0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan16 halaman

Work-Life Balance Pegawai Bank Yogyakarta

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan bagi pegawai bank di Bank Setia Yogyakarta. 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk mengetahui pengalaman pegawai bank dalam mengatur keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pegawai bank memiliki dua dunia yang berbed

Diunggah oleh

Septiar Mulyadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan16 halaman

Work-Life Balance Pegawai Bank Yogyakarta

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan bagi pegawai bank di Bank Setia Yogyakarta. 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi untuk mengetahui pengalaman pegawai bank dalam mengatur keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pegawai bank memiliki dua dunia yang berbed

Diunggah oleh

Septiar Mulyadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor, Tahun 2021, Halaman 1

[Link] ISSN (Print) : 2337-3814

WORK-LIFE BALANCE TERHADAP PEGAWAI BANK


STUDI FENOMENOLOGI PADA BANK SETIA DI
YOGYAKARTA
Evanea Setiadewi Hartono1, Mirwan Surya Perdhana2
1,2
Magister Manajemen, Universitas Diponegoro

mirwan@[Link]

Abstrak
Kesibukan antara pekerjaan dengan mengurus pemenuhan kebutuhan pribadi
seringkali menjadi masalah. Keseimbangan kehidupan-kerja menjadi penentu antara
keseimbangan diantara keduanya. Keseimbangan kehidupan-kerja mengukur
bagaimana seseorang dapat mengatasi permasalahan yang dialami oleh seorang
pekerja. Pegawai bank di Yogyakarta adalah salah satunya yang memiliki masalah
tersebut. Tujuan Penelitian ini untuk menguji dan menganalisis bagaimana
karyawan bank mengatur antara keseimbangan kehidupan dan pekerjaan para
karyawan di Bank Setia di Yogyakarta. Metode Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan menggunakan Interpretative
Phenomenological Analysis (IPA). Jumlah partisipan peneliti adalah 8 partisipan
pegawai bank. Lokasi penelitian adalah di bank Setia di Yogyakarta. Hasil dari
penelitian adalah pegawai bank seperti memiliki dua dunia yang berbeda ketika
harus berhadapan dengan dua kehidupan tersebut, yakni antara menyelesaikan
urusan pada kehidupan pekerjaan dan mengurus berbagai hal pada kehidupan
pribadinya. Masing-masing kehidupan tidak serta merta dapat mengisi satu sama
lain, karena keduanya telah memiliki porsinya masing-masing untuk dijalankan.

Kata kunci: kesibukan pekerjaan, kebutuhan pribadi, keseimbangan, dua


kehidupan, pegawai bank, keseimbangan kehidupan-kerja, Fenomenologi,
Yogyakarta.

PENDAHULUAN

Konsep keseimbangan kehidupan-pekerjaan telah banyak di teliti di berbagai profesi.


Hanya saja, masih sedikit yang meneliti keseimbangan kehidupan-pekerjaan di
kalangan perbankan. Pekerja perbankan memiliki kesibukan yang tinggi. Menurut
Gröpel & Kuhl (2009), menyeimbangkan kehidupan dan pekerjaan berkontribusi
besar dalam kesuksesan seseorang. Ketidakmampuan menyeimbangkan hal tersebut
dapat berakibat pada munculnya depresi, gangguan kesehatan, tidak masuk kerja, dan
keinginan untuk berhenti kerja Cortese, Colombo, & Ghislieri (2010) dan Franche et
al. (2006).

Permasalahan di work-life balance di industri perbankan umumnya disebarkan


karena jam kerja yang tinggi. Jadi banyak kasus, karyawan masih harus menerima
email atau pesan yang terkait tentang pekerjaan diluar jam kantor. Sehingga secara
tidak langsung karyawan tidak bisa membatasi Antara pekerjaan dan kehidupan
pribadi (Job Street, 2018). Perusahaan perbankan harus memberikan waktu
fleksibilitas kepada karyawan agar dapat mengatur waktu luang diluar jam kantor.

1
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 2

Sehingga karyawan bisa berkomitmen kepada diri sendiri, opsi untuk bekerja dari
rumah, dan cuti yang ramah dalam membantu mereka untuk menjaga keseimbangan
kehidupan-kerja yang tepat (Geetha & Rajendran, 2017).

Di mana dalam penelitian ini, metode penelitian yang akan digunakan adalah
memakai metode kualitatif dengan menggunakan sampel untuk diteliti adalah
informan yang bekerja sebagai karyawan Bank Setia Yogyakarta. Pendekatan
penelitian yang akan digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan
fenomenologi. Pendekatan ini cocok digunakan untuk mengetahui mengenai hal-hal
apa saja yang pernah dialami, dilakukan serta mengingat kembali peristiwa apa yang
pernah terjadi maupun dirasakan terkait keseimbangan antara kehidupan dan
pekerjaan para karyawan bank tersebut. Metode kualitatif dalam penelitian ini
memakai teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam atau in-depth
interview. Teknik peengumpulan tersebut dipakai agar bisa mendapatkan hasil yang
lengkap (Crescentini & Mainardi, 2009).
Berdasarkan yang dijelaskan di latar belakang, maka rumusan permasalahan yang
diangkat pada penelitian ini sebagai berikut: Bagaimana karyawan bisa mengatur
keseimbangan kehidupan dengan pekerjanya di Bank Setia Yogyakarta? Untuk
menguji dan menganalisis bagaimana karyawan bank mengatur antara keseimbangan
kehidupan dan pekerjaan para karyawan di Bank Setia Yogyakarta.

PENGERTIAN WORK-LIFE BALANCE


Keseimbangan kehidupan kerja adalah subjek yang dibahas secara intensif.
Namun, meski banyak publikasi yang masih belum ada penggunaan yang seragam
dari istilah maupun komponennya.
Menurut Burke & Greenglass (1999) dan Kossek & Ozeki (1998), sikap kerja,
karyawan yang melaporkan konflik tingkat tinggi dari kehidupan pekerjaan dan
kehidupan sosial cenderung menunjukkan tingkat kepuasan kerja dan komitmen
organisasi yang lebih rendah. hasil dari dua arah konflik termasuk pengurangan
upaya kerja, penurunan kinerja, dan peningkatan absensi dan turnover (Anderson,
Coffey, & Byerly, 2002; Aryee, 1992; Frone, Yardley, & Markel, 1997; Greenhaus,
Collins, Singh, & Pasuraman, 1997; Wayne, Musisca, & Fleeson, 2004). Baik
konflik dalam kehidupan pekerjaa dan kehidupan sosial juga dikaitkan dengan
peningkatan stres dan kelelahan, mengalami kesulitan kognitif (harus tetap terjaga,
kurang konsentrasi, dan rendah), kewaspadaan dan penurunan tingkat kesehatan dan
energi secara umum (Anderson et al., 2002; Frone, Russell, & Barnes, 1996;
Kinnunen & Mauno, 1998; MacEwen & Barling, 1994).
Sementara mayoritas penelitian keseimbangan kehidupan-kerja berfokus pada
tanggung jawab karyawan, ada juga penelitian yang mengakui komitmen kepada
teman dan kelompok masyarakat, memperluas populasi yang terkena dampak ke
hamper semua karyawan (Beauregard, 2007; Tausig & Fenwick, 2001).
Ada beberapa aspek keseimbangan kehidupan-kerja menurut (B. McGrath,
2012), yaitu:
a. Jadwal Kerja Flexibel
Seorang karyawan hanya bekerja lima jam dalam satu hari, kemudian akan
membawa tiga jam ke hari berikutnya.
b. Pekerja Paruh Waktu

2
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 3

Organisasi dapat menghemat pengeluaran menggunakan pekerjaan paruh


waktu sebagai Alternative Work Arrangements, pertama yang memberikan
upah yang lebih rendah dan yang kedua dengan mengilangkan manfaat yang
mungkin termasuk cuti rumah sakit dan pembayaran liburan (Kelliher &
Anderson, 2008).
c. Telekomunikasi
Telekomunikasi dikenal sebagai istilah teleworking, flexplace, dan kantor
virtual. Menurut Pearlson & Saunders (2001), telekomunikasi mencangkup
pekerja secara teratur dalam bekerja di rumah untuk sebagai penghubung ke
kantor bisnis mereka.
d. Jadwal Kerja Terkompresi
Selain berbagai pengaturan kerja alternative yang dibahas sejaun ini, banyak
organisasi telah focus pada minggu kerja yang terkompresi. Dikarenakan
biaya telah meningkat Selama dekade terakhir.

DIMENSI WORK-LIFE BALANCE


Ada empat dimensi dalam keseimbangan kehidupan-kerja menurut Fisher,
Bulger, & Smith (2009), yaitu:
a. Kehidupan Pribadi Mengganggu Pekerjaan
Misalnya, individu memiliki permasalahan dalam kehidupan pribadinya. Dari
permasalahan tersebut dapat mengganggu kinerja individu pada saat bekerja.
b. Pekerjaan Mengganggu Kehidupan Pribadi
Misalnya, individu bekerja dan sulit untuk mengatur waktu untuk kehidupan
pribadinya. Hal ini bisa mengganggu pekerjaan dan individu bisa menjadi
stress dan depresi.
c. Kehidupan Pribadi Meningkatkan Kualitas Pekerjaan
Misalnya, individu merasa senang dengan kehidupan pribadinya yang
menyenangkan. Maka individu dapat membuat suasana hati menjadi
menyenangkan.
d. Pekerjaan Meningkatkan Kualitas Kehidupan Pribadi
Misalnya, individu mempunyai keahlian di tempat kerja. Hal ini
kemungkinan individu bisa memanfaatkan keahlian dalam aktivitas sehari-
hari dalam bekerja.
Dalam penelitian ini, aspek yang akan digunakan adalah dimensi yang
dikemukakan oleh Fisher et al. (2009) yaitu, Kehidupan Pribadi Mengganggu
Pekerjaan, Pekerjaan Mengganggu Kehidupan Pribadi, Kehidupan Pribadi
Meningkatkan Kualitas Pekerja, Pekerjaan Meningkatkan Kualitas Kehidupan.

METODE PENELITIAN

Metode kualitatif adalah merupakan jenis penelitian yang ingin digunakan.


Penelitian Kualitatif lebih memfokuskan diri seorang individu dalam konteksnya
berhubungan sosial serta interaksinya dengan sesama. Penelitian kualitatif tidaklah
berupa penelitian yang disusun berdasarkan penghitungan statistika.

Dalam penelitian kualitatif terdapat berbagai macam pendekatan seperti


contohnya fenomenologi, grounded theory, case study, naratif dan etnography.
Namun, dalam sebuah penelitian kualitatif jarang dilakukan adalah dengan

3
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 4

menggunakan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini dilakukan untuk


mengetahui dan menganalisis wawancara mendalam (Creswell, 2013). Seperti, apa
dan bagaimana para karyawan bank Setia di Kota Yogyakarta dalam mengatur
keseimbangan antara kehidupan dengan pekerjaannya, dan yang dapat memaparkan
serta mengetahuinya secara langsung adalah diri mereka sendiri sehingga pendekatan
fenomenologi ini dianggap paling tepat untuk digunakan. Dalam sebuah penelitian
fenomenologi, biasanya informan akan lebih memaparkan berdasarkan apa yang
mereka rasakan, memahami dan mengerti makna yang terkandung, informan akan
diam sejenak karena mereka sedang mencoba mengingat kembali (Helaluddin,
2018).

SAMPLE & POPULASI

Untuk menentukan sampel dan populasi, peneliti memilih Bank Setia di Kota
Yogyakarta sebagai objek penelitian dimana disana terdapat para karyawan yang
bekerja dengan berbagai macam posisi dan jabatan. Masing-masing dari para
karyawan tentunya memiliki kesibukan dan jam yang berbeda-beda, inilah yang
dirasa tepat untuk mengetahui struktur keseimbangan dalam kehidupan dan
pekerjaannya. Berdasarkan pendekatan fenomenologi, diketahui bahwa informan
yang dapat digunakan adalah berjumlah 8 partisipan.

DATA DESKRIPTIF

Peneliti telah berhasil melakukan observasi lapangan dan dilanjut dengan


proses pengambilan data berupa wawancara dengan seluruh partisipan dalam
penelitian ini. Partisipan yang sudah diwawancarai sejumlah 8 orang. Mereka berasal
dari berbagai jenis posisi dan jabatan di Bank Setia tersebut. Peneliti pertama kali
datang ke objek penelitian dengan membawa surat permohonan izin untuk
melakukan kegiatan penelitian. Peneliti bertemu dengan Ibu Wilis selaku Manajer
Kredit Administrasi di bank tersebut. Kedatangan peneliti disambut baik oleh yang
berasangkutan. Ia mengetahui maksud dan tujuan kedangan peneliti kesana sehingga
peneliti merasa dimudahkan untuk melakukan proses pengambilan data selanjutnya.
Proses pengambilan data berjalan dengan lancar selama kurang lebih 10-20 menit.
Selama proses wawancara, peneliti mengambil data dengan cara merekam suara atau
audio dan mendokumentasikan kegiatan wawancara dalam bentuk hasil jebretan
kamera atau foto. Setelah peneliti berhasil menghimpun data di lapangan dengan
seluruh partisipan, peneliti kemudian mulai melakukan proses pengolahan data.
Proses pengolahan data dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah dalam melakukan
penelitian kualitatif.

Hal pertama yang peneliti lakukan adalah memindahkan hasil rekaman suara
kedalam bentuk teks kata-kata yang disebut transkip wawancara. Dari transkip
wawancara ini kemudian peneliti masukkan kedalam bentuk tabel matriks. Tabel
matriks adalah salah satu tahap dalam proses pengolahan data penelitian kualitatif.
Tabel matriks berisikan seluruh transkip wawancara secara mendetail dari seluruh
partisipan. Tabel matriks membantu peneliti untuk menemukan codes yang
merupakan inti dari rangkaian kalimat percakapan dari masing-masing partisipan.
Selanjutnya temuan codes ini peneliti mengkelompokkan sesuai dengan sinonim dan

4
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 5

padanan kata yang sama dan sejenis sehingga memunculkan temuan baru yang
disebut sub-categories. Sub-categories telah berisikan kesatuan dari codes yang
sejenis sehingga bentuk sub-categories ini dapat di rangkum berdasarkan makna
yang sejenis sehingga mengerucut menjadi categories. Apabila categories telah
ditemukan maka akan memudahkan peneliti untuk melakukan penyusunan
interpretasi dan hasil pembahasan pada bab ini. Interpretasi peneliti lakukan sesuai
dengan penafsiran pribadi peneliti. Nantinya interpretasi ini peneliti masukkan
kedalam lampiran validasi data berupa form member checking technique. Validasi
data ini akan diperiksa secara langsung oleh partisipan. Apabila partisipan
menyetujui atas apa yang peneliti tuangkan dalam form tersebut maka peneliti
mempersilahkan mereka untuk melakukan checklist atau menandatangani form
validasi data tersebut.

PROFIL PARTISIPAN

Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari 8 orang. Jenis kelamin partisipan
adalah 4 perempuan dan 4 laki-laki. Dengan jumlah sampel partispan tersebut,
peneliti sudah mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan. Partisipan
penelitian merupakan pegawai bank bernama Bu Lilis, Bu Rose, Pak Widi, Pak
Anang, Pak Anto, Bu Dyah, Pak Usum dan Bu Mega. Keseluruhan nama partispan
sengaja disamarkan untuk menjaga rahasia identitas partisipan. Berikut ini profil dari
8 partisipan Pegawai bank:

a. Bu Lilis selaku partisipan 1 adalah seorang perempuan berusia 40 tahun


dengan lama bekerja 11-20 tahun. Pendidikan terakhir Bu Lilis adalah
Sarjana S1. Status Ibu Lilis menikah dan dikaruniai 2 anak. Gaji perbulannya
sekitar Rp. 14.000.000,- (empat belas juta rupiah) dengan jabatannya Manajer
Kredit Administrasi. Peneliti bertemu partisipan di rumah pada tanggal 24
November 2019. Peneliti mewawancarai pada jam 14:54-15:05.
b. Bu Rose selaku partisipan 2 adalah seorang perempuan berusia 44 tahun
dengan lama bekerja 11-20 tahun. Pendidikan terakhir Bu Lilis adalah
Pascasarjana S2. Status Ibu Lilis menikah tetapi tidak mempunyai anak. Gaji
perbulannya sekitar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dengan jabatannya
Manager Secure Credit. Peneliti bertemu partisipan di kantor pada tanggal 03
Januari 2020. Peneliti mewawancarai pada jam 11:36-11:53.
c. Pak Widi selaku partisipan 3 adalah seorang laki-laki berusia 43 tahun
dengan lama bekerja 6-10 tahun. Pendidikan terakhir Pak Widi Sarjana S1.
Status Pak Widi adalah Menikah dan dikaruniai 2 anak. Pak Widi tidak ingin
membicarakan soal gajinya karena tidak ingin disampaikan atau privasi
partisipan. Jabatan Pak Widi Loan Document Safe Keeping Staff. Peneliti
bertemu partisipan di kantor pada tanggal 03 Januari 2020. Peneliti
mewawancarai pada jam 13:21-13:35.
d. Pak Anang selaku partisipan 4 adalah seorang laki-laki berusia 30 tahun
dengan lama bekerja 1-5 tahun. Pendidikan terakhir Pak Anang Sarjana S1.
Status Pak Anang adalah Menikah dan dikaruniai 1 anak. Gaji perbulannya
sekitar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) dengan jabatan Loan Document
Safe Keeping Staff. Peneliti bertemu partisipan di kantor pada tanggal 03
Januari 2020. Peneliti mewawancarai pada jam 13:40-13:54.

5
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 6

e. Pak Silo selaku partisipan 5 adalah seorang laki-laki berusia 43 tahun dengan
lama bekerja 11-20 tahun. Pendidikan terakhir Pak Silo Sarjana S1. Status
Pak Silo adalah Menikah dan dikaruniai 2 anak. Pak Silo tidak ingin
membicarakan soal gajinya karena tidak ingin disampaikan atau privasi
partisipan. Jabatan Pak Silo Asisten Manajer. Peneliti bertemu partisipan di
kantor pada tanggal 03 Januari 2020. Peneliti mewawancarai pada jam 13:56-
14:12.
f. Bu Dyah selaku partisipan 6 adalah seorang perempuan berusia 35 tahun
dengan lama bekerja 6-10 tahun. Pendidikan terakhir Bu Dyah adalah
Pascasarjana S2. Status Ibu Dyah menikah dan dikaruniai 1 anak. Gaji
perbulannya sekitar Rp. 7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan
jabatannya Anggota Loan Document Safe Keeping Staff. Peneliti bertemu
partisipan di kantor pada tanggal 15 Januari 2020. Peneliti mewawancarai
pada jam 14:54-15:05.
g. Pak Usum selaku partisipan 7 adalah seorang laki-laki berusia 38 tahun
dengan lama bekerja 6-10 tahun. Pendidikan terakhir Pak Usum Sarjana S1.
Status Pak Usum adalah Menikah dan dikaruniai 3 anak. Gaji perbulannya
sekitar Rp. 7.500.000,- (tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dengan jabatannya
Anggota Loan Document Safe Keeping Staff. Peneliti bertemu partisipan di
kantor pada tanggal 03 Januari 2020. Peneliti mewawancarai pada jam 15:07-
15:17.
h. Bu Mega selaku partisipan 8 adalah seorang perempuan berusia 52 tahun
dengan lama bekerja lebih dari 20 tahun. Pendidikan terakhir Bu Mega adalah
Pascasarjana S2. Status Ibu Mega menikah dan dikaruniai 1 anak. Gaji
perbulannya sekitar Rp. 12.000.000,- (dua belsas juta rupiah) dengan
jabatannya Anggota Tim Setingkat KASI. Peneliti bertemu partisipan di
kantor pada tanggal 15 Januari 2020. Peneliti mewawancarai pada jam 14:31-
15:41.

HASIL DAN PEMBAHSAN


Penelitian ini dilaksanakan di kota Yogyakarta. Pertimbangan peneliti ini
mengambil lokasi ini dikarenakan skala roda bisnis dari bank tersebut yang paling
besar adalah Kota Yogyakarta.
Berdasarkan hasil wawancara dan analisis data penelitian mengenai Work-life
balance Terhadap Pegawai Bank Setia di Kota Yogyakarta, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
A. Kehidupan Pribadi Mengganggu Pekerjaan
Simpulan peneliti pada dimensi kehidupan pribadi mengganggu pekerjaan terkait
kehidupan yang menyulitkan adalah sebagai berikut:
a. Permasalahan pasti timbul jika kebutuhan pribadi tidak terpenuhi.
b. Pekerjaan dan kehidupan adalah hal yang tidak bisa dicampur. Tetapi
pekerjaan adalah hal utama untuk hadir dibandingkan kehidupan pribadi.
Mereka yang workaholic menjadi melewatkan berbagai hal dan
menurunkan kehidupan pribadinya. Mereka kurang mengatur dan
membutuhkan hari libur panjang dibandingkan yang lain.
c. Jika memikirkan pekerjaan selalu tidak ada habisnya. Seseorang
kesulitan bekerja jika otak terlalu fokus dan memiliki permasalahan
pribadi dalam bekerja. Permasalahan di kehidupan pribadi menjadi utama

6
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 7

yang tidak bisa dicampuri. Kesulitan ini berada di jabatan tertinggi dan
memiliki ektra pekerjaan. menjadi susah dikendalikan.
d. Permasalahan pribadi biasanya tidak menyangkut pekerjaan tetapi justru
sebaliknya. Permasalahan pribadi dapat mengganggu pekerjaan.
Sehingga tidak dapat terselesaikan. Permasalahan pribadi seperti
mempunyai anak yang masih kecil sehingga harus bekerja ekstra.
Dibandingkan itu, ada hal seperti bertengkar di dalam kehidupan pribadi.
e. Saat pulang kerja, biasanya pekerja pada bersemangat bertemu
keluarganya. Tetapi hal ini tidak terjadi jika seseorang tinggal sendirian.
Tugas-tugas kantor selalu pertama dibandingkan tugas rumah.
f. Kehidupan pribadi selalu mengganggu bagi yang mempunyai
permasalahan didalamnya. Ada beberapa yang bisa mengendalikan
pekerjaan dan kehidupan meskipun banyak kekurangan tetapi mereka
ingin kepribadiannya postif.
g. Berbeda dengan yang sudah berpengalaman bekerja. Semakin sedikit
permasalahan di kehidupan pribadi semakin bisa mengendalikan.

Simpulan peneliti pada dimensi kehidupan pribadi mengganggu pekerjaan terkait


kehidupan pribadi yang sederhana adalah sebagai berikut:
a. Salah satu hal yang berpengaruh dalam kehidupan pribadi adalah sebuah
kebutuhan yang tidak boleh dihindari. Tetapi ada hal-hal yang membuat
mereka memilih Antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Hal-hal
tersebut adalah seperti rapat kantor atau rapat keluarga. Tidak setiap hari
mereka lembur di akhir bulan.
b. Kepentingan pribadi adalah salah satu yang membuat mereka kurang
menerima. Selama mereka bekerja ada hal diluar dugaan menjadi
kekhawatiran mereka seperti jadwal makan diundur maupun deadline
yang mereka kurang menjaga kepentingan pribadi.
c. Kadang jika kita bisa mengontrol diri, pekerjaan menjadi ringan. Tetapi
terkadang juga tidak bisa mengontrol diri, pekerjaan adalah beban yang
kita bawa. Setiap orang berbeda permasalahan dan beban yang ada di
pikiran diri sendiri. Ini bisa menjadi titik batas seseorang. Jika seseorang
ada permasalahan pribadi maka menjadi mengganggu. Dan jika
permasalahan tersebut ringan maka tidak mengganggu.
d. Jika banyak tuntutan kerja, terkadang membuat kita kurang semangat.
Seseorang yang melembur sampai malam, sampai rumah kurang
semangat meskipun permasalahan di kantor belum selesai. Tetapi jika
permasalahan sudah selesai dan bebas tugas kantor, maka bisa merasa
bersemangat pulang lebih awal.
e. Kehidupan sederhana dirasa adalah keadaan ketidaksiapan dalam
permasalahan. Ini tidak bisa disamakan dengan yang lain. Ada
permasalahan tetapi juga ada penyelesaian dalam mengaturnya. Tetapi
mereka yang sudah berpengalaman bisa mengatur dan hal ini tidak
mendukung bagi mereka meskipun masih ada kekurangan dalam yang
lainnya.
Simpulan peneliti pada dimensi kehidupan pribadi mengganggu pekerjaan terkait
kehidupan pribadi yang harmonis adalah sebagai berikut:

7
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 8

a. Tingkat harmonis bisa berbeda dari setiap orangnya. Ada beberapa


partisipan mereka merasa, kehidupan pribadi tidak megganggu pekerjaan
Karena mereka bisa mengatur dan mengelola. Di setiap pekerjaan juga
memiliki porsi sendiri-sendiri agar berbeada dengan yang lainnya. Jadi
tidak menanggung sendiri.
b. Pekerjaan dirasa tidak menyulitkan kehidupan pribadi meskipun banyak
tuntutan, mereka tidak merasa sulit. Justru mereka senang dan
mendapatkan pengalaman sebelumnya. Selain hal itu, ada kegiatan di
kehidupan pribadi dan menjadi tidak terlalu menyulitkan pekerjaan.
c. Saat pada pulang kerja, mereka semua bersemangat untuk sampai rumah.
Ada yang sampai rumah melanjutkan tugas atau kewajiban rumah
tangga.
d. Kehidupan pribadi bahagia karena ada dorongan dari keluarga seperti
melengkapi kebutuhan sehari-hari.
e. Mereka tidak mengabaikan kebutuhan pribadi karena menjaga kesehatan
agar tidak merepotkan bagi keluarganya. Dan rekan-rekan kantor.
f. Kehidupan pribadi begitu bahagia atau menenangkan. Terutama jika
mereka telah merasa stres, biasanya pelariannya adalah aktivitas hobi
seperti olah raga dan teman-teman sehobi. Atau biasanya aktivitas
bersama teman-teman bisa shopping di mall atau menikmati di luar kerja.
Tetapi dalam pekerjaan mereka bisa mencukupi kebutuhan pribadi.
g. Mereka yang bisa mengatur berbagai hal karena dapat
mengelompokkannya sesuai porsinya [Link] pulang kerja
ada yang melanjutkan aktivitas hobi seperti olah raga, ia bersemangat
karena pelepasan stres.
B. Pekerjaan Mengganggu Kehidupan Pribadi
Simpulan peneliti pada dimensi pekerjaan mengganggu kehidupan pribadi terkait
lingkungan beban kerja adalah sebagai berikut:
a. Dalam kehidupan kerja, mereka mengabdikan lebih banyak waktu untuk
pekerjaan karena, mereka dituntut bekerja sampai 12 jam. Mereka tidak
punya waktu untuk kehidupan pribadinya.
b. Rata-rata mereka menguras tenaga. Karena pada awal masa bekerja,
mereka membawa tenaga penuh, akan tetapi pada saat bekerja tenaganya
menurun. Akibatnya tidak semangat dalam bekerja. Saat pulang kerja,
mereka lelah dan istirahat di rumah.
c. Terdapat partisipan yang masih membawa urusan pekerjaan sampai
kedalam rumah. Ia merasa tidak bisa mengatur kehidupannya karena
jabatannya.
d. Ada perasaan khawatir seputar hal-hal diluar pekerjaan. Hal-hal tersebut
seperti perkumpulan keluarga, kegiatan dengan teman atau rekan, sampai
malam minggu-an. Ia tidak bisa karena mempunyai tuntutan pekerjaan.
e. Adanya tuntutan, beban kerja berlebih hingga berakibat lelah bekerja.
Tetapi tidak berpengaruh bagi mereka yang pekerjaan enjoy dan asik.
Mereka mempunyai rekan kerja yang menyenangkan. Itulah yang
membuat mereka pekerjaan tidak menjadi beban.
Simpulan peneliti pada dimensi pekerjaan mengganggu kehidupan pribadi terkait
lingkungan kerja enjoy adalah sebagai berikut:

8
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 9

a. Mereka tidak selalu mengabdikan lebih banyak waktu untuk pekerjaan.


Mereka bisa mengatur dan menjadwalkan. Mereka senang dengan adanya
cuti tahunan untuk tidak masuk kerja. Meskipun mereka lebih banyak di
kantor tetapi ada saatnya libur yaitu hari sabtu dan minggu.
b. Pekerjaan menjadi lebih menyenangkan karena mereka suka dengan
pekerjaannya dan tidak memikirkan hal-hal negatif. Mereka mempunyai
cara bagaimana pekerjaan tidak menjadi bosan dengan aktivitasnya.
Mereka berkerjasama untuk membuat tempat kerja menjadi
menyenangkan.
c. Meski merasa tugas pekerjaan tidak ada habisnya, tetapi mereka mampu
menempatkan hal-hal yang terpenting diluar pekerjaan. Hal-hal seperti
pertemuan keluarga, ataupun aktivitas hobi. Tetapi mereka tidak selalu
khawatir hal-hal diluar pekerjaan. Mereka bisa mengatur dan
menjadwalkan aktivitas-aktivitas mereka. Mereka memanfaatkan cuti
tahunan.
d. Mereka dapat memotivasi diri seperti menyemangati diri sendiri. Hal itu
membuat pekerjaan lebih efektif. Tetapi mereka tidak selalu bersemangat
karena mereka kadang-kadang harus memprioritaskan pekerjaan tetapi
juga memprioritaskan kehidupannya.
e. Dalam pekerjaan terkadang ada hal yang sulit dan ada yang mudah,
namun mereka memilih untuk melakukannya secara mudah. Tugas itu
tergantung seseorang yang memilih. Mereka tidak selalu menemui
kesulitan di pekerjaan. Terkadang mereka butuh motivasi dengan rekan
kerja.
Simpulan peneliti pada dimensi pekerjaan mengganggu kehidupan pribadi terkait
lingkungan kerja mengasyikan adalah sebagai berikut:
a. Mereka tidak mencampurkan masalah dalam kehidupan pribadinya.
Setiap tugas yang dikerjakan berbeda dengan yang lainnya. Mereka
mempunyai kehidupan masing-masing, permasalahan berbeda pula.
b. Mereka merasa tidak menguras tenaga karena saat bekerja, terlebuh
adanya dukungan dari orang-orang disekitar. Terdapat rekan kerja yang
saling membantu dan mendukung. Dan saat bekerja mereka mempunyai
tujuan yaitu untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
c. Mereka masih memiliki semangat yang besar. Terutama jika semangat
itu datang dari rekan-rekan seprofesi dan memiliki jadwal yang efektif
dan dapat memajukan perusahaan.
d. Dalam bekerja terdapat permasalahan yang sulit namun diselesaikan.
Tetapi mereka merasa bisa menyelesaikan permasalahan yang sulit.
Teamwork-lah menjadi kekuatan yang sebenarnya. Pengalaman bekerja
mereka dapat memecahkan permasalahannya.
e. Pekerjaan menjadi menyenangkan jika rekan-rekan kerja membagikan
pengalaman kerjanya seperti, sharing Knowledge. Seseorang menjadi
senang dan permasalahan dunia kerja akan terlewati. Jika dipikirkan
sendiri tanpa bergabung dengan teman-teman. Hal tersebut bisa menjadi
stres dan menurunnya kinerja.
f. Pekerjaan punya batas waktu. Ini menjadi penting dimana mereka
bekerja sampai jam yang telah di tentukan. Mereka tidak merasa khawatir
dalam berbagai hal di luar pekerjaan. Hal di luar pekerjaan seperti

9
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 10

pertemuan keluarga maupun sekolah anak. Mereka merasa tidak khawarir


hal itu karena ada jatah cuti tahunan yang bisa mereka gunakan.
g. Urusan pekerjaan tidak harus atau tidak wajib di tanggung sendirian.
Waktu yang ia gunakan ada batasannya dan tidak sampai seharian di
kantor.
C. Kehidupan Pribadi Meningkatkan Kualitas Pekerjaan
Simpulan peneliti pada dimensi kehidupan pribadi meningkatkan kualitas pekerjaan
terkait dukungan (support) keluarga adalah sebagai berikut:
a. Mereka diberi kekuatan oleh setiap anggota keluarganya. Mereka yang
sudah berkeluarga dapat memenuhi kebutuhannya sekaligus menjadi
support dari dalam. Jika keluarga bahagia maka didalam diri bisa
meningkat untuk bekerja.
b. Mereka tidak pernah merasa jika pekerjaan adalah beban, jika harus
dilakukan maka akan dilakukan pada hari berikutnya. Mereka sebelum
bekerja mendapatkan suasana semangat dari keluarga dan menjadi
kualitas pekerjaan meningkat.
c. Merasa bahwa kehidupan pribadi dan pekerjaan sama-sama dapat
dikendalikan. Saat mereka dikantor, mereka bekerja dengan baik. Saat
dirumahpun mereka dapat menjalankan tugas rumah.
d. Dalam diri mereka adanya support keluarga merupakan kunci utama
dalam meningkatkan kualitas pekerjaan.
Simpulan peneliti pada dimensi kehidupan pribadi meningkatkan kualitas pekerjaan
terkait motivasi kerja adalah sebagai berikut:
a. Motivasi diri menjadi sumber terkuat. Mereka memiliki pengaruh
psikologi yang membuat mereka memotivasi diri sendiri. Mereka akan
tetap optimis bekerja dan bersemangat dengan kualitas yang mereka
capai.
b. Didalam kehidupan pribadi, mereka bisa meningkatkan kualitas dengan
sharing Knowledge. Mereka merasa dengan adanya pengalaman yang
bisa dibagi dan menyiapkan saran-saran yang berguna.
c. Mereka tidak terlalu memikirkan pekerjaan. jika ada permasalahan di
pekerjaan mereka melakukan dengan santai.
d. Kehidupan pribadi yang berkualitas dapat meningkatkan support dalam
diri dan bisa bekerja lebih baik. Tetapi, berbeda dengan seseorang yang
memiliki ketidaksatbilan emosi dan kurang mengontrol diri sendiri.
Simpulan peneliti pada dimensi kehidupan pribadi meningkatkan kualitas pekerjaan
terkait ketidakstabilan emosi adalah sebagai berikut:
a. Ketika sedang menjalani hari-hari, terkadang mereka tidak siap untuk
bekerja untuk hari berikutnya. Karena mereka lelah dalam bekerja dan
ingin libur sejenak. Mereka punya tanggung jawab seperti, momong
anaknya. Sesampainya bekerja, mereka mempunyai sedikit tenaga.
b. Kehidupan pribadi tidak sepenuhnya baik. Hal ini terkadang masih
terbawa oleh mereka-mereka yang bekerja di kantor, sehingga mood
mereka tidak selalu baik. Mereka tidak suka berlama-lama di kantor
karena membuat mereka stres dan kekurangan tenaga dalam mengurus
tugasnya.
c. Terlalu mementingkan perasaan emosional justru akan menjadi stres
yang berlebihan. Tetapi beda dengan mereka yang meningkatkan kualitas

10
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 11

dengan support dan motivasi diri. Meskipun mereka emosi dalam


pekerjaan, mereka tetap tenang dan menjalankan dengan baik.
Simpulan peneliti pada dimensi kehidupan pribadi meningkatkan kualitas pekerjaan
terkait kelelahan kerja adalah sebagai berikut:
a. Merasa kelelahan saat bekerja justru menurunkan kualitas pekerjaan. Ia
tidak selalu merasa lebih baik saat di kantor. Karena, dalam kehidupan
pribadinya kurang mengatur dan meningkatkan resiko stress yang
berlebihan. Sebagai ibu rumah tangga, pasti banyak yang dipikirkan.
b. Kelelahan bekerja ternyata dapat menurunkan kualitas kerja. Tetapi
berbeda dengan mereka yang mengontrol emosi dengan baik. Meskipun
masih ada kekurangan, mereka tidak patah semangat dalam
meningkatkan kualitas kerja. Disamping itu, mereka juga dapat support
dari keluarga dan memotivasi diri sendiri untuk bersaing satu dengan
yang lainnya.
D. Pekerjaan Meningkatkan Kualitas Kehidupan Pribadi
Simpulan peneliti pada dimensi pekerjaan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi
terkait gaji adalah sebagai berikut:
a. Seseorang pasti bekerja untuk mendapatkan gaji. Dari hasil kerja keras
mereka, mereka mendapatkan penghasilan dan bonus untuk mencukupi
kebutuhan pribadi maupun keluarganya.
b. Mereka bekerja untuk keluarga dan memenuhi kebutuhan pribadi.
Semangat mereka dalam bekerja dari support keluarga.
c. Mereka akan merasa baik dirumah daripada di kantor. Saat mereka
pulang, mereka bertemu keluarga dan menyisihkan waktu untuk
keluarganya. Meskipun mereka lembur sampai malam hari, mereka tetap
bertemu keluarga.
d. Beberapa orang di kantor justru dapat membantu partisipan ketika sedang
menghadapi permasalahan pribadi. Meskipun beberapa dari mereka suka
menceritakan permasalahan pribadi, mereka tetap ingin membicarakan
dan mendapatkan solusi atau saran yang tepat.
Simpulan peneliti pada dimensi pekerjaan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi
terkait psikologis adalah sebagai berikut:
a. Dalam urusan pekerjaan, hal-hal tertentu dapat mendorong berbagai hal
di luar pekerjaan terutama dengan sharing Knowledge. Beberapa orang
membutuhkan dorongan yang dapat melakukan hal penting di luar
pekerjaan. Mereka bekerja dan mendapatkan teman untuk berbagi
pengalaman dan kerjasama tim untuk meningkatkan kualitas
pekerjaannya.
b. Pekerjaan yang menumpuk dapat membuat mereka stress apalagi jika
membawa pekerjaan sampai pulang ke rumah. Tetapi mereka tidak selalu
merasa lebih baik saat di rumah. Karena, mereka selalu menyeleseaikan
tugas sebelum pulang. Terkadang pekerjaan yang belum selesai dibawa
pulang untuk diselesaikan secepat mungkin. Tetapi mereka tidak
menyukainya dan tidak dapat menyisihkan waktu bersama keluarganya.
c. Permasalahan pribadi seharusnya tidak boleh di ceritakan saat bekerja.
Tetapi dalam dunia kerja, ia tidak terlalu bisa membantu dalam
menghadapi permasalahan pribadi. Karena, menurutnya ada batas-
batasan untuk bercerita dengan rekan kerja.

11
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 12

d. Seharusnya peningkatan kualitas diri bisa menambah semangat


tersendiri, nyatanya tidak. Tetapi beda dengan mereka yang semangat
juangnya tinggi untuk keluarga dan kurang mementingkan diri sendiri.
Simpulan peneliti pada dimensi pekerjaan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi
terkait pengaturan diri adalah sebagai berikut:
a. Pada permasalahan pribadi yang mereka hadapi saat kerja, kurang
membantu. Karena mereka beranggapan, dunia kerja bukanlah
menceritakan hal-hal diluar pekerjaan. Jika permasalahan pribadi disebar
luaskan dan malah menjadi kelemahan dalam persaingan.
b. Mereka yang lelah dalam bekerja dan tugas menumpuk, tidak merasa
lebih baik saat di rumah. Karena, pekerjaan yang belum selesai, mereka
bawa pulang untuk melanjutkan pekerjaannya. Menurut mereka, tidak
suka pekerjaan dibawa pulang dan kurang menikmati waktu untuk
keluarga.
c. Pekerjaan yang mereka kerjakan seharusnya mampu mendorong untuk
dapat melakukan hal penting lainnya diluar pekerjaan, namun faktanya
tidak. Karena, ia masih kurang berpengalaman dan masih butuh
bimbingan untuk mengurus kehidupan pribadi.
d. Terdapat pemicu dalam ketidakmampuan melakukan pengaturan diri.
Tetapi berbeda dengan mereka yang semangat mencari uang dan
menaikkan jabatan seseorang. Mereka mempunyai semangat besar dalam
memenuhi kebutuhan keluarga.

KESIMPULAN

Work-Life Balance menjadi penentu apakah seseorang mampu melakukan


keseimbangan antara kehidupan pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Work-Life
Balance memiliki 4 dimensi utama yang peneliti gunakan untuk diteliti. Masing-
masing dimensi telah peneliti teliti dan uraikan sehingga peneliti mampu melihat
berbagai temuan fakta yang muncul didalam penelitian ini. Maka, berdasarkan hasil
olah data dan temuan akhir dari penelitian ini, peneliti telah menyimpukan jika work-
life balance yang dijalani oleh para pegawai bank Setia di Yogyakarta dimana
mereka bertindak selaku partisipan penelitian ini, adalah sebagai berikut:

1. Dimensi Kehidupan Pribadi Mengganggu Pekerjaan

Pegawai Bank Setia diketahui memiliki permasalahan dalam kehidupan


pribadi. Permasalahan pasti timbul jika kebutuhan pribadi tidak terpenuhi,
selalu memikirkan urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya, serta menyadari
bahwa antara pekerjaan dan kehidupan adalah hal yang tidak bisa dicampur
adukkan. Meski kehidupan pribadi mereka juga dinyatakan sebagai
kehidupan harmonis dan kehidupan sederhana, namun pada kenyataannya
temuan paling dominan justru mengacu pada faktor-faktor kehidupan pribadi
yang bersifat negatif (seperti diatas tadi) yang dapat menganggu segala
urusan pekerjaan mereka. Kehidupan pribadi terbukti mengganggu pekerjaan.

2. Dimensi Pekerjaan Mengganggu Kehidupan Pribadi

12
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 13

Pegawai Bank Setia diketahui memiliki masalah pekerjaan yang mengganggu


kehidupan pribadi. Masalah utama tersebut tidak lain adalah berkaitan dengan
beban pekerjaan. Beban pekerjaan menyebabkan adanya gangguan terhadap
lingkungan tempat mereka bekerja dan menganggu urusan pekerjaan lainnya.
Beban pekerjaan yang berlebih dapat menjadikan pegawai Bank Setia
menjadi stress, apalagi jika masalah ini sampai mereka bawa pulang ke
rumah. Secara otomatis, ini sangat mengganggu kehidupan pribadi yang
mereka jalani. Pekerjaan terbukti mengganggu kehidupan pribadi.

3. Dimensi Kehidupan Pribadi Meningkatkan Kualitas Pekerjaan

Pegawai Bank Setia diketahui memiliki masalah berkaitan dengan stagnasi


pekerjaan. Akan tetapi, berdasarkan temuan penelitian, faktor positif dalam
kehidupan pribadi, seperti adanya dukungan (support) dan motivasi diri
secara seimbang berhadapan langsung dengan faktor-faktor yang justru tidak
meningkatkan kualitas pekerjaan mereka, seperti ketidakstabilan emosi dan
kelelahan kerja. Pegawai bank Setiadewi secara dilematis harus merasakan
bahwa adanya hal-hal postif dalam kehidupan pribadinya, akan tetapi ini tidak
juga meningkatkan kualitas pekerjaan mereka karena perasaan yang paling
sering mereka sadari adalah bahwa urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi
tidak dapat dicampur adukkan. Kehidupan pribadi tidak sepenuhnya terbukti
dapat meningkatkan kualitas pekerjaan.

4. Dimensi Pekerjaan Meningkatkan Kualitas Kehidupan Pribadi

Pegawai bank Setia diketahui sangat menomor satukan urusan pekerjaannya.


Mereka bekerja untuk mendapatkan gaji. Dalam konteks pemenuhan
kebutuhan dan mendapatkan gaji, pekerjaan terlihat mampu meningkatkan
kualitas kehidupan pribadi mereka. Namun, apabila dilihat dari konteks
psikologis dan pengaturan diri, faktor stress dan kelelahan untuk mengatur
berbagai macam hal justru menjadi pendorong penurunan kualitas kehidupan
pribadi mereka. Secara berimbang, antara kehidupan pekerjaan dan
kehidupan pribadi sama-sama berada pada posisi yang sama. dapat
diuntungkan (meningkat), namun juga dapat merugikan (menurunkan).
Dimensi pekerjaan tidak sepenuhnya terbukti dapat meningkatkan kualitas
kehidupan pribadi.

IMPLIKASI PENELITIAN

Work-life balance selama ini masih diteliti sebagai sesuatu yang menyatakan
takaran atau indikator dalam menentukan apakah seseorang sudah seimbang dalam
menjalankan kehidupan pekerjaannya dan kehidupan pribadinya. Padahal faktanya,
masih banyak temuan-temuan lain yang dapat digali secara mendalam sehingga
diketahui seperti apa kehidupan yang seimbang yang seharusnya dilakukan oleh
seorang individu pada kehidupannya.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa antara kehidupan pekerjaan dengan


kehidupan pribadi tidak dapat dicampur adukkan, ini menjadikan partisipan sebagai

13
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 14

seorang pegawai bank menjadi semakin tidak mampu dalam membagi atau mengatur
waktu dan dirinya. Kemudian diharapkan agar mereka dapat memperbaiki tata kelola
waktu (time management) serta membuat agenda-agenda aktivitas secara terstruktur
agar kedua hal dalam kehidupan yang berbeda tersebut tidak berbenturan dan dapat
berjalan secara beriringan. Jika ini dilakukan, pasti akan terasa dampak positif yang
saling mengisi antara satu sama lain. Kehidupan pribadi akan berdampak baik pada
kehidupan pekerjaan, begitu pula kehidupan pekerjaan akan berdampak baik pada
kehidupan pribadi.

SARAN PENELITIAN

Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan agar peneliti selanjutnya dapat


meneliti tentang work life balance dari semua kalangan profesi, jadi tidak hanya
terfokus pada kalangan pegawai bank saja. Masih banyak kalangan profesi dengan
tingkat kesibukan dan kepadatan dalam aktivitas mereka yang cocok dan sangat
berpeluang untuk diteliti. Berbagai temuan dan fakta yang ada dalam penelitian ini
dapat dijadikan sebagai pijakan dasar/awal bagi peneliti selanjutnya untuk
memahami permasalahan apa saja yang biasanya muncul terkait penelitian yang
menyasar pada work-life balance. Disarankan pula agar work-life balance dapat
memunculkan apakah ada hasil temuan-temuan lain atau tidak, terutama apabila
tidak hanya menggunakan 4 dimensi yang peneliti gunakan. Tujuannya adalah agar
tema work-life balance yang nantinya sedang diteliti dapat meluas kedalam berbagai
aspek lainnya.

KETERBATASAN PENELITIAN

Agenda untuk penelitian mendatang diharapkan agar peneliti selanjutnya dapat


melakukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana kesejahteraan work-life balance
dari setiap individu atau pekerja profesional. Penelitian mendatang dapat menambah
khasananh keilmuan serta menambah deretan fakta yang terungkap mengenai
keseimbangan kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Penelitian juga dapat
diteliti menggunakan metode penelitian lainnya agar dapat diketahui hasil akurat
berupa bilangan angka dan pembuktian lainnya. Karena dalam penelitian ini peneliti
menggunakan metode penelitian kualitatif, agenda untuk penelitian mendatang
tidaklah harus sama dengan apa yang peneliti lakukan pada penyusunan penelitian
ini.

DAFTAR PUSTAKA
Anderson, S. E., Coffey, B. S., & Byerly, R. T. (2002). Formal Organizational
Initiatives and Informal Workplace Practices : Links to Work – Family
Conflict and Job-Related Outcomes. Journal Of Management, 28(6), 787–
810.
Aryee, S. (1992). Antecedent and Outcomes Of Work-Family Conflict Among
Married Professional Women: Evidence from Singapore. Human Relations,
45(8).
B. McGrath, C. (2012). Balancing Work And Family: A Qualitative Exploratory
Study Of Alternative Work Arrangements And Employee Preferences In The
Manufacturing Sector.

14
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 15

Beauregard, T. A. (2007). Precditing Interference Between Work And Home: A


Comparison Of Dispotional and Situational Aantecedenet. Journal of
Managerial Psychology, 21(3), 244–264.
Burke, R. J., & Greenglass, E. R. (1999). Work-Family Conflict , Spouse Support ,
and Nursing Staff Well-Being During Organizational Restructuring. Jurnal Of
Occupational Health Psychology, 4(4), 327–336.
[Link]
Cortese, C. G., Colombo, L., & Ghislieri, C. (2010). Determinants of nurses’ job
satisfaction: The role of work-family conflict, job demand, emotional charge
and social support. Journal of Nursing Management, 18(1), 35–43.
[Link]
Crescentini, A., & Mainardi, G. (2009). Qualitative research articles: Guidelines,
suggestions and needs. Journal of Workplace Learning, 21(5), 431–439.
[Link]
Creswell, J. (2013). Qualitative Inquiry & Research Design: Choosing Among Five
Approaches. In SAGE Publications (Vol. 11).
Fisher, G. G., Bulger, C. A., & Smith, C. S. (2009). Beyond Work and Family : A
Measure of Work / Nonwork Interference and Enhancement. 14(4), 441–456.
[Link]
Franche, R. L., Williams, A., Ibrahim, S., Grace, S. L., Mustard, C., Minore, B., &
Stewart, D. E. (2006). Path analysis of work conditions and work-family
spillover as modifiable workplace factors associated with depressive
symptomatology. Stress and Health, 22(2), 91–103.
[Link]
Frone, M. R., Russell, M., & Barnes, G. M. (1996). Work-Family Conflict , Gender ,
and Health-Related Outcomes : A Study of Employed Parents in Two
Community Samples. Journal Of Occupational Psychology, 1(1), 57–69.
Frone, M. R., Yardley, J. K., & Markel, K. S. (1997). Developing and Testing an
Integrative Model of theWork– Family Interface. Journal Of Vocational
Behavior, 50, 145–167. Retrieved from
[Link]
e_Model_of_the_Work_Family_Interface
Geetha, S., & Rajendran, D. R. (2017). Comparative Study Of Work-Life Balance
Among Private And Public Sector Banking Employees In Perambalur
District. Journal of Applied Management Science, 3(11), 1–7.
Greenhaus, J. H., Collins, K. M., Singh, R., & Pasuraman, S. (1997). Work and
Family Influences on Departure from Public Accounting. Journal Of
Vocational Behavior, 270(50), 249–270.
Gröpel, P., & Kuhl, J. (2009). Work-life balance and subjective well-being: The
mediating role of need fulfilment. British Journal of Psychology, 100(2),
365–375. [Link]
Helaluddin, H. (2018). Mengenal Lebih Dekat dengan Pendekatan Fenomenologi:
Sebuah Penelitian Kualitatif. research gate.
Job Street. (2018). Ide Yang Dapat Membantu Karyawan Mencapai Work-Life
Balance. Job [Link]. Retrieved from [Link]
resources/ide-yang-dapat-membantu-karyawan-mencapai-work-life-
balance/#.XWy1gygzbIU

15
DIPONEGORO JOURNAL OF ECONOMICS Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021, Halaman 16

Kelliher, C., & Anderson, D. (2008). The International Journal of Human Resource
Management For better or for worse ? An analysis of how flexible working
practices influence employees ’ perceptions of job quality. (July 2013), 37–
41. [Link]
Kinnunen, U., & Mauno, S. (1998). Antecedents and Outcomes of Work-Family
Conflict Among Employed Women and Men in Finland. Human Relations,
51(2). Retrieved from
[Link]
Family_Conflict_Among_Employed_Women_and_Men_in_Finland
Kossek, E. E., & Ozeki, C. (1998). Work-Family Conflict , Policies , and the Job-
Life Satisfaction Relationship : A Review and Directions for Organizational
Behavior-Human Resources Research. Journal Of Applied Psychology,
83(2), 139–149. [Link]
MacEwen, K. E., & Barling, J. (1994). Daily consequences of work interference with
family and family interference with work. Work and Stress, 8(3), 244–254.
[Link]
Pearlson, K. E., & Saunders, C. S. (2001). There ’ s no place like home ; Managing
telecommuting paradoxes. 15(2).
Tausig, M., & Fenwick, R. (2001). Unbinding Time : Alternate Work Schedules and
Work-Life Balance. Journal Of Family and Economic Issues, 22(2), 101–119.
Wayne, J. H., Musisca, N., & Fleeson, W. (2004). Considering the role of personality
in the work – family experience : Relationships of the big five to work –
family conflict and facilitation q. Journal Of Vocational Behavior, 64, 108–
130. [Link]

16

Anda mungkin juga menyukai