PERATURAN DIREKTUR RSU BANDUNG MEDAN
NO: 102/PER-Rev01/RSUB/I/2022
TENTANG
MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN
RSU BANDUNG MEDAN
Menimbang :
a. Bahwa untuk mendukung terwujudnya Visi dan Misi RSU Bandung
Medan serta dalam rangka mengahadapi tuntutan akan pelayanan
kesehatan yang berkualitas serta mengutamakan keselamatan pasien,
antisipasi situasi kondisi yang sangat dinamis baik internal maupun
eksternal maka perlu adanya Peraturan perundang-udangan tentang
fasilitas dan keselamatan sebabgai pedoman dalam pelaksanaan
pelayanan di RSU Bandung Medan;
b. Bahwa manajemen rumah sakit harus mengurangi dan mengendalikan
bahaya dan risiko, mencegah kecelakaan dan cidera, dan memelihara
kondisi aman;
c. Bahwa untuk kepentingan tersebut diatas, maka perlu di terbitkan Surat
Keputusan Direktur RSU Bandung Medan.
Mengingat : 1. Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 H ayat (1);
2. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja ;
3. Undang-undang No. 1 Tahun 1980 tentang K3 pada Konstruksi
Bangunan;
4. Undang-undang No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana;
5. Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
6. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
7. Undang-undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
8. Undang-undang No. 32 Tahun 2010 tentang Larangan Merokok;
9. Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan
Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif;
11. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
12. Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan
Lingkungan;
13. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
[Link].04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan
Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan;
14. Peraturan Menteri Kesehatan No.416/Menkes/Per/IX/1990 tentang
Syarat syarat dan Pengawasan Kualitas Air;
15. Peraturan Menteri Kesehatan No. 472 Tahun 1996 tentang
Pengamanan Bahan Berbahaya bagi Kesehatan;
16. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan RI No.P.
12/MENLKH/SETJEN/PLB3/5/2020 tentang Penyimpanan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun;
17. Peraturan Menteri Kesehatan No. 1045/Menkes/Per/XI/2006 tentang
Pedoman Organisasi Rumah Sakit;
18. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 03 Tahun 2008 tentang Tata
Cara Pemberian Simbol dan Label Bahan Berbahaya dan Beracun;
19. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/M/2008 tentang
Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung
dan Lingkungan;
20. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14 Tahun 2013 Tentang
Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
21. Peraturan Menteri Kesehatan No. 54 Tahun 2014 Tentang Pengujian dan
Kalibrasi Alat Kesehatan
22. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 56 Tahun
2015 tentang Tata Cara Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
23. Peraturan Menteri Kesehatan No. 66 tahun 2016 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit;
24. Peraturan Menteri Kesehatan No. 24 tahun 2016 tentang Persyaratan
Teknis Bangunan dan Prasarana Rumah Sakit;
25. Peraturan Menteri Kesehatan No. 4 tahun 2016 tentang Penggunaan Gas
Medik dan Vakum Medik pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan;
26. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.
P.68/MenLHK/Sekjen/Kum. 1/8/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah
Domestik;
27. Peraturan Menteri Kesehatan No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakit;
28. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 26/PRT/M/2008 tentang
Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada
bangunan Gedung dan Lingkungan;
29. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.7 Tahun 2019 Tentang Kesehatan
lingkungan Rumah Sakit
30. Keputusan Menteri Kesehatan No. 129/Menkes/SK/ll/2008 Tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR TENTANG MANAJEMEN FASILITAS
DAN KESELAMATAN
Kesatu : Memberlakukan peraturan perundang-perundangan tentang fasilitas dan
keselamatan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pelayanan di RSU
Bandung sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini;
Kedua : Segala biaya yang timbul akibat diterbitkannya Surat Keputusan Ini
dibebankan pada anggaran rumah sakit;
Ketiga : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal di tetapkan dengan ketentuan
apabila di kemudian hari terdapat kesalahan akan di perbaharui
sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Medan
Tanggal : 07 Januari 2022
Direktur RSU Bandung Medan
dr. Sahala Bungaran Silaen
Tembusan :
1. Arsip
Lampiran 1
Kebijakan Manajemen Fasilitas
Keselamatan RSU Bandung Medan
Nomor :102/PER-Rev01/RSUB/I/2022
KEBIJAKAN MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN
A. KEPEMIMPINAN DAN PERENCANAAN
1. Pimpinan rumah sakit, dan staf yang bertanggung jawab terhadap manajemen fasilitas di
rumah sakit harus mempunyai dan memahami peraturan perundang-undangan dan
persyaratan lainnya yang berlaku untuk bangunan dan fasilitas rumah sakit, untuk
kemudian diterapkan di rumah sakit.
2. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan, harus ada izin - izin sebagai berikut :
a. Izin Mendirikan Bangunan
b. Izin Operasional Rumah Sakit yang masih berlaku
c. Sertifikat Laik Fungsi Bangunan
d. Izin Instalasi Pengelolaan Air Limbah
e. Izin genset
f. Izin Radiologi
g. Izin Tempat Pembuangan Sementara Bahan Berbahaya dan Beracun (TPS B3)
h. Izin Lift
i. Izin Lingkungan
3. Setiap fasilitas dan peralatan di rumah sakit dipastikan dalam kondisi baik dan secara rutin
dilakukan pemeriksaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Untuk menunjang pelayanan klinis yang diberikan, ditetapkan ruang, peralatan dan sumber
daya yang aman dan efektif sesuai kebutuhan pelayanan yang diberikan.
5. Seluruh staf harus mendapatkan pendidikan / pelatihan mengenai fasilitas yang ada di
rumah sakit, mengetahui bagaimana cara mengurangi risiko, bagaimana memonitor dan
melaporkan situasi yang menimbulkan risiko
6. Seluruh staf dapat melakukan perannya dalam melakukan identifikasi, mengurangi risiko,
melindungi orang lain dan dirinya sendiri, serta menciptakan fasilitas yang aman (safe and
secure) di lingkungan kerjanya.
7. Setiap petugas diwajibkan untuk menggunakan Alat pelindung Diri yang sesuai dengan
jenis pekerjaannya
8. Dalam rangka melaksanakan program Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK),
maka Direktur menunjuk Tim K3RS (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) untuk
melaksanakannya.
9. Program manajemen risiko fasilitas dan lingkungan di Rumah sakit menjadi tanggung
jawab K3RS
10. Personil Tim K3RS yang telah ditunjuk oleh Direktur tergabung dalam Tim Manajemen
Risiko Rumah Sakit, dan bertanggung jawab dalam mengawasi perencanaan dan
penerapan Program Manajemen Risiko Fasilitas dan Lingkungan.
11. Tim K3RS membuat panduan pelayanan, panduan, program kerja (termasuk program
manajemen risiko fasilitas dan lingkungan) dan SPO yang sesuai dengan peraturan
perundang undangan yang berlaku
12. Program Manajemen Risiko Fasilitas dan Lingkungan dibuat untuk mengelola risiko-risiko
di lingkungan pelayanan pasien dan tempat kerja staf, yang meliputi :
Keselamatan dan Keamanan
Bahan Berbahaya dan Beracun dan Limbahnya
Penanggulangan Bencana (Emergency)
Proteksi Kebakaran (Fire Safety)
Peralatan Medis
Sistem Penunjang / Utilitas
13. Tim K3RS merencanakan usulan anggaran untuk pengembangan dan perbaikan fasilitas
14. Tim K3RS juga menyediakan data insiden, cidera dan kejadian lainnya sehingga dapat
diupayakan perbaikan program dan pengurangan risiko lebih lanjut. Semua insiden, cedera
dan kejadian lainnya yang berhubungan dengan fasilitas dan lingkungan rumah sakit harus
dilaporkan
15. Petugas Manajemen Risiko Fasilitas dan Lingkungan diikutkan dalam pelatihan
manajemen risiko rumah sakit.
16. Petugas Manajemen Risiko Fasilitas dan Lingkungan bertugas melakukan pengawasan
yang meliputi :
a. Mengawasi semua aspek program manajemen risiko seperti pengembangan rencana
dan memberikan rekomendasi untuk ruangan, peralatan medis, teknologi dan sumber
daya
b. Mengawasi pelaksanaan program secara konsisten dan berkesinambungan,
c. Melakukan edukasi staf
d. Mengawasi pelaksanaan pengujian / testing dan pemantauan program
e. Secara berkala menilai ulang dan merevisi program manajemen risiko fasilitas dan
lingkungan
f. Menyerahkan laporan tahunan kepada Direktur
g. Mengorganisasi dan mengelola laporan kejadian / insiden , melakukan analisis dan
upaya perbaikan
17. Program Manajemen Risiko harus tertulis dan selalu diperbaharui sehingga mencerminkan
kondisi lingkungan rumah sakit yang terkini dan diterapkan sepenuhnya di rumah sakit.
18. Penyewa lahan rumah sakit / tenant yang tidak terkait dengan pelayanan rumah sakit dan
berada di dalam fasilitas pelayanan pasien dipastikan mematuhi program Manajemen
Fasilitas dan Keselamatan yang meliputi :
Keselamatan dan Keamanan
Bahan Berbahaya dan Beracun dan Limbahnya
Penanggulangan Bencana (Emergency)
Proteksi Kebakaran (Fire Safety)
B. KESELAMATAN DAN KEAMANAN
a. Tim K3RS menyusun panduan dan program Keselamatan dan Keamanan di rumah
sakit
b. Dilakukan asesmen risiko secara komprehensif dan pro aktif untuk mengidentifikasi
bangunan, ruangan / area, peralatan, perabotan dan fasiiitas lainnya yang berpotensi
menimbulkan cedera, melalui pemeriksaan fasiiitas secara berkala dan terdokumentasi
c. Rumah sakit menyediakan anggaran untuk mengadakan perbaikan, penggantian atau
“upgrading” sehingga fasiiitas fisik di rumah sakit selalu dalam kondisi baik dan
supportif bagi pelayanan pasien
d. Dilakukan asesmen risiko prakonstruksi (Pra Construction Risk Assessmen / PCRA)
setiap ada konstruksi, renovasi atau penghancuran bangunan / demolish, pada waktu
perencanaan atau sebelum pekerjaan konstruksi, renovasi dan pembongkaran
dilakukuan.
Asesmen risiko tersebut meliputi:
Kualitas udara
Pengendalian infeksi (ICRA = Infection control risk Assessment)
Utilitas
Kebisingan
Getaran
Bahan berbahaya
Layanan darurat, seperti respon terhadap kode
Bahaya lain yang mempengaruhi perawatan, pengobatan dan layanan
e. Setelah dilakukan assesmen risiko, berdasarkan hasil asesmen risiko pra konstruksi
(Pra Construction Risk Assessmen / PCRA) dilakukan tindakan untuk meminimalkan
risiko selama pembongkaran, konstruksi dan renovasi.
f. Rumah Sakit menyediakan anggaran untuk penerapan PCRA dan ICRA bila ada
renovasi, konstruksi, dan pembongkaran
g. Kepatuhan kontraktor dalam melaksanakan pekerjaannya dipantau, ditegakkan dan
didokumentasikan
h. Merencanakan dan melakukan pencegahan dengan menyediakan fasiiitas pendukung
yang aman dengan tujuan mencegah kecelakaan dan cedera, mengurangi bahaya dan
risiko, serta mempertahankan kondisi aman bagi pasien, keluarga, staf dan
pengunjung.
i. Untuk menciptakan lingkungan yang aman, semua orang yang berada di lingkungan
Rumah Sakit harus menggunakan identitas (kecuali pengunjung diluar jam kunjung
pasien (besuk),
Pasien dengan gelang identitas pasien
Petugas, pekerja kontrak, tenant/penyewa lahan wajib menggunakan kartu
identitas saat bertugas
Untuk penunggu pasien, setiap pasien mendapatkan 1 (satu) kartu penunggu
pasien. Hanya orang yang memakai kartu penunggu pasien yang boleh berada
diluar jam kunjungan pasien
Tamu Direksi dan pengunjung diluar jam kunjungan pasien (darurat) harus diberi
identitas (kartu visitor)
Pedagang dan Teknisi pihak ketiga yang akan masuk ke lingkungan rumah sakit
harus diberi identitas (kartu vendor)
j. Jam kunjungan pasien ditiadakan selama pandemic covid
k. Security bertanggung jawab dalam upaya perlindungan pasien, keluarga pasien,
pengunjung dan petugas dari kejahatan perorangan, kehilangan, kerusakan, atau
pengrusakan barang milik pribadi.
l. Security membantu mencarikan identitas pasien dan mendaftarkan pasien kecelakaan
lalu lintas yang tanpa pengantar
m. Security bertanggung jawab mengatasi dan menindak ianjuti jika terjadi gangguan
keamanan seperti orang yang mencurigakan, perkelahian, orang mengamuk di
lingkungan rumah sakit,
n. Security mengamankan semua area di lingkungan rumah sakit melalui kegiatan
sebagai berikut :
TURJAWALI (Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan dan Patroli)
Pengawasan / monitoring CCTV dilakukan selama 24 jam secara bergantian
Monitoring kepatuhan larangan merokok
o. Security melakukan monitoring / patroli berlapis dan sering mengunjungi area terbatas
seperti ruang bayi dan kamar operasi serta daerah yang berisiko keamanan lainnya
seperti ruang anak dan kelompok pasien rentan yang tidak dapat melindungi diri
sendiri atau memberi tanda bila terjadi bahaya.
p. Rumah sakit melengkapi fasilitas kamera CCTV (Closed Circuit Television) di area
yang berisiko keamanan, termasuk area terpencil yang jarang dijamah dan tempat
perawatan kelompok pasien rentan yang tidak dapat melindungi diri sendiri atau
memberi tanda bila terjadi bahaya.
q. Setiap petugas dapat berperan dalam pencegahan penculikan bayi di lingkungan rumah
sakit.
r. Pelayanan parkir di RSU Bandung Medan adalah tanggung jawab petugas parkir
s. Rumah Sakit menyediakan anggaran untuk memenuhi peraturan perundang -
undangan yang terkait fasilitas rumah sakit, serta untuk meningkatkan, memperbaiki
atau mengganti sistem, bangunan, atau komponen yang diperlukan agar fasilitas dapat
beroperasi secara aman dan efektif.
C. BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN
1. Panitia K3 menyusun panduan dan program pengelolaan bahan berbahaya beracun
(B3) dan limbah B3 yang ada di rumah sakit.
2. Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan limbahnya dikategorikan sesuai kategori
WHO dan peraturan perundang undangan meliputi :
Infeksius
Patologis dan anatomis
Farmasi
Bahan kimia
Logam berat
Kontainer bertekanan
Benda tajam
Genotoksik / Sitotoksik
Radioaktif
3. Data inventaris B3 dan limbahnya diatur sesuai kategori WHO dan peraturan perundang
undangan meliputi jenis, jumlah dan lokasi
4. Pengadaan / pembelian B3 dan pemasok sudah melampirkan MSDS,
5. Izin, lisensi atau ketentuan persyaratan lainnya didokumentasikan
6. Penanganan, penyimpanan dan penggunaan B3 serta limbahnya harus sesuai prosedur
7. Sistem penyimpanan dan pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun cair dan
padat dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang
berlaku, termasuk pemilahan, memasukkan limbah B3 ke wadah yang sesuai dengan
simbol / label B3
8. Petugas menggunakan APD saat penanganan, penggunaan B3 dan limbahnya, termasuk
penanganan tumpahan
9. B3 dan limbahnya diberi label/rambu rambu yang tepat pada B3 serta limbahnya sesuai
sesuai peraturan perundang-undangan
10. Rumah sakit menyediakan tempat penyimpanan tabung gas sentral untuk meminimalisai
risiko kebocoran gas bertekanan
11. Rumah sakit menyediakan spillkit untuk menangani tumpahan di setiap ruangan
12. Setiap petugas yang menggunakan dan mengelola B3, mendapatkan edukasipenanganan
jika terjadi tumpahan B3 dan limbahnya
13. Rumah sakit menyediakan eyewash atau emergency shower untuk menanganikontaminasi
B3 di ruangan yang menyimpan dan menggunakan B3 dan limbahnya
14. Setiap petugas yang menggunakan dan mengelola B3, mendapatkan edukasipenanganan
kontaminasi B3 dan limbahnya
15. Dilakukan pemeliharaan eyewash secara teratur agar selalu dalam kondisi baik dan siap
pakai
16. Setiap insiden kejadian tumpahan maupun kontaminasi B3 yang menimbulkan cedera
harus dilaporkan ke Tim K3RS
17. Dibuat laporan dan analisis tumpahan, paparan/pajanan (exposure) dan insiden lainnya
18. Tempat penyimpanan limbah B3 sementara sesuai persyaratan sebagai berikut:
Lantai kedap (impermeable), berlantai beton atau semen dengan system drainase
yang baik, serta mudah dibersihkan dan dilakukan desinfeksi
Tersedia sumber air atau kran air untuk pembersihan yang dilengkapi dengan sabun
cair
Mudah diakses untuk penyimpanan limbah
Dapat dikunci untuk menghindari akses oleh pihak yang tidak berkepentingan
D. PROTEKSI KEBAKARAN (FIRE SAFETY)
1. Rumah Sakit Melaksanakan program untuk memastikan bahwa seluruh penghuni di
Rumah Sakit aman dari kebakaran, asap dan kedaruratan lainnya.
2. Program proteksi kebakaran meliputi :
a. Pencegahan kebakaran melalui pengurangan risiko seperti penyimpanan dan
penanganan bahan-bahan mudah terbakar secara aman, termasuk gas-gas medis
yang mudah terbakar.
b. Penanganan bahaya terkait dengan konstruksi apapun atau yang berdekatan dengan
bangunan yang ditempati pasien
c. Penyediaan jalan keluar yang aman dan tidak terhalang apabila terjadi kebakaran
d. Penyediaan sistem peringatan dini, deteksi dini seperti, alarm kebakaran dan patroli
kebakaran (fire patrol)
3. Penyediaan mekanisme pemadaman api seperti selang air, bahan kimia pemadam api
. Dilakukan asesmen risiko kebakaran yang tertulis, termasuk bila ada proyek
pembangunan didalam atau berdekatan dengan fasilitas rumah sakit, meliputi :
a. Sistem pemisahan (pengisolasian) dan kompartemenisasi pengendalian api dan asap
b. Daerah berbahaya (dan ruang diatas langit-langit diseluruh area) seperti kamarlinen
kotor, tempat pengumpulan sampah dan ruang penyimpanan oksigen
c. Sarana jalan keluar / exit
d. Dapur yang berproduksi dan peralatan masak
e. Laundry dan linen
f. Sistem tenaga listrik darurat dan peralatan
g. Gas medis dan komponen sistem vakum
4. Hasil asesmen risiko kebakaran ditindaklanjuti
5. Rumah sakit mempunyai sistem deteksi dini alarm kebakaran, sistem kebakaran aktif
(APAR) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
6. Rumah sakit mempunyai jalur evakuasi yang aman dan bebas hambatan bila terjadi
kebakaran
a. Setiap petugas mendapatkan pelatihan APAR Bila terjadi kebakaran lakukan
pemadaman dengan menggunakan APAR, dan sarana proteksi kebakaran aktif
lainnya yang ada
b. Koordinator pemadam kebakaran mendapatkan sosialisasi tentang sistem fire
alarm dan pembagian zona pada sistem fire alarm
c. Sistem dan peralatan pemadam kebakaran diperiksa, diuji dan dipelihara sesuai
peraturan perundang-undangan dan didokumentasikan
d. Semua staf agar dapat berperan secara efektif dalam penanggulangan kebakaran dan
dapat mengevakuasi pasien ke tempat aman, minimal 1 tahun sekali
e. Evakuasi total ke titik kumpul hanya dilakukan dalam keadaan darurat
f. Sistem dan peralatan pemadam kebakaran diperiksa, diujicoba dan dipelihara
sesuai peraturan perundang-undangan dan didokumentasikan.
7. Larangan merokok
a. Rumah sakit membuat larangan merokok dengan menggunakan stiker-stiker di
setiap lantai dan membuat larangan merokok di peraturan Rumah Sakit.
b. Rumah Sakit menyusun dan mengimplementasikan kebijakan larangan merokok
terhadap pasien, keluarga, staf dan pengunjung tanpa terkecuali.
c. Rumah sakit secara teratur melakukan monitoring larangan merokok kepada setiap
pasien, keluarga, staf dan pengunjung yang kedapatan merokok di sekitar
lingkungan Rumah Sakit. Lingkungan Rumah Sakit adalah semua Ruang Unit Kerja
yang ada didalam batas pagar Rumah Sakit.
d. Staf/pegawai RSU Bandung Medan wajib menegur dan/atau memperingatkan
dan/atau mengambil tindakan, apabila terbukti pasien, pendamping pasien dan
pengunjung Rumah Sakit merokok didalam lingkungan RSU Bandung Medan.
e. Staf/pegawai RSU Bandung Medan wajib menegur dan/atau memperingatkan
dan/atau melaporkan kepada Direktur Rumah Sakit bagi staf/pegawai, apabila
terbukti merokok didalam lingkungan RSU Bandung Medan.
f. Direktur akan memberikan tindakan/sanksi kepada staf/pegawai yang terbukti
merokok didalam lingkungan RSU Bandung Medan.
g. Rumah Sakit melindungi kesehatan masyarakat, sudah seharusnya bebas dari asap
rokok karena asap rokok dapat menimbulkan penyakit yang fatal dan penyakit
yang dapat menurunkan kualitas hidup akibat penggunaan rokok.
h. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak
atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja
untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber bahaya.
E. PERALATAN MEDIS
1. Rumah Sakit merencanakan dan mengimplementasikan program untuk pengadaan alat
medis untuk menjamin ketersediaan dan berfungsi layak pakainya peralatan medis
tersebut.
2. Program pengelolaan peralatan medis meliputi :
a. Inventarisasi semua peralatan medis yang dimiliki oleh rumah sakit dan
peralatan medis kerja sama operasional (KSO) milik pihak ketiga.
b. Melakukan pemeriksaan peralatan medis secara teratur
c. Melakukan uji fungsi peralatan medis sesuai penggunaan dan ketentuan pabrik
d. Melaksanakan pemeliharaan preventif dan kalibrasi
3. Pemeriksaan,uji fungsi, pemeliharaan preventif dan kalibrasi peralatan medis
dilakukan oleh petugas yang berkompeten.
4. Penarikan kembali peralatan medis (re-call) dapat dilakukan atas permintaan produsen
atau instruksi pemerintah yang berwenang
5. Peralatan medis yang ditarik dari peredaran atau pabrikan dikumpulkan dari semua
unit penyimpanan ke Gudang Farmasi untuk selanjutnya dikembalikan ke pabrik yang
bersangkutan
6. Sediaan farmasi, peralatan medis, dan bahan medis habis pakai yang tidak laik pakai
karena kadaluwarsa, rusak, dan mutu tidak memenuhi standar, dilakukan pencatatan
kemudian dimusnahkan sesuai prosedur
7. Bila ada pemberitahuan peralatan medis yang berbahaya, aiat medis dalam penarikan
(under re-call), laporan insiden, serta masalah dan kegagalan pada peralatan medis
dibahas dalam rapat tim manajemen Risiko dengan unit terkait
8. Bila terjadi insiden keselamatan pasien (cedera serius, kematian atau penyakit yang
disebabkan oleh peralatan medis) dilaporkan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku
F. SISTEM UTILITAS
1. Rumah Sakit menetapkan dan melaksanakan program untuk memastikan semua sistem
utilitas(sistem pendukung) berfungsi efisien dan efektif yang meliputi pemeriksaan,
pemeliharaan dan perbaikan dari sistem utilitas.
2. Program Pengelolaan Sistem Utiiitas sekurang-kurangnya meliputi :
a. Mengupayakan ketersediaan air dan listrik 24 jam setiap hari dan dalam waktu
tujuh hari dalam seminggu secara terus menerus
b. Membuat daftar inventaris komponen-komponen sistem utiiitas (termasuk sistem
utiiitas yang penting), memetakan pendistribusiannya dan melakukan update
secara berkala
c. Pemeriksaan, pemeliharaan serta perbaikan semua komponen sistem utiiitas yang
ada di daftar inventaris
d. Jadwal pemeriksaan, testing dan pemeliharaan semua sistem utiiitas berdasar
atas kriteria seperti rekomendasi dari pabrik, tingkat risiko dan pengalaman
rumah sakit
e. Pelabelan pada tuas-tuas control sistem utiiitas untuk membantu pemadaman
darurat secara keseluruhan atau sebagian
3. Untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan tersebut, harus ada sumber regular altematif
untuk menggantikan sumber utama jika mengalami gangguan / terkontaminasi atau
kegagalan sistem.
4. Sistem utiiitas pokok / penting seperti air, listrik, sampah, ventilasi, gas medik, lift
agar dijaga, diperiksa berkala, dipelihara dan diperbaiki.
5. Untuk mempersiapkan diri dalam keadaan darurat, maka Tim K3RS melakukan upaya
sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi peralatan, sistem, serta area yang memiliki risiko paling tinggi
terhadap pasien dan staf.
b. Menyediakan air bersih dan listrik 24 jam setiap hari dan 7 hari seminggu
c. Menyediakan ketersediaan serta kehandalan sumber tenaga listrik dan air bersih
darurat / pengganti / back-up
d. Memastikan bahwa pengujian sumber alternatif air bersih dan listrik dilakukan
setidaknya setiap 6 bulan sekali atau lebih sering jika dipersyaratkan oleh peraturan
perundang-undangan di daerah, rekomendasi produsen atau kondisi sumber listrik
dan air.
6. Petugas manajemen risiko fasilitas dan lingkungan berupaya mengurangi risiko jika
terjadi kegagalan listrik dan air bersih terkontaminasi atau terjadi gangguan.
7. Perlu dilakukan monitoring mutu air dengan frekwensi sebagai berikut :
a. Air bersih, paling sedikit 1 tahun sekali. Untuk pemeriksaan kimia minimal 6 bulan
atau lebih sering. Hasil didokumentasikan.
b. Air limbah, setiap 3 bulan atau lebih sering.
8. Selain air dan listrik, sistem pendukung / utility lainnya seperti pengelolaan limbah,
ventilasi dan gas medik perlu diperhatikan agar pengoperasiannya aman, efektif dan
efisien bagi keselamatan pasien, keluarga, staf dan pengunjung serta untuk memenuhi
kebutuhan asuhan pasien.
9. Rumah Sakit mengumpulkan data hasil monitoring program manajemen sistem
utiliti/pendukung.
a. Data tersebut digunakan untuk merencanakan kebutuhan jangka panjang rumah
sakit untuk peningkatan atau penggantian sistem utiliti/pendukung.
b. Pemantauan sistem yang esensial/penting membantu rumah sakit mencegah
terjadinya masalah dan menyediakan informasi yang diperlukan untuk membuat
keputusan dalam perbaikan sistem dan dalam merencanakan peningkatan atau
penggantian sistem utiliti/pendukung. Data hasil monitoring didokumentasikan.
10 Area dan pelayanan yang berisiko paling tinggi bila terjadi kegagalan listrik atau air
bersih terkontaminasi atau terganggu :
a. Unit Gawat Darurat
b. Unit Radiologi
c. Unit Laboratorium
d. Unit Farmasi
e. Unit Kamar Operasi
f. Unit ICU
g. Unit Kamar Bersalin
h. Unit Gizi dan Dapur
i. Unit Linen dan Laundry
G. KESIAPAN MENGHADAPI BENCANA
1. Rumah sakit membuat rencana dan penanganan kedaruraatan dan program
menanggapi bila terjadi kedaruratan komunitas, wabah dan bencana alam atau bencana
lainnya.
Rencana tersebut berisikan proses untuk :
a. Menentukan jenis, kemungkinan terjadi dan konsekuensi bahaya, ancaman
dan kejadian.
b. Menentukan integritas struktural di lingkungan pelayanan pasien yang ada
dan bila terjadi bencana.
c. Menentukan peran rumah sakit dalam peristiwa/kejadian tersebut.
d. Menentukan strategi komunikasi pada waktu kejadian.
e. Mengelola sumber daya selama kejadian, termasuk sumber-sumber alternatif.
f. Mengelola kegiatan klinis selama kejadian, termasuk tempat pelayanan
alternatif pada waktu kejadian.
g. Mengidentifikasi dan penetapan peran dan tanggungjawab staf selama
kejadian.
h. Proses Mengelola keadaan darurat Ketika terjadi konflik antara tanggungjawab
pribadi staf dengan tanggungjawab dirumah sakit untuk tetap menyediakan
pelayanan pasien termasuk kesehatan mental dari staf
2. Rumah sakit melakukan uji coba/simulasi penanganan/menanggapi kedaruratan,
wadah dan bencana.
a. Uji coba tahunan seluruh rencana penanggulangan bencana baik secara internal
maupun sebagai bagian dan dilakukan bersama dengan masyarakat atau.
b. Uji coba sepanjang tahun terhadap elemen kritis dari poin 1 butir d s/d h dari
rencana tersebut.
3. Rumah sakit mengalami bencana secara nyata, mengaktivasi rencana yang ada, dan
setelah itu diberi pengarahan yang tepat, dan situasi ini digambarkan setara dengan
ujicoba tahunan.
7. MONITORING PROGRAM MANAJEMEN FASILITAS DAN KEAMANAN
a. Untuk memonitor program manajemen risiko fasilitas dan lingkungan, Data dari setiap
Insiden/ kejadian/ kecelakaan dikumpulkan dan dianalisis
b. Data yang dikumpulkan dan telah dianalisis dilaporkan ke Direktur untuk ditindak
lanjuti setiap 6 bulan sekali oleh petugas manajemen risiko fasilitas dan lingkungan
c. Data dan analisisnya selanjutnya digunakan sebagai informasi yang dapat membantu
mencegah masalah, menurunkan risiko, membuat keputusan sistem perbaikan serta
membuat rencana untuk meningkatkan fungsi (upgrade) tehnologi medik, peralatan
dan sistem utilitas
d. Petugas manajemen risiko fasilitas dan lingkungan bertugas mengawasi pelaksanaan
program manajemen risiko fasilitas dan lingkungan
8. PENDIDIKAN STAF
a. Ada program pelatihan manajemen fasilitas dan keselamatan untuk semua petugas
b. Untuk menjamin semua staf dapat melaksanakan tanggung jawabnya dengan efektif,
setiap tahun diadakan edukasi mengenai setiap komponen dari program manajemen
fasilitas dan keselamatan
c. Edukasi diikuti oleh pengunjung, suplier, pekerja kontrak, dan Iain-lain.
d. Pengetahuan petugas dites dan disimulasikan sesuai peran meraka dalam program
manajemen fasilitas. Hasil tes didokumentasikan.
e. Tes dan simulasi petugas meliputi :
Peran mereka dalam menghadapi kebakaran
Tindakan yang diambil untuk menghilangkan, mengurangi / meminimalisir
keselamatan, keamanan dan risiko lainnya
Tindakan yang dalam penyimpanan, penanganan dan pembuangan gas medis
serta limbah B3
Peran mereka dalam penanganan kedaruratan serta bencana internal atau
eksternal (community)
f. Staf diberi pelatihan untuk menjalankan dan memelihara peralatan medis, sesuai
dengan uraian tugas dan dilakukan tes secara berkala.
g. Petugas diberi pelatihan untuk menjalankan dan memelihara sistem utilitas, sesuai
dengan uraian tugas dan dilakukan tes secara berkala
h. Kegiatan pelatihan dan hasil pelatihan setiap petugas didokumentasikan
Ditetapkan di : Medan
Tanggal : 07 Januari 2022
Direktur RSU Bandung Medan
dr. Sahala Bungaran Silaen