0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan4 halaman

Perisalah Legislatif: Tantangan dan Peluang

LAN Commentaries adalah platform untuk analisis kebijakan dan isu-isu strategis oleh akademisi dan ASN. Artikel ini membahas tentang fungsional Perisalah Legislatif yang baru, termasuk tantangan awal dan pengembangan kompetensi, khususnya keterampilan menulis untuk meningkatkan angka kredit. Perisalah Legislatif perlu terus belajar dan mencari peluang baru seperti snorkeling tak bertepi untuk meningkatkan kinerja.

Diunggah oleh

Istri Novitaningrum
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan4 halaman

Perisalah Legislatif: Tantangan dan Peluang

LAN Commentaries adalah platform untuk analisis kebijakan dan isu-isu strategis oleh akademisi dan ASN. Artikel ini membahas tentang fungsional Perisalah Legislatif yang baru, termasuk tantangan awal dan pengembangan kompetensi, khususnya keterampilan menulis untuk meningkatkan angka kredit. Perisalah Legislatif perlu terus belajar dan mencari peluang baru seperti snorkeling tak bertepi untuk meningkatkan kinerja.

Diunggah oleh

Istri Novitaningrum
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAN Commentaries adalah Platform di mana para analis kebijakan, widyaiswara, peneliti,

akademisi, fungsional tertentu, dan ASN lainnya dapat mempresentasikan analisis mereka
tentang berbagai isu strategis yang menarik, mulai dari ekonomi, politik/pemerintahan dalam
negeri, administrasi negara, manajemen ASN hingga urusan regional. analisis yang disajikan
dalam LAN Commentaries mewakili pandangan penulis dan bukan lembaga yang berafiliasi
dengan mereka, ataupun Puslatbang PKASN LAN RI.

LAN Commentaries LPC-007-ID


28 Maret 2022

Perisalah Legislatif, Profesi Tak Bertepi

Lily Vianti
Perisalah Legislatif Ahli Muda, Sekretariat DPRD Provinsi Riau
lilyvianty1974@[Link]

Mengenal Fungsional Perisalah Legislatif


Mengenal fungsional Perisalah Legislatif, sama dengan “berenang” di permukaan laut dan
melihat apa yang ada di bawah permukaannya (snorkeling). Awalnya, snorkeling adalah paket
pemula bagi orang yang ingin menikmati pemandangan bawah laut dangkal yang
menakjubkan, tak perlu memiliki ilmu, teknik dan peralatan yang canggih, cukup hanya perlu
menguasai teknik berenang saja. Tak perlu ada pelatihan khusus karena snorkeler hanya
melihat keindahan di kedalaman 1-5 meter saja.
Begitu pun Perisalah Legislatif, tak perlu ilmu, teknik dan peralatan lengkap, cukup dengan
komitmen untuk mendengar informasi yang valid, memahami dan punya keberanian untuk
memulai dan tidak takut salah. Hanya saja, sebagai lahan baru dalam kancah keterbukaan
informasi saat ini, tentu jabatan ini menjadi suatu hal yang membuat gentar Aparatur Sipil
Negara (ASN). Apalagi Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tanggal 6 Desember 2019, tentang
Penyetaraan Jabatan Administrasi ke dalam Jabatan Fungsional di masing-masing kantor
instansi pemerintah, datang dalam setahun belakangan ini dengan tiba-tiba dan informasi awal
yang sangat minim. Sehingga wajar saja membuat kalangan pejabat eselon IV menjadi gentar,
takut dan cemas.

Walaupun tujuan dari penyetaraan ini adalah memberikan peluang pengembangan karir
berbasis fungsional, namun tak pelak hal ini membuat gundah pejabat yang terkena
penyetaraan, karena mereka beranggapan kurangnya sosialisasi yang dilakukan dari
pemberlakuan aturan ini. Hal ini disebabkan karena perubahan pekerjaan yang awalnya
berdasarkan struktural menjadi pekerjaan yang berdasarkan fungsi. Sebelumnya sasaran
kinerja pegawai adalah rencana dan target yang akan dicapai, berubah menjadi hasil kerja yang
dicapai oleh ASN yang disesuaikan dengan perilaku kerja.

Menyikapi hal ini, tentu banyak yang merasa gamang dan galau tapi banyak juga yang
menanggapinya biasa-biasa saja. Pegawai menjadi galau karena mereka belum begitu paham
arah dan bentuk pekerjaan mereka ke depannya. Biasanya hanya berkutat di seputaran
administrasi, namun sekarang tentu sudah berorientasi pada pekerjaan yang nantinya bisa
dinilai dengan angka kredit. Salah dalam menetapkan sasaran kerja, maka bisa berakibat angka
kredit untuk penilaian di akhir tahun tidak terpenuhi dan tentu saja ini juga berpengaruh pada
kenaikan pangkat.

Sementara yang lain juga sudah mulai mencari informasi apa saja dan bagaimana tugas seorang
pejabat fungsional. Jabatan fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas
yang berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan
tertentu. Jabatan fungsional mempunyai 27 rumpun yang terdiri dari 222 jenis jabatan
fungsional. Dari 27 rumpun tersebut terdapat rumpun manajemen, yang salah satunya adalah
Perisalah Legislatif, yang sekarang sedang penulis ampu. Tidak mudah menjadi seorang
Perisalah Legislatif karena jabatan ini tergolong baru dan petunjuk teknis (juknis) nya belum
ada, apalagi bagi pejabat yang berada di daerah. Ibarat bayi yang baru lahir, kami harus segera
merangkak dan berlari mengejar semua ketertinggalan supaya bisa berjalan beriringan dan
bergandeng tangan dengan instansi pusat.

Kendala Dalam Menjalankan Tugas


Semua kendala dan rintangan bermunculan di awal tugas kami, mulai dari kurangnya fasilitas
alat kerja, perbedaan pola pikir dan belum siapnya instansi pengguna dalam menyikapi jabatan
yang baru ini serta kurangnya informasi menyebabkan kurang maksimal pekerjaan
dilaksanakan, namun seiring waktu satu persatu dicoba untuk mengurai dan menyelesaikan
setiap persoalan, dan saat ini sudah menampakkan hasil yang cukup memuaskan.
Bisa dibilang snorkeling perdana sukses, kita menemukan destinasi bawah laut dengan
pemandangan indah, pengalaman yang sangat sulit untuk diceritakan, bahkan tidak jarang sulit
untuk menghentikan, karena rasa gembira dan menikmati. Namun demikian, tanpa kita sadari
snorkeling perdana itu bukanlah akhir dari sebuah kancah yang besar dan menakjubkan, masih
banyak lagi destinasi lain yang menjanjikan pemandangan yang indah. Snorkeling yang indah
itu ternyata tanpa tepi, masih banyak lagi destinasi lain yang terbentang, sehingga wajar orang-
orang mengatakan bahwa snorkeling tak pernah berhenti bak laut tak bertepi.

Begitu juga dengan keindahan yang disajikan oleh alam Perisalah Legislatif, setelah ditelusuri
secara mendalam, sesuai dengan konsep yang disajikan, ternyata kerja Perisalah Legislatif
dalam mengumpulkan nilai yang tinggi (angka kredit) tidak hanya sebatas membuat risalah
rapat, catatan rapat dan laporan singkat, tapi jauh dari itu. Memulainya pun tidak sulit ketika
pertama kami menjalankan tugas sebagai perisalah, sama seperti snorkeling. Selanjutnya,
hanya perlu keinginan untuk bergeser kepada destinasi lain, hanya itu.

Sebagai Perisalah Legislatif, yang diperlukan hanya berani berubah, dan itu juga akan menjadi
slogan dan semangat untuk mencoba menjalankan tugas, yang mulanya berat, lama kelamaan
menjadi ringan dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan dan rutinitas. Berani berubah, tidak
hanya puas dengan satu kondisi saja, harus menjadi pegangan, sebab jika dilihat dari pola kerja,
jika semangat berani berubah tidak terus terjaga, maka akhirnya Perisalah Legislatif akan
terjebak dalam rutinitas yang membuat dia tenggelam dalam kerja teknis yang menjenuhkan.
Dengan semangat berani berubah itu pula, agaknya menjadi energi tambahan untuk terus
berada pada perubahan yang produktif, makanya Perisalah Legislatif harus jeli dalam mencari
peluang yang membuat dia semakin unggul dalam berpikir, kerja dan menjadikan angka kredit
menjadi standar utama dalam evaluasi jati diri sebagai Perisalah Legislatif, yaitu kenaikan
pangkat.

Dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 26
Tahun 2017, pada poin (f) pengembangan profesi, tergambar ada nilai angka kredit yang tinggi
yang bisa diraih oleh seorang Perisalah Legislatif selain mengerjakan laporan rapat, yaitu
membuat karya tulis. Apakah itu menulis artikel populer di media cetak dan online, membuat
makalah maupun menulis jurnal dan menulis buku. Karena tuntutan berani berubah dan untuk
mencapai nilai yang tinggi dalam angka kredit itu, maka mau tidak mau peningkatan kapasitas
sebagai Perisalah Legislatif harus dilakukan, meskipun harus menempuh jalan yang terjal dan
berliku-liku. Hanya saja, bukan pula Perisalah Legislatif itu ending dari ceritanya adalah
menjadi penulis. Sekali lagi ini perlu ditegaskan, tidak seperti itu, namun ilmu menulis menjadi
salah satu bagian keahlian dari seorang Perisalah Legislatif, sementara menulis bukanlah hal
yang bisa didapat dengan begitu saja.

Pengembangan Kompetensi Bagi Perisalah Legislatif


Agar mendapat destinasi yang baru dan banyak dalam snorkeling, diperlukan memperbanyak
waktu snorkeling dengan mencari tempat-tempat baru yang jauh lebih menarik. Begitu pun
Perisalah Legislatif, perlu memperbanyak pelatihan-pelatihan menulis, baik itu mengikuti
webinar, diklat dan lain sebagainya yang sudah memiliki nilai angka kredit tersendiri, sehingga
proses dan hasil pelatihan menulis tersebut menjadi hal yang luar biasa.
Seperti yang disebutkan Endik Koeswoyo1 bahwa untuk bisa menulis ada beberapa hal yang
perlu dilakukan, antara lain: Pertama, rajin menulis. Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa
yang sudah dilakukan oleh Perisalah Legislatif dalam membuat laporan, sehingga proses ini
bisa dilakukan dan sangat selaras dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Kedua, jangan takut
untuk memulai. Kita dianjurkan untuk menulis apa yang kita pikirkan, tuangkan semuanya.
Baca ulang kembali tulisan tersebut atau berikan ke orang terdekat untuk dia baca. Dari hal
tersebut kita akan mengetahui dimana letak kekurangan dari tulisan itu. Jangan takut untuk
dikritik untuk hal yang lebih baik. Ketiga, jangan berhenti belajar terutama memperbanyak
membaca buku, karena dengan itu kita akan mendapatkan tambahan ide dan wawasan.
Keempat, tidak mudah berputus asa. Jika tulisan kita tidak diterima oleh penerbit jangan

1
seorang penulis novel di [Link]
berputus asa, sebab hal itu menjadi ajang buat kita untuk terus memperbaiki tulisan, dan
ingatlah bahwa penerbit dan media itu banyak.

Jika dilihat secara keseluruhan, jabatan Perisalah Legislatif ini ibarat laut tak bertepi,
mengerjakan rutinitas, melalukan proses agar dapat menulis dan menghasilkan tulisan,
semuanya dinilai dalam angka kredit. Jadi mengapa “menulis” mempunyai angka kredit yang
tinggi, itu disebabkan ilmu menjadi penulis sudah mencakup semua kegiatan Perisalah
Legislatif, dan tidak bisa dipungkiri bahwa semua aktivitas dasar Perisalah Legislatif secara
teknis berhubungan dengan tulisan dan laporan.

Hanya saja, kembali dingatkan bahwa menjadi penulis bukan akhir hidup dari Perisalah
Legislatif, tapi hal itu adalah proses untuk membentuk wawasan, kreativitas dan sikap yang
membuat seorang Perisalah Legislatif menjadi lebih produktif dalam bekerja dan menjadi
manusia unggul. Ketika Perisalah Legislatif mulai menambah kemampuannya dalam menulis,
bukan berarti kegiatan utamanya akan terbengkalai. Semua kegiatan utamanya seorang
Perisalah Legislatif harus tetap dilakukan, namun upaya untuk mencapai target untuk mampu
menjadi penulis tetap terus dilakukan. Sebab, bukankah untuk mencapai suatu yang besar,
berasal dari yang kecil terlebih dahulu.

Sebuah kepuasan fisik dan batin ketika seorang snorkeler berhasil mendapatkan apa yang
diinginkannya, jika dia terus mencari destinasi baru, seperti Perisalah Legislatif yang sudah
menemukan destinasi kerja yang membuat risau, cemas dan galau diawal akhirnya menjadi
suatu yang sangat menyenangkan, bak laut tak bertepi.

Puslatbang PKASN LAN, Jl. Kiara Payung km. 4,7 Bumi


Perkemahan Jatinangor Sumedang, Jawa Barat
Tel: (62-22) 7790048, 7782041 Fax. (62-22) 7790055,
7790044 |[Link]

LAN Commentaries Editors


Sulistianingsih| Guruh Muamar Khadafi

Anda mungkin juga menyukai