8
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Berpikir Kritis
Berpikir kritis menurut Jensen (2011: 195) berpendapat bahwa berpikir
kritis berarti proses mental yang efektif dan handal, digunakan dalam mengajar
pengetahuan yang relevan dan benar tentang dunia. Wijaya (2010: 72) juga
mengungkapkan gagasan mengenai kemampuan berpikir kritis, yaitu kegiatan
menganalisis ide atau gagasan kearah yang lebih spesifik, membedakannya secara
tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji dan mengembangkannya kearah yang
lebih spesifik, membedakannyan secara tajam, memilih, mengidentifikasi,
mengkaji dan mengembangkannya kearah yang lebih sempurna.
Johnson (2009: 183) menyatakan berpikir kritis merupakan sebuah proses
yang terarah dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti:
memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk, menganalisis pendapat
atau asumsi, dan melakukan ilmiah. Cottrel (2005: 1) mengemukakan bahwa
“Critical thinking is a cognitive activity, associated with using the mind” yang
artinya berpikir kritis merupakan aktifitas kognitif, yaitu berhubungan dengan
penggunaan pikiran. Berdasarkan dimensi kognitif Bloom, kemampuan berpikir
kritis menempati bagian dimensi analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6).
Tampak bahwa dimensi-dimensi ini diambil dari sistem taksonomi Bloom yang
telah direvisi oleh Anderson & Krathwohl (2010), maka kemampuan berpikir
kritis menempati bagian dimensi analisis (C4), dan evaluasi (C5), karena pada
versi revisi, dimensi sintesis di integrasikan kedalam dimensi analisis.
8
9
Bobbi De Porter. dkk (2013: 298) menyatakan bahwa berpikir kritis adalah
salah satu keterampilan tingkat tinggi yang sangat penting diajarkan kepada siswa
selain keterampilan berpikir kreatif. Didalam berpikir kritis, kita berlatih atau
memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat, seperti menilai kelayakan suatu
gagasan atau produk. Sedangkan menurut Beyer (Filsaime, 2008: 56) berpikir
kritis adalah sebuah cara berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk
mengevaluasi validitas sesuatu (pertanyaan-pertanyaan, ide-ide, argument, dan
penelitian).
Dari beberapa pendapat para ahli tentang definisi berpikir kritis di atas
dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis (critical thinking) adalah proses mental
untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Untuk memahami informasi
secara mendalam dapat membentuk sebuah keyakinan kebenaran informasi yang
didapat atau pendapat yang disampaikan. Proses aktif menunjukkan keinginan
atau motivasi untuk menemukan jawaban dan pencapaian pemahaman. Dengan
berpikir kritis, maka pemikir kritis menelaah proses berpikir orang lain untuk
mengetahui proses berpikir yang digunakan sudah benar (masuk akal atau tidak).
Secara tersirat, pemikiran kritis mengevaluasi pemikiran yang tersirat dari apa
yang mereka dengar, baca dan meneliti proses berpikir diri sendiri saat menulis,
memecahkan masalah, membuat keputusan atau mengembangkan sebuah proyek.
2.2 Tujuan Kemampuan Berpikir Kritis
Tujuan berpikir kritis adalah meciptakan suatu semangat berpikir kritis
yang mendorong siswa mempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji
pikiran mereka sendiri untuk memastikan tidak terjadi logika yang tidak konsisten
9
10
atau keliru, Nurhadi dan Senduk (2009: 86). Menurut Sapriya (2011: 87), tujuan
berpikir kritis ialah untuk menguji suatu pendapat atau ide, termasuk di dalamnya
melakukan pertimbangan atau pemikiran yang didasarkan pada pendapat yang
diajukan. Pertimbangan-pertimbangan tersebut biasanya didukung oleh kriteria
yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan berpikir kritis dapat mendorong
siswa memunculkan ide-ide atau pemikiran baru mengenai permasalahan tentang
dunia. Siswa akan dilatih bagaimana menyeleksi berbagai pendapat, sehingga
dapat membedakan mana pendapat yang relevan dan tidak relevan, mana pendapat
yang benar dan tidak benar. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa
dapat membantu siswa membuat kesimpulan dengan mempertimbangkan data dan
fakta yang terjadi di lapangan.
2.3 Ciri-Ciri Berpikir Kritis
Ciri-ciri berpikir kritis menurut Wijaya (2010: 72-73) adalah:
1) Mengenal secara rinci bagian-bagian dari keseluruhan.
2) Pandai mendeteksi permasalahan.
3) Mampu membedakan ide yang relevan dengan yang tidak relevan.
4) Mampu membedakan fakta dengan diksi atau pendapat.
5) Mampu mengidentifikasi perbedaan-perbedaan atau kesenjangan-
kesenjangan informasi.
6) Dapat membedakan argumentasi logis dan tidak logis.
7) Mampu mengembangkan kriteria atau standar penilaian data.
8) Suka mengumpulkan data untuk pembuktian faktual.
9) Dapat membedakan diantara kritik membangun dan merusak.
10
11
10) Mampu mengidentifikasi pandangan perspektif yang bersifat ganda yang
cermat.
11) Mampu mengetes asumsi dengan peristiwa dalam lingkungan.
12) Mampu mengkaji ide yang bertentangan dengan peristiwa dalam
lingkungan.
13) Mampu mengidentifikasi atribut-atribut manusia, tempat dan benda,
seperti dalam sifat, bentuk, wujud, dan lain-lain.
14) Mampu mendaftar segala akibat yang mungkin terjadi atau alternatif
pemecahan terhadap masalah.
15) Mampu membuat hubungan berurutan antara kesimpulan generalisasi dari
data yang telah tersedia dengan data yang diperoleh dari lapangan.
16) Mampu menarik kesimpulan generalisasi dari data yang telah tersedia
dengan data yang diperoleh dari lapangan.
17) Mampu menggambarkan konklusi dengan cermat dari data yang tersedia.
18) Mampu membuat prediksi dari informasi yang tersedia.
19) Dapat membedakan konklusi yang salah dan tepat terhadap informasi yang
diterimanya.
20) Mampu menarik kesimpulan dari data yang telah ada dan terseleksi.
2.4 Karakteristik Berpikir Kritis
Menurut Fisher (2008) menyatakan ada 6 karakteristik berpikir kritis
yaitu:
1) Mengidentifikasi masalah
2) Mengumpulkan berbagai informasi yang relevan
11
12
3) Menyusun sejumlah alternatif pemecahan masalah
4) Membuat kesimpulan
5) Mengungkapkan pendapat
6) Mengevaluasi argumen
2.5 Indikator berpikir kritis
Menurut Ennis (2011) terdapat 5 indikator kemampuan berpikir kritis
beserta sub indikator yang dijelaskan sebagai berikut:
Tabel 2.1 Lima Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Menurut Ennis
(2011)
No Indikator Sub Indikator
1 Merumuskan 1) Mengidentifikasi atau merumuskan masalah
pertanyaan
2 Menganalisis argumen 1) Mengidentifikasi kalimat-kalimat pertanyaan
2) Melihat struktur dari suatu argumen
3 Menanyakan dan 1) Menjawab pertanyaan
menjawab pertanyaan
4 Menilai kredibilitas 1) Kemampuan memberikan alasan
sumber informasi
5 Melakukan observasi 1) Merekam hasil observasi
dan menilai laporan 2) Menggunakan bukti-bukti yang benar
hasil observasi
12
13
2.6 Penelitian Relevan
No Nama / Tahun Judul Hasil Penelitian
1 Retni (2015) Kemampuan Secara umum tingkat kemampuan
berpikir kritis berpikir kritis matematis
matematis mahasiswa melalui pendekatan
mahasiswa konstruktivisme pada mata kuliah
melalui matematika keuangan
pendekatan dikategorikan kurang dengan rata-
konstruktivisme rata 33,13. Berdasarkan indikator
pada mata kuliah kemampuan berpikir kritis
matematika mtematis, mahasiswa tergolong
keuangan. kurang dan sangat kurang pada
indikator 2, 3,4, dan 5. Adapun
indikator kemampuan berpikir
kritis yang sering muncul adalah
kemampuan menginterpretasikan
dengan kategori cukup yaitu 55,67
sedangkan yang jarang muncul
adalah kemampuan penjelasan
(Explanation) dengan kategori
sangat kurang.
2 Amrullah Kemampuan Hasil menunjukkan bahwa nilai
Maguna berpikir kritis setiap indikator yang digunakan
(2014) mahasiswa calon berada pada kategori sangat kurang
guru pada materi kritis. Nilai tertinggi pada indikator
kelistrikan. yang digunakan adalalh
keterampilan menganalisis.
3 Zumisa Nudia Kemampuan Berdasarkan hasil penelitian,
Prayoga berpikir kritis diketahui bahwa sebelum
(2013) siswa pada pembelajaran, rata-rata persentase
pembelajaran kemampuan berpikir kritis siswa
materi pada materi pengelolaan
pengelolaan lingkungan dari ke-4 kelas yang
lingkungan diteliti menunjukkan hasil yang
dengan relatif sama, yaitu termasuk dalam
pendekatan kategori jelek. Hasil uji Kruskall-
keterampilan Wallis menunjukkan bahwa
proses sains. sebelum pembelajaran tidak ada
perbedaan yang signifikan antara
kemampuan berpikir kritis siswa
pada materi pengelolaan
lingkungan dari 4 kelas tersebut,
sehingga dapat diartikan bahwa
kemampuan berpikir kritis awal
siswa antara dua kelas eksperimen
13
14
No Nama / Tahun Judul Hasil Penelitian
dan dua kelas kontrol pada materi
pengelolaan lingkungan sama. Hal
ini memenuhi salah satu
karakteristik penelitian eksperimen
yang dikemukakan oleh Ruseffendi
(2001) dalam Duda (2010), bahwa
equivalensi subjek dalam
kelompok-kelompok yang berbeda
perlu ada, agar bila ada hasil yang
berbeda yang diperoleh oleh
kelompok itu bukan disebabkankan
karena tidak equivalennya
kelompok-kelompok itu, tetapi
karena adanya perlakuan.
Secara menyeluruh perbedaan jenis penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya terletak pada bentuk penelitian yang dilakukan, dimana bentuk
penelitian sebelumnya merupakan eksprerimen dan penelitian tindakan kelas.
Sedangkan peneliti menggunakan lembar checklist atau pengamatan untuk
dianalisis atau untuk melihat kemampuan berpikir kritis.
14
15
2.7 Alur Pemikiran
15