PEDOMAN
SURVEILANS CAMPAK RUBELA / CRS
DI UPT PUSKESMAS RANUGEDANG
PUSKESMAS RANUGEDANG
JL. RAYA PESAWAHAN
TAHUN 2023
DAFTAR ISI
Daftar Isi.................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1
A. Latar Belakang................................................................................ 1
B. Tujuan.............................................................................................. 1
C. Ruang Lingkup Pelayanan.............................................................. 2
D. Batasan Operasional....................................................................... 2
E. Landasan Hukum............................................................................ 4
BAB II STANDAR KETENAGAAN ................................................................... 5
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia.................................................. 5
B. Distribusi Ketenagaan..................................................................... 5
C. Jadwal Kegiatan, Termasuk Pengaturan Jaga............................... 6
BAB III STANDAR FASILITAS........................................................................... 8
A. Denah Ruang.................................................................................. 8
B. Standar Fasilitas.............................................................................. 8
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN ............................................................ 11
BAB V LOGISTIK ............................................................................................. 16
BAB VI KESELAMATAN PASIEN ..................................................................... 18
BAB VII KESELAMATAN KERJA........................................................................ 21
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU......................................................................... 23
BAB IX PENUTUP.............................................................................................. 24
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
pedomanl Serveilans Campak di wilayah UPT Puskesmas Ranugedang.
Pedoman internal ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan pedoman ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan pedoman Serveilans Campak Rubela/ CRS.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima segala saran dan kritik agar kami dapat memperbaiki pedoman
Serveilans Campa Rubela/ CRS k.
Akhir kata kami berharap semoga pedoman Serveilans Campak UPT Puskesmas
Ranugedang ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi.
B. Tujuan Pedoman
Tujuan Umum :
Tersedianya pedoman sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelayanan yang
profesional dan bermutu di sarana kesehatan dan memantau kemajuan program
eliminasi campak-rubela/ CRS.
Tujuan khusus :
1. Menyediakan data dan informasi epidemiologi campak-rubela untuk mendukung
upaya eliminasi campak dan rubela (meliputi waktu, tempat kejadian, umur, dan status
imunisasi);
2. Menyediakan data tren kasus campak-rubela, genotyping, dan mengidentifikasi
daerah-daerah kantong;
3. Mendeteksi dini kejadian KLB campak dan rubela dan terlaksananya respon KLB
secara cepat;
4. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium terhadap semua kasus suspek campak
rubela baik yang rutin maupun KLB (semua kasus sudah terklasifikasi);
5. Melaksanakan analisis data campak-rubela dan faktor risiko di setiap tingkat
administrasi kesehatan;
6. Melakukan diseminasi hasil analisis/informasi kepada unit terkait;
7. Mewujudkan pengambilan keputusan dengan menggunakan data surveilans.
C. Ruang Lingkup
penyakit campak dikenal juga sebagai morbili atau measles, merupakan
penyakit yang sangat menular yang disebarkan oleh virus. 90% anak yang tidak kebal
akan terserang penyakit cmapak. Manusia diperkirakan satu-satunya resrvoir, walaupun
monyet dapat terinfeksi tetapi tidak tetapi tidak berperan dalam penyebaran.
Sejak vaksinasi campak diberikan secara luas, terjadi perubahan epidemiologi
campak di negara berkembang. Walau cakupan imunisasi cukup tinggi, KLB campak
mungkin saja masih akan terjadi yang disebabkan akumulasi anak-anak rentan karena
tidak imunisasi ditambah 15% anak yang walaupun di imunisasi tetapi tidak terbentuk
imunitas.
Penyebab tidak terbentuknya imunitas karena vaksin campak dari virus RNA
dari genus Morbilivirus, dari keluarga Paramyxoviridae yang mudah mati karena panas
dan cahaya.
Cara dan masa penularan campak yaitu dari orang ke orang melalui percikan
ludah dan transmisi melalui udara terutama batuk, bersin dan sekresi hidung lainya.
Sedangkan masa penularan pada saat gejala awal yaitu 1-3 hari pertama sak
D. Landasan Hukum
a. Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit
Menular
b. Undang- Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan
c. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular
d. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/ Per/X/2010
tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan
Wabah dan Upaya Penanggulangan
e. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 45 Tahun 2014 tentang
Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan
f. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2014 tentang Penyakit
Tidak Menular
g. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tentang
Penyelenggaraan Imu
BAB II
STANDAR KETENAGAAN
1. Kualifikasi SDM
Pola ketenagaan dan kualifikasi SDM PROGRAM CAMAPK RUBELA/ CRS adalah :
Nomor Nama Jabatan Kualifikasi Keterangan
Formal
1 Penanggung Jawab UKM -
2 Pelaksana Program [Link]
3 Konselor - -
4 Laboratorium Analis -
2. Distribusi Ketenagaan
Dstribusi ketenagaan survailands campak rubela/ crs di wilayah UPT Puskesams
Ranugedang
Dokter
Survailands
Korim
Bidan desa
Kader
linsek
E. Jadwal Kegiatan, Termasuk Pengaturan Jaga
Jadwal kegiatan campak rubella/ CRS di UPT Puskesmas Raanugedang dilaksanan
24 jam sesuai pemantauan kasus.
BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Denah Ruangan
Ruangan khusus untuk program survailands campak rubela/ CRS di wilayah UPT
Puskesmas Ranugedang belum tersedia.
B. Standart Fasitas
1. Prasaran dan Sarana
a. isi ruangan
1) Meja kerja : 1 buah
2) Kursi : 2 buah
3) Tensimeter : 1 buah
4) Stetoskop : 1 buah
5) Tempat sampah tertutup injak : 2 buah
6) Timbangan : 1 buah
7) Troli : 1 buah
8) Bed priksa : 1 buah
9) Bed Obsgyn : 1 buah
10)Safety
2. Peralatan
a. Peralatan pemeriksaan pelayanan berupa timbangan, kapas alkohol, spuit,
stetoskop, tensimeterdan obat.
b. Alat peraga dan media penyuluhan
Untuk kegiatan penyuluhan dan konseling di perlukan alat peraga maupun
media penyuluhan antara lain: media cetak (poster, leaflet, lembar
balik,manikin, buku dan majalah), media elektronik dan lain-lain.
c. Pencatatan dan pelaporan
Untuk pencatatan dan pelaporan di catat kedalam lembar PE
d. Buku pedoman
Untuk penyelenggaraan pelayanan KB diperlukan pedoman Standar
Asuhan Kebidanan, pedoman tindakan keperawatan, standar prosedur
operasional KB untuk puskesmas dan buku-buku pedoman manajemen
puskesmas.
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
SURVAILANS CAMPAK RUBELA/ CRS UPT PUSKESMAS RANUGEDANG
Tatalaksana Kasus Suspek Campak
Salah satu tatalaksana kasus suspek campak adalah memberikan
vitamin A dosis tinggi sesuai usia, dengan ketentuan sebagai
berikut :
Umur VITAMIN A Dosis VITAMIN A Dosis
Segera hari ke-2
Penderita 0 - 6 bl * 50.000 iu 50 100.000 iu
6 - 11 bl 100.000 iu 100.000 iu
≥ 12 bl 200.000 iu 200.000 iu
Bila ada komplikasi pada mata atau penderita dengan gizi buruk, maka berikan
vitamin A dosis ketiga, 2 minggu kemudian, sesuai dosis [Link] penderita
campak-rubela yang berumur < 6 bulan yang mendapatkan ASI dari ibu yang pada
masa nifas mendapatkan vitamin A, tidak perlu diberikan vitamin A, karena kebutuhan
vitamin A sudah terpenuhi melalui ASI. Jika ibu pada masa nifas tidak mendapat vitamin
A, maka penderita berumur < 6 bulan tetap diberikan vitamin A sesuai dosis tersebut.
a. Penemuan Kasus LINGKUP UPT PUSKESMAS
• Melakukan penemuan suspek campak dengan gejala demam dan ruam
maculopapular,
selanjutnya wajib dilakukan penyelidikan epidemiologi dalam waktu 2x24 jam setelah
suspek ditemukan.
• Hasil investigasi diisi ke dalam Form investigasi kasus suspek campak-rubela (Form
MR-01) yang dibuat untuk masing-masing suspek (form individual).
• Melibatkan peran aktif kader atau petugas desa siaga, dalam pencarian kasus
suspek campak di masyakarat, dan segera melaporkan ke petugas puskesmas.
• Pada saat melakukan penyelidikan epidemiologi, petugas puskesmas juga mencari
kasus tambahan lainnya dengan menanyakan apakah ada kasus yang sama di
keluarga atau tempat lain. Jika jumlah kasus memenuhi kriteria KLB, maka dilakukan
penanggulangan KLB campakrubela.
• Melakukan verifikasi jika ada rumor/issue di masyarakat, media massa dan atau
media sosial
dalam waktu <24 jam sejak sinyal diterima.
b. Pengambilan Spesimen (untuk lebih jelasnya lihat Bab VIII mengenai Jejaring Kerja
Laboratorium).
• Setiap suspek campak yang ditemukan di puskesmas diambil spesimen serum
(maksimum
pada hari ke-28 dari tanggal ruam)
• Melakukan pengambilan spesimen urin terhadap kasus suspek campak dengan
gejala
tambahan batuk, pilek atau conjuctivitis minimal 1 kasus per kab/kota/tahun
(berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota).
• Pada KLB suspek campak, spesimen urin diambil sebanyak maksimal 5 kasus
suspek campak dengan gejala tambahan batuk, pilek atau conjuctivitis
• Spesimen urine diambil maksimum pada hari ke-5 dari tanggal ruam.
c. Penyimpanan dan Pengiriman Spesimen
• Petugas puskesmas mengambil spesimen serum dan memasukkan kedalam tabung
yang telah diberi label: nama, umur dan tanggal ambil. Spesimen serum diambil
maksimum pada hari ke-28 dari tanggal ruam.
• Simpan spesimen serum ke dalam refrigerator dengan suhu 2-8 ˚C, dan dikirim ke
kabupaten/ kota/provinsi setiap Senin dan Kamis disertai form MR-01.
• Spesimen urin dikirim ke laboratorium dengan suhu 2-8 ˚C dalam waktu 1x24 jam
setelah pengambilan.
• Pengiriman dan pengepakan spesimen harus adekuat (volume minimal 1 cc dan
suhu 2-8 ˚Csampai ke laboratorium)
d. Pencatatan Pelaporan
• Setiap kasus suspek campak baik rutin maupun KLB dicatat dalam Form investigasi
kasus
suspek campak dan rubela (Form MR-01) kemudian setiap hari Senin dilaporkan ke
Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota (Dinkes Kab/Kota) dengan melampirkan Form MR-01
melalui
mekanisme pelaporan yang ditentukan (WA, email, dsb) dan dilaporkan melalui
mekanisme SKDR.
• Pastikan setiap kolom pada Form MR-01 (kecuali nomor EPID, karena nomor EPID
diberikan oleh Dinkes Kab/Kota) diisi dengan benar.
e. Analisis Data dan Diseminasi Informasi
• Setiap seminggu sekali dilakukan analisis data untuk mengetahui adanya
peningkatan kasus
berdasarkan wilayah kejadian. Analisis data erdasarkan orang, tempat, dan waktu.
• Hasil analisis data disampaikan pada saat kegiatan minilokarya lintas program dan
lintas sektor.
BAB V
LOGISTIK
1. Kebutuhan dana dan logistik untuk pelaksanaan kegiatan program Surveilans AFP di
wilayahan upt Puskesmas Ranugedang dibuat dalam Rencana Usulan Kegiatan
(RUK), kemudian dihasilkan kesepakatan dalam Rencana Pelaksanaan Kegiatan
(RPK).
2. Buku pedoman Survailans Campak Rubela/CRS diperlukan pedoman Standart
prosedur operasional Survailans Campak Rubela/CRS untuk puskesmas dan buku-
buku pedoman manajemen puskesmas.
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
A. PENGERTIAN
Keselamatan Pasien ( Patient Safety )
Adalah suatu sistem dimana puskesmas membuat asuhan pasien lebih aman.
Sistem tersebut meliputi :
Asesmen resiko
Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien
Pelaporan dan analisis insiden
Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh :
Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
B. TUJUAN
Terciptanya budaya keselamatan pasien di puskesmas
Meningkatnya akuntabilitas puskesmas terhadap pasien dan masyarakat
Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD ) di puskesmas
Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
Kejadian Tidak Diharapkan ( KTD )
STANDAR KESELAMATAN PASIEN
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan
program peningkatan keselamatan pasien
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien
KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN ( KTD )
ADVERSE EVENT :
Adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan, yang mengakibatkan cedera pasien
akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi pasien.
Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis atau bukan kesalahan medis
karena tidak dapat dicegah
KTD yang tidak dapat dicegah
Unpreventable Adverse Event :
Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan
pengetahuan mutakhir
KEJADIAN NYARIS CEDERA ( KNC )
Near Miss :
Adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan ( commission ) atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission ), yang dapat
mencederai pasien, tetapi cedera serius tidak terjadi :
Karena “ keberuntungan”
Karena “ pencegahan ”
Karena “ peringanan ”
KESALAHAN MEDIS
Medical Errors:
Adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang mengakibatkan
atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien
KEJADIAN SENTINEL
Sentinel Event :
Adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius; biasanya
dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat diterima,
seperti : operasi pada bagian tubuh yang salah.
Pemilihan kata “sentinel” terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi ( seperti,
amputasi pada kaki yang salah ) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini
mengungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang
berlaku.
C. TATA LAKSANA
a. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada
pasien
b. Melaporkan pada dokter jaga UGD
c. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
d. Mengobservasi keadaan umum pasien
e. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir “ Pelaporan Insiden
Keselamatan”
Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan pelayanan Campak
Rubela/CRS perlu diperhatikan keselamatan sasaran dengan melakukan identifikasi
resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan
kegiatan. Upaya pencegahan resiko terhadap sasaran harus dilakukan untuk tiap-tiap
kegiatan yang akan dilaksanakan. upaya tersebut yaitu penjangkauan pasien yang telah
mendapatkan pengobatan sehingga kesehatannya terpantau (tidak menularkan
penyakit ke anggota keluarga yang lain). Pemeriksaan kesehatan tersebut berupa
pemeriksaan fisik yaitu suhu tubuh, nadi, respirasi (pernafasan).
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan pelayanan program
campak rubella/CRS perlu diperhatikan keselamatan kerja karyawan puskesmas dan
lintas sektor terkait dengan melakukan identifikasi resiko terhadap segala kemungkinan
yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan.
Melalui strategi :
1. Melindungi petugas dari setiap kecelakaan kerja yang
mungkin timbul dari pekerjaan dan lingkungan kerja;
2. Membantu petugas menyesuaikan diri dengan pekerjaannya;
3. Memelihara atau memperbaiki keadaan fisik, mental, maupun social
4. Pakai APD
Senantiasa melaksanakan pelayanan sesuai dengan SOP.
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Indikator mutu yang digunakan di UPT PUSKESMAS RANUGEDANG dalam
memberikan pelayanan campak rubella/CRS adalah yang tertuang dalam penilaian
Puskesmas ( PKP ) yang dilaporkan setiap bulan
Dalam pelaksanaan indikator mutu menggunakan buku dalam format tersendiri
dan dievaluasi serta dilaporkan setiap bulan pada penaggung jawab mutu.
BAB IX
PENUTUP
Program surveilans campak rubella/CRS merupakan program yang dilakukan
untuk menemukan penderita campak rubella/CRS yang bertujuan untuk mencapai
derajat kesehatan yang baik bagi masyarakat dan mencegah munculnya penderita.
Sedangkan bagi keluarga dan masyarakat manfaat dari program ini adalah
meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai cara mencegah dan menangani
penderita campak rubella/CRS dengan baik dan benar yaitu dengan cara mengunjungi
pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pengobatan.
Banyak kendala yang dihadapi dalam program surveilans campak rubella/CRS,
tetapi kendala tersebut dapat diatasi dengan kerjasama dari semua pihak, yaitu
pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah kabupaten/kota, pihak swasta dan
seluruh elemen masyarakat. Akhir kata kami berharap semoga pedoman internal
surveilans campak rubella/CRS ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi.