0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan11 halaman

Pengujian Titik Nyala Aspal SNI 2433:2011

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai prosedur pengujian titik nyala dan titik bakar aspal menggunakan alat cleveland open cup secara manual sesuai standar SNI 2433:2011. Prosedur tersebut meliputi persiapan peralatan, benda uji, kalibrasi alat, dan cara pengujian untuk menentukan titik nyala dan titik bakar aspal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan11 halaman

Pengujian Titik Nyala Aspal SNI 2433:2011

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai prosedur pengujian titik nyala dan titik bakar aspal menggunakan alat cleveland open cup secara manual sesuai standar SNI 2433:2011. Prosedur tersebut meliputi persiapan peralatan, benda uji, kalibrasi alat, dan cara pengujian untuk menentukan titik nyala dan titik bakar aspal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Kelompok XV

BAB XIV
TITIK NYALA DAN TITIK BAKAR
(SNI 2433:2011)

14.1 Maksud Percobaan


Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan titik nyala dan titik bakar
dari semua jenis hasil minyak bumi kecuali minyak bakar dan bahan lainnya yang
mempunyai titik nyala open cup kurang dari 79˚C
Titik nyala adalah suhu pada saat terlihat nyala singkat pada suatu titik di
atas permukaan aspal. Titik bakar adalah suhu pada saat terlihat nyala sekurang-
kurangnya 5 detik pada suatu titik di atas permukaan aspal.

14.2 Ruang lingkup


Standar ini untuk menentukan titik nyala dan titik bakar aspal dengan
menggunakan alat cleveland open cup secara manual dan dapat digunakan untuk
semua jenis aspal yang mempunyai titik nyala dalam rentang 79˚C sampai dengan
400˚C. Standar ini tidak mencantumkan semua yang berkaitan dengan
keselamatan kerja dan kesehatan kerja, bila ada menjadi tanggung jawab
pengguna.

14.3 Pengertian
a. Aspal
Material yang diperoleh dari residu hasil pengilangan minyak bumi
b. Aspalkeras
Aspal yang bersifat viskoelastik termasuk aspal alam atau aspal modifikasi
(aspal yang diberi bahan tambah seperti polimer, latek)
c. Titik nyala
Temperatur terendah dimana uap benda uji dapat menyala (nyala biru
singkat) apabila dilewatkan api penguji. Temperatur titik nyala tersebut
harus dikoreksi pada tekanan barometer udara 101,3 kPa (760 mm Hg)
d. Titik bakar
Temperatur terendah ketika uap benda uji terbakar selama minimum 5 detik

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

apabila dilewatkan api penguji. Temperatur titik bakar tersebut harus


dikoreksi pada tekanan barometer udara 101,3 kPa (760 mm Hg)
e. Ruang asam
Ruang yang mempunyai alat penghisap untuk mengeluarkan uap beracun
pada saat dilakukan pengujian titik nyala dan titik bakar

14.4 Ringkasan Pengujian

Masukkan kurang lebih 70 mL benda uji aspal ke dalam cawan cleveland.


Pada awal pemanasan naikkan temperatur benda uji dengan cepat dan kemudian
setelah mendekati temperatur titik nyala-perkiraan, atur kenaikan temperatur
menjadi lebih lambat dan konstan. Pada saat itu nyala api penguji dilewatkan pada
cawan cleveland hingga diperoleh titik nyala dan titik bakar.

14.5 Kegunaan
a) Titik nyala merupakan salah satu cara untuk menentukan kecenderungan
aspal dapat menyala akibat panas dan api, pada kondisi di laboratorium yang
terkontrol, hasil tersebut dapat digunakan sebagai informasi bahaya
kebakaran yang sesungguhnya di lapangan.
b) Titik nyala digunakan sebagai informasi keselamatan pada pengiriman
untuk bahan yang mudahterbakar.

c) Titik nyala yang rendah memberikan petunjuk adanya bahan yang mudah
menguap dan terbakar.

d) Titik bakar merupakan salah satu cara untuk menentukan kecenderungan


aspal dapat terbakar akibat panas dan api, pada kondisi di laboratorium
yangterkontrol.

14.6 Peralatan
a) Alat cleveland open cup terdiri dari: cawan cleveland, pelat pemanas, nyala
api penguji, pemanas dan penyangga (lihat GambarA.1).

Nyala api penguji, sebagai sumber nyala penguji digunakan gas alam cair
(LPG). Suplai tekanan gas ke alat tidak boleh melebihi 3 kPa.

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

b) Termometer dengan rentang pengukuran – 6˚ C sampai dengan400˚ C.

c) Barometer, untuk mengukur tekanan udara.

Catatan 1: Dinding pelindung terdiri dari 3 buah dinding dengan bagian depan
terbuka yang berukuran lebar 460 mm dan tinggi 610 mm atau ukuran lain
yang memadai agar pengujian dapat terlindung dari pengaruh angin yang
mengganggu uap di atas cawan cleveland.

14.7 Benda Uji


14.7.1 Bahan
a) Aspal

b) Pelarut pembersih, umumnya adalah bahan yang mudah terbakar terdiri


dari: aceton, toluol, xylol dan minyaktanah.

14.7.2 Persiapan contoh


Lakukan pengambilan contoh aspal sesuai dengan SNI 03-6399-2000

14.7.3 Persiapan peralatan


a) Cuci cawan Cleveland dengan larutan pembersih untuk membersihkan aspal
dari cawan cleveland, kemudian keringkan.

b) Apabila ada arang harus dibersihkan dengan sabut baja halus. Pastikan
cawan cleveland bersih dan kering sebelum digunakan kembali. Bila perlu,
bilas cawan cleveland dengan air dingin dan keringkan selama beberapa
menit di atas nyala api atau pelat pemanas untuk menghilangkan sisa dari
pelarut dan air, kemudian dinginkan cawan cleveland pada temperatur
ruang(27˚ C).

c) Letakkan alat cleveland open cup di atas dudukan yang kokoh,


permukaannya rata dan datar, misalnyameja.

d) Pasang termometer pada posisi tegak dengan jarak ketinggian 6,4 mm  0,1
mm dari gelembung termometer ke dasar cawan cleveland dan berada di
tengah-tengah antara titik pusat dengan tepi cawan cleveland di luar lintasan
apipenguji.

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

e) Siapkan alat cleveland open cup untuk pengujian sesuai petunjuk, untuk
kalibrasi, pengecekan dan pengoperasianalat.

f) Pengujian dapat dilakukan pada ruang bebas angin atau ruang asam, agar
tidak mempengaruhi hasilpengujian.

Catatan 2: Untuk bahan yang mudah menguap atau hasil pirolisa,


disarankan melakukan pengujian di ruang asam yang dilengkapi pelindung
agar uap tidak turun sehingga memperngaruhi hasilpengujian.

14.7.4 Persiapan benda uji


a) Benda uji aspal yang digunakan untuk setiap pengujian, sekurang-
kurangnya 70mL.

b) Hal yang harus diperhatikan pada awal pengujian adalah jangan membuka
tutup wadah contoh uji bila tidak diperlukan dan jangan memindahkan
contoh uji pada temperatur lebih dari 150˚ C. Apabila hal ini tidak
diperhatikan maka akan menyebabkan hilangnya bahan yang mudah
menguap dan titik nyala menjadi lebih tinggi dari yang sebenarnya.
Disarankan pengujian titik nyala dilakukan pada awal pengujianaspal.

c) Simpan contoh aspal pada temperatur ruang di dalam wadah yang kedap
untuk menghindari terjadinya difusi bahan dengan dindingwadah.

d) Untuk contoh yang mengandung air, tambahkan kalsium klorida kemudian


keringkan dengan kertas filter atau kain penyerap. Untuk contoh uji yang
kental dipanaskan pada temperatur 150˚ C, sampai cukup cair untukdituang.

Catatan 3: Adanya gas Hidrokarbon ringan seperti gas propane atau gas
butane dalam contoh dapat hilang dan tidak terdeteksi selama penanganan
contoh terutama adanya residu minyak berat atau aspal hasil ekstraksi.

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

14.7.5 Kalibrasi dan standardisasi


a) Kalibrasi alat pengukur temperatur sesuaipetunjuk.

Periksa unjuk kerja alat penguji manual paling sedikit sekali dalam setahun
dengan menentukan titik nyala dari CRM (Certified Reference Material)
lihat Catatan 4, dengan temperatur mendekati rentang temperatur benda uji.
Material aspal diuji sesuai prosedur pengujian dan pengamatan titik nyala
seperti yang diperoleh padaButir12a)2),yang dikoreksi pada tekanan
barometer (lihat Pasal 13).Titik nyala diperoleh dalam batas sesuai Tabel 1
untuk identifikasi CRM.

Tabel 1 Nilai Titik Nyala dan Batas CRM


Hidrokarbon Kemurnian Titik nyala(C°) Batas(C°)
N tetradecane 99% 115,5 8.0
N hexadecane 99% 138,8 8.0

CATATAN 4: Certified Reference Material (CRM), Hidrokarbon atau produk


minyak dengan kemurnian 99%, dengan metode khusus antar laboratorium
mengikuti petunjuk ISO Guide 34 dan ISO Guide 35.

b) Salah satu cara kerja alat titik nyala dapat diperiksa dengan menggunakan
SWSs (Secondary Working Standards) dan ditentukan sepanjang batas
kontrolnya. SWSs material dapat digunakan untuk pengecekan berkala
terhadap kinerja alat, lihat Catatan 5.

CATATAN 5: Secondary Working Standard (SWS) Hidrokarbon atau produk


minyak dengan kemurnian 99%, yang telah diketahui komposisinya tetap stabil.

CATATAN 6: Sebelum melakukan pengujian titik nyala antar laboratorium,


lakukan kalibrasi alat dengan menggunakan bahan standar.

c) Pada saat titik nyala diperoleh tidak dalam batas yang ditentukan pada Butir
11 b) atau Butir 11 c) periksa kondisi dan cara kerja alat untuk memastikan
sesuai dengan urutan pengujian cleveland open cup, terutama perihal posisi

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

termometer, posisi nyala penguji dan kecepatan pemanasan. Setelah


pengaturan peralatan dan prosedur uji, ulangi pengujian dengan benda uji
baru (lihat Butir 11.b)) sesuai prosedur pengujian seperti diuraikan pada
Pasal12.

14.8 Cara Pengujian


Cara pengujian titik nyala dan titik bakar adalah sebagai berikut:

a) Panaskan contoh bahan yang keras atau semi padat sampai cair. Temperatur
pemanasan contoh uji tidak boleh lebih dari150˚ C;

b) Isi cawan cleveland dengan contoh uji sampai garis batas pengisian, dan
tempatkan cawan cleveland di atas pelat pemanas. Bila benda uji diisi
berlebih pada cawan cleveland, pindahkan bagian yang berlebih dengan
pipet atau alat lainnya untuk menghindari bagian yang meleleh. Bila ada
bagian aspal yang menempel pada bagian luar cawan, bersihkan. Hilangkan
gelembung udara atau busa yang terjadi pada permukaan benda uji dengan
pisau yang tajam atau alat pemotong lainnya dan pertahankan tinggi benda
uji. Bila busa tetap ada sampai tahap akhir dari pengujian, pengujian
dihentikan dandiulangi;

c) Nyalakan api penguji dan atur diameter api penguji antara 3,2 mm sampai
dengan 4,8 mm, atau nyala api penguji seukuran dengan ujung pipa
apipenguji;

d) Lakukan dengan hati-hati penggunaan gas untuk nyala api penguji. Bila api
penguji padam, gas untuk nyala penguji akan mempengaruhi hasiluji;

e) Teknisi harus berhati-hati selama melakukan pengujian ini. Aspal dengan


titik nyala rendah dapat menyala besar seketika. Selain itu pengujian sampai
dengan temperatur 400˚ C dapat mengeluarkan uapberacun;

f) Lakukan pemanasan awal dengan kenaikan temperatur antara 14˚ C sampai


dengan 17˚ C per menit sampai benda uji mencapai temperatur 56˚ C di
bawah titik nyala perkiraan. Kurangi pemanasan hingga kecepatan kenaikan
temperatur antara5˚ C sampai dengan 6˚ C per menit sampai benda uji
mencapai temperatur 28˚ C di bawah titik nyala perkiraan;

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

g) Gunakan nyala penguji pada waktu temperatur benda uji mencapai lebih
kurang 28˚ C di bawah titik nyala-perkiraan dan lintaskan api penguji setiap
kenaikan temperatur 2˚ C. Lintasan api penguji mengikuti garis lengkung
yang mempunyai jari-jari minimum 150 mm  1mm;

h) Api penguji harus bergerak horizontal dan jarak dengan tepi atas cawan
tidak lebih dari 2 mm. Waktu yang dibutuhkan api penguji untuk melintasi
cawan kurang lebih 1 detik  0,1 detik;

CATATAN 7: Pada saat menentukan titik nyala aspal, disarankan


melakukan pengadukan dengan hati-hati menggunakan batang pengaduk.
Lapisan tipis aspal pada permukaan yang terbentuk sebelum titik nyala
tercapai dapat mempengaruhi nilai titik nyala lebihtinggi.

i) Lakukan pemanasan dari temperatur 28˚ C di bawah titik nyala-perkiraan


sampai titik nyala-perkiraan untuk menghindari terganggunya nyala api
penguji akibat pengaruh angin di atas uap pada cawan cleveland lakukan
lintasan api penguji dengan cepat dan hati-hati;

j) Bilamana terjadi pembusaan dipermukaan benda uji sampai temperatur 28˚C


di bawah titik nyala-perkiraan, pengujian dihentikan dandiulangi;

k) Perhatikan besarnya nyala api penguji, kecepatan kenaikan temperatur dan


kecepatan gerakkan api penguji di atas bendauji;

CATATAN 8: Bila titik nyala-perkiraan aspal belum diketahui, maka


lakukan pengujian pendahuluan dengan temperatur tidak lebih dari 50˚ C,
atau bila aspal harus dicairkan terlebih dahulu untuk penuangan, maka
lakukan pengujian pendahuluan dengan temperatur awal mulai dari
temperatur penuangan 150˚C. Lakukan pemanasan sesuai Butir 12.6)
dengan kecepatan 5˚C sampai dengan 6˚C per menit dan lintaskan nyala api
penguji sesuai Butir 12.7) paling sedikit setiap kenaikan temperatur 2˚C
sampai diperoleh titiknyala.

l) Catat hasil pengujian titik nyala yang diperoleh dari pembacaan termometer
pada saat benda uji mulaimenyala;

m) Untuk menentukan titik bakar, lanjutkan pemanasan pada benda uji setelah

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

titik nyala dicatat, kenaikan temperatur 5˚C sampai dengan 6˚C per menit.
Teruskan penggunaan nyala penguji pada interval kenaikan temperatur 2˚C
sampai benda uji menyala dan terbakar minimal 5 detik. Catat temperatur
tersebut sebagai titik bakar bendauji.

14.9 Perhitungan
a) Amati dan catat tekanan baromater udara pada saat pengujian.
Bila tekanan berbeda dari 101,3 kPa (760 mm Hg), koreksi titik
nyala atau titik bakar atau keduanya sebagai berikut:
Titik nyala/titik bakar terkoreksi=C+0,25(101,3- K)……….……..(1)

dengan pengertian:

C adalah titik nyala/titik bakar,˚C

K adalah tekanan barometer udara, kPa.

b) Bulatkan titik nyala dan titik bakar terkoreksi ke nilai 1˚Cterdekat.

Laporkan hasil pengujian titik nyala atau titik bakar terkoreksi.

14.9.1 Ketelitian
Untuk mendapatkan ketelitian dilakukan dengan cara:
a) Pengujian dengan menggunakan contoh uji, operator, peralatan, dan
kondisi yang sama pada keadaan normal dan cara uji yang benar, dari 20
kali pengujian tidak boleh terdapat satu nilai titik nyala atau titik bakar
melebihi8˚C;

b) Pengujian dengan menggunakan contoh uji yang sama, tetapi operator,


peralatan, dan laboratorium yang berbeda pada keadaan normal dan cara uji
yang benar, dari 20 kali pengujian tidak boleh terdapat satu nilai titik nyala
melebihi 18˚C dan titik bakar melebihi 14˚C

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

14.10 Kesimpulan
Suhu pada waktu pembakaran aspal tidak boleh melebihi suhu yang
diizinkan yaitu minimal 232 (SNI 2433:2011), karena jika melebihi dapat
mempengaruhi komposisi struktur kimia dari aspal dan mengakibatkan penurunan
kualitas dari yang diharapkan. Sehingga dari nilai titik nyala dan titik bakar masuk
dalam persyaratan yang diizinkan. Dari hasil percobaan didapatkan titik nyala
295 dan titik bakar 304 , sehingga aspal yang digunakan saat pembakaran
aspal tidak boleh melebihi suhu tersebut.

14.11 Lampiran
A. Gambar Alat – Alat Percobaan

Gambar 14.1 Cleveland Open Cup Gambar 14.2 Pelat Panas

Gambar 14.3 Cawan Cleveland

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

KEMENTRIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN


TEKNOLOGI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
LABORATORIUM JALAN RAYA & TRANSPORTASI
Jl. Unlam II Banjarbaru. Telp (0511) 773858

PEMERIKSAAN TITIK NYALA & TITIK BAKAR


(SNI 2433:2011)
NO. CONTOH : SUMBER CONTOH : Shell Singapore
HARI/TANGGAL : 15 Maret 2023 JENIS CONTOH : Aspal
PELAKSANA : Kelompok XV UNTUK : Praktikum

Pembacaan
Perlakuan Catatan
Waktu
Contoh dipanaskan
Mulai jam : 08.50 Pembacaan Suhu Oven
Selesai jam : 09.50 Temperatur : 110 0C
Penuangan Contoh
Mulai jam : 09.01 Pembacaan Suhu Menuang
Selesai jam : 09.05 Temperatur : 110 0C
Pengujian Contoh
Mulai jam : 09.05
Selesai jam : 09.51

Titik Nyala dan Titik Bakar Pembacaan Pengukuran Pada


Alat
Pengamatan I 295 oC
Pengamatan II 304 oC

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)
Kelompok XV

Contoh formulir cara uji titik nyala dan titik bakar aspal dengan alat
cleveland open cup
1 [Link]/cont
oh Jenis
2 contoh uji
Jenis
3
pekerjaan
Diterima
4
tanggal Diuji
5 tanggal Cara
uji
6
Kondisi Lingkungan Contoh1 Contoh2
7 Temperatur
Contoh-Temperatur
dipanaskanMulai: PK PK oven C

Pemanasan
- Kelembaban
dari: Selesai: Pk Pk Pk PK 15C
- TekananBaromete Pk Pk per
56C dibawah
r ttk
menit
nyala
Dari 56C sampai 28C dibawah Pk Pk 5-6C
titik nyala perkiraan Pk Pk per Ttk nyala
perkiraan
menit
Dari 28C sampai titik Pk Pk 2C C
nyala per
Temp di bawahtitiknyala menit
PembacaanTemperatur(1) Pembacaan
meni Temperatur(2)
C meni C
t1 t17 C C C C

2 18 C C C C

3 19 C C C C

4 20 C C C C

5 21 C C C C

6 22
C C C C
7 23
C C C C
8 24
C C C C
9 25
C C C C
10 Titik Nyala terkoreksi
26 (bila
C C C C
tek barometer berbeda) = TitikNyala C C
11 27 C
C
Titik Nyala terkoreksi rata- C C C
C + 0,25 (101,3-K) C C
12 28 rata TitikBakar
C C C C C
Dimana:
13 29 Titik Bakar rata-rata …………….…………………….200…..
C = titik nyala (C) C C C C
14 30
Diperiksa olehPenyelia:
K = tekanan barometer (kPa) C Dikerjakan
C olehCTeknisi: C
15 Tanggal: 31 Tanggal:
C C C C
( . .16
. . . . . . . . . . . . . . .32. . . . . ..) ( . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .)
C C C C

Praktikum Bahan Perkerasan Jalan


(STS6247)

Anda mungkin juga menyukai