0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan14 halaman

Model Perilaku dalam Keperawatan Jiwa

Makalah ini membahas model konseptual keperawatan jiwa khususnya model perilaku. Model perilaku menjelaskan bagaimana gangguan jiwa dapat muncul akibat hubungan yang tidak seimbang antara stimulus dan respons. Teori ini menekankan pengaruh penguatan dan pemberian hadiah dalam mengubah perilaku."

Diunggah oleh

Frntzn Lrn
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan14 halaman

Model Perilaku dalam Keperawatan Jiwa

Makalah ini membahas model konseptual keperawatan jiwa khususnya model perilaku. Model perilaku menjelaskan bagaimana gangguan jiwa dapat muncul akibat hubungan yang tidak seimbang antara stimulus dan respons. Teori ini menekankan pengaruh penguatan dan pemberian hadiah dalam mengubah perilaku."

Diunggah oleh

Frntzn Lrn
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KONSEPTUAL MODEL PERILAKU

KEPERAWATAN JIWA

Dosen Pengampu :
Ns. Nurul Huda, [Link]., [Link]., [Link]

Disusun oleh:

Fina Yunis Eka Wulandari 212303102001


Susi Susanti 212303102006
Totok Verdyanto 212303102050
Fatimah Maulina Ba’Syaiban 212303102056

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
KAMPUS KOTA PASURUAN
TAHUN 2023/2024
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Profesi keperawatan sebagai profesi yang unik dan kompleks. Dalam melaksanakan
prakteknya, perawat harus mengacu pada model konsep dan teori keperawatan yang sudah ada.
Konsep merupakan suatu ide dimana terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir
dengan simbol-simbol yang nyata. Sedangkan konsep keperawatan merupakan ide untuk
menyusun suatu kerangka konseptual atau model keperawatan. Model konseptual keperawatan
merupakan suatu cara untuk memandang situasi dan kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat
didalamnya.
Model konseptual keperawatan jiwa sebagai usaha-usaha untuk menguraikan fenomena
mengenai keperawatan jiwa. Teori keperawatan jiwa digunakan sebagai dasar dalam menyusun
suatu model konsep dalam keperawatan dan model konsep keperawatan digunakan dalam
menentukan model praktek keperawatan.
Model konseptual keperawatan jiwa terdiri dari beberapa pendekatan salah satunya model
prilaku. Model prilaku sebagai suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanaya
interaksi antara stimulus dengan respons yang menyebabkan seseorang mempunyai pengalaman
baru.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Setelah membaca makalah ini, mahasiswa di harapkan mampu memahami model konseptual
keperawatan jiwa : model prilaku.
2. Tujuan Khusus
Setelah membaa makalah ini mahasiswa diharapkan mampu memahami tentang :
a. Menjelaskan model konseptual keperawatan jiwa
b. Menjelaskan model perilaku
c. Mengaplikasikan model perilaku pada keperawatan jiwa
BAB II
Tinjauan Teoritis

A. Model Konseptual keperawatan jiwa


Model adalah contoh, menyerupai, merupakan pernyataan simbolik tentang fenomena,
menggambarkan teori dari skema konseptual melalui penggunaan symbol dan diafragma (
christensen.2009, hal 123 ). Konsep adalah suatu keyakinan yang kompleks terhadap suatu obyek,
benda, suatu peristiwa atau fenomena berdasarkan pengalaman dan persepsi seseorang berupa ide,
pandangan atau keyakinan. Model konsep adalah rangkaian konstruksi yang sangat abstrak dan
berkaitan yang menjelaskan secara luas fenomena-fenomena, mengekspresikan asumsi dan
mencerminkan masalah. ( christensen.2009, hal 29 )
Teori adalah hubungan beberapa konsep atau suatu kerangka konsep atau definisi yang
memberikan suatu pandangan sistematis terhadap gejala-gejala atau fenomena –fenomena dengan
menentukan hubungan spesifik antara konsep tersebut dengan maksud untuk menguraikan,
menerangkan, meramalkan dan atau mengendalikan suatu fenomena. Teori dapat diuji, diubah atau
digunakan sebagai suatu pedoman dalam penelitian. ( christensen.2009, hal 26 )
Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk memandang situasi dan kondisi
pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya. Model konseptual keperawatan memperlihatkan
petunjuk bagi organisasi dimana perawat mendapatkan informasi agar mereka peka terhadap apa
yang terjadi pada suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga dan tahu apa yang harus
perawat kerjakan. Konsep keperawatan terus dikembangkan dan diterapkan serta diuji melalui
pendidikan dan praktik keperawatan ( christensen.2009, hal 29 ). Tujuan dari model konseptual
keperawatan ( christensen.2009, hal 33 ) :
1. Menjaga konsisten asuhan keperawatan.
2. Mengurangi konflik, tumpang tindih, dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim
keperawatan.
3. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan.
4. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan keputusan.
5. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap anggota tim
keperawatan.
Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya meningkatkan dan mempertahankan
perilaku paien yang berperan pada fungsi yang terintegrasi. Sistem pasien atau klien dapat berupa
individu, keluarga, kelompok, organisasi, atau komunitas. American nurses’ association
mendefinisikan keperawatan kesehatan jiwa sebagai suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan
yang menerapkan teori perilaku manusia sebaai ilmunya dan penggunaan diri yang bermanfaat
sebagai kiatnya ( Stuart. 2007, hal. 2 ).
B. Model Perilaku
Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bisa muncul jika hubungan antara
stimulus dan respons tidak terkondisikan dengan baik oleh seorang individu sehingga
menimbulkan kecemasan yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan jiwa.
Behaviorism sebagai ilmu psikologi timbul dari rcaksi terhadap model introspeksi yang berfokus
pada isi dan opcrasi pikiran. Behaviorismadalah ilmu psikologi yang berfokus pada perilaku yang
dapat diamati dan apa yang dapat dilakukan individu secara eksternal untuk mengubah perilaku.
Ilmu ini tidtak berupaya menjelaskan cara kerja pikiran ( videbeck.2008 hal 66 ).
Para ahli behaviorismyakin bahwa perilaku dapat diubah oleh sisteni pujian dan hukuman.
Untuk individu dewasa, menerima gaji secara teratur merupakan umpan balik positif yang konstan.
Gaji merupakan umpan balik positif yang kontinu dan merupakan salah satu alasan individu terus
bekerja setiap hari dan berupaya melaksanakan tugas de- ngan baik. Gaji ini membantu
memotivasi perilaku positif di tempat kerja. Apabila seseorang tidak menerima gaji, ia
kemungkinan besar berhenti bekerja ( videbeck. 2008 hal 66 ).
Apabila seorang pengendara motor terus- menerus mengebut (perilaku negatif dan tidak
pernah tertangkap, ia cenderung terus mengebut. Apabila pengendara tersebut ditilang (umpan
balik negatiO, ia cenderung mengurangi kecepatan motor- nya. Akan tetapi, jika pengendara
tersebut tidak ditangkap karena mengebut selama empat minggu berikutnya (umpan balik negatif
dihilangkan), ia cenderung kembali mengebut ( videbeck. 2008 hal 66 ).
1. Edward Lee Thorndike (1874 - 1949)
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara
peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). ( videbeck, 2008 hal 66 )
a Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk
mengaktifkan organisme untuk bereaksi atau berbuat.
b Respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.
Eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa
supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih
respons yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-
kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error
learning atau selecting and connecting lerning” dan berlangsung menurut hukum-hukum
tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan
teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya
asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut ( videbeck. 2008, hal 66
):
a Hukum kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu
perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan
individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
b Hukum latihan (law of exercise), yaitu semakin sering suatu tingkah laku diulang/dilatih
(digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
c Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya
menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut ( videbeck. 2008 hal 67 ):
a Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response). Hukum ini mengatakan bahwa pada individu
diawali oleh proses trial dan error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum
memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.
b Hukum Sikap (Set/Attitude). Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak
hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang
ada dalam diri individu baik kognitif, emosi, sosial, maupun psikomotornya.
c Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element), Hukum ini mengatakan bahwa individu
dalam proses belajar memberikan respon hanya pada stimulus tertentu saja sesuai dengan
persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif).
d Hukum Respon by Analogy. Hukum ini mengatakan bahwa individu dapat melakukan respon pada
situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi
yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau
perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang
sama/identik, maka transfer akan makin mudah.
e Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting). Hukum ini mengatakan bahwa proses
peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara tertahap dengan
cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.
Thorndike mengemukakan revisi hukum belajar antara lain ( videbeck. 2008 67 ):
a Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan, saja tidak cukup untuk memperkuat
hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum
tentu diperlemah.
b Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan
tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
c Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai
antara stimulus dan respon.
d Akibat suatu perbuatan dapat menular (spread of effect) baik pada bidang lain maupun pada
individu lain.
2. Ivan Petrovich Pavlov (1849 - 1936)
Classic Conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, di mana perangsang asli dan netral
dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang
diinginkan. Urutan kejadian melalui percobaan terhadap anjing ( cheney. 2004, hal 11 ):
a US (unconditioned stimulus) = stimulus asli atau netral: Stimulus tidak dikondisikan yaitu
stimulus yang langsung menimbulkan respon, misalnya daging dapat merangsang anjing untuk
mengeluarkan air liur.
b UR (unconditioned respons): disebut perilaku responden (respondent behavior) respon tak
bersyarat, yaitu respon yang muncul dengan hadirnya US, yaitu air liur anjing keluar karen anjing
melihat daging.
c CS (conditioning stimulus): stimulus bersyarat, yaitu stimulus yang tidak dapat langsung
menimbulkan respon. Agar dapat menimbulkan respon perlu dipasangkan dengan US secara terus-
menerus agar menimbulkan respon. Misalnya bunyi bel akan menyebabkan anjing mengeluarkan
air liur jika selalu dipasangkan dengan daging.
d CR (conditioning respons): respons bersyarat, yaitu rerspon yang muncul dengan hadirnya CS,
Misalnya: air liur anjing keluar karena anjing mendengar bel.
Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau pembiasan dapat diketahui bahwa
daging yang menjadi stimulus alami (UCS = Unconditional Stimulus = Stimulus yang tidak
dikondisikan) dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan (CS
= Conditional Stimulus = Stimulus yang dikondisikan). Ketika lonceng dibunyikan ternyata air
liur anjing keluar sebagai respon yang dikondisikan. Dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata
individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat
untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari
bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya (cheney. 2004, hal 11 ).
3. Burrhus Frederic Skinner (1904 - 1990)
Manajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi
perilaku (behavior modification) antara lain dengan proses penguatan (reinforcement) yaitu
memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada
perilaku yang tidak tepat. ( Rantus. 2011, hal 200 )
Operant Conditioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku
operasn (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat
berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. ( Rantus. 2011, hal 200 )
Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas Skinner
membuat eksperiment sebagai berikut: dalam laboratorium. Skinner memasukkan tikus yang telah
dilaparkan dalam kotak yang disebut”Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai
peralatan, yaitu tombol, alat pembeli makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur
nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik. ( Rantus. 2011, hal 200 )
Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan.
Selama tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol,
makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku
yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shaping. ( Rantus. 2011, hal 201 )
Yang terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah
pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi
penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan
negatif. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah
laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. (
Rantus. 2011, hal 201 )
Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dan lain-
lain), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujuim bertepuk tangan,
mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, juara 1 dan sebagainya). ( Rantus. 2011, hal
201 )
Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda / tidak memberi penghargaan,
memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening
berkerut, muka kecewa dan lain-lain). ( Rantus. 2011, hal 201 )
Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain: ( Rantus. 2011, hal 202 )
a Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi
penguat.
b Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
c Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
d Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
e Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk ini lingkungan perlu diubah, untuk
menghindari adanya hukuman.
f Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan
digunakannya jadwalvariable rasio reinforcer.
g Dalam pembelajaran, digunakan shaping.
Beberapa kekeliruan dalam penerapan teori, Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai
salah satu cara untuk mendiskripsikan siswa menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak
merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya misalnya anak perlu mengalami sendiri
kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verba maupun fisik seperti
: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk pada siswa. ( Rantus. 2011, hal
202 )
Selain itu kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi di dalam situasi pendidikan
seperti penggunaan rangking juara di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata
pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi penguatan sesuai dengan kemampun yang diperlihatkan
sehingga dalam satu kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan prestasi yang ditunjukkan
para siswa; misalnya: penghargaan di bidang bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari, atau
olahraga. ( Rantus. 2011, hal 200 )
C. Aplikasi Model Perilaku
1. Pandangan tentang penyimpangan perilaku
Perilaku dipelajari. Penyimpangan terjadi karena manusia telah membentuk kebiasaan perilaku
yang tidak diinginkan. Karena perilaku dapat dipelajari, maka perilaku juga tidak dipelajari.
Perilaku menyimpang terjadi berulang karena berguna untuk mengurangi ansietas. Jika demikian,
perilaku yang lain dapat mengurangi ansietas dapat dipakai sebagai pengganti.
2. Indikasi model Perilaku
Indikasi utama ialah gangguan fobik dan perilaku kompulsif, disfungsi sexual (misalnya impotensi
dan frigiditas) dan deviasi sexual (misalnya exhibisionisme). Dapat dicoba pada pikiran-pikiran
obsesif, gangguan kebiasaan atau pengawasan impuls (misalnya gagap, enuresis, dan berjudio
secara kompulsif), gangguan nafsu makan (obesitas dan anorexia) dan reaksi konversi. Terapi
perilaku tidak berguna pada skizofrenia akut, depresi yang hebat dan (hipo) mania
3. Proses terapeutik
Terapi merupakan proses pendidikan. Penyimpangan perilaku tidak dihargai. Perilaku yang lebih
produktif dikuatkan. Terapi relaksasi dan latihan keasertifan merupakan pendekatan perilaku.
4. Peran pasien dan terapis
Pasien. Mempraktekan teknik perilaku yang digunakan. Mengerjakan pekerjaan rumah dan
penggalakan latihan. Pasien membantu mengembangkan hierarki perilaku.
Terapis. Mengajar pasien tentang pendekatan perilaku, membantu mengembangkan hierarki
perilaku, dan menguatkan perilaku yang diinginkan.
BAB III
KASUS

A. Kasus
Klien bernama surya dengan umur 18 tahun. Mahasiswa yang nakal, susah ditegur dan sering
mendapatkan masalah disekolah. akibatnya masalah sekolahnya terganggu, karena tugas – tugas
kuliah tidak pernah dikerjakan. masalah yang paling utama adalah dia sering tidak masuk kuliah
karena tidak mau mengikuti ujian, pada saat dikelas dia selalu diam dan suka melawan dosen
serta mengganggu teman.
B. Analisa Masalah
Pada saat ditanya kepada klien, rupanya klien kecewa kepada salah satu dosen yang sepertinya
tidak menyukainya selain itu klien memiliki masalah keluarga dikarenakan orang tua klien yang
tidak pernah perduli dengan masalah klien. Tapi setelah melihat akibat dari apa yang telah
dilakukannya seperti kuliahnya yang terbengkalai, klien merasa menyesal dan ingin berubah.
1. Thorndike
Pertama kita akan menggunakan hukum kesiapan yaitu dengan cara melihat apakah individu
tersebut siap berubah, dan setelah itu menggunakan hukum latihan yaitu hukum yang melatih
perilaku yang baik agar asosiasi semakin kuat setelah dengan menggunakan hukum akibat yaitu
apakah hasil dari latihan tersebut memuaskan atau tidak. Jika memuaskan akan membuat stimulus
dan respons yang semakin kuat.
a Hukum kesiapan
Pertama – tama perawat perlu mengetahui secara mendalam ( inquiry ) bahwa klien benar – benar
ingin berubah. Kemudian barulah kita memberikan tugas berupa hukuman kepada klien untuk
mengerjakan tugas kuliahnya yang telah dia tinggalkan, dan memberikan laporan kepada
perawatnya. setelah kien berhasil mengerjakan hukuman atau tugas dari perawat barulah kita
ketahap yang kedua.
b Hukum latihan
Yang harus dilakukan perawatdalam tahap ini adalah memberikan sebuah solusi kepada klien
berupa tugas atau hukuman yang diberikan perawat kepada klien tapi dengan latihan yang
berulang – ulang. Perawat memberikan hukuman kepada klien agar klien berpartisipasi dalam
segala kegiatan kuliah dari inroom ( seperti diskusi kelompok, bimbingan belajar, dll ) maupun
outroom ( seperti pengabdian masyarakat, kegiatan ekskull )
c Hukum akibat
Setelah tahap kedua dilewati, kemudian masuklah ketahap yang ketiga. Dalam tahap ini perawat
tidak perlu memberikan tugas atau hukuman kepada klien tetapi perawat perlu mengetahui apa
respons pasien setelah melakukan hukum latihan apakah memuaskan atau tidak memuaskan,
sehingga keputusan berubah kita letakkan kepada klien.
2. Pavlov
Dengan memberikan stimulus yang netral ditambah dengan stimulus yang tidak netral sehingga
menimbulkan respons yang bersyarat.
Pertama yang harus kita lakukan adalah memberikan suatu solusi kepada klien dengan cara
memberikan sebuah stimulus yang dikondisikan sehingga menghasilkan respon yang
terkondisikan. Dengan cara memberikan pasien sebuah penyelesaian masalah ( stimulus ) sehingga
menghasilka perilaku yang positif ( respons ). Kita memberikan sebuah syarat yang perlu pasien
lakukan jika klien ingin berubah syarat pertama klien harus aktif dalam perkuliahan dan selalu
masuk kuliah, kedua klien harus mulai berkomunikasikan kepada orang tuanya segala keluhan dan
apa yang klien inginkan dari orang tua, syarat ketiga klien harus mematuhi segala peraturan yang
terdapat di kampus, syarat yang ketiga klien harus mengerjakan tugas perkuliahan, syarat keempat
klien harus melaporkan kepada perawat apa yang klien rasakan setiap harinya dengan cara mobile
dan/dengan saksi dari dosen serta orang tua. Kemudian perawat harus melihat respons dari syarat
– syarat tersebut.
3. Skinner
Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya
penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment). Penguatan
dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas
bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang
menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Yang harus dilakukan perawat dalam model ini adalah perawat memberikan penguatan kepada
klien. Dengan cara perawat berkerjasama dengan orangtua agar memberikan sebuah hadiah kepada
klien jika klien berubah. Hadiah dapat berupa benda ataupun perhatian yang lebih jika dia dapat
berubah.
BAB IV
Penutup

A. Kesimpulan
Model konseptual keperawatan memiliki fungsi sebagai rancangan pedekatan
penyelesaian masalah keperawatan. Rancanga tentunya adalah rencana kerja yang berfungsi
sebagai gambaran kepada perawat untuk menyelesaikan masalah keperawatan.
Model konseptual keperawan jiwa digunakan perawatan sebagai senjata dasar dala
menyelesaikan masalah gangguan kesehatan jiwa. Model konseptual keperawatan jiwa
menggambarakan bagaimana seseorang perawat dapat menyelesaikan sebuah masalah
keperawatan mempunyai kerangka konsep yang profesional.
Salah satunya adalah model konseptual perilaku yang menyelesaikan masalah keperawatan
jiwa dengan melihat interaksi antara stimulus dan respon yang berasosiasi dengan baik.
B. Saran
1. Perawat dalam menyelesaikan masalah keperawatan jiwa dengan model perilaku yang harus
diperhatikan terfokus pada bagaimana hubungan stimulus dan respon dari individu sehingga
perawat bisa mencegah terjadinya kecemasan yang mengakibatkan gangguan jiwa pada individu.
2. Pendidikan keperawatan : dalan pengajaran model perilaku harus memberikan penjelasan dan
gambaran metode ini sehingga para mahasiswa perawat dapat mengerti konsep dasarnya.

Anda mungkin juga menyukai