0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan26 halaman

Model Pembelajaran Inovatif untuk Guru

Makalah ini membahas tentang model pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif adalah proses pembelajaran yang dirancang berbeda dari pembelajaran konvensional untuk meningkatkan motivasi siswa. Pembelajaran inovatif berpusat pada siswa dan memberikan kesempatan siswa untuk belajar secara mandiri berdasarkan paradigma konstruktivisme.

Diunggah oleh

Muhammad Sally
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
140 tayangan26 halaman

Model Pembelajaran Inovatif untuk Guru

Makalah ini membahas tentang model pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif adalah proses pembelajaran yang dirancang berbeda dari pembelajaran konvensional untuk meningkatkan motivasi siswa. Pembelajaran inovatif berpusat pada siswa dan memberikan kesempatan siswa untuk belajar secara mandiri berdasarkan paradigma konstruktivisme.

Diunggah oleh

Muhammad Sally
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF


(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Profesi Keguruan Matematika)

Dosen Pengampu : 1. Yosefin R. Hadiyanti, S. Pd., M,Pd.

2. Pitriana Tandililing, S. Pd., [Link]

Disusun Oleh :

Kelompok VIII

1. Putri Violenta Siringoringo (NIM 2021011034010)


2. Yunita Christianti Noriwari (NIM 2021011034009)
3. Wa Ode Chelsi Nur (NIM 2022011034018)
4. Herlina Vincensia Gobai (NIM 2022011034031)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2023

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada kami, sehingga kami selaku penyusun dapat menyelesaikan
makalah ini dengan baik dan tepat waktu guna memenuhi tugas pada mata kuliah Profesi
Keguruan Matematika dengan judul “Model Pembelajaran Inovatif”. Penyusun juga berterima
kasih kepada IbuYosefin R. Hadiyanti, S. Pd., M. Pd. dan Pitriana Tandililing, S. Pd., [Link]
selaku dosen pengampu mata kuliah dan kepada pihak-pihak lain yang telah mendukung
penyusunan makalah ini.

Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah wawasan
dan pengetahuan serta pemahaman kita tentang model pembelajaran inovatif.

Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih perlu banyak penyempurnaan karena
kesalahan maupun kekurangan. Untuk itu, penyusun memohon maaf terhadap sedikit atau
banyaknya kesalahan yang ada pada makalah ini, baik terkait penulisan maupun isi. Di samping
itu, penyusun sangat terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
perbaikan dan pengembangan makalah ini dan untuk penyusunan makalah lain kedepannya
dapat lebih baik lagi.

Demikianlah makalah ini disusun dan sekian yang dapat penyusun sampaikan. Akhir
kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Jayapura, 26 Februari 2023

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER................................................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR......................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................... 1
1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................................................... 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................................................... 1
1.3 TUJUAN .................................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................................... 3
2.1 PENGERTIAN PEMBELAJARAN INOVATIF ................................................................... 3
2.2 PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF .................................................... 4
2.3 MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF ............................................................... 6
BAB III PENUTUP........................................................................................................................... 20
3.1 KESIMPULAN ....................................................................................................................... 20
3.2 SARAN .................................................................................................................................... 20
LATIHAN SOAL .............................................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................ 22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Proses pembelajaran sejatinya mengaitkan bermacam unsur dalam satu lingkungan
belajar, baik pendidik, peserta didik, media pembelajaran, serta faktor lain yang menunjang
terjadinya interaksi belajar. Ada banyak kritik serta kajian ilmiah yang menerangkan bahwa
pembelajaran mayoritas berorientasi pada pendidik sehingga pendidiklah yang berhak
memastikan apa yang hendak dipelajari oleh peserta didik tidak memberikan ruang
kreativitas bagi siswa dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Oleh
karena itu, untuk merevolusi tatanan pendidikan supaya jauh lebih bertumbuh dan
berkembang, guru dituntut agar dapat melakukan pembelajaran yang inovatif sehingga
diharapkan kedepannya pendidikan dapat menciptakan proses belajar yang lebih bermakna
dan menyenangkan.
Pada dasarnya, pendidikan inovatif ini diperlukan oleh seluruh pelakon pembelajaran,
paling utama tenaga pendidik/guru yang memainkan peranan besarnya di lingkungan kelas.
Peran utama guru dalam mempraktikkan model ini bukan sebatas kegiatan belajar mengajar
saja, tetapi guru diharapkan bisa meningkatkan sifat- sifat inovatif dalam diri siswa. Maka
dari itu, diperlukannya model pembelajaran yang inovatif dan hal ini memerlukan perhatian
khusus dan lebih agar menjadi kualifikasi terbaik dalam mencetak guru handal yang
inovatif.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan beberapa masalah sebagai
berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran inovatif?
2. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran inovatif?
3. Apa saja model pembelajaran inovatif dan bagaimana langkah-langkah pembelajaran
dengan model tersebut serta contoh penerapannya dalam Matematika ?

1
1.3 TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini ialah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui dan memahami maksud dari pembelajaran inovatif.
2. Untuk mengetahui dan memahami maksud dari model pembelajaran inovatif
3. Untuk mengetahui model-model pembelajaran inovatif dan langkah-langkah
pembelajaran dengan model tersebut serta contoh penerapannya dalam Matematika.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN PEMBELAJARAN INOVATIF


Menurut Gagne, Briggs, dan Wagner pengertian pembelajaran adalah serangkaian
kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada peserta
didik. Adapun pengertian dari pembelajaran inovatif adalah proses pembelajaran yang
dirancang berbeda dengan pembelajaran guru pada umumnya (konvensional) yang
membuat siswa kurang tertarik dan termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran
yang berakibat pada hasil belajar siswa yang kurang baik dan pengetahuan yang diperoleh
siswa menjadi tidak bermakna.

Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student


centered) artinya pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada siswa untuk
mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri (self directed) dan dimediasi oleh teman
sebaya (peer mediated instruction). Pembelajaran inovatif mendasarkan diri pada
paradigma konstruktivistik.

Menurut paradigma konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan penyelesaian


masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal
prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih
dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan
model-model yang dibangkitkan oleh siswa sendiri.

Secara umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik,
yaitu:

1. Meletakkan permasalahan yang relevan dengan kebutuhan siswa.


2. Menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama.
3. Menghargai pandangan siswa.
4. Materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan siswa.
5. Menilai pembelajaran secara kontekstual.

Pembelajaran inovatif yang berlandaskan paradigma konstruktivistik membantu


siswa untuk mengiternalisasi, membentuk kembali, atau mentransformasi informasi baru
(Oentoro, 2010). Untuk menginternalisasi serta dapat menerapkan pembelajaran menurut

3
paradigma konstruktivistik, terlebih dulu guru diharapkan dapat merubah pikiran sesuai
dengan pandangan konstruktivistik. Guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri sebagai
berikut.

1. Menghargai otonomi dan inisiatif siswa.


2. Menggunakan data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada
keterampilan berpikir kritis.
3. Mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, menganalisis, memprediksi,
dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas.
4. Menyertakan respon siswa dalam pembelajaran dan mengubah model atau strategi
pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
5. Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan dibelajarkan
sebelum berbagi pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut.
6. Menyediakan peluang kepada siswa untuk berdiskusi baik dengan dirinya maupun
dengan siswa yang lain.
7. Mendorong sikap inquiry siswa dengan pertanyaan terbuka yang menuntut mereka
untuk berpikir kritis dan berdiskusi antar temannya.
8. Mengelaborasi respon awal siswa.
9. Menyertakan siswa dalam pengalaman-pengalaman yang dapat menimbulkan
kontradiksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian mendorong diskusi.
10. Menyediakan kesempatan yang cukup kepada siswa dalam memikirkan dan
mengerjakan tugas-tugas.
11. Menumbuhkan sikap ingin tahu siswa melalui penggunaan model pembelajaran
yang beragam.

2.2 PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF


Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau
acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Model pembelajaran adalah rangkaian proses
pembelajaran yang mencakup pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik
pembelajaran. Para ahli pendidikan memberikan pengertian tentang model pembelajaran,
yaitu:

1. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang


sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik untuk

4
mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang
pembelajaran dan guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar
mengajar. (Syaiful Sagala, 2005).
2. Secara luas, Joyce dan Weil (2000:13) mengemukakan bahwa model pembelajaran
merupakan deskripsi dari lingkungan belajar yang menggambarkan perencanaan
kurikulum, kursus-kursus, rancangan unit pembelajaran, perlengkapan belajar, buku-
buku pelajaran, program multimedia, dan bantuan belajar melalui program komputer.
Hakikat mengajar menurut Joyce dan Weil adalah membantu peserta didik
memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir, dan belajar
bagaimana cara belajar.
Merujuk pada dua pendapat di atas, (Indrawati, 2009) memaknai model pembelajaran
sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola pembelajaran tertentu, dalam
pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan peserta didik di dalam mewujudkan kondisi
belajar atau sistem lingkungan yang menyebabkan terjadinya belajar pada peserta didik.
Di dalam pola pembelajaran yang dimaksud terdapat karakteristik berupa rentetan atau
tahapan perbuatan/kegiatan guru-peserta didik yang dikenal dengan istilah sintaks. Secara
implisit di balik tahapan pembelajaran tersebut terdapat karakteristik lainnya dari sebuah
model dan rasional yang membedakan antara model pembelajaran yang satu dengan model
pembelajaran yang lainnya.
Dalam makalah ini, ulasan berfokus pada model pembelajaran yang inovatif. Ditinjau
dari segi bahasa, kata“ inovatif” merupakan kata sifat dari“ inovasi” yang di dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia( KBBI) berarti“ bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru;
bersifat pembaruan( kreasi baru). Jadi, model pembelajaran inovatif maksudnya adalah
pembelajaran yang dirancang oleh guru, yang sifatnya baru, tidak seperti biasanya
dilakukan, dan bertujuan untuk memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuan
sendiri dalam rangka proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik sesuai dengan
potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa dan membawa siswa untuk berpikir inovatif.

Model pembelajaran mempunyai ciri khusus yang tidak dimiliki oleh strategi, metode
atau prosedur. Menurut para ahli, suatu model pembelajaran dianggap baik apabila
memiliki ciri –ciri sebagai berikut :

1. Memiliki prosedur yang sistematik untuk memodifikasi perilaku siswa


2. Hasil belajar yang ditetapkan secara khusus yaitu perubahan perilaku siswa secara
positif.

5
3. Penetapan lingkungan belajar secara khusus dan kondusif.
4. Ukuran keberhasilan siswa setelah mengikuti pembelajaran sehingga bisa
menetapkan kriteria keberhasilan dalam proses belajar mengajar.
5. Interaksi dengan lingkungan agar mendorong siswa lebih aktif dalam
lingkungannya.

2.3 MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF


Inovasi dalam pembelajaran dinilai sangat penting untuk mencapai tujuan
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang aktif, efektif dan efisien.
Gagasan, ide, tindakan yang dianggap baru dalam bidang tertentu, untuk memecahkan
masalah yang muncul. Inovasi biasanya muncul karena adanya kecemasan beberapa pihak
(misalnya guru) terhadap pelaksanaan kegiatan (misalnya pembelajaran) untuk mengatasi
permasalahan yang terjadi. Sehingga dengan cara ini model pembelajaran yang kurang
aktif, efektif dan efisien dapat ditambahkan, diadaptasi, diperkuat atau dihilangkan dan
diganti dengan kegiatan pembelajaran dengan model yang baru. Berikut ini adalah
beberapa model pembelajaran inovatif yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar
mengajar di kelas.

1. Discovery Learning

Discovery Learning adalah gaya belajar aktif yang langsung dikembangkan oleh
Jerome Bruner pada tahun 1960-an. Bruner menekankan bahwa belajar itu harus sambil
melakukan atau learning by doing. Dengan metode ini, peserta didik secara aktif
berpartisipasi, bukan hanya menerima pengetahuan secara pasif. Discovery Learning
menunjukkan pendekatan instruksional umum yang mewakili pengembangan
pembelajaran konstruktivis untuk lingkungan belajar berbasis sekolah.

Model discovery learning merupakan model yang mengatur segala pengajaran


sehingga siswa mendapatkan pengetahuan baru melalui model penemuan yang ditemukan
sendiri. Seorang guru memberikan ruang kepada siswanya untuk dapat berdiri sendiri
mendorong siswa untuk mandiri dan aktif untuk memperoleh pengetahuan baru. Discovery
learning merupakan suatu model pemecahan masalah yang akan bermanfaat bagi anak
didik dalam menghadapi kehidupannya di kemudian hari. Belajar penemuan adalah suatu
proses belajar yang terjadi sebagai hasil dari siswa memanipulasi, membuat struktur dan
mentransformasikan informasi sedemikian sehingga ia menemukan informasi baru. Dalam

6
belajar penemuan siswa dapat membuat perkiraan, merumuskan suatu hipotesis dan
menemukan kebenaran dengan menggunakan proses induktif atau proses deduktif,
melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi.

Berikut ini langkah-langkah dalam pembelajaran dengan model discovery learning.

1. Stimulation atau Pemberian Rangsangan


Pada tahap ini peserta didik diberikan permasalahan yang belum ada solusinya
sehingga memotivasi mereka untuk menyelidiki dan menyelesaikan masalah
tersebut. Pada tahap ini, guru memfasilitasi mereka dengan memberikan
pertanyaan, arahan untuk membaca buku atau teks, dan kegiatan belajar yang
mengarah pada kegiatan discovery sebagai persiapan identifikasi masalah.
2. Problem statement atau Identifikasi Masalah
Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin
masalah yang berkaitan dengan bahan ajar, kemudian salah satunya dipilih dan
dirumuskan dalam bentuk hipotesis atau jawaban sementara untuk masalah
yang ditetapkan.
3. Data Collection atau Pengumpulan Data dan Informasi
Peserta didik melakukan eksplorasi untuk mengumpulkan data atau informasi
yang relevan dengan cara membaca literatur, mengamati objek, mewawancarai
narasumber, melakukan uji coba sendiri dan lainnya. Peserta didik juga
berusaha menjawab pertanyaan atau membuktikan kebenaran hipotesis.
4. Data Processing atau Pengolahan Data

Peserta didik melakukan kegiatan mengolah data atau informasi yang mereka
peroleh pada tahap sebelumnya lalu dianalisis dan diinterpretasi. Semua
informasi baik dari hasil bacaan, wawancara, dan observasi, diolah,
diklasifikasi, ditabulasi, bahkan jika dibutuhkan dapat dihitung dengan cara
tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

5. Verification atau Analisis dan Interpretasi Data


Peserta didik melakukan verifikasi secara cermat untuk menguji hipotesis yang
ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing.
Tahapan ini bertujuan agar proses belajar berjalan dengan baik dan peserta didik
menjadi aktif dan kreatif dalam memecahkan masalah.
6. Generalization atau Penarikan Kesimpulan

7
Tahap terakhir adalah proses menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan
prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.

Contoh Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning

Pembelajaran discover learning dapat diterapkan dalam pelajaran Matematika pada


materi menentukan besar sudut dalam segitiga. Dalam hal ini, guru dapat menyediakan
LKPD dimana terdapat beberapa bentuk segitiga. Kemudian, guru meminta siswa untuk
mengukur setiap sudut dalam segitiga. Setelah siswa selesai mengukur, maka guru
mengajak siswa untuk menarik kesimpulan dari hasil pengukuran yang telah didapat.

2. Problem Based Learning

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) atau sering disebut PBL
adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan cara
menghadapkan para peserta didik tersebut dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam
kehidupannya.

Model pembelajaran PBL adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan
masalah sebagai titik tolak pembahasan masalah untuk dianalisis dan disintesis dalam
usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa. Permasalahan dapat diajukan atau
diberikan guru kepada siswa, dari siswa bersama guru, atau dari siswa sendiri, yang
kemudian dijadikan pembahasan dan dicari pemecahannya sebagai kegiatan belajar siswa.

Dengan demikian, Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah


sebuah model pembelajaran yang memfokuskan pada pelacakan akar masalah dan
memecahkan masalah.

Menurut Wina Sanjaya (2010 :214-215) terdapat tiga ciri utama dari PBL :

• PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBL


ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa. PBL tidak mengharapkan siswa
hanya sekadar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan
tetapi melalui PBL siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data,
dan akhirnya menyimpulkan.

8
• Aktivitas pembelajaran ditujukan untuk menyelesaikan masalah. PBL menempatkan
masalah sebagai kata kunci dalam pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak
mungkin ada proses pembelajaran.
• Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara
ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif
dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris. Sistematis
artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu sedangkan empiris
artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.

Berikut adalah langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah (PBM)

1. Orientasi siswa pada masalah.


Dalam hal ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk
terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah.
2. Mengorganisasi siswa untuk siswa.
Dalam hal ini guru mengarahkan siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan
tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
3. Membimbing pengalaman individual/kelompok.
Pada tahap ini guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dalam pemecahan
masalah.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya siswa.
Dalam hal ini guru mengajak siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya
yang sesuai untuk dipresentasikan.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membantu siswa melakukan refleksi dan mengevaluasi dalam penyelidikan
yang telah siswa buat dan telah dipresentasikannya serta memberikan saran terhadap
hasil siswa yang kurang sempurna.

Contoh Penerapan Model Pembelajaran PBL

Model pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning dapat diterapkan
dalam pelajaran Matematika pada materi pola bilangan di kelas VII SMP. Pembelajaran
dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan
dilakukan. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar peserta didik dapat

9
mengetahui pembelajaran yang akan dilakukan. Kemudian, guru mengajukan
fenomena atau cerita untuk memunculkan masalah terkait pola bilangan. Misalnya,
peserta didik diminta untuk memperkirakan berapa banyak kursi yang dibutuhkan
dalam suatu gedung pertunjukan jika susunan kursi yang dirancang dalam suatu gedung
pertunjukan tersebut berbentuk trapesium sama kaki. Dalam hal ini, guru hendaknya
membantu peserta didik untuk belajar (mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
yang berhubungan dengan masalah yang diberikan).

3. Problem Solving

Menurut Abdul Majid (2013), model problem solving merupakan cara memberikan
pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah, dan berpikir
tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya untuk
memecahkan masalah. Proses menganalisa adalah konsep memadukan pikiran dengan
kegiatan motorik untuk memecahkan masalah. Metode problem solving (pemecahan
masalah) merupakan salah satu dasar teoritis yang menjadikan masalah sebagai isu
utamanya dalam pembelajaran. Sejalan dengan itu Utomo Dananjaya (2013: 129) juga
memiliki penjelasan tentang model problem solving yaitu upaya peningkatan hasil melalui
proses secara ilmiah untuk menilai, menganalisis, dan memahami keberhasilan. Oleh karena
itu, untuk menyelesaikan sebuah masalah seseorang harus dibiasakan berpikir secara
mandiri. Sedangkan menurut [Link] (2002:111), model problem solving adalah konsep
belajar yang mengajarkan penyelesaian masalah dengan memberikan penekanan pada
terselesaikannya suatu masalah secara menalar.

Model problem solving dinilai potensial untuk melatih siswa berpikir kreatif ketika
menghadapi masalah pribadi maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau
secara bersama. Di dalam problem solving, siswa belajar secara mandiri untuk
mengidentifikasi penyebab masalah dan solusi pemecahan masalahnya. Tugas guru dalam
model pembelajaran problem solving adalah memberikan kasus atau masalah untuk
dipecahkan oleh peserta didik. Dengan demikian, dengan model problem solving ini
diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dan prestasi belajar siswa.

10
Pada penerapan model problem solving terdapat beberapa aktivitas yang ada pada
metode pembelajaran yang lain, meliputi diskusi, kerja kelompok, dan tanya jawab. Berikut
tahap - tahap pembelajaran model problem solving.

1. Memahami masalah.

2. Membuat rencana pemecahan masalah

3. Melaksanakan rencana pemecahan masalah

4. Memeriksa kembali jawaban.

Contoh Penerapan Model Pembelajaran Problem Solving

Dalam penerapan model pembelajaran ini, guru memberikan sebuah masalah dalam
Matematika. Misalnya, “diketahui dua tahun yang lalu umur seorang ayah enam kali
umur ananknya. Delapan belas tahun lagi umurnya dua kali umur anaknya, Berapakah
umur ayah dan anaknya sekarang?”. Adapan pemecahan masalahnya ialah sebagai
beriikut.

Langkah I (memahami masalah)

Dua tahun yang lalu umur seorang ayah enam kali umur anaknya. Delapan belas
tahun lagi umurnya dua kali umur anaknya. Berapakah umur ayah dan anaknya
sekarang?

Langkah II (membuat rencana pemecahan masalah)

Dimisalkan saat ini umur ayah x tahun dan umur anaknya y tahun. Dicari
hubungan antara umur ayah dan anak dua tahun yang lalu dan delapan belas
tahun yang akan datang untuk menemukan nilai x dan y.

Langkah III (melaksanakan rencana pemecahan masalah)

Misalkan : saat ini umur ayah x tahun dan umur anaknya y tahun, Maka :

Dua tahun yang lalu umur ayah (𝑥 – 2) dan umur anak (𝑦 – 2) tahun, sehingga
terdapat hubungan (𝑥 – 2) = 6 (𝑦 – 2)

(𝑥 – 2) = 6 (𝑦 – 2)

𝑥 – 2 = 6𝑦 – 12

11
𝑥 = 6𝑦 – 10………………………….(1)

Delapan belas tahun lagi umur ayah (𝑥 + 18) tahun dan umur anak (𝑦 + 18)
tahun, sehingga ada hubungan (𝑥 + 18) = 2 (𝑦 + 18), maka :

𝑥 + 18 = 2 (𝑦 + 18)

𝑥 + 18 = 2𝑦 + 36 ………………………(2)

Pers (1) di subtitusikan ke pers (2)

(6𝑦 – 10) + 18 = 2𝑦 + 36

6𝑦 – 10 + 18 = 2𝑦 + 36

6𝑦 + 8 = 2𝑦 + 36

6𝑦 – 2𝑦 = 36 − 8

4𝑦 = 28

𝑦 = 7…………………….(3)

Pers (3) subtitusikan ke pers (1)

𝑥 = 6 (7) – 10

= 42 – 10 = 32

Langkah IV (memeriksa kembali jawaban)

Saat ini umur ayah 32 tahun dan umur anak 7 tahun, maka:

Dua tahun yang lalu umur ayah (32 − 2) = 30 tahun, umur anaknya 7 − 2 =
5 tahun, sehingga umur ayah dua tahun yang lalu enam kali umur anaknya.
Delapan belas tahun lagi umur ayah 32 − 18 = 50 tahun, umur anaknya 7 +
18 = 25 tahun, sehingga umur ayah delapan belas tahun lagi dua kali umur
anaknya. Jadi, saat sekarang umur ayah 32 tahun dan umur anaknya 7 tahun.

4. Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual atau Constextual Teaching and Learning-CTL adalah


konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan

12
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Menurut
Nurhadi dalam Masnur (2009:41), pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari
usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ketika ia belajar.
Sedangkan, menurut Johnson (2002) pembelajaran kontekstual adalah sebuah proses
pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik
yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan
konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi,
sosial, dan budaya mereka.

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya
jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa
(daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan,
motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi
kondusif-nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas
siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan
pengembangan kemampuan sosialisasi. Ada tujuh komponen utama pembelajaran
kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivisme), menemukan (inquiry), bertanya
(questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi
(reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).

CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas
yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara
garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:

1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara
bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Ciptakan masyarakat belajar.
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara.

Dengan melakukan tujuh langkah ini, ciri kelas yang menggunakan pendekatan
kontekstual antara lain; pengalaman nyata, kerja sama saling menunjang, gembira,

13
belajar dengan aktif dan kritis, menyenangkan, tidak membosankan, sharing dengan
teman, guru kreatif dan inovatif.

Contoh Penerapan Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam Matematika pada pokok bahasan yaitu
tentang sifat-sifat bangun ruang khususnya pada bangun ruang balok. Pada kegiatan
pembelajaran guru memberikan apersepsi dengan bertanya kepada siswa tentang bangun
ruang sederhana sebagai pengetahuan awal siswa. Siswa bersama guru melakukan tanya
jawab mengenai contoh bangun ruang sederhana berbentuk balok yang ada di lingkungan
sekitar dan meminta perwakilan siswa untuk maju kedepan membawa benda berbentuk
balok untuk ditunjukan kepada teman-temannyaa. Siswa dibimbing oleh guru bersama-
sama menunjukan unsur-unsur yang terdapat pada bangun ruang balok yaitu sisi, rusuk,
dan titik sudut. Kemudian, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok secara heterogen
untuk melakukan diskusi kelompok. Guru memberikan arahan mengenai kegiatan
diskusi kelompok yang akan dilakukan kemudian mempersilahkan untuk mengerjakan
LKS sesuai dengan konsep bangun ruang berbentuk balok. Kemudian, siswa secara
berkelompok bergiliran mempresentasikan hasil kerjanya dengan membawa media
berbentuk bangun ruang balok untuk menunjukan bagian-bagiannya berdasarkan sifat-
sifatnya di depan kelas. Setelah itu, guru membahas tugas dan pembelajaran yang telah
diberikan bersama-sama dengan siswa dan guru membimbing siswa untuk
menyimpulkan materi pembelajaran yang sudah dipelajari. Terakhir, guru melakukan
evaluasi individu berupa tes tertulis berbentuk uraian terhadap peserta didik untuk
mengetahui ketercapaian dari kompetensi yang diharapkan yang nantinya dijadikan
refleksi.

5. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk


bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama (Felder, 1994:
2). Wahyuni (2001:8) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi
pembelajaran dengan cara menempatkan siswa dalam kelompok kecil yang memiliki
kemampuan berbeda. Selanjutnya, pembelajaran kooperatif adalah aktivitas belajar
kelompok yang teratur sehingga ketergantungan pembelajaran pada struktur sosial
pertukaran informasi antara anggota dalam kelompok dan tiap anggota bertanggung

14
jawab untuk kelompoknya dan dirinya sendiri dan dimotivasi untuk meningkatkan
pembelajar lainnya (Kessler, 1992: 8).

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif


adalah suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa kedalam
kelompok-kelompok kecil untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah. Ada
beberapa unsur model pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan agar mencapai
hasil yang maksimal, yakni: kesaling tergantungan positif, tanggung jawab
perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.

Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif, yaitu: para siswa di dalam kelas dibagi
menjadi beberapa kelompok atau tim dimana masing-masing terdiri atas 4-5 orang yang
bersifat heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (tinggi, sedang,
dan rendah); secara individual atau tim, akan diberikan evaluasi untuk mengetahui
penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari; tiap siswa dan tiap
tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara
individu atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi
penghargaan.

Dalam pembelajaran kooperatif, perlu diperhatikan 6 langkah pembelajarannya, yaitu:

1) Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.


2) Menyajikan informasi.
3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
4) Membimbing kelompok belajar.
5) Evaluasi
6) Memberikan penghargaan.

Contoh Penerapan Pembelajaran Kooperatif

Pada pokok bahasan “Himpunan” dalam materi Matematika kelas VII SMP,
pembelajaran dapat dilakukan secara kooperatif artinya guru membagi para siswa
dalam beberapa kelompok-kelompok kecil yang heterogen dan memberikan tugas
kelompok terkait dengan pemecahan masalah tentang himpunan. Dalam menyelesaikan
tugas tim, setiap anggota tim diharapkan bekerja sama dan saling membantu untuk bisa
memahami suatu bahan pelajaran. Belajar dinyatakan belum selesai, jika salah satu dari
anggota tim tersebut belum menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Setelah

15
pembelajaran siswa selesai, belajar kelompok dilanjutkan dengan pemberian tes atau
kuis. Selama mengerjakan tes, siswa tidak diizinkan untuk bekerja sama dan hasilnya
benar-benar merupakan hasil belajar individu. Hasil tes setiap anggota tim dijumlahkan
dan dilakukan perhitungan skor tim. Peraih prestasi belajar tertinggi atau sempurna
suatu tim akan diberikan penghargaan. Dengan itu, peserta didik termotivasi untuk
mempelajari, mendalami dan menguasai bidang studi matematika.

6. Model Pembelajaran Inkuiri

Menurut Gulo (dalam Al-Tabani, 2014: 78) menyatakan strategi inkuiri berarti suatu
rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa
untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka
dapat merumuskan sendiri penemuan-penemuannya dengan penuh percaya diri. Menurut
Al-Tabani (2014: 147), inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis
kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
mengingat seperangkat fakta, melainkan hasil dari menemukan sendiri.

Menurut Sanjaya (2006: 201), mengemukakan terdapat enam langkah dalam


pelaksanaan inkuiri, yaitu sebagai berikut:

1) Orientasi

Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana pembelajaran yang


responsif. Pada langkah ini, guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses
pembelajaran.

2) Merumuskan Masalah

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang
mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah yang menantang siswa untuk
berpikir memecahkan teka-teki tersebut.

3) Merumuskan Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji.
Sebagai jawaban sementara hipotesis perlu diuji kebenarannya.

16
4) Mengumpulkan Data

Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk


menguji hipotesis yang diajukan.

5) Menguji Hipotesis

Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai
dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.

6) Merumuskan Kesimpulan

Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh


berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

Contoh Penerapan Pembelajaran Inkuiri

Model pembelajaran inkuiri dapat diterapkan dalam pokok bahasan sifat-sifat bangun
datar bentuk segitiga. Adapun tahap pelaksanaannya, yaitu:

a. Guru mengemukakan suatu permasalahan dalam bentuk pertanyaan yang


berhubungan dengan macam-macam jenis segitiga.
b. Peserta didik menuliskan jawabannya di papan tulis.
c. Peserta didik menunjukan macam-macam jenis segitiga.
d. Tanya jawab tentang sifat-sifat segitiga.
e. Peserta didik diminta untuk membuat beberapa kelompok.
f. Secara berkelompok peserta didik membuat macam-macam jenis segitiga
dengan menggunakan kertas origami.
g. Secara berkelompok peserta didik mengukur sudut dari segitiga-segitiga yang
sudah dibuatnya.
h. Peserta didik melakukan diskusi untuk menyimpulkan apa saja sifat-sifat
segitiga.
i. Secara kelompok peserta didik mencatat hasil pekerjaannya.
j. Pembahasan secara klasikal tentang sifat-sifat segitiga (segitiga sama kaki,
segitiga sama sisi dan segitiga siku-siku).
k. Peserta didik memajang hasil kerjanya yang berupa berbagai macam jenis
segitiga.

17
l. Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, sementara
kelompok lain memperhatikan dan memberi komentar.
m. Guru bertanya jawab dan meluruskan kesalahpahaman dan memberikan
penguatan.
7. Model Pembelajaran Jigsaw
Sudrajat (2008:1) mengartikan pembelajaran model jigsaw sebagai sebuah tipe
pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, dimana dalam kelompok tersebut
terdiri dari beberapa siswa yang bertanggung jawab untuk menguasai bagian dari materi
ajar dan selanjutnya harus mengajarkan materi yang telah dikuasai tersebut kepada
teman satu kelompoknya.
Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran Jigsaw.
1) Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok dengan maksimal 5 siswa tiap
kelompok.
2) Masing-masing siswa dalam setiap kelompok diberi bagian materi yang
berlainan.
3) Masing-masing siswa dalam kelompok diberi bagian materi yang sama.
4) Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bagian yang sama
berkumpul dalam kelompok baru yang disebut kelompok ahli untuk
mendiskusikan sub bab mereka.
5) Setelah anggota dari kelompok ahli selesai mendiskusikan Sub bab bagian
mereka, maka selanjutnya masing-masing anggota dari kelompok ahli
kembali ke dalam kelompok asal.
6) Secara bergantian mengajar teman dalam 1 kelompok mengenai sub bab
yang telah dikuasai sedangkan anggota lainnya mendengarkan penjelasan
dengan seksama.
7) Perwakilan dari kelompok asal mempresentasikan hasil kelompok di depan
kelas.
8) Guru melaksanakan evaluasi.
9) Guru memberi apresiasi/penghargaan kepada semua kelompok.
10) Guru memberi latihan soal untuk dirumah.

18
Contoh Penerapan Pembelajaran Jigsaw
Untuk mengajarkan muatan pelajaran matematika di SD tidak boleh asal-asalan,
karena sifat matematika yang abstrak, kadang justru membuat anak sulit
memahaminya. Dibutuhkan model pembelajaran yang memang sesuai dengan muatan
pelajaran matematika. Pada materi Bilangan Bulat Mengubah Pecahan ke Bentuk
Persen dan Desimal serta sebaliknya, guru dapat menerapkan model pembelajaran
Jigsaw. Penggunaan model tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar
siswa. Siswa dikelompokkan kedalam empat anggota tim, dan setiap orang dalam tim
diberi bagian materi yang berbeda ada yang persen, pecahan dan desimal. Kemudian
tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan. Sementara itu, anggota
dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu
dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka Setelah
selesai diskusi, sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian
mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai. Disitu tiap
anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Lalu, tiap tim ahli
mempresentasikan hasil diskusi, dan guru memberi evaluasi serta menutup
pembelajaran.

19
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai
berikut.

• Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa


(student centered) artinya pembelajaran yang lebih memberikan peluang kepada
siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri (self directed) dan
dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction).
• Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman
atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan. Model pembelajaran adalah
rangkaian proses pembelajaran yang mencakup pendekatan, strategi, metode,
teknik dan taktik pembelajaran
• Model pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dirancang oleh guru,
yang sifatnya baru, tidak seperti biasanya dilakukan, dan bertujuan untuk
memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuan sendiri dalam rangka
proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensi dan
perbedaan yang dimiliki siswa dan membawa siswa untuk berpikir inovatif.
• Macam-macam model pembelajaran inovatif diantaranya adalah discovery
learning, problem based learning, pembelajaran kontekstual, pembelajaran
kooperatif, pembelajaran inkuiri, pembelajaran Jigsaw, dan pembelajaran role
playing.

3.2 SARAN
Bagi seorang guru atau calon guru sangatlah penting mengerti dan memahami
tentang konsep teori media pembelajaran inovatif. Dimana sebelum memberikan
sebuah materi atau pembelajaran diharapkan seorang guru mampu dan mengerti tentang
cara efekrif pemilihan lingkungan belajar yang sesuai dan mendukung terhadap
tercapainya tujuan pembelajaran yang baik.

20
LATIHAN SOAL

Kerjakanlah soal-soal di bawah ini!

1. Jelaskan maksud dari pembelajaran inovatif dan model pembelajaran inovatif menurut
pemahaman saudara sendiri!
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan model pembelajaran kooperatif dan berikan contoh
lain dari penerapan model pembelajaran tersebut dalam Matematika!
3. Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang model pembelajaran Jigsaw?
4. Sebutkan dan jelaskan beberapa langkah-langkah dalam model pembelajaran inkuiri!
5. Menurut saudara, dari model-model pembelajaran yang telah diuraikan di atas,
manakah model pembelajaran inovatif yang paling baik?

21
DAFTAR PUSTAKA

Lebi, D. E. (2020). Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Untuk Materi Himpunan Pada Siswa
Kelas VII SMP SWASTA Muhammadiyah Ende Tahun Pelajaran 2014/2015.
Scientifical Colloquia: Jurnal Pendidikan Matematika Universitas Flores, 3(1), 33-40.

Maryati, I. (2018). Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Materi Pola
Bilangan di Kelas VII Sekolah Menengah Pertama. Jurnal “Mosharafa”, 7(1), 63-73.

Sulastri, A. (2016). Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika untuk


Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(1), 156-170.

Tibahary, A. R., & Muliana. (2018). MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF.


Scolae: Journal of Pedagogy, 1(1): 54-64.

Huda,Fatkhan Amirul. 2018. “Pengertian dan Langkah-Langkah Model Pembelajaran Inkuiri


(Inquiry Learning)”, [Link]
pembelajaran-inkuiri-inquiry-learning/, diakses pada 26 Februari 2023.

Riadi Muchlisin. 2021. ”Model Pembelajaran Inkuiri”,


[Link]
diakses pada 26 Februari 2023.

Juniardi Wilman. 2023. “Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw beserta Tujuan, Ciri-Ciri,
Langkah-Langkah dan Contoh Sintaks”, [Link]
guru/model-pembelajaran-jigsaw/, diakses pada 27 Februari 2023.

Kikiismayanti. 2017. “Model pembelajaran matematika tipe jigsaw”,


[Link]
jigsaw-73452298, diakses pada 27 Februari 2023.

Banyumas Ekpres. 2019. “Penerapan Role Playing dalam Pembelajaran Matematika


Kontekstual”, [Link]
playing-dalam-pembelajaran-matematika-kontekstual/02/04/2019/, diakses pada 27
Februari 2023.

22
Santyasa, I. W. (2007). Model-model pembelajaran inovatif. Universitas Pendidikan

Ganesha.

Samudera, Sahara Adjie, dkk. (2018). Pengembangan Keterampilan Mengaplikasikan


Pembelajaran Inovatif. Makalah.

23

Anda mungkin juga menyukai