Strategi Penanganan Anak Kesulitan Belajar
Strategi Penanganan Anak Kesulitan Belajar
oleh:
KELOMPOK 10
MUHAMMAD RIDHA : NIM 210101010100
FATMAWATI : NIM 210101010113
RAHMAD : NIM 210101010730
Oleh:
الرحيــم
ّ الرحمن
ّ بــسم الله
Segala puji hanyalah bagi Allah SWT, atas segala limpahan karunia, nikmat,
dan petunjuk-Nya sehingga pada akhirnya makalah ini dapat selesai. Shalawat serta
salam selalu kita haturkan kepada panutan kita, Nabi Besar Muhammad Saw, keluarga,
sahabat, dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Alhamduillah atas izin-Nya dan
atas kerja sama yang baik dari teman-teman yang telah memberikan ide-idenya,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah yang berjudul “Strategi
dan Tantangan dalam Penanganan Anak Berkesulitan Belajar” dengan tepat
waktu, sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Kami sampaikan terima kasih banyak kepada Bapak Arif Rahman Heriansyah,
M.A selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar
Spesifik yang telah mempercayakan kepada kami untuk menyelesaikan makalah ini
dengan sebaik-baiknya. Juga kepada kedua orang tua serta teman-teman sekalian yang
selalu memberikan dukungan kepada kami.
Harapan kami, semoga makalah ini mampu memberikan manfaat dalam
meningkatkann pengetahuan sekaligus wawasan kepada kita semua. Penulis berharap
kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Kelompok 10
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 Pasal 32 ayat 1 yang bunyinya “pendidikan
khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan
dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental,
sosial dan / atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”.
Pendidikan merupakan salah satu bentuk usaha untuk meningkatkan mutu
sumber daya manusia. Di Indonesia sendiri praktik penyelenggaraan pendidikan
bagi anak berkebutuhan khusus telah diselenggarakan oleh Lembaga-lembaga
Sosial Masyarakat (LSM) maupun kelompok-kelompok keagamaan sejak 1901.
Pendidikan sangat dibutuhkan bagi anak-anak untuk mencapai kesejahteraan sosial
dan hidupnya. Semua anak berhak mendapatkan pendidikan tak terkecuali anak-
anak yang segi fisik maupun mental nya kurang atau berbeda dari anak normal
lainnya.
Pemerintah telah bertindak menyediakan fasilitas pendidikan khusus bagi para
anak berkebutuhan khusus (ABK). Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2003 pada Pasal 5 Ayat 1, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang
sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Pasal 32 ayat 1 UU No. 20
tahun 2003, pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan
fisik, emosional, mental, sosial dan / atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa. Dilanjutkan pada ayat 2, pendidikan layanan khusus merupakan
pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau keterbelakang, masyarakat
adat yang terpencil, dan / atau yang mengalami bencana alam, bencana sosial dan
tidak mampu dari segi ekonomi.
Dalam perwujudan dari pasal diatas pemerintah telah membentuk Sekolah Luar
Biasa (SLB). Akan tetapi SLB dianggap sebagai tembok pemisah antara anak-anak
pada umumnya dan anak yang berkebutuhan khusus. Dalam mengatasi masalah ini
1
perlu disediakan berbagai layanan pendidikan yang sesuai dengan anak
berkebutuhan khusus, baik dari sarana dan prasarana, guru, serta lingkungan. Bagi
anak berkebutuhan khusus, pendidikan inklusi memiliki peran memberi
kesempatan mereka untuk belajar bersama siswa-siswa lain seusianya yang tidak
berkebutuhan khusus. Sekolah inklusi merupakan sekolah yang dianggap tepat bagi
anak berkebutuhan khusus. Pratiwi dalam (Ilahi, 2013: 25), menjelaskan bahwa
sekolah inklusi adalah sekolah regular yang disesuaikan dengan kebutuhan anak
yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa pada
satu kesatuan yang sistemik. Sekolah inklusi juga memberikan kesempatan bagi
anak berkebutuhan khusus agar dapat mengenyam pendidikan yang adil.
Agar terciptanya keberlangsungan pendidikan inklusi perlu adanya faktor
pendukung yang paling penting yaitu partisipasi dari semua komponen didalamnya
meliputi kepala sekolah, guru, orang tua, masyarakat, bahkan sarana dan prasarana
yang ada di sekolah seperti ketersediaan petugas kesehatan dan lainnya. Kolaborasi
antara sekolah dan komunitas juga menjadi kunci keberhasilan pendidikan inklusif
(Amka, 2019). Namun dalam pelaksanaannya, pendidikan inklusi tidak berjalan
lancar seperti yang di bayangkan. Terdapat berbagai tantangan dan hambatan yang
harus dihadapi baik dari dalam maupun luar sekolah. Amka (dalam Ainscow dan
Haile-Giorgis (1999), menjelaskan bahwa ketika orang mendorong langkah menuju
praktik pendidikan yang lebih inklusif, mereka juga harus realistis dengan
hambatan yang akan dihadapi. Tantangan dan hambatannya berasal dari siswa,
guru, orang tua, masyarakat, sekolah, dll.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian strategi, tantangan, dan penanganan?
2. Bagaimana strategi dan tantangan dalam penanganan anak berkesulitan
belajar di lingkungan pendidikan (sekolah)?
3. Apa harapan dari pemakalah untuk pendidikan ABK?
2
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian strategi, tantangan, dan penanganan.
2. Mengetahui strategi dan tantangan dalam penanganan anak berkesulitan
belajar di lingkungan pendidikan (sekolah).
3. Mengetahui harapan dari pemakalah untuk pendidikan ABK.
3
BAB II
PEMBAHASAN
1
Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, Cet. 1 (Jakarta: GemaInsani, 2001), h.
153-157
2
Fandi Tjiptono, Strategi Pemasaran, Cet. Ke-II (Yogyakarta: Andi,2000) h. 17
4
1) Menurut Alfred Chandler strategi adalah penetapan sasaran dan arahan
tindakan serta alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
2) Menurut Kenneth Andrew strategi adalah pola sasaran, maksud atau tujuan
kebijakan serta rencana. Rencan penting untuk mencapai tujuan itu yang
dinyatakan dengan cara seperti menetapkan bisnis yang dianut dan jenis atau
akan menjadi apa jenis organisasi tersebut.
3) Menurut Buzzel dan Gale strategi adalah kebijakan dan keputusan kunci yang
digunakan untuk manajemen, yang memiliki dampak besar pada kinerja
keuangan. Kebijakan dan keputusan ini biasanya melibatkan sumber daya
yang penting dan tidak dapat diganti dengan mudah.3
Strategi adalah rencana yang menyeluruh dalam rangka pencapaian tujuan
organisasi. Bagi perusahaan, strategi diperlukan tidak hanya untuk memperoleh
proses sosial dan manejerial dengan mana individu dan kelompok memperoleh
apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan cara menciptakan serta
mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain.4
Strategi merupakan faktor yang paling penting dalam mencapai tujuan
perusahaan, keberhasilan suatu usaha tergantung pada kemampuan pemimpin
yang busa dalam merumuskan strategi yang digunakan. Strategi perusahaan
sangat tergantung dari tujuan perusahaan, keadaaan dan lingkuangan yang ada.
Strategi adalah keseluruhan upaya, dalam rangka mencapai sasaran dan mengarah
kepengembangan rencana marketing yang terinci.5
Pengertian Tantangan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan tantangan merupakan hal
atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi
3
Agustinus Sri Wahyudi. Manajemen Strategi, (Jakarta: Binarupa Aksara,1996), h. 19
4
Setyo Soedrajat, Manajemen Pemasaran Jasa Bank, (Jakarta:Ikral Mandiri Abadi,1994),
h.17
5
Philip Kotler. Marketing Management, (Jakarta: Pren Hallindo,1997), h. 8
5
masalah artinya sebuah hal yang membuat kita semakin tekad dalammelakukan
sesuatu dan mendapatkan hasil.6
Pengertian Penanganan
Penanganan menurut KBBI artinya proses, cara, perbuatan menangani,
penggarapan. Menurut Arso Martopo dan Soegiyanto dalam bukunya
“Penanganan Muatan” (2016:07) penanganan muatan merupakan suatu istilah
dalam kecakapan pelaut, yaitu pengetahuan tentang memuat dan membongkar
muatan dari dan ke atas kapal sedemikian rupa agar terwujud lima prinsip
pemuatan yang baik. Lima prinsip pemuatan yang baik diantaranya melindungi
awak kapal dan buruh, melindungi kapal, melindungi muatan, melakukan muat
bongkar secara tepat dan sisematis serta penggunaan ruang muat semaksimal
mungkin.7
6
T1_742016005_BAB [Link] ([Link]), h.1
7
3. BAB [Link] ([Link]), h.1
8
Ni Luh Gede Karang Widiastuti, “Karakteristik dan Model Layanan Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan Belajar”, Jurnal Kajian Pendidikan Widya Accarya FKIP Universitas Dwijendra, Maret
2019, hlm. 2.
6
a. Penataran terhadap Guru
Guru perlu mengetahui dan memahami tentang masalah anak
berkesulitan belajar spesifik, sehingga mereka dapat diajak bekerja sama untuk
menangani. Sejak Sekolah Dasar anak harus sudah ditangani, jika perlu
sebelum Sekolah Dasar. Betapa besar kerugian yang ditanggung anak apabila
tidak ditangani sedini mungkin karena anak merupakan masa depan negara dan
bangsa. Penataran yang diberikan kepada guru Sekolah Dasar meliputi
masalah-masalah kesulitan belajar, pengetahuan (pengertian, ciri, geiala.
penyebab) anak berkesulitan belajar spesifik, cara-cara penanganan anak
berkesulitan belajar spesifik dan pengamatan terhadap anak berkesulitan belajar
spesifik.
Sedangkan tujuan diberikan penataran, yaitu:
1) Dapat melakukan pengamatan awal terhadap anak-anak yang
menunjukkan gejala berkesulitan belajar.
2) Dapat melakukan deteksi dini dengan menggunakan alat yang
sederhana.
3) Dapat menganalisis gangguan yang dialami anak, sebagai petunjuk
mengadakan rujukan.
4) Dapat merujuk anak kepada dokter anak, neurolog, psikolog, dokter
mata, dokter telinga hidung tenggorokan (THT), dan orthopedagog.
b. Deteksi Dini dan Penjaringan
Deteksi dini terhadap anak berkesulitan belajar spesifik walaupun
memerlukan pendekatan multidisipliner, guru dapat melakukan secara
sederhana yang selanjutnya menentukan tindakan rujukan kepada para pakar
medis, psikolog, dan pendidikan khusus. Langkah deteksi dini menurut Endang
Supartini (1992:3) dapat dilakukan dengan mengumpulkan data melalui
pengamatan, wawancara, dan dokumentasi yang meliputi:
1) Riwayat perkembangan anak, perkembangan dalam kandungan, lahir,
perkembangan setelah lahir yang berupa fisik, motorik, dan bahasa.
7
2) Data tentang perilaku anak sehari-hari di rumah, di sekolah terutama
perilaku dalam mengerjakan tugas-tugas pelajaran.
3) Data tentang kemampuan komunikasi, sosialisasi, visual, pendengaran,
kordinasi gerak, dan persepsi visual.
4) Data tentang kemampuan anak secara umum.
c. Diagnosis
Langkah diagnosis merupakan penentuan intensitas gangguan dan
permasalahan anak yang selanjutnya merumuskan cara penanganannya. Dalam
langkah ini idealnya dilaksanakan secara "Case Conference" atau "Team
Meeting". Cara ini dapat dilaksanakan di Sekolah Dasar melalui kerja sama
dengan tenaga profesional yang dipimpin oleh pakar pendidikan khusus
(orthopedagog).
d. Menempatkan Guru Pembimbing Khusus di Sekolah
Dalam hal ini diperlukan penanganan (treatment) yang berupa
pengajaran remedial atau latihan-latihan untuk penyembuhan kelainannya atau
kesulitannya. Untuk penanganan ini diperlukan guru pembimbing khusus sebab
pola-pola penanganannya antara satu anak dengan lainnya berbeda bergantung
pada spesifikasi kesulitannya. Jelasnya, penanganan dilakukan secara
individual, dan hal ini tidak mungkin dilakukan oleh guru. Menempatkan anak
berkesulitan belajar spesifik ke sekolah khusus akan merugikan anak sebab
dengan masuk ke sekolah khusus akan tertanam label termasuk anak retardasi
mental, yang sebenarnya mereka kecerdasannya normal, bahkan ada yang di
atas normal.
Langkah-langkah yang menguntungkan di Sekolah Dasar perlu
ditempatkan guru-guru pembimbing khusus yang diambil dari tenaga-tenaga
lulusan pendidikan khusus Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu
Pendidikan. Langkah ini diperlukan kebijaksanaan dari pihak-pihak terkait
terutama dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan beserta jajaran
lembaga-lembaga yang ada di bawahnya.
8
e. Kerja Sama Guru Sekolah dengan Guru Pembimbing Khusus
Penempatan guru pembimbing khusus di sekolah dapat dilakukan
dengan sistem guru kunjung, yaitu satu tenaga menangani beberapa sekolah
dalam wilayah tertentu. Masalah-masalah berkesulitan saja yang perlu
ditangani secara khusus, yaitu sewaktu melaksanakan pengajaran remedial.
Pada masalah yang tidak berkesulitan anak mengikuti pelajaran secara biasa.
Kedua bidang itu ditangani secara bersama oleh guru sekolah dan guru
pembimbing khusus.9
9
Mumpuniarti, “Penanganan Anak Berkesulitan Belajar Spesifik (DMO) di Sekolah Dasar”,
Cakrawala Pendidikan, No. 3, Th. XII, 1993, hlm. 100-104.
9
yang bersifat perbaikan. Bila dikaitkan dengan pengajaran maka
pengajaran remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat
penyembuhan atau bersifat perbaikan. Pengajaran remedial merupakan
bentuk khusus pengajaran yang bertujuan untuk menyembuhkan atau
memperbaiki proses pembelajaran yang menjadi penghambat atau yang
dapat menimbulkan masalah atau kesulitan dalam belajar bagi peserta
didik. Perbaikan diarahkan untuk mencapai hasil belajar yang optimal.
2) Differentiation as a strategy to provide learning support.
Mavuso mengambarkan sebagai pembelajaran multi-level, sebagai
strategi yang dapat digunakan untuk menampung peserta didik yang
mengalami kesulitan belajar. dikatakan pembejaran multi level karena
mengunakan gaya mengajar sesuai dengan keberagaman cara belajar
siswa. Ada siswa dengan gaya belajar audio, visual, dan kinestik. Dengan
merancang kegiatan belajar sesuai gaya belajar siswa maka dapat
mengakomodir kesulitan yang dialami oleh siswa.
Menurut KBYU Eleven (2010: 5), kegiatan belajar siswa melibatkan
tiga hal pokok yakni View, Read, and Do. Supaya ketiga hal tersebut dapat
terlaksana dengan baik maka guru harus memahami cara peserta didik
dalam memproses informasi dalam memori. Akan ditemukan peserta didik
yang gaya Auditory learners, Visual learners, and Kinesthetic (or hands-
on). Pemahaman gaya belajar tersebut oleh guru sangat penting. Akan ada
Peserta didik menonjol dalam satu gaya belajar tapi bisa juga ada peserta
didik yang memiliki ketiga gaya belajar diatas. Pemahaman peserta didik
tersebut menuntut guru untuk bisa memanfaatkan berbagai media belajar
yang bervariasi dalam kegiatan belajar mengajar.
Dari bentuk dukungan belajar yang kedua ini bila Mavuso ingin
memberitahukan bahwa sebelum melakukan pembelajaran seorang guru
harus memahami karekteristik siswa yang akan diajarkan. Hal ini menjadi
tantangan tersendiri bagi guru di Indonesia dengan tidak menutup
10
kemungkinan siswa yang akan diajarkan bermacam latarbelakang. Maka
oleh karena itu seorang guru harus memiliki kemampuan atau mengusai
kompetensi guru, memahami kurikulum serta mempunyai kemampuan
(pendidikan multikultur) untuk membelajarkan siswa dari berbagai latar
belakang yang berbeda.
3) Assessment of learners a strategy to provide learning support.
Mavuso menuliskan bahawa penilaian dipandang sebagai bagian
integral dari proses belajar mengajar. Tujuannya dari termasuk
mengumpulkan informasi tentang pelajar untuk digunakan dalam
perencanaan. Penilaian juga mencerminkan informasi tentang peserta
didik dalam hal apa yang dia tahu, mengerti, apa yang peserta didik
mampu lakukan, serta bagaimana dia belajar. Dengan penilaian guru
mampu mengkateogrikan siswa yang mengalami kesulitan belajar khusus.
Para guru di Afrika mengatakan bahwa dengan penilaian atau evaluasi
belajar siswa dapat diketahui kesulitan belajar spesifik atau khusus yang
dialami oleh siswa mereka.
Bouwer (Mavuso:2014) menyatakan, sebelum guru dapat melakukan
penilaian mereka harus mempertimbangkan empat prinsip penilaian yakni
komponen proses, orang, konten dan waktu. Dengan demikian mereka
akan memiliki kesempatan untuk melihat tingkat perkembangan peserta
didik dan memahami pengaruh dan relevansi konteks di mana anak
belajar. Oleh karena itu salah satu akan mempertimbangkan aspek-aspek
seperti keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan masyarakat, sementara
memahami proses perkembangan peserta didik dan interaksi dengan
lingkungan mereka sebagai fondasi yang diperlukan untuk menafsirkan
hasil kinerja.
Dengan penilaian peserta didik yang mengalami kesulitan belajar sering
terjebak dalam kegagalan di sekolah. Kesulitan belajar peserta didik
mengarah pada keterlambatan penguasaan kemampuan akademik,
11
keterampilan dan perolehan informasi baru. Kesulitan belajar siswa akan
mempengaruhi seluruh aspek perkembangan siswa termasuk keberhasilan
belajar atau akademik. Seperti dalam catatan NCLD (2014: 16). Siswa
dengan kesulitan belajar mendapat nilai yang lebih rendah ketimbang yang
tidak mengalami kesulian belajar dan siswa yang mengalami kesulitan
belajar biasanya tahan kelas. Dengan nilai yang diperoleh siswa dapat
dijadikan acuan untuk memetahkan siswa yang mengalami kesulitan
belajar khusus, sehigga dengan demikian dapat dirancang layanan atau
dukungan belajar yang sesuai.
Bila dicerna tulisan dari Mavuso, penilaian yang cocok untuk
mendukung siswa yang mengalami kesulitan belajar adalah penilaian
diagnostic. Dengan penilaian ini guru diharapkan mampu mendiagnostik
kesulitan belajar siswa lewat tes tertentu untuk dapat mengetahui atau
melokalisisi kesulitan belajar yang dialami siswa sehigga dengan
demikian dapat direncanakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan
kesulitan belajar siswa.
4) Peer support a strategy to provide learning support
Lerner dan Kline (Mavuso, 2014) menganggap tutor teman sebaya
sebagai sebuah konsep yang dapat digunakan untuk mendukung
pembelajaran, menggambarkannya sebagai strategi yang mendorong
peserta didik untuk bekerja sama dalam tugas tertentu. Satu pelajar
berfungsi sebagai pelajar sementara yang lain berfungsi sebagai tutor,
dengan keterampilan tertentu yang diajarkan dan dipelajari. Dukungan
sebaya adalah strategi yang berharga yang dapat digunakan untuk
mempromosikan akses ke kurikulum umum untuk pelajar dengan cacat
berat. Mereka berpendapat bahwa siswa penyandang cacat harus
mendapatkan keuntungan dari Penilaian alternatif serta instruksi
dukungan sebagai cara untuk mengakses kurikulum bermakna. Dukungan
12
sebaya intervensi memiliki tujuan untuk meningkatkan akses dan
memfasilitasi interaksi sosial dalam pengaturan umum.
Dari tulisan Mavuso menggambarkan kegiatan guru dalam mendukung
siswa yang mengalami kesulitan belajar, para guru di Afrika membagi
siswa dalam kelompok dengan tingkat pengetahuan yang berbeda. Mereka
membuat rencana pembelajaran dengan topik tertentu untuk dibahas
dengan meminta siswa yang mempunyai pengetahuan lebih sebagia tutor.
Guru memfasiltasi kegiatan mereka.10
10
Heronimus Delu Pingge, ”Strategi dan Dukungan Guru Bagi Siswa yang Mengalami
Kesulitan Belajar Khusus, Review Jurnal: Strategies for Facilitating Learning Support Processes. What
can Teachers do Support Learners with Specific Learning Difficulties” (Mavuso, M. F., 2014: 455-461).
13
dalam menangani anak berkesulitan belajar dan sikap guru terhadap anak
berkesulitan belajar yang dilihat masih memandang sebelah mata.11
2) Keterbatasan Sarana Prasarana
Dalam pelaksanaan pendidikan untuk anak berkesulitan belajar
tentunya membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai karena
pendidikan harus mampu memberikan fasilitas sesuai dengan semua
kebutuhan anak yang memiliki kebutuhan khusus. Sarana dan prasarana
yang terbatas dalam sekolah akan memiliki dampak yang cukup besar,
yakni akan berdampak pada kurangnya pelayanan yang diberikan sekolah
bagi anak berkesulitan belajar. Masalah utama dari keterbatasan sarana dan
prasarana adalah dari faktor biaya.12
3) Strategi Pembelajaran
Indikator strategi pembelajaran memaparkan ulasan terkait cara tenaga
pendidik dalam menyampaikan bahan ajar kepada muridnya. Strategi
pembelajaran dalam pendidikan anak berkesulitan belajar ini membahas
pula cara guru menerapkan nilai penyetaraan serta merangkul muridnya
agar dapat berjalan secara bersamaan demi memperoleh tujuan pendidikan.
Faktor keberhasilan strategi pembelajaran, ditekankan kepada kualitas
dan pengetahuan dari gurunya karena guru terlibat langsung dengan anak.
Guru harus dapat membekali diri dengan pengetahuan yang dimilikinya
mengenai karakteristik setiap anak tersebut agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai secara efektif. Anak yang memiliki keterbatasan fisik maupun
mental diperlakukan secara khusus dalam pembelajaran sesuai dengan
11
Rizka Norsy Ramadhana, “Tantangan Pendidikan Inklusi Dalam Mendidik Anak
Berkebutuhan Khusus”, Universitas Lambung Mangkurat Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris,
Desember 2020, hlm. 5-6.
12
Diva Salma Hanifah dkk, “Tantangan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Dalam Menjalani
Pendidikan Inklusi Di Tingkat Sekolah Dasar”, Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
(JPPM), Vol. 2 No. 3, Desember 2021, hlm. 480.
14
kondisinya sehingga anak yang normal maupun anak yang memiliki
keterbatasan sama-sama dapat mencapai tujuan pembelajaran yang setara.
Tantangan yang akan dihadapi dalam menangani anak berkesulitan
belajar dalam menjalani pendidikan terkait strategi pengajaran guru dapat
berupa :
a. Kurangnya komunikasi secara dua arah antara murid dan guru sehingga
menciptakan kelas yang pasif, kurang asyik, bahkan jarang mencakup
nilai keanekaragaman pada kegiatan belajar mengajar dikhawatirkan
dapat membentuk karakter anak berkesulitan belajar yang sulit untuk
bersosialisasi.
b. Metode pengajaran yang kurang bervariasi dan kurang memaksimalkan
fasilitas dapat berpotensi membuat anak stuck hanya pada kemampuan
tertentu.
c. Kurangnya perhatian guru akan segala hambatan di lingkungan sekitar
kegiatan belajar mengajar dapat mengganggu konsentrasi anak
berkesulitan belajar pada saat belajar.13
13
Ibid., hlm. 481.
15
agar kebutuhan para peserta didik di sekolah inklusi mendapat pendidikan yang
layak.
Selanjutnya kami mengharapkan juga penyediaan lembaga pendidikan yang
khusus lebih ditingkatkan, karena setiap tahunnya populasi anak berkebutuhan
khusus cenderung meningkat, sedangkan lebaga pendidikan khusus yang ada
masih terbatas. Hal ini berupaya untuk memperluas akses anak berkebutuhan
khusus untuk mendapat layanan pendidikan.
Dalam hal ini juga kami mengharapkan pemerintah dapat meningkatkan kualitas
sumber daya manusia terhadap pendidikan ABK.
16
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Strategi berasal dari kata Yunani strategos, yang berarti Jenderal. Oleh
karena itu kata strategi secara harfiah berarti “Seni dan Jenderal”. Selanjunya
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan tantangan
merupakan hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan
kemampuan mengatasi masalah artinya sebuah hal yang membuat kita semakin
tekad dalammelakukan sesuatu dan mendapatkan hasil. Penanganan menurut
KBBI artinya proses, cara, perbuatan menangani,
Pelaksanaan pembelajaran siswa inklusif di sekolah dasar formal tetap
sama dengan siswa lain pada umumnya, tidak ada perbedaan kedudukan, hanya
saja yang membedakannya ialah pelayanannya. Pada proses pembelajaran yang
diberikan guru pada anak berkebutuhan khusus (ABK) lebih disesuaikan
temponya dibanding siswa pada umumnya. Penanganan pembelajaran untuk
siswa inklusif lebih slow learner dan tidak dipaksakan karena siswa tersebut
memiliki nilai khusus dibandingkan siswa lainnya dan juga stratgei yang tepat
dalam mendukung pembelajarn bagi siswa inklusif.
Selain itu, lebih menyediakan guru pembimbing khusus yang memiliki
kemampuan dan berlatar belakang pengetahuan di bidangnya tentang
penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah dasar sebab guru
biasa yang ada di sekolah formal masih kurang paham menangani dan
mengatasi kesulitan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus (ABK) tersebut
karena mereka harus mendapat penanganan dan bimbingan khusus
dibandingkan siswa pada umumnya serta lebih memperhatikan media-media
pembelajaran untuk mereka yang dapat menunjang berjalan lancarnya proses
pembelajaran serta memudahkan guru.
17
B. Saran
Pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) masih perlu
perhatian dan pelayanan lebih, seperti perlu adanya dukungan emosional,
kepedulian, kepekaan dan tanggung jawab bukan hanya dari orang tua semata
saja, tetapi masyarakat dan pemerintah harus ikut turut serta memberikan afeksi
tersebut supaya menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi mereka.
18
DAFTAR PUSTAKA
Antonio, Syafi'i, 2001. Bank Syariah dari Teori ke Praktek, Cet. 1. (Jakarta:
GemaInsani)
Hanifah, Diva Salma, dkk, “Tantangan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Dalam
Menjalani Pendidikan Inklusi Di Tingkat Sekolah Dasar”. Jurnal Penelitian
dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM). Vol. 2 No. 3. Desember 2021.
Kotler, Philip. 1997, Marketing Managemet, (Jakarta: Pren Hallindo)
Mumpuniarti. “Penanganan Anak Berkesulitan Belajar Spesifik (DMO) di Sekolah
Dasar”. Cakrawala Pendidikan. No. 3. Th. XII. 1993.
Pingge, Heronimus Delu. ”Strategi dan Dukungan Guru Bagi Siswa yang Mengalami
Kesulitan Belajar Khusus, Review Jurnal: Strategies for Facilitating Learning
Support Processes. What can Teachers do Support Learners with Specific
Learning Difficulties” (Mavuso, M. F., 2014: 455-461).
Ramadhana, Rizka Norsy. “Tantangan Pendidikan Inklusi Dalam Mendidik Anak
Berkebutuhan Khusus”.Universitas Lambung Mangkurat Program Studi
Pendidikan Bahasa Inggris. Desember 2020.
Soedrajat, Setyo. 1994, Manajemen Pemasaran Jasa Bank. (Jakarta: Ikral Mandiri
Abadi)
Sri Wahyudi, Agustinus, 1996. Manajemen Strategi, (Jakarta: Binarupa Aksara)
Tjiptoni, Fandi, 2000. Strategi Pemasaran, Cet. Ke 2. (Yogyakarta: Andi)
Widiastuti, Ni Luh Gede Karang. “Karakteristik dan Model Layanan Pendidikan Bagi
Anak Berkesulitan Belajar”. Jurnal Kajian Pendidikan Widya Accarya FKIP
Universitas Dwijendra. Maret 2019.
19