Model Pembelajaran Inovatif untuk Guru
Model Pembelajaran Inovatif untuk Guru
Disusun Oleh :
Kelompok VIII
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami selaku penyusun dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik dan tepat waktu guna memenuhi tugas pada mata kuliah Profesi
Keguruan Matematika dengan judul “Model Pembelajaran Inovatif”. Penyusun juga berterima
kasih kepada IbuYosefin R. Hadiyanti, S. Pd., M. Pd. dan Pitriana Tandililing, S. Pd., [Link]
selaku dosen pengampu mata kuliah dan kepada pihak-pihak lain yang telah mendukung
penyusunan makalah ini.
Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah wawasan
dan pengetahuan serta pemahaman kita tentang model pembelajaran inovatif.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih perlu banyak penyempurnaan karena
kesalahan maupun kekurangan. Untuk itu, penyusun memohon maaf terhadap sedikit atau
banyaknya kesalahan yang ada pada makalah ini, baik terkait penulisan maupun isi. Di samping
itu, penyusun sangat terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
perbaikan dan pengembangan makalah ini dan untuk penyusunan makalah lain kedepannya
dapat lebih baik lagi.
Demikianlah makalah ini disusun dan sekian yang dapat penyusun sampaikan. Akhir
kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
COVER................................................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR......................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................................................... 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................................................... 1
1.3 TUJUAN .................................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................................... 3
2.1 PENGERTIAN PEMBELAJARAN INOVATIF ................................................................... 3
2.2 PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF .................................................... 4
2.3 MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF ............................................................... 6
BAB III PENUTUP........................................................................................................................... 20
3.1 KESIMPULAN ....................................................................................................................... 20
3.2 SARAN .................................................................................................................................... 20
LATIHAN SOAL .............................................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................ 22
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.3 TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini ialah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui dan memahami maksud dari pembelajaran inovatif.
2. Untuk mengetahui dan memahami maksud dari model pembelajaran inovatif
3. Untuk mengetahui model-model pembelajaran inovatif dan langkah-langkah
pembelajaran dengan model tersebut serta contoh penerapannya dalam Matematika.
2
BAB II
PEMBAHASAN
Secara umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik,
yaitu:
3
paradigma konstruktivistik, terlebih dulu guru diharapkan dapat merubah pikiran sesuai
dengan pandangan konstruktivistik. Guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri sebagai
berikut.
4
mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang
pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar
mengajar. (Syaiful Sagala, 2005).
2. Secara luas, Joyce dan Weil (2000:13) mengemukakan bahwa model pembelajaran
merupakan deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan
kurikulum, kursus-kursus, rancangan unit pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-
buku pelajaran, program multimedia, dan bantuan belajar melalui program komputer.
Hakikat mengajar menurut Joyce dan Weil adalah membantu peserta didik
memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir, dan belajar
bagaimana cara belajar.
Merujuk pada dua pendapat di atas, (Indrawati, 2009) memaknai model pembelajaran
sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam
pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan peserta didik di dalam mewujudkan kondisi
belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada peserta didik.
Di dalam pola pembelajaran yang dimaksud terdapat karakteristik berupa rentetan atau
tahapan perbuatan/kegiatan guru-peserta didik yang dikenal dengan istilah sintaks. Secara
implisit di balik tahapan pembelajaran tersebut terdapat karakteristik lainnya dari sebuah
model dan rasional yang membedakan antara model pembelajaran yang satu dengan model
pembelajaran yang lainnya.
Dalam makalah ini, ulasan berfokus pada model pembelajaran yang inovatif. Ditinjau
dari segi bahasa, kata“ inovatif” merupakan kata sifat dari“ inovasi” yang di dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia( KBBI) berarti“ bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru;
bersifat pembaruan( kreasi baru). Jadi, model pembelajaran inovatif maksudnya adalah
pembelajaran yang dirancang oleh guru, yang sifatnya baru, tidak seperti biasanya
dilakukan, dan bertujuan untuk memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuan
sendiri dalam rangka proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik sesuai dengan
potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa dan membawa siswa untuk berpikir inovatif.
Model pembelajaran mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode
atau prosedur. Menurut para ahli, suatu model pembelajaran dianggap baik apabila
memiliki ciri –ciri sebagai berikut :
5
3. Penetapan lingkungan belajar secara khusus dan kondusif.
4. Ukuran keberhasilan siswa setelah mengikuti pembelajaran sehingga bisa
menetapkan kriteria keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
5. Interaksi dengan lingkungan agar mendorong siswa lebih aktif dalam
lingkungannya.
1. Discovery Learning
Discovery Learning adalah gaya belajar aktif yang langsung dikembangkan oleh
Jerome Bruner pada tahun 1960-an. Bruner menekankan bahwa belajar itu harus sambil
melakukan atau learning by doing. Dengan metode ini, peserta didik secara aktif
berpartisipasi, bukan hanya menerima pengetahuan secara pasif. Discovery Learning
menunjukkan pendekatan instruksional umum yang mewakili pengembangan
pembelajaran konstruktivis untuk lingkungan belajar berbasis sekolah.
6
belajar penemuan siswa dapat membuat perkiraan, merumuskan suatu hipotesis dan
menemukan kebenaran dengan menggunakan proses induktif atau proses deduktif,
melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi.
Peserta didik melakukan kegiatan mengolah data atau informasi yang mereka
peroleh pada tahap sebelumnya lalu dianalisis dan diinterpretasi. Semua
informasi baik dari hasil bacaan, wawancara, dan observasi, diolah,
diklasifikasi, ditabulasi, bahkan jika dibutuhkan dapat dihitung dengan cara
tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
7
Tahap terakhir adalah proses menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan
prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) atau sering disebut PBL
adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan cara
menghadapkan para peserta didik tersebut dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam
kehidupannya.
Model pembelajaran PBL adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan
masalah sebagai titik tolak pembahasan masalah untuk dianalisis dan disintesis dalam
usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa. Permasalahan dapat diajukan atau
diberikan guru kepada siswa, dari siswa bersama guru, atau dari siswa sendiri, yang
kemudian dijadikan pembahasan dan dicari pemecahannya sebagai kegiatan belajar siswa.
Menurut Wina Sanjaya (2010 :214-215) terdapat tiga ciri utama dari PBL :
8
• Aktivitas pembelajaran ditujukan untuk menyelesaikan masalah. PBL menempatkan
masalah sebagai kata kunci dalam pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak
mungkin ada proses pembelajaran.
• Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif
dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis
artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu sedangkan empiris
artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Model pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning dapat diterapkan
dalam pelajaran Matematika pada materi pola bilangan di kelas VII SMP. Pembelajaran
dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan
dilakukan. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat
9
mengetahui pembelajaran yang akan dilakukan. Kemudian, guru mengajukan
fenomena atau cerita untuk memunculkan masalah terkait pola bilangan. Misalnya,
peserta didik diminta untuk memperkirakan berapa banyak kursi yang dibutuhkan
dalam suatu gedung pertunjukan jika susunan kursi yang dirancang dalam suatu gedung
pertunjukan tersebut berbentuk trapesium sama kaki. Dalam hal ini, guru hendaknya
membantu peserta didik untuk belajar (mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
yang berhubungan dengan masalah yang diberikan).
3. Problem Solving
Menurut Abdul Majid (2013), model problem solving merupakan cara memberikan
pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah, dan berpikir
tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya untuk
memecahkan masalah. Proses menganalisa adalah konsep memadukan pikiran dengan
kegiatan motorik untuk memecahkan masalah. Metode problem solving (pemecahan
masalah) merupakan salah satu dasar teoritis yang menjadikan masalah sebagai isu
utamanya dalam pembelajaran. Sejalan dengan itu Utomo Dananjaya (2013: 129) juga
memiliki penjelasan tentang model problem solving yaitu upaya peningkatan hasil melalui
proses secara ilmiah untuk menilai, menganalisis, dan memahami keberhasilan. Oleh karena
itu, untuk menyelesaikan sebuah masalah seseorang harus dibiasakan berpikir secara
mandiri. Sedangkan menurut [Link] (2002:111), model problem solving adalah konsep
belajar yang mengajarkan penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada
terselesaikannya suatu masalah secara menalar.
Model problem solving dinilai potensial untuk melatih siswa berpikir kreatif ketika
menghadapi masalah pribadi maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau
secara bersama. Di dalam problem solving, siswa belajar secara mandiri untuk
mengidentifikasi penyebab masalah dan solusi pemecahan masalahnya. Tugas guru dalam
model pembelajaran problem solving adalah memberikan kasus atau masalah untuk
dipecahkan oleh peserta didik. Dengan demikian, dengan model problem solving ini
diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar siswa.
10
Pada penerapan model problem solving terdapat beberapa aktivitas yang ada pada
metode pembelajaran yang lain, meliputi diskusi, kerja kelompok, dan tanya jawab. Berikut
tahap - tahap pembelajaran model problem solving.
1. Memahami masalah.
Dalam penerapan model pembelajaran ini, guru memberikan sebuah masalah dalam
Matematika. Misalnya, “diketahui dua tahun yang lalu umur seorang ayah enam kali
umur ananknya. Delapan belas tahun lagi umurnya dua kali umur anaknya, Berapakah
umur ayah dan anaknya sekarang?”. Adapan pemecahan masalahnya ialah sebagai
beriikut.
Dua tahun yang lalu umur seorang ayah enam kali umur anaknya. Delapan belas
tahun lagi umurnya dua kali umur anaknya. Berapakah umur ayah dan anaknya
sekarang?
Dimisalkan saat ini umur ayah x tahun dan umur anaknya y tahun. Dicari
hubungan antara umur ayah dan anak dua tahun yang lalu dan delapan belas
tahun yang akan datang untuk menemukan nilai x dan y.
Misalkan : saat ini umur ayah x tahun dan umur anaknya y tahun, Maka :
Dua tahun yang lalu umur ayah (𝑥 – 2) dan umur anak (𝑦 – 2) tahun, sehingga
terdapat hubungan (𝑥 – 2) = 6 (𝑦 – 2)
(𝑥 – 2) = 6 (𝑦 – 2)
𝑥 – 2 = 6𝑦 – 12
11
𝑥 = 6𝑦 – 10………………………….(1)
Delapan belas tahun lagi umur ayah (𝑥 + 18) tahun dan umur anak (𝑦 + 18)
tahun, sehingga ada hubungan (𝑥 + 18) = 2 (𝑦 + 18), maka :
𝑥 + 18 = 2 (𝑦 + 18)
𝑥 + 18 = 2𝑦 + 36 ………………………(2)
(6𝑦 – 10) + 18 = 2𝑦 + 36
6𝑦 – 10 + 18 = 2𝑦 + 36
6𝑦 + 8 = 2𝑦 + 36
6𝑦 – 2𝑦 = 36 − 8
4𝑦 = 28
𝑦 = 7…………………….(3)
𝑥 = 6 (7) – 10
= 42 – 10 = 32
Saat ini umur ayah 32 tahun dan umur anak 7 tahun, maka:
Dua tahun yang lalu umur ayah (32 − 2) = 30 tahun, umur anaknya 7 − 2 =
5 tahun, sehingga umur ayah dua tahun yang lalu enam kali umur anaknya.
Delapan belas tahun lagi umur ayah 32 − 18 = 50 tahun, umur anaknya 7 +
18 = 25 tahun, sehingga umur ayah delapan belas tahun lagi dua kali umur
anaknya. Jadi, saat sekarang umur ayah 32 tahun dan umur anaknya 7 tahun.
4. Pembelajaran Kontekstual
12
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Menurut
Nurhadi dalam Masnur (2009:41), pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari
usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ketika ia belajar.
Sedangkan, menurut Johnson (2002) pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses
pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik
yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan
konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi,
sosial, dan budaya mereka.
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya
jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa
(daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan,
motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi
kondusif-nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas
siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan
pengembangan kemampuan sosialisasi. Ada tujuh komponen utama pembelajaran
kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivisme), menemukan (inquiry), bertanya
(questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi
(reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas
yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara
garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara
bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara.
Dengan melakukan tujuh langkah ini, ciri kelas yang menggunakan pendekatan
kontekstual antara lain; pengalaman nyata, kerja sama saling menunjang, gembira,
13
belajar dengan aktif dan kritis, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan
teman, guru kreatif dan inovatif.
Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam Matematika pada pokok bahasan yaitu
tentang sifat-sifat bangun ruang khususnya pada bangun ruang balok. Pada kegiatan
pembelajaran guru memberikan apersepsi dengan bertanya kepada siswa tentang bangun
ruang sederhana sebagai pengetahuan awal siswa. Siswa bersama guru melakukan tanya
jawab mengenai contoh bangun ruang sederhana berbentuk balok yang ada di lingkungan
sekitar dan meminta perwakilan siswa untuk maju kedepan membawa benda berbentuk
balok untuk ditunjukan kepada teman-temannyaa. Siswa dibimbing oleh guru bersama-
sama menunjukan unsur-unsur yang terdapat pada bangun ruang balok yaitu sisi, rusuk,
dan titik sudut. Kemudian, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok secara heterogen
untuk melakukan diskusi kelompok. Guru memberikan arahan mengenai kegiatan
diskusi kelompok yang akan dilakukan kemudian mempersilahkan untuk mengerjakan
LKS sesuai dengan konsep bangun ruang berbentuk balok. Kemudian, siswa secara
berkelompok bergiliran mempresentasikan hasil kerjanya dengan membawa media
berbentuk bangun ruang balok untuk menunjukan bagian-bagiannya berdasarkan sifat-
sifatnya di depan kelas. Setelah itu, guru membahas tugas dan pembelajaran yang telah
diberikan bersama-sama dengan siswa dan guru membimbing siswa untuk
menyimpulkan materi pembelajaran yang sudah dipelajari. Terakhir, guru melakukan
evaluasi individu berupa tes tertulis berbentuk uraian terhadap peserta didik untuk
mengetahui ketercapaian dari kompetensi yang diharapkan yang nantinya dijadikan
refleksi.
14
jawab untuk kelompoknya dan dirinya sendiri dan dimotivasi untuk meningkatkan
pembelajar lainnya (Kessler, 1992: 8).
Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif, yaitu: para siswa di dalam kelas dibagi
menjadi beberapa kelompok atau tim dimana masing-masing terdiri atas 4-5 orang yang
bersifat heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (tinggi, sedang,
dan rendah); secara individual atau tim, akan diberikan evaluasi untuk mengetahui
penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari; tiap siswa dan tiap
tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara
individu atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi
penghargaan.
Pada pokok bahasan “Himpunan” dalam materi Matematika kelas VII SMP,
pembelajaran dapat dilakukan secara kooperatif artinya guru membagi para siswa
dalam beberapa kelompok-kelompok kecil yang heterogen dan memberikan tugas
kelompok terkait dengan pemecahan masalah tentang himpunan. Dalam menyelesaikan
tugas tim, setiap anggota tim diharapkan bekerja sama dan saling membantu untuk bisa
memahami suatu bahan pelajaran. Belajar dinyatakan belum selesai, jika salah satu dari
anggota tim tersebut belum menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Setelah
15
pembelajaran siswa selesai, belajar kelompok dilanjutkan dengan pemberian tes atau
kuis. Selama mengerjakan tes, siswa tidak diizinkan untuk bekerja sama dan hasilnya
benar-benar merupakan hasil belajar individu. Hasil tes setiap anggota tim dijumlahkan
dan dilakukan perhitungan skor tim. Peraih prestasi belajar tertinggi atau sempurna
suatu tim akan diberikan penghargaan. Dengan itu, peserta didik termotivasi untuk
mempelajari, mendalami dan menguasai bidang studi matematika.
Menurut Gulo (dalam Al-Tabani, 2014: 78) menyatakan strategi inkuiri berarti suatu
rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa
untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka
dapat merumuskan sendiri penemuan-penemuannya dengan penuh percaya diri. Menurut
Al-Tabani (2014: 147), inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis
kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
mengingat seperangkat fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri.
1) Orientasi
2) Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang
mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah yang menantang siswa untuk
berpikir memecahkan teka-teki tersebut.
3) Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji.
Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya.
16
4) Mengumpulkan Data
5) Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai
dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
6) Merumuskan Kesimpulan
Model pembelajaran inkuiri dapat diterapkan dalam pokok bahasan sifat-sifat bangun
datar bentuk segitiga. Adapun tahap pelaksanaannya, yaitu:
17
l. Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, sementara
kelompok lain memperhatikan dan memberi komentar.
m. Guru bertanya jawab dan meluruskan kesalahpahaman dan memberikan
penguatan.
7. Model Pembelajaran Jigsaw
Sudrajat (2008:1) mengartikan pembelajaran model jigsaw sebagai sebuah tipe
pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, dimana dalam kelompok tersebut
terdiri dari beberapa siswa yang bertanggung jawab untuk menguasai bagian dari materi
ajar dan selanjutnya harus mengajarkan materi yang telah dikuasai tersebut kepada
teman satu kelompoknya.
Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran Jigsaw.
1) Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok dengan maksimal 5 siswa tiap
kelompok.
2) Masing-masing siswa dalam setiap kelompok diberi bagian materi yang
berlainan.
3) Masing-masing siswa dalam kelompok diberi bagian materi yang sama.
4) Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bagian yang sama
berkumpul dalam kelompok baru yang disebut kelompok ahli untuk
mendiskusikan sub bab mereka.
5) Setelah anggota dari kelompok ahli selesai mendiskusikan Sub bab bagian
mereka, maka selanjutnya masing-masing anggota dari kelompok ahli
kembali ke dalam kelompok asal.
6) Secara bergantian mengajar teman dalam 1 kelompok mengenai sub bab
yang telah dikuasai sedangkan anggota lainnya mendengarkan penjelasan
dengan seksama.
7) Perwakilan dari kelompok asal mempresentasikan hasil kelompok di depan
kelas.
8) Guru melaksanakan evaluasi.
9) Guru memberi apresiasi/penghargaan kepada semua kelompok.
10) Guru memberi latihan soal untuk dirumah.
18
Contoh Penerapan Pembelajaran Jigsaw
Untuk mengajarkan muatan pelajaran matematika di SD tidak boleh asal-asalan,
karena sifat matematika yang abstrak, kadang justru membuat anak sulit
memahaminya. Dibutuhkan model pembelajaran yang memang sesuai dengan muatan
pelajaran matematika. Pada materi Bilangan Bulat Mengubah Pecahan ke Bentuk
Persen dan Desimal serta sebaliknya, guru dapat menerapkan model pembelajaran
Jigsaw. Penggunaan model tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar
siswa. Siswa dikelompokkan kedalam empat anggota tim, dan setiap orang dalam tim
diberi bagian materi yang berbeda ada yang persen, pecahan dan desimal. Kemudian
tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan. Sementara itu, anggota
dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu
dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka Setelah
selesai diskusi, sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian
mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai. Disitu tiap
anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Lalu, tiap tim ahli
mempresentasikan hasil diskusi, dan guru memberi evaluasi serta menutup
pembelajaran.
19
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai
berikut.
3.2 SARAN
Bagi seorang guru atau calon guru sangatlah penting mengerti dan memahami
tentang konsep teori media pembelajaran inovatif. Dimana sebelum memberikan
sebuah materi atau pembelajaran diharapkan seorang guru mampu dan mengerti tentang
cara efekrif pemilihan lingkungan belajar yang sesuai dan mendukung terhadap
tercapainya tujuan pembelajaran yang baik.
20
LATIHAN SOAL
1. Jelaskan maksud dari pembelajaran inovatif dan model pembelajaran inovatif menurut
pemahaman saudara sendiri!
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan model pembelajaran kooperatif dan berikan contoh
lain dari penerapan model pembelajaran tersebut dalam Matematika!
3. Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang model pembelajaran Jigsaw?
4. Sebutkan dan jelaskan beberapa langkah-langkah dalam model pembelajaran inkuiri!
5. Menurut saudara, dari model-model pembelajaran yang telah diuraikan di atas,
manakah model pembelajaran inovatif yang paling baik?
21
DAFTAR PUSTAKA
Lebi, D. E. (2020). Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk Materi Himpunan Pada Siswa
Kelas VII SMP SWASTA Muhammadiyah Ende Tahun Pelajaran 2014/2015.
Scientifical Colloquia: Jurnal Pendidikan Matematika Universitas Flores, 3(1), 33-40.
Maryati, I. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Materi Pola
Bilangan di Kelas VII Sekolah Menengah Pertama. Jurnal “Mosharafa”, 7(1), 63-73.
Juniardi Wilman. 2023. “Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw beserta Tujuan, Ciri-Ciri,
Langkah-Langkah dan Contoh Sintaks”, [Link]
guru/model-pembelajaran-jigsaw/, diakses pada 27 Februari 2023.
22
Santyasa, I. W. (2007). Model-model pembelajaran inovatif. Universitas Pendidikan
Ganesha.
23