0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan16 halaman

Penanganan Partus Prematurus Imminens

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut membahas tentang Partus Prematurus Imminens (PPI) yang merupakan kontraksi uterus disertai perubahan serviks sebelum 37 minggu kehamilan 2) PPI dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi, iskemia janin, distensi uterus, dan faktor risiko lain seperti riwayat prematur, usia ibu, sosial ekonomi, dan lainnya 3) Tatal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
72 tayangan16 halaman

Penanganan Partus Prematurus Imminens

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut membahas tentang Partus Prematurus Imminens (PPI) yang merupakan kontraksi uterus disertai perubahan serviks sebelum 37 minggu kehamilan 2) PPI dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi, iskemia janin, distensi uterus, dan faktor risiko lain seperti riwayat prematur, usia ibu, sosial ekonomi, dan lainnya 3) Tatal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

PARTUS PREMATURUS IMMINENS

Oleh :

Rona Salsabilla Septiwiyanti

201910330311008

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2023
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Partus Prematurus Imminens (PPI) adalah terjadinya kontraksi uterus

disertai dengan perubahan serviks berupa dilatasi dan effacement sebelum 37

minggu usia kehamilan dan berat badan lahir bayi kurang dari 2500 gram atau

menyebabkan kelahira prematur. Partus prematurus imminens juga dapat dipicu

oleh beberapa keadaan seperti infeksi, iskemik pada janin dan distensi uterus.

Terdapat beberapa penyebab persalinan prematur antara lain yaitu

preeklamsi, pendarahan, koriomnitis, penyakit jantung. Selain itu juga terdapat

faktor sosiodemografik seperti stress, pekerjaan ibu karena pekerjaan ibu dapat

meningatkan kejadian persalinan prematur baik melalui kelelahan fisik atau stres

2 yang timbul akibat pekerjaannya, perilaku ibu, usia ibu pada usia 35 tahun

memiliki resiko tinggi kehamilan dan persalinan, sosioekonomi, riwayat

prematur, riwayat KPD, riwayat abortus ibu bersalin yang mengalami prematur

sebagian besar ibu yang tidak ada riwayat abortus, jarak kelahiran, paritas

mempengaruhi karena paritas primipara merupakan faktor resiko terjadinya

persalinan prematur, faktor infeksi dan faktor genetik.

Dampak pada persalinan prematur adalah kemungkinan bayi yang

dilahirkan akan mengalami gangguan beberapa fungsi organ tubuh sehingga

membutuhkan perawatan intensif untuk bertahan hidup. Kemampuan hidup bayi

premature selain ditentukan oleh berat badan, juga ditentukan oleh usia gestasi.

Selain masalah ketahanan hidup, masalah penting lain adalah kualitas hidup
yang di capai oleh bayi prematur dan memiliki berat badan lahir rendah. Selain

itu komplikasi yang dapat terjadi akibat Partus Prematurus Iminens pada ibu

yaitu dapat menyebabkan infeksi endometrium sehingga menyebabkan sepsis

dan lambatnya penyembuhan luka episiotomy. Sedangkan pada bayi memiliki

resiko yang lebih tinggi seperti gangguan resprasi, gagal jantung kongesif,

perdarahan intraventrikel dan kelainan neurologik, hiperbilirubinemia, sepsis

dan kesulitan makan.

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan refarat ini adalah untuk mengetahui dan

memahami tentang Partus Prematurus Imminens sesuai dengan kompetensi

dokter.

1.3 Manfaat

Penulisan dari refarat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

pemahaman, serta memperluas wawasan mengenai komunikasi baik bagi penulis

maupun pembaca.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Partus Prematurus Imminens adalah persalinan yang berlangsung pada

umur kehamilan 20 – 37 minggu dihitung dari hari pertama menstuasi terakhir

(HPMT) (ACOG, 1995). Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa

bayi premature adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37minggu atau

kurang.

Menurut Wibowo (1997), persalinan prematur adalah kontraksi uterus

yang teratur setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum 37 minggu , dengan

interval kontraksi 5 hingga 8 menit atau kurang dan disertai dengan satu atau

lebih tanda berikut: (1) perubahan serviks yang progresif (2) dilatasi serviks 2

sentimeter atau lebih (3) penipisan serviks 80 persen atau lebih. Menurut

Mochtar (1998) partus prematurus yaitu persalinan pada kehamilan 28 sampai

37 minggu, berat badan lahir 1000 sampai 2500 gram.

2.2 Patofisiologi

Secara umum, penyebab persalinan prematur dapat dikelompokan dalam

4 golongan yaitu :

1) Aktivasi prematur dari pencetus terjadinya persalinan

2) Inflamasi/infeksi

3) Perdarahan plasenta

4) Peregangan yang berlebihan pada uterus


Mekanisme pertama ditandai dengan stres dan anxietas yang biasa terjadi

pada primipara muda yang mempunyai predisposisi genetik. Adanya stres fisik

maupun psikologi menyebabkan aktivasi prematur dari aksis Hypothalamus-

Pituitary-Adrenal (HPA) ibu dan menyebabkan terjadinya persalinan prematur.

Aksis HPA ini menyebabkan timbulnya insufisiensi uteroplasenta dan

mengakibatkan kondisi stres pada janin. Stres pada ibu maupun janin akan

mengakibatkan peningkatan pelepasan hormon Corticotropin Releasing

Hormone (CRH), perubahan pada Adrenocorticotropic Hormone (ACTH),

prostaglandin, reseptor oksitosin, matrix metaloproteinase (MMP), interleukin-8,

cyclooksigenase-2, 9 dehydroepiandrosteron sulfate (DHEAS), estrogen plasenta

dan pembesaran kelenjar adrenal.

Mekanisme kedua adalah decidua-chorio-amnionitis, yaitu infeksi

bakteri yang menyebar ke uterus dan cairan amnion. Keadaan ini merupakan

penyebab potensial terjadinya persalinan prematur. Infeksi intraamnion akan

terjadi pelepasan mediator inflamasi seperti pro-inflamatory sitokin (IL-1β, IL-6,

IL-8, dan TNF-α ). Sitokin akan merangsang pelepasan CRH, yang akan

merangsang aksis HPA janin dan menghasilkan kortisol dan DHEAS. Hormon-

hormon ini bertanggung jawab untuk sintesis uterotonin (prostaglandin dan

endotelin) yang akan menimbulkan kontraksi. Sitokin juga berperan dalam

meningkatkan pelepasan protease (MMP) yang mengakibatkan perubahan pada

serviks dan pecahnya kulit ketuban.

Mekanisme ketiga yaitu mekanisme yang berhubungan dengan

perdarahan plasenta dengan ditemukannya peningkatan hemosistein yang akan

mengakibatkan kontraksi miometrium. Perdarahan pada plasenta dan desidua


menyebabkan aktivasi dari faktor pembekuan Xa (protombinase). Protombinase

akan mengubah protrombin menjadi trombin dan pada beberapa penelitian

trombin mampu menstimulasi kontraksi miometrium.

Mekanisme keempat adalah peregangan berlebihan dari uterus yang bisa

disebabkan oleh kehamilan kembar, 10 polyhydramnion atau distensi berlebih

yang disebabkan oleh kelainan uterus atau proses operasi pada serviks.

Mekanisme ini dipengaruhi oleh IL-8, prostaglandin, dan COX-2.

2.3 Manifestasi Klinis

a. Kontraksi uterus yang teratur sedikitnya 3 sampai 5 menit sekali

selama 45 detik dalam waktu minimal 2 jam .

b. Pada fase aktif, intensitas dan frekuensi kontraksi meningkat saat

pasien melakukan aktivitas.

c. Tanya dan cari gejala yang termasuk faktor risiko mayor dan minor

d. Usia kehamilan antara 20 samapi 37 minggu

e. Taksiran berat janin sesuai dengan usia kehamilan antara 20 sampai 

37 minggu.

f. Presentasi janin abnormal lebih sering ditemukan pada persalinan

preterm

2.4 Diagnosis

Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman PPI, yaitu:

1) Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau antara 140 dan 259 hari,

2) Kontraksi uterus (his) teratur, yaitu kontraksi yang berulang sedikitnya

setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit,
3) Merasakan gejala seperti rasa kaku di perut menyerupai kaku menstruasi,

rasa tekanan intrapelvik dan nyeri pada punggung bawah (low back

pain),

4) Mengeluarkan lendir pervaginam, mungkin bercampur darah,

5) Pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa serviks telah mendatar 50-80%,

atau telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm,

6) Selaput amnion seringkali telah pecah,

7) Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina isiadika.

Kriteria lain yang diusulkan oleh American Academy of Pediatrics dan The

American Collage of Obstetricians and Gynecologists (1997) untuk

mendiagnosis PPI ialah sebagai berikut:

1) Kontraksi yang terjadi dengan frekuensi empat kali dalam 20 menit atau

delapan kali dalam 60 menit plus perubahan progresif pada serviks,

2) Dilatasi serviks lebih dari 1 cm,

3) Pendataran serviks sebesar 80% atau lebih.

2.4 Tatalaksana

Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada PPI, terutama untuk

mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm ialah:

1) Menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolitik,

yaitu

a. Kalsium antagonis: nifedipin 10 mg/oral diulang 2-3 kali/jam,

dilanjutkan tiap 8 jam sampai kontraksi hilang. Obat dapat


diberikan lagi jika timbul kontaksi berulang. dosis maintenance

3x10 mg.

b. Obat ß-mimetik: seperti terbutalin, ritrodin, isoksuprin, dan

salbutamol dapat digunakan, tetapi nifedipin mempunyai efek

samping yang lebih kecil. Salbutamol, dengan dosis per infus: 20-

50 μg/menit, sedangkan per oral: 4 mg, 2-4 kali/hari

(maintenance) atau terbutalin, dengan dosis per infus: 10-15

μg/menit, subkutan: 250 μg setiap 6 jam sedangkan dosis per

oral: 5-7.5 mg setiap 8 jam (maintenance). Efek samping dari

golongan obat ini ialah: hiperglikemia, hipokalemia, hipotensi,

takikardia, iskemi miokardial, edema paru.

c. Sulfas magnesikus: dosis perinteral sulfas magnesikus ialah 4-6

gr/iv, secara bolus selama 20-30 menit, dan infus 2-4gr/jam

(maintenance). Namun obat ini jarang digunakan karena efek

samping yang dapat ditimbulkannya pada ibu ataupun janin.

Beberapa efek sampingnya ialah edema paru, letargi, nyeri dada,

dan depresi pernafasan (pada ibu dan bayi).

d. Penghambat produksi prostaglandin: indometasin, sulindac,

nimesulide dapat menghambat produksi prostaglandin dengan

menghambat cyclooxygenases (COXs) yang dibutuhkan untuk

produksi prostaglandin. Indometasin merupakan penghambat

COX yang cukup kuat, namun menimbulkan risiko

kardiovaskular pada janin. Sulindac memiliki efek samping yang


lebih kecil daripada indometasin. Sedangkan nimesulide saat ini

hanya tersedia dalam konteks percobaan klinis.

Untuk menghambat proses PPI, selain tokolisis, pasien juga perlu

membatasi aktivitas atau tirah baring serta menghindari aktivitas seksual.

Kontraindikasi relatif penggunaan tokolisis ialah ketika lingkungan intrauterine

terbukti tidak baik, seperti:

a) Oligohidramnion

b) Korioamnionitis berat pada ketuban pecah dini

c) Preeklamsia berat

d) Hasil nonstrees test tidak reaktif

e) Hasil contraction stress test positif

f) Perdarahan pervaginam dengan abrupsi plasenta, kecuali keadaan

pasien stabil dan kesejahteraan janin baik

g) Kematian janin atau anomali janin yang mematikan

h) Terjadinya efek samping yang serius selama penggunaan beta-

mimetik.

2) Akselerasi pematangan fungsi paru janin dengan kortikosteroid,

Pemberian terapi kortikosteroid dimaksudkan untuk pematangan

surfaktan paru janin, menurunkan risiko respiratory distress syndrome

(RDS), mencegah perdarahan intraventrikular, necrotising enterocolitis,

dan duktus arteriosus, yang akhirnya menurunkan kematian neonatus.


Kortikosteroid perlu diberikan bilamana usia kehamilan kurang dari 35

minggu.

Obat yang diberikan ialah deksametason atau betametason. Pemberian

steroid ini tidak diulang karena risiko pertumbuhan janin terhambat.

Pemberian siklus tunggal kortikosteroid ialah:

a) Betametason 2 x 12 mg i.m. dengan jarak pemberian 24 jam.

b) Deksametason 4 x 6 mg i.m. dengan jarak pemberian 12 jam.

Selain yang disebutkan di atas, juga dapat diberikan Thyrotropin

releasing hormone 400 ug iv, yang akan meningkatkan kadar tri-

iodothyronine yang kemudian dapat meningkatkan produksi surfaktan.

Ataupun pemberian suplemen inositol, karena inositol merupakan

komponen membran fosfolipid yang berperan dalam pembentukan

surfaktan.

3) Pencegahan terhadap infeksi dengan menggunakan antibiotik.

Mercer dan Arheart (1995) menunjukkan, bahwa pemberian antibiotika

yang tepat dapat menurunkan angka kejadian korioamnionitis dan sepsis

neonatorum. Antibiotika hanya diberikan bilamana kehamilan

mengandung risiko terjadinya infeksi, seperti pada kasus KPD. Obat

diberikan per oral, yang dianjurkan ialah eritromisin 3 x 500 mg selama

3 hari. Obat pilihan lainnya ialah ampisilin 3 x 500 mg selama 3 hari,

atau dapat menggunakan antibiotika lain seperti klindamisin. Tidak

dianjurkan pemberian ko-amoksiklaf karena risiko necrotising

enterocolitis.
2.5. Komplikasi Partus Prematurus Imminens (PPI)

1) Pada ibu, setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih sering

terjadi mengakibatkan sepsis dan lambatnya penyembuhan luka

episiotomi. Bayi-bayi preterm memiliki risiko infeksi neonatal lebih

tinggi; Morales (1987) menyatakan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang

menderita anmionitis memiliki risiko mortalitas 4 kali lebih besar, dan

risiko distres pernafasan, sepsis neonatal, necrotizing enterocolitis dan

perdarahan intraventrikuler 3 kali lebih besar

2) Sindroma gawat pernafasan (penyakit membran hialin).

Paru-paru yang matang sangat penting bagi bayi baru lahir. Agar

bisa bernafas dengan bebas, ketika lahir kantung udara (alveoli) harus

dapat terisi oleh udara dan tetap terbuka. Alveoli bisa membuka lebar

karena adanya suatu bahan yang disebut surfaktan, yang dihasilkan oleh

paru-paru dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan. Bayi

prematur seringkali tidak menghasilkan surfaktan dalam jumlah yang

memadai, sehingga alveolinya tidak tetap terbuka.

Diantara saat-saat bernafas, paru-paru benar-benar mengempis,

akibatnya terjadi Sindroma Distres Pernafasan. Sindroma ini bisa

menyebabkan kelainan lainnya dan pada beberapa kasus bisa berakibat

fatal. Kepada bayi diberikan oksigen; jika penyakitnya berat, mungkin

mereka perlu ditempatkan dalam sebuah ventilator dan diberikan obat

surfaktan (bisa diteteskan secara langsung melalui sebuah selang yang

dihubungkan dengan trakea bayi).


3) Ketidakmatangan pada sistem saraf pusat bisa menyebabkan gangguan

refleks menghisap atau menelan, rentan terhadap terjadinya perdarahan

otak atau serangan apneu. Selain paru-paru yang belum berkembang,

seorang bayi prematur juga memiliki otak yang belum berkembang. Hal

ini bisa menyebabkan apneu (henti nafas), karena pusat pernafasan di

otak mungkin belum matang. Untuk mengurangi mengurangi frekuensi

serangan apneu bisa digunakan obat-obatan. Jika oksigen maupun aliran

darahnya terganggu. otak yang sangat tidak matang sangat rentan

terhadap perdarahan (perdarahan intraventrikuler) atau cedera .

4) Ketidakmatangan sistem pencernaan menyebabkan intoleransi pemberian

makanan. Pada awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan

membatasi jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian

susu yang terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah. Pada

awalnya, lambung yang berukuran kecil mungkin akan membatasi

jumlah makanan/cairan yang diberikan, sehingga pemberian susu yang

terlalu banyak dapat menyebabkan bayi muntah.

5) Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia

retrolental)

6) Displasia bronkopulmoner.

7) Penyakit jantung.

8) Jaundice.

Setelah lahir, bayi memerlukan fungsi hati dan fungsi usus yang normal

untuk membuang bilirubin (suatu pigmen kuning hasil pemecahan sel


darah merah) dalam tinjanya. Kebanyakan bayi baru lahir, terutama yang

lahir prematur, memiliki kadar bilirubin darah yang meningkat (yang

bersifat sementara), yang dapat menyebabkan sakit kuning (jaundice).

Peningkatan ini terjadi karena fungsi hatinya masih belum matang dan

karena kemampuan makan dan kemampuan mencernanya masih belum

sempurna. Jaundice kebanyakan bersifat ringan dan akan menghilang

sejalan dengan perbaikan fungsi pencernaan bayi.

9) Infeksi atau septikemia.

10) Sistem kekebalan pada bayi prematur belum berkembang sempurna.

Mereka belum menerima komplemen lengkap antibodi dari ibunya

melewati plasenta. Resiko terjadinya infeksi yang serius (sepsis) pada

bayi prematur lebih tinggi. Bayi prematur juga lebih rentan terhadap

enterokolitis nekrotisasi (peradangan pada usus).

11) Anemia .

12) Bayi prematur cenderung memiliki kadar gula darah yang berubah-ubah,

bisa tinggi (hiperglikemia maupun rendah (hipoglikemia).

13) Perkembangan dan pertumbuhan yang lambat.

14) Keterbelakangan mental dan motorik.

2.6. Pencegahan Partus Prematurus Imminens (PPI)

a) Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur

b) Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan

kehamilan dan persalinan preterm.


c) Memberikan nasehat tentang gizi saat kehamilan, meningkatkan pengertian

KB-interval, memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan

sgera melakukan konsultasi, menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan

sehingga secara dini penyakit ibu dapat diketahui dan diawasi / diobati.

d) Meningkatakan keadaan sosial – ekonomi keluarga dan kesehatan

lingkungan

Partus prematurus menurut Mochtar (1998) dapat dicegah dengan

mengambil langkah-langkah berikut ini :

a) Jangan kawin terlalu muda dan jangan pula terlalu tua (idealnya

20 sampai 30 tahun).

b) Perbaiki keadaan sosial ekonomi

c) Cegah infeksi saluran kencing

d) Berikan makana ibu yang baik, cukup lemak , dan protein

e) Cuti hamil

f) Prenatal care yang baik dan teratur

g) Pakailah kontrasepsi untuk menjarangkan anak


BAB III

KESIMPULAN

Prematurus Iminens adalah suatu ancaman pada kehamilan dimana

timbulnya tanda-tanda persalinan pada usia kehamilan yang belum aterm (20

minggu-37 minggu) dan berat badan lahir bayi kurang dari 2500 gram.

Persalinan kurang bulan (prematur) adalah persalinan sebelum usia kehamilan

37 minggu atau bayi berat lahir dengan 500-2499 gram. Persalinan prematur

adalah persalinan yang berlangsung pada usia kehamilan 20 - < 37 minggu

dihitung dari hari pertama haid terakhir. Partus. Persalinan preterm merupakan

persalinan yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu (20-<37

minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram.


DAFTAR PUSTAKA

Iams J.D. 2004. Preterm Labor and Delivery. In: Maternal-Fetal Medicine. 5 th
[Link].
Jafferson Rompas. 2004.
Wiknjosastro, H. ;2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka,
Sarwono Prawirohardjo.
Oxorn Harry, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan
(Human Labor and Birth). Yogyakarta : YEM.
Hariadi, R. 2004. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Surabaya : Himpunan
Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Anda mungkin juga menyukai