1,246 m²

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Timbunan 2
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 1,114 91,711 102,166 358,040
2 b 3,904 91,711 360,445 262,752
3 c 2,865 92,327 264,517 173,113
4 d 1,875 92,327 171,958 102,852
5 a 1,114 91,711 0,000 0,000
∑ 899,086 896,757

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2
899,086 - 896,757
=
2
= 1,164 m²

Galian 1
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 3,904 91,711 356,170 427,282
2 b 4,659 91,232 425,050 557,610
3 c 6,112 91,232 560,538 629,866
4 d 6,904 91,711 633,173 358,040
5 a 3,904 91,711 0,000 0,000
∑ 1974,930 1972,797

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2
1974,930 - 1972,797
=
2
= 1,066 m²

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

2. Perhitungan Timbunan dan Galian Patok T5

d c d c

b a
a b
a d

Timbunan 1
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 6,212 90,568 562,608 836,033
2 b 9,231 90,568 841,720 736,680
3 c 8,134 91,184 741,691 660,902
4 d 7,248 91,184 656,437 566,435
5 a 6,212 90,568 0,000 0,000
∑ 2802,455 2800,050

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2
2802,455 - 2800,050
=
2
= 1,203 m²

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

Timbunan 2
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 1,000 90,568 90,568 259,387
2 b 2,864 90,568 261,151 254,858
3 c 2,814 91,184 256,592 168,964
4 d 1,853 91,184 167,823 91,184
5 a 1,000 90,568 0,000 0,000
∑ 776,133 774,393

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2
776,133 - 774,393
=
2
= 0,870 m²

Galian 1
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 2,864 90,568 258,015 399,495
2 b 4,411 90,089 397,383 505,760
3 c 5,614 90,089 508,449 559,633
4 d 6,212 90,568 562,608 259,387
5 a 2,864 90,568 0,000 0,000
∑ 1726,455 1724,275

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2
1726,455 - 1724,275
=
2
= 1,090 m²

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1
3. Perhitungan Timbunan dan Galian Patok K2

d c d c

b a
a d b
a
b c

Timbunan 1
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 6,112 90,225 551,455 822,040
2 b 9,111 90,225 827,652 731,454
3 c 8,107 90,841 736,448 651,602
4 d 7,173 90,841 647,184 555,220
5 a 6,112 90,225 0,000 0,000
∑ 2762,739 2760,317

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2
2762,739 - 2760,317
=
2
Timbunan=2 1,211 m²
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 1,121 90,225 101,142 334,193
2 b 3,704 90,225 336,475 253,622
3 c 2,811 90,841 255,354 143,620
4 d 1,581 90,841 142,646 101,833
5 a 1,121 90,225 0,000 0,000
∑ 835,617 833,268

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR 1

835,617 - 833,268
=
2
= 1,174 m²

Galian 1
Koordinat
No Nama Titik Xn (Yn + 1) Yn(Xn + 1)
Sumbu X Sumbu Y
1 a 3,704 90,225 332,578 416,027
2 b 4,611 89,789 414,017 466,633
3 c 5,197 89,789 468,899 548,790
4 d 6,112 90,225 551,455 334,193
5 a 3,704 90,225 0,000 0,000
∑ 1766,950 1765,645

∑Yn (Xn + 1) - ∑Yn (Xn +1)


A =
2
1766,950 - 1765,645
=
2
= 0,653 m²

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

PERHITUNGAN VOLUME GALIAN TIMBUNAN

2 2 3
Luas (m ) Luas Rata-rata (m ) Volume (m )
Patok Jarak (m)
Timbunan Galian Timbunan Galian Timbunan Galian
T1-T2 800 1,246 1,164 1,066 1,205 0,533 963,917 426,597
T2-T3 800 1,203 0,870 1,090 1,036 0,545 829,136 435,986
T3-K1 800 1,211 1,174 0,653 1,193 0,326 954,307 261,077
JUMLAH ( ∑ ) 2747,360 1123,660

Jadi, Volume untuk Timbunan adalah 2747,360 m³


Volume untuk Galian adalah 1123,660 m³

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR
SKEMA JARINGAN IRIGASI TERSIER

90,918 90,718 90,518


a1 a2 b1
Anetto = 6,912 Ha Q= 30,672 lt/dt Anetto = 7,812 Ha Q= 34,666 lt/dt Anetto = 8,712 Ha Q = 38,660 lt/dt

91,218 90,993 90,773 90,718


91,414 91,436 91,318 91,698 91,408 91,308 91,063 b2
BT T1 T2 T3 K1
90,963 Anetto = 9,612 Ha Q= 42,653 lt/dt
91,314 91,118 90,818 90,618
90,818 90,518 90,418
a4 a3 b3
Anetto = 10,512 Ha Q= 46,647 lt/dt Anetto = 11,412 Ha Q= 50,641 lt/dt Anetto = 12,312 Ha Q = 54,635 lt/dt

90,818 91,218 90,718 Ket:


c1 c2 Tulisan Merah = [Link]
T4
Anetto = 6,811 Ha Q= 30,225 lt/dt 91,118 91,018 Anetto = 7,711 Ha Q= 34,218 lt/dt Tulisan Ungu = [Link]
91,125

90,618 91,053 90,518


c4 c3
T5
Anetto = 9,511 Ha Q= 42,206 lt/dt 90,918 90,918 Anetto = 8,611 Ha Q= 38,212 lt/dt
90,953

90,418 90,793 90,318


d3 d1
K2
Anetto = 10,411 Ha Q= 46,200 lt/dt 90,693 90,618 Anetto = 13,212 Ha Q= 58,628 lt/dt
90,618
90,318
d2
Anetto = 11,412 Ha Q = 50,641 lt/dt

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

PERHITUNGAN MUKA AIR & KAPASITAS RENCANA (KUARTER)


NFR = 3,6 lt/dt/ha
ept = 0,8
m = 1
[Link] = 35
Abrutto Anetto Qsk L EHS EUS [Link] [Link] ∆H1 b h w A P R Vr [Link] ∆H2
Sal. Kuart Im Ir F n I xL Q (l/det)
(Ha) (Ha) (l/det) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m2) (m) (m) (m/det) r (m) (m) 2
1 2 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

k1 - b1 9,68 8,712 38,660 500 90,368 90,468 90,518 90,618 0,000 0,00020 0,000510 0,35 1,712 0,275 0,269 1,275 0,172 1,127 0,152 0,225 0,255 90,773 0,000 38,655

k1 - b2 10,68 9,612 42,653 500 90,568 90,468 90,718 90,618 0,000 0,00020 0,000490 0,35 1,927 0,292 0,273 1,199 0,187 1,175 0,159 0,228 0,245 90,963 0,000 42,651

k1 - b3 13,68 12,312 54,635 500 90,268 90,468 90,418 90,618 0,000 0,00040 0,000400 0,35 2,732 0,348 0,287 1,006 0,243 1,334 0,182 0,225 0,200 90,618 0,000 54,631

k2 - d1 14,68 13,212 58,628 500 90,168 90,468 90,318 90,618 0,000 0,00060 0,000600 0,35 2,393 0,326 0,281 1,075 0,220 1,271 0,173 0,266 0,300 90,618 0,000 58,614

k2 - d2 12,68 11,412 50,641 500 90,168 90,468 90,318 90,618 0,000 0,00060 0,000600 0,35 2,067 0,302 0,276 1,157 0,197 1,205 0,164 0,257 0,300 90,618 0,000 50,628

k2 - d3 11,568 10,411 46,200 500 90,268 90,468 90,418 90,618 0,000 0,00040 0,000550 0,35 1,970 0,296 0,274 1,184 0,191 1,186 0,161 0,243 0,275 90,693 0,000 46,374

T2 - a1 7,68 6,912 30,672 500 90,768 90,968 90,918 91,118 0,000 0,00040 0,000600 0,35 1,252 0,244 0,261 1,432 0,145 1,041 0,140 0,231 0,300 91,218 0,000 33,513

T2 - a4 11,68 10,512 46,647 500 90,668 90,968 90,818 91,118 0,000 0,00060 0,000600 0,35 1,904 0,290 0,273 1,206 0,186 1,171 0,159 0,251 0,300 91,118 0,000 46,654

T3 - a2 8,68 7,812 34,666 500 90,568 90,668 90,718 90,818 0,000 0,00020 0,000550 0,35 1,478 0,265 0,266 1,320 0,163 1,100 0,148 0,230 0,275 90,993 0,000 37,533

T3 - a3 12,68 11,412 50,641 500 90,368 90,668 90,518 90,818 0,000 0,00060 0,000600 0,35 2,067 0,302 0,276 1,157 0,197 1,205 0,164 0,257 0,300 90,818 0,000 50,628

T4 - c1 7,568 6,811 30,225 500 90,668 90,868 90,818 91,018 0,000 0,00040 0,000600 0,35 1,234 0,231 0,258 1,512 0,135 1,005 0,134 0,224 0,300 91,118 0,000 30,209

T4 - c2 8,568 7,711 34,218 500 90,568 90,868 90,718 91,018 0,000 0,00060 0,000600 0,35 1,397 0,247 0,262 1,416 0,148 1,049 0,141 0,232 0,300 91,018 0,000 34,212

T5 - c3 9,568 8,611 38,212 500 90,368 90,768 90,518 90,918 0,000 0,00080 0,000800 0,35 1,351 0,243 0,261 1,441 0,144 1,037 0,139 0,265 0,400 90,918 0,000 38,204

T5 - c4 10,568 9,511 42,206 500 90,468 90,768 90,618 90,918 0,000 0,00060 0,000600 0,35 1,723 0,276 0,269 1,270 0,172 1,129 0,153 0,245 0,300 90,918 0,000 42,202

Total 149,960 134,964 598,903

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268


UNIVERSITAS TADULAKO
IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

PERHITUNGAN MUKA AIR & KAPASITAS RENCANA (TERSIER)


NFR = 3,55 lt/dt/ha
ept = 0,8
m = 1
[Link] = 60

Sal. Apk [Link] Apt Qst L [Link] [Link] ∆H1 b h w A P R V ∆H1 [Link] ∆H2
Sal. Tersier Im Ir F n 2 Ir x L Q2
Kuarter (Ha) (m) (Ha) (l/det) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m) (m ) (m) (m) (m/det) (m) (m) (m)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

b1 8,712 90,773
b2 9,612 90,963
b3 12,312 90,618
T3 - k1 30,636 135,947 800 91,063 90,818 0,000 0,00031 0,00031 0,45 7,768 0,413 0,403 1,091 0,356 1,617 0,220 0,383 0,245 0,000 91,308 0,000 136,190
a2 7,812 90,993
a3 11,412 90,818
T2 - T3 49,860 221,254 800 91,408 91,118 0,000 0,00036 0,00036 0,50 11,621 0,487 0,422 1,027 0,480 1,877 0,256 0,461 0,290 0,000 91,698 0,000 221,230
a1 6,912 91,218
a4 10,512 91,118
T1 - T2 67,284 298,573 800 91,318 91,200 0,000 0,00015 0,00015 0,65 24,584 0,649 0,462 1,002 0,843 2,485 0,339 0,354 0,118 0,000 91,436 0,000 298,563

d1 13,212 90,618
d2 11,412 90,618
d3 10,411 90,693
T5 - k2 35,035 155,469 800 90,793 90,918 0,000 0,00016 0,00020 0,50 10,993 0,473 0,418 1,056 0,461 1,839 0,251 0,337 0,160 0,000 90,953 0,000 155,447
c3 8,611 90,918
c4 9,511 90,918
T4 - T5 53,158 235,887 800 91,053 91,018 0,000 0,00004 0,00009 0,70 24,865 0,636 0,459 1,100 0,850 2,500 0,340 0,277 0,072 0,000 91,125 0,000 235,873
c1 6,811 91,118
c2 7,711 91,018
T1 - T4 67,680 300,330 800 91,218 91,200 0,000 0,00002 0,00012 0,70 27,416 0,668 0,467 1,047 0,915 2,591 0,353 0,328 0,096 0,000 91,314 0,000 300,322
INTAKE - T1 134,964 598,903 800 91,414 92,150 0,000 0,00092 0,00092 0,60 19,745 0,597 0,449 1,005 0,715 2,289 0,312 0,838 0,736 0,000 92,150 0,000 598,862

ALIFKA SURYA PRATAMA / f 111 19 268

Anda mungkin juga menyukai